ISSN : 2541-4704
8
Pelajaran 2017/2018 Su k i m i n
SD Negeri 02 Alastuwo Kebakkramat Karanganyar
Abstact-This classroom action research aims to determine whether or not there is an effort to improve the skill of writing Geguritan on Javanese Language Lesson through Picture Media for Grade V Students of First Semester of SD Negeri 02 Alastuwo Kebakkramat Lesson Year 2017/2018. The study took the entire population of Grade V Students of First Semester SD Negeri 02 Alastuwo Kebakkramat Lesson Year 2017/2018. The number of students and samples is 32 students. The sampling technique used is consideration. Classroom action research is carried out periodically with continuous cycles. The result of the research shows that: (1) students are involved in teaching and learning activities, for example can use the image media to interact in the context of daily life; (2) first cycle average score 72,75; (3) second cycle average value 78,93. As has been described in each cycle that changes in learning outcomes using the media images have increased. This research concludes that through the media images for students of class V semester 1 SD Negeri 02 Alastuwo can improve the skills of writing geguritan on Javanese Lessons.
Keywords: Skill, Writing Geguritan Javanese Language, Picture Media
Abstrak-Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya Upaya peningkatan keterampilan menulis Geguritan pada Pelajaran Bahasa Jawa melalui Media Gambar bagi Siswa Kelas V Semester I SD Negeri 02 Alastuwo Kebakkramat Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian mengambil populasi seluruh Siswa Kelas V Semester I SD Negeri 02 Alastuwo Kebakkramat Tahun Pelajaran 2017/2018. Jumlah siswa dan sampelnya sebanyak 32 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah pertimbangan. Penelitian tindakan kelas dilakukan secara periodik dengan siklus berkelanjutan. Adapun teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumenatasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) siswa banyak dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar, misalnya dapat menggunakan media gambar untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari; (2) siklus pertama nilai rata-rata 72,75 ; (3) siklus kedua nilai rata-rata 78,93.
Seperti telah dideskripsikan pada tiap siklus bahwa perubahan hasil pembelajaran menggunakan media gambar mengalami peningkatan.Penelitian ini menyimpulkan bahwa melalui media gambar bagi siswa kelas V semester 1 SD Negeri 02 Alastuwo dapat meningkatan keterampilan menulis geguritan pada Pelajaran Bahasa Jawa.
Kata Kunci : Keterampilan, Menulis Geguritan Bahasa Jawa , Media Gambar
1. Latar Belakang Masalah
Keterampilan berbahasa yang meliputi aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Menulis puisi merupakan salah satu keterampilan bidang apresiasi sastra Jawa yang harus dikuasai oleh siswa SD. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang ditetapkan sebagai kurikulum 2006 materi menulis geguritan diajarkan di kelas V yaitu mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam geguritan bebas. Akan tetapi, pada kenyataannya pembelajaran menulis geguritan di sekolah masih banyak kendala dan cenderung untuk dihindari.
Rendahnya keterampilan menulis geguritan ini adapt dilihat dari hasil siklus awal di kelas V SD Negeri 02 Alastuwo yang berjumlah 32 anak atau sekitar 20 % kurang dapat menulis geguritan. Siswa mengalami kesulitan menuangkan pikiran dan
perasaannya dalam bentuk puisi. Kesulitan yang dihadapi siswa itu dapat dilihat dari beberapa hal seperti siswa kesulitan menemukan gagasan,ide, siswa kesulitan menemukan kata pertama dalam geguritan, dan siswa kesulitan menulis geguritan karena tidak terbiasa mengemukakan perasaan dan imajinasinya dalam bentuk geguritan.
Rendahnya keterampilan menulis geguritan tersebut juga disebabkan kurang efektifnya pembelajaran yang diciptakan guru.
Ketidakefektifan ini disebabkan karena metode yang diterapkan guru kurang sesuai. Selain itu, guru dalam memberikan pembelajaran menulis geguritan hanya sekedar teori saja dan guru belum menggunakan media pembelajaran yang sesuai. Dalam pembelajaran menulis geguritan sering kali guru hanya memberikan informasi mengenai teori-teori, pengertian geguritan, ciri-ciri geguritan, paraphrase
geguritan. Siswa disuruh untuk menentukan gagasan pokok dalam geguritan, siswa disuruh untuk menentukan rimanya dan siswa disuruh untuk menulis geguritan kembali dengan contoh geguritan yang ada di buku paket atau LKS. Dengan demikian belajar yang diciptakan guru dalam kelas hanya sebatas informasi dalam mengapresiasi dan keterampilan untuk menulis geguritan kurang.
Keterampilan menulis puisi dapat efektif jika guru menerapkan metode dan media pembelajaran yang dapat memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Pemilihan metode dan media yang tepat diharapkan dapat membuat siswa mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar dan memanfaatkan potensinya seluas- luasnya. Hal ini seperti apa yang dikemukakan oleh Arsyad (2002 : 15) bahwa dalam suatu proses pembelajaran, dua unsur yang amat penting adalah metode dan media pembe- lajaran. Kedua aspek tersebut saling berkaitan.
Pemilihan salah satu metode pengajaran tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai.
Dalam keterampilan menulis geguritan pada penelitian tindakan kelas digunakan media pembelajaran berupa gambar.
Penggunaan media gambar dalam penulisan geguritan diharapkan mempermudah siswa dalam menulis geguritan. Dengan demikian siswa tidak lagi mengalami kesulitan dalam menemukan gagasan,ide, menemukan kata pertama dalam geguritan dan kesulitan dengan media gambar.
Keterampilan menulis geguritan dengan media gambar memberikan kemudahan kepada siswa dalam menulis geguritan. Siswa akan merasa senang dengan media gambar yang dilihatnya, dengan rasa senang pada diri siswa tersebut diharapkan siswa akan mampu berimajinasi. Setelah rasa senang pada diri siswa dan siswa mampu mengapresiasi dan berimajinasi diharapkan siswa akan mampu menuliskan puisi berdasarkan gambar yang dilihatnya.
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul “Meningkatan Keterampilan Menulis Geguritan Pada Pelajaran Bahasa Jawa MelaluiMedia Picture and picture Siswa kelas V Semester 1 SD Negeri 02 Alastuwo Kecamatan Kebakkramat Tahun Pelajaran 2017/2018. Dengan penelitian diharapkan dapat memotivasi dan menarik minat siswa dalam menulis geguritan.
Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah
diungkapkan di atas, permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah melalui media gambar dapat meningkatkan kemampuan menulis pada pelajaran Bahasa Jawa siswa kelas V SD Negeri Alastuwo Kebakkramat ?
Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis geguritan melalui media gambar. Secara khusus penelitian bertujuan untuk meningkatkan minat siswa dan meningkatkan keterampilan menulis siswa melalui media gambar
Manfaat Penelitian
Penelitian diharapkan dapat memberikan masukan tentang manfaat media picture and picture untuk pembelajaran menulis geguritan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan tolak ukur landasan pada penelitian lebih lanjut yaitu berupa alternative memperbaiki mutu pendidikan dalam pembelajaran menulis geguritan.
Sedangkan manfaat praktis dari penelitian ini adalah hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi siswa dalam meningkatkan keterampilan menulis geguritan Bahasa Jawa. Bagi guru, penelitian diharapkan menambah masukan tentang alternatif pembelajaran sehingga dapat memberikan kontribusi kongkret dan positif bagi peningkatan professionalisme guru dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.
2. LANDASAN TEORI Hakikat Menulis
Menulis adalah suatu aktivitas komunikasi bahasa yang menggunakan bahasa sebagai media komunikasi. Tulisan itu terdiri atas serangkaian huruf yang bermakna dengan segala kelengkapan lambang tulisan seperti ejaan dan pungiasi. Seseorang dapat disebut sebagai penulis karena memiliki kehamiran menuangkan secara tertulis ide, gagasan, dan perasaan dengan runtut. Apa yang dituliskan mengandung arti dan manfaat yang membuat orang lain merasa perlu membaca dan menikmatinya (Satarti Akhadiah, dkk, 2001 : 1-3)
Menulis menurut Tarigan (1986 : 21) berarti menurunkan atau melukiskan lambing- lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang- lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambar grafik itu.
Sedangkan kelancaran komunikasi dalam
suatu tulisan tergantung pada bahasa yang dilambang visualkan. Karangan (tulisan) adalah suatu bentuk sistem komunikasi lambang visual. Agar komunikasi, penulis hendaknya menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam bahasa yang tepat, teratur, dan lengkap (Burhan Nurgiantoro, 2005 : 296).
Dari pendapat di atas dapat dirumuskan bahwa kegiatan menulis merupakan suatu cara atau upaya yang digunakan oleh penulis untuk menyampaikan idenya melalui bahasa tulis atau lambang-lambang grafik yang dipahami maknanya.
Pembelajaran Geguritan Bahasa Jawa Pembelajaran geguritan Bahasa Jawa pada penelitian ini merupakan pembelajaran yang berkenaan dengan menulis geguritan. Dalam pembelajaran ini menekankan pada penulisan geguritan dengan cara melihat gambar atau objek yang telah ditentukan. Berdasarkan gambar tersebut apa yang dilihat, dirasakan, dan dipikirkan siswa dituangkan dalam bentuk kata-kata dan pada akhirnya dibuat menjadi geguritan. Pembelajaran menulis geguritan ini tidak menekankan teori-teori ataupun istilah- istilah dalam geguritan, akan tetapi lebih mementingkan praktik membuat geguritan yang materinya dengan menggunakan pembendaharaan kata yang luas, susunan kalimat yang logis, dan unsur-unsur esensial puisi yaitu struktur fisik maupun struktur batin puisi.
Geguritan adalah salah satu jenis karya sastra.
Untuk memberikan definisi geguritan smpai sekarang belum dipastikan. Banyak ahli sastra mengemukakan berbagai macam definisi geguritan dari sudut pandang yang berbeda- beda. Terkadang pengertian puisi itu mengalami perubahan karena konsep estetik yang selalu berkembang.
Definisi geguritan lama menyebut bahwa geguritan adalah karangan yang terikat oleh baris dan bait, rima dan irama, jumlah kata dan suku kata sebenarnya tidak relevan lagi untuk diterapkan kepada semua bentuk geguritan, terlebih lagi kepada geguritan modern yang dinamis, inovatif, dan kreatif. Definisi seperti itu dapat berlaku hanya untuk puisi lama yang statis, yang cenderung mematuhi konvensi geguritan (Atmazaki, 1993 : 4).
Menurut Djoko Pradopo (2000 : 6), bahwa beberapa ahli sastra dari aliran romantik Inggris memberikan definisi. Terdapat adanya perbedaan-perbedaan pemikiran mengenai pengertian puisi. Namun, apabila unsur-unsur dari pendapat-pendapat itu dipadukan, maka akan didapat garis merah tentang pengertian puisi. Unsur-unsur tersebut berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kias,
kepadatan, dan perasaan bercampur baur (Djoko Pradopo, 2000 : 7)
Pengertian Media Gambar atau Picture Media gambar atau media grafis termasuk media visual yang berfungsi menyalurkan pesan dari sumber pesan ke penerima pesan.
Saluran yang digunakan adalah mengutamakan pesan dapat berhasil dan efisien, pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam. Simbol komunikasi yang digunakan adalah simbol visual.
Secara khusus dapat dikatakan bahwa media gambar berfungsi untuk (a) menarik perhatian, (b) memperjelas sajian ide, (c) mengilustrasikan fakta yang mungking akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak divisualisasikan, dan (e) termasuk media yang relative.
Menurut Suparno (2002 : 20) media gambar termasuk media pandang non proyeksi.
Gambar-gambar yang termasuk media pandang non proyeksi antara lain: 1. Gambar Seri (flow chart) merupakan media yang terbuat dari kertas manila besar dan lebar yang berisi beberapa buah gambar. Gambar- gambar tersebut satu dengan yang lain berhubungan sehingga merupakan rangkaian cerita. Media ini sangat sesuai dengan tujuan pembelajaran ketrampilan ekspresi lisan. 2.
Cerita gambar (wall chart) merupakan media gambar denah, bagan, atau skema yang biasanya digantungkan pada dinding. Media ini dapat digunakan untuk melatih penguasaan kosakata dan penyusunan kalimat. Salah satu jenis wall chart ini adalah cerita gambar. 3.
Flash Chart (stick figure) merupakan gambar yang berupa garis-garis sederhanam tetapi sudah menggambarkan pesan yang jelas.
Gambar tersebut tidak boleh disertai tulisan apapun. Media ini cocok untuk melatih ketrampilan dengan menggunakan pola kalimat tertentu. 4. Kartu gambar adalah media yang terbuat dari kartu-kartu kecil. Media ini berfungsi untuk melatih ketrampilan membaca permulaan.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa media gambar merupakan suatu jenis media visual bahasa yang diekspresikan pada simbol sebagai media komunikasi. Selain itu penggunaan media gambar dapat memudahkan orang untuk menangkap objek secara jelas.
Kerangka Berpikir
Keterampilan menulis sangatlah penting dalam berkomunikasi secara tidak langsung. Memiliki keterampilan menulis tidaklah datang secara tiba-tiba, melainkan harus juga dipelajarinya dan berlatih setiap hari. Sebagai upaya untuk
meningkatkan keterampilan menulis khususnya menulis puisi, guru harus menerapkan pengetahuannya mengenai teknik dalam mengajar. Peneliti dalam hal ini sebagai guru menggunakan media gambar un-tuk meningkatkan kemampuan menulis siswa khususnya untuk menulis geguritan.
Penggunaan media gambar berpengaruh pada siswa untuk dapat berimajinasi secara cepat dan mudah. Paling tidak, dalam menulis geguritan anak tidak mengalami kesulitan karena adanya media yang dapat membantu siswa dalam pembelajaran penulisan geguritan.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini yaitu :
“Terdapat peningkatan keterampilan menulis geguritan dalam pelajaran Bahasa Jawa melalui media gambar bagi Siswa kelas V Semester I SD Negeri 02 Alastuwo Kecamatan Kebakkramat Tahun Pelajaran 2017/2018”
3. METODE PENELITIAN Seting Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 02 Alastuwo, Kebakkramat. Waktu penelitian dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu bulan Januari 2016 sampai dengan bulan Agustus 2017. Subjek penelitian siswa kelas V SD Negeri 02 AlastuwoKecamatan Kebakkramat Tahun Pelajaran 2017/2018 sebanyak 32 siswa. Pemilihan subjek didasar pertimbangan bahwa subjek adalah siswa peneliti dan mayoritas siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis geguritan adalah siswa kelas V.
Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian menggunakan prosedur tindakan kelas. Hal sesuai dengan karakteristik PTK antara lain (1) adanya masalah yang dihadapi guru, (2) adanya kolaborasi dalam pelaksanaan, (3) peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi, (4) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik instruksional, dan (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus (Zainal Aqib, 2007 : 16).
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Setiap siklus memiliki empat tahap, yaitu (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi.
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan selama dua siklus. Setiap siklus dilakukan dua kali tatap muka. Setiap tatap muka berlangsung selama 2 x 35 menit. Sumber data berasal dari kelas V sebagai subjek penelitian. data dan subjek penelitian ini diperoleh dari hasil belajar siswa yang diukur melalui tes. Adapun data yang berupa hasil pengamatan proses pembelajaran diperoleh dengan menggunakan
observasi dibantu dari observer yang merupakan teman sejawat.
Teknik dan Alat Pengumpul Data
Metode teknik pengumpulan data dalam penelitian memakai teknik tes dan non tes.
teknik tes digunakan untuk mengetahui ketrampilan siswa dalam menulis puisi melalui media gambar. Teknik tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis. Adapun teknik non tes digunakan untuk mengetahui proses pembelajaran berlangsung atau bersamaan dengan pelaksanaan tindakan.
Alat yang digunakan untuk menjaring data berupa gambar-gambar.
Catatan lapangan (observasi) digunakan untuk menjawab informasi kualitatif yang terkait dengan tindakan. Hal-hal yang dicatat adalah semua kejadian geguritan melalui media gambar. Catatan lapangan juga dipakai positif dan negative selama proses pembelajaran dari sebelum tindakan sampai dengan siklus II.
Teknik Analisis Data
Metode teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data berupa deskriptif komparatif. Analisis deskriptif komparatif merupakan teknik analisis dengan membandingkan nilai tes antar siklus maupun dengan indikator kinerja. Adapun data yang berupa non tes yaitu pengamatan dari observer dianalisis dengan analisis deskriptif.
4. HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Kondisi Awal / Prasiklus
Keterampilan menulis geguritan yang sering dilakukan guru hanya meng-gunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi.
Dalam menyampaikan materi guru hanya sekedar menjelaskan teori-teori puisi yang banyak, mem-berikan contoh geguritan, setelah itu siswa berlatih menjawab pertanyaan-perta-nyaan puisi yang ada di buku, dan setelah siswa dapat menjawab, guru mem-beri tugas kepada anak untuk membuat geguritan ini guru tanpa mengajarkan bagaimana cara yang lebih mudah agar dapat menulis geguritan.
Pembelajaran berakhir selanjutnya siswa tersebut mengumpulkan puisi kepada guru, yaitu sebuah geguritan sebelum menggunakan media gambar. Setelah dianalisis hasil karya siswa pun masih banyak yang di bawah KKM sekolah yaitu 75 Rendahnya keterampilan menulis geguritan ini adapt dilihat dari hasil siklus awal di kelas V SD Negeri 02 Alastuwo yang berjumlah 32 anak atau sekitar 20 % kurang dapat menulis
geguritan. Siswa mengalami kesulitan menuangkan pikiran dan perasaannya dalam bentuk puisi. Kesulitan yang dihadapi siswa itu dapat dilihat dari beberapa hal seperti siswa kesulitan menemukan gagasan,ide, siswa kesulitan menemukan kata pertama dalam geguritan, dan siswa kesulitan menulis geguritan karena tidak terbiasa mengemukakan perasaan dan imajinasinya dalam bentuk geguritan.
Deskripsi Hasil Siklus I
Berdasarkan hasil pelaksanaan siklus I, diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan siswa kelas V dalam menulis geguritan dapat dikatakan belum memuaskan. Hal ini masih terdapatnya 3 siswa yang masih mendapatkan nilai 57-67 (di bawah KKM). Rincian data tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : Dari jumlah keseluruhan 32 siswa, 5 diantaranya atau sebesar 12,12 % termasuk kategori baik dengan nilai 79-89. Kategori cukup dengan nilai antara 68-78 dicapai oleh 24 siswa atau sebesar 75,75%. Sedangkan kategori kurang dengan nilai 57-67 dicapai oleh 3 siswa atau sebesar 12,12%. Sementara itu tidak ada siswa yang berhasil mendapatkan nilai dalam kategori sangat baik.
Dari hasil pengamatan juga diperoleh kesan bahwa siswa sudah mulai tertarik terhadap pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan media gambar. Hal ini dapat dilihat pada saat siswa dengan serius mengamati media gambar dan mulai menerapkan ke dalam sebuah puisi. Tetapi, dari pengamatan yang dilakukan teman sejawat diinformasikan bahwa masih ada beberapa siswa yang belum serius untuk mengerjakan tugas mengganggu kelompok lain. Perbaikan siklus I akan dilaksanakan pada siklus 2, untuk itu. Beberapa anak masih pasif untuk kerja kelompok, bercanda sendiri, dan ada yang peneliti perlu menyusun perencanaan kembali.
Deskripsi Hasil Siklus II
Setelah dilakukan tindakan pada Siklus II, dengan menggunakan media gambar yang merupakan pilihan siswa, hasil menulis geguritan media gambar atau picture and picture siswa pun mengalami peningkatan peningkatan sebesar 11,4%. Adapun rincian data tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Dari jumlah keseluruhan 32 siswa, 2 diantaranya atau sebesar 6,090 termasuk kategori sangat baik. Kategori baik dengan nilai 79-89 dicapai oleh 20 siswa, atau sebesar 60,6%, nilai 68-78. Sementara itu tidak ada siswa yang mendapatkan nilai kurang.
Dalam tahap refleksi ini peneliti melakukan analisis terhadap tindakan pada siklus II yang merupakan perbaikan tindakan
siklus I. Setelah pembelajaran menulis puisi dilakukan dengan menggunakan media gambar, hasilnya mengalami peningkatan. Di samping itu, siswa menga-lami perubahan positif terhadap pembelajaran menulis Geguritan. Hambatan yang terdapat pada siklus I tidak terjadi pada siklus II. Hal ini disebabkan media gambar yang digunakan merupakan pilihan siswa, kegiatan kelompok tidak hanya mengumpulkan satu hasil karya dalam satu kelompok tersebut masing-masing mengumpulkan hasil karyanya, dan sudah terjadinya tanya jawab antara peneliti dan siswa.
Pembahasan
Setelah penulisan geguritan dilaksanakan dalam 2 siklus tampak adanya peningkatan kemampuan menulis geguritan.
kemampuan menulis Geguritan ini dapat dilihat pada grafik berikut :
90 82,54
80 70 60 50 40 30 20 10 0
Awal Siklus I Siklus II
Grafik 1. Gerak Rerata Nilai Tiap Siklus
Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis puisi merupakan prestasi siswa yang patut dibanggakan. Sebelum diberlakukan tindakan menggunakan media gambar kemampuan siswa masih sangat kurang yaitu 63-81. Nilai 63,81 merupakan nilai yang jauh dari KKM yang ditentukan yaitu75.
Untuk dapat meningkatkan pembelajaran maka peneliti menggunakan media gambar.
Hasil tindakan I nilai siswa menulis puisi yaitu 72,75. Nilai ini belum memuaskan karena terdapat 4 siswa yang mendapatkan nilai cukup. Tindakan I belum memuaskan untuk itu siswa diberi tindakan II. Perlakukan tindakan II yaitu siswa mendapat nilai yang memuaskan
63,81
72,75
yaitu dengan rerata nilai 82 .54. Pada tindakan II ini siswa sudah dapat menulis puisi dan nilai cukup hanya 10 siswa, nilai baik sebanyak 20 siswa adapun 2 siswa mendapat nilai sangat baik. Selain terjadinya peningkatan kemampuan menulisnya, juga terjadi respon positif siswa dan peneliti sehingga kegiatan pembelajaran lebih efektif, menarik dan menyenangkan.
5. PENUTUP Kesimpulan
Dari penelitian yang telah diuraikan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Penggunaan media gambar dalam menulis geguritan dapat meningkatkan keterampilan menulis Bahasa Jawa siswa dan dapat memotivasi siswa menjadi aktif dalam pembelajaran menulis geguritan 2. Pelaksanaan pembelajaran menulis geguritan di kelas V SD Negeri 02 Alastuwo Kebakkramat sebelum menggunakan media gambar, guru hanya menggunakan cara belajar yang konvensional. Cara belajar konvensional yang dimaksud adalah cara-cara belajar yang sudah terbiasa digunakan, misalnya metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Hasil yang diperoleh siswa belum memuaskan dengan rerata nilai 72,75.
3. Pelaksanaan pembelajaran menulis puisi menggunakan media gambar dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus 1 hasil pembelajaran menulis puisi mengalami kenaikan dibanding dengan sebelum menggunakan media gambar. Hasil rerata nilai yang diperoleh kelas V adalah 72,75. Pada siklus II, hasil yang dapat dicapai oleh siswa semakin meningkat yaitu 82,54. Hasil ini meningkat dalam menulis geguritan.
Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut: 1. Siswa harus aktif
membiasakan diri untuk menulis geguritan , sebab dapat memberikan sumbangan dalam pertumbuhan kepribadian siswa dalam menuangkan hasil karya sebuah geguritan. 2.
Guru harus meningkatkan kreativitas dalam pembelajaran. Selain itu guru hendaknya memahami faktor-faktor yang dapat menghambat kegiatan pembelajaran menulis geguritan dan mengetahui kekurangan- kekurangan serta mampu menimbulkan minat siswa untuk belajar Bahasa Jawa dalam hal menulis geguritan serta melestarikan. 3.
Sekolah seharusnya mendukung kepada guru untuk menggunakan media pembelajaran yang bervariasi dalam menuangkan geguritan dan melestarikannya.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Akhadiah, dkk.(1988). Pembinaan Kemampuan Menulis. Jakarta:
Erlangga.
[2] Arsyad, 2002. Media Pembelajaran..
Raja Grafindo Persada. Jakarta [3] Atmazaki. (1992). Kemampuan
Berpikir Kreatif dan Kualitas Interaksi dengan Karya Sastra sebagai
Determinan Kemampuan
Mengapresiasi Karya Sastra.Tesis Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Pascasarjana IKIP. Bandung: tidak diterbitkan [4] Nurgiyantoro,Burhan. (2005).
Penilaian Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
[5] Suparno, P.SJ.et.al. 2002. Reformasi Pendidikan: Sebuah Rekomendasi.
Yogyakarta:
[6] Kanisius.
[7] Tarigan, H. Guntur. (1986). Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.