Sistem Komoditas Kedelai
di Indonesia
Pusat Palawija
Pusat Koordinasi Regional untuk Penelitian dan Pengembangan Palawija di daerah tropik basah Asia dan Pasifik (Pusat Palawija) didirikan pada tahun 1981 sebagai badan pelengkap untuk PBB/ESCAP (Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik)
Tujuan
Dalam kerjasama dengan negara-negara anggota ESCAP, Pusat Palawija memprakarsai dan menjalankan penelitian, latihan dan penyebaran informasi mengenai aspek sosial-ekonomi dan aspek-aspek lain yang berhubungan dengan palawija di Asia dan Pasifik. Dalam kegiatannya, Pusat Palawija bertujuan untuk memenuhi kebutuhan lembaga-lembaga yang menangani masalah-masalah perencanaan, penelitian, perluasan dan pengembangan produksi palawija, pemasaran dan penggunaan.
Program
Untuk mencapai tujuan tersebut, Pusat Palawija mempunyai 3 program yang saling berhubungan, yaitu:
1. Penelitian, yang memerlukan persiapan dan pelaksanaan studi, mencakup produksi, pemanfaatan dan perdagangan palawija di negara-negara Asia dan Pasifik Selatan.
2. Latihan untuk peneliti dan penyuluh nasional.
3. Informasi dan dokumentasi yang meliputi pengumpulan, pengolahan dan penyebaran informasi yang relevan agar dapat digunakan oleh peneliti, pembuat kebijaksanaan, dan petugas penyuluhan.
Publikasi lain yang tersedia di Pusat Palawija
(Bersambung ke bagian dalam sampul belakang)
CGPRT no. 1 Research Implications of Expanded Production of Selected Upland Crops in Tropical Asia (Prosiding sebuah Lokakarya)
CGPRT no. 2 Future Potential of Cassava in Asia: Research Development Needs (Prosiding sebuah Lokakarya)
CGPRT no. 3 The Soybean Commodity System in Indonesia
CGPRT no. 4 Socio-economic Research on Food Legumes and Coarse Grain: Methodological Issues (Prosiding sebuah Lokakafya)
CGPRT no. 5 Soybean Development in India by S. Bisaliah
CGPRT no. 6 Coarse Grains and Pulses in Nepal: Role and Prospects by Bed B. Khadka
CGPRT no. 7 Adoption of Soybean in Lupao, Nueva Ecija The Philippines by Paciencia C. Manuel, Romeo R. Huelgas and Leina H. Espanto
CGPRT no. 8 Agricultural Marketing and Processing in Upland Java: A Perspective from a Sunda Village by Yujiro Hayami, Toshihiko Kawagoe, Yoshinori Morooka and Masdjidin Siregar CGPRT no. 9 CGPRT Crops: Processing and Nutrition
by Avtar K. Kaul
di Indonesia
Sistem Komoditas Kedelai di Indonesia
Pusat Palawija
Pusat Koordinasi Regional untuk Penelitian dan Pengembangan Palawija di daerah tropik basah Asia dan Pasifik
Jalan Merdeka 99, Bogor 16111 Indonesia
© 1988 oleh Pusat Palawija
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang. Diterbitkan 1988 Dicetak di Indonesia
Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan Sistem komoditas kedelai di Indonesia
Bogor: Pusat Pawajia, 1988 xvii, 86 hal.; 24,5 cm Daftar Pustaka: halaman 85 ISBN 979-8059-17-4.
1. Kedelai
338.133 4
v
Daftar Isi
Halaman
Daftar Tabel dan Gambar ... vii
Pengantar ... xi
Prakata ... xii
Pernyataan Penghargaan ... xiii
Ikhtisar ... xv
1. Pendahuluan ... 1
Tujuan studi... 2
Metodologi dan jangkauan ... 2
2. Kecenderungan dalam Produksi Kedelai ... 5
Kedelai dan tanaman palawija lainnya ... 5
Perkembangan produksi kedelai... 6
Karakteristik daerah produksi ... 10
Memajukan usahatani kedelai ... 13
3. Cara-cara Produksi Usahatani ... 15
Ciri-ciri umum ... 15
Sistem pertanaman kedelai ... 16
Teknologi produksi ... 21
Penanganan pasca panen ... 24
Masalah dan prospek ... 25
4. Hubungan antara Masukan dan Keluaran ... 27
Prasyarat analisis masukan dan keluaran ... 27
Garis besar analisis masukan-keluaran... 27
Sistem pertanaman di berbagai daerah ... 31
Hubungan antara masukan dan keluaran ... 32
Fungsi Cobb-Douglas untuk produksi kedelai ... 35
Interpretasi hasil analisis ... 38
5. Situasi Pemasaran dan Harga ... 41
Struktur pemasaran... 41
Marjin pemasaran ... 43
Spesialisasi pedagang ... 44
Kendala dan masalah pemasaran ... 45
Peran pedagang/tengkulak ... 46
Distribusi kedelai impor ... 47
Kecenderungan harga riel ... 48
6. Pemanfaatan dan Pengolahan... 51
Makanan Indonesia dari kedelai ... 51
Industri pengolahan tradisional ... 53
vi
Fungsi dan peran KOPTI... 56
Industri pakan ternak ... 58
7. Permintaan dan Konsumsi... 61
Impor kedelai ... 61
Konsumsi pangan ... 61
Konsumsi pakan ternak ... 63
Daerah konsumsi ... 63
Permintaan akan bahan makanan ... 65
8. Kebijaksanaan Pemerintah, Peraturan dan Program Penunjang... 69
BIMAS dan program intensifikasi ... 69
Sistem produksi dan distribusi benih ... 73
Kebijaksanaan pasar dan harga dasar ... 73
Penyuluhan pertanian ... 74
Penelitian untuk perbaikan varitas ... 75
9. Diskusi dan Kesimpulan ... 77
Latar belakang agro-ekonomi studi kedelai ... 77
Hubungan antara persoalan mikro dan makro ... 78
Lampiran ... 81
Anggota Tim Studi ... 81
Singkatan ... 83
Daftar Pustaka ... 85
vii
Daftar Tabel dan Gambar
Tabel Halaman
1.1 Neraca sumber pangan utama, 1985 ... 1 1.2 Propinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa yang terliput dalam studi sistem komoditas
kedelai, 1984 ... 3 2.1 Perkembangan luas panen dan produksi kedelai, 1969-1986 ... 7 2.2 Perkembangan hasil kedelai, 1969-1986 ... 9 2.3 Luas panen palawija dan kedelai menurut propinsi (rata-rata 1969-1971 dan .. 1979-
1981) ... 11 2.4 Location quotient produksi kedelai menurut propinsi (rata-rata 1969-1971dan 1979-
1981) ... 12 3.1 Ukuran dan ciri keluarga petani kedelai menurut daerah, 1983/1984 ... 15 3.2 Pemilikan lahan garapan dan budidaya kedelai rata-rata tiap keluarga petani,
1983/1984 ... 16 3.3 Persentase pertanaman kedelai di berbagai macam lahan di daerah sampel,
1983/1984 ... 18 3.4 Persentase kedelai yang ditanam dalam berbagai pola tanam di daerah sampel,
1983/1984 ... 18 3.5 Persentage petani yang diwawancarai, yang turut serta dalam program BIMAS
kedelai, 1983/1984 ... 21 3.6 Tingkat masukan setiap hektar kedelai yang ditanam di daerah sampel, 1983/1984 . 22 3.7 Biaya dan pendapatan produksi kedelai per hektar di daerah sampel, 1983/1984 ... 23 3.8 Tingkat pemakaian masukan tiap hektar kedelai, 1985 ... 24 4.1 Rata-rata luas panen, hasil, dan masukan dari 113 petani sampel di berbagai daerah 28 4.2 Rata-rata luas panen, hasil dan masukan dari 113 petani sampel pada berbagai
kondisi pertanaman ... 28
viii
4.3 Analisis regresi ganda terhadap 113 petani kedelai sampel berdasarkan luas lahan dan
pemakaian benih, 1984 ... 33
4.4 Analisis regresi ganda terhadap para petani kedelai sampel menurut daerah berdasarkan luas lahan, 1984 ... 34
4.5 Analisis regresi ganda terhadap para petani kedelai sampel menurut faktor berdasarkan luas lahan, 1984 ... 34
