• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TENTANG KOMPETENSI MAHASISWA DALAM MEREKONSTRUKSI PEMBELAJARAN TERPADU : Studi Inkuiri Naturalistik pada Mahasiswa Semester Enam Jurusan Pendidikan IPS FKIP - Universitas Islam Riau.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KAJIAN TENTANG KOMPETENSI MAHASISWA DALAM MEREKONSTRUKSI PEMBELAJARAN TERPADU : Studi Inkuiri Naturalistik pada Mahasiswa Semester Enam Jurusan Pendidikan IPS FKIP - Universitas Islam Riau."

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

Agus Baskara, 2012

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

UCAPAN TERIMA KASIH ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

DAFTAR ISI...viii

DAFTAR TABEL... x

DAFTAR GAMBAR... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 11

D. Manfaat/ Signifikansi Penelitian ... 11

E. Struktur Organisasi Tesis ... 12

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 15

A.Definisi, Tujuan,dan Karakteristik Pendidikan IPS ... .15

B. Penyajian IPS pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menegah ... 23

C. Pengorganisasian Materi Pendidikan IPS ... 26

D. Pembelajaran Terpadu ... 29

E. Strategi Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu ... 47

F. Karakteristik Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu ... 52

G. Pengertian Kompetensi ... 56

H. Penelitian Terdahulu ... 59

I. Paradigma Penelitian ... 63

(2)

Agus Baskara, 2012

A. Metode Penelitian ... 68

B. Situs Penelitian ... 70

C. Sumber Data ... 70

D. Instrumen Penelitian ... 71

E. Tahapan Penelitian... 73

F. Teknik Analisis Data... 76

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 80

A. Deskripsi Hasil Penelitian ... 80

1. Jurusan Pendidikan IPS FKIP UIR ... 80

2. Konsep Pendidikan IPS di Jurusan Pendidikan IPS FKIP-UIR ... 86

3. Pemahaman Mahasiswa mengenai Konsep IPS dan Pembelajaran IPS terpadu ... 92

4. Kemampuan Mahasiswa dalam Menyusun Desain Pembelajaran IPS yang Bersifat Terpadu ... 95

5. Kemampuan Mahasiswa dalam Menyusun Perangkat Pembelajaran IPS terpadu ... 117

6. Kesulitan yang Dihadapi Mahasiswa dalam Merekonstruksi pembelajaran yang bersifat terpadu ... 122

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 127

1. Pengetahuan Mahasiswa mengenai Konsep Pendidikan IPS dan Pemahaman Terhadap Konsep Pembelajaran Terpadu ... 127

2. Kemampuan Mahasiswa dalam Menyusun Desain Pembelajaran IPS yang bersifat terpadu ... 131

3. Kemampuan Mahasiswa dalam Menyusun perangkat Pembelajaran yang Bersifat terpadu ... 147

4. Kesulitan yang Dihadapi Mahasiswa dalam Merekonstruksi Pembelajaran Terpadu Serta solusinya ... 150

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 154

A. Kesimpulan ... 154

(3)

Agus Baskara, 2012

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang bersumber dari kehidupan sosial masyarakat yang diseleksi dengan menggunakan konsep-konsep ilmu sosial yang digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Hal tersebut sesuai dengan hakikat IPS yaitu bidang studi tentang tingkah laku kelompok umat manusia atau the study of the group behavior of human beings (Calhoun dalam Harianti 2007: 1), yang sumber-sumbernya digali dari kehidupan nyata di masyarakat. Dengan demikian kajian dan materi dalam IPS merupakan kajian yang bersifat kompleks, karena bersumber dari berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat walaupun telah melalui proses seleksi dengan menggunakan konsep-konsep ilmu sosial.

(5)

menjadi satu kesatuan. Sifat keterpaduan dalam IPS diperkuat oleh Sapriya (2009:26) yang berpendapat bahwa Pendidikan IPS sebagai “seleksi dan integrasi

dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan disiplin ilmu-ilmu lain yang relevan, dikemas secara psikologis, ilmiah, pedagogis, dan sosio-kultural untuk tujuan pendidikan.” Implikasinya maka pembelajaran dalam IPS merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan (memadukan) konsep-konsep dari disipilin ilmu sosial, bahkan disiplin ilmu lain yang relevan. Secara lebih tegas Numan Somantri (2001: 134) yang memberikan penjelasan IPS sebagai suatu synthetic discipline yang berusaha untuk mengorganisasikan dan mengembangkan substansi ilmu-ilmu sosial secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. Dengan demikian, pembelajaran IPS merupakan pembelajaran terpadu yang disajikan dengan secara ilmiah dan psikologis.

