• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PENATAAN PARKIR KOTA SURAKARTA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "IMPLEMENTASI PENATAAN PARKIR KOTA SURAKARTA."

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id kembali melakukan kegiatan pengumpulan data yang sudah terfokus untuk

mencari pendukung simpulan yang ada juga bagi pendalaman data (H.B.

Sutopo, 2002 : 96).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam rangka untuk mengendalikan jumlah kendaraan dan meningkatkan

kesadaran masyarakat untuk lebih menggunakan angkutan masal Pemerintah Kota

(2)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id mengurangi volume kendaraan yang bertujuan untuk mengurai kemacetan yang

terjadi di Kota Surakarta. Banyaknya tempat-tempat publik atau pusat-pusat kegiatan

yang mengakibatkan terjadinya kegiatan yang terus-menerus berakibat pada

banyaknya ruas jalan yang digunakan menjadi lahan parkir karena banyak tempat

publik atau pusat-pusat kegiatan yang tidak memiliki lahan parkir sendiri. Bila hal ini

dibiarkan begitu saja akan mengakibatkan berkurangnya potensi jalan yang berimbas

pada kemacetan arus lalu lintas yang dapat menyebabkan kerugian untuk semua

pihak.

Penataan parkir Kota Surakarta mempunyai tujuan antara lain salah satu

bagian dari manajemen dan rekayasa lalu lintas dalam rangka mewujudkan lalu lintas

yang aman, nyaman, tertib, dan selamat; memberi kontribusi terhadap pendapatan

asli daerah (PAD) Kota Surakarta; memberikan pelayanan kepada masyarakat di

Kota Surakarta pengguna jasa parkir; membuka lahan pekerjaan bagi masyarakat

Kota Surakarta dan sekitarnya; dan pengendalian penggunaan mobil pribadi untuk

mengurangi kendaraan yang parkir di badan jalan juga meningkatkan potensi dari

penggunaan angkutan masal, berkaitan untuk mengatasi kemacetan di pusat-pusat

kegiatan.sedangkan sasaran dari penataan parkir ditujukan kepada masyarakat dan

para juru parkir.

Penataan parkir Kota Surakarta mulai dilaksanakan pada awal tahun 2012

hingga sekarang. Penataan parkir Kota Surakarta dilaksanakan oleh Pemerintah Kota

Surakarta melalui Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi dibantu oleh Unit

Pelayanan Teknis Daerah Perparkiran, juga bekerjasama dengan pihak Kepolisian

(3)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Surakarta, Pengadilan Negeri Surakarta, Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surakarta,

dan Asosiasi Parkir Kota Surakarta (ASPARTA). adanya pelaksanaan penataan

parkir di Kota Surakarta, mulai tanggal 1 Januari 2012 diberlakukan 3 zona untuk

membagi tingkatan yang diberlakukan untuk kegiatan parkir di ruas jalan atau badan

jalan. Zona-zona tersebut adalah zona C untuk 1 ruas jalan, zona D untuk 17 ruas

jalan, dan zona E untuk jalan yang kegiatan parkirnya sangat kecil.

Adapun penjelasan pembagian jalan sesuai zona-zona yang diberlakukan di

Kota Surakarta dalam penataan parkir dapat dilihat berikut ini:

Tabel IV.1 Pembagian Zona-zona Parkir

ZONA NAMA JALAN LOKASI PADA

PETA Garis Biru

ZONA C Jl. Slamet Riyadi 1

Garis Merah ZONA D Jl. Urip Sumoharjo 2

Jl.Kapten Mulyadi 3

Jl. Kom. Yos Sudarso 4

Jl. Dr. Rajiman 5

Jl. Veteran 6

Jl. Gatot Subroto 7

Jl. Kapten Tendean 8

Jl. Sutan Syahrir 9

Jl. RM. Said 10

Jl. Dr. Muwardi 11

Jl. S. Parman 12

Jl. RE. Martadinata 13

Jl. Brigjen Sudiarto 14

Jl. Gajah Mada 15

Jl. Honggowongso 16

Jl. Suryo Pranoto 17

Jl. Sutowijoyo 18

ZONA E

Semua ruas jalan di tepi jalan umum, selain yang termasuk di Zona C dan Zona D

Garis Abu-abu

(4)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Masyarakat di Kota Surakarta terkadang belum mengenal tentang

nama-nama jalan yang ada di Kota Surakarta, mereka cenderung

mengenal daerah jalan tersebut dengan julukan nama daerahnya. Oleh

karena itu dapat kita lihat nama-nama jalan di atas dengan melihat peta

Kota Surakarta yang sudah dijelaskan dengan nomor-nomor yang sesua

dengan nama jalan-jalan di atas, berikut peta jalan-jalan di Kota

Surakarta sesuai dengan zona Parkir:

Gambar IV.1 Peta Pembagian Zona Parkir

(Sumber : www.dishub_surakarta.com)

Pembagian zona parkir yang diberlakukan mempunyai tujuan

untuk lebih menata perparkiran di Kota Surakarta. Penzoningan yang diberlakukan telah didasarkan pada berbagai perincian dan klasifikasi

dari potensi ruas jalan, untuk Zona C lebih diutamakan untuk ruas jalan

protokol yaitu jalan yang ditetapkan sebagai jalan utama pada suatu

(5)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id merupakan zona yang diperuntukan untuk jalan-jalan yang bukan

menjadi jalan protokol di Kota Surakarta. Zona E merupakan zona yang

diperuntukkan untuk ruas jalan yang berada di luar ruas jalan yang

disebutkan di Zona C dan Zona D.

Adanya pelaksanaan penataan parkir dilandaskan pada payung

hukum Perda Nomor 9 tahun 2011, meskipun didalamnya hanya

terdapat ketentuan mengenai retribusi parkir kota Surakarta dan memuat

konsep penataan, karena ketentuan itulah kemudian walikota Surakarta

merumuskan Peraturan Walikota Surakarta tentang Zona-zona Parkir di

Tepi Jalan Umum. Setelah peraturan-peraturan tersebut diberlakukan,

pihak Dinas Perhubungan selaku dinas yang menaungi masalah

perparkiran kemudian merumuskan SOP yang di dalamnya memuat

semua ketentuan yang berhubungan dengan Perparkiran Kota Surakarta,

mulai dari prosedur tentang pengawasan, prosedur tentang pengelola

parkir, dan juga prosedur yang berkaitan dengan juru parkir.

Konsep Penataan Parkir Kota Surakarta ini tidak hanya bertumpu

pada pembagian tarif parkir dan potensi jalan ke dalam zona-zona saja,

namun juga tentang diperjelasnya tempat-tempat yang diperuntukkan

sebagai lahan parkir dengan garis-garis batas, rambu-rambu yang jelas.

Penataan parkir Kota Surakarta juga memperbaiki tempat-tempat parkir

di pusat-pusat perbelanjaan baik modern maupun tradisional yang

berlokasi di pinggir jalan yang berpotensi mengakibatkan kemacetan

(6)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id lokasi parkir tersebut. Di samping menata lokasi-lokasi parkir dan

tarif-tarif parkir, penataan parkir juga mempertegas para juru parkir supaya

menjadi juru parkir yang legal dengan memberikan prosedur

persyaratan yang tertulis dalam SOP

Penelitian ini berusaha untuk melihat implementasi penataan parkir Kota

Surakarta. Pembahasan mengenai implementasi ini dibagi dalam dua bagian yaitu :

A. Proses Implementasi Penataan Parkir Kota Surakarta.

B. Hambatan-hambatan yang ditemukan selama proses implementasi Penataan

Parkir Kota Surakarta dilihat berdasarkan indikator standar dan sasaran

kebijakan, sumberdaya, sikap pelaksana, karakteristik agen pelaksana,

kepatuhan dan daya tanggap kelompok sasaran.

Secara lebih jelas mengenai pembahasan tentang implementasi penataan

parkir Kota Surakarta dapat dilihat sebagai berikut :

A. Proses Implementasi Penataan Parkir Kota Surakarta

Proses implementasi merupakan tahapan yang sangat penting dalam

proses kebijakan, karena itulah implementasi merupakan hal yang paling

berat. Implementasi mencakup banyak kegiatan yang dilakukan oleh aparat

pelaksana untuk dapat membuat program berjalan. Demikian pula dalam

pelaksanaan Penataan Parkir Kota Surakarta juga memiliki berbagai tahapan.

Sebelum dilakukannya implementasi penataan parkir, terdapat beberapa

tahapan yang dilakukan oleh Unit Pelayanan Teknis Daerah Perparkiran yaitu

Tahapan Interpretasi (sosialisasi), Tahapan Pengorganisasian, Tahapan

(7)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id dahulu diadakan usulan penganggaran yang kemudian dilanjutkan dengan

kegiatan-kegiatan dalam setiap tahapan. Kegiatan yang dilakukan pada setiap

tahapan adalah sebagai berikut:

1. Tahapan Interpretasi

Pada Tahapan ini Dinas Perhubungan Kota Surakarta melakukan

sosialisasi Perda Kota Surakarta Nomor 9 tahun 2011 dan Peraturan

Walikota Surakarta tentang Zona Parkir di Tepi Jalan Umum sebagai

pedoman pelaksanaan penataan parkir kepada semua anggota UPTD

Perparkiran sebagai aparatur pelaksana dan dinas-dinas serta

pihak-pihak yang membantu proses pelaksanaan penataan parkir. Tidak hanya

untuk para paratur pelaksana saja tetapi sosialisasi juga diberikan

kepada juru parkir, meskipun para juru parkir merupakan target sasaran

terkait dengan kenaikan tarif parkir yang berpengaruh kepada

penghasilan mereka, namun pada kenyataannya mereka yang lebih

banyak melakukan kegiatan parkir dilapangan, dan mereka wajib

mengetahui mengenai penataan parkir secara lebih jelas dan terperinci.

Sosialisasi yang dilakukan adalah sosialisasi mengenai Zona Parkir,

dalam hal ini zona parkir terdiri dari: pembagian zona dan tarif

parkirnya (terdapat 3 zona parkir yaitu zona C, D, dan E) penentuan

zona dapat dilihat dari potensi jalan yang ada, kejelasan jalan-jalan

yang termasuk dalam zona C, atau zona D, atau zona E, penjelasan

(8)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Dinas perhubungan selaku kepanjangan tangan dari pemerintah

Kota Surakarta dalam melakukan kebijakan pemerintah, dalam

mensosialisasikan penataan parkir ini dengan cara mengadakan

pembinaan dan pembekalan teknis untuk UPTD Perparkiran, pengelola

dan juru parkir. Hal ini dijelaskan Bapak Henry selaku Kepala Sub

Bagian Tata Usaha UPTD Perparkiran Kota Serakarta berikut ini:

“ jadi begini mbak, sebelum kita melaksanakan kegiatan khusunya penataan parkir kita memang diberikan sosialisasi mengenai penataan parkir ini. Salah satunya dengan diadakannya kegiatan seperti seminar-seminar pada umumnya. Isi kegiatan tersebut ya seputar pelatihan dan pembekalan teknis gitu, untuk memberikan kita pengetahuan mengenai penataan parkir ini” (Wawancara 28 Desember 2012)

Hal yang sama juga dijelaskan oleh bapak Edi selaku ketua

Asosiasi Parkir Kota Surakarta:

”Sekitar akhir tahun 2011 kita diundang oleh dinas untuk mendapatkan penjelasan mengenai penataan parkir, tidak hanya kita para pengelola saja, tetapi juga dengan sebagian juru parkir mbak. Bentuknya seperti diklat gitu mbak, tapi itu semua isinya tentang sosialisasi perda dan perwali yang berkaitan dengan penataan parkir” (Wawancara 15 Januari 2013)

Pelatihan dan pembekelan teknis yang diadakan oleh dinas

bertujuan agar para pelaksana lebih mengetahui tentang adanya

penataan parkir tidak hanya melalui bentuk peraturan tertulis saja,

namun mereka juga harus diberikan kegiatan-kegiatan dengan

mempertemukan berbagai kalangan di suatu tempat. Hal ini

dimaksudkan suapaya mereka benar-benar paham tentang penataan

parkir itu. Berikut merupakan pembekalan dan pelatihan yang

(9)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Gambar IV.2

Pelatihan dan pembekalan Teknis Perparkiran

(Sumber: UPTD Perparkiran Kota Surakarta)

Disamping diadakannya pelatihan dan pembekalan teknis oleh

Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika bersama UPTD

Perparkiran, para pengelola parkir dan juru parkir juga mendapatkan

pembinaan teknis dari Pemerintah Kota Surakarta sebagai pusat dari

pelaksanaan penataan parkir Kota Surakarta. berikut merupakan gambar

dari pembinaan teknis yang dilakukan oleh wakil walikota Surakarta

(10)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Gambar IV.3

Pembinaan Teknis Pengelola dan Juru Parkir

(Sumber: UPTD Perparkiran Kota Surakarta)

Tarif parkir juga merupakan bagian dari pembagian zona yang

termasuk dalam sosialisasi yang diadakan oleh dinas. Pemberlakuan

tarif parkir di tepi jalan umum juga disesuaikan dengan jenis kendaraan

yang digunakan. Hal ini tujuannya supaya masyarakat pengguna jasa

parkir bisa ikut berpartisipasi dalam keberhasilan pelaksanaan penataan

parkir. Ketentuan yang diberlakukan tidak hanya pembagian zona saja,

tetapi juga mengenai tarif progresif ketentuan tentang lama waktu

penggunaan jasa parkir oleh konsumen pengguna jasa parkir. Adapun

(11)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Tabel IV.2

Tarif Parkir di Tepi Jalan Umum

ZONA JENIS KENDARAAN TARIF

Zona C Sepeda Rp. 500,-Andong/Dokar/Becak Rp. 500,-Sepeda Motor Rp. 2.000,-Mobil pnp/Taxi/Pick up Rp. 3.000,-Bus/Truk Sedang Rp. 5.000,-Bus/Truk Besar Rp. 7.000,-Zona D Sepeda Rp. 500,-Andong/Dokar/Becak Rp. 500,-Sepeda Motor Rp. 1.500,-Mobil pnp/Taxi/Pick up Rp. 2.000,-Bus/Truk Sedang Rp. 3.500,-Bus/Truk Besar Rp. 5.500,-Zona E Sepeda Rp. 500,-Andong/Dokar/Becak Rp. 500,-Sepeda Motor Rp. 1.000,-Mobil pnp/Taxi/Pick up Rp. 1.500,-Bus/Truk Sedang Rp. 3.000,-Bus/Truk Besar Rp. 4.000,-(Sumber : www.dishub_surakarta.com)

Keterangan:

a. Dari tabel di atas dapat dijelaskan tarif-tarif yang ditentukan

merupakan tarif parkir per jam, dalam ketentuan ini

maksimal penggunaan jasa parkir hanya 1 jam. Jadi apabila

para pengguna parkir menggunakan jasa parkir lebih dari

satu jam dan kelebihan waktunya kurang dari 1 jam maka

tarif parkir yang dikenakan hanya dihitung 1 jam, namun

apabila kelebihan waktunya 1 jam makan akan dikenakan

(12)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id b. Khusus untuk sekolah, tempat ibadah, rumah sakit (Rumah

Sakit Umum Daerah, Puskemas) dan semua yang termasuk

tempat-tempat sosial tidak dikenakan tarif progresif, tetapi

untuk para penjemput apabila menggunakan jasa parkir

lebih dari ketentuan yang dijelaskan di atas maka

dikenakan tarif progresif.

c. Sebelumnya zona yang diberlakukan adalah Zona A sampai

E, namun mulai tahun 2012 zona parkir di Kota Surakarta

dimulai dari Zona C, D dan E

Ketentuan tentang adanya zona parkir ataupun tentang tarif parkir

sesuai dengan zona parkir tidak hanya untuk tempat parkir di tepi jalan

umum saja, tetapi juga di tempat parkir yang ditunjuk sebagai tempat

khusus parkir. Pemberlakuan ketentuan tersebut dapat kita lihat seperti

yang dijelaskan di bawah ini:

Tabel IV.3

Tarif Parkir di Tempat Khusus Parkir

JENIS TEMPAT JENIS KENDARAAN TARIF

Pelataran Sepeda Rp. 500,-Andong/Dokar/Becak Rp. 500,-Sepeda Motor Rp. 1.000,-Mobil pnp/Taxi/Pick up Rp. 2.000,-Bus/Truk Sedang Rp. 4.000,-Bus/Truk Besar Rp.

8.000,-Taman Sepeda Rp.

500,-Andong/Dokar/Becak Rp. 500,-Sepeda Motor Rp. 1.000,-Mobil pnp/Taxi/Pick up Rp. 2.000,-Bus/Truk Sedang Rp. 4.000,-Bus/Truk Besar Rp.

(13)

500,-perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Sepeda Motor Rp. 1.000,-Mobil pnp/Taxi/Pick up Rp. 2.000,-Bus/Truk Sedang Rp. (Sumber : www.dishub_surakarta.com)

Keterangan:

a. Dari tabel di atas dapat dijelaskan tarif-tarif yang

ditentukan merupakan tarif parkir per jam, dalam ketentuan

ini maksimal penggunaan jasa parkir hanya 1 jam. Jadi

apabila para pengguna parkir menggunakan jasa parkir lebih

dari satu jam dan kelebihan waktunya kurang dari 1 jam

maka tarif parkir yang dikenakan hanya dihitung 1 jam,

namun apabila kelebihan waktunya 1 jam makan akan

dikenakan tarif tambahan sebesar 100% dari tarif yang

diberlakukan.

b. Untuk terminal dan pasar tradisional penggunaan satu kali

jasa parkir maksimal 12 jam, apabila penggunaan jasa

parkir lebih dari 12 jam dan kelebihan waktunya 12 jam

maka akan dikenakan tarif tambahan sebesar 100% dari

besarnya tarif parkir yang diberlakukan. Untuk bongkar

muat di pasar dikenakan tarif progresif tiap 2 jam.

c. Khusus untuk : anak sekolah, tempat ibadah, karyawan

toko, pedagang pasar, pasaien rumah sakit tidak dikenakan

tarif progresif.

(14)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Dalam melaksanakan penataan parkir dinas memang tidak

melaksanakannya sendiri, karena melihat keterbatasan jumlah anggota

UPTD Perparkiran sendiri yang hanya beranggotakan 38 orang.

Pemerintah kota Surakarta melalui Dinas Perhubungan Komunikasi

dan Informatika mengerahkan semua aparatur yang berada di UPTD

Perparkiran Kota Surakarta dan juga bekerja sama pihak Kepolisian

Resort Kota Surakarta, Detasemen Polisi Militer IV/4 Surakarta,

Kejaksaan Negeri Surakarta, Pengadilan Negeri Surakarta, Satuan

Polisi Pamong Praja Kota Surakarta, dan Asosiasi Parkir Kota

Surakarta (ASPARTA) untuk dapat melaksanakan penataan parkir

dengan maksimal dan sesuai dengan peraturan yang diberlakukan.

Para aparat pelaksana gabungan dan aparat pelaksana dari UPTD

Perparkiran diberikan pemahaman tentang adanya penataan parkir di

Kota Surakarta sebelum melaksanaan penataan parkir tersebut.

Mereka diberi bekal tentang pelaksanaan penataan parkir, bagaimana

melakukan sosialisasai yang baik supaya para target sasaran penataan

parkir dapat berpartisipasi aktif dalam keberhasilan penataan parkir.

Berikut penjelasan Bapak Henry selaku Kepala Tata Usaha UPTD

Perparkiran Kota Surakarta:

(15)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id parkir sampai mereka paham benar, juga kita lakukan pengorganisasian pembagian tugas pelaksanaan penataan parkir. Masalahnya ini kan peraturan yang tujuannya untuk semua pihak, jadi ya kalau aparat pelaksananya sendiri kurang paham bagaimana penataan ini mau berhasil.” (Wawancara 28 Desember 2012)

Begitu juga dengan pendapat Bapak Edi selaku ketua ASPARTA:

“Dulu sebelum melaksanakan penataan ini kita memang diorganisir terlebih dahulu, tidak hanya dari pihak kami ASPARTA dan UPTD Perparkiran saja, tetapi pihak dinas juga meminta bantuan dan bekerjasama dari dinas-dinas lain seperti kepolisian,Denpom,pihak kejaksaan dan pengadilan serta satpol PP, kita benar-benar dibekali pemahaman tentang penataan supaya pada saat dilapangan kita semua dapat menjalankan penataan dengan baik” (Wawancara 15 Januari 2013)

Dalam pengorganisasian ini, meskipun Dinas Perhubungan dan

UPTD Perparkiran kota Surakarta melakukan kerjasama dengan

berbagai dinas dan badan, tetapi dalam melaksanakan penataan parkir

khususnya di lapangan dilakukan pada saat mereka sudah melakukan

pekerjaan administratif mereka di kantor, hal ini harus dilaksanakan

secara seimbang. Harapan dari semua pihak, kewajiban dan tanggung

jawab merelka di bidang masing-masing tidak akan terganggu

meskipun mereka juga membantu kerja dari dinas lain, karena pada

dasarnya dinas-dinas dan badan yang bekerjasama dalam penataan

parkir saling berkaitan satu sama lain.

3. Tahapan Aplikasi

Pada tahapan aplikasi atau pelaksanaan pihak UPTD Perparkiran

lebih menekankan prosedur yang ada dalam SK SOP yang dibuat untuk

(16)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id yang sudah dijelaskan di atas, SK SOP ini memuat ketentuan-ketentuan

procedural yang juga sangat mendukung keberhasilan pelaksanaan

penataan parkir. Standar Operasional Prosedur ini dibuat supaya dalam

pelaksanaan penataan parkir berjalan secara sistematis, sehingga dapat

dilaksanakan sesuai dengan tujuan utama dari penataan parkir Kota

Surakarta.

SK SOP Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika

tersebut mencakup antara lain sebagai berikut:

a. Prosedur Perijinan Pengusahaan Parkir melalui mekanisme

penunjukan.

b. Persyaratan Perijinan Pengusahaan Parkir melalui

mekanisme penunjukan.

c. Prosedur Penerbitan Kartu Tanda Anggota Petugas Parkir

Kota Surakarta.

d. Persyaratan memperoleh Kartu Tanda Anggota Petugas

Parkir Kota Surakarta.

e. Prosedur Pengawasan, Penertiban dan Pengendalian

Lapangan.

f. Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan

ketentuan bahwa apabila dikemudian hari terdapat

kekeliruan dalam peraturan ini akan diadakan perubahan

(17)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Adanya SOP tersebut diharapkan semua pelaksanaan yang berkaitan

dengan perparkiran bisa berjalan secara sistematis. Hal ini dmaksudkan untuk

menekan terjadinya pelanggaran yang dilakukan dalam praktek penataan

parkir. Para pengelola parkir sebelum melakukan kegiatan parkir haruslah

melengkapi prosedur yang diberlakukan oleh dinas yang bersangkutan,

karena kegiatan parkir sendiri termasuk dari kegiatan yang berdampak pada

perkembangan dari suatu daerah dalam hal ini khususnya Kota Surakarta.

Oleh karena itu kegiatan parkir tidak bisa sembarangan dilaksanakan,

sebelumnya para pengelola harus mematuhi ketentuan yang ada. Adapun

ketentuan tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel IV.4

Prosedur Perijinan Pengusaha Parkir melalui mekanisme penunjukan

Alur pelaksanaan :

a. Pemohon yakni pengelola parkir melaksanakan pendaftaran

dengan memasukkan surat permohonan dan berkas sesuai

dengan persyaratan administrasi. PEMOHON

(18)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id b. Setelah memenuhi persyaratan, kemudian dilaksanakan

pemeriksaan lapangan untuk melihat lokasi apakah sudah

memenuhi syarat sebagai fasilitas parkir, penentuan batas

tempat parkir serta potensinya.

c. Hasil dari Pemeriksaan lapangan adalah sebuah Berita

Acara Pemeriksaan Lapangan.

1) DISETUJUI Apabila fasilitas parkir memenuhi

syarat teknis dan tidak ada permasalahan di lapangan.

2) TIDAK DISETUJUI Apabila fasilitas parkir tidak

memenuhi syarat teknis dan/atau terdapat potensi

permasalahan dilapangan. Apabila tidak disetujui

maka berkas-berkas administrasi akan dikembalikan.

d. Dengan telah disetujuinya pemeriksaan lapangan yang

dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Lapangan,

maka langkah selanjutnya adalah dilaksanakan perhitungan

retribusi yang harus disetor ke Kas Daerah serta penentuan

batas-batas lokasi parkirnya;

e. Langkah selanjutnya adalah dengan menerbitkan Surat

Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD);

f. Pemohon wajib membayar jaminan retribusi sesuai dengan

(19)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id g. Setelah pemohon membayar jaminan retribusi kemudian ijin

pengusahaan tempat parkir diproses mulai dari pencetakan

dokumen sampai penandatanganan;

h. Ijin Pengusahaan Tempat Parkir diberikan kepada

Pemohon.

Dalam melaksanakan permohonan untuk mengelola sebuah

tempat parkir, para pengelola harus melengkapi beberapa dokumen

yang digunakan supaya dipercaya untuk mengelola tempat parkir

tersebut. Oleh karena pelaksanaan penataan parkir harus dilaksanakan

secara sistematis oleh para pengelola dan para pengelola harus

bertanggung jawab kepada dinas terkait, maka identitas mereka harus

jelas. Persyaratan administrasi Perijinan Pengusahaan Parkir melalui

mekanisme penunjukan adalah sebagai berikut:

a. Fotocopy KTP pemohon;

b. Fotocopy Akte Pendirian (apabila berbentuk badan usaha);

c. Surat Ijin Pengusahaan Parkir tahun sebelumnya disertai

bukti lunas pembayaran (apabila perpanjangan);

d. Surat pernyataan kesanggupan bermaterai :

1) Sanggup membayar jaminan

2) Sanggup mentaati peraturan

e. Daftar petugas parkir

(20)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id g. Fotocopy SKCK;

h. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak).

Perparkiran di Kota Surakarta tidak sepenuhnya berada di bawah binaan

UPTD Perparkiran secara langsung, tetapi UPTD Perparkiran juga bekerja

sama dengan para pengelola parkir. Oleh karena itu setelah para pengelola

parkir melengkapi prosedur perijinan dan disetujui oleh dinas. Pengelola

parkir membuka lowongan untuk para juru parkir, mereka merekruit para juru parkir untuk dapat melaksanakan kegiatan perparkiran. Meskipun kegiatan

parkir tidak menuntut tingakatan pendidikan, tetapi tidak sembarangan orang

bisa melakukan kegiatan parkir sendiri tanpa kontrol. Para petugas atau juru

parkir harus menataati ketentuan yang berlaku seperti harus memiliki Kartu

Tanda Anggota Parkir Kota Surakarta. adapun prosedur penerbitan KTA

Parkir adalah sebagai berikut:

Tabel IV.5

Prosedur Penerbitan Kartu Tanda Anggota Petugas Parkir Kota Surakarta

Alur Pelaksanaan :

a. Pemohon Kartu Tanda Anggota Petugas Parkir

melaksanakan pendaftaran dengan syarat-syarat yang telah

ditentukan;

PEMOHON

(21)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id b. Berkas akan dikembalikan kepada pemohon apabila tidak

memenuhi atau kurang memenuhi persyaratan;

c. Berkas yang memenuhi persyaratan langsung diproses

dengan melaksanakan pengambilan gambar;

d. Selanjutnya adalah proses percetakan dan pengarsipan

Kartu Tanda Anggota Petugas Parkir;

e. Kartu Tanda Anggota Petugas Parkir diserahkan kepada

pemohon.

Untuk memperoleh Kartu Tanda Anggota Parkir para petugas

atau juru parkir harus melengkapi persyaratan lengkap yang ditentukan

di dalam SOP. Hal ini dilakukan supaya para petugas parkir bisa lebih

bertanggung jawab dalam pekerjaanya sebagai juru parkir, dan lebih

professional dalam menaati peraturan yang sudah ditentukan. Apabila

terjadi pelanggaran pihak terkait bisa langsung menindak petugas

tersebut supaya tidak terjadi asas praduga tak bersalah. Persyaratan

yang harus dilengkapi oleh petugas parkir adalah sebagai berikut:

1) Surat pengantar dari pengelola parkir titik yang

dimohonkan;

2) Surat pernyataan kesanggupan mentaati peraturan

3) Fotokopy KTP;

4) Kartu Tanda Anggota Lama (apabila perpanjangan);

(22)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id UPTD Perparkiran dalam melaksanakan pengawasan dan penertiban

tidak bekerja sendiri, karena keterbatasan jumlah dari dinas sendiri yang

hanya 38 anggota, dengan melakukan pekerjaan dan tanggung jawab

administratif di kantor juga, sehingga memungkinkan keterbatasan gerak

untuk melakukan kegiatan dilapangan. Meskipun sebenarnya mereka juga

bisa melakukan pekerjaan itu sendiri, namun akan berjalan kurang efektif

karena dalam penyelesaianya akan memakan waktu yang lama. Kegiatan

yang dilakukan tidak hanya sekedar melaksanakan sosialisasi kepada target

sasaran saja, namun juga lebih kepada pengawasan, penertiban dan juga

pengendalian. Oleh karena itu UPTD Perparkiran melakukan kerjasama

dengan oknum-oknum aparatur negara untuk dapat membantu mereka dalam

melaksanakan penataan parkir. Dalam kerjasama ini juga dibutuhkan

kejelasan prosedur supaya dalam pelaksanaanya bisa berjalan sistematis dan

tidak ada yang terlewat sedikitpun. Berikut adalah penjelasan tentang

prosedur pengawasan, penertiban dan pengendalian.

Tabel IV.6

Prosedur Pengawasan, Penertiban, dan Pengendalian Secara Gabungan

Dishub Kepolisian Den Pom Kejaksaan Pengadilan Satpol PP Asosiasi Parkir

TIM OPERASI

Petugas Parkir Nakal

Premanisme

Kepolisian

Pembinaan, Teguran 1 dan 2 kepada petugas dan

pengelola parkir

(23)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Alur pelaksanaan :

a. Tim Pengawasan, penertiban dan Pengendalian Lapangan

terdiri atas unsur Dinas Perhubungan Kota Surakarta,

Kepolisian Resort Kota Surakarta, Detasemen Polisi Militer

IV/4 Surakarta, Kejaksanaan Negeri Surakarta, Pengadilan

Negeri Surakarta, Satuan Polisi Pamong Praja Kota

Surakarta dan Asosiasi Parkir Kota Surakarta;

b. Tim tersebut diatas huruf a, melaksanakan koordinasi untuk

menentukan lokasi rawan parkir liar dan/ atau lokasi rawan

pungutan parkir yang melebihi ketentuan;

c. Setelah melaksanakan koordinasi, Tim melaksanakan

operasi dengan target, petugas parkir nakal, yaitu petugas

parkir yang tidak memakai kelengkapannya (Seragam,

KTA, karcis dan atribut lain) dan petugas parkir yang

memungut melebihi ketentuan, serta seseorang yang bukan

petugas parkir memungut biaya tertentu atas kendaraan

yang parkir (premanisme);

d. Hasil operasi berupa petugas parkir nakal :

1) Apabila petugas parkir nakal diberi pembinaan oleh

Dinas Perhubungan Kota Surakarta, berupa

sosialisasi, teguran 1 dan 2 kepada petugas parkir

serta pengelola parkirnya,

2) Apabila tahap sosialisasi, teguran 1 dan 2 tidak

diindahkan, maka Dinas Perhubungan Kota Surakarta

akan mencabut Kartu Tanda Anggota Petugas parkir

dan mencabut Surat Ijin Pengusahaan Parkir yang

telah diberikan kepada pengelola parkir.

e. Hasil operasi berupa seseorang yang bukan petugas parkir

memungut biaya tertentu atas kendaraan yang parkir

(24)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 1) Tindakan yang diambil, yaitu diserahkan kepada

pihak Kepolisian.

Meskipun para paratur pelaksana sudah melaksanakan pengawasan,

tetapi mereka tidak mungkin mengawasai tempat-tempat parkir secara penuh

1x24 jam. Para aparatur pelaksana disamping melaksanakan

peraturan-peraturan yang sifatnya baru ditetapkan juga mempunyai tugas admnistratif di

kantor meskipun keduanya sangat penting tetapi kedua tugas tersebut

haruslah dijalankan secara maksimal dan seimbang. Oleh sebab itu UPTD

Perparkiran membuka kesempatan bagi masyarakat untuk lebih mengenal

mereka dengan cara apabila terjadi pelanggaran dalam pelaksanaan penataan

parkir, masyarakat dihimbau untuk melakukan pengaduan dan pengaduan

tersebut akan diproses dan ditindak lanjuti oleh dinas terkait. Penanganan

pengaduan tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel IV.7 Prosedur Penanganan Pengaduan

Alur pelaksanaan :

a. Laporan masyarakat masuk, melalui pengaduan langsung,

media cetak maupun elektronik;

b. Laporan dicatat unit Pengaduan dan diinventaris ke dalam

database;

c. Tim akan mengambil tindakan sesuai dengan ketentuan

peraturan yang berlaku.

Setelah para pengelola dan juru parkir mendapatkan pelatihan,

pembekalan dan pembinaan teknis secara teori dari Pemerintah Kota

Surakarta, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika serta UPTD

Perparkiran Kota Surakarta. Pengelola parkir dan juru parkir juga diharapkan

Unit Pengaduan catat

Database

Ambil Tindakan sesuai ketentuan

(25)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id benar-benar paham dengan adanya penataan parkir. Oleh sebab itu maka

Dinas Perhubungan dan UPTD Perparkiran Kota Surakarta mengadakan

pelatihan lapangan bagi mereka. Adapun pelatihan yang dilakukan adalah

sebagai berikut:

Gambar IV.4

Pelatihan Juru Parkir di Lapangan

( Sumber: UPTD Perparkiran Kota Surakarta)

Di samping adanya kegiatan pelatihan, pembekalan dan pembinaan

yang dilakukan, masih ada kegiatan lain yaitu peningkatan kualitas sumber

daya manusia para pengelola dan juru parkir. Hal ini dilakukan untuk

mengantisipasi apabila terjadi kejadian tak terduga yang terjadi di sekitar

tempat yang digunakan untuk parkir. Selain itu tujuan diadakan peningkatan

(26)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id lebih peka dan terampil dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Berikut gambar peningkatan kualitas SDM yang dilakukan:

Gambar IV.5

Peningkatan Kualitas SDM Juru Parkir

(Sumber: UPTD Perparkiran Kota Surakarta)

Pada dasarnya memang UPTD Perparkiran sudah melakukan prosedur

pelaksanaan pada proses implementasi penataan parkir Kota Surakarta,

namun pada kenyataanya masih banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran.

Dalam penataan parkir pelaksanaan prosedur harus dilaksanakan secara

bertahap, karena dengan kondisi banyaknya jumlah lahan parkir, pengelola

parkir, dan juru parkir tidak memungkinkan apabila dengan keterbatasan

aparatur pelaksana sosialisasi dan kegiatan yang dilakukan hanya pada saat

(27)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Hal ini disebabkan karena masih banyaknya pelanggaran yang

disebabkan oleh para juru parkir yang memiliki tingkat pendidikan

berbeda-beda, sehingga dalam menangkap maksud dan tujuan dari penataan parkir

kurang paham benar. Terbukti dengan adanya pelanggaran-pelanggaran yang

masih terjadi di sebagian jalan-jalan maupun badan jalan. Misalnya, di Jalan

Kolonel Sutarto meskipun sudah terpasang jelas rambu-rambu dilarang parkir

tetapi tetap saja ada juru parkir yang masih melakukan kegiatan parkir di

sana, kemudian di Jalan Slamet Riyadi meskipun pada pagi sampai sore hari

terlihat tertib dalam melakukan kegiatan parkir tetapi apabila sudah

menginjak malam hari terkadang masih ada juru parkir yang melakukan

kegiatan parkir hingga dua sap melebihi batas parkir yang ditentukan, ada

juga di beberapa tempat-tempat umum ada yang membayar parkir lebih dari

tarif yang seharusnya tetapi tidak diberikan kembalian, terkada juga terlihat di

beberapa tempat ada juru parkir yang tidak menggunakan seragam yang

ditentukan.

Dalam pelaksanaan atau implementasi penataan parkir ini memang

berdasarkan pada SOP yang bertujuan supaya kegiatan yang dijalankan

berjalan secara sistematis. Namun sebenarnya interaksi dari aparatur

pelaksana dan kelompok sasaran lah yang juga sangat berpengaruh dan hal

yang paling penting juga. Seperti kita ketahui kebanyakan dari masyarakat

khususnya Kota Surakarta, mereka akan mematuhi peraturan tidak hanya

dikarenakan peraturan yang sudah ditetapkan saja, tetapi dalam

(28)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id tentang penataan parkir dengan berinteraksi secara halus dan sopan. Pada

dasarnya apabila masyarakat dan juru parkir merasakan bahwa dirinya

dihargai oleh orang lain, kemungkina besar mereka akan menerima apa yang

disampaikan oleh aparatur pelaksana dengan terbuka.

Berikut ini merupakan dokumentasi pelaksanaan penataan parkir

melalui interaksi langsung ke lapangan yang dapat kita lihat:

Gambar IV.6

Bentuk Penataan Parkir Interaksi Langsung di Lapangan

(Sumber: UPTD Perparkiran Kota Surakarta)

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Penataan Parkir Kota

Surakarta

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi implemnetasi program

penataan parkir Kota Surakarta dijadikan suatu indikator yang berpengaruh

dan memberikan kontribusi. Faktor-faktor tersebut adalah standar dan sasaran

(29)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id kepatuhan dan daya tanggap kelompok sasaran. Berikut akan dijelaskan satu

per satu faktor tersebut.

1. Standar dan Sasaran Kebijakan

Standar dan sasaran kebijakan yang telah dibuat akan mendukung

keberhasilan Penataan Parkir. Apabila standar dan sasaran kebijakan

sudah jelas dan terukur maka implementasi program penataan parkir

juga dapat direalisasikan. Namun apabila standarnya kabur dan tidak

jelas maka akan mudah menimbulkan konflik antara aparat pelaksana.

Faktor standar dan sasaran, untuk menentukan keberhasilannya maka

dapat dilihat melalui faktor-faktor yang digunakan untuk menilai

kinerja, bnyaknya tempat parkir yang ditargetkan untuk didisiplinkan,

dan kemajuan yang ada setelah dilaksanakannya penataan parkir.

Standar dan sasaran kebijakan yang baik harus memiliki faktor

yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja dan tujuan dari program

tersebut. Penataan parkir memiliki faktor tersendiri yang dapat

digunakan untuk mengukur kinerja dan tujuan penataan parkir,

indikator tersebut didasarkan atas SOP, karena Dinas Perhubungan

Komunikasi dan Informatika Kota Surakarta telah memiliki SOP maka

untuk operasional parkir sudah diatur dalam SOP, sehingga SOP sudah

cukup untuk melakukan penilaian terhadap kinerja dari implementasi

penataan parkir. Sedangkan indikator lain yang digunakan untuk

menilai kinerja dari implementasi penataan parkir yaitu jumlah aparatur

(30)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id potensi jalan, dana yang diberikan untuk melaksanakan program dan

efektivitas operasional parkir.

Jumlah aparatur pelaksana berkaitan dengan potensi yang dimiliki

oleh jalan, tempat, dan atau badan-badan jalan yang digunakan untuk

parkir yaitu potensi jalan yang ada, jadi ketika jalan, tempat dan atau

badan-badan jalan ketika dijadikan lahan parkir menimbulkan kerugian

bagi pihak lain atau tidak, apabila tidak menimbulkan kerugian berarti

sudah dengan baik dan sesuai dengan tujuan dari penataan parkir

sehingga natinya dampak yang terjadi sampai pada peningkatan fungsi

dari jalan, tempat dan atau badan jalan itu sendiri karena tujuan utama

program adalah untuk pengendalian guna memperlancar lalu lintas.

Jumlah aparatur pelaksana sendiri berfungsi untuk mensosialisasikan

peraturan yang ada terkait dengan tujuan program serta untuk

memberikan arahan dan peringatan atau sanksi bagi juru parkir yang

melakukan pelanggaran.

Penentuan tarif parkir sesuai dengan kapasitas atau potensi jalan

juga akan mempengaruhi kinerja dari penataan parkir. karena besarnya

tarif yang ditetapkan akan sangat mempengaruhi besarnya minat para

pengguna kendaraan bermotor untuk meninggalkan sebentar

kendaraannya maupun untuk parkir di badan jalan yang mempunyai

tujuan untuk pengendalian kendaraan. Tidak hanya untuk pengendalian

saja tetapi peningkatan tarif sendiri juga bertujuan untuk peningkatan

(31)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id kesejahteraan juru parkir, hal ini sangat mempengaruhi keberhasilan

penataan parkir dan mewujudkan lalu lintas Kota Surakarta yang aman,

nyaman, tertib, dan selamat. Dana yang ada untuk pelaksanaan penataan

parkir diharapkan dalam kenyataannya digunakan secara optimal untuk

menunjang keberhasilan penataan parkir, keterbukaan kegiatan yang

dilaksanakan haruslah sesuai dengan dana yang dikeluarkan dan harus

ada catatan terperinci sehingga tindakan penyelewangan dana

diharapkan tidak akan terjadi.

Faktor yang lain adalah efektivitas operasional parkir, apabila

lahan parkir sebagai sasaran dari penataan parkir sudah dapat

melaksanakan operasional parkir yang ditetapkan dan berjalan dengan

efektif maka kinerja dari implementasi penataan parkir sudah berjalan

dengan baik. Berikut penjelasan Bapak Henry selaku Kepala Sub

Bagian Tata Usaha, Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Perpakiran

Kota Surakarta tentang adanya SOP dalam pelaksanaan Program

Penataan Parkir Kota Surakarta:

“ Dalam pelaksanaan program ini UPTD Perparkiran punya SOP jadi prrosedur pelaksanaannya sudah diatur di dalam SOP ini. SOP ini bisa dikatakan menjadi acuan setelah Perda Nomor 9 Tahun 2011 tentang Retribusi Daerah bagi dinas ini dalam melaksanakan program.” (Wawancara 28 Desember 2012) Pelaksanaan Penataan Parkir Kota Surakarta melalui beberapa

tahapan, tahapan-tahapan tersebut dimaksudkan supaya dalam proses

pelaksanaan penataan parkir Kota Surakarta sendiri dapat berjalan

lancar dan para pengelola parkir, juru parkir dan juga para masyarakat

(32)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id mendapatkaan maanfaat atau tujuan yang positif dari adanya penataan

parkir ini. Tahapan yang dilakukan dijelaskan oleh Bapak Henry selaku

Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD)

Perparkiran Kota Surakarta:

“ Tahapannya, dulu kan dengan adanya penyusunan Raperda retribusi daerah dijadikan satu, dulu kan masing-masing retribusi daerah berbagai macam Perda, sekarang jadi satu dan punya sendiri. Sudah amanat dari undang 28, Undang-undang tentang Retribusi dan Penganggaran 2009-2011 untuk semua retribusi jadi satu perda, dan itu dibuat rancangan dari Perda retribusi daerah. Setelah itu kita evaluasi juga sejauh ini ada evaluasi masalah tarif parkir yang berlangsung, sejauh ini kan dulu masih Rp. 1000,- dan Rp. 500,00 namun di lapangan menyesuaikan nilai mata uang dan juga kita punya maksud dan tujuan untuk pengendalian di lapangan. Makanya trus kita terapkan pemberlakuan mengenai zona itu, dan kita juga melihat bahwa cermin kita tidak di Indonesia lagi tetapi cermin kita melihat seperti yang ada di Singapura, parkir di tepi jalan sudah tidak ada di sana diberlakukan Demand Electronic for Placing (DRP) yaitu mobil yang parkir kena denda dimasukkan dalam denda tahunan dalam pajak kendaraan. Jadi untuk kendaraan di Kota Surakarta ini kita terapkan dengan adanya tahapan itu diberlakukan zona-zona ini.”

“Jadi tahapannya yaitu kita menyusun Raperda dulu, konsep kajian kita tentang penerapan tarif itu, kita beri pemahaman, kita beri masukan kepada Kepala Daerah Kota Surakarta trus sangan baik respect dari Walikota Surakarta pada saat itu Pak Jokowi sangat setuju sekali. Jadi ditetapkan setinggi mungkin saja tarif parkirnya khusus di mall-mall itu. Sekarang kan terlihat Jalan Slamet Riyadi itu orang lebih cenderung senang parir di dalam, masuk ke dalam malldaripada di tepi jalan, dulu di tepi jalan kan Cuma Rp. 2000,00 temen-temen juru parkir narik biaya parkir lama maupun sebentar. Sekarang Rp. 3000,00 temen-temen dicatat itu jam masuk jam keluarnya parkir 2 jam lebih 10 menit sudah Rp. 3000,00 dikalikan 3 jadi Rp. 9000,00. Kalau di dalam kan Cuma Rp. 2000,00 dan progresifnya dikurangi, tujuannya untuk beban volume di jalan berkurang.” (Wawancara 28 Desember 2012)

Pemerintah Kota Surakarta mengharapkan program penataan

(33)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id pelaksanaannya masih terjadi beberapa konflik seperti yang dijelaskan

oleh Bapak Henry selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit

Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Perparkiran Kota Surakarta:

“ Ya saat ini memang masih ada beberapa juru parkir yang belum sadat, namun kita sudah antisipasi hal tersebut. Kita sudah punya kegiatan yang dibuat yaitu operasi penertiban parkir-parkir liar kita adakan sebulan empat kali, dengan adanya kegiatan ini diharapkan lambat laun mereka yang belum terdaftar izinnya di kantor, yang memungut uang seenaknya sendiri, uangnya dikantongin dibuat mendem ini lambat laun sudah mulai berkurang dan sudah mulai tertib. Dengan adanya operasi gabungan kita setiap bulan empat kali yang melibatkan Kepolisian Resort Kota Surakarta, Detasemen Polisi Militer IV/4 Surakrta, Kejaksaan Negeri Surakarta, Pengadilan Negeri Surakarta, Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surakarta, dan Asosiasi Parkir Kota Surakarta (ASPARTA).” (Wawancara 28 Desember 2012)

Operasi gabungan yang dilakukan diharapkan dapat membantu

tugas dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika dan juga

Unit Pelayanan Teknis Dinas Perparkiran Kota Surakarta, sehingga

penataan parkir di Kota Surakarta dapat mengalami perbaikan yang

meningkat. Para aparat yang tergabung dalam operasi gabungan

perparkiran dengan sukarela membantu Dinas Perhubungan dan

UPTD Perparkiran dalam dalam melakukan pengawasan juga dalam

menindak para juru parkir yang melakukan kecurangan di lapangan.

