• Tidak ada hasil yang ditemukan

STASIUN KERETA API EKSEKUTIF CERME DI GRESIK.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "STASIUN KERETA API EKSEKUTIF CERME DI GRESIK."

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

STASIUN KERETA API EKSEKUTIF CERME

DI GRESIK

TUGAS AKHIR

Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh Gelar Sarjana Teknik (S – 1)

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

Diajukan Oleh :

MUHAMMAD AKHYADIN

0551010041

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN”

(2)

TUGAS AKHIR

STASIUN KERETA API EKSEKUTIF CERME

DI GRESIK

dipersiapkan dan disusun oleh

MUHAMMAD AKHYADIN

0551010041

telah dipertahankan di depan Tim Penguji pada tanggal 29 Juli 2011

Tugas Akhir ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana (S – 1)

Tanggal : 18 Agustus 2011

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Ir. Naniek Ratni JAR., M.Kes. NIP. 19590729 1986030 2 00 1 Pembimbing Utama

Ir. Lily Syahrial, MT NIP. 19550908 199103 1 00 1

Pembimbing Pendamping

Ir Erwin Djuni Winarto, MT NPT. 3 6506 99 0166 1

Penguji

Dr. Ir Pancawati Dewi, MT NPT. 3 6705 94 0033 1

Ir. Sri Suryani Yuprapti Winasih, MT NPT. 19670722 199303 2 00 2

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Alat transportasi adalah salah satu sarana yang digunakan oleh masyarakat

dalam melakukan perpindahan dari satu tempat ketempat yang lain. Seiring dengan

perjalanan waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka

berkembang pula teknologi dalam transportasi. Terutama perkembangan transportasi

yang ada dikota-kota besar di Indonesia seperti kota Jakarta yang merupakan kota

terbesar di Indonesia, dan juga kota Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua

yang ada di Indonesia. Selain beberapa kota besar lainnya seperti medan, semarang,

jogjakarta, dan beberapa kota besar lain yang ada di Indonesia dengan kepadatan

penduduk dan kendaraan yang sangat tinggi.

Kabupaten Gresik termasuk Propinsi Jawa Timur, dengan letak geografis 7o-8o

Lintang Selatan dan 112o-113o Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten ini 1.192,25

Km2. Kabupaten Gresik sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, Sebelah Timur

berbatasan dengan Selat Madura dan Kota Surabaya, sebelah selatan berbatasan

dengan Kab. Mojokerto dan Kab. Sidoarjo, sebelah barat berbatasan dengan Kab.

Lamongan. Jumlah penduduk kab. Gresik tahun 2006 sekitar 1.309.549 Jiwa dengan

pertumbuhan penduduk 11,11 %. Sektor industri, perdagangan dan pertanian

merupakan kontributor utama dalam struktur PDRB Gresik dari tahun ke tahun. Nilai

nominal PDRB 2006 adalah sebesar 12,7 trilyun. pada kenyataannya, sektor industri

memberikan sumbangan terbesar terhadap kinerja perekonomian Kabupaten Gresik

dengan angka kontribusi terbesar 47.32%, kemudian disusul sektor Perdagangan,

hotel dan restoran serta sektor pertanian. Di Gresik terdapat tiga industri besar yaitu:

PT. BHS dengan produknya yang berupa sarung, kopiah dengan merek yang

terkenalnya yaitu Atlas yang menguasai pangsa pasar sarung di Indonesia, juga

terdapat industri semen PT. Semen Gresik yang salahh satu pabriknya berada di

Tuban, jawa Timur dan Industri pupuk PT. Petrokimia Gresik, adanya industri

tersebut cukup menyerap tenaga kerja yang bekerja di wilayah industri tersebut.

(4)

PDRB wilayah ini. Di Gresik juga terdapat industri kerajinan rotan, industri

anyaman, bordir dan industri tikar bawean yang terletak di Kecamatan Bawean.

Karena wilayah yang kurang subur untuk bercocok tanam di Gresik tidak

mengandalkan pertanian sebagai unggulannya.Sementara sektor yang tetap dijadikan

primadona oleh masyarakat Gresik adalah budi daya tambak. Komoditas tambak

yang dikembangkan di Gresik yaitu udang windu payau, udang windu tawr, kepiting,

bandeng umpan dan kerapu. Gresik memiliki satu Pelabuhan Umum dan enam

dermaga khusus milik swasta (PT Petrokimia Gresik, PT Semen Gresik, PT

Smelting, PT Kawasan Industri Maspion, PT PJB UP Gresik, PT UPMS V / Asphalt

Plant) selain sebuah dermaga khusus bongkar muat batubara milik PT Gresik Jasa

Tama.

Di era globalisasi saat ini dimana perkembangan kabupaten Gresik sangatlah

pesat baik dalam hal sarana maupun prasarana, dan pertumbuhan penduduk yang

terus meningkat. Sehingga pihak pemerintah mengambil suatu kebijaksanaan dengan

cara mengurangi atau mengalihkan beban transportasi angkutan jalan raya dan lebih

mengaktifkan transportasi kereta api sebagai angkutan transportasi darat alternatif.

Angkutan transportasi kereta api memiliki ciri-ciri : misal, aman, nyaman, dan

relatif murah serta cepat. Yang mana diharapkan mampu berperan didalam mengatasi

permasalahan transportasi dan memenuhi tuntutan kebutuhan angkutan transportasi

manusia yang semakin padat. Ini dibuktikan bahwa jumlah penumpang kereta api

mulai 22 Desember 2008 sampai 4 Januari 2009 mencapai 426.678 orang. Jumlah ini

naik 10 persen dibandingkan tahun lalu, yaitu 388.914 orang. Jumlah itu keseluruhan

dari penumpang Kereta Api ekonomi, eksekutif dan bisnis yang berangkat dari

Stasiun Pasar Turi Surabaya. Dalam upaya peningkatan sarana Satasiun Kereta Api

mengenai kebutuhan ruang maupun fasilitas dan kwalitas pelayanannya, maka dari

pihak PT. KAI mempunyai gagasan untuk mengembangkan stasiun – stasiun yang

ada di Indonesia, dimana nantinya dapat meningkatkan kwalitas sarana dan prasarana

sehingga dapat menunjang kelancaran transportasi di kota – kota besar. Oleh sebab

itu maka sarana perkereta apian perlu mendapatkan perhatian khusus agar dapat

(5)

Tabel 1.1. Perbandingan penumpang eksekutif

(Sumber: data dari stasiun pasar turi)

Melihat dari keadaan itulah maka perlu adanya suatu usaha untuk bisa

setidaknya menanggulangi sedikit ataupun banyak masalah mengenai penumpang

kereta api eksekutif yang ada di Kabupaten Gresik. Berlatar dari kondisi diatas,

kemudian banyak bermunculan gagasan untuk membuat sebuah stasiun kereta api

eksekutif di Kabupaten Gresik, sehingga dapat mengurangi kepadatan penumpang

di Kota Surabaya ini dikarenakan tidak cukupnya daya tampung yang ada dan tidak

representatif baik dari fisik bangunan maupun sarana dan fasilitas yang ada di

Stasiun Pasar turi maupun Stasiun Gubeng. Akibat grafik penumpang eksekutif

yang naik 10% tiap tahunnya dan pada musim libur / lebaran naik hingga 109%.

Untuk mewujudkan Stasiun khusus penumpang kereta api eksekutif, mengingat

belum adanya pemberhentian kereta api eksekutif di Kabupaten Gresik dan

Lamongan. (Berdasarkan analisa wawancara dengan Bpk. Herijanto Widodo KEPALA SUB SEKSI SDM DAOP VIII Surabaya, dan Bpk. Yudi, Kepala Tata Usaha Stasiun Besar Pasar Turi

Surabaya). Mengantisipasi perkembangan wilayah barat yg cukup pesat

(6)

Jadi nantinya permasalahan penumpang kereta api eksekutif baik di Kota

Surabaya maupun di Kabupaten Gresik dan Lamongan dapat diatasi. Juga tidak

dilupakan bahwa stasiun kereta api eksekutif ini akan menjadi sesuatu yang

menarik baik dari segi visual (bangunan) maupun sarana dan prasarana sehingga

fungsi stasiun sebagai sarana transportasi juga benar-benar dapat terpenuhi.

1.2 Tujuan Perancangan

Adapun tujuan dirancangnya bangunan ini, adalah :

 Untuk meningkatkan layanan yang prima terhadap masyarakat atau penumpang kereta api Eksekutif dalam menggunakan transportasi cepat melalui darat.

 Mengangkat image PT. Kereta Api Indonesia.

 Menjawab keinginan para penumpang di Kabupaten Gresik dan Lamongan, sehingga dapat menikmati suasana nyaman dan aman.

1.3. Batasan dan Asumsi

1. Batasan

 Data perencanaan ini / konsep ini dibatasi hanya untuk bangunan 1 massa, terdiri dari ruang tunggu khusus eksekutif beserta sarana dan prasarana

pendukungnya.

Perencanaan bangunan berupa bangunan khusus eksekutif.

 Tidak menghilangkan identitas yang ada di kawasan maupun wilayah tersebut.