4.6 Perkiraan fungsi produksi Cobb-Douglas untuk 113 petani kedelai sampel, 1984 ... 36
4.7 Perkiraan fungsi produksi Cobb-Douglas bagi para petani kedelai sampel menurut daerah, 1984 ... 37
5.1 Persentase harga kedelai pada berbagai tingkat perdagangan terhadap harga eceran di Jawa Timur, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat,- 1975-1976 ... 43
5.2 Spesifikasi standar mutu kedelai sebelum 1984 ... 47
5.3 Spesifikasi standar mutu kedelai sejak 1984 ... 47
6.1 Banyaknya kedelai yang diolah oleh satuan industri menurut tiga studi kasus ... 54
6.2 Biaya dan pendapatan produsen tahu dan tempe (rata-rata dari 7 kasus) di Jawa Barat, 1984 ... 54
6.3 Kegiatan ekonomi industri tahu dan tempe (rata-rata dari 7 kasus) di Jawa Barat, 1984 ... 55
6.4 Anggota KOPTI, 1983 ... 56
6.5 Jumlah perusahaan pengolah tahu, tempe, dan kecap, 1979 ... 57
6.6 Pertumbuhan industri tempe/tahu selama 1975-1981 (sampel produsen besar dan sedang) ... 58
6.7 Pertumbuhan industri kecap selama 1978-1981 (sampel produsen besar dan sedang) 58 6.8 Perkembangan penggunaan komponen pakan ternak, 1978-1982 ... 59
6.9 Produksi dalam negeri dan impor kedelai, 1969-1986... 59
6.10 Proveksi konsumsi produk peternakan selama 1984-1988 (PELITA IV) ... 60
ix
7.1 Konsumsi berbagai produk kedelai di tiga daerah terpilih, 1974 ... 65
7.2 Elastisitas pengeluaran untuk berbagai barang di Indonesia, 1976 (model log ganda) 66 7.3 Elastisitas pengeluaran untuk berbagai barang di Indonesia, 1976 (model linier) ... 67
7.4 Elastisitas pengeluaran menurut tanaman di Indonesia, 1976 (model log ganda) ... 67
8.1 Target produksi kedelai dalam PELITA IV, 1984-1988 ... 71
8.2 Varitas kedelai yang dilepas di Indonesia, 1918-1987 ... 75
Gambar Halaman 1.1 Letak kabupaten-kabupaten yang diliput oleh studi sistem komoditas kedelai... 4
2.1 Luas panen palawija terpenting di Indonesia, 1969-1982 ... 6
2.2 Perkembangan luas panen dan produksi kedelai 1969-1986 ... 8
2.3 Perkembangan hasil kedelai, 1969-1986 ... 9
2.4 Perubahan location quotient kedelai di beberapa propinsi terpilih, 1969-1971 dan 1979-1981 ... 12
3.1 Penyebaran curah hujan dan pola tanam di Jember dan Wonogiri, 1983 ... 17
3.2 Penyebaran curah hujan dan pola tanam di Gunung Kidul dan Lampung Tengah, 1983 ... 19
3.3 Alasan menanam kedelai bagi para petani di daerah sampel, 1983/1984 ... 20
4.1 Rata-rata luas panen, hasil, dan masukan dari 113 petani sampel di berbagai daerah 29
4.2 Rata-rata luas panen, hasil, dan masukan dari 113 petani sampel pada berbagai kondisi pertanaman ... 30
5.1 Saluran-saluran pemasaran kedelai ... 42
5.2 Perubahan harga kedelai pada berbagai tingkat perdagangan di Ujung Pandang (Sulawesi Selatan) dan Brebes (Jawa Tengah), 1977 ... 44
5.3 Bulan-bulan utama perdagangan dan panen kedelai ... 45
x
5.4 Harga rata-rata kedelai di beberapa tingkat pasar, 1969-1982 .. ... 49
6.1 Perubahan konsumsi kedelai (di luar pakan ternak), 1970-1980 ... 52
7.1 Perubahan produksi dalam negeri dan impor kedelai, 1969-1986 ... 62
7.2 Konsumsi kedelai per kapita 1968-1986 ... 64
8.1 Target produksi kedelai dalam PELITA IV, 1984-1988 ... 70
8.2 Perubahan realisasi dan target luas tanam kedelai dalam program intensifikasi di Indonesia, 1974/1975-1984/1985... 71
xi
Pengantar
Pada tahun 1983, Pusat Palawija (CGPRT Centre), Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, dan Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor, bekerjasama mengadakan studi sosial ekonomi sistem komoditas kedelai di Indonesia, atas permintaan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Studi ini diadakan untuk mengetahui posisi kedelai di Indonesia. Hingga tahun 1985, penyediaan kedelai di Indonesia sangat tergantung pada impor, hal mana memprihatinkan pemerintah. Untuk memperbaiki keadaan ini, pemerintah mengadakan program intensifikasi dan ekstensifikasi untuk meningkatkan produktivitas dan hasil kedelai.
Studi ini meliputi aspek produksi, pemasaran, pemanfaatan dan pengolahan, permintaan dan konsumsi, serta kebijaksanaan pemerintah. Kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dan saran- saran yang diajukan dimaksudkan sebagai dasar bagi studi-studi lain yang lebih mendalam tentang komponen-komponen sistem komoditas kedelai dimasa yang akan datang.
Edisi bahasa Indonesia ini merupakan terjemahan dari edisi kedua bahasa Inggris. Kami berharap studi ini dapat memberi sumbangan bagi usaha peningkatan produksi kedelai di Indonesia.
Shiro Okabe Direktur Pusat Palawija
Ibrahim Manwan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
xii
Prakata
Edisi bahasa Indonesia ini merupakan terjemahan dari edisi kedua bahasa Inggris. Edisi kedua bahasa Inggris itu merupakan hasil perbaikan atas edisi pertama berdasarkan pemasukan data terbaru dari Biro Pusat Statistik dan perbaikan atas beberapa ketidak-tepatan informasi.
Data dan hasil aktual survei masih tetap dipertahankan.
Dalam kurun 1984-1987 telah terjadi perubahan-perubahan nyata dalam produksi kedelai di Indonesia, termasuk peningkatan pesat pada luas tanam kedelai di luar Jawa yang diikuti dengan peningkatan produksi. Perkembangan tersebut ditunjukkan dalam laporan ini, tetapi analisis yang mendalam belum dapat dilakukan karena kurangnya data.
Ikhtisar dan saran-saran masih tetap seperti dalam edisi pertama dengan sedikit penambahan.
J.W.T. Bottema Penyunting
xiii
Pernyataan Penghargaan
Studi ini diprakarsai oleh Dr. Rusli Hakim, mantan Kepala Puslitbangtan (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan) pada tahun 1983, yang telah memberikan petunjuk-petunjuk pelaksanaannya. Dr. B.H. Siwi, mantan terakhir Kepala Puslitbangtan telah memberikan banyak dukungan. Bapak Shiro Okabe, Direktur Pusat Palawija (CGPRT Centre), telah memberikan dukungan dan dorongan pada semua tahap studi ini. Dr. Irlan Soejono dari Pusat Palawija juga telah menyumbangkan banyak gagasan yang berharga dalam diskusi- diskusi.
Kami telah pula memperoleh manfaat dari saran-saran yang diberikan oleh Dr. M.
Ismunadji, Kepala Balittan (Balai Penelitian Tanaman Pangan) Bogor. Interaksi dengan rekan- rekan lain, termasuk diskusi panjang dengan Dr. Sadikin Somaatmadja dan Dr. Sumarno dari Balittan Bogor, amatlah penting bagi studi ini.
Staf Kelompok Peneliti Sosial-ekonomi Balittan Bogor dan Dinas Pertanian Propinsi telah memberikan berbagai bantuan yang tak ternilai selama survei. Penghargaan kami tujukan pula pada para petani di desa-desa atas usaha mereka memberikan data tentang kegiatan ekonomi kedelai.
Kepada semua yang telah kami sebutkan diatas, serta banyak pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu, kami ucapkan banyak terimakasih.
Tim Studi
xiv
Ikhtisar
Studi sistem komoditas kedelai di Indonesia indirencanakan oleh ESCAP CGPRT Centre atas permintaan Pemerintah Indonesia pada akhir tahun 1983, berkenaan dengan makin meningkatnya permintaan akan produk-produk asal kedelai yang berakibat makin bergantungnya Indonesia pada impor selama tahun-tahun terakhir. Studi ini dilaksanakan pada tahun 1984 dengan kerjasama dari para peneliti Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor.
Tujuan studi ini adalah:
1. Meninjau keadaan penawaran dan permintaan akan kedelai di Indonesia;
2. Mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi kendala-kendala produksi kedelai;
3. Mengidentifikasi penelitian lebih lanjut yang diperlukan untuk meningkatkan produksi kedelai.
Pendekatan menyeluruh telah dilakukan meliputi berbagai komponen sistem komoditas kedelai di Indonesia, yang terdiri atas tiga bagian pokok:
1. Survei produksi di tingkat petani. Daerah survei dipilih di empat propinsi penghasil utama kedelai: Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Lampung, meliputi 187 petani.
2. Survei pemasaran dan pengolahan di Jawa Barat.
3. Studi kebijaksanaan pemerintah dengan memakai data sekunder dari berbagai sumber.
Studi ini lebih bersifat penjajagan. Jangkauan kesimpulan-kesimpulan yang mengenai produksi berlaku terbatas bagi daerah-daerah yang dikenal sebagai penghasil utama kedelai;
sedangkan penelitian terhadap pemasaran, pengolahan, dan kebijaksanaan dilakukan pada tingkat nasional.
Hasil studi menunjukkan bahwa kendala-kendala pokok dalam sistem komoditas kedelai berkaitan dengan produksi dalam negeri. Masukan-masukan (inputs) tampaknya cukup tinggi kendati hasilnya (yield) masih rendah (600-700 kg/ha). Peningkatan hasil yang besar tidak dapat diharapkan dari intensifikasi pemakaian masukan, bila cara budidaya masih seperti sekarang.
Karena sangat beragamnya pemakaian masukan dan cara bertani di tiap daerah penghasil kedelai, maka adopsi paket teknik anjuran hendaknya dipertimbangkan dengan hati-hati.
Program-program penelitian nasional dan regional yang bertujuan mengembangkan paket-paket teknologi untuk disebar- luaskan melalui penyuluhan perlu juga memperhitungkan keragaman antar daerah.
Program-program penelitian kedelai dewasa ini sebaiknya dipusatkan pada perbaikan cara budidaya yang diterapkan petani. Studi yang mendalam perlu
xv
dipusatkan pada serangan hama dan penyakit serta implikasinya yang menyangkut perbaikan cara pengendaliannya. Karena adanya interaksi antara serangan hama dan penyerapan hara, maka respon tanaman terhadap pemupukan dan keadaan hara mikro sebaiknya juga diteliti.
Implikasi hasil studi ini juga menunjukkan perlunya penelitian di daerah penghasil kedelai yang marjinal maupun daerah-daerah baru, dimana tingkat masukan masih perlu dikembangkan.
Upaya-upaya penyuluhan selayaknya mempertimbangkan sistem usahatani yang dipraktekkan dewasa ini, selain ditujukan untuk memperbaiki cara budidaya melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga penelitian nasional dan regional.
Sangat beragamnya masukan dan cara budidaya yang digunakan perlu dipelajari untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani serta yang menimbulkan keragaman itu sendiri. Bersamaan dengan studi ini, penelitian khusus perlu diadakan guna mengetahui alasan-alasan tidak diadopsinya kedelai dalam pola tanam oleh sebagian petani di daerah-daerah yang sesungguhnya sesuai untuk produksi kedelai.
Dewasa ini ada dua sistem pemasaran. Sistem pemasaran tradisional menyerap produksi dalam negeri, yang terdiri dari pedagang dan pabrik pengolahan yang relatif kecil, dan melayani kebutuhan rumahtangga. Sistem ini memasarkan kedelai melalui toko-toko dan pasar-pasar kecil. Sistem kedua, dimana peran BULOG penting sekali, mengimpor kedelai untuk diolah pabrik-pabrik besar yang membuat pakan ternak dan barang-barang konsumsi. Harga c.i.f.
(harga barang impor di pelabuhan bongkar) kedelai impor sejak 1974 lebih rendah daripada harga riel kedelai dalam negeri.
Produksi kedelai dalam negeri secara tidak langsung disubsidi oleh pemerintah melalui subsidi pupuk dan obat-obatan. Situasi ini menimbulkan persoalan bagi kebijaksanaan nasional, karena biaya produksi kedelai di Indonesia lebih tinggi daripada harganya di pasaran internasional dewasa ini. Hal ini berhubungan dengan kelangsungan (viabilitas) ekonomi program subsidi pemerintah yang ditujukan untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Namun penting pula dilakukan perlindungan terhadap produksi kedelai, karena banyak industri kecil pedesaan secara langsung bergantung kepada produksi kedelai setempat. Peningkatan produksi diperlukan agar biaya ekonomi program pemerintah tidak menjadi beban yang terlalu berat bagi ekonomi nasional. Dianjurkan agar kelangsungan ekonomi dan finansial kebijaksanaan produksi kedelai di Indonesia ditinjau dengan menggunakan cara-cara seperti analisa biaya sumberdaya domestik dan biaya komparatif untuk menentukan kebijaksanaan yang optimal.
Studi ini memperlihatkan bahwa sektor swasta bekerja secara efisien dalam jual- beli kedelai di pedesaan; petani menerima kira-kira 75% dari harga eceran. Akan tetapi, studi-studi yang mendalam diperlukan bagi penggolongan mutu, penyimpanan, dan pemasaran kedelai pada tingkat desa dan daerah untuk mengurangi kerugian selama penyimpanan dan memperpanjang daya simpan produk akhir. Ada petunjuk bahwa sistem penyaluran kedelai impor kurang efisien dibandingkan dengan sistem sektor swasta. Dianjurkan agar kedua sistem itu dipelajari untuk memperbaiki efisiensi pemasaran secara keseluruhan demi keuntungan produsen dan konsumen.
Kedelai memainkan peran penting dalam penyediaan protein dan asam amino esensial bagi keseimbangan gizi pangan di desa dan kota. Tingginya elastisitas pendapatan yang mendukung permintaan untuk konsumsi manusia serta berkembangnya industri pakan ternak menunjang pendapat bahwa kecil kemungkinannya terjadi kelebihan produksi, terutama mengingat besarnya potensi
xvi
permintaan akan bungkil kedelai. Pengembangan fasilitas di sektor itu akan diperlukan.
Karenanya, studi kelayakan industri pengolahan kedelai, baik untuk produksi dalam negeri maupun impor, perlu dilakukan lebih jauh.
Sejak 1982 produksi kedelai nasional telah meningkat dua kali lipat menjadi 1.227.000 t dalam 1986. Peningkatan itu terutama merupakan hasil perluasan areal tanam (ekstensifikasi) di luar Jawa, sementara hasil di Jawa maupun luar Jawa naik menjadi hampir 1 t/ha. Walaupun peningkatan tersebut sangat mengesankan, namun produktivitas masih perlu terus ditingkatkan.
Sehubungan dengan pengurangan subsidi pupuk, dibutuhkan usaha-usaha meningkatkan produktivitas dan menurunkan biaya produksi. Jawabannya mungkin terletak pada perbaikan teknik budidaya, pengelolaan hama dan penyakit, pengelolaan air, serta ketersediaan benih bermutu.
xvii
Pendahuluan
Pemerintah Indonesia dewasa ini telah melaksanakan PELITA IV (1984-1988).
Sebagaimana halnya dengan tiga PELITA sebelumnya, PELITA IV ini memberi te- kanan pada peran pertanian dalam penyediaan pangan dan bahan mentah yang memadai, dan dalam ekspor produk-produk pertanian. Akhir-akhir ini muncul konsensus yang semakin kuat agar palawija dimasukkan dalam kebijaksanaan pangan nasional. Pemerintah telah menjalankan programintensifikasi massai untuk mehingkat- kan produksi palawija, serupa dengan program yang telah berhasil untuk produksi beras.
Perhatian khusus telah diberikan pada kedelai sebagai tanggapan terhadap makin bergantungnya Indonesia pada impor kedelai yang meningkat secara mencolok dalam 5 tahun terakhir. Impor meningkat tajam dari 360.000 t dalam tahun 1981 menjadi sekitar 500.000 t pada tahun 1983. Ini disebabkan oleh adanya stagnasi produksi kedelai sementara konsumsi terus meningkat. Pertumbuhan produksi yang lamban itu sebagianmungkin disebabkanoleh lebih dicurahkannya perhatian padaproduksi beras yang merupakan tanaman pangan pokok.
Kedelai mempunyai potensi yang amat besar sebagai sumber utama protein bagi masyarakat Indonesia. Sebagai sumber protein yang tidak mahal, kedelai telah lama dikenal dan dipakai dalam beragam produk makanan, seperti tahu, tempe, tauco, dan kecap. Konsumsi kedelai menyediakan sama banyak, kalau tidak lebihbanyak, protein dan kalori dibandingkan dengan produk-produk hewani (Tabel 1.1).
Tabei 1.1 Neraca sumber pangan utama, 1985.
Sumber pangan _
Konsumsi per kapita
kg/tahun g/hari kal/hari g/protein/hr g/lemak/hr Serealia 171,38 469,53 1.660 33,06 5,06
(beras) (143,17) (392,22) (1.412) (26,67) (2,75)
Makanan berpati 73,09 200,25 234 1,98 0,56
Gula 12,95 35,48 129 0,05 0,15
Kacang-kacangan dan
bijian berlemak 22,46 61,52 223 10,11 18,11
(kedelai) (6,44) (17,64) (58) (6,16) (3,19) Buah-buahan 10,72 29,37 17 0,87 0,17
Sayuran 21,17 58 31 0,35 0,10
Daging 13,12 35,08 23 1,63 1,82
Telur 1,7 4,65 8 0,60 0,56
Susu 3,19 8,74 6 0,28 0,31
Ikan 11,51 31,53 21 3,71 0,63 Minyak nabati 6,74 18,84 164 0,08 18,30 Lemak hewani 0,13 0,36 3 0,35
Total 2519 52,72 46,12
(nabati) 2458 46,50 42,45
(hewani) 61 6,22 3,67 Sumber: BPS, Neraca bahan pangan, 1985
1
Dalam tahun 1978, hasil tanaman sumber nabati telah memberikan pada tiap orang tiap hari 42,9 g protein dan 43,8 g lemak; di antaranya, kedelai telah menyumbangkan 4,66 g protein dan 1,35 g lemak. Di tahun 1985, kedelai memberikan 6,16 g protein dan 3,19 g lemak pada setiap orang per hari, yang merupakan suatu peningkatan nyata. Pada periode itu, tanaman masih dominan sebagai sumber nabati protein dan lemak.
Tujuan studi
Studi ini diadakan untuk mengevaluasi kedudukan kedelai dewasa ini serta prospeknya di masa mendatang di Indonesia, agar para pembuat kebijaksanaan dapat merumuskan program yang efektif untuk meningkatkan produksi sebagaimana ditetapkan dalam PELITA IV.
Pendekatan sistem komoditas telah dipakai untuk mengidentifikasi hubungan timbal balik berbagai faktor dalam pengembangan kedelai.
Tujuan khusus adalah:
1. Menganalisis dan mengevaluasi status pemasaran dan konsumsi kedelai pada saat ini;
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat dan mendorong perkembangan kedelai, termasuk ketersediaan sumberdaya, teknologi produksi, harga relatif, serta kebijaksanaan pemerintah yang ada kaitannya;
3. Meramalkan potensi produksi dan berbagai kegunaan kedelai di masa mendatang di Indonesia, serta menyarankan penelitian dan kebijaksanaan lanjutan yang perlu untuk mengembangkan tanaman ini.
Metodologi dan jangkauan
Baik data primer maupun data sekunder telah dipakai dalam studi ini. Kegiatan studi terbagi atas tiga kelompok:
1. Produksi dan permintaan dalam negeri. Kelompok ini meliputi studi berbagai kegunaan kedelai dan analisis terhadap penyediaannya, termasuk produksi dalam negeri dan impor. Termasuk didalamnya kecenderungan basil dan impor akhir-akhir ini, studi kasus produksi kedelai petani serta tingkat teknologi mereka, struktur biaya produksi, dan biaya satuan.
2. Pemasaran kedelai. Ini merupakan studi terhadap lembaga-lembaga yang terlibat pada berbagai kegiatan diantara produksi dan konsumsi, organisasi dan saluran pemasaran, fungsi pemasaran dari berbagai lembaga, marjin biaya dan pendapatan, harga, teknologi pemasaran, serta. masalah dan prospek pemasaran kedelai.
3. Kebijaksanaan pemerintah. Ini mencakup peraturan pemerintah, termasuk program khusus (crash program) intensifikasi kedelai (program BIMAS), peraturan¬peraturan BULOG (Badan Urusan Logistik), harga dasar, serta kegiatan penelitian dan pengembangan.
Informasi dan data diperoleh dari berbagai sumber, yaitu:
1. Data primer dari para responden survei dan wawancara dengan kelompok- kelompok informan, termasuk petani, pedagang, dan pengolah kedelai.
2. Data sekunder dari badan-badan pemerintah di tingkat nasional dan daerah,
seperti BPS (Biro Pusat Statistik), Ditprod (Direktorat Bina Produksi Tanaman Pangan), BULOG, dan Diperta (Dinas Pertanian).
Karena adanya kendala-kendala dana dan waktu, pengumpulan data primer dipusatkan di 4 dari 5 propinsi penghasil kedelai terbesar: Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Lampung. Di setiap propinsi itu dipilih dua kabupaten yang mewakili daerah-daerah penghasil kedelai utama (Tabel 1.2 dan Gambar 1.1). Selanjutnya dalam setiap kabupaten yang terpilih itu dipilih dua kecamatan, dan kemudian satu desa dalam tiap kecamatan. Pada setiap tingkat dipilih daerah dengan luas tanam dan luas panen kedelai paling besar.
Di tiap desa sampel, sepuluh petani diwawancarai secara perorangan dan juga dalam kelompok 5-10 petani. Secara keseluruhan, 189 petani telah diwawancarai oleh tim survei.
Analisis pemasaran didasarkan pada informasi yang diperoleh dari pedagang-pedagang kedelai di daerah-daerah survei.
Tabel 1.2 Propinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa yang terliput dalam studi sistem komoditas kedelai, 1984.
Propinsi Kabupaten Kecamatan Desa Jawa Timur Ponorogo Kauman Semanding
Badegan Menang Jember Balung Karang Duren Wuluhan Glundengan Jawa Tengah Wonogiri Pracimantoro Putat
Baturetno Duwet Grobogan Purwodadi Putat Toroh Tambirejo Yogyakarta Gunung Kidul Ponjong Tanggul Angin Karangmojo Ngawis Lampung Lampung Tengah Bangunrejo Bangunsari
Jabung Gunung Mekar
Sebanyak 16 pedagang kedelai dari desa atau kecamatan sampel di Jawa Tengah dan Yogyakarta diwawancarai. Survei dilakukan pada tempat-tempat pengolahan di tiga kabupaten di Jawa Barat, yakni Garut, Ciamis, dan Bandung, dimana banyak ditemui pabrik tahu dan tempe. Metode studi kasus telah digunakan dalam bagian penelitian ini.
Disadari bahwa pemilihan daerah-daerah produksi utama sebagai dasar studi akan berarti bahwa hasilnya tidak mewakili sistem komoditas kedelai secara keseluruhan di Indonesia, melainkan lebih mencerminkan keadaan di daerah-daerah yang paling berhasil memproduksi kedelai. Cara penarikan contoh ini dipilih untuk memperoleh keterangan yang berguna sebanyak mungkin dalam satu tahun dan dengan personil serta sumberdaya yang ada.
Oleh karena itu, hasil studi ini mempunyai dua kegunaan: sebagai panduan cara pengembangan kedelai di daerah-daerah lain di Indonesia; dan sebagai dasar awal studi-studi yang lebih mendalam di masa mendatang. Studi-studi yang mendalam itu diperlukan untuk mengidentifikasi kendala-kendala baik biofisik maupun sosial- ekonomi yang menghambat petani mencapai hasil seperti yang diperoleh para peneliti di kebun-kebun percobaan.
