• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS TERAPI SENSORI INTEGRASI TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK AUTIS DI MUTIARA BANGSA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "EFEKTIVITAS TERAPI SENSORI INTEGRASI TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK AUTIS DI MUTIARA BANGSA."

Copied!
221
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Strata

Satu (S1) Psikologi (S.Psi)

Iqlima Anggraeni B77211101

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI DAN KESEHATAN

(2)

TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK AUTIS DI MUTIARA BANGSA

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Strata

Satu (S1) Psikologi (S.Psi)

Iqlima Anggraeni B77211101

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

(3)
(4)
(5)
(6)

Iqlima Anggraeni B77211101 yang berjudul Efektivitas Terapi Sensori Integrasi Terhadap Perkembangan Motorik Kasar Anak Autis Di Mutiara Bangsa. Perkembangan kemampuan motorik kasar anak autis lebih rendah dibanding dengan anak normal sebayanya. Jika hal ini dibiarkan tentu akan menimbulkan permasalahan motorik kasar selanjutnya. Sehingga diperlukan perhatian khusus berupa terapi, yaitu dengan terapi sensori integrasi. Penelitian ini menggunakan kasus tunggal (single–case experimental design) dengan desain eksperimen A – B – A dan menggunakan statistika deskriptif sederhana yang dianalisis berdasarkan grafik analisis visual. Pada penelitian ini mengukur 11 aspek kemampuan perkembangan motorik kasar anak autis yang menjadi target behavior dengan menggunakan skala Geddes Psychomotor Inventory (GPI). Subjek penelitian ini adalah 1 anak penyandang autis berusia 4 tahun yang berjenis kelamin laki-laki. Penelitian ini dilakukan sebanyak 12 kali pertemuan yaitu 3 kali pre-test (A1), 6 kali treatment (B), dan 3 kali post-test (A2). Pada hasil penelitian ini didapatkan bahwasanya grafik analisis visual pada 11 aspek kemampuan motorik kasar mengalami peningkatan yang terlihat dari perubahan arah dan efeknya mengarah ke arah (+) dan persentase overlap treatment (B) ke post-test (A2) berada pada angka 0% yang berarti semakin kecil persentase overlap, maka semakin baik pengaruh treatment terhadap target behavior. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terapi sensori integrasi efektif dalam meningkatkan perkembangan motorik kasar pada anak autis di Mutiara Bangsa.

(7)

Iqlima Anggraeni B77211101 entitled Tthe effectiveness of sensory integration therapy for the problems of grass motoric development for autistic children in Mutiara Bangsa. The development of autistic children's grass motor ability is lower than normal children. If this case is ignored, it will cause the next Grass Motor problems. Thus, it needs special emphasis that is sensory integration therapy. This research uses single–case experimental design by experimental design A – B – A and uses simple descriptive statistic which analyzes according to the visual of graphic analysis. this research measures 11 aspects of the ability of grass motor skill development for autistic children that becomes the behavior target by using Geddes Psychomotor Inventory (GPI) scale. The subject of this research is 4 year old autistic male child. this research was done in 12 meetings that are 3 times of pre-tests (A1), 6 times of treatments(B), dan 3 times of post-tests (A2). The result of this research is visual of graphic analysis on 11 aspects of grass motor skill ability that experiences the increase which can be seen From the change of direction and the effect comes to (+) and percentage of overlap treatment (B) to post-test (A2) is on 0% which is the smaller overlap percentage, the better the treatment effect of behavior target. from the results, it can be concluded that sensory integration therapy is effective in increasing the development of grass motor skill for autistic children in Mutiara Bangsa.

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

E. Keaslian Penelitian ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 16

A. Motorik Kasar Anak Autis ... 16

1. Autis ... 16

2. Perkembangan Motorik ... 19

B. Terapi Sensori Integrasi ... 35

C. Hubungan Terapi Sensori Integrasi Terhadap Motorik Kasar Anak Autis ... 42

D. Kerangka Teoritis ... 44

E. Hipotesis ... 47

BAB III METODE PENELITIAN ... 48

A. Variabel dan Definisi Operasional ... 48

1. Terapi Sensori Integrasi ... 48

2. Motorik Kasar Anak Autis ... 49

B. Subjek Penelitian ... 50

C. Desain Eksperimen... 50

D. Prosedur Eksperimen ... 55

E. Instrumen Penelitian ... 57

1. Alat Ukur Yang Digunakan ... 57

2. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 58

F. Validitas Eksperimen ... 64

G. Analisis Data ... 68

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 69

A. Deskripsi Subjek ... 69

(9)

C. Hasil ... 71

D. Pembahasan ... 194

BAB V PENUTUP ... 208

A. Kesimpulan ... 207

B. Saran ... 208

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Anak adalah titipan Tuhan yang sangat berharga. Saat diberi sebuah

kepercayaan untuk mempunyai anak, maka para calon orangtua akan menjaga

sejak dalam kandungan sampai lahir ke dunia. Pertumbuhan dan

perkembangan buah hati yang sempurna merupakan dambaan dan keinginan

setiap pasangan. Sehingga para calon ibu akan mengkonsumsi berbagai

macam vitamin, gizi maupun suplemen untuk menjaga kesehatan bayi selama

dikandungan. Selain itu, calon ibu akan menghindari aktifitas berat yang

beresiko mengganggu proses kehamilan agar tidak terjadi pendarahan, infeksi

virus, kelahiran bayi abnormal, dan penyebab lainnya. Setelah bayi terlahir ke

dunia, para orang tua pun akan memberikan perhatian dan perawatan lebih

lanjut dalam proses yang mempengaruhi tumbuh kembang anak baik hal

positif maupun negatif.

Setiap anak akan mengalami proses perkembangan yang terdiri atas

dimensi biologis, kognitif, dan sosial. Bahkan dalam satu dimensi biologis,

kognitif, dan sosial berpengaruh di dalam dirinya (Desmita, 2010: 26).

Unsur-unsur perkembangan tersebut akan mempengaruhi satu dengan yang lain.

Walaupun orang tua sudah memberikan perhatian dan perawatan yang baik

(11)

berkebutuhan khusus misalnya autis, ADHD/ADD, downsyndrome, cerebral

palsy dan sejenisnya.

Bagi anak-anak yang terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus seperti

autis, akan mengalami gangguan perkembangan yang biasanya tampak jelas

sebelum anak mencapai usia 3 tahun (Winarno, 2013: 1). Autis berarti self

atau diri sendiri yang artinya cenderung hidup dalam dunianya sendiri. Autis

berasal dari bahasa Yunani kuno. Penyandang kelainan sindrom ini ditemukan

oleh Leo kanner yang disebut early infantile autis (Delphie, 2009: 4). Secara

teknis, para psikolog menggunakan salah satu diagnosa yang digunakan secara

global di seluruh penjuru dunia untuk mendeteksi autis yaitu dengan

Diagnostic and Statistical of Mental Disorder ke IV (DSM-IV) yang dibuat

oleh American Psychiatric Association (APA) atau International

Classification of Diseases-10 (ICD-10) tahun 1994, yang merupakan suatu

sistem diagnosis yang digunakan oleh WHO.

Anak autis merupakan individu dengan hendaya (gangguan)

perkembangan atau developmental disorders (Delphie, 2009: 2). Penyandang

autistik usia dini dapat dideteksi melalui suatu diagnosis khusus oleh medis

atau psikolog sejak usia 30 bulan (APA, 1980 dalam Delphie, 2009: 5).

Penelitian terkini menemukan bahwa angka penderita autis setiap tahunnya

semakin meningkat pesat dan bisa mengenai siapa saja, baik sosio-ekonomi

yang berkecukupan maupun yang kurang, berbagai etnis, bahkan anak-anak

yang tinggal di negara maju. Namun ada keberuntungan tersendiri bagi

(12)

memiliki kesempatan terdiagnosis lebih dulu. Sehingga tata laksana

penanganan lebih dini akan menghasilkan hasil yang lebih baik di kehidupan

mereka kelak.

Survei pertama kali mengenai prevalensi autis pada tahun 1979

menunjukkan 4 : 10.000 (Lotter, 1966 dalam Martine, 2011). Pada tahun

1999, Fambonne (1999) memperkirakan prevalensi untuk autis menjadi 10 :

10.000 dan kasus mengenai ASC (Autis Spectrum Disorder) menjadi 30 ± 60

kasus per 10.000. Perkiraan ini didasarkan pada studi yang dilakukan di

Eropa, AS, Kanada dan Jepang. Telah dilakukan sebuah penelitian terbaru di

Inggris yang memperkirakan prevalensi populasi ASC (Autis Spectrum

Disorder) naik dan menjadi sekitar 1% (116 : 10.000) (Bairds et al, 2006;

Baron-Cohen et al, 2009 dalam Martine, 2011).

Selain itu, terdapat sebuah riset yang mengungkapkan bahwa berkisar 5

- 7% anak-anak mengalami gangguan mental yang membutuhkan penanganan

secara khusus. Jika di jumlahkan dengan yang mengalami gangguan tidak

terlalu berat, angka prevalensinya dapat mencapai 60%. Hal ini menunjukkan

bahwa sangat banyak anak-anak yang terganggu mentalnya dan kurang

memperoleh perhatian dari banyak kalangan. Diperkirakan sebanyak 50%

anak-anak yang terganggu mentalnya tetap berlangsung hingga masa remaja

dan bahkan sampai dewasa (Hoare dan McIntosh dalam prasetyono, 2008

dalam Mufadhilah, 2014). Adapun data terbaru dari Center for Disease

(13)

Amerika Serikat menderita autis. Angka ini naik 57% dari data tahun 2002

yang memperkirakan angkanya 1 dibanding 150 anak (Anna, 2009).

Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan dari Badan Pusat Statistik

2010, memperkirakan terdapat 112.000 anak di Indonesia menyandang autis,

pada rentang usia sekitar 5 ± 19 tahun. Berdasarkan data dari UNESCO pada

tahun 2011 tercatat 35 juta orang penyandang autis di seluruh dunia. Ini

berarti rata-rata 6 dari 1000 orang di dunia mengidap autis. Penelitian Center

for Disease Control (CDC) di Amerika pada tahun 2008 menyatakan bahwa

perbandingan autis pada anak umur 8 tahun yang terdiagnosa dengan autis

adalah 1 : 80. Terdapat pula penelitian Hongkong Study pada tahun 2008 yang

melaporkan tingkat kejadian autis di Asia dengan prevalensi mencapai 1,68

per 1000 untuk anak di bawah 15 tahun (Melisa, 2013).

Dalam Peeters (2009: 3) autis ditempatkan di bawah kategori

³*DQJJXDQ 3HUNHPEDQJDQ 3HUYDVLI´ DQWDUD ³5HWDUGDVL 0HQWDO´ GDQ

³*DQJJXDQ 3HUNHPEDQJDQ 6SHVLILN´ Maksud dari di bawah kategori

³5HWDUGDVL 0HQWDO´ yaitu perkembangan menjadi lambat, sedangkan

³*DQJJXDQ 3HUNHPEDQJDQ 6SHVLILN´ MLND GL hadapkan pada perkembangan

yang lambat atau tidak normal pada suatu bidang kemampuan tertentu. Dalam

Assjari, dkk. (2011: 225) anak autis mengalami gangguan perkembangan

pervasif atau pervasive Developmental Disorders (PDDs-GPP) yang

menyebabkan anak mengalami kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi

sosial dengan orang lain, selain itu juga mengalami gangguan koordinasi

(14)

Hal tersebut senada dengan Rarick (1973 dalam Saputra Y, 2005, dalam

Assjari, dkk. 2011: 225) yang menyatakan bahwa anak yang di identifikasi

sebagai autis akan kurang kemampuan geraknya dibandingkan dengan anak

normal sebaya mereka yang di ukur dari kemampuan gerak statis dan dinamis,

kekuatan, koordinasi, keseimbangan dan kelincahan.

Berdasarkan kesulitan yang di alami oleh anak autis, gangguan

perkembangan motorik sangat berperan penting. Kemampuan individu sendiri

yang dapat terlihat jelas melalui kasat mata adalah motorik kasar. Motorik

kasar adalah aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh

(Soetjiningsih, 1995: 30). Menurut Desmita (2010: 98) perkembangan motorik

kasar (Grass Motor Skill) akan menunjukkan kesiapan anak dalam hal

keterampilan otot-otot besar lengan, kaki, dan batang tubuh. Motorik kasar

setiap anak haruslah berproses sesuai dengan umur mereka, namun pada anak

yang di diagnosis autis akan mengalami keterlambatan perkembangan.

Keterlambatan motorik kasar tersebut disebabkan oleh sensitivitas indera yang

juga terganggu. Sehingga diperlukan sebuah terapi untuk membantu dalam

mencapai keterlambatan motorik kasar anak autis agar setidaknya dapat

mencapai kesesuaian dengan usia mereka, sebab sistem sensori akan terus

mengalami perkembangan sejalan dengan bertambahnya usia anak.

Salah satu cara untuk menyikapi permasalahan keterlambatan

perkembangan motorik kasar yaitu diadakannya terapi sensori integrasi.

Sensori integrasi merupakan proses mengenal, mengubah, dan membedakan

(15)

DGDSWLIEHUWXMXDQ´ :DLPDQTerdapat manfaat lain dari terapi sensori

integrasi bagi anak-anak autis yaitu meningkatkan perkembangan motorik,

meningkatkan kemampuan akademik dan perilaku sosial. Penemu terapi

sensori integrasi ini adalah seorang seorang ahli terapi okupasional yang

bernama A. Jean Ayres. Ia adalah orang yang pertama kali menjelaskan

tentang masalah berkaitan dengan proses neurologis yang tidak efisien. Pada

tahun 1950 dan 1960 ia berhasil mengembangkan teori tentang

ketidakberfungsian sensori integrasi agar para ahli terapi okupasional lainnya

dapat melakukan assessment berkaitan dengan hendaya tersebut (Delphie,

2009: 49).

Pada anak yang mengikuti terapi sensori integrasi biasanya memerlukan

bantuan penuh. Sehingga disarankan melakukan terapi sensoris kepada ahli

terapis untuk dapat dievaluasi, diberikan treatmen, dan konsultasi. Selain itu

juga dapat dilakukan oleh terapi fisik atau physical therapist yang mampu

meningkatkan kemampuan fisik setiap individu autistik. Dengan mendapatkan

bimbingan latihan, maka anak autis dapat melakukan gerak dan memahami

semua informasi yang datang melalui otaknya dengan cara bermain yang

bersifat menggembirakan, bermakna, dan dilakukan secara ilmiah (Delphie,

2009: 99 ± 101).

Alasan peneliti mengambil subyek anak dengan gangguan autis karena

semakin banyak populasi anak autis di Indonesia khususnya di Surabaya yang

bukan hanya dari kalangan berada namun juga dari kalangan orang tak

(16)

sebab peneliti pernah melakukan studi lapangan pada semester tujuh dan telah

diketahui bahwasanya lembaga terapi ABK Mutiara Bangsa menggunakan

terapi sensori integrasi. Melalui terapi sensori integrasi ini akan terlihat

perkembangan motorik kasar pada anak autis, yang mana hal tersebut akan

mendukung variabel penelitian yang diangkat dalam penelitian ini. Pada

dasarnya sensori integrasi adalah sebuah media yang membantu subjek untuk

meningkatkan kemampuan perkembangan dan keterampilan motorik yang di

fokuskan pada motorik kasar akibat hendaya autistik. Penelitian ini memiliki

kriteria subjek yang di cari antara lain memiliki gambaran umum sebagai

berikut :

1. Subjek berusia 4 tahun.

2. Subjek berjenis kelamin laki-laki.

3. Mampu menerima instruksi terapis.

4. Perkembangan motorik kasar masih rendah.

5. Belum pernah menerima Terapi Sensori Integrasi.

Berdasarkan kriteria ini diatas, penelitian ini menggunakan subjek yang

berinisial AIP adalah siswa baru lembaga terapi anak berkebutuhan khusus

Mutiara Bangsa. AIP menjalani terapi karena ia mengalami beberapa

perkembangan yang terlambat, salah satunya adalah perkembangan motorik

kasar yang seharusnya AIP mampu lakukan pada usia tersebut. Dalam hal ini,

AIP memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti. AIP merupakan

(17)

bulan. AIP didiagnosis sebagai penyandang autis melalui tes rambut yang

pernah ia lakukan. Pada hasil tes rambut tersebut dinyatakan bahwasanya pada

tubuh AIP terdapat kadar logam yang berlebihan yaitu lead atau timbal.

Dari berbagai hal yang telah dijelaskan di atas, peneliti melakukan

penelitian perkembangan motorik kasar anak autis dengan menggunakan

observasi kegiatan motorik kasar melalui terapi sensori integrasi dengan cara

melakukan terapi dalam konsep bermain yang menyenangkan bagi anak-anak

dan tetap membawa dampak yang bermakna dan dilakukan secara ilmiah. Dari

sini akan diketahui seberapa efektif terapi sensori integrasi, maka peneliti

PHQJDPELOMXGXO³Efektivitas terapi sensori integrasi terhadap perkembangan

PRWRULNNDVDUDQDNDXWLVGL0XWLDUD%DQJVD´

B. RUMUSAN MASALAH

Atas dasar pemikiran di atas serta gambaran latar belakang masalah

yang sering terjadi dalam suatu masyarakat, maka dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut : ³Apakah terapi sensori integrasi efektif

terhadap perkembangan motorik kasar anak autis di Mutiara Bangsa?´.

C. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui

keefektifan terapi sensori integrasi terhadap perkembangan motorik kasar anak

(18)

D. MANFAAT PENELITIAN

Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberi manfaat secara

teoritis maupun praktis :

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberikan

konstribusi atas temuan-temuan yang diteliti baik bagi peneliti maupun

progam studi, berguna dalam ilmu psikologi khususnya psikologi klinis

dalam bidang terapi sensori integrasi untuk anak berkebutuhan khusus

yaitu autis, dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan yang

berhubungan tentang penyandang autis dan motorik kasar,

mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berfikir melalui

penelitian yang diterapkan di lapangan.

