Jejak Trading System pada Profil Investor
Elaborasi Hasil Jajak Pendapat Pra Simulasi
Deni Khanafiah*
<[email protected]> Hokky Situngkir
**
<[email protected]> Yohanes Surya
***
* Research Fellow, Dept. Computational Sociology, Bandung Fe Institute
** Researcher in Bandung Fe Institute and Head of Research in Surya Research International *** Senior Fellow of Econophysics Research in Surya Research International
Abstract
We elaborate the result of polling conducted among traders in Jakarta Stock Exchange providing useful guidance on designing the microstructure simulation about correspondence between trading system and stocks liquidity. We extract some important characteristics of traders reflecting their decision making process and strategies on investment. We also find important notes on investor’s response to the possibility of changing the trading mechanisms and evaluation due to used trading system. In order to ease reading the result, we present the qualitative analysis tree of the respondent’s answers. The paper is written in Indonesian.
Keywords: investors’ profile, investment strategies, liquidity, trading system.
Acknowledgement
Authors acknowledge the helpful cooperation on collecting the data of Divisi Riset dan Pengembangan in PT Bursa Efek Jakarta, especially Vitri Herma Susanti, and also Yun Hariadi and BFI colleagues for discussions. The paper reflects the complementary result of research funded by Surya Research International and PT. Bursa Efek Jakarta.
2
1. Pendahuluan
Dinamika harga dalam pasar merupakan suatu fenomena yang membrojol dari aksi jual dan beli dari agen-agen ekonomi. Proses interaksi antar agen dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh agen ekonomi, serta kaitannya dengan dinamika harga di pasar masih merupakan topik penelitian yang menarik hingga saat ini. Pendekatan yang dilakukannya meliputi banyak hal, seperti bagaimana perilaku rasionalitas agen ekonomi (Suroso, 2004), properti statistikanya (Hariadi & Surya, 2003), hingga pendekatan simulasi model berbasis agen (Tesfatsion, 2005; Chan, et al, 1999; Situngkir and Surya, 2004). Di tengah pesatnya perkembangan metode analisis yang digunakan untuk meneliti sistem pasar, pendekatan dengan menggunakan jajak pendapat atau polling sebagai dasar analisis dirasa masih perlu dilakukan. Polling merupakan suatu metode alternatif yang relatif mudah untuk memperoleh data tentang sistem yang hendak kita analisis. Pendekatan ini cukup bermanfaat untuk melakukan estimasi dan penyusunan hipotesis awal tentang karakteristik suatu sistem yang hendak dianalisis.
Dalam penyusunan model simulasi untuk menganalisis mikrostruktur pasar modal, kita dihadapkan pada permasalahan bagaimana agen yang mempunyai karakteristik yang berbeda dan interaksi yang terjadi di antaranya, membrojolkan suatu fenomena makro tertentu, seperti formasi harga, likuiditas perdagangan, dan lain sebagainya, yang diharapkan bersesuaian dengan data sesungguhnya. Model yang dibangun tentunya harus realistis dan dapat mencakup perilaku tertentu dari agen-agen yang terlibat dalam sistem tersebut (Chan,
et al, 1999). Jajak pendapat atau polling akan cukup membantu kita dalam mengestimasi
karakteristik agen dan gambaran interaksi yang terjadi di antara agen tersebut. Pertanyaan-pertanyaan dalam polling bisa kita gunakan untuk menganalisis beberapa karakteristik umum, seperti: bagaimana penilaiannya terhadap suatu aturan yang diterapkan dalam mekanisme perdagangan tertentu, faktor-faktor yang relatif berpengaruh dalam pengambilan keputusannya, kecenderungan pemilihan tipe saham tertentu yang diperdagangkan, serta sejauh mana toleransi agen tersebut terhadap resiko, dan lain sebagainya.
Dalam makalah ini kita akan mencoba menganalisis data hasil jajak pendapat yang dilakukan terhadap para investor di bursa efek Jakarta. Jajak pendapat yang dilakukan tersebut masih merupakan salah satu bagian dari penelitian konstruksi simulasi untuk analisis mikrostruktur Bursa Efek Jakarta, serta evaluasi terhadap mekanisme sistem perdagangan yang diterapkan saat ini. Jajak pendapat ini juga ditujukan untuk melihat profil atau
3 karakteristik umum yang dimiliki oleh para investor serta bagaimana penilaiannya terhadap sistem perdagangan (trading system) digunakan saat ini di Bursa Efek Jakarta. Lebih jauh, kita mencoba untuk melihat kaitan antara kedua hal tersebut dengan permasalahan likuiditas perdagangan saham di pasar modal tersebut.
