• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan Budaya Etnis Tionghoa di Pasar Semawis Semarang.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengenalan Budaya Etnis Tionghoa di Pasar Semawis Semarang."

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

vii

Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK

Nama : Inge Euodia Program studi : Sastra China

Judul : Pengenalan Budaya Etnis Tionghoa di Pasar Semawis Semarang

Skripsi ini disusun dilatarbelakangi atas ketertarikan peneliti terhadap budaya etnis Tionghoa di kawasan Pecinan, Pasar Semawis Semarang, Jawa Tengah. Skripsi ini membahas mengenai pengenalan budaya etnis Tionghoa di Pasar Semawis Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data adalah survei, observasi, dan wawancara. Dalam skripsi ini dipaparkan beberapa aktivitas yang berkaitan dengan pengenalan budaya etnis Tionghoa di Pasar Semawis. Pasar Semawis merupakan daerah yang kental akan nuansa Tionghoa dan sebagian besar penduduknya adalah etnis Tionghoa. Diharapkan skripsi ini dapat memberikan sumbangsih bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti daerah Pecinan di Semarang, Jawa Tengah.

Kata kunci:

(2)

viii

Universitas Kristen Maranatha ABSTRACT

Name : Inge Euodia

Study Program : Chinese Literature

Title : The introduction of Chinese culture in Semawis Semarang night market

This background of this mini-thesis is based on researcher’s interest about the Chinese culture in Chinatown, Semawis Semarang night market, Central Java. This mini-thesis discusses the introduction of Chinese culture in Semawis Semarang night market. The method of this mini-thesis is descriptive qualitative, and using survey, observetion and interview techniques to collect the datas. This mini-thesis presents several activities which related to the introduction of chinese culture in Semawis night market. Semawis night market is an area full of Chinese nuance and most of the populations are Chinese ethnics. The writer hopes that this mini-thesis can give a contribution to further researchers that have interest to analyse Chinatown in Semarang, Central Java.

Keywords:

(3)

ix

Universitas Kristen Maranatha

摘要

姓名 : Inge Euodia

专业 中文本科

题目 :介绍中华文化 在三宝垄市Semawis市场的案列分析

本论文由笔者对中爪哇三宝垄市Semawis市场一带中华文化的介绍有 趣

本论文讨论了中爪哇三宝垄市 Semawis 市场介绍中华文化 本文的研究方

法是描述性的定性,收集数据方法是调查和访问 本论文里研究了 于介

绍中爪哇三宝垄市 Semawis 市场介绍中华文化的几种活 这场市场的中

华文化非常农而且大部分的人民是华裔 希望这本论文可以给其他的笔者

对中爪哇三宝垄市Semawis市场 趣有帮

键词:

(4)

x

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR ISI

PENGENALAN BUDAYA ETNIS TIONGHOA DI PASAR SEMAWIS

SEMARANG ... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN PENELITIAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

摘要 ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

1. PENDAHULUAN ... 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 3

1.5 Metode Penelitian ... 3

1.6 Batasan Penelitian ... 4

1.7 Sistematika Penulisan ... 4

2. LANDASAN TEORI ... 6

2.1 Pengertian Kebudayaan ... 6

2.2 Pengertian Masyarakat Etnis Tionghoa ... 7

3. PEMBAHASAN ... 9

3.1 Kawasan Pecinan Semarang ... 9

3.2 Profil Pasar Semawis Semarang ... 13

3.3 Pengenalan Budaya Etnis Tionghoa di Pasar Semawis ... 17

3.3.1 Dekorasi Pasar Semawis Semarang ... 17

3.3.2 Karaoke Lagu Bahasa Mandarin ... 18

3.3.3 Barongsai ... 19

3.3.4 Wayang Potehi ... 20

3.3.5 Ramalan dan Kaligrafi ... 23

3.3.6 Pengobatan Ala Tiongkok... 25

3.3.7 Seni Bela Diri Wushu ... 26

3.3.8 Cinderamata Khas Tiongkok ... 27

3.3.9 Kuliner ... 28

4. SIMPULAN ... 32

(5)

xi

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Gapura Masuk Kawasan Pecinan Semarang ... 11

Gambar 3.2 Suasana Pasar Semawis Semarang ... 14

Gambar 3.3 Denah Pasar Semawis Semarang ... 15

Gambar 3.4 Dekorasi ... 17

Gambar 3.5 Dekorasi ... 18

Gambar 3.6 Suasana Karaoke ... 19

Gambar 3.7 Pertunjukan Barongsai ... 20

Gambar 3.8 Panggung Wayang Potehi ... 22

Gambar 3.9 Wayang Potehi ... 23

Gambar 3.10 Suasana Kaligrafi ... 25

Gambar 3.11 Seni Bela Diri Wushu ... 26

Gambar 3.12 Seni Bela Diri Wushu ... 27

Gambar 3.13 Cinderamata Khas Tiongkok ... 28

Gambar 3.14 Suasana Kuliner... 39

Gambar 3.15 Suasana Kuliner... 30

(6)

xii

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Pertanyaan Wawancara ... 37

Lampiran 2 : Hasil Wawancara ... 38

Lampiran 3: Wawancara dengan pengunjung Pasar Semawis ... 41

(7)

1

Universitas Kristen Maranatha BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Kata

kebudayaan dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan istilah culture dan dalam bahasa Belanda disebut cultuur. Kedua kata ini berasal dari kata bahasa Latin colere yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani). Dengan demikian, culture atau cultuur berarti sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan

mengubah alam (Maryati dan Suryawati, 2006).

Melville J. Herkovits memandang kebudayaan sebagai suatu yang

superorganic karena dapat diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi dan tetap hidup walaupun orang-orang yang menjadi anggota

masyarakat senantiasa berganti. Sementara itu Edward B. Taylor melihat

kebudayaan sebagai hal kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan,

kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, kemampuan-kemampuan,

kebiasaan-kebiasaan atau semua hal yang dimiliki manusia sebagai anggota masyarakat

(Maryati dan Suryawati, 2006).

Ralph Linton, mengemukakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan dari

pengetahuan, sikap, dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang

dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu. Sejalan

dengan Linton, Koentjaraningrat merumuskan kebudayaan sebagai

keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka

kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar

(Maryati dan Suryawati, 2006).

(8)

2

Universitas Kristen Maranatha budaya yang dilakukan dengan cara langsung kedalam sebuah pengalaman

kultural, contohnya jika kebudayaan tersebut berbentuk tarian, maka

masyarakat dianjurkan untuk belajar dan berlatih dalam menguasai tarian

tersebut. Dengan demikian dalam setiap tahunnya selalu dapat dijaga

kelestarian budaya ini. Culture knowledge merupakan pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara membuat suatu pusat informasi mengenai kebudayaan

yang dapat difungsionalisasi ke dalam banyak bentuk. Tujuannya adalah untuk

edukasi ataupun untuk kepentingan pengembangan kebudayaan itu sendiri dan

potensi kepariwisataan.

Seperti yang telah diketahui, di Indonesia ada banyak sekali masyarakat

keturunan Tionghoa yang tersebar di setiap provinsi. Meskipun jumlah etnis

Tionghoa di Indonesia memang relatif kecil, namun peran mereka bisa

dibilang begitu besar, terutama di sektor ekonomi. Orang Tionghoa sudah

datang ke Nusantara (Indonesia) sejak berabad-abad tahun yang lalu, baik

untuk berdagang, menetap maupun menyebarkan agama. Meski kehadiran

etnis Tionghoa di Nusantara sudah berabad-abad lamanya, tidak sedikit

masyarakat pribumi yang masih memandang mereka sebagai orang asing yang

belum mampu melakukan pembauran dalam kehidupan masyarakat pribumi

(Bachrun dan Hartanto, 2000).

Kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara membawa budaya dari tempat

asal mereka sendiri-sendiri. Budaya yang dibawa lama-kelamaan menjadi

bagian dari masyarakat Nusantara sendiri. Misalnya dalam segi kuliner,

kedatangan orang Tionghoa membawa warna yang baru dalam bidang kuliner

Indonesia, sebut saja bakpao, wedang jahe, siaomay. Tidak hanya dalam bidang kuliner, dalam bidang kesenian, contohnya barongsai, yang kemudian juga melebur di Nusantara.

Semarang merupakan kota yang terkenal dengan kekentalan dari etnis

Tionghoa. Di Semarang ada kawasan Pecinan yang menampilkan wisata

kuliner yang dikenal dengan nama Pasar Semawis. Kawasan ini padat dengan

penjual yang berjualan aneka jenis makanan khas Semarang seperti pisang

(9)

3

Universitas Kristen Maranatha kuliner yang disajikan, dekorasi sepanjang jalan yang menyerupai jalanan di

Tiongkok dan bangunan-bangunan kuno yang berjejer membuat kawasan ini

lebih terlihat eksotis.

Dari fenomena-fenomena di atas, peneliti tertarik untuk meneliti upaya

pelestarian tradisi etnis Tionghoa di Pasar Semawis Semarang, Alasan

dipilihnya lokasi Semawis adalah karena kawasan ini memiliki ciri khas

tersendiri dengan nuansa khas Tiongkok sehingga menarik untuk diteliti.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini

dirumuskan sebagai berikut :

“ Pengenalan budaya etnis Tionghoa di Pasar Semawis Semarang ”.

1.3Tujuan Penelitian

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan dalam memperkenalkan

budaya etnis Tionghoa di Pasar Semawis Semarang.

1.4Manfaat Penelitian

Manfaat diadakan penelitian ini adalah :

1. Menambah wawasan bagi penulis maupun pembaca mengenai pengenalan

budaya etnis Tionghoa di Pasar Semawis Semarang.

2. Dapat dijadikan referensi bagi penulis-penulis lainnya yang akan meneliti

lebih lanjut mengenai Pasar Semawis Semarang.

1.5Metode Penelitian

Metode yang akan digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode

deskriptif kualitatif. Menurut Moh. Nazir, Ph.D (2011:53) “metode deskriptif

(10)

4

Universitas Kristen Maranatha suatu set konsidi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada

masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat

deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat

mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang

diselidiki". Menurut Jonathan Sarwono (2006), pendekatan kualitatif

menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu kondisi tersebut (dalam

konteks tertentu).

Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah teknik

survey, observasi, dan wawancara dan disertai dengan dokumentasi gambar.

Observasi dilakukan selama 2 bulan di Pasar Semawis Semarang,

dilaksanakan dari bulan Januari 2015 hingga Maret 2015. Penulis juga

melakukan wawancara dengan pengurus dari Pasar Semawis Semarang.

1.6 Batasan Penelitian

Penelitian terhadap budaya etnis Tionghoa di kota Semarang memiliki

berbagai aspek yang luas untuk diteliti, namun pada kesempatan kali ini

penulis hanya membatasi pada pengenalan budaya etnis Tionghoa di Pasar

Semawis Semarang. Pembatasan ini dilakukan agar penelitian dilakukan

dengan saksama dan hasilnya memuaskan.

1.7 Sistematika Penulisan

Bab 1 pendahuluan meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan

manfaat penelitian, metode penelitian, batasan penelitian serta sistematika

penulisan. Dalam latar belakang masalah dibahas mengenai hal-hal yang

menjadi latar belakang diangkatnya permasalahan tersebut. Sementara itu,

dalam rumusan masalah dibahas mengenai masalah inti yang akan dibahas

dalam penelitian ini. Berdasarkan rumusan masalah, kemudian dirumuskan

tujuan dan manfaat penelitian yang mengemukakan maksud yang ingin

(11)

5

Universitas Kristen Maranatha Bab II adalah landasan teori yang di dalamnya membahas mengenai

sejumlah referensi dari sumber tertulis yang relevan dalam penelitian,

kemudian referensi tersebut dipakai untuk menjadi acuan dalam menganalisis

permasalahan yang sedang diteliti. Referensi tersebut dipakai untuk meneliti

pengenalan budaya etnis Tionghoa di Pasar Semawis Semarang.

Bab III berisikan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis.

Bab IV berisi tentang kesimpulan dan saran dari penelitian yang telah

(12)

32

Universitas Kristen Maranatha BAB IV

SIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, Pasar Semawis

yang mulai diadakan pada tahun 2004 adalah salah satu tempat untuk

memperkenalkan budaya etnis Tionghoa di kota Semarang. Pasar Semawis

merupakan jembatan bagi masyarakat non-Tionghoa dan masyarakat Tionghoa

khususnya untuk lebih mengenal dan mempelajari budaya etnis Tionghoa.

Dengan adanya kegiatan-kegiatan di Pasar Semawis dapat membuat

hubungan antara masyarakat etnis Tionghoa dan non-Tionghoa menjadi lebih erat.

Pengenalan budaya etnis Tionghoa di Pasar Semawis dapat dilihat melalui

beberapa hal, yaitu dari sudut dekorasi Pasar Semawis yang ada mencirikan

suasana seperti di Tiongkok, kegiatan karaoke lagu berbahasa Mandarin,

pertunjukan barongsai, pementasan wayang potehi, ramalan dan kaligrafi,

pengobatan ala Tiongkok, penampilan seni bela diri wushu, cinderamata khas

Tiongkok yang diperjual belikan dan beraneka ragam kuliner khas Tiongkok yang

ada. Hal ini membuat masyarakat non-Tionghoa dan masyarakat Tionghoa lebih

bisa bersosialisasi dengan baik. Masyarakat non-Tionghoa menikmati suasana dan

kegiatan yang diadakan di Pasar Semawis tanpa mementingkan perbedaan budaya,

etnis maupun agama.

Meskipun masyarakat non-Tionghoa tidak merayakan hari raya Imlek,

tetapi dalam kesempatan perayaan Imlek yang diadakan oleh Pasar Semawis,

mereka mengikuti dan menikmati pertunjukan yang ada. Hal ini menunjukkan

bahwa budaya etnis Tionghoa yang dirayakan mulai banyak dikenal dan dinikmati

tidak hanya masyarakat etnis Tionghoa saja.

Dengan adanya analisa tersebut terbukti bahwa budaya etnis Tionghoa di

kota Semarang sudah diterima baik oleh masyarakat non-Tionghoa, dan Pasar

Semawis berperan penting dalam memperkenalkan budaya etnis Tionghoa di kota

Semarang. Keberadaan Pasar Semawis ini akan terus ada selama etnis Tionghoa

juga masih ada. Pasar Semawis dapat menjadi jendela pembelajaran baru bagi

(13)

33

Universitas Kristen Maranatha Sedangkan bagi masyarakat Tionghoa sendiri dapat dijadikan kegiatan untuk

(14)

34

Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 2006. Pokoknya Kualitatif. Jakarta: Pustaka Jaya

Bachrun, R dan Hartanto, B. 2000. Krisis Identitas Diri Pada Kelompok Minoritas Cina. Dalam Wibowo, I (editor). Harga Yang Harus Dibayar: Sketsa

Pergulatan Etnis Cina di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama dan Pusat Studi Cina.

Jonathan, Sarwono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif.

Yogyakarta :Graha Ilmu

Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Liem Thian Joe. 1933. Riwayat Semarang. Semarang-Batavia. Semarang : Penerbit Ho Kim Yoe

Maryati, Kun & Suryawati, Juju. 2006. Sosiologi. Jakarta: PT. Gelora Aksara

Pratama.

Nazir, Moh.Ph.D. 2011. Metode Penelitian. Bogor : Ghalia Indonesia

Ranjabar, Jacobus. 2006. Sistem Sosial Budaya Indonesia: Suatu Pengantar.

Bogor: Ghalia Indonesia.

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi. 1964. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Yayasan Penerbit FE UI.

Suhandinata, Justian. DR.IR. 2009. WNI Keturunan Tionghoa dalam Stabilitas Ekonomi dan Politik Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Soekanto. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo.

Suryadinata, Leo. 2002. NEGARA DAN ETNIS TIONGHOA Kasus Indonesia.

Jakarta : Pustaka LP3ES.

Suryadinata, Leo. 2010. Etnis Tinghoa dan Nasionalisme Indonesia sebuah bunga

rampai 1965-2008. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Tim. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

(15)

35

Universitas Kristen Maranatha Liu Weilin. “Pengertian Budaya Tionghoa”. 10 April 2015. <http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1876-pengertian-budaya--budaya-tionghoa>

(n.D). “Barongsai”. 1 Juni2015. <https://id.wikipedia.org/wiki/Barongsai>

(n.D). Tribun Jateng . “Komunitas Tri Suci Melestarikan Tari Barongsai di Semarang”. 10 Juni 2015. <http://jateng.tribunnews.com/2014/01/31/komunitas-tri-suci-melestarikan-tari-barongsai-di-semarang>

(n.D). “Wayang Potehi:KesenianWayang Boneka Berusia 3.000 Tahun dari Tiongkok”. 10 Juni 2015.

<http://www.indonesia.travel/id/destination/454/semarang/article/396/wayang-potehi-kesenianwayang-boneka-berusia-3-000-tahun-dari-tiongkok>

Wawancara

Ibu Ling-ling. (2015 Februari). Wawancara Pribadi

Sumber Foto

Gambar 3.1 Dokumentasi pribadi

Gambar 3.2 Dokumentasi pribadi

Gambar 3.3 (n.D). “Pasar Imlek Semawis 2014”. 10 Juni 2015

<

http://semarangkota.com/wp-content/uploads/pasar-imlek-semawis-2014-arus-lalu-lintas.jpg>

Gambar 3.4 . (n.D). “Pasar Imlek Semawis 2014”. 10 Juni 2015

<

http://semarangkota.com/wp-content/uploads/pasar-imlek-semawis-2014-arus-lalu-lintas.jpg>

Gambar 3.5 (n.D). “Agenda Pasar Imlek Semawis 2014 di Semarang”. 5 Juni

2015 <http://infotembalang.co/agenda-pasar-imlek-semawis-2014-di-semarang/>

(16)

36

Universitas Kristen Maranatha Gambar 3.7 Dokumentasi Sekretariat Semawis

Gambar 3.8 (n.D). “Nonton Wayang Potehi di Pecinan Semarang”. 10 Juni 2015 <

http://mangkoko.com/jalan-jalan/art-culture/nonton-wayang-potehi-di-pecinan-semarang>

Gambar 3.9 Dokumentasi Pribadi

Gambar 3.10 (n.D). “Pasar Imlek Semawis”. 10 Juni 2015

<http://mangkoko.com/jalan-jalan/expo_pameran/pasar-imlek-semawis-2015/comment-page-1Gambar 3.11 Dokumentasi Pribadi>

Gambar 3.12 Dokumentasi Pribadi

Gambar 3.13 Dokumentasi Pribadi

Gambar 3.14 Dokumentasi Pribadi

Gambar 3.15 Dokumentasi Pribadi

Referensi

Dokumen terkait

Minta Ito Pohan &#34;Sejarah Migrasi Dan Adaptasi Etnis Tionghoa Tcrhadap etnis Batak Angkola di Padangsidimpuan&#34;. Skripsi : Jumsan Pendidikan Scjarah.

Dinamika Sosial Budaya Etnis Tionghoa di Kabupaten Jember Tahun 1965- 2011; Melinda Puspitawati, 050210302364; 2005 ; xiii + 115 halaman; Program Studi Pendidikan

Maka kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah Pasar Semawis merupakan obyek unggulan di Kota Semarang dengan potensi- potensi wisata yang

Skripsi ini berisikan tentang tingkahlaku politik etnis Tionghoa pada pemilikada 2010 yang lalu di kelurahan Pusat Pasar, kecamatan Medan Kota, beserta gambaran partisipasi mereka

Hasil penelitian menunjukkan bahwa etnis Tionghoa peranakan Semarang sebagai etnis minoritas mendapatkan perlakuan deskriminatif saat Orde Baru dari berbagai

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasangan perkawinan Etnis Tionghoa dengan Etnis Betawi dengan perbedaan latar belakang budaya yang terlihat jelas, mampu menjalin hubungan

Dari hasil wawancara yang dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa komunikasi antar budaya mahasiswa etnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi pertama pada saat pertama

Masyarakat etnis Tionghoa dan etnis Sunda di Surya Kencana yang tadinya memiliki perbedaan budaya, pada akhirnya melakukan akomodasi, yaitu suatu tindakan penyesuaian,