BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia mempunyai keanekaragaman alam yang bervariasi sehingga

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Indonesia mempunyai keanekaragaman alam yang bervariasi sehingga mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai tujuan dan daya tarik wisata baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia mempunyai bentang pantai yang panjang, didukung lokasi yang strategis di khatulistiwa. Hal tersebut menjadikan pemandangan pantai di pesisir pulau-pulau Indonesia menjadi indah dan menarik. Keindahan pemandangan alam di Indonesia mengundang wisatawan dan fotografer untuk mengabadikannya di dalam frame foto. Fotografi dan pariwisata merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Fotografi dan pariwisata massal muncul dalam kurun waktu yang hampir bersamaan (Urry dan Larsen, 2011).

Sejak awal ditemukannya fotografi, perkembangannya tidak secepat dalam era digital seperti sekarang ini. Abad kelima sebelum masehi terdapat suatu fenomena apabila pada ruangan gelap dan terdapat lubang kecil (pinhole) maka di bagian dalam ruangan tersebut akan menampilkan refleksi gambar terbalik hasil dari pemandangan di luar ruangan. Hal tersebut disadari oleh Mo Ti yang kemudian disebut fenomena kamera obscura (Davenport, 1991). Dilihat dari sisi peranannya, fotografi dan pariwisata juga berperan dalam hal pengalaman, Urry (2011) melihat pariwisata memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman hidup modern. Hal yang sama bahwa fotografi juga memainkan peran

(2)

2 yang sama kuat dalam membentuk pengalaman (Garlick, 2002). Di sisi lain media internet juga mempunyai peranan penting dalam fotografi dan pariwisata.

Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Melalui perusahaan Kodak Eastman, George Eastman mengembangkan fotografi dengan menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis. Pada akhir tahun 1880, Kodak mengeluarkan Kamera Brownie yang ringan dan murah Sejak saat itulah dimulainya wisatawan mengambil foto perjalanan dengan kamera. Sejak saat itulah Kodak terus berinovasi dalam kamera dan film sehingga wisatawan yang tidak memiliki kemampuan ilmu fotografi tetap bisa mengabadikan perjalanan mereka dengan kameranya sendiri (Urry dan Larsen, 2011). Era digital semakin mempermudah dan mempercepat perkembangan fotografi yang semakin praktis, mudah dan terjangkau. Setiap orang dapat mengambil dan mengunggah foto perjalanan wisata mereka dengan cepat di Media Sosial, baik dengan menggunakan kamera saku, kamera mirrorless, DSLR hingga kamera handphone.

Foto mempunyai kelebihan yaitu bersifat universal yang dapat dipahami walaupun melihat foto tersebut berbeda dengan bahasa sehari-hari. Media foto dirasa sangat tepat sebagai sarana untuk menarik minat karena foto terlihat lebih sederhana, modern, nyata serta mudah dipahami dan menarik. Foto juga mampu “menghentikan waktu dan tempat” (Urry dan Larsen, 2011). Beberapa tahun terakhir, dua ''megatren'' telah terjadi di internet yaitu fotografi dan media sosial, perubahan tersebut dapat mempengaruhi sistem pariwisata secara signifikan. Hal

(3)

3 ini membuat foto sebagai alat komunikasi atau sarana promosi yang sangat efektif dan mudah digunakan misalnya dalam kegiatan pariwisata.

Internet telah mengubah wajah secara fundamental cara penyebaran informasi terkait pariwisata dan cara orang merencanakan dan melakukan wisata (Buhalis dan Laws, 2008). Ekspresi berpendapat dari pengguna internet ke pengguna lainnya melalui media online untuk mendiskusikan pengalaman dan kegiatan di situs media social. Kegiatan tersebut itu mewakili berbagai bentuk consumer generated content (CGC) seperti blog, komunitas virtual, wiki, jaringan sosial, collaborative tagging, dan berbagi media file. Situs-situs seperti YouTube dan Flickr, telah mendapat popularitas besar secara online ketika digunakan oleh wisatawan di Internet (Gretzel, 2006). Banyak dari situs media sosial yang membantu penggunanya dalam mengunggah dan berbagi komentar mereka yang berhubungan dengan perjalanan, cerita, tips, dan pengalaman pribadi yang kemudian berfungsi sebagai informasi bagi orang lain. Foto dalam situs media sosial dapat menjadi media pendukung yang efektif, contohnya dibidang pariwisata, karena foto mampu memberikan pengalaman visual yang kuat bagi yang melihatnya (McKean, 2014).