2. Penyusunan dan Metode Jajak Pendapat
Seperti diuraikan sebelumnya bahwa tujuan utama dilakukan jajak pendapat atau
polling kali ini terdiri atas beberapa hal, diantaranya: untuk mengetahui profil atau karakteristik
dari investor dan melihat penilaian mereka terhadap trading system yang saat ini diterapkan di Bursa Efek Jakarta. Kedua hal tersebut diduga merupakan faktor yang cukup mempengaruhi likuiditas perdagangan saham. Dalam pengambilan datanya, jajak pendapat kita lakukan terhadap 47 investor yang terlibat dalam perdagangan di Bursa Efek Jakarta pada tanggal 22-23 Maret 2005 pada jam kerja bank1.
2.1 Profil Investor
Dalam upaya untuk mengetahui karakteristik dari para investor yang terlibat dalam proses perdagangan di BEJ, kita mencoba merumuskan beberapa pertanyaan polling yang diupayakan mencakup berbagai aspek dari perilaku investor, terutama yang terkait dengan proses pengambilan keputusan investor dalam melakukan transaksi. Profil-profil yang ingin kita ketahui tersebut meliputi beberapa hal, yaitu:
¾ Strategi umum yang digunakan oleh para investor dalam melakukan transaksi ¾ Metode analisis yang digunakan dalam pengambilan keputusan
¾ Hubungan saling mempengaruhi keputusan di antara investor
¾ Ekpektasi dari investor terhadap jenis-jenis saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta
Pertanyaan-pertanyaan jajak pendapat yang kita ajukan untuk melihat hal tersebut terlihat pada pertanyaan ke-3 hingga ke-6 pada polling (lampiran 1). Untuk lebih jelasnya, kita akan mencoba memaparkan satu per satu tujuan hal-hal yang ingin dicapai dalam setiap pertanyaan serta kaitan antara pertanyaan tersebut dengan permasalahan yang ingin kita analisis lebih jauh, yaitu likuiditas perdagangan saham.
1 Berdasarkan rule of thumb dapat kita katakan hasil polling pada tingkat kepercayaan 95% dengan tingkat kesalahan <10%.
4 Pertanyaan ke-5 dan ke-6 ditujukan untuk melihat pemilihan strategi yang digunakan oleh investor dalam melakukan transaksi. Dalam hal ini kita mengajukan pilihan berupa 2 strategi umum yang biasa digunakan oleh investor, yaitu fundamentalis dan chartist. Karakteristik dan variasi strategi dari para investor ini sangat penting untuk kita ketahui karena hal tersebut akan cukup berpengaruh terhadap keputusan transaksi yang dilakukan investor, yang juga termasuk faktor yang menyebabkan terjadinya dinamika harga serta likuiditas perdagangan. Profil strategi yang dimiliki investor BEJ hasil polling inipun nantinya akan cukup bermanfaat dalam mengestimasi komposisi strategi agen untuk penelitian lebih lanjut, misalnya penyusunan simulasi mikrostruktur pasar modal.
Pertanyaan polling yang masih mencoba mengelaborasi karakteristik investor adalah
pertanyaan 4. Pertanyaan ini ditujukan guna mengetahui sejauh mana tingkat pengaruh investor satu sama lain . Tingkat pengaruh seorang investor bisa kita lihat dari sejauh mana seorang investor mempengaruhi investor lainnya untuk mengikuti keputusan yang dibuatnya. Hubungan saling pengaruh ini merupakan salah satu tipe interaksi yang terjadi di antara investor. Hasil lain dari yang diharapkan dari pertanyaan ini adalah mencoba melihat apakah imitasi terhadap keputusan investor lain merupakan proses yang cukup banyak dilakukan oleh para investor di BEJ ataukah tidak.
Yang terakhir mengenai profil investor yang ingin kita ketahui melalui jajak pendapat ini adalah bagaimana kecenderungan para investor untuk memilih saham dalam penyusunan portofolionya. Hasil yang diperoleh nantinya akan ditujukan untuk melihat sejauh mana kecenderungan pemilihan jenis saham oleh investor akan berpengaruh terhadap likuiditas perdagangan.
2.2 Evaluasi Trading System Bursa Efek Jakarta
Selain karakteristik investor, ada dugaan bahwa pemilihan trading system pun akan berpengaruh terhadap likuiditas perdagangan dalam suatu pasar (Situngkir, et al, 2005a). Dalam polling ini kita mencoba melihat bagaimana pola transaksi para investor dan penilaian investor terhadap mekanisme perdagangan yang saat ini diterapkan di BEJ. Tujuan utamanya untuk mengevaluasi trading system yang saat ini dilihat dari kebiasaan transaksi investor dan mencoba melihat hubungannya dengan permasalahan likuiditas perdagangan di pasar modal.
