BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam Pasal 1 butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasionaldisebutkan bahwa Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Rusman, 2008 : 3).
Disisi lainLarry Winecoff (1988:1) mengatakan bahwa “The Curriculum is generally defined as a plan developed to facilitate the teaching / learning procces
under the direction and guidance of a school, college or university and its staf
member.”Selain itu Romine dalam Hamalik (2008:4) mengatakan bahwa “ Curriculum is interpreted to mean all the organized courses, activities and
experiences which pupils have under direction of the school, whether in the
classroom or not.”
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa.
pedoman yang memberikan arah dan tujuan pendidikan; serta isi yang harus dipelajari; sedangkan pengajaran adalah proses yang terjadi dalam interaksi belajar dan mengajar antara guru dan siswa. Dengan demikian, tanpa kurikulum sebagai sebuah rencana, maka pembelajaran atau pengajaran sebagai implementasi sebuah rencana, maka kurikulum tidak akan memiliki arti apa-apa. (Sanjaya, 2008 : v)
Seiring dengan tuntutan perkembangan zaman, perubahan kurikulum di sekolah-sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah merupakan sebuah fenomena yang tidak dapat dihindari.Semangat zaman yang makin mengglobal menyebabkan perubahan evolusioner dan revolusioner secara mendasar pada dinamika pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan manusia sangat dibutuhkan.Tidak hanya itu, dimensi sikap, perilaku, dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan dan interaksi sosial antar manusia juga mengalami perubahan.
Dalam konteks itu, Peraturan Mendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Pendidikan dan Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan/SKLdan Peraturan Mendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Permendiknas Nomor 22 dan 23 Tahun 2006 yang menginisiasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di seluruh Indonesia.
Sekolah pada umumnya belum semuannya memahami secara utuh tentang KTSP, permasalahan lainnya adanya keterbatasan akses sekolah dalam mendapatkan informasi-informasi tentang perubahan kurikulum dikarenakan letak geografis yang jauh dari pusat informasi. Jadi jangankan menyusun kurikulum, menjalankan kurikulum yang sudah adapun sulit dilakukan.Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya kongkrit untuk mengiringi suksesnya penyempurnaan kurikulum ini.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang kita kenal dengan KTSP merupakan kurikulum yang diharuskan oleh pemerintah untuk dikembangkan di setiap lembaga pendidikan formal sesuai dengan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab X tentang kurikulum pasal 36 dan 37 dan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Dalam Permendiknas No 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Pasal 2 ayat 4 disebutkan :
Satuan Pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba kurikulum 2004, melaksanakan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun, dengan tahapan :
a. Untuk Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan Sekolah dasar Luar Biasa (SDLB)
b. Untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA, Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), dan SekolahMenengah Atas Luar Biasa (SMALB) :
- Tahun I : Kelas 1; - Tahun II : Kelas 1 dan 2; - Tahun III : Kelas 1, 2 dan 3.
Semangat perubahan KTSP mensyaratkan sekolah membangun paradigma baru pengelolaan pendidikan yang selama ini telah terbangun pemahamanterjadinya sentralistik pendidikan yang menjadi hambatandan mengerdilkan ide dan kreativitas satuan pendidikan dalam memberdayakan potensi dirinya.Pengelolaan Pendidikan secara sentralistik telah dicoba diatasi dengan berbagai upaya oleh pemerintah.Misalnya, saat pemerintah pusat kaget dengan minimnya kreativitas sekolah, dicetuskan paradigma otonomi pendidikan melalui manajemen berbasis sekolah.
satu-satunya lagi sumber pengetahuan.Siswa memiliki peluang mengakses informasi dari berbagai sumber, dikenallah istilah on-line learning.
Sejak pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 dalam pelaksanaannya sudah barang tentu banyak kendala yang dihadapi, apalagi ditahun pertama masih dalam taraf uji coba.
Dalam prakteknya kebijakan pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)di lapangan pada prakteknya belum berhasil sesuai dengan harapan yang diinginkan, sebagaimana dikatakan Suhadi (2006) :
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disikapi secara kurang bijaksana oleh para pelaku pendidikan.Diantaranya, masih banyak dijumpai adanya anggapan bahwa KTSP adalah kurikulum baru yang tidak berbeda dengan kurikulum sebelumnya, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).Sebagai konsekuensinya implementasi kurikulum yang berlaku sebelumnya harus pula dibenahi atau dirombak.Anggapan inilah yang menimbulkan sikap apriori dan penolakan secara psikologis terhadap perubahan.
