RINGKASAN
EKSEKUTIF
SOSIAL
EKONOMI
KOTA
BATU
2015
Ringkasan Eksekutif Sosial Ekonomi Kota Batu 2015
No. Publikasi :35792.15.02KatalogBPS :4107.3579 UkuranBuku :15 cm X 21 cm JumlahHalaman : v + 74 Halaman Pengarah :
Sri Kadarwati, S.Si., MT (Kepala BPS Kota Batu) Penyunting:
Evy Trisusanti, S.Si., MT., M.Sc. (KepalaSeksiStatistikSosial) Naskah:
Sri Iriantiningsih PW, SE (Statistisi Pertama) GambarKulit:
Sri Iriantiningsih PW, SE (Statistisi Pertama) Diterbitkanoleh:
BadanPusatStatistikKota Batu
“Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya”
BADAN
PUSAT
STATISTIK
KOTA
BATU
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU i
KATA PENGANTAR
Dengan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu berhasil menyelesaikan publikasi Ringkasan Eksekutif Sosial Ekonomi Kota Batu 2015.
Publikasi ini merupakan sebuah produk dari sebuah proses yang panjang dimulai dari perencanaan kegiatan,
perekrutan petugas, pelaksanaan briefing petugas,
pelaksanaan update blok sensus sampel, pencacahan rumah tangga sampel, pengolahan hasil pencacahan, pembuatan tabulasi data dan pembahasan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2014.
Kualitas informasi yang dimuat dalam publikasi ini tentunya tidak terlepas dari peran serta masyarakat Kota Batu sendiri baik yang telah bersedia menjadi responden survei maupun yang bersedia membantu sebagai petugas survei. Sehingga melalui publikasi ini BPS Kota Batu dapat memenuhi kebutuhan publik atas data khususnya mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat Kota Batu di tahun 2014.
Batu, September 2015 KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK
KOTA BATU
Sri Kadarwati, S.Si., MT. NIP. 19660114 198802 2 001
http://batukota.bps.go.id
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR GAMBAR ...v LATAR BELAKANG ... 1 TUJUAN ... 2 SISTEMATIKA PENYAJIAN ... 3 RUANG LINGKUP ... 4 KERANGKA SAMPEL ... 6 RANCANGAN SAMPEL ... 7METODE PENGUMPULAN DATA ... 8
PENGOLAHAN DATA ... 9
KONSEP DAN DEFINISI... 10
KEPENDUDUKAN ... 25 JUMLAH PENDUDUK ... 25 KELUARGA BERENCANA ... 30 KESEHATAN ... 35 BALITA ... 43 PENDIDIKAN ... 49
http://batukota.bps.go.id
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU iii
ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH (APS). ... 51
PENDIDIKAN TERTINGGI YANG DITAMATKAN. ... 53
KEMAMPUAN MEMBACA DAN MENULIS ... 55
AKSES INTERNET ... 57
LOKASI/MEDIA MENGAKSES INTERNET ... 59
PERUMAHAN ... 61
PENGELUARAN PER KAPITA ... 68
SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA ... 72
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU iv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Persentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas Menurut Status Perkawinan dan Jenis Kelamin, 2014 ... 27
Tabel 2. Beberapa Indikator Keluarga Berencana Kota
Batu, 2013-2014 ... 30 Tabel 3. Rata-rata Anak yang Dilahirkan Hidup dan Anak yang Masih Hidup per Wanita Usia 15-49 Tahun yang Pernah Kawin, Kota Batu, 2013-2014 ... 34 Tabel 4. Persentase Penduduk Dirinci Menurut Keluhan Kesehatan yang Dialami Selama Sebulan yang Lalu dan Jenis Kelamin, Kota Batu, 2014 ... 39 Tabel 5. Persentase Rumah Tangga menurut Sumber Air Minum yang Digunakan Masyarakat Kota Batu 2014 ... 64
http://batukota.bps.go.id
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Persentase Penduduk Kota Batu Menurut Jenis
Kelamin dan Kelompok Umur, 2014 ... 26
Gambar 2. Persentase Perempuan Usia 15-49 Tahun
menurut Kelompok Umur di Kota Batu 2014 28
Gambar 3. Persentase usia kawin pertama penduduk
perempuan usia 10 tahun ke atas yang berstatus pernah kawin Kota Batu 2014. ... 29
Gambar 4. Persentase Wanita Usia Subur Yang Sedang
Menggunakan Alat KB Menurut Alat KB yang Digunakan,Kota Batu, 2014 ... 31
Gambar 5. Persentase Penduduk Kota Batu menurut
keluhan kesehatan tahun 2014. ... 366
Gambar 6. Persentase Penduduk yang Mengalami
Keluhan Kesehatan Menurut Lamanya Sakit (Hari) dan Jenis Kelamin, Kota Batu, 2014 ... 38
Gambar 7. Persentase Penduduk yang Mengalami
Keluhan Kesehatan Menurut Cara Pengobatan, Kota Batu, 2012-2013 ... 40
Gambar 8. Persentase Penduduk Kota Batu Dirinci
Menurut Jenis Kelamin Dan Jenis Obat Yang Digunakan Tahun 2014 ... 41
Gambar 9. Persentase Cara Berobat Jalan Penduduk
Perempuan Kota Batu dan Tempat Berobat Yang Dikunjungi Selama Satu Bulan Terakhir Tahun 2014 ... 42 Gambar 10. Penolong persalinan balita di Kota Batu tahun 2014 (persen). ... 43
http://batukota.bps.go.id
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU vi Gambar 11. Persentase Balita Menurut Jenis Kelamin dan
Lamanya Diberi ASI, Kota Batu, 2014 ... 46 Gambar 12. Persentase Balita yang Mendapat Imunisasi Lengkap Menurut Jenis Imunisasi, Kota Batu 2014 ... 47 Gambar 13. Persentase Penduduk dirinci Menurut Jenis Kelamin Usia 5-24 Tahun ... 50 Gambar 14. Persentase Partisipasi Bersekolah Menurut Kelompok Umur Kota Batu 2014 ... 52 Gambar 15. Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Dirinci Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan ... 54 Gambar 16. Persentase Jumlah Penduduk Kota Batu Berumur 10 Tahun ke Atas menurut Kemampuan Membaca dan Jenis Kelamin 2014 ... 56 Gambar 17. Persentase Penduduk Kota Batu berumur 10 Tahun ke Atas yang Mengakses Internet 3 Bulan Terakhir Tahun 2014 ... 57 Gambar 18. Persentase Penduduk Laki-laki dan Perempuan 10 tahun keatas di Kota Batu Menurut Lokasi Meng Akses Internet 2014, ... 59 Gambar 19. Persentase rumah tangga di Kota Batu menurut status banguna tempat tinggal tahun 2014. ... 62 Gambar 20. Kondisi Fasilitas Perumahan Masyarakat Kota Batu Tahun 2014 ... 63
http://batukota.bps.go.id
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU vii Gambar 21. Persentase penduduk Kota Batu menurut
kelompok pengeluaran per kapita per bulan tahun 2014. ... 69 Gambar 22. Persentase Penduduk Kota Batu menurut pengeluaran per kapita 2013-2014 ... 70
Gambar 23. Persentase pengeluaran rata-rata untuk
makanan dan non makanan di Kota Batu 2014. ... 71 Gambar 24. Persentase rumah tangga di Kota Batu yang menerima bantuan kredit menurut sumbernya tahun 2014. ... 74
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 1
LATAR BELAKANG
Hakikat pembangunan bangsa adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, baik secara fisik maupun non-fisik. Karena pembangunan bukan hanya membuat sarana-sarana fisik dan infra-struktur seperti jaringan jalan, perumahan, fasilitas pendidikan, kesehatan, perekonomian dan sarana fisik lainnya, namun juga membangun kualitas sumber daya manusianya. Manusia Indonesia yang memiliki tingkat pendidikan, keterampilan dan kesejahteraan yang tinggi serta berkarakter baik. Berbagai kebijakan telah
ditetapkan oleh pemerintah untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakatnya di tingkat nasional maupun regional yang secara konkrit diwujudkan dalam bentuk program-program pemerintah yang baik secara strategis maupun yang terintegrasi secara spesifik bertujuan untuk menuntaskan sasaran-sasaranpembangunan.
Selayaknya negara berkembang yang sedang terus membangun, sasaran pembangunan Indonesia sangat besar, beragam dan kompleks. Satu diantara berbagai sasaran pembangunan nasional yang juga menjadi bagian dari komitmen internasional adalah pengentasan kemiskinan. Kemiskinan merupakan sebuah fenomena yang dinamis dan kompleks. Penentuan definisi miskin sendiri merupakan hal yang tidak sederhana. Sehingga penentuan target jumlah penduduk miskin harus dilepaskan dari belenggu kemiskinan akhirnya pula menjadi persoalan. Namun, apapun
permasalahannya setiap proses pembangunan
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 2 membutuhkan komponen monitoring dan evaluasi hasil
pembangunan untuk mengetahui sejauh mana
pembangunan yang telah dilakukan menyentuh dan menyelesaikan target yang telah ditetapkan.
Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) dirancang sedemikian untuk memberikan informasi kepada pemerintah baik secara nasional maupun regional untuk melakukan monitoring dan evaluasi pembangunan yang telah dilakukan untuk dijadikan pijakan dalam menentukan kebijakan pemerintah pada tahapan pembangunan selanjutnya. Survei ini memberikan berbagai informasi meliputi aspek kependudukan, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, fertilitas dan keluarga berencana, perumahan dan pengeluaran perkapita, serta kondisi sosial ekonomi rumah tangga. Informasi-informasi tersebut secara bersama-sama dengan informasi dari survei lain dapat memberikan informasi mengenai fenomena-fenomena kompleks yang menjadi sasaran pembangunan.
TUJUAN
Tujuan pengumpulan data melalui Susenas adalah tersedianya data tentangkesejahteraan rakyat yang dapat mencerminkan keadaan sosial ekonomi masyarakat.
Secara khusus, sasaran Susenas adalah :
- Tersedianya data pokok tentang kesejahteraan masyarakat yang sangat dibutuhkanuntuk masukan
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 3 penyusunan kebijakan dan sebagai alat untuk melihat keadaan,memonitor, dan mengevaluasi keberhasilan pembangunan
- Tersedianya data rinci tentang kesejahteraan rumah tangga, sosial budaya,pendidikan, dan kependudukan yang dirinci menurut golongan umur, jenis kelamin,status perkawinan, ketenagakerjaan, tingkat fertilitas, pemakaian kontrasepsi, tingkatkematian bayi, anak dan kematian ibu.
SISTEMATIKA PENYAJIAN
Ringkasan Eksekutif Susenas 2015 Kota Batu ini memiliki 9 (sembilan) bagian, yaitu:
Pendahuluan: berisi tentang latar belakang survei,
tujuan dan sistematika penyajian ruang lingkup, kerangka sampel, rancangan sampel, metode pengumpulan data, pengolahan data serta konsep dan definisi.
Kependudukan: memberikan informasi mengenai
struktur kependudukan
Keluarga Berencana: memberikan informasi
mengenai partisipasi penduduk dalam melaksanakan program Keluarga Berencana
Kesehatan: memberikan informasi mengenai keluhan
kesehatan penduduk dan cara mereka mengatasinya.
Balita: memberikan informasi keadaan perawatan
kesehatan balita secara umum di Kota Batu.
http://batukota.bps.go.id
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 4
Pendidikan: menggambarkan partisipasi penduduk
dalam pendidikan.
Perumahan: memberikan informasi tentang kondisi
perumahan penduduk Kota Batu.
Pengeluaran perkapita: menyediakan informasi
mengenai gambaran pengeluaran penduduk Kota Batu untuk komponen Makanan dan Non Makanan.
Sosial ekonomi rumah tangga: memberikan informasi
mengenai kondisi sosial ekonomi rumah tangga di Kota Batu.
RUANG LINGKUP
Susenas 2014 dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia dengan jumlah sampel sebesar 300.000 rumah tangga yang tersebar di seluruh provinsi dan 497 kabupaten/kota di Indonesia, maka data pokok (kor) Susenas dapat menghasilkan statistik sederhana sampai tingkat
kabupaten/kota. Dengan demikian perkembangan
kesejahteraan masyakarat antar kabupaten/kota bisa dibandingkan dengan menggunakan data dan indikator yang relatif sama.
Pelaksanaan pengumpulan data Susenas 2014 terdiri dari beberapa instrumen pendataan yaitu pengumpulan data rumah tangga Susenas kor (pokok) dan konsumsi yang hasilnya dapat diestimasi sampai tingkat kabupaten/kota. Instrumen pendataan yang lain di tahun 2014 adalah Modul
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 5 Ketahanan Sosial, Survei Perlindungan Sosial, Migrasi Internasional Dan Remiten yang direncanakan untuk tingkat estimasi Nasional dan Provinsi. Data kor mencakup variabel sosial kependudukan secara umum dan untuk data konsumsi menghimpun data pengeluaran yang di konsumsi oleh rumah tangga baik makanan maupun non makanan, yang dikumpulkan setiap tahun. Sedangkan untuk data modul tidak rutin dilaksanakan setiap tahun. Adapun beberapa jenis data modul yang umum dikumpulkan bersamaan dengan kegiatan Susenas adalah Modul Sosial Budaya dan Pendidikan serta Modul Kesehatan dan Perumahan. Keterangan yang dikumpulkan dalam Modul merupakan pertanyaan yang lebih rinci dan mendalam dibandingkan pertanyaan untuk topik yang sama dalam Kor. Dalam perkembangannya pengelompokan variabel Modul tersebut seringkali terjadi perubahan, hal ini sangat tergantung pada kebutuhan data.
Publikasi ini menyajikan data hasil Susenas Kor dan data pengeluaran Konsumsi tahun 2014. Pada tahun 2014 semua blok sensus sampel Susenas dilakukan pencacahan Konsumsi. Sejak tahun 2011 Susenas dilaksanakan setiap triwulan, namun pada tahun 2014 ini karena sesuatu hal Susenas Triwulan IV tidak dilakukan.
Data-data yang disajikan dalam publikasi ini antara lain menyangkut aspek kependudukan, kesehatan, balita, fertilitas dan KB, perumahan, pengeluaran perkapita, serta sosial ekonomi rumah tangga.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 6 Rumah tangga sampel Susenas adalah rumah tangga yang terdapat dalam blok sensus biasa, tidak termasuk yang tinggal dalam blok sensus khusus seperti kompleksmiliter dan sejenisnya, serta rumah tangga khusus yang berada di blok sensus biasa. Data yang diperoleh dari seluruh rumah tangga
yang terpilih dalam sampel dikumpulkan dengan
menggunakan Daftar VSEN2012.K dan VSEN14.M.
KERANGKA SAMPEL
Kerangka sampel yang digunakan dalam Susenas 2012 terdiri dari 3 jenis, yaitu kerangka sampel untuk penarikan sampel tahap pertama, kerangka sampel untuk penarikan sampel tahap kedua dan kerangka sampel untuk penarikan sampel tahap ketiga.
Kerangka sampel untuk pemilihan sampel tahap pertama adalah daftar wilayahpencacahan (wilcah) SP2010 yang disertai dengan informasi banyaknya rumah tangga hasil listing SP2010 (Daftar RBL1), muatan blok sensus dominan (pemukiman biasa,pemukiman mewah, pemukiman kumuh), informasi daerah sulit/tidak sulit, dan klasifikasi desa/kelurahan (rural/urban).
Kerangka sampel untuk pemilihan sampel tahap kedua adalah daftar blok sensuspada setiap wilcah terpilih. Kerangka sampel untuk pemilihan sampel tahap ketiga adalah daftar rumah tangga biasa tidak termasuk institutional
household (panti asuhan, barak polisi/militer,penjara, dsb)
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 7 dalam setiap blok sensus sampel hasil pencacahan lengkap SP2010
(SP2010-C1) yang telah dimutahirkan pada setiap menjelang pelaksanaan survei.Kerangka sampel untuk pemilihan rumah tangga adalah daftar rumah tangga hasil listing yang terdapat dalam Daftar VSEN2008.L Blok IV.
RANCANGAN SAMPEL
Rancangan sampel secara Nasional yang digunakan yaitu penarikan sampel tigatahap berstrata. Tahapan dari metode ini diuraikan sebagai berikut:
1) Tahap pertama, dimulai dengan memilih nh wilcah dari
Nh secara pps (Probability Proportional to Size) dengan
size banyaknya rumah tangga SP2010 (Mi). Kemudian
wilcah tersebut dialokasikan secara acak ke dalam empat triwulan. Keseluruhan harus diambil sebanyak
nh= 30.000 wilcah sehingga masing-masing triwulan akan
ada sebanyak 7.500 wilcah. Dari 7.500 wilcah Susenas Triwulan I, dipilih sebanyak 5.000 wilcah secara sistematik untuk Sakernas 2012 Triwulan I danakan digunakan lagi untuk Triwulan II, III, dan IV.
2) Tahap kedua, dilakukan dengan memilih:
- dua BS pada setiap wilcah terpilih Susenas Triwulan II, dan III, serta Triwulan Iyang juga terpilih untuk Sakernas Triwulan I, yang selanjutnya dari blok-blok sensus terpilih dialokasikan secara acak satu untuk Susenas/SBH, dan satu Sakernas, atau
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 8 - satu BS pada setiap wilcah terpilih Triwulan IV dan
Trwulan I yang untuk Susenas saja secara pps dengan ukuran jumlah rumah tangga SP2010-RBL1.