Hal pertama yang kita coba lihat adalah bagaimana pola pemilihan waktu transaksi investor. Hal ini kita nyatakan dalam pertanyaan 1 dan 2. Hasil jajak pendapat ini diharapkan
5 akan memberikan gambaran: apakah terdapat hubungan antara pemilihan trading session – sebagai salah satu aspek dari trading system – yang saat ini digunakan di BEJ dengan likuiditas perdagangan.
Hal lain yang ingin kita elaborasi, terkait dengan evaluasi trading system yang digunakaan saat ini adalah tingkat kepercayaan dan optimisme investor terhadap fairness mekanisme perdagangan saat ini. Hal ini kita nyatakan dalam pertanyaan 7 dari polling. Hasil jajak pendapat dari pertanyaan ini diharapkan akan memberikan gambaran tentang seberapa besar kepercayaan investor terhadap mekanisme trading di BEJ, dan apakah hal ini menjadi salah satu faktor penyebab tidak likuidnya perdagangan di BEJ.
Hasil jajak pendapat dari pertanyaan 7, akan dipertegas dengan pertanyaan 8, yang mencoba melihat seberapa besar pengaruh perubahan suatu trading system terhadap keputusan transaksi para investor. Hal ini cukup penting kita ketahui untuk melihat bagaimana kemungkinan respon para investor ketika terjadi perubahan trading rule di BEJ.
Secara umum alur pertanyaan polling dan keterkaitan antara satu pertanyaan dengan pertanyaan lain serta bagaimana hal ini nantinya digunakan untuk melihat likuiditas pasar modal dapat kita lihat pada gambar 1. Lebih jauh, kita berharap bahwa melalui polling ini kita bisa melihat faktor mana yang cukup berpengaruh terhadap likuiditas pasar modal.
Kecenderungan pemilihan waktu transaksiinvestor Seberapa besar pengaruh perubahan system perdagangan terhadap keputusan transaksi investor Penilaian investor terhadap fair atau tidaknya mekanisme perdagangan saat ini E V L U A S I T R A D I N G S Y S T E M
GUIDANCE SIMULASI ATAS LIKUIDITAS PASAR
Investor Fundamentalis Chartist RSI Parabolic SAR Stokastik MA Lainnya Dipengaruhi Mempengaruhi Memilih saham tidak likuid Memilih saham likuid strategi investor Penilaian investor terhadap saham tidak likuid Tingkat pengaruh investor dengan berbagai strateginya metode analisis investor chartist P R O F I L I N V E S T O R Gambar 1
3. Analisis Hasil Jajak Pendapat terhadap Investor di Bursa Efek
Jakarta
3.1 Karakteristik Investor di Bursa Efek Jakarta Hasil Jajak Pendapat
Pasar modal pada dasarnya merupakan sistem yang tersusun atas elemen-elemen berupa agen-agen ekonomi, dalam hal ini trader atau investor. Interaksi dan keputusan perdagangan yang dibuat oleh para investor merupakan faktor yang mempengaruhi dinamika harga yang terjadi di pasar. Pemahaman tentang karakteristik investor serta pola interaksinya merupakan suatu hal yang penting untuk dikarakterisasi ketika kita mencoba melihat kaitan antara perilaku dan interaksi agen di tingkatan mikronya dengan beberapa karakter makro tertentu, seperti dinamika harga, likuiditas dan lain sebagainya.
Salah satu karakteristik yang cukup penting diketahui adalah strategi yang digunakan oleh investor. Strategi pada dasarnya menjadi atribut yang dimiliki oleh masing-masing investor yang sifatnya relatif tidak berubah selama rentang waktu perdagangan tertentu. Strategi menjadi dasar bagi setiap investor dalam mengambil keputusan transaksinya. Strategi yang berbeda-beda dari setiap investor akan menyebabkan pengambilan keputusan transaksi yang berbeda-beda ketika menyikapi suatu informasi tertentu. Perbedaan strategi ini juga bisa dipandang sebagai suatu diversifikasi atau keheterogenan agen yang menyusun pasar.
Dengan melihat hasil jajak pendapat yang dilakukan terhadap investor yang melakukan perdagangan di Bursa Efek Jakarta, ditunjukkan bahwa sebagian besar investor di Bursa Efek Jakarta cenderung menggunakan isu fundamental sebagai dasar pengambilan keputusannya. Pada gambar 2, bisa kita lihat bahwa 26 dari 47 investor
4 5 17 21 3 1 0 5 10 15 20 25 A B C D E Tidak Menjawab A. Grafik /Chart fluktuasi harga B. Isu Fundamental C. Kombinasi keduanya, tapi lebih sering Chart D. Kombinasi keduanya, tapi lebih sering Isu Fundamental E. Lainnya
Gambar 2
cenderung menggunakan isu fundamental sebagai dasar pengambilan keputusan transaksinya. Jumlah investor fundamentalis relatif lebih banyak dibandingkan dengan investor yang menggunakan metode grafik atau chartist.
