BAB I: PENDAHULUAN
1.8. Kerangka Pikir
Bagan 1 Kerangka Pikir Perancangan (Dokumentasi Pribadi, 2021).
15 1.9. Pembaban
Penulisan laporan dilakukan dengan sistematika seperti disebutkan dibawah ini:
BAB I Pendahuluan
Menguraikan latar belakang dilakukannya perancangan ulang disertai dengan identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan serta manfaat perancangan, metode perancangan yang digunakan dan kerangka pikir perancangan.
BAB II Kajian Literatur
Menguraikan teori-teori yang digunakan sebagai dasar pengambilan kesimpulan dan pernyataan yang digunakan dalam proses perancangan.
BAB III Programming Perancangan
Menguraikan hasil analsisa perancangan serta melakukan kajian dan menghubungkan literatur yang digunakan dengan konsep yang ingin dicapai.
BAB IV Tema, Konsep, dan Aplikasi Perancangan
Membahas tema, konsep, serta aplikasi perancangan secara menyeluruh melalui pertimbangan yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya.
BAB V Kesimpulan dan Saran
Menguraikan kesimpulan akhir yang didapatkan dari proyek perancangan ulang serta saran yang membangun untuk penulis.
16
BAB II: KAJIAN LITERATUR
2.1. Literatur Objek Perancangan
Dalam proyek perancangan toko retail Gramedia, terdapat tiga fasilitas utama yaitu antara lain:
1. Area ritel
2. Kantor manajemen 3. Kafe
Musholla juga disediakan sebagai fasilitas tambahan.
2.1.1. Definisi Ritel
Ritel adalah segala aktivitas jual-beli produk atau jasa yang dilakukan secara langsung kepada pembeli tanpa melalui perantara untuk memenuhi kebutuhan personal pembeli (Kotler & Armstrong, 2016). Sedangkan menurut Berman et al. (2018), ritel adalah tahapan terakhir dari sebuah proses distribusi dari penyedia barang ke pengguna barang/pembeli.
Dalam PERPRES No. 112 Tahun 2007, pemerintah Indonesia mendefinisikan ritel sebagai Toko Modern (selanjutnya istilah ritel dan toko modern akan penulis gunakan secara bergantian), yaitu toko yang menjual barang secara eceran dan beroperasi dengan sistem pelayanan mandiri dalam bentuk Supermarket, Department Store, Minimarket, Hypermarket ataupun Perkulakan. Dalam ilmu perdagangan, ritel berjalan dengan memasok produk dalam jumlah banyak dari penyedia barang dan menjual produk-produk tersebut dengan kuantitas kecil kepada pelanggan (New World Encyclopedia, n.d.).
Secara harfiah, kata ritel berasal dari bahasa Prancis “retaillier” yang artinya memotong/membagi. Kata retaillier mengacu pada istilah menjahit di Prancis yang telah digunakan sejak tahun 1365 (New World Encyclopedia, n.d.).
17 Jika disimpulkan, ritel adalah sebuah tempat yang mewadahi kegiatan jual-beli barang dan/atau jasa yang menjual produk dalam kuantitas kecil atau eceran untuk mencukupi suatu kebutuhan tertentu.
2.1.2. Fungsi Ritel
Menurut Levy & Weitz (2012), terdapat lima fungsi ritel antara lain adalah:
1. Menyediakan banyak produk dari banyak brand di satu lokasi, 2. Menyediakan produk dengan kuantitas kecil sehingga pembeli dapat
membeli sesuai kebutuhan,
3. Sebagai sarana inventaris sehingga pembeli tidak harus membeli produk dalam kuantitas besar dalam sekali pembelian,
4. Menyediakan pelayanan yang lebih baik dan memudahkan pembelian.
Dapat dengan memanfaatkan kartu member dan lainnya,
5. Meningkatkan nilai produk yang ditawarkan di mata pelanggan.
2.1.3. Papan Petunjuk dalam Ritel
Menurut Levy & Wietz (2012), terdapat tiga tipe papan petunjuk yang ada dalam ritel, antara lain adalah:
1. Papan petunjuk kategori
Merupakan papan petunjuk yang berperan sebagai penunjuk jenis produk yang dijual di suatu area tertentu di dalam toko ritel.