2. Manfaat Praktis

a. Manfaat Orang Tua

Diharapkan dari penelitian ini orang tua dapat melakukan terapi

sensori integrasi jika sedang berada di rumah, agar anak dapat

mengendalikan dan meningkatkan gerak motorik kasar peyandang autis

sehingga dapat beraktifitas lebih lancar.

b. Manfaat Untuk Psikolog Klinis dan Terapis

Diharapkan dari penelitian ini psikolog klinis dan terapis

mampu memahami dan membantu pencapaian efektivitas terapi sensori

integrasi terhadap motorik kasar anak autis agar kelak mereka mampu

(19)

c. Dapat mengetahui tentang keberhasilan terapi sensori integrasi terhadap

perkembangan motorik kasar anak autis

E. KEASLIAN PENELITIAN

Terdapat penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini untuk

dikaji diantaranya adalah

Dalam penelitian Petrin Kasdanel (2013) yang berjudul efektifitas

sensori integrasi untuk meningkatkan kemampuan menulis permulaan pada

anak autis Di Ti-Ji Home Schooling Padang. Penelitian ini dilatarbelakangi

oleh masalah yang peneliti temukan di Ti-Ji Home Schooling Padang, anak

autis yang berumur delapan tahun, masih belum mampu menulis mulai,

terutama huruf vokal (a, i, u, e, o). Penelitian ini tunggal subjek penelitian

dengan desain ABA dan teknik analisis data menggunakan grafik analisis

visual. Variabel pengukuran menggunakan persentase masing-masing vokal

yang dapat ditulis anak-anak. Pengamatan dilakukan dengan tiga sesi pertama,

sesi sebelum diberikan Intervensi dasar saat pretest, a1, dilakukan tujuh kali

pengamatan, persentase vokal. Keterampilan menulis dalam kondisi ini

terletak pada kisaran 0%, dan 20% adalah pada pertemuan persatuan, kedua,

ketiga, kelima, hari keenam dan ketujuh anak bisa tidak akan ada tulisan

dimulai pada vokal. Namun pada pertemuan empat anak-anak untuk menulis

vokal tunggal adalah huruf "i". Kedua, sesi intervensi, b, dengan

menggunakan pengamatan sensory integrasi dibuat sebanyak sepuluh kali,

(20)

pada kisaran 20%, 40%, 60%, dan 80% dari anak-anak mampu menulis vokal

(a, i, u, o). Sesi awal ketiga, posttest, a2 dilakukan lima kali pengamatan, hasil

diperoleh dalam kemampuan anak untuk menulis awal peningkatan yang ada

di kisaran 90% yang sebelumnya anak-anak bisa menulis huruf (a, i, u, o)

untuk 100%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan metode integrasi

sensory efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis untuk Anak

dimulai autis Ti-Ji Home Schooling Padang.

Musjafak Assjari dan Eva Siti Sopariah (2011) dalam penelitian yang

berjudul penerapan latihan sensorimotor untuk meningkatkan kemampuan

menulis pada anak Autistic Spectrum Disorder (ASD). Dari hasil penelitian

tersebut diketahui bertujuan untuk membuktikan bahwa penerapan latihan

sensorimotor dapat meningkatkan kemampuan menulis dan hasil menulis pada

anak Autistic Spectrum Disorder (ASD). Metode penelitian menggunakan

pendekatan kuantitatif, serta dalam intervensi dan analisis data menggunakan

metode Single Subject Research (SSR) model Design Multiple Baseline Cross

Variable (desain jamak antar variabel) dan desain A ± B ± A menggunakan

satuan ukur durasi dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

secara nyata subyek penelitian mengalami peningkatan dalam kemampuan

menulis. Oleh karena itu, latihan sensorimotor ini dapat dijadikan sebagai

acuan dalam meningkatkan atau mengoptimalkan kemampuan vestibular,

taktil, kinestetik dan propioseptif yang merupakan keterampilan prasarat

(21)

Dhofirul Fadhil Dzil Ikrom Al Hazmi, dkk. (2014) dalam penelitian

yang berjudul kombinasi neuro developmental treatment dan sensory

integration lebih baik daripada hanya neuro developmental treatment untuk

meningkatkan keseimbangan berdiri anak downsyndrome. Dari hasil

penelitian tersebut diketahui bahwa pada anak downsyndrome sering

ditemukan adanya gangguan keseimbangan berdiri yang menyebabkan ia tidak

dapat mempertahankan postur tubuh terhadap gangguan yang datang. Jika ini

dibiarkan tentu akan menimbulkan permasalahan perkembangan motorik

selanjutnya. Fisioterapi mempunyai metode neuro developmental treatment

dan sensory integration. Metode penelitian yang digunakan adalah

eksperimental dengan rancangan penelitian randomized pre and post test

group design dengan sampel sebanyak 18 anak downsyndrome yang

mengalami permasalahan keseimbangan berdiri dan waktu penelitian selama

dua bulan. Kelompok dibagi menjadi dua, yaitu kelompok-1 (neuro

developmental treatment) dan kelompok-2 (neuro developmental treatment

dan sensory integration). Instrumen pengukuran yang digunakan adalah

sixteen balance test yang di ukur sebelum perlakuan (0 ±session) dan sesudah

perlakuan (6 ± session) pada masing-masing subjek. Berdasarkan variabel

sixteen balance test pada kedua kelompok menggunakan uji hipotesis

independent sample t-test didapatkan nilai p = 0,034. Kesimpulan yang

didapatkan nilai p < 0,05. Nilai tersebut menjelaskan kombinasi neuro

(22)

neuro developmental treatment untuk meningkatkan keseimbangan berdiri

anak downsyndrome.

Penelitian selanjutnya dari Renee L. Watling dan Jean Dietz (2007)

yang berjudul LPPHGLDWH HIIHFW RI D\UHV¶V VHQVRU\ LQWHJUDWLRQ±based occupational therapy intervention on children with autis spectrum disorders.

Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa penelitian ini akan meneliti efek

dari intervensi integrasi sensorik ayres pada perilaku dan keterlibatan tugas

anak-anak dengan gangguan spektrum autis (ASD) dengan bantuan dari

pengamatan klinis dan pengasuh perilaku untuk membantu memandu

penyelidikan masa depan. Metode yang digunakan adalah Single Subject

Research (SSR) dengan desain A ± B ± A ± B untuk membandingkan efek

langsung dari sensorik Ayres dunia integrasi dan skenario bermain dengan

melibatkan 4 anak-anak dengan ASD. Dari penelitian ini tidak ada pola yang

jelas dari perubahan perilaku yang tidak diinginkan atau tugas manajemen

yang muncul melalui tujuan pengukuran. Kesimpulannya adalah jangka

pendek integrasi sensorik Ayres tidak memiliki efek substansial berbeda dari

skenario bermain pada perilaku yang tidak diinginkan atau keterlibatan dari

anak-anak dengan gangguan spektrum autis (ASD). Namun, data subjektif

menunjukkan bahwa integrasi sensorik Ayres mungkin menghasilkan efek

yang jelas selama sesi perawatan dan di dalam lingkungan rumah.

Beth A. Pfeiffer, dkk. (2011) dengan penelitian yang berjudul

effectiveness of sensory integration interventions in children with autis

(23)

bahwa bertujuan untuk membangun model untuk acak penelitian uji coba

terkontrol, mengidentifikasi ukuran hasil yang tepat, dan mengatasi efektivitas

integrasi sensori (SI) yang mengintervensi anak-anak dengan gangguan

spektrum autis (ASD). Penelitian ini menggunakan anak-anak usia 6-12

dengan ASD secara acak untuk motor halus atau kelompok perlakuan sensori

integrasi. Pretest dan posttest diukur melalui sosial, sensorik pengolahan,

keterampilan motorik fungsional, dan faktor sosial-emosional. Dari penelitian

ini menghasilkan identifikasi signifikan positif perubahan goal pencapaian

skor scaling untuk kedua kelompok; perubahan lebih signifikan terjadi di

sensori integrasi kelompok, dan penurunan yang signifikan dalam laku autis

terjadi pada kelompok sensori integrasi. Tidak ada hasil lain signifikan namun

penelitian ini dapat mempertimbangkan untuk hasil studi setelah

menggunakan sensori integrasi terhadap masa depan untuk anak-anak dengan

gangguan spektrum autis (ASD).

Selanjutnya adalah penelitian dari Sinclair A. Smith, dkk. (2005) yang

berjudul Effects of Sensory Integration Intervention on Self-Stimulating and

Self-Injurious Behaviors. Dari penelitian ini diketahui bahwa Penelitian ini

membandingkan efek terapi okupasi, menggunakan pendekatan integrasi

sensori (SI) dan kontrol intervensi kegiatan tabletop. Penelitian ini ditujukan

pada anak yang berusia 8 ± 19 tahun dengan keterlambatan perkembangan

yang meluas dan keterbelakangan mental. Melalui segmen rekaman video 15

menit sehari akan dicatat sebelumnya, setelah, dan satu jam setelah baik

(24)

segmen video 15 menit dievaluasi oleh peneliti untuk menentukan frekuensi

perilaku diri seseorang. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perilaku

diri yang nampak secara signifikan dikurangi dengan 11% satu jam setelah

intervensi sensori integrasi dibandingkan dengan intervensi aktivitas tabletop

(P = 0,02). Tidak ada perubahan segera setelah sensori integrasi atau

intervensi tabletop. Peringkat harian self stimulating perilaku frekuensi dengan

guru kelas menggunakan skala 5-point berkorelasi secara signifikan dengan

jumlah frekuensi yang diambil oleh para peneliti (r = 0,32, p < 0,001).