Investor-investor dengan strategi fundamental cenderung menggunakan beberapa metode konvensional seperti berita, reportase, laporan dan sebagainya, sebagai suatu referensi dalam pengambilan keputusannya. Dengan berdasarkan hasil jajak pendapat yang menunjukkan bahwa sebagian besar investor di BEJ merupakan investor fundamentalis, maka berdasarkan prinsip asimetri dalam pasar, diduga terjadi banyak sekali proses imitasi keputusan (copycat) yang menurut Makowiec (2000) berbuntut pada pasar yang kurang efisien secara umum.
Strategi lain yang digunakan investor di BEJ adalah menggunakan grafik atau
chartist sebagai dasar pengambilan keputusannya. Investor dengan strategi chartist secara
umum memiliki kecenderungan untuk melihat tren pasar dalam horizon acuan sejarah tertentu sebagai dasar pengambilan keputusannya. Investor ini bisa kita lihat lebih detail lagi dengan memperhatikan metode analisis yang digunakannya. Dari hasil jajak pendapat bisa kita lihat bahwa metode analisis MA dan RSI merupakan metoda analisis yang banyak digunakan oleh investor chartist di BEJ (gambar 3). Investor chartist diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya fluktuasi harga pada beberapa saham yang memang terkenal likuid seperti halnya TELKOM (Situngkir & Surya, 2004).
Menyambung proses imitasi di antara keputusan investasi yang ada, kita juga memperhatikan tingkat keterpengaruhan dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini
17 21 8 9 1 17 0 5 10 15 20 25 Moving Average (MA) Relative Strength Index (RSI) Parabolic Stop And Reverse (Parabolic SAR)
Stokastik Lainnya Tidak menjawab
Gambar 3
cukup penting untuk kita perhatikan mengingat pada dasarnya agen-agen dalam ekonomi tidaklah independen, mereka senantiasi berinteraksi dan beradaptasi menurut pola-pola tertentu (Tesfatsion, 2005). Tingkat keterpengaruhan investor merupakan salah satu hal yang hal yang perlu diperhatikan untuk menganalisis dinamika pengambilan keputusan investor. Semakin besar pengaruh seorang investor, maka semakin besar kemungkinan investor lain untuk mengambil keputusan seperti yang ia pilih.
Dari hasil jajak pendapat diperoleh hasil yang cukup menarik terkait dengan tingkat keterpengaruhan investor-investor di Bursa Efek Jakarta. Investor di BEJ cenderung lebih banyak dipengaruhi (hampir 58%) oleh invetor lain dalam proses pengambilan keputusannya (gambar 4). Hal ini memunculkan dugaan bahwa investor di BEJ cenderung untuk meng-imitasi strategi atau keputusan yang diambil oleh investor lain yang mempunyai pengaruh tertentu yang lebih besar, seperti modal besar dan lain sebagainya. Dengan kata lain, sangat kecil investor yang bertumpu pada satu perangkat analisis (apakah fundamental dan chartist) oleh karena pola imitasi ini.
Untuk mengecek hal ini, kita melihat tingkat keterpengaruhan dari investor dengan pilihan strateginya. Hasil yang kita peroleh terlihat pada gambar 5. Dari sini bisa kita lihat bahwa baik investor dengan strategi fundamentalis ataupun chartist cenderung saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Namun secara spesifik, dari gambaran tersebut terlihat bahwa agen fundamentalis yang terpengaruh oleh keputusan investor lain cenderung lebih banyak yang daripada yang mempengaruhi. Sementara di sisi lain agen
chartist juga memiliki peran dalam mempengaruhi dan dipengaruhi. Dari sini, sebagai Keterpengaruhan investor lain terhadap
keputusan Investor
38%
58%
4%
Anda mempengaruhi orang lain Anda dipengaruhi orang lain Tidak keduanya
Gambar 4
masukan untuk mendisain simulasi agen nantinya, kita perlu mempertimbangkan penggunaan model dengan variabel pengaruh-mempengaruhi yang dominan lebih daripada sekadar mematuhi aturan yang rigid baik fundamentalis maupun chartist – karena misalnya, agen yang menggunakan MA, tidak senantiasa menyandarkan keputusan pada analisis MA tersebut ataupun mereka yang membaca berita fundamental seringkali pula terpengaruh oleh rumor yang diperoleh dari agen ekonomi lain.