3) Tahap ketiga, dari setiap blok sensus terpilih untuk Susenas dipilih sejumlah rumah tangga biasa (m=10) secara sistematik berdasarkan hasil pemutakhiran listing rumahtangga SP2010-C1 dengan menggunakan Daftar VSEN12-P. Daftar nama kepala rumah tangga disusun dari Ekstrak SP2010-C1 untuk variabel nama KRT, alamat, dan tingkat pendidikan KRT, kemudian dilakukan pemutakhiran lapangan.
Dengan demikian untuk Jawa Timur sendiri terdapat 2.996 Blok Sensus, yang terbagi atas749 Blok Sensus untuk setiap triwulannya, 130 diantaranya diambil di Kota Batu. Sehingga total target rumah tangga sampel selama tahun 2014 adalah 29.960 (setiap Blok Sensus diambil secara sistematik 10 rumahtangga sampel) atau sebanyak 7.490 rumah tangga target sampel di setiap triwulan.
METODE PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data dari rumah tangga terpilih dilakukan melalui wawancara tatap muka antara petugas survei (pencacah) dengan responden. Untuk pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner Susenas 2014 yang ditujukan kepada individu diusahakan agar individu yang bersangkutan
yang diwawancarai sehingga data/informasi yang
disampaikan lebih akurat. Keterangan tentang rumah tangga dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala rumah
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 9 tangga, suami/istri kepala rumah tangga, atau anggota rumah tangga lain yang mengetahui tentang karakteristik yang ditanyakan.
Susenas 2014 dilaksanakan per triwulan, yaitu 1-17 Maret 2014 (triwulan 1), 17 Juni 2014 (triwulan 2), dan 1-17 September 2014 (triwulan 3). Untuk data gabungan 2014 yang dihasilkan merupakan representasi data pertengahan tahun, dengan harapan dapat lebih mewakili kondisi sosial ekonomi masyarakat dalam satu tahun tertentu. Adapun referensi waktu survei yang digunakan dihitung berdasarkan satu periode yang berakhir sehari sebelum tanggal pencacahan, antara lain :
a. Keterangan kegiatan anggota rumah tangga berumur 10 tahun ke atas dan konsumsi makanan, dengan refrensi waktu survei seminggu terakhir.
b. Keterangan kesehatan, dengan referensi waktu survei 1 bulan terakhir, 6 bulan terakhir, dan 1 tahun terakhir.
c. Pengeluaran untuk barang-barang bukan makanan, dengan referensi waktu survei 1 bulan yang lalu, 2 bulan yang lalu dan 3 bulan yang lalu.
PENGOLAHAN DATA
Untuk mendapatkan data yang baik, tahapan dalam pengolahan data Susenas adalah sebagai berikut :
a. Setelah selesai pelaksanaan lapang, dokumen hasil survei diperiksa oleh pengawas baik menyangkut
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 10 kelengkapan isian, konsistensi atau keterkaitan jawaban antar pertanyaan dan juga kewajaran datanya.
b. Pada tahap berikutnya dilakukan kegiatan receiving dan batching yaitu tahap memilah-milah, menyusun
dan mengelompokkan dokumen. Tahapan
selanjutnya adalah editing-coding¸ yaitu tahapan penyuntingan terhadap kewajaran isian termasuk hubungan keterkaitan (konsistensi) antara satu jawaban dengan jawaban lainnya dan pemberian kode terhadap jawaban terbuka. Tahapan ini disebut juga tahap pra komputer.
c. Setelah data dinyatakan sempurna, maka
dilaksanakan data entry (perekaman data). Untuk kuesioner Kor dan Modul entry dilakukan di BPS Kabupaten/Kota, dan hasil perekaman data tersebut selanjutnya dikirim ke BPS Provinsi selanjutnya digabung dan dikirim ke BPS Pusat untuk dilakukan pengolahan/tabulasi.
KONSEP DAN DEFINISI
A. Blok Sensus (BS) adalah bagian dari suatu wilayah desa/kelurahan yang merupakandaerah kerja dari seorang pencacah secara tim.
Kriteria Blok Sensus sebagai berikut :
- Setiap wilayah desa/kelurahan dibagi habis menjadi beberapa blok sensus.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 11 - Blok Sensus harus mempunyai batas-batas yang
jelas/mudah dikenali baik batasalam maupun buatan. Batas satuan lingkungan setempat (SLS seperti RT, RW,Dusun, lingkungan dan sebagainya) diutamakan sebagai batas blok sensus bilabatas SLS tersebut jelas (batas alam atau buatan).
- Satu blok sensus harus terletak dalam satu hamparan.
Ada 3 jenis Blok Sensus, yaitu :
a. Blok Sensus Biasa (B) adalah blok sensus yang bermuatan antara 80 sampai 120 rumah tangga atau bangunan sensus tempat tinggal atau bangunan sensus bukan tempat tinggal atau gabungan keduanya dan sudah jenuh.
b. Blok Sensus Khusus (K) adalah blok sensus yang mempunyai muatan sekurang-kurangnya100 orang kecuali lembaga permasyarakatan tidak ada batas muatan.Tempat-tempat yang bisa dijadikan Blok Sensus Khusus antara lain :
- Asrama Militer (tangsi)
- Daerah perumahan militer dengan pintu keluar-masuk yang dijaga.
c. Blok Sensus Persiapan (P) adalah blok sensus yang kosong seperti sawah, kebun, tegalan, rawa, hutan, daerah yang dikosongkan (digusur) atau bekas pemukiman yang terbakar.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 12
Sub Blok Sensus adalah bagian dari blok sensus. BS yang mempunyai muatan lebihdari 150 rumah tangga harus dipecah menjadi beberapa sub blok sensus.Yang menjadi cakupan dalam Susenas 2014 adalah blok sensus biasa.
Segmen adalah bagian dari blok sensus yang mempunyai batas jelas. Besarnyasegmen tidak dibatasi oleh jumlah rumah tangga atau bangunan fisik.
B. Bangunan Fisik adalah tempat berlindung yang mempunyai dinding, lantai, danatap, baik tetap maupun sementara, baik digunakan untuk tempat tinggal maupunbukan tempat tinggal. Bangunan dapur, kamar mandi, garasi, dan lainnya yangterpisah dari bangunan induk dianggap bagian bangunan induk tersebut (satubangunan), jika terletak dalam satu pekarangan.
Bangunan yang luas lantainyakurang dari 10 m2 dan
tidak digunakan untuk tempat tinggal dianggap bukanbangunan fisik. Susenas 2014 tidak mencakup rumah tangga yang tinggal bukan di bangunan fisikseperti bangunan liar di bawah jembatan, di pinggir rel kereta api, di gerbong kereta,di bantaran sungai, dan sebagainya.
Bangunan Sensus adalah sebagian atau seluruh bangunan fisik yang mempunyai pintu keluar masuk sendiri dan dalam satu kesatuan penggunaan.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 13
C. Rumah tangga dalam hal ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu rumah tanggabiasa dan rumah tangga khusus.
1. Rumah tangga biasa adalah seseorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik/sensus, dan biasanya makan bersama dari satu dapur. Yang dimaksud dengan makan dari satu dapur adalah mengurus kebutuhan sehari-hari bersama menjadi satu. Rumah tangga biasa umumnya terdiri dari bapak, ibu dan anak-anaknya, serta anggota lainnya baik yang ada hubungan famili maupun tidak. Selain itu yang dapat juga dianggap sebagai rumah tangga biasa antara lain:
- Seseorang yang menyewa kamar atau sebagian bangunan sensus tetapi mengurus makannya sendiri;
- Keluarga yang tinggal terpisah di dua bangunan sensus tetapi makannya darisatu dapur, asal kedua bangunan sensus tersebut masih terletak dalam blok sensus yang sama dianggap sebagai satu rumah tangga;
- Rumah tangga yang menerima pondokan dengan makan (indekos) yang pemondoknya kurang dari 10 orang;
- Beberapa orang yang bersama-sama mendiami satu kamar dalam satu bangunan sensus walaupun mengurus makannya sendiri-sendiri.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 14 2. Rumah tangga khusus meliputi:
- Orang-orang yang tinggal di asrama, yaitu suatu tempat tinggal yang pengurusan kebutuhan sehari-harinya diatur oleh suatu yayasan atau badan, misalnya asrama perawat, asrama mahasiswa, asrama TNI (tangsi). AnggotaTNI yang tinggal di asrama bersama keluarganya dan mengurus sendiri kebutuhan sehari-harinya bukan rumah tangga khusus, melainkan rumah tangga biasa.
- Orang-orang yang tinggal di panti asuhan, lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan dan sejenisnya.
- Sekelompok orang mondok dengan makan (indekos) yang berjumlah lebih besar atau sama dengan 10 orang.
Rumah tangga khusus tidak dicakup dalam Susenas D. Anggota rumah tangga (art) adalah semua orang yang
biasanya bertempat tinggal di rumah tangga, baik yang
berada di rumah tangga pada waktu
pencacahanmaupun sementara tidak ada. Art yang telah bepergian selama 6 bulan atau lebih,dan anggota rumah tangga yang bepergian belum sampai 6 bulan namun dengan maksud pergi lebih dari 6 bulan atau lebih, tidak dianggap sebagai anggota rumahtangga lagi. Sebaliknya orang yang telah tinggal di rumah tangga 6 bulan atau lebih,atau yang telah tinggal kurang dari 6 bulan tetapi berniat pindah/bertempat tinggal di rumah tangga
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 15 tersebut selama 6 bulan atau lebih dianggap sebagai anggota rumah tangga.
E. Kepala rumah tangga (krt) adalah salah seorang dari anggota rumah tangga yang bertanggung jawab atas kebutuhan sehari-hari rumah tangga tersebut, atau orangyang karena suatu hal dianggap atau ditunjuk sebagai kepala rumah tangga.
F. Kependudukan
1. Umur dihitung dalam tahun dengan pembulatan ke bawah atau umur menurut ulang tahun yang terakhir. Perhitungan umur didasarkan pada kalender Masehi. 2. Status perkawinan
Belum kawin
Kawin adalah mereka yang mempunyai istri
(bagi laki-laki) atau suami (bagi perempuan) pada saat pencacahan, baik tinggal bersama maupun terpisah.
Dalam hal ini tidak saja mereka yang kawin sah secara hukum (adat, agama,negara dan sebagainya), tetapi juga mereka yang hidup bersama dan oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sebagai suami-istri.
Cerai hidup adalah mereka yang berpisah
sebagai suami-istri karena bercerai dan belum kawin lagi. Dalam hal ini termasuk mereka yangmengaku cerai walaupun belum resmi
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 16 secara hukum. Sebaliknya tidak termasuk mereka yang hanya hidup terpisah tetapi masih berstatus kawin.
Wanita yang mengaku belum pernah kawin tetapi pernah hamil, dianggap cerai hidup.
Cerai mati adalah mereka yang ditinggal mati
oleh suami atau istrinya dan belum kawin lagi. G. Kesehatan
1. Keluhan Kesehatan adalah keadaan ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan atau kejiwaan, baik karena penyakit akut, penyakit kronis, kecelakaan, kriminal, atau hal lain. Lamanya terganggu tidak merujuk pada keluhan yang terberat saja, melainkan mencakup jumlah hari untuk semua keluhan kesehatan dalam satu bulan terakhir.
2. Mengobati Sendiri adalah upaya oleh art/keluarga dengan melakukan pengobatan sendiri (tanpa datang ke tempat fasilitas kesehatan atau
memanggil dokter/petugas kesehatan ke
rumahnya), agar sembuh atau lebih ringan keluhan kesehatannya, misal dengan cara minum obat modern, jamu, kerokan, kompres, pijat, dan lain-lain. Jenis obat/cara pengobatan yang digunakan adalah :
a. Obat Modern adalah obat yang digunakan dalam sistem kedokteran, dapat berbentuk tablet, kaplet, kapsul, sirup, puyer, salep, dll; yang biasanya
http://batukota.bps.go.id
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 17 sudah dalam bentuk jadi buatan pabrik farmasi dengan kemasan bernomor kode pendaftaran di Depkes. Obat-obat ini ada yang harus dibeli dengan resep dokter di apotik dan ada yang dapat dibeli bebas di apotik, toko obat, dll. b. Obat Tradisional adalah ramuan yang
dibuat dari bagian tanaman, hewan, mineral, dll; biasanya berbentuk bubuk,
rajangan, cairan, tablet, kapsul,
parem,obat gosok, dll. Pembuatnya bisa rumah tangga, penjaja jamu gendong, sinse, dukun, tabib, perusahaan jamu, pabrik farmasi, dll.
c. Lainnya misal bahan makanan
suplemen/pelengkap alami
(sunchlorella, squalen, imedeen, omega 3, collagen, dll), minuman tonik (misal :Kratingdaeng, Kaki Tiga, Adem Sari, Lasegar, dll), kerokan, pijatan.
3. Berobat Jalan adalah kegiatan atau upaya anggota rumah tangga yang mempunyai keluhan kesehatan untuk memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan dengan mendatangi tempat-tempat pelayanan kesehatan modern atau tradisional tanpa
menginap, termasuk mendatangkan petugas
kesehatan kerumah.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 18 4. Anak lahir hidup adalah anak yang pada waktu
dilahirkan menunjukkan tanda-tandakehidupan, walaupun mungkin hanya beberapa saat saja, seperti jantung berdenyut,bernafas dan menangis. Anak yang pada waktu lahir tidak menunjukkan tanda-tandakehidupan disebut lahir mati.
5. Proses Kelahiran adalah proses lahirnya janin usia 5 bulan ke atas dari dalam kandungan ke dunia luar, dimulai dengan tanda-tanda kelahiran, lahirnya bayi, pemotongan tali pusat, dan keluarnya plasenta.
a. Penolong Pertama Persalinan adalah penolong persalinan yang pertama kali dipilih responden, jika kemudian ada
kemungkinan proses mengalami
hambatan maka diperlukan rujukan ke tenaga persalinan yang lain.
b. Penolong Terakhir Persalinan adalah penolong persalinan yang menangani proses hingga kelahiran bayi.
6. Pemberian Air Susu Ibu (ASI)/Menyusui adalah jika puting susu ibu yang dihisap bayi mengeluarkan air susu yang diminum oleh bayi, walaupun hanya sedikit. Ibu yang menyusui dapat ibu kandung maupun bukan ibu kandung. Bayi yang minum ASI melalui botol dikategorikan diberi ASI.
7. Imunisasi atau vaksinasi adalah memasukkan kuman atau racun penyakit tertentu yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh dengan cara disuntik atau diteteskan dalam mulut, dengan maksud agar
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 19 terjadi kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut. Jenis imunisasi antara lain :
a. BCG (Bacillus Calmette Guerin) adalah vaksinasi untuk mencegah penyakit TBC, diberikan kepada bayi baru lahir atau anak sebanyak satu kali dengan suntikan pada kulit pangkal lengan atas.
b. DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) adalah vaksinasi untuk mencegah penyakit Difteri, Pertusis, dan Tetanus, diberikan kepada bayi berumur 3 bulan ke atas dengan suntikan di paha. Imunisasi DPT lengkap pada balita sebanyak 3 kali. c. Polio adalah vaksinasi untuk mencegah
penyakit polio, diberikan kepada bayi berumur 3 bulan ke atas, dengan memberikan 3 tetes cairan vaksin berwarna merah muda atau putih ke dalam mulut anak. Imunisasi polio lengkap pada balita sebanyak 3 kali. d. Campak/Morbilli adalah vaksinasi untuk
mencegah penyakit campak/morbilli, diberikan kepada bayi berumur 9 sampai 12 bulan, dengan suntikan di bawah kulit pada paha sebanyak 1 kali.
e. Hepatitis B adalah suntikan secara intramuskular (suntikan ke dalam otot) untuk mencegah penyakit Hepatitis B, diberikan kepada bayi sebanyak 3 kali.
http://batukota.bps.go.id
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 20
H. Pendidikan
1. Sekolah adalah sekolah formal mulai dari pendidikan dasar (SD dan SLTP), menengah (SLTA) dan tinggi (perguruan tinggi/akademi), termasuk pendidikan yang setara seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah. Madrasah Diniyah bukan merupakan sekolah formal.
2. Tidak/belum pernah sekolah adalah tidak/belum pernah terdaftar dan tidak/belum pernah aktif
mengikuti pendidikan di suatu jenjang
pendidikan formal. Mereka yang tamat/belum
tamat Taman Kanak-Kanak yang tidak
melanjutkan ke SD/MI dianggap tidak/belum pernah sekolah.
3. Masih bersekolah adalah status dari mereka yang terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan di suatu jenjang pendidikan formal.
4. Tidak bersekolah lagi adalah status dari mereka yang pernah terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan di suatu jenjang pendidikan formal, tetapi pada saat pencacahan tidak lagi terdaftar dan tidak lagi aktif.
5. Pendidikan tertinggi yang pernah/sedang
diduduki adalah jenjang pendidikan tertinggi yang yang pernah diduduki oleh seseorang yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang sedang diduduki oleh seseorang yang masih bersekolah.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 21 6. Tamat Sekolah adalah telah menyelesaikan
pelajaran yang ditandai dengan lulus ujian akhir pada kelas atau tingkat terakhir pada suatu jenjang pendidikan formal baik negeri maupun swasta dengan mendapatkan tanda tamat belajar/ijasah. Seseorang yang belum mengikuti pelajaran pada kelas tertinggi tetapi sudah mengikuti ujian akhir dan lulus, dianggap tamat sekolah.
7. Dapat membaca dan menulis adalah mereka yang dapat membaca dan menulis surat/kalimat sederhana dengan huruf latin maupun huruf lainnya.
I. Perumahan
1. Status rumah yang ditempati harus dilihat dari sisi anggota rumah tangga yang mendiaminya, yaitu :
a. Milik sendiri, jika tempat tinggal tersebut pada waktu pencacahan betul-betul sudah milik kepala rumah tangga (krt) atau salah seorang anggota rumahtangga (art). Rumah yang dibeli secara angsuran melalui kredit bank ataurumah dengan status sewa beli dianggap rumah milik sendiri.
b. Kontrak, jika tempat tinggal tersebut disewa oleh krt/art dalam jangka waktutertentu berdasarkan perjanjian kontrak antara pemilik dan pemakai, misalnya1 atau 2 tahun. Cara pembayaran biasanya sekaligus di muka atau
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 22 dapat diangsur menurut persetujuan kedua belah pihak. Pada akhir masa perjanjian pihak pengontrak harus meninggalkan tempat tinggal yang didiami dan bila kedua belah pihak setuju bisa diperpanjang kembali dengan mengadakan perjanjian kontrak baru.
c. Sewa, jika tempat tinggal tersebut disewa oleh krt/art dengan pembayaran sewanya secara teratur dan terus menerus tanpa batasan waktu tertentu.
d. Rumah dinas, jika tempat tinggal tersebut dimiliki dan disediakan oleh suatuinstansi tempat bekerja salah satu art, baik dengan membayar sewa maupun tidak.
e. Bebas sewa milik orang lain, jika tempat tinggal tersebut diperoleh dari pihaklain (bukan famili/orang tua) dan ditempati/didiami oleh art tanpamengeluarkan suatu pembayaran apapun. f. Rumah milik orang tua/sanak/saudara, jika
tempat tinggal tersebut bukan milik sendiri melainkan milik orang tua/sanak/saudara dan tidak mengeluarkan suatu pembayaran apapun untuk mendiami tempat tinggal tersebut.
g. Lainnya, jika tempat tinggal tersebut tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu kategori di atas, misalnya tempat tinggal milik bersama, rumah adat.
2. Luas lantai adalah luas lantai yang ditempati dan digunakan untuk keperluan sehari-hari (sebatas
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 23 atap). Bagian-bagian yang digunakan bukan untuk keperluan sehari-hari tidak dimasukkan dalam
perhitungan luas lantai seperti lumbung
padi,kandang ternak, lantai jemur (lamporan semen) dan ruangan khusus untuk usaha (misalnya warung). Untuk bangunan bertingkat, luas lantai adalah jumlah luas dari semua tingkat yang ditempati. Bila suatu tempat tinggal dihuni oleh lebih dari satu rumah tangga, maka luas lantai hunian setiap rumah tangga adalah luas lantai dariruangan yang dipakai bersama dibagi banyaknya rumah tangga ditambah dengan luas lantai pribadi rumah tangga yang bersangkutan. 3. Sumber air minum
a. Air dalam kemasan adalah air yang diproduksi dan didistribusikan oleh suatuperusahaan dalam kemasan gelas, botol, dan galon; seperti antara lain air kemasan merk Aqua, Ades, Total, dan lain-lain, termasuk juga air isi ulang.
b. Air leding adalah air berasal dari air yang telah diproses menjadi jernih/bersih sebelum dialirkan kepada konsumen melalui suatu instalasi berupa saluran air. Sumber air ini diusahakan oleh PAM/PDAM/BPAM.
c. Air pompa adalah air tanah yang cara pengambilan airnya dengan menggunakan pompa tangan/pompa listrik.
d. Air sumur/perigi adalah air yang berasal dari dalam tanah yang digali, cara pengambilannya
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 24 dengan menggunakan gayung atau ember baik dengan atau tanpa katrol.
e. Mata air adalah sumber air permukaan tanah yang timbul dengan sendirinya.
J. Pengeluaran rumah tangga sebulan adalah semua biaya yang dikeluarkan rumah tangga selama sebulan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi untuk semua anggota rumah tangga. Konsumsi rumah tangga dibedakan atas konsumsi makanan dan bukan makanan.
1. Pengeluaran untuk makanan adalah nilai
pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga selama seminggu yang lalu baik dari pembelian, produksi sendiri atau pemberian. Untuk makanan yang berasal dari produksi sendiri atau pemberian, nilainya harus diperhitungkan sesuai dengan harga pasar setempat. Pengeluaran untuk makanan di sini yang dicatat hanya yang benar-benar dikonsumsi oleh anggota rumah tangga selama seminggu yang lalu, tidak termasuk yang diberikan kepada karyawan/pekerja atau pihak lainnya.
Pengeluaran untuk bukan makanan adalah nilai pengeluaran untukkonsumsi barang bukan makanan selama 1 bulan yang lalu, 2 bulan yang lalu,dan 3 bulan yang lalu, baik dari
pembelian, produksi sendiri maupun
daripemberian/pembagian.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 25
KEPENDUDUKAN
Hasil Susenas 2014 menunjukkan sekitar 69,07 persen penduduk Kota Batu berada pada usia produktif (15-64 tahun) dan 30,93 persen termasuk usia belum produktif dan tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas). Sebesar 87 persen perempuan usia subur menggunakan cara KB. Rata-rata perempuan usia subur di Kota Batu melahirkan 1-3 orang anak lahir hidup. Sebagian besar masyarakat Kota Batu yang mengobati keluhan kesehatan berobat jalan.
JUMLAH PENDUDUK
Data kependudukan memiliki manfaat sangat penting bagi pemerintah dan lembaga lain yang memiliki kepentingan
terhadap pembangunan kependudukan/masyarakat.
Pembangunan tidak dapat terlaksana dengan baik jika data penduduk tidak tepat dan akurat.
Berdasarkan proyeksi penduduk jumlah penduduk di Kota Batu mencapai 198.608 jiwa, dengan luas wilayah 199,087 kilometer persegi maka tingkat kepadatan penduduk Kota Batu sebesar 997,59 jiwa per kilometer persegi. Bila dilihat menurut jenis kelamin, komposisi penduduk di Kota Batu yaitu 50,30 persen laki-laki dan 49,70 perempuan. Perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan dapat dilihat dari angka sex ratio yaitu 101,21 yang berarti setiap 100 orang penduduk perempuan terdapat sekitar 101 penduduk laki-laki.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 26
Gambar 1.Persentase Penduduk Kota Batu Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur, 2014
Sementara bila dilihat menurut kelompok umur (Gambar 1), sekitar 69,07 persen penduduk Kota Batu berada pada usia produktif (15-64 tahun) dan 30,93 persen termasuk usia belum produktif dan tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas). Persentase penduduk menurut kelompok umur tersebut dapat memberikan gambaran angka ketergantungan (dependency ratio) yaitu persentase jumlah penduduk belum produktif dan tidak produktif yang harus ditanggung penduduk usia produktif. Semakin tinggi angka ketergantungan maka semakin besar beban yang ditanggung penduduk usia produktif untuk membiayai hidup penduduk usia belum produktif dan tidak produktif lagi. Rasio ketergantungan penduduk muda Kota Batu sebesar 35,11 persen, yang berarti 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 35 penduduk usia belum produktif (0-14
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 27 tahun). Sementara itu, rasio ketergantungan penduduk tua sebesar 9,68 yang berarti 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 10 penduduk tua (65 tahun ke atas).
Tabel 1. Persentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas Menurut Status Perkawinan dan Jenis Kelamin, 2014
Status Kawin Laki-laki Perempuan L+P
Belum Kawin 31,63 22,19 26,93
Kawin 64,69 64,11 64,40
Cerai Hidup 1,07 1,79 1,43
Cerai Mati 2,61 11,91 7,24
Berdasarkan hasil Susenas tahun 2014, persentase penduduk perempuan usia 10 tahun ke atas yang berstatus belum kawin sebesar 22,19 persen dan yang berstatus pernah kawin sebesar 64,11 persen (Tabel 1). Dari perempuan yang pernah kawin, 13,70 persen diantaranya berstatus cerai baik itu cerai hidup maupun cerai mati. Penyebab perceraian biasanya disebabkan karena faktor kesulitan ekonomi, ataupun faktor lainnya seperti belum siap secara fisik maupun mental akibat perkawinan yang berlangsung pada usia muda. Perkawinan usia muda akan berpengaruh terhadap angka kelahiran. Semakin rendah umur kawin pertama berarti semakin panjang usia reproduksi seorang wanita sehingga peluang memiliki anak lebih banyak akan semakin besar pula. Dampaknya adalah meningkatnya
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 28 angka kelahiran. Selain itu, perkawinan yang dilakukan pada usia muda juga berdampak pada persalinannya. Hal ini dikarenakan belum matangnya rahim seorang wanita pada usia muda sehingga berbahaya bagi keselamatan bayi dan ibunya. Tingginya angka kematian ibu dan bayi di suatu daerah salah satunya disebabkan karena besarnya persentase wanita yang menikah pada usia muda.
