BAB III: PROGRAMMING PERANCANGAN
3.4 Deskripsi Projek Perancangan
3.4.1 Perusahaan Gramedia
Nama Perusahaan : PT. Gramedia Asri Media Tanggal Berdiri : 2 Februari 1970
Pendiri : P.K. Ojong, Jakoeb Oetama CEO Saat Ini : Lilik Oetama
Jenis Perusahaan : Anak Perusahaan Induk Perusahaan : Kompas Gramedia
Unit Bisnis Induk : GPU, Elex Media Komputindo, KPG, M&C Comics, Grasindo, BIP, ELTI, Diginusa, Teeny Teensy, COZYFIELD Situs Website : www.gramedia.com
Kantor Pusat : Jl. Palmerah Selatan 22-26, Jakarta Jumlah Pegawai : 6.613
Jumlah Gerai : 121 Logo Tenant :
Gambar 3.4.1. Logo Tenant Gramedia (Logopedia, n.d.).
Logo Digital :
Gambar 3.4.2. Logo Digital Gramedia (Logopedia, n.d.).
B. Sejarah Singkat Perusahaan
63 Periode Logo yang Digunakan Peristiwa
1970 – 1990
Gambar 3.4.3. Logo Gramedia Periode 1970 -
1998 (Logopedia, n.d.).
P.K. Ojong memiliki visi
untuk meningkatkan
pengetahuan dan
mencerdaskan kehidupan masyarakat Indonesia melalui buku.
Toko pertama didirikan di Jl.
Gajah Mada dengan luas 252 kaki persegi.
1990 – 1998 Gramedia terus melakukan
ekspansi ke berbagai kota di Indonesia dan mulai
membangun bisnis
pendukung seperti percetakan dan penerbitan.
Pada 1 Juni 1996 KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) didirikan.
1998 – 2008
Gambar 3.4.4. Logo Gramedia Periode 1998 -
2015 (Logopedia, n.d.).
Gramedia mulai menerapkan standarisasi ISO untuk meningkatkan kualitas produk agar sesuai dengan standar yang telah disepakati internasional.
64
2008 – 2015 Gramedia mulai mengubah
konsep toko dengan menggabungkan café ke dalam toko buku untuk pelanggan sebagai tempat membaca buku yang nyaman.
2015 –
Gambar 3.4.5. Logo Gramedia Periode 2015 - sekarang (Logopedia, n.d.).
Gramedia melakukan re-branding dengan mengusung konsep bisnis bertema inspirasi, inovasi, dan inisiasi.
Gramedia juga menggunakan identitas brand berupa logo dengan bentuk huruf G yang didesain ekspresif dan
dinamis. Gramedia
mengharapkan bahwa toko Gramedia bukan lagi hanya tempat untuk bertransaksi, namun juga tempat untuk berinteraksi.
Tabel 3.4.1. Sejarah Singkat Gramedia
C. Strategi Marketing Gramedia
1. STP (Segmenting, Targeting, Positioning)
➢ Segmenting :
• Jenis Kelamin : Pria dan wanita
• Usia : Semua usia, terutama 17 tahun – 35 tahun
• Lokasi : Perkotaan, pinggiran perkotaan
➢ Targeting :
• Pendapatan : Menengah-ke atas
• Gaya Hidup : 1,5 – 2 juta/bulan
65
➢ Positioning :
Gramedia memposisikan diri sebagai brand pusat pengetahuan yang ramah lingkungan.
2. Visi dan Misi Gramedia Sudirman Yogyakarta Visi
Menjadi perusahaan jaringan ritel dan penerbitan terbesar, tersebar, dan terpadu di Asia Tenggara (Gramedia, 2021).
Misi
Menyediakan produk yang berorientasi pasar, layanan unggul, inovatif dan perilaku bisnis yang beretika (Gramedia, 2021).
Prinsip
Gramedia memiliki prinsip untuk selalu berfokus pada transformasi.
Dengan apa yang disediakan dalam gerai, Gramedia berharap untuk tidak sekadar menjadi tempat orang bertransaksi, namun juga berinteraksi (Gramedia, 2015).
D. Struktur Organisasi Gramedia Sudirman Yogyakarta
Gambar 3.4.6. Struktur Organisasi Gramedia Sudirman Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi, 2021).
