• Tidak ada hasil yang ditemukan

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

PERSPEKTIF GLOBAL

(UNU 213)

(2)

2

Pokok Bahasan :

Hakekat & konsepsi perspektif global

1.

Hakekat & definisi

2.

Dimensi, manfaat dan tujuan mempelajari sesuatu

dengan perspektif global

Perspektif global & kerterkaitannya dengan bidang (ilmu)

lain

1.

Geografi

geo-strategi – strategi global, geo-politik –

hubungan internasional, dsb.

2.

Sejarah, Sosiologi dan Antropologi

3.

Ekonomi, Politik

Imperialism, kapitalisme global

4.

IPTEK, khususnya Teknologi Infomasi & Komunikasi.

(3)

Daftar Pustaka :

Budiman, Arief (1995), Teori Pembangunan Dunia Ketiga., PT Gramedia Pustaka Utama,

Jakarta.

Capron, H.L. (2000), Computers, Tools for an Information Age., Sixth edition, Prentice Hall, Upper Saddle River, New Jersey, 07458

Laudon, Kenneth C. and Jane P. Laudon (2000), Management Information System. Sixth

Edition, The Dryden Press, Orlando FL

_____________ (1991), Business Information System, A Problem-Solving Approach., The Dryden Press, Orlando FL.

Mujiran, Paulus (2006), Imperialisme Budaya : Globalisasi Pornografi., Kompas, 18/02/2006, Hal. 14.

Kuncoro, Mudrajad (1996), Manajemen Keuangan Internasioanal, Pengantar Ekonomi

dan Bisnis Global., Penerbit BPFE, Yogyakarta.

Kwik Kian Gie (2006), Blok Cepu dan Bangsa Mandiri., Kompas, 23/02/2006, Hal. 6. Kwik Kian Gie (2006), Pikiran yang Terkorupsi., Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

Kwik Kian Gie (2006), Kebijakan Ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar., Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

Mas’oed, M. Mochtar, (2002), Tantangan Internasional dan Keterbatasan Nasional : Analisis Ekonomi-Politik tentang Globalisasi Neo-Liberal., Pidato Pengukuhan Guru Besar pada FISIPOL Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 19 Oktober 2002.

(4)

4

Hakekat dan Konsepsi Perspektif

Global :

(1)

Global

Sifat gejala yang men-”dunia”.

Globalisasi

Proses menuju terbentuknya sifat, kejadian,

keputusan, kebijakan, dsb yang bersifat global.

Isu global

Masalah, kejadian, kegiatan, sikap

cosmopolite

,

dsb yang berpengaruh ke seluruh dunia (internasional)

Ciri-ciri globalisasi : Masyarakat terbuka, liberal, pasar

bebas, persaingan bebas (kompetisi), demokrasi

berkembang.

(5)

Hakekat dan Konsepsi Perspektif Global :(2)

Tujuan Umum pengetahuan tentang Perspektif

global adalah :

1.

Menghindarkan diri dari cara berfikir sempit

, terkotak oleh

batas-batas subyektif, misalnya : Perbedaan warna kulit,

ras, SARA, nasionalisme yang sempit, nasionalisme yang

berlebihan,

right or wrong is my country

, dsb.

2.

Tidak mudah menggeneralisasi suatu kejadian. Lebih

bijaksana dalam “menafsirkan suatu kejadian”. Contoh :

Kasus kartun Nabi Muhammad SAW di media Denmark

Jyllands Posten

(2006)

menimbulkan reaksi

[image:5.720.15.720.39.524.2]

pembakaran bendera Denmark. Pada bendera itu ada

gambar salib

Isu berubah/berkembang ke pertentangan

antar agama (Islam vs Kristen).

Tujuan Khusus :

Tugas Mahasiswa

1.

Kaitannya dengan misi mahasiswa sebagai

calon pendidik

(6)

6

Latar belakang, ciri & dampak

globalisasi :

(1)

Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi

berpengaruh

pada :

1.

Proses/aktivitas ekonomi masyarakat (domestik maupun internasional).

2.

Opini masyarakat (domestik maupun internasional) menjadi lebih dinamis.

3.

Berkembangnya sifat kosmopolitan masyarakat (via media komunikasi).

4.

Kebijakan sosial & politik pemerintah (domestik) harus mempertimbangkan

aspek hubungan internasional (dampak/reaksi LN terhadap DN).

Hukum ekonomi

(

the invisible hand

) semakin besar peranannya

dibanding peranan hukum negara

1.

Mekanisme pasar semakin berperan daripada proses administrasi.

2.

Sistem ekonomi mengarah ke keterbukaan, ekspansi kapitalisme internasional.

3.

