61 A. Gambaran Umum
Transaksi e-commerce merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang sangat penting di Indonesia. Selain sebagai media pemasaran toko online, e-commerce juga digunakan sebagai media promosi yang membantu pengenalan pelaku UMKM. Berdasarkan dari latar belakang dalam peneliti ini, penyusun tertarik untuk meneliti penerapan etika bisnis Islam dalam transaksi e-commerce, khususnya di media sosial Instagram. Analisis ini difokuskan kepada kesesuaian teori etika bisnis Islam yang ditrerapkan penjual di Instagram. Dalam penelitian ini penyusun mewawancarai 3 pemilik toko online di Instagram dan beberapa pembeli yang pernah membeli produk di toko online tersebut yang akan dirangkum dalam penjelasan berikut.
1. Profil Toko Online @isnain_96
Toko online @isnain_96 merupakan toko online pertama yang menjadi objek penelitian. Toko online ini dipilih karena telah memenuhi kriteria sampel. Penyusun melakukan wawancara pada tanggal 13 Oktober 2017 bertempat di Pucangan Kartasura. Informasi-informasi yang diperoleh akan dijabarkan dalam pembahasan selanjutnya.
a. Informasi terkait Informan
Isnain Fatimah Utomo adalah mahasiswi semester akhir di IAIN Surakarta yang berasal dari Sragen. Ia adalah pemilik akun yang menjadi subjek penelitian, selanjutnya akan disebut sebagai informan 1. Toko online ini merupakan pekerjaan sambilan sembari ia menyelesaikan pendidikan. Dengan modal pinjaman dari bapaknya sebesar 500.000, informan 1membuka usahanya sekitar satu tahun delapan bulan yang lalu.
Alasan memilih Instagram sebagai media penjualan daripada menggunakan akun di situs e-commerce (seperti olx, shopee, tokopedia, bukalapak, dan lain sebagainya) karena Instagram lebih
luas jangkauannya. Dalam Instagram terdapat hashtag-hashtag yang membantu postingan diketahui orang banyak(Utomo, 2017).
b. Informasi terkait Toko Online
Akun Instagram@isnain_96 merupakan salah satu akun toko online yang menjadi objek penelitian. Akun tersebut menjual beberapa jenis produk antara lain: madu, kue kering, beberapa produk fesyen dan sabun kecantikan, namun yang menjadi fokus penelitian adalah penjualan produk fesyen. Produk fesyen yang dijual diantaranya adalah tas, jilbab, sepatu dan gamis.
Jenis akun Instagram yang dipergunakan adalah akun pribadi, karena informan 1belum percaya diri untuk membuat akun bisnis di Instagram. Selain itu, ia berfikir jika membuka akun bisnis, maka orang tidak bisa mengetahui apa saja aktivitasnya dan mengetahui siapa penjual yang sebenarnya. Dalam proses penjualannya, informan 1 bekerja sendiri atau tanpa bantuan orang lain (Utomo, 2017).
c. Informasi terkait produk
Produk yang dijual oleh informan 1 mengambil dari 2 distributor yang telah bekerja sama dengannya. Disini ia berperan sebagai reseller (menjual kembali produk dari distributor dengan produk sudah ada ditangan) dan terkadang sebagai dropshipper (menjual kembali produk tanpa harus menyetok barang).
Sasaran pembeli yang dituju adalah perempuan dengan rata-rata usia remaja sampai dewasa, namun tidak menutup kemungkinan pelanggan laki-laki dan dengan usia berapapun untuk berbelanja di toko online milik informan 1 (Utomo, 2017).
d. Manajemen Toko
Cara Informan 1 memasarkan produknya melalui Instagram adalah dengan memposting foto barang dengan rincian: nama barang, spesifikasi, harga, format order dan hashtag. Frekuensi menunggah foto produk di Instagram tergantung adanya barang dari distributor.
Waktu penjualan/pelayanaan yang ditetapkan tidak ada, sehingga calon pembeli bisa menghubunginya kapan saja. Informan 1 juga menggunakan Whatsapp sebagai aplikasi chatting yang menunjang penjualan untuk menjalin komunikasi dengan calon pembeli. Pemasaran produk bisa diakses di seluruh Indonesia. Namun saat ini penjualan lebih dominan di Soloraya. Pengiriman produk terjauh adalah ke Kotabumi. Cara informan 1 untuk meyakinkan calon pembeli sehingga pembeli memilih ke toko online-nya adalah dengan tidak memaksa. Selain itu, calon pembeli dapat melihat testimoni yang menunjukkan bahwa ia amanah.
Total produk fesyen yang telah terjual sampai saat ini adalah kurang lebih 150 produk dengan rata-rata penjualan produk dalam satu bulan antara 15-20 produk. Rata-rata pendapatan perbulan adalah sekitar Rp. 250.000 (Utomo, 2017).
e. Kegiatan Toko
1) Produksi tidak dilakukan sendiri oleh informan 1, melainkan dengan mengambil dari distributor yang telah bekerja sama dengannya
2) Produk yang dijual mengikuti mode dan disesuaikan dengan sasaran pembeli untuk menarik konsumen
3) Pemasaran dilakukan melalui Instagram secara aktif dengan postingan ketika barang dari distributor tersedia
4) Toko online @isnain_96 juga menjual produk pelengkap fesyen, yaitu produk penunjang kecantikan dan kesehatan seperti madu dan sabun kecantikan
5) Pengiriman barang toko online @isnain_96 dilakukan dengan dua cara, yaitu COD (Cash On Delivery) dan pengiriman melalui perusahaan logistik. COD dilakukan apabila waktu dan jarak bisa ditempuh oleh informan 1. Pengiriman dengan paket memiliki tarif pengiriman yang berbeda-beda sesuai dengan jarak pengiriman (Utomo, 2017).
Gambar 4.1 Profil Informan 1
Sumber: Instagram app 2. Profil Toko Online @b.florist_
Toko online @b.florist_ merupakan toko online selanjutnya yang menjadi objek penelitian. Toko online ini dipilih karena telah memenuhi kriteria sampel. Penyusun melakukan wawancara pada tanggal 14 Oktober 2017 bertempat di The Solchic cabang Karanganyar yang beralamatkan di Jl. Lawu, Cangakan, Kec. Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Informasi-informasi yang diperoleh akan dijabarkan dalam pembahasan selanjutnya.
a. Informasi terkait Informan
Pemilik akun yang menjadi subjek penelitian selanjutnya adalah Berlian Putri Noviyanti, alumni UNS berasal dari Karanganyar. Untuk selanjutnya akan disebut sebagai informan 2. Toko online yang ia jalankan ini merupakan pekerjaan utama setelah lulus kuliah. Ia berjualan menggunakan Instagram sejak 14 Desember 2016 (10 bulan yang lalu), dengan modal awal Rp. 100.000.
Instagram sebagai media penjualan dipilih karena lebih mudah dalam penggunaannya. Saat akan mengunggah foto, penulisan keterangan pada caption bisa copy paste. Dibandingkan dengan situs e-commerce sebut saja shopee, dalam pemostingan foto harus satu
persatu dan keterangan tidak bisacopy paste dan ditulis di satu persatu (Noviyanti, 2017).
b. Informasi terkait Toko Online
Akun Instagram @b.florist_ merupakan akun toko online kedua yang menjadi objek penelitian. Akun tersebut menjual hasil kerajinan tangan dari kain flanel. Pembuatannya bisa sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pembeli. Pemiliknya juga membuka jasa reseller (menjual kembali) bagi siapa saja yang menginginkannya.
Jenis akun Instagram yang dipergunakan adalah profil bisnis, karena langsung tersambung ke Facebook. Sehingga, sekali posting foto di Instagram bisa terkirim di Instagram maupun Facebook. Dalam proses penjualannya, informan 2 bekerja sendiri, namun terkadang dibantu oleh temannya (Noviyanti, 2017).
c. Informasi terkait produk
Produk yang dijual oleh informan 2 adalah buket bunga flanel untuk hadiah ulang tahun, sidang, wisuda dan bisa hadiah ke orang yang spesial.Pembeli bisa memesan dengan bentuk, ukuran, warna dan model yang diinginkan. Pembeli juga bisa meminta tambahan bonekaatau tulisan pada pesanannya. Sasaran pembeli yang ditetapkan adalah lebih kepada mahasiswa dan masyarakat umum tanpa melihat gender (Noviyanti, 2017).
d. Manajemen Toko
Untuk memasarkan produknya melalui Instagram, informan 2 mengunggah foto produk lengkap dengan rincian yang jelas dari diameter barang, harga dan format pemesanan. Frekuensi menunggah foto produk di Instagram lumayan sering, yaitu dua hari satu kali unggahan. Informan mengatakan bahwa iapernah tidak mengunggah foto produk untuk beberapa lama, maka pesanan pun turun. Setelah aktif mengunggah, maka pesanan mulai ada.
Waktu penjualan/pelayanaan yang ditetapkan tidak ada atau 24 jam pelayanan. Informan 2 menggunakan Whatsapp sebagai aplikasi
chatting untuk memproses pesanan dari calon pembeli. Produk dipasarkan ke seluruh Indonesia, namun penjualan lebih sering di Soloraya dengan sistem COD. Pengiriman produk terjauh adalah ke Bali.
Cara informan 2 meyakinkan calon pembelinya sehingga pembeli memilih toko online-nya adalah dengan menawarkan harga yang paling murah dibanding toko online lainnya (perbandingan oleh informan antara toko miliknya dengan toko online milik temannya). Selain itu, calon pembeli dapat melihat testimoni di akun yang berbeda yang tertera dalam profil Instagram @b.florist_. Total yang telah terjual sampai saat ini adalah kurang lebih 1.000 pcs. Karena satu pembeli tidak hanya memesan satu, terkadang mencapai 5 sampai 10 pcs, bahkan pernah juga yang sampai 30 pcs sekali pesan. Tercatat per desember 2016 sampai dengan maret 2017 sudah kurang lebih 400 pcs terjual. Rata-rata penjualan produk dalam satu bulan kira-kira lebih dari 100 produk. Rata-rata omset yang diperolehsetiap bulannya sekitar Rp. 1,5jt-2jt (Noviyanti, 2017).
e. Kegiatan Toko
1) Produksi yang dilakukan oleh toko online @b.florist_dilakukan produksi sendiri dengan memilih bahan yang bagus dan selalu menjaga agar kualitas bahan yang digunakan tidak berubah. 2) Dalam produksinya, toko online @b.florist_ menerima pesanan
yang diinginkan oleh konsumen, agar konsumen puas dengan model dan hasil yang diinginkannya
3) Pemasaran dilakukan melalui Instagram secara aktif dengan postingan ketika barang dari distributor tersedia
4) Pengiriman barang toko online @b.florist_ dilakukan dengan dua cara, yaitu COD (Cash On Delivery) dan pengiriman melalui perusahaan logistik. COD dilakukan apabila waktu dan jarak bisa ditempuh. Pengiriman dengan paket memiliki tarif pengiriman yang berbeda-beda sesuai dengan jarak(Noviyanti, 2017).