2. Asumsi

 Stasiun buka setiap hari :

Senin – minggu 07.00 – 21.00 WIB  Merupakan stasiun terminal / awal - akhir

 Dari segi perencanaan bangunan, stasiun ini dilengkapi oleh fasilitas

kenyamanan dan keamanan yang bersifat standard internasional. Sehingga dapat

(7)

Tabel 1.2. jadwal angkutan Kereta Api Eksekutif Stasiun Pasar Turi Surabaya

Kereta Api Jurusan Jam

Keberangkatan

Jam Kedatangan

Argo anggrek Gambir 08.00 20.00

Sembrani Jakarta kota 18.30 07.02

Argo anggrek Gambir 20.00 08.00

Rajawali Semarang tawang 14.00 13.27

(Sumber: data dari stasiun pasar turi)

1.4. Tahap Perancangan

Perancangan dengan menggunakan metode analisa sintesa, dengan melalui

tiga tahapan sebagai berikut :

1. Tahap pertama yaitu tahap identifikasi masalah mencari isu dan fenomena

tentang kebutuhan bangunan stasiun.

2. Tahap kedua yaitu tahap yang menganalisa data faktual tentang kegiatan waiting

room dan pendukungnya, meliputi perencanaan aspek fungsi ruang dan aspek

visual, serta penampilan yang menunjukkan ekletisisme.

3. Tahap selanjutnya merupakan sintesa atau kesimpulan tentang pokok

permasalahan yang dapat digunakan sebagai pendekatan konsep untuk

selanjutnya menuju konsep dasar perencanaan.

Secara keseluruhan merupakan cara memperoleh data untuk mempermudah

dalam melakukan analisis – sintesis yang akan menjadi landasan pada pembahasan

masalah.

Cara memperoleh data yaitu :

a. Pengamatan / observasi terhadap obyek yang terkait dengan bangunan transportasi

(8)

langsung. Kegiatan yang secara langsung yaitu peninjauan ke tempat seperti Stasiun

balapan dan stasiun lain yang representatif untuk ruang tunggu kereta api VIP, serta

pengambilan gambar

bangunan luar maupun dalam pada bangunan tersebut.

b. Studi literatur yaitu mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan ruang tunggu

eksekutif khususnya dengan berstandardkan internasional.

c. Pengumpulan data dari PT. Kereta Api Indonesia dan buku literatur

d. Wawancara yaitu mengadakan wawancara / interview dengan pihak – pihak terkait

baik langsung maupun tidak langsung.

Diagram 1.1. Tahapan Perancangan Stasiun Kereta Api Eksekutif Pasar Turi Di Surabaya (Sumber: Hasil analisa pribadi,2009)

1.5. Sistematika Laporan

Dalam laporan ini terdapat beberapa pembahasan untuk mendapatkan

pengertian serta pemahaman materi, maka penyajian proposal ini menggunakan

sistematika, sebagai berikut :

1. BAB I PENDAHULUAN

Pendahuluan, berisi tahapan-tahapan mulai dari latar belakang pemilihan

judul, tujuan perancangan, batasan dan asumsi rancangan, dan tahap perancangan

Ide awal  Interpretasi judul 

K

N  S 

P  Identifikasi 

masalah  Studi kasus

Obyek dilap. /  literatur 

Studi literature  standart & teknis 

Ide bentuk 

Pengembangan 

(9)

beserta dengan uraian penjelasan dari tiap tahapannya yang menjelaskan secara

rinci isinya. Dikarenakan banyaknya permasalahan kenyamanan dan keamanan

bagi penumpang kereta api Eksekutif. Maka disini ingin memberikan wadah bagi

penumpang khusus kereta api eksekutif yang dapat menampung dalam ruang

lingkup yang lebih luas. Lalu batasan dan asumsi yang digunakan dalam

perancangan nantinya. Juga tahapan perancangan dari mulai proses interpretasi

judul sampai pada proses aplikasi pada rancangan gambar.

2. BAB II TINJAUAN OBYEK PERANCANGAN

Tinjauan Obyek Perancangan, mulai dari tahap pengertian judul yang berisi

pengertian tentang pusat pengenbangan kreativitas dan pengertian anak jalanan itu

sendiri yang kemudian disimpulkan menjadi suatu pengertian baru dari rancangan.

Tahap studi literatur yang berisi tentang segala data dari bermacam jenis literatur

yang digunakan sebagai data penunjang yang berkaitan dengan rancangan. Tahap

tinjauan obyek perancangan yang berisi dua obyek studi kasus sejenis secara fungsi

dan aktivitas yang digunakan sebagai acuan yang menbantu rancangan nantinya,

dari hasil analisa dan pembandingan yang dilakukan pada studi kasus. Tahap

kesimpulan studi, lingkup pelayanan yang menjelaskan pembatasan pelayanan

rancanangan, serta aktivitas kebutuhan ruang dan perhitungan luasannya yang

menguraikan secara rinci kebutuhan ruang yang diperlukan untuk kemudian

dihitung secara pasti luasan yang dibutuhkan.

3. BAB III TINJAUAN LOKASI PERANCANGAN

Membahas dan menggambarkan secara lebih terperinci tentang lokasi yang

akan digunakan. Menjabarkan tinjauan lokasi rancangan, latar belakang pemilihan

lokasi, penetapan lokasi perancangan, data fisik lokasi, potensi bangunan sekitar,

serta aktifitas dan fasilitas persyaratan teknis dan standarisasi.

4. BAB IV ANALISA PERANCANGAN

Analisa Perancangan, isinya sudah mengarah ke arah lebih lanjut yaitu

mulai dari analisa sampai dengan gambaran secara abstrak tentang konsep

perancangan yang akan dibuat. Seperti dari mulai analisa ruang berserta

(10)

Sampai dengan diagram abstrak yang kurang lebih menggambarkan secara abstrak

(11)

BAB II

TINJAUAN OBYEK PERANCANGAN

2.1. Tinjauan Umum

2.1.1. Pengertian

Stasiun Kereta Api Eksekutif Cerme Di Gresik memiliki arti sebagai berikut :

 Stasiun

berasal dari bahasa Inggris: station; yang diartikan: sebagai tempat pemberhentian

yang teratur dari kereta api untuk memberi kesempatan penumpang atau barang

turun dan naik.

( sumber : www.wikipedia.com )

 Kereta Api

Kereta api adalah sarana transportasi berupa kendaraan dengan tenaga gerak, baik

berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya, yang akan

ataupun sedang bergerak di rel. Kereta api merupakan alat transportasi massal yang

umumnya terdiri dari lokomotif (kendaraan dengan tenaga gerak yang berjalan

sendiri) dan rangkaian kereta atau gerbong (dirangkaikan dengan kendaraan

lainnya). Rangkaian kereta atau gerbong tersebut berukuran relatif luas sehingga

mampu memuat penumpang maupun barang dalam skala besar. Karena sifatnya

sebagai angkutan massal efektif, beberapa negara berusaha memanfaatkannya

secara maksimal sebagai alat transportasi utama angkutan darat baik di dalam kota,

antarkota, maupun antarnegara. ( sumber : www.wikipedia.com )

 Eksekutif

Memiliki prestise dan ketenangan tersendiri (terpisah dari zoning ekonomi)

Memiliki view tersendiri sehingga dapat melihat kereta api

(12)

 Cerme

Nama sebuah kecamatan di Kabupaten Gresik, provinsi Jawa Timur.

( sumber : www.wikipedia.com )

 Gresik

Adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur, Indonesia.

(sumber :Kamus Bahasa Indonesia, Edisi ketiga, 2001, Balai Pustaka)

Dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa “Stasiun Kereta Api

Eksekutif Cerme Di Gresik” adalah sebuah tempat pemberhentian teratur dari kereta

api yang merupakan alat transportasi massal yang umumnya terdiri dari lokomotif

(kendaraan dengan tenaga gerak yang berjalan sendiri) dan rangkaian kereta atau

gerbong (dirangkaikan dengan kendaraan lainnya). Rangkaian kereta atau gerbong

tersebut berukuran relatif luas sehingga mampu memuat penumpang eksekutif yang

Memiliki ketenangan tersendiri (terpisah dari zoning ekonomi) dan Menggunakan

fasilitas-fasilitas berteknologi seperti AC, yang terletak di Kecamatan Cerme,

Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

2.1.2. Studi Literatur

2.1.2.1. Status dan Klasifikasi Stasiun

 Status Stasiun

Status stasiun yang ditentukan oleh kedudukannya pada lintasan jalur baja

atau rail yang mana terbagi menjadi:

• Stasiun Awal atau Akhir atau Buntu

Kedudukannya berada pada akhir atau awal dari lintasan jalur rail

• Stasiun Antara

Kedudukannya berada diantara lintasan jalur rail

(13)

Kedudukannya berada pada persimpangan yang membagi atau mengumpulkan

dua jalur lintasan rail.

 Klasifikasi Stasiun

Terbagi atas 6 kelas, yaitu :

1. Stasiun Besar

2. Stasiun kelas I

3. Stasiun kelas II

4. Stasiun kelas III

5. Stasiun kelas IV

6. Stasiun kelas V

2.1.2.2. Macam - Macam Stasiun

Berdasarkan sistem operasionalnya stasiun dapat dikelompokkan sebagai

berikut :

 Menurut Besaraya Stasiun

 Stasiun Kecil 

Stasiun yang sering dipergunakan sebagai tempat pemberhentian sementara,

khusus untuk menaikan dan menurunkan para penumpang serta tidak ada

kesempatan bagi kereta api untuk bersilangan. Disini biasanya kereta api

jenis kilat (ekspress) tidak berhenti.

 Stasiun Sedang

Stasiun yang umumnya berada di kota kecil, yang mana kereta api jenis kilat

(14)

 Stasiun Besar

Stasiun yang pada umumnya berada di kota-kota besar dan kota pelabuan.