“Hilangnya batas-batas” negara untuk aktivitas ekonomi. Transaksi ekonomi

tidak lagi dibatasi peraturan pemerintah, contoh : pembelian dengan US $ di

Indonesia tidak bisa dilarang oleh pemerintah. Munculnya

komunitas/assosiasi/organisasi internasional & kerjasama multilateral

semacam MEE, OKI, OPEC, mata uang Euro, pembebasan visa, dsb. Pemerintah

cenderung melepas urusan-urusan domestik masyarakatnya itu

(7)

Latar belakang dan ciri globalisasi (2)

4.

Keunggulan komparatif antar kawasan mendorong

diterapkannya teori pembagaian kerja internasional secara

konsisten. Kalau tidak, akan muncul masalah di dalam negeri.

Hubungan struktural

yang cenderung tidak adil & gagal

menciptakan kesejahteraan masyarakat secara merata.

Bentuknya :

1.

Interdependensi asimetris antar negara, antar kawasan, antara

negara-negara di utara dan selatan, antara negara kaya &

negara miskin, antara negara maju (industri) & negara

terbelakang (peng-ekspor bahan mentah), dsb.

2.

Semakin kuatnya isu keterbelakangan di dunia ke 3 karena

faktor struktural tersebut dan faktor struktur sosial di dalam

(8)

8 Latar Belakang dan ciri globalisasi (3)

Efisiensi vs Ketidakadilan

-

Terjadinya peningkatan efisiensi yang dahsyat karena pemanfaatan teknologi

informasi & komunikasi ber-skala global (kecepatan, kapasitas dan kecanggihan

feature)  di satu sisi menimbulkan dampak positif, di sisi lain berdampak negatif

berupa persaingan antara industri padat modal vs padat karya, padat

teknologi vs kebutuhan akan teknologi sederhana, dsb. Contoh : Kasus HK di PT Gudang Garam, penurunan manfaat Kartu Pos, tukang pos dan semacamnya

tidak laku lagi. Kebijakan pemerintah menghadapi risiko lebih besar  Mendukung

investasi tetapi tidak populer di mata rakyat kecil. Contoh : Kebijakan Upah

Minimum, pembebasan tanah untuk industri, RUU Ketenagakerjaan (2006) yang banyak diprotes, dsb.

-

Peningkatan efisiensi tsb mensyaratkan dukungan tatanan organisasi & manajemen

(sektor publik/negara maupun privat/swasta)  mengarah ke skala global. Di

negara-negara terbelakang tatanan organisasi ini kebanyakan tidak mampu mengimbanginya. Pemerintah (aparat) & masyarakat di negara sedang

(9)

Latar Belakang dan ciri globalisasi (4)

-

Cultural schock

 kejutan budaya yang mempengaruhi pola pikir & peradaban masyarakat secara tiba-tiba (mendadak).

- Meliputi :

 Pemanfaatan teknologi import.

 Manual  Automatic

 Kapasitas produksi yang kecil besar  Skala kecil skala besar

 Perluasan pasar : Domestik Internasional Akibatnya :

 Biaya operasi perusahaan bisa ditekan – a.l. biaya transportasi, biaya ekspedisi, dokumentasi, dsb.

 Kebutuhan perusahaan berubah & berkembang :

1.Padat karya  Padat modal

2.Teknologi sederhana  teknologi tinggi

Fenomena ini mensyaratkan struktur organisasi yang jauh lebih efisien. Kebutuhan SDM meningkat secara kualitatif, namun menurun drastis secara kuantitatif.  PHK

meningkat  muncul ledakan pengangguran  Muncul kebutuhan akan outsourcing

(mencari TK dari LN, kebanyakan dengan sistem kontrak). Indonesia butuh tenaga ahli dari LN, sedang Malaysia butuh TK kasar dari LN terutama dari Indonesia 

muncul masalah domestik & regional.

(10)

10 Latar Belakang dan ciri globalisasi (4)

 Muncul peningkatan kecepatan, kualitas, kuantitas, serta lingkup & jangkauan pelayanan (service) pada konsumen & mitra kerja yang amat drastis. Oleh karena itu muncul pula kebutuhan ekspansi perusahaan. Contoh : Pelayanan Bank  mengarah ke layanan secara

online, kepada MNC, perusahaan besar/ekspor-import. Layanan domestik – yang kurang menguntungkan a.l. UKM – terabaikan.

 Ada peningkatan fleksibilitas organisasi perusahaan : Small organization menjadi “besar” dalam bertindak, Big organization menjadi “kecil” dalam kebutuhan space, ramping dan gesit dalam bertindak.

