• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERNIKAHAN DINI DI MADURA DALAM NOVEL TARIAN DI RANJANG KYAI KARYA YAN ZAVIN AUNDJAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERNIKAHAN DINI DI MADURA DALAM NOVEL TARIAN DI RANJANG KYAI KARYA YAN ZAVIN AUNDJAN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

EARLY MADURESE MARRIAGE IN NOVEL “TARIAN DI RANJANG KYAI” BY YAN ZAVIN AUNDJAN

Muhammad Tauhed Supratman1 dan Riani Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

FKIP, Universitas Madura Pamekasan

Jl. Raya Panglegur Km. 3,5 Tlanakan, Pamekasan, Madura, 69371 Pos-el: [email protected]

(Makalah diterima tanggal 11 Februari 2019—Disetujui tanggal 17 Juni 2019)

Abstrak: Novel sebagai salah satu karya sastra yang menawarkan berbagai permasalahan kehidupan baik

ekonomi, sosial bahkan tradisi. Berbicara tradisi, novel Tarian di Ranjang Kyai karya Yan Zavin Aundjan ini juga membahas tradisi yang berlangsung di masyarakat terutama masyarakat Madura. Tradisi tersebut ialah tradisi pernikahan dini. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, sedangkan data dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ialah novel Tarian di Ranjang Kyai karya Yan Zavin Aundjan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah metode yang menggambarkan atau melukiskan fakta-fakta atau gejala secara sistematis tentang tradisi pernikahan dini masyarakat Madura dalam novel Tarian di Ranjang Kyai karya Yan Zavin Aundjan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan kodefikasi, klasifikasi, interpretasi dan deskripsi data tradisi pernikahan dini masyarakat Madura dalam novel Tarian di Ranjang Kyai karya Yan Zavin Aundjan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tradisi nikah dini dalam novel Tarian di Ranjang Kyai karya Yan Zavin Aundjan ditandai oleh beberapa faktor yakni faktor paksaan orang tua, tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan dan tekanan ekonomi, serta adat yang terjadi pada tokoh Misnadi, Nisa, Iqbal, dan Suci’.

Kata Kunci: tradisi nikah dini, novel, dan tarian

Abstract: Novel as one of literary works that offers various problems of life both economically, socially and

even tradition. Traditionally speaking, this Tarian novel on the Kyai Bed by Yan Zavin Aundjan also discusses traditions that take place in the community, especially the Madurese. This tradition is a tradition of early marriage. This research is qualitative research, while data and data sources used in this study are dance novels on the Kyai Bed by Yan Zavin Aundjan. The method used in this research is descriptive method. Descriptive method is a method that describes or describes the facts or symptoms systematically about the tradition of early marriage of Madurese people in the dance novel on the Kyai Bed by Yan Zavin Aundjan. Data collection techniques are done by documentation techniques. The data analysis technique was carried out by coding, classification, interpretation and description of the data on the tradition of early marriage of the Madurese community in the Tarian novel on the Kyai Bed by Yan Zavin Aundjan. The results of the analysis show that the early marriage tradition in the Tarian novel on the Bed of the Kyai by Yan Zavin Aundjan was characterized by several factors, namely the compulsion factor of parents, low education level, poverty and economic pressure, and custom that occurred in the characters Misnadi, Nisa, Iqbal, and Suci

(2)

PENDAHULUAN

Sastra merupakan karya imajiner atau fiksi (Nurgiyantoro, 2012: 2). Sastra sebagai karya fiksi memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat, terutama penikmat sastra lebih-lebih pembaca. Hal itu terjadi karena sastra ditulis oleh pengarang yang menawarkan berbagai permasalahan manusia, hidup, dan kehidupan. Permasalahan yang ditawarkan itu membuat penulis mengemasnya dengan mengolah atau merekayasa imajinasinya sehingga menjadi karya sastra yang bisa dinikmati secara layak oleh masyarakat umum utamanya pecinta karya sastra(Ratna, 2012:332).

Salah satu bentuk karya sastra ialah novel. Novel merupakan cerita yang menceritakan kejadian luar biasa dari kehidupan pelakunya yang menyebabkan perubahan sikap hidup yang menentukan nasib pelakunya (Natia, 2008:93). Karya sastra menawarkan berbagai permasalahan manusia, hidup, dan kehidupan, maka novel pun juga demikian. Novel membahas permasalahan secara detail baik watak tokoh, ekonomi, sosial maupun masalah percintaan tokoh.

Tarian di Ranjang Kyai merupakan salah satu novel karya Yan Zavin Aundjand yang terbit pada April 2011 oleh Azhar Risalah Kediri. Novel ini memang tidak sepopuler novel-novel yang banyak beredar dimasyarakat atau yang lebih dikenal dengan novel “best seller”, hal itu karena Yan Zavin A bukan novelis kenamaan seperti Hamkadan Andrea Hirata, sehingga animo masyarakat terhadap novel ini kurang tinggi. Meskipun demikian Yan Zavin A tidak bisa kita remehkan begitu saja, ini terbukti banyak karya-karyanya yang diterbitkan di media lokal maupun nasional seperti Koran Tempo dan Jawa Pos.