Implementasi KTSP pada semuan jenjang baik itu pendidikan dasar ataupun menengah belum sepenuhnya terimplementasi dengan baik, hal ini bisa dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh (Sutrisno dan Nuryanto, 2008).sebagai berikut:
Pada semua jenjang, elemen-elemen KTSP belum sepenuhnya terimplementasi dengan baik yakni (a) penyusunan pengembangan KTSP, (b) pengembangan silabus, (c) pengembangan diri, (d) pembelajaran terpadu, (e) pengembangan muatan lokal, (f) penyusunan rancangan penilaian hasil belajar, (g) penyusunan laporan peserta didik.
masih belum memahami secara utuh tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Wachyu Sundayana (2009) terhadap sejumlah 60 guru bahasa Inggris SMP danMadrasah Tsanawiyah di 24 Kabupaten dan Kota di Jawa Barat yang menunjukkan bahwa sebagian besar guru (74%) mengetahui KTSP tetapi tidak mengetahui secara pasti apa yang harus dilakukan dalam praktek mengembangkan KTSP meskipun mereka telah mengikuti kegiatan pelatihan atau sekurang-kurangya sosialisasi KTSP.
Data lain menyebutkan bahwa sebenarnya para guru mengetahui tahapan-tahapan pengembangan kurikulum seperti dalam tabel berikut ini :
Tabel 1.1 : Tahapan Pengembangan KTSP dalam persepsi guru (Sundayana, 2009).
Tahapan % Urutan
Perencanaan 42 1
Implementasi 24 2
Evaluasi 22 3
Diseminasi 12 4
[image:6.595.115.515.232.614.2]Dari permasalahan ini penulis mencoba untuk menganalisa dari tahapan desain dan implementasi KTSP bahasa Inggris SMP kelas VII. Penulis akan menganalisa KTSP tiap SMP yang ada di kabupaten Majalengka dan membandingkan berdasarkan analisa, yaitu dengan cara menganalisis Dokumen KTSP tiap sekolah untuk mengetahui tentang desain. Untuk mengetahui persiapan pembelajaran maka yang dianalisis adalah Program Semester dan Persiapan Pembelajaran. Untuk mengetahui tentang pelaksanaan pembelajaran maka penulis akan mengadakan observasi kedalam kelas untuk mengamati jalannya proses pembelajaran. Untuk mengetahui proses penilaian maka akan menganalisis proses penilaian selama proses pembelajaran berlangsung.
1.2 Rumusan dan Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah pokok dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Desain dan Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Majalengka?”
Dari rumusan tersebut, maka secara rinci masalah penelitian dibatasi hanya pada :
1. Desain Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Majalengka.
3. Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Mata Pelajaran Bahasa Inggris kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Majalengka..
4. Pelaksanaan Penilaian dalam pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Majalengka..
1.3 Pertanyaan Penelitian
Rumusan pertanyaan penelitian berdasarkan masalah pokok di atas adalah: 1. Bagaimana Desain Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Majalengka?
2. Bagaimana Perencanaan pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris di kelas VII SMP berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di SMP Negeri di Kabupaten Majalengka?
3. Bagaimana Pelaksanaan kegiatan pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris di Kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Majalengka?
4. Bagaimana Kegiatan penilaian dalam pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris di kelas VIISMP Negeri di Kabupaten Majalengka?
1.4 Tujuan Penelitian
dapat dijadikan arahan bagi pihak terkait dalam memperbaiki sistem desain dan implementasi kurikulum selanjutnya.
Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
1. Desain Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Majalengka.
2. Perencanaan program pembelajaran yang dikembangkan dalam Mata Pelajaran Bahasa Inggris di kelas VII di SMP Negeri di Kabupaten Majalengka.
3. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris di Kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Majalengka.
4. Kegiatan penilaian dalam pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris di kelas VIISMP Negeri di Kabupaten Majalengka.
1.5 Manfaat/Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
1. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi guru/pengajar, dalam mengimplementasikan kurikulum, yaitu bagaimana merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran serta bagaimana menilai pembelajaran
mengajar Mata Pelajaran Bahasa Inggris berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
3. Bagi peneliti lanjutan, diharapkan dapat membuka wawasan sebagai bahan masukan bagi peneliti-peneliti lebih lanjut khususnya yang berkaitan dengan tugas guru sebagai implementator kurikulum.
1.6 Definisi Operasional
1. Yang dimaksud dengan desain adalah rancangan, pola atau model .Jadi mendesain kurikulum berarti menyusun rancangan atau menyusun model kurikulum sesuai dengan visi dan misis sekolah. Sanjaya, (2008:63)
Desain Kurikulum merupakan proses terencana dalam melakukan pengorganisasian unsur-unsur atau komponen-komponen dalam kurikulum 2. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi adalah
pelaksanaan, penerapan : pertemuan kedua ini bermaksud mencari bentuk tentang hal yang disepakati dulu (Tim Penyusun 2005:427). Sedangkan menurut Susilo (2007:174) implementasi merupakan suatu penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, dan sikap.
Berdasarkan definisi implementasi tersebut, implementasi kurikulum didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Implementasi kurikulum tertulis (Written Curriculum) dalam bentuk pembelajaran (Susilo 2007:174-175). Berdasarkan uraian tersebut, implementasi pembelajaran berbasis KTSP dapat didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan KTSP dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi denganlingkungan. Implementasi KTSP juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum operasional dalam bentuk pembelajaran (Mulyasa 2006:246).