Gambar 4.2 Profil Informan 2
Sumber: Instagram app 3. Profil Toko Online @rubyclothes_jogja
Toko online @rubyclothes_jogja merupakan toko online terakhir yang menjadi objek penelitian. Toko online ini dipilih karena telah memenuhi kriteria sampel. Penyusun melakukan wawancara tanggal 26 Oktober 2017 bertempat di Outlet @rubyclothes_jogja yang beralamat di Jl. Wates KM 2 Nomor 82, Kadipiro, Yogyakarta. Informasi-informasi yang diperoleh akan dijabarkan dalam pembahasan selanjutnya.
a. Informasi terkait Informan
Pemilik akun yang menjadi subjek penelitian adalah Chlarissa Early, Mahasiwi Pendidikan Fisika UNY angkatan 2013. Untuk selanjutnya akan disebut sebagai informan 3. Toko online ini merupakan pekerjaan sambilan yang iamulai sekitar 1 tahun yang lalu dan membuka toko offline kira-kira 10 bulan yang lalu. Modal awal yang digunakan adalah 5 juta dari tantenya yang lebih dulu berjualan menggunakan Instagram dengan akun @grosir_solo.Instagram sebagai media penjualan dipilih karena lebih mudah dalam penggunaannya, foto yang ditampilkan bisa dilengkapi dengan informasi yang detail tentang produk(Early, 2017).
b. Informasi terkait Toko Online
Akun Instagram @rubyclothes_jogja merupakan akun toko online ketiga yang menjadi objek penelitian. Toko online @rubyclothes_jogja merupakan cabang dari toko online milik tante dari informan 3 yang berada di Solo, yaitu akun @grosir_solo. Toko online @rubyclothes_jogja bekerja sama dengan @grosir_solo.
Untuk saat ini @rubyclothes_jogja hanya menerima pembelian dalam jumlah besar dengan minimal order Rp. 500.000. Hal ini disebabkan @rubyclothes_jogja lebih fokus kepada reseller untuk kulakan dari toko informan 3. Apabila ada konsumen area Jogja ingin membeli ecer, maka bisa langsung ke outlet. Apabila konsumen dari luar kota yang ingin membeli secara ecer, maka bisa melalui www.shopee.co.id yang di kelola oleh pusat (@grosir_solo).
Jenis akun Instagram yang dipergunakan adalah profil bisnis dan mempunyai pengikut 27,3 ribu orang. Dalam proses penjualan, informan 3dibantu oleh 4 pekerja. Akun Instagram ini dikelola oleh admin tersendiri, sehingga pengoperasiannya dan pelayanan kepada pembeli bisa maksimal (Early, 2017).
c. Informasi terkait produk
Produk yang dijual oleh informan 3 adalah produk fesyen antara lain: jilbab, kaos, baju, blouse, dress, jaket, parka, sweater, outer, jeans, kulot dan rok. Dalam pembuatan produk, informan 3 bekerja sama dengan salah satu konveksi dan mengambil dari pusatnya di Kota Solo.Sasaran pembelinya adalah perempuan dengan rata-rata usia remaja sampai dewasa, biasanya siswi SMA, mahasiswi atau ibu-ibu muda (Early, 2017).
d. Manajemen Toko
Untuk memasarkan produknya melalui Instagram, informan 3 melakukannya dengan sangat profesional. Foto yang diunggah memakai model dan informasi disajikan dengan lengkap.
Frekuensi menunggah foto produk di Instagram yaitu setiap hari dengan beberapa unggahan. Cara informan 3 meyakinkan calon pembelinya sehingga pembeli memilih toko online-nya adalah dengan menawarkan harga yang murah dari rata-rata toko onlineyang ada. Pemesanan biasanya menggunakan Whatsapp atau Line sebagai aplikasi chatting untuk memproses pesanan dari calon pembeli Pelayanan yang dilakukan 24 jam. Produk dipasarkan ke seluruh Indonesia. Pengiriman produk terjauh adalah ke Nabire, Papua.
Total yang telah terjual sampai saat ini sudah ratusan. Karena untuk saat ini, satu pembeli minimal order adalah 500.000. Rata-rata omset yang anda perolehsetiap bulannya sekitar Rp. 500.000 - Rp. 800.000 (Early, 2017).
e. Kegiatan Toko
1) Produksi yang dilakukan oleh toko online @rubyclothes_jogja bekerja sama dengan konveksi dan mengambil dari toko pusat 2) Pemasaran dilakukan melalui Instagram secara aktif
3) Agar produk lebih dikenal secara nasioanal, @rubyclothes_jogja menggunakan perantara selebgram untuk endorsement (mempromosikan) produknya
4) Pengiriman barang toko online@rubyclothes_jogja dilakukan dengan pengiriman melalui perusahaan logistik yang memiliki tarif pengiriman berbeda-beda sesuai dengan jarak
5) Untuk saat ini, @rubyclothes_jogja fokus untuk melayani pembelian dalam jumlah banyak atau hanya untuk reseller. Oleh karena itu, pembelian online secara ecer bisa melalui shopee (link sudah tertera di profil @rubyclothes_jogja). Order akan diproses dari pusat, yakni oleh @grosir_solo di Solo
6) Untuk pembeli di area Yogyakarta, bisa langsung ke toko offline yang alamat sudah tertera pada akun @rubyclothes_jogja. Pembelian bisa eceran (satuan) atau dalam jumlah banyak.