- Batas negara & kewenangannya tunduk pada kekuatan teknologi, tatanan ekonomi global, tatanan sosial & politik internasional. Transaksi ekonomi sudah tidak mungkin diatur lagi secara efektif oleh negara. Kebijakan pemerintah cenderung pro-pasar. (NR. Klas B, 13/03/2007)

-

Capital flight

ke LN gampang sekali terjadi (= risiko yang senantiasa dihadapi kebijakan domestik pemerintah). Ketika kebijakan pemerintah tidak menguntungkan investor, maka kapital akan ditarik & dipindahkan ke LN yang lebih menguntungkan. Bentuk kebijakan yang tidak menguntungkan tsb misalnya : kebijakan pemerintah tentang PHK, UMR, infrastruktur industri yang tidak mendukung (kebijakan kenaikan TDL, BBM), fasilitas ekstra ekonomi yang buruk (perijinan yang berbelit, korupsi, fasilitas jalan raya yang buruk, telepon, tarif BM yang tinggi, dsb.).
(11)

Mas’oed (2002) menguraikan :

Persoalan yang muncul berkait dengan globalisasi ini adalah

ketidakstabilan & ketidak-pastian ekonomi-politik

(global disorder

dan

global instability)

paling tidak sejak tahun 1980-an.

Terdapat 3 kekuatan yang menyebabkannya, yaitu :

1.

Penciptaan & pengintegrasian ekonomi global di bawah hegemoni

kapitalis.

2.

Perubahan teknologi yang amat cepat

3.

Konsentrasi kepemilikan uang dan kapital oleh si kaya dan si kuat.

-

Penciptaan ekonomi global (1) dan kemajuan teknologi (2)

tidak mesti

mendorong ketidak-stabilan. Tetapi ketika ke dua kekuatan itu

digabung

dengan konsentrasi kepemilikan kapital, hasilnya adalah

instability

dan

disorder.

Mengapa ? Karena berkaitan dengan

“who get’s what”

dan isu

keadilan

(12)

12

Mengapa dan bagaimana bisa terjadi

disorder

&

Instability

?

Adanya persaingan sengit & pertikaian dagang yang

tidak sehat

antar

negara.

Disebabkan oleh faktor :

1.

“krisis over-produsksi” negara kapitalis,

2.

Perluasan pasar global,

3.

Peningkatan teknologi,

4.

Konsentrasi kapital pada negara-negara tsb.

5.

Pasar DN negara kapitalis jenuh, surplus barang di DN meningkat

Kompetisi dan keunggulan kompetitif menjadi kata kunci dalam

konteks ini

namun cenderung

tidak sehat

a.l. Dumping, perang

tarif, dsb.

merusak pasar global (merusak stabilitas harga, sistem

produksi, pola konsumsi, dsb. di negara tujuan eksport).

Kebutuhan

eksport

dan

persainga

n merebut

pasar

global

Berbeda dengan Indonesia. Eksport Indonesia didasari

(13)

Flexible Accumulation

Dalam rangka memenangkan persaingan dengan cara

meningkatkan efisiensi, MNC melakukan

sourcing, yaitu

mengkontrakkan pekerjaan kepada pengusaha mana saja di

dunia yang bisa memasok komponen, sehingga perusahaan

besar bisa mempertahankan

fleksibilitas maksimum

demi

memperoleh komoditi dengan faktor produksi paling murah.

Prinsipnya :

“Buat apa membuat komponen sendiri kalau orang

lain bisa memasok dengan harga lebih murah ?”

Untuk

memperoleh keuntungan tidak perlu secara langsung memiliki

sarana produksi sendiri. Cukup

men-sub-kontrakkan

pembuatan

barang & jasa (yang sebelumnya mereka produksi sendiri) ke

perusahaan lain di LN. Mereka mem-PHK buruhnya di negaranya

sendiri dan mengkontrakkan pekerjaannya di LN atau

mempekerjakan perusahaannya di LN (tempat investasi asingnya

berlangsung). –

lihat ilustrasi berikut !
(14)

14

Ilustrasi :

Kemajuan Teknologi yang memungkinkan

outsourcing

untuk pencapaian fleksibilitas maksimum dlm rangka

menghasilkan produk yang efisien sehingga kompetitif

Logistics Company CORE COMPANY Di Jerman Design Company Finance Company Manufacturing Company Sales and Marketing Company Indonesia : Buruh Murah dan banyak tersedia

Italia : Cita rasa seni tinggi

Australia : Produsen Kulit Berkualitas tinggi (Peternakan) Pemasaran di USA dan Eropa :

Daya beli

masyarakat tinggi

USA (Wallstreet Stock Exchange) Contoh :

Produk Persepatuan (Produk setiap perusahaan tergantung pada keunggulan komparatif masing -masing lokasi)

(15)

Implikasinya :

1.

Kalau ongkos produksi di suatu negara meningkat secara signifikan, maka

mereka akan mencari mitra kontraktor di negara lain

(capital flight).

2.

Mereka dapat menghindar dari tanggung-jawab atas dampak buruk proses

produksi barang dan jasa, a.l. kerusakan lingkungan hidup dan

perburuhan. Alasannya : mereka tidak ikut berproduksi disitu, namun

hanya membeli dari produsen lokal

secara formal tidak melanggar

hukum,

namun secara moral tidak etis

.

Komoditifikasi Uang

Pergeseran fungsi uang dari alat pembayaran

mejadi barang dagangan (komoditas).

Menanam modal disektor riil tidak banyak menjanjikan keuntungan. Oleh karena itu

banyak keuntungan pemodal ditanam di sektor finansial (jual-beli mata uang dalam skala besar-besaran). Sektor finansial menjadi sektor yang paling menguntungkan & sekaligus paling spekulatif. Menimbulkan julukan casino capitalism (Strange. 1986).

Pasar uang dan kapital dipisahkan dari sektor riil yang produktif. Akibatnya : Tidak

berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja. (Reg. Klas A, 20/03/2007)

(16)

16

Latar belakang munculnya gejala

Komoditifikasi Uang :

1.

Defisit neraca pembayaran USA. Hal ini disebabkan oleh karena

banyaknya Dollar AS yang dikirim ke LN untuk membiayai :

 Belanja militer USA yang sangat besar sejak perang dingin 1940

 Biaya impor minyaknya yang melonjak tinggi akibat embargo minyak

negara-negara di timur tengah sejak tahun 1973.

2.

Dollar AS tsb tidak banyak yang kembali ke USA karena memang

ekspornya waktu itu juga sedang mengalami penurunan. Uang dollar yang

berkeliaran di LN itu kemudian

mendorong munculnya pasar kapital

internasional

. Di hampir setiap negara didirikan bursa saham

Hal ini

mendorong maraknya investasi

portofolio

(surat berharga).

 Pasar inilah yang memberi pinjaman pada banyak perusahaan dan negara,

termasuk negara-negara industri baru di Asia Timur pada tahun 1970-an.

 Berbeda dengan investasi di sektor riil. Investasi portofolio tidak mesti untuk

kegiatan produktif, dan bisa ditarik sewaktu-waktu.

 Investor bisa untung sangat besar tanpa ada hubungannya dengan kenaikan

produksi dan penciptaan lapangan kerja baru.

(17)
(18)

18 Dampak globalisasi

Politik LN -- diplomasi

 Lemahnya posisi & daya tawar Indonesia. Menjadikan Indonesia tidak memiliki banyak pilihan untuk lobi politik internasional. Diplomat tidak mampu melepaskan diri dari bayang-bayang negara adi-kuasa seperti AS.

 Ketergantungan Indonesia menjalar ke segala bidang. Dari ketergantungan ekonomi saja menjalar ke bidang politik hingga ke pertahanan & keamanan.

 Kemampuan diplomasi menjadi cenderung dipersepsikan tidak sungguh-sungguh, lemah &

skeptis (ragu-ragu), tidak PD dalam membela kepentingan rakyat & negara. Baik dalam

hubungan bilateral maupun multilateral antar bangsa. Pemerintah Indonesia dipersepsikan oleh rakyatnya sendiri belum menempatkan diri setara dengan negara lain. Cenderung kalah/mengalah dalam diplomasi memperjuangkan kepentingan nasionalnya.

Contoh :

1. Kasus Persetujuan Indonesia pada Resolusi DK PBB No. 1747 (Th. 2007) tentang Perluasan Sanksi Kepada Iran karena mengembangkan Energi Nuklir. Indonesia (harus) memihak ke AS dan sekutunya yang jelas-jelas menerapkan standar ganda. Indonesia tidak mendapat keuntungan apapun dari dukungan tsb, malah menuai banyak kritik dari dalam negeri.

2. Kasus Lepasnya Pulau Simpadan & Ligitan karena kalah berperkara di Mahkamah

(19)

5.

Kasus Blok Cepu

Mampu dikelola sendiri, mengapa harus

diberikan ke Exxon Mobil. Menlu AS banyak berperan.

6.

Embargo suku cadang militer AS kepada Indonesia karena

kasus Timor Timur

Banyak senjata & pesawat terbang TNI

tidak bisa beroperasi. Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa.

7.

Embargo senjata, makanan, obat-obatan & alat kesehatan

sebelum invasi AS ke Irak

menyebabkan banyak orang

mati.

Di sisi lain,

AS cenderung men-dikte negara lain

(20)

20

Kepentingan Ekonomi dan Diplomasi AS di Timur

Tengah

Cadangan minyak terbesar dunia berada di Timur

Tengah (mencapai 1/3 dari seluruh cadangan dunia).

Ketergantungan AS pada impor minyak semakin besar

disebabkan karena meningkatnya permintaan DN,

sementara produksi domestiknya menurun.

Konsumsi minyak DN AS saat ini (2007) mencapai 20

juta barrel/hari. 55 %-nya harus diimpor.

(21)

Dampak globalisasi

Imperialisme Budaya

Muncul semacam Imperialisme Budaya yang mengancam budaya dan kearifan lokal.

Contoh : Fenomena/gejala globalisasi pornografi. Bagaimana memahami gejala ini

dengan perspektif global ?

 Rencana beredarnya majalah Playboy = merupakan suatu bentuk imperialisme

budaya barat. Majalah itu simbol kapitalisme dan ekspresi kebebasan ala barat yang sangat kontradiktif dengan pandangan budaya lokal (masyarakat Indonesia)

 Hampir tidak ada yang mampu membetengi globalisasi pornografi ini. Upaya

pemerintah untuk melarang dengan UU justru banyak ditentang berbagai kelompok masyarakatnya sendiri (kel. perempuan, tokoh masyarakat Bali, kel. Seniman, dsb.) RUU APP ini terancam gagal.

 Hebert Schiller (1995) : Kapitalisme telah berada pada di puncak sublimasinya – bentuknya yang halus – (advance capitalism), di mana modal tidak hanya

diterjemahkan dalam dimensi ekonomi saja, namun juga nilai-nilai budaya (cultural capital). Kapitalisme barat ini tidak hanya menginvestasi modal dan infrastruktur fisik saja, namun sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya/peradabannya untuk diterima bangsa lain, yaitu membuka lahan di kawasan lain agar produknya diterima bangsa lain. Muncul semacam intervensi kultural yang menimbulkan benturan-benturan peradaban.

(22)

22 Dampak globalisasi (2)

Siapa yang berperanan besar ? Antara lain pers & organisasi media beserta perangkatnya. Bagaimana bentuk peranannya ? Terdapat 3 pola :

 Integrasi

Deversifikasi  Internasionalisasi

Integrasi  Mengukuhkan kontrol managerialnya di seluruh dunia untuk mengkonsolidasi

(memperkuat posisi) untuk mengartikulasikan kepentingannya. Ada 2 pola : (1) Mengakuisisi media lain pada tingkat produksi yang sama (merger) ; (2) Perluasan bidang usaha, tabloid, majalah, dsb. Bergerak dalam nuasa lokal kemudian bergeser ke muatan visi, misi dan

substansi kapitalisme.

Deversifikasi  Perusahaan media besar melakukan peng-aneka-ragaman usaha dan

mengembangkan bidang-bidang usaha baru yang belum disentuh. Contoh : Kompas mengembangkan usaha percetakan, hotel, Toko Buku, dsb. Langkah deversifikasi ini digunakan untuk memperkuat diri dalam menghadapi ketidak-pastian dan risiko usaha. Sebagai cadangan sumber daya ketika salah satu bidang usahanya terkena resesi atau bangkrut oleh karena sebab lain (misal : tekanan ekstrim masyarakat, kebijakan pemerintah yang melarang, dsb).

Internasionalisasi  Meng-eksport produk media secara fisik atau non-fisik (melalui SCJJ,

(23)

Dampak globalisasi (3)

2. Asimetrical Interdependency

Contoh : Tuntutan masyarakat Papua agar PT Freeport berhenti beroperasi di tanah Papua (Maret 2006)

 Selama hampir 40 th – sejak PT FI beroperasi (th 1967) :

1. Masyarakat tetap miskin. Padahal tanahnya sangat kaya bahan tambang (emas, perak, tembaga) yang di ekstrak investor asing.

2. Pendidikan terbengkelai. Sebagian besar lulusan SD masih buta huruf.

3. Hak-hak rakyat Papua diabaikan

4. Tanah adat “diserobot”, tidak diakui (yang dipakai hukum negara, bukan hukum adat). Bahkan masyarakat dilarang masuk area operasi PT FI yang dulunya merupakan tanah adat. Padahal masyarakat asli Papua masih sangat tergantung pada alam. Area PT FI selalu dijaga ketat oleh aparat TNI & Polri yang terkadang sangat represif & arogan.

5. Martabat warga Papua tidak dihormati. Paling tidak, penghormatan itu tidak dirasakan warga Papua.

6. Pemerintah pusat seakan tidak perduli akan tuntutan masyarakat Papua, justru “lebih memihak” pada kepentingan PT FI (investor asing). Alasannya : Kontrak sudah ditanda-tangani & PT FI merupakan salah satu pembayar pajak terbesar di Indonesia.

 Unjuk rasa masyarakat Papua terjadi di banyak kota besar. Masyarakat Papua memblokir jalan masuk ke PT FI. Terjadi perusakan kantor pusat PT FI di Jakarta. Mereka menuntut penutupan PT FI karena dinilai tidak memberikan keuntungan yang adil bagi warga lokal. Kontrak (konsesi pertambangan) yang dilakukan PT FI dengan pemerintah Indonesia (c.q. elite pemeritah) dinilai tidak mengakomodasi hak rakyat Papua. masyarakat Papua merasa tidak diikut-sertakan

dalam kontrak tsb. Oleh karena itu harus di-renegosiasi.

(24)

24 Dampak globalisasi (4)

Otonomi khusus yang sebenarnya bisa menjadi resep jalan keluar

ternyata dijalankan tidak konsisten. Pemberian otonomi tidak

menyentuh pola penguasaan tanah yang selama ini merugikan

warga Papua.

Pembagian wilayah didasarkan pada garis-garis imajiner dalam

peta, namun tidak didasarkan pada adat masyarakat setempat,

perbedaan geografis, keaneka-ragaman etnis, dsb. Misalnya :

Daerah kekuasaan suku tertentu, pola migrasi penduduk yang ada.

Faktor-faktor lain :

1. Kasus lepasnya Propinsi Timor-Timur dari NKRI memberi inspirasi rakyat Papua untuk merealisasikan kembali keinginannya untuk merdeka.

2. Wilayah itu amat sensitif, namun perilaku represif & pernyataan para pejabat tidak pernah berfikir sampai pada dampaknya di lapangan. Contoh :

(25)

Dampak globalisasi (4)

3.

Asimetrical Interdependency
(26)

26 Dampak globalisasi (4)

4.

Gejala Neo-liberalisme, konflik kepentingan dan kesepakatan global

Contoh :

Pasar adalah institusi paling sempurna bagi homo oeconomicus. Pasar =

institusi sukarela untuk memuaskan preferensi manusia (bebas memilih berdasarkan harga pasar, demokratis).

Tugas pokok pemerintah adalah sebagai regulator yang menjaga agar pasar

bisa bekerja dengan sempurna. Jadi, regulator itu harus netral dan tidak berpihak pada salah satu atau beberapa kepentingan yang terlibat.

Idealisme ini tidak memungkinkan pemerintah sebagai regulator sekaligus bertindak sebagai pelaku pasar. Sebaliknya, pelaku pasar – misalnya seorang pengusaha dipilih/diangkat sebagai pejabat pemerintah dan kemudian

bertindak sebagai regulator – tidak bakalan bisa menjaga netralitas ini.

Konflik kepentingan niscaya akan terjadi jika pelaku pasar dan pengambil kebijakan menyatu dalam satu tubuh.

Kesepakatan global sebagai solusi (AFTA, NAFTA, WTO, dsb) :
(27)

Dampak globalisasi (4)

5.

Si lemah (modal, teknologi dan akses informasi) kalah

bersaing

perlu proteksi dari negara. Namun proteksi

negara thd rakyatnya ini bertentangan dengan prinsip

liberalisasi, persaingan bebas. Proteksi vs pasar bebas

tarik-menarik kedua prinsip ini menimbulkan isu politik yang

dinamis. Birokratisasi vs debirokatisasi. Negara/pemerintah

sering dihadapkan pada dilema ini. Contoh : Isu impor beras,

bisnis ritel oleh pemodal besar (asing), dsb.

6.

Berkembangnya problema domestik – khususnya di negara

miskin – karena kecenderungan liberalisasi ini, a.l. :

1. Sifat pertumbuhan ekonomi  tidak ideal & cenderung mengarah ke

kondisi yang tidak adil.

2. Penyerapan tenaga kerja

3. Pembiayaan pembangunan yang sangat tergantung pada faktor-faktor di luar jangkauan pambuat kebijakan domestik. Misalnya : Perubahan harga minyak dunia, fluktuasi nilai tukar US Dollar, dsb. (NR. B & C,

(28)

28

Birokratisasi vs debirokratisasi

Keterlibatan Negara dalam kehidupan Ekonomi Masyarakatnya

Dimensi

Kapitalis/liberalis

Sosialis/komunis

1.

Faktor produksi,

khususnya

modal

2.

Kewenangan

pengambilan

keputusan

ekonomi,

khususnya

investasi,

produksi &

distribusi

3.

Peran negara

4.

Motivasi

keterlibatan

1.

Dimiliki/dikuasai

aktor swasta

2.

Ada di tangan

anggota masyarakat

(individu pengusaha

& perusahaan

swasta)

3.

Sebagai pelaku tidak

langsung, a.l. sbg

pengatur, pengendali

(pajak & insentif),

pengawas aktivitas

ekonomi masyarakat

4.

Insentif ekonomi

1.

Dimiliki/dikuasai

negara/kolektif

(koperasi)

2.

Di tangan

negara/pemerintah

3.

Sebagai pelaku ekonomi

langsung. Keberadaan

banyak BUMN

merupakan indikator

utama.

(29)

Dimensi

Kapitalis/liberalis

Sosialis/komunis

5.

Insentif ekonomi

6.

Sifat persaingan

7.

Mekanisme

penentuan

harga

8.

Hubungan

dengan negara

lain

9.

Bentuk/tipe

kebijakan

5.

Profit, laba,

keuntungan usaha.

6.

Kompetitif

(persaingan bebas)

7.

Mekanisme Pasar

(bertemunya kurva

Penawaran &

Permintaan)

8.

Terbuka,

meng-integrasikan diri

dalam komunitas

bisnis intenasional

9.

Strategic Policy

(menentukan arah

perkembangan

ekonomi),

5.

