• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESPON AYAM LOKAL DI BALI DAN LOHMAN BROWN TERHADAP INFEKSI Ascaridia galli.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "RESPON AYAM LOKAL DI BALI DAN LOHMAN BROWN TERHADAP INFEKSI Ascaridia galli."

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

RESPON AYAM LOKAL DI BALI DAN

LOHMAN

BROWN

TERHADAP INFEKSI

Ascaridia galli

ANAK AGUNG ISTRI AGUNG MIRAH DWIJA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

(2)

TESIS

RESPON AYAM LOKAL DI BALI DAN

LOHMAN

BROWN

TERHADAP INFEKSI

Ascaridia galli

ANAK AGUNG ISTRI AGUNG MIRAH DWIJA NIM. 1092361004

PROGRAM MAGISTER

PROGRAM STUDI ILMU KEDOKTERAN HEWAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(3)

ii

RESPON AYAM LOKAL DI BALI DAN

LOHMAN

BROWN

TERHADAP INFEKSI

Ascaridia galli

Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister

Pada Program Magister, Program Studi Ilmu Kedokteran Hewan Program Pascasarjana Universitas Udayana

ANAK AGUNG ISTRI AGUNG MIRAH DWIJA NIM. 1092361004

PROGRAM MAGISTER

PROGRAM STUDI ILMU KEDOKTERAN HEWAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(4)

iii

LEMBAR PENGESAHAN

TESIS INI TELAH DISETUJUI TANGGAL,13 Januari 2016

Pembimbing I, Pembimbing II,

Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, MS Dr. drh. Nyoman Adi Suratma, MP NIP. 19621231 198803 1 017 NIP. 19600305 198703 1 001

Mengetahui,

Ketua Direktur

Program Studi Ilmu Kedokteran Hewan Program Pascasarjana Program Pascasarjana Universitas Udayana Universitas Udayana

(5)

iv

Tesis Ini Telah Diuji Pada Tanggal : 13 Januari 2016 Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor

Universitas Udayana, Nomor : 0288/UN14.4/HK/2016

Ketua : Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, MS

Anggota :

(6)

v

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Anak Agung Istri Agung Mirah Dwija

NIM : 1092361004

Program Studi : Ilmu Kedokteran Hewan

Jumlah Tesis/Disertasi : Respon Ayam Lokal Di Bali Dan Lohman

BrownTerhadap InfeksiAscaridia galli.

Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah Tesis/Disertasi* ini bebas plagiat.

Apabila di kemudian hari terbukti plagiat dalam karya ilmiah ini, maka saya bersedia

menerima sanksi sesuai peraturan Mendiknas RI No. 17 Tahun 2010 dan Peraturan

Perundangan-undangan yang berlaku.

Denpasar, 13 Januari 2016

Yang membuat pernyataan

(Anak Agung Istri Agung Mirah Dwija)

(7)

vi

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat TuhanYang Maha Esa, karena

dengan kehendak dan rahmat-Nyalah, tesis dengan judul “RESPON AYAM

LOKAL DI BALI DAN LOHMAN BROWN TERHADAP INFEKSI Ascaridia galli dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Penulis menyadari adanya

kekurangan dalam penulisan tesis ini. Namun dengan adanya bimbingan, saran serta

dorongan dari semua pihak, maka tulisan ini dapat diselesaikan.

Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada

Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, MS selaku pembimbing I yang telah meluangkan

waktu di sela-sela kesibukan Beliau yang sangat padat untuk membagi pengetahuan

dan memberikan berbagai masukan kepada penulis; Dr. drh. Nyoman Adi

Suratma,MP selaku pembimbing II yang telah memberikan banyak pengetahuan,

sumbangan pemikiran, dukungan dan dorongan bagi penulis untuk menyelesaikan

tulisan ini; Prof. Dr. dr. Ketut SuastikaSp. PD. KEMD selaku Rektor Universitas

Udayana atas segala fasilitas yang diberikan selama penulis menempuh pendidikan

di Pascasarjana Universitas Udayana; Prof. Dr. dr. A. A. Raka Sudewi, Sp.S (K)

selaku Direktur Program Pascasarjana, Universitas Udayana atas segala fasilitas yang

diberikan selama penulis menempuh pendidikan di Pascasarjana Universitas

Udayana; Prof. Dr. drh. I Ketut Puja, M.Kes selaku Ketua Program Studi Magister

Ilmu Kedokteran Hewan; Prof. Dr. drh. I Ketut Berata,M.Si yang telah meluangkan

waktu untuk menguji tesis ini dan memberikan banyak masukan untuk

menyempurnakan tulisan ini; Dr. drh. Ida Ayu Pasti Apsari,MP yang telah

(8)

vii

menyempurnakan tulisan ini; Dr. drh. Hapsari Mahatmi,MP yang telah meluangkan

waktu untuk menguji tesis ini dan memberikan banyak masukan untuk

menyempurnakan tulisan ini.

Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada segenap dosen dan staf di

Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana.

Terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman angkatan I Magister Ilmu

Kedokteran Hewan yang selama ini sudah menjadi sebuah keluarga baru dengan

berbagai suka,duka,dukungan,kritik serta saran bagi kemajuan studi penulis. Segenap

staf pada Program Magister, Program Studi Ilmu Kedokteran Hewan, yang telah

membantu kelancaran studi penulis, serta terima kasih bagi keluarga penulis terutama

ayahanda dan ibunda tercinta Anak Agung Gede Sayang Dwija,S.Pd,M.Pd dan Anak

Agung Istri Mas Kencanawati,S.Pd,M.Pd, serta suami tercinta Gede Mahardika Jaya

dan Ananda tercinta Manik Lingga Nanda Mahardika dan Mnaik Kenzie Mahardika

yang tidak bosannya memberikan dukungan guna terselesaikannya studi di Program

Magister, Program Studi Ilmu Kedokteran Hewan Universitas Udayana.

Akhirnya penulis mengucapkan selamat membaca, semoga apa yang menjadi

bahasan dalam tulisan ini menjadi sebuah pengetahuan baru bagi pembaca sekalian.

Tidak lupa penulis mohonkan kritik dan saran guna perbaikan tulisan ini ke depan.

Denpasar, 11 Januari 2016

(9)

viii

ABSTRAK

RESPON AYAM LOKAL DI BALI DAN

LOHMAN BROWN

TERHADAP INFEKSI

Ascaridia galli

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon ayam lokal di Bali dan Lohman brown terhadap infeksi Ascaridia galli ditinjau dari nilai EPG (Egss Per Gram), jumlah cacing, ukuran cacing dan berat badan ayam. Penelitian sangat perlu dilakukan untuk menambah peluang dalam pemilihan ras ayam yang lebih tahan terhadap infeksi Ascaridia galli di masa yang akan dating. Mengingat ayam lokal atau lebih dikenal dengan ayam kampung merupakan salah satu sumber protein, baik sebagai penghasil daging maupun telur. Dalam penelitian ini digunakan 140 ekor ayam, masing-masing 70 ekor ayam lokal di Bali dan 70 ekor ayam Lohman Brown yang diinfeksikan 500 dosis infeksiAscaridia galli.

Ditemukan perbedaan yang sangat signifikan terhadap rata-rata nilai EPG cacing Ascaridia galli (P<0.05) Jumlah cacing Ascaridia galli lebih banyak pada ayam Lohman Brown dibandingkan ayam lokal. Rata-rata jumlah cacing Ascaridia galli pada ayam Lohman Brown 4 ekor dan panjang rata-rata cacing yaitu 39,5 mm sedangkan pada ayam lokal tidak ditemukan cacingAscardia galli. InfeksiAscaridia galli tidak berpengaruh dengan berat badan ayam lokal dan Lohman Brown. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ayam lokal lebih resisten dibandingkan ayamLohman Brownterhadap infeksiAscaridia galli.

(10)

ix

ABSTRACT

RESPONSES OF BALI LOCAL CHICKENS AND LOHMAN

BROWN AGAINST

Ascaridia galli.

This study aimed to evaluate the response of local chickens in Bali and Lohman Brown against Ascaridia galli infection in terms of the value of the EPG (Egss Per Gram), the number of worms, worm size and weight of chicken. Research is needed to increase the odds in the selection of chicken races that are more resistant to infection Ascaridia galli in the future. The local chicken or better known as chicken is a good source of protein, either as a producer of meat or eggs. This study used 140 chickens, each 70 local chickens in Bali and 70 Lohman Brown chickens were infected 500 doses embryonated Ascaridia gallieggs infection. Found a highly significant difference to the average value EPG Ascaridia galli (P <0.05). Total Ascaridia galli more on Lohman Brown chickens than local chickens. The mean number of adult worms Ascaridia galli was 4 and the mean length are 39.5 mm in Lohman Brown. The number worm on the local chicken was not found. Ascaridia galli infection did not affect the weight of local chickens andLohman Brown. Based on these results it can be concluded that local chickens more resistant than Lohman Brownchickens against infectionsAscaridia galli.

(11)

x

RINGKASAN

RESPON AYAM LOKAL DI BALI DAN

LOHMAN BROWN

TERHADAP INFEKSI

Ascaridia galli

Ascaridia galli merupakan salah satu parasit gastrointestinal pada unggas yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat tinggi bagi peternak. Infeksi parasit ini dapat menyebabkan penurunan berat badan, memperlambat pertumbuhan dan mempengaruhi produksi telur. Pengendalian parasit ini masih mengandalkan pemberian anthelmintik dan obat-obatan ini harganya sangat mahal dan merupakan salah satu kendala bagi pemilik peternakan unggas. Selain itu dampak yang merugikan akibat pemberian anthelmintik dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan resistensi cacing Ascaridia galli terhadap anthelmintik. Untuk mengatasi masalah tersebut salah satu metode alternatifnya yaitu mencari ras-ras ayam yang secara genetik tahan terhadap infeksi Ascaridia galli.

Variabel yang digunakan untuk menentukan respon ayam lokal di Bali dan Lohman Brown terhadap infeksi Ascaridia galli yaitu jenis ayam, jumlah cacing, nilai EPG, ukuran cacing, jenis kelamin, umur, pakan dan lingkungan. Jenis ayam yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ayam lokal di Bali dan Lohman Brown berumur satu hari (DOC). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui respon ayam lokal di Bali dan Lohman Brown terhadap infeksiAscaridia galliditinjau dari nilai EPG (Egss Per Gram), jumlah cacing, ukuran cacing dan berat badan ayam. Penelitian sangat perlu dilakukan untuk menambah peluang dalam pemilihan rasa yam yang lebih tahan terhadap infeksi Ascaridia galli di masa yang akan dating. Mengingat ayam lokal atau lebih dikenal dengan ayam kampung merupakan salah satu sumber protein, baik sebagai penghasil daging maupun telur. Dalam penelitian ini digunakan 140 ekor ayam, masing-masing 70 ekor ayam lokal di Bali dan 70 ekor ayamLohman Brownyang diinfeksikan 500 dosis infeksiAscaridia galli.

(12)

xi

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 13

4.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 13

4.2 Hipotesis Penelitian ... 16

BAB IV MATERI DAN METODE... 17

(13)

xii

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 17

4.3 Ruang Lingkup Penelitian ... 17

4.4 Penentuan Sumber Data... 18

4.5 Variabel Penelitian ... 19

4.6 Alat dan Bahan Penelitian ... 20

4.7 Prosedur Penelitian ... 21

4.7.1 Teknik Penyiapan Telur CacingAscaridia galliInfektif ... 23

4.7.2 Pemeriksaan Feces... 24

4.7.3 Teknik Nekropsi ... 24

4.7.4 Analisis Data... 24

BAB V HASIL PENELITIAN ... 25

5.1 InfeksiAscaridia gallipada ayam... 25

5.2 Nilai Eggs Per Gram (EPG)Ascardia gallipada Ayam lokal danLohman Brown... 25

5.3 Jumlah cacingAscaridia gallipada Ayam lokal dan Lohman Brown... 26

5.4 Panjang cacingAscaridia gallipada ayam lokal dan Lohman Brown... 26

5.5 Berat badan ayam lokal danLohman Brownterhadap infeksi Ascaridia galli... 27

BAB VI PEMBAHASAN... 28

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 31

7.1 Simpulan... 31

7.2 Saran ... 31

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

4.1 Perlakuan pada Ayam ... 17

5.2 Rata-rata Eggs Per Gram (EPG) pada ayam lokal danLohman Brown... 26

5.3 Rata-rata Jumlah cacingAscaridia gallipada ayam lokal danLohman Brown 26

5.4 Rata-rata ukuran panjang cacing Ascaridia galli pada ayam lokal dan

Lohman Brown... 27

5.5 Rata-rata berat badan ayam lokal danLohman Brown

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1. MorfologiAscaridia galli... 9

2.2 Siklus HidupAscaridia galli... 11

3.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 15

(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

Lampiran 1. Data Eggs Per Gram (EPG) Jumlah dan Panjang Cacing

Ascaridia galli... 35

Lampiran 2. Hasil Analisis Statistik dengan Uji t-test rata-rata nilai Eggs Per Gram

(EPG) pada ayam lokal danLohman Brownsetelah diinokulasikan

Telur infektif ... 38

Lampiran 3. Rata-rata jumlah dan panjang cacingAscaridia gallipada ayam lokal

DanLohman Brown... 39

Lampiran 4. Data berat badan ayam lokal danLohman Brownterhadap infeksi

(17)

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Ascaridia galli merupakan salah satu parasit gastrointestinal pada unggas

yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat tinggi bagi peternak. Infeksi

parasit ini dapat menyebabkan penurunan berat badan, memperlambat pertumbuhan

dan mempengaruhi produksi telur. InfeksiAscaridia gallimenyebabkan perlambatan

pertumbuhan sebesar 12,31% dan luas permukaan villi usus halus 20% lebih kecil

dibandingkan kelompok ayam starter tanpa infeksi (Zalizar, et al.,2006b). Menurut

Tiuria, et al., (2001) bahwa cacing Ascaridia galli yang dapat bertahan di dalam

saluran cerna menjadi pengganggu pertumbuhan sehingga dapat menurunkan

pertumbuhan 30% bobot badan dan penurunan produksi telur yang mencapai 63%.

Pengendalian Ascaridia galli masih mengandalkan pemberian anthelmintik.

Obat-obatan ini harganya sangat mahal dan merupakan salah satu kendala bagi

pemilik peternakan unggas. Selain itu dampak yang merugikan akibat pemberian

anthelmintik dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan resistensi cacing

Ascaridia galliterhadap anthelmintik (Gauly,et al., 2007; Waller, 1997). Pemberian

dosis optimal 30,3 ppm fenbendazole menghasilkan nilai efikasi yang bervariasi

antara 69,0 89,6% yang tidak selalu mampu mengeluarkan cacing Ascaridia galli

secara menyeluruh dari dalam usus inang definitif (Sander dan Schwartz, 1994).

Pengendalian Ascaridia galli dengan metode lain perlu dikembangkan.

Dengan ditemukannya metode alternatif pengendalian cacing nematoda Ascaridia

(18)

2

metode alternatifnya yaitu mencari ras-ras ayam yang secara genetik tahan terhadap

infeksiAscaridia galli.

Gauly, et al (2001) melakukan penelitian pada ayam Lohman LSL dan

Lohman Brown dengan menginfeksikan secara oral 250 telur Ascaridia galli yang

berembrio. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa FEC (Fecal Egg Count)

Ascaridia galli pada ayam Lohman LSL lebih tinggi dibandingkan ayam Lohman

Brown sedangkan berat badan dan produksi telur tidak ada perbedaan antara ayam

yang diinfeksi dengan kontrol. Ini menunjukkan bahwa ayam Lohman LSL dan

Lohman Brown memiliki ketahanan secara genetik terhadapAscaridia galli.

Penelitian tentang respon dua jenis ayam yaitu ayam lokal di Yordania dan

Lohman LSL terhadap infeksi Ascaridia galli Yordania dan Ascaridia galli Jerman

telah dilaporkan oleh Abdelqader, et al.,(2006). Penelitian ini menunjukkan hasil

bahwa isolat Ascaridia galli yang berasal dari wilayah geografis yang berbeda

memiliki kemampuan yang berbeda dalam menginfeksi ayam yang berbeda secara

genotip. Sampai saat ini belum ada penelitian tentang ketahanan ayam lokal terhadap

infeksiAscaridia gallidibandingkan dengan ras ayam lainnya.

Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang respon ayam lokal

terhadap infeksi Ascaridia galli dibandingkan dengan ras ayam lainnya sehingga

menambah peluang dalam pemilihan ras ayam yang lebih tahan terhadap infeksi

Ascaridia galli di masa depan. Mengingat ayam lokal atau lebih dikenal dengan

ayam kampung merupakan salah satu sumber protein, baik sebagai penghasil daging

(19)

3

atau lebih dikenal dengan ayam kampung di Bali dan Lohman Brown terhadap

infeksiAscaridia galli.

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang diangkat dari penelitian ini adalah :

1. Apakah ada perbedaan respon ayam lokal di Bali dan Lohman Brown

terhadap infeksiAscaridia galliditinjau dari EPG (Eggs Per Gram).

2. Apakah ada perbedaan respon ayam lokal di Bali dan Lohman Brown

terhadap infeksiAscaridia galliditinjau dari jumlah cacing.

3. Apakah ada perbedaan respon ayam lokal di Bali dan Lohman Brown

terhadap infeksiAscaridia galliditinjau dari ukuran cacing.

4. Apakah ada perbedaan respon ayam lokal di Bali dan Lohman Brown

terhadap infeksiAscaridia galliditinjau dari berat badan ayam.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengetahui perbedaan respon ayam lokal di Bali dan Lohman Brown

terhadap infeksiAscaridia galliditinjau dari nilai EPG (Eggs Per Gram).

2. Mengetahui perbedaan respon ayam lokal di Bali dan Lohman Brown

terhadap infeksiAscaridia galliditinjau dari jumlah cacing.

3. Mengetahui perbedaan respon ayam lokal di Bali dan Lohman Brown

terhadap infeksiAscaridia galliditinjau dari ukuran cacing.

4. Mengetahui perbedaan respon ayam lokal di Bali dan Lohman Brown

(20)

4

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Diperoleh informasi yang akurat mengenai perbedaan respon ayam lokal di

Bali dan Lohman Brownterhadap infeksi Ascaridia galli ditinjau dari jumlah

cacing, nilai EPG (Eggs Per Gram), ukuran cacing dan berat badan ayam.

2. Data dasar untuk penelitian lebih lanjut tentang resistensi ayam terhadap

(21)

1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Ayam

Ayam kampung atau sering disebut ayam buras merupakan jenis ayam hutan liar

yang telah mengalami seleksi dan selanjutnya dijinakkan oleh manusia. Selama

ratusan tahun bahkan ribuan tahun, jenis ayam hutan mengalami seleksi alamiah

berdasarkan situasi lingkungan yang berbeda antara lain melalui perkawinan antar

jenis ayam hutan sehingga tercipta varietas-varietas baru (Bambang, 2010).

Berdasarkan analisis variasi sekuen D-loop mitokondria diketahui bahwa

domestikasi ayam dimulai di Asia Selatan (Lembah Indus) dan lembah Sungai

Kuning/Henan Cina (Hanotte, 2002) dan Indonesia (Sulandari, et al., 2007). Ayam

lokal di Eropa, Afrika dan Negara-negara Timur Tengah (Turki, Suriah, Yordania,

Israel, Palestina, Irak, Georgia, Armenia dan Azerbaijan) berasal dari Asia Selatan

sedangkan ayam lokal Jepang berasal dari Cina (Hanotte, 2002). Ayam lokal

Indonesia merupakan hasil domestikasi ayam hutan merah (Gallus gallus) oleh

penduduk setempat dan memiliki ciri yang sangat berbeda dengan ayam dari negara

lain (Sulandari, et al., 2007).

Jenis ayam lokal banyak dijumpai di Indonesia, baik yang asli maupun hasil

adaptasi. Ayam lokal dapat digolongkan sebagai tipe pedaging (pelung, nagrak, gaok

dan sedayu), petelur (kedu hitam, kedu putih, nusa penida, nunukan, merawang,

wareng dan ayam sumatera), dan dwiguna (ayam sentul, bangkalan, olagan,

(22)

2

petarung (ayam banten, ciparage, tolaki dan Bangkok) dan ternak kegemaran/hias

seperti ayam pelung, gaok, tukung, burgo, bekisar dan walik (Nataamijaya, 2010).

Jumlah populasi ayam kampung di Indonesia setiap tahun menurun. Berdasarkan

Data Statistik Peternakan (2013), bahwa jumlah populasi ayam buras di Indonesia

pada tahun 2006 yaitu 291.085.191 ekor sedangkan pada tahun 2007 dan 2008

masing-masing 272.251.141 ekor dan 243.423.389 ekor. Pada tahun 2009 jumlah

populasi ayam buras di Indonesia yaitu 249.963.499 ekor dan pada tahun 2010

jumlah populasi ayam buras di Indonesia yaitu 257.544.104 ekor. Jumlah populasi

ayam kampung di provinsi Bali yaitu pada tahun 2006 yaitu 4.508.254 ekor,

sedangkan pada tahun 2007 dan 2008 masing-masing berjumlah 4.281.108 dan

4.411.641. Pada tahun 2009 jumlah populasi ayam kampung di Bali yaitu 4.577.895

ekor sedangkan pada tahun 2010 jumlah populasinya yaitu 4.644.548 ekor. Populasi

ayam kampung di Indonesia perlu ditingkatkan mengingat kebutuhan protein seperti

daging dan telur meningkat setiap tahun seiring bertambahnya jumlah penduduk di

Indonesia. Untuk meningkatkan produktivitas ayam lokal diperlukan upaya

perbaikan mutu genetik, pakan, budi daya, dan pengendalian penyakit.

Ayam Lohman Brown merupakan jenis ayam petelur. Ayam Lohman Brown

merupakan jenis ayam komersial yang dikembangkan di Jerman oleh Lohman

Tierzucht GmbH. Lohman Brown merupakan hasil dari gabungan empat line

komersial murni. Pada umumnya Lohman Brown dipelihara oleh peternak dengan

(23)

3

Faktor genetik untuk melawan infeksi penyakit bukanlah hal yang baru. Hal ini

merupakan konsep seleksi alam yang telah digunakan untuk strategi melawan

infeksi. Penelitian tentang resistensi genetik terhadap infeksi cacing gastrointestinal

masih sedikit. Meskipun pengetahuan tentang resistensi genetik terhadap infeksi

cacing gastrointestinal lebih mudah dalam aplikasinya dalam memilih atau

mengembang biakkan ayam dalam sistem organikfree range(Minga,et al., 2004).

Ayam lokal dapat bertahan hidup disebabkan memiliki daya tahan tubuh setelah

terinfeksi yang didapat secara alami. Ayam lokal ini dapat dengan mudah beradaptasi

dengan lingkungan. Hal ini dikarenakan ayam tersebut telah membawa gen yang

dapat mengendalikan perilaku khusus, fisiologis, penyakit dan sifat resistensi

terhadap parasit (Minga,et al., 2004).

Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa ayam lokal atau ayam buras tahan

terhadap beberapa penyakit. Menurut Okoye, et al (1999) menyatakan bahwa ayam

lokal di Negeria lebih rentan terhadap Infectious Bursal Disease daripada ayam

layer. Oluyemi, et al (1979) melaporkan bahwa jenis Fayoumi dari Mesir resisten

terhadap Avian Leucosis Complex. Menurut Okoye,et al(1999) dan Oluyemi, et al

(1979) menyatakan bahwa akibat kekurangan nutrisi mempengaruhi keturunan

berikutnya.

Penelitian terhadap ayam lokal yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dapat

membantu dalam upaya melestarikan keanekaragaman hayati. Kelestarian

keanekaragaman hayati terhadap ayam lokal ini akan meningkatkan produktivitas

(24)

4

1.2 Ascaridia galli

Cacing Ascaridia galli tersebar meluas pada negara-negara di seluruh dunia.

Penyebaran ascaridiosis dapat terjadi pada keadaan temperatur tropis dan sub tropis.

Ascaridiosis pada ayam pertama dilaporkan di Jerman, selanjutnya terjadi di Brazil,

India, Zanzibar, Pilipina, Belgia, China, Kanada dan Inggris. Selain pada ayam,

Ascaridia galli juga ditemukan pada jenis unggas lainnya seperti angsa, kalkun, dan

pada burung liar (Permin dan Hansen, 1998).

Pada umumnya Ascaridia galli mempunyai esophagus berbentuk alat pemukul

tetapi tidak mempunyai bulbus posterior. Cacing jantan mempunyai penghisap

preanal dengan tepian kutikuler. Spikulum sama besar atau agak sama, dan tidak ada

gubernakulum. Vulva dekat berada didekat pertengahan tubuh. Telur berbentuk elips

(25)

5

Gambar 2.1. MorfologiAscaridia galli(Ramadan dan Znada, 1992). a. Bagian Kepala (bibir dan cephalic papillae)

b. Posterior Jantan (caudal papillae) c. Ekor betina

d. Bagian vulvar betina

Ascaridia galli merupakan cacing terbesar dalam kelas nematoda pada

unggas. Tampilan cacing dewasa adalah semitransparan, berukuran besar, dan

berwarna putih kekuning-kuningan. Cacing ini memiliki kutikula ekstraseluler yang

tebal untuk melindungi membran plasma hipodermal nematoda cacing dewasa. Pada

bagian anterior terdapat sebuah mulut yang dilengkapi dengan tiga buah bibir, satu

bibir terdapat pada dorsal dan dua lainnya pada lateroventral. Panjang cacing jantan

30-80 mm dan diameter 0,5 1,2 mm. Pengisap preanal berdiameter sekitar 220

(26)

6

spikulum sekitar 4 mm. Cacing betina memiliki panjang tubuh 60-120 mm dan

diameter 0,9-1,8 mm dengan telur berukuran 75-80 x 45-50 mikron (Levine, 1994).

Levine (1994) menyatakan bahwa siklus hidup cacingAscaridia gallibersifat

langsung. Telur keluar bersama feces dan berkembang menjadi stadium infektif (L2)

diatas tanah dalam waktu 8-14 hari tergantung pada temperatur serta kelembaban

lingkungan. Telur infektif tertelan oleh inang definitif melalui makanan yang

terkontaminasi. Telur yang mengandung L2 masuk kedalam duodenum atau jejunum

hingga menetas setelah 24 jam pasca ingesti. Larva yang menetas dari dalam telur ke

dalam lumen intestinal untuk menjadi L3 (Levine, 1994). Menurut Permin dan

Hansen (1998) menyatakan bahwa L3 Ascaridia galli melanjutkan fase histotropik

dengan cara menanamkan dirinya ke dalam lumen mukisa duodenum (fase jaringan)

menjadi L4. Durasi fase histotropik berlangsung selama 3-54 hari pasca infeksi.

Larva empat (L4) menyilih menjadi L5 (cacing muda) yang akan tumbuh dan

menjadi cacing dewasa di dalam lumen duodenum. Periode prepaten cacing

(27)

7

Gambar 2.2. Siklus hidupAscaridia galli(Permin, 1997).

Larva yang menempel pada lumen usus halus dapat menyebabkan perdarahan

dan hancurnya kelenjar epitel. Selain itu, proliferasi sel dapat mengakibatkan adhesi

dari villi mukosa. Kerusakan tersebut tidak hanya disebabkan oleh larva melainkan

juga disebabkan oleh cacing dewasa. Cacing-cacing dewasa ini akan menyebabkan

atrofi villi dan nekrosis pada lapisan mukosa. Selama fase histotrofik dapat

menyebabkan gula darah menurun (Permin, 1997).

Ayam merupakan salah satu contoh spesies yang sering diserang oleh Ascaridia

galli. Anak ayam lebih peka terhadap cacing Ascaridia galli daripada ayam dewasa.

(28)

8

akan lebih tahan, hal ini berkaitan dengan meningkatnya sel-sel goblet dalam usus.

Larva cacing lebih banyak menimbulkan kerusakan pada mukosa usus, karena larva

ini cenderung membenamkan diri pada mukosa sehingga sering menyebabkan

perdarahan dan enteritis (Kristine dan Marilyn, 2003)

Apabila cacing genus Ascaris yang ditemukan dalam usus halus terlalu banyak,

ayam akan menjadi kurus. Hal ini terjadi karena cacing yang memenuhi usus akan

menghambat penyerapan makanan, bahkan cacing mengeluarkan zat anti enzim yang

menyulitkan pencernaan makanan (Kristine dan Marilyn, 2003).

Infeksi cacing Ascaridia galli pada ayam dapat didiagnosa dengan pemeriksaan

laboratorium dan menemukan telur cacing dalam feces dan identifikasi cacing

Gambar

Gambar 2.1. Morfologi Ascaridia galli (Ramadan dan Znada, 1992).
Gambar 2.2. Siklus hidup Ascaridia galli (Permin, 1997).

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai kelanjutan proses pelelangan ini, kami mengundang saudara untuk menghadiri tahapan verifikasi dan pembuktian kualifikasi paket pekerjaan Pembangunan Pipa dan SR Kec..

Gambar 4.28 Add Data Pelaku Kejahatan Pada gambar 4.28.di atas, setelah tombol Tambah diklik, maka status beberapa tombol Add, Edit, Delete, Refresh, Save menjadi

Skripsi dengan judul “TINJAUAN YURIDIS PEMBERIAN PINJAMAN DARI KOPERASI KEPADA PEDAGANG DENGAN PEMBAYARAN HARIAN ATAU MINGGUAN (BANK TITIL) DI KUDUS ” , secara umum

Jumlah anakan produktif (butir) dan hasil gabah kering panen (GKP) yang diperoleh dari beberapa varietas unggul baru padi sawah terhadap penerapan teknologi PTT

1) Tidak untuk mencari laba atau keuntungan atau tidak merupakan bagian perusahaan yang mencari keuntungan semata. 2) Umendidik dan memajukan masyarakat dalam

[r]

pengembangan, Ibu Niskha Sandriana selaku Staf Sub Bagian Umum mengatakan sebagai berikut: “Pada faktor permodalan yang Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang lakukan

Tidak ada perbedaan sudut pandang apa yang menjadi faktor-faktor produksi dalam pandangan ekonomi umum dengan ekonomi Islam yakni, Tanah, Tenaga kerja, Modal dan