(6)

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa IPS tidak bisa lepas dari keterpaduan konsep ilmu-ilmu sosial. Maryani dan Syamsudin (2009: 2) menyatakan Penamaaan IPS sebenarnya sudah melekat dengan keterpaduan (integrated) ilmu-ilmu sosial, tujuannya sudah jelas untuk meningkatkaan kepekaan dan keterampilan dalam memecahkan masalah-masalah sosial sesuai dengan psikologi perkembangan peserta didik.

Materi Pendidikan IPS ditingkat sekolah merupakan kajian terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi, dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi, dan Ekonomi (Puskur, 2001: 9). Materi pelajaran IPS merupakan penggunaan konsep-konsep dari ilmu sosial yang terintegrasi dalam tema-tema tertentu. Misalnya materi tentang konsep pasar, maka harus ditampilkan kapan atau bagaimana proses berdirinya (Konsep Sejarah), di mana lokasi pasar tersebut (Konsep Geografi), bagaimana hubungan antara orang-orang yang berada di pasar (Konsep Sosiologi), bagaimana kebiasaan-kebiasaan orang menjual atau membeli di pasar (Konsep Antropologi) dan berapa atau jenis-jenis barang yang diperjualbelikan (Konsep Ekonomi).

Tujuan dari Pendidikan IPS adalah untuk “membentuk” siswa yang baik

(7)

IPS, tidak meletakkan kemampuan kognitif sebagai tujuan pembelajaran, tetapi melakukan keseimbangan dengan afektif dan psikomotorik. Konsekuensinya, bahwa dalam pembelajaran guru harus mampu mengajak siswa memasuki berbagai pengalaman baik nyata maupun imajinasi.

Pada kenyataannya kurikulum IPS pada pendidikan dasar dan menengah masih terpisah pisah, Kurikulum baru (KTSP) di SMP memang sudah memadukan IPS, tetapi masih tetap masih tampak nyata generik ilmu sosialnya, Standar Kompetensi dan Kompetensi dasarnya masih terlihat parsial dan pendekatannya pun belum tematik, kecuali kelas 1, 2, dan 3 di SD pendekatan yang digunakan sudah tematik. Pada jenjang SMA, IPS sudah mengarah ke ilmu sosial, IPS hanya dipergunakan sebagai payung ilmu-ilmu sosial dan nama salah satu jurusan saja.

Sejalan dengan penyelenggaraan pendidikan IPS di tingkat sekolah, penyelenggaraan pendidikan IPS di LPTK menurut Somantri (2001: 105) merupakan “integrasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial yang disajikan dalam lingkup ilmiah”. IPS Berbeda dengan ilmu sosial yang tidak berafiliasi dengan ilmu

(8)

ekonomi dengan ilmu sosial lain melalui pendekatan interdisipliner dan atau transdisipliner. Integrasi tersebut terdeskripsikan dalam kurikulum yang dilaksanakan di LPTK. Masih menurut Somantri (2001: 102), bahwa fakultas/ jurusan IPS “harus memperhatikan tujuan pendidikan IPS pada tingkat pendidikan

dasar dan menengah”. Artinya, kurikulum IPS di LPTK harus memiliki

konektivitas dan relevansi dengan pendidikan dasar dan menengah, sehingga ketika melakukan perumusan kurikulum harus dilakukan secara berdampingan dengan pendidikan IPS ditingkat pendidikan dasar dan menengah.

Berdasarkan pemikiran tersebut maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa harus terdapat relevansi antara Pendidikan IPS di LPTK dengan Pendidikan IPS ditingkat pendidikan dasar dan menengah. Sebagian besar relevansi ini terdapat pada pengembangan kurikulum pendidikan IPS di LPTK dan pengembangan kurikulum di tingkat sekolah, yang mana keduanya harus memiliki keterkaitan. Faktor lain yang juga memiliki peranan penting adalah lulusan dari LPTK itu sendiri yang akan berkarir di lingkungan pendidikan dasar dan menengah.

(9)

Fakta saat ini, hampir tidak ada program studi Strata 1 (S1) pada LPTK di Indonesia yang mengkhususkan diri mempersiapkan mahasiswanya untuk menjadi guru IPS. Pada saat ini baru ada dua program studi Pendidikan IPS S1 yaitu di Universitas Pendidikan Indonesia dan di Universitas Negeri Yogyakarta. Pada LPTK yang lain, pendidikan IPS baru ada pada level fakultas dan jurusan yang membawahi program studi yang berada dalam rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial. Misalnya, Program Studi PPKN, pendidikan ekonomi, pendidikan geografi, dan pendidikan sejarah, berada di bawah jurusan Pendidikan IPS atau Fakultas Pendidikan IPS.