Perkembangan fotografi digital dan terjangkaunya biaya internet menjadikan foto cocok sebagai sarana promosi. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri yang mampu menarik minat pengguna media sosial untuk datang dan menikmati obyek wisata tersebut. Kombinasi fotografi dan internet mampu dengan cepat menyampaikan promosi tujuan wisata. Misalnya di Laut Aegean yang dalam waktu singkat kunjungan turisnya meningkat menjadi 60.000

(4)

4 kunjungan per hari. Peningkatan tersebut dikarenakan wisatawan Taiwan yang bernama Justin yang mengunggah foto turisnya di salah satu website terkenal (Lo et al., 2011).

Perkembangan industri pariwisata dengan media sosial menjadi semakin baik. Akun-akun yang mengunggah foto-foto yang bertujuan untuk memberikan keterangan informasi suatu lokasi secara tidak langsung mempromosikan tempat-tempat tersebut. Sebelum merencanakan perjalanan atau mencari inspirasi untuk berwisata, wisatawan sering memanfaatkan jejaring sosial, seperti Path, Instagram, ataupun Pinterest untuk mengabadikan momen mereka ketika berada di suatu tempat menarik atau bahkan belum banyak dikunjungi. Akhirnya persebaran foto di internet mengalami perkembangan yang cukup pesat, hal tersebut dapat diketahui dari jumlah foto yang diunggah ke media sosial.

Jumlah pengguna aktif sosial media terbanyak pada Januari 2015 dipimpin oleh Facebook dengan pengguna sebanyak 1,366 milyar. Posisi kedua sebanyak 629 juta pengguna aktif ditempati oleh Qzone (sosial media di China). Sosial media yang dimiliki oleh Google sebagai mesin pencari terpopuler di Internet yaitu Google+ menempati posisi ketiga sebanyak 343 juta pengguna aktif. Kemudian Instagram mempunyai pengguna aktif 300 juta ada di posisi keempat dan twitter dengan pengguna aktif 264 juta diposisi kelima (Kemp, 2015). Kecepatan peredaran foto di dunia internet khususnya media sosial sangat cepat dan banyak. Berdasarkan data yang diperoleh dari infografis Gopopcorn (2012) bahwa dalam 60 detik tercatat rata-rata pengguna internet mengungggah foto di Facebook sebanyak 136.000 foto, Flickr sebagai media sharing foto yang terkenal

(5)

5 tercatat rata-rata foto diunggah sebanyak 3.500 foto setiap 60 detiknya. Perputaran foto ini meningkat seiring semakin banyaknya pengguna kamera digital, smartphone, dan semakin terjangkaunya biaya paket internet.

Perbedaan foto yang beredar pada situs jejaring sosial secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu foto liburan (holiday snaps) atau foto turis (tourist photograph) dan foto professional. Perbedaan foto liburan (holiday snaps) atau foto turis (tourist photograph) adalah foto yang mengabadikan kesempatan perjalanan dan pengalaman liburan yang dijadikan beberapa frame foto, biasanya dilakukan secara spontan dengan pemikiran take shoot think later (Robinson dan Picard, 2009). Foto liburan (holiday snaps) atau foto turis (tourist photograph) mengesampingkan seni dalam fotografi (Benjamin, 1999). Foto tersebut biasa diambil oleh wisatawan hanya dengan kamera standar dengan kemampuan fotografi yang minimal. Sedangkan foto yang kedua merupakan foto profesional (professional travel photography) dimana foto tersebut telah mengikuti beberapa teknik fotografi seperti; perspektif (angle), pencahayaan, komposisi, dan melalui berbagai tahapan editing foto untuk mengeluarkan warna (Robinson dan Picard, 2009). Foto profesional memiliki tingkatan teknik fotografi lebih banyak dibandingkan dengan foto turis. Kedua foto tersebut dapat mempengaruhi orang yang melihatnya secara berbeda.

