• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Program Pendidikan Inklusi Konsep Pendidikan Inklusi Untuk merespon keberagaman seluruh peserta didik maka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Program Pendidikan Inklusi Konsep Pendidikan Inklusi Untuk merespon keberagaman seluruh peserta didik maka"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Program Pendidikan Inklusi

2.1.1 Konsep Pendidikan Inklusi

Untuk merespon keberagaman seluruh peserta didik maka timbullah program inklusi yang akhirnya mendorong terjadinya restrukturisasi terhadap program sekolah yang ada di sekolah tersebut (Ainscow, 2001:111). Inklunsi memiliki konsep untuk hal yang luar biasa bukan hanya perbedaan saja namun sebuah ikatan lebih ditekankan kepada setiap komunitas tujuannya agar setiap orang yang ada dikomunitas tersebut dapat saling mengharagai dan juga saling mengenal sebagai anggota dari komunitas tersebut (O’Hanlon, 2003:14). Dalam pembelajaran berbagai media harus dimanipulasi sebagai syarat dalam menentukan bahan pembelajaran pada program pendidikan inklui bagi mereka yang berlatar belakang kelainan fisik yang lebih diarahkan kepada pemberian intervensi khusus, serta situasi lingkungan sekolah (delphie, 2005:3).

Dari beberapa pendapat diatas apa yang dikatakan (O’Hanlon, 2003:14) bisa dipahami bahwa pendidikan inklusi adalah sesuatu yang dapat meningkatkan kwalitas sorang individu ke arah yang lebih positiff dengan lingkungan yang sesuai denganh kebutuhan mereka, dimana setiap individu akan merasakan kenyamanan dalam belajar dikarenakan semuanya bisa mengenal siapapun dan saling menghargai. sedangkan (Delphie, 2005:3) dapat kita pahami dengan pendidikan inklusi kebutuhan akan belajar dapat disesuaikan secara menyeluruh terhadap apa yang akan diterima mereka seperti halnya media pembelajaran, media pembelajaran dapat digunakan dengan menyesuaikan kebutuhan peserta didik yang berada dikelas inklusi.

Berbeda dengan pendapat (Ainscow 2001:111) dapat diartikan apa yang dikatakannya bahwa dengan pendidikan inklusi sekolah dapat mengembangkan program yang beragam untuk menyesuaikan kebutuhan yang ada disekolahan tersebut.

Dari dunia pendidikan maupun pekerjaan banyak sekali orang yang tersingkir karena memiliki kemampuan berbeda (Asyhabuddin 2008:406). Artinya, anak berkebutuhan khusus harus memiliki

(2)

akan memiliki pandangan yang sama didepan pasang mata setiap manusia dan juga anak normal, karna itu pendidikan inklusi sangat dibutuhkan untuk memberi kesempatan kepada ABK agar mereka mendapat jaminan dalam pendidikan. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan, (Sutrisno 2012:32) sesuatu yang berbeda dapat dilihat sebagai awal dalam belajar, daripada harus dijadikan sebagai masalah dalam lingkungan pendidikan inklusi.

Kondisi masing-masing individu harus diakomodasi sesuai dengan kebutuhannya satuan pendidikan harus terbuka bagi semua individu itulah arti dari pendidikan inklusi menurut (Kustawan 2012:7). Pendapat tersebut juga diperkuat dengan pendapat (Ilahi 2013: 23) dia mengatakan anak yang memiliki latar belakang fisik dan mental tidak dibeda-bedakan dalam pendidikan itulah konsep pendidikan inklusi. (Ahsan 2014) menjelaskan kalau peerta didik yang latar belakangnya tidak eberuntung anak lainnya dalam lingkungan sosial, dan sebagainya, penyandang cacat dapat dianggap bahwa pendidikan inklusi menjadi strategi yang layak untuk menciptakan lingkungan pembelajaran dan lingkungan yang ramah untuk anak-anak.

Apa yang telah dibahas jika disimpulkan maka pndidikan inkusi adalah kebutuhan yang harus dijalankan di Indonesia agar setiap anak mendapatkan pendidikan yang setara, terlebih mereka yang berkebutuhan khusu harus mendapatkan bimbingan belajar sebisanya bimbingan tersebut mengarah ke apa yang mereka perlukan, maka dari itu dengan adanya pendidikan inklusi diharapkan dapat menambah wawasan anak-anak yang mengalami kelainan fisik dalam belajar.

