PERSPEKTIF GLOBAL
(UNU 213)
2
Pokok Bahasan :
Hakekat & konsepsi perspektif global
1.
Hakekat & definisi
2.
Dimensi, manfaat dan tujuan mempelajari sesuatu
dengan perspektif global
Perspektif global & kerterkaitannya dengan bidang (ilmu)
lain
1.
Geografi
geo-strategi – strategi global, geo-politik –
hubungan internasional, dsb.
2.
Sejarah, Sosiologi dan Antropologi
3.
Ekonomi, Politik
Imperialism, kapitalisme global
4.
IPTEK, khususnya Teknologi Infomasi & Komunikasi.
Daftar Pustaka :
Budiman, Arief (1995), Teori Pembangunan Dunia Ketiga., PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Capron, H.L. (2000), Computers, Tools for an Information Age., Sixth edition, Prentice Hall, Upper Saddle River, New Jersey, 07458
Laudon, Kenneth C. and Jane P. Laudon (2000), Management Information System. Sixth
Edition, The Dryden Press, Orlando FL
_____________ (1991), Business Information System, A Problem-Solving Approach., The Dryden Press, Orlando FL.
Mujiran, Paulus (2006), Imperialisme Budaya : Globalisasi Pornografi., Kompas, 18/02/2006, Hal. 14.
Kuncoro, Mudrajad (1996), Manajemen Keuangan Internasioanal, Pengantar Ekonomi
dan Bisnis Global., Penerbit BPFE, Yogyakarta.
Kwik Kian Gie (2006), Blok Cepu dan Bangsa Mandiri., Kompas, 23/02/2006, Hal. 6. Kwik Kian Gie (2006), Pikiran yang Terkorupsi., Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Kwik Kian Gie (2006), Kebijakan Ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar., Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Mas’oed, M. Mochtar, (2002), Tantangan Internasional dan Keterbatasan Nasional : Analisis Ekonomi-Politik tentang Globalisasi Neo-Liberal., Pidato Pengukuhan Guru Besar pada FISIPOL Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 19 Oktober 2002.
4
Hakekat dan Konsepsi Perspektif
Global :
(1)
Global
Sifat gejala yang men-”dunia”.
Globalisasi
Proses menuju terbentuknya sifat, kejadian,
keputusan, kebijakan, dsb yang bersifat global.
Isu global
Masalah, kejadian, kegiatan, sikap
cosmopolite
,
dsb yang berpengaruh ke seluruh dunia (internasional)
Ciri-ciri globalisasi : Masyarakat terbuka, liberal, pasar
bebas, persaingan bebas (kompetisi), demokrasi
berkembang.
Hakekat dan Konsepsi Perspektif Global :(2)
Tujuan Umum pengetahuan tentang Perspektif
global adalah :
1.
Menghindarkan diri dari cara berfikir sempit
, terkotak oleh
batas-batas subyektif, misalnya : Perbedaan warna kulit,
ras, SARA, nasionalisme yang sempit, nasionalisme yang
berlebihan,
right or wrong is my country
, dsb.
2.
Tidak mudah menggeneralisasi suatu kejadian. Lebih
bijaksana dalam “menafsirkan suatu kejadian”. Contoh :
Kasus kartun Nabi Muhammad SAW di media Denmark
Jyllands Posten
(2006)
menimbulkan reaksi
[image:5.720.15.720.39.524.2]pembakaran bendera Denmark. Pada bendera itu ada
gambar salib
Isu berubah/berkembang ke pertentangan
antar agama (Islam vs Kristen).
Tujuan Khusus :
Tugas Mahasiswa
1.
Kaitannya dengan misi mahasiswa sebagai
calon pendidik
6
Latar belakang, ciri & dampak
globalisasi :
(1)Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi
berpengaruh
pada :
1.
Proses/aktivitas ekonomi masyarakat (domestik maupun internasional).
2.Opini masyarakat (domestik maupun internasional) menjadi lebih dinamis.
3.Berkembangnya sifat kosmopolitan masyarakat (via media komunikasi).
4.Kebijakan sosial & politik pemerintah (domestik) harus mempertimbangkan
aspek hubungan internasional (dampak/reaksi LN terhadap DN).
Hukum ekonomi
(
the invisible hand
) semakin besar peranannya
dibanding peranan hukum negara
1.
Mekanisme pasar semakin berperan daripada proses administrasi.
2.
Sistem ekonomi mengarah ke keterbukaan, ekspansi kapitalisme internasional.