(10)

kurikulum fakultas dan jurusan. Mahasiswa di program studi harus mendapat mata kuliah yang berbasis jurusan/fakultasnya.

Jika meninjau kebijakan tersebut maka pembelajaran terpadu pada jurusan IPS dapat dijadikan mata kuliah jurusan. Walaupun mahasiswa kuliah di program studi pendidikan ekonomi, mereka dapat belajar tentang pembelajaran terpadu secara khusus agar mampu untuk menyusun dan merencanakan pembelajaran yang bersifat terpadu. Mereka harus mampu memadukan konsep ekonomi dengan bidang keilmuan lainnya dalam ilmu sosial ketika menemukan suatu permasalahan sosial dan berusaha memecahkannya berdasarkan pola pikir yang majemuk, tidak hanya dilihat dari ilmu ekonomi saja. Hal tersebut kelak dapat teraplikasikan ketika mereka menjadi pendidik jika mahasiswa mampu merekonstruksikan pembelajaran yang bersifat terpadu.

(11)

Salah satu tujuan dari Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi Jurusan Pendidikan IPS – FKIP UIR adalah mengembangkan konsep dan teori pendidikan ekonomi akuntansi dalam lingkup pendidikan IPS. Tujuan ini diimplementasikan melalui penyusunan kurikulum dan pembinaan mahasiswa agar sejalan dengan tujuan tersebut.

Mahasiswa di jurusan pendidikan IPS dibebankan 152 SKS mata kuliah wajib. Hasil wawancara dengan ketua prodi pendidikan ekonomi akuntansi yang merangkap ketua jurusan pendidikan IPS diketahui bahwa dari 152 SKS tersebut berisi mata kuliah yang bersifat umum, mata kuliah dasar kependidikan, mata kuliah dasar profesi dan mata kuliah bidang keahlian. Mata kuliah yang berhubungan dengan pendidikan IPS terdiri dari Pengantar Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Studi Masyarakat Indonesia, Telaah Kurikulum IPS dan Ekonomi, Telaah Buku Teks IPS dan Ekonomi, dan Strategi Belajar Mengajar Ekonomi Akuntansi.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa sebagian besar dari output institusi di serap di SMP dan MTs, termasuk mahasiswa yang melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) sebagian besar ditempatkan di SMP dan MTs, oleh karena itu mahasiswa seharusnya memiliki kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran IPS yang bersifat terpadu.

(12)

kebutuhan pihak pengguna, yaitu IPS pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, khususnya di SMP. Artinya penguasaan dalam merekonstruksi pembelajaran IPS yang bersifat terpadu merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh mahasiswa.

Melalui observasi yang dilakukan sebelumnya, peneliti menemukan fakta walaupun konten kurikulum IPS di institusi yang bersangkutan sudah ada, akan tetapi, pola pikir mahasiswa masih terbatasi bahwa mereka hanya akan menjadi guru ekonomi/akuntansi di SMA/SMK. Sehingga mahasiswa tidak mempersiapkan diri jika suatu saat mereka akan mengajar di SMP.

(13)

Berdasarkan teori, fakta dan fenomena di atas maka penulis melakukan penelitian yang dirumuskan dalam judul : Kajian tentang Kompetensi Mahasiswa dalam Merekonstruksi Pembelajaran Terpadu (Studi Inkuiri Naturalistik pada Mahasiswa Semester Enam Jurusan Pendidikan IPS FKIP Universitas Islam Riau)

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Permasalahan yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini adalah tentang kompetensi mahasiswa dalam merekonstruksi pembelajaran terpadu. Sebagai implementasinya, secara lebih khusus penelitian ini akan mengkaji mengenai pengetahuan mahasiswa mengenai konsep pendidikan IPS, pemahaman mahasiswa tentang konsep pembelajaran terpadu, kemampuan mahasiswa dalam membuat desain pembelajaran terpadu, kemampuan mahasiswa dalam menyusun perangkat pembelajaran yang bersifat terpadu dan kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam merekonstruksi pembelajaran yang bersifat terpadu serta solusi atas permasalahan tersebut.

Sejalan dengan identifikasi permasalahan di atas, disusun rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Pengetahuan dan pemahaman mahasiswa terhadap konsep Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan konsep pembelajaran terpadu ? 2. Bagaimana kemampuan mahasiswa dalam membuat desain pembelajaran

IPS yang bersifat terpadu?