Dimana semua jenis kereta api dapat berhenti di sini untuk itu diperlukan

banyak rel-rel KA dengan peron - peronnya.

 Menurut Segi Fasilitas Yang Dimiliki

 Stasiun jarak jauh ( Long Distance Stasiun )

Stasiun yang melayani perjalanan jarak jauh antar kota atau propinsi.

Fasilitas yang dimiliinya sangat lengkap, termasuk bongkar muat barang

dan gudang serta dilengkapi dengan ruang tidur.

 Menurut Fungsi Dari Stasiun

 Stasiun Terminal

Stasiun tempat kereta api mulai atau mengakhiri perjalanannya. Biasanya

dalam kawasan stasiun ini terdapat fasilitas depo.

 Menurut Tujuannya

 Stasiun Penumpang

Stasiun untuk menerima dan menurunkan penumpang. Juga terdapat aktifitas mengirim dan menerima barang hantaran.

 Menurut Letak Jalur Rel Pada Stasiun

 Stasiun Terusan

Stasiun yang mana bentuk dari stasiun yang paling banyak terdapat di

Indonesia, dimana jalur kereta api masuk atau keluar stasiun melewati seluruh

stasiun dan peronnya. Apabila pada stasiun tersebut terdapat beberapa jalur

maka peron yang terjadi ada yang terletak diantara jalur – jalur itu.

Contoh : St. Gambir dan St. Gubeng

(15)

 Ground Level Station

Stasiun yang mana letak bangunan stasiunnya dan peronnya terletak pada satu

level di atas tanah.

 Over Track Station

Stasiun yang mana letak bangunan stasiunnya berada diatas peron.

 Under Track Station

Stasiun yang mana letak bangunan stasiunnya berada di bawah peron.

2.1.2.3. Aktifitas Yang Ditampung

Menurut : J. HONING "Ilmu Bangun stasiun KA" dan dari wawancara

langsung dengn pihak PT. KERETA API Daop VIII Surabaya, kegiatan utama

dari stasiun kereta api dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

 Kelompok Pengguna jasa :

 Kegiatan pelayanan kepada penumpang sebelum dan sesudah perjalanan dengan kereta api, yakni :

- Penjualan karcis perjalanan

- Pelayanan informasi seputar kegiatan stasiun KA

 Kegiatan pelayanan terhadap barang hantaran

 Kelompok Pengelola teknis perkereta apian :

 Kegiatan pelaksanaan teknis dan operasional kereta api pada saat pergerakan dalam perjalanan maupun ketika berhenti di stasiun KA

- Persiapan teknis kereta api

- Kegiatan langsiran

(16)

 Kegiatan pelayanan keselamatan perjalanan mulai dari meninggalkan stasiun KA sampai rnasuk ke stasiun KA berikutnya.

- Memimpin atau mengatur perjalanan kereta api

- Informasi lintas perjalanan.

- Kontrol dan komunikasi lintas perjalanan

 Kelompok Pengelola Gedung Stasiun KA :

Kegiatan menejemen umum yaitu kegiatan managemen operasional stasiun KA dan

administrasi stasiun KA, yakni:

- Administrasi rutin stasiun stasiun kereta api

- Sirkulasi keuangan stasiun kereta api

- Administrasi perjalanan kereta api

 Kelompok Komersial area /Penunjang area :

Kegiatan penunjang yang meliputi kegiatan pemberian pelayanan jasa kepada para

penumpang KA, seperti jasa biro perjalanan, penjualan, informasi, financial, dll.

A. Konfigurasi Stasiun

a. Komponen stasiun KA dikelompokkan menjadi 4 area,yaitu: 1. Area emplasement

Area ini meliputi fasilitas kegiatan :

- Masuk – Keluaraya kereta api - Pergerakan kereta api

- Parkir atau berhentinya kereta api

- Menaikkan dan menurunkan penumpang atau barang

- Pelayanan teknis kereta api

(17)

Area ini meliputi fasilitas kegiatan pelayanan kepada masyarakat

pemakai jasa angkut kereta api, antara lain :

- Pelayanan sebelum dan sesudah perjalanan dengan angkutan kereta api

- Memberikan pelayanan infiomasi seputar kereta api

- Pelayanan processing penumpang dan barang

- Pelayanan penunjang untuk kebutuhan pengguna jasa kereta api

3. Area kontrol dan komunikasi

Area ini meliputi fasilitas kegiatan : Pengawasan, Pengamanan,

Pengaturan perjalanan kereta api dan kegiatan komunikasi antara stasiun

dengan kereta api, yakni berupa:

- Pengaturan sinyal dan wessel

- Pengaturan jadwal perjalanan

- Pengaturan jalur pejalanan

- Komunikasi antar stasiun

- Komunikasi dengan kereta api

4. Area Management dan administrasi

Area ini meliputi fasilitas kegiatan intern pengelola yang berkaitan

dengan administrasi dan keuangan antara lain :

- Administrasi sehari - hari pada stasiun

- Administrasi perjalanan kereta api

- Mengatur sirkulasi keuangan didalam stasiun.

b. Emplasement Stasiun Kereta Api

Merupakan bagian utama dari stasiun kereta api yang mana menentukan

(18)

mempengaruhi pengaturan tata letak : Langsiran, Parkir kereta api, Pergerakan

kereta api maupun masuk -keluarnya kereta api.

Variasi pengaturan emplasement dapat dikembangkan sesuai dengn faktor -

faktor pengaruh :

• Panjang rangkaian kereta api maximal

• Frekuwensi penumpang terpadat

• Frekuwensi kereta api yang lewat

• Kedudukan stasiun itu sendiri

Dimana dari faktor - faktor tersebut diatas dapat menentukan panjang,

jumlah dan tata letak emplasement.

B. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Komponen Stasiun KA

 Faktor penumpang  Faktor pengelola

 Faktor frekuwensi dan jadwal perjalanan  Faktor kontrol penumpang dan barang  Faktor penampilan bangunan

 Faktor suasana didalam bangunan

C. Sub-Sistem Angkutan Kereta Api

Apabila angkutan kereta api dapat dianggap sebagai suatu rangkaian sistem

yang terpadu, maka komponen - komponen pokok pada sistem tersebut adalah :

• Sarana angkutan Kereta Api

• Jalur jalan baja / track

• Stasiun Kereta Api

Dimana komponen - komponen tersebut diatas merupakan sub sistem yang satu

sama lain saling terkait dan mempengaruhi perkembangan salah satu komponen

pokok sebagai sub-sistem akan membawa pengaruh terhadap sub-sistem lainnya dan

juga terdapat sistemnya.

(19)

2.1.2.4. Aktifitas, Fasilitas, dan Kebutuhan Ruang A. Aktifitas Makro

Sistem angkutan kereta api mempunyai beberapa aktifitas makro yang

meliputi aktifitas - aktifitas, antara lain:

 Aktifitas pelayanan pengguna jasa

 Aktifitas pengelola teknis perkereta apian

 Aktifitas pengelola gedung stasiun kereta api

 Aktifitas komersial area / area penunjang B. Aktifitas Mikro

Aktifitas mikro yang dilakukan dalam proyek rumusan perencanaan

Stasiun Kereta Api Pasar Turi Surabaya, antara lain :

 Kelompok Pengelola Stasiun KA Dan Pengelola Teknis Perkereta Apian Tabel 2.1. Aktifitas dan kebutuhan ruang

Obyek Aktifitas Bentuk

kegiatan

Kebutuhan perabot

Kebutuhan ruang

Kepala Stasiun KA

Memimpin dan mengkoordinasi seluruh kegiatan di wilayah stasiun. - menyimpan data

(20)

Wakil Kepala - menyimpan data

Kepala Tata Usaha

Mengepalai dan mengatur seluruh administrasi stasiun

(21)

Kepala

perbendaharaan (PBD)

Mengatur dan mengkoordinasi segala urusan keuangan stasiun

- duduk - menulis - membuat data keuangan - menyimpan data

- menelpon /ditelpon - mengkalkulasi keuangan - mencetak data

- kursi kerja

Kepala penjualan karcis KA

- mengatur dan mengawasi masalah

distribusi karcis dan keuangan dari hasil karcis

- duduk - menulis - membuat laporan keuangan - menyimpan data

- menelpon /ditelpon / FAX - mengkalkulasi keuangan - mencetak data - terima setoran

- kursi kerja

Petugas penerima setoran

Menerima setoran keuangan hasil penjualan karcis dan jasa pengiriman barang

(22)

/ditelpon - mengkalkulasi setoran keuangan

- mesin hitung - almari / laci uang

Juru bayar Berkuasa mengeluarkan uang perusahaan guna keperluan kegiatan - menghitung - mencetak data

- kursi kerja

 Operasional dan Komunikasi

Obyek Aktifitas Bentuk

kegiatan perjalanan KA (PPKA)

Memimpin & mengatur perjalanan KA baik yang tiba maupun yang berangkat termasuk pengamanan perjalanan KA

(23)

- pengawasan lapangan - terima tamu

- R. kerja - R. panel Juru Rumah

Sinyal

Kepala kantor kawat

Menyiapkan jalur- jalur beserta weselnya dalam

lingkungan stasiun, mengatur sirkulasi KA didalam stasiun dg

memperhatikan gerak langsiran

Menerima dan mengirim telegram baik yang bersifat dinas maupun umum serta memberi tahu kepada stasiun terdekat yang akan dilalui KA dari stasiunnya agar bersiap menerima KA tsb, begitu sebaliknya

- duduk - menulis - membuat laporan - menyimpan data

- menelpon /ditelpon - membuat dan terima wesel - mengkopi data - pekerjaan lapangan