2.2 Tujuan Dari Pendidikan Inklusi

Pendidikan inklusi memiliki beberapa tujuan menurut Alfian (2013:75): (1) Memenuhi amanata perundang-undangan: (a) permendiknas nomor 70 tahun 2009 (b) UU nomor 23 tahun 2002 (c) UU nomor 20 tahun 2003 (d) UUD 1945 pasal 32 ayat (2) (e)UUD 1945 pasal 32 ayat (1); (2) Menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak diskriminatif, serta ramah

(3)

terhadap pembelajaran. (3) Mendukung meningkatkan keunggulan pengetahuan dasar dan menengah dengan menekankan angka tinggal kelas dan mutu sekolah. (4) Membantu pendidikan dasar dalam mempercepat program wajib belaja. (5) Mencipatakan harapan sebanyak-banyaknya kepada setiap anak (termasuk ABK) mendapatkan pendidikan layak sesuai dengan kebutuhannya.

Menurut (Smith, 2006: 41) pendidikan inklusi memiliki tujuan sebagai berikut: (1) semua peserta didik harus dihargai dan tidak boleh ada diskriminasi untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan. (2) untiuk memperoleh pendidikan yang bermutu setiap peserta didik harus diberi kesempatan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, anak didik yang mempunyai keterbatasan kelainan fisik, sosial, emosional, mental, maupun peserta didik yang memiliki kecerdasan atau bakat istimewa harus diberikan kesempatan seluas- luasnya.

Jika melihat apa yang terjadi diatas maka dapat diartikan pendidikan inklusi sebagai wadah bagi setiap anak yang memiliki keterbatasan agar mereka dapat memiliki pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing, pendidikan inklusi itu sendiri dapat diartikan sebagai peningkatan mutu pendidikan dalam negeri agar pendidikan di dalam negeri kita dapat berkembang seperti negara-negara yang memiliki mutu pendidikan sangat baik.

2.3 Standar Penyelenggaraan Pendidikan inklusi

Komponen dalam berbagai bidang harus diperhatikan agar kualitas pendidikan inklusi dapat meningkatkan mutu pendidikan, ada beberap hal yang harus diperhatikan:

(1) Kurikulum

Kurikulum menjadi faktor penting dalam menyelenggarakan pendidikan inklusi maka dari itu kurikulum harus diubah atau dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dalam melaksanakan program pendidikan inklusi kurikulum dibuat untuk membuat kurikulum itu sendiri menjadi lebih kompleks dan realitas.

Kurikulum sendiri harus dikembangkan bersam-sama, setiap orang harus bertanggung jawab dalam mengembangkan kurikulum siapa

(4)

pimpinan maupun bawahannyanya (Ilahi, 2013; 171, Tarmansyah, 2007: 145).

(2) Tenaga Pendidik (Guru)

Dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi setiap guru yang ditunjuk untuk menangani ABK harus memiliki kompetensinya, dalam penyelenggaran program pendidikan inklusi sendiri setiap guru yang memiliki peran adalah guru kelas, guru mapel, dan GPK.

Lembaga pendidikan yang mempunyai program pendidikan inklusi setidaknya dapat menyelenggarakan sesuai dengan peraturan yang telah dibuat (Kemendikbud, 2012, Kustawan, 2012)

(3) Peserta Didik

Target dari program ini adalah untuk anak-anak yang ada disekolah umum. Setiap peserta didik yang menjadi target disini semua anak yang mempunyai kecakapan dalam belajar, lebih spesifik target pendidikn inklusi adalah setiap anak yang mempunyai latar belakang mental, kelainan fisik, kelainan emosional dan kelaianan sosial, (Kemendikbud, 2012: 40).

(4) Pendekatan Pembelajaran

Pada setiap kelas inklusi dapat dikatakan suatu tempat yang menyenangkan dan merangsang anak untuk belajar disini tenaga pendidik beperan dalam membuat suasana belajar menjadi menarik dan menyenangkan untuk peerta didik (Maftuhatin, 2014: 208).

