• Tidak ada hasil yang ditemukan

"Perancangan Interior Biara SSCC Yogyakarta Dengan KOnsep Recycle Building".

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan ""Perancangan Interior Biara SSCC Yogyakarta Dengan KOnsep Recycle Building"."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

LEMBAR PERNYATAAN HASIL KARYA PRIBADI ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Batasan Masalah... 9

1.4 Tujuan Perancangan ... 10

1.5 Manfaat Perancangan ... 10

1.6 Sumber Data ... 11

1.7 Metode Dan Teknik Yang Digunakan ... 12

1.8 Sistematika Penulisan... 14

BAB II LANDASAN PERANCANGAN 2.1 Biara Gereja Katolik ... 15

2.1.1 Pengertian Gereja ... 16

2.1.2 Pengertian Katolik ... 16

2.1.3 Pengertian Biara ... 16

2.1.4 Fungsi Biara Gereja Katolik ... 16

2.1.5 Penghuni biara Gereja Katolik ... 17

2.1.6 Sejarah Perkembangan gereja Katolik ... 18

(2)

2.1.8Syarat Fungsional Bangunan Gereja yang Paling Sederhana ... 20

2.1.9 Nilai estetis dalam gereja ... 21

2.1.10 Makna Simbol dalam Katolik ... 22

2.2 Green Desain ... 31

... 2.2.1 Perilaku Green Desain... 31

2.2.2 Peran Desainer Interior terhadap Green Desain ... 33

2.2.3 Bahan bangunan Ramah Lingkungan Standarisasi ruang ... 33

... 2.2.4 Ergonomi ... 37

2.2.5 Pencahayaan Alami ... 39

BAB III DESKRIPSI BIARA SSCC JL.TIMOR-TIMUR, KALIURANG 3.1 Pembahasan Proyek ... 41

3.2 Ordo SSCC ... 43

3.3 Analisis Site ... 44

3.1.1 Lingkungan Masyarakat ... 44

3.1.2 Lingkungan sekitar ... 45

3.1.3 Pencahayaan Alami / Matahari ... 45

3.1.9 Utilitas & Drainase ... 48

(3)

3.4.2 Kebutuhan Ruang Biara ... 53

3.4.3 Flow Activity pada Biara SSCC ... 54

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BIARA SSCC YOGYAKARTA DENGAN KONSEP GREEN DESAIN 4.1 Dasar Pemikiran ... 56

4.2 Dasar Perancangan ... 57

4.3 Perancangan ... 58

4.3.1 Konsep Organisasi Ruang ... 58

4.3.2 Pemilihan Warna & Material ... 61

4.3.3 Perancangan Dinding ... 62

4.3.4 Perancangan Lantai ... 63

4.3.5 Perancangan Plafon ... 63

... 4.3.6 Perancangan Furniture ... 65

4.3.7 Perancangan elemen Interior ... 67

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 70

5.2 Saran ... 74

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan masyarakat Kristiani khususnya Katolik, secara harafiah

gereja merupakan gedung tempat berdoa dan tempat melakukan upacara

agama Kristen. Dan secara simbolis Gereja merupakan badan organisasi umat

Kristen yang sama kepercayaan, ajaran dan tata cara ibadahnya. Gereja

sebagai bangunan memiliki tata ruang yang baik karena melambangkan

perjumpaan umat beriman dan Allah sendiri lewat Kristus. Ibadah umat

Kristiani untuk mengungkapkan kesatuan umat beriman dengan Kristus

sebagai satu tubuh yaitu sebagai kepala dan anggota- anggotanya. Dengan satu

ruangan yang sama, tampilah realitas kesatuan umat beriman. Karena itu tata

ruang liturgi disusun agar memperhatikan fungsi serta peran umat beriman.

Tempat mimbar dan altar yang baik memungkinkan perayaan liturgi berjalan

dengan baik. Maka ruang liturgi dibuat sedemikian rupa, agar tata gerak

(5)

Gambar 1.1 Gereja Klasik

Sumber www.google.com

Gambar 1.2 Gereja Modren Sumber www.google.com

Dalam kehidupan gereja terdapat faktor pendukung lainnya, salah

satunya adalah biara. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, biara adalah

rumah tempat tinggal para pertapa atau bangunan tempat tinggal orang laki-

(6)

agama dibawah pimpinan seorang ketua menurut aturan tarikatnya. Pada

umumnya biara merupakan tempat para calon- calon suster atau bruder

tinggal.

Gambar 1.3 Varlaam Monastery Sumber www.google.com

Gambar 1.4 Jesuit Monastery

Sumber www.google.com

Oleh karena itu, topik mengenai biara ini menjadi menarik dalam

penugasan mata kuliah Studi Mandiri yang dilanjutkan pada perancangan

”Tugas Akhir”. Biara ini nantinya akan dirancang di Yogyakarta. Adapun

(7)

dan fasilitas yang dapat mendukung rutinitas serta memberi kenyamanan bagi

para calon bruder dan suster. Tema tersebut diangkat karena :

1. Dengan adanya pertambahan jumlah bruder dan suster maka

diperlukan juga space untuk tempat tinggal mereka. (Indonesianisasi

hal 253, point 6.4).

2. Berkurangnya keyakinan yang mendalam di dalam diri umat beriman

yang masih muda karena kurangnya fasilitas pelatihan (Indonesianisasi

hal 253, point 6.4).

3. Salah satu faktor pendukung gereja yaitu biara yang ditujukan bagi

kaum awam agar lebih menerima gereja dikalangan sosial.

Majunya pembangunan gereja juga tidak hanya tergantung dari imam

selibater saja, namun juga pada landasannya bahwa kaum awam juga berperan

serta dalam usaha tersebut, dan berlangsung berdasarkan visi teologis bahwa

gereja setempat harus ”sepenuhnya” Gereja. Oleh sebab itu penulis turut serta

melibatkan diri untuk kemajuan pembangunan Gereja dengan merancang salah

satu faktor pendukung gereja yaitu biara yang ditujukan bagi kaum awam agar

(8)

Gambar 1.5 Logo Keuskupan Agung Semarang

Sumber Dokumen pribadi

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah yang tergabung dalam Keuskupan

Semarang, agama Katolik sendiri masuk ke daerah Jawa Tengah dan

Yogyakarta tahun 1894 sejak didirikannya paroki pertama untuk masyarakat

non Eropa, sejak itu pula banyak masyarakat pribumi Indonesia mulai

menganut agama Katolik. Seiring dengan berjalannya waktu pertumbuhan

umat Katolik di Indonesia semakin besar dan semakin banyak oleh karena itu

dibutuhkan pula calon imam yang semakin banyak pula. Menurut statistic

personalia semua keuskupan tahun 1990, Keuskupan Semarang memiliki

calon imam yang cukup besar yaitu 307 orang dan memiliki jumlah total

rohaniawan Katolik terbesar dari semua keuskupan yang ada di Indonesia

yaitu 1758 orang (Indonesianisasi hal 502). Oleh karena itu maka Keuskupan

Semarang memerlukan banyak biara khususnya di daerah Yogyakarta. Dan

Biara Katolik yang terpilih sebagai proyek Tugas Akhir ini adalah Biara SSCC

yang terletak di Kali Urang, Yogyakarta tepatnya berlokasi di Jalan Timor

(9)

Gambar 1.6 logo SSCC Sumber Ensiklopedi gereja Jilid 5

Ordo SSCC sendiri adalah Congregation Sacrorum Cordium Jesu et mariae

(Kongregasi Para Pater Hati Kudus Yesus dan Maria), didirikan pada tahun

1797 di Poitres (Perancis) oleh Marie-Joseph Coudrin dan Sr.Henriette Amyer

de la Chevalerie (Ensiklopedi Gereja jilid 5), atau biasa kita kenal juga dengan

sebutan para Pater Picpus sesuai dengan rumah induk pertama mereka tahun

1805 di Jl. Picpus ,Paris. Sedangkan di Indonesia sendiri ordo SSCC banyak

berkembang di daerah Keuskupan Pangkal Pinang sejak tahun 1924 dan sejak

tahun itu pula Keuskupan Pangkal Pinang dipercayakan para ordo tersebut.

