• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN MASJID BESAR KANJENG SEPUH DI TENGAH DINAMIKA PERBEDAAN ALIRAN KEISLAMAN DI SIDAYU TAHUN 1980-2016.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERKEMBANGAN MASJID BESAR KANJENG SEPUH DI TENGAH DINAMIKA PERBEDAAN ALIRAN KEISLAMAN DI SIDAYU TAHUN 1980-2016."

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN MASJID BESAR KANJENG SEPUH DI TENGAH DINAMIKA PERBEDAAN ALIRAN KEISLAMAN DI SIDAYU TAHUN

1980-2016 M.

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana dalam Program Strata Satu (S1) Pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI)

Oleh:

ANWARI KHOIRUR RIJAL

NIM : A8.22.12.141

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi yang berjudul Perkembangan Masjid Besar Kanjeng Sepuh Ditengah Dinamika Perbedaan Aliran Keislaman Di Sidayu Tahun 1980-2016 M. Mencoba untuk mengungkapkan beberapa permasalahan diantaranya tentang Kondisi Sosial Keagamaan Masyarakat Sidayu, Sejarah dan Perkembangan Masjid Besar Kanjeng Sepuh, dan Hubungan Masjid Besar Kanjeng Sepuh dengan Ormas Yang Mewadahi Aliran Islam Di Sidayu.

Dalam menjawab permasalahan diatas peneliti menggunakan pendekatan historis dengan menerapkan metode penelitian sejarah antara lain Heuristik, Kriktik Sumber, Interpretasi dan Historiografi. Untuk teori yang digunakan dalam skripsi ini adalah teori konflik milik Lewis A. Coser dan teori Continuity And Change, yang mana kedua teori ini akan menganalisa segala bentuk konflik yang terjadi dan menguraikan masalah-masalah kesinambungan tentang perubahan-perubahan yang terjadi di Masjid Besar Kanjeng Sepuh.

(7)

ABSTRACT

Thesis entitled Development of the Great Mosque Kanjeng Sepuh Amid Differences Flow Dynamics Islamic In Sidayu Year 1980-2016 M. Trying to reveal several issues including on Social Condition Sidayu Religious Society, History and Development of the Great Mosque Kanjeng Sepuh, and the Great Mosque Kanjeng Sepuh Relations with CSOs Rallying stream that Islam In Sidayu.

In answering the above problems researchers used a historical approach by applying methods of historical research, among others Heuristics, Kriktik Sources, Interpretation and Historiography. For the theory used in this thesis is the theory of conflict belongs to Lewis A. Coser and theory Continuity And Change, which both of these theories will analyze all forms of conflict and outlined issues about the sustainability of the changes that occurred in the Great Mosque Kanjeng Sepuh ,

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL………. i

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN……….ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING………...iii

HALAMAN PENGESAHAN……….iv

HALAMAN TRANSLITERASI………...v

HALAMAN MOTTO……….vi

HALAMAN PERSEMBAHAN……….vii

HALAMAN ABSTRAK………...viii

KATA PENGANTAR………...x

DAFTAR ISI………..xii

BAB I : PENDAHULUAN A. Latarbelakang Masalah………..1

B. Rumusan Masalah……….3

C. Tujuan Penelitian………...3

D. Kegunaan Penelitian………..4

E. Penelitian Terdahulu………..4

F. Pendekatan dan kerangka Teori………...5

G. Metode penelitian………..7

H. Sistematika Bahasan………..…..12

BAB II :HUBUNGAN SIDAYU DENGAN MATARAM ISLAM A. Sidayu sebagai Daerah Kekuasaan Mataram Islam ...14

B. Para Bupati Sidayu………..21

C. Peninggalan di Sidayu……….24

1. Masjid Jami’………...24

2. Komplek makam Bupati……….28

(9)

BAB III :PERUBAHAN PEMERINTAHAN SIDAYU DARI

KADIPATEN, KAWEDANAN, HINGGA MENJADI

KECAMATAN

A. Sidayu Sebagai Wilayah Kadipaten………33

B. Sidayu Sebagai Wilayah Kawedanan....………..41

C. Akhir Pemerintahan Sidayu……….50

BAB IV : SIDAYU PADA MASA KINI

A. Profil Kecamatan Sidayu………...53

B. Gambaran Umum Kecamatan Sidayu………..55

C. Kondisi Sosial Keagamaan Masyarakat Sidayu………...63

BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan………..69

B. Saran………70

DAFTAR PUSTAKA

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sidayu adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur,

yang letaknya berada di daerah pesisir utara Pulau Jawa. Sebelum menjadi sebuah

Kecamatan seperti sekarang, Kecamatan Sidayu adalah sebuah Kadipaten.

Sebagai bukti bahwa Sidayu adalah bekas yakni masih adanya sisa-sisa bangunan

yang berada di wilayah tersebut dan diperkirakan sudah ada sejak zaman kolonial.

Bukti-bukti tersebut diantaranya adalah pintu gerbang dan pendapa keraton,

selain itu ada telaga dan sumur sebagai sumber air, Masjid dan Alun-alun yang

sampai saat ini masih berfungsi di Sidayu. Dalam sejarahnya, ada sekitar sepuluh

orang Bupati yang pernah memerintah di Kadipaten Sidayu.1

Jauh sebelum itu, Sidayu juga telah mempunyai sejarahnya sendiri, seperti

yang dijelaskan oleh Meilink Roelofsz dalam bukunya tentang perdagangan di

Asia dan pengaruh Eropa di kepulauan Nusantara antara tahun 1500-1630, yang

memberitakan sebagai berikut:

Sidayu situated between Tuban and Grise, was also an agrarian state and feudal in structure. Its coats was a a bad one for landing on and being therefore little suited to trade is possessed no junks or cargo pangajavas. Although the rular had already beeb converted Islam, the population of the surrounding countryside was still largely Hindu. There were no commercial towns in the small agrarian Hindu kingdoms on the eastern tip Java for although these place were abundantly provided with

1Oemar, “Gubernur Belanda Pakai Jalan Kadipaten Sedayu”, Jawa Pos

(11)

2

foodstuffs, these seem to have been of kind which no trade worth mentioning was carried on.2

Terjemah : Sidayu terletak antara Tuban dan Grise, juga negara agraris dan feodal dalam struktur. mantel nya adalah yang buruk untuk mendarat di dan menjadi karena itu sedikit cocok untuk perdagangan yang dimiliki tidak ada kapal atau pangajavas kargo. Meskipun rular yang sudah Beeb dikonversi Islam, penduduk pedesaan sekitarnya adalah sebagian besar masih Hindu. Tidak ada kota-kota komersial di kerajaan Hindu agraria kecil di timur Jawa tip untuk meskipun tempat tersebut berlimpah disediakan dengan bahan makanan, ini tampaknya telah semacam yang ada perdagangan layak disebut dilakukan pada. (By:Google translate)

Berdasarkan keterangan tersebut, diduga Sidayu telah ada sejak masa peralihan

dari masa klasik ke masa Islam yang terjadi pada abad-16 M. Wilayah Sidayu

berada diantara Tuban dan Gresik, daerahnya merupakan daerah agraris.

Dijelaskan juga meskipun para penguasa di Sidayu beragama Islam, tetapi

sebagian besar penduduk sekitarnya adalah umat Hindu.

Pada pergantian abad ke -16 atau sekitar tahun 1589, Sidayu pernah menjadi

daerah jajahan Kerajaan Surabaya. Pada saat itu Surabaya telah menjadi negara

kuat dan dianggap sebagai lawan utama Mataram yang waktu itu masih muda.3

Menurut Artus Gijels (Gubernur Ambon) yang mengunjungi Surabaya pada tahun

1620, raja Surabaya selain mempunyai sekutu, juga mempunyai sejumlah daerah

jajahan.4 Daerah-daerah tersebut antara lain Gresik, Jortan, dan Sidayu.

Selanjutnya, pada kisaran tahun 1625 wilayah Sidayu beralih status menjadi

kekuasaan kerajaan Mataram Islam yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan

2

Meilink Roelofsz, M. A. P. dalamTim Penelitian, Laporan penelitian Kota Masa Pengaruh Eropa: Studi Terhadap Kota Sidayu, Gresik, Jawa Timur (BPKP Pusat Penelitian Arkeologi. 2002), 5.

3

HJ. De Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram Politik Ekspansi Sultan Agung (Yogyakarta:Pustaka Utama Grafiti, 2002), 14.

4

(12)

3

Agung. Hal ini dikarenakan Kerajaan Surabaya telah ditaklukan oleh pasukan

Mataram Islam pada tahun 1625 Masehi.5

Saat ini Sidayu berstatus Kecamatan, yang merupakan bagian dari

Kabupaten Gresik. Status Sidayu sebagai Kecamatan sesuai dengan UU No. 22

Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah, tanggal 7 Mei 1999.6

Perkembangan

Kecamatan Sidayu akhir-akhir ini sudah mulai meningkat. Dimulai dari

perkembangan masyarakatnya yang melangkah menuju masyarakat yang maju,

perkembangan perekonomian masyarakat, kebudayaan dan berbagai fasilitas

umum yang dimiliki seperti sarana pendidikan, sarana peribadatan, dan

sebagainya.