Novel Tarian di Ranjang Kyai ini menceritakan tentang kehidupan salah satu desa di Madura yang jauh dari kemajuan dan tradisi yang masih dianut serta dipegang teguh dengan erat. Novel ini menggambarkan beberapa tradisi masyarakat Madura, salah satunya ialah menikah di usia dini. Tradisi menikahkan anak di usia dini masih terjadi sampai sekarang. Pernikahan semacam itu memang terjadi pada masyarakat kita terutama desa-desa yang jauh dari hiruk-pikuk modernitas. Menariknya pernikahan dini itu masih terjadi sampai sekarang, dimana masyarakat kita sudah jauh lebih maju, modern.

Berdasarkan pernyataan diatas, kita dapat melihat bahwa karya sastra tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat, karena pada hakikatnya karya sastra hidup dalam masyarakat atau dibentuk oleh masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat (Ratna, 2012:332).

Pembentukan sastra berangkat dari fenomena atau masalah-masalah hidup yang terjadi pada masyarakat sosial, baik itu masalah agama, adat istiadat, konflik sosial maupun masalah pekerjaan atau kehidupan sehari-hari. Hubungan masyarakat dengan karya sastra, baik sebagai negasi dan inovasi, maupun afirmasi, jelas merupakan hubungan yang hakiki. Karya sastra mempunyai peran penting untuk memberikan pengakuan terhadap suatu gejala kemasyarakatan (Ratna, 2012:334).

KAJIAN TEORI

Pernikahan atau perkawinan merupakan suatu ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita, sebagai suami istri yang bertujuan untuk membentuk keluarga/rumah tangga yang bahagia dan kekal. Pelaksanaan perkawinan di Indonesia diatur oleh undang-undanag pokok perkawinan (Undang-Undang No. 1 tahun 1974) yang salah satu persyaratan perkawinan menurut pasal 7 adalah seorang calon mempelai sudah harus berumur 16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi pria. Ketentuan minimal itu mengandung suatu ide atau gagasan tentang pentingnya usia yang cukup dewasa untuk melaksanakan tugas-tugas rumah tangga(Buchari, 1982:8).

Dari pernyataan itu bisa dikatakan jika ada seseorang menikah dibawah 16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi pria maka pernikahan tersebut merupakan pernikahan dini. Pernikahan dini itu sendiri merupakan pernikahan yang dilaksanakan sebelum umur yang ditentukan oleh undang-undang perkawinan. Namun, pada kenyataan banyak masyarakat kita yang melakukan pernikahan dini terutama masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan pendidikan yang rendah. Ada beberapa faktor seseorang melakukan penikahan dini diataranya sebagai berikut:

(3)

1. Paksaan Orang Tua

Salah satu pendorong praktek pernikahan dini adalah paksaan dari orang tua. Sikap alamiah para orang tua yang ingin segera mempunyai menantu atau menginginkan cucu memaksa anaknya untuk melakukan pernikahan meskipun umur mereka belum cukup untuk melakukan pernikahan.Sikap orang tua yang sepeti itulah yang banyak menyebabkan terjadi praktek pernikahan dini pada masyarakat kita.

Sebagian anak bukan pasrah begitu saja dipaksa menikah dibawah umur, mereka menolak dengan berbagai cara, salah satunya dengan menjelaskan pada orang tua mereka bahwa mereka terlalu muda dan belum siap untuk membina rumah tangga. Ada pula yang menentang orang tua mereka dengan pergi dari rumah tanpa sepengetahuan orang tua mereka, akan tetapi apa yang mereka lakukan untuk menolak keinginan orang tua mereka sa-sia belaka, karena para orang tua tetap akan memaksa menikahkan anaknya agar segera memiliki menantu dan cucu tanpa mau mengerti kondisi anaknya. Tidak jarang seorang anak pasrah begitu saja dengan paksaan dari orang tua mereka untuk menikah dibawah umur, karena banyak seorang anak yang takut dan tidak berani untuk menolak keinginan orang tuanya. Mereka juga beranggapan bahwa keputusan orang tua mereka adalah yang terbaik dan tidak ada satu orang tua manapun yang ingin anaknya terjerumus maka dari itu mereka mau dinikahkan pada usia dini.

Banyak pernikahan semacam itu, dalam menjalankan rumah tangganya yang diwarnai dengan keributan yang pada akhirnya berujung pada perceraian (Buchari, 1982:1). Percerain semacam ini terjadi karena sebenarnya mereka belum siap dengan kondisi rumah tanggga (mengurus suami dan anak bagi yang wanita sedangkan mencari nafkah bagi yang pria) sehingga mereka tidak bisa mengontrol emosi masing-masing.