Gambar 2.Persentase Perempuan Usia 15-49 Tahun menurut Kelompok Umur di Kota Batu 2014
Menurut hasil Susenas tahun 2014, terdapat relatif sedikit sekali (0,57 persen) perempuan usia subur muda (15-19 tahun). Gambar 2 menunjukkan persentase penduduk perempuan Kota Batu yang berstatus kawin usia 15-49 tahun. Sementara jika ingin melihat kondisi perempuan usia 10 tahun ke atas yang pernah kawin di Kota Batu maka dari hasil Susenas 2014 menunjukkan bahwa di Batu sudah tidak ada penduduk perempuan usia 10-14 tahun yang berstatus sudah
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 29 pernah kawin, meskipun masih ada sedikit (0,37 persen) penduduk perempuan yang sudah pernah kawin di usia 15-19 tahun. Status yang pernah kawin termasuk kategori kawin, cerai hidup dan cerai mati. Ada sekitar 8,14 persen penduduk perempuan Kota Batu yang berstatus pernah kawin berumur 20-24 tahun, sementara sisanya 91,5 persen berusia lebih dari 25 tahun.
Gambar 3. Persentase usia kawin pertama penduduk perempuan usia 10 tahun ke atas yang berstatus pernah kawin Kota Batu 2014.
Indikator fertilitas yang sering menjadi perhatian dari instansi terkait adalah umur saat kawin pertama penduduk perempuan usia 10 tahun ke atas yang pernah kawin dan
Singulate Mean Age at Marriage (SMAM) Tahun 2014 di Kota
Batu. Gambar 3 menunjukkan di Kota Batu perempuan usia 10 tahun ke atas berstatus pernah kawin dirinci menurut usia
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 30 kawin pertama. Lebih dari seperempatnya menikah di usia kurang dari 17 tahun.
KELUARGA BERENCANA
Salah satu program pemerintah yang sampai saat ini masih berlangsung dalam rangka mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan menurunkan angka kelahiran adalah program Keluarga Berencana (KB). Saat ini kesadaran masyarakat Kota Batu dalam melaksanakan program KB semakin tinggi.Tentu saja keberhasilan ini tidak terlepas dari peran berbagai pihak terkait serta kesadaran masyarakat Kota Batu akan pentingnya mengikuti program Keluarga Berencana. Jika dilihat dari hasil Susenas 2014 terlihat persentase penduduk yang tidak pernah menggunakan alat/cara KB menurun.
Tabel 2.Beberapa Indikator Keluarga Berencana Kota Batu, 2013-2014
Indikator Keluarga Berencana 2013 2014
Persentase Pernah Pakai KB (Ever User) 85,09 86,88
Angka Prevalensi Pemakaian Kontrasepsi (CPR) 66,48 70,77 Kebutuhan KB yang Tidak Terpenuhi (Unmet
Need) 14,91 13,12
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 31 Pada tahun 2014, persentase wanita usia 15-49 tahun yang berstatus pernah kawin yang pernah memakai/menggunakan alat KB ada sebanyak 86,88 persen (Tabel 2). Dari jumlah tersebut 70,77 persen diantaranya sedang memakai/menggunakan alat KB. Dibandingkan alat KB lainnya, alat KB suntik adalah alat KB yang paling banyak digunakan oleh wanita usia subur yaitu sebanyak 49,51 persen (Gambar 4).
Gambar 4. Persentase Wanita Usia Subur Yang Sedang Menggunakan Alat KB Menurut Alat KB yang Digunakan,Kota Batu,
2014
Sementara itu, alat KB yang banyak digunakan kedua setelah suntik adalah alat kontrasepsi dalam rahim (17,23 persen). Pil menjadi alat KB ketiga paling dipilih di Kota Batu dengan persentase pengguna mencapai 15,06 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar wanita usia subur lebih memilih untuk menggunakan alat kontrasepsi jangka
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 32 pendek yang sangat bergantung pada ketersediaan dan juga kedisplinan penggunanya. Cara membatasi jumlah anak tradisional nampaknya menjadi pilihan bagi perempuan usia subur di Kota Batu terlihat dari sekitar 6,11 persen memilih
cara KB ini. Kemudian alat/cara KB
susuk/implan/norplan/alwalit menjadi pilihan yang hampir sama populernya dengan cara KB tradisional (5,86 persen). Kemudian cara KB MOW/Tubektomi atau yang umum dikenal dengan cara steril di Kota Batu ada sekitar 4,88 persen perempuan usia subur menggunakan cara ini. Lalu sedikit yang menggunakan MOP/Vasektomi (0,61 persen), tentu saja pasangan perempuan usia subur Kota Batu yang menggunakannya.
Jika dilihat dari persentase perempuan usia subur yang pernah menggunakan alat/cara KB maka bisa dikatakan sebagian besar perempuan usia subur memiliki kesadaran untuk mengatur jumlah anak dalam keluarganya. Sehingga seharusnya pengaruhnya dapat dilihat dari tingkat fertilitas perempuan di Kota Batu. Informasi tentang tingkat fertilitas yang terjadi di Kota Batu hasil Susenas 2014 dapat dilihat dari rata-rata anak lahir hidup dan rata-rata anak masih hidup menurut kelompok umur wanita pada usia 15-49 tahun yang pernah kawin (Tabel 3).
Rata-rata anak lahir hidup menggambarkan
perjalanan fertilitas wanita dari memasuki usia subur hingga memasuki kelompok umur tertentu. Oleh karena itu, rata-rata jumlah anak lahir hidup menurut kelompok umur tertentu akan membentuk pola dimana secara rata-rata ibu
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 33 dengan kelompok umur muda akan memiliki anak yang lebih sedikit dibandingkan dengan ibu pada kelompok umur tua.
Dari tabel 3 terlihat bahwa pada tahun 2014 di Kota Batu rata-rata jumlah anak lahir hidup meningkat seiring umur ibu. Sesuai dengan program Keluarga Berencana yang dicanangkan pemerintah, pada tabel tersebut terlihat bahwa di Kota Batu seorang wanita usia subur pernah kawin rata-rata melahirkan 1 sampai 3 anak lahir hidup.
Selain jumlah anak yang lahir hidup, jumlah anak masih hidup juga dapat memberikan gambaran tingkat fertilitas di suatu daerah. Jumlah anak masih hidup merupakan jumlah anak yang dimiliki oleh seorang wanita secara riil sebab dari seluruh anak yang dilahirkan hidup tidak seluruhnya dapat terus hidup. Sama seperti rata-rata anak lahir hidup, rata-rata anak masih hidup juga meningkat seiring umur ibu. Dari hasil Susenas tahun 2014, diperoleh bahwa rata-rata anak yang masih hidup yang dimiliki oleh wanita usia subur di Kota Batu adalah antara 1 sampai 3 anak. Selisih antara rata anak lahir hidup dengan rata-rata anak masih hidup per kelompok umur yang kecil menggambarkan rendahnya jumlah kematian anak di Kota Batu.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 34
Tabel 3. Rata-rata Anak yang Dilahirkan Hidup dan Anak yang Masih Hidup per Wanita Usia 15-49 Tahun yang Pernah Kawin, Kota Batu, 2013-2014
Kelompok Umur
Rata-rata Anak Lahir
Hidup Rata-rata Masih Hidup
2013 2014 2013 2014 15-19 0,14 1,00 0,14 1,00 20-24 0,54 0,78 0,54 0,78 25-29 1,17 1,24 1,16 1,23 30-34 1,91 1,70 1,89 1,67 35-39 2,04 2,08 2,03 2,06 40-44 1,82 2,24 1,76 2,06 45-49 2,60 2,56 2,54 2,48 15-49 1,44 1,81 1,42 1,75
Sumber : Susenas 2013-2014 BPS KOTA BATU
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 35
KESEHATAN
Selama tahun 2014, secara umum penduduk perempuan lebih banyak mengalami keluhan kesehatan daripada penduduk laki-laki. Keluhan kesehatan yang paling banyak dikeluhkan adalah batuk dan pilek. Survei mengatakan bahwa penduduk Kota Batu lebih banyak menggunakan obat modern (92,24 persen) jika memiliki keluhan kesehatan.
Kesehatan adalah hak dasar manusia dan merupakan salah satu aspek penentu kualitas sumber daya manusia yang penting untuk dicermati. Sumber daya manusia yang sehat secara fisik diharapkan akan baik pula dari sisi kualitas, terutama untuk berkiprah dalam pembangunan agar kesejahteraan rakyat dapat terwujud. Melalui pembangunan bidang kesehatan diharapkan pelayanan kesehatan yang memadai dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 36
Gambar 5. Persentase Penduduk Kota Batu menurut keluhan kesehatan tahun 2014.
Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat dilaksanakan dengan tindakan nyata misalnya melalui penyediaan berbagai fasilitas kesehatan dilengkapi dengan peralatan medis yang memadai, yang diiringi ketersediaan tenaga medis berkualitas. Selain itu juga upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. Mengingat pentingnya peranan kesehatan dalam investasi sumber daya manusia, maka upaya pemenuhan kesehatan perlu untuk semua penduduk, mulai usia dini serta berkesinambungan. Artinya pemenuhan kesehatan yang baik, yaitu bayi yang masih dalam kandungan, pasca kelahiran, masa balita, usia dewasa dan tua. Hal lain yangberpengaruh pada kualitas kesehatan masyarakat adalah kondisi lingkungan, status gizi, dan bagaimana berperilaku hidup sehat.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 37
Susenas 2014 menunjukkan bahwa keluhan
kesehatan yang paling sering dialami oleh sekitar seperlima penduduk Kota Batu adalah pilek, batuk, panas dan keluhan kesehatan lainnya (Gambar 5). Kemudian sakit kepala dan sakit gigi juga menjadi keluhan kesehatan yang dialami oleh sekitar lima persen penduduk Kota Batu. Jika dibandingkan menurut jenis kelamin maka terlihat bahwa penduduk perempuan lebih sering mengalami keluhan kesehatan daripada penduduk laki-laki di setiap jenis keluhan kesehatan.
Indikator kesehatan lain yang sering digunakan untuk melihat kondisi kesehatan sebuah wilayah adalah angka kesakitan atau angka morbiditas. Angka kesakitan adalah persentase penduduk suatu wilayah yang mengalami keluhan kesehatan yang mengakibatkan tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Sekitar 15 persen penduduk mengalami keluhan kesehatan yang menyebabkan terganggunya kegiatan sehari-hari apakah itu bekerja, sekolah, mengurus rumah tangga atau kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan yang lain. Sementara itu ada sekitar 14 persen penduduk Kota Batu yang mengalami keluhan kesehatan tetapi tidak sampai mengganggu kegiatan sehari-hari. Meskipun mereka mengalami keluhan kesehatan namun mereka masih dapat bekerja, sekolah, mengurus rumah tangga atau melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Jika dibandingkan angka morbiditas laki-laki dan perempuan maka angka morbiditas penduduk laki-laki lebih besar daripada penduduk
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 38 perempuan. Angka morbiditas laki-laki Kota Batu tahun 2014 adalah 15,67 persen sementara perempuan 15,08 persen.
Indikator lain tentang kesehatan masyarakat yang diukur dalam Susenas 2014 adalah lamanya mengalami keluhan kesehatan. Gambar 6 menunjukkan persentase penduduk Kota Batu yang mengalami keluhan kesehatan menurut lamanya sakit dalam satuan hari. Perlu dipahami bahwa Gambar 6 menggambarkan persentase dari penduduk Kota Batu yang tidak dapat melakukan kegiatannya sehari-hari akibat keluhan kesehatan yang dideritanya.
Gambar 6. Persentase Penduduk yang Mengalami Keluhan Kesehatan Menurut Lamanya Sakit (Hari) dan Jenis Kelamin, Kota
Batu, 2014
Jika kita bandingkan antara laki-laki dan perempuan maka persentase penduduk perempuan yang sakit dan tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari sampai 3 hari lebih
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 39 banyak daripada laki-laki. Sementara laki-laki lebih banyak sakit dan tidak dapat melakukan kegiatannya antara 4-7 hari dibandingkan perempuan.
Tabel 4. Persentase Penduduk Dirinci Menurut Keluhan Kesehatan yang Dialami Selama Sebulan yang Lalu dan Jenis Kelamin, Kota Batu, 2014 Keluhan Kesehatan Laki-laki Perempuan Laki-laki +
Perempuan Panas 10,91 12,98 11,94 Batuk 17,51 19,02 18,26 Pilek 18,01 19,49 18,74 Asma/Nafas Sesak 0,52 0,46 0,49 Diare 0,44 0,98 0,7
Sakit Kepala Berulang 2,59 3,1 2,84
Sakit Gigi 1,85 2,3 2,07
Lainnya 10,81 12,63 11,72
Sumber : Susenas 2014
Sementara, penduduk yang pernah berobat jalan, baik ke rumah sakit, puskesmas, praktek dokter maupun tempat pengobatan tradisional ada sekitar 55,85 persen. Cara ini menjadi prioritas utama sebagian penduduk Kota Batu yang mengalami keluhan kesehatan. Mengobati sendiri kemudian menjadi pilihan kedua penduduk Kota Batu setelah berobat jalan. Ada sekitar 48,9 persen penduduk Kota Batu yang memilih cara pengobatan ini. Pada tahun 2014, ada sekitar 3,43 persen penduduk di Kota Batu yang pernah
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 40 rawat inap di rumah sakit, puskesmas, praktek dokter maupun tempat pengobatan tradisional (Gambar 7).
Gambar 7.Persentase Penduduk yang Mengalami Keluhan Kesehatan Menurut Cara Pengobatan, Kota Batu, 2013-2014
Sumber: Susenas 2013-2014
Dalam mengatasi keluhan kesehatan yang dialami, ada sekitar 48,90 persen penduduk yang mengobati sendiri, sebagian besar menggunakan obat modern (84-87 persen). Hal ini sangat mungkin karena obat modern sangat mudah diperoleh secara bebas di apotik, supermarket/swalayan maupun warung dan jenisnya beragam. Namun masih banyak juga penduduk yang masih menggunakan obat tradisional yaitu sekitar 18-25 persen. Gambar 8 memberikan informasi cara penduduk Kota Batu mengobati sendiri penyakitnya menurut jenis kelamin. Ternyata penduduk perempuan lebih banyak memilih pengobatan tradisional dibandingkan penduduk laki-laki untuk mengatasi keluhan
48.99 55.85 3.93 48.9 55.65 3.43 0 10 20 30 40 50 60
Berobat sendiri Berobat jalan Rawat inap
2013 2014
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 41 kesehatannya. Sementara yang memilih obat lainnya hanya 1,79 persen.
Gambar 8. Persentase Penduduk Kota Batu Dirinci Menurut Jenis Kelamin Dan Jenis Obat Yang Digunakan Tahun 2014
25.55 84.74 3.51 18.33 87.06 1.79
Obat tradisional Obat modern Obat lainnya
Laki-laki Perempuan
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 42
Gambar 9. Persentase Cara Berobat Jalan Penduduk Perempuan Kota Batu dan Tempat Berobat Yang Dikunjungi Selama Satu Bulan Terakhir Tahun
2014
Gambar 9 menunjukkan pola berobat jalan penduduk Kota Batu menurut tempat berobat yang dikunjungi di tahun 2014. Ternyata penduduk Kota Batu memilih praktek dokter/poliklinik, puskesmas dan praktek tenaga kesehatan dalam berobat jalan. Yang memilih berobat jalan ke rumah sakit pemerintah hanya sekitar 6 persen. Sedangkan yang berobat jalan ke rumah sakit swasta sekitar 8,54 persen.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 43
BALITA
Tercatat sebesar 63,95 persen balita di Kota Batu dilahirkan melalui proses persalinan yang dibantu oleh bidan dan 36,05 persen lainnya dibantu oleh dokter. Hampir semua balita di Kota Batu telah mendapatkan ASI dan imunisasi.
Susenas 2014 menghasilkan informasi bahwa 44,94 persen dari penduduk Kota Batu berumur 0-4 tahun berjenis kelamin laki-laki sementara sisanya perempuan. Proses persalinan lebih dari separuh balita di Kota Batu ditolong oleh bidan, sedangkan sisanya ditolong oleh dokter (Gambar 10) baik balita lali-laki maupun perempuan.
Gambar 10. Penolong persalinan balita di Kota Batu tahun 2014 (persen).
Tingkat kesehatan suatu daerah dapat dilihat dari tingkat kesehatan balita, sebab penduduk yang saat ini dalam kelompok umur balita inilah yang nantinya akan menjadi penerus pembangunan di masa mendatang. Oleh karena itu,
41.56 58.44 34.82 65.18 37.85 62.15 Dokter Bidan Laki-laki Perempuan L+P
http://batukota.bps.go.id
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 44 masalah kesehatan balita harus mendapat perhatian pemerintah, dimulai dari sejak dini yaitu sejak bayi dalam kandungan, saat kelahiran maupun saat balita. Beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan balita antar lain tenaga penolong pada saat lahir, pemberian ASI dan imunisasi.