2. Papan petunjuk promosi
Merupakan papan petunjuk yang berperan sebagai penunjuk jika terdapat penawaran khusus dari barang yang dijual.
3. Papan petunjuk titik pembayaran/pembelian
Merupakan papan petunjuk yang berperan sebagai penunjuk tempat pembayaran produk-produk yang ingin dibeli.
2.1.4. Strategi Pemasaran Ritel
Kesuksesan sebuah bisnis retail dapat dihasilkan dari strategi pemasaran yang tepat. Menurut Kotler & Armstrong (2016), terdapat empat
18 pertimbangan dalam menentukan strategi pemasaran untuk sebuah retail, yaitu: 1) segmentasi, penentuan target, diferensiasi, dan penentuan posisi.
2.1.5. Definisi Kantor
Kata office (kantor) berasal dari bahasa Latin officium yang memiliki beberapa arti antara lain adalah layanan, kesopanan, atau rasa tanggung jawab. Menurut Nag (2019), kantor adalah sebuah tempat kerja yang bergantung pada bangunan. Sedangkan menurut Cambridge Dictionary, kantor adalah sebuah ruang atau bagian dari sebuah bangunan yang digunakan untuk tempat bekerja manusia, khususnya dengan duduk disertai dengan meja, komputer, telepon, dan lain-lain. Jika disimpulkan, kantor adalah sebuah tempat resmi dan/atau legal yang berfungsi sebagai fasilitas manusia menyelesaikan tugas dan/atau pekerjaan pribadi atau organisasi yang menjadi tanggung jawabnya.
2.1.6. Definisi Kafe
Kafe adalah usaha yang menyediakan makanan dan minuman ringan di dalam satu tempat dengan dilengkapi dengan peralatan yang diperlukan dalam proses pembuatan, penyajian, dan/atau penyimpanannya (PERMENPAREKRAF Republik Indonesia, 2014). Sedangkan menurut Cambridge Dictionary, kafe adalah salah satu jenis restoran dimana makanan dan minuman ringan merupakan menu utama yang disediakan.
Jika disimpulkan, kafe adalah suatu usaha makanan dan minuman ringan yang beroperasi dalam sebuah ruang dan/atau area tetap.
2.1.7. Brand
Brand adalah segala sesuatu yang dapat diperjualbelikan sebagai sebuah gagasan ataupun benda. Sebuah Brand dapat berupa produk, seseorang, logo, dan lainnya (Mesher, 2010).
Dalam konteks retail, sebuah bangunan dibangun sesuai dengan konsep sebuah brand dan produk yang dijual di dalamnya. Sedangkan bagian interior dari sebuah toko retail menggambarkan aspirasi dan kualitas sebuah
19 brand serta berperan sebagai alat komunikasi antara ruang dengan pengguna (Mesher, 2010).
Menurut Mesher (2010), terdapat tujuh prinsip yang harus dipegang oleh sebuah brand, antara lain:
1. Esensi sebuah brand 2. Nilai sebuah brand 3. Kesan sebuah brand 4. Ide bisnis
5. Faktor penghasil uang
6. Daya tarik lebih sebuah brand 7. Budaya
2.2. Klasifikasi Proyek 2.2.1. Sektor Ritel
Usaha ritel dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kriteria berdasarkan produk yang dijual. Menurut Mesher (2010), terdapat empat sektor retail antara lain adalah:
1. Makanan dan Minuman 2. Fesyen
Dalam sektor fesyen terdapat empat sub-sektor antara lain adalah:
➢ Pakaian
➢ Sepatu
➢ Aksesoris
➢ Produk kecantikan 3. Rumah
Dalam sektor rumah terdapat empat sub-sektor antara lain adalah:
➢ Do-it-your-own (DIY)
➢ Furnitur
➢ Kain
➢ Peralatan masak
20 4. Hobi dan Hiburan
Dalam sektor hobi dan hiburan terdapat empat sub-sektor antara lain adalah:
➢ Olahraga
➢ Teknologi
➢ Perjalanan
➢ Keuangan
➢ Lain-lain 2.2.2. Tipologi Ritel
Menurut Neufert (2012), terdapat lima tipologi ruang ritel antara lain adalah:
➢ Ritel khusus
Merupakan tipe toko ritel yang berukuran kecil (50-500m2) yang biasanya hanya menyediakan produk dari salah satu sektor retail saja.