2. Tingkat Pendidikan yang Rendah

Tingkat pendidikan yang rendah baik si anak maupun orang tua juga merupakan salah satu pemicu seorang melakukan pernikahn dini. Keduanya tidak tahu dan paham kapan seorang anak boleh menikah atau umur berapa ia boleh

hanya terbatas pada pernikahan saja, artinya mereka hanya tahu ketika secara fisik tubuh mereka tumbuh besar, mereka harus menikah dan dinikahkan, tanpa mengetahui layak tidaknya, siap tidaknya mereka membina rumah tangga. Padahal jika pengetahuan atau pendidikan mereka lebih tinggi tentu mereka tidak akan menikah dini dan orang tua tidak akan menikahkan anaknya di usia muda.

Seandainya pendidikan mereka lebih tinggi pasti mereka lebih fokus pada proses belajar. Orang tua akan membiayai anaknya untuk menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya, sedangkan seorang anak akan fokus meraih cita-citanya sebelum mereka membina rumah tangga. Mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampan dan tingkat pendidikannya, sehingga pekerjaan tersebut bisa mengantarkan pada kehidupan yang mapan dan mereka siap untuk mebina rumah tangga yang harmonis dan bahagia untuk selamanya.

3. Kemiskinan dan Tekanan Ekonomi

Kemiskinan dan tekanan ekonomi yang menimpa seseorang memaksa orang tua untuk segera melepas anak perempuan dari tanggugan atau perlu menantu untuk tenaga kerja, dengan kata lain orang tua membutuhkan menantu untuk menopang kehidupan ekonomi dan keluar dari kemiskinan. Begitupun sebaliknya anak laki-laki segera dinikahkan agar ada yang membantu bekerja di rumahnya. Misalnya latar belakang keluarga laki-laki adalah seorang petani, dengan orang tua menikahkan anak laki-lakinya otomatis menantunya bisa bekerja di sawah sedangkan anaknya bisa bekerja di tempat lain atau merantau untuk mencari penghasilan yang lebih agar mereka keluar dari garis kemiskinan.

Alasan kemiskinan dan tekanan ekonomilah yang cukup banyak mendorong orang tua untuk segera menikahkan anak-anaknya meski masih terlalu muda bahkan tidak cukup umur untuk membangun rumah tangga. Mereka tidak punya cara lain untuk mengurangi kemiskinan dan tekanan ekonomi yang dialaminya kecuali segera menikahkan anak-anaknya, karena dengan melepas anak-anaknya untuk menikah beban para orang tua berkurang. Tanggungjawab untuk menghidupi anak perempuannya berkurang, maka secara tidak

(4)

bahkan dengan adanya menantu bisa membantu para orang tua secara finansial sehingga kehidupan ekonominya bertambah. Keadaan itu tidak hanya didukung oleh faktor kemiskinan dan tekanan ekonomi saja melainkan juga faktor pendidikan yang rendah keduanya, baik si anak maupun orang tua, Sehingga orang tua memilih menikahkan anak-anaknya diusia yang sangat muda (Buchari, 1982:8).

4. Adat

Kebiasaan atau adat-istiadat yang ada dimasyarakat kita juga bisa memicu seseorang melakukan pernikahan dini. Kebiasaan itu orang yang paling banyak melakukan pemaksaan terhadap anaknya. Kebiasaan atau adat itu adalah anggapan terhadap anak-anak mereka terutama anak perempuan yang terlambat menikah merupakan aib bagi orang tua dan keluarga.(Buchari, 1982:8). Padahal jika dilihat secara umur mereka belum layak untuk membina rumah tangga, akan tetapi kebiasaan atau adat yang sudah melekat pada masyarakat kita itu membuat orang tua tetap memaksakan kehendaknya untuk menikahkan anaknya diusia yang masih muda. Para orang tua sangat khawatir anaknya yang sudah mulai tumbuh besar secara fisik takut tidak laku, takut menjadi perawan maupun perjaka tua, lebih-lebih untuk anak perempuan.

Ditambah lagi jika mereka hidup di daerah pedesaan atau kampung. Ketika melihat anak perempuan yang sudah cukup besar secara fisik dan anak perempuan itu belum menikah maka hal tersebut akan menjadi pergunjingan antar tetangga, tanpa melihat usia mereka masih muda apa tidak, yang pasti ketika seorang anak sudah besar maka harus segera menikah. Selain faktor takut tidak laku ada faktor lain yang termasuk adat atau kebiasaan orang tua memaksa anaknya menikah dibawah umur yakni para orang tua khawatir anak-anaknya terjerumus dalam pergaulan bebas yang menimbulkan aib untuk keluarga (Buchari, 1982:8). Maka dari itulah para orang tua banyak memaksa anaknya untuk membina rumah tangga pada usia yang sangat muda dan belum layak untuk menjalin hubungan pernikahan.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian sastra yang dirancang sebagai penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Data penelitian ini berupa kata,