3.“Hilangnya batas-batas” negara untuk aktivitas ekonomi. Transaksi ekonomi
tidak lagi dibatasi peraturan pemerintah, contoh : pembelian dengan US $ di
Indonesia tidak bisa dilarang oleh pemerintah. Munculnya
komunitas/assosiasi/organisasi internasional & kerjasama multilateral
semacam MEE, OKI, OPEC, mata uang Euro, pembebasan visa, dsb. Pemerintah
cenderung melepas urusan-urusan domestik masyarakatnya itu
Latar belakang dan ciri globalisasi (2)
4.
Keunggulan komparatif antar kawasan mendorong
diterapkannya teori pembagaian kerja internasional secara
konsisten. Kalau tidak, akan muncul masalah di dalam negeri.
Hubungan struktural
yang cenderung tidak adil & gagal
menciptakan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Bentuknya :
1.
Interdependensi asimetris antar negara, antar kawasan, antara
negara-negara di utara dan selatan, antara negara kaya &
negara miskin, antara negara maju (industri) & negara
terbelakang (peng-ekspor bahan mentah), dsb.
2.
Semakin kuatnya isu keterbelakangan di dunia ke 3 karena
faktor struktural tersebut dan faktor struktur sosial di dalam
8 Latar Belakang dan ciri globalisasi (3)
Efisiensi vs Ketidakadilan
-
Terjadinya peningkatan efisiensi yang dahsyat karena pemanfaatan teknologiinformasi & komunikasi ber-skala global (kecepatan, kapasitas dan kecanggihan
feature) di satu sisi menimbulkan dampak positif, di sisi lain berdampak negatif
berupa persaingan antara industri padat modal vs padat karya, padat
teknologi vs kebutuhan akan teknologi sederhana, dsb. Contoh : Kasus HK di PT Gudang Garam, penurunan manfaat Kartu Pos, tukang pos dan semacamnya
tidak laku lagi. Kebijakan pemerintah menghadapi risiko lebih besar Mendukung
investasi tetapi tidak populer di mata rakyat kecil. Contoh : Kebijakan Upah
Minimum, pembebasan tanah untuk industri, RUU Ketenagakerjaan (2006) yang banyak diprotes, dsb.
-
Peningkatan efisiensi tsb mensyaratkan dukungan tatanan organisasi & manajemen(sektor publik/negara maupun privat/swasta) mengarah ke skala global. Di
negara-negara terbelakang tatanan organisasi ini kebanyakan tidak mampu mengimbanginya. Pemerintah (aparat) & masyarakat di negara sedang
Latar Belakang dan ciri globalisasi (4)
-
Cultural schock
kejutan budaya yang mempengaruhi pola pikir & peradaban masyarakat secara tiba-tiba (mendadak).- Meliputi :
Pemanfaatan teknologi import.
Manual Automatic
Kapasitas produksi yang kecil besar Skala kecil skala besar
Perluasan pasar : Domestik Internasional Akibatnya :
Biaya operasi perusahaan bisa ditekan – a.l. biaya transportasi, biaya ekspedisi, dokumentasi, dsb.
Kebutuhan perusahaan berubah & berkembang :
1.Padat karya Padat modal
2.Teknologi sederhana teknologi tinggi
Fenomena ini mensyaratkan struktur organisasi yang jauh lebih efisien. Kebutuhan SDM meningkat secara kualitatif, namun menurun drastis secara kuantitatif. PHK
meningkat muncul ledakan pengangguran Muncul kebutuhan akan outsourcing
(mencari TK dari LN, kebanyakan dengan sistem kontrak). Indonesia butuh tenaga ahli dari LN, sedang Malaysia butuh TK kasar dari LN terutama dari Indonesia
muncul masalah domestik & regional.
10 Latar Belakang dan ciri globalisasi (4)
Muncul peningkatan kecepatan, kualitas, kuantitas, serta lingkup & jangkauan pelayanan (service) pada konsumen & mitra kerja yang amat drastis. Oleh karena itu muncul pula kebutuhan ekspansi perusahaan. Contoh : Pelayanan Bank mengarah ke layanan secara
online, kepada MNC, perusahaan besar/ekspor-import. Layanan domestik – yang kurang menguntungkan a.l. UKM – terabaikan.
Ada peningkatan fleksibilitas organisasi perusahaan : Small organization menjadi “besar” dalam bertindak, Big organization menjadi “kecil” dalam kebutuhan space, ramping dan gesit dalam bertindak.