66 3.4.2 Analisis Bangunan Eksisting
Pada tahun 2020, dilakukan renovasi terhadap fasad Gramedia Sudirman dan toko mulai beroperasi kembali pada tahun 2021. Renovasi dilakukan untuk mengubah penggayaan fasad gedung ke penggayaan indische colonial. Pengubahan penggayaan ini sejalan dengan komitmen pembangunan daerah Kotabaru, Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan cagar budaya arsitektural peninggalan Belanda (RPI2-JM Kota Yogyakarta Tahun 2015-2019, 2015).
Gambar 3.4.7. Lokasi Gramedia Sudirman (Google Earth, 2021).
Alamat : Jl. Jendral Sudirman No. 54-56, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, DIY 55224 Jenis bangunan : Fasilitas umum
Luas lahan : 1.379,65 m2 Luas bangunan : 2.182 m2 Jenis pondasi : Tiang pancang Kolom struktur : 700 mm x 700 mm Kolom praktis : 150 mm x 150 mm
67 Tebal dinding : 150 mm
Temperatur luar : 31°C
Gambar 3.4.8. Bangunan Gramedia Sudirman Yogyakarta (Google Street, 2021).
A. Orientasi Bangunan
Gedung Gramedia terletak dekat dengan dua perguruan tinggi di Yogyakarta yaitu Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Negeri Gadjah Mada.
Ke arah utara dari bangunan terdapat pemandangan gunung Merapi namun terhalang oleh gedung Bank BTN yang berada tepat di seberang jalan.
68
Gambar 3.4.9. Analisis Eksisting Bangunan (Dokumentasi Pribadi, 2021).
B. Arah Angin
Angin bergerak dari sisi tenggara ke barat laut bangunan. Terdapat pepohonan setinggi ±7 meter yang berada pada sisi timur bangunan yang membantu untuk mereduksi kecepatan angin sebelum akhirnya berpapasan dengan bangunan.
Gambar 3.4.10. Analisis Eksisting Bangunan (Dokumentasi Pribadi, 2021).
C. Paparan Matahari
Gedung Gramedia Sudriman menghadap ke arah utara sehingga cahaya matahari akan bergerak dari sisi gedung bagian kanan pada pagi hari ke sis
69 gedung bagian kiri pada sore hari. Terdapat pohon setinggi ±7 meter di sisi timur bangunan yang cukup membantu mereduksi panas matahari terhadap bangunan, terutama untuk lantai 1 dan 2. Sedangkan pada sisi barat bangunan tidak terdapat penghalang ataupun bangunan tinggi yang mampu membantu melindungi bangunan dari panas matahari sehingga sisi bangunan bagian barat akan mendapat panas paling banyak, terutama pada siang-sore hari.
D. Sumber kebisingan
Sumber kebisingan utama datang dari sisi timur dan utara bangunan yang merupakan jalanan yang cukup sibuk. Terdapat vegetasi setinggi ±2 meter di antara bangunan dan jalan yang membantu mereduksi
kebisingan. Bangunan di area sekitar kebanyakan adalah perkantoran dan rumah penduduk yang tidak menimbulkan polusi suara berlebih.
3.4.3 Analisis Alur Aktivitas Pengguna
Tabel 3.4.2. Tabel Analisis Alur Aktivitas Pengguna (Dokumentasi Pribadi, 2021).
Lantai Alur Aktivitas Keterangan
1
Gambar 3.4.11. Analisis Sirkulasi dan Aktivitas Lantai Dasar (Dokumentasi
Pribadi, 2021).
Terdapat lima akses untuk keluar-masuk pada lantai 1, dua diantaranya merupakan akses utama. Pintu pada utara bangunan ditujukan untuk masuk dan pintu pada timur bangunan ditujukan untuk keluar. Namun, pada praktiknya pintu yang sering digunakan untuk keluar-masuk hanyalah pintu utara.
Sedangkan pintu timur jarang dan hampir tidak
70 utama pada sisi timur bangunan. Kesibukan jalur bersumber pada pengunjung yang beristirahat dan membeli minuman di kafe, pengunjung yang menunggu lift dan pengunjung yang berbelanja pada umumnya.
Jalur yang ditujukan untuk akses keluar adalah jalur pada sisi barat bangunan.
Namun pada kenyataannya pengunjung tetap memilih jalur yang sama yang digunakan untuk akses masuk karena lebih dekat dengan pintu keluar.