3. Sesuai dengan Badan Standar Nasional Pendidikan, pasal 1 ayat 15 tahun 2005 dikemukakan bahwa: “KTSP adalah kurikulum operasional disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)”.
kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran dan silabus yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan satuan pendidikan tertentu.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian yang berjudul “Desain dan Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan Mata Pelajaran bahasa Inggris Kelas VII SMP Negeri Di Kabupaten Majalengka” bermaksud ingin memperoleh gambaran tentang desain dan Implementasi Mata Pelajaran Bahasa Inggris kelas VII. Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan suatu metode penelitian yang menitikberatkan pada upaya yang dihasilkan pada suatu solusi praktis dan kontekstual terhadap permasalahan yang diteliti. Berdasarkan hal tersebut untuk mencapai tujuan penelitian, maka metode penelitian yang dipandang relevan adalah penelitiandeskriptif.
Penggunaan metode penelitian didasari atas tujuan pokok penelitian yaitu berusaha untuk mendeskripsikan serta menganalisis tentang desain dan implementasi KTSP Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Majalengka. Dengan kata lain penelitin ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang gejala, fenomena, peristiwa atau kejadian yang dialami oleh pelaksana Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dalam mendesain dan mengimplementasikan mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas VII di SMP Negeri di Kabupaten Majalengka.
mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, dan kejadian yang terjadi saat sekarang dimana peneliti berusaha memotret peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatiannya untuk kemudian digambarkan sebagaimana adanya.
Sejalan dengan ungkapan di atas, Best (1982) dalam Sukardi (2003:157), secara operasional mengemukakan bahwa “Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya.”
Sukmadinata (2009:72), menjelaskan bahwa :
“Penelitian Deskriptifadalah suatu bentuk penelitian yang paling dasar. Ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena-fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. Penelitian ini mengkaji bentuk, aktivitias, karakteristik perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaannya dengan fenomena lain, .”
Penelitian deslriptif adalah penelitia tentang fenomena yang terjadi pada masa sekarang. Prosesnya berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta analisis dan penafsiran data tersebut. Peneltian deskriptif dapat bersifat komparatif dengan membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu; analitis kualitatif untuk menjelaskan fenomena dengan aturan berpikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis tanpa menggunakan model kuantitatif; atau normative dengan mengadakan klasifikasi, penilaian standar norma, hubungan dan kedudukan suatu unsur dengan unsur lain.
deskriptif juga banyak dilakukan oleh para peneliti karena dua alasan. (Sukardi, 2003:157)
1. Dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian dilakukan dalam bentuk deskriptif
2. Berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia.
Penelitian deskriptif mempunyai karakteristik-karakteristik seperti yang dikemukakan Furchan (2004) bahwa (1) penelitian deskriptif cenderung menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah secara teratur-ketat, mengutamakan obyektivitas, dan dilakukan secara cermat. (2) tidak adanya perlakuan yang diberikan atau dikendalikan, dan (3) tidak adanya uji hipotesis.
Berdasarkan tujuan sebagai rujukan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sebagai suatu dasar atau acuan bagi penelitian ini. Dalam melaksanaan penelitian kualitatif di lapangan diperlukan pemahaman dan arahan yang akan ditempuh sesuai dengan hakikat penelitian kualitatif itu sendiri. Bersumber dari pendapat S. Nasution (1988:5), penelitian kualitatif yang penulis lakukan adalah penelitian yang pada hakekatnya mengamati orang-orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka dan berusaha memahami bahasa serta tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya, sehingga peneliti harus turun ke lapangan dan berada disana dalam kurun waktu yang cukup lama.
sumber tanpa melalui perantara seperti halnya alat pengumpul data pada penelitian kuantitatif. Tujuan pendekatan ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran secara langsung dan nyata tentang fenomena objek yang diteliti yakni pelaksanaan pembelajaran Bahasa Inggris.
Penelitian ini mencoba mengungkap dokumen desain kurikulum sekolah dan perencanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru, berupa program semester, silabus, dan persiapan mengajar (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) pada mata pelajaran Bahasa Inggris kelas VII Sekolah Menengah Pertama.
Untuk memahami secara mendalam terhadap penelitian ini maka komponen yang perlu mendapat perhatian serius dalam penelitian ini adalah tentang :
1. Visi, misi, tujuan sekolah 2. Struktur dan muatan kurikulum 3. Kalender pendidikan
4. Silabus dan RPP Mata pelajaran bahasa Inggris kelas VII SMP
Penelitian ini berfokus pada proses implementasi kurikulum Bahasa Inggris, dimana dilingkungan sekolah merupakan lokasi penelitian. Kegiatan implementasi kurikulum Bahasa Inggris ini dapat terungkap melalui pendekatan kualitatif.
Inggris kelas VII di SMPN 1, 2, 3 dan SMPN 4 Majalengka di Kabupaten Majalengka. Konsekwensi dari studi kasus ini tidak belaku secara general, dan hanya mewakili dimana studi ini dilaksanakan.