Sehingga penelitian ini menunjukkan hasil bahwa pendekatan sensori integrasi

ini efektif dalam mengurangi perilaku diri merangsang, yang mengganggu

kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang lebih fungsional.

Penelitian-penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwasannya

memang terdapat peningkatan jika diberikan terapi sensori integrasi. Dimana

hal ini dapat menjadi rujukan atau tambahan referensi bagi peneliti dalam

melengkapi data-data yang peneliti perlukan. Pada penelitian kali ini akan

lebih memfokuskan pada terapi sensori integrasi terhadap perkembangan

motorik kasar anak autis. Penelitian ini sendiri memiliki kesamaan dengan

penelitian terdahulu yaitu sama-sama mencari tahu apakah terdapat efektivitas

dari terapi sensori integrasi. Sedangkan perbedaannya adalah variabel bebas

(25)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. MOTORIK KASAR ANAK AUTIS

1. Autis

Autis berasal dari bahasa Yunani, auto yang berarti sendiri.

Istilah autis pertama kali diperkenalkan oleh Leo Kanner, seorang

psikiater dari Harvard pada tahun 1943. Beberapa ahli, menyebutkan

bahwa autis disebabkan karena adanya gangguan biokimia, sedangkan

ahli lain berpendapat bahwa autis disebabkan oleh gangguan psikiatri,

ada juga yang berpendapat autis disebabkan karena vaksin MMR

(Mumps, Measles, Rubella) (Widodo, 2008 dalam Wardani, 2009).

Delphie (2009: 4) menjelaskan bahwa autis berasal dari bahasa Yunani

kuno berarti self atau diri sendiri yang mempunyai pengertian cenderung

hidup dalam dunianya sendiri. Penyandang kelainan sindrom ini juga

disebut Early Infantile Autis.

$QDN DXWLV EXNDQ ³DQDN DMDLE´ DWDX ³SHPEDZD KRNL´ Gifted

Child) seperti kepercayaan sebagian orangtua. Jadi jangan

mengharapkan keajaiban muncul darinya, namun ia pun bukan bencana.

Autis merupakan suatu kumpulan sindrom akibat kerusakan saraf.

Penyakit ini akan mengganggu perkembangan anak. Untuk

mendiagnosis gangguan autis tidak memerlukan pemeriksaan yang

(26)

Pemeriksaan-pemeriksaan itu hanya dilakukan jika ada indikasi tambahan misalnya

jika anak sering kejang, baru dilakukan brain mapping atau EEG untuk

melihat apakah mengidap epilepsi (Widyawati, 2003: 2).

Autis (autisme) memiliki cara berpikir yang dikendalikan oleh

kebutuhan dirinya sendiri. Penyandang autis ini akan menanggapi dunia

berdasarkan penglihatan, harapan sendiri, dan menolak realitas. Autis

juga tenggelam dalam keasikan yang ekstrim dengan pikiran fantasi

mereka. Anak-anak yang menyandang status autis sering juga disebut

autistic child yaitu memiliki kecenderungan diam dan suka menyendiri.

Ketika hal ini terjadi, mereka bisa duduk dan bermain selama

berjam-jam lamanya dengan jari-jarinya atau dengan serpihan-serpihan kertas.

Maka dari sini tampak jelas bahwasanya mereka tenggelam dalam

fantasi yang dimiliki (Chaplin, 2006: 46).

Menurut Winarno (2013: 1) autis pada masa kanak-kanak adalah

gangguan perkembangan yang biasanya tampak jelas sebelum anak

mencapai usia 3 tahun. Tampak secara nyata anak-anak autis

mempunyai kesulitan untuk belajar berkomunikasi secara verbal dan non

verbal. Sehingga penyandang autistik usia dini dapat di deteksi melalui

suatu diagnosis khusus oleh medis atau psikolog sejak usia 30 bulan

(APA, 1980 dalam Delphie, 2009: 5). Menurut Wing (1996 dalam

Thompson, 2010: 86 ± 87) autis mengalami gangguan perkembangan di

antaranya gangguan komunikasi sosial, gangguan interaksi sosial, dan

(27)

lebih agar tidak mengabaikan semua hal yang berhubungan dengan

dunia luar.

Hadis (2006 dalam Ulmi, 2013) berpendapat bahwa autis adalah

salah satu anak berkebutuhan khusus yang memerlukan pendidikan dan

layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusian mereka

secara sempurna. Menurut Safaria (2005, dalam Mufadhilah, 2014)

mendefinisikan autis sebagai suatu gangguan perkembangan perpasif

yang secara menyeluruh mengganggu fungsi kognitif, emosi, dan

psikomotorik anak.

Pendapat Rarick, 1973 (dalam Saputra Y, 2005: 40 dalam

Assjari, 2011) menyatakan bahwa anak yang di identifikasi sebagai

autis, kemampuan geraknya kurang dibanding dengan anak normal

sebayanya. Hal ini diukur dari kemampuan gerak statis dan dinamis,

kekuatan, koordinasi, keseimbangan dan kelincahan. Senada dengan

Veskarisyanti, A. (2008: 47 dalam Assjari, 2011) menyatakan bahwa

beberapa anak penyandang autis mengalami gangguan pada

perkembangan motorik, otot kurang kuat untuk berjalan, serta

keseimbangan tubuhnya kurang baik. Sherill, 1984; Astati, (2001 dalam

Assjari, 2011) menjelaskan bahwa anak autis umumnya memiliki

kemampuan motorik yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok

anak sebayanya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Adapun pendapat bahwasanya sekitar 40 persen anak autis

(28)

Assjari, 2011). Maka perkembangan mental yang tertinggal akan

membawa dampak pada kemampuan motorik anak autis yang

disebabkan adanya gangguan pada sistem saraf pusat. Hal ini

ditunjukkan dengan kurang mampu dalam aktifitas motorik untuk

tugas-tugas yang memerlukan kecepatan gerakan serta dalam melakukan reaksi

gerak yang memerlukan koordinasi motorik dan keterampilan gerak

yang lebih kompleks, misalnya keterampilan bola, keseimbangan,

deksteritas manual, gerakan cepat dan menulis dengan tangan.

2. Perkembangan Motorik

Setiap makhluk hidup pasti mengalami perkembangan dalam

hidup mereka sejak dalam kandungan, terlahir ke dunia, hingga masa tua

dan mati. Begitu kompleks sistem perkembangan yang dialami oleh

seseorang dalam menjalani hidup di dunia ini. Yusuf (2005: 66)

menjelaskan bahwa tugas-tugas perkembangan akan berkaitan dengan

sikap, perilaku, atau keterampilan yang dimiliki oleh individu yang

sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Bagian tubuh manusia

atau fisik adalah sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.

Sehingga Kuhlen dan Thompson (Hurlock, 1956 dalam Yusuf, 2005:

101) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat

aspek, yaitu:

a. Sistem saraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan

(29)

b. Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan

kemampuan motorik.

c. Kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah

laku baru.

d. Struktur tubuh, yang meliputi tinggi, berat dan proporsi.

Berdasarkan penelitian genetika, khususnya neurologis yang

dilakukan terhadap kasus utama anak autis ditemukan bahwasanya

secara signifikan anak dengan sindrom autistik berasal dari luasnya

defisit dalam otak yang menyebabkan ketidakberfungsian sistem saraf

pusat pada otak (Durand, V. M. dan Barlow D. H., 2006: 552 dalam

Delphie 2009: 87).

Dalam buku anak prasekolah (2010 dalam Sujiono, 2010: 1.3)

tertulis bahwa masa lima tahun pertama adalah masa pesatnya

perkembangan motorik anak. Motorik adalah semua gerakan yang

mungkin didapatkan oleh seluruh tubuh, sedangkan perkembangan

motorik dapat disebut sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan

pengendalian gerak tubuh. Keterampilan motorik tersebut akan

berkembang sejalan dengan kamatangan saraf dan otak. Selanjutnya

Kranowitz, C. S. dalam Delphie (2009: 101) menyatakan bahwa anak

autis memerlukan perkembangan kemampuan sensoris seirama dengan

(30)

Selanjutnya Bernadeta Suhartini (2012: 5 dalam Hakim, 2013)

menjelaskan bahwa motorik merupakan perkembangan pengendalian

gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf,

otot, otak, dan spinal cord. Senada dengan penjelasan Audrey Curti

(1998; hurlock, 1956 dalam Yusuf, 2005: 104) bahwasanya otak akan

mempengaruhi dan menentukan aspek perkembangan individu baik

keterampilan motorik, intelektual emosional, sosial, moral, maupun

kepribadian. Sehinggga semakin matang perkembangan sistem saraf

otak yang mengatur otot, akan membentuk peningkatan perkembangan

keterampilan motorik anak.

Keterampilan motorik ini tidak akan berkembang jika melalui

kematangan saja, namun harus diimbangi dengan keterampilan yang

perlu dipelajari oleh setiap individu. Menurut Tjandrasa, dkk. (1997:

150) menjelaskan bahwa perkembangan motorik berarti perkembangan

pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat saraf, urat saraf,

dan otot yang terkoordinasi. Hal ini senada dengan Wulan (2012 dalam

Al Hazmi, 2014) yang menyatakan bahwa perkembangan motorik yaitu

perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang

terkoordinir antara saraf dan otak. Perkembangan motorik yang

dimaksudkan adalah motorik kasar dan halus.

