• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. kecemasan di ruang Parikesit di RSUD Kota Semarang.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. kecemasan di ruang Parikesit di RSUD Kota Semarang."

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

A. PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini penulis menguraikan tentang masalah yang terjadi didalam kasus. Pembahasan difokuskan pada masalah yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya dan dikaitkan dengan teori yang mendukung dar hasil penelitian sebelumnya. Penulis melakukan tindakan asuhan keperawatan pada An. P dengan tindakan terapi bimbingan imajinasi untuk menurunkan tingkat kecemasan di ruang Parikesit di RSUD Kota Semarang.

1. Pengkajian

Pengkajian dalam proses keperawatan bertujuan untuk mendapatkan data atau informasi tentang klien, dalam kasus ini berfokus pada respon emosi klien. Saat dilakukan pengkajian lapangan pada tanggal 17 Juli 2014, ibu mengeluh An .P demam saat dilakukan pengukutan tanda – tanda vital oleh perawat suhu An. P adalah 38,10c, frekuensi nadi 110 x/mnt, frekuensi pernapasan 28 x/mnt. Ibu mengatakan ini bukan pertamakalinya An. P dirawat dirumah sakit, sebelumnya An. P pernah dirawat dirumah sakit saat berusia 7 bulan karena menderita thypoid dan diare. Selama dirawat dirumah sakit ibu mengatakan anaknya sering menangis, tidak mau makan, dan anaknya cenderung diam tidak aktif seperti biasanya.

(2)

Menurut ibu anaknya takut kepada perawat dan dokter karena takut disuntik serta lingkungan rumah sakit yang masih asing sehingga membuat anak tidak nyaman. Ketika perawat datang untuk mengambil sampel darah, memeriksa kondisi anak maupun hanya sekedar memberikan obat anak terlihat takut dan memeluk ibunya. Pada saat pertamakali masuk ibu mengatakan anaknya berteriak dan meminta pulang.

Selama dirawat di rumah sakit An. P selalu tidunggui oleh ibunya, ibu juga mengatakan bahwa An. p tidak mau ditinggal olehnya serta An. P tidak mau bermain dengan anak – anak lain yang dirawat di rumah sakit, semua aktivitas klien dibantu oleh keluarga dan perawat, seperti makan, minum, kekamar mandi untuk mandi dan buang air kecil juga buang air besar anak tidak mampu melakukannya secara mandiri karena kondisinya yang lemah. An. P terlihat tiduran saja dan tidak bermain dengan anak – anak lain yang dirawat di rumah sakit, tidak mau berbicara dengan orang lain kecuali ibunya, saat diajak berbicara dengan perawat klien hanya diam saja dan tidak mau memandang kearah perawat. Selama dilakukan tindakan perawatan oleh perawat anak tidak kooperatif. Hasil dari laboratorium anak menunjukkan bahwa anak mengalami penurunan trombosit serta peningkatan leukosit.

(3)

Menurut Wong et all (2009), dampak yang ditimbulkan dari hospitalisasi salah satunya adalah kecemasan yang dapat disebabkan oleh perpisahan, kehilangan kontrol dan rasa sakit atau nyeri pada tubuh, dari faktor tersebut respon anak dibagi menjadi 3 fase meliputi fase protes, dalam fase ini anak akan menangis, berteriak, selalu meminta di tunggui orang tua, menghindari dan menolak dengan orang asing. Fase putus asa di fase ini anak akan sedih, depresi, tidak tertarik pada lingkungan, tidak mau makan dan minum, yang terakhir yaitu fase penerimaan pada fase ini anak sudah mulai tertarik pada lingkungannya, sudah mulai bisa berinteraksi dengan lingkungannya, membentuk hubungan baru namun dangkal, dan tampak bahagia.

Berdasarkan teori Wong et all (2009), dari hasil pengkajian perilaku yang diperlihatkan An. P menunjukkan bahwa An. P mengalami kecemasan, terbukti dengan ibu mengatakan saat pertama masuk rumah sakit anak berteriak dan menangis minta pulang, anak juga menunjukkan ekspresi takut saat didekati oleh perawat dan dokter serta anak tidak mau ditinggal ibunya, ibu juga mengatakan anak tidak nafsu makan karena hanya habis ¼ porsi dari porsi yang diberikan rumah sakit, anak juga menangis saat disuntik untuk pengambilan sampel darah. pada saat ini berdasarkan teori yang telah diungkapkan oleh Wong et all (2009) , klien berada pada fase protes.

(4)

2. Diagnosa

Pada bab sebelumnya penulis telah menjabarkan diagnosa keperawatan beserta batasan karakteristiknya menurut Wong et all (2009) tentang anak yang mengalami hospitalisasi. Ada sembilan diagnosa yang dinyatakan oleh Wong et all (2009) diantaranya adalah cemas berhubungan dengan krisis situasional, nyeri, resiko keracunan atau cidera karena sensitivitas, ketidak berdayaan karena lingkungan kesehatan, devisit aktivitas karena gangguan mobilitas, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, resiko cidera trauma berhubungan denagan lingkungan yang tidak dikenal

Berdasarkan dari pengkajian yang telah dilakukan penulis, tidak semua diagnosa yang disampaikan oleh Wong et all (2009) muncul pada kasus yang dikelola penulis. Penulis hanya menemukan satu diagnosa yang sesuai dengan teori di atas berdasarkan dengan batasan kriteriannya. Diagnosa yang pertama yaitu cemas berhubungan dengan krisis situasional. Jadi terdapat kesesuain antara pathway teori dengan pathway kasus.

NANDA (2012) menyatakan, ansietas (cemas) merupakan perasaan tidak nyaman atau khawatir yang samar disertai dengan respon autonom

(5)

(sumber tidak spesifik atau tidak diketahui individu). Perasaan takut yang muncul disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Batasan karakteristiknya gerakan yang irelevan, melihat sepintas, kontak mata yang buruk, mengekspresikan kekhawatiran / takut / cemas, wajah tegang adapun faktor yang berhubungan dengan ansietas adalah krisis situasional, ancaman kematian, stres, herediter, pemajatan toksin, perubahan dalam status ekonomi, lingkungan, status kesehatan, status peran dan fungsi peran.

Menurut data pengkajian yang didapat An. P menangis saat disuntik, tidak mau ditinggal oleh ibunya, kontak mata yang buruk terhadap perawat dan dokter, takut berinteraksi dengan orang yang belum dkenal, tidak mau makan, dan tidak kooperatif pada perawat. Ibu kluen juga mengatakan anak sering terbangun saat tidur karena tidak terbiasa dengan suasana rumah sakit. Hasil tersebut membuktikan bahwa adanya kesamaan batasan karakteristik yang ditemukan saat pengkajian dan teori yang disampaikan olwh NANDA (2012), sehingga diagnosa pertama yang muncul adalah cemas berhubungan dengan krisis situasional.

Pada saat pengkajian didapatkan data bahwa ibu mengatakan anaknya demam, saat dilakukan pengukuran suhu dengan perawat hasilnya 38,10c, dan kulit teraba hangat. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan

(6)

bahwa terjadi peningkatan leukosit yang menandakan adanya infeksi. Pada NANDA (2012) menyatakan, hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal antara (36-37,50C), dengan batasan karakteristiknya peningkatan suhu tubuh siatas kisaran normal, kulit kemerahan, takipnea, kejang, kulit teraba hangat. Faktor yang berhubungan dengan hipertermia adalah proses infeksi, dehidrasi, aktivitas yang berlebihan, peningkatan laju metabolisme. Jadi dengan didukung teori tersebut maka diagnosa yang kedua yaitu hipertermi. Pada diagnosa ke dua ini tidak muncul pada pathway teori karena penulis berfokus pada kecemasan, sedangkan pasien yang digunakan oleh penulis menderita DHF sehingga pada pathway kasus muncul diagnosa hipertermi berhubungan dengan proses infeksi.

Diagnosa ketiga yang penulis temukan adalah risiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia. Karena didalam pengkajian terdapat bintik – bintik merah pada kulit anak serta hasil laboratorium menunjukkan penurunan jumlah trombosit anak. Pada diagnosa ke tiga ini juga tidak terdapat pada pathway teori karena pada teori penulis berfokus pada masalah kecemasan, sedangkan pada pathway kasus diagnosa ini muncul karena pasien menderita DHF.

Pada NANDA (2012) resiko perdarahan adalah beresiko mengalami penurunan volume darah yang dapat mengganggu kesehatan yang ditandai

(7)

dengan adanya pethechie (bintik – bintik merah pada kulit), mimisan, penurunan hemoglobin dan trombosit. Resiko perdarahan dapat berhubungan dengan aneurisme, sirkumsisi, koagulopati inheren (missal : trombositopenia), trauma. Hal ini membuktikan bahwa batasan karakteristik yang ada pada teori dengan karakteristik dari pengkajian penulis tidak jauh berbeda.