7) Untuk pembeli dalam jumlah banyak dari luar area Yogyakarta, bisa membeli dan bergabung menjadi anggota reseller @rubyclothes_jogja) (Early, 2017)
Gambar 4.3 Profil Informan 3
Sumber: Instagram app
4. Profil Pembeli
Penyusun melakukan wawancara dengan beberap apembeli yang pernah membeli produk di toko onlinemilik informan 1 dan informan 2. Pembeli dari informan 3 tidak dapat melakukan wawancara dengan beberapa alasan, sehingga penyusun hanya mewawancarai pembeli dari informan 1 dan 2. Penyusun melakukan wawancara singkat terkait pengalaman pembeli saat membeli di toko online para informan. Wawancara dilakukan secara langsung dan menggunakan aplikasi chatting Whatsapp. Pembeli tersebut adalah:
a. Hanun Salsabila (Pembeli Informan 1) b. Dika (Pembeli Informan 1)
c. Ukhti (Nama samara - Pembeli Informan 1) d. Nikmah (Pembeli Informan 2)
e. Ratna Respati Riyanto Putri (Pembeli Informan 2) f. Farida Nur Laili (Pembeli Informan 2)
B. Penerapan Etika Bisnis Islam oleh Penjual di Instagram
Etika Bisnis Islam merupakan kegiatan bisnis yang pelaksanaannya berdasarkan aturan atau prinsip Islam. Dalam penelitian ini penyusun mengambil 3 informan untuk menguji apakah etika bisnis Islam sudah diterapkan dalam transaksi e-commerce, yaitu oleh penjual di Instagram. Untuk melengkapi keabsahan penelitian, maka penyusun juga mewawancarai beberapa pembeli yang pernah membeli produk milik informan.
1. Keesaan/Kesatuan (Tauhid)
Konsep tauhid (dimensi vertikal) berarti Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa menetapkan batas-batas tertentu atas perilaku manusia sebagai khalifah, untuk memberikan manfaat pada individu tanpa mengorbankan hak-hak individu lainnya. Individu-individu memiliki kesamaan dalam harga dirinya sebagai manusia. Diskriminasi tidak bisa diterapkan atau dituntut hanya berdasarkan warna kulit ras, kebangsaan, agama, jenis kelamin, atau umur (Badroen, Suhendra, Mufraeni, & Bashori, 2006, p. 89). Hal ini sesuai dengan (Beekun, 2004, p. 35) bahwa pengusaha muslim tidak berbuat diskriminatif terhadap pekerja, pemasok, pembeli atau siapa pun pemegang saham perusahaan atas dasar ras, warna kulit, jenis kelamin, ataupun agama demi mencari keuntungan semata. (misalkan: melihat latar belakang pelanggan, kemudian harga di naikkan, atau melihat pelanggan berbeda keyakinan order tidak diterima). Informan 1 mengatakan ia tidak melakukan diskriminasi dalam hal apapun kepada pelanggannya (Utomo, 2017). Informan 2 juga mengatakan bahwa semua pelanggan diperlakukan sama, karena di akun Instagram milliknya sudah ada rincian harga jadi tidak akan mengambil keuntungan dari pihak tertentu (Noviyanti, 2017). Begitu juga dengan informan 3 tidak ada perlakuan khusus kepada pelanggan dari latar belakang tertentu demi keuntungan (Early, 2017).
Islam tidak mengakui adanya kelas-kelas sosioekonomis sebagai sesuatu yang bertentangan dengan prinsip persamaan maupun dengan prinsip persaudaraan (ukhuwwah). Karena mematuhi ajaran-ajaran lslam dalam semua aspeknya, mendapatkan ridha Allah (Badroen, Suhendra,
Mufraeni, & Bashori, 2006, p. 90). Ketiga informan memiliki kelonggaran untuk teman-temannya yang membeli di tempat mereka. Alasan hal ini dilakukan karena teman yang ikut membeli berarti ikut mendukung usaha dan sekaligus menjadi media promosi untuk temannya yang lain. Informan 3 menambahkan bahwa ia memberi harga miring juga kepada reseller yang telah menjadi anggota dan rutin mengambil barang di tempatnya (Early, 2017). Diperkuat dengan pernyataan dari Hanun yang merupakan pembeli dari informan 1, bahwa ia diberi harga miring karena ia adalah teman informan (Salsabila, 2017). Ini menunjukkan bahwa para informan telah menerapkan aplikasi dari prinsip persaudaraan (ukhuwwah). Kelonggaran tersebut yakni dengan adanya harga khusus atau yang biasa disebut dengan ‘harga teman’.
Pengusaha Muslim percaya bahwa Allah mengetahui segalanya yang terlihat ataupun yang tersembunyi, dan bahwa ia tidak dapat menyembunyikan apa pun, niat ataupun tindakan dari Allah SWT. Sebagai konsekuensinya, ia akan menghindarkan diri dari apa yang dilarang, dan berbuat hanya dalam kebaikan (Beekun, 2004, p. 34). Ketiga informan menyatakan bahwa mereka tidak melakukan kecurangan dalam berjualan, menyembunyikan kecacatan barang mana calon pembeli tidak mengetahuinya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Farida, yang mana ia bisa mengakses semua informasi secara rinci di akun informan 2 terkait produk yang ia cari (Laili, 2017).
Menurut (Beekun, 2004, p. 35) Pengusaha Muslim tidak akan menimbun kekayaannya dengan penuh keserakahan dan menyadari bahwa amanah atau kepercayaan sangat penting baginya. Ia sadar bahwa semua harta dunia bersifat sementara dan harus dipergunakan secara bijaksana. Salah satu caranya ialah tidak menimbun kekayaan dengan mendistribusikan harta yang diperoleh untuk ziswaf (zakat, infaq, sedekah dan waqaf).
Ketiga informan menyisihkan sebagian pendapatan dari berjualan melalui Instagram untuk di zakatkan 2,5% dan diinfaqkan. Informan 1
mengatakan bahwa dalam satu tahun kira-kira Rp. 100.000 disisihkan untuk berzakat dari total pendapatan bersih sekitar Rp. 3.000.000. Ia juga bersedekah diluar nominal dari zakat tersebut (Utomo, 2017). Informan 2 mengatakan bahwa ia berzakat sudah pasti 2,5% dan juga berinfaq tanpa menyebutkan besarannya berapa persen dari pendapatan yang ia peroleh(Noviyanti, 2017). Informan 3 mengatakan sekitar Rp. 800.000 sampai 1 juta rupiah ia distribusikan untuk zakat dan infaq (Early, 2017).