Blank page _____________
Page blanche
Kecenderungan dalam Produksi Kedelai
Sektor pertanian menyumbang 25% dari produk domestik bruto Indonesia pada tahun 1981 (BPS 1983). Angkaini lebih rendah daripada tahun 1972 (sekitar 40%), yang berarti terjadi perkembangan pesat dalam kegiatan bukan-pertanian. Tanaman pangan merupakan lebih dari separuh sumbangan yang diberikan sektor pertanian.
Sekalipun mengalami penurunan, pertanian masih terus memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan bangsa. Diperkirakan sekitar 75% kehidupan penduduk Indonesia secara langsung tergantung pada pertanian (DepartemenPertanian 1983). Kira-kira 60% dari tenaga kerja terlibat dalam kegiatan pertanian. Di samping itu, laju pertambahan penduduk yang tinggi mengakibatkan terus meningkatnya kebutuhan akan bahan pangan.
Untuk mencapai swasembada pangan nasional, pemerintah Indonesia telah menyediakan berbagai subsidi sebagai bagian dari PELITA sejak tahun 1969. Selama PELITA I sampai III, penyediaan bahan pangan utama, beras, telah meningkat secara nyata (Mears 1984). Selama PELITA IV (1984-88), program intensifikasi massai untuk meningkatkan produksi palawija dilancarkan. Ini berarti bahwa perhatian tidak hanya dipusatkan pada bahan pangan yang mengandung karbohidrat melainkan juga pada bahan makanan yang kaya akan protein. Dalam hubungan ini, kacang-kacangan — teristimewa kedelai — dikenal sebagai tanaman berkadar protein tinggi.
Berikut ini adalah tinjauan atas kecenderungan-kecenderungan dalam produksi kedelai, baik pada tingkat nasional maupun daerah, selama kurun waktu 1969 hingga 1986.
Kedelai dan tanaman palawija lainnya
Produksi pangan di Indonesia berkaitan dengan terpusatnya penduduk dan produksi di Jawa, dan pesatnya pertumbuhan penduduk. Luas Jawa hanya 7% dari seluruh luas Indonesia, tetapi dihuni kurang lebih 60% dari seluruh penduduknya.
Dengan demikian 60% dari 17,4 juta keluarga petani menggarap kurang dari 0,5 ha lahan pertanian, sedangkan 5% merupakan petani yang tidak memiliki lahan.
Pemerintah berusaha memecahkan masalah ini melalui program transmigrasi yang bertujuan mengurangi tekanan penduduk di Jawa dan memperluas lahan pertanian di luar Jawa.
Di pihak lain, prasarana seperti irigasi, saluran pembuangan, jalan desa dan fasilitaspengangkutan lain belum berkembangbaik, terutama di luarJawa. Pada tahun 1980 luas lahan beririgasi kurang lebih 5,4juta ha, atau 28% dari 19,5 juta ha lahan yang dapat digarap(Singh 1983). Lahan beririgasi ini masih dapat diperluas 2,2%setiap tahun, tetapi memerlukan biaya yang besar. Ini berarti bahwa sebagian besar dari lahan garapan itu akan tetap merupakan lahan tadah hujan atau lahan kering.
Para petani biasanya menanam padi sebagai tanaman utama di sawah tadah hujan, diikutipalawija. Sebaliknya, sistem penanaman di lahan keringdidasarkan pada tanaman palawija, termasuk kedelai. Kacang-kacangan dapat menyesuaikan diri pada
5
berbagai jenis lahan, baik sawah maupun lahan kering, karena kemampuannya menyerap nitrogen dan memperbaiki sifat tanah. Dengan tingkat penggunaan pupuk yang rendah pada tanaman palawija, kacang-kacangan merupakan tanaman paling cocok setelah panen tanaman utama. Kedelai berperan penting sebagai tanaman tumpangsari dalam pergiliran tanaman yang lazim dikerjakan para petani.
Gambar 2.1 memperlihatkan perubahan-perubahan relatif luas panen enam tanaman palawija penting (jagung, ubikayu, ubijalar, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau) dari tahun 1969 hingga 1982. Gambar itu menunjukkan bahwa biji-bijian (jagung) mengambil kira-kira 50% dari luas panen palawija, ubi-ubian (ubikayu dan ubijalar) kurang lebih 30%, sedang kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau) 20% sisanya.
Walaupun tidak terlihat pada Gambar 2.1, luas panen jagung, ubikayu, dan ubijalar cenderung berkurang, sementara terjadi sedikit peningkatan pada kedelai dan kacang tanah.
Dilaporkan bahwa tanah yang biasanya ditanami ubikayu dan ubijalar cenderung dialihkan untuk padi; padi lebih menguntungkan karena mendapat bantuan pemerintah berupa subsidi masukan dan pengendalian harga (Mears 1984).
Gambar 2.1 Luas panen palawija terpenting di Indonesia, 1969-1982.
Perkembangan produksi kedelai
Perkembangan yang berarti dalam produksi kedelai selama PELITA IV adalah cepatnya perluasan area. Dalam tahun 1986, luas panen di luar Jawa mencapai 431.000 ha, suatu peningkatan 300% dari tahun 1982. Implikasinya adalah bahwa kedelai sekarang ditanam di lingkungan yang lebih luas, sehingga kurang peka terhadap cuaca yang merugikan di lingkungan tertentu.
Pada tahun 1986, pulau Jawa merupakan 60% daerah produksi kedelai di Indonesia, sedang di tahun 1982 masih 80%. Nisbah serupa juga terjadi pada tingkat produksinya (Tabel 2.1).
Kebanyakan daerah penghasil utama di Jawa terletak di bagian yang lebih kering dari pulau itu, dengan curah hujan 1.500-2.100 mm setiap tahun dengan 5-6 bulan
Gambar 1.1 Letak kabupaten-kabupaten yang diliput oleh studi sistem komoditas kedelai.
kering (bulan bercurah-hujan kurang dari 100 mm). Musim hujan biasanya mulai dari November/Desember hingga Maret/ April. Kedelai sering ditanam di sawah pada bulan April setelah panen padi, dan dipanen pada permulaan bulan Juli. Kemudian padi, sebagai tanaman utama, ditanam pada bulan Desember (Naito et al. 1983). Sumarno (1984) memperkirakan bahwa 60% dari kedelai di Jawa ditanam di sawah setelah padi, dan 40% sisanya ditanam di lahan kering.
Tabel 2.1 Perkembangan luas panen dan produksi kedelai, 1969-1986.
Luas panen ('000 ha) Produksi ('000 t) Tahun
Jawa Luar Jawa Total Jawa Luar Jawa Total
1969 493 89 582 347 52 399 1970 565 97 662 405 66 471 1971 586 98 683 447 66 513 1972 582 111 693 449 69 518 1973 594 139 733 440 95 535 1974 608 154 762 452 125 577 1975 604 152 756 464 125 589 1976 526 145 671 423 115 538 1977 512 134 646 415 108 523 1978 574 139 713 483 110 593 1979 616 160 776 535 130 665 1980 596 147 743 598 121 719 1981 637 155 792 581 122 703 1982 523 142 665 458 114 572 1983 473 162 634 401 134 535 1984 580 228 808 522 194 716 1985 573 266 840 571 236 807 1986 689 431 1120 721 394 115
Sumber: Direktorat Jenderal Ekonomi dan Pengolahan Pasca Panen Tanaman Pangan
Pada tahun 1982, kira-kira 42% luas panen kedelai di luar Jawa terpusat di Sumatra. Di Lampung dan Aceh kedelai merupakan tanaman utama, yang ditanam tiga kali setahun.
Gambar 2.2 memperlihatkan perubahan tahunan luas panen kedelai d! Jawa dan di luar Jawa selama PELITA I hingga IV (1969-1986). Sekalipun luas panen cenderung meningkat, namun besarannya amat beragam dari tahun ke tahun. Berbagai faktor menyebabkan ketidak- stabilan ini; khususnya cuaca dan hujan yang tidak dapat diprakirakan, bencana alam seperti kemarau dan banjir, serta kepekaan tanaman terhadap hama dan penyakit.