Gambar 2.2.1. Tipologi Ritel Khusus (Neufert, 2012).
➢ Rantai ritel khusus
Merupakan tipe toko ritel dari sebuah rantai ritel yang biasanya memiliki satu produk utama dan ditampilkan seperti pada tipologi ritel khusus.
➢ Supermarket khusus
Merupakan tipe toko ritel dari sebuah rantai ritel yang biasanya memiliki banyak cabang. Ukuran bisnisnya bervariasi dari bisnis kecil hingga bisnis besar.
21
Gambar 2.2.2 Tipologi Rantai Ritel Khusus (Neufert, 2012).
➢ Toko serba ada
Merupakan tipe toko ritel yang biasanya dari sebuah rantai ritel dengan area penjualan yang besar dan biasanya terdiri dari banyak lantai. Toko serba ada menyediakan produk dari berbagai macam sektor dan beberapa bagian dari toko dapat disewakan kepada brand atau rantai ritel lain.
Gambar 2.2.3 Tipologi Ritel Department Store (Neufert, 2012).
➢ Pusat perbelanjaan
Merupakan tipe toko ritel yang digunakan sebagai pusat penjualan berbagai toko ritel khusus, supermarket khusus, dan toko serba ada.
Biasanya terdiri dari lebih atau sama dengan dua lantai dengan tambahan fasilitas seperti café dan restoran.
Gambar 2.2.4 Tipologi Ritel Pusat Perbelanjaan (Neufert, 2021).
22 2.2.3. Tipe Lokasi Ritel
Terdapat banyak pilihan lokasi untuk menjalankan usaha ritel. Pemilihan lokasi berpengaruh pada strategi marketing dan pengolahan interior bangunan. Menurut Mesher (2010), terdapat enam lokasi yang dapat digunakan untuk menjalankan usaha retail antara lain:
1. Toko serba ada/Department store
Toko serba ada adalah toko yang menjual barang konsumsi secara eceran (Peraturan Presiden Republik Indonesia, 2007). Toko serba ada mampu mengakomodasi keempat sektor retail di lokasi yang sama (Mesher, 2010). Toko serba ada adalah sebuah toko berukuran besar yang di dalamnya terdapat tenant berbagai macam brand.
2. Jalan raya/high street
Jalan raya adalah jalan-jalan yang memiliki tingkat aktivitas tinggi yang berada di perkotaan (Mesher, 2010).
3. Pusat perbelanjaan
Pusat perbelanjaan adalah sebuah bangunan atau lokasi yang digunakan sebagai tempat melakukan aktivitas jual-beli.
4. Out-of-town shopping
Out-of-town shopping adalah lokasi perbelanjaan yang terletak diluar area perkotaan dan biasanya memiliki area parkir yang luas (Collins Dictionary, n.d.).
5. Concourse
Concourse adalah area publik yang berada dalam stasiun atau bandara.
6. Lokasi alternatif
Lokasi alternatif adalah lokasi lain yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi ritel seperti media sosial, toko daring, galeri, dan ekshibisi (Mesher, 2010).
2.2.4. Tipe Layout pada Ritel
Menurut Ebster & Garaus (2015), terdapat empat tipe layout yang dapat digunakan dalam toko retail, antara lain adalah:
23 1. Counter layout
Merupakan tipe layout dimana produk jualan diletakkan di belakang kasir sehingga pembeli tidak dapat memilih barang secara mandiri dan harus dibantu oleh penjaga toko. Biasanya digunakan pada:
a) Apotek, untuk mencegah pembeli membeli yang tidak dianjurkan.
b) Toko kecil
c) Di daerah rawan pencurian
d) Toko yang menjual barang eksklusif 2. Forced-path layout
Merupakan tipe layout yang mengharuskan pelanggan melalui rute tertentu yang telah disediakan. Terdapat dua variasi dari tipe layout forced-path yaitu: a) forced-path, dan b) forced-path with shortcut
Gambar 2.2.5. Layout Forced Path (Ebster & Garaus, 2015)
Gambar 2.2.6. Layout Forced Path with Shortcut (Ebster & Garaus, 2015)
3. Grid layout
Merupakan tipe layout dengan rak-rak yang disusun dalam pola repetitif.