kalimat dan paragraf yang relevan dengan fokus kajian (Miles dan Huberman, Ratna dalam Taufiq, 2017:5). Pendekatan yang digunakan adalah sosiologi sastra. Dipilihnya pendekatan sosiologi sastra didasarkan atas dua perspektif yaitu: (1) sastra merupakan sebuah cermin proses sosial ekonomi belaka, (2) mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelitian (Damono dalam Endraswara, 2011:95). Sumber data penelitian ini adalah novel Tarian di Ranjang Kyai karya Yan Zavin Aundjand. Data dalam penelitian ini adalah data kualitatif, yaitu data yang berupa kata-kata yang berkaitan dengan tradisi pernikahan dini dengan berbagai faktor yang mempengaruhi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilaksanakan sebelum umur yang ditentukan oleh undang-undang perkawinan, yaitu mempelai wanita berumur 16 tahun, sedangkan mempelai pria harus berumur19 tahun. Kenyataannya banyak masyarakat kita yang melakukan pernikahan dini terutama mayarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan pendidikan yang rendah. Pernikahan dini itu bisa kita lihat dalam cuplikan di bawah ini:

“Nisa dan Misnadi, mereka menikah dalam usia yang masih dalam kategori usia anak-anak, Nisa berusia 9 tahun, sedang Misnadi berumur 12 tahun kala itu, besar kemungkinan mereka kurang begitu matang dalam menata keluarganya itu sendiri” (Aundjan, 2011:15)

Pada kutipan novel di atas dijelaskan bahwa tokoh Nisa dan Misnadi telah melakukan pernikahan di bawah umur. Praktek pernikahan dini tersebut terjadi karena disebabkan beberapa faktor salah satunya ialah pendidikan. Tingkat pendidikan juga menentukan adanya pernikahan dini. Hal itu terbukti dari potongan novel di atas bahwa tokoh Nisa berumur 9 tahun ketika menikah dengan Misnadi yang umurnya masih 12 tahun. Jika umur sekian mereka sudah menikah, berarti mereka tidak mengenyam pendidikan atau pendidikan mereka tidak selesai. Di umur yang sangat muda kemungkinan besar mereka belum matang dalam membina rumah tangga, sehingga tidak jarang mereka cekcok masalah rumah tangga. Padahal pendidikan sangat penting sebagai bekal mereka dalam membina rumah tangga. Salah satunya bisa dilihat dari faktor umur. Ketika seorang menempuh pendidikan, mereka bukan hanya mendapatkan

(5)

tambahan ilmu, akan tetapi secara usia, umur mereka juga bertambah, maka secara tidak langsung dengan bertambahnya umur, kedewasaan mereka juga akan bertambah, maka mereka akan lebih siap untuk membina rumah tangga. Berbeda halnya ketika mereka tidak bersekolah baik orang tua maupun si anak. Melihat anaknya tumbuh besar secara fisik, mereka akan menikahkan anaknya tanpa melihat umurnya yang masih sangat muda dan belum layak untuk membina rumah tangga. Pernikahan dini juga terjadi pada potongan novel berikut:

“Anak yang menikah dalam usia kecil atau usia muda mayoritas pekerjaannya sama, menarik becak untuk menutupi hidup keluarganya sehari-hari” (Aundjan, 2011:50)

Penggalan novel di atas menunjukkan pernikahan di usia muda, namun sebabnya tidak di jelaskan. Oleh karena itu ketiga kriteria penyebab pernikahan dini bisa dimasukkan yaitu paksaan orang tua, rendahnya pendidikan dan kebiasaan. Kriteria keempat, menikah karena tekanan ekonomi tidak dimasukkan sebab jika kita lihat penggalan novelnya tokoh tersebut pekerjaannya menarik becak, artinya keduanya menikah bukan karena ingin keluar dari tekanan ekonomi. Pada penggalan novel tersebut tokoh tidak memiliki latar pendidikan yang tinggi bahkan kemungkinan besar ia tidak bersekolah kareana seandainya mereka bersekolah, mereka tidak akan menikah di usia dini. Faktor lain mereka menikah bisa disebabkan kareana kebiasaan di desanya yang sudah biasa menikah di usia muda, sehingga mereka ikut menikah di usia dini dan faktor yang lain mereka menikah mungkin paksaan dari orang tuanya karena banyak anak-anak yang menikah muda disebabkan dipaksa oleh oarang tuanya. Pernikahan dini juga terjadi karena paksaan dari orang tua, seperti kutipan berikut:

“Menikah dalam usia 10 tahun, harus menerima kenyataan dari ibu tirinya bahwa dia harus menikah dengan Misnadi, anak tirinya ayahnya” (Aundjan, 2011:33)

Pada kutipan novel di atas telah terjadi praktek pernikahan dini yang disebabkan paksaan dari ibu tirinya. Tokoh harus menerima kenyataan bahwa dia menikah dalam usia yang sangat muda, yakni di usia 10 tahun. Para orang tua yang merasa memiliki hak penuh terhadap anak terkadang suka memaksakan kehendak terhadap anaknya

termasuk memaksa anaknya untuk menikah. Sikap alamiah para orang tua yang ingin segera memiliki menantu yang sesuai dengan pilihannya dan juga ingin segera menimang cucu memaksa anaknya untuk menikah meskipun anaknya tersebut masih sangat muda bahkan masih anak-anak untuk membina sebuah rumah tangga. Kebanyakan seorang anak ketika dipaksa oleh orang tuanya untuk menikah mereka pasrah, memilih diam dan menerima pernikahan tersebut meskipun terpaksa karena mereka yakin bahwa keputusan oarang tuanya adalah yang terbaik untuk mereka, seperti potongan novel berikut:

“Dengan sedikit terpaksa dia harus menerima kepurusan ibu tirinya, meski pada akhirnya juga tumbuh pula rasa cinta dan saling mencintai” (Aundjan, 2011:34)

Kebanyakan seorang anak pasrah ketika dia dinikahkan oleh orang tuanya di usia dini. Salah satunya mungkin karena mereka takut untuk menolak keinginan orang tuanya atau mungkin mereka merasa biasa dengan pernikahan dini, karena di lingkungan tempat tinggal mereka juga biasa melakukan pernikahan tersebut. Hal itu terbukti dari cuplikan kata “sedikit terpaksa menerima...” seorang anak ketika dipaksa untuk menikah awalnya akan menolak, akan tetapi lama-kelamaan mereka akan menyetujuinya karena terpengaruh oleh lingkaran tempat tinggalnya yang sudah biasa menikah dini dan mereka sedikit banyak merasa senang menikah muda sebab mereka akan terhindar dari cibiran masyarakat tentang perawan atau perjaka tua, namun terlepas dari itu semua para orang tua memaksa anaknya menikah di usia dini sebab para orang tua yang ingin segera memiliki menantu. Hal tersebut menjadi alasan utama mereka memaksa anaknya untuk menikah meskipun masih di bawah umur. Kutipan berikut juga menggambarkan pernikahan dini karena dipaksa orang tuanya:

“Dia menerima Misnadi dengan dasar tidak punya pilihan lain selain harus mengikuti wasiat orang tuanya” (Aundjan, 2011:33)

Salah satu faktor adannya pernikahan dini ialah karena paksaan dan keinginan orang tua. Terkadang seorang anak tidak bisa menolak permintaan dari orang tua karena takut. Jadi mau tidak mau mereka harus mengikuti keinginan oarng tuanya untuk menikah meskipun umur mereka tidak cukup

(6)

untuk melakukan pernikahan. Hal itu terbukti dari penggalan novel di atas. Para orang tua memang punya alasan sendiri kenapa mereka memaksa anaknya untuk menikah di usia yang belum pantas untuk membina rumah tangga. Salah satunya karena orang tuan ingin sekali memiliki menantu atau sangat ingin melihat anaknya menikah dengan pilihan orang tuanya, sehingga seorang anak , tokoh dalam hal ini terpaksa menerima pernikahan tersebut karena tidak ingin melawan orang tuanya. Praktek pernikahan dini yang dilakukan oleh anak muda yang didasari paksaan dari orang tua memang sering terjadi pada masyarakat kita, seperti kutipan berikut:

“Masyarakat di sini, anaknya masih kecil, belum tahu apa-apa sudah dinikahi” (Aundjan, 2011:58)

Cuplikan novel di atas menunjukkan salah satu pemicu adanya pernikahan dini ialah karena paksaan dari orang tua. Pada cuplikan tersebut orang tua sering menikahkan anaknya di usia dini meskipun anaknya tersebut belum tahu apa-apa. Apa lagi untuk membina sebuah rumah tangga. Di usia belia mereka masih senang-senangnya bermain dan menempuh pendidikan, akan tetapi para orang tua hanya memikirkan segera menikahkan anaknya saja tanpa berpikir panjang bahwa di usia yang masih anak-anak mereka belum siap untuk membina rumah tangga. Paksaan yang demikian bisa membuat rumah tangga anaknya diwarnai keributan bukan keharmonisan karena secara mental mereka belum siap untuk membina rumah tangga. Paksaan orang tua terhadap anaknya agar menikah di usia muda juga terdapat pada kutipan novel berikut orang tuanya langsung yang melamar seorang gadis untuk anaknya yang masih di bawah umur:

“Kami ke sini bermaksud untuk mempersunting anak perempuan sampeyan yang bernama Suci’ dengan anak kami Shodiq” (Aundjan, 2011:96)

Dari penggalan novel di atas, kita dapat melihat dengan jelas bahwa orang tua salah satu tokoh dalam novel itu berusaha melamar seorang anak perempuan untuk dinikahkan dengan anaknya, padahal anaknya masih berumur 16 tahun. Seharusnya di umur 16 tahun tokoh memikirkan pendidikannya bukan pernikahan sebab ia belum siap untuk membina rumah tangga baik secara mental maupun finansial, akan tetapi sebagi seorang anak ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti

keinginan orang tuanya untuk membina rumah tangga di usia muda, meskipun ia masih belum siap untuk menikah. Paksaan tersebut terlihat dalam cuplikan di bawah ini:

“Anak masih usia 16 tahun itu sudah mau mempersunting seorang perempuan” (Aundjan, 2011:97)

Dalam cuplikan tersebut seorang anak laki-laki yang melamarkannya karena orang tuanya juga berkeinginan segera memiliki menantu, dalam hal itu orang tua juga berperan dalam memaksakan kehendak anaknya, sebagai orang tua seharusnya melarang anaknya untuk menikah di bawah umur apa lagi seorang laki-laki, bukan malah membantunya untuk menikah dini. Pada kutipan berikutnya seorang anak pasrah terhadap keinginan orang tuanya untuk menikahkannya di usia yang sangat muda. Kutipan tersebut ada di bawah ini:

“Embhuk, yang menjadi baik dan terbaik buat embhuk dan aba, Suci’ nurut saja. Suci’ masih kecil belum tahu apa-apa” (Aundjan, 2011:98)

Kepasrahan dan kepatuhan seorang anak dapat kita jumpai dari penggalan novel di atas. Tokoh Suci’ mengikuti kemauan orang tuanya untuk dinikahkan padahal umumnya masih sangat muda bahkan masih kanak-kanak. Hal itu ditegaskan Suci’ dengan mengatakan bahwa dia masih kecil dan belum tahu apa-apa untuk memutuskan hal besar dalam hidupnya sehingga ia pasrahkan sepenuhnya pada kedua orang tunya untuk menerima atau menolak lamaran tersebut. Kepasrahan seperti itu membuat para orang tua banyak memaksakan kehendak pada anaknya, karena anaknya tidak pernah berusaha untuk menolak pada orang tunya. Pada praktek pernikahan dini memang banyak terjadi karena paksaan orang tua, namun para orang tua memaksa anaknya karena didasari beberapa alasan. Salah satu alasan tersebut ialah para orang tua takut anaknya tidak laku lagi ketika menolak lamaran seorang laki-laki. Gambaran tersebut terlihat dari kutipan berikut:

“Salah satu faktor kenapa disini banyak wanita yang masih anak-anak atau remaja sudah menikah, karena salah satunya adalah “cinta ditolak, dukun bertindak”, hal yang sering menjadi acuan dan kekhawatiran banyak orang tua kalau sampai anaknya dipelet, dijampi-jampi, dipola sedemikian rupa hingga nanti posisinya bisa berbalik arah” (Aundjan, 2011:100)

(7)

Penggalan novel di atas menunjukkan kecemasan orang tua terhadap anak perempuannya. Takut anaknya dipelet atau didukuni ketika menolak lamaran laki-laki, sehingga para orang tua menerima lamaran yang masuk untuk anaknya, meskipun masih anak-anak dan menikahkannya di usia dini. Ketakutan para orang tua pada anaknya yang akan berbuat yang tidak senonoh karena diguna-guna dan memilih mennikahkannya di usia dini juga ditegaskan oleh kutipan di bawah ini:

“Tidak boleh tidak, orang tuanya harus segera menikahkan mereka sebelum terjadai hal-hal yang lebih sulit lagi dan lebih berbahaya lagi” (Aundjan, 2011:99)

Salah satu pemicu orang tua memaksa anaknya menikah di usia dini karena orang tua khawatir terjadi hak-hal yang tidak diinginkan akibat pergaulan abanya yang dipelet, seperti yang tergambar dari cuplikan novel di atas, sehingga orang tua memaksa anaknya untuk segera menikah meskipun masih anak-anak. Paksaan orang tua agar anknya segera menikah meskipun masih sangat muda juga terlihat pada penggalan novel di bawah ini:

“Tepat pada hari pemberangkatan Misnadi ke Kalianget dengan cara sembunyi-sembunyi bersam Hosen, Nisa dan kelaurganya memberangkatkan Suci’ ke Pondok Pesantren Al-Kautsar di Keroncong Tengah, berharap nantinya Suci’ memiliki bekal yang cukup dalam berumah tangga “(Aundjan, 2011:122)

Pada penggalan novel di atas menggambarkan orang tua memondokkan anaknya yang bernama Suci’ untuk mendapatkan bekal berumah tangga, padahal seperti yang kita ketahui bahwa Suci’ masih anak-anak. Hal itu bisa kita artikan bahwa orang tua Suci’ berencana akan menikahkannya di usia dini. Selain karena paksaan orang tua praktek pernikahan dini juga terjadi kareana sudah menjadi sauatu kebiasaan dalam kehidupan masyarakat, seperti yang tergambar dalam kutipan berikut:

“Sudah menjadi mayoritas orang dan menjadi kebiasaan masyarakat di desa ini secara umum bahwa nikah masih usia anak-anak sering dilakukan” (Aundjan, 2011:15)

Jelas sekali potongan novel di atas mengatakan bahwa pernikahan dini sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Selain karena kebiasaan sekaligus karena mereka tinggal di desa yang jauh dari kemajuan, faktor lainnya ialah karena pendidikan

mereka rendah. Seandainya mereka sadar akan pentingnya berpendidikan maka mereka akan fokus menempuh pendidikan setinggi mungkin kemudian beru mereka memikirkan pernikahan. Kebiasaan pernikahan dini yang berlangsung di masyarakat sebenarnya dipicu oleh kebiasaan anak mudanya yang sudah melakukan sebuah hubungan lawan jenis atau pacaran diusia anak-anak. Kutipan berikut menggambarkan kebiasaan anak-anak tersebut:

“Berpacaran masih anak-anak bagi masyarakat di desa ini sudah menjadi hal biasa, tapi berpacaran mereka tidak lebih dari cara mereka berpacaran sembunyi-sembunyi dari orang tuanya masing-masing, padahal meskipun hal itu diketahui menjadi biasa-biasa saja di mata orang tuanya” (Aundjan, 2011:14)

Cuplikan novel di atas memperlihatkan bahwa anak di usia dini sudah berpacaran, sehingga secara tidak langsung mendorong mereka untuk menikah di usia dini dan kekhawatiran orang tua terhadap anaknya, yang takut terjerumus pada hal-hal yang membuat keluarga malu juga mendorong para orang tua menikahkan anak-anaknya meskipun masih di bawah umur untuk membina rumah tangga. Cuplikan novel di bawah ini juga memperlihatkan kebiasaan kebiasaan anak muda yang memicu pernikahan dini:

“Bagi anak laki-laki, cara berpacarannya masih main intip kalau menunggu ceweknya. Kadang ketemuan di belakang rumah. Di bawah pohon di tegal, atau di balik tabun sawah” (Aundjan, 2011:14)

Dari cuplikan di atas menjelaskan seorang anak laki-laki yang berpacaran secara sembunyi-sembunyi, bahkan gaya pacaran mereka di tempat-tempat yang sepi, seperti di sawah. Perilaku semacam ini akan memicu hubungan yang bersifat asusila dan akan mendorong pernikahan dini. Perilaku anak-anak yang demikian terkadang dibiarkan oleh orang tuanya karena mereka menganggap hal tersebut merupakan sesautu yang biasa mereka lakukan, seperti dalam cuplikan berikut:

“Nisa tetap di tempat semula, melihat anaknya melakukan tindakan ciuman , mesra. Anak berdua itu bergandengan tangan berangkat ke madrasah” (Aundjan, 2011:15)

Terlihat sekali dari cuplikan novel di atas bahwa tokoh Nisa sebagai orang tua membiarkan anaknya

(8)

dengan seorang laki-laki. Hal itu suatu bukti bahwa berhubungan di usia anak-anak bagi masyarakat sudah biasa, termasuk hubungan pernikahan dini. Kebiasaan bermesraan dengan lawan jenis di usia anak-anak juga tergambar dari kutipan novel berikut:

“Ah, kecupan mesra mendarat di ujung bibir dan dilengkatkannya pipi yang terpulas dengan bedak. Apa yang membuat mereka tahu tentang hasrat itu? Hasrat macam apa yang mendorong mereka tahu tentang hasrat lain jenis, bahwa manusia itu berpasang-pasangan?” (Aundjan, 2011:14)

Pergaulan anak-anak yang sudah seperti orang dewasa membuat orang tua terkadang memaksa anaknya untuk menikahkannya di usia dini lantaran takut anaknya terjerumus pada hal-hal yang membuat malu keluarga. Kekhawatiran para orang tua terhadap anaknya memang sangat beralasan. Melihat anaknya sudah berpacaran bahkan mereka sudah bermesraan. Ciuman layaknya orang dewasa, membuat para orang tua segera menikahkan anaknya meskipun mereka masih sangat kecil. Hal itu terlihat dari cuplikan di atas bahwa anak-anak sudah melakukan ciuman mesra terhadap lawan jenis di usia yang sangat muda terbukti dari kutipan novel berikut:

“Ah, anak yang masih duduk di kelas dua Madrasah Ibtidaiyah ini sudah melakukan hubungan, berpacaran dengan kakak kelasnya” (Aundjan, 2011:12)

Potongan novel di atas memang tidak menunjukkan pernikahan dini secara langsung akan tetapi kebiasaan anak kecil yang melakukan hubungan atau pacaran ini akan memicu pernikahan dini. Sebab pergaulan semacam itu akan membuat orang tua cemas dan akan menikahkan anaknya pada usia dini lantaran takut anaknya semakin terjerumus pada hal yang membuat keluarganya malu. Kebiasaan berpacaran di umur yang belia sebenarnya sangat tidak pantas, seharusnya anak-anak di usia itu masih belum tahu pada hubungan lawan jenis dan seharusnya mereka hanya fokus pada pendidikannya saja, akan tetapi kenyataannya mereka sudah berpacaran di usia yang sangat muda. Hal tersebut bisa saja disebabkan pengaruh lingkungan tempat tinggal mereka. Mereka tinggal di lingkungan yang tidak sadar pendidikan dan mereka juga sudah sering melihat pernikahan dini di lingkungannya karena hal tersebut sudah biasa dilakukan, sehingga secara

tidak langsung mereka terpengaruh oleh lingkungannya untuk melakukan hubungan dengan lawan jenis bahkan menikah di usia dini sekalipun mereka masih anak-anak yang berenjak remaja. Penegasan bahwa masyarakat sudah biasa melakukan pernikahan dini tertuang dalam kutipan novel berikut:

“Hal yang menjadi kebiasaan di desa ini dan desa-desa sekitarnya adalah nikah muda dan nikah dalam usia yang masih anak-anak” (Aundjan, 2011:15)

Adat istiadat atau kebiasaan seseorang melakukan pernikahan dini dapat kita lihat dari penggalan novel di atas. Di situ dijelaskan bahwa masyarakat desa sudah biasa melakukan pernikahn di usia dini. Kebiasaan menikah dini ini sudah dilakukan oleh nenek moyang mereka dan diteruskan pada anak cucunya, sehingga juga terbiasa melaksanakan pernikahan dini. Kebiasaan itu paling banyak dialami anak perempuan. Para orang tua yang melihat anak perempuannya tumbuh besar secara fisik bukan secara umur, akan menikahkan anak perempuannya karena para orang tua menganggap anak perempuan jika tidak segera menikah, mereka akan dikatakan sebagi perawan tua, seperti anggapan masyarakat di lingkungannya, sedangkan anggapan perawan tua adalah aib bagi keluarga, oleh sebab itu untuk menghindari aib tersebut para orang tua segera menikahkan anak perempuannya, meskipun mereka masih anak-anak belum bisa membina rumah tangga yang baik dan harmonis.

SIMPULAN

Tradisi masyarakat Madura adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang Madura sejak dulu dan dilakukan secara turun-temurun dari nenek moyang kemudian diwariskan pada anak cucu mereka. Berdasarkan analisis tentang Tradisi Masyarakat Madura dalam novel Tarian di Ranjang Kyai karya Yan Zavin Aundjan, maka dapat disimpulkan bahwa tradisi nikah dini dalam novel Tarian di Ranjang Kyai karya Yan Zavin Aundjan ditandai oleh beberapa faktor yang mendorong terjadinya kegiatan pernikahan dini, yakni faktor paksaan orang tua, tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan dan tekanan ekonomi, serta adat yang terjadi pada tokoh Misnadi, Nisa, Iqbal, dan Suci’. Tradisi pernikahan dini di Madura paling banyak dialami anak perempuan. Tradisi pernikahan dini, khususnya bagi anak perempuan di

(9)

Madura, merupakan upaya untuk menghindari aib keluarga dengan sebutan “perawan tua”.

DAFTAR PUSTAKA

Aundjan, Yan Zavin. 2011. Tarian di Ranjang Kyai. Kediri: Azhar Risalah. Buchari, Abidardi. 1982. Pendewasaan Usia

Perkawinan. Jakarta: Biro data kependudukan BKKBN.

Endraswara, Suwardi. 2011. Metodelogi

Penelitian Sosiologi Sastra.

Yogyakarta: CAPS.

Natia, IK. 2008. Ikhtisar Teori dan

Periodisasi Sastra Indonesia.

Surabaya: Bintang.

Nurgiantoro, Burhan. 2012. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Ratna, Nyoman K. 2012. Teori, Metode Dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: pustaka pelajar.

Rozak, Abdur. 2004. Menabur Kharisma Menuai Kuasa (Kiprah kyai dan blater sebagai rezim kembar di

Madura). Yogyakarta: Pustaka

Marwa.

Samsuri. 1980. Madura III (kumpulan makalah-makalah seminar 1979). Malang. DEPDIKBUD RI

Taufiq, Akhmad. 2017. Sastra Multikultural: Konstruksi Identitas dan Praktik

Diskursif Negara dalam

Perkembangan Sastra Indonesia. Malang: Beranda

Referensi

Dokumen terkait

Bedasarkan sumber pengumpulan data, maka penulis menggunakan sumber data sekunder yaitu laporan penerimaan pajak selama tahun 2015-2016, laporan pencairan tunggakan pajak

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa penggunaan strategi pembelajaran yang bervariasi dan disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dapat memberikan

Pembahasan terkait fokus penelitian yang pertama: Bagaimana pembelajaran aktif, kreatif, efektif, menyenangkan pada aspek kemampuan siswa aktif pada mata pelajaran

22 Dengan demikian data yang diperoleh dalam penelitian ini melalui guru, murid, kepala sekolah dan pihak-pihak yang. ada disekolah dicatat maka segera di analisis

pembangunan fasilitas dan teknologi yang semakin menunjang sudah sepantasnya setiap sekolah atau yayasan menggunakan media internet untuk penyampaian kelulusan.

Di negara-negara yang organisasi pendidikannya desentralisasi, pendidikan bukan urusan pemerintah pusat, melainkan menjadi tanggung jawab pemerintahan daerah dan

3) Konsep secara umum yang akan digunakan pada desain interior Restoran Bebek Sinjay Madura adalah mencoba menghadirkan budaya daerah setempat yaitu budaya Madura

Pemilik Proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Bina Marga. Balai Besar Pelaksanaan Jalan