Kecamatan Sidayu memiliki berbagai macam fasilitas umum (sesuai yang

tersebut diatas) yang diperuntukkan untuk kesejahteraan masyarakat. Salah

satunya adalah fasilitas peribadatan umat Islam (masjid) yang bernama Masjid

Besar Kanjeng Sepuh. Masjid Besar Kanjeng Sepuh dibangun oleh Bupati

pertama Sidayu yaitu Raden Kromowidjojo pada kisaran tahun 1758 M. dengan

nama Masjid Jami’ Sidayu.7 Masjid Jami’ Sidayu mempunyai keterikatan kuat

dengan sejarah Kadipaten Sidayu. Beberapa bukti fisik maupun non fisik menjadi

penanda bahwa Masjid Jami’ Sidayu adalah saksi perjalanan kota tua Sidayu.

Salah satu benda fisik peninggalan pemerintahan pada masa Sidayu masih

menjadi Kadipaten adalah komplek pemakaman Bupati Sidayu, tombak pusaka

5

Ibid., 118. 6

Yandono, Wawancara, Sidayu, 12 Januari 2017 7

(13)

4

Bupati kedelapan Kanjeng Sepuh, keris peninggalan Kanjeng Sepuh yang terdapat

pada mimbar Masjid dan lain-lain.

Dilihat dari sejarah dan perkembangan awal Islam di Sidayu, Masjid Jami’

Sidayu tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai pusat

kegiatan umat Islam mulai dari sosial, pendidikan dan lain-lain. Hal itu selaras

dengan yang dikemukakan oleh Siti Badriyah bahwa masjid adalah sebutan bagi

tempat peribadatan orang Islam. Sebagai tempat peribadatan, peran masjid begitu

penting bagi aktivitas keagamaan kaum muslim, baik dalam pengembangan

pendidikan maupun syiar keagamaan.8

Terlepas dari konteks tersebut diatas, ada beberapa hal yang belum

diketahui banyak khalayak dalam perkembangan Masjid Jami’ Sidayu yang

sekarang dikenal dengan sebutan Masjid Besar Kanjeng Sepuh. Sesuai yang

terpapar diatas bahwa Masjid Besar Kanjeng Sepuh adalah masjid tua bekas

peninggalan kota tua Sidayu. Sampai saat ini Masjid Besar Kanjeng Sepuh

menjadi ikon agama Islam di Sidayu, statusnya yang masih aktif sebagai masjid

pusat kecamatan Sidayu menjadikan Masjid Besar Kanjeng Sepuh menjadi tujuan

kaum muslimin Sidayu untuk melaksanakan ritual keagamaan baik itu jamaah

maupun i’tikaf. Menurut informasi yang penulis dapat dari sumber lisan dan

beberapa sumber tertulis serta cerita tutur yang berkembang ditengah masyarakat

Sidayu bahwa dahulu masjid tersebut bernama Masjid Jami’ Sidayu. Bahkan

sampai detik ini masih banyak masyarakat Sidayu menyebut masjid tersebut

dengan nama Masjid Jami’ Sidayu.

8

(14)

5

Menurut cerita tutur yang berkembang ditengah masyarakat Sidayu, Sejak

awal didirikan masjid yang sekarang bernama Masjid Besar Kanjeng Sepuh

tersebut adalah tempat pusat kegiatan umat Islam di Sidayu. Akan tetapi pada

perkiraan kurang lebih tahun 1986 terjadi perubahan nama masjid yang awalnya

bernama Masjid Jami’ Sidayu menjadi Masjid Besar Kanjeng Sepuh. Menurut

sedikit cerita tutur dari salah satu pemuda asli Sidayu bahwa ada beberapa hal

yang belum diketahui sebagian besar masyarakat Sidayu khususnya tentang

faktor-faktor yang melatarbelakangi pergantian nama masjid tersebut, baik dari

faktor internal maupun eksternal. Apabila diamati lebih mendalam ada beberapa

konflik kecil yang terjadi di internal masjid sebelum akhirnya konflik tersebut

menjadi cikal bakal awal perubahan nama Masjid Jami’ Sidayu.

Konflik kecil yang terjadi di tengah-tengah perdamaian masyarakat Sidayu

tersebut melibatkan dua kelompok Islam yaitu Nahdlatul Ulama dan

Muhammadiyah. Lahirnya konflik antara Nahdlatul Ulama’ dan Muhammadiyah

tersebut menyebabkan teruarinya kerukunan umat Islam di Sidayu. Menurut

sebagian masyarakat Sidayu hal tersebutlah yang menjadi salah satu dari sekian

faktor pemicu digantinya nama Masjid Jami’ Sidayu menjadi Masjid Besar

Kanjeng Sepuh.

Selanjutnya pada tahun 1989 berdiri Pondok Pesantren Al-Furqon di Desa

Srowo Kecamatan Sidayu. Pondok Pesantren Al-Furqon tersebut menganut

paham Islam Salafi. Sesuai dengan realitas yang terjadi pada zaman ini, aliran

Salafi adalah golongan yang ingin mengembalikan kemurnian ajaran agama

(15)

6

Salafi seringkali bertentangan dengan tradisi-tradisi yang ada di Indonesia.

Demikian halnya dengan aktifitas Pondok Pesantren Al-Furqon. Pada kisaran

tahun 1990an salah satu dari santri penganut aliran Wahabi yang menempuh

pendidikan di Pondok Pesantren Al-Furqon Sidayu melakukan sebuah penetrasi.

Bentuk dari penetrasi tersebut adalah gerakan pemberontakan dengan merusak

komplek pemakaman Bupati Sidayu yang berada di sisi belakang Masjid Besar

Kanjeng Sepuh. Hal tersebut sempat memancing seluruh lapisan masyarakat

Sidayu khususnya warga Nahdliyin dikarenakan masjid dan kompleks

pemakaman Bupati tersebut adalah cagar budaya Sidayu. Selama bertahun-tahun

masyarakat Sidayu senantiasa merawat dan menjaga situs tersebut guna

menghormati jasa pendahulu Sidayu.

Dari sedikit pemaparan di atas itulah, penulis termotivasi untuk melakukan

penelitian lapangan dengan mengangkat judul “Perkembangan Masjid Besar

Kanjeng Sepuh Di tengah Dinamika Perbedaan Aliran Keislaman Di Sidayu

guna memperoleh pengetahuan baru tentang sejarah Masjid Besar Kanjeng Sepuh

dan siklus perubahan yang dialami masyarakat Islam di wilayah Sidayu.

B. Rumusan Masalah.

Berdasarkan Latar belakang yang dikemukakan diatas, maka rumusan

masalah ini hanya difokuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana kondisi sosial keagamaan masyarakat di Sidayu?

(16)

7

3. Bagaimana hubungan antara Masjid Besar Kanjeng Sepuh dengan

kelompok-kelompok keagamaan Islam Di Sidayu?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin penulis capai dalam pembahasan skripsi ini adalah sebagai

berikut:

1. Mengetahui kondisi masyarakat Islam di Sidayu hingga dewasa ini.

2. Mengetahui sejarah dan perkembangan Masjid Besar Kanjeng Sepuh.

3. Mengetahui hubungani antara Masjid Besar Kanjeng Sepuh dengan

kelompok-kelompok keagamaan Islam yang ada di Sidayu.

D. Kegunaan Penelitian

Manfaat penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi dua aspek, yaitu aspek

teoritis dan aspek praktis, adapun penjelasan tentang kedua aspek tersebut

sebagaimana berikut:

1. Manfaat Teoristis

Untuk menganalisis perubahan-perubahan sosial, tata kelakuan yang berbeda

masa dan pemikiran dengan kebudayaan yang sama dari waktu kewaktu.

selain itu juga diharapkan dapat dijadikan salah satu informasi dalam

mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya perubahan kepribadian sejarah

di Jawa, sekaligus sumbangan ilmu pengetahuan dalam bidang sejarah dan

(17)

8

2. Manfaat praktis

Skripsi ini juga dikerjakan sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana

strata satu progam studi Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan

Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

E. Penelitian Terdahulu

Dalam penulisan skripsi ini, penulis melakukan penelitian dengan mencari

karya-karya terdahulu guna menghindari kesamaan penulisan. Penelitian tentang

Masjid Besar Kanjeng Sepuh sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti, akan

tetapi hanya menitikberatkan penelitiannya pada konteks arsitekturnya. Penelitian

terdahulu yang berhubungan dengan Masjid Besar Kanjeng Sepuh sebagai

berikut:

1. Skripsi : Vivi khusniyah (2009), Prasasti Pada Situs Makam dan Masjid

Kanjeng Sepuh Sidayu Gresik (Studi Analisis Kronologi) membahas

mengenai sejarah dan situs- situs yang terdapat pada Makam dan Masjid

Besar Kanjeng Sepuh dalam studi kronologinya.9

2. Skripsi :Wahyu Dwi Susilo (2005), Peranan Kanjeng Sepuh Adipati Soeryo

Diningrat Dalam Menegakkan Agama Islam Di Sidayu. Dalam kripsi ini

membahas tentang peran salah satu tokoh agama pada masa sidayu masih

menjadi Kadipaten, yang mencakup bidang agama, politik dan sosial

kemasyarakatan.10

9

Vivi Khusniyah, Prasasti Pada Situs Makam dan Masjid Kanjeng Sepuh Sidayu Gresik (Studi Analisis Kronologi) (Skripsi: IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2009).