- Batas negara & kewenangannya tunduk pada kekuatan teknologi, tatanan ekonomi global, tatanan sosial & politik internasional. Transaksi ekonomi sudah tidak mungkin diatur lagi secara efektif oleh negara. Kebijakan pemerintah cenderung pro-pasar. (NR. Klas B, 13/03/2007)
-
Capital flight
ke LN gampang sekali terjadi (= risiko yang senantiasa dihadapi kebijakan domestik pemerintah). Ketika kebijakan pemerintah tidak menguntungkan investor, maka kapital akan ditarik & dipindahkan ke LN yang lebih menguntungkan. Bentuk kebijakan yang tidak menguntungkan tsb misalnya : kebijakan pemerintah tentang PHK, UMR, infrastruktur industri yang tidak mendukung (kebijakan kenaikan TDL, BBM), fasilitas ekstra ekonomi yang buruk (perijinan yang berbelit, korupsi, fasilitas jalan raya yang buruk, telepon, tarif BM yang tinggi, dsb.).Mas’oed (2002) menguraikan :
Persoalan yang muncul berkait dengan globalisasi ini adalah
ketidakstabilan & ketidak-pastian ekonomi-politik
(global disorder
dan
global instability)
–
paling tidak sejak tahun 1980-an.
Terdapat 3 kekuatan yang menyebabkannya, yaitu :
1.
Penciptaan & pengintegrasian ekonomi global di bawah hegemoni
kapitalis.
2.
Perubahan teknologi yang amat cepat
3.
Konsentrasi kepemilikan uang dan kapital oleh si kaya dan si kuat.
-
Penciptaan ekonomi global (1) dan kemajuan teknologi (2)
tidak mesti
mendorong ketidak-stabilan. Tetapi ketika ke dua kekuatan itu
digabung
dengan konsentrasi kepemilikan kapital, hasilnya adalah
instability
dan
disorder.
Mengapa ? Karena berkaitan dengan
“who get’s what”
dan isu
keadilan
12
Mengapa dan bagaimana bisa terjadi
disorder
&
Instability
?
Adanya persaingan sengit & pertikaian dagang yang
tidak sehat
antar
negara.
Disebabkan oleh faktor :
1.
“krisis over-produsksi” negara kapitalis,
2.
Perluasan pasar global,
3.
Peningkatan teknologi,
4.
Konsentrasi kapital pada negara-negara tsb.
5.
Pasar DN negara kapitalis jenuh, surplus barang di DN meningkat
Kompetisi dan keunggulan kompetitif menjadi kata kunci dalam
konteks ini
namun cenderung
tidak sehat
a.l. Dumping, perang
tarif, dsb.
merusak pasar global (merusak stabilitas harga, sistem
produksi, pola konsumsi, dsb. di negara tujuan eksport).
Kebutuhan
eksport
dan
persainga
n merebut
pasar
global
Berbeda dengan Indonesia. Eksport Indonesia didasari
Flexible Accumulation
Dalam rangka memenangkan persaingan dengan cara
meningkatkan efisiensi, MNC melakukan
sourcing, yaitu
mengkontrakkan pekerjaan kepada pengusaha mana saja di
dunia yang bisa memasok komponen, sehingga perusahaan
besar bisa mempertahankan
fleksibilitas maksimum
demi
memperoleh komoditi dengan faktor produksi paling murah.
Prinsipnya :
“Buat apa membuat komponen sendiri kalau orang
lain bisa memasok dengan harga lebih murah ?”
Untuk
memperoleh keuntungan tidak perlu secara langsung memiliki
sarana produksi sendiri. Cukup
men-sub-kontrakkan
pembuatan
barang & jasa (yang sebelumnya mereka produksi sendiri) ke
perusahaan lain di LN. Mereka mem-PHK buruhnya di negaranya
sendiri dan mengkontrakkan pekerjaannya di LN atau
mempekerjakan perusahaannya di LN (tempat investasi asingnya
berlangsung). –
lihat ilustrasi berikut !14
Ilustrasi :
Kemajuan Teknologi yang memungkinkan
outsourcing
untuk pencapaian fleksibilitas maksimum dlm rangka
menghasilkan produk yang efisien sehingga kompetitif
Logistics Company CORE COMPANY Di Jerman Design Company Finance Company Manufacturing Company Sales and Marketing Company Indonesia : Buruh Murah dan banyak tersedia
Italia : Cita rasa seni tinggi
Australia : Produsen Kulit Berkualitas tinggi (Peternakan) Pemasaran di USA dan Eropa :
Daya beli
masyarakat tinggi
USA (Wallstreet Stock Exchange) Contoh :
Produk Persepatuan (Produk setiap perusahaan tergantung pada keunggulan komparatif masing -masing lokasi)
Implikasinya :
1.
