SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Strata
Satu (S1) Psikologi (S.Psi)
Iqlima Anggraeni B77211101
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI DAN KESEHATAN
TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK AUTIS DI MUTIARA BANGSA
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Strata
Satu (S1) Psikologi (S.Psi)
Iqlima Anggraeni B77211101
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
Iqlima Anggraeni B77211101 yang berjudul Efektivitas Terapi Sensori Integrasi Terhadap Perkembangan Motorik Kasar Anak Autis Di Mutiara Bangsa. Perkembangan kemampuan motorik kasar anak autis lebih rendah dibanding dengan anak normal sebayanya. Jika hal ini dibiarkan tentu akan menimbulkan permasalahan motorik kasar selanjutnya. Sehingga diperlukan perhatian khusus berupa terapi, yaitu dengan terapi sensori integrasi. Penelitian ini menggunakan kasus tunggal (single–case experimental design) dengan desain eksperimen A – B – A dan menggunakan statistika deskriptif sederhana yang dianalisis berdasarkan grafik analisis visual. Pada penelitian ini mengukur 11 aspek kemampuan perkembangan motorik kasar anak autis yang menjadi target behavior dengan menggunakan skala Geddes Psychomotor Inventory (GPI). Subjek penelitian ini adalah 1 anak penyandang autis berusia 4 tahun yang berjenis kelamin laki-laki. Penelitian ini dilakukan sebanyak 12 kali pertemuan yaitu 3 kali pre-test (A1), 6 kali treatment (B), dan 3 kali post-test (A2). Pada hasil penelitian ini didapatkan bahwasanya grafik analisis visual pada 11 aspek kemampuan motorik kasar mengalami peningkatan yang terlihat dari perubahan arah dan efeknya mengarah ke arah (+) dan persentase overlap treatment (B) ke post-test (A2) berada pada angka 0% yang berarti semakin kecil persentase overlap, maka semakin baik pengaruh treatment terhadap target behavior. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terapi sensori integrasi efektif dalam meningkatkan perkembangan motorik kasar pada anak autis di Mutiara Bangsa.
Iqlima Anggraeni B77211101 entitled Tthe effectiveness of sensory integration therapy for the problems of grass motoric development for autistic children in Mutiara Bangsa. The development of autistic children's grass motor ability is lower than normal children. If this case is ignored, it will cause the next Grass Motor problems. Thus, it needs special emphasis that is sensory integration therapy. This research uses single–case experimental design by experimental design A – B – A and uses simple descriptive statistic which analyzes according to the visual of graphic analysis. this research measures 11 aspects of the ability of grass motor skill development for autistic children that becomes the behavior target by using Geddes Psychomotor Inventory (GPI) scale. The subject of this research is 4 year old autistic male child. this research was done in 12 meetings that are 3 times of pre-tests (A1), 6 times of treatments(B), dan 3 times of post-tests (A2). The result of this research is visual of graphic analysis on 11 aspects of grass motor skill ability that experiences the increase which can be seen From the change of direction and the effect comes to (+) and percentage of overlap treatment (B) to post-test (A2) is on 0% which is the smaller overlap percentage, the better the treatment effect of behavior target. from the results, it can be concluded that sensory integration therapy is effective in increasing the development of grass motor skill for autistic children in Mutiara Bangsa.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
E. Keaslian Penelitian ... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 16
A. Motorik Kasar Anak Autis ... 16
1. Autis ... 16
2. Perkembangan Motorik ... 19
B. Terapi Sensori Integrasi ... 35
C. Hubungan Terapi Sensori Integrasi Terhadap Motorik Kasar Anak Autis ... 42
D. Kerangka Teoritis ... 44
E. Hipotesis ... 47
BAB III METODE PENELITIAN ... 48
A. Variabel dan Definisi Operasional ... 48
1. Terapi Sensori Integrasi ... 48
2. Motorik Kasar Anak Autis ... 49
B. Subjek Penelitian ... 50
C. Desain Eksperimen... 50
D. Prosedur Eksperimen ... 55
E. Instrumen Penelitian ... 57
1. Alat Ukur Yang Digunakan ... 57
2. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 58
F. Validitas Eksperimen ... 64
G. Analisis Data ... 68
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 69
A. Deskripsi Subjek ... 69
C. Hasil ... 71
D. Pembahasan ... 194
BAB V PENUTUP ... 208
A. Kesimpulan ... 207
B. Saran ... 208
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Anak adalah titipan Tuhan yang sangat berharga. Saat diberi sebuah
kepercayaan untuk mempunyai anak, maka para calon orangtua akan menjaga
sejak dalam kandungan sampai lahir ke dunia. Pertumbuhan dan
perkembangan buah hati yang sempurna merupakan dambaan dan keinginan
setiap pasangan. Sehingga para calon ibu akan mengkonsumsi berbagai
macam vitamin, gizi maupun suplemen untuk menjaga kesehatan bayi selama
dikandungan. Selain itu, calon ibu akan menghindari aktifitas berat yang
beresiko mengganggu proses kehamilan agar tidak terjadi pendarahan, infeksi
virus, kelahiran bayi abnormal, dan penyebab lainnya. Setelah bayi terlahir ke
dunia, para orang tua pun akan memberikan perhatian dan perawatan lebih
lanjut dalam proses yang mempengaruhi tumbuh kembang anak baik hal
positif maupun negatif.
Setiap anak akan mengalami proses perkembangan yang terdiri atas
dimensi biologis, kognitif, dan sosial. Bahkan dalam satu dimensi biologis,
kognitif, dan sosial berpengaruh di dalam dirinya (Desmita, 2010: 26).
Unsur-unsur perkembangan tersebut akan mempengaruhi satu dengan yang lain.
Walaupun orang tua sudah memberikan perhatian dan perawatan yang baik
berkebutuhan khusus misalnya autis, ADHD/ADD, downsyndrome, cerebral
palsy dan sejenisnya.
Bagi anak-anak yang terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus seperti
autis, akan mengalami gangguan perkembangan yang biasanya tampak jelas
sebelum anak mencapai usia 3 tahun (Winarno, 2013: 1). Autis berarti self
atau diri sendiri yang artinya cenderung hidup dalam dunianya sendiri. Autis
berasal dari bahasa Yunani kuno. Penyandang kelainan sindrom ini ditemukan
oleh Leo kanner yang disebut early infantile autis (Delphie, 2009: 4). Secara
teknis, para psikolog menggunakan salah satu diagnosa yang digunakan secara
global di seluruh penjuru dunia untuk mendeteksi autis yaitu dengan
Diagnostic and Statistical of Mental Disorder ke IV (DSM-IV) yang dibuat
oleh American Psychiatric Association (APA) atau International
Classification of Diseases-10 (ICD-10) tahun 1994, yang merupakan suatu
sistem diagnosis yang digunakan oleh WHO.
Anak autis merupakan individu dengan hendaya (gangguan)
perkembangan atau developmental disorders (Delphie, 2009: 2). Penyandang
autistik usia dini dapat dideteksi melalui suatu diagnosis khusus oleh medis
atau psikolog sejak usia 30 bulan (APA, 1980 dalam Delphie, 2009: 5).
Penelitian terkini menemukan bahwa angka penderita autis setiap tahunnya
semakin meningkat pesat dan bisa mengenai siapa saja, baik sosio-ekonomi
yang berkecukupan maupun yang kurang, berbagai etnis, bahkan anak-anak
yang tinggal di negara maju. Namun ada keberuntungan tersendiri bagi
memiliki kesempatan terdiagnosis lebih dulu. Sehingga tata laksana
penanganan lebih dini akan menghasilkan hasil yang lebih baik di kehidupan
mereka kelak.
Survei pertama kali mengenai prevalensi autis pada tahun 1979
menunjukkan 4 : 10.000 (Lotter, 1966 dalam Martine, 2011). Pada tahun
1999, Fambonne (1999) memperkirakan prevalensi untuk autis menjadi 10 :
10.000 dan kasus mengenai ASC (Autis Spectrum Disorder) menjadi 30 ± 60
kasus per 10.000. Perkiraan ini didasarkan pada studi yang dilakukan di
Eropa, AS, Kanada dan Jepang. Telah dilakukan sebuah penelitian terbaru di
Inggris yang memperkirakan prevalensi populasi ASC (Autis Spectrum
Disorder) naik dan menjadi sekitar 1% (116 : 10.000) (Bairds et al, 2006;
Baron-Cohen et al, 2009 dalam Martine, 2011).
Selain itu, terdapat sebuah riset yang mengungkapkan bahwa berkisar 5
- 7% anak-anak mengalami gangguan mental yang membutuhkan penanganan
secara khusus. Jika di jumlahkan dengan yang mengalami gangguan tidak
terlalu berat, angka prevalensinya dapat mencapai 60%. Hal ini menunjukkan
bahwa sangat banyak anak-anak yang terganggu mentalnya dan kurang
memperoleh perhatian dari banyak kalangan. Diperkirakan sebanyak 50%
anak-anak yang terganggu mentalnya tetap berlangsung hingga masa remaja
dan bahkan sampai dewasa (Hoare dan McIntosh dalam prasetyono, 2008
dalam Mufadhilah, 2014). Adapun data terbaru dari Center for Disease
Amerika Serikat menderita autis. Angka ini naik 57% dari data tahun 2002
yang memperkirakan angkanya 1 dibanding 150 anak (Anna, 2009).
Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan dari Badan Pusat Statistik
2010, memperkirakan terdapat 112.000 anak di Indonesia menyandang autis,
pada rentang usia sekitar 5 ± 19 tahun. Berdasarkan data dari UNESCO pada
tahun 2011 tercatat 35 juta orang penyandang autis di seluruh dunia. Ini
berarti rata-rata 6 dari 1000 orang di dunia mengidap autis. Penelitian Center
for Disease Control (CDC) di Amerika pada tahun 2008 menyatakan bahwa
perbandingan autis pada anak umur 8 tahun yang terdiagnosa dengan autis
adalah 1 : 80. Terdapat pula penelitian Hongkong Study pada tahun 2008 yang
melaporkan tingkat kejadian autis di Asia dengan prevalensi mencapai 1,68
per 1000 untuk anak di bawah 15 tahun (Melisa, 2013).
Dalam Peeters (2009: 3) autis ditempatkan di bawah kategori
³*DQJJXDQ 3HUNHPEDQJDQ 3HUYDVLI´ DQWDUD ³5HWDUGDVL 0HQWDO´ GDQ
³*DQJJXDQ 3HUNHPEDQJDQ 6SHVLILN´ Maksud dari di bawah kategori
³5HWDUGDVL 0HQWDO´ yaitu perkembangan menjadi lambat, sedangkan
³*DQJJXDQ 3HUNHPEDQJDQ 6SHVLILN´ MLND GL hadapkan pada perkembangan
yang lambat atau tidak normal pada suatu bidang kemampuan tertentu. Dalam
Assjari, dkk. (2011: 225) anak autis mengalami gangguan perkembangan
pervasif atau pervasive Developmental Disorders (PDDs-GPP) yang
menyebabkan anak mengalami kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi
sosial dengan orang lain, selain itu juga mengalami gangguan koordinasi
Hal tersebut senada dengan Rarick (1973 dalam Saputra Y, 2005, dalam
Assjari, dkk. 2011: 225) yang menyatakan bahwa anak yang di identifikasi
sebagai autis akan kurang kemampuan geraknya dibandingkan dengan anak
normal sebaya mereka yang di ukur dari kemampuan gerak statis dan dinamis,
kekuatan, koordinasi, keseimbangan dan kelincahan.
Berdasarkan kesulitan yang di alami oleh anak autis, gangguan
perkembangan motorik sangat berperan penting. Kemampuan individu sendiri
yang dapat terlihat jelas melalui kasat mata adalah motorik kasar. Motorik
kasar adalah aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh
(Soetjiningsih, 1995: 30). Menurut Desmita (2010: 98) perkembangan motorik
kasar (Grass Motor Skill) akan menunjukkan kesiapan anak dalam hal
keterampilan otot-otot besar lengan, kaki, dan batang tubuh. Motorik kasar
setiap anak haruslah berproses sesuai dengan umur mereka, namun pada anak
yang di diagnosis autis akan mengalami keterlambatan perkembangan.
Keterlambatan motorik kasar tersebut disebabkan oleh sensitivitas indera yang
juga terganggu. Sehingga diperlukan sebuah terapi untuk membantu dalam
mencapai keterlambatan motorik kasar anak autis agar setidaknya dapat
mencapai kesesuaian dengan usia mereka, sebab sistem sensori akan terus
mengalami perkembangan sejalan dengan bertambahnya usia anak.
Salah satu cara untuk menyikapi permasalahan keterlambatan
perkembangan motorik kasar yaitu diadakannya terapi sensori integrasi.
Sensori integrasi merupakan proses mengenal, mengubah, dan membedakan
DGDSWLIEHUWXMXDQ´ :DLPDQTerdapat manfaat lain dari terapi sensori
integrasi bagi anak-anak autis yaitu meningkatkan perkembangan motorik,
meningkatkan kemampuan akademik dan perilaku sosial. Penemu terapi
sensori integrasi ini adalah seorang seorang ahli terapi okupasional yang
bernama A. Jean Ayres. Ia adalah orang yang pertama kali menjelaskan
tentang masalah berkaitan dengan proses neurologis yang tidak efisien. Pada
tahun 1950 dan 1960 ia berhasil mengembangkan teori tentang
ketidakberfungsian sensori integrasi agar para ahli terapi okupasional lainnya
dapat melakukan assessment berkaitan dengan hendaya tersebut (Delphie,
2009: 49).
Pada anak yang mengikuti terapi sensori integrasi biasanya memerlukan
bantuan penuh. Sehingga disarankan melakukan terapi sensoris kepada ahli
terapis untuk dapat dievaluasi, diberikan treatmen, dan konsultasi. Selain itu
juga dapat dilakukan oleh terapi fisik atau physical therapist yang mampu
meningkatkan kemampuan fisik setiap individu autistik. Dengan mendapatkan
bimbingan latihan, maka anak autis dapat melakukan gerak dan memahami
semua informasi yang datang melalui otaknya dengan cara bermain yang
bersifat menggembirakan, bermakna, dan dilakukan secara ilmiah (Delphie,
2009: 99 ± 101).
Alasan peneliti mengambil subyek anak dengan gangguan autis karena
semakin banyak populasi anak autis di Indonesia khususnya di Surabaya yang
bukan hanya dari kalangan berada namun juga dari kalangan orang tak
sebab peneliti pernah melakukan studi lapangan pada semester tujuh dan telah
diketahui bahwasanya lembaga terapi ABK Mutiara Bangsa menggunakan
terapi sensori integrasi. Melalui terapi sensori integrasi ini akan terlihat
perkembangan motorik kasar pada anak autis, yang mana hal tersebut akan
mendukung variabel penelitian yang diangkat dalam penelitian ini. Pada
dasarnya sensori integrasi adalah sebuah media yang membantu subjek untuk
meningkatkan kemampuan perkembangan dan keterampilan motorik yang di
fokuskan pada motorik kasar akibat hendaya autistik. Penelitian ini memiliki
kriteria subjek yang di cari antara lain memiliki gambaran umum sebagai
berikut :
1. Subjek berusia 4 tahun.
2. Subjek berjenis kelamin laki-laki.
3. Mampu menerima instruksi terapis.
4. Perkembangan motorik kasar masih rendah.
5. Belum pernah menerima Terapi Sensori Integrasi.
Berdasarkan kriteria ini diatas, penelitian ini menggunakan subjek yang
berinisial AIP adalah siswa baru lembaga terapi anak berkebutuhan khusus
Mutiara Bangsa. AIP menjalani terapi karena ia mengalami beberapa
perkembangan yang terlambat, salah satunya adalah perkembangan motorik
kasar yang seharusnya AIP mampu lakukan pada usia tersebut. Dalam hal ini,
AIP memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti. AIP merupakan
bulan. AIP didiagnosis sebagai penyandang autis melalui tes rambut yang
pernah ia lakukan. Pada hasil tes rambut tersebut dinyatakan bahwasanya pada
tubuh AIP terdapat kadar logam yang berlebihan yaitu lead atau timbal.
Dari berbagai hal yang telah dijelaskan di atas, peneliti melakukan
penelitian perkembangan motorik kasar anak autis dengan menggunakan
observasi kegiatan motorik kasar melalui terapi sensori integrasi dengan cara
melakukan terapi dalam konsep bermain yang menyenangkan bagi anak-anak
dan tetap membawa dampak yang bermakna dan dilakukan secara ilmiah. Dari
sini akan diketahui seberapa efektif terapi sensori integrasi, maka peneliti
PHQJDPELOMXGXO³Efektivitas terapi sensori integrasi terhadap perkembangan
PRWRULNNDVDUDQDNDXWLVGL0XWLDUD%DQJVD´
B. RUMUSAN MASALAH
Atas dasar pemikiran di atas serta gambaran latar belakang masalah
yang sering terjadi dalam suatu masyarakat, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut : ³Apakah terapi sensori integrasi efektif
terhadap perkembangan motorik kasar anak autis di Mutiara Bangsa?´.
C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui
keefektifan terapi sensori integrasi terhadap perkembangan motorik kasar anak
D. MANFAAT PENELITIAN
Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberi manfaat secara
teoritis maupun praktis :
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberikan
konstribusi atas temuan-temuan yang diteliti baik bagi peneliti maupun
progam studi, berguna dalam ilmu psikologi khususnya psikologi klinis
dalam bidang terapi sensori integrasi untuk anak berkebutuhan khusus
yaitu autis, dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan yang
berhubungan tentang penyandang autis dan motorik kasar,
mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berfikir melalui
penelitian yang diterapkan di lapangan.
2. Manfaat Praktis
a. Manfaat Orang Tua
Diharapkan dari penelitian ini orang tua dapat melakukan terapi
sensori integrasi jika sedang berada di rumah, agar anak dapat
mengendalikan dan meningkatkan gerak motorik kasar peyandang autis
sehingga dapat beraktifitas lebih lancar.
b. Manfaat Untuk Psikolog Klinis dan Terapis
Diharapkan dari penelitian ini psikolog klinis dan terapis
mampu memahami dan membantu pencapaian efektivitas terapi sensori
integrasi terhadap motorik kasar anak autis agar kelak mereka mampu
c. Dapat mengetahui tentang keberhasilan terapi sensori integrasi terhadap
perkembangan motorik kasar anak autis
E. KEASLIAN PENELITIAN
Terdapat penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini untuk
dikaji diantaranya adalah
Dalam penelitian Petrin Kasdanel (2013) yang berjudul efektifitas
sensori integrasi untuk meningkatkan kemampuan menulis permulaan pada
anak autis Di Ti-Ji Home Schooling Padang. Penelitian ini dilatarbelakangi
oleh masalah yang peneliti temukan di Ti-Ji Home Schooling Padang, anak
autis yang berumur delapan tahun, masih belum mampu menulis mulai,
terutama huruf vokal (a, i, u, e, o). Penelitian ini tunggal subjek penelitian
dengan desain ABA dan teknik analisis data menggunakan grafik analisis
visual. Variabel pengukuran menggunakan persentase masing-masing vokal
yang dapat ditulis anak-anak. Pengamatan dilakukan dengan tiga sesi pertama,
sesi sebelum diberikan Intervensi dasar saat pretest, a1, dilakukan tujuh kali
pengamatan, persentase vokal. Keterampilan menulis dalam kondisi ini
terletak pada kisaran 0%, dan 20% adalah pada pertemuan persatuan, kedua,
ketiga, kelima, hari keenam dan ketujuh anak bisa tidak akan ada tulisan
dimulai pada vokal. Namun pada pertemuan empat anak-anak untuk menulis
vokal tunggal adalah huruf "i". Kedua, sesi intervensi, b, dengan
menggunakan pengamatan sensory integrasi dibuat sebanyak sepuluh kali,
pada kisaran 20%, 40%, 60%, dan 80% dari anak-anak mampu menulis vokal
(a, i, u, o). Sesi awal ketiga, posttest, a2 dilakukan lima kali pengamatan, hasil
diperoleh dalam kemampuan anak untuk menulis awal peningkatan yang ada
di kisaran 90% yang sebelumnya anak-anak bisa menulis huruf (a, i, u, o)
untuk 100%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan metode integrasi
sensory efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis untuk Anak
dimulai autis Ti-Ji Home Schooling Padang.
Musjafak Assjari dan Eva Siti Sopariah (2011) dalam penelitian yang
berjudul penerapan latihan sensorimotor untuk meningkatkan kemampuan
menulis pada anak Autistic Spectrum Disorder (ASD). Dari hasil penelitian
tersebut diketahui bertujuan untuk membuktikan bahwa penerapan latihan
sensorimotor dapat meningkatkan kemampuan menulis dan hasil menulis pada
anak Autistic Spectrum Disorder (ASD). Metode penelitian menggunakan
pendekatan kuantitatif, serta dalam intervensi dan analisis data menggunakan
metode Single Subject Research (SSR) model Design Multiple Baseline Cross
Variable (desain jamak antar variabel) dan desain A ± B ± A menggunakan
satuan ukur durasi dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
secara nyata subyek penelitian mengalami peningkatan dalam kemampuan
menulis. Oleh karena itu, latihan sensorimotor ini dapat dijadikan sebagai
acuan dalam meningkatkan atau mengoptimalkan kemampuan vestibular,
taktil, kinestetik dan propioseptif yang merupakan keterampilan prasarat
Dhofirul Fadhil Dzil Ikrom Al Hazmi, dkk. (2014) dalam penelitian
yang berjudul kombinasi neuro developmental treatment dan sensory
integration lebih baik daripada hanya neuro developmental treatment untuk
meningkatkan keseimbangan berdiri anak downsyndrome. Dari hasil
penelitian tersebut diketahui bahwa pada anak downsyndrome sering
ditemukan adanya gangguan keseimbangan berdiri yang menyebabkan ia tidak
dapat mempertahankan postur tubuh terhadap gangguan yang datang. Jika ini
dibiarkan tentu akan menimbulkan permasalahan perkembangan motorik
selanjutnya. Fisioterapi mempunyai metode neuro developmental treatment
dan sensory integration. Metode penelitian yang digunakan adalah
eksperimental dengan rancangan penelitian randomized pre and post test
group design dengan sampel sebanyak 18 anak downsyndrome yang
mengalami permasalahan keseimbangan berdiri dan waktu penelitian selama
dua bulan. Kelompok dibagi menjadi dua, yaitu kelompok-1 (neuro
developmental treatment) dan kelompok-2 (neuro developmental treatment
dan sensory integration). Instrumen pengukuran yang digunakan adalah
sixteen balance test yang di ukur sebelum perlakuan (0 ±session) dan sesudah
perlakuan (6 ± session) pada masing-masing subjek. Berdasarkan variabel
sixteen balance test pada kedua kelompok menggunakan uji hipotesis
independent sample t-test didapatkan nilai p = 0,034. Kesimpulan yang
didapatkan nilai p < 0,05. Nilai tersebut menjelaskan kombinasi neuro
neuro developmental treatment untuk meningkatkan keseimbangan berdiri
anak downsyndrome.
Penelitian selanjutnya dari Renee L. Watling dan Jean Dietz (2007)
yang berjudul LPPHGLDWH HIIHFW RI D\UHV¶V VHQVRU\ LQWHJUDWLRQ±based occupational therapy intervention on children with autis spectrum disorders.
Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa penelitian ini akan meneliti efek
dari intervensi integrasi sensorik ayres pada perilaku dan keterlibatan tugas
anak-anak dengan gangguan spektrum autis (ASD) dengan bantuan dari
pengamatan klinis dan pengasuh perilaku untuk membantu memandu
penyelidikan masa depan. Metode yang digunakan adalah Single Subject
Research (SSR) dengan desain A ± B ± A ± B untuk membandingkan efek
langsung dari sensorik Ayres dunia integrasi dan skenario bermain dengan
melibatkan 4 anak-anak dengan ASD. Dari penelitian ini tidak ada pola yang
jelas dari perubahan perilaku yang tidak diinginkan atau tugas manajemen
yang muncul melalui tujuan pengukuran. Kesimpulannya adalah jangka
pendek integrasi sensorik Ayres tidak memiliki efek substansial berbeda dari
skenario bermain pada perilaku yang tidak diinginkan atau keterlibatan dari
anak-anak dengan gangguan spektrum autis (ASD). Namun, data subjektif
menunjukkan bahwa integrasi sensorik Ayres mungkin menghasilkan efek
yang jelas selama sesi perawatan dan di dalam lingkungan rumah.
Beth A. Pfeiffer, dkk. (2011) dengan penelitian yang berjudul
effectiveness of sensory integration interventions in children with autis
bahwa bertujuan untuk membangun model untuk acak penelitian uji coba
terkontrol, mengidentifikasi ukuran hasil yang tepat, dan mengatasi efektivitas
integrasi sensori (SI) yang mengintervensi anak-anak dengan gangguan
spektrum autis (ASD). Penelitian ini menggunakan anak-anak usia 6-12
dengan ASD secara acak untuk motor halus atau kelompok perlakuan sensori
integrasi. Pretest dan posttest diukur melalui sosial, sensorik pengolahan,
keterampilan motorik fungsional, dan faktor sosial-emosional. Dari penelitian
ini menghasilkan identifikasi signifikan positif perubahan goal pencapaian
skor scaling untuk kedua kelompok; perubahan lebih signifikan terjadi di
sensori integrasi kelompok, dan penurunan yang signifikan dalam laku autis
terjadi pada kelompok sensori integrasi. Tidak ada hasil lain signifikan namun
penelitian ini dapat mempertimbangkan untuk hasil studi setelah
menggunakan sensori integrasi terhadap masa depan untuk anak-anak dengan
gangguan spektrum autis (ASD).
Selanjutnya adalah penelitian dari Sinclair A. Smith, dkk. (2005) yang
berjudul Effects of Sensory Integration Intervention on Self-Stimulating and
Self-Injurious Behaviors. Dari penelitian ini diketahui bahwa Penelitian ini
membandingkan efek terapi okupasi, menggunakan pendekatan integrasi
sensori (SI) dan kontrol intervensi kegiatan tabletop. Penelitian ini ditujukan
pada anak yang berusia 8 ± 19 tahun dengan keterlambatan perkembangan
yang meluas dan keterbelakangan mental. Melalui segmen rekaman video 15
menit sehari akan dicatat sebelumnya, setelah, dan satu jam setelah baik
segmen video 15 menit dievaluasi oleh peneliti untuk menentukan frekuensi
perilaku diri seseorang. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perilaku
diri yang nampak secara signifikan dikurangi dengan 11% satu jam setelah
intervensi sensori integrasi dibandingkan dengan intervensi aktivitas tabletop
(P = 0,02). Tidak ada perubahan segera setelah sensori integrasi atau
intervensi tabletop. Peringkat harian self stimulating perilaku frekuensi dengan
guru kelas menggunakan skala 5-point berkorelasi secara signifikan dengan
jumlah frekuensi yang diambil oleh para peneliti (r = 0,32, p < 0,001).
Sehingga penelitian ini menunjukkan hasil bahwa pendekatan sensori integrasi
ini efektif dalam mengurangi perilaku diri merangsang, yang mengganggu
kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang lebih fungsional.
Penelitian-penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwasannya
memang terdapat peningkatan jika diberikan terapi sensori integrasi. Dimana
hal ini dapat menjadi rujukan atau tambahan referensi bagi peneliti dalam
melengkapi data-data yang peneliti perlukan. Pada penelitian kali ini akan
lebih memfokuskan pada terapi sensori integrasi terhadap perkembangan
motorik kasar anak autis. Penelitian ini sendiri memiliki kesamaan dengan
penelitian terdahulu yaitu sama-sama mencari tahu apakah terdapat efektivitas
dari terapi sensori integrasi. Sedangkan perbedaannya adalah variabel bebas
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. MOTORIK KASAR ANAK AUTIS
1. Autis
Autis berasal dari bahasa Yunani, auto yang berarti sendiri.
Istilah autis pertama kali diperkenalkan oleh Leo Kanner, seorang
psikiater dari Harvard pada tahun 1943. Beberapa ahli, menyebutkan
bahwa autis disebabkan karena adanya gangguan biokimia, sedangkan
ahli lain berpendapat bahwa autis disebabkan oleh gangguan psikiatri,
ada juga yang berpendapat autis disebabkan karena vaksin MMR
(Mumps, Measles, Rubella) (Widodo, 2008 dalam Wardani, 2009).
Delphie (2009: 4) menjelaskan bahwa autis berasal dari bahasa Yunani
kuno berarti self atau diri sendiri yang mempunyai pengertian cenderung
hidup dalam dunianya sendiri. Penyandang kelainan sindrom ini juga
disebut Early Infantile Autis.
$QDN DXWLV EXNDQ ³DQDN DMDLE´ DWDX ³SHPEDZD KRNL´ Gifted
Child) seperti kepercayaan sebagian orangtua. Jadi jangan
mengharapkan keajaiban muncul darinya, namun ia pun bukan bencana.
Autis merupakan suatu kumpulan sindrom akibat kerusakan saraf.
Penyakit ini akan mengganggu perkembangan anak. Untuk
mendiagnosis gangguan autis tidak memerlukan pemeriksaan yang
Pemeriksaan-pemeriksaan itu hanya dilakukan jika ada indikasi tambahan misalnya
jika anak sering kejang, baru dilakukan brain mapping atau EEG untuk
melihat apakah mengidap epilepsi (Widyawati, 2003: 2).
Autis (autisme) memiliki cara berpikir yang dikendalikan oleh
kebutuhan dirinya sendiri. Penyandang autis ini akan menanggapi dunia
berdasarkan penglihatan, harapan sendiri, dan menolak realitas. Autis
juga tenggelam dalam keasikan yang ekstrim dengan pikiran fantasi
mereka. Anak-anak yang menyandang status autis sering juga disebut
autistic child yaitu memiliki kecenderungan diam dan suka menyendiri.
Ketika hal ini terjadi, mereka bisa duduk dan bermain selama
berjam-jam lamanya dengan jari-jarinya atau dengan serpihan-serpihan kertas.
Maka dari sini tampak jelas bahwasanya mereka tenggelam dalam
fantasi yang dimiliki (Chaplin, 2006: 46).
Menurut Winarno (2013: 1) autis pada masa kanak-kanak adalah
gangguan perkembangan yang biasanya tampak jelas sebelum anak
mencapai usia 3 tahun. Tampak secara nyata anak-anak autis
mempunyai kesulitan untuk belajar berkomunikasi secara verbal dan non
verbal. Sehingga penyandang autistik usia dini dapat di deteksi melalui
suatu diagnosis khusus oleh medis atau psikolog sejak usia 30 bulan
(APA, 1980 dalam Delphie, 2009: 5). Menurut Wing (1996 dalam
Thompson, 2010: 86 ± 87) autis mengalami gangguan perkembangan di
antaranya gangguan komunikasi sosial, gangguan interaksi sosial, dan
lebih agar tidak mengabaikan semua hal yang berhubungan dengan
dunia luar.
Hadis (2006 dalam Ulmi, 2013) berpendapat bahwa autis adalah
salah satu anak berkebutuhan khusus yang memerlukan pendidikan dan
layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusian mereka
secara sempurna. Menurut Safaria (2005, dalam Mufadhilah, 2014)
mendefinisikan autis sebagai suatu gangguan perkembangan perpasif
yang secara menyeluruh mengganggu fungsi kognitif, emosi, dan
psikomotorik anak.
Pendapat Rarick, 1973 (dalam Saputra Y, 2005: 40 dalam
Assjari, 2011) menyatakan bahwa anak yang di identifikasi sebagai
autis, kemampuan geraknya kurang dibanding dengan anak normal
sebayanya. Hal ini diukur dari kemampuan gerak statis dan dinamis,
kekuatan, koordinasi, keseimbangan dan kelincahan. Senada dengan
Veskarisyanti, A. (2008: 47 dalam Assjari, 2011) menyatakan bahwa
beberapa anak penyandang autis mengalami gangguan pada
perkembangan motorik, otot kurang kuat untuk berjalan, serta
keseimbangan tubuhnya kurang baik. Sherill, 1984; Astati, (2001 dalam
Assjari, 2011) menjelaskan bahwa anak autis umumnya memiliki
kemampuan motorik yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok
anak sebayanya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Adapun pendapat bahwasanya sekitar 40 persen anak autis
Assjari, 2011). Maka perkembangan mental yang tertinggal akan
membawa dampak pada kemampuan motorik anak autis yang
disebabkan adanya gangguan pada sistem saraf pusat. Hal ini
ditunjukkan dengan kurang mampu dalam aktifitas motorik untuk
tugas-tugas yang memerlukan kecepatan gerakan serta dalam melakukan reaksi
gerak yang memerlukan koordinasi motorik dan keterampilan gerak
yang lebih kompleks, misalnya keterampilan bola, keseimbangan,
deksteritas manual, gerakan cepat dan menulis dengan tangan.
2. Perkembangan Motorik
Setiap makhluk hidup pasti mengalami perkembangan dalam
hidup mereka sejak dalam kandungan, terlahir ke dunia, hingga masa tua
dan mati. Begitu kompleks sistem perkembangan yang dialami oleh
seseorang dalam menjalani hidup di dunia ini. Yusuf (2005: 66)
menjelaskan bahwa tugas-tugas perkembangan akan berkaitan dengan
sikap, perilaku, atau keterampilan yang dimiliki oleh individu yang
sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Bagian tubuh manusia
atau fisik adalah sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.
Sehingga Kuhlen dan Thompson (Hurlock, 1956 dalam Yusuf, 2005:
101) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat
aspek, yaitu:
a. Sistem saraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan
b. Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan
kemampuan motorik.
c. Kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah
laku baru.
d. Struktur tubuh, yang meliputi tinggi, berat dan proporsi.
Berdasarkan penelitian genetika, khususnya neurologis yang
dilakukan terhadap kasus utama anak autis ditemukan bahwasanya
secara signifikan anak dengan sindrom autistik berasal dari luasnya
defisit dalam otak yang menyebabkan ketidakberfungsian sistem saraf
pusat pada otak (Durand, V. M. dan Barlow D. H., 2006: 552 dalam
Delphie 2009: 87).
Dalam buku anak prasekolah (2010 dalam Sujiono, 2010: 1.3)
tertulis bahwa masa lima tahun pertama adalah masa pesatnya
perkembangan motorik anak. Motorik adalah semua gerakan yang
mungkin didapatkan oleh seluruh tubuh, sedangkan perkembangan
motorik dapat disebut sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan
pengendalian gerak tubuh. Keterampilan motorik tersebut akan
berkembang sejalan dengan kamatangan saraf dan otak. Selanjutnya
Kranowitz, C. S. dalam Delphie (2009: 101) menyatakan bahwa anak
autis memerlukan perkembangan kemampuan sensoris seirama dengan
Selanjutnya Bernadeta Suhartini (2012: 5 dalam Hakim, 2013)
menjelaskan bahwa motorik merupakan perkembangan pengendalian
gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf,
otot, otak, dan spinal cord. Senada dengan penjelasan Audrey Curti
(1998; hurlock, 1956 dalam Yusuf, 2005: 104) bahwasanya otak akan
mempengaruhi dan menentukan aspek perkembangan individu baik
keterampilan motorik, intelektual emosional, sosial, moral, maupun
kepribadian. Sehinggga semakin matang perkembangan sistem saraf
otak yang mengatur otot, akan membentuk peningkatan perkembangan
keterampilan motorik anak.
Keterampilan motorik ini tidak akan berkembang jika melalui
kematangan saja, namun harus diimbangi dengan keterampilan yang
perlu dipelajari oleh setiap individu. Menurut Tjandrasa, dkk. (1997:
150) menjelaskan bahwa perkembangan motorik berarti perkembangan
pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat saraf, urat saraf,
dan otot yang terkoordinasi. Hal ini senada dengan Wulan (2012 dalam
Al Hazmi, 2014) yang menyatakan bahwa perkembangan motorik yaitu
perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang
terkoordinir antara saraf dan otak. Perkembangan motorik yang
dimaksudkan adalah motorik kasar dan halus.
Menurut Rahyubi (2012: 225 ± 226 daODP0DV¶XGDK±
27) ada beberapa faktor yang berpengaruh pada perkembangan motorik
a. Perkembangan Saraf
Sistem saraf sangat berperan dalam perkembangan motorik karena
sistem saraf yang mengontrol aktivitas motorik tubuh.
b. Kondisi Fisik
Perkembangan motorik sangat erat kaitannya dengan fisik, maka
kondisi fisik tentu saja sangat berpengaruh dalam perkembangan
motorik seseorang.
c. Motivasi Yang Kuat
Seseorang yang punya motivasi kuat untuk menguasai keterampilan
motorik tertentu biasanya punya modal besar untuk meraih prestasi.
Apabila seseorang dapat melakukan aktivitas motorik dengan baik,
maka kemungkinan besar juga akan termotivasi untuk menguasai
keterampilan motorik yang lebih luas.
d. Lingkungan Yang Kondusif
Perkembangan motorik seseorang individu kemungkinan besar bisa
berjalan optimal jika lingkungan tempatnya beraktivitas mendukung
dan kondusif.
e. Aspek Psikologis
Aspek psikologis, psikis dan kejiwaan sudah sangat berpengaruh pada
f. Usia
Usia sangat berpengaruh pada aktivitas motorik seseorang. Seorang
bayi, anak-anak, remaja, dan masa tua tentu mempunyai karakteristik
keterampilan motorik yang berbeda pula.
g. Jenis Kelamin
Dalam keterampilan motorik tertentu, misalnya olahraga, faktor, jenis
kelamin cukup berpengaruh.
h. Bakat dan Potensi
Bakat dan potensi juga berpengaruh pada usaha meraih keterampilan
motorik.
Dariyo (2007: 127) juga menyebutkan bahwa terdapat 6 faktor
yang mempengaruhi perkembangan motorik yaitu perkembangan usia,
tercapainya kematangan organ-organ fisik, kontrol kepala, kontrol
tangan, kontrol kaki, dan lokomosi. Menurut Tjandrasa, dkk. (1997: 162)
menyatakan bahwa usia juga merupakan faktor dalam keterampilan
motorik. Semakin bertambah usia anak, semakin terampil, semakin besar
variasi keterampilan dan semakin baik kualitasnya.
Perkembangan motorik yang telah dijelaskan diatas, akan sangat
berhubungan erat dengan perkembangan kemampuan gerak seorang
anak. Gerak merupakan unsur utama dalam perkembangan motorik
anak. Oleh sebab itu, perkembangan kemampuan motorik anak akan
dapat mereka lakukan (Sujiono, 2010: 1.4). Sujiono (2010: 1.12) juga
menjelaskan bahwa perkembangan motorik adalah proses seorang anak
belajar untuk terampilan menggerakkan anggota tubuh. Beberapa pola
gerakan yang dapat mereka lakukan yang dapat melatih ketangkasan,
kecepatan, kekuatan, kelenturan, serta ketepatan koordinasi tangan dan
mata. Pengembangan kemampuan motorik sangat diperlukan agar
seorang anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Secara konseptual, jika seorang anak banyak bergerak maka akan
semakin banyak manfaat yang dapat diperoleh ketika ia semakin
terampil menguasai gerak motoriknya. Adanya suatu kemampuan atau
keterampilan motorik anak, akan menambahkan kreatifitas dan imajinasi
anak yang merupakan bagian dari perkembangan mental anak (Sujiono,
2010: 1.7).
Dalam keterampilan motorik yang terkoordinasi secara baik, otot
yang lebih kecil akan memainkan peran yang cukup besar. Seperti pada
WXOLVDQ&URQEDFKWHQWDQJ³kHWHUDPSLODQ´\DQJWHUGDSDWGDODP7MDQGUDVD
dkk. (1997: 154), sebagai berikut:
Keterampilan yang dipelajari dengan baik ini akan berkembang
menjadi kebiasaan. Hilgard, dkk. dalam Tjandrasa, dkk. (1997: 154)
melukiskan kebiasaan tersebut sebagai berikut
³VHWLDS EHQWXN \DQJberulang cepat lancar, tersusun dari pola gerakan yang dapat dikenal . . . umumnya seseorang kurang memperhatikan rincian kegiatan kebiasaanya . . . kebiasaan . . . relatif otomatis, pola gerakan yang berulang, khususnya sebagaimana terungap dalam gerakan terampil´
Hal ini senada dengan Desmita (2010: 97-98) yang menyatakan
bahwa keterampilan motorik adalah gerakan-gerakan tubuh atau
bagian-bagian tubuh yang disengaja, otomatis, cepat, dan akurat. Gerakan ini
merupakan rangkaian koordinasi dari beratus-ratus otot yang rumit.
Selanjutnya menurut Rahantoknam, (1998: 13) menyatakan bahwa
motorsensori dan keterampilan motorsensori adalah bermacam-macam
nama yang disingkat menjadi keterampilan motorik (Motor Skill), yang
digunakan dengan asumsi bahwa semua keterampilan motorik memiliki
komponen persepsi. Salah satu konsep yang dikemukakan adalah bahwa
keterampilan motorik perlu dianalisis, baik dari prasyarat persepsi
maupun dari prasyarat motorik. Untuk itu, maka keterampilan motorik
digunakan untuk menunjukkan setiap aktivitas otot yang diarahkan
kepada suatu tujuan khusus. Setiap kegiatan yang dilakukan ini dapat
dilihat sebagai suatu rangkaian kesatuan yang terbentang dari gerakan
yang luas sampai gerakan yang kecil. Sehingga dapat memunculkan
keterampilan motorik yang berjalan baik dan optimal secara
Perkembangan psikomotorik adalah modal dasar bagi
kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh seorang anak terutama bayi yang
nantinya menjadi gerakan motorik yang akan disadari. Gerakan motorik
tersebut terdiri dari gerakan motorik halus dan gerakan motorik kasar
yang keduanya akan menjadi sebuah modal bagi kegiatan bayi di masa
datang (Dariyo, 2007: 127).
Audrey Curti (1998; hurlock, 1956 dalam Yusuf, 2005: 104)
membagi 2 jenis keterampilan motorik, yaitu:
a.Keterampilan atau gerakan kasar, seperti berjalan, berlari, melompat,
naik dan turun tangga.
b.Keterampilan motorik halus atau keterampilan memanipulasi, seperti
menulis, menggambar memotong, melempar, dan menangkap bola
serta memainkan benda-benda atau alat-alat mainan.
Senada dengan Desmita (2010: 97 ± 98) yang menjelaskan
bahwasanya keterampilan motorik dapat dikelompokkan menurut
otot-otot dan bagian-bagian badan yang terkait, yaitu keterampilan motorik
kasar (Grass Motor Skill) dan keterampilan motorik halus (Fine Motor
Skill). Surya (2014: 13) mengemukakan bahwa perilaku motorik adalah
segala perilaku individu yang diwujudkan dalam bentuk gerakan atau
pembuatan jasmaniah seperti berjalan, berlari, duduk, melompat, menari,
menulis, dan sebagainya. Perilaku motorik ini pada umumnya dapat
Perilaku motorik yang disadari terjadi apabila berada dalam
kendali pusat kesadaran melalui saraf-saraf motorik. Aktivitas sensori
motor terbentuk melalui proses penyesuaian struktur fisik sebagai hasil
interaksi dengan lingkungan (Surya, 2014: 145). Hal ini senada dengan
Soetjiningsih (1995: 30) yang menyatakan bahwa perkembangan fisik
anak yang terlihat jelas oleh mata adalah motorik kasar. Motorik kasar
adalah aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
Menurut Sujiono (2010: 1.13) gerakan motorik kasar adalah
kemampuan yang membutuhkan koordinasi sebagian besar bagian tubuh
anak. Oleh karena itu, biasanya memerlukan tenaga karena dilakukan
oleh otot-otot yang lebih besar. Pengembangan gerakan motorik kasar
memerlukan koordinasi kelompok otot-otot anak tertentu yang dapat
membuat mereka dapat meloncat, memanjat, berlari, menaiki sepeda
roda tiga, serta berdiri dengan satu kaki. Bahkan, ada juga anak yang
dapat melakukan hal-hal yang lebih sulit, seperti jungkir bali dan
bermain sepatu roda. Desmita (2010: 98) menjelaskan bahwa gerakan
motorik kasar ini akan melibatkan aktivitas otot tangan, kaki, dan
seluruh tubuh anak. Hal ini senada dengan teori bahwasanya
perkembangan motorik kasar (Grass Motor Skill) akan menunjukkan
kesiapan anak dalam hal keterampilan otot-otot besar lengan, kaki, dan
batang tubuh.
Menurut Asep Deni (2011: 4 dalam Hakim, 2013) motorik kasar
atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi kematangan anak itu
sendiri meliputi gerak dasar lokomotor, non lokomotor, dan
manipulative.
Perkembangan fisik anak ditandai dengan berkembangnya
kemampuan atau keterampilan motorik, baik yang kasar maupun yang
lembut. Menurut Yusuf (2005: 164) kemampuan motorik tersebut dapat
dideskripsikan sebagai berikut:
Tabel 1 Kemampuan Motorik
Usia Kemampuan Motorik
Kasar
Kemampuan Motorik Halus
3 ± 4 Tahun
1. Naik dan turun tangga 2. Meloncat dengan dua
kaki
3. Melempar bola
1. Menggunakan krayon 2. Menggunakan benda/alat 3. Meniru bentuk (meniru
gerakan orang lain) 4 ± 6
Tahun
1. Meloncat
2. Mengendarai sepeda anak
3. Menangkap bola 4. Bermain olahraga
1. Menggunakan pensil 2. Menggambar
3. Memotong dengan gunting
4. Menulis huruf cetak
Selama menginjak usia 4 atau 5 tahun pertama kehidupan
pascalahir, anak dapat mengendalikan gerakan motorik kasar. Gerakan
tersebut melibatkan bagian badan yang luas yang digunakan untuk
berjalan, berlari, melompat, berenang, dan sebagainya (Tjandrasa, dkk.,
1997: 150).
Senada dengan Papalia (2008: 315) menyatakan bahwa
anak-anak prasekolah akan membuat kemajuan yang besar dalam
melompat yang melibatkan otot besar. Berikut adalah tabel keterampilan
motorik kasar pada masa anak awal:
Tabel 2 Keterampilan Motorik Kasar Pada Masa Kanak-Kanak Awal
3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun
Tidak dapat berbalik atau berhenti secara tiba-tiba atau cepat
Memiliki kontrol untuk berhenti, memulai, atau berputar yang lebih efektif
Dapat memulai, berbalik, dan berhenti secara efektif dalam permainan
Dapat meloncat dengan jarak lompatan 15 sampai 24 inci
Dapat melompat dengan jarak lompatan 14 ke 33 inci
Dapat melompat 28 sampai 36 inci
Dapat menaiki tangga tanpa dibantu, dengan menggunakan satu kaki secara berulang
Dapat menuruni tangga menggunakan satu kaki secara berulang, jika dibantu
Dapat menuruni tangga panjang dengan satu kaki secara berulang,
Dapat melompat satu kaki sampai enam kali
Dapat melompat 16 kali dengan mudah
Tulang yang semakin kuat dan kapasitas paru semakin besar
yang memungkinkan untuk berlari, melompat, dan memanjat lebih cepat,
lebih jauh, dan lebih baik. Sehingga anak-anak mampu beradaptasi
berdasarkan dukungan genetik dan peluang untuk belajar dan
mempraktikkan keterampilan motorik yang dimiliki. AAP Committe on
Sport Medicine dan Fitness (1992 dalam Papalia, 2008: 315)
mengatakan bahwa hanya 20 persen dari anak berusia 4 tahun yang
dapat melempar bola dengan benar, dan 30 persen yang dapat
Walkey (1996, dalam Sujiono 2010: 3.17 ± 3.23) memaparkan
bahwa perkembangan gerak anak baik motorik halus maupun kasar
berdasarkan usia kronologis dari 0 ± 5 tahun yang dapat dikembangkan
dalam kegiatan program pengembangan, seperti berikut ini:
a. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Umur 0 ± 1 Tahun
1) Bermain-main dengan tangan.
2) Mengamati mainan yang ada dalam genggaman.
3) Mencoba meraih suatu barang (meraup).
4) Melempar dan mengambil barang yang dilemparkan sambil
diamati yang terjadi.
5) Menahan barang yang dipegangnya.
6) Memegang benda kecil dengan telunjuk dan ibu jari.
7) Menunjuk titik tertentu, misalnya mata boneka.
8) Membuka lembaran buku/majalah.
9) Mengangkat kaki dan memainkan jari di depan mata.
10) Mengangkat kepala ketika ditengkurapkan.
11) Duduk dengan bantuan dan kepala tegak.
12) Mengangkat dada pada saat tengkurap dengan bertumpu pada
tangan.
13) Mencoba merangkak.
14) Duduk tanpa ditopang.
15) Mencoba berdiri sendiri dengan berpegangan.
b. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Umur 1 ± 2 Tahun
1) Meletakkan tutup gelas di atas gelas.
2) Mencorat-coret.
3) Menyusun balok dua sampai tiga balok.
4) Mencoba makan sendiri dengan sendok atau membuka buku.
5) Senang mendengarkan musik dan mengikuti irama.
6) Latihan berjalan tanpa dipegang.
7) Berjalan mantap.
8) Berjalan mundur satu sampai tiga langkah.
9) Berlari tanpa jatuh.
10)Naik turun tangga dengan berpegangan.
11)Memanjat kursi orang dewasa, merangka naik tangga.
12)Mulai meloncat walau sederhana.
c. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Umur 2 ± 3 Tahun
1) Meronce/merangkai manik-manik.
2) Mengaduk air digelas dengan sendok.
3) Membuka tutup botol yang bergulir dengan memutar.
4) Menggambar garis lurus.
5) Menyusun balok tiga sampai lima balok.
6) Berjalan lurus.
7) Berjalan mundur.
9) Memanjat.
10)Melompat bertolak dengan dua kaki sekaligus.
11)Belajar meniti.
d. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Umur 3 ± 4 Tahun
1) Meremas kertas.
2) Memakai dan membuka pakain dan sepatu sendiri.
3) Menggambar garis lingkaran dan garis silang (garis tegak dan
datar).
4) Menyusun empat sampai 7 balok.
5) Mengekspresikan gerak tari dengan irama sederhana.
6) Melempar bola.
7) Berjalan dengan baik (keseimbangan tubuh semakin baik).
8) Berlari dengan baik (keseimbangan tubuh semakin baik).
9) Berlari di tempat.
10)Naik turun tangga tanpa berpegangan.
11)Melompat dengan satu kaki bergantian.
12)Merayap dan merangkak lurus ke depan.
13)Senam mengikuti contoh.
e. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Umur 4 ± 5 Tahun
1) Menempel.
3) Mencobos kertas dengan pensil atau spidol.
4) Makin terampil menggunakan jari tangan (mewarnai dengan
rapi).
5) Mengancing baju.
6) Menggambar dengan gerakan naik turun bersambung (seperti
gunung atau bukit).
7) Menarik garis lurus, lengkung dan miring.
8) Mengekspresikan gerakan dengan irama bervariasi.
9) Melempar dan menangkap bola.
10)Melipat kertas.
11)Berjalan di atas papan titian (keseimbangan tubuh).
12)Berjalan dengan berbagai variasi (maju mundur di atas satu
garis).
13)Memanjat dan bergelantungan (berayun).
14)Melompat parit atau guling.
15)Senam dengan gerakan aktivitas sendiri.
Perkembangan-perkembangan yang telah dijelaskan akan
berjalan dengan baik jika anak-anak tidak mengalami gangguan
lingkungan atau fisik atau hambatan mental yang mengganggu
perkembangan motorik. Menurut Tjandrasa, dkk. (1997: 150) secara
tuntutan sekolah dan berperan serta dalam kegiatan bermain dengan
teman sebaya.
Selain itu banyak pula orang yang mengira bahwa satu-satunya
bahaya yang serius dalam perkembangan keterampilan dan koordinasi
motorik anak adalah kekauan. Meskipun tidak dapat disangsikan bahwa
kekakuan merupakan bahaya serius bagi penyesuaian sosial dan pribadi
yang baik. Kemungkinan bahaya yang lain adalah timbulnya masalah
psikologis yang serius. Perkembangan motorik yang terlambat berarti
perkembangan motorik yang berada dibawah norma umur anak.
Akibatnya, pada umur tertentu anak tidak mampu menguasai tugas
perkembangan yang diharapkan oleh kelompok sosialnya. Sebagai
contoh, anak yang berada dibawah norma untuk dapat berjalan dan
makan sendiri, akan dipandang sebagai anak \DQJ ³WHUEHODNDQJ´
(Tjandrasa, dkk. 1997: 164).
Dari sini banyak penyebab terlambatnya perkembangan motorik,
biasanya timbul dari kerusakan otak pada waktu lahir atau kondisi
pralahir yang tidak menguntungkan. Akan tetapi keterlambatan ini lebih
sering disebabkan oleh kurangnya kesempatan untuk mempelajari
keterampilan motorik, perlindungan orang tua yang berlebihan, atau
kurangnya motivasi anak untuk mempelajarinya. Namun hal-hal tersebut
masih dapat dikendalikan namun sebagian lain tidak dapat dikendalikan
B. TERAPI SENSORI INTEGRASI
Gangguan di otak tidak dapat disembuhkan, tapi dapat ditanggulangi
dengan terapi dini, terpadu dan intensif. Gejala-gejala autis dapat dikurangi
bahkan dihilangkan sehingga anak bisa bergaul secara normal, tumbuh
sebagai orang dewasa yang sehat, berkarya, bahkan membina rumah tangga.
Hal ini dikarenakan intervensi dini membuat sel-sel otak baru tumbuh,
menutup sel-sel lama yang rusak. Jika anak autis tidak atau terlambat
mendapat intervensi hingga dewasa maka gejala autis bisa menjadi semakin
parah, bahkan tidak tertanggulangi (Widyawati, 2003: 6).
Sindrom autistik berasal dari luasnya defisit dalam otak yang
menyebabkan ketidakberfungsian sistem saraf pusat pada otak.
Ketidakberfungsian sistem saraf pusat ini disebut juga sensory integration
dysfunction (SID) (Kranowitz, C. S., 1998: 8 dalam Delphie 2009: 87).
Sensory integration dysfunction adalah ketidakmampuan untuk memproses
informasi yang diterima melalui indera. Istilah lain yang digunakan adalah
sensory integration disorders. Sensory integration dysfunction disingkat
dengan SI dysintegration. Seorang ahli terapi okupasional bernama A. Jean
Ayres adalah orang yang pertama kali menjelaskan tentang masalah
berkaitan dengan proses neurologis yang tidak efisien. Pada tahun 1950 dan
1960 ia berhasil mengembangkan teori tentang ketidakberfungsian integrasi
sensori agar para ahli terapi okupasional lainnya dapat melakukan
assessment berkaitan dengan hendaya tersebut (Delphie, 2009: 49).
dan melakukan hubungan secara terpadu terhadap pesan-pesan yang masuk
melalui indera serta melakukan respon melalui seluruh saraf tubuh sesuai
dengan stimulus yang ada (Delphie 2009: 87).
Adanya sensory integration dysfunction (SID), seorang anak tidak
dapat melakukan respon terhadap informasi yang masuk melalui indera
mereka sehingga mengakibatkan ketidakmampuan dalam berperilaku secara
konsisten dan sesuai dengan kehidupan sehari-harinya. Ketidakberfungsian
saraf pusat tersebut mengakibatkan seorang anak mengalami
kesulitan-kesulitan antara lain berperilaku adaptif, mempelajari gerak, dan
mempelajari akademik (Delphie 2009: 88). Sehingga mereka memerlukan
bantuan penuh yang dapat dilakukan melalui pendekatan melalui terapi
khusus terhadap sensori integratif atau sensory integrative therapy
approach. Dalam Delphie (2009: 96) pendekatan ini dilakukan dengan
modifikasi saraf neurologis yang tidak berfungsi melalui belajar (A. Jean
Ayres, 1972 dalam Geddes, 1981: 137 dalam Delphie, 2009: 96). Sensori
integrasi (sensory integration) merupakan teori yang dikembangkan oleh Dr.
Ayres dan rekan-rekannya melalui berbagai penelitian terhadap sejumlah
anak di Amerika dan Kanada (Widyawati, 2003: 115).
Ketidakberfungsian tersebut mengakibatkan permasalahan pada otak
yang menyebabkan otak tidak mampu untuk melakukan analisis,
pengorganisasian, dan tidak mampu dalam hubungan sensori. Akibat
ketidakberfungsian sensoris integrasi, seorang anak tidak dapat melakukan
bermakna secara konsisten. Anak akan mendapatkan kesulitan dalam
menggunakan informasi sensoris untuk membuat rencana atau disorganisasi
dengan apa yang semestinya dilakukan. Jadi, ia tidak belajar secara mudah.
Bentuk-bentuk belajar tersebut adalah adaptive behavior, motor learning,
dan academic learning (Delphie, 2009: 49 ± 59).
Dalam Delphie (2009: 70) A. Jean Ayres menyoroti tiga tugas
penting sistem sensori pusat tubuh pada indera, antara lain sebagai berikut:
1. The tactile sense atau indera peraba, yaitu indera yang memproses
informasi tentang sentuhan yang diterima melalui kulit.
2. The vestibular sense atau indera ruang depan, yaitu indera yang
melakukan proses informasi tentang gerak, gravitasi, dan keseimbangan
yang diterima melalui telinga bagian dalam.
3. The proprioceptive sense, yaitu indera yang memproses informasi
berkaitan dengan posisi tubuh dan bagian-bagian tubuh yang diterima
melalui otot-otot, ikatan sendi tulang, dan tulang sendi.
Integrasi sensori atau sensory intregration adalah proses
pengorganisasian secara neurologis dari pengorganisasian informasi yang
didapatkan dari seluruh tubuh dan dari dunia sekeliling yang digunakan
dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini terjadi di sistem saraf pusat yang
terdiri dari urat saraf (neuron), tulang belakang (spinal cord), dan otak.
Tugas utama sistem saraf pusat adalah untuk menyatukan indera.
Berdasarkan A. Jean Ayres, lebih dari 80% sistem saraf terlibat dalam
mesin pemrosesan sensoris atau sensory processing machine paling utama
(Delphie, 2009: 70).
Menurut Waluyo (2012) pengintegrasian sensoris adalah dasar untuk
memberikan respon adaptif terhadap tantangan yang ditimbulkan oleh
lingkungan dan pembelajaran. Sedangkan menurut Kasdanel (2013) sensori
integrasi melibatkan dan mengaktifkan seluruh sensori yang ada yaitu
penglihatan, pendengaran, indera peraba, dan gerakan-gerakan. Selanjutnya
menurut Waiman (2011) sensori integrasi adalah konsep neuroplasitistas
atau kemampuan sistem saraf untuk beradaptasi dengan input sensori yang
lebih banyak. Berdasarkan konsep progres perkembangan, sensori integrasi
terjadi saat anak mulai mengerti dan menguasai input sensori yang di alami.
Sensory integration (SI) adalah sebuah proses otak alamiah yang
tidak disadari. Dalam proses ini informasi dari seluruh indera akan dikelola,
disaring mana yang penting dan mana yang diacuhkan (Nanaholic, 2012
dalam Al Hazmi, 2014). Senada dengan Lakoff & Johnson (2003 dalam
Park, 2012) pendekatan integratif sensorik mengatasi dasar abstrak berpikir
yaitu bagaimana tubuh dan penginderaan akan berproses atas hidupnya
kelak.
Terapis okupasi sensori integrasi dapat bermanfaat untuk autis
(Case-Smith & Miller, 1999; Watling, Deitz, Kanny, & McLaughlin, 1999
dalam Watling, 2007). Senada dengan penyataan Watling et al., (1999 dalam
Pfeiffer, 2011) sensori integrasi merupakan pendekatan pengobatan yang
Terapi ini dirancang untuk memberikan pengalaman sensorik yang
dikendalikan sehingga adaptif respon motor akan timbul (Baranek, 2002
dalam Pfeiffer, 2011).
Secara teori, terapi ini menjelaskan proses biologis pada otak untuk
mengolah serta menggunakan berbagai informasi secara baik dan sesuai
situasi. Input sensorik bermacam-macam, bisa dirasa dengan rabaan,
didengar, dilihat, dan dicium. Dengan sesorik pendengaran dan penglihatan
yang baik dapat membuat anak membedakan suara dan warna. Anak autis
sering mengalami masalah dengan daya sensoriknya karena alat-alat indera,
serabut saraf, dan jaringan saraf mengalami gangguan sehingga peyampaian
informasi ke otak tidak sempurna. Kondisi ini tergantung pada gradasi autis
yang diderita setiap anak. Jika sensoriknya tidak bekerja dengan baik maka
anak autis kurang atau tidak mampu menerima input sensorik dengan baik.
Anak dianggap mengalami gangguan pertumbuhan sensori integrasi dan
memerlukan terapi (Widyawati, 2003: 116).
Tujuan terapi ini adalah untuk meningkatkan modulasi sensorik yang
berhubungan dengan perilaku, perhatian dan meningkatkan kemampuan
untuk interaksi sosial, keterampilan akademik, dan kemandirian. Kegiatan
tersebut akan direncanakan, dikendalikan, dan diarahkan sesuai dengan
kebutuhan anak autis yang ditandai dengan penekanan pada stimulasi
sensorik. Kegiatan ini dapat membantu saraf sistem memodulasi, mengatur,
dan mengintegrasikan informasi dari lingkungan, sehingga dapat merespon
2002; Kimball, 1993; Smith Roley dan Spitzer, 2001 dalam Schaaf, 2005)
terapi sensori integrasi akan melibatkan kegiatan motorik sensorik kaya
taktil, vestibular, dan proprioseptif sensasi. Lingkungan terapi dirancang
agar menyenangkan dengan sistem bermain agar tujuan tercapai. Kemudian
terapis mengobservasi, mengamati dan menafsirkan perilaku untuk
kepentingan anak.
Selanjutnya Reisman, (1993 dalam Smith 2005) menyatakan bahwa
karakteristik harus mendalam dalam melakukan kegiatan yang dilakukan
dengan menggunakan komunikasi preferensi, kontak mata, vokalisasi dari
kesenangan, atau sedang santai, peringatan, atau tersenyum. Hal ini senada
dengan Widyawati (2003: 116) yang menyatakan bahwa dengan terapi
sensori integrasi anak dibimbing melakukan berbagai aktivitas yang akan
memberinya berbagai input sensorik secara aktif. Terapi dirancang untuk
memberikan perangsang vestibuler (keseimbangan), proprioseptif (gerak,
tekan, dan posisi sendi otot), taktil (raba), audiotori (pendengaran), dan
visual (penglihatan).
Terapi ini dilakukan dengan pendekatan terapi berdasarkan asumsi
bahwa otak dapat dilatih untuk merasa, mengingat, dan mampu melakukan
gerak yang lebih baik. Penekanan terhadap sensory motor untuk terapi ini
dirancang serta diterapkan sesuai dengan sensasi gerak dengan bentuk
informasi dan pesan sensoris dari lingkungan, kemudian diproses, dan
menjadi sebuah respon berupa gerakan-gerakan yang berarti sesuai dengan
pikiran dan perasaan anak.
Keberhasilan terapi tergantung beberapa faktor (Widyawati, 2003:
7), sebagai berikut:
1. Berat-ringannya gejala dan gangguan di dalam sel otak.
2. Makin muda umur anak pada saat terapi dimulai, semakin besar
kemungkinan berhasil. Umur ideal adalah 2-5 tahun, saat sel otak masih
bisa dirangsang untuk membentuk cabang-cabang neuron baru.
3. Makin cerdas anak semakin cepat menangkap hal-hal yang diajarkan.
4. Intensitas terapi dan seluruh keluarga harus ikut terlibat melakukan
komunikasi dengan anak.
Proses perkembangan sensory integration adalah menempati
rangkaian kesatuan. Menurut Kranowitz, (1998: 48 dalam Delphie, 2009:
Gambar 1. Empat Tingkatan Sensory Integration
C. HUBUNGAN TERAPI SENSORI INTEGRASI TERHADAP
MOTORIK KASAR ANAK AUTIS
Terapi sensori integrasi atau sensory intregration adalah suatu
metode proses pengorganisasian secara neurologis dari pengorganisasian
informasi yang didapatkan dari seluruh tubuh dan dari dunia sekeliling yang
digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Terapi ini dapat dilakukan pada
seorang anak yang mengalami sensory integration dysfunction (SID) yang
mengalami kekakuan. Anak-anak yang mengalami SID adalah anak-anak
penyandang autis yang mengalami ketidakberfungsian saraf pusat yang
mengakibatkan psikomotorik anak tersebut terganggu, sehingga mereka Academic Skills
Complex Motor Skills Regulation of Attetions
Organized Behavior Specialiation of Body and Brain
Visualization Self Esteem and Self Control
Auditory Perception Visual Perception Eye Hand Coordinator
(Pencil Skills) Visual Motor Integration Purposeful Acivity Body Percept (Body Awareness)
Bilateral Coordination (Teamed Use of Both Sldes of Body) Lateralization (Hand Preference)
Motor Planning (Praxis) Tactile Sense (Touch) Vestibular Sense (Blance and
Movement)
Proprioceptive Sense (Body Position) Visual and Auditory Sense
mengalami kesulitan dalam mempelajari gerak motorik. Artinya
perkembangan motorik mereka akan mengalami keterlambatan yang tidak
sesuai dengan usia normal anak sebanyanya sehingga mereka dipandang
VHEDJDL DQDN \DQJ ³WHUEHODNDQJ´ 'DUL VLQL PDND GLSLOLKODK SHUNHPEDQJDQ
motorik kasar agar dapat terlihat jelas perkembangan yang dialami seorang
anak melalui pengamatan.
Penelitian yang dilakukan Beth A. Pfeiffer., Kristie Koenig., Moya
Kinnealey., Megan Sheppard., Lorrie Henderson (2011) diketahui bahwa
hasil dari penelitian tersebut terdapat penurunan yang signifikan dalam
tingkah laku autis yang terjadi pada kelompok yang mendapat sensori
integrasi. Selain itu dapat mengidentifikasi ukuran tanggap sosial,
pengolahan sensorik, keterampilan fungsional motorik, dan faktor
sosial-emosional dengan tepat pada anak-anak dengan gangguan spektrum Autis
(ASD). Selanjutnya penelitian Renee L. Watling dan Jean Dietz juga
tentang intervensi integrasi sensorik ayres pada perilaku dan keterlibatan
tugas anak-anak dengan gangguan spektrum autis (ASD). Dari penelitian ini
tidak ada pola yang jelas dari perubahan perilaku yang tidak diinginkan atau
tugas manajemen yang muncul melalui tujuan pengukuran. Namun jika
integrasi sensorik Ayres dilakukan di lingkungan rumah akan menghasilkan
sebuah efek yang jelas dan diinginkan. Pada penelitian yang dilakukan
Petrin Kasdanel (2013) menggunakan pengukuran persentase huruf vokal
yang dapat ditulis anak-anak autis sebanyak tiga sesi. Dari penelitian
disimpulkan metode sensori integrasi efektif dalam meningkatkan
keterampilan menulis untuk anak autis di Ti-Ji Home Shooling Padang.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, diharapkan terdapat
pengaruh antara sensori integrasi dengan perkembangan motorik kasar anak
autis agar mereka mampu melakukan gerak yang lebih baik. Hal ini
disebabkan karena keterampilan dan perkembangan motorik kasar anak
memiliki komponen persepsi yang dapat menerima sebuah informasi dari
lingkungan dengan menggunakan sensori integrasi. Persepsi tersebut akan
terbentuk dengan baik, sebab terapi sensori integrasi dirancang dengan
sistem bermain yang menyenangkan bagi anak. Berdasarkan hasil persepsi
penerimaan informasi tersebut, informasi yang diterima akan diproses dan
diintegrasikan oleh otak melalui sistem saraf pusat sehingga menghasilkan
gerakan-gerakan yang diharapkan atau sesuai perintah yang diterima.
D. KERANGKA TEORITIS
Rarick, 1973 (dalam Saputra Y, 2005: 40 dalam Assjari, 2011)
menyatakan bahwa anak yang diidentifikasi sebagai autis, kemampuan
geraknya kurang dibanding dengan anak normal sebayanya. Hal ini diukur
dari kemampuan gerak statis dan dinamis, kekuatan, koordinasi,
keseimbangan dan kelincahan. Veskarisyanti, A. (2008: 47 dalam Assjari,
2011) menyatakan bahwa beberapa anak penyandang autis mengalami
gangguan pada perkembangan motorik, otot kurang kuat untuk berjalan,
sekitar 40 persen anak autis memiliki beberapa ketidaknormalan kepekaan
inderawi (Rimland, 1990 Assjari, 2011). Maka perkembangan mental yang
tertinggal akan membawa dampak pada kemampuan motorik anak autis
yang disebabkan adanya gangguan pada sistem saraf pusat. Hal ini
ditunjukkan dengan kurang mampu dalam aktifitas motorik untuk
tugas-tugas yang memerlukan kecepatan gerakan serta dalam melakukan reaksi
gerak yang memerlukan koordinasi motorik dan keterampilan gerak yang
lebih kompleks, misalnya keterampilan bola, keseimbangan, deksteritas
manual, gerakan cepat dan menulis dengan tangan.
Banyak penyebab terlambatnya perkembangan motorik, biasanya
timbul dari kerusakan otak pada waktu lahir atau kondisi pralahir yang tidak
menguntungkan. Akan tetapi keterlambatan ini lebih sering disebabkan oleh
kurangnya kesempatan untuk mempelajari keterampilan motorik,
perlindungan orang tua yang berlebihan, atau kurangnya motivasi anak
untuk mempelajarinya. Namun hal-hal tersebut masih dapat dikendalikan
namun sebagian lain tidak dapat dikendalikan (Tjandrasa, dkk. 1997: 164).
Rahantoknam, (1998: 13) berasumsi bahwa semua keterampilan motor
sensori memiliki komponen persepsi. Sesuai dengan konsep bahwasanya
keterampilan motorik perlu dianalisis, baik dari prasyarat persepsi maupun
dari prasyarat motorik. Untuk itu, maka keterampilan motorik digunakan
untuk menunjukkan setiap aktivitas otot yang diarahkan kepada suatu tujuan
khusus. Setiap kegiatan yang dilakukan ini dapat dilihat sebagai suatu
yang kecil. Sehingga dapat memunculkan keterampilan motorik yang
berjalan baik dan optimal secara keseluruhan.
Kemampuan motorik yang dapat terlihat berjalan secara baik dan
optimal melalui kasat mata adalah motorik kasar dengan kegiatan melalui
kehidupan sehari-hari anak normal maupun anak berkebutuhan khusus.
Teruntuk anak berkebutuhan khusus, yaitu anak autis memerlukan sebuah
terapi yang dapat membantu dalam menyusul keterlambatan perkembangan
motorik kasar. Sehingga diperlukan lingkungan terapi sensori integrasi yang
menyenangkan dengan sistem bermain agar sebuah tujuan mencapai sesuai
harapan. Kemudian selama dilakukan terapi tersebut dapat dilakukan
observasi, mengamati dan menafsirkan perilaku yang dilakukan untuk
kepentingan anak itu sendiri. Diperoleh kerangka teoritik sebagai berikut:
Gambar 2. Kerangka Teoritik Peningkatan Perkembangan
Motorik Kasar Anak Autis Terapi Sensori Integrasi Efektif
Pemberian Terapi Sensori Integrasi
Motorik Kasar Anak Autis