• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Batik adalah warisan budaya peninggalan nenek moyang yang sampai saat ini masih berkembang diberbagai wilayah di Indonesia. Kain batik dikenakan sebagai ciri khas pakaian di Indonesia yang digunakan oleh semua kalangan. Diketahui pada jaman dahulu batik merupakan pakaian yang dikenakan kerabat keraton kerajaan dan pantang dipakai rakyat jelata, bahkan beberapa corak atau motif batik hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu karena memiliki nilai-nilai filosofis dan dipakai dalam upacara-upacara adat (Rosa dan Lakoro, 2011:2).

Masyarakat pada masa ini belum mengetahui betul tentang batik yang ada di Indonesia. Batik merupakan warisan yang telah diakui oleh UNESCO, namun banyak keterbatasan dalam pengenalan batik yang ada di daerah Indonesia. Yang paling utama dalam pengenalan batik yaitu melalui corak atau motif khas dari batik itu sendiri. Menurut Sewan Susanto (dalam Sugiyem, 2008) motif batik adalah kerangka gambar pada batik berupa perpaduan antara garis, bentuk dan isen menjadi satu kesatuan yang mewujudkan batik secara keseluruhan.

Setiap daerah di Indonesia mempunyai corak batik yang berbeda-beda dikarenakan pengaruh budaya masyarakat setempat. Menurut Indramaji (1983) corak batik pedalaman seperti di daerah Yogyakarta dan Solo sifatnya simbolik, filosofis dan terdapat arti-arti magis yang ada maknanya, motif diciptakan melalui hasil pengamatan alam sekitar dan bersifat monumental. Warna dari batik pedalaman lebih bersifat sederhana, mistis; misalnya batik tradisional dari Yogyakarta, Solo dan sekitarnya hanya terdiri dari tiga unsur warna yaitu coklat berunsur merah berarti api, biru atau hitam berarti tanah dan putih berarti air atau udara. Ketiganya menyimbolkan sumber kehidupan. Sedangkan corak atau motif di daerah pantai atau pesisir lebih mudah terpengaruh unsur-unsur kebudayaan luar

commit to user

(2)

2 (Tiongkok, Eropa dan lain-lain), maka warna-warnanya lebih cerah dan beraneka ragam juga motifnya lebih bebas, naturalistis, realis, seperti lung-lungan, bunga- bunga, naga, burung-burung, singa, kupu-kupu, dan dalam melukiskan alam sekitarnya lebih jelas juga realis. Motif Tiongkok seperti mega-mendung benar- benar terlihat asli dari Tiongkok dan hewan seperti Lokcan atau yang biasa kita kenal dengan nama burung Phoenix yang tidak ada di Jawa diabadikan pada motif batik ini. Batik pesisiran yang sangat terkenal di antaranya berasal dari: Cirebon, Pekalongan, Lasem, Madura dan lain-lain (dalam Parmono, 1995:29-30).

Gambar 1. Batik Parang Yogyakarta (kiri) dan Solo (Kanan) Dokumentasi M. Wismabrata / Kompas.com

Gambar 2. Batik Pesisir Tok Wie Dokumentasi Galeri YBI / artsandculturure.google.com

Gambar 3. Batik Tasikmalaya Priangan Timur Dokumentasi Galeri YBI /

artsandculturure.google.com

commit to user

(3)

3 Selain di wilayah pedalaman dan juga pesisir, ada juga sentra batik yang terkenal di wilayah budaya Sunda yaitu batik Priangan. Priangan mencakup daerah Jawa Barat dan Banten, antara lain wilayah kota dan kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Keberadaan tradisi seni kriya batik Priangan yang masih terlacak antara lain batik Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya (Pradito, 2010:5). Dilihat lebih lanjut, batik Tasikmalaya mendapat pengaruh dari batik Keraton dan batik Cirebon. Pengaruh batik keraton dan batik Cirebon yang terdapat pada batik Tasikmalaya dapat ditemukan pada motif dan warna batiknya.

Secara keseluruhan batik Tasikmalaya menampakkan warna-warna dan motif yang memperlihatkan semangat kesederhanaan, apa adanya, terbuka dan komunikatif serta pluralis dengan kesan wanita cantik yang melambangkan keselarasan dengan citra umum orang Sunda. Perbedaan batik Tasikmalaya dengan batik lainnya jelas nampak dari motif dan corak yang dibuat tidak berdasarkan status sosial para calon penggunanya seperti yang kita temui pada batik Yogyakarta maupun Solo. Dengan desain motif-motifnya yang lebih luwes yang mengadaptasi unsur modern, tanpa pakem-pakem yang terlalu mengikat.

Proses penciptaan kain batik juga terdapat di Kota Bogor, Jawa Barat. Menurut Badan Pusat Statistik Kota Bogor pada tahun 2020, secara geografis Kota Bogor terletak di antara 106˚ 48’ BT dan 6˚ 26’ LS, Kota Bogor mempunyai rata-rata ketinggian minimum 190m dan maksimum 330m dari permukaan laut. Kondisi iklim di Kota Bogor suhu rata-rata tiap bulan 25˚C-27˚C dengan suhu terendah 18˚C-22,2˚C dan suhu tertinggi 33˚C-36˚C. Kelembaban udara 80%, maka dari itu Bogor sering kali disebut sebagai Kota Hujan. Salah satu ciri khas atas Kota Bogor ini kemudian diwujudkan dengan diciptakannya motif batik Bogor oleh seorang seniman pembuat motif.

Fenomena kebudayaan ini menarik karena kota Bogor selama ini dianggap tidak memiliki motif batik, realitasnya saat ini banyak di temukan motif batik khas Bogor yang masih berkembang hingga kini. Selain fenomena alam, motif batik oleh Galeri Bogor Tradisiku terinspirasi dari sisa-sisa peninggalan Kerajaan Pakuan, benda-benda sejarah, dan kebudayaan. Motif tersebut antara lain Kujang, Tanduk

commit to user

(4)

4 Rusa, serta Bunga Bangkai (Raflesia Arnoldi) dan Rintik Hujan. Salah satu motif yang terkenal adalah Motif Kujang Kijang. Motif ini mengandung dua ikon kota Bogor, yaitu Kujang dan Kijang. Kujang merupakan senjata tradisional khas Sunda, sedangkan kijang atau rusa merupakan hewan yang dipelihara di Istana Bogor.

Ketertarikan saya untuk meneliti topik ini karena, selama ini batik masih identik dengan tradisi budaya Jawa dengan motif-motifnya yang khas. Padahal seni membatik juga tersebar di wilayah Sunda. Pada dasarnya teknik pembuatan dan pewarnaannya tidak jauh berbeda dengan batik yang berasal dari daerah lain.

Motifnya menampilkan perpaduan ikon-ikon kontemporer khas Kota Bogor dengan warna-warna cerah, serta pengaplikasiannya yang modern. Pembuatan motif batik Bogor bertujuan untuk melestarikan budaya batik dan juga menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kota dan batik Bogor. Selain itu, motif khas ini mudah untuk diingat dari mana batik itu berasal karena sebagian besar motifnya merupakan simbol dari Kota Bogor itu sendiri.

Penciptaan motif batik oleh salah satu anggota masyarakat Kota Bogor telah dapat diterima oleh anggota masyarakat yang lain sebagai bagian dari kebudayaan mereka sendiri, disebut dengan Batik Bogor Tradisiku yang diresmikan pada tahun 2009. Menurut Wijayanto (2013:213) Motif batik mereka muncul sebagai hasil dari sebuah proses pembedaan dengan motif-motif lainnya untuk menonjolkan identitasnya sendiri sebagai bentuk kreasi dan inovasi budaya, sekaligus dengan mengambil inspirasi dari karakteristik kota Bogor. Maka dari itu yang diharapakan dari penelitian ini adalah, penulis dapat mengetahui visual Batik Bogor Tradisiku dan mengkaji estetikanya.

B. Batasan Masalah

Untuk menghindari pembahasan di luar lingkup yang diteliti dan untuk mempermudah mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, maka peneliti membatasi ruang lingkup atau pembatasan masalah yaitu dengan mengkaji lima

commit to user

(5)

5 motif kain milik Galeri Batik Bogor Tradisiku antara lain: Kujang Kijang, Hujan Gerimis, Talas, Istana Bogor dan motif Cisadane.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang di uraikan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana bentuk visual motif Batik Bogor Tradisiku.

2. Bagaimana nilai estetis yang terkandung dalam motif Batik Bogor Tradisiku.

D. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini yang ingin dicapai adalah:

1. Menjelaskan bagaimana visual motif Batik Bogor Tradisiku.

2. Menganalisis nilai estetis yang terkandung di dalam motif batik Bogor Tradisiku.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang bisa diambil dari penelitian ini ditinjau dari beberapa sudut pandang adalah sebagai berikut:

1. Manfaat bagi Peneliti

Untuk memenuhi persyaratan tugas akhir di jurusan Seni Rupa Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret Surakarta, sebagai acuan dalam penyusunan Skripsi. Menambah wawasan dan pengalaman langsung tentang bagaimana mengkaji estetika, serta di harapkan penelitian ini dapat bermanfaat sebagai cara mengamalkan ilmu.

2. Manfaat bagi Ilmu Pengetahuan

Melalui penelitian ini diharapkan dapat sebagai sumber belajar dan informasi mengenai batik Bogor, terutama batik milik Galeri Batik Bogor

commit to user

(6)

6 Tradisiku. Khususnya bagi institusi seni dan mahasiswa dan diharapkan mempu mengembangkan Kajian Estetik Motif Batik Galeri Bogor Tradisiku dengan memberikan sudut pandang yang baru.

3. Manfaat bagi Masyarakat

Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang nilai-nilai Estetik Batik Galeri Bogor Tradisiku dari sudut pandang seni dan memberikan informasi kepada generasi muda agar kerajinan yang tradisional dapat terus dilestarikan.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penyajian dalam skripsi yang berjudul “Kajian Estetika Batik Bogor Tradisiku” mengacu pada standar penulisan ilmiah untuk skripsi yang berlaku di lingkungan Program Studi Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret. Penulisan ilmiah ini terdiri dari lima BAB.

BAB I adalah Pendahuluan dimana dalam bab ini dijelaskan latar belakang permasalahan yang merupakan sebab penelitian ini dibuat. Ruang lingkup / pembatasan masalah agar penelitian ini terfokus pada objek yang diteliti.

Perumusan masalah berdasarkan latar belakang yang dihadapi. Tujuan penulisan untuk mengetahui hasil dari rumusan masalah yang telah dibuat. Manfaat penelitian bagi peneliti dapat menambah wawasan dan pengalaman mengkaji estetika, dapat sebagai sumber belajar dan informasi dan menjadi sumber referensi untuk peneliti lain. Sistematika Penyajian yaitu menjelaskan secara urut keseluruhan dari apa yang terdapat dalam penulisan skripsi ini.

BAB II Kajian Pustaka berisi pembahasan mengenai teori yang digunakan dan sumber-sumber pustaka yang terkait dengan penulisan skripsi ini. Dalam bab ini menjelaskan secara singkat tentang state of the art atau penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terkait dengan penelitian yang saya lakukan, dan penjelasan mengenai teori estetika A.A.M Dejelantik.

commit to user

(7)

7 BAB III adalah Metodologi Penelitian yang berisi lokasi, sumber data wawancara dengan narasumber, observasi tempat, dokumen, teknik pengumpulan data, sampling, validasi data dan juga teknik analisis data.

BAB IV menjelaskan Pembahasan dari penelitian. Merupakan pemaparan uraian pokok masalah atau topik yang dibahas. Isi yang diuraikan adalah latar belakang terciptanya batik milik Galeri Bogor Tradisiku dan proses menganalisa atau mengkaji unsur estetika lima motifnya yaitu Kujang Kijang, Hujan Gerimis, Daun Talas, Istana Bogor dan motif Cisadane.

BAB V adalah Penutup. Berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan berisi pernyataan-pernyataan hasil simpulan analisis atau pembahasan yang dilakukan di dalam bab-bab isi. Penutup juga merupakan jawaban yang dikemukakan dalam pendahuluan. Pada bagian akhir dikemukakan saran yang dirasa perlu untuk di sampaikan kepada pembaca terkait karya ilmiah ini untuk skripsi dan pengembangan.

Selain BAB-BAB yang telah dijelaskan, ada juga Daftar Pustaka yang berisi tentang identitas buku atau sumber referensi yang telah disusun secara alfabetis. Lampiran yang berfungsi untuk melengkapi uraian data yang telah disajikan. Lampiran penelitian ini merupakan foto dari proses penelitian sebagai bukti yang kongkrit dan dapat dipertanggungjawabkan.

commit to user

Gambar

Gambar 1. Batik Parang Yogyakarta (kiri) dan Solo (Kanan)  Dokumentasi M. Wismabrata / Kompas.com

Referensi

Dokumen terkait

konsep ruang publik memiliki kesamaan ciri, sehingga perpustakaan sebagai ruang publik harus mampu mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga penyedia informasi

Berdasarkan hasil analisis teknologi laboratoris tembikar (fisik dan kimia), maka dapat dijelaskan tentang kualitas dari tembikar- tembikar yang ditemukan di Situs Gua

Hasil P-value untuk keong mas besar lebih kecil dari 0.05 sehingga dapat diartikan bahwa ekstrak daun mahkota dewa berbeda nyata terhadap penurunan daya

Nilai rata - rata diameter batang mangrove di kawasan pesisir Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata - rata diameter

Menurut Sukirno (2001), bila dilihat dari aspek ekonomi, pengembangan wilayah dapat diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan masyarakat meningkat

Cara pengamatan populasi nematoda parasit pada akar dan tanah adalah sebagai berikut: Untuk pengambilan contoh akar tanaman kopi pada petak yang diperlakukan dan petak kontrol

16 Tombol Cari Dapat menampilkan thread dari kata yang dicari 17 Textbox pencarian kata Member dapat mengetikkan kata yang ingin dicari 18 Hyperlink Judul thread Dapat

Penyusunan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dalam