Kalau ongkos produksi di suatu negara meningkat secara signifikan, maka
mereka akan mencari mitra kontraktor di negara lain
(capital flight).
2.
Mereka dapat menghindar dari tanggung-jawab atas dampak buruk proses
produksi barang dan jasa, a.l. kerusakan lingkungan hidup dan
perburuhan. Alasannya : mereka tidak ikut berproduksi disitu, namun
hanya membeli dari produsen lokal
secara formal tidak melanggar
hukum,
namun secara moral tidak etis
.
Komoditifikasi Uang
Pergeseran fungsi uang dari alat pembayaran
mejadi barang dagangan (komoditas).
Menanam modal disektor riil tidak banyak menjanjikan keuntungan. Oleh karena itu
banyak keuntungan pemodal ditanam di sektor finansial (jual-beli mata uang dalam skala besar-besaran). Sektor finansial menjadi sektor yang paling menguntungkan & sekaligus paling spekulatif. Menimbulkan julukan casino capitalism (Strange. 1986).
Pasar uang dan kapital dipisahkan dari sektor riil yang produktif. Akibatnya : Tidak
berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja. (Reg. Klas A, 20/03/2007)
16
Latar belakang munculnya gejala
Komoditifikasi Uang :
1.
Defisit neraca pembayaran USA. Hal ini disebabkan oleh karena
banyaknya Dollar AS yang dikirim ke LN untuk membiayai :
Belanja militer USA yang sangat besar sejak perang dingin 1940
Biaya impor minyaknya yang melonjak tinggi akibat embargo minyak
negara-negara di timur tengah sejak tahun 1973.
2.
Dollar AS tsb tidak banyak yang kembali ke USA karena memang
ekspornya waktu itu juga sedang mengalami penurunan. Uang dollar yang
berkeliaran di LN itu kemudian
mendorong munculnya pasar kapital
internasional
. Di hampir setiap negara didirikan bursa saham
Hal ini
mendorong maraknya investasi
portofolio
(surat berharga).
Pasar inilah yang memberi pinjaman pada banyak perusahaan dan negara,
termasuk negara-negara industri baru di Asia Timur pada tahun 1970-an.
Berbeda dengan investasi di sektor riil. Investasi portofolio tidak mesti untuk
kegiatan produktif, dan bisa ditarik sewaktu-waktu.
Investor bisa untung sangat besar tanpa ada hubungannya dengan kenaikan
produksi dan penciptaan lapangan kerja baru.
18 Dampak globalisasi
Politik LN -- diplomasi
Lemahnya posisi & daya tawar Indonesia. Menjadikan Indonesia tidak memiliki banyak pilihan untuk lobi politik internasional. Diplomat tidak mampu melepaskan diri dari bayang-bayang negara adi-kuasa seperti AS.
Ketergantungan Indonesia menjalar ke segala bidang. Dari ketergantungan ekonomi saja menjalar ke bidang politik hingga ke pertahanan & keamanan.
Kemampuan diplomasi menjadi cenderung dipersepsikan tidak sungguh-sungguh, lemah &
skeptis (ragu-ragu), tidak PD dalam membela kepentingan rakyat & negara. Baik dalam
hubungan bilateral maupun multilateral antar bangsa. Pemerintah Indonesia dipersepsikan oleh rakyatnya sendiri belum menempatkan diri setara dengan negara lain. Cenderung kalah/mengalah dalam diplomasi memperjuangkan kepentingan nasionalnya.
Contoh :
1. Kasus Persetujuan Indonesia pada Resolusi DK PBB No. 1747 (Th. 2007) tentang Perluasan Sanksi Kepada Iran karena mengembangkan Energi Nuklir. Indonesia (harus) memihak ke AS dan sekutunya yang jelas-jelas menerapkan standar ganda. Indonesia tidak mendapat keuntungan apapun dari dukungan tsb, malah menuai banyak kritik dari dalam negeri.
2. Kasus Lepasnya Pulau Simpadan & Ligitan karena kalah berperkara di Mahkamah
5.
Kasus Blok Cepu
Mampu dikelola sendiri, mengapa harus
diberikan ke Exxon Mobil. Menlu AS banyak berperan.
6.
Embargo suku cadang militer AS kepada Indonesia karena
kasus Timor Timur
Banyak senjata & pesawat terbang TNI
tidak bisa beroperasi. Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa.
7.
Embargo senjata, makanan, obat-obatan & alat kesehatan
sebelum invasi AS ke Irak
menyebabkan banyak orang
mati.
Di sisi lain,
AS cenderung men-dikte negara lain
20
Kepentingan Ekonomi dan Diplomasi AS di Timur
Tengah
Cadangan minyak terbesar dunia berada di Timur
Tengah (mencapai 1/3 dari seluruh cadangan dunia).