(14)

4. Apa saja kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam merekonstruksi pembelajaran yang bersifat terpadu?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara natural mengenai kompetensi mahasiswa dalam merekonstruksi pembelajaran terpadu. Secara operasional, tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang :

1. Pengetahuan dan pemahaman mahasiswa terhadap konsep Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan konsep pembelajaran terpadu

2. Kemampuan mahasiswa dalam membuat desain pembelajaran IPS yang bersifat terpadu

3. Kemampuan mahasiswa dalam menyusun perangkat pembelajaran yang bersifat terpadu

4. Kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam merekonstruksi pembelajaran yang bersifat terpadu.

D. Manfaat/Signifikansi Penelitian a. Manfaat Teoritis

(15)

b. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan memberikan konstribusi pemikiran dalam optimalisasi pengembangan kompetensi mahasiswa dalam pembelajaran pendidikan IPS pada Jurusan Pendidikan IPS FKIP- UIR. Secara kelembagaan diharapkan temuan-temuan dari hasil penelitian akan menjadi pertimbangan pengelola LPTK dalam proses pengambilan kebijakan, khususnya kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan jurusan Pendidikan IPS. Diharapkan juga bagi penelit lainnya dapat bermanfaat dan memberikan masukan bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang memiliki kajian yang sama dengan penelitian lainnya.

E. Struktur Organisasi Tesis

Tesis ini terdiri dari lima bab. Bab I berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang penelitian, Identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat/signifikansi penelitian dan struktur organisasi dari tesis.

(16)

Struktur organisasi tesis menjelaskan tentang urutan penulisan dari setiap bab dan bagian dalam bab.

Bab II terdiri dari kajian pustaka dan penelitian terdahulu. Kajian pustaka dalam tesis ini secara garis besar terdiri dari teori tentang Pendidikan IPS, teori tentang pembelajaran terpadu, dan teori tentang kompetensi. Penelitian terdahulu merupakan kesimpulan dari hasil penelitian sebelumnya yang memiliki kajian yang relevan dengan permasalahan yang diangkat dalam tesis.

Bab III yaitu metode penelitian, pada bab ini terdiri dari kajian tentang situs penelitian, sumber data, instrumen penelitian, tahapan penelitian dan teknik analisis data. Situs penelitian adalah lokasi tempat penelitian ini dilaksanakan, yang menjadi tempat dari sumber data yang dikoleksi oleh peneliti. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri. Tahapan penelitian menjelaskan mengenai prosedur yang ditempuh oleh peneliti dalam proses penelitian dari mulai mengumpulkan data sampai dengan penarikan kesimpulan. Teknis analisis data berisi hal-hal yang dilakukan oleh peneliti untuk menganalisis data yang terkumpul sebelum data ini disajikan.

(17)
(18)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi, dalam pengertian luas mengacu kepada pengertian yang menyangkut proses, prinsip dan prosedur yang dipergunakan untuk mendekati masalah dan mencari jawabannya. Metodologi penelitian yang dibahas dalam bab ini berkaitan dengan proses, prinsip dan prosedur penelitian.

A. Metode Penelitian

Penelitian yang berjudul Kajian tentang Kompetensi Mahasiswa dalam Merekonstruksi Pembelajaran Terpadu (Studi Inkuiri Naturaslistik pada Mahasiswa Semester Enam Jurusan Pendidikan IPS Universitas Islam Riau) bermaksud memperoleh gambaran keadaan secara keseluruhan tentang kompetensi mahasiswa dalam merekonstruksi pembelajaran terpadu. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan suatu metode penelitian yang menitikberatkan pada upaya menggambarkan keadaan secara natural, menyeluruh dan menghasilkan solusi yang bersifat praktis dan konstekstual terhadap permasalahan yang diteliti.

(19)

memanipulasi subyek yang diteliti (sebagaimana adanya natur). Inkuiri Naturalistik digolongkan ke dalam pendekatan/ penelitian kualitatif untuk membedakannya dari penelitian kuantitatif. Perbedaan lainnya terletak pada paradigma yang dipergunakan dalam melihat realita atau sesuatu yang menjadi objek studi. Paragidma itu sendiri tidak lain adalah representasi konseptualisasi tentang sesuatu, atau pandangan terhadap sesuatu. Dengan kata lain paradigma merupakan suatu cara memahami realita. Dalam penelitian, hal ini mencakup keyakinan terhadap sifat dasar dari realitas (yang diamati), hubungan antara orang yang mencoba mengetahui sesuatu (peneliti) dan hal yang mereka coba ketahui (yang diteliti), peranan/ pengaruh dari nilai-nilai (yang dianut peneliti) dan variabel-variabel lainnya yang serupa itu.

Metode ini dipandang tepat untuk dijadikan dasar analisa bagi penelitian, karena masalah yang diteliti memerlukan pengungkapan secara komprehensif dan mendasar atas dasar alamiah dari subjek penelitian. Metode penelitian tersebut di atas digunakan dalam penelitian ini karena mempunyai beberapa pertimbangan-pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan jamak.

Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi (Moleong 2006:10).

(20)

sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari. Peneliti menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari subjek penelitian, dalam kegaiatan pengumpulan data, peneliti berusaha untuk menyatu dengan subjek agar subjek tidak merasa tidak sedang diteliti. Pertanyaan-pertanyaan penelitian bersifat tidak formal dan menggunakan bahasa keseharian dari subjek yang diteliti. Sehingga dengan menggunakan pendekatan ini diharapkan bahwa kompetensi mahasiswa dalam merekonstruksi pembelajaran IPS yang bersifat teerpadu dapat dideskripsikan secara lebih teliti dan mendalam.

B. Situs Penelitian

Situs penelitian dimaksudkan sebagai kondisi dari situasi sosial. Tiap situasi sosial mengandung tiga unsur, yakni adanya tempat, pelaku dan kegiatan ( Nasution, 1996 : 43). Situs dalam penelitian ini adalah aspek tempat dimana penelitian dilakukan, yaitu di Program Studi Pendidikan Ekonomi, jurusan Pendidikan IPS FKIP-UIR.

C. Sumber Data

(21)

a. Informan atau nara sumber terdiri dari, Mahasiswa tingkat akhir jurusan pendidikan IPS FKIP-UIR, Ketua Prodi, Dosen pengajar metode pembelajaran, dosen Pendidikan IPS, Dosen Microteaching.

b. Arsip dan dokumen, berupa nilai hasil perkuliahan mahasiswa dalam mata kuliah yang berhubungan dengan IPS, hasil penilaian dari tes tentang konsep dasar Pendidikan IPS, dokumentasi hasil workshop penyusunan perangkat pembelajaran terpadu.

c. Peristiwa atau situasi yang berhubungan dengan subjek penelitian yaitu rekonstruksi pembelajaran terpadu oleh mahasiswa.

D. Instrumen Penelitian

Pada penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi. Satori dan Komariah

(2009:94-95) mengemukakan bahwa “triangulasi adalah pengecekan data dari berbagai

sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu”. Praktek triangulasi akan

tergambar dari kegiatan penelitan yang bertanya pada informan A dan mengklarifikasinya dengan informan B serta mengeksplorasinya pada informan C. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

1) Observasi

Menurut Satori dan Komariah (2009:105) “ Observasi adalah pengalaman langsung terhadap objek untuk mengetahui keberadaan objek situasi, konteks dan maknanya dalam upaya mengumpulkan data penelitian.

(22)

2) Wawancara

Wawancara adalah “suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan

informasi yang digali dari sumber data secara langsung melalui percakapan atau

tanya jawab” . Satori dan Komariah (2009:130).

Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.

Wawancara dilakukan untuk memperkuat informasi yang diperoleh selain dengan observasi. Peneliti bertindak sebagai pewawancara kepada mahasiswa,dosen dan ketua prodi.

3) Studi Dokumentasi Studi dokumentasi adalah

“mengumpulkan dokumen dan data-data yang diperlukan dalam

permasalahan penelitian, lalu ditelaah secara intensif sehingga dapat

mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian”

Satori dan Komariah (2009:149)

(23)

dokumentasi. Dalam penelitian ini dokumentasi dapat dijadikan bahan triangulasi untuk mengecek kesesuaian data

Objek dari studi dokumentasi ini adalah dokumen penilaian mahasiswa yang akan menjadi sumber dari pemaparan secara naratif dalam tahapan analisis data kualitatif.

4) Catatan Lapangan

Catatan lapangan berisi tentang apa yang didengar, dilihat, dialami dan difikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap fakta dalam penelitian lapangan. Sehingga peneliti dapat mudah dalam menganalisis permasalahan.

E. Tahapan Penelitian

Penelitian dilaksanakan melalui tahapan-tahapan berikut ini : 1) Tahap Orientasi

Tahap ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang lengkap dan jelas mengenai masalah yang hendak diteliti. Peneliti hanya berbekal pemikiran tentang kemungkinan adanya masalah yang layak diungkapkan dalam penelitian ini. Perkiraan muncul dari hasil membaca berbagai sumber tertulis dan pengematan sebagai dosen di situs penelitian.

2) Tahap Eksplorasi

(24)

teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participant observation), wawancara mendalam (In dept interview), dan dokumentasi (Sugiyono 2006:309).

Peneliti juga telah melakukan analisis data selama pelaksanaan tahap eksplorasi. Peneliti juga melakukan pengamatan, wawancara mendalam dan studi dokumentasi di situs penelitian.

Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2006:337) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.

3) Tahap Member Check

Tahap ini merupakan kegiatan pengecekan kebenaran dari data dan informasi yang telah dikumpulkan, agar hasil penelitian valid

4) Pengujian Validitas dan Realibilitas

Uji validitas dan realibilitas sering digunakan dalam uji keabsahan data dalam penelitian. Sugiono (2007 : 117 – 118) mengemukakan bahwa :

“Validitas merupakan derajat ketepatan antara ketepatan antara data yang terjadi

pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti”

Sedangkan realibilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan. Jadi uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif Sugiono (2007 : 117 – 118) “meliputi uji kredibilitas, transferabilitas, reliabilitas, dan

(25)

a. Kredibilitas

Merupakan ukuran tentang kebenaran data yang dikumpulkan yang menggambarkan kecocokan konsep peneliti dengan konsep yang ada pada responden atau narasumber.

b. Transferabilitas

Kriteria ini untuk mengukur sampai sejauh manakah hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dalam situasi lain.

c. Dependabilitas

Dependabilitas berhubungan dengan konsistensi suatu hasil penelitian apabila penelitian yang sama diulangi atau direflikasi oleh peneliti lain.

d. Konfirmabilitas

Konfirmabilitas berhubungan dengan objektivitas suatu hasil penelitian, artinya bila hasil penelitian itu dapat dibenarkan atau dikonfirmasikan oleh peneliti lain.

5) Tahap penyusunan laporan hasil penelitian

(26)

F. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data kualitatif yang terkumpul secara deskriptif. Data disajikan secara alamiah dan dipaparkan secara mendalam dengan memberikan elaborasi dari setiap poin yang ada dalam data.

Menurut Bogdan & Taylor (dalam Nasution 2003:126) , analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilihnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Sedangkan menurut Sugiyono (2006: 335) menyatakan bahwa analisis data kualitatif ialah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

(27)

berlangsung selama proses pengumpulan data daripada setelah selesai pengumpulan data (Sugiyono 2006: 336).

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban informan yang diwawancarai. Apabila jawaban informan, setelah dianalisis dianggap belum lengkap, maka peneliti akan melanjutkan memberikan pertanyaan-pertanyaan berikutnya sampai tahap tertentu diperoleh data yang lebih kredibel (Sugiyono 2006: 337).

[image:27.595.116.511.245.706.2]

Model analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis interaksi (interactive analysis models ). Dalam model ini komponen reduksi data dan sajian data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Setelah data terkumpul, maka tiga komponen analisis (reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan) saling berinteraksi. Langkah-langkah dalam analisis interaksi dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3.1. Komponen-komponen analisis data model interaksi. (Miles dan Huberman 1992:20)

Kesimpulan/ Verifikasi Pengumpulan

Data

Penyajian Data

(28)

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis yang kedua yaitu model analisis interaksi atau interactive analysis models dengan langkah-langkah yang ditempuh yaitu sebagai berikut :

a. Pengumpulan data (Data Collection)

Dilaksanakan dengan cara pencarian data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan bentuk data yang ada di lapangan, kemudian melaksanakan pencatatan data di lapangan.

b. Reduksi data (Data reduction)

Apabila data sudah terkumpul langkah selanjutnya adalah mereduksi data. Menurut Sugiyono (2006:338) mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal-hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya serta membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya apabila diperlukan.

c. Penyajian data (Data display)

(29)

data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, dalam penelitian ini peneliti paparkan dengan teks yang bersifat naratif.

d. Penarikan kesimpulan atau Verification

(30)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa belum terdapat model Pendidikan IPS yang mapan yang menjadi model IPS di Jurusan Pendidikan IPS FKIP-UIR. Pendidikan IPS masih diajarkan secara parsial, walaupun dosen pengajar sudah memiliki konsep yang benar mengenai pendidikan IPS. Kondisi ini berdampak pada pemahaman mahasiswa dimana pemahaman mahasiswa tentang konsep IPS belum komprehensif. Hal tersebut berdampak juga pada pemahaman dan penguasaan mahasiswa dalam merekonstruksi pembelajaran IPS. Mahasiswa belum mampu menerapkan konsep IPS dalam pembelajaran, sehingga rancangan pembelajaran IPS yang disusun oleh mahasiswa belum menunjukkan konsep integrated yang seharusnya menjadi karakteristik pembelajaran IPS.

(31)

yang mahasiswa hadapi adalah dalam tahap menentukan topik yang relevan dengan kompetensi dasar, merumuskan indikator, dan menentukan materi pokok. Efek dari permasalahan ini adalah ketika mahasiswa menyusun perangkat pembelajaran berupa silabus dan RPP, mereka tidak mampu membedakannya dengan silabus dan RPP biasa.

