• Tidak ada hasil yang ditemukan

FILSAFAT HUKUM ISLAM DAN ILMU ILMU SHARIAH METODOLOGIS OLEH MOCHAMAD CHAIRUDIN INSTITUT AGAMA ISLAM QOMARUDDIN GRESIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FILSAFAT HUKUM ISLAM DAN ILMU ILMU SHARIAH METODOLOGIS OLEH MOCHAMAD CHAIRUDIN INSTITUT AGAMA ISLAM QOMARUDDIN GRESIK"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

FILSAFAT HUKUM ISLAM

DAN ILMU ILMU SHARIAH METODOLOGIS OLEH

MOCHAMAD CHAIRUDIN

INSTITUT AGAMA ISLAM QOMARUDDIN GRESIK

A. Pendahuluan

Islam adalah agama dan cara hidup berdasarkan syari‟at Allah yang terkandung dalam kitab Al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang yang mengintegrasikan dirinya kepada Islam wajib membentuk seluruh hidup dan kehidupannya berdasarkan syari‟at yang termaktub dalam Al-Qur‟an dan As-Sunnah. Hal tersebut sebagaimana diungkap oleh Yusuf Qardhawi, syari‟at Ilahi yang tertuang dalam Al-Qur‟an dan Sunnah merupakan dua pilar kekuatan masyarakat Islam dan agama Islam merupakan suatu cara hidup dan tata sosial yang memiliki hubungan integral, utuh menyeluruh dengan kehidupan idealnya Islam ini tergambar dalam dinamika hukum Islam yang merupakan suatu hukum yang serba mencakup.1

Hukum Islam mencerminkan seperangkat norma Ilahi yang mengatur tata hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam kehidupan sosial hubungan manusia dengan benda dan alam lingkungan hidupnya. Norma Illahi yang mengatur tata hubungan tersebut adalah kaidah-kaidah dalam arti khusus atau kaidah ibadah murni, mengatur cara dan upacara hubungan langsung antara manusia dengan sesamanya dan makhluk lain di lingkungannya. Ciri khas hukum Islam, yakni berwatak universal, berlaku abadi untuk umat Islam dimanapun mereka berada, tidak terbatas pada umat Islam dimanapun mereka berada, tidak terbatas pada umat Islam di suatu tempat atau negara pada suatu masa, menghormati martabat manusia sebagai kesatuan jiwa dan raga, rohani dan jasmani, serta

1 Yusuf Qardhawi, Malamih Al-Mujtama Al-Muslim Alladzi Nansyuduhu, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1993), 151

(2)

memuliakan manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan, pelaksanaan dalam praktik digerakkan oleh iman dan akhlak umat Islam.

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan menggunakan jenis penelitian ground theory, Sumber data yang peneliti gunakan adalah sumber data yang berasal dari (person) berupa orang, (place) berupatempat dan, berupa arsip dokumentasi, teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan teknik dokumentasi. Teknik Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian keabsahan data, Conclusing Drawing/ verification.2

2 QOMARUDDIN, http://ejournal.kopertais4.or.id/pantura/index.php/jipi/article/view/3575

(3)

B. Filsafat Hukum Islam

Secara sosiologis, hukum merupakan refleksi tata nilai yang diyakini oleh masyarakat sebagai suatu pranata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Hal ini berarti, bahwa muatan hukum mampu menangkap aspirasi masyarakat yang tumbuh dan berkembang, bukan hanya bersifat kekinian, namun juga menjadi acuan dalam mengantisipasi perkembangan sosial, ekonomi dan politik di masa depan.3

Dengan demikian, hukum itu tidak hanya sebagai norma statis yang hanya mengutamakan kepastian dan ketertiban, namun juga berkemampuan untuk mendinamisasikan pemikiran serta merekayasa perilaku masyarakat dalam menggapai cita-cita.

Dalam perspektif Islam, hukum akan senantiasa berkemampuan untuk mendasari dan mengarahkan berbagai perubahan sosial masyarakat.

Hal ini mengingat, bahwa hukum Islam4 itu mengandung dua dimensi:

1. Hukum Islam dalam kaitannya dengan syari'at yang berakar pada nash qath'i berlaku universal dan menjadi asas pemersatu.

Syariat mempunyai dua pengertian: umum dan khusus. Secara umum, mencakup keseluruhan tata kehidupan dan Islam termasuk pengetahuan tentang ketuhanan. Dalam pengertian khusus, ketetapan yang dihasilkan dari pemahaman seorang muslim yang memenuhi syarat tertentu tentang al-Qur'an dan sunnah dengan menggunakan metode tertentu (Ushul Fiqhi).5

2. Hukum Islam yang berakar pada nas zhanni yang merupakan wilayah ijtihadi yang produk-produknya kemudian disebut dengan fiqhi.

3 Amrullah Ahmad, SF. Dkk., Dimensi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional (Jakarta:

Gema Insani Press, 1966), ix

4 Hukum Islam merupakan koleksi daya upaya para fuqaha dalam menerapkan syariat Islam sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Lihat Hasbi Ash-Shiddieqy, Filsafat Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988, cet III), 44

5 Juhaya S. Praja, Hukum Islam di Indonesia: Pemikiran dan Praktek (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), vii

(4)

Fiqhi adalah hukum syara' yang bersifat praktis diperoleh melalui dalil- dalil yang terinci.6

Dalam pengertiannya yang kedua inilah, yang kemudian memberikan kemungkinan epistemologis hukum, bahwa setiap wilayah yang dihuni umat Islam dapat menerapkan hukum Islam secara berbeda-beda, 7 sesuai dengan konteks permasalahan yang dihadapi.

Secara harfiah syari‟ah artinya jalan ke tempat mata air, atau tempat yang dilalui air sungai. Penggunaannya dalam al-qur‟an di artikan sebagai jalan yang jelas yang membawa kemenangan. Dalam terminologi ulama Usul al-fiqh, syariah adalah titah (khitab) Allah berhubungan dengan perbuatan mukallaf (muslim, balig, dan berakal sehat), baik berupa tuntutan, pilihan, atau perantara (sebab, syarat, atau penghalang).8 Jadi konteksnya, adalah hukum-hukum yang bersifat praktis (amaliyah).

Pada mulanya kata syari‟at meliputi semua aspek ajaran agama, yakni akidah, syari‟ah (hukum) dan akhlak. Ini terlihat pada syari‟at setiap agama yang diturunkan sebelum Islam. Karena bgi setiap ummat, Allah memberikan syari‟at dan jalan yang terang. Namun karena agama-agama yang diturunkan sebelum Muhammad SAW. Inti akidahnya adalah tauhid (mengesakan Tuhan), dapat dipahami bahwa cakupan syari‟ah, adalah amaliyah sebagai konsekuensi dari akidah yang diimani setiap ummat.

Mahmud syaltut dalam bukunya al-islam „aqidah wa syari‟ah mendefinisikan syari‟ah adalah peraturan yang diturunkan Allah kepada manusia agar dipedomani dalam berhubungan dengan Tuhannya, dengan sesamannya, dengan lingkungannya, dan dengan kehidupan.9 Sebagai penjabaran dari akidah, syari‟ah tidak bisa terlepas dari akidah. Keduannya memeliki hubungan ketergantungan. Akidah tanpa syari‟ah tidak menjadikan pelakunnya muslim, demikian juga syari‟ah tanpa akidah akan sesat.

6 Abd. Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqhi, (Kuwait: Dar al-Qalam, 1978), 11

7 Amruullah Ahmad, Dimensi Hukum Islam …, 10

8 Abdul Wahab al-Khalaf, „ilm usul al-fiqh, (Jakarta: Maktabah al-Da‟wah al-Islamiyah Syabab al- Azhar, 1410/1990, cet.8), 96

9 Mahmud Syaltut, al- islam „aqidah wa syari‟ah, (Mesir: Dar al-Qalam, 1966), 12.

(5)

Syari‟at Islam, diturunkan secar bertahap dalam dua periode Mekkah dan Madinah. Keseluruhannya memakan waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Sehubungan dengan ini muncul istilah teknis tasyri‟ (legislasi atau pengundangan). Istilah ini dikemudian hari menjadi salah satu perbendaharaan istilah penting dalam kajian fiqh (hukum Islam). Jadi syari‟at adalah produk atau materi hukumnya, tasyri adalah pengundangnya, dan yang memproduksi di sebut syari” (Allah).

Adapun kata Fiqh yang dalam al-qur‟an digunakan dalam bentuk kerja (fi‟il) disebut sebanyak 20 kali. Penggunaannya dalam al-qur‟an berarti memahami. Secara etimologis, fiqh artinya paham. Namun berbeda dengan

„ilm yang artinya mengerti. Ilmu bisa diperoleh secara nalar atau wahyu, fiqh menekankan pada penalaran, meski penggunaannya nanti ia terikat kepada wahyu. Dalam pengertian terminologis, fiqh adalah hukum-hukum syara‟

yang bersifat praktis (amaliyah) yang diperoleh dari dalil-dalil yang rinci.10 Contohnya, hukum wajib shalat, diambil dari perintah Allah dalam ayat aqimu al-shalat (dirikanlah shalat). Karena dalam al-qur‟an tidak dirinci bagaimana tata cara menjalankan shalat, maka dijelaskan melalui sabda Nabi SAW.:”Kejakanlah shalat, sebagaimana kalian melihat aku menjalankannya”.

(sallu kama raaitumuni usalli). Dari praktek Nabi inilah, sahabat-sahabat, tabi‟in, dan fuqaha‟ merumuskan tata aturan shalat yang benar dengan segala syarat dan rukunnya.

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa antara syari‟ah dan fiqh memiliki hubungan yang sangat erat. Karena fiqh adalah formula yang dipahami dari syari‟ah. Syari‟ah tidak bisa dijalankan dengan baik, tanpa dipahami melalui fiqh atau pemahaman yang memadai, dan diformulasikan secara baku. Fiqh sebagai hasil usaha memahami, sangat dipengaruhi oleh tuntunan ruang dan waktu yang melingkupi faqih (jamak Fuqaha) yang memformulasikannya. Karena itulah, sangat wajar jika kemudian, terdapat perbedaan-perbedaan dalam rumusan mereka. Kristalisasinya kemudian dicatat oleh sejarah, terdapat Fiqh Sunny (berpaham ahl al-sunnah wa al-

10 Abdul Wahab al-Khalaf, „Ilm Usul al-Fiqh, 11

(6)

jamaah) dan fiqh syi‟i (berpaham Syi‟ah, yang mengaku pengikut Ali ibn Abi Tholib). Dikalangan Sunny sendiri, dikenal Fiqh Hanafy, Fiqh Maliky, Fiqh Syafii, Fiqh Hanbaly, dan Fiqh Auza‟iy. Yang terakhir kurang populer di Indonesia.

Kendatipun demikian terdapat perbedaan karakteristik antara syari‟ah dan fiqh, yang apabila tidak dipahami secar proporsional, dapat menimbulkan kerancuan yang bukan tidak mungkin akan melahirkan sikap salah kaprah terhadap fiqh. Fiqh diidentikkan dengan syari‟ah. Agar jelas duduk soalnya, berikut akan dikemukakan perbedaan-perbedaan tersebut. pertama, syari‟ah diturunkan oleh Allah (al-syari), jadi kebenarannya bersifat mutlak (absolut), sementara fiqh adalah formula hasil kajian fuqaha, dan kebenarannya bersifat Relatif (nisbi). Karena syariah adalah wahyu sementara fiqh adalah penalaran Manusia. Kedua, syari‟ah adalah satu (unity) dan Fiqh beragam (diversity).

Ketiga, syari‟ah bersifat otoritatif, maka fiqh berwatak liberal. Keempat, syari‟ah stabil atau tidak berubah, fiqh mengalami perubahan seiring dengan tuntutan ruang dan waktu. Kelima, syari‟ah bersifat idealistis, fiqh bercorak realistis.11

Pemahaman terhadap perbedaan substansi syari‟ah dan fiqh ini.

Setidaknya menjadikan seseorang dapat arif dan bijaksana menyikapi fiqh.

Dengan kata lain, perbedaan pendapat dan pengamalan fiqh adalah sesuatu yang lumrah dan tidak perlu di pertentangkan. Dan pada gilirannya, di antara para pengikut ulama mazhab, akan saling toleran untuk mengerti formula fiqh dari ulama yang diikutinya. fiqh sebagai hasil istinbath (upaya mengeluarkan hukum dari nash) atau ijtihad fuqaha‟ yang manusia biasa, meski telah di yakini kebenarannya, tidaklah tertutup kemungkinan terjadi kesalahan di dalamnya. Meskipun dalam hal ini, apabila terjadi kesalahan di dalamnya.

Meskipun dalam hal ini, apabila terjadi kesalahan tidak berakibat dikenakan sanksi hukum. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: Iza‟ ajtihada al-hakim fa asaba falahu ajran wa iza ijtahada fa akhta‟a fa lahu ajr wahid ( apabila ia

11 Noel J. Coulson, Conflict and Tension in Islamic Jurisprudence, (Chicago: The University of Chicago Press,1969), 3-116

(7)

berijtihad dan salah, maka baginya satu pahala).12 Amir Syarifuddin merinci cakupan pengertian fiqh yaitu:

1. Bahwa fiqh itu adalah ilmu tentang syara.

2. Bahwa yang dibicarakan fiqh adalah hal-hal yang bersifat amaliyah furu‟iyah

3. Bahwa pengetahuan tentang hukum syara itu didasarkan kepada dalitafsili (rinci)

4. Bahwa fiqh itu digali dan ditemukan melalui penalaran dan Istidlal (penggunaan dalil) si mujtahid dan Faqih.13

Dengan demikian, memperhatikan watak dan sifat fiqh adalah hasil jerih payah fuqaha, ia dapat saja menerima perubahan atau pembaharuan, karena tuntutan ruang dan waktu.

Hukum islam adalah terjemahan dari al-fiqh al-islamy atau al-syariah al-islamy dan yang penekanannya lebih besar adalah al-fiqh al-islamy, Hasbi Ash-shidieqi mendefinisikan, hukum islam adalah koleksi daya upaya para ahli hukum untuk menerapkan syari‟at atas kebutuhan masyarakat.14

Jika dalam sepanjang sejarah, kata hukum Islam (Islamic Law) diasosiasikan sebagai fiqh, maka dalam perkembangannya, produk pemikiran hukum Islam, tidak lagi didominasi oleh fiqh. Setidaknya masih ada tiga jenis produk lainnya. Pertama, fatwa adalah hasil ijtihad seorang mufti sehubungan dengan peristiwa hukum yang diajukan kepadanya. Jadi fatwa lebih khusus daripada fiqh atau ijtihad secara umum.15 Hal ini karena, boleh jadi fatwa yang dikeluarkan seorang mufti, sudah dirumuskan dalam fiqh, hanya belum dipahami si peminta fatwa tersebut adalah bagi orang yang meminta fatwa saja.

Kedua, keputusan pengadilan. Produk pemikiran ini merupakan keputusan hakim pengadilan berdasarkan pemeriksaan perkara di depan

12 al-Syafi‟i, al-Risalah, (Beirut: Dar al-Fikr,tt.), 494

13 Amir Syarifuddin, Pembaharuan Pemikiran dalam Hukum Islam, (Padang: Angkasa Raya, cet.2, 1993), 16-17

14 Ibid, 18.

15 Muhammad Abu Zahrah, Usul Al-Fiqh, (Mesir: Dar al-fikr al-Araby, tt.), 40.

(8)

persidangan. Dalam istilah teknis disebut dengan al-qadla‟ atau al-hukm, yaitu ucapan (dan atau tulisan) penetapan atau keputusan yang dikeluarkan oleh badan yang diberi kewenangan untuk itu (al-wilayat al-qada).

Ketiga adalah Undang-undang. Yaitu peraturan yang dibuat suatu badan legislatif (sultah al-tasyri‟iyah) yang mengikat kepada setiap warga negara dimana undang-undang itu diberlakukan, yang apabila dilanggar akan mendatangkan sanksi. Undang-undang sebagai hasil ijtihad kolektif (jama‟iy) dinamikanya relatif lamban. Karena biasanya, untuk mengubah suatu undang- undang ini, memang tidak setiap negara muslim mempunyainya.

Abdul wahab khalaf merinci hukum islam terdiri atas sebagai berikut:16

1. Hukum kekeluargaan (ahwal al-syakhsiyah) yaitu hukum yang berkaitan dengan urusan keluarga dan pembentukannya yang bertujuan mengatur hubungan suami isteri dan keluarga satu dengan lainnya. Ayat al-qur‟an yang membicarakan masalah ini sekitar 70 ayat.

2. Hukum Sipil (civics/al-ahkam al-madaniyah) yang mengatur hubungan individu-individu serta bentuk-bentuk hubungannya seperti: jual beli, sewa menyewa, utang piutang, dan lain-lain, agar tercipta hubungan yang harmonis di dalam masyarakat. Ayat al-qur‟an mengaturnya dalam 70 ayat.

3. Hukum Pidana (al-ahkam al-jinaiyah) yaitu hukum yang mengatur tentang bentuk kejahatan atau pelanggaran dan ketentuan sanksi hukumannya.

Tujuannya untuk memelihara kehidupan manusia, harta, kehormatan, hak serta membatasi hubungan perbuatan pidana dan masyarakat. Ketentuan ini diatur dalam 30 ayat.

4. Hukum Acara (al-ahkam al-murafaat) yaitu hukum yang mengatur tata cara mempertahankan hak, dan atau memutuskan siapa yang terbukti bersalah sesuai dengan ketentuan hukum. Hukum ini mengatur cara beracara di lembaga peradilan. Tujuannya ayat al-qur‟an mengatur masalah ini dalam 13 ayat.

16 Abdul Wahab al-Khalaf, „Ilm Usul Al-Fiqh, 32-33

(9)

5. Hukum Ketatanegaraan (al-ahkam al-dusturiyah) berkenaan dengan sistem hukum yang bertujuan mengatur hubungan antara penguasa (pemerintah) dengan yang dikuasai atau rakyatnya, hak-hak dan kewajiban individu dan masyarakat, diatur dalam 10 ayat.

6. Hukum Internasional (al-ahkam al-duwaliyah) mengatur hubungan antar negara islam dengan negara lainnya dan hubungan dengan non muslim, baik dalam masa damai atau dalam masa perang. Al-qur‟an mengaturnya dalam 25 ayat.

7. Hukum Ekonomi (al-ahkam al-iqtisadiyah wa al-maliyah). Hukum ini mengatur hak-hak seorang pekerja dan orang yang mempekerjakannya, dan mengatur sumber keuangan negara dan perindustriannya bagi kepentingan kesejahteraan rakyatnya. Diatur dalam al-qur‟an sebanyak 10 ayat.

C. Ilmu-ilmu Shariah Metodologis 1. Ushul fiqh

Untuk memahami secara utuh pengertian Ushul Fiqh, perlu dua pendekatan. Pertama, secara idhafy yaitu pengertian sebagai rangkaian kata-kata membentuk istilah khusus. Kedua, secara ilmiah dimana sebuah pengertian yang digunakan sebagai nama sebuah disiplin ilmu.

Pengertian pertama, perlu pemahaman arti kata demi kata, sebab dengan pengertian tersebut secara idhafy akan dapat diformulasikan. Dari sisi bahasa, Ushul Fiqh merupakan istilah dari kata ushul dan fiqh. Posisi kata ushul adalah dalam bentuk plural yang berakar dari kata asl. Secara etimologis, asl berarti dasar, asal, pokok atau pangkal, seperti istilah “ana yaubna alaih” (sesuatu yang di atasnya didirikan sesuatu yang lain). Sedangkan kata al-Fiqih adalah gerund (masdar) bisa berfungsi plural sekaligus singular. al-fiqh dari fi‟il “faqiha – yafqahu” yang berarti paham.17

Para ushuliyyin, kadang-kadang menggunakan “asl” dalam arti 1) al- qaidah al-kulliyah (ketentuan umum). 2) al-rajih (sesuatu yang kuat). 3) al-

17 Abu Zahrah, Ushul Fiqh, (Kairo: Dar al-Fikr al- Araby, t.t), 7.

(10)

mustahab (terus berlaku). 4) al-dalil (dasar). 5) al-maqis alaih (standar).18 Dalam definisi lain asl mengandung beberapa pengertian yaitu 1) far‟u (cabang) seperti anak adalah cabang dari ayah 2) kaidah, seperti dalam sebuah hadits riwayat Bukhori dari Muslim yang mengatakan Islam itu dibina atas lima ushul (kaidah).

3) rajih (yang lebih kuat) seperti pernyataan al-Quran asl bagi qiyas artinya al- Quran lebih kuat daripada qiyas. 4) mustahab (sesuatu yang dianggap sebagai semula), misalnya seorang yang berwudhu merasa ragu apakah ia masih suci atau tidak, sementara ia merasa yakin betul bahwa pada dirinya belum terjadi sesuatu yang membatalkan wudhu‟nya, oleh sebab itu ia tetap merasa masih berwudhu.

5) dalil (alasan), seperti ucapan para ulama ushul dari hukum ini adalah ayat al- Quran.19 Dengan demikian maka Ushul Fiqh secara idhafy bermakna “sesuatu yang di atasnya ada fiqih atau fondasi yang di atasnya di bangun hukum-hukum syara‟ amali.

Dalam pengertian ilmiah (terminologi) al-Ghazali dalam al-Mustasyfa‟

mengatakan bahwa Ushul Fiqih adalah pengetahuan tentang dalil-dalil dari segi dalalahnya kepada hukum-hukum secara global tidak secara rinci.20 Sedangkan menurut Abu Zahrah adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang memberikan gambaran metode-metode untuk istinbath hukum yang amali dari dalil-tafshili.21 Tidak jauh berbeda adalah pengertian yang diintrodusir oleh al-Syaukani, yaitu pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang dijadikan sebagai instrumen untuk beristinbath hukum-hukum syara‟ yang far‟i dari dalil-dalil tafshili.22 Berdasarkan definisi-definisi ini ushul Fiqih berarti pengetahuan tentang cara atau metode untuk mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalilnya secara terperinci.

Adapun obyek kajian Ushul Fiqh antara lain; pertama pembahasan dalil- dalil yang dipergunakan dalam menggali dalil-dalil syara; tersebut ada yang disepakati oleh ulama, yaitu ijma, dan qiyas. Ada pula yang diperselisihkan oleh mereka tentang kehujahannya seperti istihsan, istishab (memberlakukan hukum yang sejak semula), al-maslahah, sadd azd-dzariah (mencari inti permasalahan dampak suatu perbuatan), urf (adat istiadat). Kedua, pembahasan dalil-dalil yang

18 Abdul al-Hamid Hakim, Al-Bayan, (Jakarta: Saidah Putra, 1972), 5-6.

19 Abdul Aziz Dahlan, dkk. Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT ichtiar Baru Van Hove, 2000), 146.

20 Al-Ghazali, al-Mustasyfa, (Beirut: al maktabah al-Jadidah al- Tijarah, t.th.), 3.

21 Abu Zahrah, Ushul fiqh, 6.

22 As-Syaukani, Irsyad Alfuhul, (Beirut: Matba‟ah al-Maktabah al-Ijarah, t.th.), 3.

(11)

bertentangan dan bagaimana cara mentarjih (menguatkan), seperti pertentangan antara al-Quran, Sunah dan pendapat akal. Ketiga pembahasan ijtihad, yakni syarat-syarat sifat seorang mujtahid. Keempat, pembahasan syariat itu sendiri apakah yang bersipat tuntutan (melakukan atau meninggalkan), Kelima bagaimana cara berhujjah dengan dalil-dalil tersebut apakah dari segi lafazd itu sendiri atau melalui mafhum (pemahaman) terhadap nash.23 Dengan demikian antara objek Fiqih dan objek Ushul Fiqh sangat berbeda. Sebab objek kajian Ushul Fiqh adalah dalil-dalil, sedangkan objek Fiqih adalah perbuatan seseorang yang telah mukallaf. Maka jika ushuli (ahli usul Fiqih) membahas dalil-dalil dan kaidah-kaidah yang bersipat umum, maka fuqaha (ahli Fiqih) mengkaji bagaimana dalil-dalil juz‟i (sebagian) dapat diterapkan pada peristiwa-peristiwa yang parsial (khusus).

2. Qawaid al-fiqhiyah

Al- Qawâ‟id merupakan jamak dari qaidah (kaidah). Para ulama mengartikan qaidah secara etimologi (asal usul kata) dan terminologi (istilah). Dalam arti bahasa, qaidah bermakna asas, dasar, atau fondasi, baik dalam arti yang konkret maupun yang abstrak, seperti kata-kata qawâ‟id al-bait, yang artinya fondasi rumah, qawâ‟id al-dîn, artinya dasar- dasar agama, qawâ‟id al-îlm, artinya kaidah-kaidah ilmu. Arti ini digunakan di dalam Al-qur‟an surat Al-Baqarah ayat 127 dan surat an- Nahl ayat 26:

“Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail...” (QS. Al-Baqarah: 127).

“...Allah menghancurkan bangunan mereka dari fondasi- fondasinya...” (QS. An-Nahl: 26)

23 Abdul Aziz Dahlan, dkk. Ensiklopedi Islam, 146-147.

(12)

Dari kedua ayat tersebut bisa disimpulkan arti kaidah adalah dasar, asas atau fondasi, tempat yang diatasnya berdiri bangunan.24

Sedangkan arti fiqhiyah diambil dari kata fiqh yang diberi tambahan ya‟ nisbah yang berfungsi sebagai penjenisan atau membangsakan. Secara etimologi makna fiqh lebih dekat dengan makna ilmu sebagaimana yang banyak dipahami oleh para sahabat, makna tersebut diambil dari firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 122:

“untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama”

Hadist Nabi SAW: “Barang siapa dikehendaki baik oleh Allah maka akan dimudahkan dalam urusan agama” (HR. Bukhari Muslim)

Maka Al-Qawâ’id al-Fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqh) secara etimologis adalah dasar-dasar atau asas-asas yang berkaitan dengan masalah-masalah atau jenis-jenis fiqih.25

Para ulama berbeda dalam mendefinisikan kaidah secara terminologi (istilah). Ada yang meluaskannya dan ada yang mempersempitkannya. Akan tetapi, substansinya tetap sama.

Sebagai contoh, Muhammad Abu Zahrah mendefinisikan kaidah dengan:“Kumpulan hukum-hukum yang serupa yang kembali kepada qiyas/analogi yang mengumpulkannya”26

Sedangkan Al-Jurjani mendefinisikan kaidah fikih dengan:

”Ketetapan yang kulli (menyeluruh, general) yang mencakup seluruh bagian-bagiannya”27

Imam Tajjuddin al-Subki (w.771 H) mendefinisikan kaidah dengan:

”Kaidah adalah sesuatu yang bersifat general yang meliputi bagian yang

24 Ali Ahmad Al-Nadwi, Al-Qawâ‟id Al-Fiqhiyah, (Beirut: Dâr al-Qâlam, 1420 H/2000 M), cet. V.

Lihat pula Muhammad al-Ruki, Qawâ‟id Al-Fiqhi al-Islami, (Beirut: Dâr al-Qâlam, 1419 H/1998 M), cet. I, 107.

25 Asymuni A. Rahman, Qaidah-qaidah Fiqh, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), cet. I

26 Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, (Beirut: Dâr Al-Fikri Al-Arabi, tt.) 10

27 Al-Jurjani, Kitab al-Ta‟rifat, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, 1403 H/1983 M), 171

(13)

banyak sekali, yang bisa dipahami hukum bagian tersebut dengan kaidah tadi”28

Bahkan Ibnu Abidin (w. 1252 H) dalam muqaddimah-nya, dan Ibnu Nuzaim (w. 970 H) dalam kitab al-asybâh wa al-nazhâir dengan singkat mengatakan bahwa kaidah itu adalah: “Sesuatu yang dikembalikan kepadanya hukum dan dirinci dari padanya hukum”29

Sedangkan menurut Imam al-Suyuthi di dalam kitabnya al-asybâh wa al-nazhâir, mendefinisikan kaidah: ”Hukum kulli (menyeluruh, general) yang meliputi bagian-bagiannya”30

Dari definisi-definisi tersebut di atas, jelas bahwa kaidah itu bersifat menyeluruh yang meliputi bagian-bagiannya dalam arti bisa diterapkan kepada juz‟iyat-nya (bagian-bagiannya).

Kaidah-kaidah fikih yaitu kaidah-kaidah yang disimpulkan secara general dari materi fikih dan kemudian digunakan pula untuk menentukan hukum dari kasus-kasus baru yang timbul, yang tidak jelas hukumnya di dalam nash.

D. Peran Ushul Fiqh dan Qawaid al-Fiqh

Berbicara ilmu ushul erat sekali dengan tujuan dan kegunaan daripada ushul itu sendiri. Sebab tujuan Ushul Fiqh adalah untuk mengetahui dalil-dalil syara; baik yang menyangkut bidang aqidah, ibadah, muamalah, akhlak atau uqubah (hukum yang berkaitan dengan masalah pelanggaran dan kejahatan). Semua itu agar hukum- hukum Allah tersebut dipahami dan diamalkan. Dengan demikian Ushul Fiqh bukanlah sebuah tujuan, melainkan sarana untuk mengetahui hukum-hukum Allah terhadap peristiwa yang perlu penanganan hukum.

Sehingga para ulama ushul mengemukakan kegunaan ilmu Ushul Fiqh secara sistematis. Pertama, Ushul Fiqh memberikan gambaran jalan yang jelas kepada para

28 Al-Imam Tajjuddin Abd al-Wahab bin Ali bin Abd al-Kafi al-Subki, Al-Asybah wa al-Nazhâir, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyah, tt.), Juz I, 11

29 Ibnu Nuzaim, Al-Asybah wa al-Nazhair, (Damaskus: Dar al-Fikr, 1403 H/1983 M), 124

30 Al-Suyuthi, Jalaluddin Abd al-Rahman, al-Asybah wa al-Nazhair fi Qawa‟id wa Furu‟ Fiqh al- Syafi‟I, cet. I, (Beirut: Dar al-Kutub al-„Ilmiyah, 1399 H/1979), 5

(14)

mujtahid tentang bagaimana cara menggali hukum melalui metode-metode yang tersusun baik. Kedua, Ushul Fiqh merupakan suatu jalan untuk memelihara agama dari penyalahgunaan dalil, karena dalam kajian Ushul Fiqh dibahas secara jelas dan mendalam bagaimana sesuatu hukum tentang berada dalam pengakuan syara;

sekalipun hal tersebut bersifat ijtihadi. Ketiga, melalui Ushul Fiqh dapat diketahui bagaimana cara imam mujtahid mempergunakan dalil-dalil yang ada dan bagaimana cara mereka menggali hukum Islam dari nash (teks) al-Quran, sunnah atau dalil-dalil lainnya. Hal ini terutama bagi orang-orang yang menganut suatu madzhab. Ushul Fiqh merupakan sesuatu yang penting bagi mereka untuk mengetahui bagaimana cara imam madzhab mereka meng-istinbath-kan hukum. Keempat, Ushul Fiqh memberikan kepada para peminatnya kemampuan berpikir secara Fiqih dan menunjukan secara benar dalam jalan pikiran Fiqih tersebut sehingga secara benar pula mereka memahami hukum-hukum yang digali dari nash tersebut. Di samping itu, orang yang mendalami Ushul Fiqh akan memiliki kemampuan mengistimbatkan hukum terhadap peristiwa yang dihadapinya. Kelima, dengan penguasaan Ushul Fiqh persoalan –persoalan baru yang muncul, yakni belum ada ketentuan hukumnya oleh para ulama terdahulu dapat dipecahkan secara bijak, sehingga seluruh persoalan yang dihadapi ditentukan hukumnya sesuai dengan metode ushul yang ada.31

Ushul Fiqh sebagai salah satu disiplin ilmu, di zaman Rasulullah belum dikenal. Sehingga ketika sahabat Rasulullah menjumpai problematika, semua problematika itu dikembalikan kepada Rasulullah (marja” al-hukm).32 Berarti Nabi Muhammad dalam menetapkan hukum langsung merujuk pada nash al-Quran dan menjelaskan melalui sunnahnya. Beliau juga berijtihad, tetapi secara natural, artinya tanpa memerlukan manhaj dan teori-teori yang dijadikan sebagai pedoman dalam istimbath. Namun demikian, menurut Joseph Schact periode ini telah meletakan dasar-dasar bagi perundangan hukum Islam.33

Pada era sahabat ilmu Ushul Fiqh juga belum terintrodusir. Setelah Rasul wafat sahabat menduduki posisi sentral dalam bidang keagamaan dan intelektualitas.

Di sisi lain, para sahabat juga mengembangkan sayap misi keislamannya hingga melampaui batas-batas geografis dan kawasan. Konsekuensinya Islam harus berdialog dengan peradaban lain dan persoalan-persoalan baru yang secara religi,

31 Abdul Aziz Dahlan, dkk. Ensiklopedi Islam, 147.

32 Abdul Wahab Khalaf, Khulashah al-Tarikh al Tasri‟ al- Islamy, (Kuwait: Dar al-Kuwaitiyah, 1978), 11

33 Joseph Schact, An Introduktion to Islamic Law, (Oxford: The Clerenden Press, 1964), 11.

(15)

budaya, etnis yang memiliki setting sosial heterogen. Dalam merespon problem hukum jika secara eksplisit tidak ada nash yang menjelaskan maka mereka melakukan ijtihad.34

Ushul Fiqh pada masa sahabat memiliki arti penting dalam khasanah pemikiran hukum Islam. Pertama, sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Rasul dan sebagai saksi sejarah turunya wahyu, sehingga dianggap sebagai generasi yang memiliki otoritas untuk mengetahui maqasid Islam. Kedua, Era sahabat adalah masa berakhirnya tasyri; sehingga para sahabat menyelesaikan persoalan dengan ijtihad sendiri. Saat inilah dianggap sebagai embrio munculnya ilmu Fiqih. Ketiga, karena sebagai rujukan, maka ide sahabat harus diamalkan kemudian secara evolutif menjadi konsep sunnah.35 Dalam perkembangan setiap fatwa sahabat menjadi salah satu sumber hukum Islam–di samping qiyas, istihsan, istishab, maslahah mursalah.

Keempat, semua sahabat adalah baik (al-sahabat kulluhum „udul). Kelima, ikhtilaf sahabat dalam memutuskan persoalan merupakan “cermin” berharga sebagai pijakan metodelogis bagi generasi berikutnya.

Maka cara-cara yang ditempuh para sahabat dalam menentukan hukum dalam suatu peristiwa yang tidak ada nashnya dalam al-Quran atau sunnah ini, di zaman tabi‟in semakin berkembang dan meluas. Hal ini sesuai dengan permasalahan yang semakin banyak terjadi. Perkembangan itu dapat dilihat dari fatwa-fatwa yang dikemukakan oleh Sa‟id bin Musayyab di Madinah, al-Qamah bin Waqas al-Laits, Ibrahim an-Nakhai di Irak, dan Hasan al-Basri di Basra. Bagi mereka cara memandang permasalahan hukum diukur dengan kondisi sosial dan relasi nash, misalnya diukur dengan maslahat, qiyas. Di samping itu muncul persoalan baru, periode ini muncul dua pendekatan. Pertama, bahwa yang berwenang menetapkan hukum Tuhan dan menjelaskan makna al-Qur‟an adalah ahl al-bait. Kedua, kelompok yang menganggap bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki otoritas untuk menetapkan dan menafsirkan perintah ilahi. Mereka disebut sebagai ahl as-sunah dan menggunakan metode ijtihad seperti qiyas dan istihsan. Kelompok pertama mengunakan dalil naqli dan merasa cukup dengan nash. Sedangkan kelompok kedua

34 Ahmad Hasan, The Early Development Of Islamic Jurisprudence, Terj. Agah Garnadi, (Bandung: Pustaka, 1995), 238.

35 Al-Syatibi, al-Muwafaqat IV, (Beirut: Matba‟ah al-Maktabah al-Tijarah, t.th), 74.

(16)

lebih banyak memakai rasio. Kedua pendekatan ini melahirkan dua arus pemikiran besar di kalangan sahabat yaitu mazhab Alawi dan Mazhab Umari.36

Era sahabat kecil dan tabi‟in merupakan momentum terakhir yang mengantarkan munculnya mazhab-mazhab. Masa tabi‟in ini muncul tiga kelompok ulama, yaitu madrasah al-Iraq, madrasah al-Qufah, dan madrasah al-Madinah.

Penamaan ini menunjukan metode yang digunakan dalam menggali hukum.

Perkembangan yang selanjutnya, madrasah al-Iraq, madrasah al-Qufah dikenal dengan madrasah al-ra‟yu, Sementara madrasah al-Madinah terkenal dengan madrasah al-Hadist. Akibatnya muncul polarisasi metodelogis yang disebut ahl al- ra‟yu dan ahl al-Hadist. Kelompok terakhir beranggapan bahwa al-Qur‟an dan al- Hadits merupakan sumber otoritatif dan akal tak diberi peluang dalam proses beristimbat. Sedang kelompok ahl al-ra‟yu memandang sepanjang nash tidak menyebutkan secara eksplisif. Maka rasio memainkan peran. Kedua aliran ini memiliki karakter yang berlainan dalam menetapkan hukum.37

Berdasarkan perangkat aliran-aliran tersebut, maka muncul persaingan tidak sehat, mereka semakin berani mengeluarkan fatwa untuk mempertahankan kelompoknya. Mereka juga menjadikan sesuatu sebagai hujjah padahal tidak memenuhi kualifikasi sebagai hujjah.38 Realitas ini mengilhami munculnya gagasan tentang perlunya batasan-batasan mengenai dalil-dalil tersebut.

Peraturan atau kaidah-kaidah yang dijadikan pedoman dalam beristinbath tersebut kemudian dikenal dengan ushul al-Fiqih. Sejak saat itulah Ushul Fiqh menjadi disiplin ilmu independen walaupun dalam bentuk sederhana.

Para ulama‟ ushul telah menetapkan sejumlah kaidah hukum yang wajib diketahui dan diperhatikan oleh setiap orang yang akan menafsirkan nash-nash tasyri‟. Kaidah-kaidah itu dihasilkan dari hasil penelitian hukum yang diambil dari nash dan „illat-illat hukum itu, dan prinsip-prinsip syari‟at yang umum serta jiwa dari syari‟ah itu sendiri. Nyata kepada mereka bahwa syara‟ bermaksud untuk mewujudkan maksud-maksud yang umum.

Sebahagian nash-nash itu diterapkan untuk melindungi hak-hak perorangan

36 Muhammad Subhi Mahmashoni, Falsafah Tarikh al-Islam, Terj Ahmad Sudjono, (Bandung:

Ma‟arif, 1981), 34-35

37 Abdul Wahab Khalaf, al-Tarikh al-Tasyri‟ al-Islamy, (Beirut: Dar al-Kutub al-Arabiyah, t.th), 143-144.

38 Ibid.,143-144

(17)

dan sebahagian yang lain diterapkan untuk melindungi hak-hak masyarakat serta sebahagian yang lain diterapka agar dapat melindungi hak perorangan dan masyarakat.

Ulama‟ fiqh dalam berijtihad senantiasa memperhatikan kaidah-kaidah kulliyah yang sama nilainya dengan undang-undang internasional, walaupun nama dan istilahnya lain. Kaidah itu semua bertujuan untuk memelihara jiwa Islam dalam menetapkan hukum dan mewujudkan keadilan, kebenaran, persamaan, kemaslahatan dengan memelihara keadaan darurat.39

Oleh karena pentingnya kaidah-kaidah itu dan besar manfaatnya serta mendalam pengaruhnya dalam memberi petunjuk hukum-hukum furu‟ bila kita memerlukan hujjah dan dalil serta serta mengistimbathkan hukum, maka para fuqaha‟ dari segala mazhab memperhatikan sungguh-sungguh kaidah- kaidah itu, lalu mereka menyusun berbagai kitab-kitab yang menjadi suatu perbendaharaan yang berharga untuk kita.

Abdul Wahab Khalaf mengisyaratkan bahwa lapangan hukum begitu luas, Karena mencakup hukum furu‟, karena itu perlu adanya kristalisasi berupa kaidah-kaidah kulli yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah- masalah furu‟ menjadi beberapa kelompok, dan tiap-tiap kelompok itu merupakan kumpulan dari masalah-masalah yang serupa.

Dengan berpegang pada kaidah hukum, para mujtahid merasa lebih mudah dalam mengistimbathkan hukum bagi suatu masalah, yakni dengan menggolongkan masalah yang serupa di bawah lingkup satu kaidah. Banyak para fuqaha‟ berkata:

هم يعر لوصلاا ناك اقيقح لوصولاب همو يعر دعاوقلا ناك اقيلخ كاردءاب دصاقملا Artinya: “Barangsiapa memelihara ushul, maka ia akan sampai pada maksud, barang siapa memelihara qawa‟id selayaknya ia mencapai maksud.”40

Selanjutnya Imam Abu Muhammad Izzuddin Ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah hukum adalah sebagai suatu jalan untuk

39 Muhammad Hasbi Ash-Shidieqy, Filsafat Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), 234

40 Asjmuni Abdul Rahman, Qaidah-qaidah Fiqh, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), 17

(18)

mendapat suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta mencari bagaimana cara menyikapi kedua hal tersebut. Sedang Al-Qarafi dalam Al- Furu‟nya menulis bahwa seorang faqih tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang pada kaidah hukum, karena jika tidak berpegang pada kaidah itu maka hasil ijtihadnya banyak bertentangan dan berbeda antara furu‟-furu‟ itu.