Ketergantungan AS pada impor minyak semakin besar
disebabkan karena meningkatnya permintaan DN,
sementara produksi domestiknya menurun.
Konsumsi minyak DN AS saat ini (2007) mencapai 20
juta barrel/hari. 55 %-nya harus diimpor.
Dampak globalisasi
Imperialisme Budaya
Muncul semacam Imperialisme Budaya yang mengancam budaya dan kearifan lokal.
Contoh : Fenomena/gejala globalisasi pornografi. Bagaimana memahami gejala ini
dengan perspektif global ?
Rencana beredarnya majalah Playboy = merupakan suatu bentuk imperialisme
budaya barat. Majalah itu simbol kapitalisme dan ekspresi kebebasan ala barat yang sangat kontradiktif dengan pandangan budaya lokal (masyarakat Indonesia)
Hampir tidak ada yang mampu membetengi globalisasi pornografi ini. Upaya
pemerintah untuk melarang dengan UU justru banyak ditentang berbagai kelompok masyarakatnya sendiri (kel. perempuan, tokoh masyarakat Bali, kel. Seniman, dsb.) RUU APP ini terancam gagal.
Hebert Schiller (1995) : Kapitalisme telah berada pada di puncak sublimasinya – bentuknya yang halus – (advance capitalism), di mana modal tidak hanya
diterjemahkan dalam dimensi ekonomi saja, namun juga nilai-nilai budaya (cultural capital). Kapitalisme barat ini tidak hanya menginvestasi modal dan infrastruktur fisik saja, namun sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya/peradabannya untuk diterima bangsa lain, yaitu membuka lahan di kawasan lain agar produknya diterima bangsa lain. Muncul semacam intervensi kultural yang menimbulkan benturan-benturan peradaban.
22 Dampak globalisasi (2)
Siapa yang berperanan besar ? Antara lain pers & organisasi media beserta perangkatnya. Bagaimana bentuk peranannya ? Terdapat 3 pola :
Integrasi
Deversifikasi Internasionalisasi
Integrasi Mengukuhkan kontrol managerialnya di seluruh dunia untuk mengkonsolidasi
(memperkuat posisi) untuk mengartikulasikan kepentingannya. Ada 2 pola : (1) Mengakuisisi media lain pada tingkat produksi yang sama (merger) ; (2) Perluasan bidang usaha, tabloid, majalah, dsb. Bergerak dalam nuasa lokal kemudian bergeser ke muatan visi, misi dan
substansi kapitalisme.
Deversifikasi Perusahaan media besar melakukan peng-aneka-ragaman usaha dan
mengembangkan bidang-bidang usaha baru yang belum disentuh. Contoh : Kompas mengembangkan usaha percetakan, hotel, Toko Buku, dsb. Langkah deversifikasi ini digunakan untuk memperkuat diri dalam menghadapi ketidak-pastian dan risiko usaha. Sebagai cadangan sumber daya ketika salah satu bidang usahanya terkena resesi atau bangkrut oleh karena sebab lain (misal : tekanan ekstrim masyarakat, kebijakan pemerintah yang melarang, dsb).
Internasionalisasi Meng-eksport produk media secara fisik atau non-fisik (melalui SCJJ,
Dampak globalisasi (3)
2. Asimetrical Interdependency
Contoh : Tuntutan masyarakat Papua agar PT Freeport berhenti beroperasi di tanah Papua (Maret 2006)
Selama hampir 40 th – sejak PT FI beroperasi (th 1967) :
1. Masyarakat tetap miskin. Padahal tanahnya sangat kaya bahan tambang (emas, perak, tembaga) yang di ekstrak investor asing.
2. Pendidikan terbengkelai. Sebagian besar lulusan SD masih buta huruf.
3. Hak-hak rakyat Papua diabaikan
4. Tanah adat “diserobot”, tidak diakui (yang dipakai hukum negara, bukan hukum adat). Bahkan masyarakat dilarang masuk area operasi PT FI yang dulunya merupakan tanah adat. Padahal masyarakat asli Papua masih sangat tergantung pada alam. Area PT FI selalu dijaga ketat oleh aparat TNI & Polri yang terkadang sangat represif & arogan.
5. Martabat warga Papua tidak dihormati. Paling tidak, penghormatan itu tidak dirasakan warga Papua.
6. Pemerintah pusat seakan tidak perduli akan tuntutan masyarakat Papua, justru “lebih memihak” pada kepentingan PT FI (investor asing). Alasannya : Kontrak sudah ditanda-tangani & PT FI merupakan salah satu pembayar pajak terbesar di Indonesia.