24
Gambar 2.2.7. Layout Grid (Ebster & Garaus, 2015)
4. Free-form layout
Merupakan tipe layout dengan rak-rak yang disusun tidak dalam pola yang repetitif. Terdapat empat variasi dari layout free-form yaitu antara lain:
a) Boutique layout
Merupakan tipe layout yang membagi produk jualan ke dalam beberapa grup dan dipajang dalam area terpisah antara satu grup dengan lainnya.
Gambar 2.2.8. Layout Boutique (Ebster & Garaus, 2015)
b) Star layout
Merupakan tipe layout yang rak-raknya disusun menyerupai bentuk bintang.
c) Arena layout
Merupakan tipe layout yang rak-raknya disusun seperti sebuah arena atau amphi-theatre. Biasanya rak paling belakang memiliki tinggi
25 yang berbeda dengan rak paling depan sehingga membentuk skema berundak.
d) Combined layout
Merupakan tipe layout gabungan dari beberapa tipe layout.
Gambar 2.2.9. Layout Combined (Ebster & Garaus, 2015)
2.2.5. Klasifikasi Objek Perancangan Ritel
Berdasarkan teori yang telah disampaikan di atas, dapat disimpulkan bahwa ritel Gramedia berjalan di sektor retail hobi dan hiburan dengan produk utama buku. Selain menjual buku, Gramedia juga menjual beberapa produk pendukung antara lain: a) alat tulis & kantor, b) teknologi, c) fesyen &
aksesoris, d) mainan & hobi, e) makanan & minuman, f) olahraga, g) peralatan kesehatan, dan h) perlengkapan bayi. Ritel Gramedia memiliki tipologi ruang rantai ritel khusus dengan pemilihan lokasi pada high street dan dengan tipe layout grid layout.
2.2.6. Tipologi Kantor
Menurut Neufert (2012), terdapat tiga tipe kantor berdasarkan ukuran dan penggunanya, antara lain adalah:
A. Kantor single-room
Merupakan tipe kantor dengan ruang-ruang yang disusun di sepanjang koridor. Tipe kantor single-room kurang bagus untuk komunikasi sesama pegawai karena berfokus pada konsentrasi personal.
26
Gambar 2.2.10. Tipologi Kantor Single Room (Neufert, 2012)
B. Kantor open plan
Merupakan tipe kantor dengan ruang-ruang terbuka tanpa pembatas fisik dalam satu ruang yang besar. Tipe kantor open-plan dapat meningkatkan komunikasi antar pegawai karena tidak terdapat pembatas ruang antara meja pegawai.
Gambar 2.2.11. Tipologi Kantor Open Plan (Neufert, 2012)
C. Kantor group
Merupakan tipe kantor dengan ruang-ruang yang dapat digunakan untuk bekerja secara grup dalam sebuah divisi atau departemen dalam sebuah perusahaan.
Gambar 2.2.12. Tipologi Kantor Group (Neufert, 2012)
D. Kantor combi
27 Merupakan tipe kantor gabungan dari tipe kantor single-room dan open-plan. Tipe kantor combi tidak membagi ruang dengan tembok atau dinding temporal melainkan menggunakan kaca sehingga dua pegawai masih dapat berkomunikasi dan tetap dapat berkonsentrasi dengan pekerjaan masing-masing.
Gambar 2.2.13. Tipologi Kantor Combi (Neufert, 2012)
2.3. Standar Perancangan Ritel 2.3.1. Standarisasi Umum
1. Pencahayaan
Pencahayaan interior dibagi menjadi dua jenis, yaitu antara lain:
A. Pencahayaan alami
Merupakan jenis pencahayaan yang bersumber dari sinar matahari.
B. Pencahayaan buatan
Merupakan jenis pencahayaan yang bersumber dari produk buatan manusia seperti lampu atau lilin. Menurut Dodsworth (2009), terdapat lima kategori pencahayaan buatan antara lain:
Tabel 2.3.1. Lima Kategori Pencahayaan Menurut Dodsworth (Dokumentasi Pribadi, 2021)
Kategori Pencahayaan Deskripsi
General/ambient lighting Merupakan jenis pencahayaan buatan yang digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan pencahayaan ruang secara keseluruhan.
28 Accent/feature lighting Merupakan jenis pencahayaan buatan
yang digunakan untuk mempertegas detail atau mengarahkan fokus ke area tertentu.
Task lighting Merupakan jenis pencahayaan buatan yang digunakan untuk melayani sebuah kegiatan/pekerjaan yang spesifik.
Decorative lighting Merupakan jenis pencahayaan buatan yang digunakan untuk meningkatkan nilai estetis ruang.
Kinetic lighting Merupakan jenis pencahayaan buatan yang bersumber dari api buatan manusia seperti lilin atau lampu petromaks.
2. Penghawaan
Penghawaan interior dibagi ke dalam dua kategori yaitu penghawaan alami dan penghawaan buatan.
A. Penghawaan alami
Merupakan pertukaran udara antara ruang dalam dan ruang luar yang dilakukan tanpa mekanisme kompleks dengan tujuan untuk menjaga kualitas udara dalam ruang (Brager et al., 2011).
B. Penghawaan buatan
Merupakan pertukaran udara antara ruang dalam dan ruang luar yang dilakukan dengan bantuan peralatan bertenaga mekanis (Brager et al., 2011). Menurut LearnMetrics, penghawaan buatan melalui air conditioner dibagi ke dalam dua kategori besar dengan masing-masing memiliki lima sub-kategori. Kategori air conditioner adalah antara lain:
29
Tabel 2.3.2. Kategori Air Conditioner Menurut LearnMetrics (Dokumentasi Pribadi, 2021)
Kategori Sub-Kategori Deskripsi
Stand-Alone AC Units (1
device)
AC portable Merupakan jenis AC yang dapat dipindah dengan mudah dengan bantuan roda.
AC window Merupakan jenis AC yang dapat ditanam pada dinding atau jendela dengan satu sisi menghadap ruang dalam dan satu sisi menghadap ruang luar.
Proses pengolahan udara terjadi dalam satu device.
AC wall-mounted Merupakan jenis AC yang ditempel pada dinding dengan pipa mengarah ke luar ruang untuk membuang udara panas.
AC floor-mounted
Merupakan jenis AC yang ditanam di bawah lantai
AC spot coolers Merupakan jenis AC seperti AC portable dengan ukuran dan kekuatan yang lebih besar.
Biasa digunakan pada kapal.
Split-System AC Units (2
device)
AC central Merupakan jenis AC yang memiliki satu mesin utama di luar ruang untuk menghasilkan udara dingin yang kemudian di sebarkan ke seluruh area yang diinginkan melalui sistem
30 ducting dan disalurkan ke ruangan melalui diffuser.
AC wall-mounted Merupakan jenis AC yang ditempel pada dinding dengan dua mesin yang masing-masing berada di dalam dan luar ruangan.
AC floor-mounted Merupakan jenis AC yang ditanam di bawah lantai.
AC ceiling-mounted
Merupakan jenis AC yang dipasang pada ceiling. Biasa juga disebut AC tipe cassette.
AC ductless mini-split
Merupakan jenis AC yang sama dengan AC wall-mounted dengan tanpa menggunakan sistem ducting.
Standar kebutuhan penghawaan ruang dijelaskan dalam British Thermal Unit (BTU). Berikut adalah tabel kebutuhan BTU menurut EnergyStar.gov:
Tabel 2.3.3. Kebutuhan BTU Menurut EnergyStar.gov (Dokumentasi Pribadi, 2021)
Luas Ruang (ft2)
Kapasitas yang Dibutuhkan (BTU/h)
100 – 150 5.000
150 – 250 6.000
250 – 300 7.000
31
350 – 400 9.000
400 – 450 10.000
450 – 550 12.000
550 – 700 14.000
700 – 1.000 18.000
1.000 – 1.200 21.000 1.200 – 1.400 23.000 1.400 – 1.500 24.000 1.500 – 2.000 30.000 2.000 – 2.500 34.000
3. Lantai 4. Dinding
Menurut TheConstructor (2014), terdapat delapan jenis dinding. Berikut adalah tabel jenis dinding dan penjelasannya:
Tabel 2.3.4. Jenis-Jenis Dinding Menurut TheConstructor (Dokumentasi Pribadi, 2021)
Jenis Dinding Deskripsi
Load bearing wall Merupakan dinding yang berfungsi untuk menopang beban bangunan yang berasal dari kolom, balok, serta beban lantai di atasnya. Beban yang diterima kemudian ditransfer ke pondasi bangunan.
Non load bearing wall
Merupakan dinding yang hanya menopang bebannya sendiri tanpa memiliki keterkaitan dengan struktur bangunan secara keseluruhan.
32 Cavity wall Merupakan dinding yang disusun ke dalam dua
layer dan terdapat jarak di antara keduanya yang menciptakan ruang untuk udara. Cavity wall membantu untuk mengurangi kemungkinan kerusakan dinding bagian dalam akibat hujan sekaligus menjaga temperatur ruang tetap hangat.
Shear wall Merupakan dinding yang berperan untuk menyerap beban lateral bangunan. Beban lateral tersebut dapat berasal dari angin dan gempa bumi.
Partition wall Merupakan salah satu jenis non load bearing wall yang berfungsi untuk membagi ruang menjadi ruang-ruang yang lebih kecil.
Panel wall Merupakan salah satu jenis non load bearing wall yang biasanya terbuat dari kayu yang berfungsi sebagai unsur estetis.
Veneered wall Merupakan jenis dinding non-structural yang terbuat dari bata dan terdapat rongga pada batanya.
Faced wall Merupakan dinding yang menggunakan dua material yang berbeda antara kedua sisi yang berlawanan.
5. Ceiling 6. Warna
Secara fundamental warna merupakan hasil dari fenomena ketika cahaya tampak diserap atau direfleksikan oleh sebuah objek (Grimley & Love, 2018). Dalam desain, warna dapat mempengaruhi emosi, energi, dan perasaan keteraturan maupun ketidakteraturan (Poore, 1994).
33 A. Psikologi warna
Warna yang berbeda memiliki efek yang berbeda terhadap psikologi manusia. Berikut adalah warna-warna dan efeknya secara psikologis bagi manusia menurut Minxhozi:
Tabel 2.3.5. Asosiasi Warna Dengan Psikologi Menurut Minxzhozi (Dokumentasi Pribadi, 2021)
Warna Nama Warna Asosiasi Warna
Merah Kemarahan, cinta, kekuatan, semangat, bahaya, nafsu
Biru Kepercayaan, keandalan, konservatif, ketenangan
Kuning Ceria, playful, energi, semangat, kegembiraan, keseruan
Oren Semangat, energi, kesenangan, keseruan Hijau Kesegaran, pertumbuhan, pembaruan,
ketenangan
Ungu Misteri, kekayaan, kemakmuran, royalty Coklat Stabilitas, kenyamanan, keandalan,
ketenangan
Hitam Misteri, rasa takut, bahaya, kematian, maskulin, kecanggihan
Putih Kemurnian, kebersihan, sterilitas, kerapian Abu-abu Keadaban, kecanggihan, kemewahan B. Temperatur warna
Warna secara inheren memiliki temperatur yang dapat dibagi menjadi warna hangat dan warna dingin (Grimley & Love, 2018). Menurut
34 Grimley & Love, berikut adalah klasifikasi warna berdasarkan temperaturnya:
Tabel 2.3.6. Klasifikasi Warna Menurut Grimley & Love (Dokumentasi Pribadi, 2021)
Warna Nama Warna Klasifikasi
Merah, oren, kuning Hangat
Hijau, biru Dingin
7. Musik
Atribut musik seperti intesitas suara, tinggi nada, tempo, dan disonansi sangat berpengaruh terhadap ekspresi emosional seseorang (Thompson, 2012).
8. Aroma
Aroma dapat mempengaruhi kondisi psikologis dan fisiologis seseorang (Kadohisa, 2013).
9. Zoning
Merupakan sebuah proses desain yang dilakukan dengan membagi sebuah ruang ke dalam beberapa kelompok berdasarkan fungsi dan hierarkinya tanpa referensi spesifik terkait ukuran furnitur pengisi ruang (Dodsworth, 2009).
10. Blocking
Merupakan sebuah proses desain yang dilakukan dengan membagi sebuah ruang ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan tujuan dan objektif proyek dengan tetap mempertahankan fungsi dan hierarki ruang (Kubba, 2003).
2.3.2. Standar Luas Lantai Penjualan Ritel
Menurut PERPRES No. 112 Tahun 2007, toko modern harus memiliki luas lantai penjualan sebagai berikut:
35
Tabel 2.3.7. Luas Lantai Toko Modern Menurut PERPRES No. 112 Tahun 2007 (Dokumentasi Pribadi, 2021)
No. Klasifikasi Luas Lantai Penjualan
1 Minimarket < 400m2
2 Supermarket 400 m2 – 5.000 m2
3 Hypermarket > 5.000 m2
4 Department Store > 400 m2
5 Perkulakan > 5.000 m2
2.3.3. Jam Operasional Ritel
Menurut PERPRES No. 112 Tahun 2007, Department Store, Supermarket, dan Hypermarket memiliki jam operasional sebagai berikut:
a) Hari Senin – Jumat : 10.00 – 22.00 waktu setempat b) Hari Sabtu & Minggu : 10.00 – 23.00 waktu setempat 2.3.4. Regulasi Ritel
Menurut Neufert (2012), sebuah toko retail harus memiliki sepuluh elemen bangunan untuk memenuhi standar. Elemen bangunan yang dibutuhkan antara lain adalah:
Tabel 2.3.8. Elemen Standar Bangunan Menurut Neufert (Dokumentasi Pribadi, 2021)
Elemen Bangunan Deskripsi
Area penjualan Merupakan area dimana produk-produk dipajang untuk dijual. Area penjualan tidak termasuk akses dalam toko.
Akses dalam toko Merupakan area dalam toko yang digunakan untuk sirkulasi pengguna ruang.
Layout area penjualan
Merupakan skema tata letak dan organisasi dalam toko.
36 Kompartemen anti
api
Merupakan ruang/koridor yang semua dinding ruangnya dilengkapi dengan instrumen tahan api.
Tangga darurat Merupakan tangga yang dikhususkan untuk keadaan darurat. Tangga darurat minimal memiliki lebar 1,25 m dan maksimal memiliki lebar 2,4 m.
Escape route Merupakan akses dalam ruang yang mengarah pada tangga darurat tanpa halangan. Tiap lantai minimal memiliki dua escape route yang dapat diakses dari 25 m dari setiap titik yang ada dalam area penjualan.
Lorong/koridor darurat
Merupakan area dalam ruang retail yang dikhususkan untuk keadaan darurat dengan lebar ruang minimal 2 m.
Entrance Untuk toko dengan luas kurang dari 2.000 m2, lebar pintu masuk toko diperbolehkan dibawah 1 m. Untuk toko dengan luas lebih dari 2.000 m2, lebar pintu masuk minimal 2 m dengan tinggi minimal 2,2 m dan harus memiliki pintu otomatis untuk pengguna berkebutuhan khusus.
Akses keluar Setiap toko ritel dengan luas di atas 100 m2 harus memiliki minimal dua akses keluar, satu menuju ke luar toko dan satu menuju tangga darurat.
Untuk ritel dengan luas di bawah 100 m2, minimal lebar pintu keluar adalah 1 m. Untuk ritel dengan luas di atas 100 m2, minimal lebar pintu keluar adalah 2 m.
37 Jendela pajang Merupakan jendela yang dimanfaatkan untuk
menunjukkan produk-produk yang dijual untuk menarik calon pengunjung.
2.3.5. Kebutuhan Ruang Ritel A. Jangkauan display buku
Gambar 2.3.1. Jangkauan Display Buku (Panero & Zelnik, 1979)
B. Jangkauan display merchandise
Gambar 2.3.2. Jangkauan Display Merchandise (Panero & Zelnik, 1979)
C. Jangkauan pandang manusia
38
Gambar 2.3.3. Jangkauan Pandang Manusia (Panero & Zelnik, 1979)
D. Lebar sirkulasi
Gambar 2.3.4. Standar Lebar Sirkulasi (Panero & Zelnik, 1979)
2.3.6. Kebutuhan Ruang Kantor
Menurut Neufert, kantor membutuhkan lima area utama yaitu antara lain:
a) area kerja, b) area rak, c) area untuk melayani fungsi furnitur, d) area
39 untuk bergerak dalam area kerja, dan e) area untuk sirkulasi. Kebutuhan ukuran ruang yang harus dipenuhi, antara lain adalah:
A. Ruang minimum untuk satu area kerja
A. Ruang minimum untuk satu area kerja