3.2 Lokasi dan Subjek Penelitian
3.2 1 Lokasi Penelitian
Yang dimaksud dengan lokasi penelitian disini adalah aspek tempat yaitu SMP Negeri 1 Majalengka, SMP Negeri 2 Majalengka, SMP Negeri 3 Majalengka dan SMP Negeri 4 Majalengka yang semuanya sudah menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai kurikulumnya.
Dasar pertimbangan memilih SMP Negeri 1, 2, 3 dan 4 Majalengka karena keempat sekolah tersebut merupakan sekolah favorit yang ada di pusat kota Kabupaten Majalengka, dengan demikian keberadaan sekolah tersebut dipandang cukup baik, hal inilah yang memungkinkan penulis memilih sekolah-sekolah tersebut.
3.2.2 Subjek Penelitian
Dalam hal ini peneliti memfokuskan diri pada desain dan implementasi KTSP Bahasa Inggris Kelas VII. Menentukan sumber dan responden dalam pengumpulan data dan informasi , peneliti mengorganisir data sesuai dengan sumbernya yaitu sumber data primer ialah guru, dan kegiatan mengajarnya, aktivitas belajar siswa dan guru, dan dokumen KTSP. Sedangkan data sekunder meliputi kepala sekolah dan wakil keapala sekolah bidang kurikulum.
Kegiatan pengumpulan data dan informasi secara langsung peneliti ikut berbaur dalam kegiatan pembelajaran, mengamati kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa, menelaah dokumentasi yang berhubungan dengan mata pelajaran ini dan melakukan wawancara pada pihak yang terkait dengan mata pelajaran ini, meliputi guru, kepala sekolah, wakasek bidang kurikulum yang bertujuan melengkapi hasil pengamatan dan penelaahan dokumen hasil observasi. Kegiatan wawancara ini pula dimaksudkan untuk menggali informasi dari pihak-pihak yang secara langsung terlibat dalam desain dan implementasi KTSP mata pelejaran Bahasa Inggris kelas VII, sekaligus untuk mengonfirmasikan keabsahan data yang dikumpulkan sebelumnya, melalui observasi atau tatap muka di dalam kelas.
3.2.3 Teknik Pengumpulan Data
individu yang akan diteliti dan teknik studi dokumentasi untuk mendapatkan data dengan mempelajari dokumen-dokumen yang ada kaitan dengan data yang diteliti. Sementara sebagai instrument pengumpul data ialah peneliti sendiri (human instrument) untuk memandu peneliti dalam pengumpulan data dan klarifikasi data, maka sebelumnya peneliti telah mempersiapkan kisi-kisi pengumpulan data.
Adapun proses dan teknik pengumpulan data yang disebutkan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
3.3.1Teknik Observasi
Nana Syaodih (2006:220) mengatakan bahwa “observasi dapat dilakukan secara partisipatif atau non partisipatif”. Berkenaan dengan penggunaan observasi sebagai alat pengumpul data, dalam penelitian kualitatif sangat disarankan penggunaan observasi partisipatif. Observasi partisipatif terdiri dari : (1) Partisipatif pasif, (2) Partisipatif moderat (3) Partisipatif aktif, dan (4) Partisipatif Sepenuhnya. (Sanapiah, 1990:79).
Kegiatan observasi ini dilakukan berulang kali sampai diperoleh semua data yang diperlukan. Pelaksanaan yang berulang ini memiliki keuntungan dimana responden yang diamati akan terbiasa dengan kehadiran peneliti sehingga responden berprilaku apa adanya (tidak dibuat-buat).
Kegiatan observasi ini dilakukan di empat sekolah yaitu SMPN 1, 2, 3 dan SMPN 4 Majalengka di kelas VII.
3.3.2 Teknik Wawancara
Menurut Dexter, 1970 (Lincoln dan Guba 1985:265) :
“Wawancara adalah suatu percakapan yang bertujuan. Tujuannya adalah mendapatkan informasi tentang perorangan, kejadian, kegiatan, perasaan, motivasi, kepedulian, di samping itu dapat mengalami dunia pikiran perasaan responden, merekonstruksi pengalaman-pengalaman masa lalu dan masa depan yang akan dating.”
Wawancara atau interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi (S. Nasution, 2003 : 113).
Dalam penelitian ini, pendekatan wawancara yang digunakan adalah wawancara informal, formal, dan terbuka. Hal ini ditempuh dengan pertimbangan bahwa ada data yang diperlukan bersifat data eksplorasi mengenai pemahaman guru dan yang dilakukannya tentang pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
3.3.3 Analisis Dokumen
Dalam penelitian ini, yang dijadikan sumber informasi adalah dokumen berupa dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan /Silabus Mata Perlajaran Bahasa Inggris Kelas VII SMP Negeri 1, 2, 3 dan SMPN 4 Majalengka, dokumen program semester, dokumen RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), dan dokumen hasil belajar siswa.