Unjuk rasa masyarakat Papua terjadi di banyak kota besar. Masyarakat Papua memblokir jalan masuk ke PT FI. Terjadi perusakan kantor pusat PT FI di Jakarta. Mereka menuntut penutupan PT FI karena dinilai tidak memberikan keuntungan yang adil bagi warga lokal. Kontrak (konsesi pertambangan) yang dilakukan PT FI dengan pemerintah Indonesia (c.q. elite pemeritah) dinilai tidak mengakomodasi hak rakyat Papua. masyarakat Papua merasa tidak diikut-sertakan
dalam kontrak tsb. Oleh karena itu harus di-renegosiasi.
24 Dampak globalisasi (4)
Otonomi khusus yang sebenarnya bisa menjadi resep jalan keluar
ternyata dijalankan tidak konsisten. Pemberian otonomi tidak
menyentuh pola penguasaan tanah yang selama ini merugikan
warga Papua.
Pembagian wilayah didasarkan pada garis-garis imajiner dalam
peta, namun tidak didasarkan pada adat masyarakat setempat,
perbedaan geografis, keaneka-ragaman etnis, dsb. Misalnya :
Daerah kekuasaan suku tertentu, pola migrasi penduduk yang ada.
Faktor-faktor lain :
1. Kasus lepasnya Propinsi Timor-Timur dari NKRI memberi inspirasi rakyat Papua untuk merealisasikan kembali keinginannya untuk merdeka.
2. Wilayah itu amat sensitif, namun perilaku represif & pernyataan para pejabat tidak pernah berfikir sampai pada dampaknya di lapangan. Contoh :
Dampak globalisasi (4)
3.
Asimetrical Interdependency26 Dampak globalisasi (4)
4.
Gejala Neo-liberalisme, konflik kepentingan dan kesepakatan globalContoh :
Pasar adalah institusi paling sempurna bagi homo oeconomicus. Pasar =institusi sukarela untuk memuaskan preferensi manusia (bebas memilih berdasarkan harga pasar, demokratis).
Tugas pokok pemerintah adalah sebagai regulator yang menjaga agar pasarbisa bekerja dengan sempurna. Jadi, regulator itu harus netral dan tidak berpihak pada salah satu atau beberapa kepentingan yang terlibat.
Idealisme ini tidak memungkinkan pemerintah sebagai regulator sekaligus bertindak sebagai pelaku pasar. Sebaliknya, pelaku pasar – misalnya seorang pengusaha dipilih/diangkat sebagai pejabat pemerintah dan kemudian
bertindak sebagai regulator – tidak bakalan bisa menjaga netralitas ini.
Konflik kepentingan niscaya akan terjadi jika pelaku pasar dan pengambil kebijakan menyatu dalam satu tubuh.
Kesepakatan global sebagai solusi (AFTA, NAFTA, WTO, dsb) :Dampak globalisasi (4)
5.
Si lemah (modal, teknologi dan akses informasi) kalah
bersaing
perlu proteksi dari negara. Namun proteksi
negara thd rakyatnya ini bertentangan dengan prinsip
liberalisasi, persaingan bebas. Proteksi vs pasar bebas
tarik-menarik kedua prinsip ini menimbulkan isu politik yang
dinamis. Birokratisasi vs debirokatisasi. Negara/pemerintah
sering dihadapkan pada dilema ini. Contoh : Isu impor beras,
bisnis ritel oleh pemodal besar (asing), dsb.
6.
Berkembangnya problema domestik – khususnya di negara
miskin – karena kecenderungan liberalisasi ini, a.l. :
1. Sifat pertumbuhan ekonomi tidak ideal & cenderung mengarah ke
kondisi yang tidak adil.
2. Penyerapan tenaga kerja
3. Pembiayaan pembangunan yang sangat tergantung pada faktor-faktor di luar jangkauan pambuat kebijakan domestik. Misalnya : Perubahan harga minyak dunia, fluktuasi nilai tukar US Dollar, dsb. (NR. B & C,
28
Birokratisasi vs debirokratisasi
Keterlibatan Negara dalam kehidupan Ekonomi Masyarakatnya
Dimensi
Kapitalis/liberalis
Sosialis/komunis
1.
Faktor produksi,
khususnya
modal
2.
Kewenangan
pengambilan
keputusan
ekonomi,
khususnya
investasi,
produksi &
distribusi
3.
Peran negara
4.
Motivasi
keterlibatan
1.
Dimiliki/dikuasai
aktor swasta
2.