10

(18)

9

3. Skripsi : Muhammad Ulumudin (2003), Sejarah Perkembangan Bangunan

Masjid Jamik Gresik Abad XV-XXI. Dalam skripsi ini dijelaskan bagaimana

perkembangan Masjid Jamik serta kondisi kekiniannya, yang tergolong

sebagai Masjid kunci dari perkembangan religius kota Gresik sebagai kota

santri.11

4. Skripsi :Maulana Yusuf (1996), Yayasan Taman Pendidikan Kanjeng Sepuh

(Studi Tentang Sejarah dan Aktivitasnya). Skripsi ini membahas tentang

sejarah Taman Pendidikan Kanjeng Sepuh (TPKS) sebagai lembaga

pendidikan formal di Sidayu yang memakai nama Kanjeng Sepuh sebagai

nama lembaganya. Kemudian upaya TPKS dalam mengembangkan

pendidikan dan aktifitas-aktifas lembaga pendidikan TPKS.12

Berdasarkan penelitian yang sudah ada kiranya ada perbedaan yang jelas

antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang saya tulis. Penelitian terdahulu

mempunyai fokus yang berbeda-beda dalam aspek kajiannya. Sedangkan saya

akan melakukan penelitian tentang Masjid Besar Kanjeng Sepuh dengan

menyajikan kronologi yang berbeda dari penelitian-penelitian yang pernah

dilakukan beberapa sejarawan sebelumnya, yaitu proses perkembangan Masjid

Besar Kanjeng Sepuh dan hubungannya dengan beberapa aliran keislaman di

Sidayu.

11

Muhammad Ulumudin, Sejarah Perkembangan Bangunan Masjid Jamik Gresik Abad XV-XXI (Skripsi: IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2003).

12

(19)

10

F. Pendekatan dan Kerangka Teori

1. Pendekatan Sosiologis

Secara etimologi kata sosiologi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari kata

Socius yang berarti teman dan Logos yang berarti berkata atau teman bicara.

Jadi sosiologi artinya berbicara tentang manusia yang berteman atau

bermasyarakat13 . Sedangkan secara terminologi maka sosiologi mengandung

pengertian-pengertian sebagai berikut:

a. Sosiologi adalah suatu disiplin ilmu yang luas dan mencakup berbagai

hal,dan ada banyak jenis sosiologi yang mempelejari sesuatu yang

berbeda dengan tujuan yang berbeda-beda.14

b. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai

keseluruhan,yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia

dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun non

formal, baik statis maupun dinamis.15

Pendekatan sosiologis adalah pendekatan yang paling tepat untuk dapat

memahami fenomena, pola dan gerak-gerik yang terjadi ditengah-tengah

masyarakat Sidayu. Berawal dari penyelidikan dan pemahaman yang

mendalam dari struktur-struktur yang terdapat pada masyarakat dan

lingkungan Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sidayu, diharapkan pendekatan

sosiologis mempunyai kontribusi yang besar dalam menjawab

fenomena-fenomena yang terjadi di Masjid Besar Kanjeng Sepuh.

13

Abdul Syani, Sosiologi dan Perubahan Masyarakat (Lampung:Pustaka Jaya, 1995), 2 14

Stepen K Sanderson, Terj, Hotman M.Siahaan, Sosiologi Makro (Jakarta:Raja Grapindo Persada 1995), 2.

15

(20)

11

2. Pendekatan Historis

Dalam penulisan skripsi ini penulis juga menggunakan pendekatan historis

yang bertujuan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan mengenai sejarah

perubahan-perubahan yang terjadi di Masjid Besar Kanjeng Sepuh. Melalui

pendekatan historis ini diharapkan bisa mengungkap dan menjelaskan apa

saja yang melatarbelakangi peristiwa perubahan tersebut, baik dalam aspek

sosial, budaya maupun politik.

3. Teori Continuity and Change dan Teori Konflik

Para peneliti selalu menggunakan kerangka teori sebagai dasar karya

ilmiahnya, tanpa teori karya tersebut tidak bisa menjadi bahan kajian yang

layak. Teori menurut Kerlinger adalah seperangkat konsep, definisi dan

proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, sehingga

dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena yang terjadi.16

Teori adalah suatu prinsip umum yang mengaitkan aspek-aspek suatu

realitas.17 Sedangkan fungsi teori adalah menerangkan, meramalkan dan

menemukan fakta-fakta secara sistematis.

Teori yang digunakan dalam skripsi ini adalah teori Continuity and

Change. Teori tersebut digunakan oleh Zamakhsyari Dlofier dalam bukunya

yang berjudul Tradisi Pesantren. Teori tersebut menguraikan secara rinci

masalah-masalah kesinambungan ditengah-tengah perubahan. Perubahan

dapat terjadi ketika tradisi baru yang datang mempunyai kekuatan dan

16

Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2005), 41. 17

(21)

12

dorongan kuat yang telah ada dan baik sebelumnya. Jika tradisi baru yang

datang tidak mempunyai kekuatan dan daya dorong yang kuat, maka yang

tidak akan ada perubahan. Akan tetapi perubahan yang terjadi tidak akan

serta merta terputus begitu saja dari keilmuan yang lama yang telah ada

sebelumnya. Masih ada kesinambungan yang berkelanjutan dengan tradisi

keilmuan yang lama, meskipun telah muncul paradigma baru. Dengan

demikian proses kesinambungan dan perubahan masih tetap terlihat dalam

ilmu-ilmu agama, pola-pola perbedaan yang ada satu priode ke priode

brikutnya.18 Dari sedikit penjelasan diatas, teori tersebut bisa dan layak

digunakan untuk menguraikan secara rinci masalah-masalah kesinambungan

ditengah-tengah perubahan yang terjadi di Masjid Besar Kanjeng Sepuh

Sidayu.

Penelitian ini juga menggunakan teori konflik yang dicetuskan oleh

Lewis A. Coser. Coser menitik beratkan konsekuensi-konsekuensi terjadinya

pada sebuah sistem sosial secara keseluruhan. Menurut pandangan Coser,

konflik dan perpecahan adalah proses fundamental yang walau dalam porsi

dan campuran yang berbeda merupakan bagian dari setiap sistem sosial yang

dapat dimengerti. Oleh sebab itu konflik merupakan bagian dari kehidupan

sosial yang tidak dapat ditawar. Teorinya memandang konflik dapat memberi

keuntungan pada masyarakat luas tempat konflik tersebut terjadi. Konflik

justru membuka peluang integrasi antar kelompok.19

18

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Yogyakarta:LP3ES, 1996), 177. 19

(22)

13

Konflik adalah suatu realitas kehidupan sosial masyarakat dimana

setiap perkembangan suatu wilayah atau kelompok diperlukan adanya konflik

untuk menuju perubahan, karena tidak ada perubahan tanpa adanya konflik.

Teori konflik adalah salah satu prespektif di dalam ilmu sosiologi yang

memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian atau

komponen yang mempunyai kepentingan berbeda-beda dimana komponen

yang satu berusaha menaklukkan kepentingan yang lain guna untuk

memenuhi kepentingannya atau memperoleh keuntungan yang

sebesar-besarnya.20

Teori konflik tersebut akan digunakan penulis sebagai tambahan

landasan guna menganalisa beberapa fenomena yang mungkin bisa dikatan

sebagai konflik. Munculnya sebuah konflik diakibatkan adanya perbedaan

dan keberagamaan kepentingan. Maka dapat diambil sebuah analisa bahwa

yang terdapat di negara Indonesia juga tak luput dari konflik sosial. dalam

sebuah ajaran atau keberagaman agama, memunculkan sebuah

kelompok-kelompok yang satu sama lain saling bersinggungan. Konflik dari setiap

tindakan-tindakan yang terjadi dan konflik tersebut terbagi secara horisontal

dan vertikal. Konflik horisontal adalah konflik yang berkembang antara

anggota kelompok, seperti konflik yang terjadi antara Nahdlatul Ulama dan

Muhammadiyah. Sedangkan konflik vertikal adalah konflik yang terjadi

antara masyarakat dan juga negara atau pemerintahan. Pada umumnya

konflik-konflik ini muncul akibat ketidakpuasan masyarakat dengan kinerja

20

(23)

14

pemerintahan. Terdapat banyak konflik yang terjadi di kehidupan masyarakat,

dari hal-hal yang bersifat sederhana yang mengakibatkan kerusuhan, dendam

sosial, dan ketidakrukunan antar umat beragama.

Pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan ilmiah diperoleh melalui

penelitian ilmiah dan dibangun atas teori tertentu.Teori itu berkembang atas teori

tertentu.Teori itu berkembang melalui penelitian ilmiah, yaitu penelitian yang

sistematik dan terkontrol berdasarkan data Empiris.Teori itu dapat diuji dalam hal

keajegan dan kemantapan internalnya. Artinya jika penelitian ulang dilakukan

merurut langkah-langkah yang sama menurut kondisi yang sama akan diperoleh

hasil yang konsisten, yaitu hasil yang sama atau hampir sama dengan hasil

terdahulu langkah-langkah penelitian yang teratur dan terkontrol itu telah

terpolahkan dan sampai batas tertentu, diakui umum. Pendekatan ilmiah akan

menghasilkan kesimpulan yang serupa bagi hamper setiap orang, karena

pendekatan tersebut tidak diwarnai oleh keyakinan pribadi, bias dan perasan. Cara

penyimpulan bukan subyektif tapi obyektif.21

1. Metode Penelitian

Metode merupakan cara atau prosedur untuk mendapatkan objek.22 Metode

yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yaitu proses menguji

menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan pada masa lampau.23 Agar

mendapatkan gambaran yang utuh, menyeluruh, dan mendalam. Untuk

memperoleh informasi sejarah yang berkaitan dengan judul di atas maka

21

Sumadi Suryabrata, MetodePenelitian ( Jakarta: PT Grafindo Persada,1998), 5-6. 22

Suhartono W. Pranoto, Teori dan Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), 11. 23

(24)

15

dibutuhkan sebuah data kualitatif yang berdasarkan data dan fakta di lapangan.