Dalam menjaga kepercayaan, Informan 1 melakukannya dengan pengiriman barang dan pemberitahuan resi tepat waktu. “Kalau saya tidak dropship, saya langsung kirim barang dan resinya mbak”(Utomo, 2017). Informan 2 menjaga amanah dengan melakukan proses order secepat mungkin. Apabila ada banyak orderan, maka calon pembeli dijelaskan, mungkin pembuatannya akan membutuhkan waktu agak lama (Noviyanti, 2017). Informan 3 menjelaskan bahwa barang yang dijual semua tersedia dan apabila ada barang yang kosong akan diberitahukan sehingga pembeli faham dan tidak mengecewakan pembeli (Early, 2017). Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Ratna yang merupakan pembelidari informan 2, mengatakan bahwa barang yang ia pesan agak mengalami keterlambatan pengiriman tetapi sudah dijelaskan sebelumnya dan ia tidak mempermasalahkannya (Putri, 2017).
2. Keseimbangan/Keadilan
Dalam perniagaan, persyaratan adil yang paling mendasar adalah dalam menentukan mutu (kualitas) dan ukuran (kuantitas) pada setiap takaran maupun timbangan.Allah SWT memperingatkan para pengusaha Muslim untuk:
"Sempurnakanlah takaranmu apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar: itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. Al-Isra’ [17]: 35)(Beekun, 2004, p. 37)
Maksud dari ayat tersebut adalah menetapkan mutu (menentukan kualitas) dengan benar dan menetapkan harga secara adil. Informan 1 mengatakan bahwa dia menetapkan harga sesuai dengan kualitasnya. Apabila harganya murah, berarti kualitasnya tidak terlalu bagus (Utomo,
2017). Informan 2 mengatakan Inshaallah ia adil dalam menetapkan harga. Terkait dengan kualitas, ia menggunakan bahan yang kualitasnya dijaga agar selalu sama hasilnya (Noviyanti, 2017). Informan 3 mengatakan harga yang ia patok sudah murah dari rata-rata toko online yang ada di Instagram dan sesuai dengan kualitasnya. Terkait kualitas dari bahan yang digunakan, ia selalu memilih bahan yang nyaman pemakaiannya (Early, 2017). Hal ini sesuai dengan pengakuan dari Ukhti yang membeli tas di toko online milik informan1. Ia mengatakan ia puas dengan pelayanan dari informan 1 karena tas yang ia beli harganya sesuai dengan kualitas dan bahannya bagus. Selain itu, barangnya sesuai dengan apa yang ada dalam postingan Instagram (Ukhti, 2017).
Untuk menjaga keseimbangan antara mereka yang berpunya dan mereka yang tak berpunya, Allah SWT menekankan arti penting sikap saling memberi dan mengutuk tindakan mengkonsumsi yang berlebih-lebihan.
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (67). (QS.Al-Furqan [25]: 67)(Beekun, 2004, pp. 36-37)
Maksud ayat diatas adalah bahwa Allah SWT menekankan arti penting sikap saling memberi atau berbagi (tidak kikir/pelit). Memberi dalam hal ini bisa dengan memberi potongan harga, keringanan pembayaran dan memberi produk secara gratis. Dikarenakan ruang lingkup ‘memberi’ yang sangat luas, maka penyusun membatasi dengan memilih salah satu contoh yang biasa diterapkan dalam transaksi online, yaitu giveaway. Giveaway dalam Bahasa Indonesia terjemahannya memberikan. Kegiatan ini merupakan pemberian hadiah kepada siapa saja yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Toko online biasa menggunakan cara ini sebagai media berbagi rezeki, sekaligus untuk lebih mengenalkan produk dan akun Instagramnya.
Pertanyaan terkait giveaway kepada pelanggan, ternyata informan 1 telah melakukannya sebanyak 3 kali dalam bentuk potongan harga.
Informan 3 pernah mengadakangiveaway dalam bentuk photo challenge (lomba foto). Peserta dari giveaway yang menang mendapatkan voucher belanja dan berkesempatan menjadi untuk model produk (Early, 2017). Berbeda dengan informan 1 dan 3, informan 2 belum pernah melakukan giveaway. Apabila sudah satu tahun bisnisnya berjalan, ia ingin melakukan giveaway kepada customernya sebagai rasa syukur. Dalam hal ini, berarti informan 2 belum melaksanakan salah satu indikator keseimbangan secara sempurna.
Berlaku adil akan dekat dengan taqwa, karena itu dalam perniagaan, Islam melarang untuk menipu walaupun hanya ‘sekadar’ membawa sesuatu pada kondisi yang menimbulkan keraguan sekalipun. Kondisi ini dapat terjadi seperti adanya gangguan pada mekanisme pasar atau karena adanya informasi penting mengenai transaksi yang tidak diketahui oleh salah satu pihak (asyimetric information) (Badroen, Suhendra, Mufraeni, & Bashori, 2006, p. 91).
Satu pertanyaan kepada informan, “Apakah semua proses transaksi dilakukan secara transparan? (Apakah informasi-informasi penting mengenai transaksi diketahui juga oleh calon pembeli)”. Transparansi tersebut antara lain terkait spefisikasi barang lengkap, rekening pembayaran dengan nama pemilik asli, resi pengiriman dan informasi distributor (perusahaan logistik) yang digunakan. Informan 1 menjawab “Iya, karena pembeli bisa lihat-lihat dulu foto barang di Instagram sama spesifikasinya lengkap dengan berapa harganya. Semua yang sudah saya upload itu sudah saya jelaskan dan apa adanya tanpa ada informasi yang tersembunyi” (Utomo, 2017). Informan 2 menjawab “Iya, customer bisa lihat di galeri sudah ada informasi lengkap. Karena foto yang saya upload adalah foto yang sebenarnya, produk apa saja yang pernah saya buat” (Noviyanti, 2017).Informan 3 mengatakan “Iya, calon pembeli bisa scrolling foto di Instagram. Sudah lengkap pemaparan informasinya disitu mba, gak ada yang ditutupi” (Early, 2017). Biasanya penjualakan menginformasikan sebelumnya akan menggunakan rekening di bank apa untuk transfer
pembayaran dan menggunakan perusahaan logistik apa serta berapa hari lamanya untuk pengiriman barang. Nikmah, yang merupakan pembeli dari informan 2 merasa sangat puas dengan produk dari informan 2 karena transparansi spesifikasi produk yang diberikan. Nikmah mengaku bahwa produk informan 2 melebihi ekspektasi dan malah lebih bagus hasil sesungguhnya daripada foto yang ada di Instagram (Nikmah, 2017). 3. Kehendak Bebas (ikhtiar/ free will)
Pada tingkat tertentu, manusia diberikan kehendak bebas untuk mengendalikan kehidupannya sendiri. Ia diberi kemampuan untuk berpikir dan membuat keputusan, untuk memilih apa pun jalan hidup yang ia inginkan dan bertindak berdasarkan aturan (Beekun, 2004, p. 38). Dalam transaksi diperbolehkan adanya kebebasan, namun apakah semua proses transaksi dilakukan tanpa adanya paksaandan dilakukan atas dasar suka sama suka antara penjual dan pembeli? Ketiga informan mengatakan mereka tidak memaksa harus membeli, karena apabila calon pembeli tidak cocok dengan barang ataupun harganya, pembeli bisa memilih toko online lainnya. “Mau maksa gimana, terserah yang mau beli aja” (Noviyanti, 2017).
Ketiga informan memberi penjelasan bahwasanya mereka memberikan kebebasan kepada pembeli untuk mendapatkan barang sesuai dengan selera dan memberikan informasi yang cukup mengenai harga dan kondisi barang. Mereka juga memberikan hak kepada pembeli dan menghormati setiap keputusan pembeli apabila pembeli tidak mau membeli produknya. Selain itu, proses transaksi dilakukan atas dasar suka sama suka. Hal ini ditandai dengan pembeli menerima syarat pembayaran dari penjual dan terjadi proses transaksi selanjutnya. Penjelasan tersebut disetujui oleh Dika pembeli dari informan 1, yang mana ia pernah men-cancel pemesanan karena merasa kurang cocok dengan barang yang akan ia beli (Dika, 2017). Seorang Muslim, yang telah menyerahkan hidupnya pada kehendak Allah SWT, akan menepati semua kontrak yang telah dibuatnya.
"Hai orang-orang yang beriman! Penuhilah semua perjanjian itu. …" (QS. Al-Maidah [5]: 1)(Beekun, 2004, p. 39).
Dari ayat tersebut sudah jelas perintah untuk menepati janji. Oleh karena itu perlu dipertanyakan apakah penjual pernah tidak menepati kontrak penjualan. Misalkan ada orderan, tiba-tiba ada urusan mendadak sehingga tidak bisa memenuhi orderan. “Pernah saya cancel pembeli, karena tidak segera membayar. Jadi ya saya tidak bisa proses order” (Utomo, 2017). Informan 2 mengatakan “Pernah, jadi waktu itu mau COD, tapi orangnya gak dateng-dateng, padahal saya ada urusan lain. Jadi saya cancel. Pesenannya saya jual nanti lagi” (Noviyanti, 2017). Informan 3 mengatakan “Pernah mba. Karena ada masalah di pengiriman barang yang dari pusat, jadi kita gak bisa kirim barang ke pembeli sesuai waktu yang dijanjikan dan kita minta cancel aja” (Early, 2017)
Dari pernyataan diatas, maka ketiga informan mengaku pernah tidak menepati janji karena berbagai alasan. Berarti mereka belum melaksanan prinsip kebebasan dengan sempurna.
4. Tanggung Jawab
Menurut Beekun, jika seorang pengusaha Muslim berperilaku secara tidak etis, ia harus memikul tanggung jawab tertinggi atas tindakannya sendiri (Beekun, 2004, p. 42). Indikator ini berkaitan dengan informasi produk yang disebarluaskan untuk para konsumen yang dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan yang sebenarnya. Ketiga informan menjelaskan Inshallah mereka bisa bertanggung jawab. Mereka juga memberikan informasi yang sebenarnya dengan spesifikasi yang jelas dan tidak menambahi atau mengurangi. Semua sudah di jelaskan melalui keterangan di Instagram masing-masing informan.
Tanggung jawa bMuslim yang sempurna tentu saja didasarkan atas cakupan kebebasan yang luasyangdimulai dari kebebasan untuk memilih keyakinan dan berakhir dengan keputusan yang paling tegas yang perlu diambilnya. Setiap orang akan diadili secara personal di hari Kiamat kelak.Tidak ada satu komunitas atau bangsa pun bertanggung jawab di
depan Allah sebagai kelompok; setiap anggota masyarakat bertanggung jawab di depan-Nya secara individual (Badroen, Suhendra, Mufraeni, & Bashori, 2006, p. 101).
Dalam buku(Beekun, 2004, p. 42), sekali seorang Muslim mengucapkan janjinya atau terlibat dalam sebuah perjanjian yang sah, maka ia harus menepatinya.
Rasulullah SAW (semoga rahmat terlimpah kepadanya) berkata, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: (1)apabila berkata, ia berdusta, (2)apabila berjanji, tidak dipenuhi dan (3)bila diberi diamanati, ia berkhianat” (Abu Hurayrah, Sahih al Bukhari, hadist no. 1.32)
Hal ini berkaitan dengan pelayanan penjual yang diberikan kepada pembeli dalam perjanjian/kontraknya. Pertama, pengiriman barang setelah kesepakatan terjadi. Kedua, konfirmasi resi pembayaran segera setelah barang dikirim melalui perusahaan logistik. Ketiga, apabila pengiriman dengan sistem COD (Cash on Delivery) atau penyerahan barang dan pembayaran ditempat sesuai yang dijanjikan, apakah dilaksanakan tepat waktu.
Dalam pemaparannya, informan 1 mengatakan “Setelah saya kirim barang, saya langsung kirim resinya mbak. Biasanya kalau yang jauh saya pake J&T, JNE sama Tiki. Kalau COD, misal barang udah ada sebisa mungkin saya langung proses orderan dan nganterin barangnya” (Utomo, 2017). Informan 2 mengatakan “kalau pembeli jauh, setelah dari JNE saya fotoin resinya. Kalau pembeli mau COD, setelah orderan udah siap, saya langsung menghubungi pembeli untuk CODan. Saya kasih diskon juga kalau pas COD saya gak tepat waktu” (Noviyanti, 2017). Informan 3 mengatakan bahwa apabila barang siap maka pengiriman barang segera dilakukan setelah pembeli transfer. Setelah itu resi pengiriman di beritahukan kepada pembeli agar pemebeli tidak menunggu dan membuktikan bahwa toko online miliknya jujur(Early, 2017).
Bentuk perilaku tanggungjawab penjual diwujudkan dengan merespon dan siap bertanggungjawab apabila ada komplain. Pertanggungjawaban ketika mengetahui produk yang dikirim kepada
pembeli rusak atau cacat dalam proses pengiriman, terjadi kesalahan dan keterlambatan pengiriman.
Informan 1 menyikapinya dengan melakukan komunikasi. Informan bertanya kepada pembeli, barang yang sudah diterima ingin diganti barang yang lainnya/barang yang baru atau uang kembali. Informan 1 mengaku pernah mendapatkan komplain terkait ketidaksesuaian warna dengan ekspektasi pembeli, namun semua bisa dikomunikasikan dengan pembeli (Utomo, 2017).
Informan 2 menyikapinya dengan meminta maaf dan menanyakan ingin diganti atau tidak. Namun biasanya pembeli bisa memperbaiki sendiri karena produk handmade lebih mudah untuk diperbaiki. “Pernah waktu itu saya lupa warna pesenannya dan saya salah buatnya. Terus saya tanyain mau diganti apa gimana? Kadang saya kasih korting kalau ada pesanan yang saya lupa atau salah buatin. Pernah juga komplain kalau bunganya kok kecil ya mba? padahal saya buatnya itu sesuai dengan yang ada di foto Instagram, sudah dijelaskan juga diameter atau ukurannya. Jadi kadang kan kalo di foto bunga terlihat lebih besar” (Noviyanti, 2017).
Komunikasi lebih lanjut juga di lakukan oleh informan 3 dalam merespon adanya komplain dari pembeli. “Ada pembeli yang beli 3 baju sama 2 celana, tapi waktu packingnya salah masukin. Jadinya 2 baju sama 3 celananya. Pas barang sampai ke pembeli, dia langsung laporan mba kalau ternyata kami salah kirim barangnya. Lalu dari kita minta maaf dan ngobrol-ngobrol lagi, akhirnya pembeli terima sama barangnya. Dan kita kasih diskon kalo pembelinya beli lagi sebagai ganti kesalahan sebelumnya” (Early, 2017).
5. Kebajikan dan Kejujuran (Ihsan)
Kebajikan (ihsan) atau kebaikan terhadap orang lain didefinisikan sebagai "tindakan yang menguntungkan orang lain lebih dibanding orang yang melakukan tindakan tersebut dan dilakukan tanpa kewajiban apa pun".
Prinsip ihsan dilaksanakan dengan kemurahan hati yaitu dengan memberikan diskon/bonus ketika terdapat pembelian dengan jumlah
banyak. Seperti yang dilakukan oleh informan 2, biasanya kalau pembelian lebih dari Rp. 100.000 akan diberi diskon (Noviyanti, 2017). Namun informan 1 tidak memberikan diskon kepada pembelinya dengan alasan harga yang ditawarkan sudah harga pas dan keuntungan yang ia peroleh tergolong lumrah (Utomo, 2017). Informan 3 biasanya memberikan diskon misalkan pembelian dalam jumlah Rp. 1.255.000, maka ia bisa memberi diskon Rp. 55.000, sehinggan pembeli hanya membayar Rp. 1.200.000(Early, 2017).
Selain diskon, kemurahan hati lainnya adalah dalam menentukan harga yang ditetapkan apakah boleh di tawar atau sudah harga pas. Ketiga informan kompak menjawab sudah harga pas dan tidak bisa ditawar karena sudah terdapat keterangan jelas berapa harga produk di toko online masing-masing Instagram informan.