Menurut Rahyubi (2012: 225 ± 226 daODP0DV¶XGDK±

27) ada beberapa faktor yang berpengaruh pada perkembangan motorik

(31)

a. Perkembangan Saraf

Sistem saraf sangat berperan dalam perkembangan motorik karena

sistem saraf yang mengontrol aktivitas motorik tubuh.

b. Kondisi Fisik

Perkembangan motorik sangat erat kaitannya dengan fisik, maka

kondisi fisik tentu saja sangat berpengaruh dalam perkembangan

motorik seseorang.

c. Motivasi Yang Kuat

Seseorang yang punya motivasi kuat untuk menguasai keterampilan

motorik tertentu biasanya punya modal besar untuk meraih prestasi.

Apabila seseorang dapat melakukan aktivitas motorik dengan baik,

maka kemungkinan besar juga akan termotivasi untuk menguasai

keterampilan motorik yang lebih luas.

d. Lingkungan Yang Kondusif

Perkembangan motorik seseorang individu kemungkinan besar bisa

berjalan optimal jika lingkungan tempatnya beraktivitas mendukung

dan kondusif.

e. Aspek Psikologis

Aspek psikologis, psikis dan kejiwaan sudah sangat berpengaruh pada

(32)

f. Usia

Usia sangat berpengaruh pada aktivitas motorik seseorang. Seorang

bayi, anak-anak, remaja, dan masa tua tentu mempunyai karakteristik

keterampilan motorik yang berbeda pula.

g. Jenis Kelamin

Dalam keterampilan motorik tertentu, misalnya olahraga, faktor, jenis

kelamin cukup berpengaruh.

h. Bakat dan Potensi

Bakat dan potensi juga berpengaruh pada usaha meraih keterampilan

motorik.

Dariyo (2007: 127) juga menyebutkan bahwa terdapat 6 faktor

yang mempengaruhi perkembangan motorik yaitu perkembangan usia,

tercapainya kematangan organ-organ fisik, kontrol kepala, kontrol

tangan, kontrol kaki, dan lokomosi. Menurut Tjandrasa, dkk. (1997: 162)

menyatakan bahwa usia juga merupakan faktor dalam keterampilan

motorik. Semakin bertambah usia anak, semakin terampil, semakin besar

variasi keterampilan dan semakin baik kualitasnya.

Perkembangan motorik yang telah dijelaskan diatas, akan sangat

berhubungan erat dengan perkembangan kemampuan gerak seorang

anak. Gerak merupakan unsur utama dalam perkembangan motorik

anak. Oleh sebab itu, perkembangan kemampuan motorik anak akan

(33)

dapat mereka lakukan (Sujiono, 2010: 1.4). Sujiono (2010: 1.12) juga

menjelaskan bahwa perkembangan motorik adalah proses seorang anak

belajar untuk terampilan menggerakkan anggota tubuh. Beberapa pola

gerakan yang dapat mereka lakukan yang dapat melatih ketangkasan,

kecepatan, kekuatan, kelenturan, serta ketepatan koordinasi tangan dan

mata. Pengembangan kemampuan motorik sangat diperlukan agar

seorang anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Secara konseptual, jika seorang anak banyak bergerak maka akan

semakin banyak manfaat yang dapat diperoleh ketika ia semakin

terampil menguasai gerak motoriknya. Adanya suatu kemampuan atau

keterampilan motorik anak, akan menambahkan kreatifitas dan imajinasi

anak yang merupakan bagian dari perkembangan mental anak (Sujiono,

2010: 1.7).

Dalam keterampilan motorik yang terkoordinasi secara baik, otot

yang lebih kecil akan memainkan peran yang cukup besar. Seperti pada

WXOLVDQ&URQEDFKWHQWDQJ³kHWHUDPSLODQ´\DQJWHUGDSDWGDODP7MDQGUDVD

dkk. (1997: 154), sebagai berikut:

(34)

Keterampilan yang dipelajari dengan baik ini akan berkembang

menjadi kebiasaan. Hilgard, dkk. dalam Tjandrasa, dkk. (1997: 154)

melukiskan kebiasaan tersebut sebagai berikut

³VHWLDS EHQWXN \DQJberulang cepat lancar, tersusun dari pola gerakan yang dapat dikenal . . . umumnya seseorang kurang memperhatikan rincian kegiatan kebiasaanya . . . kebiasaan . . . relatif otomatis, pola gerakan yang berulang, khususnya sebagaimana terungap dalam gerakan terampil´

Hal ini senada dengan Desmita (2010: 97-98) yang menyatakan

bahwa keterampilan motorik adalah gerakan-gerakan tubuh atau

bagian-bagian tubuh yang disengaja, otomatis, cepat, dan akurat. Gerakan ini

merupakan rangkaian koordinasi dari beratus-ratus otot yang rumit.

Selanjutnya menurut Rahantoknam, (1998: 13) menyatakan bahwa

motorsensori dan keterampilan motorsensori adalah bermacam-macam

nama yang disingkat menjadi keterampilan motorik (Motor Skill), yang

digunakan dengan asumsi bahwa semua keterampilan motorik memiliki

komponen persepsi. Salah satu konsep yang dikemukakan adalah bahwa

keterampilan motorik perlu dianalisis, baik dari prasyarat persepsi

maupun dari prasyarat motorik. Untuk itu, maka keterampilan motorik

digunakan untuk menunjukkan setiap aktivitas otot yang diarahkan

kepada suatu tujuan khusus. Setiap kegiatan yang dilakukan ini dapat

dilihat sebagai suatu rangkaian kesatuan yang terbentang dari gerakan

yang luas sampai gerakan yang kecil. Sehingga dapat memunculkan

keterampilan motorik yang berjalan baik dan optimal secara

(35)

Perkembangan psikomotorik adalah modal dasar bagi

kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh seorang anak terutama bayi yang

nantinya menjadi gerakan motorik yang akan disadari. Gerakan motorik

tersebut terdiri dari gerakan motorik halus dan gerakan motorik kasar

yang keduanya akan menjadi sebuah modal bagi kegiatan bayi di masa

datang (Dariyo, 2007: 127).

Audrey Curti (1998; hurlock, 1956 dalam Yusuf, 2005: 104)

membagi 2 jenis keterampilan motorik, yaitu:

a.Keterampilan atau gerakan kasar, seperti berjalan, berlari, melompat,

naik dan turun tangga.

b.Keterampilan motorik halus atau keterampilan memanipulasi, seperti

menulis, menggambar memotong, melempar, dan menangkap bola

serta memainkan benda-benda atau alat-alat mainan.

Senada dengan Desmita (2010: 97 ± 98) yang menjelaskan

bahwasanya keterampilan motorik dapat dikelompokkan menurut

otot-otot dan bagian-bagian badan yang terkait, yaitu keterampilan motorik

kasar (Grass Motor Skill) dan keterampilan motorik halus (Fine Motor

Skill). Surya (2014: 13) mengemukakan bahwa perilaku motorik adalah

segala perilaku individu yang diwujudkan dalam bentuk gerakan atau

pembuatan jasmaniah seperti berjalan, berlari, duduk, melompat, menari,

menulis, dan sebagainya. Perilaku motorik ini pada umumnya dapat

(36)

Perilaku motorik yang disadari terjadi apabila berada dalam

kendali pusat kesadaran melalui saraf-saraf motorik. Aktivitas sensori

motor terbentuk melalui proses penyesuaian struktur fisik sebagai hasil

interaksi dengan lingkungan (Surya, 2014: 145). Hal ini senada dengan

Soetjiningsih (1995: 30) yang menyatakan bahwa perkembangan fisik

anak yang terlihat jelas oleh mata adalah motorik kasar. Motorik kasar

adalah aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

Menurut Sujiono (2010: 1.13) gerakan motorik kasar adalah

kemampuan yang membutuhkan koordinasi sebagian besar bagian tubuh

anak. Oleh karena itu, biasanya memerlukan tenaga karena dilakukan

oleh otot-otot yang lebih besar. Pengembangan gerakan motorik kasar

memerlukan koordinasi kelompok otot-otot anak tertentu yang dapat

membuat mereka dapat meloncat, memanjat, berlari, menaiki sepeda

roda tiga, serta berdiri dengan satu kaki. Bahkan, ada juga anak yang

dapat melakukan hal-hal yang lebih sulit, seperti jungkir bali dan

bermain sepatu roda. Desmita (2010: 98) menjelaskan bahwa gerakan

motorik kasar ini akan melibatkan aktivitas otot tangan, kaki, dan

seluruh tubuh anak. Hal ini senada dengan teori bahwasanya

perkembangan motorik kasar (Grass Motor Skill) akan menunjukkan

kesiapan anak dalam hal keterampilan otot-otot besar lengan, kaki, dan

batang tubuh.

Menurut Asep Deni (2011: 4 dalam Hakim, 2013) motorik kasar

(37)

atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi kematangan anak itu

sendiri meliputi gerak dasar lokomotor, non lokomotor, dan

manipulative.