Untuk itu Diperlukan tahapan-tahapan penelitian seperti mencari referensi buku

yang berhubungan dengan sejarah Masjid Besar Kanjeng Sepuh.

Dalam melakukan penelitian sesorang dapat menggunakan berbagai metode,

dan sejalan dengan rancangan penelitian yang digunakan dapat bermacam-macam.

Keputusan mengenai rancangan apa yang akan dipakai akan tergantung pada

tujuan penelitian, sifat masalah yang akan digarap dan berbagai alternatif yang

akan digunakan. Berdasarkan atas sifat-sifat masalahnya itu penelitian ini dapat

digolongkan menjadi penelitian historis. Tujuan penelitian historis adalah untuk

membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, dengan cara

mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi, serta memperoleh kesimpulan

yang kuat.24 Maka dari itu langkah-langkah yang saya lakukan adalah:

1. Heuristik

Heuristik Berasal dari bahasa Yunani Heuriskan yang artinya

mengumpulkan atau mengumpulkan sumber. Sumber yang dimaksud dalam

kajian sejarah ini adalah sejumlah materi sejarah yang tersebar dan

teridentifikasi, seperti: catatan, tradisi lisan, runtuhan atau bekas-bekas

bangunan prehistori dan inskripsi kuno.25

Heuristik adalah suatu proses yang dilakukan oleh peneliti untuk

mengumpulkan sumber-sumber, data-data atau jejak sejarah. Sejarah tanpa

sumber maka tidak bisa bicara. Maka sumber dalam penelitian sejarah

24

Ibid., 29 25

(25)

16

merupakan hal yang paling utama yang akan menentukan bagaimana aktualitas

masa lalu manusia bisa dipahami oleh orang lain.26

Peneliti sejarah dan sejarawan dalam mengumpulkan sumber atau jejak

sejarah itu seperti menambang emas yaitu dari biji emas yang bercampur lumpur

dan pasir sehingga biji emas tidak kelihatan. Seperti itulah pekerjaan peneliti dan

sejarawan seperti menambang emas yang membutuhkan ketelitian dan

ketelatenan.

Sumber merupakan bahan terpenting dalam proses penelitian atau penulisan

sejarah. Karena tanpa sumber seorang peneliti atau sejarawan tidak akan mampu

mengungkap fakta sejarah, dengan kata lain sejarawan harus terlebih dahulu

memiliki data sebagai alat bantu.27

Maka dari itu dari penjelasan diatas penulis menggunakan sumber yang

akan dijelaskan sebagai brikut:

a. Sumber tertulis, yakni data yang diperoleh melalui studi kepustakaan dengan

berbagai macam buku, majalah dan cetakan-cetakan yang mempunyai

kesinambungan dengan judul skripsi ini. Kemudian arsip-arsip takmir masjid,

Kecamatan, atau arsip pribadi yang ada hubunganya dengan skripsi ini. Yang

terakhir adalah surat-surat pernyataan kesaksian peristiwa oleh pelaku atau

saksi sejarah.

b. Sumber lisan, dalam judul skripsi ini, sumberlisan dapat didapat melalui

beberapa tokoh masyarakat, pengurus takmir masjid, pelaku sejarah yang

26

Lilik Zulaicha, Metodologi Sejarah I (Surabaya: Sunan Ampel Surabaya, 2011), 16. 27

(26)

17

masih hidup dari tiga penganut aliran (NU, Muhammadiyah dan Salafi), dan

sesepuh masyarakat Sidayu.

c. Sumber Artefak, yakni dengan mengamati peninggalan-peninggalan, seperti

bangunan-bangunan, ukiran, atau sebagainya yang bisa digunakan menjadi

bukti sebagai pendukung penelitian seperti prasasti yang tertulis di komplek

makam Bupati Sidayu.

Dari ketiga sumber diatas, pada tahapan pengumpulan sumber ini peneliti

memprioritaskan sumber kepustakaan dan arsip-arsip dan lisan. Pengumpulan

data ini bisa dari sumber primer dan sekunder. Sumber primer adalah kesaksian

seseorang yang melihat dan merasakan langsung kejadian tersebut. Sedangkan

sumber sekunder adalah kesaksian seseorang yang tidak melihat kejadian tersebut

namun masih bisa merasakan akibat dari kejadian tersebut. Sumber primer dan

sekunder ini bisa saja berupa buku-buku, dokumen maupun rekaman dimana buku

dan dokumen tersebut hasil karya saksi mata yang dituangkan dalam tulisan.

2. Kritik Sumber

Sebuah upaya untuk mendapatkan otentisitas dan kredibilitas sumber

dengan cara melakukan kritik atau kerja intelektual dan rasional yang

mengikuti metodologi sejarah guna mendapatkan objektifitas suatu kejadian.

Bekal utama seorang peneliti sejarah adalah sifat tidak percaya terhadap

semua sumber sejarah.28 Peneliti harus lebih dulu mempunyai prasangka yang

jelek atau ketidak percayaan terhadap sumber sejarah yag tinggi. Bukan

maksud tidak mempercayai sumber tapi kebenaran sumber harus diuji terlebih

28

(27)

18

dahulu dan setelah hasilnya terbukti benar maka sejarawan baru percaya

kebenaran sumber.29

a. Kritik Intern

Kritik intern adalah kritik sumber yang hanya dapat diterapakan apabila

kita sedang menghadapi penulisan didalam dokumen-dokumen,

inskripsi-inskripsi pada monumen-monumen, mata uang, medali-medali atau

stempel-stempel yang berguna untuk meneliti keaslian isi dokumen, rekaman atau

tulisan tersebut. Kritik intern ini lebih menekankan pada isi dari sebuah

dokumen sejarah.Caranya adalah dengan membadingkan dokumen satu dengan

dokumen yang lainnya.30

Kemudian penulis akan membandingkan isi dari rekaman dari saksi mata

satu dengan yang lain. Hal ini dilakukan untuk menyingkronkan urutan

kejadian sehingga tidak ada pembahasan yang terputus. Dan jika ada satu

kejadian yang berbeda antara penjelasan saksi mata maka akan dilakukan

wawancara dengan saksi mata yang lain. Sehingga penulis akan mengambil

pendapat yang paling banyak.

b. Kritik ekstern

Kritik ekstern adalah penentuan asli atau tidaknya suatu sumber atau

dokumen31. Idealnya seseorang menemukan sumber yang asli bukan

rangkapnya apa lagi foto kopinya. Apa lagi jaman sekarang kadang-kadang

sulit membedakan asli atau bukan. Oleh karena itu peneliti juga akan mengkaji

29

Ibid., 11. 30

Ibid., 115. 31

(28)

19

betul dokumen-dokumen yang didapat. hal ini dilakukan supaya mendapatkan

sumber yang autentik.

Dalam hal ini penulis telah melakukan pembandingan sumber yang

berupa arsip dan catatan-catatan pribadi dengan sumber-sumber lain salah

satunya buku-buku yang menjadi hasil penelitian orang lain sebelumnya seperti

Gresse Tempoe Doloe dan sebagainya. Kemudian penulis berusaha menggali

informasi melaluli wawancara guna menguatkan sumber-sumber tetulis

tersebut.

3. Interpretasi

Interpretasi adalah upaya sejarawan untuk melihat kembali tentang

sumber-sumber yang didapatkan, apakah sumber-sumber yang didapatkan dan

yang telah diuji otentisitasnya terdapat saling hubungan atau satu dengan yang

lain. Dengan demikian sejarawan memberikan penafsiran terhadap sumber

yang telah didapatkan.32 Penulis akan menginterpretasikan atau menafsirkan

sumber-sumber yang telah didapat dengan membandingkan sumber satu

dengan sumber yang lain. Baik sumber itu berupa artefak, wawancara maupun

berupa dokumen-dokumen dan beberapa buku.

4. Historiografi

Historiografi adalah rekonstruksi imajinatif dari masa lampau

berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses pengumpulan data.

32

(29)

20

Layaknya penelitian ilmiah dan akan dilihat apakah penelitian itu berlangsung

sesuai dengan prosedur yang digunakan atau tidak.33

2. Sistematika Bahasan

Untuk mempermudah penulisan skripsi, maka susunan skripsi dibagi

menjadi beberapa bab sekaligus ruang lingkupnya.

Bab pertama berisi pendahuluan. Bab ini terdiri dari beberapa sub bab yang

menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

kegunaan penelitian, pendekatan dan kerangka teori, penelitianan terdahulu,

metode penelitian, sistematika pmbahasan, dan daftar pustaka.

Bab kedua berisi tentang kondisi sosial keagamaan masyarakat Sidayu. Pada

bab ini diuaraikan mengenai sejarah Sidayu, kondisi keagamaan masyarakat

Sidayu dan organisasi atau kelompok-kelompok keislaman di Sidayu.

Bab ketiga berisi tentang perkembangan Masjid Besar Kanjeng Sepuh,

mulai dari sejarahnya, perkembangannya dan peralihan nama masjid.