Upah & Gaji

6.

Non-kompetitif

(monopoli)

7.

Keputusan administrasi

pemerintah (SK

Presiden, Menteri,

Gubernur, Bupati, dsb.)

Contoh : Harga BBM,

TDL, harga pupuk, dsb.

Harga pasar

dimanipulasi,

dikompensasi degan

kebijakan pajak dan

subsidi.

8.

Tertutup, men-isolasi diri

Birokratisasi vs debirokratisasi

(2)
(30)

30

Catatan :

1.

Tidak ada satu negara pun menganut sistem ekonomi ekstrim,

kapitalis murni atau sosialis murni. Pada umumnya setiap

negara menganut sistem campuran. Dinamis, bergerak di

antara dua titik ekstrim itu. Ada dinamika proses birokratisasi

dan debirokratisasi.

2.

Pada umumnya dimensi-dimensi itu konsisten dan dituntut

konsisten. Kebijakan pemerintah banyak yang tidak konsisten.

Contoh kebijakan di Indonesia yang tiddak konsisten : Peran

pemerintah yang “4 in 1” di bidang pengelolaan BUMN di

tahun-tahun sebelum Megawati berkuasa. Pemerintah bertindak

sebagai

pemilik

,

pengawas

,

pengelola/manajemen

(produsen),

dan sekaligus

konsumen

.

Makanya BUMN menjadi ladang

(31)

Bagaimana Indonesia ?

-

Indonesia menganut sistem campuran ! Secara konstitusional

faktor-faktor produksi yang menguasai hajad hidup orang banyak

dikuasai oleh negara (konsep sosialis). Sedang yang tidak

menguasai hajad hidup orang banyak boleh dikelola aktor swasta.

-

Ada proses liberalisasi. Indikatornya : (1) Pengelolaan sarana umum

dan yang menguasai hajad hidup orang banyak diserahkan ke

swasta, a.l. Jalan umum, tranportasi umum, listrik, industri hulu,

distribusi BBM, dsb.,(2) Privatisasi/penjualan BUMN, dsb.

(R. 26/04/2006)

Birokratisasi vs debirokratisasi

(3)
(32)

32

Tesis Ketergantungan dan

Keterbelakangan

(1)

Pengantar

:

1.

Kita sering merasakan bahwa arah pembangunan di negara kita ini

menuju ke arah yang tidak dikehendaki. Dilihat dengan ukuran UUD

1945, logika berfikir, ataupun ukuran-ukuan yang lain. Konstruksi

lembaga politik, ekonomi, sosial dan budaya mengandung

elemen-elemen yang rapuh.

2.

Oleh karena itu perlu pemikiran yang lebih mendasar. Tidak hanya

melihat masalah pembangunan dalam kacamata resmi, formal versi

pemerintah yang sedang berkuasa. Tidak hanya dari sudut pandang

yang sempit, melainkan dari perspektif global.

3.

Terdapat faktor-faktor kekuatan ekonomi-politik yang sulit dikendalikan

oleh siapapun yang berkuasa di dalam negeri. Ada faktor internasional.

Faktor apa itu ? – pemahaman persoalan ini memerlukan wawasan yang

lebih jauh dengan perspektif global.

4.

Pemahaman pemikiran tentang Indonesia sebagian (besar) muncul dari

kawasan di luar Indonesia. Para ahli berpendidikan di LN, Teori-teori

(33)

Tesis Ketergantungan dan Keterbelakangan (2)

5.

Persoalan pembangunan yang muncul :

-

Ketergantungan pada pihak asing yang semakin meningkat

-

Kemiskinan massal

-

Pengangguran & (bahkan) Penyempitan kesempatan kerja

-

Disparitas pendapatan antar lapisan masyarakat, antar

daerah, antara kota dan desa

-

Kerusakan lingkungan, dsb.

Pesoalan-persoalan itu bukan semata-mata hanya persoalan

ekonomi saja, namun menyangkut pula stuktur politik dan

sistem sosial budaya yang ada di masyarakat, persoalan

“who gets what” yang melahirkan isu ketidak-adilan, serta

hubungan internasional. Oleh karena itu pada langkah

(34)

34

Tesis Ketergantungan dan Keterbelakangan (3)

Pendekatan

International Structuralist

:

Adalah salah satu cara pandang untuk menganalisis ketergantungan dan

keterbelakangan negara-negara dunia ke 3. Pendekatan ini populer sejak tahun 1970-an. Sejak teori linear stages dari Rostow terbukti tidak tepat.

Teori Rostow mengatakan : “Negara-negara terbelakang akan mengalami proses

perkembangan ekonomi seperti yang telah dialami oleh negara maju, apabila negara terbelakang tersebut dapat melakukan proses pembentukan modal (capital formation) secara terus-menerus”.