3
Gambar 3.4.12. Analisis Sirkulasi dan Aktivitas Lantai Satu (Dokumentasi
Pribadi, 2021).
Terdapat tiga akses untuk keluar-masuk lantai 3.
Kebanyakan pengunjung menggunakan tangga utama daripada lift.
Pergerakan pengunjung dalam bangunan mengikuti teori ritel bahwa pengunjung cenderung untuk berjalan menelusuri ruang berlawanan dengan arah jarum jam (Ebster &
Garaus, 2015). Pengunjung yang datang dari tangga
71 Novel fiksi dan sastra merupakan produk yang paling diminati. Oleh karena itu masuk akal bahwa
bagian novel fiksi dan sastra diletakkan pada rak-rak
terdepan sisi timur bangunan. Hipotesis tersebut dibuktikan dengan intensitas aktivitas yang tinggi pada bagian rak novel fiksi dan sastra. Sedangkan bagian paling jarang dikunjungi adalah bagian bisnis dan hukum yang berada di pojok utara pada sisi timur bangunan. Bagian bisnis dan hukum sepi
pengunjung dapat
diakibatkan karena layout grid dan kurangnya atraksi (Ebster & Garaus, 2015) terhadap bagian tersebut dan letaknya yang terlalu jauh dari pusat sirkulasi.
72 3.4.4 Tabel Analisis Aktivitas dan Fasilitas
Tabel 3.4.3. Tabel Analisis Aktivitas dan Fasilitas (Dokumentasi Pribadi, 2021).
Aktivitas Entrance A. Penjualan Produk Pendukung
A. Penjualan Produk
Utama A. Kasir R. Operasional
Bangunan Toilet Gudang Cafe A. CSO
Keluar-masuk ✓
Cek suhu ✓
Melihat-lihat barang ✓ ✓
Memilih barang ✓ ✓
Mencoba barang ✓
Membaca buku ✓ ✓
Membayar barang ✓
Membuat perjanjian temu
✓ Meminta bantuan
pelayanan
✓
Menunggu janji temu ✓ ✓
Memesan minuman ✓
Menunggu pesanan ✓
Makan/minum ✓
Berbincang ✓ ✓ ✓
Mencuci peralatan ✓
Membuat pesanan ✓
73
Menunggu orang ✓
Operasional bangunan ✓
Buang air ✓
Mencuci tangan ✓
Menyimpan barang ✓
Mengambil stock barang ✓
3.4.5 Tabel Analisis Aktivitas dan Fasilitas
Tabel 3.4.4. Tabel Analisis Aktivitas dan Fasilitas (Dokumentasi Pribadi, 2021).
Aktivitas Zona Aktif/Pasif Berisik/Tenang Frekuensi Penggunaan Waktu Penggunaan
Keluar-masuk Pub A Br T P – M
Cek suhu Pub A Tn T P – M
Melihat-lihat barang Pub A Tn T P – M
Memilih barang Pub A Tn S P – M
Mencoba barang Pub A Br S P – M
Membaca buku Pub A Tn S P – M
Membayar barang Pub A Tn T P – M
Membuat perjanjian
temu Sem A Tn R P – M
Meminta bantuan
pelayanan Pub A Tn R P – M
Menunggu janji temu Pub P Tn R P – M
Memesan minuman Pub A Br S P – M
74
Menunggu pesanan Pub P Tn S P – M
Makan/minum Pub A Br S P – M
Berbincang Pub A Br T P – M
Mencuci peralatan Pri A Br T P – M
Membuat pesanan Pri A Br T P – M
Menunggu orang Pub P Tn S P – M
Operasional bangunan Pri A Br R P & M
Buang air Ser A Br R P – M
Mencuci tangan Ser A Br R P – M
Menyimpan barang Pri A Br R P
Mengambil stock barang Pri A Br R P
Legends:
Zona Aktif/Pasif Frekuensi Penggunaan
- Pub : Publik - P : Pasif - T : Tinggi
- Pri : Privat - A : Aktif - S : Sedang
- Sem : Semi-privat - R : Rendah
- Ser : Servis
Berisik/Tenang Waktu Penggunaan
- Br : Berisik - P : Pagi - – : Sampai
- Tn : Tenang - M : Malam - & : Dan
75 3.4.6 Tabel Analisis Aktivitas Berdasar Kebutuhannya
Tabel 3.4.5. Tabel Analisis Aktivitas Berdasar Kebutuhannya (Dokumentasi Pribadi, 2021).
Fasilitas Entrance A. Penjualan Produk Pendukung
A. Penjualan Produk
Utama A. Kasir R. Operasional
Tabel 3.4.6. Tabel Keterangan Analisis Aktivitas Berdasar Kebutuhannya (Dokumentasi Pribadi, 2021).
Ruang/Area Keterangan Instrumen
Entrance Diperlukan perhatian terhadap pencahayaan karena merupakan akses masuk utama sehingga kebutuhan pencahayaan dibutuhkan agar pengguna dapat melihat kondisi ruang dengan mudah. Sedangkan pada aspek aksesibilitas dibutuhkan perhatian tinggi karena arena entrance selain sebagai akses keluar-masuk utama, juga berfungsi sebagai jalur darurat sehingga aksesibilitas tinggi diperlukan.
• Lampu
• Signage
76 Area bersifat permanen dalam arti letak dan fungsinya tidak dapat diubah karena selain merupakan struktur
bangunan, area entrance juga berfungsi sebagai akses darurat.
A. Penjualan Produk Pendukung
Diperlukan perhatian terhadap akustik karena pada area produk pendukung pengunjung juga dapat mencoba produk seperti tas atau pakaian. Perhatian tinggi diperlukan pada penghawaan, pencahayaan serta aksesibilitas karena berpengaruh dengan kenyamanan pengunjung. Perhatian tinggi juga diperlukan pada aspek visual karena berpengaruh dengan brand perusahaan.
Area bersifat fleksibel dalam arti sistem organisasi ruangnya dapat diubah karena furniture yang digunakan bersifat movable.
• Lampu
• Air conditioning
• Peredam suara
• APAR
• Sound system
A. Penjualan Produk Utama
Perhatian tinggi diperlukan pada penghawaan, pencahayaan serta aksesibilitas karena berpengaruh dengan kenyamanan pengunjung. Perhatian tinggi juga diperlukan pada aspek visual karena berpengaruh dengan brand perusahaan.
Area bersifat fleksibel dalam arti sistem organisasi ruangnya dapat diubah karena furniture yang digunakan bersifat movable.
• Lampu
• Air conditioning
• APAR
• Sound system
A. Kasir Diperlukan perhatian khusus pada privasi karena area kasir merupakan tempat menyimpan data serta hasil penjualan. Area bersifat fleksibel dalam arti area dapat dipindah tempatkan sesuai kebutuhan
• Lampu
• Meja kasir
• Air conditioning
• Cash register
R. Operasional Bangunan
Diperlukan perhatian tinggi terhadap akustik karena ruangan berisi peralatan operasional bangunan yang cukup menciptakan kebisingan. Perhatian tinggi juga diperlukan terhadap privasi ruang karena peralatan hanya boleh dioperasikan oleh orang yang bertanggung jawab.
• Lampu
• APAR
• Exhaust
• Fire alarm
77 Ruangan bersifat permanen dalam arti tidak dapat dipindah tempatkan karena berhubungan dengan
sistem mekanikal, elektrikal, serta plumbing bangunan.
Toilet Diperlukan perhatian penghawaan tinggi untuk menjaga aroma baik di dalam ruang maupun area sekitar tetap nyaman di hirup sehingga dapat menjaga nafsu makan dan kenyamanan pengguna. Perhatian tinggi juga diberikan pada kebutuhan akan privasi karena toilet memang ruang servis yang diperlukan ruang individu mutlak.
Ruang bersifat permanen dalam arti letaknya tidak dapat dipindah karena hal ini menyangkut sistem plumbing gedung secara utuh.
• Exhaust
• Urinal
• Wastafel
• Toilet
Gudang Walaupun ruangan menimbulkan kebisingan, namun ruangan hanya digunakan ketika pagi hari sebelum toko buka sehingga tidak memerlukan perhatian khusus terhadap akustik. Diperlukan perhatian tinggi pada pencahayaan untuk memudahkan karyawan dalam mencari/menaruh barang.
Ruang bersifat fleksibel karena dindingnya tersusun dari dinding partisi yang tidak berhubungan dengan struktur bangunan.
• Lampu
Café Dibutuhkan perhatian tinggi pada elektrikal karena terdapat beberapa peralatan yang membutuhkan supply listrik seperti mesin espresso, kulkas, dll.
• Lampu
• APAR
• Exhaust
• Fire alarm
• Sekring A. CSO Area CSO membutuhkan perhatian terhadap privasi karena area digunakan untuk berbincang antara pihak
yang berkepentingan saja. Perbincangan juga dapat terdengar hingga area kasir karena letaknya yang berdampingan.
Area bersifat fleksibel dalam arti letaknya dapat dipindah tempatkan sesuai kebutuhan.
• Lampu
• Meja
78 3.4.7 Analisis Luasan Ruang
Tabel 3.4.7. Tabel Analisis Luasan Ruang (Dokumentasi Pribadi, 2021).
Lantai Area/Ruang Pengguna Aktivitas
Fasilitas Ukuran (m)
Luas
- Pengunjung - Tes suhu Termometer digital
- Pengunjung - Menunggu pesanan
79
80
81
Total Kebutuhan 125,17 37,55 162,71
Area Kasir
82 WC
- Pengunjung - Buang air Urinoir 2 0,35 0,28 0,56 0,20 0,06 0,25
- Karyawan - Mencuci tangan
Toilet 2 0,66 0,36 0,80 0,48 0,14 0,62
Wastafel 2 0,60 0,40 0,80 0,48 0,14 0,62
Total Kebutuhan 1,15 0,35 1,50
83 3.4.8 Analisis Hubungan Antar Ruang
3.4.8.1 Bubble Diagram & Matriks Kedekatan Ruang Lantai 1 A. Bubble Diagram
Gambar 3.4.13. Bubble Diagram Lantai 1 (Dokumentasi Pribadi, 2021).
B. Matriks Kedekatan Ruang
Gambar 3.4.14. Matriks Kedekatan Ruang Lantai 1 (Dokumentasi Pribadi, 2021).
3.4.8.2 Bubble Diagram & Matriks Kedekatan Ruang Lantai 2 A. Bubble Diagram Lantai 2
84
Gambar 3.4.15. Bubble Diagram Lantai 2 (Dokumentasi Pribadi, 2021).
B. Matriks Kedekatan Ruang Lantai 2
Gambar 3.4.16. Matriks Kedekatan Ruang Lantai 2 (Dokumentasi Pribadi, 2021).
3.4.8.3 Bubble Diagram & Matriks Kedekatan Ruang Lantai 3 A. Bubble Diagram Lantai 3
85
Gambar 3.4.17. Bubble Diagram Lantai 3 (Dokumentasi Pribadi, 2021).
B. Matriks Kedekatan Ruang Lantai 3
Gambar 3.4.18. Matriks Kedekatan Ruang Lantai 3 (Dokumentasi Pribadi, 2021).
3.4.9 Zoning
Tabel 3.4.8. Tabel Analisis Zoning (Dokumentasi Pribadi, 2021).
Lantai Zoning Keterangan
86 1
Gambar 3.4.19. Zoning Lantai 1 (Dokumentasi Pribadi, 2021).
Penumpukkan pengunjung terjadi di pintu masuk untuk scan aplikasi PeduliLindungi.
Penumpukkan pengunjung terjadi di area cafe karena tempat duduk terlalu sedikit.
Penumpukkan pengunjung terjadi di depan lift pengunjung karena pengunjung yang menunggu lift bersinggungan dengan akses
pengunjung yang ingin menggunakan tangga.
3 Gambar 3.4.20. Zoning Lantai Tiga (Dokumentasi Pribadi, 2021).
Area publik berada di tengah bangunan karena kebutuhan aksesnya. Tangga untuk memasuki area lantai tiga berada di tengah ruangan sehingga akan lebih sesuai jika zona publik berada diantara tangga utama.
Area servis berupa WC terletak di sisi selatan bangunan bagian timur bersesuaian dengan sistem plumbing bangunan.
Area privat yang berada pada sisi selatan bangunan dipenuhi dengan kebutuhan utilitas dan mekanikal bangunan sehingga pengunjung tidak dapat mengakses area tersebut.
87 3.4.10 Blocking
Tabel 3.4.9. Tabel Analisis Blocking (Dokumentasi Pribadi, 2021).
Lantai Blocking Keterangan
1
Gambar 3.4.21. Blocking Lantai Satu (Dokumentasi Pribadi, 2021).
1. Area penjualan jam &
produk eksklusif
2. Area penjualan produk teknologi
3. Café
4. Lift pengunjung
6. Akses karyawan ke shaft 7. Area penjualan produk fesyen, peralatan olahraga 8. Tangga darurat
9. Area kasir
10. Display aksesoris 11. Display aksesoris
3
Gambar 3.4.22. Blocking Lantai Tiga (Dokumentasi Pribadi, 2021).
1. Area penjualan buku novel 2. Area penjualan buku novel, bisnis, hukum & social science 3. Area penjualan buku bisnis, hukum & referensi
4. Area penjualan buku rekomendasi Gramedia 5. Gudang
6. Area penjualan buku self-improvement
7. Tangga darurat
8. Area penjualan buku religi 9. Kasir
10. Area penjualan buku best seller
88 11. Lift pengunjung
12. Toilet
89
DAFTAR PUSTAKA
Berman, B., Evans, J.R., Chatterjee, P. (2018). Retail Management – A Strategic Approach. Edisi ketiga belas. Harlow: Pearson Education Limited.
Camilleri, M.A. (2018). Marketing Segmentation, Targeting and Positioning.
Travel Marketing, Tourism Economics and the Airline Product. No 4, pp.
69-83, DOI: 10.1007/978-3-319-49849-2_4
De Chiara, J., Panero, J., Zelnik, M. (1992). Time-Saver Standards for Interior Design And Spaces Planning. McGraw-Hill, Inc.
Dodsworth, S. (2009). The Fundamentals of Interior Design. Lausanne: AVA Publishing, SA
Dolnicar, S., Grün, B., Leisch, F. (2018). Marketing Segmentation Analysis – Understanding It, Doing It, and Making It Useful. Management for Professionals. DOI: https://doi.org/10.1007/978-981-10-8818-6
Ebster, G., Garaus, M. (2015). Store Design and Visual Merchandising: Creating Store Space That Encourages Buying. Edisi kedua. New York: Business Expert, LLC
Grimley, C., Love, M. (2018). The Interior Design – Reference+Specification Book. Edisi ketiga. Beverly: Rockport Publishers, Inc.
Hunter, P.G., Schellenberg, E.G. (2010). Music and Emotion. Music Perception, vol. 2, no. 2, pp. 129-164, DOI: http://dx.doi.org/10.1007/978-1-4419-6114-3_5
Karlen, M. (2009). Space Plannung Basics. Edisi ketiga. Hoboken: John Wiley &
Sons, Inc.
Kotler, P., Armstrong, G. (2016). Principles of Marketing. Edisi keenam belas.
Harlow: Pearson Education Limited.
Kubba, S. (2003). Space Planning for Commercial and Residential Interiors. New York: McGraw-Hill
Levy, M., Weitz, B.A. (2012). Retail Management. Edisi kedelapan. New York:
McGraw-Hill Companies, Inc.
90 Masuo, Y., Satou, T., Takemoto, H., Koike, K. (2021). Smell and Stress Response
in the Brain: Review of the Connection between Chemistry and Neuropharmacology. Molecules, vol. 26, no. 9, DOI:
https://doi.org/10.3390/molecules26092571
Mesher, L. (2010). Basic Interior Design 01 – Retail Design. Lausanne: AVA Publicshing SA.
Neufert, E., Neufert, P. (2012). Architects’ Data. Edisi keempat. West Sussex:
Blackwell Publishing Ltd.
Pena, W.M., Parshall, S.A. (2012). Problem Seeking: An Architectural Programming Primer. Hoboken: John Wiley & Sons.
Stamhuis, T. (2018). Evoking Imagination. (Tesis Master, Delft University of Technology, 2018). Diakses dari http://resolver.tudelft.nl/uuid:8fe7edad-411f-4f77-a32d-184a5b9ebd9a
Sufar, S., Talib, A., Hambali, H. (2012). Towards a better Design: Physical Interior Environments of Public Libraries in Peninsular Malaysia. Procedia – Social and Behavioral Sciences, no. 42, pp. 131-143, DOI:
10.1016/j.sbspro.2012.04.174
Thompson, W.F., Quinto, L. (2012). Music and Emotion: Psychological Considerations. DOI:
http://dx.doi.org/10.1093/acprof:oso/9780199691517.003.0022
Wheeler, A. (2018). Designing Brand Identity. Edisi kelima. Hoboken: John Wiley & Sons, Inc.
White, E.T. (1972). Introduction to Architectural Programming. Architectural Media.