Perkembangan fisik anak ditandai dengan berkembangnya

kemampuan atau keterampilan motorik, baik yang kasar maupun yang

lembut. Menurut Yusuf (2005: 164) kemampuan motorik tersebut dapat

dideskripsikan sebagai berikut:

Tabel 1 Kemampuan Motorik

Usia Kemampuan Motorik

Kasar

Kemampuan Motorik Halus

3 ± 4 Tahun

1. Naik dan turun tangga 2. Meloncat dengan dua

kaki

3. Melempar bola

1. Menggunakan krayon 2. Menggunakan benda/alat 3. Meniru bentuk (meniru

gerakan orang lain) 4 ± 6

Tahun

1. Meloncat

2. Mengendarai sepeda anak

3. Menangkap bola 4. Bermain olahraga

1. Menggunakan pensil 2. Menggambar

3. Memotong dengan gunting

4. Menulis huruf cetak

Selama menginjak usia 4 atau 5 tahun pertama kehidupan

pascalahir, anak dapat mengendalikan gerakan motorik kasar. Gerakan

tersebut melibatkan bagian badan yang luas yang digunakan untuk

berjalan, berlari, melompat, berenang, dan sebagainya (Tjandrasa, dkk.,

1997: 150).

Senada dengan Papalia (2008: 315) menyatakan bahwa

anak-anak prasekolah akan membuat kemajuan yang besar dalam

(38)

melompat yang melibatkan otot besar. Berikut adalah tabel keterampilan

motorik kasar pada masa anak awal:

Tabel 2 Keterampilan Motorik Kasar Pada Masa Kanak-Kanak Awal

3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun

Tidak dapat berbalik atau berhenti secara tiba-tiba atau cepat

Memiliki kontrol untuk berhenti, memulai, atau berputar yang lebih efektif

Dapat memulai, berbalik, dan berhenti secara efektif dalam permainan

Dapat meloncat dengan jarak lompatan 15 sampai 24 inci

Dapat melompat dengan jarak lompatan 14 ke 33 inci

Dapat melompat 28 sampai 36 inci

Dapat menaiki tangga tanpa dibantu, dengan menggunakan satu kaki secara berulang

Dapat menuruni tangga menggunakan satu kaki secara berulang, jika dibantu

Dapat menuruni tangga panjang dengan satu kaki secara berulang,

Dapat melompat satu kaki sampai enam kali

Dapat melompat 16 kali dengan mudah

Tulang yang semakin kuat dan kapasitas paru semakin besar

yang memungkinkan untuk berlari, melompat, dan memanjat lebih cepat,

lebih jauh, dan lebih baik. Sehingga anak-anak mampu beradaptasi

berdasarkan dukungan genetik dan peluang untuk belajar dan

mempraktikkan keterampilan motorik yang dimiliki. AAP Committe on

Sport Medicine dan Fitness (1992 dalam Papalia, 2008: 315)

mengatakan bahwa hanya 20 persen dari anak berusia 4 tahun yang

dapat melempar bola dengan benar, dan 30 persen yang dapat

(39)

Walkey (1996, dalam Sujiono 2010: 3.17 ± 3.23) memaparkan

bahwa perkembangan gerak anak baik motorik halus maupun kasar

berdasarkan usia kronologis dari 0 ± 5 tahun yang dapat dikembangkan

dalam kegiatan program pengembangan, seperti berikut ini:

a. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Umur 0 ± 1 Tahun

1) Bermain-main dengan tangan.

2) Mengamati mainan yang ada dalam genggaman.

3) Mencoba meraih suatu barang (meraup).

4) Melempar dan mengambil barang yang dilemparkan sambil

diamati yang terjadi.

5) Menahan barang yang dipegangnya.

6) Memegang benda kecil dengan telunjuk dan ibu jari.

7) Menunjuk titik tertentu, misalnya mata boneka.

8) Membuka lembaran buku/majalah.

9) Mengangkat kaki dan memainkan jari di depan mata.

10) Mengangkat kepala ketika ditengkurapkan.

11) Duduk dengan bantuan dan kepala tegak.

12) Mengangkat dada pada saat tengkurap dengan bertumpu pada

tangan.

13) Mencoba merangkak.

14) Duduk tanpa ditopang.

15) Mencoba berdiri sendiri dengan berpegangan.

(40)

b. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Umur 1 ± 2 Tahun

1) Meletakkan tutup gelas di atas gelas.

2) Mencorat-coret.

3) Menyusun balok dua sampai tiga balok.

4) Mencoba makan sendiri dengan sendok atau membuka buku.

5) Senang mendengarkan musik dan mengikuti irama.

6) Latihan berjalan tanpa dipegang.

7) Berjalan mantap.

8) Berjalan mundur satu sampai tiga langkah.

9) Berlari tanpa jatuh.

10)Naik turun tangga dengan berpegangan.

11)Memanjat kursi orang dewasa, merangka naik tangga.

12)Mulai meloncat walau sederhana.

c. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Umur 2 ± 3 Tahun

1) Meronce/merangkai manik-manik.

2) Mengaduk air digelas dengan sendok.

3) Membuka tutup botol yang bergulir dengan memutar.

4) Menggambar garis lurus.

5) Menyusun balok tiga sampai lima balok.

6) Berjalan lurus.

7) Berjalan mundur.

(41)

9) Memanjat.

10)Melompat bertolak dengan dua kaki sekaligus.

11)Belajar meniti.

d. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Umur 3 ± 4 Tahun

1) Meremas kertas.

2) Memakai dan membuka pakain dan sepatu sendiri.

3) Menggambar garis lingkaran dan garis silang (garis tegak dan

datar).

4) Menyusun empat sampai 7 balok.

5) Mengekspresikan gerak tari dengan irama sederhana.

6) Melempar bola.

7) Berjalan dengan baik (keseimbangan tubuh semakin baik).

8) Berlari dengan baik (keseimbangan tubuh semakin baik).

9) Berlari di tempat.

10)Naik turun tangga tanpa berpegangan.

11)Melompat dengan satu kaki bergantian.

12)Merayap dan merangkak lurus ke depan.

13)Senam mengikuti contoh.

e. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Umur 4 ± 5 Tahun

1) Menempel.

(42)

3) Mencobos kertas dengan pensil atau spidol.

4) Makin terampil menggunakan jari tangan (mewarnai dengan

rapi).

5) Mengancing baju.

6) Menggambar dengan gerakan naik turun bersambung (seperti

gunung atau bukit).

7) Menarik garis lurus, lengkung dan miring.

8) Mengekspresikan gerakan dengan irama bervariasi.

9) Melempar dan menangkap bola.

10)Melipat kertas.

11)Berjalan di atas papan titian (keseimbangan tubuh).

12)Berjalan dengan berbagai variasi (maju mundur di atas satu

garis).

13)Memanjat dan bergelantungan (berayun).

14)Melompat parit atau guling.

15)Senam dengan gerakan aktivitas sendiri.

Perkembangan-perkembangan yang telah dijelaskan akan

berjalan dengan baik jika anak-anak tidak mengalami gangguan

lingkungan atau fisik atau hambatan mental yang mengganggu

perkembangan motorik. Menurut Tjandrasa, dkk. (1997: 150) secara

(43)

tuntutan sekolah dan berperan serta dalam kegiatan bermain dengan

teman sebaya.

Selain itu banyak pula orang yang mengira bahwa satu-satunya

bahaya yang serius dalam perkembangan keterampilan dan koordinasi

motorik anak adalah kekauan. Meskipun tidak dapat disangsikan bahwa

kekakuan merupakan bahaya serius bagi penyesuaian sosial dan pribadi

yang baik. Kemungkinan bahaya yang lain adalah timbulnya masalah

psikologis yang serius. Perkembangan motorik yang terlambat berarti

perkembangan motorik yang berada dibawah norma umur anak.

Akibatnya, pada umur tertentu anak tidak mampu menguasai tugas

perkembangan yang diharapkan oleh kelompok sosialnya. Sebagai

contoh, anak yang berada dibawah norma untuk dapat berjalan dan

makan sendiri, akan dipandang sebagai anak \DQJ ³WHUEHODNDQJ´

(Tjandrasa, dkk. 1997: 164).

Dari sini banyak penyebab terlambatnya perkembangan motorik,

biasanya timbul dari kerusakan otak pada waktu lahir atau kondisi

pralahir yang tidak menguntungkan. Akan tetapi keterlambatan ini lebih

sering disebabkan oleh kurangnya kesempatan untuk mempelajari

keterampilan motorik, perlindungan orang tua yang berlebihan, atau

kurangnya motivasi anak untuk mempelajarinya. Namun hal-hal tersebut

masih dapat dikendalikan namun sebagian lain tidak dapat dikendalikan

(44)

B. TERAPI SENSORI INTEGRASI

Gangguan di otak tidak dapat disembuhkan, tapi dapat ditanggulangi

dengan terapi dini, terpadu dan intensif. Gejala-gejala autis dapat dikurangi

bahkan dihilangkan sehingga anak bisa bergaul secara normal, tumbuh

sebagai orang dewasa yang sehat, berkarya, bahkan membina rumah tangga.

Hal ini dikarenakan intervensi dini membuat sel-sel otak baru tumbuh,

menutup sel-sel lama yang rusak. Jika anak autis tidak atau terlambat

mendapat intervensi hingga dewasa maka gejala autis bisa menjadi semakin

parah, bahkan tidak tertanggulangi (Widyawati, 2003: 6).