Hal lain yang masih terkait dengan karakteristik investor di BEJ adalah bagaimana kemungkinan pemilihan saham dalam penyusunan portofolio dari para investor, terutama terhadap saham-saham yang tidak begitu likuid. Dari hasil jajak pendapat, seperti terlihat pada gambar 6, bisa kita lihat bahwa saham-saham yang kurang likuid mempunyai kemungkinan yang sama besar dengan saham-saham yang likuid untuk dipilih oleh investor dalam penyusunan portofolionya.
Aspek penyusunan portofolio investor ini kemudian dapat kita elaborasi lebih jauh dengan melihat bagaimana kaitan strategi yang dipilih investor dengan pemilihan jenis saham dalam portofolionya. Hasil elaborasi tersebut bisa kita lihat pada gambar 7. Dari gambar tersebut, bisa kita lihat bagaimana perbandingan pilihan saham yang likuid dan tidak likuid oleh para investor dengan strategi yang dipilihnya. Dari sini ditunjukkan bahwa investor fundamentalis lebih banyak memilih saham yang likuid dibandingkan dengan yang tidak likuid (gambar 7(a)). Hasil sebaliknya justru didapatkan pada investor
chartist (gambar 7(b)). Hal ini menjadi suatu hal yang cukup menarik, ketika dikaitkan
8 16 9 12 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Fundamentalis; Mempengaruhi Fundamentalis; Dipengaruhi Chartist; Mempengaruhi Chartist; Dipengaruhi Gambar 5
Hasil jajak pendapat mengenai tingkat pengaruh investor di BEJ dilihat dari pilihan strateginya
21 17 20 22 0 5 10 15 20 25 Saham-saham blue chip
Saham LQ45 Saham-saham pada papan utama
Saham-saham pada papan pengembangan Gambar 6
Pemilihan jenis saham dalam penyusunan portofolio investor
dengan permasalahan likuiditas perdagangan di pasar modal. Profil investor di BEJ yang sebagian besar merupakan investor fundamentalis (hasil jajak pendapat pada gambar 2), serta cenderung memilih saham likuid sebagai pilihan investasinya, diduga mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap ilikuiditas saham-saham tertentu perdagangan di BEJ.
Hal yang unik dan sangat menarik dari hasil jajak pendapat tentang profil investor ini adalah bahwa agen yang menggunakan grafik historis (chartist) relatif banyak yang memasukkan saham non-likuid ke dalam portofolionya, sementara secara logis, seharusnya strategi chartist justru sangat mengutamakan likuiditas saham karena data perdagangan yang dapat dijadikan referensi akan lebih banyak. Kebalikannya, mereka yang dikategorikan fundamentalis justru lebih memperhatikan saham yang likuid dalam keputusan investasi – kontras dengan kelaziman bahwa saham yang kurang likuid cenderung didominasi oleh strategi fundamentalis. Namun hal ini bisa dijelaskan sebagai kenyataan bahwa saham yang likuid cenderung memiliki lebih banyak informasi fundamental yang dapat dijadikan acuan. Dari perspektif ini, kita dapat menyusun hipotesis bahwa faktor popularitas sebuah emitten sangat memberikan pengaruh terhadap likuiditas sahamnya. Namun umpan baliknya justru bahwa popularitas sebuah emitten di bursa saham sangat pula dipengaruhi oleh likuiditasnya.
3.2 Evaluasi Trading System dari Sudut Pandang Perilaku Transaksi Investor Selain karakteristik investor, kita juga mencoba menganalisis bagaimana kecenderungan perilaku investor dalam melakukan transaksi dengan menggunakan mekanisme perdagangan yang saat ini diterapkan di Bursa Efek Jakarta. Tujuannya adalah mencoba mengevaluasi apakah sistem perdagangan (trading system) saat ini dinilai sudah cukup tepat dan fair, serta melihat sejauh mana pengaruh pemilihan trading system terhadap keputusan transaksi investor.
Aspek pertama yang coba kita analisis dari hasil polling mengenai trading system adalah evaluasi mengenai trading session yang saat ini diterapkan di BEJ. Trading session merupakan salah satu bagian trading system dan umumnya bisa berupa Continuous Trading
Session (CTS) dan Call Market Session (CMS). Dilihat dari kecenderungan investor untuk
melakukan transaksinya pada saat sesi pagi (gambar 8), bisa diperkirakan bahwa transaksi perdagangan akan lebih sering terjadi dan likuiditas perdagangan saham akan lebih tinggi pada sesi ini. Hal ini menjadi masukkan bagi kita pada saat mencoba melakukan perubahan trading session, terutama ketika mencoba menerapkan Call Market Session (CMS) yang pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh pemilihan waktu transaksi, yang cenderung lebih periodik.
Dalam trading system, para investor cenderung untuk masuk ke pasar pada sesi pagi relatif daripada sesi siang. Ada dua kemungkinan sederhana di sini, yaitu investor ingin ikut dalam call opening atau ingin segera melakukan implementasi atas isu fundamental
Gambar 7
Pemilihan jenis saham likuid dan tidak likuid oleh (a) Investor Fundamentalis. (b), Investor Chartist di BEJ
Pemilihan jenis saham oleh investor fundamentalis
25%
26% 26%
23%
a. Saham-saham blue chip b. Saham LQ45
c. Saham-saham pada papan utama d. Shm. papan pengembangan
Pemilihan jenis saham oleh investor chartist
28%
17% 26%
29%
a. Saham-saham blue chip b. Saham LQ45
c. Saham-saham pada papan utama d. Shm. papan pengembangan
yang berkembang pada pagi hari itu. Hal ini kita cek pada pertanyaan berikutnya yang menanyakan apakah investor berniat menunggu call opening selesai baru melakukan trading, atau ikut dalam call opening tersebut. Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa ternyata investor yang berusaha mengikuti call opening relatif sedikit atau berimbang dengan yang menunggu sesi berjalan. Hal ini menunjukkan bahwa diadakannya call pada pasar tidak terlalu besar mempengaruhi excitement dari trader dalam melakukan perdagangan.
Dugaan yang muncul justru adalah sesi pagi memang penting dalam rangka persepsi trader atas rumor yang berkembang dan implementasinya lebih daripada keinginan untuk mengikuti call. Dengan kata lain, pola call sebenarnya justru kurang menguntungkan jika landasan pijak kita adalah likuiditas perdagangan – hal ini tidak memiliki pengaruh yang begitu besar bagi investasi saham-saham yang kurang likuid.
Terlepas dari permasalahan ini, kita juga menanyakan kepada responden evaluasi lebih lanjut tentang trading system dilihat sudut pandang fairness - atas mekanisme perdagangan yang diberlakukan saat ini. Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar (sekitar 81%) investor menilai bahwa sistem perdagangan saat ini sudah cukup fair (gambar 10). Penilaian positif terhadap tingkat fairness pasar dari para investor ini setidaknya memberikan indikasi bahwa mekanisme perdagangan saat ini tidaklah begitu dipermasalahkan oleh investor. Permasalahan ilikuiditas yang diduga terjadi karena tingkat kepercayaan investor terhadap mekanisme perdagangan saat ini dirasa tidaklah sepenuhnya terjadi, setidaknya dengan melihat pada hasil jajak pendapat tersebut.
Gambar 8
Kecenderungan pemilihan sesi perdagangan oleh investor
Pemilihan Sesi Perdagangan oleh Investor
80% 9%
9% 2%
Yang menarik untuk diperhatikan adalah jawaban responden mengenai trading
system tentang kemungkinan terjadinya perubahan sistem perdagangan. Hasil jajak
pendapat menunjukkan bahwa perubahan trading system akan sangat berpengaruh terhadap keputusan transaksi investor (gambar 11). Hal ini cukup beralasan mengingat perubahan sebuah sistem perdagangan tentu menjadi “ramuan” rumor tersendiri yang dapat memberikan shock pada investor yang sangat terpengaruh oleh rumor. Hal ini bisa juga kita baca sebagai kekhawatiran yang mungkin merebak dengan adanya perubahan sistem perdagangan. Di sisi lain, perubahan trading rule tentunya akan menyebabkan investor menyusun ulang pemilihan waktu transaksi serta strategi yang dimiliki, yang tentunya akan disesuaikan dengan prinsip-prinsip optimalisasi yang dimilikinya (Situngkir, et..al, 2005a) atau justru tidak dimilikinya (oleh karena sangat bergantung pada berita fundamental, misalnya).
Pemilihan waktu transaksi pada tiap Sesi
45%
53%
2%
Berusaha untuk ikut dalam sesi Preopening Menunggu hingga sesi perdagangan normal berjalan Tidak menjawab
Gambar 9
Pemilihan waktu transaksi investor BEJ hasil jajak pendapat
Apakah JATS sudah cukup Fair?
81%
17% 2%
4. Diskusi dan Beberapa Catatan Simpulan
Dari elaborasi jajak pendapat yang dilakukan di atas, bisa kita lihat bahwa permasalahan likuiditas perdagangan di pasar modal pada dasarnya merupakan suatu fenomena yang diduga dipengaruhi karakteristik agen dan juga trading systemnya di samping memberikan guidance untuk mendisain simulasi yang dilakukan pada agen-agen pasar buatan. Dalam hal ini kita menemui karakteristik agen di BEJ yang memperhatikan tren fundamental lebih daripada tren grafik historis. Hal ini secara definitif juga bisa dibaca sebagai bentuk horizon waktu yang pendek di kalangan investor yang bertransaksi di BEJ. Sebagaimana dibahas pada Situngkir et.al. (2005b), hal ini memberikan peluang bagi kita untuk memperhatikan berita fundamental dan pengaruh-mempengaruhi antar investor dalam disain simulasi lebih daripada pembedaan yang ketat antara mereka yang berstrategi fundamentalis dan chartist. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa motivasi untuk ikut dalam call tidak sedemikian besar dibandingkan dengan persepsi (yang tentu saja asimetris) atas berita-berita di pasar modal.
Dengan melihat hasil analisis jajak pendapat di atas, memberikan peluang bahwa profil atau karakteristik dari investor di BEJ merupakan faktor yang mempunyai pengaruh besar terhadap likuiditas perdagangan dibandingkan dengan trading syatem-nya. Beberapa karakteristik dari para investor yang cukup mempengaruhi likuiditas perdagangan di BEJ tersebut, meliputi dominannya strategi fundamentalis yang dipilih oleh para investor serta kecenderungan investor untuk mengimitasi keputusan investor
Berpengaruhkah Perubahan Trading System terhadap Keputusan Transaksi?
60% 38%
2%
Ya Tidak Tidak Menjawab
Gambar 11
Pengaruh perubahan trading system terhadap keputusan transaksi investor
lain. Sedangkan dari sisi Trading System -- dengan melihat bagaimana respon investor terhadap mekanisme perdagangan saat ini, berupa pola pemilihan waktu transaksi serta penilaian positifnya terhadap tingkat fainess pasar, menunjukkan bahwa trading system saat ini dirasa sudah cukup baik. Sebagai tambahan suggestion atas adanya perubahan trading
syetem adalah bahwa perubahan sistem memiliki dampak yang besar pada keputusan
investasi yang bukan tak mungkin berdampak negatif terhadap likuiditas itu sendiri, minimal dalam jangka waktu yang pendek ketika sistem baru diberlakukan. Namun tentu saja hal ini perlu dikaji lebih lenjut dengan menggunakan simulasi agar diperoleh hasil yang lebih komprehensif.
Daftar Pustaka
1. Chan,N., LeBaron,B., Andrew W., Lo, A., and Poggio, T. (1999). Agent-Based Models
of Financial Markets: A Comparison with Experimental Markets. Research Paper of the
MIT Artificial Markets Project. MIT.
2. Hariadi, Y., and Surya, Y. (2003). Peramalan dalam Selang: GARCH (1,1). WPF2003. Working Paper Series. Bandung Fe Institute
3. Makowiec, D. (2004). “On Modeling of Inefficient Market”. Physica A 344:36-40. 4. Situngkir, H. and Surya, Y. (2004). Agent Based Model Construction in Finacial Economic
System. WPA2004. Working Paper Series. Bandung Fe Institute.
5. Situngkir, H., Surya, Y., dan Hariadi, Y. (2005a). Konstruksi Simulasi Ekonofisika untuk
Analisis Mikrostruktur Pasar Modal - studi kasus: Bursa Efek Jakarta. Makalah
Pendahuluan Penelitian kerjasama antara Surya Research International dan Bursa Efek Jakarta; disampaikan pada 3 Februari 2005.
6. Situngkir, H., Surya, Y., dan Hariadi, Y. (2005b). Antara Saham Likuid dan Tak Likuid
di Bursa Efek Jakarta – Perspektif Mekanika Statistika. Makalah Kemajuan Penelitian
yang dilaksanakan antara kerjasama Surya Research International dan Bursa Efek Jakarta, disampaikan pada 22 Maret 2005.
7. Suroso, Rendra (2004). Economic Agency Through Modularity Theory. WPC2004. Working Paper Series. Bandung Fe Institute
8. Surya, Y., Situngkir, H., Hariadi, Y., Suroso, R. (2004). Aplikasi Fisika dalam Analisis
Keuangan – Mekanika Statistika Interaksi Agen. PT. sumber Daya MIPA. Jakarta
9. Tesfatsion, Leigh (2002). Agent-Based Computational Economics:Modelling Economies as
Lampiran 1
Pertanyaan Polling Terhadap Investor Bursa Efek Jakarta
1 Pada sesi perdagangan mana anda lebih suka melakukan trading?
a. Sesi Pagi b. Sesi Siang
5 Dalam pengambilan keputusan untuk bertransaksi, apa yang paling mempengaruhi anda?
a. Grafik /Chart fluktuasi harga b. Isu Fundamental
c. Kombinasi keduanya, tapi lebih sering Chart d. Kombinasi keduanya, tapi lebih sering Isu
Fundamental
e. Lainnya,sebutkan _______________________ 2 Jika anda melakukan trading, anda selalu:
a. Berusaha untuk ikut dalam sesi Preopening
b. Menunggu hingga sesi perdagangan normal berjalan
6 Jika anda memilih jawaban a atau c pada pertanyaan 5, metode apa yang sering digunakan? (lingkari yang
sesuai, boleh lebih dari satu jawaban)
a. Moving Average (MA). Sebutkan MA berapa? ____ b. Relative Strength Index (RSI)
c. Parabolic Stop And Reverse (Parabolic SAR) d. Stokastik
e. Lainnya, sebutkan ________________________ 3 Dalam menyusun portofolio, anda lebih
menyukai untuk berinvestasi pada (boleh
lebih dari satu jawaban):
a. Saham-saham blue chip b. Saham LQ45
c. Saham-saham pada papan utama d. Saham-saham pada papan pengembangan
7 Apakah menurut anda mekanisme perdagangan
continuous auction yang diterapkan pada sistem JATS
sudah memberikan kesempatan yang sama (fair)? a. Ya
b. Tidak
4 Dalam proses mengambil keputusan apakah menjual atau membeli saham. Kondisi mana yang lebih sering terjadi: a. Anda mempengaruhi orang lain b. Anda dipengaruhi orang lain
8 Jika Bursa memberlakukan mekanisme perdagangan baru seperti Call Market, apakah hal ini akan mempengaruhi keputusan anda untuk melakukan transaksi?
a. Ya b. Tidak
Lampiran 2
Hasil jajak Pendapat Terhadap Investor Bursa Efek Jakarta 1. Pada sesi perdagangan mana anda lebih suka melakukan trading?
Jawaban Jumlah
responden Persentase
Sesi Pagi Sesi Siang Pada Kedua Sesi Tidak menjawab 38 4 4 1 80,85% 8,51% 8,51% 2,13%
2. Jika anda melakukan trading, anda selalu:
Jawaban Jumlah
responden Persentase
Berusaha ikut dalam sesi preopening
Menunggu hingga sesi perdagangan normal berjalan Tidak Menjawab 21 25 1 44,64% 53,19% 2.13%
3. Dalam menyusun portofolio, anda lebih menyukai untuk berinvestasi pada (boleh lebih
dari satu jawaban):
Jawaban Jumlah
responden Persentase
Saham-saham blue chip Saham LQ45
Saham-saham pada papan utama
Saham-saham pada papan pengembangan
21 17 20 22 26,25% 21,25% 25,00% 27,50%
4. Dalam proses mengambil keputusan apakah menjual atau membeli saham. Kondisi mana yang lebih sering terjadi:
Jawaban Jumlah
responden Persentase
Anda mempengaruhi orang lain Anda dipengaruhi orang lain Tidak menjawab 18 27 2 38,30% 57,45% 4,26%
5. Dalam pengambilan keputusan untuk bertransaksi, apa yang paling mempengaruhi anda?
Jawaban Jumlah
responden Persentase
Grafik /Chart fluktuasi harga Isu Fundamental
Kombinasi keduanya, tapi lebih sering Chart Kombinasi keduanya, tapi lebih sering Isu Fundamental Lainnya Tidak menjawab 4 5 17 21 3 1 7,84% 9,80% 33,33% 41,18% 5,88% 1,96%
6. Jika anda memilih jawaban a atau c pada pertanyaan 5, metode apa yang sering digunakan? (lingkari yang sesuai, boleh lebih dari satu jawaban)
Jawaban Jumlah
responden Persentase
Moving Average (MA) Relative Strength Index (RSI)
Parabolic Stop And Reverse (Parabolic SAR)
Stokastik Lainnya Tidak menjawab 17 21 8 9 1 17 23.29% 28.77% 10.96% 12.33% 1.37% 23.29%
7. Apakah menurut anda mekanisme perdagangan continuous auction yang diterapkan pada
sistem JATS sudah cukup fair?
Jawaban Jumlah responden Persentase Ya Tidak Tidak Menjawab 38 8 1 80.85% 17.02% 2.13%
8. Jika Bursa memberlakukan mekanisme perdagangan baru seperti Call Market, apakah hal ini akan sangat berpengaruh pada keputusan anda untuk melakukan transaksi?
Jawaban Jumlah responden Persentase Ya Tidak Tidak Menjawab 28 18 1 59.57% 38.30% 2.13%
Lampiran 2