Ada di tangan
anggota masyarakat
(individu pengusaha
& perusahaan
swasta)
3.
Sebagai pelaku tidak
langsung, a.l. sbg
pengatur, pengendali
(pajak & insentif),
pengawas aktivitas
ekonomi masyarakat
4.
Insentif ekonomi
1.
Dimiliki/dikuasai
negara/kolektif
(koperasi)
2.
Di tangan
negara/pemerintah
3.
Sebagai pelaku ekonomi
langsung. Keberadaan
banyak BUMN
merupakan indikator
utama.
Dimensi
Kapitalis/liberalis
Sosialis/komunis
5.
Insentif ekonomi
6.
Sifat persaingan
7.
Mekanisme
penentuan
harga
8.
Hubungan
dengan negara
lain
9.
Bentuk/tipe
kebijakan
5.
Profit, laba,
keuntungan usaha.
6.
Kompetitif
(persaingan bebas)
7.
Mekanisme Pasar
(bertemunya kurva
Penawaran &
Permintaan)
8.
Terbuka,
meng-integrasikan diri
dalam komunitas
bisnis intenasional
9.
Strategic Policy
(menentukan arah
perkembangan
ekonomi),
5.
Upah & Gaji
6.
Non-kompetitif
(monopoli)
7.
Keputusan administrasi
pemerintah (SK
Presiden, Menteri,
Gubernur, Bupati, dsb.)
Contoh : Harga BBM,
TDL, harga pupuk, dsb.
Harga pasar
dimanipulasi,
dikompensasi degan
kebijakan pajak dan
subsidi.
8.
Tertutup, men-isolasi diri
Birokratisasi vs debirokratisasi
(2)30
Catatan :
1.
Tidak ada satu negara pun menganut sistem ekonomi ekstrim,
kapitalis murni atau sosialis murni. Pada umumnya setiap
negara menganut sistem campuran. Dinamis, bergerak di
antara dua titik ekstrim itu. Ada dinamika proses birokratisasi
dan debirokratisasi.
2.
Pada umumnya dimensi-dimensi itu konsisten dan dituntut
konsisten. Kebijakan pemerintah banyak yang tidak konsisten.
Contoh kebijakan di Indonesia yang tiddak konsisten : Peran
pemerintah yang “4 in 1” di bidang pengelolaan BUMN di
tahun-tahun sebelum Megawati berkuasa. Pemerintah bertindak
sebagai
pemilik
,
pengawas
,
pengelola/manajemen
(produsen),
dan sekaligus
konsumen
.
Makanya BUMN menjadi ladang
Bagaimana Indonesia ?
-
Indonesia menganut sistem campuran ! Secara konstitusional
faktor-faktor produksi yang menguasai hajad hidup orang banyak
dikuasai oleh negara (konsep sosialis). Sedang yang tidak
menguasai hajad hidup orang banyak boleh dikelola aktor swasta.
-
Ada proses liberalisasi. Indikatornya : (1) Pengelolaan sarana umum
dan yang menguasai hajad hidup orang banyak diserahkan ke
swasta, a.l. Jalan umum, tranportasi umum, listrik, industri hulu,
distribusi BBM, dsb.,(2) Privatisasi/penjualan BUMN, dsb.
(R. 26/04/2006)Birokratisasi vs debirokratisasi
(3)32
Tesis Ketergantungan dan
Keterbelakangan
(1)Pengantar
:
1.
Kita sering merasakan bahwa arah pembangunan di negara kita ini
menuju ke arah yang tidak dikehendaki. Dilihat dengan ukuran UUD
1945, logika berfikir, ataupun ukuran-ukuan yang lain. Konstruksi
lembaga politik, ekonomi, sosial dan budaya mengandung
elemen-elemen yang rapuh.
2.
Oleh karena itu perlu pemikiran yang lebih mendasar. Tidak hanya
melihat masalah pembangunan dalam kacamata resmi, formal versi
pemerintah yang sedang berkuasa. Tidak hanya dari sudut pandang
yang sempit, melainkan dari perspektif global.
3.
Terdapat faktor-faktor kekuatan ekonomi-politik yang sulit dikendalikan
oleh siapapun yang berkuasa di dalam negeri. Ada faktor internasional.
Faktor apa itu ? – pemahaman persoalan ini memerlukan wawasan yang
lebih jauh dengan perspektif global.
4.
Pemahaman pemikiran tentang Indonesia sebagian (besar) muncul dari
kawasan di luar Indonesia. Para ahli berpendidikan di LN, Teori-teori
Tesis Ketergantungan dan Keterbelakangan (2)
5.