Pengawasan yang dilakukan juga termasuk jalan-jalan yang dilarang

untuk dilewati oleh pengendara kendaraan motor seperti city walk. Adapun dokumentasi operasi gabungan dan penertiban yang

(34)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Gambar IV.7

Operasi Gabungan di City Walk

(Sumber: UPTD Perparkiran Kota Surakarta)

Kota Surakarta merupakan salah satu kota yang tempat-tempat

perparkirannya sedikit demi sedikit sudah mengalami peningkatan.

Tempat-tempat umum seperti pasar-pasar tradisional yang merupakan

pusat kegiatan sebagian besar masyarakat juga sudah mulai ditata

dengan adanya pemasangan rantai pembatas di tempat parkirnya, hal ini

[image:34.595.212.459.317.516.2]

dapat kita lihat pada gambar berikut:

Gambar IV.8

Penataan Parkir di Pasar Kadipolo Surakarta

(35)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id (Sumber: dokumentasi pribadi peneliti)

Gambar IV.9

Penataan Parkir di Pasar Gede Surakarta (Pasar Buah)

[image:35.595.199.463.147.267.2]

SEBELUM SESUDAH (Sumber: UPTD Perparkiran)

Gambar IV.10

Penataan Parkir di Pasar Gede Surakarta (Pasar Kebutuhan Pokok)

SEBELUM SESUDAH

[image:35.595.212.463.296.513.2]

(Sumber: dokumentasi pribadi peneliti) Gambar IV.11

Penataan Parkir di Pasar Klewer Surakarta

(36)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id (Sumber: dokumentasi pribadi peneliti)

Penataan yang dilakukan oleh UPTD Perparkiran tidak hanya di

pasar-pasar tradisional saja, tetapi juga di tempat parkir pusat

perbelanjaan seperti pasar swalayan juga di tempat-tempat sekitar pusat

perbelanjaan seperti mall-mallyang memungkinkan digunakan untuk dipaka sebagai tempat parkir, serta di jalan-jalan besar seperti di Jalan

Slamet Riyadi. Berikut beberapa gambar yang menunjukkan sudah

adanya penataan parkir di beberapa tempat:

Gambar IV.12

Penataan Parkir di Sami Luwes Surakarta

[image:36.595.211.461.269.523.2]

SEBELUM SESUDAH (Sumber: dokumentasi pribadi peneliti)

Gambar IV.13

Penataan Parkir di Jalan Slamet Riyadi

(37)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id (Sumber: UPTD Perparkiran)

Dalam melakukan penataan parkir tentu harus melihat pada

zona-zona yang sudah di tentukan sesuai dengan potensi jalan. Oleh karena

itu pada sebagian jalan juga dipasang baliho zona sesuai dengan jalan

[image:37.595.210.461.224.462.2]

yang ada. Berikut merupakan gambar zona tersebut:

Gambar IV.14

Zona Penataan Parkir

(Sumber: dokumentasi pribadi peneliti)

Penataan parkir Kota Surakarta dinilai sebagai salah satu yang

memberikan kemajuan bagi Kota Surakarta khususnya dalam bidang

transportasi. Meskipun sejauh ini belum bisa meningkatkan potensi ruas

jalan secara keseluruhan dan masih banyak permasalahan-permasalahan

yang terjadi seperti masih banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh

para juru parkir dan masyarakat konsumen pengguna jasa parkir, namun

pada dasarnya program ini sedikit demi sedikit sudah mengalami

peningkatan. Kesulitan yang dihadapi oleh para aparatur pelaksana dan

(38)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Sub Bagian Tata Usaha Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD)

Perparkiran Kota Surakarta:

“ Kesulitannya saya kira sampai saat ini belum ada, mungkin hanya saja kan adan beberapa rekan-rekan juror parkir, pengelola parkir yang belum sadar penuh melaksanakan kewajiban mereka, dalam hal ini misalnya juru parkir berkewajiban menggunakan seragam parkir pada saat bertugas, kadang mereka merasa malu mengenakan seragam di lapangan. Tetapi dengan adanya kegiatan yang kita berikan kepada mereka seperti: shock terapi, sosialisasi, pemahaman lamnat laun mereka juga mempunyai kesadaran dan pelanggaran yang dilakukan jadi berkurang, dan nantinya kita harapkan semua akan menjadi petugas parkir yang legal yang resmi.”

“ Ya ini dampaknya sangat besar sekali, jadi sudah terlihat ini kita evaluasi selama hampir setahun ini kurang lebih sebelas bulan. Khususnya di pusat-pusat kegiatan terutama di Zona C Jalan Slamet Riyadi di depan SMP Bintang Laut itu biasanya tahun kemarin tidak ada tarif, progresif tidak diberlakukan tarifnya hanya flat. Para penjemput itu kan parkirnya menunggu berlama-lama di tempat itu, jadi misalnya pulangnya jam 2 dari jam 11 sudah parkir di tempat itu, bahkan bisa saja parkir 2 sap melebihi dari batas parkir yang ada. Dengan adanya pemberlakuakn tarif baru ini kegiatan yang seperti itu sudah mulai berkurang, jadi tidak 2 sap lagi. Sekarang mereka hanya ngedrop turun langsung pergi lagi. Jadi mereka tidak harus membayar parkir mahal-mahal. Karena sifatnya parkir kan kendaraan yang berhenti lebih dari 5 menit dan ditinggalkan pengemudinya, kalau sekarang mereka berhenti hanya sebentar tidak lebih dari 5 sampai 10 menit.” (Wawancara 28 Desember 2012)

Sudah seharusnya penataan parkir Kota Surakarta dengan tujuan

dari implementasi penataan perparkiran juga membawa

kemajuan-kemajuan yang ada di perparkiran Kota Surakarta, yaitu jumlah juru

parkir yang meningkat karena yang sebelumnya mereka menjadi juru

parkir yang illegal yang tidak terdaftar di kantor UPTD Perparkiran.

Karena adanya sosialisasi, maka mereka yang ingin menjadi juru parkir

(39)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id terdaftar di kantor UPTD Perparkiran dan menjadi juru parkir resmi.

Meningkatnhya potensi kegunaan ruas-ruas jalan, perputaran uang yang

meningkat karena arus lalu lintas yang lancar sehingga pergerakan

kegiatan dari masyarakat juga meningkat khususnya dalam penggunaan

jasa parkir, karena mereka berkepentingan di pusat-pusat perekonomian

yang berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota

Surakarta berasal dari sektor retribusi daerah.

Selain itu kemajuan yang lain dari adanya penataan parkir Kota

Surakarta adalah penarikan tarif yang jelas karena pada ruas-ruas jalan

sudah mulai terpasang zona-zona parkir meskipun masih terpasang

beberapa. Sebelum adanya penataan, para juru parkir masih menarik

biaya parkir sesuai yang mereka ketahui saja, padahal dalam

kenyataanya biaya yang mereka tarik tidak sesuai dengan tarif yang

diberlakukan.

Berdasarkan uraian dapat dijelaskan bahwa faktor yang dapat

digunakan untuk menetukan kinerja dari implementasi penataan parkir

tidak hanya berasal dari SOP yang ada pada Unit Pelayanan Teknis

Daerah (UPTD) Perpakiran saja tetapi juga dipengaruhi oleh

indikator-indikator yang lain yang dapat digunakan untuk mendukung kinerja dari

implementasi program penataan parkir. Jumlah aparatur pelaksana,

kesadaran para pengelola parkir, juru parkir dan masyarakat konsumen

pengguna jasa parkir, dan dana yang dikeluarkan pemerintah serta

(40)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id mengukur kinerja implementasi program penataan parkir untuk dapat

memenuhi tujuan dari program tersebut.