Dalam konteks promosi pariwisata kedua foto tersebut dapat mempengaruhi keinginan wisatawan untuk berkunjung ke lokasi wisata yang terdapat dalam foto dengan cara yang berbeda seperti penelitian yang dilakukan oleh Miller dan Stoica yang telah meneliti mengenai perbedaan penggunan foto

(6)

6 dan gambar dalam media promosi. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa penggunaan warna yang lebih banyak dapat menimbulkan tingkat perhatian yang jelas tetapi kejelasan mengenai obyek yang terdapat dalam media tersebut dapat menimbukan minat yang lebih tinggi (Miller dan Stoica, 2003)

Masyarakat berwisata untuk melepas penat dan kejenuhan. Salah satu bahan referensi mencari suatu tempat pariwisata adalah melalui foto di media sosial (Xiang dan Gretzel, 2010). Tidak sedikit pula masyarakat yang awalnya tidak memiliki niat untuk berwisata, setelah melihat foto di media sosial mengenai suatu tempat pariwisata yang menarik, berkeinginan untuk mengunjungi dan berpergian ke tempat tersebut. Keinginan wisatawan untuk mengunjungi suatu destinasi ketika melihat suatu foto tidak terlepas dari hierarki respon dari foto tersebut terhadap persepsi wisatawan. Hierarki tersebut menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan dalam memberikan pesan promosi yang pada akhirnya menimbulkan keinginan wisatawan untuk berkunjung setidaknya dalam foto harus meningkatkan perhatian wisatawan dalam melihat foto tersebut menimbulkan ketertarikan, yang pada akhirnya menimbulkan sikap terhadap penawaran tersebut dan menstimulasi minat untuk mengunjungi destinasi yang terdapat di dalam foto (Miller dan Stoica, 2003).

Penggunaan foto dalam media sosial sebagai salah satu bentuk media promosi Word-of-Mouth (WOM) dalam pariwisata. WOM sebagai salah satu bentuk promosi yang murah dan efektif dalam menyebarkan informasi mengenai suatu destinasi wisata. WOM terbukti dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi wisata (Lo et al., 2011). Penting

(7)

7 penelitian yang mengulas perbedaan efek rangsangan (pictorial stimuli) kedua jenis foto dalam hierarki respon untuk hal mempengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung, penting bagi pengelola atau stakeholder dari destinasi tersebut. Seiring meningkatnya fenomena mengenai hubungan foto, media sosial dan pariwisata, penelitian ini berusaha untuk menemukan perbedaan respon pada komponen teknis foto dan komponen eWOM foto di media sosial dalam berbagai tahapan hierarki respon pada foto destinasi pariwisata. Secara khusus penelitian ini ditujukan untuk meneliti bagaimana rangsangan yang berupa foto turis dan foto profesional akan memunculkan respon pengguna media sosial yang berbeda dalam hal tingkat respon kognitif, respon afektif, respon perilaku. Ketiga respon tersebut dapat diukur berdasarkan ketertarikan (interest), perhatian (attention), minat (desire), dan tindakan (action).

1.2 Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian

Sebelum kegiatan berwisata, masyarakat memerlukan referensi untuk menentukan pilihannya. Foto sebagai salah satu media referensi berperan penting dalam mempengaruhi minat berwisata, di media sosial terdapat dua jenis foto yang di-upload oleh penggunanya yaitu foto turis dan foto profesional. Kedua jenis foto tersebut dapat mempengaruhi pengguna minat media sosial dalam berwisata, sehingga mengetahui pengaruh dari kedua foto tersebut merupakan hal yang penting. Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dijelaskan sebelumnya, pertanyaan penelitian yang ditanyakan dalam penelitian ini yaitu:

(8)

8 1. Apakah terdapat perbedaan respon antara komponen teknis serta komponen eWOM pada foto turis dan foto professional dalam attention (perhatian)?

2. Apakah terdapat perbedaan respon antara komponen teknis serta komponen eWOM pada foto turis dan foto professional dalam interest (ketertarikan)?

3. Apakah terdapat perbedaan respon antara komponen teknis serta komponen eWOM pada foto turis dan foto professional dalam desire (hasrat)?

4. Apakah terdapat perbedaan respon antara komponen teknis serta komponen eWOM pada foto turis dan foto professional dalam action (tindakan)?

5. Apakah komponen teknis foto dan komponen eWOM menjadi mediator antara foto profesional atau foto turis dengan AIDA?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditulis di atas, maka tujuan penelitian ini yaitu:

1. Untuk mengetahui perbedaan respon antara komponen teknis serta komponen eWOM pada foto turis dan foto professional dalam attention (perhatian). 2. Untuk mengetahui perbedaan respon antara komponen teknis serta komponen

eWOM pada foto turis dan foto professional dalam interest (ketertarikan). 3. Untuk mengetahui perbedaan respon antara komponen teknis serta komponen

(9)

9 4. Untuk mengetahui perbedaan respon antara komponen teknis serta komponen

eWOM pada foto turis dan foto professional dalam action (tindakan).