Berdasarkan hasil analisis, permasalahan di atas merupakan dampak dari muatan kurikulum Pendidikan IPS yang masih minim, dan tidak adanya model Pendidikan IPS yang jelas dan mapan di tingkat institusi. Mahasiswa diajarkan pembelajaran IPS terpadu secara instan melalui workshop. Sedangkan lima semester sebelumnya, mereka tidak mempelajari IPS secara operasional untuk diajarkan di tingkat sekolah. Mata kuliah yang identik dengan IPS, seperti Pengantar Pendidikan Ilmu Sosial, Studi Masyarakat Indonesia, Ilmu Budaya Dasar, dan Ilmu Sosial Dasar tidak mencukupi untuk menjadi fondasi mereka dalam memahami pendidikan IPS.

B. Rekomendasi

(32)

pendidikan IPS. Lembaga ini menjadi tempat pertemuan antara para pakar IPS, dosen, pengelola LPTK, guru, pemerintah, dinas pendidikan dan masyarakat seperti halnya NCSS di Amerika.

Rekomendasi kedua yaitu kepada Jurusan Pendidikan IPS FKIP UIR dimana permasalahan dalam rekonstruksi pembelajaran IPS terpadu di Jurusan Pendidikan IPS FKIP UIR terjadi karena muatan kurikulum Pendidikan IPS yang masih minim, dan tidak adanya konsep Pendidikan IPS yang jelas dan mapan di tingkat institusi. Secara khusus, peneliti merekomendasikan kepada pihak Jurusan Pendidikan IPS FKIP UIR agar melakukan revisi kurikulum IPS dan menjadikan materi mengenai pembelajaran IPS terpadu menjadi mata kuliah baru yang bersifat bersifat aplikatif serta relevan dengan tuntutan di lapangan. Mata kuliah ini merupakan penjabaran yang konkret dari konsep integrated dalam IPS. Dalam mata kuliah ini mahasiswa akan mampu “mengoperasionalkan” prinsip

(33)

Pihak jurusan pendidikan IPS sebaiknya mulai mewacanakan pembukaan program studi baru yaitu program studi pendidikan IPS sebagai solusi jangka panjang dari permasalahan yang dihadapi. Program studi ini akan menyiapkan guru-guru IPS untuk SMP, sehingga pembelajaran terpadu akan secara khusus dikaji dan menjadi kompetensi wajib yang dimiliki oleh mahasiswa-mahasiswanya.

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, S.(2007). Pembelajaran Terpadu.Jakarta: Universitas Terbuka. Ali, et al. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan.Bandung : Pedagogiana Press. Asmi.(2002). Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu untuk Sekolah Menengah

Umum (SMU). Ilmu Pengetahuan Sosial, Jurnal IPS dan Pengajarannya, Tahun 36, Nomor 2, Oktober: 240-251.

Banks, J.A.(1985). Teaching strategies for the social studies. New York: Longman

Beane, J. A. Et. al.(1986). Curriculum Planning and Development, Toronto: Allyn and Bacon Inc

Bloom, B.S.(2003). Taxonomy of Educational Objective: Handbook 7.Cognative Domain. New York:Longman.

Catano, V.M. (1998).Competencies: A Review of the Literature and bibiliography. tersedia: http./www.chrpcanacla.com/en/paselreport/appendix.asp.[10 Oktober 2011)

Chapin.J.R & Nessick, R.G. (1992). Helping Students Think and Value: Strategies for Teaching the Sosial Studies. New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Cracklin, MC., J. & Carroll, A.(1998).The Competent Use of Competency-Based Startegeis for Selection and Development Performance Improvement

Quarterly. Volume II, tersedia

:http./www.throughtspaceinc.com/pubs/compl/html.[10 oktober 2011] Daljoeni,N. (1992). Dasar-dasar IPS. Bandung: Alumni

Djahiri, K dan Ma’Mun, F.(1979). Pengajaran Studi Sosial. Bandung: LPPP-IPS:FKIP-IKIP Bandung.

Fogarty, R. (1991). How to Integrate the Curricula. Palatine. Illinois: IRI/Skylight Publishing.Inc.

(35)

Gross, R.E.(1964). “Social Studies”. In Charles W. Harris (ed), Encyclopedia of Educational Research. New York: Macmillan.

Hasan, S. H.(1996). Pendidikan Ilmu Sosial, Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Akademik Dirjen Dikti Depdikbud.