(Indonesianisasi)

Gambar 1.7 Skema tema

Sumber Dokumen pribadi

Tema yang penulis ambil adalah “Batu yang telah dibuang oleh tukang

bangunan telah menjadi batu penjuru, juga menjadi batu sentuhan dan batu

(10)

adalah perubahan bentuk dari manusia biasa menjadi seorang rohaiawan (pastor)

yang secara umum memilki peningkatan kualitas dan fungsi secara iman

maupun pada masyarakat dan yang kedua memilki arti bahwa benda yang sudah

tidak terpakai lagi masih dapat digunakan dengan lebih maksimal .

Selain itu penulis juga memiliki kata kunci yaitu:

“Renovatio” yang memilki arti lahir kembali (Buku Kamus

Latin-Konsep yang akan penulis gunakan adalah wawasan lingkungan hidup dalan hal

ini Green desain yang dikhususkan pada recycle building selain bahan ramah

lingkungan dan hemat energi. Hal ini didukung oleh Pedoman Pastoral

Keuskupan Bandung 2005-2009 dan beberapa teks katolik lainnya seperti

(Sollicitudo Rei Socialis 34 ; Centesimus Annus 37-38) yang berisi :

Langkah Pastoral di Bidang Lingkungan Hidup:

• pasal 1

a. mendorong agar topik/tema lingkungan hidup masuk dalam program

pendidikan formal dan non formal.

b. mengangkat lingkungan hidup dalam liturgi dan pewartaan

c. Mengajak umat untuk menghemat air dan energi, membatasi

penggunaan bahan-bahan polutif, dan mengunakan bahan-bahan organik

(11)

• pasal 2

mengembangkan kesadaran teologis tentang lingkungan hidup

Tujuan Pastoral di Bidang Lingkungan Hidup:

• Umat semakin sadar akan lingkungan hidup (Sollicitudo Rei Socialis 34 ;

Centesimus Annus 37-38)

• Pelayangan kategorial lingkungan hidup semakin berkembang

• Umat berpartisipasi dalam gerakan lingkungan hidup

1.2

Rumusan Masalah

Pada laporan pengantar Tugas Akhir ini, masalah yang diangkat berdasarkan

latar belakang masalah adalah:

1. Bagaimana perancangan sebuah interior Biara dirancang sesuai dengan

kebutuhan Calon pastor atau bruder yang tinggal di biara SSCC

Yogyakarta?

2. Bagaimana penerapan filosofi dari agama Katolik dan pemaknaan SSCC

dalam perancangan?

3. Bagaimana penerapan green desain yang digunakan pada perancangan

interior biara, yang meliputi berbagai pertimbangan desian pada biara

SSCC?

4. Bagaimana mengkolaborasikan desain interior dengan desain furniture

(12)

1.3

Batasan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka batasan terhadap masalah yang

dihadapi adalah penekanan perancangan yang dilakukan pada penataan

interior biara denagn mengadaptasi gaya modern apada arsitektur bangunan.

Dimana perancangan disesuaikan dengan kebutuhan akan sarana/ fasilitas

pada sebuah biara untuk membentuk calon pastor dan buder yang berkualitas.

Perancangan desain interior ini mengunakan perbandingan adengan

biara-biara serupa yang sudah ada seperti biara-biara OSC, jl. Sultan Agung Bandung,

biara St Yosef Ruteng, dan beberapa biara lainnya di daerah Kentungan,

Yogjakarta.

Gambar 1.8 Biara St Yosef, Ruteng

Sumber Dokumen pribadi

Gambar 1.9 Biara SCJ, Yogyakarta

(13)

1.4

Tujuan Perancangan

Tujuan penulisan laporan pengantar Tugas Akhir adalah:

1. Untuk merancang hubungan, kegunaan dan pengaplikasian teori

terhadap desain dan keadaan di lapangan sesuai dengan kebutuhan

calon pastor atau bruder SSCC.

2. Untuk memperdalam pengetahuan tentang Katolik dan iman Katolik

lalu menuangkannya dalam bentuk desain perancangan.

3. Merancang Interior Biara Katolik yang ekologis dan hemat energi ,

agar perancangan sesuai dengan konsep green desain, khususnya

furniture recycled.

Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Mayor Desain Interior VI sekaligus

sebagai persyaratan akademik dalam meraih gelar Sarjana Strata Satu Desain

Interior.

1.5

Manfaat Perancangan

Penulisan laporan pengantar Tugas Akhir ini diharapkan dapat membawa

manfaat bagi:

1. Biara SSCC Yogyakarta

Laporan ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mendesain

biara SSCC yang ergonomis, fungsional, dan ramah lingkungan tanpa

mengenyampingkan nilai simbolis keagamaan.

2. Jurusan Desain Interior

Laporan ini dapat dijadikan masukan pengetahuan dengan tujuan

perkembangan serta kemajuan dalam desain, khususnya desain

(14)

3. Pembaca

Laporan ini diharapkan dapat memberikan masukan dan tambahan

ilmu dalam dunia kerja nyata, serta dapat memahami serta

mengaplikasikan dengan baik teori yang didapat dengan keadaan di

lapangan.

4. Penulis

Laporan ini dapat menjadi acuan pola pikir penulis agar semakin baik

di kemudian hari dalam proses perancangan desain serta memperluas

dan memperbaiki pemahaman terhadap desain.

5. Angkatan Bawah

Laporan ini diharapkan dapat memberikan masukan dan tambahan

ilmu bagi para adik kelas agar dapat menjalankan pembelajarannya

dengan lebih baik lagi.

1.6

Sumber Data

Adapun data yang diperoleh dalam pengerjaan laporan pengantar Tugas Akhir

ini, antara lain berupa:

1. Data primer, yaitu data utama yang diperoleh dari studi lapangan

yang dilaksanakan oleh penulis, yang bersumber dari objek yang akan

atau telah dirancang (biara SSCC Yogyakarta) dan data lapangan

lainnya .

2. Data sekunder, yaitu data yang didapat melalui studi kepustakaan,

yaitu melalui buku-buku literature, majalah desain, majalah Katolik,

artikel, media elektronik seperti internet dengan situs yang

(15)

1.7

Metode dan Teknik yang Digunakan

Penulis menggunakan metode deskriptif analitis dalam menyusun laporan

pengantar Tugas Akhir ini. Metode deskriptif analitis adalah suatu metode

yang menekankan kepada pengumpulan, penyajian dan analisis data sesuai

dengan keadaan yang ada atau yang sebenarnya sehingga dapat memberikan

gambaran yang cukup jelas atas objek bahasan yang dilengkapi dengan

metode kuantitatif (berdasarkan jumlah atau banyaknya) dan kualitatif

(berdasarkan mutunya). Sumber Holcim sustainable

Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah:

1. Observasi, yaitu cara untuk mendapatkan dan atau mengumpulkan

informasi dan data dengan cara melakukan pengamatan berbagai hal

yang berhubungan dalam desain secara langsung terhadap objek atau

proyek yang bersangkutan.

2. Wawancara, yaitu cara untuk mendapatkan dan atau mengumpulkan

informasi dan data penelitian dengan melakukan tanya jawab secara

(16)

memahami dan mengerti tentang filosofi agama Katolik mengenai data

serta informasi yang berhubungan dengan laporan yang akan dibahas.

3. Studi lapangan, yaitu cara untuk mendapatkan dan atau

mengumpulkan informasi dan data dengan cara terjun ke lapangan

dalam proses kerja di dalam perancangan biara SSCC yogyakarta.

Tahap-tahap penulisan dalam laporan pengantar Tugas Akhir ini adalah:

1. Studi Literatur

Analisa sumber data yang diperoleh dari buku, majalah, artikel dan

media elektronik.

2. Pengolahan data

Pemilihan data yang sesuai dengan topik bahasan.

3. Studi lapangan

Mencatat informasi dari hasil survey langsung ketempat dimana

proyek perancangan tersebut berada, serta ketempat-tempat yang

memiliki hubungan dengan proyek yang sedang dilaksanakan.

4. Wawancara

Melakukan tanya jawab secara langsung dengan orang-orang yang

berkompeten dibidangnya, sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan

oleh penulis

5. Analisis

Menganalisis hasil kerja proyek biara Katolik ini sesusai pada konsep,

batasan telah ditentukan, dan literatur dengan tetap memperhatikan

(17)

1.8

Sistematika Penulisan

Laporan pengantar Tugas Akhir ini dengan judul “Perancangan Interior Biara

SSCC Yogyakarta dengan Konsep Recycle Building ”, meliputi hal-hal

sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan, pada bagian ini penulis memaparkan mengenai

latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah,

tujuan dan manfaat, sumber data, serta metode dan teknik yang

digunakan dalam menyusun laporan pengantar Tugas Akhir ini.

BAB II, Pada bagian ini penulis memaparkan teori atau definisi mengenai objek bahasan, yaitu Biara Katolik, Green desain

khususnya recycle building, dan bahasan lain dari beberapa

sumber, baik buku atau majalah ataupun media elektronik

BAB III, Pada bagian ini penulis menjelaskan tentang deskripsi desain proyek Biara SSCC Yogyakarta secara lengkap.

BAB IV Pada bagian ini penulis akan menjelaskan tentang keputusan desain, penerapan konsep, gambar kerja dan gambar presentasi.

BAB V, Pada bagian ini penulis mencantumkan tulisan berupa kesimpulan dan saran yang diambil selama proses Tugas Akhir

dilaksanakan hingga selesainya laporan pengantar Tugas akhir

(18)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan

5.1.1 Perancangan interior Biara sesuai dengan kebutuhan Calon

pastor atau bruder di biara SSCC Yogyakarta.

Kebutuhan para calon pastor atau di biara SSCC dapat dibagi menjad 2

bagian:

a. Kebutuhan Ruang

Mencari kebutuhan ruang apa saja yang diperlukan dan dalam biara

tersebut dan disesuaikan dengan kegiatan para penguna biara ini

semua didapat pada saat survei biara tersebut yang dilengkapi dengan

survei pada fungsi sejenis di daerah jogjakarta

b. Kebutuhan luas ruang

Menghitung kebutuhan luas per ruang menurut fungsinya masing

(19)

Dari kebutuhan diatas perancang mulai menyesuai kan dengan desain

dan keadaaan di lapangan

5.1.2 Penerapan filosofi agama Katolik dan pemaknaan SSCC dalam

perancangan

Nilai filosofis atau simbolis menjadi acuan dalam penerapan desain

contoh diantanya adalah :

a. banguan kapel yang menghadap ke timur sebagai perlambang

bahwa kita menantikan yesus sebagai juru selamat kita.

b. Altar kapel yang memiliki konsep ”yesus terang dunia” salib yesus

yang dilengkapi dengan corpus juga bambuyang disusun

menerupai berkas cahaya, selin memiliki nilai filosofi hal ini juga

menambah nilai estetis ruang kapel.

c. Bangku yang masuk ke dalam tanah mengingatkan kita pada

”manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah ”

Nilai-nilai SSCC yang diterapkan diantaranya adalah bentuh hati

sebagai lambang adorasi Ordo tersebut terhadap Hati kudus Yesus dan

hati kudus maria. Pemasangan simbol sscc pada limen kapel agar

identitas kapel tesebut tetrap terasa sebagai kapel SSCC.

5.1.3 Penerapan green desain pada perancangan interior biara SSCC

Green desain meliputibeberapa aspek , diantaranya ;

Local resource

Aplikasi: Lantai batu alam yang berasal dari gunung merapi yang

jaraknya amat dekat dari biara SSCC

Hemat energi

Aplikasi: banyaknya bukaan memaksimalkan pencahayaan yang alami

yang masuk pada siang hari

(20)

Aplikasi: penambahan lahan hijau agar ekosistem dalam alam tidak

terganggu oleh banyaknya masa bangunan

Life quality

Aplikasi: penggunaan cat eksterior waterproof sehingga umur cat

bertahan lebih lama dari cat biasa

Economis

Aplikasi: penggunaan bamboo yang nilai ekonominya lebih rendah

dari kayu atau bahan sejenisnya

Relationship

Aplikasi: pendopo yang dapat digunakan oleh masyarakat sekitar

sehingga masyarakat dapat meniru system di dalam biara ke dalam

kehidupannya

Reduce

Aplikasi: jalan mobil yang jarang digunakan diubah menjadi taman

agar menjadi daerah resapan

Recycle

Aplikasi: tulang ikan yang menjadi sampah organic dari pabrik

pengolahan ikan menjadi benda yang estetis

Efisiensi dan efektifitas

Aplikasi: furniture multi fungsi sehingga menghemat tempat, bahan

dan biaya

Reuse

Aplikasi: papan sisa peti kemas yang sudah tidak terpakai lagi diolah

menjadi furniture dan pelapis dinding

Regeneration

Aplikasi: penempatan sampah organic yang dikontrol dan diolah

menjadi pupuk dan kompos untuk menyuburkan tumbuhan dan

memperbaiki kualitas tanah

(21)

Aplikasi: penggunaan cat water base dapat mengurangi penggunaan

bahan kimia berbahaya

Pengukuran peerancangan menggunakan tel dari holcil bahwa

perancangan biara sscc ini tergolong baik.

0.0

5.1.4 Pengkolaborasian desain interior dengan desain

furniture yang bersifat recycle

Pengunaan material recycle diaplikasikan sesuai dengan fungsi

furniture dan pengunaaanya :

a. kayu pinus

kayu pinus sisa petik kemas yang abnyak dijumpai di

daerah pabrik dapat diolah kembali menjadi kaki meja atau

kaki bangku karana pada umumnya kayu tersebut masih

(22)

b. Papan kayu serut pinus

kayu serat pinus juga sebelumnya diguanakan untuk

membungkus mesin yang berasal dari luar negri . dengan

modul 120 cm x 240 cm mamudahkan kita dalam

pemanfaatan ukuran dan meminimalakan sisa bahan yang

ada.

c. papan multi

papan multi pada perancangan biara sscc ini umumnya

digunakan pada furniture yang membutuhkan ketahannan

yang lebih karena papan multi lebih memiliki serat

diandingkan dengan papan serat kayu pinus

d. besi sisa pabrik

besi sisa pabrik dapat digunakan untuk menahan hewan

adgar tidak masuk kedalam bangunan terutama hewan

hama separti tikus atau kelelawar .

e. daun pinus

daun pinus yang kurang bermanfaat dapat dugunakan

sebagai bantal pada kapel biara sscc

f. tulang ikan hiu

tulang ikan hiu yang banyak diumpai de daerah pesisir

selatan pulau jawa dapat diolah dan dijadikan handel pintu

maupun handel lemari .

5.2.

Saran

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Ensiklopedi Gereja Jilid 5, Heuken SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2005

Dr. Th. Verhoeven SVD dan Marcus Carvallo, Kamus latin- Indonesia, penerbit

Nusa Indah Ende- Flores, 1969

Rumah Allah, Rumah umat Tata Ruang Ibadat vol 17 – 2006 edisi ke- Juli-

Agustus Komisi Liturgi KWI, Jakarta

Liturgi Sumber dan Puncak Kehidupan Bagi kemuliaan Ilahi Dekorasi Liturgis

Vol 17- 2006 edisi ke- 5 September- Oktober Komisi Liturgi KWI, Jakarta

Marsana Windhu ,I., Mengenal 30 lambang atau Simbol Kristiani , kanisius .

Yogyakarta,1997.

Marsana Windhu ,I., Mengenal peralatan, warna, dan pakaian liturgi, kanisius .

Yogyakarta,1997.

Marsana Windhu ,I., Mengenal Ruang , pelengkapan , dan petugas Liturgi ,

kanisius . Yogyakarta,1997.

Martasudjita, E , memahami symbol-simbol dalam Liturgi, kanisius .

Yogyakarta,1998.

Dr. Huub J.W.M. Boelaars, OFM Cap, Indonesianisasi, Dari Gereja Katolik di

Gambar

Gambar 1.1 Gereja Klasik
Gambar 1.3 Varlaam Monastery
Gambar 1.5 Logo Keuskupan Agung Semarang
Gambar 1.7 Skema tema
+3

Referensi

Dokumen terkait

Manusia Hidup di bumi yang kaya akan sumber daya alam, yang sejak awal diciptakan alam dengan kekayaan dan keindahan yang merupakan penunjang kesejahteraan hidup manusia,