Bab keempat berisikan tentang hubungan Masjid Besar Kanjeng Sepuh

dengan kelompok-kelompok keagamaan Islam di Sidayu, peran Masjid Besar

Kanjeng Sepuh dalam upaya menjadi jembatan penghubung antar tersebut serta

menguraikan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi antara masjid Besar Kanjeng

Sepuh dengan aliran Islam tersebut.

33

(30)

21

Bab kelima berisi tentang penutup. Bab ini menguraikan tentang kesimpulan

dari jawaban rumusan masalah beserta analisa dari permasalahan yang diteliti

(31)

BAB II

KONDISI SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT SIDAYU

A. Sejarah Singkat Sidayu

Sidayu sekarang adalah sebuah kecamatan kecil bagian dari Kabupaten

Gresik yang menyandang sebutan kota santri, Kecamatan Sidayu dulunya adalah

sebuah Kadipaten pada zaman Belanda. Nama Sidayu ada sejak masa peralihan

dari masa klasik kemasa Islam abad 16 Masehi sebagai sebuah daerah feodal yang

terletak antara Tuban dan Gresik. Sidayu adalah kota kecil yang memiliki

perjalanan sejarah cukup panjang dan memiliki kedudukan serta berbagai fungsi,

yakni berkedudukan sebagai ibu kota (kadipaten) atau tempat pusat pemerintahan.

Kedudukan Sidayu sebagai ibu kota atau pusat pemerintahan politik secara

administratif merupakan daerah setingkat kawedanan di bawah karesidenan

Gresik yang berlangsung pada masa kekuasaan VOC di Indonesia. Pada masa itu

bersamaan pula dengan masa kekuasaan Kerajaan Mataram II (Islam) sekitar

tahun 1700-an.

Sidayu sebagai wilayah yang berada di pantai utara Jawa menjadi menjadi

bagian dari wilayah kekuasaan Mataram. Namun sebelum menjadi wilayah

kekuasaan Mataram, menurut Artus Gijeels tahun 1622, Sidayu ada dibawah

kekuasaan kerajaan Surabaya.33

Pada abad ke-17 hegemoni di Jawa Tengah dan Jawa Timur jatuh

ketangan Raja-raja Mataram termasuk kerajaan Bandar dan kerajaan-kerajaan di

sepanjang wilayah pantai utara Jawa direbut Mataram atau terpaksa mengakui

33

(32)

23

raja-raja Mataram.34 Pada tahun 1613 M. mataram mengadakan ekspansi militer

ke daerah sekitar Surabaya sampai tahun 1616 M. Raja Surabaya masih belum

menyerah dan pada akhirnya tahun 1625 setelah tentara Mataram II bergerak

melalui Japanan (Mojokerto) Surabaya yang dibawah pimpinan Tumenggung

Mangun Oneng menyerah kalah pada panglima tentara Mataram. Setelah Raja

Mataram mengambil alih Surabaya secara ototmatis Sidayu beralih dibawah

kekuasaan Sultan Agung (Raja Mataram II).35

Pada masa itu Sidayu sebagai tempat Kadipaten atau ibukota dipimpin

oleh seorang Bupati. Periodesasi kepemimpinan Bupati Sidayu sebanyak sepuluh

periode, yakni dimulai tahun 1737 dan berakhir tahun 1910. Berikut ini adalah

nama-nama Bupati yang pernah memerintah di Sidayu sebagai berikut :

1. Bupati Raden Kromowidjojo atau Tumenggung Suradiningrat I (1737-1745)

2. Bupati Abdul Jamil atau Tumenggung Suradiningrat II (1745-1770)

3. Bupati Tawang Alun atau Raden Kanjeng Suwargo (1770-1780)

4. Bupati Panji Dewa Kusuma atau Tumenggung Suradiningrat IV (1780-1798)

5. Bupati Banteng atau Raden Aryo Suryadiningrat I (1798-1810)

6. Bupati Kanjeng Kudus (1810-1815)

7. Bupati Kanjeng Djoko atau Raden Aryo Suryadiningrat II (1815-1816)

8. Bupati Kanjeng Sepuh atau Raden Adipati Aryo Suryadiningrat III

(1817-1855)

9. Bupati Kanjeng Pangeran atau Raden Adipati Aryo Suryadiningrat IV

(1855-1884)

34

HJ. De Graff, Puncak Kekuasaan Mataram (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2002), 22. 35

(33)

24

10.Bupati Raden Badrun (1884-1910).36

Peninggalan-peninggalan sebagai bukti adanya Kadipaten Sidayu adalah:

1. Masjid Jami’

Masjid Jami’ berada di jalan lama Daendels (Anyer Panarukan

berhadapan dengan alun-alun kota.

2. Komplek Makam Bupati

Kompleks makam para Bupati Sidayu terletak di belakang Masjid Jami’

makamnya diberi cungkup dan inskripsi berhuruf Arab, Jawa dan Latin yang

berbahasa Melayu, Jawa dan Belanda. Seperti inskripsi pada makam Bupati

[image:33.595.115.511.219.687.2]

Kanjeng Sepuh tertulis:

Gambar artefak pada dinding komplek makam Bupati Sidayu.

36

(34)

25

- Bahwa ini Kanjeng Raden Adipati Suryadiingrat Negeri Sidayu.

- yang mendhohirkan Am tuan kalian nag ada di Kudus ketika tahun

Aulanda 1784 injawa 1715.

- Adapun yang diberhentikan dengan sehat alatiat alakal hamdu wasyukru

di dalamnya tahun Wulanda 1808 injawa 1739.

- Kanjeng Raden Adipati Arya Surya Diningraat ing panggeri Sidajeng.

- Rikala jumeneng Bupati Sidajeng ing tahun Wulandi 1817 ing tahun jawi

1744 lumayahipun panjenengan.

- Bupati dateng kang kalian kersanipun pribadi ingsasi januari tahun 1855

utawi Rabiul Akhir tahun 1783.

- Dinten paeginipun ing malam ahad wancine jam 11 saking tanggal kaping

9 sasi Maret tahun 1856.

- Utawitinggal sasi Rejeb tahun ba’ werso jawi 1784 dan 1262 H.

- Rikala yosa nalika penghulu Muhammad Qasim Sinangkalan agniya’

panika.

- 1833 gunane aponggo wedhae rupo 1893

Terjemah inskripsi:

- Bahwa Kanjeng sepuh Adipati Surya Diningrat adalah seorang Bupati

daerah Sidayu.

- Dilahirkan oleh tuanmu ”Ratu Anom“ di daerah Kudus tahun Belanda

1784 jawa 1710.

- Adapun dipindahkan ke Sidayu dalam keadaan sehat walafiat puji syukur

pada tuhan ketika tahun Belanda 1808 Jawa 1734.

- Kanjeng Raden Adipati Arya Suryadiningrat di Negeri Sidayu.

- Diangkat sebagai Bupati Sidayu di tahun Belanda 1817 tahun Jawa 1744.

- Bupati yang akan datang yang merupakan putranya sendiri yang

(35)

26

- Hari Wafatnya di malam minggu tepatnya jam 11 dari tanggal 9 bulan

Maret tahun 1856.

- Atau tanggal 2 bulan Rejeb tahun ba’ “tahun Jawa” 1784 dan 1272 H.

- (diskripsi) ini dibuat oleh pada masa pengulu Muhammad Qasim yang

kaya itu

- 1833 Kegunaan aponggo wedane Rupa 1893.37

Di sebelah barat makam kanjeng sepuh terdapat juga makam Kanjeng

Pangeran beseta istri. Dapat dilihat bahwa Candrasengkala yang terdapat di

makam Bupati Kanjeng Sepuh yang berbunyi “1833 Gunane Aponggo

Wedahe Rupo 1893” yang bermakna Gunane =3 Aponggo=3 Wedahe=8 dan

Rupo=1 ini berarti bahwa pembuatan tulisan tersebut dimulai tahun

1833-1893, Jadi pembuatanya seabad dengan Kanjeng Sepuh. Di belakang mihrab

masjid terdapat rubuk kuno atau jam batu untuk menunjukan waktu sholat

dari bantuan cahaya matahari dan sekarang sudah dirobohkan. Di sebelah

paling barat terdapat sumur tua yang disertai dengan saluran air pengisi kolam

wudlu.38

3. Alun-Alun Sidayu, Pasar dan Bekas Kantor Pemerintahan

Alun-alun merupakan tempat yang datar dan luas, Alun-alun Sidayu

merupakan bekas peninggalan kota Kadipaten. Dalam buku yang ditulis

Dukut Imam Widodo dikatakan bahwa pada masa Pemerintahan Belanda

alun-alun dipakai oleh para prajurit untuk latihan, selain itu Alun-alun

37

Libra Hari Inagurasi,Laporan Penelitian: Kota Masa Pengaruh Eropa : Studi Terhadap Kota Sidayu, Gresik, Jawa Timur (Jakarta: Badan Pengembembangan Kebudayaan Dan Pariwisata Pusat Arkeologi, 2002),14

38

(36)

27

digunakan tempat para Bupati Sidayu untuk menerima penghargaan dan

penghormatan. Di alun- alun itu pula banyak saudagar Kompeni Belanda

berjalan-jalan di sekitarnya. Di sekitar alun-alun terdapat rumah-rumah

Belanda, yang dikelilingi pohon-pohon dan didepanya terdapat kantor

Kabupaten serta pasar masyarakat Sidayu. Pada masa itu pula belum ada

mobil, terdapat kereta-kereta beroda empat yang ditarik oleh empat ekor kuda

dan para bangsawan Sidayu atau para serdadu kompeni bergaya naik kuda.