Harianti, D.(2007).Model Pembelajaran terpadu IPS,Jakarta: Depdiknas

Hidayati, M .(2008). Pengembangan Pendidikan IPS SD, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Hesty. (2008). Implementasi Model Pembelajaran Tematik untuk Meningkatkan Kemampuan Dasar Siswa Sekolah Dasar. Pangkal Pinang : LPMP Propinsi Bangka Belitung

Indrawati.(2009). Model Pembelajaran IPS terpadu di Sekolah Dasar. Jakarta : Pusta Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK)

Karli,H.(2007). “Pembelajaran Tematik dan Pembelajaran Fragmented di Sekolah Dasar”. Jurnal Opini.2,(1), 1-9.

Lincoln dan Guba.(1985). Naturalistic Inquiry. Beverly Hill: Sage Publication Martorella,P. H.(1994). Social Studies for Elementary School Children. London:

Mav Millan

Martorella, P.H. (1976). Elementry Social Studies as a Learning System. New York : Harper and Ror

Maryani, E dan Syamsudin, H. (2009). “Pengembangan Program Pembelajaran IPS untuk meningkatkan kompetensi Keterampilan sosial”.Jurnal Penelitian.9, (1), 1-15.

Miles, MB. & Huberman.(1992). Analisis Data Kualitatif. Diterjemahkan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Moelong , J.L.(2004). Metodologi Penelitian Kualitatif, ed. Bandung: Remaja Rosdakarya.

(36)

Muhadjir, N. (2000). Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Rake Sarasin

Mulyasa, E. (2004). Implementasi Kurikulum 2004.Bandung :Rosda Karya

_________. (2006).KBK Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung: Rosda Karya

Nasution.(2000). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Nasution.(2003). Asas-Asas Kurikulum,Jakarta: Bumi Aksara

Nasution.(2003). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Tarsito NCSS.(1994).Curriculum Standard for Social Studies. Washington.: Expectation

of Excellece

Pujiati, M., A. (2007). PAUD dan Calistung, diakses dari http://duniaparenting.com/paud-dan-calistung/ tanggal 6 Juni 2012 jam 16.13 Wib

Puskur Balitbang Depdiknas.(2001). Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Ilmu Sosial Sekolah Dasar Jakarta: Depdiknas

Puskur Balitbang depdiknas.(2007).Model Pembelajaran terpadu IPS.Jakarta: Depdiknas

Saidihardjo.(1996). Konsep dasar Ilmu pengetahuan Sosial. (Buku 1). Yogyakarta : FIP IKIP.

Sapriya.(2009).Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran, Bandung: Rosdakarya.

Satori, J dan Komariah, A.(2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta

Sholehudin, (2007). Pengembangan Model Pembelajaran Terpadu Berbasis Kompetensi. Disertasi .Bandung. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak diterbitkan

(37)

Spencer,M.L and Spencer,M.S.(1993).”Competence at Work : Models for Superior Performannce.New York: Jhon Wily & Son inc

Setiana, N. (2009). Pengaruh Implementasi Pendekatan Tematik Model Webbing terhadap Peningkatan Pemahaman Konsep dan Kreativitas Siswa Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.Tesis pada Pendidikan IPS UPI Bandung : Tidak diterbitkan

Sugiyono, (2006). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif R & D. Bandung: Alfabeta

Sukmadinata, N., Sy. (2005). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung : PT.Rosda Karya.

Suparno, P., (1997) Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta. Kanisius

Trianto. (2007). Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung. Sinar Grafika.

Wahab.A.A (2007) Metode dan Model – Model Pengajar, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Bandung Alfabeta

Wahidmurni.(2006). Asesmen Kebutuhan untuk Pengembangan Kurikulum Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Malang: Penelitian Proyek Peningkatan Perguruan Tinggi Agama/Universitas Islam Negeri Malang. Wesley, E.B. & Wronski, S.P.(1964).Teaching Social Studies in High School

Gambar

Gambar  3.1.  Komponen-komponen analisis data model interaksi.  (Miles dan Huberman 1992:20)

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Lofland yang dikutip oleh Azwar sumber data utama dalam penelitian.. kualitatif adalah kata-kata dan Tindakan selebihnya adalah data

Sumber data utama penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan tindakan orang yang.. dapat diamati atau

Moleong (2007:157), sumber data utama penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, sehingga selebihnya adalah data tambahan berupa dokumen dan lain-lain. kata-kata

peneliti yang belum terjawab oleh informan kunci. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya data tambahan seperti

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif dalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Kata-kata dan tindakan orang yang

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Kata-kata dan tindakan

Moleong (2007:157), sumber data utama penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, sehingga selebihnya adalah data tambahan berupa dokumen dan lain-lain. kata-kata

Sumber Data Menurut Lofland, seperti dikutip oleh Moleong, sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan