• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN ULANG GRAMEDIA SUDIRMAN YOGYAKARTA DENGAN PENDEKATAN PROGRAMMATIC DESIGN: SEQUENTIAL FLOW

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERANCANGAN ULANG GRAMEDIA SUDIRMAN YOGYAKARTA DENGAN PENDEKATAN PROGRAMMATIC DESIGN: SEQUENTIAL FLOW"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN ULANG GRAMEDIA SUDIRMAN YOGYAKARTA DENGAN PENDEKATAN PROGRAMMATIC

DESIGN: SEQUENTIAL FLOW

Oleh:

Daffa Aditya Pratama NIM:

1603184021

Dosen Pembimbing:

Dr. Ully Irma Maulina Hanafiah, M.T.

PROGRAM STUDI DESAIN INTERIOR FAKULTAS INDUSTRI KREATIF

TELKOMUNIVERSITY BANDUNG

2021/2022

(2)

2

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... 2

DAFTAR GAMBAR ... 4

BAB I: PENDAHULUAN ... 7

1.1. Latar Belakang ... 7

1.2. Identifikasi Permasalahan ... 9

1.3. Rumusan Permasalahan ... 9

1.4. Tujuan dan Sasaran Perancangan ... 10

1.4.1. Tujuan Perancangan ... 10

1.4.2. Sasaran Perancangan ... 10

1.5. Batasan Perancangan ... 10

1.6. Manfaat Perancangan ... 10

1.7. Metode Perancangan ... 11

1.7.1. Teknik Pengumpulan Data ... 11

1.7.2. Teknik Pengolahan Data ... 12

1.8. Kerangka Pikir ... 12

1.9. Pembaban ... 13

BAB II: KAJIAN LITERATUR ... 14

2.1. Literatur Objek Perancangan ... 14

2.1.1. Definisi Ritel ... 14

2.1.2. Fungsi Ritel ... 15

2.1.3. Papan Petunjuk dalam Ritel ... 15

2.1.4. Strategi Pemasaran Ritel ... 15

2.1.5. Definisi Kantor ... 16

2.1.6. Definisi Kafe ... 16

2.1.7. Brand ... 16

2.2. Klasifikasi Proyek ... 17

2.2.1. Sektor Ritel ... 17

2.2.2. Tipologi Ritel ... 18

2.2.3. Tipe Lokasi Ritel ... 20

2.2.4. Tipe Layout pada Ritel ... 20

(3)

3

2.2.5. Klasifikasi Objek Perancangan Ritel ... 23

2.2.6. Tipologi Kantor ... 23

2.3. Standar Perancangan Ritel ... 25

2.3.1. Standarisasi Umum ... 25

2.3.2. Standar Luas Lantai Penjualan Ritel ... 32

2.3.3. Jam Operasional Ritel ... 32

2.3.4. Regulasi Ritel ... 32

2.3.5. Kebutuhan Ruang Ritel ... 34

2.3.6. Kebutuhan Ruang Kantor ... 35

2.4. Pendekatan Desain ... 37

2.4.1. Programmatic Design ... 37

2.4.2. Studi Preseden ... 38

BAB III: PROGRAMMING PERANCANGAN ... 41

3.1 Analisis Studi Banding Gramedia Pandanaran Semarang ... 41

3.2 Analisis Studi Banding Gramedia Slamet Riyadi Surakarta ... 47

3.3 Tabel Komparasi Studi Banding ... 53

3.4 Deskripsi Projek Perancangan ... 59

3.4.1 Perusahaan Gramedia ... 59

3.4.2 Analisis Bangunan Eksisting ... 63

3.4.3 Analisis Alur Aktivitas Pengguna ... 66

3.4.4 Tabel Analisis Aktivitas dan Fasilitas ... 69

3.4.5 Tabel Analisis Aktivitas dan Fasilitas ... 69

3.4.6 Tabel Analisis Aktivitas Berdasar Kebutuhannya ... 71

3.4.7 Analisis Luasan Ruang ... 74

3.4.8 Analisis Hubungan Antar Ruang ... 79

3.4.9 Zoning ... 81

3.4.10 Blocking ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 85

(4)

4

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.2.1. Tipologi Ritel Khusus (Neufert, 2012). ... 18

Gambar 2.2.2 Tipologi Rantai Ritel Khusus (Neufert, 2012). ... 19

Gambar 2.2.3 Tipologi Ritel Department Store (Neufert, 2012). ... 19

Gambar 2.2.4 Tipologi Ritel Pusat Perbelanjaan (Neufert, 2021). ... 19

Gambar 2.2.5. Layout Forced Path (Ebster & Garaus, 2015) ... 21

Gambar 2.2.6. Layout Forced Path with Shortcut (Ebster & Garaus, 2015) ... 21

Gambar 2.2.7. Layout Grid (Ebster & Garaus, 2015) ... 22

Gambar 2.2.8. Layout Boutique (Ebster & Garaus, 2015)... 22

Gambar 2.2.9. Layout Combined (Ebster & Garaus, 2015)... 23

Gambar 2.2.10. Tipologi Kantor Single Room (Neufert, 2012) ... 24

Gambar 2.2.11. Tipologi Kantor Open Plan (Neufert, 2012) ... 24

Gambar 2.2.12. Tipologi Kantor Group (Neufert, 2012) ... 24

Gambar 2.2.13. Tipologi Kantor Combi (Neufert, 2012) ... 25

Gambar 2.3.1. Jangkauan Display Buku (Panero & Zelnik, 1979)... 34

Gambar 2.3.2. Jangkauan Display Merchandise (Panero & Zelnik, 1979)... 34

Gambar 2.3.3. Jangkauan Pandang Manusia (Panero & Zelnik, 1979) ... 35

Gambar 2.3.4. Standar Lebar Sirkulasi (Panero & Zelnik, 1979) ... 35

Gambar 2.3.5. Ruang Minimum Untuk Satu Area Kerja (Neufert, 2012) ... 36

Gambar 2.3.6. Ruang Minimum Untuk Satu Area Kerja Dengan Rak Tambahan (Neufert, 2012) ... 36

Gambar 2.3.7. Ruang Minimum Untuk Satu Area Kerja Dengan Tamu (Panero & Zelnik, 1979) ... 37

Gambar 2.3.8. Ruang Minimum Untuk Satu Area Kerja Berbentuk U (Panero & Zelnik, 1979) ... 37

Gambar 2.4.1. Storefront Toko Prologue di Singapura (Ministry of Design, 2009) ... 38

Gambar 2.4.2. Layout & Zoning Prologue (Ministry of Design, 2009) ... 39

Gambar 2.4.3. Pengolahan Ceiling Prologue (Ministry of Design, 2009) ... 39

Gambar 2.4.4. Layout dan Floor Plan Prologue (Ministry of Design, 2009) ... 40

Gambar 2.4.5. Interior Prologue (Ministry of Design, 2009) ... 40

Gambar 3.1.1. Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021). .. 41

Gambar 3.1.2. Pengolahan Lantai Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 42

Gambar 3.1.3. Pengolahan Lantai Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 42

Gambar 3.1.4. Pengolahan Ceiling Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 43

Gambar 3.1.5. Pengolahan Ceiling Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 43

(5)

5 Gambar 3.1.6. Pengolahan Dinding Gramedia Pandanaran Semarang

(Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 43 Gambar 3.1.7. Pengolahan Dinding Gramedia Pandanaran Semarang

(Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 44 Gambar 3.1.8. Fasad Kaca pada Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 44 Gambar 3.1.9. Pengolahan Rak Pajangan Gramedia Pandanaran Semarang

(Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 44 Gambar 3.1.10. Pengolahan Papan Kategori Produk Gramedia Pandanaran

Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 45 Gambar 3.1.11. Pengolahan Papan Kategori Produk Gramedia Pandanaran

Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 45 Gambar 3.1.12. Sirkulasi Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 46 Gambar 3.1.13. Sirkulasi Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 46 Gambar 3.2.1. Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

... 47 Gambar 3.2.2. Pengolahan Lantai Gramedia Slamet Riyadi Surakarta

(Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 47 Gambar 3.2.3. Pengolahan Lantai Gramedia Slamet Riyadi Surakarta

(Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 48 Gambar 3.2.4. Pengolahan Lantai Gramedia Slamet Riyadi Surakarta

(Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 48 Gambar 3.2.5. Pengolahan Ceiling Gramedia Slamet Riyadi Surakarta

(Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 49 Gambar 3.2.6. Pengolahan Ceiling Gramedia Slamet Riyadi Surakarta

(Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 49 Gambar 3.2.7. Pengolahan Dinding Gramedia Slamet Riyadi Surakarta

(Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 50 Gambar 3.2.8. Pengolahan Dinding Gramedia Slamet Riyadi Surakarta

(Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 50 Gambar 3.2.9. Pengolahan Papan Kategori Produk Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 50 Gambar 3.2.10. Pengolahan Papan Kategori Produk Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 51 Gambar 3.2.11. Sirkulasi Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi

Pribadi, 2021). ... 51 Gambar 3.2.12. Sirkulasi Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi

Pribadi, 2021). ... 52 Gambar 3.3.1. Suasana Interior Gramedia Sudirman Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 53

(6)

6 Gambar 3.3.2. Suasana Interior Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi

Pribadi, 2021). ... 53

Gambar 3.3.3. Suasana Interior Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 53

Gambar 3.4.1. Logo Tenant Gramedia (Logopedia, n.d.). ... 59

Gambar 3.4.2. Logo Digital Gramedia (Logopedia, n.d.). ... 59

Gambar 3.4.3. Logo Gramedia Periode 1970 - 1998 (Logopedia, n.d.). ... 60

Gambar 3.4.4. Logo Gramedia Periode 1998 - 2015 (Logopedia, n.d.). ... 60

Gambar 3.4.5. Logo Gramedia Periode 2015 - sekarang (Logopedia, n.d.). ... 61

Gambar 3.4.6. Struktur Organisasi Gramedia Sudirman Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 62

Gambar 3.4.7. Lokasi Gramedia Sudirman (Google Earth, 2021)... 63

Gambar 3.4.8. Bangunan Gramedia Sudirman Yogyakarta (Google Street, 2021). ... 64

Gambar 3.4.9. Analisis Eksisting Bangunan (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 65

Gambar 3.4.10. Analisis Eksisting Bangunan (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 65

Gambar 3.4.11. Analisis Sirkulasi dan Aktivitas Lantai Dasar (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 66

Gambar 3.4.12. Analisis Sirkulasi dan Aktivitas Lantai Satu (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 67

Gambar 3.4.13. Bubble Diagram Lantai 1 (Dokumentasi Pribadi, 2021)... 79

Gambar 3.4.14. Matriks Kedekatan Ruang Lantai 1 (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 79

Gambar 3.4.15. Bubble Diagram Lantai 2 (Dokumentasi Pribadi, 2021)... 80

Gambar 3.4.16. Matriks Kedekatan Ruang Lantai 2 (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 80

Gambar 3.4.17. Bubble Diagram Lantai 3 (Dokumentasi Pribadi, 2021)... 81

Gambar 3.4.18. Matriks Kedekatan Ruang Lantai 3 (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 81

Gambar 3.4.19. Zoning Lantai 1 (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 82

Gambar 3.4.20. Zoning Lantai Tiga (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 82

Gambar 3.4.21. Blocking Lantai Satu (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 83

Gambar 3.4.22. Blocking Lantai Tiga (Dokumentasi Pribadi, 2021). ... 83

(7)

7

BAB I: PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Toko Gramedia Sudirman merupakan salah satu usaha retail yang terletak di Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Toko Gramedia Sudirman berjalan di sektor retail industri hobi dan hiburan dengan produk utama buku. Pada tahun 2015 Gramedia melakukan re-branding dengan slogan “idea, transformed.” Gramedia membawa visi untuk selalu berkomitmen pada transformasi ide dan gagasan dengan salah satu misinya adalah untuk selain sebagai tempat bertransaksi, Gramedia dapat menjadi tempat untuk berinteraksi. Toko buku Gramedia juga diharapkan dapat menjadi tempat orang-orang berimajinasi dengan bebas dan menciptakan ide-ide kreatif.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh penulis, sirkulasi dan organisasi ruang yang ada di Gramedia, terutama pada lantai dasar membingungkan. Terdapat dua pintu utama yang dapat digunakan untuk memasuki bangunan. Letak kedua pintu tersebut berdekatan namun menghadap sisi bangunan yang berbeda. Satu pintu berada di sisi bangunan bagian utara dan satu lagi berada pada sisi bangunan bagian timur. Dengan sirkulasi dan organisasi ruang yang ada saat ini, kedua akses tersebut saling berpotongan sehingga pintu mana yang berfungsi sebagai pintu masuk dan pintu keluar menjadi bias. Posisi kedua pintu yang berdekatan juga menciptakan titik keramaian pada jam-jam ramai pengunjung dan hari-hari spesial. Informasi yang tersedia pada elemen interior juga kurang membantu pengunjung untuk mendapatkan apa yang dicari. Terdapat beberapa pengunjung yang pada akhirnya memilih untuk bertanya pada pegawai toko.

Padahal setiap rak yang ada dalam toko dilengkapi dengan papan kategori produk. Kecenderungan ini terjadi karena papan kategori produk yang dipasang di atas tiap rak kebanyakan tertutup objek lain atau bahkan tidak

(8)

8 berada dalam jangkauan pandang manusia. Kebingungan dan kurangnya pemahaman pengunjung tentang informasi yang tersedia merupakan kekurangan Gramedia dalam menunjukkan prinsipnya pada interior bangunan, terutama dalam hal interaksi. Interaksi dapat terjadi dari manusia ke manusia dan juga dari manusia ke interior/lingkungan sekitar. Interaksi manusia dengan interior terjadi dalam bentuk ekspektasi manusia terhadap lingkungan. Ekspektasi manusia yang digabungkan dengan sensasi yang dirasakan akan membentuk persepsi seseorang tentang sebuah ruang (Sufar, et al., 2012). Interaksi dapat muncul dengan adanya pemahaman antara dua pihak yang terlibat dan pemahaman dapat tercipta melalui pemaknaan dari sebuah objek melalui intuisi dan stimulasi (Stamhuis, 2018).

Penggunaan grid layout pada area penjualan juga kurang efektif untuk membantu mewujudkan prinsip Gramedia ke dalam interior. Grid layout cenderung terkesan hampa dan tidak menginspirasi (Ebster & Garaus, 2015). Padahal bangunan Gramedia memiliki empat lantai sehingga motivasi pengunjung seharusnya lebih dijaga. Riset juga membuktikan bahwa pengunjung ritel cenderung lebih malas untuk berjalan ke lantai atas ataupun bawah (Ebster & Garaus, 2015). Dalam sebuah ulasan Google juga ditemukan pelanggan yang mengeluhkan produk yang dicarinya berada di lantai empat. Hal ini mengindikasikan kurangnya motivasi pengunjung meskipun barang yang dicari sudah jelas letaknya ada di lantai empat.

Perancangan ulang Gramedia Sudirman dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas ruang sehingga terjalin komunikasi yang lebih baik antara ruang interior dengan pengunjung. Peningkatan efektivitas ruang dilakukan berdampingan dengan mewujudkan prinsip Gramedia yaitu transformasi ide menjadi nyata dengan mengkolaborasikan bentuk-bentuk yang melambangkan pergerakan. Transformasi adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu. Dalam proses transformasi, seseorang bergerak menuju masa depan masing-masing. Pergerakan dalam proses transformasi

(9)

9 kemudian dijadikan sebagai gagasan utama dalam perancangan. Penerapan konsep transform juga bertujuan untuk mempertahankan dan/atau meningkatkan motivasi pengunjung selama di dalam toko untuk melakukan proses eksplorasi lebih jauh.

1.2. Identifikasi Permasalahan

Permasalahan yang penulis temukan di toko Gramedia Sudirman adalah antara lain:

• Ruang interior belum menggambarkan prinsip Gramedia untuk menjadi tempat yang imajinatif, inovatif, dan interaktif. Kurangnya stimulasi yang dibutuhkan untuk memahami keseluruhan atau bagian dari ruang menciptakan kebingungan dan kurangnya motivasi pengunjung untuk melakukan proses eksplorasi. Hal tersebut membuktikan kondisi ruang yang kurang interaktif.

• Terdapat dua akses utama namun hanya satu akses yang paling sering digunakan. Hal ini terjadi karena salah satu akses terletak lebih dekat dengan tangga dan lift. Padahal terdapat banyak produk jualan yang berada di akses yang lebih jarang digunakan.

• Penghawaan dan akustik pada lantai dasar dan lantai 2 terganggu karena adanya area void. Hal ini terjadi karena penghawaan buatan tidak bisa efektif.

1.3. Rumusan Permasalahan

• Bagaimanakah sistem sirkulasi dan oraganisasi ruang sehingga ruang dapat lebih efektif dan interaktif dengan pengunjung sekaligus menjaga motivasi pengunjung?

• Bagaimana pemanfaatan area void yang efektif untuk menjaga kualitas penghawaan dan akustik dalam ruang?

(10)

10 1.4. Tujuan dan Sasaran Perancangan

1.4.1. Tujuan Perancangan

Perancangan ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas ruang melalui perancangan ulang pola sirkulasi dan organisasi ruang serta elemen interior untuk menghindari stres psikologis karena kebingungan dan kurangnya motivasi pengunjung.

1.4.2. Sasaran Perancangan

Peningkatan efektivitas ruang dan untuk menjaga motivasi pengunjung dapat dilakukan dengan perancangan program ruang dan penerapan corporate value dalam interior.

1.5. Batasan Perancangan

Terdapat batasan-batasan yang digunakan dalam perancangan antara lain:

• Luas bangunan maksimal 2000 m2

• Perancangan ulang interior bangunan

• Perancangan dilakukan pada empat dari lima lantai yang tersedia

• Perancangan dilakukan pada area penjualan, kafe, dan kantor manajemen

1.6. Manfaat Perancangan

Dari perancangan ini diharapkan dapat dipetik beberapa manfaat bagi pihak-pihak yang berkaitan sebagai berikut:

1. Bagi Penulis

Mampu menerapkan ilmu yang telah dipelajari khususnya bidang keilmuan desain interior untuk ritel.

2. Bagi Pengunjung

Dapat berbelanja dan mencari buku dengan mudah, termotivasi, dan lebih nyaman.

(11)

11 3. Bagi Pegawai

Dapat melayani pengunjung dengan lebih mudah dan meringankan beban pekerjaan dengan meningkatnya kepuasan pengunjung.

1.7. Metode Perancangan

Perancangan dilakukan dengan menggunakan metode perancangan Glass Box. Perancangan dilakukan dengan melalui beberapa tahap yang telah dipertimbangkan secara rasional. Data yang penulis gunakan didapatkan melalui:

a) Informan

b) Arsip dan dokumen perusahaan

c) Buku dan jurnal kredibel terkait objek perancangan d) Lokasi kasus studi

1.7.1. Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam perancangan penulis dapatkan melalui proses:

a) Observasi

Penulis melakukan pengamatan langsung di lokasi studi dibantu dengan alat bantu seperti alat tulis, kamera, alat perekam, serta alat lainnya.

b) Wawancara

Penulis melakukan wawancara dengan pihak yang berkaitan untuk mendapatkan data mengenai sejarah toko, aktivitas, dan berbagai hal lain terkait dengan toko.

c) Analisa dokumen

Penulis mengkaji dokumen baik dari dokumen yang telah disediakan oleh pihak yang bersangkutan dan dari dokumen-dokumen kenegaraan.

d) Studi literatur

(12)

12 Penulis mengkaji pustaka kredibel yang dibutuhkan dalam proses perancangan sebagai pertimbangan teoretis yang digunakan.

1.7.2. Teknik Pengolahan Data

Penulis melakukan kajian awal dengan mengumpulkan data mendasar terkait dengan objek perancangan. Kemudian penulis melakukan observasi ke lokasi studi dan melakukan wawancara untuk menguji validitas dan menambah koleksi data untuk digunakan dalam perancangan. Data yang telah didapatkan kemudian penulis kombinasikan dengan data dari proses studi literatur sebagai bahan pemecahan masalah perancangan.

1.8. Kerangka Pikir

Bagan 1 Kerangka Pikir Perancangan (Dokumentasi Pribadi, 2021).

(13)

13 1.9. Pembaban

Penulisan laporan dilakukan dengan sistematika seperti disebutkan dibawah ini:

BAB I Pendahuluan

Menguraikan latar belakang dilakukannya perancangan ulang disertai dengan identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan serta manfaat perancangan, metode perancangan yang digunakan dan kerangka pikir perancangan.

BAB II Kajian Literatur

Menguraikan teori-teori yang digunakan sebagai dasar pengambilan kesimpulan dan pernyataan yang digunakan dalam proses perancangan.

BAB III Programming Perancangan

Menguraikan hasil analsisa perancangan serta melakukan kajian dan menghubungkan literatur yang digunakan dengan konsep yang ingin dicapai.

BAB IV Tema, Konsep, dan Aplikasi Perancangan

Membahas tema, konsep, serta aplikasi perancangan secara menyeluruh melalui pertimbangan yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya.

BAB V Kesimpulan dan Saran

Menguraikan kesimpulan akhir yang didapatkan dari proyek perancangan ulang serta saran yang membangun untuk penulis.

(14)

14

BAB II: KAJIAN LITERATUR

2.1. Literatur Objek Perancangan

Dalam proyek perancangan toko retail Gramedia, terdapat tiga fasilitas utama yaitu antara lain:

1. Area ritel

2. Kantor manajemen 3. Kafe

Musholla juga disediakan sebagai fasilitas tambahan.

2.1.1. Definisi Ritel

Ritel adalah segala aktivitas jual-beli produk atau jasa yang dilakukan secara langsung kepada pembeli tanpa melalui perantara untuk memenuhi kebutuhan personal pembeli (Kotler & Armstrong, 2016). Sedangkan menurut Berman et al. (2018), ritel adalah tahapan terakhir dari sebuah proses distribusi dari penyedia barang ke pengguna barang/pembeli.

Dalam PERPRES No. 112 Tahun 2007, pemerintah Indonesia mendefinisikan ritel sebagai Toko Modern (selanjutnya istilah ritel dan toko modern akan penulis gunakan secara bergantian), yaitu toko yang menjual barang secara eceran dan beroperasi dengan sistem pelayanan mandiri dalam bentuk Supermarket, Department Store, Minimarket, Hypermarket ataupun Perkulakan. Dalam ilmu perdagangan, ritel berjalan dengan memasok produk dalam jumlah banyak dari penyedia barang dan menjual produk-produk tersebut dengan kuantitas kecil kepada pelanggan (New World Encyclopedia, n.d.).

Secara harfiah, kata ritel berasal dari bahasa Prancis “retaillier” yang artinya memotong/membagi. Kata retaillier mengacu pada istilah menjahit di Prancis yang telah digunakan sejak tahun 1365 (New World Encyclopedia, n.d.).

(15)

15 Jika disimpulkan, ritel adalah sebuah tempat yang mewadahi kegiatan jual- beli barang dan/atau jasa yang menjual produk dalam kuantitas kecil atau eceran untuk mencukupi suatu kebutuhan tertentu.

2.1.2. Fungsi Ritel

Menurut Levy & Weitz (2012), terdapat lima fungsi ritel antara lain adalah:

1. Menyediakan banyak produk dari banyak brand di satu lokasi, 2. Menyediakan produk dengan kuantitas kecil sehingga pembeli dapat

membeli sesuai kebutuhan,

3. Sebagai sarana inventaris sehingga pembeli tidak harus membeli produk dalam kuantitas besar dalam sekali pembelian,

4. Menyediakan pelayanan yang lebih baik dan memudahkan pembelian.

Dapat dengan memanfaatkan kartu member dan lainnya,

5. Meningkatkan nilai produk yang ditawarkan di mata pelanggan.

2.1.3. Papan Petunjuk dalam Ritel

Menurut Levy & Wietz (2012), terdapat tiga tipe papan petunjuk yang ada dalam ritel, antara lain adalah:

1. Papan petunjuk kategori

Merupakan papan petunjuk yang berperan sebagai penunjuk jenis produk yang dijual di suatu area tertentu di dalam toko ritel.

2. Papan petunjuk promosi

Merupakan papan petunjuk yang berperan sebagai penunjuk jika terdapat penawaran khusus dari barang yang dijual.

3. Papan petunjuk titik pembayaran/pembelian

Merupakan papan petunjuk yang berperan sebagai penunjuk tempat pembayaran produk-produk yang ingin dibeli.

2.1.4. Strategi Pemasaran Ritel

Kesuksesan sebuah bisnis retail dapat dihasilkan dari strategi pemasaran yang tepat. Menurut Kotler & Armstrong (2016), terdapat empat

(16)

16 pertimbangan dalam menentukan strategi pemasaran untuk sebuah retail, yaitu: 1) segmentasi, penentuan target, diferensiasi, dan penentuan posisi.

2.1.5. Definisi Kantor

Kata office (kantor) berasal dari bahasa Latin officium yang memiliki beberapa arti antara lain adalah layanan, kesopanan, atau rasa tanggung jawab. Menurut Nag (2019), kantor adalah sebuah tempat kerja yang bergantung pada bangunan. Sedangkan menurut Cambridge Dictionary, kantor adalah sebuah ruang atau bagian dari sebuah bangunan yang digunakan untuk tempat bekerja manusia, khususnya dengan duduk disertai dengan meja, komputer, telepon, dan lain-lain. Jika disimpulkan, kantor adalah sebuah tempat resmi dan/atau legal yang berfungsi sebagai fasilitas manusia menyelesaikan tugas dan/atau pekerjaan pribadi atau organisasi yang menjadi tanggung jawabnya.

2.1.6. Definisi Kafe

Kafe adalah usaha yang menyediakan makanan dan minuman ringan di dalam satu tempat dengan dilengkapi dengan peralatan yang diperlukan dalam proses pembuatan, penyajian, dan/atau penyimpanannya (PERMENPAREKRAF Republik Indonesia, 2014). Sedangkan menurut Cambridge Dictionary, kafe adalah salah satu jenis restoran dimana makanan dan minuman ringan merupakan menu utama yang disediakan.

Jika disimpulkan, kafe adalah suatu usaha makanan dan minuman ringan yang beroperasi dalam sebuah ruang dan/atau area tetap.

2.1.7. Brand

Brand adalah segala sesuatu yang dapat diperjualbelikan sebagai sebuah gagasan ataupun benda. Sebuah Brand dapat berupa produk, seseorang, logo, dan lainnya (Mesher, 2010).

Dalam konteks retail, sebuah bangunan dibangun sesuai dengan konsep sebuah brand dan produk yang dijual di dalamnya. Sedangkan bagian interior dari sebuah toko retail menggambarkan aspirasi dan kualitas sebuah

(17)

17 brand serta berperan sebagai alat komunikasi antara ruang dengan pengguna (Mesher, 2010).

Menurut Mesher (2010), terdapat tujuh prinsip yang harus dipegang oleh sebuah brand, antara lain:

1. Esensi sebuah brand 2. Nilai sebuah brand 3. Kesan sebuah brand 4. Ide bisnis

5. Faktor penghasil uang

6. Daya tarik lebih sebuah brand 7. Budaya

2.2. Klasifikasi Proyek 2.2.1. Sektor Ritel

Usaha ritel dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kriteria berdasarkan produk yang dijual. Menurut Mesher (2010), terdapat empat sektor retail antara lain adalah:

1. Makanan dan Minuman 2. Fesyen

Dalam sektor fesyen terdapat empat sub-sektor antara lain adalah:

➢ Pakaian

➢ Sepatu

➢ Aksesoris

➢ Produk kecantikan 3. Rumah

Dalam sektor rumah terdapat empat sub-sektor antara lain adalah:

➢ Do-it-your-own (DIY)

➢ Furnitur

➢ Kain

➢ Peralatan masak

(18)

18 4. Hobi dan Hiburan

Dalam sektor hobi dan hiburan terdapat empat sub-sektor antara lain adalah:

➢ Olahraga

➢ Teknologi

➢ Perjalanan

➢ Keuangan

➢ Lain-lain 2.2.2. Tipologi Ritel

Menurut Neufert (2012), terdapat lima tipologi ruang ritel antara lain adalah:

➢ Ritel khusus

Merupakan tipe toko ritel yang berukuran kecil (50-500m2) yang biasanya hanya menyediakan produk dari salah satu sektor retail saja.

Gambar 2.2.1. Tipologi Ritel Khusus (Neufert, 2012).

➢ Rantai ritel khusus

Merupakan tipe toko ritel dari sebuah rantai ritel yang biasanya memiliki satu produk utama dan ditampilkan seperti pada tipologi ritel khusus.

➢ Supermarket khusus

Merupakan tipe toko ritel dari sebuah rantai ritel yang biasanya memiliki banyak cabang. Ukuran bisnisnya bervariasi dari bisnis kecil hingga bisnis besar.

(19)

19

Gambar 2.2.2 Tipologi Rantai Ritel Khusus (Neufert, 2012).

➢ Toko serba ada

Merupakan tipe toko ritel yang biasanya dari sebuah rantai ritel dengan area penjualan yang besar dan biasanya terdiri dari banyak lantai. Toko serba ada menyediakan produk dari berbagai macam sektor dan beberapa bagian dari toko dapat disewakan kepada brand atau rantai ritel lain.

Gambar 2.2.3 Tipologi Ritel Department Store (Neufert, 2012).

➢ Pusat perbelanjaan

Merupakan tipe toko ritel yang digunakan sebagai pusat penjualan berbagai toko ritel khusus, supermarket khusus, dan toko serba ada.

Biasanya terdiri dari lebih atau sama dengan dua lantai dengan tambahan fasilitas seperti café dan restoran.

Gambar 2.2.4 Tipologi Ritel Pusat Perbelanjaan (Neufert, 2021).

(20)

20 2.2.3. Tipe Lokasi Ritel

Terdapat banyak pilihan lokasi untuk menjalankan usaha ritel. Pemilihan lokasi berpengaruh pada strategi marketing dan pengolahan interior bangunan. Menurut Mesher (2010), terdapat enam lokasi yang dapat digunakan untuk menjalankan usaha retail antara lain:

1. Toko serba ada/Department store

Toko serba ada adalah toko yang menjual barang konsumsi secara eceran (Peraturan Presiden Republik Indonesia, 2007). Toko serba ada mampu mengakomodasi keempat sektor retail di lokasi yang sama (Mesher, 2010). Toko serba ada adalah sebuah toko berukuran besar yang di dalamnya terdapat tenant berbagai macam brand.

2. Jalan raya/high street

Jalan raya adalah jalan-jalan yang memiliki tingkat aktivitas tinggi yang berada di perkotaan (Mesher, 2010).

3. Pusat perbelanjaan

Pusat perbelanjaan adalah sebuah bangunan atau lokasi yang digunakan sebagai tempat melakukan aktivitas jual-beli.

4. Out-of-town shopping

Out-of-town shopping adalah lokasi perbelanjaan yang terletak diluar area perkotaan dan biasanya memiliki area parkir yang luas (Collins Dictionary, n.d.).

5. Concourse

Concourse adalah area publik yang berada dalam stasiun atau bandara.

6. Lokasi alternatif

Lokasi alternatif adalah lokasi lain yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi ritel seperti media sosial, toko daring, galeri, dan ekshibisi (Mesher, 2010).

2.2.4. Tipe Layout pada Ritel

Menurut Ebster & Garaus (2015), terdapat empat tipe layout yang dapat digunakan dalam toko retail, antara lain adalah:

(21)

21 1. Counter layout

Merupakan tipe layout dimana produk jualan diletakkan di belakang kasir sehingga pembeli tidak dapat memilih barang secara mandiri dan harus dibantu oleh penjaga toko. Biasanya digunakan pada:

a) Apotek, untuk mencegah pembeli membeli yang tidak dianjurkan.

b) Toko kecil

c) Di daerah rawan pencurian

d) Toko yang menjual barang eksklusif 2. Forced-path layout

Merupakan tipe layout yang mengharuskan pelanggan melalui rute tertentu yang telah disediakan. Terdapat dua variasi dari tipe layout forced-path yaitu: a) forced-path, dan b) forced-path with shortcut

Gambar 2.2.5. Layout Forced Path (Ebster & Garaus, 2015)

Gambar 2.2.6. Layout Forced Path with Shortcut (Ebster & Garaus, 2015)

3. Grid layout

Merupakan tipe layout dengan rak-rak yang disusun dalam pola repetitif.

(22)

22

Gambar 2.2.7. Layout Grid (Ebster & Garaus, 2015)

4. Free-form layout

Merupakan tipe layout dengan rak-rak yang disusun tidak dalam pola yang repetitif. Terdapat empat variasi dari layout free-form yaitu antara lain:

a) Boutique layout

Merupakan tipe layout yang membagi produk jualan ke dalam beberapa grup dan dipajang dalam area terpisah antara satu grup dengan lainnya.

Gambar 2.2.8. Layout Boutique (Ebster & Garaus, 2015)

b) Star layout

Merupakan tipe layout yang rak-raknya disusun menyerupai bentuk bintang.

c) Arena layout

Merupakan tipe layout yang rak-raknya disusun seperti sebuah arena atau amphi-theatre. Biasanya rak paling belakang memiliki tinggi

(23)

23 yang berbeda dengan rak paling depan sehingga membentuk skema berundak.

d) Combined layout

Merupakan tipe layout gabungan dari beberapa tipe layout.

Gambar 2.2.9. Layout Combined (Ebster & Garaus, 2015)

2.2.5. Klasifikasi Objek Perancangan Ritel

Berdasarkan teori yang telah disampaikan di atas, dapat disimpulkan bahwa ritel Gramedia berjalan di sektor retail hobi dan hiburan dengan produk utama buku. Selain menjual buku, Gramedia juga menjual beberapa produk pendukung antara lain: a) alat tulis & kantor, b) teknologi, c) fesyen &

aksesoris, d) mainan & hobi, e) makanan & minuman, f) olahraga, g) peralatan kesehatan, dan h) perlengkapan bayi. Ritel Gramedia memiliki tipologi ruang rantai ritel khusus dengan pemilihan lokasi pada high street dan dengan tipe layout grid layout.

2.2.6. Tipologi Kantor

Menurut Neufert (2012), terdapat tiga tipe kantor berdasarkan ukuran dan penggunanya, antara lain adalah:

A. Kantor single-room

Merupakan tipe kantor dengan ruang-ruang yang disusun di sepanjang koridor. Tipe kantor single-room kurang bagus untuk komunikasi sesama pegawai karena berfokus pada konsentrasi personal.

(24)

24

Gambar 2.2.10. Tipologi Kantor Single Room (Neufert, 2012)

B. Kantor open plan

Merupakan tipe kantor dengan ruang-ruang terbuka tanpa pembatas fisik dalam satu ruang yang besar. Tipe kantor open-plan dapat meningkatkan komunikasi antar pegawai karena tidak terdapat pembatas ruang antara meja pegawai.

Gambar 2.2.11. Tipologi Kantor Open Plan (Neufert, 2012)

C. Kantor group

Merupakan tipe kantor dengan ruang-ruang yang dapat digunakan untuk bekerja secara grup dalam sebuah divisi atau departemen dalam sebuah perusahaan.

Gambar 2.2.12. Tipologi Kantor Group (Neufert, 2012)

D. Kantor combi

(25)

25 Merupakan tipe kantor gabungan dari tipe kantor single-room dan open- plan. Tipe kantor combi tidak membagi ruang dengan tembok atau dinding temporal melainkan menggunakan kaca sehingga dua pegawai masih dapat berkomunikasi dan tetap dapat berkonsentrasi dengan pekerjaan masing-masing.

Gambar 2.2.13. Tipologi Kantor Combi (Neufert, 2012)

2.3. Standar Perancangan Ritel 2.3.1. Standarisasi Umum

1. Pencahayaan

Pencahayaan interior dibagi menjadi dua jenis, yaitu antara lain:

A. Pencahayaan alami

Merupakan jenis pencahayaan yang bersumber dari sinar matahari.

B. Pencahayaan buatan

Merupakan jenis pencahayaan yang bersumber dari produk buatan manusia seperti lampu atau lilin. Menurut Dodsworth (2009), terdapat lima kategori pencahayaan buatan antara lain:

Tabel 2.3.1. Lima Kategori Pencahayaan Menurut Dodsworth (Dokumentasi Pribadi, 2021)

Kategori Pencahayaan Deskripsi

General/ambient lighting Merupakan jenis pencahayaan buatan yang digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan pencahayaan ruang secara keseluruhan.

Accent/feature lighting Merupakan jenis pencahayaan buatan yang digunakan untuk mempertegas

(26)

26 detail atau mengarahkan fokus ke area tertentu.

Task lighting Merupakan jenis pencahayaan buatan yang digunakan untuk melayani sebuah kegiatan/pekerjaan yang spesifik.

Decorative lighting Merupakan jenis pencahayaan buatan yang digunakan untuk meningkatkan nilai estetis ruang.

Kinetic lighting Merupakan jenis pencahayaan buatan yang bersumber dari api buatan manusia seperti lilin atau lampu petromaks.

2. Penghawaan

Penghawaan interior dibagi ke dalam dua kategori yaitu penghawaan alami dan penghawaan buatan.

A. Penghawaan alami

Merupakan pertukaran udara antara ruang dalam dan ruang luar yang dilakukan tanpa mekanisme kompleks dengan tujuan untuk menjaga kualitas udara dalam ruang (Brager et al., 2011).

B. Penghawaan buatan

Merupakan pertukaran udara antara ruang dalam dan ruang luar yang dilakukan dengan bantuan peralatan bertenaga mekanis (Brager et al., 2011). Menurut LearnMetrics, penghawaan buatan melalui air conditioner dibagi ke dalam dua kategori besar dengan masing-masing memiliki lima sub-kategori. Kategori air conditioner adalah antara lain:

Tabel 2.3.2. Kategori Air Conditioner Menurut LearnMetrics (Dokumentasi Pribadi, 2021)

Kategori Sub-Kategori Deskripsi

Stand-Alone AC Units (1

device)

AC portable Merupakan jenis AC yang dapat dipindah dengan mudah dengan bantuan roda.

(27)

27 AC window Merupakan jenis AC yang

dapat ditanam pada dinding atau jendela dengan satu sisi menghadap ruang dalam dan satu sisi menghadap ruang luar.

Proses pengolahan udara terjadi dalam satu device.

AC wall-mounted Merupakan jenis AC yang ditempel pada dinding dengan pipa mengarah ke luar ruang untuk membuang udara panas.

AC floor- mounted

Merupakan jenis AC yang ditanam di bawah lantai

AC spot coolers Merupakan jenis AC seperti AC portable dengan ukuran dan kekuatan yang lebih besar.

Biasa digunakan pada kapal.

Split-System AC Units (2

device)

AC central Merupakan jenis AC yang memiliki satu mesin utama di luar ruang untuk menghasilkan udara dingin yang kemudian di sebarkan ke seluruh area yang diinginkan melalui sistem ducting dan disalurkan ke ruangan melalui diffuser.

AC wall-mounted Merupakan jenis AC yang ditempel pada dinding dengan dua mesin yang masing-masing berada di dalam dan luar ruangan.

(28)

28 AC floor-mounted Merupakan jenis AC yang

ditanam di bawah lantai.

AC ceiling- mounted

Merupakan jenis AC yang dipasang pada ceiling. Biasa juga disebut AC tipe cassette.

AC ductless mini- split

Merupakan jenis AC yang sama dengan AC wall-mounted dengan tanpa menggunakan sistem ducting.

Standar kebutuhan penghawaan ruang dijelaskan dalam British Thermal Unit (BTU). Berikut adalah tabel kebutuhan BTU menurut EnergyStar.gov:

Tabel 2.3.3. Kebutuhan BTU Menurut EnergyStar.gov (Dokumentasi Pribadi, 2021)

Luas Ruang (ft2) Kapasitas yang Dibutuhkan (BTU/h)

100 – 150 5.000

150 – 250 6.000

250 – 300 7.000

350 – 400 9.000

400 – 450 10.000

450 – 550 12.000

550 – 700 14.000

700 – 1.000 18.000

1.000 – 1.200 21.000

1.200 – 1.400 23.000

1.400 – 1.500 24.000

1.500 – 2.000 30.000

2.000 – 2.500 34.000

(29)

29 3. Lantai

4. Dinding

Menurut TheConstructor (2014), terdapat delapan jenis dinding. Berikut adalah tabel jenis dinding dan penjelasannya:

Tabel 2.3.4. Jenis-Jenis Dinding Menurut TheConstructor (Dokumentasi Pribadi, 2021)

Jenis Dinding Deskripsi

Load bearing wall Merupakan dinding yang berfungsi untuk menopang beban bangunan yang berasal dari kolom, balok, serta beban lantai di atasnya. Beban yang diterima kemudian ditransfer ke pondasi bangunan.

Non load bearing wall

Merupakan dinding yang hanya menopang bebannya sendiri tanpa memiliki keterkaitan dengan struktur bangunan secara keseluruhan.

Cavity wall Merupakan dinding yang disusun ke dalam dua layer dan terdapat jarak di antara keduanya yang menciptakan ruang untuk udara. Cavity wall membantu untuk mengurangi kemungkinan kerusakan dinding bagian dalam akibat hujan sekaligus menjaga temperatur ruang tetap hangat.

Shear wall Merupakan dinding yang berperan untuk menyerap beban lateral bangunan. Beban lateral tersebut dapat berasal dari angin dan gempa bumi.

Partition wall Merupakan salah satu jenis non load bearing wall yang berfungsi untuk membagi ruang menjadi ruang-ruang yang lebih kecil.

Panel wall Merupakan salah satu jenis non load bearing wall yang biasanya terbuat dari kayu yang berfungsi sebagai unsur estetis.

(30)

30 Veneered wall Merupakan jenis dinding non-structural yang

terbuat dari bata dan terdapat rongga pada batanya.

Faced wall Merupakan dinding yang menggunakan dua material yang berbeda antara kedua sisi yang berlawanan.

5. Ceiling 6. Warna

Secara fundamental warna merupakan hasil dari fenomena ketika cahaya tampak diserap atau direfleksikan oleh sebuah objek (Grimley & Love, 2018). Dalam desain, warna dapat mempengaruhi emosi, energi, dan perasaan keteraturan maupun ketidakteraturan (Poore, 1994).

A. Psikologi warna

Warna yang berbeda memiliki efek yang berbeda terhadap psikologi manusia. Berikut adalah warna-warna dan efeknya secara psikologis bagi manusia menurut Minxhozi:

Tabel 2.3.5. Asosiasi Warna Dengan Psikologi Menurut Minxzhozi (Dokumentasi Pribadi, 2021)

Warna Nama Warna Asosiasi Warna

Merah Kemarahan, cinta, kekuatan, semangat, bahaya, nafsu

Biru Kepercayaan, keandalan, konservatif, ketenangan

Kuning Ceria, playful, energi, semangat, kegembiraan, keseruan

Oren Semangat, energi, kesenangan, keseruan Hijau Kesegaran, pertumbuhan, pembaruan,

ketenangan

Ungu Misteri, kekayaan, kemakmuran, royalty

(31)

31 Coklat Stabilitas, kenyamanan, keandalan,

ketenangan

Hitam Misteri, rasa takut, bahaya, kematian, maskulin, kecanggihan

Putih Kemurnian, kebersihan, sterilitas, kerapian Abu-abu Keadaban, kecanggihan, kemewahan B. Temperatur warna

Warna secara inheren memiliki temperatur yang dapat dibagi menjadi warna hangat dan warna dingin (Grimley & Love, 2018). Menurut Grimley & Love, berikut adalah klasifikasi warna berdasarkan temperaturnya:

Tabel 2.3.6. Klasifikasi Warna Menurut Grimley & Love (Dokumentasi Pribadi, 2021)

Warna Nama Warna Klasifikasi

Merah, oren, kuning Hangat

Hijau, biru Dingin

7. Musik

Atribut musik seperti intesitas suara, tinggi nada, tempo, dan disonansi sangat berpengaruh terhadap ekspresi emosional seseorang (Thompson, 2012).

8. Aroma

Aroma dapat mempengaruhi kondisi psikologis dan fisiologis seseorang (Kadohisa, 2013).

9. Zoning

Merupakan sebuah proses desain yang dilakukan dengan membagi sebuah ruang ke dalam beberapa kelompok berdasarkan fungsi dan hierarkinya tanpa referensi spesifik terkait ukuran furnitur pengisi ruang (Dodsworth, 2009).

10. Blocking

(32)

32 Merupakan sebuah proses desain yang dilakukan dengan membagi sebuah ruang ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan tujuan dan objektif proyek dengan tetap mempertahankan fungsi dan hierarki ruang (Kubba, 2003).

2.3.2. Standar Luas Lantai Penjualan Ritel

Menurut PERPRES No. 112 Tahun 2007, toko modern harus memiliki luas lantai penjualan sebagai berikut:

Tabel 2.3.7. Luas Lantai Toko Modern Menurut PERPRES No. 112 Tahun 2007 (Dokumentasi Pribadi, 2021)

No. Klasifikasi Luas Lantai Penjualan

1 Minimarket < 400m2

2 Supermarket 400 m2 – 5.000 m2

3 Hypermarket > 5.000 m2

4 Department Store > 400 m2

5 Perkulakan > 5.000 m2

2.3.3. Jam Operasional Ritel

Menurut PERPRES No. 112 Tahun 2007, Department Store, Supermarket, dan Hypermarket memiliki jam operasional sebagai berikut:

a) Hari Senin – Jumat : 10.00 – 22.00 waktu setempat b) Hari Sabtu & Minggu : 10.00 – 23.00 waktu setempat 2.3.4. Regulasi Ritel

Menurut Neufert (2012), sebuah toko retail harus memiliki sepuluh elemen bangunan untuk memenuhi standar. Elemen bangunan yang dibutuhkan antara lain adalah:

Tabel 2.3.8. Elemen Standar Bangunan Menurut Neufert (Dokumentasi Pribadi, 2021)

Elemen Bangunan Deskripsi

Area penjualan Merupakan area dimana produk-produk dipajang untuk dijual. Area penjualan tidak termasuk akses dalam toko.

(33)

33 Akses dalam toko Merupakan area dalam toko yang digunakan

untuk sirkulasi pengguna ruang.

Layout area penjualan

Merupakan skema tata letak dan organisasi dalam toko.

Kompartemen anti api

Merupakan ruang/koridor yang semua dinding ruangnya dilengkapi dengan instrumen tahan api.

Tangga darurat Merupakan tangga yang dikhususkan untuk keadaan darurat. Tangga darurat minimal memiliki lebar 1,25 m dan maksimal memiliki lebar 2,4 m.

Escape route Merupakan akses dalam ruang yang mengarah pada tangga darurat tanpa halangan. Tiap lantai minimal memiliki dua escape route yang dapat diakses dari 25 m dari setiap titik yang ada dalam area penjualan.

Lorong/koridor darurat

Merupakan area dalam ruang retail yang dikhususkan untuk keadaan darurat dengan lebar ruang minimal 2 m.

Entrance Untuk toko dengan luas kurang dari 2.000 m2, lebar pintu masuk toko diperbolehkan dibawah 1 m. Untuk toko dengan luas lebih dari 2.000 m2, lebar pintu masuk minimal 2 m dengan tinggi minimal 2,2 m dan harus memiliki pintu otomatis untuk pengguna berkebutuhan khusus.

Akses keluar Setiap toko ritel dengan luas di atas 100 m2 harus memiliki minimal dua akses keluar, satu menuju ke luar toko dan satu menuju tangga darurat.

Untuk ritel dengan luas di bawah 100 m2, minimal lebar pintu keluar adalah 1 m. Untuk ritel dengan

(34)

34 luas di atas 100 m2, minimal lebar pintu keluar adalah 2 m.

Jendela pajang Merupakan jendela yang dimanfaatkan untuk menunjukkan produk-produk yang dijual untuk menarik calon pengunjung.

2.3.5. Kebutuhan Ruang Ritel A. Jangkauan display buku

Gambar 2.3.1. Jangkauan Display Buku (Panero & Zelnik, 1979)

B. Jangkauan display merchandise

Gambar 2.3.2. Jangkauan Display Merchandise (Panero & Zelnik, 1979)

C. Jangkauan pandang manusia

(35)

35

Gambar 2.3.3. Jangkauan Pandang Manusia (Panero & Zelnik, 1979)

D. Lebar sirkulasi

Gambar 2.3.4. Standar Lebar Sirkulasi (Panero & Zelnik, 1979)

2.3.6. Kebutuhan Ruang Kantor

Menurut Neufert, kantor membutuhkan lima area utama yaitu antara lain:

a) area kerja, b) area rak, c) area untuk melayani fungsi furnitur, d) area

(36)

36 untuk bergerak dalam area kerja, dan e) area untuk sirkulasi. Kebutuhan ukuran ruang yang harus dipenuhi, antara lain adalah:

A. Ruang minimum untuk satu area kerja

Gambar 2.3.5. Ruang Minimum Untuk Satu Area Kerja (Neufert, 2012)

B. Ruang minimum untuk satu area kerja dengan rak tambahan

Gambar 2.3.6. Ruang Minimum Untuk Satu Area Kerja Dengan Rak Tambahan (Neufert, 2012)

C. Ruang minimum untuk satu area kerja dengan tamu

(37)

37

Gambar 2.3.7. Ruang Minimum Untuk Satu Area Kerja Dengan Tamu (Panero & Zelnik, 1979)

D. Ruang minimum untuk satu area kerja berbentuk U

Gambar 2.3.8. Ruang Minimum Untuk Satu Area Kerja Berbentuk U (Panero & Zelnik, 1979)

2.4. Pendekatan Desain 2.4.1. Programmatic Design

Program merupakan sebuah rencana untuk mendefinisikan dan mendapatkan tujuan (konsekuensi) yang diharapkan (White, 1972). Target dari perancangan sebuah program dapat berupa meningkatnya efisiensi operasional, lingkungan kerja yang lebih baik, bangunan baru, dan lain-lain.

Menurut Peña & Parshall (2001), terdapat 24 konsep programming yang dapat digunakan, antara lain adalah: prioritas, hierarki, karakter, density, service grouping, activity grouping, people grouping, home base, relationship, komunikasi, neighbors, aksesibilitas, separated flow, mixed

(38)

38 flow, sequential flow, orientasi, fleksibilitas, toleransi, keamanan, security controls, konservasi energi, environmental controls, phasing dan cost control.

2.4.2. Studi Preseden 1. Prologue

Gambar 2.4.1. Storefront Toko Prologue di Singapura (Ministry of Design, 2009)

Alamat : 1181 Orchard Road, #06-01/02/03, Orchard Central, Singapore 238896

Tahun dibuka : 2009 Luas bangunan : 1.550 m2

Arsitek/desainer : Ministry of Design Pendekatan : Way-finding

Desain Ministry of Design (selanjutnya akan disebut MOD) untuk toko buku Prologue datang dari permasalahan kakunya tata letak toko bumu konvensional (Braun, 2012). MOD mendifinisikan ulang way-finding dalam toko buku dengan mengolah ceiling seperti kanopi yang berfungsi sebagai pembagian zona buku (Ministry of Design, n.d.).

(39)

39

Gambar 2.4.2. Layout & Zoning Prologue (Ministry of Design, 2009)

Gambar 2.4.3. Pengolahan Ceiling Prologue (Ministry of Design, 2009)

Pembagian zona yang ditampilkan secara eksplisit membuat proses pencarian buku menjadi menyenangkan. Sebagai pembeda visual, warna yang berbeda digunakan untuk zona buku berbeda (Braun, 2012).

Selain pada ceiling, pengolahan way-finding juga terlihat pada pola lantai yang diterapkan. Pola lantai yang terbuat dari keramik berwarna hitam menggambarkan pergerakan dari satu sudut toko ke sudut lainnya, memberikan arahan kepada pengunjung tentang akses yang dapat digunakan.

(40)

40 Toko buku Prologue telah mendapatkan dua penghargaan sebagai finalis Best Retail 2010 at Interior Design oleh New York Best of Year Awards dan honorable mention dalam International Design Awards 2010.

Gambar 2.4.4. Layout dan Floor Plan Prologue (Ministry of Design, 2009)

Gambar 2.4.5. Interior Prologue (Ministry of Design, 2009)

(41)

41

BAB III: PROGRAMMING PERANCANGAN

3.1 Analisis Studi Banding Gramedia Pandanaran Semarang

Gambar 3.1.1. Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Gramedia Pandanaran Semarang terletak di Jl. Pandanaran No. 122, Pekunden, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang 50249. Gramedia Pandanaran Semarang mendapat rating 4,6/5 dari 16.637 ulasan di Google.

A. Fasilitas Gramedia Pandanaran Semarang

• Area penjualan produk pendukung

• Area penjualan produk utama

• Musholla

• Area parkir

• ATM

• WC B. Analisis Interior

➢ Lantai

(42)

42

Gambar 3.1.2. Pengolahan Lantai Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Pada area penjualan produk-produk pendukung di Gramedia Pandanaran Semarang menggunakan lantai keramik berukuran 400 mm x 400 mm berwarna krem dengan sedikit variasi warna berbeda tanpa pola khusus. Tidak terlihat organisasi pola lantai tertentu sebagai pembagian zona produk-produk jualan.

Gambar 3.1.3. Pengolahan Lantai Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Perlakuan yang sama juga dapat dilihat pada area penjualan produk utama yang berada di lantai dua. Jenis keramik yang digunakan juga berupa keramik berukuran 400 mm x 400 mm, identik dengan yang ditemukan pada lantai dasar.

➢ Ceiling

(43)

43

Gambar 3.1.4. Pengolahan Ceiling Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Pada toko Gramedia Pandanaran Semarang jenis material yang digunakan sebagai ceiling adalah eternit non-asbes berwarna putih.

Tidak ditemukan perlakuan khusus pada ceiling selain lampu yang berfungsi sebagai instrumen pencahayaan dan diffuser yang berfungsi sebagai instrumen penghawaan.

Gambar 3.1.5. Pengolahan Ceiling Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Hal yang sama terlihat pada area penjualan produk utama. Ceiling tidak memiliki peran signifikan selain sebagai pembatas lingkungan interior.

➢ Dinding

Gambar 3.1.6. Pengolahan Dinding Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

(44)

44 Toko Gramedia Pandanaran Semarang menggunakan material batu bata sebagai dinding. Pada interior, hampir seluruh dinding dipergunakan sebagai sarana pajang produk-produk yang dijual, termasuk pada kolom-kolom yang ada dalam ruang.

Gambar 3.1.7. Pengolahan Dinding Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Gambar 3.1.8. Fasad Kaca pada Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Pada fasad terdapat jendela yang cukup lebar sehingga menangkap pemandangan yang berada di luar ruang.

➢ Rak pajangan buku

Gambar 3.1.9. Pengolahan Rak Pajangan Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

(45)

45 Rak pajangan buku yang digunakan dalam toko Gramedia Pandanaran Semarang menggunakan material kayu dengan finish HPL berpola serat kayu. Rak memiliki tinggi 1500 mm dengan lebar 1200 mm dan kedalaman 450 mm

➢ Papan kategori produk

Gambar 3.1.10. Pengolahan Papan Kategori Produk Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Pada area penjualan produk utama, papan kategori barang diletakkan di atas rak buku. Papan kategori dibuat dengan material PVC. Pada papan terdapat nama kategori buku dan logo Gramedia di sampingnya.

Gambar 3.1.11. Pengolahan Papan Kategori Produk Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Sedangkan pada area penjualan produk pendukung, papan kategori yang digunakan berupa nama brand yang menjual barangnya dalam toko Gramedia. Papan kategori dipasang di atas rak pajangan dan juga pada dinding.

➢ Sirkulasi pengguna

(46)

46

Gambar 3.1.12. Sirkulasi Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Pada area penjualan produk utama, sirkulasi antara rak buku dapat mengakomodasi dua orang dalam kondisi berpapasan. Namun, pertimbangan untuk pengguna ruang berkebutuhan khusus kurang terlihat. Kursi roda masih dapat menggunakan area sirkulasi namun akan sulit jika berpapasan dengan orang lain, apalagi berpapasan dengan pengguna berkebutuhan khusus lain walaupun kemungkinannya kecil.

Gambar 3.1.13. Sirkulasi Gramedia Pandanaran Semarang (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Hal yang serupa juga dapat dilihat pada area penjualan produk-produk pendukung. Lebar sirkulasi memang menyukupi standar yang dibutuhkan, namun ketika terdapat dua orang berpapasan, masing- masing akan memasuki area privat satu sama lainnya.

(47)

47 3.2 Analisis Studi Banding Gramedia Slamet Riyadi Surakarta

Gambar 3.2.1. Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Gramedia Slamet Riyadi Surakarta terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 284, Sriwedari, Kec. Laweyan, Kota Surakarta 57141. Gramedia Slamet Riyadi Surakarta mendapat rating 4,6/5 dari 13.224 ulasan di Google.

A. Fasilitas Gramedia Slamet Riyadi Surakarta

• Area penjualan buku obral

• Area penjualan produk pendukung

• Area penjualan produk utama

• Musholla

• Area parkir

• ATM

• WC B. Analisa Interior

➢ Lantai

Gambar 3.2.2. Pengolahan Lantai Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

(48)

48 Pada area penjualan buku obral pada Gramedia Slamet Riyadi Surakarta, material yang digunakan adalah tegel yang disusun ke dalam pola-pola geometris dan tersedia dalam ukuran yang bervariasi.

Lantai tegel pada area penjualan buku obral digunakan karena ruangan yang dimanfaatkan untuk area penjualan merupakan bangunan lama dengan budaya Surakarta yang masih melekat di dalamnya.

Gambar 3.2.3. Pengolahan Lantai Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Pada area penjualan produk pendukung, material yang digunakan sebagai lantai adalah keramik berukuran 400 mm x 400 mm yang terdiri dari tiga macam warna dan disusun secara diagonal. Namun pola lantai diagonal tidak konsisten dalam keseluruhan ruang. Terdapat beberapa sudut ruang yang tidak menerapkan pola lantai diagonal.

Gambar 3.2.4. Pengolahan Lantai Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Pada area penjualan produk pendukung, material yang digunakan adalah keramik berukuran 400 mm x 400 mm, identik dengan yang dapat ditemukan pada lantai dasar. Sama dengan lantai dasar, pola

(49)

49 diagonal yang terdapat di lantai dua juga tidak konsisten di seluruh ruang.

➢ Ceiling

Gambar 3.2.5. Pengolahan Ceiling Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Pada toko Gramedia Slamet Riyadi Surakarta, material yang digunakan pada ceiling adalah eternit non-asbes berwarna putih. Tidak terlihat perlakuan khusus pada ceiling selain lampu sebagai instrumen pencahayaan dan diffuser sebagai instrumen penghawaan.

Hal serupa dapat ditemui pada area penjualan produk pendukung yang ada di lantai satu.

Gambar 3.2.6. Pengolahan Ceiling Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

➢ Dinding

(50)

50

Gambar 3.2.7. Pengolahan Dinding Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Material yang digunakan pada dinding adalah batu bata. Pada toko Gramedia Slamet Riyadi Surakarta, hampir seluruh dinding pada interior dimanfaatkan sebagai sarana pajang produk-produk jualan.

➢ Rak pajangan buku

Gambar 3.2.8. Pengolahan Dinding Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Rak pajangan buku yang digunakan dalam toko Gramedia Slamet Riyadi Surakarta menggunakan material kayu dengan finish cat kayu berwarna coklat gelap. Rak memiliki tinggi 1200 mm dengan lebar 1200 mm dan kedalaman 450 mm.

➢ Papan kategori produk

Gambar 3.2.9. Pengolahan Papan Kategori Produk Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

(51)

51 Pada area penjualan produk utama, papan kategori barang diletakkan di atas rak buku. Papan kategori dibuat dengan material PVC. Pada papan terdapat nama kategori buku dan logo Gramedia di sampingnya.

Gambar 3.2.10. Pengolahan Papan Kategori Produk Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Pada area penjualan produk pendukung, papan kategori barang juga diletakkan di atas rak pajang. Papan kategori dibuat dengan material multipleks dengan finish HPL. Pada papan hanya terdapat nama kategori produk.

➢ Sirkulasi pengguna

Gambar 3.2.11. Sirkulasi Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Sirkulasi yang tersedia pada area penjualan produk utama sudah memenuhi standar minimal kebutuhan ruang. Ketika dua orang berpapasan, masih terdapat ruang yang tersisa sehingga kedua pengunjung tidak bersinggungan badan.

(52)

52

Gambar 3.2.12. Sirkulasi Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Sirkulasi yang tersedia juga ramah untuk digunakan pengguna dengan kebutuhan khusus.

(53)

53 3.3 Tabel Komparasi Studi Banding

Tabel 3.3.1. Tabel Komparasi Studi Banding (Dokumentasi Pribadi, 2021)

Ruang Standarisasi Variabel

Objek Perancangan Studi Banding

Sintesa Gramedia Sudirman Gramedia Pandanran Gramedia Slamet Riyadi

Area Penjualan Produk Pendukung

Suasana

Gambar 3.3.1. Suasana Interior Gramedia Sudirman

Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).

Gambar 3.3.2. Suasana Interior Gramedia Pandanaran Semarang

(Dokumentasi Pribadi, 2021).

Gambar 3.3.3. Suasana Interior Gramedia Slamet Riyadi Surakarta (Dokumentasi Pribadi,

2021).

- Warna yang diaplikasikan pada elemen ruang seperti lantai, dinding, dan ceiling merupakan warna-warna hangat dan variasi warna coklat.

- Area penjualan produk-produk pendukung berada pada lantai dasar.

- Organisasi ruang menggunakan sistem grid layout.

- Tidak terlihat treatment khusus pada elemen interior, kecuali pada bagian Sirkulasi Sirkulasi pada area

penjualan produk pendukung sudah memenuhi standar minimal kebutuhan ruang dan masih terdapat sisa space ketika dua orang berpapasan. Sirkulasi

Sirkulasi sudah dapat mengakomodasi dua orang dalam kondisi berpapasan. Namun, pertimbangan untuk

pengguna ruang

berkebutuhan khusus kurang terlihat. Lebar sirkulasi memang

Sirkulasi yang tersedia pada area penjualan produk pendukung sudah memenuhi standar minimal kebutuhan ruang. Ketika dua orang berpapasan, masih terdapat ruang yang tersisa sehingga kedua

(54)

54 yang tersedia juga

ramah untuk digunakan pengguna dengan kebutuhan khusus.

menyukupi standar yang dibutuhkan, namun ketika terdapat dua orang berpapasan, masing- masing akan memasuki area privat satu sama lainnya.

pengunjung tidak bersinggungan badan.

Sirkulasi yang tersedia juga ramah untuk digunakan pengguna dengan kebutuhan khusus.

ceiling di Gramedia Sudirman Yogyakarta.

Treatment lantai

Pada area penjualan produk pendukung, lantai yang digunakan berupa lantai keramik dengan ukuran 600 mm x 600 mm berwarna putih dan abu-abu.

Keramik berwarna putih menandakan zona penjualan sedangkan keramik berwarna abu- abu berperan sebagai way-finding dan pengatur sirkulasi.

Material yang digunakan adalah lantai keramik berukuran 400 mm x 400 mm berwarna krem dengan sedikit variasi warna berbeda tanpa pola khusus. Tidak terlihat organisasi pola lantai tertentu sebagai pembagian zona produk- produk jualan.

Pada area penjualan produk pendukung, material yang digunakan sebagai lantai adalah keramik berukuran 400 mm x 400 mm yang terdiri dari tiga macam warna dan disusun secara diagonal. Namun pola lantai diagonal tidak konsisten dalam keseluruhan ruang.

Terdapat beberapa sudut ruang yang tidak

(55)

55 menerapkan pola lantai

diagonal.

Treatment dinding

Material yang

digunakan adalah batu bata dengan finish cat tembok. Pada interior, hampir seluruh dinding dipergunakan sebagai sarana pajang produk- produk yang dijual, termasuk pada kolom- kolom yang ada dalam ruang.

Material yang digunakan adalah batu bata dengan finish cat tembok. Pada interior, hampir seluruh dinding dipergunakan sebagai sarana pajang produk-produk yang dijual, termasuk pada kolom-kolom yang ada dalam ruang.

Material yang digunakan pada dinding adalah batu bata dengan finish cata tembok. Hampir seluruh dinding pada interior dimanfaatkan sebagai sarana pajang produk- produk jualan.

Treatment

ceiling

Material yang

digunakan sebagai ceiling adalah eternit non-asbes berwarna putih. Terdapat variasi drop ceiling terutama di atas pola lantai berwarna abu-abu yang berperan sebagai

Material yang digunakan sebagai ceiling adalah eternit non-asbes berwarna putih. Tidak ditemukan perlakuan khusus pada ceiling selain lampu yang berfungsi sebagai instrumen pencahayaan

Material yang digunakan sebagai ceiling adalah eternit non-asbes berwarna putih. Tidak terlihat perlakuan khusus pada ceiling selain lampu sebagai instrumen

pencahayaan dan diffuser

(56)

56 wayfinding dan

pengatur sirkulasi.

dan diffuser yang berfungsi sebagai instrumen penghawaan.

sebagai instrumen penghawaan.

Warna Warna yang dominan adalah warna coklat desert sand pada rak-rak pajangan dan warna hitam pada kolom dan beberapa rak pajangan.

Warna yang dominan adalah hitam pada rak produk-produk

pendukung dan kolom- kolom bangunan dan warna coklat kokoa pada beberapa rak pajangan.

Warna yang dominan adalah hitam pada rak produk-produk

pendukung dan kolom- kolom bangunan dan warna coklat burnt umber pada beberapa rak pajangan.

Penghawaan alami

Tidak menggunakan penghawaan alami

Tidak menggunakan penghawaan alami

Tidak menggunakan penghawaan alami Penghawaan

buatan

Pengahawaan buatan yang digunakan adalah AC central yang didistribusikan

menggunakan diffuser.

Pengahawaan buatan yang digunakan adalah AC central yang didistribusikan

menggunakan diffuser.

Pengahawaan buatan yang digunakan adalah AC central yang didistribusikan

menggunakan diffuser.

Pencahayaan alami

Terdapat jendela besar pada sisi utara dan timur

Pencahayaan alami kurang berperan karena

Pencahayaan alami masuk melalui fasad

(57)

57 bangunan sebagai

pencahayaan alami.

jendela yang digunakan berukuran kecil

bangunan yang bermaterial kaca.

Pencahayaan buatan

Pencahayaan buatan menggunakan general lamp.

Pencahayaan buatan menggunakan general lamp.

Pencahayaan buatan menggunakan general lamp.

Pengisi ruang

Akustik Tidak ditemukan perlakukan khusus untuk akustik ruang.

Tidak ditemukan perlakukan khusus untuk akustik ruang.

Tidak ditemukan

perlakukan khusus untuk akustik ruang.

Utilitas Utilitas bangunan tidak diperlihatkan dalam bangunan

Utilitas bangunan tidak diperlihatkan dalam bangunan

Utilitas bangunan tidak diperlihatkan dalam bangunan

Signage Untuk rak penjualan produk dari Gramedia, signage yang digunakan berupa papan kategori barang yang diletakkan di atas rak pajang.

Sedangkan untuk

Untuk rak penjualan produk dari Gramedia, signage yang digunakan berupa papan kategori barang yang diletakkan di atas rak pajang.

Sedangkan untuk produk

Untuk rak penjualan produk dari Gramedia, signage yang digunakan berupa papan kategori barang yang diletakkan di atas rak pajang.

Sedangkan untuk produk

(58)

58 produk dari ritel lain,

signage yang digunakan berupa nama brand yang di pasang di atas rak ataupun pada dinding.

dari ritel lain, signage yang digunakan berupa nama brand yang di pasang di atas rak ataupun pada dinding.

dari ritel lain, signage yang digunakan berupa nama brand yang di pasang di atas rak ataupun pada dinding.

(59)

59 3.4 Deskripsi Projek Perancangan

3.4.1 Perusahaan Gramedia A. Profil Perusahaan

Nama Perusahaan : PT. Gramedia Asri Media Tanggal Berdiri : 2 Februari 1970

Pendiri : P.K. Ojong, Jakoeb Oetama CEO Saat Ini : Lilik Oetama

Jenis Perusahaan : Anak Perusahaan Induk Perusahaan : Kompas Gramedia

Unit Bisnis Induk : GPU, Elex Media Komputindo, KPG, M&C Comics, Grasindo, BIP, ELTI, Diginusa, Teeny Teensy, COZYFIELD Situs Website : www.gramedia.com

Kantor Pusat : Jl. Palmerah Selatan 22-26, Jakarta Jumlah Pegawai : 6.613

Jumlah Gerai : 121 Logo Tenant :

Gambar 3.4.1. Logo Tenant Gramedia (Logopedia, n.d.).

Logo Digital :

Gambar 3.4.2. Logo Digital Gramedia (Logopedia, n.d.).

B. Sejarah Singkat Perusahaan

Gambar

Gambar 2.2.9. Layout Combined (Ebster &amp; Garaus, 2015)
Gambar 2.2.13. Tipologi Kantor Combi (Neufert, 2012)
Tabel 2.3.3. Kebutuhan BTU Menurut EnergyStar.gov (Dokumentasi Pribadi, 2021)
Tabel 2.3.5. Asosiasi Warna Dengan Psikologi Menurut Minxzhozi (Dokumentasi Pribadi,  2021)
+7

Referensi

Dokumen terkait