Faktor merupakan tolak ukur untuk dapat mengetahui kinerja dari

implementasi penataan parkir, sedangkan penataan parkir tersebut akan

diimplementasikan pada seluruh potensi ruas jalan yang menjadi tempat

parkir, yang menjadi kendala adalah masih kurangnya kesadaran dari

pihak pengelola parkir, juru parkir dan masyarakat konsumen pengguna

jasa parkir tentang perparkiran di Kota Surakarta sendiri. Meskipun kita

lihat parkir di Kota Surakarta sudah mengalami peningkatan tetapi

masih kita lihat beberapa pelanggaran yang terjadi, seperti ruas jalan

yang sudah dipasang rambu-rambu dilarang parkir tetapi masih saja

menjadi tempat parkir seperti kondisi jalan di ruas Jalan Kolonel

Sutarto, para juru parkir yang menarik biaya parkir kurang atau lebih

dari tarif parkir yang sudah ditentukan di beberapa ruas jalan, beberapa

hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah dan tanggung jawab dari dinas

terkait dan para pengelola parkir sebagai aparatur pelaksana program ini

sendiri. Dengan permasalahan seperti ini dinas terkait haruslah

melaksanakan kegiatan-kegiatan yang belum dan akan dilaksanakan

seperti yang dijelaskan Bapak Henry selaku Kepala Sub Bagian Tata

Usaha UPTD Perparkiran Kota Surakarta:

(41)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id semaksimal mungkin kita usahskan kita mensosialisasikan program ini lagi dengan lebih sifatnya musyawarah supaya mereka juga mempunya kesadaran yang tulus dari hati mereka untuk lebih menjunjung tinggi peraturan yang ada. Untuk maasyarakat sendiri kita mungkin akan mengusahakan sosialisasi secara langsung bisa sajsa mengumpulkan warga masyarakat di kelurahan kemudian kita jelaskan secara lebih detail. Apabila dengan cara mendekat lebih lagi kemasyarakat masih dirasa kurang mungkin kita akan menegaskan kepada sanksi-sanksi yang tegas sehingga diharapkan program ini bisa dilaksanakan dengan baik, meskipun pada kenyataannya sebuah kebijakan tidak akan seratus persen berhasil tapi setidaknya kita sudah berusaha secara maksimal.”

“ Ya ini kan tujuannya untuk pengendalian kendaraan ini nantinya tujuan kedua supaya mereka itu tidak menggunakan kendaraan pribadi lagi, tidak membebani jalan untuk parkir namun beralih keangkutan masal ya ini kaitannya secara umum tidak hanya masalah parkir saja, mereka bisa berpindah keangkutan masal angkutan umum, dan angkutan umum Kota Surakarta sedang ditingkatkan dan terus pelayanannya diperbaiki dengan adanya kegiatan Batik Solo Trans (BST) itu kan tahun 2013 sudah ada penambahan koridor lagi ada 5 koridor lagi yang ditambah yang belum terlayani rutenya kemudian untung merangsang para konsumen untuk bisa beralih ke angkutan umum.”

Sampai saat ini memang program penataan parkir belum

menyeluruh dalam pelaksanaanya, tetapi pada dasarnya hal-hal yang

menunjang tujuan dari program penataan parkir sendiri sudah mulai

terlihat di beberapa jalan-jalan yang ada di Kota Surakarta, sudah

adanya pemasangan papan pemberlakuan zona di jalan tersebut,

pemasangan rantai pembatas di badan jalan sekitar tempat publik, dan

garis-garis pembatas untuk lahan parkir juga sudah mulai dibenahi

kembali. Meskipun pelaksanaan penataan parkir dirasa masih kurang

maksimal dan hasil yang ada sejauh ini masih dirasa kurang dari yang

(42)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id mengalami kemajuan dibandingkan dengan kondisi jalan sebelum

adanya penataan parkir, apalagi karena adanya pembagian zona yang

jelas sehingga kondisi jalan sedikit demi sedikit sudah mulai tertata

rapi.

2. Sumber Daya

Sumber daya merupakan salah satu indikator dalam menentukan

keberhasilan kebijakan ataupun program, baik sumber daya manusia

ataupun juga sumber daya non-manusia. Dalam implementasi penataan

parkir Kota Surakarta juga memerlukan sumber daya baik dana, alat

maupun juga manusia yang akan sangat mempengaruhi keberhasilan

implementasi program. Beberapa unsur dari sumber daya sebagai

penentu keberhasilan penataan parkir Kota Surakarta, yaitu:

a. Aparat Pelaksana

Sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah

aparat pelaksana (pegawai). Pada saat kebijakan sudah

diimplementasikan penyebab adanya ketidakberhasilan dari

implementasi tersebut disebabkan oleh pengetahuan dan

penguasaan aparat yang tidak memadai dan tidak kompeten,

selain itu karena jumlah aparat pelaksana yang tidak mencukupi.

Dalam pelaksanaan penataan parkir Kota Surakarta

ditangani oleh Unit Pelayanan Teknis Daerah Perparkiran selaku

satuan unit dinas yang berada di dalam naungan Dinas

(43)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Pemerintah Kota Surakarta, untuk selanjutnya pelaksanaan

implementasi penataan parkir untuk memudahkan pengawasannya

dibantu oleh Kepolisian Resort Kota Surakarta, Detasemen Polisi

Militer IV/4 Surakrta, Kejaksaan Negeri Surakarta, Pengadilan

Negeri Surakarta, Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surakarta,

dan Asosiasi Parkir Kota Surakarta (ASPARTA) yaitu para

pengelola parkir yang sudah bekerjasama dengan UPTD

Perparkiran Kota Surakarta yang ditunjuk karena sudah adanya

kesepakatan yang disetujui oleh kedua belah pihak yang telah

mendapatkan pembinaan teknis dari Dinas Perhubungan

Komunikasi dan Informatika. Sehingga mampu ikut serta

mengimplementasikan penataan parkir sesuai dengan tujuan yang

ditentukan. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Henry selaku Kepala

Sub Bagian Tata Usaha Unit Pelayanan Teknis Daerah

Perparkiran Kota Surakarta:

“ Jadi semua anggota Dinas Perhubungan sudah di sosialisasi semua dan paham, otomatis mereka juga kelapangan terjun langsung dan tim-tim gabungan juga sudah mengerti tentang program dari kebijakan tersebut.”

(44)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id mampu mengimplementasikan penataan parkir agar sejalan dengan tujuan yang kami harapkan.” (Wawancara 28 Desember 2012)

Berbeda dengan Bapak Henry, Bapak Edi selaku Ketua

Asosiasi Parkir Kota Surakarta mengungkapkan bahwa sejauh ini

para pengelola parkir memang sudah mendapatkan pembinaan

dan pelatihan, namun untuk beberapa juru parkir masih ada yang

belum paham dengan adanya pembinaan, pelatihan dan

peningkatan kualitas SDM tersebut, ini dikarenakan karena

perbedaan pendidikan, sehingga hal ini yang mengakibatkan

masih adanya beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh juru

parkir dan pelaksanaan penataan parkir sendiri dirasa belum

optimal. Perlu adanya kegiatan pembinaan, pelatihan dan

peningkatan kualitas SDM ynag dilakukan secara bertahap dan

jajaran yang ada sebagai aparatur pelaksana bisa melaksanakan

secara maksimal, berikut penuturannya:

(45)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Di samping melakukan pengawasan langsung, UPTD

Perparkiran melakukan pengawasan secara tidak langsung, dalam

artian mereka tidak selalu setiap saat bisa mengawasi jalannya

perparkiran dengan langsung terjun ke lapangan. Seperti yang

diungkapkan Bapak Henry selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha

Unit Pelayanan Teknis Daerah Perparkiran Kota Surakarta:

“ Pada prinsipnya kita selalu stand by untuk menindaklanjuti setiap laporan pengaduan keluhan masyarakat, sekarang kita sudah punya wadah di dunia maya. Banyak sekali temen-temen yang melaporkan pengaduan keluhan lewat dunia maya, kit tamping langsung dan anggota kita langsung menuju lokasi untuk menindak lanjuti apa saja pelanggarannya, apa keluhannya, apa yang dikeluhkan langsung kita tindak lanjuti kita fasilitasi kalau ada masalah di lapangan.” (Wawancara 28 Desember 2012)

Dari segi jumlah aparat pelaksana sendiri memang dirasa

masih belum memadai, mmelihat jumlah tempat-tempat parkir di

Kota Surakarta yang sangat banyak, ini disebabkan karena para

aparat pelaksana gabungan yang membantu Dinas Perhubungan

sendiri tidak hanya bertugas membantu pengawasan penataan

parkir saja, tetapi mereka juga memiliki tugas dan kewajiban

pokok mereka sendiri. Hal ini juga dibenarkan oleh Bapak Henry

selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pelayanan Teknis

Daerah Perparkiran Kota Surakarta:

(46)

temen-perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id temen aparat gabungan itu, tapi kan memang temen-temen dari dinas kita harus turu serta bersama mereka, yam au ga mau beban dan tanggung jawab pekerjaan kita ya sangat tinggi, dan mau ga mau temen-temen kita beri pemahaman, kita pacu terus selalu semangat memberikan pelayanan kepada masyarakat pada setiap saat setiap waktu. Jadi semua temen-temen di sini ya serabutan antara tugas administrasi dan di lapangan harus bisa siap.” (Wawancara 28 Desember 2012)

Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa masih

ada aparat pelaksana dalam hal ini beberapa pengelola parkir yang

kurang menguasai dan memahami tujuan dari penataan parkir

dikarenakan kurangnya pengetahuan akibat beberapa dari mereka

belum paham dengan adanya pembinaan, pelatihan dan

peningkatan kualitas SDM yang disebabkan karena keberagaman

tingkat pendidikan yang menyebabkan adanya perbedaan daya

tanggap mereka dalam menerima pembinaan dan pelatihan

tersebut, diharapkan perlu adanya kegiatan rutin yang berkaitan

dengan pembinaan teknis, pelatihan dan peningkatan kualitas

SDM agar mereka benar-benar paham terhadap program penataan

parkir. Hal lain yang dapat disimpulkan adalah jumlah aparat

pelaksana yang minim yang berakibat kurang optimalnya

pelaksanaan parkir, dan diharapkan dengan terbatasnya jumlah

aparat pelaksana perlu adanya jadwal kegiatan yang lebih

terperinci lagi dan lebih sistematis yang dapat membantu aparat

pelaksana memaksimalkan pelaksanaan penataan parkir ini

(47)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id b. Dana

Dana yang digunakan untuk penataan parkir Kota Surakarta

berasal dari APBD, sesuai degan Realisasi Anggaran Pendapatan

dan Belanja Daerah (APBD) Kota Surakarta per Satuan Kerja

Perangkat Daerah (SKPD) Tahun Anggaran 2011 dana yang

dianggarkan untuk UPTD Perparkiran Kota Surakarta sebesar Rp.