Ketidak-pastian dalam penyediaan masukan-masukan pokok seperti pupuk dan pestisida diduga turut menentukan produksi. Pada tahun 1972 dan 1975, misalnya, beberapa pertanaman kedelai terserang ulat grayak, cendawan, dan tikus. Musim kemarau panjang di tahun 1982 menyulitkan petani bertanam kedelai, dan menggagalkan banyak panen (Somaatmadja dan Siwi 1983). Produksi kedelai menunjukkan kecenderungan serupa (Gambar 2.2). Koefisien korelasi selama 1969-1982 antara luas panen dan produksi adalah 0,869.
Tabel 2.2 dan Gambar 2.3 membandingkan hasil tanaman kedelai dari tahun 1969 sampai 1986. Hasil rata-rata terus meningkat dari 0,7 t/ha pada 1979, sampai sekitar 0,9 t/ha pada 1981 dan menjadi 0.99 t/ha pada 1986. Seperti terlihat pada gambar,
koefisien keragaman hasil di luar pulau Jawa (27,3%) lebih besar daripada di Jawa (13,8%). Ini menunjukkan bahwa hasil di luar Jawa lebih tidak stabil, yang mencerminkan tingkat teknologi yang lebih rendah, iklim yang tidak stabil, lebih banyak bencana alam, dan lebih banyak budidaya di lahan kering.
Gambar 2.2 Perkembangan lues panen dan produksi kedelai, 1969-1986.
Tabel 2.2 Perkembangan basil kedelai, 1969-1986.
Hasil (kg/ha) Tahun
Jawa Luar
Jawa Indonesia Indeks 1969 703 585 685 (100) 1970 717 682 712 (104) 1971 762 672 749 (109) 1972 771 625 748 (109) 1973 741 680 730 (107) 1974 744 814 759 (111) 1975 769 823 780 (114) 1976 804 794 802 (117) 1977 810 803 809 (118) 1978 842 792 832 (121) 1979 868 811 856 (125) 1980 1003 826 968 (141) 1981 912 788 888 (130) 1982 876 803 860 (126) 1983 848 828 843 (123) 1984 900 853 887 (129) 1985 996 887 962 (140) 1986 1046 914 995 (145) Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
Gambar 2.3 Perkembangan basil kedelai, 1969-1986.
Indonesia mempunyai potensi untuk meningkatkan produksi kedelainya. Lebih banyak kedelai (dan kacang-kacangan lain) dapat diproduksi dengan menanam di luar musim dengan sistem non-tradisionil, tumpangsari, dan penanaman di lahan marjinal dimana tanaman lain sulit tumbuh. Cara-cara ini dapat di kombinasikan; tetapi tumpangsari cocok terutama untuk Jawa, sedangkan cara-cara lainnya untuk luar Jawa.
Gambar 2.3 menunjukkan bahwa fluktuasi hasil makin berkurang, yang mungkin disebabkan semakin baiknya teknologi produksi di luar Jawa. Secara keseluruhan, ada kecenderungan yang tetap mengenai peningkatan hasil.
Pada tahun-tahun mendatang akan terlihat apakah diversifikasi areal diikuti dengan semakin baiknya stabilitas produksi. Sekarang ini jelas bahwa Indonesia telah meraih basil luar biasa dengan berproduksi hampir dua kali lipat dari tahun 1982. Hal itu terutama karena perluasan areal dan peningkatan produksi di luar Jawa, sementara tingkat basil meningkat dan semakin stabil.
Karakteristik daerah produksi
Dalam analisis berikut ini, peningkatan luas panen di luar Jawa belum diperhitungkan karena kurangnya data produksi terinci dari tiap propinsi. Sekalipun keadaan tersebut membuat analisis ini kurang lengkap, namun mampu memberikan dasar bagi analisis lebih lanjut dengan data yang sedang diolah Biro Pusat Statistik.
Seperti telah disebutkan, kebanyakan kedelai Indonesia dihasilkan di Jawa (Tabel 2.1).
Alasan mengapa tanaman itu jarang diusahakan di luar Jawa bermacam-macam: tidak merupakan bagian dari makanan setempat; merupakan tanaman baru dan me- merlukan pemeliharaan intensif; tanah sering terlampau masam untuk ditanami kedelai; dan pasar setempat belum berkembang (Sumarno 1984). Tetapi para petani transmigran dari Jawa mulai memperluas lahan kedelai, terutama di Sumatra dan Sulawesi.
Propinsi Jawa Timur menghasilkan 49-66% dari seluruh produksi kedelai selama 1969- 1982, sekalipun arti penting sebagai pusat produksi menurun, demikian juga Jawa Barat, Bali, dan Sumatra Utara. Sedangkan Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Lampung, dan terutama Aceh telah meningkatkan posisinya dalam 15 tahun terakhir (Tabel 2.3).
Karakteristik penghasil kedelai menurut propinsi dapat diselidiki secara lebih terinci dengan metode location quotient (LQ), atau metode perbandingan wilayah. LQ merupakan ukuran statistik menyangkut tingkat sejauh mana suatu kegiatan ekonomi tertentu di suatu daerah secara nisbi mewakili kegiatan ekonomi itu dalam skala nasional. Location quotient (LQ) dihitung dengan rumus:
LQ,ir = Eir/Ein
dimana Eir adalah persentase kegiatan ekonomi di daerah r yang disebabkan oleh kegiatan i, dan E,,, adalah persentase kegiatan ekonomi nasional yang disebabkan oleh kegiatan i. Bila LQ = 1,0, kegiatan i diwakili secara seimbang dalam ekonomi daerah dan nasional; bila LQ > 1,0, maka daerah tersebut dapat dianggap spesialis dalam kegiatan itu. Karena luas lahan yang dapat ditanami berbeda menurut daerahnya, tingkat pengusahaan tanaman tertentu juga berbeda-beda.
Daerah-daerah dengan lahan (yang dapat ditanami) lebih luas mungkin lebih berpotensi untuk menghasilkan kedelai.
Table 2.3 Luas panen palawija dan kedelai menurut propinsi (rata-rata 1969-1981).
Luas panen palawijaa (ha) Luas panen kedelaib (ha)
Propinsi 1969-1971 1979-1981 1969-1971 1979-1981 Jawa Timurb 3.421.061 3.653.516 377.792 380.059
Jawa Tengah 2.413.008 2.610.218 122.825 159.203
Yogyakarta 374.864 358.206 24.862 50.940 Nusa Tenggara Barat 336.913 337.668 43.824 40.243
Lampung 342.602 459.812 14.068 37.894 Jawa Barat 2.219.057 2.276.203 25.789 28.577
Aceh 230.281 279.299 1.739 19.171 Sulawesi Selatan 899.801 1,048.640 6.069 16.896
Bali 264.084 309.504 11.604 10.109 Sumatra Utara 607.382 663.987 7.645 7.842
Sulawesi Utara 150.306 163.774 382 6.331 Sumatra Selatan 377.645 408.341 794 5.031 Sulawesi Tenggara 126.324 117.109 109 1.844 Sumatra Barat 285.336 306.940 735 1.815 Kalimantan Barat 339.276 335.479 826 1.784 Irian Jaya 33.506 47.365 35 1.676 Sulawesi Tengah 899.801 1.048.640 990 1.580 Nusa Tenggara Timur 392.630 496.036 328 1.318 Kalimantan Timur 49.006 92.242 138 1.151
Bengkulu 85.067 76.574 249 951 Kalimantan Selatan 235.345 332.255 471 620
Riau 165.392 143.685 72 380 Jambi 131.633 160.525 179 312 Maluku 43.136 68.215 1.022 181 Kalimantan Tengah 115.914 135.015 1 171
Jakarta 23.135 19.913 Timor Timur
aPalawija di sini meliputi: jagung, ubikayu. ubijalar. kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau bSesuai dengan rata-rata luas panen menurut propinsi 1979-1981.
Tabel 2.4 menunjukkan LQ kedelai di 27 propinsi di Indonesia dalam 1969-1971 dan 1979-1981. Selama dua kurun itu, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur mempunyai LQ kedelai tertinggi. Daerah-daerah ini merupakan pusat-pusat penghasil kedelai utama dengan sejarah budidaya kedelai yang panjang. Jawa Tengah mempunyai LQ keenam tertinggi dalam kurun 1979-1981, dan sampai sekarang masih merupakan penghasil kedelai yang utama. LQ meningkat cepat di beberapa propinsi (misalnya Lampung dan Aceh), sementara di daerah-daerah lain terhitung stabil atau sedikit menurun.
Gambar 2.4 menunjukkan sebagian dari perubahan-perubahan ini. Di Jawa, di- mana produksi kedelai sudah mapan, perubahan yang terjadi sangat kecil, kecuali Yogyakarta. LQ yang pada umumnya stabil di Jawa menunjukkan bahwa lahan bagi perluasan budidaya kedelai agak terbatas.
Sebaliknya beberapa daerah di luar Jawa, memperlihatkan perubahan-perubahan besar antara kedua kurun itu. Lampung dan Aceh telah bergeser ke tingkat yang hampir sama dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur, sementara LQ Sulawesi Utara dan Irian Jaya juga memperlihatkan kenaikan yang cepat. Kendati luas panen di luar Jawa kurang dari 20%, perubahan-perubahan ini memperlihatkan adanya potensi besar bagi kedelai di luar Jawa.
Tabel 2.4 Location quotient produksi kedelai menurut propinsi (rata-rata 1969-1971 dan 1979-1981).
Propinsia 1969-1971 1979-1981
Yogyakarta 1,43 2,75
Nusa Tenggara Barat 2,80 2,31 Jawa Timur 2,37 2,01
Lampung 0,88 1,59
Aceh 0,16 1,33
Jawa Tengah 1,09 1,18 Sulawesi Utara 0,05 0,75 Irian Jaya 0,02 0,68
Bali 0,94 0,63
Sulawesi Selatan 0,14 0,31 Sulawesi Tenggara 0,02 0,30 Jawa Barat 0,25 0,24
Bengkulu 0,06 0,24
Sumatra Selatan 0,05 0,24 Kalimantan Timur 0,06 0,24 Sumatra Utara 0,27 0,23 Sulawesi Tengah 0,17 0,18 Sumatra Barat 0,06 0,11 Kalimantan Barat 0,05 0,10
Maluku 0,51 0,05
Nusa Tenggara Timur 0,02 0,05
Riau 0,01 0,05
Kalimantan Selatan 0,04 0,04
Jambi 0,03 0,04
Kalimantan Tengah 0,00 0,03
Jakarta Timor Timur
aSesuai LQ 1979-1981
Gambar 2.4 Perubahan location quotient kedelai di beberapa propinsi terpilih, 1969-1971 dan 1979-1981.
Memajukan usahatani kedelai
Pemerintah mempunyai perhatian besar pada produksi kedelai. Intensifikasi dijalankan sejak 1974 melalui program BIMAS dan INMAS. Bagian terpenting dari program intensifikasi ini adalah penyediaan benih bermutu, insektisida, dan pupuk untuk petani. Melalui program BIMAS, pemerintah memberi kredit untuk masukan¬masukan ini. Untuk mendorong budidaya kedelai dan mendukung pemasarannya, harga dasar kedelai ditetapkan sejak 1979. Pada bulan Desember 1984, harga dasar kedelai yang dibayarkan kepada petani oleh koperasi unit desa telah ditentukan sebesar Rp 300/kg.
Di samping BIMAS dan INMAS, pemerintah mengadakan program-program INSUS dan INMUM bagi usahatani kedelai. Perbedaan antara keempat program dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
Program
intensifikasi Penyuluhan Kredita Kelompok tani BIMAS (Bimbingan Massai) Ya Ya Tidak INMAS (Intensifikasi Massai) Ya Tidak Tidak INSUS (Intensifikasi Khusus) Ya Ya Ya INMUM (Intensifikasi Umum) Ya Tidak Ya
aKredit meliputi biaya hidup dan bahan-bahan (pupuk, pestisida, dan benih)
Sebagai tambahan, suatu program dimulai tahun 1983 dengan memberi kapur kepada petani guna memperbaiki tanah-tanah masam. Program ini diharapkan bermanfaat terutama untuk pertanaman kedelai. Semua usaha itu akan dibahas lebih lanjut dalam Bab 8.
Blank page _____________
Page blanche
Cara-cara Produksi Usahatani
Bab ini mengemukakan hasil survei produksi usahatani di 12 desa pada empat propinsi penghasil kedelai utama Indonesia. Analisis pengelolaan pertanaman kedelai di usahatani kecil sangat rumit karena adanya keragaman pola tanam, terutama di lahan kering dan dataran tinggi. Kerumitan semacam ini dialami di Lampung Tengah dan Gunung Kidul. Sampel-sampel di Grobogan dan Ponorogo ternyata memperlihatkan keseragaman, sedangkan yang di Jember dan Wonogiri tidak terlalu rumit tetapi juga tidak seragam.
Ciri-ciri umum
Rata-.rata keluarga petani sampel terdiri atas 4,5 orang (Tabel 3.1). Sekitar 64%
dari anggota keluargabekerja di usahatani. Keluarga-keluarga petani di Gunung Kidul (Yogyakarta) mempunyai angka terkecil untuk nisbah anggota keluarga yang bekerja di usahatani sendiri (44%) walaupun kesempatan untuk bekerja di luar usahatani di daerah ini kecil (<10%). Di Wonogiri dan Grobogan (Jawa Tengah) para anggota keluarga lebih aktifbekerja di bidang bukan pertanian (14%). Semua ini menyatakan bahwa usahatani masih merupakan sumber pendapatan utama di daerah-daerah survei sekalipun sumberdaya lahan terbatas.
Tabei 3.1 Ukuran dan ciri keluarga petani kedelai menurut daerah, 1983/1984.
Daerah
Jumlah anggota tiap keluarga
% anggota bekerja di usahatani sendiri a
% pendapatan dari usahatani
luarb
% pendapatan dari bukan
usahatanic
Jawa Timur
Ponorogo 11,6 54 8 8
Jember 11,0 77 8 8
Jawa Tengah
Wonogiri 4,2 57 6 14
Grobogan 3,7 78 5 14
Yogyakarta
Gunung Kidul 4,9 44 7 4
Lampung
Lampung Tengah 5,4 87 8 8
Semua sampel 4,5 64 7 9
ausahatani sendiri = usahatani milik sendiri.
busahatani luar = usahatani milik orang lain.
cbukan usahatani = bukan bidang pertanian, seperti dagang, tukang kayu, dsb.
15
Rata-rata luas lahan yang dapat digarap adalah 0,92 ha per keluarga kendati rata- rata luas pemilikan berkisar dari 0,55 ha di Gunung Kidul hingga 1,53 ha di Jember (Tabel 3.2).
Kebanyakan lahan garapan di Jawa adalah sawah. Gunung Kidul merupakan perkecualian, dimana lahan garapan berupa lahan kering karena wilayahnya berbukit-bukit. Di Lampung Tengah, hampir 60% dari lahan garapan adalah juga lahan kering.
Tabel 3.2 Pemilikan lahan garapan dan budidaya kedelai rata-rata tiap keluarga petard, 1983/1984 (ha).
Daerah Sawah Lahan kering Pekarangan Jumlah Jawa Timur
Ponorogo 0,62 0 0 0,62 Jember 1,29 0,24 0 1,53
Jawa Tengah
Wonogiri 0,69 0,04 0 0,73 Grobogan 0,65 0,04 0 0,69
Yogyakarta
Gunung Kidul 0,14 0,33 0,08 0,55
Lampung
Lampung Tengah 0,35 0,80 0,25 1,40
Rata-Rata 0,62 0,24 0,06 0,92
Untuk kedelai
Luas lahan Luas tanam
per tahun
Jawa Timur
Ponorogo 0,62 0,62
Jember 1,53 1,94
Jawa Tengah
Wonogiri 0,73 1,35
Grobogan 0,70 0,75
Yogyakarta
Gunung Kidul 0,40 0,65
Lampung
Lampung Tengah 1,05 1,66
Rata-Rata 0,84 1,16
Sistem pertanaman kedelai
Lebih dari 90% lahan kedelai di daerah sampel di Jawa, kecuali Yogyakarta, adalah sawah (Tabel 3.3). Di dataran tinggi dan lahan kering Gunung Kidul dan Lampung Tengah, hampir 80% pertanaman kedelai adalah lahan kering. Di daerah¬daerah itu para petani memperlihatkan kemampuan mereka memanfaatkan lahan secara optimal. Di kebanyakan daerah, luas tanam per tahun lebih besar daripada luas lahan; menunjukkan bahwa petani menanam kedelai lebih dari sekali setahun (Tabel 3.2). Di Jember, luas tanam kedelai hampir dua kali luas lahan yang ditanami.
Lebih dari separuh kedelai ditanam sebagai tanaman tunggal; sisanya yang 46% ditanam secara tumpangsari bersama tanaman pangan lain atau tanaman tahunan (Tabel 3.4). Gambar 3.1 dan 3.2 melukiskan sistem tanam kedelai yang paling lazim di enam daerah studi. Kacang- kacangan terutama ditanam tunggal di Ponorogo, Wonogiri, dan Jember, tetapi ditumpangsarikan di Grobogan, Gunung Kidul, dan Lampung Tengah (Tabel 3.4). Jika ditanam tunggal di sawah, kedelai biasanya ditanam pada bulan Juni atau Juli, pada musim kemarau setelah panen padi kedua. Sedangkan sebagai tanaman tunggal di lahan kering, kedelai ditanam dari Februari sampai April. Kebanyakan kedelai tumpangsari ditanam pada bulan Oktober dan November di lahan kering dan sawah.
Gambar 3.1 Penyebaran curah hujan dan pola tanam di Jember dan Wonogori, 1983.
Tabel 3.3 Persentase pertanaman kedelai di berbagai macam lahan di daerah sample, 193/1984 Daerah Sawah Lahan
kering Pekarangan Jumlah Jawa Timur
Ponorogo 87 13 100
Jember 100 0 100
Jawa Tengah
Wonogiri 95 5 100
Grobogan 93 7 100
Yogyakarta Gunung Kidul 5 77 18 100
Lampung Lampung Tengah 11 79 10 100
Seluruhnya 72 25 3 100
Tabel 3.4 Persentase kedelai yang ditanam dalam berbagai pola tanam di daerah sampel, 1983/1984.
Jawa Timur Jawa Tengah Yogyakarta Lampunga Ponorogo Jember Wonogiri Grobogan Gunung
Kidul
Lampung Tengah
Seluruhnva
Bagian 10,6 18,0 23.8 15.9 15,3 16,4 100 dari seluruh daerah survei
Tanaman tunggal
Sawah
Okt - Des 33 100
Feb - Apr 29 5 6
Jun - Jul 100 50 36 28
Lahan kering Okt - Des 9 2 10 4
Feb - Apr 9 2 24 3 6
Jun - Jul 10 2
Sub jumlah 100 97 78 10 24 13 54 Tumpangsari2
Sawah
Okt - Des 11 70 14 Feb - Apr
Jun - Jul 9 3 3
Lahan kering Okt - Des 10 41 52 16
Feb - Apr 2 35 22 9 Jun - Jul 3 7 13 4
Sub jumlah 3 22 90 76 87 46 Jumlah 100 100 100 100 100 100 100
aLahan kering di Lampung Tengah meliputi pekarangan
bTumpang sari di sawah kebanyakan dengan jagung: dilahan kering dengan jagung (39%), ubikayu, padi gog (23%), dan tanaman lain (12%)
Gambar 3.2 Penyebaran curah hujan dan pola tanam di Gunung Kidul dan Lampung Tengah, 1983.
Petani perlu mempertimbangkan banyak faktor dalam mengelola usahatani dan memilih tanaman, yang mencakup pemenuhan berbagai kebutuhan keluarga, keadaan sumberdaya, adanya kendala yang dihadapi, pemilihan teknologi yang ada, dan pemasaran. Alasan petani memilih kedelai sebagai komponen dari pola tanamnya direrlihatkan pada Gambar 3.3.
Sebagian terbesar petani menanam kedelai untuk meningkatkan pendapatan. Sementara itu petani di Wonogiri dan Grobogan menyadari akan keuntungan menanam kedelai. Di Jember, Wonogiri, dan Gunung Kidul, kedelai sudah ditanam sejak lama dan menjadi bagian dari tradisi mereka.
Gambar 3.3 Alasan menanam kedelai bagi para petani di daerah sampel, 1983/1984.
Teknologi produksi
Hanya 30% dari petani yang diwawancarai menyatakan ikut dalam program BIMAS kedelai . (Tabel 3.5). Banyak petani tidak terlibat dalam program itu karena berpendapat tanah mereka subur dan mereka mempunyai cukup dana. Akan tetapi, hal
sebaiknya diinterpretasi dengan hati-hati karena sejumlah besar petani tidak menjawab pertanyaan mengenai hal itu.
Pupuk
Lebih dari 80% petani menggunakan pupuk dan pestisida untuk pertanaman mereka.
Kebanyakan dari mereka memakai pupuk urea dan TSP sedangkan beberapa menggunakan amonium sulfat dan KC1. Kurang lebih separuh (49%) dari para petani yang ditanyai memakai urea hanya satu kali selama musim tanam, yakni 15-30 hari setelah tanam. Sebagaimana diduga, kebanyakan petani hanya sekali memakai TSP, yaitu pada saat tanam. Lebih dari 70% petani memakai pupuk N dengan cara tabur dan kira-kira 60% menaburkan pupuk P.
Pestisida.
Paling sedikit terdapat 14 merk pestisida yang tersedia selama survei dilangsungkan.
Hampir 80% petani mengendalikan hama 2-4 kali, terutama dalam kurun 15-45 hari setelah tanam (72% dari kasus). Lima puluh tujuh persen petani yang memakai pestisida menggunakannya secara teratur. Selebihnya menggunakan pestisida hanya bila dirasa perlu, yakni bila diduga serangan hama akan mengurangi hasil. Masukan-masukan ini tersedia di dekat rumah para petani, di KUD dan koperasi koperasi lain, serta pasar.
Benih.
Benih merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan produksi tanaman. Dalam memilih benih kedelai, petani mencari benih kedelai yang padat, berkilat, tidak pecah, kering, bersih, dan cukup besar. Sekitar 30% petani memakai benih mereka sendiri. KUD dan toko-toko menyediakan benih kedelai untuk 16% petani, dan pasar menyediakan 16% lainnya. Kira-kira 11% dari petani membeli benih kedelai, mungkin varitas anjuran, dari Dinas Pertanian, Balai Benih, BIMAS, dan PERTANI.
Tabel 3.5 Persentase petani yang diwawancarai, yang turut serta dalam program BIMAS kedelai, 1983/1984.
Daerah % petani BIMAS
% petani memakai pupuk
% petani memakai pestisida Jawa Timur
Ponorogo 10 55 60
Jember 5 79 100
Jawa Tengah
Wonogiri 25 95 80 Grobogan 29 95 100
Yogyakarta
Gunung Kidul 64 100 100
Lampung
Lampung Tengah 45 50 83
Seluruhnya 30 80 47
Tabel 3.6 Tingkat masukan setiap hektar kedelai yang ditanam di daerah sampel, 1983/1984.
Bibit Pupuk Pestisida (kg/ha) (kg/ha) (kg atau 1/ha)
Pekarangan
Lampung Tengah 25 3,32
Sawah
Ponorogoa 70 117d 5,30
Jember 65 42 4,40
Wonogirib 49 138 8,20 Groboganc 34 154 5,20
Lahan kering
Jember 52 96 2,63
Wonogiri 48 60 4,50 Grobogan 25 126 0,30 Gunung Kidul 56 164 2,70
Lampung Tengah 31 38 3,02 Tenaga kerja per ha
Hewan Buruh (hari % Buruh keluarga/
(hari hewan) orang kerja) gotong royong Pekarangan
Lampung Tengah 225 100
Sawah
Ponorogo 8 147 42
Jember 7 79 64
Wonogiri 152 82
Grobogan 7 162 60
Lahan kering
Jember 1.2 110 47
Wonogiri 156 100
Grobogan 8,4 154 66 Gunung Kidul 6,8 138 69
Lampung Tengah 1,2 89 72 aHari-hari selebihnya dikerjakan oleh buruh tani, bHanya pola padi-padi-kedelai
bKebanyakan kedelai-padi-kedelai, dHanya kedelai+jagung-padi jagung