commit to user
i
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI
KOTA SURAKARTA
Disusun Oleh :
ADITYA DWI NUGROHO
D0108113
SKRIPSI
Disusun Guna Memenuhi Syarat-syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Administrasi
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
HALAMAN PERSETUJUAN
Telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Panitia Penguji Skripsi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Mengetahui,
Dosen Pembimbing
commit to user
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Telah Diuji dan Disahkan Oleh Panitia Penguji Skripsi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Pada hari :
Tanggal :
Panitia Penguji :
1. Dra. Sri Yuliani, M.Si ( ... )
NIP. 19630730 199003 2 002 Ketua
2. Faizatul Ansoriah, S. sos, M.Si (...)
NIP. 19820304 200812 2 003 Sekretaris
3. Drs. H. Sakur, MS (...)
NIP. 19490205 198012 1 001 Penguji
Mengetahui, Dekan
commit to user MOTTO
Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat
inilah saksimu adalah juga hakimmu
(Khalifah ‘Ali)
Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi
perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri
(Bung Karno)
Jangan patah semangat walau apapun yang terjadi, jika kita
menyerah, maka habislah sudah
commit to user
v
PERSEMBAHAN
Dengan setulus hati dan mengucap syukur kepada Allah SWT kupersembahkan karya ini untuk: Kedua orang tuaku yang tercinta untuk kasih
sayang, doa, nasihat dan dukungan yang tak pernah berhenti sampai kapanpun.
Kakak dan Adikku tersayang yang telah memberikan motivasi, semangat dan dukungan serta untuk keceriaan yang selalu menemani hari-hariku
Inang’s Community untuk keceriaan, kebersamaan dan dukungan disaat suka dan duka
Yostine Uthami seseorang yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan kebersamaan disaat suka dan duka
commit to user KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb.
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Allah SWT atas
rahmat, hidayah serta karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
sebagaimana mestinya. Shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar
Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah memperjuangkan
agama Allah di muka bumi ini.
Penulis menyadari bahwa tanpa adanya dukungan dan bantuan dari berbagai
pihak, maka skripsi ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik. Untuk itu dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak di bawah ini yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini, yaitu kepada :
1. Drs. H. Sakur, MS selaku pembimbing skrispi yang telah memberikan
bimbingan dan pengarahan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
2. AW Erlin Mulyadi, S.Sos, M.PA. selaku pembimbing akademis yang
telah banyak memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis
selama kuliah.
3. Prof. Pawito, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sebelas Maret.
4. Drs. Is Hadri Utomo, M.Si, selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi
Fakultasi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret
commit to user
vii
5. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta yang
telah memberikan ijin penelitian dalam rangka penyusunan skripsi ini.
6. Ibu Widiastuti Pratiwiningsih, Bapak Subandi, Ibu Esti, Bapak
Bambang, dan Ibu Widi selaku informan yang telah banyak memberikan
banyak informasi sebagai materi analisis sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan.
7. Teman-teman seperjuangan AN ’08 yang tidak bisa penulis sebutkan
satu persatu namanya. Semoga ilmu yang kita dapat bersama-sama di
bangku kuliah dapat bermanfaat bagi diri kita pribadi dan orang lain.
Kita semua harus sukses dan berhasil amiin.
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah
membantu dan mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis juga sadar bahwa skripsi ini juga masih jauh dari sempurna, maka dengan senang hati akan menerima kritik dan saran atas perbaikan skripsi ini. Harapan penulissemoga skripsi ini dapat bermanfaat bagai para pembaca.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Surakarta, Juli 2012
commit to user B. Administrasi Kependudukan dan Kebijakan Admnistrasi
commit to user BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian………...………..….. 1. Profil Kota Surakarta..….……….………... 2. Visi misi Kota Surakarta..………... 3. Wilayah Administrasi………..……….…… 4. Tingkat Pertumbuhan Penduduk Kota Surakarta………. 5. Tinjauan Umum Dinas Kependudukan dan Pencacatan Sipil Kota
Surakarta..………... ..……… B. Hasil Penelitian dan Pembahasan………..…...
1. Proses Implementasi Kebijakan Administrasi Kependudukan di Kota Surakarta…... a. Proses Tahapan Pendaftaran Penduduk Sesuai dengan Perda
Kota Surakarta Nomor 10 Tahun 2010... b. Proses Tahapan Pencatatan Sipil Sesuai dengan Perda Kota
Surakarta Nomor 10 Tahun 2010... c. Proses Pengolahan Infomasi Administrasi Kependudukan
Sesuai dengan Perda Kota Surakarta Nomor 10 Tahun 2010... 2. Hambatan yang terjadi dalam Implementasi Kebijakan
Administrasi Kependudukan di Kota
commit to user
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan………... B. Saran………. DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
commit to user
xi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel I.1 :
Tabel I.2 :
Tabel IV.1 :
Tabel IV.2 :
Hasil Sensus Penduduk Indonesia………
Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Rasio Jenis Kelamin, dan Tingkat
Kepadatan Tiap Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2010………
Pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta
berdasarkan tingkat pendidikan Tahun 2011………
Matrik Penilaian Implementasi Kebijakan Administrasi Kependudukan
di Kota Surakakarta………..
1
7
63
commit to user DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar II.1 : Model Van Meter danVan Horn... 22
Gambar II.2 : Model Mazmanian dan Sabatier... 25
Gambar II.3 : Model George C. Edwards III………. 27
Gambar II.4 : Model Implementasi Kebijakan Merilee S. Grindle………… 28
Gambar II.5 : Kerangka Berfikir……… 39
Gambar III.3 : Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman... 49
Gambar IV.1 : Peta Jabatan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota
Surakarta ... .. 56
Gambar IV.2 : Proses Pembuatan/Penggantian Kartu Keluarga…... .. 75
Gambar IV.3 : Proses Pembuatan KTP ... 77
Gambar IV.4 : Proses Perpindahan Penduduk antar Kota/Kabupaten dalam
Satu Provinsi dan antar Provinsi dalam wilaah NKRI ... 80
Gambar IV.5 : Proses Pembuatan Akta Kelahiran………...……… 86
commit to user
xiii
ABSTRAK
Aditya Dwi Nugroho. D0108113. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KOTA SURAKARTA. Skripsi. Jurusan Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sebelas Maret. 2012.
Permasalahan kependudukan yang dihadapi di Indonesia adalah ketidakakuratan data tentang kependudukan. Bahkan sering terjadi permasalahan data kependudukan pusat dengan data kependudukan daerah sering berbeda. Perbedaan data ini sering menimbulkan kekacauan ketika data kependudukan mana yang paling akurat untuk dijadikan sumber data bagi kebijakan/ program pembangunan pemerintah demi kesejahteraan rakyat dan juga untuk data Pemilih untuk Pemilu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat implementasi kebijakan administrasi kependudukan diKota Surakarta.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta. Teknik pemilihan informan yang digunakan adalah purposivesampling, yaitu Kepala Bagian Pendaftaran Penduduk, Kepala Sub bagian Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, dan pengolahan SIAK, dan Masyarakat Kota Surakarta. Teknik pengumpulan data yaitu dengan cara wawancara, observasi dan telaahdokumen. Sedangkan untuk validitas data dilakukan dengan trianggulasi data atau sumber. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif.
commit to user ABSTRACT
Aditya Dwi Nugroho. D0108113. THE IMPLEMENTATION OF DEMOGRAPHY ADMINISTRATION POLICY IN SURAKARTA. Thesis. Administration Science Department of Social and Political Sciences Faculty. Sebelas Maret University. 2012.
Demography problem that face by Indonesia is the inaccuracy of file about demography it self. Problems that often happen are the differentiate file between central demography and region demography. This can create chaos when the government decides which data that has the highest accuracy to become the source when they make a policy or developing program for the sake of society and also for the general election files. This research has purpose to see the implementation of demography administration Policy in Surakarta.