Bentuk kebajikan lainnya adalah sudah sepantasnya bahwa mereka yang ingin mengembalikan barang-barang yang telah dibeli seharusnya diperbolehkan untuk melakukannya demi kebajikan (Beekun, 2004, p. 44). Pengembalian ini terjadi karena produk tidak sesuai spesifikasi, keliru atau adanya kerusakan dalam proses pengiriman. Informan 1 mengatakan “Boleh ditukar mbak, karena kadang ada barang yang gak sesuai ekspektasi, maka pembeli boleh cancel atau ganti barang yang lain” (Utomo, 2017). Demikian juga dengan informan 2 yang mengatakan “boleh, bisa dituker. Dulu pernah ada pelanggan juga yang minta ganti warna” (Noviyanti, 2017). Informan 3 menjawab “Bisa mba, nanti barang bisa dikembalikan ke kita lagi dan kita kembalikan uang pembeli” (Early, 2017)
Kebajikan selanjutnya adalah ketika menjual barang secara kredit seseorang harus cukup bermurah hati, tidak memaksa membayar ketika orang tidak mampu membayar dalam waktu yang telah ditetapkan (Beekun, 2004, p. 44). Pertanyaan yang penyusun tanyakan dalam wawancara adalah “Apakah pembeli boleh membayar secara tidak tunai atau berhutang? Apabila boleh berapa waktu yang anda tetapkan untuk pembayarannya?”. Informan 1 dan informan 2 menjawab pembayaran harus tunai. Karena
terkadang dengan sistem COD, maka pembayaran tunai ditempat atau ketemu langsung membayar. Berbeda dengan informan 3 yang tidak menerima COD, maka pembayaran harus tunai apabila pembeli beli di toko offline atau sebelum barang dikirim(Early, 2017).
Dalam hal kejujuran, apakah penjual pernah memberikan data dan informasi yang bukan miliknya (misalkan: mengambil gambar produk dari akun lain, menyajikan testimoni produk orang lain atau testimoni yang direncanakan (palsu)). Testimoni dalam KBBI daring artinya adalah bukti/pengakuan. Dalam hal ini, testimoni yang dimaksud adalah pengakuan atau bisa disebut dengan review dari pembeli yang telah membeli produk di suatu toko apakah puas atau ada keterangan lainnya yang bisa di bagikan untuk calon pembeli.
Informan 1 menjelaskan bahwa ia jujur, karena foto yang diunggah sesuai dengan aslinya. Apabila barang dropship ia memakai foto dari distributornya langsung. Testimoni yang ada di Instagram juga asli dari pembeli (Utomo, 2017).Informan 2 mengatakan bahwa foto yang diunggahmerupakan foto barang yang sudah terjual dan yang pernahia buatdan tidak ada maksud untuk tidak jujur (Noviyanti, 2017). Selain itu, informan 2 juga mempunyai akun Instagram khusus testimoni, sehingga calon pembeli bisa melihat-lihat testimoni sebelum membeli. Informan 3 mengatakan semua yang diposting di Instagram adalah barang milik toko dengan menggunakan bantuan model untuk memamerkan barangnya. Untuk testimoni tidak ada, namun calon pembeli bisa melihat review (ulasan) dari pembeli sebelumnya pada kolom penilaian pelanggan di www.shopee.co.id/grosir_solo (Early, 2017).
Tabel 4.1 Identifikasi Kesesuaian Teori Prinsip Etika Bisnis Islam dalam Transaksi E-Commerce
No Prinsip No. Perta-nyaan
Kesimpulan Jawaban dari Informan 1, 2 dan 3
1. Keesaan/ Kesatuan
1-5 1. Informan tidak melakukan diskrimanasi untuk mencari keuntungan semataterhadap pembeli 2. Informan menetapkan
harga khusus teman sebagai implementasi prinsip ukhuwwah
3. Informan tidak pernah melakukan kecurangan dan menyembunyikan kecacatan produk 4. Informan telah menyisihkan sebagian pendapatan untuk di zakatkan dan di infaqkan 5. Informan senantiasa
menjaga amanah dengan caranya masing-masing
Seluruh jawaban dari informan sudah sesuai dengan prinsip keesaan/kesatuan dalam etika bisnis Islam.
2. Keseimba-ngan/ Keadilan
1-3 1. Harga yang telah di tetapkan informan sesuai dengan kualitas
2. Informan 1 dan 3telah menerapkan prinsip saling memberi. Informan 2 belum melaksanakan prinsip saling member 3. Informan telah melakukan
semua proses transaksi secara transparan
Jawaban dari informan 1 dan 3 sesuai dengan prinsip keseimbangan/ keadilan dalam etika bisnis Islam.
Namun informan 2 belum melaksanakan salah satu indikator prinsip keseimbangan/ keadilan dengan sempurna
3. Kehendak Bebas
1-2 1. Informan telah melalukan transaksi tanpa adanya paksaan dan atas dasar suka sama suka antara informan dan pembeli 2. Informan pernah tidak
menempati kontrak perjanjian dengan men-cancel orderan.
Jawaban informan menunjukkan bahwa belum sempurna dalam melaksanakan prinsip kehendak bebas, karena informan mengaku pernah tidak menepati janji
4. Tanggung Jawab
1-4 1. Informan dapat bertanggung jawabatas segala informasi yang telah disebarluaskan
Seluruh jawaban menunjukkan bahwa para informan telah melakukan penerapan prinsip tanggung jawab
2. Informan melakukan konfirmasi pembayaran dengan segera
3. Informan melakukan pengiriman produk tepat waktu
4. Informan merespon dan bertanggung jawab ketika pembeli komplain
5. Kebajikan/ Kejujuran
1-5 1. Informan memberikan diskon kepada pembeli 2. Harga yang ditetapkan
informan sudah harga pas 3. Informan memberi
kelonggaran kepada
pembeli untuk
mengembalikan/ menukar barang yang tidak sesuai
4. Pembeli tidak
diperbolehkan membeli secara hutang/kredit 5. Informan tidak pernah
memberikan informasi yang bukan miliknya
Seluruh jawaban informan telah sesuai dengan prinsip kebajikan/kejujuran