• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesehatan dan keselamatan kerja (k3) listrik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kesehatan dan keselamatan kerja (k3) listrik"

Copied!
205
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Kesehatan dan keselamatan kerja (k3) listrik

DISAMPAIKAN OLEH

DR. WALUYO, ST., MT.

TEKNIK ELEKTRO

ITENAS BANDUNG

(3)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

Apakah anda pernah kesetrum ?

Electrical Hazards

(4)

BAHAYA LISTRIK TERHADAP MANUSIA

SEBAB-SEBAB :

1. Aliran arus listrik

2. pengaruh medan magnit

3. Kesalahan mekanik perlengkapan listrik 4. Bunga api Listrik

5. kombinasi

(5)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

Faktor Yang Mempengaruhi Keparahan Pada Cedera Akibat Listrik

 Voltage/Kekuatan listrik (beda potensial)

 Amper (Arus Listrik)

 Type Arus/jenis aliran (searah/bolak-balik)

 Lama Kontak == banyaknya energi yang terserap

 Daerah / bagian tubuh yang kontak (Tahanan)

 Jalan Arus

 Banyaknya Jaringan Resistance

 Kandungan Air Dalam Jaringan

 Kondisi phisik dan kejiwaan (perubahan tahanan)

(6)

Jaringan Penghantar Listrik

1. Jaringan konduktor

• Pembuluh darah

• Otot

2. Jaringan tidak konduktor

• Tulang

• Kulit kering

• Syaraf tepi

(7)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

Akibat Sengatan listrik

Arus searah dan Bolak-balik

1. Akibat arus searah :

– Perubahan elektrolit.

2. Akibat Arus bolak-balik – Kejang otot

– Berkeringat

– Kerusakan jaringan

– Vertrikel fibrilasi sampai henti jantung, otak kurang O2 dan meninggal.

– Voltage dan freq. 100 v & 60 Hz menyebabkan

ventrical fibrilation

(8)

0,5 ma Dirasakan

Lebih dari 3 ma painful shock

Lebih dari 10 ma

Kontraksi otot “no-let-go” danger, 0,1 dtk tdk tjd gangguan, 0,5 dtk kelumpuhan sementara, pernafasan, pingsan, 1 dtk ventricel fibrilasi.

Lebih dari 30 ma

lung paralysis- usually temporary

Lebih dari 50 ma

possible ventricular fib. (heart dysfunction, usually fatal)

100 ma sampai 4 amps

certain ventricular fibrillation, fatal

Lebih 4 amps

Akibat Sengatan Listrik

(9)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

RASIO JUMLAH PETUGAS P3K DI TEMPAT KERJA DENGAN JUMLAH PEKERJA BERDASARKAN

KLASIFIKASI TEMPAT KERJA

Klasifikasi Tempat Kerja Jumlah pekerja Jumlah petugas P3K Tempat kerja dengan

potensi bahaya rendah 25 – 150 org 1 org

>150 1 orang untuk setiap 150 orang atau kurang

Tempat kerja dengan

potensi bahaya tinggi ≤100 1 orang

>100 1 orang untuk setiap 100 orang atau kurang

(10)

REKOMENDASI MINIMUM ISI KOTAK P3K BENTUK II

No. I S I Kotak A

(Untuk 25 Pekerja atau

kurang)

Kotak B (untuk 50 Pekerja atau

kurang)

Kotak C (untuk 100 Pekerja atau

kurang) 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15 16 17.

18.

19.

20.

21.

Kasa steril terbungkus Perban (lebar 5 cm) Perban (lebar 10 cm) Plester (lebar 1,25 cm) Plester Cepat

Kapas (25 gram) Kain segitiga/mittela Gunting

Peniti

Sarung tangan sekali pakai (pasangan) Masker

Pinset

Lampu senter

Gelas untuk cuci mata Kantong plastik bersih

Aquades (100 ml lar. Saline) Povidon Iodin (60 ml)

Alkohol 70%

Buku panduan P3K di tempat kerja Buku catatan

Daftar isi kotak

20 2 2 2 10

1 2 1 12

2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

40 4 4 4 15

2 4 1 12

3 4 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1

40 6 6 6 20

3 6 1 12

4 6 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1

(11)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

Jumlah Pekerja Tipe Kotak

P3K

Jumlah Kotak Tiap 1 (satu) Unit Kerja Kurang 25 A 1 Kotak A

26 s.d 50 A/B 1 Kotak B atau 2 kotak A 51 s.d 100 A/B/C 1 kotak C atau,

2 kotak B atau, 4 kotak A atau,

1 kotak B dan 2 kotak A Setiap 100 A/B/C 1 kotak C atau,

2 kotak B atau, 4 kotak A atau,

1 kotak B dan 2 kotak A

Catatan :

1. 1 kotak B setara dengan 2 kotak A.