Kesehatan balita selain dipengaruhi oleh kesehatan ibu, juga dipengaruhi oleh faktor lainnya diantaranya adalah penolong kelahiran. Dilihat dari kesehatan ibu dan anak, persalinan yang ditolong oleh tenaga medis (dokter, bidan dan tenaga medis lainnya) dianggap lebih baik dibandingkan ditolong oleh tenaga seperti dukun, family/lainnya. Proses persalinan yang ditolong oleh tenaga terdidik dan terlatih akan memperkecil peluang kematian ibu dan anak, secara tidak langsung dapat menekan tingkat mortalitas sehingga target pelaksanaan MDGs dapat tercapai.
Data hasil Susenas tahun 2014 menggambarkan tingkat kesadaran masyarakat Kota Batu yang tinggi terhadap persalinan yang aman. Kesadaran ini ditunjukkan dengan pemilihan tenaga medis seperti dokter dan bidan sebagai penolong persalinan. Hampir semua proses kelahiran balita di Kota Batu ditolong oleh tenaga medis baik sebagai penolong persalinan pertama maupun penolong persalinan terakhir. Berdasarkan penolong persalinan, bidan merupakan tenaga medis yang paling banyak membantu proses kelahiran di Kota Batu. Tercatat sebesar 62,15 persen balita di Kota Batu dilahirkan melalui proses persalinan yang dibantu oleh
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 45 bidan dan sisanya dibantu oleh dokter. Hal ini disebabkan karena biaya yang akan dikeluarkan ketika persalinan ditolong oleh bidan relatif lebih murah dibandingkan bila ditolong oleh dokter. Walaupun persalinan yang ditolong oleh tenaga non medis cenderung tidak ada di Kota Batu, namun pemerintah harus tetap mensosialisasikan pentingnya melahirkan dengan bantuan tenaga medis. Ketersediaan sarana prasarana kesehatan yang memadai dan jaminan biaya melahirkan bagi penduduk kurang mampu menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menekan angka kematian ibu dan bayi.
Selain penolong persalinan, pemberian ASI juga merupakan salah satu cara untuk menekan tingkat mortalitas pada balita terutama bayi. ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi karena selain mengandung nilai gizi yang cukup tinggi juga mengandung zat pembentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit. Dengan memberikan ASI berarti menjamin ketersediaan sumberdaya yang berkualitas di masa depan. Pemberian ASI terbaik adalah pemberian ASI secara eksklusif tanpa makanan tambahan maupun minuman seperti susu formula selama 6 bulan.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 46
Gambar 11. Persentase Balita Menurut Jenis Kelamin dan Lamanya Diberi ASI, Kota Batu, 2014
Sumber: Susenas 2014
Menurut Susenas 2014. sekitar 94,20 persen balita di Kota Batu pernah mendapatkan ASI (Gambar 11). Ini berarti masih ada 8,40 persen balita yang tidak pernah mendapatkan ASI. Dari balita yang pernah mendapatkan ASI tersebut; 14,76 persen diantaranya pernah mendapatkan ASI selama kurang dari 6 bulan saja; 14,45 persen diberikan ASI antara 6 bulan sampai 1 tahun dan hampir setengahnya pernah diberi ASI selama lebih dari 1 tahun. Jika dilihat dari tahun kemarin maka di tahun 2014 persentase balita yang diberi ASI kurang dari setahun semakin berkurang. Data ini menyampaikan kepada kita bahwa kaum ibu di Kota Batu semakin mengerti pentingnya ASI diberikan sampai berumur 2 tahun. Semakin disadari bahwa pemberian ASI kepada balita adalah upaya meningkatkan kekebalan tubuh balita terhadap penyakit selain dengan imunisasi.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 47
Gambar 12.Persentase Balita yang Mendapat Imunisasi Lengkap Menurut Jenis Imunisasi, Kota Batu 2014
Sumber : Susenas 2014
Selain beberapa indikator kesejejahteraan balita di atas, pemberian imunisasi pada balita juga menjadi salah satu upaya untuk menekan angka mortalitas pada bayi. Pemberian imunisasi pada balita dimaksudkan untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit tertentu dengan cara memasukkan vaksin yang berisi bibit penyakit yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh. Melalui pemberian vaksin ini diharapkan tubuh mampu membentuk kekebalan antibodi alami untuk dapat melawan penyakit. Pemberian imunisasi kepada balita merupakan salah satu program pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pemberian imunisasi secara lengkap dan tepat waktu diharapkan dapat memperkecil peluang bayi terserang penyakit. Hasil Susenas tahun 2014 menunjukkan bahwa hampir semua balita di Kota Batu sudah diimunisasi, namun
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 48 baru 87,36 persen yang sudah mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap (Gambar 12). Imunisasi dasar lengkap yang dimaksudkan antara lain BCG dan Campak satu kali, DPT, Polio dan Hepatitis B tiga kali. Imunisasi yang lengkap wajib diberikan pada balita yang berusia kurang dari satu tahun karena fungsi system immune pada usia tersebut belum sempurna. Bayi yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap daya tahan tubuhnya 85-90 persen lebih kuat dibandingkan yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 49
PENDIDIKAN
Tingkat pendidikan di Kota Batu secara umum sudah baik terutama untuk tingkat pendidikan dasar. Bukan hanya tingkat partisipasi sekolahnya yang sudah memenuhi harapan namun juga keseimbangan kesempatan antara penduduk laki-laki dan perempuan juga baik.
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang. Untuk mengetahui sejauh mana pembangunan pendidikan telah berjalan, maka diperlukan seperangkat data dan indikator yang mampu menggambarkan kondisi dan perkembangan pendidikan
Persentase jumlah penduduk Kota Batu pada masa pendidikan (usia 5 sampai 24 tahun) masih relatif berimbang, dimana antara usia 5-6, 7-12 16-18 dan 19-24 masih didominasi laki-laki, sedangkan usia 13-15 tahun justru
perempuan yang lebih banyak (Gambar 13).
Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi perkembangan yang pesat tentang jaringan otak ketika anak berumur 8 tahun, dan mencapai puncaknya ketika anak berumur 18 tahun, dan setelah itu
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 50
walaupun dilakukan perbaikan nutrisi tidak akan
berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.
Gambar 13. Persentase Penduduk dirinci Menurut Jenis Kelamin Usia 5-24 Tahun, Kota Batu 2014
Sumber : Susenas 2014
Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewatkan berarti habislah peluangnya.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 51
ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH (APS).
Angka Partisipasi Sekolah merupakan ukuran daya serap lembaga pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. APS merupakan indikator dasar yang digunakan untuk melihat akses penduduk pada fasilitas pendidikan khususnya bagi penduduk usia sekolah. Semakin tinggi APS semakin besar jumlah penduduk yang berkesempatan mengenyam pendidikan.Sebagai standar program wajib belajar dikatakan berhasil jika nilai APS SD (umur 7-12) > 98 persen dan APS SMP (umur 13-15 tahun) > 90 persen.
Berdasarkan data Susenas Tahun 2014, APS penduduk 7–12 tahun mencapai 98,72 persen, ini berarti masih terdapat 1,28 persen penduduk 7-12 tahun yang tidak/belum sekolah. Sedangkan APS penduduk umur 13-15 tahun sebesar 99,02 persen artinya 0.98 persennya masih tidak/belum sekolah. APS penduduk umur 16-18 tahun sebesar 73,34 persen dimana 0,86 persen tidak/belum sekolah dan 25,80 persen sudah tidak bersekolah lagi. APS penduduk umur 19-24 tahun di Kota Batu hanya mencapai 29,62 persen, artinya kurang dari sepertiga penduduk yang berumur 19-24 tahun yang masih sekolah. Ada 69,67 persen penduduk usia 19-24 tahun yang sudah tidak bersekolah lagi, sementara yang tidak/belum sekolah ada sebesar 0,71 persen.
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BATU 52
Gambar 14. Persentase Partisipasi Bersekolah Menurut Kelompok
Umur Kota Batu 2014
Sumber : Susenas 2014
Dari uraian di atas terlihat bahwa capaian APS untuk usia 7-12 tahun (98,72 persen) sudah memenuhi target wajib belajar yang mencapai 95 persen, begitu pula target APS usia 13-15 tahun sudah terlampaui (99,02 persen), sehingga bisa dikatakan penerapan program wajib belajar 9 tahun di Kota Batu sudah berhasil, terutama pada jenjang pendidikan SD atau sederajat. Upaya pemerintah untuk memacu APS usia 7-12 tahun dalam mencapai program wajib belajar pada tahun ini sudah menunjukkan hasil yang menakjubkan.
Jika dilihat dari sudut gender masih terdapat perbedaan partisipasi sekolah laki-laki dengan perempuan terutama di kelompok umur 19-24 tahun. Partisipasi sekolah penduduk perempuan berumur 19-24 tahun lebih kecil daripada penduduk laki-laki. Sementara untuk kelompok