- duduk - menulis - membuat data - menyimpan data

- mencetak data - menelpon - mesin telegram - printer

Mencatat & mengawasi KA yang masuk dan keluar stasiun

(24)

- menyimpan

Polisi khusus KA (POLSUSKA)

Mengawasi / menjaga keamanan & ketertiban stasiun baik penumpang & pengunjung maupun terhadap KA

- patroli pengawasan, pengamanan & penertiban - duduk - menulis - menelpon /ditelpon

- pengawasan dg TV detector - istirahat / santai - terima tamu - intrograsi

- meja, kursi

Kondektur dan masinis

Kondektur, memeriksa karcis penumpang di dalam KA dan mengatur serta mengawasi penumpang selama perjalanan berlangsung di dalamKA

- Kondektur di atas KA - memeriksa setiap karcis penumpang di gerbong KA - mendata

Di gedung stasiun KA - membuat laporan

- istirahat / santai sambil

menunggu panggilan tugas

- meja - kursi

R.istirahat kondektur

Masinis,

menjalankan KA

(25)

sampai tujuan KA

- menjalankan KA

Di gedung stasiun KA - istirahat / santai sambil

menunggu panggilan tugas

- kursi - telepon

masinis

Juru gerbang (PORTIR)

Mengatur dan memeriksa karcis penumpang yang masuk maupun keluar stasiun

- memeriksa karcis

- istirahat / santai

Area pemeriksa karcis

Karyawan lapangan / pekarya stasiun (PKST)

Membantu didalam kegiatan pekerjaan lapangan pada stasiun KA

- pekerjaan lapangan - istirahat / santai sambil

menunggu panggilan tugas

Ruang pengelola stasiun

Obyek Aktifitas Bentuk

kegiatan penerimaan & pengiriman barang

penumpang KA

Melayani jasa penerimaan / pengiriman baik brg hantaran maupun brg gerobakan dalam KA

- menerima barang kiriman - duduk - mendata - menelpon / terima telepon - menyimpan data

- menimbang - mengecek

- brangkas arsip

- R. penerimaan barang

(26)

barang

Bagian emplasement

Mengatur tata letak : langsiran, parkir KA, pergerakan KA maupun masuk keluarnya KA

- kegiatan lapangan

- istirahat / santai sambil

menunggu panggilan tugas

- kursi - meja - telpon

R. pengawas emplacement

Kelompok Pengguna Jasa Kereta Api  Pelayanan Umum

Obyek Aktifitas Bentuk

kegiatan

Kebutuhan perabot

Kebutuhan ruang

Pengunjung Sebagai area penerima penumpang KA, pengantar dan penjemput

- menunggu

- jalan

R. hall / lobby

Penumpang Menunggu keberangkatan / kedatangan KA

- menunggu

- duduk

- santai

- ngobrol

- persiapan naik KA

- kursi

- sofa

R. tunggu eksekutif

Pengunjung Menampung turun / naiknya penumpang KA dan pengantar baik itu

(27)

- persiapan naik KA

Pengelola Penjualan ticket, menjual tiket perjalanan KA kepada para penumpang KA

- menjual

- duduk

- mendata

- mencetak

- terima uang

- menghitung

- kursi kerja

Penumpang Pembelian tiket, membeli tiket perjalanan KA kepada petugas

- membeli / membayar

- menunggu

- berdiri antri

Area antrian tiket KA

Pengelola dan pengunjung

Memberikan dan meminta informasi yang berhubungan dengan kegiatan stasiun yang mana ditujukan kepada para pengguna jasa angkut KA terima telepon

- menyimpan data

R. informasi

(28)

Juru parkir kendaraan para pengguna jasa KA /

pengunjung stasiun KA

Mengatur kendaraan yang akan di parker

Area parkir

mobil / motor

 Pelayanan penunjang

Obyek Aktifitas Bentuk

kegiatan

Kebutuhan perabot

Kebutuhan ruang

Kantin / restoran Berdagang makanan dan minuman - menghitung - terima uang

Toko Berdagang aneka cinderamata dan kebutuhan para pengguna jasa angkut KA

- menjual cinderamata / acsesoris - display barang dagangan - duduk - menghitung - transaksi - terima uang

- kursi pegawai - meja

- almari display - rak display

Kantor biro Memberikan jasa pelayanan lanjutan kepada penumpang KA baik itu jasa akomodasi lanjutan maupun penginapan

- duduk - menulis - terima tamu - memberikan informasi

- kursi kerja - meja kerja - kursi tamu - computer - brangkas arsip

(29)

- konsultasi - melihat data - memasukkan data

- menelpon / terima telpon

- telpon

Wartel Memberikan jasa pelayanan komunikasi

Menelpon - kursi telpon - meja telpon - telpon

- kursi pegawai - meja pegawai - computer - printer - kotak / laci uang

R. bilik telpon R. kasir

C. Fasilitas Ruang

Kebutuhan ruang yang ada pada Stasiun Kereta Api Pasar Turi adalah

kebutuhan ruang yang diproyeksikan untuk menampung kebutuhan pada tahun

2018 ( sepuluh tahun mendatang ) dan seterusnya, dimana Stasiun Kereta Api Pasar

Turi, harus dapat melayani angkutan penumpang di kota Surabaya dan sekitarnya.

Jenis fasilitas dan kebutuhan ruang yang ada atau yang diperlukan pada

stasiun, sebagai berikut ;

a. Kelompok pemakai jasa

 Hall dan lobby

 Ruang tunggu penumpang KA eksekutif

 Loket karcis

(30)

 Peron

 Toilet

b. Kelompok pemberi jasa

 Bagian pimpinan stasiun

 Ruang kerja kepala stasiun dan Wakil kepala stasiun

 Ruang kerja staff

 Ruang tamu

 Bagian operasional

 Ruang kerja kepala bagian dan wakil

 Ruang kerja operasional

 Ruang pengatur perjalanan KA

 Ruang pengawas peron

 Ruang istirahat

 Toilet dan gudang

 Bagian administrasi dan menejemen

 Ruang kerja kepala bagian dan wakil

 Ruang kerja staff administrasi

 Ruang kerja staff menejemen

 Ruang istirahat

 Ruang tamu

 Ruang rapat

 Pantry

 Toilet dan gudang

c. Fasilitas Penunjang

 Cafetaria

 Restoran

 Kios toko

d. Fasilitas pelengkap

 Ruang informasi

 Musholla dan Ruang wudhlu

 Ruang keamanan

(31)

 Telepon umum dan wartel

 Fasilitas ATM e. Ruang – ruang Servis

 Ruang mekanikal dan elektrikal

 Ruang genset

 Ruang pompa

 Ruang karyawan

 Toilet dan gudang f. Ruang Luar

 Plasa stasiun

 Parkir mobil dan motor penumpang

 Parkir mobil dan motor staff

 Pool taksi

 Halte bus kota

(32)

D. Persyaratan Teknis ( Standarisasi Ruang )

1. Standart Ukuran Ruang

Tabel 2.2. Perbandingan Beberapa Standart Ukuran Ruang

AJ METRIK NEUFERT TIME SAVER

Ruang

m2/orang m2/orang m2/orang

Direktur

Wakil direktur

Kepala bagian

Rapat

Ruang tunggu

Hall

2. Standart Ukuran Ruang Gerak Tubuh

(33)

Ukuran yang dibutuhkan untuk ruang gerak badan baik posisi berdiri maupun

duduk, yang dapat menjadi pertimbangan dalam proses penentuan luas peron dan

hall.

E. Struktur Organisasi

Diagram 2.1. struktur organisasi stasiun (sumber : data stasiun besar pasar turi Surabaya)

2.1.2.5. Persyaratan - Persyaratan Teknis

Faktor-faktor yang sangat berpangaruh di dalam proses perancangan stasiun

kereta api yaitu :

A. Faktor Pencapaian

Karena kedudukan stasiun sangat tergantung pada lintasan jalur rail, maka untuk

mencapai stasiun diperlukaa dukungan sarana angkutan jalan raya. Agar proses

perjalanan dapat lancar, maka lokasi stasiun harus cepat dan mudah dicapai oleh

kendaraan transportasi lainnya. Dengan demikian kemudahan hubungan dengan

(34)

B. Faktor Fleksibilitas Stasiun

Dimungkinkan adanya pengembangan atau perluasan lokasi stasiun dengan

kemungkinan hambatan lingkungan. (J. Honing "ilmu bangun kereta api")

C. Faktor Utilitas

1. Penghawaan

Sistem penghawaan secara umum terdapat 2 jenis yaitu penghawaan

secara alami dan penghawaan secara buatan (AC, AHU, Kipas angin dll). Dari

kedua jenis penghawaan tersebut yang mana proses penggunaannya dipengaruhi

oleh beberapa faktor:

 Penghawaan alami

- Hemat biaya / ekonomis

- Sirkulasi didalam bangunan sangat lancar

- Letak dari pada ruang-ruang yang terkena secara langsung udara dari luar

 Penghawaan buatan

- Suhu didalan ruangan kurang memenuhi syarat

- Polusi udara yang tinggi

- Letak ruang yang tidak memungkinkan terkena secara langsung udara dari

luar

- Polusi suara / bising

- Sirkulasi udara didalam bangunan kurang lancar

2. Penerangan 

System penerangan ruangan secara umum terdiri atas penerangan alami dan buatan.

Dimana penerangan alami digunakan pada siang/pagi hari dengan memanfaatkan

cahaya matahari. Sedangkan penerangn buatan digunakan jika penerangan alami suda

(35)

keadaan ruang yang tersembunyi. Sedangkan "berdasarkan study lapangan" yang saya

lakukan maka prosentase penggunaan penerangan alami maupun penerangan buatan

didasarkan pada :

• Ada atau tidak ada sinar matahahri yang masuk kedalam ruangan.

• Posisi / letak ruangan terhadap bangunan

• Prosentase jumlah bukaan / jendela di ruangan

Sumber : (Study lapangan & study literatur : Utilitas Bangunan, pencaayaan listrik oleh Ir. Hartono poerbo M. Arch)

3. Sistem Pembuangan

 Sistem pembuangan air kotor

Mengingat bentuk bangunan sebuah stasiun yang mempunyai massa banyak, maka

sistem pembuangan air kotor dan kotoran dibagi menjadi beberapa unit pembuangan.

Dengan demikian volume pembuangan yang ditampung oleh tiap-tiap unit pembuangan

tidak terlalu besar sehingga sistem pembuangan air kotor dan kotoran adalah sistem

konvensional yaitu septic tanc dan sumur resapan.

 Sistem pembuangan sampah

Sistem pembuangan sampah yang digunakan adalah Carry Out System. Dimana

sampah pada bak-bak sampah dikumpulakan oleh petugas kebersihan stasiun lalu

dimasukkan dalam kontainer sampah yang ada di pepi jalan untuk kemudian diambil oleh

mobil sampah milik pemda. ( Utilitas Bangunan, Ir. Hartono poerbo M. Arch)

4. Sistem Penanganan Kebakaran

 Sistem pencegahan kebakaran

Sistem pencegahan kebakaran menggunakan detector dan alarm kebakaran yang dapat

memberikan peringatan dini jika terjadi kebakaran dengan jenis detector asap dan detector

panas. Secara teknis pemasangan detector dan alarm berhubungan langsung ke ruang

(36)

 Sistem pemadam kebakaran

Untuk pemadam kebakaran selain mobil PMK, banguna stasiun harus dilengkapi

dengan tabung hidran yang terletak di dalam bangunan di halaman. (Utilitas Bangunan, Ir. Hartono poerbo M. Arch )

5. Sistem Struktur

Stasuin kereta api yang dalam sejarah perkebangannya masa dulu maupun

masa sekarang terdiri dari 2 elemen, yaitu bangunan stasiunnya itu sendiri dan

bangunan sepur / peron yang tertutup.

Untuk sistem struktur pada bangunan stasiun kereta api tidak ada standart

khusus dan menurut survey struktur mengikuti kebutuhan ruang yang ada

termasuk besar kecilnya kolom balok, dan yang lebih penting dari itu semua

adalah kekuatan pondasi yang digunakan pada bangunan stasiun kereta api

mengingat bangunan stasiun ini mempunyai getaran cukup tinggi dan besar

yang mana disebabkab oleh pergerakan dari kereta api

Sedangkan untuk bangunan sepur / peron menggunakan struktur bentang

lebar.

D. Pola Sirkulasi

Didalam stasiun diperlukan suatu sirkulsi yang lancar, baik untuk kereta api yang

berangkat dan tiba maupun untuk sirkulasi manusia yang keluar masuk stasiun.

Penyediaan fasilitas yang dibutuhkan tanpa perencanaan dan penempatan yang

secara matang tidak akan menghasilkan pola sirkulasi yang lancar

Agar sirkulasi didalam stasiun dapat lancar, diperlukan adanya pemisahan antara

lalu - lintas Manusia (Keluar - masuk penumpang dan pengunjung). Didalam

pemisahan ini perlu dipikirkan rencana pola langsung menuju pintu keluar dan besaran

(37)

a. Sirkulasi Penumpang Berangkat

Diagram 2.2. sirkulasi keberangkatan penumpang (Sumber : Analisa Pribadi ,2009)

b. Sirkulasi Penumpang Datang

Diagram 2.3. sirkulasi kedatangan penumpang (Sumber : Analisa Pribadi ,2009)

= Sirkulasi Penumpang KA

= Sirkulasi Pengantar / penjemput Penumpang dan 

pengantar 

Parkir kendaraan 

P area penunjang 

Peron 

Parkir kendaraan 

(38)

c. Sirkulasi Pengantar atau Penjemput

Pengantar atau penjemput tidak diperkenankan memasuki daerah peron oleh

sebab itu aktifitas pengantar atau penjemput hanya terbatas pada hall saja

(kecuali membeli karcis peron sekali masuk).

Diagram 2.4. sirkulasi pengantar / penjemput (Sumber : Analisa Pribadi ,2009)

d. Sirkulasi Staff atau Karyawan

Staff atau karyawan merupakan unsur utama dalam mengelola stasiun,

sirkulasi karyawan yang lancar, baik pada waktu menjalankan tugas maupun

keluar masuk stasiun, oleh sebab itu dilakukan pemisahan jalan keluar masuk

untuk umum dan karyawan yang juga memudallkan pengontrolan dan penjaga

keamanan. Dengan demikian dapat menambah fungsi dan peranan stasiun

dalam melayani masyarakat.

Diagram 2.5. sirkulasi karyawan stasiun (Sumber : Analisa Pribadi ,2009)

Staff / karyawan 

Keluar / masuk  lewat pintu 

Keruangan    Keruangan  Keruangan  Keruangan   

Pengantar /  penjemput 

Menunggu di  Lobby  

Membeli karcis  peron  

Masuk pintu  kontrol 

(39)

e. Sirkulasi Barang

Barang yang dibawa penumpang adalah tanggung jawab penumpang sendiri,

baik tentang keamanan maupun pengangkutannya. Batas bawaan penumpang

adalah 20 kg per orang, sedangkan selebihnya harus melalui bagian bagasi.

Sirkulasi pada bagian bagasi adalah sebagai berikut;

Diagram 2.5. sirkulasi bagasi penumpang stasiun (Sumber : Analisa Pribadi ,2009)

Bila telah sampai, barang diturunkan dan dibawa kebagian penerimaan

bagasi untuk diambil oleh pemiliknya yang juga sudah sampai pada tujuannya.

2.1.3. Studi Kasus

1. Stasiun Pennsylvania, New York City

Stasiun Pennsylvania adalah bangunan revitalisasi yang dirancang oleh McKim,

Mead, dan White dan selesai pada 1910. Asli Pennsylvania Station adalah sebuah karya

yang luar biasa dari Beaux salah satu arsitek di kota New York. Sampai awal abad ke-20,

jalur kereta api stasiun Pennsylvania dihentikan pada sisi barat dari Sungai Hudson di

Jersey City, New Jersey. Karena dianggap membangun jembatan kereta api di seluruh

Hudson. Pilihan ini ditolak ketika melintasi Sungai Hudson dari New Jersey karena adanya

kapal feri yang juga melintasi sungai tersebut. Pada akhir abad ke-20 tanggal 12 Desember

1901, presiden PRR (kepala stasiun) Alexander Cassatt mengumumkan rencana untuk

memasuki New York City dengan membangun terowongan dibawah sungai Hudson.

Kemudian pada bulan Juli 2005 merencanakan revitalisasi kedua, yang dibangun

serupa tapi jauh lebih sederhana daripada yang asli. Ini merupakan hasil kerjasama antara

Penumpang 

Penumpang naik  kereta api 

Barang yang kelebihan beratnya 

Bagasi 

Penumpang diberi resi untuk pengambilan

barang 

(40)

pemerintah dan perusahaan arsitektural dari James carpenter dan Hellmuth, Obata dan

Kassabaum. Stasiun ini terletak di bawah tingkat Pennsylvania Plaza, dilengkapi dengan

ruang tunggu eksekutif yang dapat menampung 600.000 penumpang per hari.

Gambar 2.2.eksterior lama Gambar 2.3. eksterior baru

a. Lokasi Museum

 Jalan Midtown Manhattan no. 31-33, New York City, Amerika Serikat

 Luas Tanah : 32.000 m2

 Luas Bangunan : 28.000 m2

b. Klasifikasi Stasiun

Stasiun Pennsylvania ini dikategorikan menurut sistem operasionalnya. Berdasar

pada BAB II literatur halaman 10, dapat diambil ciri-ciri yang mendasari stasiun ini, yaitu :

 Menurut Besaraya Stasiun, stasiun ini merupakan Stasiun Besar, yang pada

umumnya berada di kota-kota besar dan kota pelabuan. Dimana semua jenis kereta

api dapat berhenti di sini untuk itu diperlukan banyak rel-rel KA dengan peron -

peronnya.

 Menurut Segi Fasilitas Yang Dimiliki, ini merupakan Stasiun jarak sedang (Medium Distance Stasiun). Stasiun yang melayani angkutan jarak sedang di

sekitar luar kota yang menghubungkan pusat - pusat kota dengan wilayah

sub-urban. Fasilitas yang dimiliki lebih lengkap dan ruang tunggu yang lebih luas,

(41)

 Menurut Fungsi Dari Stasiun, Stasiun Interchange. Stasiun kereta api dimana penumpang dapat melanjutkan perjalanan ke jurusan lain dengan memakai kereta

api lain atau angkutan umum lainnya.

 Menurut Tujuannya, Stasiun Penumpang. Stasiun untuk menerima dan menurunkan penumpang. Juga terdapat aktifitas mengirim dan menerima barang hantaran.

 Menurut Letak Jalur Rel Pada Stasiun, Stasiun Terusan. Stasiun ini memiliki cirri yang mana bentuk dari stasiun yang paling banyak terdapat di Indonesia, dimana

jalur kereta api masuk atau keluar stasiun melewati seluruh stasiun dan peronnya.

Apabila pada stasiun tersebut terdapat beberapa jalur maka peron yang terjadi ada

yang terletak diantara jalur – jalur itu.

 Menurut Letak Konstruksi Bangunan, Over Track Station. Stasiun yang mana letak bangunan stasiunnya berada diatas peron.

c. Fasilitas

Stasiun ini memiliki berbagai fasilitas yang disediakan untuk para penumpang

stasiun, antara lain adalah :

1. Hall dan lobby

2. Ruang tunggu penumpang KA eksekutif

3. Loket karcis

4. Tempat pemeriksaan karcis

5. Peron

6. Toilet

7. Pusat perbelanjaan / plaza gambar 2.4. hall

8. Kantor pos

(42)

d. Bentuk bangunan

Bentukan massa pada bangunan stasiun ini merupakan persegi panjang, ini

dikarenakan bangunan ini berada ditengah – tengah pusat perbelanjaan yang sama –

sama berbentuk persegi. Dan atap bangunan didesain dengan bentuk segitiga siku –

siku. Sehingga sangat berpengaruh terhadap jalur kereta api yang ada didalamnya.

Gambar 2.7. atap bangunan

e. Tampilan bangunan

Bangunan ini memberikan kesan modern yang kokoh pada stasiun dengan

penggunaan material-material baja pada atap dan struktur beton pada kolom.

Bangunan ini merupakan satu massaa bangunan yang utuh yang terdiri dari dua lantai.

Bangunan ini dari luar terlihat sangat menarik dengan bentuk persegi dengan atap

yang mengerucut menabah ketertarikan pengunjung pada bangunan ini. Dengan

penggunaaan warna-warna yang natural pada material bangunan (ekspose struktur).

Sehingga membuat bangunan ini tidak membosankan.

Exterior : eksterior bangunan stasiun ini memberi kesan modern dengan bentuk persegi dan penggunaan material seperti kaca , baja, clading dan beberapa

material lain yang digunakan. Bangunan ini juga terlihat ringan namun kokoh.

Interior : interior pada stasiun ini nampak sangat kokoh dengan bentang lebar dan banyaknya material baja yang digunakan baik untuk rangka atap maupun

bagian struktural yang lain.

f. Sistem Struktur

Bangunan stasiun ini menggunakan sistem struktur bentang lebar, hal ini dapat

(43)

bebas kolom. Dengan penggunaan struktur bentang lebar ini akan memudahkan

penumpang dengan barangnya menuju kereta api, dan selain itu hal ini karena pada

lantai dua terdapat void yang luas sehingga pengunjung yang berada pada lantai dua

dapat melihat dengan leluasa ruang hall yang ada dibawahnya.

Gambar 2.8. fasade eksterior Gambar 2.9. interior

g. Sistem utilitas

 Menggunakan tangga untuk sarana transportasi vertikalnya

 Menggunakan pencahayaan buatan dan alami, pencahayaan buatan berasal dari lampu sedangkan pencahayaan alami berasal dari cahaya matahari yang masuk

melalui bukaan. Namun yang dominan menggunakan pencahayaan alami.

 Untuk penghawaan, pada bangunan ini lebih dominan menggunakan penghawaan buatan.

2. Stasiun Central, Berlin

Adalah stasiun kereta api di Berlin, Jerman dan merupakan stasiun terbesar di

Eropa. Stasiun ini berada di tempat yang bersejarah Lehrter Bahnhof. Dan diklasifikasikan

sebagai stasiun besar yang terletak di ujung kota Berlin. Ia mulai beroperasi penuh pada 26

Mei 2006 yang nantinya jumlah penumpang Setiap harinya diperkirakan akan menampung

350.000 orang. Setelah ditahun 1992 direnovasi secara menyeluruh, dikarenakan kerusakan

berat selama Perang Dunia II dan runtuhnya tembok Berlin pada tahun 1951. Awalnya

bangunan ini didirikan pada tahun 1868 – 1871, Arsitek-nya adalah Alfred Lent, Bertold

Scholz, dan Gottlieb Henri Lapierre. Yang awalnya hanya dibangun dengan façade batu

(44)

Gambar 2.10. stasiun berlin tahun 1871 Gambar 2.11. stasiun berlin sekarang a. Lokasi Museum

Jalan North Stadtbahn, Berlin, Jerman

 Luas Tanah : 50.000 m2

 Luas Bangunan : 44.000 m2

b. Klasifikasi Stasiun

Stasiun Pennsylvania ini dikategorikan menurut sistem operasionalnya. Berdasar

pada BAB II literatur halaman 10, dapat diambil ciri-ciri yang mendasari stasiun ini, yaitu :

 Menurut Besaraya Stasiun, stasiun ini merupakan Stasiun Besar, yang pada

umumnya berada di kota-kota besar dan kota pelabuan. Dimana semua jenis kereta

api dapat berhenti di sini untuk itu diperlukan banyak rel-rel KA dengan peron -

peronnya.

 Menurut Segi Fasilitas Yang Dimiliki, ini merupakan stasiun Stasiun jarak jauh ( Long Distance Stasiun ). Stasiun yang melayani perjalanan jarak jauh

antar kota atau Negara lain. Fasilitas yang dimiliinya sangat lengkap, termasuk

(45)

 Menurut Fungsi Dari Stasiun, Stasiun Interchange. Stasiun kereta api dimana penumpang dapat melanjutkan perjalanan ke jurusan lain dengan memakai kereta

api lain atau angkutan umum lainnya.

 Menurut Tujuannya, Stasiun Penumpang. Stasiun untuk menerima dan menurunkan penumpang. Juga terdapat aktifitas mengirim dan menerima barang hantaran.

 Menurut Letak Jalur Rel Pada Stasiun, Stasiun Terusan. Stasiun ini memiliki cirri yang mana bentuk dari stasiun yang paling banyak terdapat di Indonesia, dimana

jalur kereta api masuk atau keluar stasiun melewati seluruh stasiun dan peronnya.

Apabila pada stasiun tersebut terdapat beberapa jalur maka peron yang terjadi ada

yang terletak diantara jalur – jalur itu.

 Menurut Letak Konstruksi Bangunan, Ground Level Station. Stasiun yang mana letak bangunan stasiunnya dan peronnya terletak pada satu level di atas tanah. Dan

Over Track Station. Stasiun yang mana letak bangunan stasiunnya berada diatas

peron.

c. Fasilitas

Stasiun ini memiliki berbagai fasilitas yang disediakan untuk para penumpang

stasiun, antara lain adalah :

1. Hall dan lobby

2. Ruang tunggu penumpang KA eksekutif

3. Loket karcis

4. Tempat pemeriksaan karcis

5. Peron

6. Toilet

7. Pusat perbelanjaan / plaza

8. Ruang luar

(46)

gambar 2.13. peron gambar 2.14. pusat perbelanjaan

d. Bentuk bangunan

Bentukan massa pada bangunan stasiun ini merupakan persegi panjang, ini

dikarenakan bangunan ini berada dikawasan industri dan terletak didekat pelabuhan.

Dan atap bangunan didesain dengan bentuk jamur. Sehingga sangat berpengaruh

terhadap jalur kereta api dan peron yang berada didalamnya.

Gambar 2.15. bentuk bangunan

e. Tampilan bangunan

Bangunan ini memberikan kesan modern yang kokoh pada stasiun dengan

penggunaan material-material baja pada atap dan struktur beton pada kolom.

Bangunan ini merupakan tiga massaa bangunan yang utuh yang terdiri dari lima lantai.

Dimana bangunan untuk perlinatasan kereta api diapit dengan 2 menara kembar.

Bangunan perlinatasan kereta api ini dari luar terlihat sangat menarik dengan bentuk

persegi dengan atap yang melengkung membentuk jamur menabah ketertarikan

pengunjung pada bangunan ini. Dengan penggunaaan warna-warna yang natural pada

material bangunan (ekspose struktur). Sehingga membuat bangunan ini tidak

(47)

Exterior : eksterior bangunan stasiun ini memberi kesan modern dengan bentuk persegi dan penggunaan material seperti kaca , rangka baja dan beberapa

material lain yang digunakan. Bangunan ini juga terlihat ringan namun kokoh.

Interior : interior pada stasiun ini nampak sangat kokoh dengan bentang lebar dan banyaknya material baja dan kaca yang digunakan baik untuk rangka atap

dan dinding, maupun bagian struktural yang lain.

f. Sistem Struktur

Bangunan stasiun ini menggunakan sistem struktur rangka, hal ini dapat dilihat

pada bagian atap pada stasiun dan bagian dalam stasiun yang terdapat ruangan bebas

kolom. Dengan penggunaan struktur rangka (cangkang) ini akan memudahkan

penumpang dengan barangnya menuju kereta api, dan selain itu hal ini karena pada

lantai dua terdapat void yang luas sehingga pengunjung yang berada pada lantai dua

dapat melihat dengan leluasa ruang peron dan kereta api yang ada dibawahnya.

Gambar 2.16. interior

(48)

g. Sistem utilitas

 Menggunakan tangga untuk sarana transportasi vertikalnya

 Menggunakan pencahayaan buatan dan alami, pencahayaan buatan berasal dari lampu sedangkan pencahayaan alami berasal dari cahaya matahari yang masuk

melalui bukaan. Namun yang dominan menggunakan pencahayaan alami.

 Untuk penghawaan, pada bangunan ini lebih dominan menggunakan penghawaan buatan (AC).

2.1.4. Kesimpulan studi

a. Perbedaan antar studi kasus sejenis

Tabel 2.3. Perbedaan studi kasus

Keterangan Stasiun Pennsylvania Stasiun Central Banyak massa dan

gubahan massa bangunan

Massa tunggal dengan gubahan dan tampilan massa yang modern.

Massa banyak dengan memperhatikan tampilan dan gubahan massa yang ditonjolkan dengan konsep atau tema tertentu.

b. Persamaan studi kasus sejenis

 Klasifikasi stasiun

Kedua studi kasus ini memiliki klasifikasi yang sama Berdasarkan

sistem operasionalnya, yaitu Stasiun Besar yang pada umumnya berada di

kota-kota besar dan kota pelabuan. Dimana semua jenis kereta api dapat

berhenti di sini untuk itu diperlukan banyak rel-rel KA dengan peron -

peronnya.

 Fasilitas penumpang

Sama – sama memiliki ruang tunggu eksekutif, peron, hall, pusat

perbelanjaan, dan toilet.

 Sistem struktur

Menggunakan bentang lebar yang terbuat dari rangka baja pada atap,

sehingga terdapat ruangan bebas kolom. Sehingga memudahkan akses

(49)

 System utilitas

Kedua stasiun menggunakan transportasi vertical, dan didominasi dengan

penggunaan cahaya alami.

Dari hasil analisa diatas bisa disimpulkan bahwa baik dari tempat yang

skalanya kecil maupun yang berskala besar, keduanya memiliki visi misi atau

tujuan yang sama yaitu menghadirkan tempat yang dapat mewadahi kegiatan

penumpang kereta api eksekutif yang bertujuan untuk mengembangkan sebuah

bangunan stasiun dan ruang tunggu penumpang yang representatif. Dari tujuan

yang sama tersebut maka keduanya menghadirkan semua unsur yang mendukung

visi misi yang dijalankan, seperti dari segi fasilitas, kegiatan yang dilakukan, dan

suasana tampilan yang dihadirkan sama sesuai dengan ciri dan identitasnya untuk

mendukung tercapainya tujuan.

2.2. Tinjauan Khusus 2.2.1. Lingkup Pelayanan

1. Lingkup pelayanan dari stasiun ini lebih ditekankan pada wisatawan asing maupun

lokal yang ingin menikmati perjalanan dengan menggunakan kereta api eksekutif

dengan menikmati sarana dan prasarana didalam stasiun.

2. Skala pelayanan ini mencakup skala regional dan nasional.

3. Pemakai dari stasiun ini adalah :

a. Tamu

1. Tamu sebagai penumpang, yaitu melakukan aktivitas dengan menggunakan

fasilitas – fasilitas yang berada di dalam stasiun untuk sarana maupun prasarana

yang ada.

2. Tamu sebagai penjemput dan pengantar penumpang, yaitu yang menggunakan

fasilitas dan informasi yang terdapat pada stasiun untuk melakukan aktivitas.

b.Pengelola

Pengelola dalam perpustakaan yang terdiri dari staf – staf yang aktifitasnya

(50)

c.Karyawan service

Bagian service merupakan bagian yang karyawannya melakukan aktifitas

memenuhi kebutuhan dimana ruang lingkup tempat yang menjadi tanggung

jawabnya.

2.2.2. Aktivitas dan Kebutuhan Ruang 1. Fasilitas Pengelola

Tabel 2.4. Aktivitas dan Kebutuhan Ruang Pengelola

Obyek Aktifitas Kebutuhan ruang

Kepala Stasiun KA Memimpin dan mengkoordinasi seluruh kegiatan di wilayah stasiun.

- Ruang kerja - Ruang tamu

- Ruang Rapat Pimpinan - KM / WC

Wakil Kepala Stasiun Koordinator harian - R. kerja - R. Tamu Kepala Tata Usaha Mengepalai dan mengatur seluruh

administrasi stasiun

- R. kerja

- R. staff tata usaha Kepala

perbendaharaan (PBD)

Mengatur dan mengkoordinasi segala urusan keuangan stasiun

R. kerja

Kepala penjualan karcis KA

mengatur dan mengawasi masalah distribusi karcis dan keuangan dari hasil karcis

R. kerja

Petugas penerima setoran

Menerima setoran keuangan hasil penjualan karcis dan jasa pengiriman barang

R. kerja

Juru bayar Berkuasa mengeluarkan uang perusahaan guna keperluan kegiatan operasional stasiun

R. kerja

Pimpinan perjalanan KA (PPKA)

Memimpin & mengatur perjalanan KA baik yang tiba maupun yang berangkat termasuk pengamanan perjalanan KA

R. PPKA

Juru Rumah Sinyal Menyiapkan jalur- jalur beserta weselnya dalam lingkungan stasiun, mengatur sirkulasi KA didalam stasiun dg memperhatikan gerak langsiran

(51)

Kepala kantor kawat Menerima dan mengirim telegram baik yang bersifat dinas maupun umum serta memberi tahu kepada stasiun terdekat yang akan dilalui KA dari stasiunnya agar bersiap menerima KA tsb, begitu sebaliknya

- R. KKW - R. operator

Pengawas

emplacement (EB)

Mencatat & mengawasi KA yang masuk dan keluar stasiun

R. EB

Polisi khusus KA (POLSUSKA)

Mengawasi / menjaga keamanan & ketertiban stasiun baik penumpang & pengunjung maupun terhadap KA

- R. POLSUSKA - R. inrograsi Kondektur Kondektur, memeriksa karcis

penumpang di dalam KA dan mengatur serta mengawasi penumpang selama perjalanan berlangsung di dalamKA

R.kondektur

Masinis Masinis, menjalankan KA sampai tujuan

Ruang Masinis

Juru gerbang (PORTIR)

Mengatur dan memeriksa karcis

penumpang yang masuk maupun keluar

stasiun R. PORTIR Karyawan lapangan /

pekarya stasiun (PKST)

Membantu didalam kegiatan pekerjaan lapangan pada stasiun KA

R. PKST

Bagian penerimaan & pengiriman barang penumpang KA

Melayani jasa penerimaan / pengiriman baik brg hantaran maupun brg

gerobakan dalam KA

R. penerimaan barang

Bagian emplasement Mengatur tata letak : langsiran, parkir KA, pergerakan KA maupun masuk keluarnya KA

R. emplacement

Fasilitas umum

Pengelola Mengadakan rapat Ruang rapat

Pengelola Buang air kecil/besar Kamar mandi / wc

Pengelola Menyimpan segala keperluan

pribadi pengelola

Ruang loker pengelola

Pengelola Menyimpan arsip Ruang arsip

(52)

Pengelola Melakukan aktivitas membuat makanan dan minuman

Ruang pantry atau dapur

2. Fasilitas penumpang

Tabel 2.5. Aktivitas dan Kebutuhan Ruang Penumpang

Obyek Aktifitas Kebutuhan ruang

Pengunjung Sebagai area penerima penumpang KA, pengantar dan penjemput

R. hall / lobby

Penumpang Menunggu keberangkatan / kedatangan KA

R. tunggu eksekutif

Pengunjung Menampung turun / naiknya

penumpang KA dan pengantar baik itu keberangkatan / kedatangan

Peron / R. tunggu KA

Pengelola Pembelian tiket, membeli tiket perjalanan KA kepada petugas

Area antrian tiket KA

Penumpang Memberikan dan meminta informasi yang berhubungan dengan kegiatan stasiun yang mana ditujukan kepada para pengguna jasa angkut KA

R. informasi

Pengelola dan pengunjung

- buang air kecil / besar

- cuci tangan / muka

R. KM / WC

Juru parkir Mengatur parkir kendaraan para pengguna jasa KA / pengunjung stasiun KA

Area parker mobil / motor

3. Fasilitas penunjang

Tabel 2.6. Aktivitas dan Kebutuhan Ruang Penunjang

Obyek Aktifitas Kebutuhan ruang

Kantin / restoran Berdagang makanan dan minuman

(53)

Toko Berdagang aneka cinderamata dan kebutuhan para pengguna jasa angkut KA

R. toko

Kantor biro Memberikan jasa pelayanan lanjutan kepada penumpang KA baik itu jasa akomodasi lanjutan maupun penginapan

Kantor biro, perjalanan

berkelanjutan (Travel), penginapan

4. Fasilitas servis

Tabel 2.7. Aktivitas dan Kebutuhan Ruang servis

Obyek Aktifitas Kebutuhan ruang

Pengunjung,

karyawan/pengelola

Sholat dan wudhu Musholla dan tempat wudhu

Pengunjung,

karyawan/pengelola

BAB dan BAK Toilet

Karyawan, staff Absen Tempat absen

Karyawan, staff Mengganti baju Locker, istirahat dan ruang ganti

Teknisi Memeriksa dan memperbaiki Ruang mesin AC, ruang panil, ruang treatment, ruang pompa, ruang genset, gardu dan panel listrik, ruang tandon

Satpam Menjaga dan mengawasi keamanan

Ruang satpam

2. 2. 3. Perhitungan Luas Ruang

Perhitungan luas ruang menjelaskan secara detail tentang jumlah luasan

yang diperlukan dari masing-masing kebutuhan ruang, agar dapat di asumsikan

luasan total yang dibutuhkan untuk perancangan pada lahan yang telah di pilih.

(54)

Tabel 2.8. Perhitungan luas ruang Nama

Ruang

Fasilitas Kapasitas Standart (m2)

Fasilitas pengelola

Ruang Kepala Stasiun

(55)

Wastafel 1 0.35 m²/wastafel

1 x 0.35 - 0.35

Jumlah 1 ruang

Luas total 2.35

Luas total Ruang kepala stasiun 64.83

Sirkulasi ruang 30 % 19.44

TOTAL 84.27

Nama Ruang

Fasilitas Kapasitas Standart (m2)

Ruang Wakil Kepala Stasiun

Set Meja

Luas total Ruang wakil kepala stasiun 28.63

Sirkulasi ruang 30 % 8.58

(56)

Ruang tata usaha

TOTAL 78.58

Ruang Kepala Perbendaharaan

(57)

pengguna

TOTAL 114.11 Ruang Staff

Set meja

TOTAL 126.86 Ruang PPKA

(58)

Lemari Ruang Juru Rumah Sinyal

Set Meja

Luas total rumah sinyal 55.23

Sirkulasi ruang 30 % 16.5

TOTAL 71.73 Ruang bagian hantar kawat

(59)

Lemari

TOTAL 113.76 Ruang bagian pengawas emplasemen

Set meja

Ruang Masinis Dan Kondektur KA

(60)

Nama Ruang

Fasilitas Kapasitas Standart (m2)

Fasilitas Pelayanan Umum

Hall

Ruang hall / lobby

Luas total 1117.51

Ruang Tunggu Eksekutif

Kursi 500 0.55 m²/ kursi 500 x 0.55 - 275

Sirkulasi ruang 30 % 262.74

TOTAL 1138.55

Nama Ruang

Fasilitas Kapasitas Standart (m2)

Fasilitas Pelayanan Umum

Peron

Kursi 100 0.55 m²/ kursi 100 x 0.55 - 55

Peron

(61)

(NAD) Pengantar /

penjemput

(62)

- Karyawan (NAD)

Toilet pria

Luas total 80.4

Nama Ruang

Fasilitas Kapasitas Standart (m2)

Fasilitas Pelayanan Penunjang

Restoran

Luas restoran 102.76

Jumlah restoran 2

TOTAL 205.52 Toko / kios sewa

(63)

kios (SB)

Fasilitas Kapasitas Standart (m2)

(64)

Sepeda motor

100 motor Pengunjung

=600, 50% dari

pengunjung, 1 motor = 1-2 orang, 1motor =2.5 m²

pengunjung, 1 bus= 30-50orang, 1bus =20m²

Fasilitas pengelola 3265

Fasilitas pelayanan umum 2980.19

Fasilitas pelayanan penunjang 1455.72

Sirkulasi Ruang Luar 30% 2310

TOTAL 10020

KETERANGAN :

NAD : Neufert Architect’s Data

(65)

BAB III

TINJAUAN LOKASI PERANCANGAN

3.1. Latar Belakang Pemilihan Lokasi

Site yang dipilih untuk bangunan stasiun ini terletak di kabupaten Gresik, alasan

dari pemilihan lahan atau site pada daerah Cerme ini adalah merupakan rencana

Pemerintah Propinsi Jawa Timur (Sumber : Mass Rapit Transportation Project - Page 6 -

SkyscraperCity.com), juga tempat yang dilalui jalur baja atau rail Kereta Api dan segi

peruntukan lahan, serta dikarenakan lokasi disekitar site berada di perbatasan

kabupaten Lamongan yang sama-sama belum memiliki Stasiun Kereta Api Eksekutif.

Dan memiliki beberapa faktor yang menjadi pertimbangan penetapan pemilihan

lokasi :

1.Merupakan pusat pengangkutan penumpang kereta api jalur utara.

2.Luas lahan

Dari asumsi perhitungan luasan ruang pada bab sebelumnya didapatkan

hasil total luasan yang cukup besar untuk pendirian proyek tersebut. Maka disini

perlu dicari site yang memiliki luasan yang mampu menampung kebutuhan luasan

proyek.

3.Nilai jual lahan

Mengingat bangunan ini nantinya berdiri di bawah badan pemerintahan kota

Surabaya ataupun swasta yang untuk kemudian berlangsung atas dukungan dan

kerjasama dengan yayasan-yayasan sosial, maka bangunan ini bukanlah bangunan

yang dibangun dengan persediaan dana yang tinggi. Sehingga harga tanah lokasi

perlu diperhitungkan dengan keefisienan ekonominya. Yaitu dengan memilih

lokasi yang bukan merupakan lahan dengan nilai jual tinggi.

4.Terjangkau jaringan listrik

5.Tersedianya sumber air bersih

(66)

3.2. Penetapan Lokasi

Berdasarkan pertimbangan dan pemenuhan tuntutan dari beberapa faktor di atas

maka lokasi yang dipilih untuk obyek rancangan ini bertempat di jalan raya crème

lor, kecamatan Cerme kawasan Gresik Selatan.

Pertimbangan pemilihan lokasi di Jl. Cerme Lor adalah :

1. Lokasi strategis dan mudah dijangkau.

2. Mengacu pada stasiun Cerme dan stasiun Duduk Sampeyan.

3. Akses yang mendukung yaitu 3 akses dari Jl. Moro, Jl. Raya Dungus dan Jl. Raya

Cerme Kidul, sedangkan jalur utamanya berada di jalan Cerme Lor.

4. Lahan yang memang direncanakan oleh pemerintah propinsi Jawa Timur.

3.3. Fisik Lokasi

Lokasi perencanaan ini berada di merupakan bagian Kecamatan Cerme,

Kabupaten Gresik Propinsi Jawa Timur. dan merupakan sebuah lahan kosong yang

berada di Kelurahan Cerme Lor Lahan memiliki luas ± 1.5 hectar.

Persyaratan lokasi sesuai dengan rujukan RTRK Gresik Selatan, Kecamatan

Cerme, Kelurahan Cerme Lor, antara lain :

1)KDB : 50 %

2)KLB : 120 %

3)Garis Sempadan Bangunan (sub jalan) : 3-5 m

Gambar 3.1. Peta site lokasi proyek di Jl 

(67)

4)Garis Sempadan Bangunan (jalan utama) : 7.5 m

A. Batas Lokasi

Batas sebelah Utara : Permukiman Penduduk Kelurahan Cerme Lor

Batas sebelah Barat : Permukiman Penduduk Kelurahan Cerme Lor

Batas sebelah Selatan : Permukiman Penduduk Kelurahan Ngabetan

Batas sebelah Timur : Jalan Raya Cerme Lor

B. Luas Dan Lokasi Site

Luas lahan yang tersedia adalah ± 1.5 hektar atau 15000 m2. Sedangkan

berdasarkan asumsi perhitungan kebutuhan didapatkan luasan ± 7.500 m2 pada proyek

Stasiun Kereta Api Eksekutif Cerme ini. Maka penggunaan lahan ± 1.5 hektar pada lahan

untuk kebutuhan proyek dengan perincian ± 50 % lahan untuk kebutuhan ruang dan

sisanya ± 50 % hektar untuk pengolahan lansekap dan fasilitas penunjang lainnya. Dengan

persyaratan KDB 50 %.

C. Geologi dan Jenis Tanah

Wilayah Kecamatan Cerme merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 0 –

25 meter diatas permukaan air laut dan dilalui oleh aliran air dari sungai anak kali lamong.

Pada wilayah perencanaan tidak ditemukan kandungan tambang yang mempunyai nilai

ekonomis.

D. Topografi

Daerah perencanaa merupakan sebuah wilayah dengan karakteristik dataran rendah

yang sebagian besar lahan dipergunakan sebagai sawah dan tambak. Lokasi perencaan ini

mempunyai ketinggian rata – rata +4 meter terhadap permukaan air laut.

E. Klimatologi

Kondisi klimatologi pada lokasi perencanaan secara makro tidak berbeda jauh

dengan kondisi Kabupaten Gresik pada umumnya, maka data-data mengenai klimatologi

Gambar

Tabel 2.2. Perbandingan Beberapa Standart Ukuran Ruang
Gambar 2.2.eksterior lama
gambar 2.6. pusat perbelanjaan
Gambar 2.7. atap bangunan
+7

Referensi

Dokumen terkait

DEA KARINA PUTRI | I0212030 xii Pengembangan Stasiun Kereta Api Pemalang di Kabupaten Pemalang..

EVALUASI KINERJA STASIUN KERETA API BERDASARKAN STANDAR PELYANAN MINIMAL DI STASIUN ( STUDI KASUS STASIUN PRUJAKAN CIREBON, JAWA BARAT ), Raden Aji Laksono, NPM

1.7 Pendekatan Rancangan Untuk keperluan perancangan stasiun kereta api tersebut, dipilih Pendekatan Structure As Architecture karena kebutuhan dari sebuah objek perancangan

Rute F (jalur II/jalur raya) merupakan rute KA yang berasal dari Stasiun Nagreg menuju Stasiun Haurpugur, difungsikan bagi perjalanan KA penumpang tanpa pemberhentian

Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa studi kelayakan penggunaan atap sel surya sebagai sumber energi listrik di Stasiun Kereta Api Jember

Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa studi kelayakan penggunaan atap sel surya sebagai sumber energi listrik di Stasiun Kereta Api Jember menggunakan sistem

Museum tersebut dirancang menggunakan pendekatan prinsip arsitektur kontemporer dengan menampilkan bangunan yang kokoh berdiri diatas lahan berkontur yang memiliki atap bentang lebar,

Evaluasi Perencanaan Jembatan Kereta Api Rangka Baja Double Track Tipe Welded Through Truss Bentang 50 meter.. Program Studi Teknik Sipil