• Tidak ada hasil yang ditemukan

B1J011059 10.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "B1J011059 10."

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

1

RINGKASAN

Chrysophyta merupakan divisi fitoplankton yang sensitif terhadap perubahan lingkungan perairan. Tujuan penelitian adalah mengetahui kelimpahan dan distribusi horizontal Chrysophyta serta faktor fisika dan kimia perairan, mengetahui tingkat kesamaan antarstasiun, serta mengetahui korelasi antara kelimpahan dan distribusi horizontal Chrysophyta dengan faktor fisika dan kimia perairan Waduk Penjalin. Kelimpahan Chrysophyta dihitung dengan metode modifikasi Lackey Drop Microtransect Counting Chamber. Pola distribusi horizontal Chrysophyta dianalisis dengan Indeks Morisita. Tingkat kesamaan antarstasiun berdasarkan kelimpahan, distribusi horizontal Chrysophyta, serta faktor fisika dan kimia dianalisis Clusterdan

Simper. Korelasi kelimpahan dan distribusi horizontal Chrysophyta dengan faktor fisika dan kimia perairan dianalisis menggunakan korelasi regresi linier berganda. Kelimpahan Chrysophyta yang didapatkan berkisar 7.082-159.777 ind.l-1 dengan

spesies yang paling melimpah adalah Cyclotella meneghiniana. Pola distribusi horizontal Chrysophyta didapatkan seragam. Hasil analisis Cluster kelimpahan Chrysophyta didapatkan kesamaan yang rendah dan hasil analisis Simperdidapatkan spesies yang berkontribusi memberikan ketidaksamaan adalah Cyclotella meneghiniana. Hasil analisis Cluster distribusi horizontal Chrysophyta didapatkan kesamaan yang rendah dan hasil analisis Simper didapatkan spesies yang berkontribusi memberikan ketidaksamaan adalah Achnanthes brevipes, Amphiprora ovalis, dan Chaetoceros peruvianum. Hasil analisis Cluster faktor fisika dan kimia didapatkan kesamaan yang tinggi dan hasil analisis Simper didapatkan faktor fisika dan kimia yang berkontribusi memberikan ketidaksamaan adalah silika dan TSS. Korelasi kelimpahan Chrysophyta dengan faktor fisika dan kimia adalah kuat dengan koefisien korelasi 0,685 dan koefisien determinasi 47%, serta persamaan Y = 1.856,850 - 55.478,220 (Penetrasi Cahaya) + 907,835 (Kedalaman) + 2.909,913 (Suhu) + 94,891 (TSS) - 2.892,899 (DO) - 265,315 (BOD5) - 7.601,391 (NO3) +

7.782.500,191 (PO4) + 55,107 (Si). Korelasi distribusi horizontal Chrysophyta

dengan faktor fisika dan kimia adalah sedang dengan koefisien korelasi 0,539 dan koefisien determinasi 29%, serta persamaan Y = 1,610 + 0,467 (Penetrasi Cahaya) -0,062 (Kedalaman) - 0,086 (Suhu) - 0,028 (TSS) + 0,073 (DO) + 0,069 (BOD5) +

0,624 (NO3) + 109,336 (PO4) - 0,001 (Si).

Kata Kunci : Chrysophyta, kelimpahan, distribusi horizontal, korelasi, Waduk Penjalin

(2)

2

SUMMARY

Chrysophyceae is one of the divisions of phytoplankton that sensitive to changes in the aquatic environment. The research objective was to determine the abundance and horizontal distribution of Chrysophyceae also physical and chemical factors, determine the degree of similarity between the stations, and determine the correlation between the abundance and distribution of Chrysophyceae horizontally with factor of physics and chemistry Penjalin Reservoir. Chrysophyceae abundance calculated using Lackey Drop Microtransect Counting Chamber Method. Chrysophyceae distribution patterns were analyzed by Morisita Index. The degree of similarity between the stations based abundance, horizontal distribution of Chrysophyceae, physical and chemical factors analyzed Cluster and continued with Simper. The correlation between the abundance and horizontal distribution of Chrysophyceae with physical and chemical factors were analyzed using multiple linear regression correlation. Chrysophyceae abundance obtained ranged 7,082-159,777 ind.l-1. The most abundant species Chrysophyceae is Cyclotella meneghiniana. Chrysophyceae horizontal distribution patterns are uniform. Cluster and Simper analysis of Chrysophyceae abundance obtained 30.56% similarity with the species that contributes inequality is Cyclotella meneghiniana. Cluster and Simper analysis of Chrysophyceae horizontal distribution obtained 9.47% similarity with the species that contributes inequality are Achnanthes brevipes, Amphiprora ovalis, andChaetoceros peruvianum. Cluster and Simper analysis results of physical and chemical factors obtained 86.09% similarity with factors that contribute inequality are silica and TSS. Correlation of Chrysophyceae abundance with physical and chemical factors are strong with correlation coefficient of 0.685 and determination coefficient of 47%, and regression equation Y = 1,856.850 – 55,478.220 (Penetration of Light) + 907.835 (Depht) + 2,909.913 (Temperature) + 94,891 (TSS) + 0,000 (pH) 2,892.899 (DO) 265.315 (BOD5) 7601.391 (NO3) + 7,782,500.191 (PO4) + 55.107 (Si). Correlation between horizontal distribution of Chrysophyceae with physical and chemical factors are medium with correlation coefficient of 0.539 and determination coefficient of 29%, and regression equation Y = 1.610 + 0.467 (Penetration of Light) 0.062 (Depht) 0.086 (Temperature) 0.028 (TSS) + 0.073 (DO) + 0.069 (BOD5) + 0.624 (NO3) + 109.336 (PO4)0.001 (Si).

Key Word : Chrysophyceae, abundance, horizontal distribution, correlation,

Penjalin Reservoir

Referensi

Dokumen terkait

Analisis data menggunakan analisis kelimpahan (Ki), keanekaragaman (H’) Shannon Wieners, Morisita Dispersion Index, dan Index Jaccard. Hasil penelitian menunjukan,

Hasil analisis menunjukkan bahwa kelimpahan yang relatif tinggi terjadi pada Oktober sampai dengan Maret dengan dua puncak, Oktober dan Maret.. Kelimpahan yang relatif rendah

Hasil analisis indeks keragaman spesies moluska menunjukkan spesies kategori jarang dengan persentase spesies yang rendah jika dibandingkan dengan persentase spesies

Hasil analisis dengan GenBank menunjukkan bahwa urutan basa sisipan 2 (577 pb) yang diperoleh memiliki kesamaan yang tinggi dengan urutan basa gen kelompok LFY/FLO

Berdasarkan hasil analisis kelimpah an lamun di Lauran, spesies yang memiliki kelimpahan tertinggi adalah.. dengan nilai kelimpahan sebesar 6,29 ind/m 2

Grafik kelimpahan relatif stasiun I Hasil analisis kelimpahan relatif pada stasiun II dengan nilai tertinggi yaitu spesies Episesarma sebesar 0,200 %, sedangkan untuk nilai yang paling

didapatkan hasil analisis indeks keanekaragaman spesies vegetasi tumbuhan Spermatophyta dengan 14 famili dan 17 spesies dengan hasil perhitungan indeks keanekaragaman dari seluruh

Berdasarkan hasil Profilisasi Cluster, didapatkan hasil bahwa Cluster 1 dengan 11 anggota adalah Cluster dengan kategori Rendah karena memiliki rata-rata jumlah produksi dan luas panen