1.082.641.500,00. Dana yang diberikan harus sesuai dengan

kegiatan yang dilaksanakan, sebelumnya diajukan Rencana

Kegiatan Anggaran (RAK) yang disetujui oleh DPA dan SPJ yang

dibuat harus sesuai dengan kenyataan pemakain anggaran untuk

pelaksanaan program. Berikut penjelasan Bapak Henry selaku

Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPTD Perparkiran:

“Memang di APBD sudah ada pos-pos DPA, sudah ada dana sekitar 1M lebih anggaran yang direncanakan untuk kegiatan ini. Ya harus sesuai dengan dana yang dikeluarkan, itu kan sudah kita rencanakan untuk kegiatan ini, frekuensinya harus tepat, SPJnya juga harus sesuai dengan kegiatan yang sebenarnya. Kalau dananya kurang tidak akan bisa nambah biaya lagi, penggunaan dana harus sesuai rencana. Tiap DPA kan ada pembagian Rencana Kegiatan Anggaran (RAK) harus kita usulkan dan disetujui baru menjadi DPA yaitu Departemen Pelaksana Anggaran.” (Wawancara 28 Desember 2012)

3. Sikap Pelaksana

Sebelum program penataan parkir diimplementasikan, terlebih

dahulu harus ada respon yang baik dari aparat pelaksana, respon

tersebut akan dapat mempengaruhi kemauan aparat pelaksana untuk

(48)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id pelaksana cukup baik dan cukup mendukung, karena ini merupakan

program dari Pemerintah Kota sehingga setiap aparat pelaksana

mendukung dalam pelaksanaan implementasi penataan parkir. Respon

dari aparat pelaksana disesuaikan dengan tugas dan tanggungjawabnya

yang tidak diabaikan, apabila sudah mendapat tugas cepat untuk

dilaksanakan dan harus dilaksanakan secara seimbang supaya pekerjaan

dapat selesai semua.

Adanya respon yang baik dari aparat pelaksana harus disertai

dengan adanya pemahaman aparat pelaksana terhadap penataan parkir.

Pemahaman terhadap penataan parkir tergantung pada bagaimana cara

sosialisasi program dengan baik, apalagi dengan kondisi latar belakang

pendidikan yang berbeda-beda menyebabkan cara mengintepretasikan

penataan parkir secara berbeda-beda pula, sehingga terdapat beberapa

aparat pelaksana yang kurang memahami.

Adanya respon dan pemahaman terhadap penataan parkir akan

membantu untuk mengetahui intensitas dari aparat pelaksana dalam

mengimplementasikan penataan parkir. Intensitas aparat pelaksana

tersebut ditunjukkan dengan selalu aktifnya setiap aparat pelaksana

untuk mendukung penataan parkir, baik itu fisiknya dan sumber daya

manusianya. Sebagai aparat pelaksana, mereka harus dapat

melaksanakan tugasnya sesusai dengan peraturan yang sudah ditetapkan

oleh dinas Perhubungan yang memberikan mandat kepada UPTD

(49)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id UPTD Perparkiran telah memiliki tupoksi sehingga tanggung jawab

terhadap ketentuan Dinas Perhubungan sudah dimengerti secara

menyeluruh. Berikut ini penuturan Bapak Henry selaku Kepala Sub

Bagian Tata Usaha Unit Pelayanan Teknis Daerah Perparkiran Kota

Surakarta:

“ Intensitasnya sangat bagus dari temen-temen itu, sangat respect dan sangat mendukung dengan kegiatan kita, hadir terus itu setiap kegiatan. Para personil yang ada pasti lengkap setiap kegiatan personil lengkap dan pro-aktif juga dilapangan.” (Wawancara 28 Desember 2012)

Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa respon dari

agen pelaksana sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan penataan

parkir, semakin baik respon yang ditunjukkan aparah pelaksana akan

semakin baik pula pelaksanaan penataan parkir. Respon yang dimiliki

aparat pelaksana sudah cukup baik sesuai dengan tugas dan tanggung

jawabnya, namun aparat pelaksana diharapkan bisa mengembangkan

kemampuan dan kreatifitasnya sehingga pelaksanaan penataan parkir

akan dapat berjalan baik dan semakin lama semakin mengalami

peningkatan yang lebih baik lagi. Adanya aparat pelaksana dengan latar

belakang pendidikan yang berbeda, dapat mempengaruhi tingkat

pemahaman terhadap penataan parkir, sehingga aparat pelaksana

membutuhkan pembinaan teknis dan latihan khusus untuk para

pengelola parkir dan juru parkir supaya dapat mengasah kemampuan

dan pengetahuannya, meskipun tidak semua aparat pelaksana tidak

(50)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id yang baik terhadap penataan parkir akan berpengaruh terhadap

intensitas aparat pelaksana dalam mengimplementasikan penataan

parkir, intensitas aparat pelaksana yang selalu aktif dalam mendukung

pelaksanaan penataan parkir disesuaikan dengan tugas dan tanggung

jawabnya sehingga dapat berjalan sesuai dengan tujuan pokok dan

fungsinya.

4. Karakteristik Agen Pelaksana

Setiap aparat pelaksana kebijakan atau program pasti memiliki

karakteristik sendiri-sendiri mulai dari struktur birokrasi, norma-norma

yang ada dalam dinas yang bersangkutan dan pola hubungan dalam

dinas yang akan sangat mempengaruhi implementasi program penataan

parkir.

Dalam struktur birokrasi jabatan tertinggi pada Unit Pelayanan

Teknis Daerah Perparkiran adalah Kepala Dinas dan untuk pembagian

tugas Kepala Dinas dibantu oleh Kepala Sub Bagian dan Kepala

Bidang. Sehingga dalam implementasi program penataan parkir

masing bidang memiliki tugas sesuai bidangnya

masing-masing. Dalam setiap bagian dan bidang memiliki pegawai sebagai

salah satu aparat pelaksana dengan latar belakang pendidikan dan

pengetahuan yang berbeda-beda, kemampuan atau kompetensi yang

dimiliki juga berbeda-beda antara aparat pelaksana yang satu dengan

(51)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id aparat pelaksana diberikan tugas untuk implementasi penataan parkir

sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Adanya ketidaksamaan kompetensi diantara aparat pelaksana

harus diatasi dengan diadakanya pelatihan-pelatihan dan pembinaan

teknis supaya tidak terjadi kesenjangan tugas dan wewenang yang

nantinya akan menggangu proses implementasi penataan parkir.

Walaupun setiap aparat pelaksana memiliki tugas dan kewenangan,

namun dalam pembagian tugas harus disesuaikan dengan kemampuan

yang aparat pelaksana miliki, agar aparat pelaksana dapat menjalankan

pengawasan dengan baik dan dapat melaksanakan penataan parki

dengan baik. Hal ini diungkapkan Bapak Henry selaku Kepala Sub

Bagian Tata Usaha Unit Pelayanan Teknis Daerah Perparkiran Kota

Surakarta:

“ ya masing-masing kan sudah punya tugas dan tanggung jawab kewenangan sendiri-sendiri sesuai yang sudah diberikan. Jadi ya agar tidak saling bertabrakan kita kan ada rincian tugas-tugasnya.” (Wawancara 28 Desember 2012)

Aparat pelaksana dituntut untuk memiliki kompetensi yang cakap

supaya dapat melaksanakan penataan parkir dan melakukan

pengawasan selama pelaksanaan program tersebut. Selama pelaksanaan

penataan parkir di Kota Surakarta diharapkan selalu dilakukan

pengawasan secara langsung dengan

Gambar

Tabel IV.1Pembagian Zona-zona Parkir
Gambar IV.1Peta Pembagian Zona Parkir
Gambar IV.2Pelatihan dan pembekalan Teknis Perparkiran
Gambar IV.3Pembinaan Teknis Pengelola dan Juru Parkir
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sikap agen pelaksana yang sangat mendukung program ini, seharusnya diimbangi dengan dukungan dari PKL, aspirasi yang memungkinkan untuk dipenuhi hendaknya diperhatikan sehingga PKL

Di Kota Makassar sendiri, beberapa upaya telah dan tengah ditempuh pemerintah kota Makassar, mulai dari penambahan sarana dan prasarana seperti yang sering kita lihat mobil

Setelah itu kita memilih PT Refo untuk memberikan pelatihan kepada guru ya karena chromebook ini kan pakai sistem operasi dari chromeOs jadi ya biar gampang aja.” Wawancara tanggal 21

Setelah ada kejadian tersebut, baru pemerintah mulai mengeluarkan regulasi tahun 2008 itu, nah kesininya kan banyak peraturan-peraturan yang gak kita jelaskan ke masyarakat bahwa sampai