This research is a descriptive qualitative research and it takes a place in Department of Demography and Civil registration Surakarta. The choosing infoman technique that implement in this research is purposive sampling, they are Chief of civil registration, Sub-leader of civil registration, Civil register and SIAK creator, and last the citizen of Surakarta. Collective data technique using interview method, observation and document study. As for the validity of the research I am using source and data triangulation. Analysis data technique using analysis interactive model.
commit to user BAB I
PENDAHULUAN
A. Latarbelakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang jumlah
penduduknya sangat besar. Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk
Indonesia sudah mencapai 237,6 juta jiwa atau bertambah 32,5 juta jiwa sejak
tahun 2000. Artinya, setiap tahun selama periode 1990-2000, jumlah penduduk
bertambah 3,25 juta jiwa. Jika di alokasikan ke setiap bulan maka setiap bulannya
penduduk Indonesia bertambah sebanyak 270.833 jiwa (Amir Buton, 2010).
Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan
dengan laju pertumbuhan yang tinggi pula. Jumlah penduduk Indoneesia dari
tahun 1971-2010 serta pertumbuhannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel I.1
Hasil Sensus Penduduk Indonesia (dalam juta jiwa)
Tahun 1971 1980 1990 2000 2010
Jumlah Penduduk 119,2 147,5 179,4 205,1 237,6
Jumlah Kenaikan Penduduk - 28,3 31,9 25,7 32,5
Prosentase Kenaikan Penduduk - 0,19% 0,18% 0,12% 0,14%
Sumber : (Amir Buton,2010)
Selama kurun waktu 40 tahun jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke
tahun mengalami peningkatan jumlah penduduk yang sangat signifikan. Pada
tahun 1971-1980 penduduk Indonesia bertambah sebanyak 28,3 juta jiwa. Begitu
commit to user
jiwa, dimana pada tahun 1980-1990 pertmbahan penduduk mengalami kenaikan
dari 10 tahun sebelumnya. Untuk mengatasi pertambahan penduduk yang semakin
pesat maka pemerintah pada saat itu mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi
pertambahan penduduk yang ada di Indonesia ini agar tidak terjadi ledakan
penduduk yang besar. Kebijakan pemerintah itu lebih dikenal dengan program KB
(Keluarga Berencana).
Program KB pada tahun 1990-2000 terbukti bias mengatasi peningkatan
pertambahan penduduk dan juga ledakan penduduk di Indonesia karena pada 10
tahun ini penduduk Indonesia bertambah 25,7 juta jiwa. Hal ini menandakan
bahwa program KB bisa mengatasi masalah pertumbuhan penduduk di Indonesia.
Namun dengan bergantinya orde baru menjadi masa reformasi pada akhir tahun
1990an dan juga bergantianya kepala pemerintahan di Indonesia program KB
yang sering gencar-gencarnya di publikasikan pemerintah kepada masyarakat
seakan-akan menghilang dan tidak lagi didengung-dengungkan agar para rakyat
melaksanakan program KB tersebut. Terlihat dengan terjadinya kenaikan
pertambahan penduduk pada tahun 2000-2010 sebesar 32,5 juta jiwa, dimana
pertumbuhan penduduk pada tahun 2010 ini paling besar selam 40 tahun terkahir.
Semakin besarnya pertumbuhan penduduk pada 10 tahun terakhir ini menandakan
bahwa pemerintahan pada masa reformasi belum bisa mengatasi permasalahan
pertumbuhan penduduk dan juga ledakan penduduk. Oleh karena itu pada saat ini
pemerintah kembali gencar-gencarnya memberikan publikasi dan juga penyuluhan
kepada masyarakat agar kembali melaksanakan program KB, karena program ini
Pertumbuhan penduduk yang pesat dan tidak merata serta tanpa diimbangi
dengan pencapaian kualitas SDM yang tinggi mengakibatkan muculnya berbagai
permasalahan-permasalahan kependudukan yang antara lain adalah : kemiskinan,
kesehatan, pengangguran. Pencatatan Peristiwa kependudukan juga menjadi
permasalahan, antara lain perubahan alamat, pindah dating untuk menetap, tinggal
terbatas, serta perubahan status orang asing tinggal terbatas menjadi tinggal tetap
dan peristiwa penting antara lain kelahiran, lahir mati, kematian, perkawinan, dan
perceraian, termasuk pengangkatan, pengakuan, dan pengesahan anak, serta
perubahan status kewarganegaraan, ganti nama dan peristiwa penting lainnya
yang dialami oleh seseorang merupakan kejadian yang harus dilaporkan karena
membawa implikasi perubahan data identitas atau surat keterangan
kependudukan. Untuk itu, setiap peristiwa kependudukan dan peristiwa penting
memerlukan bukti yang sah untuk dilakukan pengadministrasian dan pencatatan
sesuai dengan ketentuan undang-undang.
Inti permasalahan kependudukan yang dihadapi di Indonesia adalah
ketidakakuratan data tentang kependudukan. Penyajian data yang ada di Indonesia
sering terjadi perbedaan data kependudukan dari data dari sensus penduduk
maupun register penduduk. Mendagri Gamawan Fauzi menjelaskan data
penduduk Indonesia berdasarkan data Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri)
ada 259.940.857 jiwa, sedangkan data penduduk Indonesia berdasarkan data BPS
ada 237.440.363 jiwa (www.id.berita.yahoo.com). Selain itu jumlah penduduk
commit to user
menurut sensus penduduk BPS Jawa Tengah adalah 32.382.657 jiwa (BPS, 2010).
Perbedaan data ini sering menimbulkan kekacauan ketika data kependudukan
mana yang paling akurat untuk dijadikan sumber data bagi kebijakan/ program
pembangunan pemerintah demi kesejahteraan rakyat dan juga data pemilih untuk
pemilu.
Menyikapi berbagai permasalahan itu pemerintah berusaha memperoleh
data tentang kependudukan di Indonesia yang akurat untuk mampu membuat
pemetaan yang tepat guna menanggulangi masalah kependudukan baik di tingkat
lokal dan nasional. Data kependudukan memilki peran penting untuk digunakan
dalam perencanaan kebijakan/program pemerintah seperti : penanggulangan
kemiskinan, program kesehatan masyarakat, program pengendalian jumlah dan
pertumbuhan penduduk, program pendidikan bagi masyarakat yang tidak mampu,
dan kebijakan/program pemerintah lainnya (www.crayonpedia.org). melihat
banyaknya permasalahan kependudukan dan data kependudukan yang belum
akurat, maka pemerintah menerbitkan kebijakan tentang administrasi
kependudukan.
Administrasi Kependudukan perlu dibuat oleh pemerintah karena
diharapkan mampu memecahkan masalah-masalah tersebut, yang pada dasarnya
merupakan sub sistem dari penyelenggaran administrasi negara, yang mempunyai
peranan penting dalam pemerintahan dan pembangunan. Sejalan dengan arah
penyelenggaraan adminstrasi kependudukan, maka pendaftaran penduduk dan
pencatatan sipil sebagai sub-sub sistem pilar dari administrasi kependudukan perlu
pemerintahan dan pembangunan. Administrasi Kependudukan diarahkan pada
pemenuhan hak asasi setiap orang di bidang pelayanan administrasi
kependudukan, pemenuhan data statistik kependudukan secara nasional, regional,
dan lokal serta dukungan terhadap pembangunan sistem administrasi
kependudukan guna meningkatkan pemberian pelayanan publik tanpa
diskriminasi. Pada tahun 2006 Pemerintah Pusat mengeluarkan Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan untuk mengelola
administrasi kependudukan sebagai salah satu bagian dari tugas Pemerintah.