5. Untuk mengetahui komponen teknis foto dan komponen eWOM yang menjadi mediator antara foto profesional atau foto turis dengan AIDA.

1.4 Keaslian Penelitian

Beberapa penelitian mengenai pengaruh fotografi dirangkum dalam tabel 1.1 di bawah ini. Tabel ini merangkum beberapa penelitian sebelumnya yang melakukan penelitian hubungan atau pengaruh fotografi terhadap pariwisata sebagai acuan dalam penelitian ini.

(10)

10

Tabel 1.1 Perbandingan Penelitian Sebelumnya Nama dan Tahun

Penelitan

Lokasi dan Metodologi Penelitian

Variabel Temuan

Stoica & Miller (2003)

Lokasi: Riverfall USA

Metodologi: Desain Eksperimental

Independen: Foto, artistic

rendition, watercolor painting

Dependen: Tingkat perhatian, mental imagery, siap terhadap

iklan, sikap terhadap obyek wisata, nilai mengunjungi obyek wisata

Iklan menggunakan foto lebih menarik perhatian dibandingkan iklan menggunakan artistic rendition dan watercolor painting. Namun iklan foto tidak lebih superior dalam bebarapa hal.

Xiang, et al. (2010) Lokasi: USA Metodologi: Trip planning scenario, Intercoder reability

Destinasi, nama domain, distribusi media sosial,

media sosial dalam domain pariwisata secara online untuk perjalanan pencarian informasi. pemasar pariwisata dapat memasuki ruang informasi sosial dengan memahami apa yang mendorong wisatawan secara online ke situs media sosial.

Lo, et al. (2011)

Lokasi: Hongkong Metodologi: Studi literature dan wawancara telepon dengan Computer-Assisted Telephone Interview (CATI) diacak menggunakan Modified Random Digit Dialing (MRDD)

Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pendapatan, Alasan berwisata, Tujuan lokasi, Pemilihan media sosial.

Wisatawan sebagian besar menggunggah foto perjalanannya diberbagai media online

Walters, et al. (2012) Lokasi: - Metodologi: Eksperimen Consumption vision, Emotional response, Decision making,

Kombinasi kata singkat dan foto menjadi kombinasi yang paling efektif Boley, et al. (2013) Lokasi:Amerika Serikat Metodologi: Survei

Sharing foto perjalanan wisata di jejaring sosial sebagai souvenir dan bukti pengalaman berwisata. Suvenir sebagai hadiah, souvenir sebagai kenang-kenangan, Jenis Kelamin, Umur, Frekuensi perjalanan

Perbedaan motivasi dalam membeli souvenir:

- Hadiah

- Kenang-kenangan - Bukti perjalanan

Sumber: Miller dan Stoica (2003), Xiang et al., (2010), Lo et al, (2011), Walters et al., (2012), Boley et al., (2013).

Penelitian terdahulu yang menjadi acuan dalam penelitian ini sebagian besar meneliti mengenai efek foto dalam mempengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung (Miller dan Stoica, 2003; Walters et al., 2012; Lo et al.,2011). Sebagian lainnya meneliti mengenai penggunaan foto dalam media sosial dan dampak media sosial sebagai sarana promosi wisata (Xiang et al., 2010; Boley et

(11)

11 al.,2013). Penelitian yang mendekati dari sisi metodologi dan topik adalah penelitian yang dilakukan oleh Miller dan Stoica (2003) yang meneliti mengenai perbedaan efek penggunaan foto dan gambar artistik dalam iklan promosi dalam minat berkunjung wisatawan. Penelitian Miller dan Stoica ini menjadi acuan utama dalam penelitian ini.

1.5 Manfaat Penelitian

Untuk pihak akademisi, penelitian ini untuk membuktikan secara empiris perihal dampak perbedaan respon foto turis (tourist photograph) dan foto profesional (professional travel photography) pada pengguna media sosial. Mempertimbangkan pada penelitian-penelitian sebelumnya ditemukan hasil-hasil yang beragam, pengujian kembali terhadap hasil-hasil penelitian sebelumnya akan menjadi dasar pengembangan kajian teoritis terhadap bidang ilmu pariwisata, khususnya kaitan fotografi dan pariwisata.

Untuk pihak praktisi, penelitian ini menyediakan informasi bagi pemasar untuk dapat dipergunakan sebagai sarana dalam memahami perilaku konsumen khususnya pengguna media sosial di Indonesia, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :