• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diskusi dan Kesimpulan

Dalam dokumen Sistem Komoditas Kedelai (Halaman 99-110)

Latar belakang agro-ekonomi studi kedelai

Tingkat produktivitas kedelai yang rendah di Indonesia dan terus meningkatnya impor kedelai dengan tegas menggambarkan bahwa masalah pokok sistem komoditas kedelai Indonesia terletak dalam segi produksi.

Suatu studi umum sistem komoditas sulit memberi rekomendasi yang kuat untuk mengatasi masalah-masalah mendasar. Lebih-lebih kedelai di Indonesia ditanam dalam kisar lingkungan yang luas, bahkan di satu daerah dapat ditemukan di sawah maupun di lahan kering dengan atau tanpa irigasi, hampir pada setiap waktu, dan ditanam baik sebagai tanaman tunggal maupun dalam tumpangsari. Di satu daerah yang sama, cara budidaya pun dapat berbeda-beda.

Dengan semua faktor itu, sulit sekali membuat paket ajaib yang dapat berhasil di semua keadaan.

Ada sejumlah alasan kuat untuk mempertanyakan efisiensi program INMAS dalam rangka mencapai target, karena rekomendasi umum mungkin tidak dapat diterapkan pada berbagai keadaan. Pemerintah Indonesia dalam PELITA IV (1984- 1988) menetapkan target kenaikan produksi kedelai sebanyak 10% per tahun. Mengingat hal-hal diatas, target itu tampaknya akan sulit tercapai.

Studi ini telah dilakukan di daerah-daerah penghasil utama kedelai. Jelaslah, hasil- hasilnya kurang mewakili sistem komoditas kedelai di Indonesia secara keseluruhan. Hasil-hasil itu hanya mencerminkan keadaan di daerah-daerah yang relatif berhasil dalam produksi kedelai.

Di daerah-daerah itu, para petani kedelai memakai pupuk dan pestisida sekehendak hati, sementara masukan maupun kredit bukan merupakan kendala. Ini mempunyai implikasi pada rancangan program-program intensifikasi yang didalamnya aspek-aspek itu biasanya sangat ditekankan.

Misalnya, kebanyakan petani dalam studi ini menjelaskan bahwa kurangnya benih unggul dan pH tanah yang rendah merupakan faktor-faktor utama penyebab rendahnya produktivitas. Bahkan sebenarnya benih memainkan peran penting untuk menggeser fungsi produksi kedelai ke arah yang lebih menguntungkan. Akan tetapi belum jelas sejauh mana ini merupakan kendala tingkat hasil kedelai pada keadaan para petani dewasa ini. Beberapa petani berpendapat bahwa varitas lokal lebih toleran terhadap hama dan penyakit atau terhadap kekeringan dan banjir.

Demikian pula, pH yang rendah tidak dipelajari di daerah survei. Rendahnya pH menandai daerah yang masih marjinal untuk budidaya kedelai. Dengan kata lain, pH rendah muncul sebagai kendala perluasan penanaman kedelai di daerah-daerah baru, bukan sebagai faktor yang menerangkan rendahnya hasil dewasa ini.

Oleh karena itu, kesimpulan sementara berdasarkan pengetahuan yang ada sekarang, adalah bahwa tidak banyak yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kedelai di daerah-daerah survei. Masukan-masukan telah dipakai dalam jumlah relatif banyak, namun persoalan pokok rupanya meliputi usaha memperbaiki efisiensi pemakaiannya, bukan bagaimana meningkatkan jumlah pemakaiannya.

Temuan penting lain adalah bahwa keragaman dalam pemakaian masukan dan produktivitas yang diperoleh biasanya jauh lebih besar dalam tiap daerah tanam atau jenis lingkungan yang luas, daripada antar mereka. Apakah keragaman itu berkaitan dengan faktor-faktor sosial ekonomi atau dengan karakteristik lingkungan, masih perlu diteliti lebih jauh. Akan tetapi, keadaan lingkungan yang seragam hendaknya lebih diperhatikan dalam penelitian yang akan datang.

Hubungan antara persoalan mikro dan makro

Terlepas dari aspek produksi, sulit disarankan bagaimana pemasaran dan pemanfaatan kedelai di daerah-daerah penghasil utama dapat ditingkatkan melalui program-program pemerintah. Tampaknya dapat dikatakan tidak ada masalah serius dalam pemasaran dan pemanfaatan produksi di daerah-daerah itu. Di tempat-tempat lain, produksi kedelai terbatas karena kecilnya skala ekonomi. Di daerah-daerah semacam itu kedelai seharusnya dapat ditanam lebih luas. Dalam hal ini, Indonesia tampaknya mempunyai potensi yang besar dalam meningkatkan produksi kedelai, terutama di luar Jawa.

Sehubungan dengan kegunaan program intensifikasi, studi ini mendapatkan bahwa kebanyakan petani tidak bergantung pada program BIMAS untuk memperoleh pupuk dan pestisida, kecuali di Lampung dan Gunung Kidul. Hal ini kelihatannya konsisten dengan besarnya ukuran usahatani didaerah survei tersebut. Efektivitas program intensifikasi sebaiknya diteliti.

Sebagaimana telah diutarakan, luas rata-rata usahatani sampel ternyata jauh lebih besar daripada luas rata-rata usahatani yang sebenarnya di daerah-daerah survei. Hanya petani-petani pemilik lahan yang relatif luas yang dapat menanami sebagian lahannya dengan kedelai, yang barangkali disebabkan petani-petani kecil lebih memusatkan perhatian pada tanaman pangan yang lebih pokok.

Jika hipotesis ini benar, pembandingan dengan hasil studi-studi lain yang mempunyai bias-bias tersendiri perlu dilakukan hati-hati. Untuk mengoreksi bias studi ini terhadap petani secara luas, dapat dilakukan survei tambahan secara cepat, setidak- tidaknya di salah satu daerah survei; dan/atau analisis tambahan terhadap data sekunder yang ada.

Struktur pemasaran kedelai belum dikaji secara mendalam dalam studi ini. Studi lebih lanjut diperlukan bagi pola transaksi yang rumit, mulai dari petani melalui tengkulak dan pedagang, serta arus saluran pemasarannya.

Soal kebijaksanaan impor mempunyai komponen lain yang menarik. Impor dapat dilakukan dari pasaran internasional dengan harga jauh lebih murah daripada harga dalam negeri. Ini dikatakan untuk menekan harga kedelai dalam negeri. Namun harga eceran kedelai impor rupanya tidak jauh lebih murah daripada harga kedelai dalam negeri, sementara tidak ada pajak atas impor kedelai. Oleh karena itu, suatu pembandingan efisiensi antara pemasaran kedelai impor dengan pasar sektor swasta, mungkin perlu untuk menjelaskan mekanisme penetapan harga.

Perbandingan kecenderungan harga kedelai selama 10-20 tahun terakhir dengan komoditas-komoditas lain seperti beras dan jagung akan sangat berfaedah. Masalah persaingan dengan tanaman-tanaman lain perlu mendapat perhatian yang lebih besar. Mengingat mahalnya harga dalam negeri, mungkin agak terlalu berlebihan untuk menyatakan bahwa impor menurunkan rangsangan produksi kedelai.

Secara umum, upaya penelitian yang telah dilakukan terhadap kedelai dan palawija lainnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan penelitian terhadap padi; demikian pula halnya dengan pelayanan pelaksanaan program di daerah. Tujuan utama studi adalah sebagai pendahuluan bagi penelitian-penelitian yang lebih mendalam atas berbagai komponen sistem komoditas kedelai di masa yang akan datang. Penelitian yang mendalam seperti itu diperlukan untuk mengidentifikasi secara rinci kendala- kendala yang menghambat usaha petani untuk mencapai hasil tinggi yang sebanding dengan yang dicapai peneliti di kebun-kebun percobaan.

Blank page _____________

Page blanche

81

Lampiran

Anggota Tim Studi (disusun menurut abjad)

Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor Aman Djauhari*

Bambang Rachmanto Cucu, Sunarsih Hurun, Aten M.

Kirom, A. Nainy Kresnaningsih Siti, Machsunah Sultoni, Arifin*

Tambunan, M.S.M.

Zakaria, Amar Kadar.

Pusat Penelitian Agro-Ekonomi Hidayat Nataatmadja*

Pusat Palawija (CGPRT Centre) Dauphin, Francois*

Morooka, Yoshinori*

Rachim, Abdul*

Bottema, Taco, Penyunting Kepala

*Penulis laporan.

Blank page _____________

Page blanche

BPLLP Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian Badan Litbang

Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ASBIMTI Asosiasi Bahan Import Makanan Ternak Indonesia

BTP Badan Teknologi Pertanian

BIMAS Bimbingan Masal

BIP Balai Informasi Pertanian BPP Balai Penyuluhan Pertanian BPS Biro Pusat Statistik

Ballitan Balai Penelitian Tanaman Pangan

BULOG Badan Urusan Logistik

CGPRT Centre Pusat Palawija (Regional Coordination Centre for Coarse Grains, Roots and Tubers Crops, ESCAP)

PAE Pusat Penelitian Agro-Ekonomi

Puslitbangtan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan

Diperta Dinas Pertanian

ESCAP Komisi Ekoni dan Sosial Asia dan Pasifik, PBB (Economic and Social Comision for Asia and Pacific, United Nations)

INKUD Induk Koperasi Unit Desa IPB Institut Pertanian Bogor INMAS Intentsifikasi Massal INSUS Intensifikasi Khusus

INMUM Intensifikasi Umum

JABAL Jalur Benih Antar Lapang

KUD Koperasi Unit Desa

KOPTI Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia

PELITA Pembangunan Lima Tahun

PIR Perkebunan Inti Rakyat

PPL Penyuluh Pertanian Lapang

PT BERDIKARI Perseroan Terbatas BERDIKARI PT WATRAW Cabang dari PT BERDIKARI SUSENAS Survei Sosial Ekonomi Nasional

USDA Departemen Pertanian Amerika Serikat (United States Departement of Agriculture)

WILKEL Wilayah Kelompok

Arief, S. 1978. Pola-pola konsumsi di Indonesia: suatu studi ekonometris. Sritua Arief Associates.

Boediono. 1978. Elastisitas permintaan akan berbagai barang di Indonesia: teknik pendugaan Frish. Ekonomi dan Keuangan di Indonesia. 26(3):345-63.

Institut Pertanian Bogor: Sekretariat Tim Survei. 1976. Status kedelai di Indonesia dewasa ini.

(Sub-proyek I-l). Indonesia.

BULOG. 1979. Laporan Tim Gabungan Indonesia-Amerika tentang tanaman palawija.

Stensilan.

BULOG. 1983. Stabilisasi pangan/beras di Indonesia. Laporan tahunan. Business News Ltd.

Majalah Business News. Berbagai nomor. Biro Pusat Statistik. 1980. Neraca bahan pangan. RTB 80-48. Biro Pusat Statistik. 1983. Buku saku statistik Indonesia.

Biro Pusat Statistik. 1985. Struktur ongkos usahatani padi, palawija.

Darmawan, D.H. dan I. Rusastra. 1984. Sistem komoditas minyak nabati di Indonesia (Konsep I). Pusat Penelitian Agro-Ekonomi. Bogor.

Departemen Pertanian. 1983. Program peningkatan produksi pangan (khususnya beras) di Indonesia 1968/1969 - 1982/1983. Stensilan.

Departemen Pertanian, Kehutanan dan Perikanan. 1983. Neraca bahan pangan.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Pelbagai tahun. Vademekum Pemasaran. Jakarta.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 1984. Statistik pertanian tanaman pangan. Jakarta.

Direktorat Jenderal Ekonomi Tanaman Pangan. 1988. Permintaan dan penawaran tanaman pangan.

Direktorat Perencanaan Tanaman Pangan. 1983. Padi dan palawija di Indonesia, 19681981. Sub Direktorat Data dan Statistik.

Dixon, J.A. 1982. Food consumption patterns and related demand parameters in Indonesia: a review of available evidence. Working Paper No.6. International Food Policy Research Institute. (IFPRI).

Faisal, K., D.H. Darmawan, I.W. Rusastra, Erwidodo dan C.A. Rasahan. 1983. Pemasaran kedelai di Indonesia. Pusat Penelitian Agro-Ekonomi.

Fukushima, D. dan H. Hashimoto. 1976. Oriental soybean foods. In: Hill, H.D. (ed.) Proceedings of World Soybean Research Conference.

Hakim, R. 1976. Kacang-Kacangan di Indonesia. Dalam: Rifai, M.A. (ed.), Kacangkacangan Asia, Lembaga Pusat Penelitian Pertanian, Bogor.

Hedley, D.D. 1978. Supply and demand for food in Indonesia. Paper presented at the Workshop on Research Methodology, Institut Pertanian Bogor.

Heady, E.O. dan J.L. Dillon. 1969. Agricultural production functions. Iowa State University Press.

Mears, L.A. 1984. Swasembada beras dan pangan di Indonesia. Buletin Studi Ekonomi Indonesia. 20(2): 122-38.

Mears, L.A., A. Rachman, and Sakrani. 1981. Income elasticity of demand for rice in Indonesia.

Economics and Finance in Indonesia 29(l): 81-90.

Naito, A., Harnoto, and Iqbal. 1983. Current problems of insect pests in major soybean production areas in Indonesia. Makalah seminar Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Stensilan.

Pasaribu, D. and J.L. McIntosh. 1983. Increasing soybean production through improved cropping systems and management in the tropics. In: Proceedings of the First International Symposium on Soybean in Tropical and Subtropical Cropping Systems.

Trop. Agric. Res. Centre, Japan.

Roche, F.C. 1983. Cassava production systems on Java and Madura. Stanford University. PhD Dissertation, Sanford University.

Singh, R.B. 1983. Cassava situation and prospect of improved production of coarse grains and legumes in Asia Pacific Region. FAO Regional Office for Asia and the Pacific.

Somaatmadja, S. dan B.H. Siwi. 1983. Development of grain legumes in Indonesia. Paper presented at the Consultant Group Meeting for Asian Region Research on Grain Legumes. ICRISAT.

Sumarno. 1984. Defining soybean breeding objectives for the Indonesia cropping system programme. Paper presented at the Asian Soybean Workshop. Jakarta.

Tyers, R. and A. Rachman. 1981. Food security and consumption diversification in Indonesia:

results from a multi-commodity stochastic simulation model. Working Paper WP-81-l, Resource System Institute, East-West Center, USA.

Winarno, F.G. et al. 1976. The present status of soybean in Indonesia. Institut Pertanian Bogor.

Yuize, Yashuhiko. 1974. Economic analysis of food. Doubun-shoin, Tokyo.

Edited by J.W.T. Bottema, F. Dauphin and G. Gijsbers CGPRT no. 11 Constraints to Production of Pulses in Bangladesh

by S.M. Elias

CGPRT no. 12 Marketing and Storage of Pulses in Bangladesh by F.S. Sikder and S.M. Elias

CGPRT no. 13 Maize Production in Java: Prospects for Improved Farm-Level Production Technology by A. Djauhari, A. Djulin and I. Soejono

CGPRT no. 14 Agriculture, Food and Nutrition in Four South Pacific Archipelagoes: New Caledonia, Vanuatu, French Polynesia, Wallis and Futuna

by J.P. Doumenge, D. Villenave and O, Chapuis CGPRT no. 15 Potential for Pigeonpea in Thailand, Indonesia and Burma

by E.S. Wallis, R.F. Woolcock and D.E. Byth CGPRT no. 16 Maize Production in Sri Lanka

by N.F.C. Ranaweera, G.A.C. de Silva, M.H.J.P. Fernando and H.B. Hindagala Palawija News Jurnal triwulanan Pusat Palawija

Seri ini diterbitkan oleh Pusat Palawija, Bogor. Penyunting seri ini adalah J.W. Taco Bottema, ahli ekonomi pertanian. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh dari :

Kepala

Percetakan. SMT Grafika Desa Putera

Dalam dokumen Sistem Komoditas Kedelai (Halaman 99-110)

Dokumen terkait