Dokumen kependudukan menjadi sangat penting bagi masyarakat karena
dengan adanya dokumen-dokumen kependudukan dapat digunakan oleh
pemerintah untuk pelaksanaan kebijakan atau program lainnya dari pemerintah
untuk kesejahteraan rakyat banyak. Peristiwa kependudukan yang dicatat untuk
pertama kali misalnya Dokumen administrasi kependudukan yang harus dimiliki
oleh seseorang sejak lahir adalah Akta kelahiran. Adanya Akta kelahiran tersebut
menjadi bukti pengakuan status dan haknya sebagai warga negara. Selain itu Akta
kelahiran dapat digunakan untuk mendaftarkan diri di pendidikan jenjang
pertama. Jenis pelayanan administrasi kependudukan lainnya yaitu pembuatan
KTP, dimana bagi masyarakat, KTP merupakan dokumen paling penting karena
umumnya menjadi dokumen persyaratan untuk mengurus berbagai keperluan,
seperti membuat kartu keluarga, paspor, perizinan, mengurus surat keterangan
tidak mampu, mengurus dokumen pernikahan, melanjutkan pendidikan, melamar
commit to user
program penanggulangan krisis/kemiskinan, seperti Raskin (Beras untuk
Masyarakat Miskin) atau BLT (Bantuan Langsung Tunai). Bahkan pada
tahun-tahun belakangan KTP juga telah memasuki ranah politik karena dianggap
sebagai bukti dukungan bagi seorang calon kepala daerah dari jalur independen
(non partai) dalam Pemilihan Langsung Kepala Daerah (Pilkada) atau pencalonan
sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) atau sebagai Dewan
perwakilan Rakyat (DPR) maupun DPRD dalam Pemilu (www.gdsindonesia.org)
Menurut Walikota Surakarta, Kota Surakarta merupakan salah satu dari
sekian daerah di Indonesia yang dipilih untuk menjadi percontohan nasional
dengan pendampingan Jerman dalam Administrasi Kependudukan
(www.solopos.com). Hal ini direspon secara positif oleh Pemerintah Kota
Surakarta dengan mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2010 Tentang
Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan. Jumlah penduduk kota Surakarta
pada tahun 2010 adalah 532.439 jiwa, terdiri dari 262.643 laki-laki dan 269.439
wanita, yang tersebar di lima kecamatan dengan daerah seluas 44,04 km2, tingkat
kepadatan penduduk di Surakarta adalah 12.090 jiwa/km2, yang merupakan
kepadatan tertinggi di Jawa Tengah (kepadatan Jawa Tengah hanya 992 jiwa/km2)
dan ke-8 terpadat di Indonesia, dengan luas wilayah ke-13 terkecil, dan populasi
terbanyak ke-22 dari 93 kota otonom dan 5 kota administratif di Indonesia
Tabel I.2
Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, dan Tingkat Kepadatan Tiap
Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2010
Kecamatan Luas
Wilayah
Jumlah Penduduk Tingkat
Kepadatan Laki-laki Perempuan Jumlah
Laweyan 8,64 46.517 48.116 94.683 12.866
Serengan 3,19 24.533 25.413 49.946 20.151
Pasar Kliwon 4,82 40.752 41.520 82.272 18.463
Jebres 12,58 67.104 68.700 135.804 11.478
Banjarsari 14,81 83.737 85.997 169.734 11.965
Jumlah 44,04 262.643 269.796 532.439 12.090
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta tahun 2010
Dalam pelaksanaan Administrasi Kependudukan Pemerintah Kota
Surakarta memiliki nilai lebih karena telah memiliki Perda Administrasi
Kependudukan sejak tahun 2010. Substansi utama dari Administrasi
kependudukan sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 10 Tahun
2010 Tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan meliputi:
1. Pendaftaran penduduk.
Kegiatan Pendaftaran Penduduk, antara lain pencatatan biodata, penerbitan
Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda "Penduduk" (KTP), Surat Keterangan
commit to user
2. Pencatatan Sipil.
Kegiatan Pencatatan Sipil antara lain Pencatatan Kelahiran, Kematian,
Perkawinan dan Perceraian serta Penerbitan Akta Pencatatan Sipil.
3. Pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan.
Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan yang menggunakan
Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) merupakan alat
untuk memfasilitasi pengelolaan database kependudukan, penerbitan
Nomor Induk "Kependudukan" (NIK) dan penerapan Kartu Tanda
"Penduduk" Elektronik (e-KTP).
Dengan adanya perda Administrasi Kependudukan, menurut Wakil
Walikota Surakarta kota Surakarta lebih unggul dibandingkan dengan kota lainnya
dalam pelaksanaannya (www.harianjoglosemar.com). Sistem administrasi
kependudukan di Surakarta dilakukan dengan cepat, tepat, dan cermat. Salah satu
contohnya, membuat kartu tanda penduduk (KTP) hanya membutuhkan waktu
satu jam. Padahal, sebelumnya diperlukan waktu minimal satu minggu. Demikian
juga dalam membuat kartu keluarga (KK). Berdasarkan perda, KK paling lambat
satu bulan bisa diwujudkan, namun mampu dipercepat menjadi 1 minggu saja
(www.suarakarya-online.com).
Perbedaan data antara data sensus dan data register juga dialami di
Surakarta, jumlah penduduk Kota Surakarta berdasarkan data register tahun 2009
adalah 525.505 jiwa dan tahun 2010 532.439 jiwa (Dispendukcapil Surakarta,
2010). Sedangkan data yang disusun berdasarkan data sensus penduduk jumlah
586.039 jiwa (BPS, 2010). Penduduk Surakarta pada tahun 2010, 13.446 orang
atau sekitar 16,75% dari total penduduk Surakarta yang belum memiliki kartu
tanda penduduk (KTP) yang masuk dalam Sistem Informasi Administrasi
Kependudukan (SIAK) dan kepemilikan kartu keluarga (KK) dengan sistem SIAK
yang baru 52.819 KK dari jumlah total 146.780 KK. Pencatatan sipil seperti Akta
Kelahiran yang sudah masuk SIAK baru 189.125 jiwa atau 35,52% dari total
penduduk Surakarta, akta perkawinan yang masuk SIAK sekitar 64,53 % dari total
249.466 jiwa penduduk Surakarta yang berstatus kawin, sedangkan akta
perceraian hanya 33,92% dari jumlah total penduduk Surakarta yang berstatus
cerai hidup yaitu 5.195 jiwa (Dispendukcapil Surakarta, 2010) . Muncul juga
permasalahan yang ada di Surakarta tentang pengolahan informasi data
kependudukan yang dulunya menggunakan SIMDUK ke SIAK sering terjadi
kesalahan, yang akibatnya kinerja camat dan perangkatnya di Surakarta disorot
DPRD Surakarta, setelah banyak warga mengeluh data kependudukannya mulai
dari Akta Kelahiran, KK, dan KTP banyak yang salah. Akibat kesalahan data itu,
warga kesulitan mengurus surat administrasi yang lain. Kesalahan yang banyak
terjadi ini karena dalam pengisian dilakukan oleh siswa yang sedang magang.
(www.bataviase.co.id).
Namun mengingat masih adanya perbedaan data kependudukan antara data
jumlah penduduk di Kota Surakarta berdasarkan sensus dan register penduduk
serta masih banyaknya dokumen kependudukan seperti KK, KTP, Pindah datang
commit to user
untuk dicatat dan masuk dalam database SIAK, Selain itu juga banyaknya
kesalahan dalam pengisian data administrasi kependudukan untuk merubah dari
SIMDUK ke SIAK. Maka penelitian ini bermaksud untuk mengetahui gambaran
Implementasi Kebijakan Administrasi Kependudukan di Kota Surakarta.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang yang telah diuraikan diatas, dirumuskan
masalah penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana Proses Implemenentasi Administrasi Kependudukan di Kota
Surakarta sesuai Perda Kota Surakarta Nomor 10 Tahun 2010?
2. Hambatan-hambatan yang apa saja yang terjadi dalam implemntasi
administrasi kependudukan di Kota Surakarta?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan agar penelitian tersebut dapat
memberikan manfaat sesuai yang dikehendaki. Adapun tujuan penelitian ini
adalah :
1. Tujuan Operasional
a. Untuk mengetahui proses tahapan Pendaftaran penduduk sesuai
Perda Kota Surakarta Nomor 10 Tahun 2010.
b. Untuk mengetahui Proses Tahapan Pencatatan Sipil sesuai Perda
Kota Surakarta Nomor 10 Tahun 2010.
c. Untuk mengetahui Proses Pengolahan informasi Administrasi
d. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi dalam
implemntasi administrasi kependudukan di Kota Surakarta.
