DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
LEMBAR PERNYATAAN HASIL KARYA PRIBADI ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Batasan Masalah... 9
1.4 Tujuan Perancangan ... 10
1.5 Manfaat Perancangan ... 10
1.6 Sumber Data ... 11
1.7 Metode Dan Teknik Yang Digunakan ... 12
1.8 Sistematika Penulisan... 14
BAB II LANDASAN PERANCANGAN 2.1 Biara Gereja Katolik ... 15
2.1.1 Pengertian Gereja ... 16
2.1.2 Pengertian Katolik ... 16
2.1.3 Pengertian Biara ... 16
2.1.4 Fungsi Biara Gereja Katolik ... 16
2.1.5 Penghuni biara Gereja Katolik ... 17
2.1.6 Sejarah Perkembangan gereja Katolik ... 18
2.1.8Syarat Fungsional Bangunan Gereja yang Paling Sederhana ... 20
2.1.9 Nilai estetis dalam gereja ... 21
2.1.10 Makna Simbol dalam Katolik ... 22
2.2 Green Desain ... 31
... 2.2.1 Perilaku Green Desain... 31
2.2.2 Peran Desainer Interior terhadap Green Desain ... 33
2.2.3 Bahan bangunan Ramah Lingkungan Standarisasi ruang ... 33
... 2.2.4 Ergonomi ... 37
2.2.5 Pencahayaan Alami ... 39
BAB III DESKRIPSI BIARA SSCC JL.TIMOR-TIMUR, KALIURANG 3.1 Pembahasan Proyek ... 41
3.2 Ordo SSCC ... 43
3.3 Analisis Site ... 44
3.1.1 Lingkungan Masyarakat ... 44
3.1.2 Lingkungan sekitar ... 45
3.1.3 Pencahayaan Alami / Matahari ... 45
3.1.9 Utilitas & Drainase ... 48
3.4.2 Kebutuhan Ruang Biara ... 53
3.4.3 Flow Activity pada Biara SSCC ... 54
BAB IV KONSEP PERANCANGAN BIARA SSCC YOGYAKARTA DENGAN KONSEP GREEN DESAIN 4.1 Dasar Pemikiran ... 56
4.2 Dasar Perancangan ... 57
4.3 Perancangan ... 58
4.3.1 Konsep Organisasi Ruang ... 58
4.3.2 Pemilihan Warna & Material ... 61
4.3.3 Perancangan Dinding ... 62
4.3.4 Perancangan Lantai ... 63
4.3.5 Perancangan Plafon ... 63
... 4.3.6 Perancangan Furniture ... 65
4.3.7 Perancangan elemen Interior ... 67
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 70
5.2 Saran ... 74
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan masyarakat Kristiani khususnya Katolik, secara harafiah
gereja merupakan gedung tempat berdoa dan tempat melakukan upacara
agama Kristen. Dan secara simbolis Gereja merupakan badan organisasi umat
Kristen yang sama kepercayaan, ajaran dan tata cara ibadahnya. Gereja
sebagai bangunan memiliki tata ruang yang baik karena melambangkan
perjumpaan umat beriman dan Allah sendiri lewat Kristus. Ibadah umat
Kristiani untuk mengungkapkan kesatuan umat beriman dengan Kristus
sebagai satu tubuh yaitu sebagai kepala dan anggota- anggotanya. Dengan satu
ruangan yang sama, tampilah realitas kesatuan umat beriman. Karena itu tata
ruang liturgi disusun agar memperhatikan fungsi serta peran umat beriman.
Tempat mimbar dan altar yang baik memungkinkan perayaan liturgi berjalan
dengan baik. Maka ruang liturgi dibuat sedemikian rupa, agar tata gerak
Gambar 1.1 Gereja Klasik
Sumber www.google.com
Gambar 1.2 Gereja Modren Sumber www.google.com
Dalam kehidupan gereja terdapat faktor pendukung lainnya, salah
satunya adalah biara. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, biara adalah
rumah tempat tinggal para pertapa atau bangunan tempat tinggal orang laki-
agama dibawah pimpinan seorang ketua menurut aturan tarikatnya. Pada
umumnya biara merupakan tempat para calon- calon suster atau bruder
tinggal.
Gambar 1.3 Varlaam Monastery Sumber www.google.com
Gambar 1.4 Jesuit Monastery
Sumber www.google.com
Oleh karena itu, topik mengenai biara ini menjadi menarik dalam
penugasan mata kuliah Studi Mandiri yang dilanjutkan pada perancangan
”Tugas Akhir”. Biara ini nantinya akan dirancang di Yogyakarta. Adapun
dan fasilitas yang dapat mendukung rutinitas serta memberi kenyamanan bagi
para calon bruder dan suster. Tema tersebut diangkat karena :
1. Dengan adanya pertambahan jumlah bruder dan suster maka
diperlukan juga space untuk tempat tinggal mereka. (Indonesianisasi
hal 253, point 6.4).
2. Berkurangnya keyakinan yang mendalam di dalam diri umat beriman
yang masih muda karena kurangnya fasilitas pelatihan (Indonesianisasi
hal 253, point 6.4).
3. Salah satu faktor pendukung gereja yaitu biara yang ditujukan bagi
kaum awam agar lebih menerima gereja dikalangan sosial.
Majunya pembangunan gereja juga tidak hanya tergantung dari imam
selibater saja, namun juga pada landasannya bahwa kaum awam juga berperan
serta dalam usaha tersebut, dan berlangsung berdasarkan visi teologis bahwa
gereja setempat harus ”sepenuhnya” Gereja. Oleh sebab itu penulis turut serta
melibatkan diri untuk kemajuan pembangunan Gereja dengan merancang salah
satu faktor pendukung gereja yaitu biara yang ditujukan bagi kaum awam agar
Gambar 1.5 Logo Keuskupan Agung Semarang
Sumber Dokumen pribadi
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah yang tergabung dalam Keuskupan
Semarang, agama Katolik sendiri masuk ke daerah Jawa Tengah dan
Yogyakarta tahun 1894 sejak didirikannya paroki pertama untuk masyarakat
non Eropa, sejak itu pula banyak masyarakat pribumi Indonesia mulai
menganut agama Katolik. Seiring dengan berjalannya waktu pertumbuhan
umat Katolik di Indonesia semakin besar dan semakin banyak oleh karena itu
dibutuhkan pula calon imam yang semakin banyak pula. Menurut statistic
personalia semua keuskupan tahun 1990, Keuskupan Semarang memiliki
calon imam yang cukup besar yaitu 307 orang dan memiliki jumlah total
rohaniawan Katolik terbesar dari semua keuskupan yang ada di Indonesia
yaitu 1758 orang (Indonesianisasi hal 502). Oleh karena itu maka Keuskupan
Semarang memerlukan banyak biara khususnya di daerah Yogyakarta. Dan
Biara Katolik yang terpilih sebagai proyek Tugas Akhir ini adalah Biara SSCC
yang terletak di Kali Urang, Yogyakarta tepatnya berlokasi di Jalan Timor
Gambar 1.6 logo SSCC Sumber Ensiklopedi gereja Jilid 5
Ordo SSCC sendiri adalah Congregation Sacrorum Cordium Jesu et mariae
(Kongregasi Para Pater Hati Kudus Yesus dan Maria), didirikan pada tahun
1797 di Poitres (Perancis) oleh Marie-Joseph Coudrin dan Sr.Henriette Amyer
de la Chevalerie (Ensiklopedi Gereja jilid 5), atau biasa kita kenal juga dengan
sebutan para Pater Picpus sesuai dengan rumah induk pertama mereka tahun
1805 di Jl. Picpus ,Paris. Sedangkan di Indonesia sendiri ordo SSCC banyak
berkembang di daerah Keuskupan Pangkal Pinang sejak tahun 1924 dan sejak
tahun itu pula Keuskupan Pangkal Pinang dipercayakan para ordo tersebut.
(Indonesianisasi)
Gambar 1.7 Skema tema
Sumber Dokumen pribadi
Tema yang penulis ambil adalah “Batu yang telah dibuang oleh tukang
bangunan telah menjadi batu penjuru, juga menjadi batu sentuhan dan batu
adalah perubahan bentuk dari manusia biasa menjadi seorang rohaiawan (pastor)
yang secara umum memilki peningkatan kualitas dan fungsi secara iman
maupun pada masyarakat dan yang kedua memilki arti bahwa benda yang sudah
tidak terpakai lagi masih dapat digunakan dengan lebih maksimal .
Selain itu penulis juga memiliki kata kunci yaitu:
• “Renovatio” yang memilki arti lahir kembali (Buku Kamus
Latin-Konsep yang akan penulis gunakan adalah wawasan lingkungan hidup dalan hal
ini Green desain yang dikhususkan pada recycle building selain bahan ramah
lingkungan dan hemat energi. Hal ini didukung oleh Pedoman Pastoral
Keuskupan Bandung 2005-2009 dan beberapa teks katolik lainnya seperti
(Sollicitudo Rei Socialis 34 ; Centesimus Annus 37-38) yang berisi :
Langkah Pastoral di Bidang Lingkungan Hidup:
• pasal 1
a. mendorong agar topik/tema lingkungan hidup masuk dalam program
pendidikan formal dan non formal.
b. mengangkat lingkungan hidup dalam liturgi dan pewartaan
c. Mengajak umat untuk menghemat air dan energi, membatasi
penggunaan bahan-bahan polutif, dan mengunakan bahan-bahan organik
• pasal 2
mengembangkan kesadaran teologis tentang lingkungan hidup
Tujuan Pastoral di Bidang Lingkungan Hidup:
• Umat semakin sadar akan lingkungan hidup (Sollicitudo Rei Socialis 34 ;
Centesimus Annus 37-38)
• Pelayangan kategorial lingkungan hidup semakin berkembang
• Umat berpartisipasi dalam gerakan lingkungan hidup
1.2
Rumusan Masalah
Pada laporan pengantar Tugas Akhir ini, masalah yang diangkat berdasarkan
latar belakang masalah adalah:
1. Bagaimana perancangan sebuah interior Biara dirancang sesuai dengan
kebutuhan Calon pastor atau bruder yang tinggal di biara SSCC
Yogyakarta?
2. Bagaimana penerapan filosofi dari agama Katolik dan pemaknaan SSCC
dalam perancangan?
3. Bagaimana penerapan green desain yang digunakan pada perancangan
interior biara, yang meliputi berbagai pertimbangan desian pada biara
SSCC?
4. Bagaimana mengkolaborasikan desain interior dengan desain furniture
1.3
Batasan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka batasan terhadap masalah yang
dihadapi adalah penekanan perancangan yang dilakukan pada penataan
interior biara denagn mengadaptasi gaya modern apada arsitektur bangunan.
Dimana perancangan disesuaikan dengan kebutuhan akan sarana/ fasilitas
pada sebuah biara untuk membentuk calon pastor dan buder yang berkualitas.
Perancangan desain interior ini mengunakan perbandingan adengan
biara-biara serupa yang sudah ada seperti biara-biara OSC, jl. Sultan Agung Bandung,
biara St Yosef Ruteng, dan beberapa biara lainnya di daerah Kentungan,
Yogjakarta.
Gambar 1.8 Biara St Yosef, Ruteng
Sumber Dokumen pribadi
Gambar 1.9 Biara SCJ, Yogyakarta
1.4
Tujuan Perancangan
Tujuan penulisan laporan pengantar Tugas Akhir adalah:
1. Untuk merancang hubungan, kegunaan dan pengaplikasian teori
terhadap desain dan keadaan di lapangan sesuai dengan kebutuhan
calon pastor atau bruder SSCC.
2. Untuk memperdalam pengetahuan tentang Katolik dan iman Katolik
lalu menuangkannya dalam bentuk desain perancangan.
3. Merancang Interior Biara Katolik yang ekologis dan hemat energi ,
agar perancangan sesuai dengan konsep green desain, khususnya
furniture recycled.
Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Mayor Desain Interior VI sekaligus
sebagai persyaratan akademik dalam meraih gelar Sarjana Strata Satu Desain
Interior.
1.5
Manfaat Perancangan
Penulisan laporan pengantar Tugas Akhir ini diharapkan dapat membawa
manfaat bagi:
1. Biara SSCC Yogyakarta
Laporan ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mendesain
biara SSCC yang ergonomis, fungsional, dan ramah lingkungan tanpa
mengenyampingkan nilai simbolis keagamaan.
2. Jurusan Desain Interior
Laporan ini dapat dijadikan masukan pengetahuan dengan tujuan
perkembangan serta kemajuan dalam desain, khususnya desain
3. Pembaca
Laporan ini diharapkan dapat memberikan masukan dan tambahan
ilmu dalam dunia kerja nyata, serta dapat memahami serta
mengaplikasikan dengan baik teori yang didapat dengan keadaan di
lapangan.
4. Penulis
Laporan ini dapat menjadi acuan pola pikir penulis agar semakin baik
di kemudian hari dalam proses perancangan desain serta memperluas
dan memperbaiki pemahaman terhadap desain.
5. Angkatan Bawah
Laporan ini diharapkan dapat memberikan masukan dan tambahan
ilmu bagi para adik kelas agar dapat menjalankan pembelajarannya
dengan lebih baik lagi.
1.6
Sumber Data
Adapun data yang diperoleh dalam pengerjaan laporan pengantar Tugas Akhir
ini, antara lain berupa:
1. Data primer, yaitu data utama yang diperoleh dari studi lapangan
yang dilaksanakan oleh penulis, yang bersumber dari objek yang akan
atau telah dirancang (biara SSCC Yogyakarta) dan data lapangan
lainnya .
2. Data sekunder, yaitu data yang didapat melalui studi kepustakaan,
yaitu melalui buku-buku literature, majalah desain, majalah Katolik,
artikel, media elektronik seperti internet dengan situs yang
1.7
Metode dan Teknik yang Digunakan
Penulis menggunakan metode deskriptif analitis dalam menyusun laporan
pengantar Tugas Akhir ini. Metode deskriptif analitis adalah suatu metode
yang menekankan kepada pengumpulan, penyajian dan analisis data sesuai
dengan keadaan yang ada atau yang sebenarnya sehingga dapat memberikan
gambaran yang cukup jelas atas objek bahasan yang dilengkapi dengan
metode kuantitatif (berdasarkan jumlah atau banyaknya) dan kualitatif
(berdasarkan mutunya). Sumber Holcim sustainable
Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah:
1. Observasi, yaitu cara untuk mendapatkan dan atau mengumpulkan
informasi dan data dengan cara melakukan pengamatan berbagai hal
yang berhubungan dalam desain secara langsung terhadap objek atau
proyek yang bersangkutan.
2. Wawancara, yaitu cara untuk mendapatkan dan atau mengumpulkan
informasi dan data penelitian dengan melakukan tanya jawab secara
memahami dan mengerti tentang filosofi agama Katolik mengenai data
serta informasi yang berhubungan dengan laporan yang akan dibahas.
3. Studi lapangan, yaitu cara untuk mendapatkan dan atau
mengumpulkan informasi dan data dengan cara terjun ke lapangan
dalam proses kerja di dalam perancangan biara SSCC yogyakarta.
Tahap-tahap penulisan dalam laporan pengantar Tugas Akhir ini adalah:
1. Studi Literatur
Analisa sumber data yang diperoleh dari buku, majalah, artikel dan
media elektronik.
2. Pengolahan data
Pemilihan data yang sesuai dengan topik bahasan.
3. Studi lapangan
Mencatat informasi dari hasil survey langsung ketempat dimana
proyek perancangan tersebut berada, serta ketempat-tempat yang
memiliki hubungan dengan proyek yang sedang dilaksanakan.
4. Wawancara
Melakukan tanya jawab secara langsung dengan orang-orang yang
berkompeten dibidangnya, sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh penulis
5. Analisis
Menganalisis hasil kerja proyek biara Katolik ini sesusai pada konsep,
batasan telah ditentukan, dan literatur dengan tetap memperhatikan
1.8
Sistematika Penulisan
Laporan pengantar Tugas Akhir ini dengan judul “Perancangan Interior Biara
SSCC Yogyakarta dengan Konsep Recycle Building ”, meliputi hal-hal
sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan, pada bagian ini penulis memaparkan mengenai
latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah,
tujuan dan manfaat, sumber data, serta metode dan teknik yang
digunakan dalam menyusun laporan pengantar Tugas Akhir ini.
BAB II, Pada bagian ini penulis memaparkan teori atau definisi mengenai objek bahasan, yaitu Biara Katolik, Green desain
khususnya recycle building, dan bahasan lain dari beberapa
sumber, baik buku atau majalah ataupun media elektronik
BAB III, Pada bagian ini penulis menjelaskan tentang deskripsi desain proyek Biara SSCC Yogyakarta secara lengkap.
BAB IV Pada bagian ini penulis akan menjelaskan tentang keputusan desain, penerapan konsep, gambar kerja dan gambar presentasi.
BAB V, Pada bagian ini penulis mencantumkan tulisan berupa kesimpulan dan saran yang diambil selama proses Tugas Akhir
dilaksanakan hingga selesainya laporan pengantar Tugas akhir
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
5.1.1 Perancangan interior Biara sesuai dengan kebutuhan Calon
pastor atau bruder di biara SSCC Yogyakarta.
Kebutuhan para calon pastor atau di biara SSCC dapat dibagi menjad 2
bagian:
a. Kebutuhan Ruang
Mencari kebutuhan ruang apa saja yang diperlukan dan dalam biara
tersebut dan disesuaikan dengan kegiatan para penguna biara ini
semua didapat pada saat survei biara tersebut yang dilengkapi dengan
survei pada fungsi sejenis di daerah jogjakarta
b. Kebutuhan luas ruang
Menghitung kebutuhan luas per ruang menurut fungsinya masing
Dari kebutuhan diatas perancang mulai menyesuai kan dengan desain
dan keadaaan di lapangan
5.1.2 Penerapan filosofi agama Katolik dan pemaknaan SSCC dalam
perancangan
Nilai filosofis atau simbolis menjadi acuan dalam penerapan desain
contoh diantanya adalah :
a. banguan kapel yang menghadap ke timur sebagai perlambang
bahwa kita menantikan yesus sebagai juru selamat kita.
b. Altar kapel yang memiliki konsep ”yesus terang dunia” salib yesus
yang dilengkapi dengan corpus juga bambuyang disusun
menerupai berkas cahaya, selin memiliki nilai filosofi hal ini juga
menambah nilai estetis ruang kapel.
c. Bangku yang masuk ke dalam tanah mengingatkan kita pada
”manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah ”
Nilai-nilai SSCC yang diterapkan diantaranya adalah bentuh hati
sebagai lambang adorasi Ordo tersebut terhadap Hati kudus Yesus dan
hati kudus maria. Pemasangan simbol sscc pada limen kapel agar
identitas kapel tesebut tetrap terasa sebagai kapel SSCC.
5.1.3 Penerapan green desain pada perancangan interior biara SSCC
Green desain meliputibeberapa aspek , diantaranya ;
Local resource
Aplikasi: Lantai batu alam yang berasal dari gunung merapi yang
jaraknya amat dekat dari biara SSCC
Hemat energi
Aplikasi: banyaknya bukaan memaksimalkan pencahayaan yang alami
yang masuk pada siang hari
Aplikasi: penambahan lahan hijau agar ekosistem dalam alam tidak
terganggu oleh banyaknya masa bangunan
Life quality
Aplikasi: penggunaan cat eksterior waterproof sehingga umur cat
bertahan lebih lama dari cat biasa
Economis
Aplikasi: penggunaan bamboo yang nilai ekonominya lebih rendah
dari kayu atau bahan sejenisnya
Relationship
Aplikasi: pendopo yang dapat digunakan oleh masyarakat sekitar
sehingga masyarakat dapat meniru system di dalam biara ke dalam
kehidupannya
Reduce
Aplikasi: jalan mobil yang jarang digunakan diubah menjadi taman
agar menjadi daerah resapan
Recycle
Aplikasi: tulang ikan yang menjadi sampah organic dari pabrik
pengolahan ikan menjadi benda yang estetis
Efisiensi dan efektifitas
Aplikasi: furniture multi fungsi sehingga menghemat tempat, bahan
dan biaya
Reuse
Aplikasi: papan sisa peti kemas yang sudah tidak terpakai lagi diolah
menjadi furniture dan pelapis dinding
Regeneration
Aplikasi: penempatan sampah organic yang dikontrol dan diolah
menjadi pupuk dan kompos untuk menyuburkan tumbuhan dan
memperbaiki kualitas tanah
Aplikasi: penggunaan cat water base dapat mengurangi penggunaan
bahan kimia berbahaya
Pengukuran peerancangan menggunakan tel dari holcil bahwa
perancangan biara sscc ini tergolong baik.
0.0
5.1.4 Pengkolaborasian desain interior dengan desain
furniture yang bersifat recycle
Pengunaan material recycle diaplikasikan sesuai dengan fungsi
furniture dan pengunaaanya :
a. kayu pinus
kayu pinus sisa petik kemas yang abnyak dijumpai di
daerah pabrik dapat diolah kembali menjadi kaki meja atau
kaki bangku karana pada umumnya kayu tersebut masih
b. Papan kayu serut pinus
kayu serat pinus juga sebelumnya diguanakan untuk
membungkus mesin yang berasal dari luar negri . dengan
modul 120 cm x 240 cm mamudahkan kita dalam
pemanfaatan ukuran dan meminimalakan sisa bahan yang
ada.
c. papan multi
papan multi pada perancangan biara sscc ini umumnya
digunakan pada furniture yang membutuhkan ketahannan
yang lebih karena papan multi lebih memiliki serat
diandingkan dengan papan serat kayu pinus
d. besi sisa pabrik
besi sisa pabrik dapat digunakan untuk menahan hewan
adgar tidak masuk kedalam bangunan terutama hewan
hama separti tikus atau kelelawar .
e. daun pinus
daun pinus yang kurang bermanfaat dapat dugunakan
sebagai bantal pada kapel biara sscc
f. tulang ikan hiu
tulang ikan hiu yang banyak diumpai de daerah pesisir
selatan pulau jawa dapat diolah dan dijadikan handel pintu
maupun handel lemari .
5.2.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Ensiklopedi Gereja Jilid 5, Heuken SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2005
Dr. Th. Verhoeven SVD dan Marcus Carvallo, Kamus latin- Indonesia, penerbit
Nusa Indah Ende- Flores, 1969
Rumah Allah, Rumah umat Tata Ruang Ibadat vol 17 – 2006 edisi ke- Juli-
Agustus Komisi Liturgi KWI, Jakarta
Liturgi Sumber dan Puncak Kehidupan Bagi kemuliaan Ilahi Dekorasi Liturgis
Vol 17- 2006 edisi ke- 5 September- Oktober Komisi Liturgi KWI, Jakarta
Marsana Windhu ,I., Mengenal 30 lambang atau Simbol Kristiani , kanisius .
Yogyakarta,1997.
Marsana Windhu ,I., Mengenal peralatan, warna, dan pakaian liturgi, kanisius .
Yogyakarta,1997.
Marsana Windhu ,I., Mengenal Ruang , pelengkapan , dan petugas Liturgi ,
kanisius . Yogyakarta,1997.
Martasudjita, E , memahami symbol-simbol dalam Liturgi, kanisius .
Yogyakarta,1998.
Dr. Huub J.W.M. Boelaars, OFM Cap, Indonesianisasi, Dari Gereja Katolik di