Namun kenyataannya, proses pembentukan modal untuk memperoleh surplus ekonomi

di negara terbelakang tidak membawa negara ini ke arah perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat pada umumnya. Banyak faktor yang menyebabkannya, diantaranya :

1. Tidak sempurnanya stuktur kelembagaan dan Kepincangan yang ada dalam tatanan sosial, ekonomi dan politik masyarakatnya

2. Adanya proses eksploitasi pihak luar sebagai akibat dari hubungan ekonomi luar negeri yang tidak adil.

Oleh karena itu faktor-faktor tersebut harus dihilangkan terlebih dahulu. Hal ini

merupakan tesis ketergantungan dan keterbelakangan dan merupakan anti-tesis

(35)

Teori

linear stages

Dikemukakan oleh

WW Rostow

dalam bukunya

The Stages of Economic Growth, A

Non-Communist manifesto

(1960) :

Pembangunan merupakan proses yang

bergerak dalam sebuah garis lurus (linear);

melalui tahap-tahap:

1. Traditional Society

2. Precondition for Growth

3. The Take-of

4. The drive to Maturity

(36)

36

Tesis Ketergantungan dan Keterbelakangan (4)

Pencetus dan Tokoh tesis ketergantungan :

Paul Baran

Andre Gunder Frank

Fernando Hendrique Cardoso

Theotonio dos Santos

Samir Amin

Tesis Ketegantungan :

Paul Baran mengemukakan bahwa faktor utama yang telah menjadi penyebab keterbelakangan negara-negara di Ameika Latin yang begitu kaya akan bahan mentah ialah proses eksploitasi oleh pihak asing sebagai akibat dari hubungan ekonomi dengan pihak asing yang sifatnya tidak adil.  Hampir sama dengan kondisi di Papua saat ini.

Tesis ini menolak tesis yang mengatakan pekembangan ekonomi negara miskin
(37)

Tesis Ketergantungan dan Keterbelakangan (5)

Dalam perkembangan selanjutnya, tesis ketergantungan ini

mendapat kritik dari pemikir di luar Amerika Latin, namun kritik

ini tidak menolak tesis ketergantungan tersebut. Malahan justru

melengkapinya dengan analisis hubungan antar kelas dalam

proses ekonomi di dalam negeri.

Tokoh-tokohnya : Richard Fagen, Ivar Oxaal, Christian Palloix

dan Ranjit Sao.

Para pengritik ini mengemukakan :

(38)

38

Contoh masalah yang meng-global :

1.

Kerusakan lingkungan di Kalimantan

akibat eksploitasi hutan

2.

GAM di Aceh

3.

Lepasnya Timor-timur dari NKRI

(39)

Utang LN

Secara politis pada masa Orde Soeharto (1967 – 1998)

konsep utang LN

dikaburkan

menjadi

bantuan LN

.

Dijadikan bukti bahwa meningkatnya utang =

meningkatnya kepercayaan negara asing dan lembaga

internasional kepada Indonesia.

Utang LN digunakan untuk membiayai program

pembangunan. Konsep pembangunan kemudian

“dirubah” menjadi semacam ideologi untuk

melegitimasi kekuasaan Soeharto. Pembangunan

menjadi mirip “berhala” yang semua WN harus

mendukungnya.

Gambar

gambar salib Tujuan Khusus :  Isu berubah/berkembang ke pertentangan antar agama (Islam vs Kristen)

Referensi

Dokumen terkait

1. Djoenaesih & Sunarjo.. 8.Menganalisis sekolah sebagai agen sosialisasi politik dan pendekatan sekolah terhadap PKN 9.Menganalisis pengembangan Civic Knowledge,

Kehadiran bangsa Barat (Belanda) ke Nusantara yang diikuti dengan campur tangan dalam masalah politik, ekonomi, dan sosial budaya menimbulkan perlawanan dari

Tindakan Jepang melakukan mobilisasi rakyat terutama di Jawa- Madura (daerah yang maju secara politik) adalah untuk menutupi tindakan eksploitasi ekonomi maupun

Memang benar Ali Khamaeni, Pemimpin Spiritual pengganti Khomeini, telah menjalankan kebijakan yang bersifat pragmatis dalam sektor ekonomi, dengan konsekuensi dalam bidang

Membahas tentang perkembangan yang terjadi di Negara-negara kawasan Asia Timur yaitu China, Jepang, Korea dalam berbagai aspeknya baik ekonomi, politik, sosial dan budaya

Ketahanan nasional adalah kondisi dinamik suatu bgs yang berisi keuletan & ketangguhan yang mampu mengembangkan kekuatan nasional guna menghadapi segala ancaman,

TETAPI HARUS SHARING DENGAN MARKET DAN SOCIETY>>> OLEH KARENA ITU STUDY POLITIK JUGA MEMBERIKAN PERHATIAN PADA KEKUATAN NON STATE >>> PENDEKTAN BEHAVIOR

Hubungan antara Sistem Kepartaian dengan Sistem politik.. dan Tertib polifrk*