Persoalan pembangunan yang muncul :
-
Ketergantungan pada pihak asing yang semakin meningkat
-
Kemiskinan massal
-
Pengangguran & (bahkan) Penyempitan kesempatan kerja
-
Disparitas pendapatan antar lapisan masyarakat, antar
daerah, antara kota dan desa
-
Kerusakan lingkungan, dsb.
Pesoalan-persoalan itu bukan semata-mata hanya persoalan
ekonomi saja, namun menyangkut pula stuktur politik dan
sistem sosial budaya yang ada di masyarakat, persoalan
“who gets what” yang melahirkan isu ketidak-adilan, serta
hubungan internasional. Oleh karena itu pada langkah
34
Tesis Ketergantungan dan Keterbelakangan (3)
Pendekatan
International Structuralist
:
‐
Adalah salah satu cara pandang untuk menganalisis ketergantungan danketerbelakangan negara-negara dunia ke 3. Pendekatan ini populer sejak tahun 1970-an. Sejak teori linear stages dari Rostow terbukti tidak tepat.
‐
Teori Rostow mengatakan : “Negara-negara terbelakang akan mengalami prosesperkembangan ekonomi seperti yang telah dialami oleh negara maju, apabila negara terbelakang tersebut dapat melakukan proses pembentukan modal (capital formation) secara terus-menerus”.
‐
Namun kenyataannya, proses pembentukan modal untuk memperoleh surplus ekonomidi negara terbelakang tidak membawa negara ini ke arah perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat pada umumnya. Banyak faktor yang menyebabkannya, diantaranya :
1. Tidak sempurnanya stuktur kelembagaan dan Kepincangan yang ada dalam tatanan sosial, ekonomi dan politik masyarakatnya
2. Adanya proses eksploitasi pihak luar sebagai akibat dari hubungan ekonomi luar negeri yang tidak adil.
Oleh karena itu faktor-faktor tersebut harus dihilangkan terlebih dahulu. Hal ini
merupakan tesis ketergantungan dan keterbelakangan dan merupakan anti-tesis
Teori
linear stages
Dikemukakan oleh
WW Rostow
dalam bukunya
The Stages of Economic Growth, A
Non-Communist manifesto
(1960) :
Pembangunan merupakan proses yang
bergerak dalam sebuah garis lurus (linear);
melalui tahap-tahap:
1. Traditional Society
2. Precondition for Growth
3. The Take-of
4. The drive to Maturity
36
Tesis Ketergantungan dan Keterbelakangan (4)
Pencetus dan Tokoh tesis ketergantungan :
‐
Paul Baran‐
Andre Gunder Frank‐
Fernando Hendrique Cardoso‐
Theotonio dos Santos‐
Samir AminTesis Ketegantungan :
‐
Paul Baran mengemukakan bahwa faktor utama yang telah menjadi penyebab keterbelakangan negara-negara di Ameika Latin yang begitu kaya akan bahan mentah ialah proses eksploitasi oleh pihak asing sebagai akibat dari hubungan ekonomi dengan pihak asing yang sifatnya tidak adil. Hampir sama dengan kondisi di Papua saat ini.‐
Tesis ini menolak tesis yang mengatakan pekembangan ekonomi negara miskinTesis Ketergantungan dan Keterbelakangan (5)
Dalam perkembangan selanjutnya, tesis ketergantungan ini
mendapat kritik dari pemikir di luar Amerika Latin, namun kritik
ini tidak menolak tesis ketergantungan tersebut. Malahan justru
melengkapinya dengan analisis hubungan antar kelas dalam
proses ekonomi di dalam negeri.
Tokoh-tokohnya : Richard Fagen, Ivar Oxaal, Christian Palloix
dan Ranjit Sao.
Para pengritik ini mengemukakan :
38
Contoh masalah yang meng-global :
1.
Kerusakan lingkungan di Kalimantan
akibat eksploitasi hutan
2.
GAM di Aceh
3.
Lepasnya Timor-timur dari NKRI
Utang LN
Secara politis pada masa Orde Soeharto (1967 – 1998)
konsep utang LN
dikaburkan
menjadi
bantuan LN
.
Dijadikan bukti bahwa meningkatnya utang =
meningkatnya kepercayaan negara asing dan lembaga
internasional kepada Indonesia.
Utang LN digunakan untuk membiayai program
pembangunan. Konsep pembangunan kemudian
“dirubah” menjadi semacam ideologi untuk
melegitimasi kekuasaan Soeharto. Pembangunan
menjadi mirip “berhala” yang semua WN harus
mendukungnya.