2. Tujuan Fungsional
Dapat memberikan manfaat bagi Pemerintah Kota Surakarta khususnya
bagi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagai acuan untuk
melaksanakan kebijakan administrai kependudukan.
3. Tujuan Individual
Penelitian ini disusun dalam memenuhi persyaratan untuk mencapai
gelar kesarjanaan Jurusan Ilmu Administrasi, Program Studi
Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang diantaranya
adalah:
1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan memperluas
ilmu pengetahuan tentang implementasi kebijakan Pemerintah Kota
Surakarta terutama dalam administrasi kependudukan.
2. Secara Praktis
Penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil dalam pelaksanaan kebijakan
commit to user
3. Secara Individual
Menjadi bagian dari proses pembelajaran dan menambah wawasan
keilmuan serta menambah pengetahuan bagi penulis dalam memahami
usaha yang dilakukan Pemerintah Kota Surakarta dalam kebijakan
commit to user BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Implementasi Kebijakan
1. Pengertian Implementasi Kebijakan
Implementasi Kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam proses
kebijakan publik. Suatu program harus diimplementasikan agar mempunyai
dampak dan tujuan yang diinginkan. Implementasi kebijakan dipandang dalam
pengertian yang luas, merupakan tahap dari proses kebijakan segera setelah
penetapan undang-undang. Implementasi dipandang secara luas mempunyai
makna pelaksanaan undang-undang dimana berbagai aktor, organisasi, prosedur,
dan teknik bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan dalam upaya
untuk meraih tujuan-tujuan kebijakan atau program-program, Hal ini
dikemukakan oleh Lester dan Stewart ( dalam Winarno, 2008 : 144).
Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat
menapai tujuannya, tidak kurang tidak lebih.untuk mengimplementasikan
kebijakan publik, ada dua pilihan langkah yang ada, yaitu langsung
mengimplementasikannya dalam bentuk program atau mlalui formulasi kebijakan
derivat atau turunan dari kebijakan publik tersebut ( Nugroho, 2009 : 494).
Sedangkan menurut pendapat lain (dalam Winarno, 2008 : 146), Van
Meter dan Van Horn telah membatasi implementasi kebijakan sebagai
tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu-individu (atau kelompok), pemerintah
commit to user
ditetapkan dalam keputusan-keputusan kebijakan sebelumnya. Tindakan-tindakan
ini mencakup usaha-usaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi
tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka
melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai perubahan-perubahan besar dan kecil
yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan. Yang perlu ditekankan
disini adalah bahwa tahap implementasi kebijakan tidak akan dimulai sebelum
tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran dari suatu kebijakan itu ditetapkan atau
diidentifikasikan oleh keputusan-keputusan kebijakan. Dengan demikian, tahap
implementasi terjadi hanya setelah undang-undang ditetapkan dan dana
disediakan untuk membiayai implementasi kebijakan tersebut.
Menurut Bhuyan, A., A. Jorgensen dan S. Sharma (2010: 1) menjelaskan
tentang implementasi kebijakan bahwa:
“Policy implementation refers to the mechanisms, resources, and relationships policies to program action. Understanding the nature of policy implementation is important because international experience shows that policies, once adopted, are not always implemented as envisioned and do not necessarily achieve intended results. Moreover, some services are provided with little attention as to how such activities fit into or contribute to broader policy goals. Policymakers and program implementers also often have limited understanding of how broader policies might help overcome service delivery obstacles.”
Enola Proctor dkk (2010) mengungkapkan penjelasan implementasi
kebijakan bahwa:
“Studies of implementation use widely varying approaches to measure how well program or service is implemented. In designing the implementation programme, we have explicitly taken an approach that aims to integrate theoretical, empirical, and experiential evidence
about implementation.” (Studi implementasi menggunakan pendekatan
yang sangat beragam untuk mengukur seberapa baik program atau
pelayanan diimplementasikan. Dalam merancang program
implementasi, kita harus secara eksplisit mengambil pendekatan yang bertujuan untuk mengintegrasikan teori, empiris, dan bukti pengalaman tentang pelaksanaan) (www.ncbi.nlm.nih.gov).
Implementasi kebijakan merupakan tahapan yang sangat penting dalam
proses kebijakan. Artinya implementasi kebijakan menentukan keberhasilan suatu
proses kebijakan dimana tujuan serta dampak kebijakan dapat dihasilkan.
Pentingnya implementasi kebijakan ditegaskan oleh pendapat Udoji ( dalam
Wahab, 2010:59) bahwa:
“The execution of policies is as important if not more important than policy making. Policies will remain dreams or blue prints file jackets unless they are implemented” (pelaksanaan kebijakasanaan adala sesuatu yang penting, bahkan mungkin jauh lebi penting daripada pembuatan kebijaksanaan. Kebijaksanaan-kebijaksanaan akan sekedar berupa impian atau rencana bagus yang tersimpan rapi dalam arsip kalau tidak diimplementasikan).
Untuk lebih memperjelas maksud dari berbagai pendapat-pendapat tentang
implementasi kebijakan baik dari para ahli dan juga dari jurnal diatas maka akan
lebih baik jika juga dijelaskan dengan menggunakan salah satu contoh nyata yang
menginterpretasikan pendapat-pendapat dari para ahli dan juga jurnal diatas
tentang implemntasi kebijakan. Berdasarkan uraian di atas, bisa dikatakan bahwa
commit to user
kaki lima (PKL). Pemerintah daerah melakukan penertiban PKL yang bertujuan
menata kembali suatu lokasi agar tidak terlihat semrawut. Langkah yang
dilakukan pemerintah setempat dengan membongkar paksa kios-kios PKL yang
membandel meskipun sebelumnya sudah dilakukan pendekatan persuasif.
Dampak yang bisa diprediksikan terjadi adalah akan muncul konflik dengan para
PKL ( Tirtariandi, 2007).
Kebijakan penertiban PKL Banjarsari yang di pindah ke Semanggi yang
ada di Kota Surakarta dapat dijadikan salah satu contoh implementasi suatu
kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dengan sangat baik tanpa adanya
konflik dan semua berjalan dengan baik. Penertiban PKL di Surakarta ini
merupakan contoh implementasi kebijakan yang memperhatikan hubungan
organisasi atau pemerintah selaku pelaksana kebijakan dengan target group
mereka yaitu para pedagang. Seperti yang dijelaskan ole Kai Spraat bahwa
implementasi kebijakan dipengaruhi oleh hubungan organisasi dan berbagai
kelompok target mereka. Hal ini terbukti dengan berhasilnya implementasi
kebijakan penertiban PKL di Surakarta karena pemerintah Kota Surakarta sendri
juga memperhatikan hubungannya dengan kelompok target kebijakan ini seperti
yang diungkap oleh Walikota Jokowi dengan ”uwongke wong cilik” sehingga
dalam implementasinya ada rasa saling menghargai satu sama lainnya.
Keberhasilan kebijakan penataan PKL di Surakarta ini juga tidak lepas dari
pelaksana Birokrat level akar rumput yang berhubungan langsung dengan para
target kebijakan ini yaitu pedagang. Kepatuhan Satpol PP untuk tidak memakai
Walikota Surakarta Jokowi dilaksanakana dengan baik sehingga tidak terjadi
konflik-konflik yang mewarnai implementasi kebijakan ini. Hal ini senada juga
dengan apa yang disampaikan oleh Peter J. May and Soren C. Winter yang
dijelaskan diatas bahwa hal yang dapat mempengaruhi implementasi kebijakan
adalah birokrasi jalanan dimana sejauh mana pemerintah mendelegasikan
wewenang terhadap birokrasi level akar rumput.
Implementasi dari sebuah kebijakan melibatkan usaha dari Policy makers
untuk mempengaruhi apa yang oleh Lipsky disebut ”street level bureaurats”
untuk memberikan pelayanan atau mengatur perilaku dari kelompok sasaran
(target group). Untuk kebijakan sederhana, implementasi hanya melibatkan satu
badan yang berfungsi sebagai implementor, sabaliknya untuk kebijakan makro
maka usaha-usaha implementasi akan melibatkan berbagai institusi, seperti
birokrasi kabupaten, kecamatan, pemerintah desa (Subarsono, 2009 : 88).
2. Model Implementasi Kebijakan
Rencana adalah 20% keberhasilan, implementasi adalah 60% sisanya, 20%
sisanya adalah bagaimana kita mengendalikan implementasi (Nugroho, 2009 :
501). Implementasi kebijakan adalah hal yang paling berat, karena disini
masalah-masalah yang kadang tidak dijumpai dalam konsep, muncul dilapangan. Selain itu
ancaman utama adalah konsistensi implementasi. Sebagaimana dikemukakan
Peter deLeon dan Linda deLeon (2001 dalam Nugroho, 2009),
pendekatan-pendekatan dalam implementasi kebijakan publik dapat dikelompokkan menjadi
commit to user
dan eksekusinya. Peneliti yang menggunakan pendekatan ini antara lain Graham
T. Allison, pada generasi ini implementasi kebijakan berhimpitan dengan studi
pengambilan keputusan di sektor publik. Generai kedua tahun 1980-an adalah
generasi yang mengembangkan pendekatan implementasi kebijakan yang bersifat
“dari atas ke bawah”. Perspektif ini lebih focus pada tugas birokrasi untuk
melaksanakan kebijakan yang telah diputuskan secara politik. Generasi ketiga
tahun 1990-an memperkenalkan pemikiran bahwa variabel perilaku aktor
pelaksanakan implementasi kebijakan lebih menentukan keberhasilan
implementasi kebijakan.
Rhys Andrews, dkk (2011: 3) memberikan penjelasan tentang model
implementasi bahwa :
“Implementation model is the approach that organizations adopt when putting strategies into practice. There are two core elements of this: the extent to which responsibility is centralized or decentralized, and whether formulation and implementation are distinct and sequential activities or are intertwined An organization’s implementation model forms part of its administrative routine, which has long been recognized as crucial to understanding the dynamics of implementation.” (Model implementasi adalah pendekatan bahwa organisasi mengadopsi saat meletakkan strategi dalam praktek. Ada dua elemen inti dari: sejauh mana tanggung jawab adalah sentralisasi atau desentralisasi, dan apakah formulasi dan implementasi jelas dan sekuensial kegiatan atau saling terkait model implementasi sebuah organisasi merupakan bagian dari rutinitas administrasi yang telah lama diakui sebagai sesuatu penting
untuk memahami dinamika implementasi) (www.
faculty.cbpp.uaa.alaska.edu).
Setiap kebijakan dalam pelaksanaannya pasti ada kelemahan yang dimiliki
oleh badan pelaksana dan juga hambatan dalam melaksanakan suatu kebijakan.
sedangkan hambatan muncul dari luar lingkungan organisasi. kedua hal ini sangat
mempengaruhi proses implementasi suatu kebijakan.
a. Model Van Meter dan Van Horn
Model ini mengandaikan bahwa implementasi kebijakan berjalan secara
linier dari kebijakan publik, implementor, dan kinerja kebijakan publik
(Nugroho, 2009 : 503). Model ini tidak hanya menentukan
hubungan-hubungan antara variabel-variabel bebas dan variabel terikat mengenai
kepentingan-kepentingan, tetapi juga menjelaskan hubungan-hubungan antara
variabel-variabel bebas. Dalam pandangan van Meter dan van Horn, kita
mempunyai harapan yang besar untuk menguraikan proses-proses dengan cara
melihat bagaimana keputusan-keputusan kebijakan dilaksanakan dibandingkan
hanya sekedar menghubungkan variabel bebas dan variabel terikat dalam suatu
cara yang semena-mena. Variabel-variabel tersebut dijelaskan oleh van Meter
dan van Horn sebagai berikut (Winarno, 2008 : 156) :
1. Ukuran-ukuran dasar dan Tujuan-tujuan kebijakan
Variabel ini didasarkan pada kepentingan utama terhadap faktor-faktor
yang menentukan kinerja kebijakan. Identifikasi indikator-indikator
kinerja merupakan tahap yang paling krusial dalam proses implementasi
kebijakan untuk menilai sejauh mana ukuran-ukuran dasar dan
tujuan kebijakan telah direalisasikan. Ukuran-ukuran dasar dan
tujuan-tujuan kebijakan berguna dalam menguraikan tujuan-tujuan-tujuan-tujuan keputusan
commit to user
2. Sumberdaya
Disamping ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan, yang perlu
diperhatikan dalam proses implementasi kebijakan adalah sumerdaya.
Sumberdaya layak mendapatkan perhatian karena menunjang
keberhasilan implementasi kebijakan. Sumberdaya yang dimaksud
mencakup dan atau perangsang lain yang mndorong dan mmperlancar
implementasi yang efektif.
3. Komunikasi antar organisasi dan kegiatan pelaksanaan
Implementasi akan berjalan efektif bila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan
dipahami oleh individu-individu yang bertanggung jawab dalam kinerja
kebijakan, oleh karena itu menurut van Meter dan van Horn,
prospek-prospek tentang implementasi yang efektif ditentukan oleh kejelasan
ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan yang dinyatakan oleh ketepatan dan
konsistensi dalam mengkomunikasikan ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan
tersebut.
4. Karakteristik badan-badan pelaksana
Dalam melihat karaktaristik badan-badan pelaksana maka tidak bisa
lepas dari struktur birokrasi. Struktur birokrasi diartikan sesuai
karakteristik-karakteristik, norma-norma dan pola-pola hubungan yang
terjadi berulang-ulang dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai
hubungan baik potensial maupun nyata dengan apa yang mereka miliki
dalam menjalankan kebijakan. Komponen ini terdiri dari ciri-ciri struktur
dari personil mereka. Di samping itu, perhatian juga perlu ditujukan
kepada ikatan-ikatan badan pelaksana dengan pemeran-pemeran serta
dalam sistem penyampaian kebijakan.
5. Kondisi-kondisi ekonomi, sosial, dan politik.
Variabel ini mencakup sumberdaya ekonomi lingkungan yang dapat
mendukung keberhasilan implementasi kebijakan, sejauhmana
kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi
implemntasi kebijakan, karAktarsitik para partisipan, bagaimana sifat
opini publik yang ada dilingkungan, dan apakah elite politik mendukung
implementasi kebijakan (Subarsono, 2009 : 101).
6. Disposisi Pelaksana (implementors)
Disposisi pelaksana menakup tiga hal yang penting, yakni : (a) respons
pelaksana terhadap kebijakan, yang akan mempengaruhi kemauannya
untuk melaksanakan kebijakan; (b) kognisi, yakni pemahaman terhadap
kebijakan; dan (c) intensitas disposisi pelaksana, yakni preferensi nilai
commit to user Gambar II.1
Model Van Meter dan Van Horn
Sumber : Van Meter dan Horn, 1975 : 463 (Subarsono, 2009:100).
b. Model Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier
Menurut Daniel Mazmanian dan Paul A. Sabatier (1983) yang
mengemukakan bahwa implementasi adalah upaya melaksanakan keputusan
kebijakan, ada tiga kelompok variabel yang mempengaruhi keberhasilan
implementasi, yakni :
1. Karakteristik dari masalah
a. Tingkat kesulitan teknis dari masalah yang bersangkutan. Di satu
pihak ada beberapa masalah sosial secara teknis mudah dipecahkan.
Dipihak lain terdapat masalah-masalah sosial yang relatif sulit
dipecahkan. Ukuran dan
tujuan kebijakan
Komunikasi antar organisasi dan kegiatan
pelaksanaan
KarAktaristik badan-badan
pelaksana Sumber daya
Disposisi pelaksana
Kondisi lingkungan ekonomi, sosial, politik
Kinerja implem
b. Tingkat kemajemukan dari kelompok sasaran. Ini berarti bahwa suatu
program akan relatif mudah diimplementasikan apabila kelompok
sasarannya adalah homogen, begitu juga sebaliknya.
c. Proporsi kelompok sasaran terhadap total populasi. Sebuah program
akan relatif sulit diimplementasikan apabila sasaran mencakup semua
populasi, begitu juga sebaliknya.
d. Cakupan perubahan perilaku yang diharapkan. Sebuah program yang
bertujuan memberikan pengetahuan atau bersifat kognitif akan relatif
mudah diimplementasikan daripada program yang bertujuan untuk
mengubah sikap dan perilaku masyarakat.
2. Karakteristik kebijakan:
a. Kejelasan isi kebijakan. Ini berarti semakin jelas dan rinci isi sebuah
kebijakan akan mudah diimplementasikan karena implementor mudah
memahami dan menterjemahkan dalam tindakan nyata, begitupun
sebaliknya.
b. Seberapa jauh kebijakan tersebut memiliki dukungan teoritis.
Kebijakan yang memiliki dasar teoritis memiliki sifat lebih mantap
karena sudah teruji walaupun untuk beberapa lingkungan sosial
tertentu perlu ada modifikasi.
c. Besarnya alokasi sumberdaya financial terhadap kebijakan tersebut.
Sumberdaya keuangan adalah factor krusial untuk setiap program
commit to user
d. Seberapa besar adanya keterpautan dan dukunan antar berbagai
institusi pelaksana.
e. Kejelasan dan konsistensi aturan yang ada pada badan pelaksana.
f. Tingkat komitmen aparat terhadap tujuan kebijakan.
g. Seberapa luas akses kelompok-kelompok luar untuk berpartisipasi
dalam implementasi kebijakan.
3. Variabel lingkungan(diluar kebijakan)
a. Kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kemajuan teknologi.
Masyarakat yang sudah terbuka dan terdidik akan relatif mudah
menerima program-program pembaharuan dibanding masyarakat yang
masih tertutup dan tradisional.
b. Dukungan publik terhadap sebuah kebijakan. Kebijakan yang
memberikan insentif biasnya lebih mudah mendapat dukungan public
dibandingkan kebijakan yang bersifat dis-insentif.
c. Sikap dari kelompok pemilih. Kelompok pemilih yang ada dalam
masyarakat dapat mempengaruhi implementasi kebijakan melalui
berbagai cara.
d. Tingkat komitmen dan ketrampilan dari aparat dan impelementor.
Pada akhirnya, komitmen aparat pelaksana untuk merealisasikan
tujuan yang telah tertuang dalam kebijakan adalah variabel yang
paling krusial. Aparat badan pelaksana harus memiliki ketrampilan
dalam membuat prioritas tujuan dan selanjutnya merealisasikan
Gambar II.2
Model Mazmanian dan Sabatier
Sumber : Mazmanian, Daniel A dan Sabatier, Paul A (1983:22 dalam Subarsono,
2009:95).
c. Model George C. Edwards III
George Edwards III menegaskan bahwa masalah utama administrasi
publik adalah lack of attention to implementation the decision of policymaker
will not be carried our successfully. Model implementasi ini sering disebut
dengan Direct and Indirect Impact of Implementation. Dalam pandangan
Edwards III, implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variabel, yakni :
Mudah/tidaknya masalah dikendalikan 1.Kesulitan teknis
2.Keragaman perilaku kelompok sasaran
3.Prosentase kelompok sasaran disbanding jumlah populasi 4.Ruang lingkup perubahan yang diinginkan
Kemampuan kebijakan untuk menstrukturkan proses implementasi
1. Kejelasan dan konsisten tujuan
2. Digunakannya teori kausal yang memadai 3. Ketepatan alokasi sumberdaya
4. Keterpaduan hierarki dalam dan diantara badan pelaksana
5. Aturan-aturan keputusan dari badan pelaksana
6. Rekruitmen pejabat pelaksana 7. Akses formal pihak luar
Variabel diluar kebijakan yang mempengaruhi proses implementasi 1. Kondisi sosial-ekonomi dan
teknologi 2. Dukungan public
3. Sikapdan sumber-sumber yang dimiliki kelompok pemilih
4. Dukungan dari pejabat atasan 5. Komitmen dan ketrampilan
kepemimpinan pejabat-pejabat pelaksana
commit to user
1. Komunikasi
Komunikasi berkenaan dengan bagaimana kebijakan dikomunikasikan
pada organisasi atau public, ketersediaan sumberdaya untuk
melaksanakan kebijakan, sikap, dan tanggap dari para pihak yang terlibat
dan bagaimana struktur organisasi pelaksana kebijakan.
2. Sumberdaya
Berkenaan dengan ketersediaan sumberdaya pendukung, khususnya
sumberdaya manusia. Hal ini berkenaan dengan kecakapan pelaksana
kebijakan public untuk carry out kebijakan yang efektif.
3. Disposisi
Berkenaan dengan kesediaan dari para implementor untuk carry out
kebijakan publik tersebut. Kecakapan saja tidak mencukupi, tanpa
kesediaan dan komitmen untuk melaksanakan kebijakan.
4. Struktur Birokrasi
Berkenaan dengan kesesuain organisasi birokrasi yang menjadi
penyelengara imprlrmntasi kebijakan public. Tantangan adalah bagaiman
agar tidak terjadi bureaucratic fragmentation karena struktur ini
menjadikan proses implementasi menjasi jauh dari efektif (Nugroho,
Gambar II.3
Model George C. Edwards III
Sumber : Edwards III (1980:148 dalam Subarsono, 2009:91).
d. Model Merilee S. Grindle (1980)
Keberhasilan implementasi menurut Merilee S. Grindle (1980)
dipengaruhi oleh dua variabel besar, yakni isi kebijakan (content of policy) dan
lingkungan implementasi (context of implementation). Variabel isi kebijakan
ini mencakup:
a. Sejauh mana kepentingan kelompok sasaran atau target groups termuat
dalam isi kebijakan.
b. Jenis manfaat yang diterima oleh target groups.
c. Sejauhmana perubahan yang diinginkan dari sebuah kebijakan.
d. Apakah letak sebuah program sudah tepat. Komunikasi
Sumberdaya
Disposisi
Struktur Birokrasi
commit to user
e. Apakah sebuah kebijakan telah menyebutkan implementornya dengan
rinci.
f. Apakah sebuah program didukung oleh sumberdaya yang memadai.
Sedangkan variabel lingkungan kebijakan mencakup:
a. Seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh
para aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan.
b. KarAktaristik institusi dan rejim yang sedang berkuasa.
c. Tingkat kepatuhan dan responsivitas kelompok sasaran.
Gambar II.4
Model Implementasi Kebijakan Merilee S. Grindle
Sumber : Grindle, Merile S (1980:11 dalam Subarsono, 2009:94).
Dengan memahami model-model Implementasi pada dasarnya dapat
dibuat pemetaan model-model Implementasi dalam dua jenis pemilahan (Riant
Nugroho, 2009) pemilahan pertama adalah Implementasi kebijakan yang berpola
Tujuan yang
dari “atas ke bawah” (Top Down) versus dari “bawah ke atas” (Bottom Up), atau
pemilahan implementasi yang berpola paksa (command and control) dan
mekanisme pasar (economic incentives). Model mekanisme paksa adalah model
yang mengedepankan arti penting lembaga publik sebagai lembaga tunggal yang
mempunyai monopoli atas mekanisme paksa dalam Negara. Sebaliknya “bottom
up“ bermakna meskipun kebijakan dibuat oleh pemerintah, namun
pelaksanaannya oleh rakyat. Diantara dua kutub ini ada interaksi pelaksanaan
antara pemerintah dan masyarakat. Dari pemetaan tersebut tampak bahwa
sebagian besar implementasi kebijakan berada pada model Top Down ( Van
Meter Van horn, Grindle, C Edwards, Mazmanian dan Paul Sabatier).