Sindrom autistik berasal dari luasnya defisit dalam otak yang

menyebabkan ketidakberfungsian sistem saraf pusat pada otak.

Ketidakberfungsian sistem saraf pusat ini disebut juga sensory integration

dysfunction (SID) (Kranowitz, C. S., 1998: 8 dalam Delphie 2009: 87).

Sensory integration dysfunction adalah ketidakmampuan untuk memproses

informasi yang diterima melalui indera. Istilah lain yang digunakan adalah

sensory integration disorders. Sensory integration dysfunction disingkat

dengan SI dysintegration. Seorang ahli terapi okupasional bernama A. Jean

Ayres adalah orang yang pertama kali menjelaskan tentang masalah

berkaitan dengan proses neurologis yang tidak efisien. Pada tahun 1950 dan

1960 ia berhasil mengembangkan teori tentang ketidakberfungsian integrasi

sensori agar para ahli terapi okupasional lainnya dapat melakukan

assessment berkaitan dengan hendaya tersebut (Delphie, 2009: 49).

(45)

dan melakukan hubungan secara terpadu terhadap pesan-pesan yang masuk

melalui indera serta melakukan respon melalui seluruh saraf tubuh sesuai

dengan stimulus yang ada (Delphie 2009: 87).

Adanya sensory integration dysfunction (SID), seorang anak tidak

dapat melakukan respon terhadap informasi yang masuk melalui indera

mereka sehingga mengakibatkan ketidakmampuan dalam berperilaku secara

konsisten dan sesuai dengan kehidupan sehari-harinya. Ketidakberfungsian

saraf pusat tersebut mengakibatkan seorang anak mengalami

kesulitan-kesulitan antara lain berperilaku adaptif, mempelajari gerak, dan

mempelajari akademik (Delphie 2009: 88). Sehingga mereka memerlukan

bantuan penuh yang dapat dilakukan melalui pendekatan melalui terapi

khusus terhadap sensori integratif atau sensory integrative therapy

approach. Dalam Delphie (2009: 96) pendekatan ini dilakukan dengan

modifikasi saraf neurologis yang tidak berfungsi melalui belajar (A. Jean

Ayres, 1972 dalam Geddes, 1981: 137 dalam Delphie, 2009: 96). Sensori

integrasi (sensory integration) merupakan teori yang dikembangkan oleh Dr.

Ayres dan rekan-rekannya melalui berbagai penelitian terhadap sejumlah

anak di Amerika dan Kanada (Widyawati, 2003: 115).

Ketidakberfungsian tersebut mengakibatkan permasalahan pada otak

yang menyebabkan otak tidak mampu untuk melakukan analisis,

pengorganisasian, dan tidak mampu dalam hubungan sensori. Akibat

ketidakberfungsian sensoris integrasi, seorang anak tidak dapat melakukan

(46)

bermakna secara konsisten. Anak akan mendapatkan kesulitan dalam

menggunakan informasi sensoris untuk membuat rencana atau disorganisasi

dengan apa yang semestinya dilakukan. Jadi, ia tidak belajar secara mudah.

Bentuk-bentuk belajar tersebut adalah adaptive behavior, motor learning,

dan academic learning (Delphie, 2009: 49 ± 59).

Dalam Delphie (2009: 70) A. Jean Ayres menyoroti tiga tugas

penting sistem sensori pusat tubuh pada indera, antara lain sebagai berikut:

1. The tactile sense atau indera peraba, yaitu indera yang memproses

informasi tentang sentuhan yang diterima melalui kulit.

2. The vestibular sense atau indera ruang depan, yaitu indera yang

melakukan proses informasi tentang gerak, gravitasi, dan keseimbangan

yang diterima melalui telinga bagian dalam.

3. The proprioceptive sense, yaitu indera yang memproses informasi

berkaitan dengan posisi tubuh dan bagian-bagian tubuh yang diterima

melalui otot-otot, ikatan sendi tulang, dan tulang sendi.

Integrasi sensori atau sensory intregration adalah proses

pengorganisasian secara neurologis dari pengorganisasian informasi yang

didapatkan dari seluruh tubuh dan dari dunia sekeliling yang digunakan

dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini terjadi di sistem saraf pusat yang

terdiri dari urat saraf (neuron), tulang belakang (spinal cord), dan otak.

Tugas utama sistem saraf pusat adalah untuk menyatukan indera.

Berdasarkan A. Jean Ayres, lebih dari 80% sistem saraf terlibat dalam

(47)

mesin pemrosesan sensoris atau sensory processing machine paling utama

(Delphie, 2009: 70).

Menurut Waluyo (2012) pengintegrasian sensoris adalah dasar untuk

memberikan respon adaptif terhadap tantangan yang ditimbulkan oleh

lingkungan dan pembelajaran. Sedangkan menurut Kasdanel (2013) sensori

integrasi melibatkan dan mengaktifkan seluruh sensori yang ada yaitu

penglihatan, pendengaran, indera peraba, dan gerakan-gerakan. Selanjutnya

menurut Waiman (2011) sensori integrasi adalah konsep neuroplasitistas

atau kemampuan sistem saraf untuk beradaptasi dengan input sensori yang

lebih banyak. Berdasarkan konsep progres perkembangan, sensori integrasi

terjadi saat anak mulai mengerti dan menguasai input sensori yang di alami.

Sensory integration (SI) adalah sebuah proses otak alamiah yang

tidak disadari. Dalam proses ini informasi dari seluruh indera akan dikelola,

disaring mana yang penting dan mana yang diacuhkan (Nanaholic, 2012

dalam Al Hazmi, 2014). Senada dengan Lakoff & Johnson (2003 dalam

Park, 2012) pendekatan integratif sensorik mengatasi dasar abstrak berpikir

yaitu bagaimana tubuh dan penginderaan akan berproses atas hidupnya

kelak.

Terapis okupasi sensori integrasi dapat bermanfaat untuk autis

(Case-Smith & Miller, 1999; Watling, Deitz, Kanny, & McLaughlin, 1999

dalam Watling, 2007). Senada dengan penyataan Watling et al., (1999 dalam

Pfeiffer, 2011) sensori integrasi merupakan pendekatan pengobatan yang

(48)

Terapi ini dirancang untuk memberikan pengalaman sensorik yang

dikendalikan sehingga adaptif respon motor akan timbul (Baranek, 2002

dalam Pfeiffer, 2011).

Secara teori, terapi ini menjelaskan proses biologis pada otak untuk

mengolah serta menggunakan berbagai informasi secara baik dan sesuai

situasi. Input sensorik bermacam-macam, bisa dirasa dengan rabaan,

didengar, dilihat, dan dicium. Dengan sesorik pendengaran dan penglihatan

yang baik dapat membuat anak membedakan suara dan warna. Anak autis

sering mengalami masalah dengan daya sensoriknya karena alat-alat indera,

serabut saraf, dan jaringan saraf mengalami gangguan sehingga peyampaian

informasi ke otak tidak sempurna. Kondisi ini tergantung pada gradasi autis

yang diderita setiap anak. Jika sensoriknya tidak bekerja dengan baik maka

anak autis kurang atau tidak mampu menerima input sensorik dengan baik.

Anak dianggap mengalami gangguan pertumbuhan sensori integrasi dan

memerlukan terapi (Widyawati, 2003: 116).

Tujuan terapi ini adalah untuk meningkatkan modulasi sensorik yang

berhubungan dengan perilaku, perhatian dan meningkatkan kemampuan

untuk interaksi sosial, keterampilan akademik, dan kemandirian. Kegiatan

tersebut akan direncanakan, dikendalikan, dan diarahkan sesuai dengan

kebutuhan anak autis yang ditandai dengan penekanan pada stimulasi

sensorik. Kegiatan ini dapat membantu saraf sistem memodulasi, mengatur,

dan mengintegrasikan informasi dari lingkungan, sehingga dapat merespon

(49)

2002; Kimball, 1993; Smith Roley dan Spitzer, 2001 dalam Schaaf, 2005)

terapi sensori integrasi akan melibatkan kegiatan motorik sensorik kaya

taktil, vestibular, dan proprioseptif sensasi. Lingkungan terapi dirancang

agar menyenangkan dengan sistem bermain agar tujuan tercapai. Kemudian

terapis mengobservasi, mengamati dan menafsirkan perilaku untuk

kepentingan anak.

Selanjutnya Reisman, (1993 dalam Smith 2005) menyatakan bahwa

karakteristik harus mendalam dalam melakukan kegiatan yang dilakukan

dengan menggunakan komunikasi preferensi, kontak mata, vokalisasi dari

kesenangan, atau sedang santai, peringatan, atau tersenyum. Hal ini senada

dengan Widyawati (2003: 116) yang menyatakan bahwa dengan terapi

sensori integrasi anak dibimbing melakukan berbagai aktivitas yang akan

memberinya berbagai input sensorik secara aktif. Terapi dirancang untuk

memberikan perangsang vestibuler (keseimbangan), proprioseptif (gerak,

tekan, dan posisi sendi otot), taktil (raba), audiotori (pendengaran), dan

visual (penglihatan).

Terapi ini dilakukan dengan pendekatan terapi berdasarkan asumsi

bahwa otak dapat dilatih untuk merasa, mengingat, dan mampu melakukan

gerak yang lebih baik. Penekanan terhadap sensory motor untuk terapi ini

dirancang serta diterapkan sesuai dengan sensasi gerak dengan bentuk

informasi dan pesan sensoris dari lingkungan, kemudian diproses, dan

(50)

menjadi sebuah respon berupa gerakan-gerakan yang berarti sesuai dengan

pikiran dan perasaan anak.

Keberhasilan terapi tergantung beberapa faktor (Widyawati, 2003:

7), sebagai berikut:

1. Berat-ringannya gejala dan gangguan di dalam sel otak.

2. Makin muda umur anak pada saat terapi dimulai, semakin besar

kemungkinan berhasil. Umur ideal adalah 2-5 tahun, saat sel otak masih

bisa dirangsang untuk membentuk cabang-cabang neuron baru.

3. Makin cerdas anak semakin cepat menangkap hal-hal yang diajarkan.

4. Intensitas terapi dan seluruh keluarga harus ikut terlibat melakukan

komunikasi dengan anak.

Proses perkembangan sensory integration adalah menempati

rangkaian kesatuan. Menurut Kranowitz, (1998: 48 dalam Delphie, 2009:

(51)

Gambar 1. Empat Tingkatan Sensory Integration

C. HUBUNGAN TERAPI SENSORI INTEGRASI TERHADAP

MOTORIK KASAR ANAK AUTIS

Terapi sensori integrasi atau sensory intregration adalah suatu

metode proses pengorganisasian secara neurologis dari pengorganisasian

informasi yang didapatkan dari seluruh tubuh dan dari dunia sekeliling yang

digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Terapi ini dapat dilakukan pada

seorang anak yang mengalami sensory integration dysfunction (SID) yang

mengalami kekakuan. Anak-anak yang mengalami SID adalah anak-anak

penyandang autis yang mengalami ketidakberfungsian saraf pusat yang

mengakibatkan psikomotorik anak tersebut terganggu, sehingga mereka Academic Skills

Complex Motor Skills Regulation of Attetions

Organized Behavior Specialiation of Body and Brain

Visualization Self Esteem and Self Control

Auditory Perception Visual Perception Eye Hand Coordinator

(Pencil Skills) Visual Motor Integration Purposeful Acivity Body Percept (Body Awareness)

Bilateral Coordination (Teamed Use of Both Sldes of Body) Lateralization (Hand Preference)

Motor Planning (Praxis) Tactile Sense (Touch) Vestibular Sense (Blance and

Movement)

Proprioceptive Sense (Body Position) Visual and Auditory Sense

(52)

mengalami kesulitan dalam mempelajari gerak motorik. Artinya

perkembangan motorik mereka akan mengalami keterlambatan yang tidak

sesuai dengan usia normal anak sebanyanya sehingga mereka dipandang

VHEDJDL DQDN \DQJ ³WHUEHODNDQJ´ 'DUL VLQL PDND GLSLOLKODK SHUNHPEDQJDQ

motorik kasar agar dapat terlihat jelas perkembangan yang dialami seorang

anak melalui pengamatan.

Penelitian yang dilakukan Beth A. Pfeiffer., Kristie Koenig., Moya

Kinnealey., Megan Sheppard., Lorrie Henderson (2011) diketahui bahwa

hasil dari penelitian tersebut terdapat penurunan yang signifikan dalam

tingkah laku autis yang terjadi pada kelompok yang mendapat sensori

integrasi. Selain itu dapat mengidentifikasi ukuran tanggap sosial,

pengolahan sensorik, keterampilan fungsional motorik, dan faktor

sosial-emosional dengan tepat pada anak-anak dengan gangguan spektrum Autis

(ASD). Selanjutnya penelitian Renee L. Watling dan Jean Dietz juga

tentang intervensi integrasi sensorik ayres pada perilaku dan keterlibatan

tugas anak-anak dengan gangguan spektrum autis (ASD). Dari penelitian ini

tidak ada pola yang jelas dari perubahan perilaku yang tidak diinginkan atau

tugas manajemen yang muncul melalui tujuan pengukuran. Namun jika

integrasi sensorik Ayres dilakukan di lingkungan rumah akan menghasilkan

sebuah efek yang jelas dan diinginkan. Pada penelitian yang dilakukan

Petrin Kasdanel (2013) menggunakan pengukuran persentase huruf vokal

yang dapat ditulis anak-anak autis sebanyak tiga sesi. Dari penelitian

(53)

disimpulkan metode sensori integrasi efektif dalam meningkatkan

keterampilan menulis untuk anak autis di Ti-Ji Home Shooling Padang.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, diharapkan terdapat

pengaruh antara sensori integrasi dengan perkembangan motorik kasar anak

autis agar mereka mampu melakukan gerak yang lebih baik. Hal ini

disebabkan karena keterampilan dan perkembangan motorik kasar anak

memiliki komponen persepsi yang dapat menerima sebuah informasi dari

lingkungan dengan menggunakan sensori integrasi. Persepsi tersebut akan

terbentuk dengan baik, sebab terapi sensori integrasi dirancang dengan

sistem bermain yang menyenangkan bagi anak. Berdasarkan hasil persepsi

penerimaan informasi tersebut, informasi yang diterima akan diproses dan

diintegrasikan oleh otak melalui sistem saraf pusat sehingga menghasilkan

gerakan-gerakan yang diharapkan atau sesuai perintah yang diterima.

D. KERANGKA TEORITIS

Rarick, 1973 (dalam Saputra Y, 2005: 40 dalam Assjari, 2011)

menyatakan bahwa anak yang diidentifikasi sebagai autis, kemampuan

geraknya kurang dibanding dengan anak normal sebayanya. Hal ini diukur

dari kemampuan gerak statis dan dinamis, kekuatan, koordinasi,

keseimbangan dan kelincahan. Veskarisyanti, A. (2008: 47 dalam Assjari,

2011) menyatakan bahwa beberapa anak penyandang autis mengalami

gangguan pada perkembangan motorik, otot kurang kuat untuk berjalan,

(54)

sekitar 40 persen anak autis memiliki beberapa ketidaknormalan kepekaan

inderawi (Rimland, 1990 Assjari, 2011). Maka perkembangan mental yang

tertinggal akan membawa dampak pada kemampuan motorik anak autis

yang disebabkan adanya gangguan pada sistem saraf pusat. Hal ini

ditunjukkan dengan kurang mampu dalam aktifitas motorik untuk

tugas-tugas yang memerlukan kecepatan gerakan serta dalam melakukan reaksi

gerak yang memerlukan koordinasi motorik dan keterampilan gerak yang

lebih kompleks, misalnya keterampilan bola, keseimbangan, deksteritas

manual, gerakan cepat dan menulis dengan tangan.

Banyak penyebab terlambatnya perkembangan motorik, biasanya

timbul dari kerusakan otak pada waktu lahir atau kondisi pralahir yang tidak

menguntungkan. Akan tetapi keterlambatan ini lebih sering disebabkan oleh

kurangnya kesempatan untuk mempelajari keterampilan motorik,

perlindungan orang tua yang berlebihan, atau kurangnya motivasi anak

untuk mempelajarinya. Namun hal-hal tersebut masih dapat dikendalikan

namun sebagian lain tidak dapat dikendalikan (Tjandrasa, dkk. 1997: 164).

Rahantoknam, (1998: 13) berasumsi bahwa semua keterampilan motor

sensori memiliki komponen persepsi. Sesuai dengan konsep bahwasanya

keterampilan motorik perlu dianalisis, baik dari prasyarat persepsi maupun

dari prasyarat motorik. Untuk itu, maka keterampilan motorik digunakan

untuk menunjukkan setiap aktivitas otot yang diarahkan kepada suatu tujuan

khusus. Setiap kegiatan yang dilakukan ini dapat dilihat sebagai suatu

(55)

yang kecil. Sehingga dapat memunculkan keterampilan motorik yang

berjalan baik dan optimal secara keseluruhan.

Kemampuan motorik yang dapat terlihat berjalan secara baik dan

optimal melalui kasat mata adalah motorik kasar dengan kegiatan melalui

kehidupan sehari-hari anak normal maupun anak berkebutuhan khusus.

Teruntuk anak berkebutuhan khusus, yaitu anak autis memerlukan sebuah

terapi yang dapat membantu dalam menyusul keterlambatan perkembangan

motorik kasar. Sehingga diperlukan lingkungan terapi sensori integrasi yang

menyenangkan dengan sistem bermain agar sebuah tujuan mencapai sesuai

harapan. Kemudian selama dilakukan terapi tersebut dapat dilakukan

observasi, mengamati dan menafsirkan perilaku yang dilakukan untuk

kepentingan anak itu sendiri. Diperoleh kerangka teoritik sebagai berikut:

Gambar 2. Kerangka Teoritik Peningkatan Perkembangan

Motorik Kasar Anak Autis Terapi Sensori Integrasi Efektif

Pemberian Terapi Sensori Integrasi

Motorik Kasar Anak Autis

Gambar

Tabel 1 Kemampuan Motorik
Tabel 2 Keterampilan Motorik Kasar Pada Masa Kanak-Kanak Awal
Gambar 1. Empat Tingkatan  Sensory Integration
Gambar 2. Kerangka Teoritik
+7

Referensi

Dokumen terkait