(5) Proses Pembelajaran

Tercapainya sebuah kegiatan belajar mengajar yang ramah dikarenakan ada sesuatu yang terencana dalam pelaksanaan obervasi dan assesmen, kompetensi dan materi pelajaran disesuaikan dengan potensi atau kebutuhan individu yang bersangkutan, proses pembelajaran yang ramah esensinya pada seorang guru yang memahami setiap anak didiknya sebagai individu yang memiliki keunikan, kemampuan, minat, kebutuhan, dan karakteristik yang berbeda-beda, pemahaman tersebut sangat penting dalam

(5)

menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. (Maftuhatin, 2014:

208).

(6) Sistem Evaluasi

Perubahan dalam kriteria kelulusan adalah bagian dari modifikasi evaluasi, ijazah, sistem kenaikan kelas, bentuk raport dan lain-lain untuk itu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaiamana teknik pada pelaksanaan dari pendidikan inklui, cara penilaian yang diharapkan di sekolah adalah cara penilaian yang fleksibel.

(Maftuhatin, 2014: 209).

(6) Sarpras

Lembaga pendidikan menyelenggaran program pendidikan inklusi mestinya menyediakan sarpras dengan menyesuaikan kebutuhan sekolah akan apa yang diperlukan dalam penyelenggaraan program, sehingga ABK dapat mengikuti pembelajaran dengan baik (Kustawan, 2012: 80). Keberhasilan pelaksanaan pada pendidikan inklusi pada lembaga pendidikan yang menyelenggarakan dapat diukur juga dengan sarpras yang ada sarpras pendidikan inklusi adalah perangkat keras atau perangkat lunak yang dibutuhkan untuk dapat membantu keberhasilan pendidikan inklusi.

(8) Pembiayaan

Pembiayaan menjadi sesuatu yang dibutuhkan dalam penyelenggraan pendidikan inklusi, karena setiap hal yang berkaitan dengan pendidikan inklusi seperi memodifikasi kurikulum, kebutuhan sarpras dan sebagainya membutuhkan pembiayaan agar pendidikan inklusi itu sendiri tetap berjalan dengan lancar

2.4 Evaluasi Program

2.4.1 Pengertian Evaluasi Program

Evalusi progrm biasa digunakan agar dapat mengukur sejauh mana progrm itu berjalan, sebaik apa program itu berjalan, program yang dibuat itu sendiri sudah sama dengan yang diinginkan pmerintah atau belum, jika sudah mencapai target maka program

(6)

yang dibuat bisa dikatakan berhasil, jika belum mencapai target maka akan diperbaiki sistem program tersebut.

Evaluasi jika dalam bahasa inggri evalutation kata-kata ini dimaknai sebagai perbendaharaan istilah dari bahasa Indonesia bertujuan agar dapat dipertahankan dalam ucapan pertamanya dengan menyesuaikan ucapan dalam bahasa Indonesia menjadi

“evaluasi” (Suharsimi Arikunto dan Cepi Safaruddin Abdul Jabar 2014:1). (Suchman 1961, dalam Anderson 1975) yang dikutip dari buku (Suharsimi Arikunto dan Cepi Safaruddin Abdul Jabar 2014:1), mengartikan bahwa evaluasi adalah cara untuk menunjukkan sesuatu yang akahirnya tercapai dalam kegiatan yg telah direncanakan dalam membantu tercapainya sebuah tujun.

Evaluasi program bertujuan untuk mengetahui tingkat sebuah kegiatan untuk menilai sejauh mana program tersebut berjalan hal ini dilakukan dengan sengaja agar dapat terlihat sebuah program tersebut berjalan sejauh mana baik dalam program yang sudah berlangsung atau baru berjalan, (Widoyoko 2013: 10). Artinya, evaluasi program menilai sebuah program yaang mana telah berlangsung ataupun yang masih berjalan hal ini dibuat agar dapat melihat hasil ingin dicapai atau hasil yang telah dicapai dari program yang telah dibuat tersebut.

Suatu evaluasi program harus mengumpulkan informasi yang berguna untuk program yang dievaluasi, informasi yang dapat dipercaya, informasi yang valid, (Tayibnapis 2008). Artinya, evalusi sistem evaluasi program harus dapat dipercaya berdasarkan sumber yang jelas atau dapat diukur dengan sesuatu yang dapat diuji keasliannya.

Dari beberapa teori yang telah dilihat bisa dikatakan kalau evaluasi program adalah sesuatu bisa dibilang wajib dilaksanakan agar dapat melihat suatu program sedang dijalankan atau yang sudah dijalankan, evaluasi program dapat dikatakan berhasil apabila dapat diukur keaslian evaluasinya. Evaluasi program biasanya digunaka secara sengaja untuk melihat bagaimana program tersebut berjalan.

Dengan evaluasi program kita dapat memperbaiki program tersebut jika program itu belum berjalan sesuai dengan rencana karena kita

(7)

dapat mengetahui program tersebut sejauh mana berjalan dengan evaluasi.

2.4.2 Tujuan Evaluasi Program

Evaluasi program memiliki tujuan agar dapat melihat keberhasilan program selama berlangsung, program yang berlangsung harus memiliki tujuan jelas agar dapat dievaluasi dan tujuan dari evaluasi itu sendiri dapat dipahami sebagai evaluator program. (Suharsimi Arikunto dan Cepi Safaruddin Abdul Jabar 2014:18). Jika dilihat dari pandangan yang lebih luas dalam dunia pendidikan penelitian evaluasi dipandang sebagai wadah dalam melengkapi dan mengetes ke aktualisasiannya (Sukmadinata, 2010:

121). Sepemikiran dengan apa yang dikatakan sukmadinata, (Sumarni 2010) mengatakan kalau tujuan dilakukannya evaluasi agar dapat melihat pelaksanaan dalam aktivitas program, sebab evaluator bertujuan agar dapat melihat seperti apa dan bagaiamana program selama ini berlangsung.

Melihat apa yang dikatakan beberapa ahli tersebut bisa disimpulkan kalau tujuan evluasi memang dikatakan utnuk melihat keterlaksanaan program. Sejauh mana program terlaksana, apakah tujuannya sudah tercapai atau belum, disana akan dilihat tujuan programnya mengarah kehal apa dan bagaimana.

2.4.3 Manfaat Evaluasi Program

(Suharsimi Arikunto dan Cepi Safaruddin Abdul Jabar 2014:

21), Dalam lembaga pendidikan supervisi menjadi faktor penting dalam melakukankan kegiatan akan tetapi dalam melaksanakan program evaluai menjadi hal yang paling penting untuk dapat melihat sejauh mana keberhasilan program, supervisi dan evaluasi dapat disamartikan, jika supervisi tujuannya untuk melihat agar dapat melakukan pembinan, maka evaluasi dapat dipahami sebagai sebuah langkah pertama dalam supervisi.

(8)

Jika evaluasi telah dilakukan maka dapat diambil bebeberapa keputusan untuk memperbaiki program seperti (1) menghilangkan program yang sudah berlangsung karena program yang dibuat tidak berdampak positif pada lembaga pendidikan, (2) memperbaiki program sebab ada hal-hal yang perlu diperbaiki, (3) meneruskan program sebab program yang telah dibuat memiliki dampak positif terhadap lembaga pendidikan yang melaksankannya, (4) menyampaikan program ke luar lembaga pendidikan yang melaksanakan sebab apa yang telah dilakukan berhasil dan memungkinkan untuk dilakukan lagi ditempat lain dalam waktu yang akan datang, (Arikunto dan Jabar 2009).

Melihat beberapa teori tersebut dapat dikatakan evaluasi program memiliki manfaat sangat banyak sekali salah satunya manfaat dari evaluasi program adalah untuk melihat sejauhmana program yang telah dibuat berjalan. Berhasil atau tidaknya program dapat diketahui setelah melakukan evaluasi. Manfaat evaluasi juga dapat membuat seseorang mengambil kebijakan atau sebuah keputusan terhadap program yang mereka jalankan.

2.5 Model Evaluasi Kesenjangan (Discrepancy Evaluation Model) Banyak model evaluasi yang tersedia, ketika melakukan sebuah evaluasi model evaluasi menjadi faktor penting dalam penulisan evaluasi program. Pemilihan yang tepat menjadi kunci atas keberhasilan penulisan tentang evaluasi program. Maka dari itu dengan menyesuaikan judul yang telah dibuat peneliti mencoba menggunakan model kesenjangan untuk membantu penulisan evaluasi program.