Salah satu contoh kebijakan yang bersifat Top Down adalah kebijakan
konversi minyak tanah ke gas. Kebijakan konversi minyak tanah ke gas pada
dasarnya adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk menekan subsidi
minyak tanah yang semakin memberatkan dengan mengganti minyak tanah
dengan gas. Proses implementasi kebijakan konversi minyak tanah ke gas ini
bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang mudah karena kebijakan ini merubah
kebiasaan masyarakat yang sering menggunakan minyak tanah untuk memasak
dengan gas. Sehingga dalam implementasinya kebijakan ini dapat dilihat dengan
beberapa model seperti model implementasi Van Meter dan Van Horn, Grindle,
Edwards, Mazmanian dan Paul Sabatier, dan lain-lainnya untuk melihat proses
implemetasi dari kebijakan konversi minyak tanah ke gas serta keberhasilan atau
commit to user
Kebijakan konversi minyak tanak ke gas ini pada dasarnya sama dengan
Kebijakan Administrasi Kependudukan, dikatakan sama karena dua kebijakan ini
bersifat Top Down dan juga di maksudkan untuk mengatur masyarakat agar mau
melakukan apa yang dikehendaki oleh pemerintah dengan maksud dan tujuan agar
menjadikan lebih baik dari sebelumnya. Kebijakan konversi minyak tanah ke gas
dimaksudkan agar masyarakat beralih ke gas untuk memasak karena kuota gas di
Indonesia sangat melimpah sehingga subsidi minyak tanah yang selama ini
membebani APBN dapat berkurang. Begitu juga dengan Kebijakan Administrasi
Kependudukan ini dimaksudkan agar pendataan kependudukan lebih dapat tertata
dan tidak lagi terjadi data ganda yang dapat dimanfaatkan ketika Pemilu data
daftar calon pemilih tidak smrawut lagi dengan adanya KTP ganda atau data
Ganda.
Sementara model “Bottom Up” yaitu (Adam Smith, Richard Elmore dkk,
model jaringan), serta ada model yang berada di tengah-tengah yaitu model
Goggin ( dalam Nugroho, 2009). Kebijakan Bottom Up merupakan kebijakan
yang berasal dari aspirasi rakyat dan juga rakyat dapat ikut dala suatu proses
kebijakan. Pada intinya sebuah kebijakan publik yang baik adalah kebijakan yang
melibatkan peran serta masyarakat. Misalnya kebijakan penetapan Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW). Dewasa ini banyak Pemda yang memasang
pengumuman di media untuk meminta masukan dari masyarakat mengenai
penetapan RTRW. Dengan demikian masyarakat tidak akan melanggar RTRW
yang telah ditetapkan. Yang jadi masalah, seringkali setelah menerima input dari
ditetapkan menjadi Perda. Kebijakan penetapan RTRW ini bersifat Bottom Up
karena perlu adanya dukungan dan juga kesungguhan tidak hanya dari pemerintah
akan tetapi juga dari masyarakat karena yang berhubungan langsung dengan
pencatatan tata ruang wilayah adalah masyarakat itu sendiri.
B. Administrasi Kependudukan dan Kebijakan Administrasi Kependudukan
1. Pengertian Administrasi Kependudukan
Kependudukan erat hubungannya dengan demografi, sehingga seringkali
sebagian orang menganggap istilah tersebut memiliki arti yang sama. Ilmu
kependudukan dan demografi, keduanya sama mempelajari tentang penduduk
hanya titik beratnya yang berbeda. Menurut Hauser & Duncan dalam Ida Bagoes
Mantra (2008:2) mengusulkan definisi demografi sebagai berikut :
“Demography is the study of the size, territorial distribution and composition of population, changes there in and the components of such changes which mybe identified as natality, territorial movement (migrationn), and social mobility (change of state)”( demografi mempelajari jumlah persebaran, teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab perubahan itu, yang biasanya timbul karena natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak teritorial (migrasi) dan mobilitas sosial (perubahan status).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa demografi adalah ilmu
yang mempelajari tentang persoalan dan keadaan perubahan-perubahan penduduk
(kelahiran, kematian, perkawinan, mobilitas sosial dan migrasi), sehingga
menghasilkan suatu keadaan dan komposisi penduduk menurut umur dan jenis
kelamin. Menurut Ida Bagoes Mantra (2008: 2) bahwa demografi mempelajari
aspek kependudukan yang bersifat statis dan dinamis. Demografi tidak
commit to user
lingkup yang luas, berusaha menjawab “mengapa” terjadi perubahan-perubahan
demografi tersebut dengan mempertimbangkan faktor-faktor non demografi
seperti ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya.
Untuk mengetahui jumlah penduduk, terutama mengenai struktur dan
proses dibutuhkan data. Data Kependudukan adalah data perseorangan dan/atau
data agregat yang terstruktur sebagai hasil dari kegiatan Pendaftaran Penduduk
dan Pencatatan sipil (Permendagri No 25 Tahun 2011). Dalam administrasi
kependudukan ada tiga sumber data kependudukan yang digunakan, yaitu:
1. Sensus penduduk
2. Survei penduduk
3. Registrasi penduduk
Sensus penduduk adalah pencatatan total tentang penduduk yang
dilakukan olah Badan Pusat Statistik dengan tujuan untuk mengetahui
jumlah, komposisi, dan karakteristik penduduk yang dilaksanakan setiap
sepuluh tahun sekali. Sensus penduduk adalah suatu metode menjaring data
penduduk dengan cara mengadakan penghitungan langsung ke lapangan. Pada
dasarnya sensus penduduk berisi tentang data-data penduduk seperti Nama-nama
anggota rumah tangga, hubungan dengan kepala rumah tangga, jenis kelamin,
bulan-tahun lahir, umur, status perkawinan, kepemilikan kartu identitas. Selain itu
dengan cara ini, banyak data tentang kepndudukan yang lain yang bisa didapat
selain yang dihal-hal pokok tersebut, seperti tingkat kemakmuran dan kesehatan.
Kedua hal tersebut dapat dilihat dengan kasat mata walaupun tanpa menanyakan
penyusunan, pengolahan, dan penerbitan data yang bersifat demografis,
ekonomis, dan sosial dari suatu wilayah atau negara tertentu dan dalam waktu
tertentu (Elpasyaribu, 2010).
Selain melalui sensus, data kependudukan dapat pula diperoleh dari hasil
survei. Dilihat dari pelaksanaannya, survei hampir sama dengan sensus.
Perbedaan dari kedua proses pencacahan tersebut terletak pada waktu
pelaksanaan, wilayah, dan jumlah penduduk yang di data. Proses pendataan survei
hanya dilakukan terhadap sampel (contoh) penduduk di beberapa wilayah yang
dianggap dapat mewakili karakteristik semua penduduk di sekitar wilayah sampel.
Pelaksanaannya pun dapat dilakukan kapanpun dan tidak memiliki periodisasi
seperti sensus atau dengan kata lain, survei adalah proses pencacahan terhadap
sampel penduduk di beberapa wilayah yang dapat mewakili karakteristik wilayah
secara keseluruhan (www.apomienowuna.com).
Registrasi penduduk merupakan kumpulan berbagai keterangan dari
kejadian penting yang dialami oleh manusia, seperti data kelahiran, kematian,
perkawinan, perceraian, perpindahan penduduk, dan kejadian-kejadian penting
lainnya yang tertulis. Registrasi penduduk ialah pencatatan tentang identitas atau
ciri-ciri, status, dan kondisi penduduk yang dilaksanakan secara terus-menerus
oleh pemerintah mulai tingkat terendah yaitu desa atau kelurahan. Dari data
hasil registrasi akan didapat laporan monografi desa tentang kependudukan secara
kontinu yang berisi data tentang kelahiran penduduk, kematian, perkawinan,
commit to user
2010). Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menjembatani tersedianya
data kependudukan tahunan, karena data kependudukan yang ada hanya dapat
diperoleh dari Sensus Penduduk (SP) setiap 10 tahun dan Survai Penduduk Antar
Sensus (supas) setiap 5 tahun di antara dua Sensus Penduduk. Pelaksanaan
registrasi penduduk dilakukan oleh aparat pemerintah daerah di setiap propinsi,
sedangkan Sensus Penduduk dikoordinir oleh BPS yang dilakukan serempak di
seluruh Indonesia. Perbedaan lainnya, konsep yang dipakai di negara kita untuk
Sensus Penduduk adalah kombinasi dari konsep de jure dan de facto, sedangkan
Registrasi Penduduk menggunakan konsep de jure. Dokumen Kependudukan
pada dasarnya meliputi :
1. Biodata Penduduk;
2. Kartu Keluarga (KK);
3. Kartu Tanda Penduduk (KTP);
4. Surat keterangan kependudukan;
5. Akta Pencatatan Sipil.
Data kependudukan memegang peran penting dalam pembuatan
perencanaan baik oleh pemerintah maupun dunia usaha. Bagi pemerintah data
tentang kependudukan dapat digunakan dalam perencanaan pendidikan,
ketenagakerjaan, kesehatan, perumahan dan sebagainya. Sedangkan bagi dunia
usaha dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan penjualan, segmentasi
2. Kebijakan Administrasi Kependudukan di Kota Surakarta
Pelaksanaan Administrasi Kependudukan di Indonesia diatur dengan
Keputusan Presiden (Keppres) No 88/2004 tentang Pengelolaan Administrasi
Kependudukan dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No 18/2005
tentang Administrasi Kependudukan. Peraturan-peraturan ini selanjutnya
diperbaharui menjadi UU No 23 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan
PP 37 2007 tentang Pelaksanaan UU No 23 2006 tentang Administrasi
Kependudukan serta Permendagri No 11 tahun 2011 perbaharuan dari
Permendagri sebelumnya. Administrasi Kependudukan secara nasional berada
pada Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan di bawah naungan
Departemen Dalam Negeri. Setiap daerah kabupaten/kota memiliki tanggung
jawab dan kewajiban untuk menyelenggarakan Administrasi Kependudukan.
Tugas dan wewenang Administrasi Kependudukan diserahkan pada Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil setempat. Berdasarkan Peraturan Daerah
Kota Surakarta Nomor 10 tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Administrasi
Kependudukan yang dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Kota Surakarta meliputi beberapa hal yaitu Pendaftaran Penduduk, Pencatatan
Sipil dan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK).
Administrasi Kependudukan adalah suatu rangkaian kegiatan penataan dan
penertiban dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui
pendaftaran penduduk, pencatatan sipil. Pengelolaan informasi Administrasi
commit to user
Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan).
Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan pada dasarnya bertujuan untuk
(Penjelasan Umum Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 10 Tahun 2010
Tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan ):
a. Memberikan keabsahan identitas dan kepastian hukum atas dokumen
Penduduk untuk setiap Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting
yang dialami oleh Penduduk;
b. Memberikan perlindungan status hal sipil Penduduk;
c. Menyediakan data dan informasi kependudukan secara nasional
mengenai pendaftaran Penduduk dan Pencatatan sipil pada berbagai
tingkatan secara akurat, lengkap, mutakhir, dan mudah diakses sehingga
menjadi acuan bagi perumusan kebijakan dan pembangunan pada
umumnya;
d. Mewujudkan tertib Administrasi Kependudukan secara nasional dan
terpadu; dan
e. Menyediakan data Penduduk yang menjadi rujukan dasar bagi sektor
terkait dalam penyelenggaraan setiap kegiatan pemerintahan,
pembangunan, dan kemasyarakatan.
Pendaftaran penduduk adalah proses regristrasi penduduk yang meliputi
pendaftaran biodata, penduduk rentan dan pelaporan atas peristiwa kependudukan
serta penerbitan dukomen penduduk berupa identitas, kartu atau keterangan yang
a) Pencatatan Biodata Penduduk dan Penerbitan Nomor Induk
Kependudukan (NIK).
b) Penerbitaan Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Identitas Penduduk (KTP).
c) Pencatatan atas Peristiwa kependudukan yaitu pencatatan atas kejadian
yang dialami penduduk yang harus dilaporkan karena membawa akibat
terhadap penerbitan dan perubahan kartu keluarga, kartu tanda
penduduk dan surat keterangan kependudukan meliputi pindah datang,
perubahan alamat, serta status tinggal terbatas menjadi tinggal tetap.
d) Pendaftaran penduduk rentan administrasi kependudukan, yaitu
penduduk korban bencana alam, korban bencana sosial, orang terlantar
dan masyarakat terpencil.
e) Pelaporan penduduk yang tidak mampu mendaftar sendiri, yaitu
penduduk penyandang cacat fisik dan cacat mental.
f) Penduduk Musiman atau Pindah Sementara yaitu pencatatan penduduk
yang tinggal sementara atau dalam musim-musim tertentu harus
dilaporkan kepada Lurah dimana bertempat tinggal.
Pencatatan sipil adalah pencatatan peristiwa penting yang dialami
penduduk yang dialami seseorang dalam registrasi pencatatn sipil pada Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Pencatatan sipil meliputi :
a. Pencatatan Kelahiran
b. Pencatatan Ahir Mati
commit to user
e. Pencatatan Perceraian
f. Pencatatan Pembatalan Perceraian
g. Pencatatan Kematian
h. Pencatatan Pengangkatan, Pengakuan dan Pengesahan Anak
i. Pencatatan perubahan nama dan perubahan status kewarganegaraan
Sedangkan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) adalah
sistem informasi yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
memfasilitasi pengelolaan informasi administrasi kependudukan di tingkat
penyelenggara dan instansi pelaksana sebagai satu kesatuan. Data penduduk yang
dihasilkan oleh SIAK dan tersimpan di dalam database kependudukan
dimanfaatkan untuk kepentingan perumusan kebijakan di bidang pemerintahan
dan pembangunan. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 10
Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan bahwa
administrasi kependudukan diarahkan untuk :
1) memenuhi hak asasi setiap orang di bidang administrasi kependudukan
tanpa diskriminasi dengan pelayanan publik yang profesional.
2) Meningkatkan kesadaran penduduk akan kewajibannya untuk berperan
serta dalam pelaksanaan administrasi kependudukan.
3) Memenuhi data statistik secara nasional mengenai peristiwa
kependudukan dan peristiwa penting.
4) Mendukung perumusan kebijakan dan perencanaan pembangunan
secara nasional, regional, serta lokal.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penerbitan dokumen
kependudukan merupakan bagian dari administrasi kependudukan. Penerbitan
dokumen merupakan hasil akhir dari kegiatan pendaftaran penduduk dan
pencatatan sipil yang berupa akta atau surat keterangan tertulis sebagai bukti
autentik yang memiliki kekuatan hukum.
C. Kerangka Pemikiran
Untuk memberikan pedoman dan mempermudah dalam kegiatan
penelitian pengolahan data, juga untuk menganalisa agar hasil penelitian yang
diperoleh benar, maka dibuat kerangka pemikiran sebagai berikut:
Gambar II.5
Kerangka Berfikir
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan
Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2010 Kota Surakarta Tentang Penyelenggaraan
Administrasi Kependudukan
Proses Implementasi Kebijakan Administrasi Kependudukan sesuai Perda No 10 tahun 2010 Di Surakarta:
a. Proses Tahapan Pendaftaran Kependudukan.
b. Proses pencatatan Sipil.
c. Proses Pengolahan Informasi Administrasi Kependudukan.
Hambatan-hambatan yang terjadi dalam implementasi kebijakan administrasi kependudukan di Kota Surakarta, Indikator :
a.Ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan
(Van Meter & Van Horn)
b. Tingkat kepatuhan dan responsivitas kelompok sasaran (Grindle)
c. Sumberdaya (Van Meter & Van Horn)
d. Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas (Van Meter & Van Horn)
2. Ketidakakuratan data yang
valid tentang