3. Intervensi

Berdasarkan diagnosa keperawatan yang berfokus pada kecemasan, maka penulis menyusun intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan yang muncul. Pada diagnosa pertama yaitu cemas berhubungan dengan krisis situasional. Hal yang akan dilakukan penulis untuk mengatasi masalah cemas tersebut adalah adalah kaji penyebab cemasan kliendengan tujuan supaya penulis mengetahui apakah penyebab anak bisa mengalami cemas selama dirawat di rumah sakit. Intervensi ini diperkuat dengan teori yang telah disampaikan oleh Supartini (2004) bahwa sebelum menentukan tindakan keperawatan sebaiknya perawat melakukan identifikasi faktor yang membuat anak merasa cemas.

Gunakan pendekatan yang menyenagkan, menurut Supartini (2004) menggunakan pendekatan yang menyenangkan seperti mengajak anak bermain dapat mendekatkan hubungan antara perawat dan anak sehingga

(8)

anak merasa nyaman didekat perawat dan dapat memgurangi perasaan cemas pada anak. Bantu klien mengidentifikasi masalah yang membuat cemas, dalam NANDA (2007) bila klien dapat mengidentifikasi masalah yang menbuat cemas dan memperburuk cemas pada dirinya maka klien dapat menentukan koping yang tepat untuk mengatasinya.

Motivasi klien untuk mengungkapkan perasaan, menurut NANDA (2007) klien akan merasa lebih nyaman setelah mengungkapkan perasaannya sehingga perawat dapat mengevaluasi keefektifan dari tindakan keperawatan yang telah diberikan. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur berlangsung, dalam Supartini (2004) memberikan informasi yang nyata pada anak dapat menurunkan perasan cemas pada anak tersebut, karena anak mengetahui tindakan seperti apa yang akan dilakukan padanya. Temani anak untuk memberukan keamanan, menurut supartini (2004) menemani anak saat anak berada dirumah sakit akan memberikan ketenangan pada diri anak sehingga dapat mengurangi rasa takut.

Libatkan keluarga untuk mendampingi klien, menurut Supartini (2004) keterlibatan keluarga dalam proses keperawatan memberikan dukungan psikologis pada anak sehingga akan meminimalkan stresor yang dapat membuat anak cemas. Intruksikan pada klien untuk menggunakan tehnik

(9)

relaksasi serta berikan terapi bimbingan imajinasi pada anak. Snyder dan Lindquist (2006) menyatakan bahwa perinsip bimbingan imajinasi pada umumnya membuat individu dalam keadaan santai, menyarankan individu memikirkan hal atau tempat yang disenangi, memberi kesimpulan dan perkuat hasil praktek, yang terakhir kembali ke keadaan yang semula. Bimbingan imajinasi pada anak dapat membuat anak berimajinasi yang memberikan efek rileks pada anak serta dapat mengendalikan emosi, kecemasan, ketakutan, dan koping perilaku maupun persepsi sesuai dengan yang diinginkan.

Fokus intervensi yang penulis rencanakan mengacu pada penelitian Masulili (2011), yang meneliti tentang pengaruh metobe bimbingan imajinasi rekaman audio terhadap stres hospitalisasi anak usia sekolah di rumah sakit di kota Palu. Penelitian lain yang mendukung adalah penelitian yang dilakukan oleh Maryam dan Widodo (2012), yang meneliti tentang pengaruh bimbingan imajinasi pada anak usia sekolah untuk manajemen nyeri saat pemaangan infus di RSUD Kota Semarang, peneliti juga menggunakan terapi bimbingan imajinasi sebagai intervensi.

Pada diagnosa kedua penulis menyusun intervensi untuk mengatasi masalah intoleransi aktivitas adalah kaji hal – hal yang dapat dilakukan klien rasionalnya melakukan hal – hal yang klien mampu untuk melatih

(10)

kemandirian klien, bantu klien memenuhi aktivitas sehari – hari sesuai tingkat keterbatasan klien seperti mandi, makan, buamg air besar, buang air kecil, bermain rasionalnya untuk membantu klien memenuhi kebutuhan hariannya dalam merawat diri. Bantu klien dalam bermain rasionalnya member kesempatan pada klien untuk dapat bermain dengan temannya sehingga klien tidak bosan. Libatkan keluarga dalam keperawatan rasionalnya keterlibatan keluarga dalam proses keperawatan merupakan dukungan utama kesembuhan klien.

Intervensi keperawatan yang penulis susun untik diagnosa ketiga yaitu untuk mengatasi masalah hipertermia adalah observasi tanda – tanda vital setiap 3 jam sekali rasionalnya tanda – tanda vital menunjukkan keadaan umum klien. Lakukan kompres hangat pada ketiak, lipatan paha dan dahi rasionalnya untuk mempercepat penurunan suhu tubuh. Anjurkan klien untuk banyak minum rasionalnya peningkatan suhu tubuh menyebabkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangidengan intake cairan yang adekuat. Menjelaskan pada keluarga mangapa terjadi peningkatan suhu tubuh pada klien rasionalnya keterlibatan keluarga begitu sangat mendukung kesembuhan klien. kolaborasi pemberian antipiretik rasionalnya membantu menurunkan suhu tubuh.

(11)

Pada diagnosa ketiga penulis menyusun intervensi untuk mengatasi masalah resiko perdarahan adalah kaji penyebab dan gejala perdarahan rasionalnya mengkaji tanda – tanda perdarahan mengetahui derajat terjadinya perdarahan. Pantau jumlah trombosit klien rasionalnya penurunan tromposit dapat memicu terjadinya perdarahan. Anjurkan klien untuk banyak istirahat rasionalnya istirahat yang cukup dapat membantu kesembuhan klien dan menghemat energi yang ada. Berikan penjelasan pada keluarga untuk segera melapor pada perawat apa bila ditemukan tanda - tanda perdarahan rasionalnya melibatkan peran keluarga dalam proses keperawatan merupakan faktor pendukung utama kesembuhan klien.

4. Implementasi

Berdasarkan implementasi yang berfokus pada kecemasan anak akibat hospitalisasi penulis melakukan implementasi yang mengacu pada intervensi yang dilakukan dalam penelitian masulili (2011), dalam memberikan terapi bimbingan imajinasi untuk mengetahui pengaruh terapi terhadap stress hospitalisasi anak.. Masulili mengatur posisi yang nyaman untuk responden (duduk atau berbaring), responden diminta untuk memilih gambar yang disenangi, selanjutnya responden dipandu untuk relaksasi selama 5 – 10 menit, setelah responden rileks ditandai dengan adanya pernyataan dari anan bahwa dia sudah merasa nyaman, sesi

(12)

selanjutnya mendengarkan MP4 dengan jenis music klasih disertai suara burung dan gemericik air, kemudian anak melihat gambar – gambar yang disenangi (Mickey mouse, kupu – kupu, Barbie, ikan, taman, dll.), serta membayangkan hah – hal atau tempat yang menyenangkan selama 15 menit. Setelah implementasi responden menceritakan kembali apa yang dibayangkan. Masulili melakukan guided imagery pada anak yang mengalami stress hospitalisasi 3 kali sehari dengan lama pemberian sekitar 15 menit dan dilakukan selama 2 hari.

Penelitian lain yang mendukung adalah penelitian yang dilakukan oleh Maryam dan Widodo (2012), dalam memberikan implementasi bimbingan imajinasi pada anak usia prasekolah untuk menurunkan nyeri saat pemasangan infuse adalah peneliti menggunakan anak usia sekolah yang akan dilakukan pemasangan infus kemudian menggunakan Wong-Baker FACES pain rating scale untuk mengukur nyeri anak saat dilakukan pemasangan infus. Kemudian peneliti mengatur posisi yang nyaman untuk responden (duduk atau berbaring). Sebelum dilakukan pemasangan infus responden diajarkan untuk relaksasi. Saat pemasangan infuse responden dari awal sampai akhir diberikan terapi bimbingan imajinasi melalui MP4 yang telah disiapkan.

(13)

Berdasarkan 2 penelitian tersebut penulis juga memberikan intervensi yang tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan Masulili (2011) dan juga Maryam dan Widodo (2012). Implementasi yang penulis lakukan adalah pertama penulis mengatur posisi yang nyaman pada An. P yaitu anak lebih menyukai posisi duduk dengan bersandar pada bantal, setelah itu penulis mengajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam kepada anak serta perhatian anak difokuskan pada pernapasan yang keluar masuk, setelah anak menyatakan dirinya sudah tenang ditandai dengan frekuensi nafas teratur itu menunjukkan bahwa anak sudah dalam keadaan relaks, kemudian peneliti memberikan MP4 yang berisikan guided imagery pada anak, guided imagery yang diberikan oleh penulis adalah video ikan – ikan yang berenang di dasar laut dengan berbagai macam terumbukarang, lalu penulis menganjurkan anak untuk membayangkan tempat yang menyenangkan, saat keadaan rileks penulis memberi nasehat kepada anak seperti memotivasi anak tidak takut lagi pada perawat dan dokter karena perawat dan dokter merupakan teman anak yang akan membantu anak untuk cepat sembuh, penulis juga mengatakan supaya anak anak tidak takut lagi disuntik anggap saja disuntik bagaikan digigit semut, setelah penulis memberikan saran kepada anak anak diminta untuk menghitung angka 1 – 10. Setelah dilakukan guided imagery penulis meminta anak untuk menceritakan kembali apa yang dirasakan anak selama proses

(14)

imajinasi berlangsung. Penulis melakukan bimbingan imajinasi ini 1 kali sehari selama 20 menit dan dilakukan selama 4 hari.

Implementasi keperawatan pada diagnosa kedua telah dilaksanakan penulis sesuai dengan intervensi yang telah disusun. Semua intervensi telah berhasil penulis laksanakan. Keluarga juga berperan aktif dalam membantu memenuhi aktivitas anak seperti memandikan klien, menyuapi klien makan, mengantar anak ke kamar mandi untuk buang air besar atau buang air kecil.

Pada diagnosa ke tiga penulis juga melakukan implementasi sesuai dengan intervensi yang telah disusun. Semua intervensi yang telah disusun berhasil penulis laksanakan. Namun dalam implementasi menganjurkan anak banyak minum perawat maupun keluarga harus selalu memotivasi anak supaya banyak minum, karena biasanya pada anak demam anak malas untuk minum. Saat implementasi menjelaskan kepada keluarga tentang mengapa terjadinya demam pada anak, usahakan perawat menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh keluarga sesuai dengan pendidikan keluarga. Sehingga keluarga dapat menerima penjelasan sesuai dengan yang disampaikan perawat.

(15)

5. Evaluasi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 hari oleh penulis, hasil perkembangan anak adalah anak sudah tidak menangis lagi saat disuntik, juga anak tidak menangis dan takut saat didekati perawat maupun dokter untuk diperiksa, ekspresi muka klien menjadi tenang dan terlihat bahagia, klien sudah kooperatif saat menerima tindakan keperawatan, anak sudah memiliki teman baru dan tidak takut lagi dengan suasana di rumah sakit. Hal tersebut menunjukkan kecemasan anak karena krisis situasional telah teratasi dengan terapi guided imagery yang diberikan selama 4 hari.

Hasil yang didapatkan penulis tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Masulili (2011) yang menyatakan bahwa terapi bimbingan imajinasi dapat menurunkan tingkat stres hospitalisasi pada anak sekolah terbukti dengan anak menjadi kooperatif, anak menjadi dekat dengan perawat, meningkatkan rasa percaya diri anak, anak tidak merasa sendiri dan anak menjadi kreatif dalam berimajinasi hal hal yang positif. Hasil penelitian yang dilakukan Mariyam dan Widodo (2012) juga mendapatkan hasil yang tidak jauh berbeda, pada anak yang mendapatkan terapi bimbingan imajinasi pada saat pemasangan infus nyeri yang dirasakan lebih ringan daripada anak yang tidak diberikan bimbingan imajinasi saat pemasangan infus.

(16)

Pada evaluasi diagnosa kedua penulis memperoleh hasil ibu mengatakan anaknya masih belum mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri, anak masih memerlukan bantuan saat memenuhi aktivitas hariannya. Hal ini menunjukkan masalah intoleransi aktivitas belum teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 hari. Rencana tindak lanjut untuk mengatasi masalah tersebut penulis memotivasi anak untuk melakukan hal yang anak mampu secara mandiri supaya anak tidak menjadi ketergantungan dengan orang lain.

Diagnosa ketiga penulis mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan dan hasilnya ibu mengatakan perdarahan tidak terjadi, pada hari kedua hemoglobin anak turun drastic diakibatkan karena anak tidak tidur dengan nyenyak dan tidak mau makan, tetapi di hari berikutnya hemoglobin anak kembali meningkat karena ibu mengatakan anak sudah dapat tidur nyenyak dan mau makan, akan tetapi dari hasil laboratorium trombosit anak belum mencapai hasil kriteria batas normal. Jadi masalah keperawatan belum teratasi. Untuk rencana tindak lanjut yang dilakukan penulis adalah menganjurkan anak untuk banyak minum jus jambu biji merah dan banyak istirahat.

(17)

B. SIMPULAN

Berdasarkan dari asuhan keperawatan pada anak usia prasekolah dengan kecemasan hospitalisasi di ruang Parikesit di RSUD Kota Semarang yang telah dilakukan penulis, dapat disimpulkan antara lain :

1. Anak usia prasekolah yang mengalami kecemasan hospitalisasi akan menunjukkan respon menangis, tidak mau makan, tidak kooperatif, sering terbangun saat tidur karena tidak terbiasa dengan suasana rumah sakit, selalu minta ditunggui ibunnya, tidak mau berbicara dengan orang lain yang baru dikenal dan orang asing, kontak mata buruk.

2. Diagnosa utama yang muncul pada saat anak prasekolah yang dirawat di rumah sakit sesuai yang kasus yang diambil penulis adalah cemas berhubungan dengan krisis situasional.

3. Intervensi keperawatan utama untuk mengatasi masalah cemas tersebut, penulis menggunakan terapi guided imagery supaya dapat menurunkan kecemasan anak.

4. Implementasi yang dilakukan penulis saat pelaksanaan guided imagery adalah dengan cara penulis memberikan terapi guided imagery berlangsung selama 20 menit setiap hari dan dilakukan selama 4 hari. 5. Evaluasi yang didapat penulis setelah pemberian terapi guided imagery

adalah anak tidak menangis saat disuntik, anak menjadi lebih kooperatif terhadap tenaga kesehatan yang ada, ekspresi yang ditunjukkan klien ceria

(18)

dan bahagia, dan klien dapat membina hubungan yang baru dengan orang lain contohnya klien sudah mau bermain dengan teman barunya..

Maka dari tindakan yang dilakukan penulis penulis beranggapan telah berhasil melakukan asuhan keperawatan pada anak yang mengalami kecemasan di rumah sakit. Itu semua tidak lain karena bantuan keluarga terutama orang tua yang ikut serta dalam tindakan keperawatan, karena dukungan yang orang tua berikan pada anak akan membuat anak merasa lebih baik.

C. SARAN

Dari hasil simpulan di atas penulis memberikan saran supaya penerapan guided imagery dapat di terapkan lebih baik lagi.

1. Keluarga

keluarga terutama orang tua sangat penting sebagai support system bagi anak, maka diperlukan kerjasama antara orang tua dan tenaga kesehatan, khususnya perawat supaya memperhatikan kebuthan anak baik fisik maupun psikologi. Kerabat maupun orang tua yang menunggui anak diharapkan dapat menunjukkan perilaku yang positif supaya anak merasa nyaman saat hospitalisasi.

2. Perawat

Penulis menyarankan untuk perawat dapat mengaplikasikan guided imagery untuk menurunkan tingkat kecemasan. Selain itu perawat dapat melakukan terapi pendamping seperti tehnik relaksasi dan terapi bermain.

(19)

3. Rumah sakit

Untuk rumah sakit dapat memfasilitasi ruangan yang nyaman, sehingga anak – anak tidak takut dengan keadaan rumah sakit yang asing baginya, dengan lingkungan yang nyaman dapat menurunkan kecemaan anak sehingga anak dapat melalui terapi dan perawatan hingga anak sembuh.

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini, sistem dibangun dengan konsep Aplikasi Tanya Jawab Question Answering System dengan menggunakan teknologi semantic web sebagai metode penggalian jawaban

dikategorikan sebagai high tech , sehingga sistem teknologi pada era.. 1960 dikategorikan non high tech , dan pernyataan paling

Kualitas Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah catatan informasi suatu entitas pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja

Satuan Tugas Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Belu mengamankan sedikitnya 8 orang tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal yang diduga hendak berangkat ke Malaysia, Dari

Strategi pemilihan pasar adalah strategi pemasaran yang menentukan segmen pasar tertentu yang dipilih akan dilayani oleh perusahaan dengan memuaskan atas produk

Sintya (2009) menyimpulkan bahwa salep minyak atsiri daun jeruk nipis dengan basis vaselin putih memiliki viskositas yang rendah sehingga dapat menyebabkan pelepasan obat dari

Anggaran Dasar ini merupakan ketentuan dasar bagi forum warga, Badan Pertimbangan dan Ketua Pengurus dalam rangka melakukan pengelolaan terhadap air bersih dan sarananya

Proses yang terjadi dalam pembuatan sabun disebut. sebagai saponifikasi (Girgis,