Evaluasi kesenjangan seperti yang telah diketahui sebagaiamana dikembangkan oleh Malcolm Provuys (1971) dalam sebuah buku yang ditulisnya dengan judul Discrepancy Evaluation dia memiliki kepercayaan kalau evaluasi itu sebagai arts untuk menggambarakan antara realita yang sedang berlangsung dengan peraturan yang telah dibuat, (Wirawan, 2012: 106). Model yang telah dikembangkan oleh malcom provus itu sendiri menentukan

(9)

untuk melihat kesenjangan pada program yang telah dilaksanakan, evaluasi lebih menekankan kepada kesenjangan yang terjadi dimana sebenarnya menjadi faktor umum pada setiap pelaksanaan kegiatan evaluasi yaitu melihat apa yang terjadi antara ingin digapai dan sudah digapai (Arikunto & Jabar, 2009: 48).

Malcolm Provus melihat kalau evaluasi adalah sebuah cara yang luas untuk; (1) perjanjian atas penunjang hal tertentu; (2) memastikan kalau ada atau tidak adanyan kesenjangan yang terlihat diantara perpormasi dan aspek program dengan perangkat tandar tertentu (3) dasar sebagai sebuah keputusan untuk meningkatkan, meneruskan atau memberhentikan program yang telah dibuat (Fitzpatrick, Sanders & Worthen dalam Wahyu, 2015: 182).

Apa yang telah dikatakan tersebut akhirnya membuat peneliti melihat jika model ini mempunya beberapa keunggulan yaitu: (1) model tersebut mrupakan prosedur dalam problem solving, (2) dapat membandingkan apa yang dicapai oleh program, (3) dapat melahirkan pendapat yang diperlukan jika program memiliki kendala, sesuai dengan standar yang telah dibuat, (4) dapat membantu untuk mengidentifikasi standar yang akan dibuat kedepannya.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa tahap desain mengevaluasi mencakup rencana tujuan yang lebih umum tentang penyelenggaraan, siswa-siswi, sistem assesmen pembelajaran, kurikulum, guru, rencana pembelajaran, sarpras, pembiayaan, dan masyarakat yang mendukung. Sedangkan pada tahap instalasi mengevaluasi mencakup sosialisasi, penyiapan guru, rencana pengembangan kurikulum, rencana pendeteksi ketunaan, penyiapan sarana dan prasarana, dan anggaran. Sedangkan untuk tahap proses mengevaluasi pendeteksi ketunaan, pengembangan kurikulum, pengangkatan guru pendamping khusus, proses belajar, dan kenaikan kelas. Serta yang terakhir pada tahap produk mengevaluasi produk yang dihasilkan seperti hasil belajar, raport, ujian, ijazah, dan lulusan.

2.6 Penelitian Yang Relevan

(10)

Disini adalah penelitian terdahulu yang diambil sebagai penelitian relavan, dengan melihat dan menimbang apakah penelitian terdahulu cocok untuk dijadikan refrensi, jika semua sudah ditentukan dan dianggap cocok untuk dijadikan refrensi maka langkah selanjutnya adalah menyandingkan beberapa penelitian terdahulu agar dapat dijadikan refrensi sebagai berikut;

Yanuet Indah Z.T tahun 2014 dengan judul Evaluasi Program Pendidikan Inklusif Slow Learner di SD Negri Pulutan 02 Salatiga dengan menggunakan model Evaluasi Kesenjangan atau Descrepancy Model, menemukan pada tahap desain terdapat kesenjangan pada variabel tenaga pendidik hal ini disebabkan hanya terdapat satu orang GPK disana dikarenakan sekolah belum menentukan untuk jumlah kebutuhan GPK, hal lain yang terjadi pada kesenjangan tenaga pendidik yaitu masih kurang dukungan pendamping serta pelatihan lanjutan dibidang pendidikan inklusif, selain itu juga terdapat kesenjangan pada variabel peserta didik karena belum adanya alat ukur variabel kecakapan personal/lingkungan, dan kesenjangan pada tahap dukungan masyarakat terjadi karena belum pernah dilakukan pengukuran tingkat kepuasan dari masyarakat, orangtua dan komite. Sedangkan pada tahap instalasi terdapat kesenjangan pada variabel tenaga pendidik guru masih mengandalkan pengalaman yang di milikinya yang mayoritas berbasis materi karena belum ada panduan pembelajaran untuk siswa slow learner yang diberikan dari sekolah, GPK masih kurang baru terdapat 1 orang GPK, terdapat kesenjangan juga pada variabel kegiatan pembelajaran belum adanya perangkat pendukung untuk kegiatan pembelajaran dimana perangkat pembelajaran masih bersifat umum, serta terdapat kesenjangan pada variabel sarana dan prasarana belum adanya sarpras penunjang untuk ABK. Selanjutnya terdapat kesenjangan pada tahap proses yaitu pada variabel kegiatan belajar mengajar yang belum ideal komposisi antar guru, guru mata pelajaran, dan guru kelas, ketersedian alat-alat sarana secara umum masih mendominasi ketimbang sarana secara khusus bagi ABK. Kemudian terdapat kesenjangan pada tahap

(11)

produk, meskipun kuwalifikasi kenaikan kelas sudah 100% tetapi penilaian kemampuan secara sosial, lingkungan dan prilaku anak belum diukur dalam satu instrumen pengukuran yang baik.

Penelitian lain juga dilakukan Paramita Isabella, Emosda, Suratno tahun 2014 dengan judul Evaluasi Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi Bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus Di SDN 131/IV Kota Jambi dengan menggunakan model CIPP dia mendapati kalau lulusan terdahulu ABK tidak mengalami perkembangan yang begitu signifikan sebab pelaksanaannya pada saat itu maih menggunakan model maintriming. ABK dan anak normal tidak dipisahkan didalam kelas kedalam kelompok tertentu.

Kegiatan belajar mengajar ABK disekolah tidak dibuat pendekatan dimana seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

Akan tetapi kenyataan guru maih menggunakan metode yang sama terhadap semua siswa.

Rika Widyawati tahun 2016 dengan judul evaluasi pelaksanaan program inklusi di SD Negri Klero 02 Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang dengan menggunakan model CIPP menemukan bahwa diperoleh kuranglebih komponen pada saat melakanakan program ada yang perlu mendapatkan perhatian yaitu;

pada tahap komponen input, belum tersdianya sarpras khusus untuk ABK hal ini disebabkan karena kurangnya dana dalam pembiayaan program sehingga kebutuhan akan sarpras belum terpenuhi, guru tidak memiliki pelatihan khusus disekolah dan diluar sekolah hal ini disebabkan karena masih banyaknya kegiatan yang harus dilakukan leh guru-guru, skolah tidak mempunyai guru yang berlatar belakang GPK. Pada tahap komponen process, anggaran dalam melaksanakan sebuah program disekolah menggunakan dana BOS hal ini disebabkan belum adanya dana yang dibrikan pemerintah terhadap sekolah sehingga sekolah terpaksa menggunakan dana bos dalam pendanaan program pendidikan inklusi, dinas belum pernah mngunjungi sekolah untuk seecara langsung untuk melakukan monitoring hal ini disebabkan karena kurangnya komunikasi dan perhatian dinas terkait.

(12)

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Latifa Garnisti Rifani tahun 2016 dengan judul Evaluasi Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Bagi Anak Berkebutuhan Khusus di SD Negeri Bangunrejo 2 Yogyakarta dengan menggunakan model evaluasi kesenjangan (Discrepancy Evaluation Model) dia menemukan jika yang terjadi dilapangan terdapat beberap hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah kurangnya tenaga pendidik yang berlatar belakang GPK sehingga dirasa ini menggangu dalam perkembangan program, selain itu terdapat masalah pada minimnya pengetahuanj guru reguler terhadap program yang sedang diajalankan. Pada kedelapan standar pendidikan inklusi maih terdapat masalah.

Penelitian yang dilakukan oleh Erna Ervianti, Patahuddin, Baso Intang Sappaile tahun 2018 dengan judul Evaluasi Pelaksanaan Program Pendidikan Inklusi di SD Negeri Kalukuang III Kota Makassar dengan menggunakan model evaluasi kesenjangan (Discrepancy Evaluation Model) menemukan bahwa (1) pada komponen perencanaan pembelajaran terdapat kesenjangan (3) Sarana dan prasarana terdapat kesenjangan (4) Kompetensi lulusan siswa belum memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh sekolah tersebut sebagai pelaksana pendidikan inklusi. (5) Standar penilaian yang digunakan dalam pendidikan inklusi di SD Negeri Kalukuang III Kota Makassar belum sesuai dengan standar kriteria minimum program.

Penelitian lain juga dilakukan oleh Hastina dan Harahap (2018), dengan judul penelitian “Evaluasi Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Di SDN Medan Marelan” menggunakan model kesenjangan (descrapancy model) dengan hasil penelitian menyimpulkan bahwa yaitu terdapat beberapa kompenen dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif yang perlu mendapat perhatatian untuk refleksi dan perbaikan dari hasil evaluasi dari komponen berikut ; (a) Tenaga Pendidik khusus untuk guru pendamping khusus (GPK). (b) Saranan dan Prasana yang belum menyesuaikan kebutuhan ABK secara keseluruhan. (c) Keuangan/Dana dari pemerintah untuk penyelenggara pendidikan

(13)

inklusif. (d) Evaluasi untuk soal Ujian Nasional (UN) khusus untuk sisiwa ABK di sekolah reguler.

Penelitian lain juga dilakukan Novi Erkana tahun 2016 dengan judul Evaluasi Program Pendidikan Inklusi SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta dengan menggunakan model CIPP menemukan bahwa pada aspek konteks sub indikator yang belum sesuai dengan standar penylenggaran adalah pada tahap dukungan masyarakat karena masih banyak masyarakat yang tidak terlalu peduli dengan adanya program pendidikan inklusi. Pada aspek input terdapat prmasalahan pada visi misi dan tujuan penyelenggaraan pendidikan inklusi belum tertulis secara jelas hanya secara trsirat saja. Pada aspek proses terdapat permasalahan bagian kurikulum dimana kurikulum yang ada hanya fleksible dalam penilaian saja, selain itu juga terdapat permalasalahan pada RPP, Silabus tetap disamakan, peserta didik defabel dituntut harus bisa lbih menysuaikan karena dalam proses pembelajaran smua dianggap sama, GPK tidak dilibatkan dalam penentuan kurikulum, penyusunan RPP dan Silabus. Sedangkan pada tahap produk terdapat permasalahan pada sub indikator dampak bagi masyarakat dimana prestasi yang dihasilkan peserta didik difabel belum banyak diketahui masyarakat luas masih banyak masyarakat yang apatias dengan peserta didik difabel, masih banyak peserta didik yang tidak dilibatkan pada event-event dimasyarakat.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Eni Mariani tahun 2017 dengan judul Evaluasi Pelaksanaan Program Pendidikan Inklusi di SMP Negeri 7 Salatiga dengan menggunakan model evaluasi kesenjangan (Discrepancy Evaluation Model) menemukan bahwa terdapat beberapa komponen dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif yang perlu mendapatkan perhatian untuk refleksi dan perbaikan yaitu; (a) assasmen, pada tahap assesmen terdapat kesenjangan hal ini disebabkan karena belum ada rencana penilaian khusus bagi anak berkebutuhan khusus (b) kurikulum, Belum ada rencana modifikasi kurikulum bagi anak berkebutuhan khusus (c) tenaga pendidik, Guru masih mengalami kesulitan dalam

(14)

menangani anak berkebutuhan khusus (d) Rencanan kegiatan pembelajaran, Belum ada rencana pembelajaran yang dikembangkan dan masih menggunakan metode umum (e) sarana dan prasarana, Sarana dan prasarana untuk kebutuhan anak berkebutuhan khusus masih kurang memadai (f) pembiayaan, karena menggunakan dana BOS dan sebagian dana dari orangtua anak berkebutuhan khusus sementara dari pemerintah belum memenuhi kebutuhan pembiayaan program (g) dukungan masyarakat, Hanya mendapat dukungan dari sebagian orangtua anak berkebutuhan khusus dan beberapa instansi, namun belum maksimal (h) peserta didik, Sekolah menerima anak normal dan ABK tidak ada tes yang di rancang saat penerimaan peserta didik (i) kegiatan belajar siswa, ABK dan anak normal belajar bersama. Terkadang ABK mengalami kesulitan karena tidak mendapatkan layanan khusus saat proses pembelajaran berlangsung (j) kegiatan mengajar guru, Guru memberikan materi pembelajaran secara umum dan belum didesain dengan mempertimbangkan adanya ABK dan GPK belum bisa sepenuhnya melakukan pendampingan terhadap ABK (k) kegiatan pembelajaran, ABK masih mendapat dan mengikuti materi yang sama dengan anak normal. (l) raport, Peni laian untuk rapot anak berkebutuhan khusus masih sama dengan anak normal.

Penelitian yang dilakukan oleh Lukitasari (2017) dengan judul

“Evaluasi Implementasi Kebijakan Pendidikan Inklusi di Kota Salatiga”. Hasil penelitian memperlihatkan kalau pelaksanaan peraturan pendidikn inklusf di Salatiga berjalan sesuai rencana, bahkan lebih dari 50 %. Sumber daya merupakan sebuah aspek komunikasi yang paling baik. Nampak bahwa dalam pelaksanaan ini ketika setiap tahunnya jumlah ABK masuk kesekolah terus meningkat serta diskriminasi mengalami penurunan terhadap ABK oleh teman sebaya maupun guru serta masyarakat.

Dari beberapa penelitian terdahulu nampak bahwa program pendidikan inklusi yang telah dijalankan memilki hambatan dalam proses pelaksanaannya hal ini nampak pada setiap peenelitian yang pernah dilakukan oleh beberapa penelitian terdahulu bahwa setiap

(15)

program pendidikan inklusi yang dijalankan mengalami masalah pada tahap pelaksanaannya masing-masing.

Dari beberapa penelitian diatas dapat ditarik kesimpulan tentang pendidikan inklusi, berangkat dari sana penulis tertarik untuk melakukan penelitian. Beberapa dari hasil penelitian terdahulu mempunyai perasamaan dan perbdaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti. persamaan yang dimaksud adalah tentang evaluasi program dimana peneliti juga melakukan penelitian evaluasi program pendidikan inklusi. Namun terdapat perbedaan seperti lokasi penelitian, hasil penelitiana, termasuk model yang digunakan.

2.7 Kerangka Berpikir

Peneliti mencoba melakukan evaluasi sebuah program yang sedang berjalan dalam satuan lembaga pendidikan yang ada di SD Negeri Bendungan agar dapat mengetahui bagaimana program tersebut berjalan, apakah sudah memenuhi standar dari pemerintah atau belum dan bagaimana efektivitas program tersebut berjalan.

Tujuan penelitian ini untuk melihat kenyataan dilapangan bagaimana program tersebut berjalan. Sesuai dengan standar pemerintah Permendiknas No 70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusi melalui empat komponen yaitu tahap desain, instalasi, proses dan produk dalam model evaluasi kesenjangan. Maka dari itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi dampak nyata terhadap SD Negeri Bendungan yang melakukan program pendidikan inklusi.

Jika ditemukan keganjilan dalam realita pelaksaan maka perlu adanya perbaikan terhadap program tersebut, jika sudah sesuai dengan rencana awal pemerintah dan sekolah maka akan dipertahankan. Hasil ini diharapkan dapat memberikan dampaknya dan akan disimpulkan agar dapat membantu program yang sedang berjalan.

Berikut adalah kerangka berfikir:

(16)

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir

Program Pendidikan Inklusi di SD Negri Bendungan Evaluasi

Keadaan nyata program pendidikan inklusi di SD Negri

Bendungan Permendiknas No 70 Tahun

2009 tentang Pendidikan Inklusi

Model - Evaluasi Kesenjangan

Hasil Evaluasi

Tidak Sesuai Sudah sesuai

Diperbaki Tetap dipertahankn

Kesimpulan dari hasil yang ditemukan untuk direkomendasikan

SD Negri Bendungan

Gambar

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

Biodata Semiloka dan Lokakarya Nasional Tahun 2013 Forum Komunikasi Jurusan/Prodi Pendidikan Luar Sekolah Hotel Pelangi Malang,

Dengan demikian maka hipotesis Ho ditolak dan terima Ha yang menyatakan bahwa “terdapat hubungan yang segnifikan antara sumber daya alam dengan pertumbuhan ekonomi pada usaha

Kita ambil satu contoh untuk kayu asam (Tamarindusindica) setelah maraknya penggunaan kayu asam sebagai bahan pengomprongan maka manfaat langsung berupa buahnya

Kustodian Sentral Efek Indonesia announces ISIN codes for the following securities :..

Berdasarkan ringkasan uraian sasaran, kebijakan dan program pada Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Tegal ternyata sasaran,

Penelitian ini mencoba memberikan sebuah alternatif model administrasi rawat jalan dengan menggunakan sistem informasi dengan arsitektur aplikasi client/server

Berdasarkan kajian mengenai stail nyanyian Saloma daripada perpektif teknik vokal klasikal barat dari pengunaan vokal register yang telah dibincangkan didalam kajian ini,

Kemampuan literasi matematika mahasiswa setelah menggunakan model Problem Based Learning melalui during sebesar 71,15% dengan kategori sedang, dan untuk