Dengan berpegang pada kaidah hukum tentunya mudah menguasai furu‟- furu‟nya.41

Karena itu setiap fuqaha‟ selalu mempunyai kaidah kulliyah sebagai cerminan dari hasil ijtihad furu‟nya dan mudah dipahami oleh pengikutnya.

41 Ibid., 19

(19)

E. Daftar Pustaka

Abdul al-Hamid Hakim, Al-Bayan, Jakarta: Saidah Putra, 1972.

Abdul Aziz Dahlan, dkk. Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT ichtiar Baru Van Hove, 2000

Abdul Wahab al-Khalaf, „ilm usul al-fiqh, Jakarta: Maktabah al-Da‟wah al- Islamiyah Syabab al-Azhar, 1410/1990, cet.8

Abdul Wahab Khalaf, al-Tarikh al-Tasyri‟ al-Islamy, Beirut: Dar al-Kutub al- Arabiyah, t.th.

Abdul Wahab Khalaf, Khulashah al-Tarikh al Tasri‟ al- Islamy, Kuwait: Dar al-Kuwaitiyah, 1978.

Abu Zahrah, Ushul Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al- Araby, t.t.

Ahmad Hasan, The Early Development Of Islamic Jurisprudence, Terj. Agah Garnadi, Bandung: Pustaka, 1995

Al-Ghazali, al-Mustasyfa, Beirut: al maktabah al-Jadidah al- Tijarah, t.th.

Ali Ahmad Al-Nadwi, Al-Qawâ‟id Al-Fiqhiyah, Beirut: Dâr al-Qâlam, 1420 H/2000 M, cet. V.

Muhammad al-Ruki, Qawâ‟id Al-Fiqhi al-Islami, Beirut: Dâr al-Qâlam, 1419 H/1998 M, cet. I.

Al-Imam Tajjuddin Abd al-Wahab bin Ali bin Abd al-Kafi al-Subki, Al- Asybah wa al-Nazhâir, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyah, tt. Juz I

Al-Jurjani, Kitab al-Ta‟rifat, Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, 1403 H/1983 M Al-Suyuthi, Jalaluddin Abd al-Rahman, al-Asybah wa al-Nazhair fi Qawa‟id

wa Furu‟ Fiqh al-Syafi‟I, cet. I, Beirut: Dar al-Kutub al-„Ilmiyah, 1399 H/1979

al-Syafi‟i, al-Risalah, Beirut: Dar al-Fikr,tt.

Al-Syatibi, al-Muwafaqat IV, Beirut: Matba‟ah al-Maktabah al-Tijarah, t.th.

Amir Syarifuddin, Pembaharuan Pemikiran dalam Hukum Islam, Padang:

Angkasa Raya, cet.2, 1993

(20)

Amrullah Ahmad, SF. Dkk., Dimensi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional Jakarta: Gema Insani Press, 1966

Asjmuni Abdul Rahman, Qaidah-qaidah Fiqh, Jakarta: Bulan Bintang, 1976 As-Syaukani, Irsyad Alfuhul, Beirut: Matba‟ah al-Maktabah al-Ijarah, t.th.

Asymuni A. Rahman, Qaidah-qaidah Fiqh, Jakarta: Bulan Bintang, 1976, cet.

I

Ibnu Nuzaim, Al-Asybah wa al-Nazhair, Damaskus: Dar al-Fikr, 1403 H/1983 M

Joseph Schact, An Introduktion to Islamic Law, Oxford: The Clerenden Press, 1964.

Juhaya S. Praja, Hukum Islam di Indonesia: Pemikiran dan Praktek Bandung:

Remaja Rosdakarya, 1994

Mahmud Syaltut, al- islam „aqidah wa syari‟ah, Mesir: Dar al-Qalam, 1966.

Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, Beirut: Dâr Al-Fikri Al-Arabi, tt.

Muhammad Hasbi Ash-Shidieqy, Filsafat Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1976

Muhammad Subhi Mahmashoni, Falsafah Tarikh al-Islam, Terj Ahmad Sudjono, Bandung: Ma‟arif, 1981

Noel J. Coulson, Conflict and Tension in Islamic Jurisprudence, Chicago: The University of Chicago Press,1969

QOMARUDDIN, http://ejournal.kopertais4.or.id/pantura/index.php/jipi/article/view/3575

Yusuf Qardhawi, Malamih Al-Mujtama Al-Muslim Alladzi Nansyuduhu, Kairo: Maktabah Wahbah, 1993

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian Ismail (2003), wanita hamil dengan dukungan sosial yang tidak cukup memiliki risiko dua kali lebih besar untuk terjadinya depresi antepartum. Hubungan

Untuk itu dimohon kehadiran saudara untuk pembuktian kualifikasi dimaksud dengan membawa seluruh dokumen kualifikasi asli / telah dilegalisir oleh pihak yang berwenang serta

SPECIFIC SPOILAGE BACTERIA OF FRESH AND PACKED FISH STORED CHILLED. (<4”C) OR IN ICE (GRAM AND

Hubungan Secara Formal, bahwa rumusan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia adalah seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD'45; bahwa Pembukaan UUD'45 berkedudukan dan

(Afria Bagus Rachmat) Faktor-faktor Yang … CAR mempengaruhi laba.Semakin tinggai nilai modal maka nilai ROA akan mengalami penurunan. Penempatan nilai minimum CAR

[r]

Sehubungan dengan Pengumuman Pemilihan Langsung dengan Pascakualifikasi pada tanggal 29 Juli s.d 01 Agustus 2013, yang dilaksanakan oleh Pokja ULP - Panitia

9 Menurut pendapat lain sampling adalah suatu teknik yang dilakukan oleh peneliti di dalam mengambil atau.. menentukan