Ketiga teknik diatas yakni wawancara, observasi, dan analisis dokumen adalah cara kerja yang digunakan peneliti sendiri untuk menjaring data peneliti. Hal ini sejalan dengan tuntutan penelitian dengan pendekatan naturalistik-kualitatif, dimana salah satu cirinya adalah peneliti berperan sebagai instrumen.
Nana Sudjana & Ibrahim (1989:189), menyatakan :
Peneliti dan objek yang diteliti saling berinteraksi, yang proses penelitiannya dilakukan di luar maupun dari dalam dengan banyak melibatkan judgement. Dalam pelaksanaannya, peneliti sekaligus berfungsi sebagai alat penelitian yang tentunya tidak bisa melepaskan diri sepenuhnya dari unsure subjektivitas.
Berdasarkan pandangan di atas, peneliti berperan sebagai instrument terjun langsung ke lapangan, menjaring data melalui teknik wawancara, observasi dan analisis dokumen dengan melakukan judgement selama tahap pengumpulan data tersebut sesuai dengan tujuan penelitian.
3.4Teknik Analisis Data
Dampak implementasi KTSP terhadap aktivitas belajar siswa dan faktor-faktor yang menunjang dan menghambat dalam implementasi diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Sumber data lain yaitu kepala sekolah untuk memperoleh data penunjang yang berkaitan dengan sosialisasi dan dan dampak implementasi KTSP. Sedangkan siswa sebagai sumber data yang berkaitan dengan hasil penilaian berupa aktivitas belajar yang mereka lakukan.
Dalam penelitian kualitatif, pelaksanaan analisis data dilakukan sepanjang penelitian itu dan secara terus menerus mulai dari tahap pengumpulan data sampai akhir. Data yang diperoleh dalam penelitian ini tidak akan memberuikan makna yang berarti apabila tidak dianalisis lebih lanjut. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1992:20) bahwa “Analisis data kualitatif merupakan upaya berlanjut, berulang dan terus menerus”. Dengan demikian analisis yang dimaksud merupakan kegiatan lanjutan dari langkah pengumpulan data kegiatan ini meliputi :
3.4.1 Reduksi Data
3.4.2 Penyajian Data
Setelah melakukan reduksi terhadap data yang dikumpulkan maka peneliti menyajikan data dalam \bentuk deskripsi yang berdasarkan aspek-aspek yang diteliti dan disusun berturut-turut mengenai implementasi pembelajaran yang dilakukan guru dan tahap persiapan atau perencanaan sampai pada pelaksanaannya serta evaluasi.
3.4.3 Pengambilan Keputusan
Berdasarkan kegiatanb tersebut diatas langkah terakhir yang dilakukan oleh peneliti adalah mengambil kesimpulan/verifikasi. Kesimpulan merupakan pemaknaan terhadap data yang telah dikumpulkan dimana kesimpulan tersebut diarahkan pada pokok permasalahn yang diteliti.
Dalam hal ini kesimpulan dilakukan secara bertahap, pertama berupa kesimpulan sementara, namun dengan bertambahnya data maka perlu dilakukan veripikasi data yaitu dengan mempelajari kembali data-data yang ada (yang direduksi maupun disajikan). Di samping itu dilakukan dengan cara meminta pertimbangan dengan pihak-pihak yang berkenaan dengan penelitian ini, yaitu pihak kepala sekolah dan guru. Setelah hal itu dilakukan, maka peneliti baru dapat mengambil keputusan akhir
Data yang akan dianalisis meliputi aspek :
2. Perencanaan pembelajaran (Program Semester dan RPP) Mata Pelajaran Bahasa Inggris yang dibuat oleh guru di SMPN 1, 2, 3 dan SMPN 4 Majalengka.
3. Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMPN 1, 2, 3 dan SMPN 4 Majalengka.
4. Penilaian Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMPN 1, 2, 3 dan SMPN 4 Majalengka.
Atas dasar hasil analisis data penelitian ini, kemudian akan ditarik suatu kesimpulan apakah terdapat kesinambungan dari kurikulum sebagai ide sampai kepada kurikulum sebagai proses.
3.5Prosedur Penelitian
Merujuk pada pprosedur penelitian kualitatif seperti yang dikemukakan oleh Moleong (2007:127) meliputi tiga tahapan, yaitu : 1) pra-lapangan, 2) kegiatan lapangan, 3) analisis data.
1. Tahap Pra-lapangan.
Yang termasuk ke dalam tahapan Pra-lapangan diantaranya : a) Menyusun rancangan penelitian, b) Memilih lapangan penelitian, c) mengurus perizinan, d) Menjajaki dan menilai lapangan, e) Memilih dan memanfaatkan informan, f) Menyiapkan perlengkapan penelitian g) Persoalan etika penelitian.
Uraian tentang tahap pekerjaan lapangan dibagi atas tiga bagian yaitu : a) Memehami latar penelitian, dan persiapan diri, b) memasuki lapangan, dan c) berperanserta sambil mengumpulkan data.
3. Tahapan analisis data
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Dalam babinidikemukakanbeberapakesimpulandanrekomendasi yang di dasarkanpadaanalisistemuan-temuanpenelitiandesaindanimplementasi KTSP matapelajaranBahasaInggris di SMPN 1, 2, 3, dan 4 Majalengka.
5.1 Kesimpulan
Berdasarkandeskripsi, analisisdanpembahasan data hasilpenelitiantentangDesaindanImplementasiKurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP) pada Mata PelajaranBahasaInggris, dapatdisimpulkansebagaiberikut :
5.1.1 Desain KTSP di SMP
Persamaan : Keempatlokasipenelitianmemilikikesamaandalamhal : Sistematika, rasional, landasan, danstrukturkurikulum. Terdapatkesamaandalampengembangankurikulumkarena : Memilikisumber yang samayaitudari BNSP; Masihkurangsempurnapemahamanterhadap KTSP, sehinggatakutsalahjikaberbeda.
Perbedaannya : Visidanmisisekolah; KalenderPendidikan; KondisiObyektif.
SMPN 2 Majalengka : Ungguldalamprestasi, berwawasanlingkungan, danagamis.
SMPN 3 Majalengka : Ungguldalamprestasimantapdalamimtaq
SMPN 4 Majalengka : Profesionaldalammelaksanakanpekerjaan, bernuansa religious, danmengantarpesertadidkdalampencapaiancita-cita.
5.1.2 PerencanaanPembelajaran
Berdasarkantemuanhasilpenelitian, bahwaRencanapembelajaran, baik program semester maupunrencanapelaksanaanpembelajaran (RPP) dibuat guru denganmenggunakan format yang diharapkandalampengembangansilabus KTSP. Dalam persiapanpembelajaranterutamadalamlangkah-langkahpembelajaran guru menggunakan model pembelajaran yang biasamerekalakukansebelumnya, halinibisadilihatdalamRencanaPelaksanaanPembelajaranterlampir.
Hampirtidakterdapatperbedaandalamperencanaanpembelajaran yang dikembangkanoleh guru BahasaInggris di keempatsekolahtersebut. Hal inidikarenakan guru tidakmauterlaludisibukkandenganperencanaanpembelajaran, apalagi RPP inimenyangkutadministrasi guru yang wajibdikerjakan. Hasilwawancaradapatdisimpulkanbahwa guru membuat RPP untukkeberhasilan proses pembelajaran.
5.1.3 PelaksanaanPembelajaran
Ada beberapakekurangan yang dilakukan guru, sebagaiberikut :
a) Padakegiatanpemanasan, guru
kurangmenumbuhkanmotivasisiswadenganbahan ajar yang menarikdanbergunabagisiswa.
b) Padatahapeksplorasi, guru kurangmengembangkanmetodebervariasi. c) Padatahapkonsolidasipembelajaran, guru
kurangmelibatkansiswasecaraaktif dalam proses pembelajaran, dankurangmenghubungkanbahanajardengan yang
barudenganberbagaiaspekkehidupankesehariansesuaikebutuhansiswa.
d) Padatahappembentukansikap, guru
kurangmendorongsiswauntukmenerapkanataumemodifikasikonsep yang dipelajarinyadengankehidupankesehariansiswa.
e) Dalam penilaianformatif, guru terkadangtidakmelakukanpenilaian
proses, dan
menilaihasilpekerjaansiswadankurangbervariasinyabentukdanjenis penilaian yang digunakan.
Materiataubahan ajar yang dikembangkanoleh guru masihbelummempertimbangkantingkatkepentingan, kebermanfaatan, kelayakandanmenarikminatanak.Ada kecenderungan guru mengikutiapa-apa yang sudahdikembangkandalamkurikulumsebelumnya,
Saranadansumber yang tersediabelummenunjang proses pembelajaran
yang diharapkan, namun guru
seharusnyadapatmemanfaatkanlingkungansekitarsebagaisumberbelajar.
5.1.4 PenilaianPembelajaran
Penilaianhasilbelajar yang dilakukan guru berdasarkan KTSP sebagaiberikut :
a) Guru belummenggunakankeanekaragamanalatpenilaian yang dapatmendorongkemampuanpenalarandankreativitassiswa,
sepertiteskinerja, hasilkaryasiswa, portofolio.
b) Waktupenilaian yang belumdilakukanyaitupenilaian proses, di mana
guru ketika proses
pembelajaranmelakukanpenilaiantentangaktivitasbelajarsiswa. c) Guru
belumsecararutinatauterbiasauntukmendokumentasikanberbagaihasilpe nilaian, sehingganpenetapannilaiuntukraporttidakmenggambarkan
kemampuan yang dimilikisiswaitu, denganperkataan lain hasilpenilaiancenderungtidakobyektif.
5.2 Rekomendasi
5.2.1 Rekomendasiuntuk guru :
a) Sosialasi KTSP, disarankanbelumcukup, darisegiwaktudanfrekuensimaupun bahasanisikurikulum,
makasecara individual hendaknya guru mencarisumberinformasitentang KTSP untukdipahami, jikaadahal-hal yang sukardipecahkan
adabaiknyadibahasdengan guru-guru darisekolah lain atausatugugus di pertemuanMusyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
b) Dalam membuatRencanaPelakasanaanPembelajaran (RPP) sebagaipersiapanmengajar,hendaknyatidakhanyasekedaruntukmemenuh ituntutanadministrasi yang harusdibuat guru, melainkanbenar-benarsebagaipersiapan yang akandilakukandalam proses pembelajaran.
c) Dalam pelaksanaan proses
pembelajaranhedaknyamenyesuaikandenganrambu-rambu yang adapadakurikulum.
d) Dalam
melakukanpenilaianhendaknyamenggunakanberagambentukdanjenispen ilaian yang bisamendorongkemampuanpenalarandankreativitassiswa, dapatmencerminkankompetensisetiapketrampilan, dandapat
e) Selaluterbukadanmencobasetiapadapembaharuan, baikpengetahuan, metodologipengajaranatauhal-hal lain yang ditujukanuntukmengatasikesulitanbelajarsiswa.
5.2.2 RekomendasiuntukKepalaSekolah :
KepalaSekolahsebagai supervisor pendidikan, perlumeningkatkanperannyadalammemberikanbimbinganpembinaandanpengawas
ankepada guru,
baiksecarapribadimaupunkelompokkhususnyaberkenaandenganupayameningkatka npemahaman guru terhadap KTSP danimplementasinya.
5.2.3 RekomendasiuntukPengawas :
Para
pengawashendaknyamelaksanakantugasnyadenganbaikdiantaranyadenganmelaku
kankunjungandan member
pengarahantentangbagaimanacaramengimplementasikan KTSP dalamkelasterutamadalammatapelajaranBahasaInggris.
Pengawasiniselamainidirasakanmasihbelum
optimal.Olehkarenaituhendaknyamenumbuhkankerjasama yang baik di antaraguru-guru
matapelajaranBahasaInggrisdenganpengawasterutamadalamsosialisasidanimplem entasiKTSP.
Karena KTSP penerapannyabarumulaidanmemasukitahunkeempat,
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. (2003). PokoknyaKualitatif.Jakarta :DuniaPustaka Jaya
Badan Standar Nasional Pendidikan. Depdiknas (2006). Panduan Penyusunanan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidilan Jenjang Pendidikan Dasar
danMenengah. Jakarta
Bogdan. R Biklen . S. K (1982) Qualitative Research for Education: An Introduction and Theory and Methods. Boston: Allyn Bacon
Curriculum, The Practice of Communicative Teaching. Oxford:Pergamon Press
D. A. Wilkins. 1979. Grammatical, Situational and Notional Syllabuses, The Communicative Approach to Language Teaching, eds. C. J. Brumfitdan K. Johnson.Oxford: Oxford University.
D.A. Wilkins.1976. Notional Syllabuses.London: Oxford University Press
David Nunan. 1988. Syllabus Design. Oxford: Oxford University Press
Farkhan, Muhammad. 2007. PengembanganSilabusBahasa. (http://www.scribd.com/doc/13618823/Pengembangan-Silabus-bahasa diaksestanggal15 Juli 2010)
FraidaDubin and Elite Olshtain. 1986. Course Design. Cambridge: CUP
Hamalik, Oemar. (2006). ManajemenImplementasiKurikulum.Bandung :PPS UPI
HasanSaid.H( 2006). EvaluasiKurikulum :Bandung. UPI. University Press
Hasbullah, Ahsan. 2007. DesaindanImplementasi KTSP PAI. Tesis S2 tidakpublikasikan Bandung SPS UPI
Ibrahim. R (2001) . Evaluasi Kurikulum:Jakarta :Depdikbud. P2LPTK
Ibrahim. R (2007). EvaluasiKurikulum Tingkat SatuanPendidikan. Jurnal.tahun 2 Vol. 1 nomor 1: Hipkin
Ibrahim. R (1988). Prinsip-prinsipDasarPenelitian: Bandung Buku II MetodologiPenelitianLembagPenelitian IKIP Bandung
Ibrahim. R dan Karyadi.B (1999). Pengembangan Inovasi dan Kurikulum. Jakarta: Universitas Terbuka
Ibrahim. Sakdiah (2005). Penerapan Pendekatan Mutual Adaptive Dalam Implementasi Kurikulum 2004. Desertasi Doktor tidak dipublikasikan. Bandung PPS UPI Bandung
J . Richards, T. Platt, dan H. Weber. 1985. A dictionary of Applied
LinguisticsLondon:Longman.
Jack C. Richards and Theodore S. Rogers. 1976. Approaches and Methods in
Language Teaching. Cambridge: CUP
Janice Yalden. 1983. The Communicative Syllabus: Evolution, design, & implementation. Oxford: Pergamon Press
Jeremy Harmer. 2003. The Practice of English Language Teaching 3rd ed. Harlow Essex:18Pearson Education Limited, 2003
J . P. B. Allen. 1986. Functional-Analytic Course Design and The Variable Focus
John W Cresswell. 1994. Research Design Qualitative and Quantitative Approaches. London : Sage Publications, International Education and Profesional Publisher, Thousand Oaks.
Keith Johnson. 2001.An Introduction to Foreign Language Learning and Teaching. Harlow:Pearson Education Limited,
Lely Halimah ( 2005). Pengembangan model Pemelajaran Bahasa Secara Utuh Untuk Meningkatkan Komunikatif ( Implementasi pada Kurikulum 2004
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SD) Desertasi Doktor tidak
Lincoln LS &Guba E.G (1985).Naturalistic Inquiry.Beverly Hill. London: Sage Publications
M. H. Long. A role for instruction in second language acquisition.Modelling
and Assessing Second Language Acquisition, Hyltenstam, K
danM.Pienemann, eds.
Mulyasa, E. 2006.Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan;
SebuahPanduanPraktis.Bandung : PT RemajaRosdakarya.
Mary Finocchiaro,1988. The Functional-Notional Syllabus: Promise, problems,
practices,” A Forum Anthology..New York: English Language
ProgramsDivision USIA.
Miller. John P. Wayne Seller (1987).Curriculum Perspectives and Practice. Logman. New York & London
Moleong L.J. (1999) Penelitian Kualitatif dalam Pendidikan Teori dan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Moleong L.J. (2009) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Mulyasa. E (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep Karakteristik dan Implenmentasi. Bandung. Remaja Rosdakarya.
Mulyasa.E (2009).Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya .
Muslich, Masnur. 2007. KTSP (Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan) DasarPemahamandanPengembanganPedomanBagiPengelolaLembagaPe
ndidikan, PengawasSekolah, KepalaSekolah, KomiteSekolah,
DewanSekolah, dan Guru. Jakarta : PT BumiAksara.
Nasution S. (1988). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Tarsito Bandung
PermendiknasNomor 24 tahun 2006 tentangpelaksanaanPermendiknasNomor 22 dan 23 Tahun 2006.
Rusman. (2007) Manajemen Kurikulum. Bandung. PPs UPI
Sanjaya. Wina (2006). Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana
Sanjaya. Wina (2008). Kurikulum dan Pembelajaran teori dan Praktek
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Jakarta.Kencana.
SMPN 1 Majalengka. (2009). Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP)
SMPN 2 Majalengka. (2009). Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP)
SMPN 3 Majalengka. (2009). Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP)
SMPN 4 Majalengka. (2009). Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP)
Sukardi. 2003. MetodologiPenelitianPendididkan. Jakarta :BumiAksara
Sukmadinata. N.S (2004). Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung.Yayasan Kusuma Karya
Sukmadinata. N.S (2008). Pengembangan Kurikulum Teori dan Prakatek. Bandung. Remaja Rosdakarya.
Sukmadinata. N.S (2009).MetodePenelitianPendidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya.
Susilana. Rudi . dkk (2006). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung. Jurusan Kurtekpen FIP UPI
Susilo M. Joko (2007). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan sekolah Menyongsongnya. Yokyakarta. Pustaka Pelajar
Sutrisno. & Nuryanto.(2008). ProfilPelaksanaanKurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP) di Provinsi Jambi (StudiEvaluatifPelaksanaan
Sutiana, Amas. Endah, Y. (2004). Pedoman Pembelajaran Bahasa Inggris
secara Kontekstual untuk Guru SMP. Depdiknas Dirjen Dikdasmen
LPMP Jawa Barat.
Soy K. Susan (2006). The Case Study as a Research Method. Available at[On line] http://www.gslis.utexas.edu/~ssoy/usesusers/l391d1b.htm
Sundayana, Wachyu. (2009). PersepsidanKesulitan Guru BahasaInggris
SMP/MTs di Jawa Barat dalamPengembangan KTSP.Makalahpada
Seminar Hipkin, Bandung.
Susilo, MuhammadJoko, 2007. Kurikulum Tingkat SatuanPendidikanManajemenPelaksanaandanKesiapanSekolahMenyong songnya. Yogyakarta :PustakaPelajar.
Suzanne Salimbene. 1988. From Structurally Based to Functionally Based
Approaches to Language Teaching, “A Forum Anthology. New
York:English Language Programs Division USI,
Theodore S. Rodgers. 1989. Syllabus Design, Curriculum Development, and
Policy Determination The Second Language Curriculum. Cambridge:
CUP Ed. Robert Keith Johnson
Undang-undangNomor 20 Tahun 2003, tentangSistemPendidikanNasional. Bandung : Fokus Media
(2003). Undang-Undang Republik Indoensia tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.
(2005). Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Bandung: Panitia Seminar.
Winecoff, Larry. 1988. Curriculum Development and Instructional Planning.