Kemudian di sudut alun-alun ditempatkan gardu-gardu penjagaan, maka para

prajurit Sidayu dengan bersenjatakan tombak atau pedang terhunus akan

mengamati setiap pejalan kaki yang lewat. Itulah gambaran Sidayu semasa

abad 19 adalah sebuah ibu kota kabupaten dan setelah bupati memerintah

selama 4 abad maka Sidayu diubah kedudukannya menjadi sebuah

Kawedanan.39

Kantor Kawedanan didirikan setelah Sidayu menjadi Kadipaten yang

dibangun di sebelah timur alun-alun dan bangunan menghadap ke barat atau

ke arah alun-alun, bangunan tersebut antara alun-alun Sidayu. Bangunan

tersebut dirancang untuk perkantoran dan tetap dipergunakan meskipun

istilah kawedanan berubah menjadi pembantu Bupati. Setelah tidak ada lagi

jabatan pembantu Bupati, bangunan kantor untuk beberapa tahun kosong

tidak dipergunakan lagi.40

39

Dukut Imam Widodo, Grisse Tempo Doloe (Gresik:Pemerintah Kabupaten Gresik, 2004). 349. 40

(37)

28

Dari sekilas sejarah Sidayu diatas dapat diketahui salah satu bukti

peninggalan pemerintahan Sidayu adalah tempat peribadatan umat Islam berupa

Masjid yang sekarang dikenal dengan Masjid Besar Kanjeng Sepuh.

Setelah masa pemerintahan Raden Badrun berakhirlah kota Sidayu sebagai

ibukota Kadipaten dan pemerintahan Belanda menjadikan Sidayu hanya sebagai

“Countelir” (pemerintahan perwakilan) dengan alasan untuk mengatasi

kekacauan masa Raden Badrun yang dipindah ke Jombang. Sementara itu dalam

perkembangan waktu dari status countelir wilayah Sidayu dirubah namanya

menjadi kota Kawedanan atau istilah sebagai pembantu bupati. Kemudian status

ini berakhir ketika kebijaksanaan otonomi daerah diberlakukan tahun 2001 dan

kini sidayu hanya sebagai kota Kecamatan.41

Sidayu berada di wilayah pantai Utara Pulau Jawa yang masih termasuk

kedalam wilayah Kabupaten Gresik, seperti yang diketahui banyak terdapat

peninggalan-peninggalan bernuansa Agama Islam yang berada di wilayah

Kabupaten Gresik, seperti Makam Sunan Giri, Makam Syekh Maulana Malik

Ibrahim, dan juga Makam Siti Fatimah Binti Maimun, yang merupakan makam

Islam pertama yang ditemukan. Dengan banyaknya peninggalan-peninggalan

bernuansa Islam di Kabupaten Gresik, menyebabkan wilayah Kabupaten Gresik

merupakan wilayah yang banyak mendapatkan pengaruh Agama Islam.

Adanya pengaruh Agama Islam di Kabupaten Gresik, juga sampai ke wilayah

Sidayu. Hal tersebut dapat diketahui dengan adanya Makam dari Kanjeng Sepuh,

seorang Ulama’ yang juga merupakan Bupati ke-8 Kadipaten Sidayu. Kanjeng

41

(38)

29

Sepuh merupakan bupati dan juga Ulama’ yang disegani pada masanya, bahkan

sampai sekarang makam dari Kanjeng Sepuh masih ramai dikunjungi oleh para

peziarah.

Sebagai daerah yang mendapat pengaruh Agama Islam, masyarakat Sidayu

mayoritas suku Jawa.42 Tentunya di wilayah Sidayu terdapat banyak

budaya-budaya yang bernuansa Islam yang telah berakulturasi dengan budaya-budaya Jawa,

seperti Ziarah Kubur, Tahlilan, Yasinan, Slametan, Sedekah Bumi, dan lain-lain.

Dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam, tentunya aktivitas budaya

keagamaan tersebut terus berjalan bahkan sampai sekarang. Banyaknya masjid

dan musholla yang tersebar di berbagai desa, dan juga adanya beberapa pondok

pesantren yang tersebar di berbagai tempat adalah beberapa faktor pendukungnya

antara lain Pondok Pesantren Al-Munawwar, Pondok Pesantren Qiyamul Manar,

dan Pondok Pesantren Mamba’ul Hisan. Berikut ini adalah data yang

menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Sidayu beragama Islam dan banyaknya

[image:38.595.111.513.257.686.2]

masjid dan musholla di Sidayu.

Tabel Jumlah pemeluk agama dan tempat ibadah tahun 2015 Sumber: Kecamatan Sidayu dalam angka

42

(39)

30

Sebagai daerah dengan penduduk yang mayoritas beragama Islam,

tentunya para penduduknya juga dikategorikan menurut organisasi keagamaan

Islam yang mereka ikuti, seperti Nahdlatul Ulama’, Muhammadiyah, ataupun

Wahabi. Nahdhotul Ulama’ dan Muhammadiyah merupakan organisasi

keagamaan yang banyak diikuti oleh sebagian besar penduduk di Sidayu,

penyebaran keduanya juga berimbang, sedangkan untuk penganut faham Salafi,

merupakan kelompok keagamaan minoritas yang ada di Sidayu, yang

penyebarannya hanya terkonsentrasi di wilayah Desa Sedagaran, Serowo dan

sekitarnya di daerah utara Kecamatan Sidayu.

B. Kehidupan Masyarakat Sidayu

Sebagai sebuah kenyatan sejarah, begitu kata Kuntowijioyo, agama dan

kebudayaan dapat saling mempengaruhi karena keduanya terdapat nilai dan

simbol.43 Agama adalah simbol yang melambangkan nilai-nilai ketaatan kepada

Tuhan. Kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa

hidup di dalamnya. Agama juga sangat memerlukan sistem simbol, dengan kata

lain agama memerlukan kebudayaan agama. Tetapi keduanya perlu dibedakan.

Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (parennial) dan tidak mengenal

perubahan (absolut). Sedangkan kebudayaan bersifat partikular, relatif dan

temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat bekembang sebagai agama

43

(40)

31

pribadi, tetapi tanpa kebudayaan agama hanya sebagai kolektivitas semata tidak

akan mendapat tempat.44

Islam yang hadir di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dengan tradisi atau

budaya yang ada di Indonesia. Sama seperti Islam di Arab saudi, Arabisme dan

Islamisme bergumul sedemikian rupa di kawasan Timur Tengah sehingga

kadang-kadang orang sulit membedakan mana yang nilai Islam dan mana yang

simbol budaya Arab. Nabi Muhammad saw, tentu saja dengan bimbingan Allah

(mawa yanthiqu „anil hawa, in hua illa wahyu yuha), Artinya : “yang diucapkan

itu bukan berasal dari hawa nafsu melainkan wahyu yang diwahyukan”, dengan

cukup cerdik (fathanah) mengetahui sosiologi masyarakat Arab pada saat itu.

Sehingga beliau dengan serta merta menggunakan tradisi-tradisi Arab untuk

mengembangkan Islam. Sebagai salah satu contoh misalnya, ketika Nabi saw

hijrah ke Madinah, masyarakat Madinah di sana menyambut dengan iringan

gendang dan tetabuhan sambil menyanyikan thala’al-badru „alaaina dan

seterusnya.45

Berbeda dengan agama-agama lain, Islam masuk Indonesia dengan cara

begitu elastis. Baik itu yang berhubungan dengan pengenalan simbol-simbol

Islami (misalnya bentuk bangunan peribadatan) atau ritus-ritus keagamaan (untuk

memahami nilai-nilai Islam). Dapat kita lihat, masjid-masjid pertama yang

dibangun di sini bentuknya menyerupai arsitektur lokal-warisan dari Hindu.

Sehingga jelas Islam lebih toleran terhadap warna atau corak budaya lokal. Tidak

seperti agama yang lain, misalnya Budha yang masuk “membawa stupa”, atau

44

Ibid., 198. 45

(41)

32

bangunan gereja Kristen yang arsitekturnya ala Barat. Dengan demikian, Islam

tidak memindahkan simbol-simbol budaya yang ada di Timur Tengah (Arab),

tempat lahirnya agama Islam.46

Demikian pula untuk memahami nilai-nilai Islam. Para pendakwah Islam

kita dahulu, memang lebih luwes dan halus dalam menyampaikan ajaran Islam

kepada masyarakat yang heterogen setting nilai budayanya. Mungkin kita masih

ingat para wali yang di Jawa dikenal dengan sebutan Wali Songo. Mereka dapat

dengan mudah memasukkan Islam karena agama tersebut tidak dibawanya dalam

bungkus Arab, melainkan dalam racikan dan kemasan bercita rasa Jawa. Artinya,

masyarakat diberi “bingkisan” yang dibungkus dengan budaya Jawa tetapi

berisikan ajaran-ajaran Islam.

1. Kondisi Sosial dan Keagamaan

Kehidupan agama pada masyarakat Sidayu masih dipenuhi agama

Hindu Budha. Hal ini karena pada abad 13 kerajaan Majapahit mencapai

puncak kebesarannya dengan menguasai jaringan perdagangan di Nusantara

sehingga dapat dirasakan pula adanya pengaruh kerajaan terhadap

kepercayaan masyarakat yakni Hindu-Budha. Di mana wilayah Sidayu yang

merupakan sebelah timur Tuban salah satu pelabuhan pantai pada masa

Majapahit masyarakatnya pun banyak menganut agama Hindu-Budha.47

Perlu diketahui bahwa masyarakat dalam agama Hindu dibagi dalam

beberapa kasta, yakni terkenal dengan Kasta Brahmana, Ksatria, Waisya dan

46

Prof. Dr. Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa (Jakarta: Toraja, 2003), 127. 47

(42)

33

Sudra. Kasta Brahmana adalah kastanya para pendeta dan para pendidik,

Kasta Ksatria adalah kastanya para raja dan panglima, sedang kasta Waisya

adalah kastanya para sadudagar dan tukang-tukang kemudian Sudra adalah

kastanya kuli-kuli serta para hamba sahaya, di samping itu ada pula golongan

yang terendah yang disebut paria. Paria adalah golongan tukang tandur yakni

golongan paling bawah dalam kasta Hindu.48

Pada taraf permulaan masuknya Islam di pesisir pantai utara Jawa,

terutama di daerah kekuasaan Majapahit merupakan proses islamisasi yang

telah mencapai bentuk kekuasaan politik seperti munculnya Demak. Dalam

penyiaran agama Islam di Jawa oleh para muballigh atau dikenal dengan

sebutan wali telah menetralisir aktivitasnya dengan menjadikan kota Demak

sebagai pusat kegiatannya, setelah masuknya agama Islam yang dibawa para

muballigh untuk disebarluaskan dengan cara damai, maka rakyat di tanah

Jawa yang tidak kurang 700 tahun lamanya hidup sebagai orang sudra yang

dianggap hina telah beralih atau pindah ke agama Islam.49

Masa peralihan yang dimaksudkan dari zaman Hindu ke Islam secara

resmi adalah bermula dari para penguasa formal (Raja, Pejabat, Kerajaan)

akibatnya sebagian besar rakyat mengikutinya dan Islamnya para penguasa

itu pun dapat pula mempengaruhi penguasa-penguasa lainnya untuk memeluk

Islam, sehingga Islam dapat berkembang dengan cepat.50

48

Solihin Salam, Sekitar Wali Songo (Yogyakarta: Menara Kudus, 1960), 9-10 49

Ibid., 11. 50

(43)

34

Berkembangnya agama Islam tersebut sampai ke pelosok daerah di

wilayah Sidayu. Sidayu yang masyarakatnya mayoritas Islam tentunya

aktivitas keagamaan di desa-desa diwarnai oleh ajaran Islam atau dapat

dikatakan bahwa kondisi wilayah Sidayu merupakan wilayah yang

masyarakatnya agamis, hal itu dapat dilihat dari adanya masjid atau musholla

sebagai kegiatan keagamaannya, namun pengaruh dari agama Hindu-Budha

masih juga mengakar pada mereka.51

Bukti nyata bahwa Sidayu beragama Hindu adalah adanya Patung

Dwarapala yang terletak di Desa Mojopuro Wetan yang sekarang sudah

dipindahkan ke Trowulan, dimana masa itu Sidayu merupakan sebuah

kerajaan yang beribu kota kerajaannya di Lasem52 dan adanya prasasti di

Karang Bogem sekitar abad 18-an, sesuai apa yang disampaikan oleh Van

Stein Callefels sebagaimana yang termuat dalam Oudheidkundig Versleg

1982. Berikut terjemahan dari prasasti tersebut:

1) Itu hendaknya diketahui (oleh) para menteri di Tirah Arya Songga (dari)

Pabeeman, Arya Carita (dari) Purut, Patil, Lajer; hendaknya mengetahui

bahwa saya menetap.

2) Kan tanaha pekarangan (milik) Patih Tambak Karang Bogem, yang

berlokasi: sebelah selatan berbatas tanah padang (daratan) kering), batas

timur memanjang hingga mencapai laut.

51

Husnul Karimi, Wawancara, Sidayu, 28 Desember 2016. 52

(44)

35

3) Batas sebelah barat tebangan hutan pohon demung (bambu?) terus

berlanjut (kurang lebih 28.860 m2). Dan tegalannya satu kikil (setengah

jung). Itulah luasnya. Hendaknya jangan diganggu-ganggu.

4) Adalah seorang hambakau dari Gresik (seorang) nelayan, berhutang satu

kati dua lekas (12.000) bermaksud mengembalikan (menyaur)

sedapat-dapatnya, dengan meminta bantuan sesama kawan nelayan; hendaknya

(dia ini) dibebaskan (oleh) kesediaan (pemerintahan) Si-

5) Dhayu, hendaknya diusahakan (diberi pengarahan) hal itu dari dalam

daerah Galangan wolu agar menyerahkan terasi seberat seribu (apa?) tiap

sebidang tambak (dan) semua isi (hasil)-

6) Tambak itu diserahkan kepada saya. Adapaun pedagang, hendaknya

dibebaskan (dari) keharusan pajak. Tetapi hendaknya dikenakan pajak.

(sebagai tanda) kesetiaan (tanda bukti/bulu bekti).

Halaman atau belakang: Separuh (nya) menurut rata-rata warga di

wilayah itu, tertanggal ke-17, bulan delapan. Lembu Jantan Katatang.53

Maka dari itu pengaruh tersebut, sebagian besar dari mereka, ada yang

masih memeluk agama Hindu dan Islam, namun Islam dari mereka ada yang

disebut dengan Islam kejawen (abangan) yakni letaknya tepat di Sidayu

wetan.54

Menurut Koentjoroningrat Islam santri adalah penganut agama Islam

di Jawa yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran-ajaran dari

53

Ibid., 122-123. 54Bapak H. Rif’an,

(45)

36

agamanya. Sedangkan Islam kajawen adalah percaya pada ajaran keimanan

agama Islam tetapi tidak secara patuh menjalankan rukun-rukun dari agama

Islam misalnya: sholat, puasa, haji, dan sebagainya.55

Perlu diketahui orang yang pertama kali mengislamkan masyarakat

Sidayu adalah Raden Yugo, kemudian sekitar tahun 1600-an dari kesultanan

Solo telah mengirim Raden Kromowijoyo untuk menjadi Bupati di Sidayu,

sekaligus membuat tempat peribadatan (masjid).56

Kehidupan masyarakat Sidayu masih dijumpai pula adanya alam

pikiran monoisme yakni mereka percaya antara manusia yang masih hidup

dan manusia yang telah mati atau roh-roh halus maupun percaya pada

benda-benda yang memiliki kekuatan.57

Menurut Kuntjoroningrat kebanyakan orang Jawa percaya bahwa

hidup manusia di dunia diatur dalam alam semesta, sehingga tidak sedikit

mereka bersikap nerima yakni menyerahkan diri pada takdir. Bersamaan

dengan pandangan alam pikiran partisipasi tersebut, orang Jawa percaya

kepada suatu yang melebihi segala kekuatan dimana saja yang dikenal dengan

kesaktian (kekuatan sakti).58

Kesaktian adalah kepercayaan pada benda-benda pusaka, keris dan

alat-alat suara Jawa (gamelan), kendaraan istana dan lain-lain. Kemudian

percaya pada arwah atau ruh leluhur dan makhluk-makhluk halus seperti:

memedi, lelembut, tuyul, dedemit, dan lain-lain. Dalam pandangannya

55

Kuntjoroningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jakarta: Jambatan, 1979), 337. 56

Moh. Tohir, Sejarah Singkat Kanjeng Sepuh Adipati Surya Diningrat Sidayu 1784-1856, (Gresik:Catatan kepustakaan, arsip Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sidayu, 2007), 12 57

Husnul Karimi, Wawancara, Sidayu, 28 Desember 2016. 58

(46)

37

masing-masing makhluk-makhluk halus tersebut dapat mendatangkan

kesuksesan, kebahagiaan, ketentraman ataupun keselamatan, tapi sebaliknya

dapat pula menimbulkan gangguan pikiran, kesehatan bahkan kematian dan

apabila seorang ingin hidup tanpa menderita gangguan itu, mereka harus

mengadakan selametan atau membuat sesajen.

Selametan adalah suatu upacara makan bersama, makanan itu telah

diberi do’a sebelum dibagi-bagikan dan upacara ini biasanya dipimpin oleh

moden, yakni salah seorang pegawai masjid. Sedangkan sesajen adalah

penyerahan sajian pada saat tertentu di dalam rangka kepercayaan terhadap

makhluk halus di tempat-tempat tertentu, seperti di bawah tiang rumah, di

persimpangan jalan, di pohon-pohon besar dan lain-lain.59

Menyangkut upacara selamatan bagi masyarakat Sidayu yang sering

kali dilakukan adalah:

a. Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seorang seperti hamil tujuh bulan

kelahiran, upacara potong rambut pertama, sunatan dan selamatan setelah

kematian.

b. Selamatan berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar Islam,

seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dan lain-lain.

c. Selamatan yang bertalian dengan bersih desa, penggarapan tanah pertanian

dan setelah panen padi atau masyarakat Sidayu menyebutnya dengan

59

(47)

38

sedekah bumi (Nyadran). Sedekah bumi ini dilakukan setiap habis panen

sebagai perwujudan rasa syukur atas rezeki yang telah mereka dapatkan.60

2. Kondisi Sosial Perekonomian

Mata pencaharian penduduk Sidayu cukup komplek seperti

perdagangan, penguasa, petani, pegawai negri, pegawai swasta , namun mata

pencaharian yang paling menonjol adalah petani, perikanan (tambak)dan

peternak burung wallet.

Usaha pertanian yang dikembangkan oleh masyarakat Sidayu adalah

padi, jagung, ketela, kacang Cina, kacang tunggak, tembakau, kapuk dan

jarak.61 Kondisi ekonomi masyarakat Sidayu yang bersumber dari lahan

pertanian sudah dapat dikatakan mencapai tingkatan yang cukup baik hal ini

karena lahan atau tanah di kawasan wilayah Sidayu umumnya sesuai untuk

pertanian. Berdasarkan fakta bahwa frekuensi panen yang mereka capai

rata-rata dua sampai tiga kali panen dalam setahun.

Sedangkan usaha pertanian dalam hal ini adalah burung wallet, sarang

burung wallet merupakan komoditi eksport yang di dalam perdagangan

internasional di kenal dengan nama “Bird’s nest”. Komoditi ini terdaftar

dengan nomor SITC (Standart Internasional Trade Classification). Di

Indonesia sarang burung wallet di kenal sejak tahun 1720 dan pertama kali

ditemukan oleh seorang lurah bernama Sadrana yang secara tidak sengaja

menemukan sarang burung wallet di Gua Karang Bolong Kebuman Jawa

Tengah. Melihat banyaknya minat untuk membuat sarang burung wallet,

60

Husnul Karimi, Wawancara, Sidayu, 28 Desember 2016. 61

(48)

39

maka usaha ini menjadi trend sebab mengingat banyaknya harga jual

produknya yang mencapai belasan juta per-kilogram, selain itu banyak

memiliki manfaat.

Selain peternakan burung walet, masyarakat Sidayu juga usaha

peternakan lembu yang tidak digunakan untuk mencari keuntungan

melainkan dipakai untuk kepentingan petani yakni sebagai hewan tarik,

sedangkan peternakan kambing dikarenakan sukar mencari rumput di musim

kemarau dan untuk angkutan (dokar) kuda biasanya didatangkan dari luar,

misalnya kuda-kuda Nusa Tenggara yang dibeli dari Surabaya.62

Usaha perikanan yang dilakukan masyarakat Sidayu adalah tambak.

Usaha ini masyarakatnya banyak menghasilkan ikan bandeng yang segar dan

dikirim ke Surabaya, pada masa pemerintahan Belanda usaha pertambakan

telah berkembang di beberapa wilayah Indonesia. Di Jawa usaha tambak

berada di sepanjang pantai utara Jawa juga di pantai Madura.

Berita dari Bupati Sidayu bahwa tambak ikan Gresik mengalami

perkembangan pada tahun 1860-an. Terutama berada di dekat Ujung

Pangkah. Pesatnya tambak ikan dimungkinkan karena untuk mengeksploitasi

ekonomi perkebunan di sekitar pantai utara Gresik yang tak cukup

memberikan harapan bagi Belanda. Usaha tambak dirasakan sangat

menjanjikan kenikmatan, sehingga wilayah Gresik cukup potensial

62

(49)

40

mengembangkan sektor ini.63 Perikanan laut ini yang besar juga terdapat di

Sidayu Lawas, setelah menghasilkan pindang yang dikirim ke Surakarta.

C. Organisasi Masyarakat Islam Di Sidayu

Di Sidayu terdapat tiga organisasi masyarakat terbesar yang dianut oleh

masyarakat Sidayu, yaitu Nahdlatul Ulama’, Muhammadiyah dan Salafi. Dalam

aktifitas sehari-hari terdapat korelasi yang cukup signifikan antara ketiga aliran

keagamaan tersebut, di mana aliran yang berhaluan Ahlusunnah Waljamaah (NU)

merasa cemas karena dari tahun ke tahun jamaahnya semakin berkurang dan

memilih untuk menikah dengan aliran Salafiyah, selain itu perbedaan aliran antar

ketiganya yang berbeda membuat intraksi antar ketiga aliran di rasa kurang

harmonis, di mana Ajaran NU dalam berdakwah masih mempertahankan

ajaran-ajaran lama dan masih memegang teguh dakwa penyebaran Islam seperti manhaj

suci wali sanga dalam berdakwah di tanah Jawa. Mereka lebih mengedepankan

nilai-nilai santun dan penuh etika menghadapi berbagai macam karakter dan

budaya yang ada bagi bangsa Indonesia.

Kearifan dan kecerdikan Wali Songo yang dalam dakwahnya bisa

memposisikan budaya sebagai jembatan dakwah. Sedangkan untuk

Muhammadiyah berusaha lebih maju satu langkah dari Nahdlatul Ulama dan

Salafi secara tidak langsung menerapkan Fundamentalisme (kembali kepada

ide-ide dan praktik-praktik dasar yang menjadi ciri Islam pada masa permulaan

sejarahnya), yang berpedoman kepada teks-teks keagamaan serta ulama-ulama

terdahulu.

63

(50)

41

Dalam gerakan Wahabiyah atau Salafiyah sering dijumpai adanya keinginan

yang kuat untuk kembali kepada yang benar-benar di anggap murni dari zaman

Rasulallah dan sahabat. Keinginan kepada kesederhanaan ini mendorong mereka

untuk betul-betul mencontoh yang otentik (asli). Mereka berusaha memanjangkan

jenggot dan mencungkur kumis, memakai cadar untuk wanita dan berkatok

cingkrang untuk pria dan menolak cara bertamu modern.64

1. Nahdlatul Ulama’

Nahdlatul Ulama’ adalah organisasi masyarakat Islam yang paling

banyak diikuti di Wilayah Sidayu. Dari data kongkrit Majelis Wakil Cabang

Nahdlatul Ulama’ Sidayu 28 Juli tahun 2000, jumlah angka warga Nahdliin

Sidayu mencapai 7.795 orang terbagi 26 desa atau ranting se-Kecamatan

Sidayu. Adapun desa atau ranting tersebut sebagai berikut: Asemanis,

Asempapak, Brak Wadeng, Bunderan, Gedangan, Golokan, Kauman,

Kertosono, Kuncen, Lasem, Mojoasem, Mriyunan, Ngawen,

Pengulu-Purwodadi, Petiyin, Racikulon, Raci Tengah, Randuboto, Sambi Pondok,

Sedagaran-serowo, Sidomulyo, Sukorejo, Tajungsari, Telogorambit, Ujung

Timur, Wadeng.

Sejak awal didirikan aliran Nahdlatul Ulama ini lebih mudah diterima

masyarakat Sidayu, hal itu dikarenakan masyarakat Sidayu pada saat itu

pemikiran dan konsep teologisnya masih terpengaruh budaya Hindu-Budha.

Nahdlatul Ulama masuk ketengah-tengah masyarakat melalui pendekatan

secara persuasif melalui budaya-budaya lokal Sidayu.

64

(51)

42

Hingga dewasa ini Nahdlatul Ulama menjadi aliran teologis mayoritas di

Sidayu. Dalam perkembangannya NU di Sidayu semakin hari semakin kuat,

hal ini dibuktikan dengan banyaknya lembaga-lembaga yang dinaungi NU

seperti lembaga pendidikan formal maupun nonformal, masjid-masjid yang

berhaluan NU, dll. Selain itu banyaknya organisasi-organisasi yang secara

sistem memang berindukan NU masih aktif di berbagai ranting desa maupun

tingkat kecamatan seperti IPNU, IPPNU, FATAYAT, Muslimat, GP

ANSOR, BANSER dan sebagainya.65 Disamping lembaga dan organisasi

aktif bi

Gambar

Gambar artefak pada dinding komplek makam Bupati Sidayu.
Tabel Jumlah pemeluk agama dan tempat ibadah tahun 2015 Sumber: Kecamatan Sidayu dalam angka

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, dalam melakukan rekombinasi genetik, seorang pemulia selain dapat melakukannya melalui penggabungan sel telur dan sperma (atau serbuk sari dan putik pada

Bahwa ia terdakwa Hengki Bin Subuh pada hari sabtu tanggal 23 Januari 2016 sekitar pukul 15 .00 wita atau setidak-tidaknya pada suatu waktu lain dalam bulan januari tahun 2016,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah, oleh karena itu hendaknya Koperasi Simpan Pinjam Sumber

Menurut Pariwono (1989) dalam artikel Kondisi Pasang Surut Di Indonesia, Co-Amplitude memperlihatkan garis yang menghubungkan titik-titik di laut dengan amplitudo yang

(1) Lokasi Panduan Rancang Kota (PRK)· Pengembangan Koridor MRT Jakarta Tahap I (satu) ditetapkan melalui wilayah Kecamatan Cilandak, Kecamatan Kebayoran Lama, Kecamatan Kebayoran

Presentasee Jaringan yang dilakukan pengguna Twitter Persentase jaringan yang dihasilkan oleh pengguna Twitter menunjukan perggerakan yang berbeda dari setiap pemilik

Pengawasan yang dilakukan oleh Kantor Lingkungan Hidup Kota Magelang selama ini belum sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Irwan Adhie Nugroho, Kepala Seksi

Perihal petilasan Syekh Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar di Pekalongan, sejalan dari uraian di atas, dan tidak adanya keterangan tertulis yang menguatkan selain tradisi lisan