2. 1 kotak C setara dengan 2 kotak B

JUMLAH DAN TIPE KOTAK P3K

(12)

Melindungi :

- Tenaga kerja dan orang lain - Asset perusahaan &

- Lingkungan tempat kerja

(13)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

UNDANG UNDANG NO 20 TH 2002

KETENAGALISTRIKAN

UNDANG UNDANG NO 1 TH 1970

KESELAMATAN KERJA

(14)

Tujuan K3 Listrik

1. Menjamin kehandalan instalasi listrik sesuai tujuan penggunaannya.

2. Mencegah timbulnya bahaya akibat listrik

N

bahaya sentuhan langsung

N

bahaya sentuhan tidak langsung

N

bahaya kebakaran

(15)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

Dasar hukum :

Undang undang No 1 tahun 1970 Keselamatan Kerja

Pasal 2 ayat (1) huruf q

(Ruang lingkup)

Setiap tempat dimana listrik

dibangkitkan, ditranmisikan,

dibagi-bagikan, disalurkan dan

digunakan

(16)

Dasar hukum :

Undang undang No 1 tahun 1970 Keselamatan Kerja

Pasal 3 ayat (1) huruf q (Objective)

Dengan peraturan perundangan

ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk:

q. mencegah terkena aliran listrik

berbahaya

(17)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

Bahaya kejut listrik

• Langsung

• Tidak langsung

E (Volt) 90 100 110 125 140 200

I (mA) 180 200 250 280 330 400

t (detik) 1,0 0,8 0,6 0,4 0,3 0,2

(18)

Sentuhan langsung

adalah bahaya sentuhan pada bagian konduktif yang secara normal

bertegangan

Sentuhan tidak langsung

adalah bahaya sentuhan pada bagian

konduktif yang secara normal tidak

bertegangan, menjadi bertegangan

karena terjadi kegagalan isolasi

(19)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

• Proteksi dari kejut listrik

• Proteksi dari efek thermal

• Proteksi dari arus lebih

• Proteksi dari tegangan lebih akibat petir

• Proteksi dari tegangan kurang

• Pemisahan dan penyakelaran

SISTEM PROTEKSI UNTUK KESELAMATAN

(BAB III)

(20)
(21)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

Tegangan sentuh yang berbahaya:

N > 50 V a.b. di ruang normal,

N > 25 V a.b. di ruangan lembab

SISTEM PROTEKSI UNTUK KESELAMATAN (BAB III)

• Proteksi dari kejut listrik

• Proteksi dari efek thermal

• Proteksi dari arus lebih

• Proteksi dari tegangan lebih akibat petir

• Proteksi dari tegangan kurang

• Pemisahan dan penyakelaran

(22)

PROTEKSI BAHAYA

SENTUHAN LANGSUNG

Metoda :

1. Isolasi bagian aktif

2. Penghalang atau Selungkup 3. Rintangan;

4. Jarak aman atau diluar jangkauan 5. Gawai proteksi arus sisa

6. Isolasi lantai kerja.

(23)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

Pembebanan lebih

Sambungan tidak sempurna

Perlengkapan tidak standar

Pembatas arus tidak sesuai

Kebocoran isolasi

Listrik statik

Sambaran petir

(24)

PROTEKSI BAHAYA

SENTUHAN LANGSUNG

Jarak aman atau diluar jangkauan

Tegangan kV Jarak cm

1 50

12 60

20 75

70 100

150 125

220 160

500 300

(25)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

INSTALASI LISTRIK SEDERHANA (Sistem pasa satu 3 kawat)

M

PENGAMAN

1. PEMBATAS ARUS 2. PEMUTUS

3. GROUNDING 4. SEKERING

5. KOTAK KONTAK 6 TUSUK KONTAK 7. POLARITAS

1

3

4

5

6 2 7

(26)

POLARITAS INSTALASI LISTRIK (Sistem pasa dua 2 kawat)

M

SEKERING

TIDAK AMAN AMAN

(27)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

+ + + + + + + + + + + + + + + + +

- - - - - - - - - - - -

+ + + + + + + + + + + + + + + + +

- - - - - - - - - - - - PELEPASAN MUATAN LISTRIK

- DARI AWAN KE AWAN

- DARI AWAN KE BUMI

(28)

Sasaran

OBYEK YANG TERTINGGI

Arus : 5.000 ~ 200.000 A Panas: 30.000

o

C

AWAN KE AWAN

AWAN KE BUMI

KERUSAKAN

THERMIS,

ELEKTRIS,

MEKANIS,

(29)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

Instalasi penyalur petir yang tidak

memenuhi syarat dapat mengundang bahaya

Grounding tidak sempurna Berbahaya

(30)

++++++++

++++++++

++++++++

--- ---

---

- - - - - - - - - - - -

+++++++

+++++++

+++++

+++++++

+++++++++

+++++++

- - - - - - - -

- - - - - DARI AWAN

KE AWAN DARI AWAN

KE BUMI

MENYAMBAR JARINGAN LISTRIK

(31)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

BAHAYA SAMBARAN PETIR

• SAMBARAN LANGSUNG

• SAMBARAN TIDAK LANGSUNG

KERUSAKAN

PADA ALAT ELEKTRONIK

(32)

KONSEPSI PROTEKSI BAHAYA SAMBARAN PETIR

PERLINDUNGAN SAMBARAN LANGSUNG

Dengan memasang instalasi penyalur petir pada bangunan

Jenis instalasi :

- Sistem Franklin

- Sistem Sangkar Faraday - Sistem Elektro statik

PERLINDUNGAN SAMBARAN TIDAK LANGSUNG

Dengan melengkapi peralatan penyama tegangan

pada jaringan instalasi listrik (Arrester)

(33)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

INSTALASI PENYALUR PETIR PERMENAKER PER-02 MEN/1989

PENERIMA

(AIR TERMINAL)

HANTARAN PENURUNAN (DOWN CONDUCTOR)

SISTEM FRANKLIN

BAGIAN BAGIAN PENTING

(34)

PROTEKSI PETIR SYSTEM INTERNAL

ARRESTER

RSTN RSTN

Semua bagian konduktif dibonding

Semua fasa jaringan RSTNG dipasang Arrester

Bila terjadi sambaran petir pada jaringan instalasi listrik semua kawat RSTN

tegangannya sama tidak ada beda potensial

(35)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

BANDUNG 34343434343434

MACAM MACAM ALAT UKUR & FUNGSINYA

(36)

AMPERE METER

(37)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

BANDUNG 36363636363636

VOLT METER

(38)

COS  METER

(39)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

BANDUNG 38383838383838

FREKUENSI METER

(40)

KW METER

(41)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

BANDUNG 40404040404040

WATT METER

BEBAN V

2 4

1 3

A

(42)

KWH METER

(43)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

BANDUNG 42424242424242 JTM 20

MEGGER

MEGGER

(44)

Phase Sequence

(45)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

BANDUNG 44444444444444

Earth Tester

(46)

MENGGAMBAR INSTRUMEN

MATERI

PENDAHULUAN

PERPIPAAN

PROSES

INSTRUMEN

EQUIPMENT

VALVE

BILL OF MATERIAL

FLOW SHEET DIAGRAM

IDENTIFIKASI DAN SIMBOL

P&ID

NANDANG

TARYANA, MT

REFERENSI

Perencanaan dan Penggambaran Sistem Perpipaan (Raswari)

Instrument Handbook (Liptak)

Standart (ISA, API, ASME dll)

(47)

P&ID means “Piping and Instrumentation Diagram”

Gambar Instrumentasi dan Perpipaan dari suatu proses (yang terdiri dari perpipaan, proses, pengukuran, pengendalian dan safety/keselamatan)

Lebih mudah dari gambar teknik (sedikit lebih fleksibel aturan penggambarannya)

Bagian tidak terpisahkan dari seluruh gambar untuk pabrik/industri

Bentuk gambar (2D, 3D berikut dengan data base setiap komponen gambar/hubungan antar komponen/pipa)

Guna  KP, TA dan tes awal masuk kerja !!!!

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(48)

P&ID Requirement

OWNER

By engineer

1. Public Requirement 2. Feasibility Study

DOKUMEN TENDER Pabrik Baru (mis: Power Plant)

EPC/

Company Proposal & Bidding

WIN Start to

Work

DESIGN General

& Detail P&ID, PFD, Wiring, Hook Up, BOM etc

Consultant Sub-Con

CIVIL PROCESS

PIPING

Soft Start, FAT,

Comissioning, Start-up, Comissioning

(49)

OWNER

EPC, PT, CV dll

Vendor/

Distributor

Consultant Sub-con

DESIGN

CIVIL WORK CONSTRUCTION

PROCESS/CHEMICAL MECHANICAL

ELECTRICAL

INSTRUMENT Berdasar wawancara dengan beberapa

Alumni dihampir sub obyek diatas ie dapat

Terlibat sesuai peran dan peruntukan dalam skup instrumen PLN, Pertamina, Ipmomi

PGN, Pelindo, Total etc

IKPT, Tri Patra, Rekin

Kota Minyak, Truba Jurong Yokogawa

Control Sistem Yamatake

Honeywell etc

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(50)

Proces-Control Requirement and Management Owner (Government, Company,

People…maybe somebody)  rich Need, Requirement

(Increasing Electricity, Energy..etc)

Penawaran Dokumen Tender (Terbuka, PL, Bebas..etc)

EPC & Company with proper qualification (buy document and make a proposal)

Price, PFD, simple detail P&ID

Win  almost with the lowest

total price requirement Detail Proposal Discussion & Revision

DP (Termin)  start to build any process

manufacture

(51)

UNTUK MENGGAMBAR SIMBOL-SIMBOL INSTRUMENTASI MEMPERGUNAKAN STANDARD

“INSTRUMENT SOCIETY OF AMERICA”

ATAU

“ISA STANDARD”

YAITU ANSI/ISA-S5.1-1984 (R 1992)

MENGENAI INSTRUMENT SYMBOLS AND IDENTIFICATION.

SIMBOL INSTRUMENTASI TERDIRI DARI :

 LINE INSTRUMENT SYMBOLS.

 INSTRUMENT FUNCTION SYMBOLS.

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(52)

P&ID/Menggambar Instrumen

Proses/Equipment/Unit

Instrumen (Alat Ukur, Monitoring, Kontrol dan Safety)

Pipa (penghubung antar proses)

Tubing (penghubung pipa/proses ke instrumen)

Wiring/sinyal (Penghubung instrumen ke sistem kontrol PLC/DCS)

Logika Kontrol (aksi kontrol yang disesuaikan dengan kondisi proses)

“sering disebut narasi kontrol”

(53)

DOCUMENT P&ID

1. Legalisasi dan copyright designer

2. PFD (Process Flow Diagram) menyatakan unit/proses yang terlibat dan hubungannya dimulai dari bahan (raw material) sampai produk. Berisi informasi mass balance (properties yang masuk/keluar)

3. P&ID (Simbol dan sinyal/wiring)

4. Loop Diagram (bagaimana menggambarkan proses aliran sinyal dari field instrumen  sistem kontrol PLC/DCS  kembali ke aktuator kontrol valve

5. Wiring Diagram (logika kontrol yang bekerja)

6. BOM (Bill of material) kebutuhan peralatan disertai harga pembelian 7. Hook Up Drwaing (Gambar 3 Dimensi instrumen dan proses)

“ MOST OF THEM ARE BASED FROM ISA STANDART”

Open the PLTGU

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(54)

ILUSTRASI

(55)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(56)

Instrumentation identification

V1528 FIC

S

tag name of the corresponding

variable here: V1528

function (here: valve)

mover

(here: solenoid)

The first letter defines the measured or initiating variables such as Analysis (A), Flow (F), Temperature (T), etc. with succeeding letters defining readout, passive, or output

functions such as Indicator (I), Record (R), Transmit (T), see next slides, here: flow indicator digital

(57)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(58)

sinyal pneumatic dan sinyal electric

(59)

BENTUK INSTRUMEN DI LAPANGAN

PENGENDALI PNUMATIK DI LAPANGAN PENGENDALI DI PANEL

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(60)

Pengendali digital di dalam panel (FCU) Panel pengendali digital

(61)

Indikator analog Indikator digital

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(62)

KATUP KENDALI ATC KATUP KENDALI ATO

(63)

PIPING AND INSTRUMENTATION DIAGRAM (P&ID)

P&ID BIASA JUGA DISEBUT DENGAN MECHANICAL FLOW DIAGRAM (MFD).

PROCESS FLOW DIAGRAM ( PFD ) ADALAH

MERUPAKAN DIAGRAM YANG MENGGAMBARKAN ALIRAN PROSES SECARA DETAIL,

TERDIRI DARI PERALATAN POSES YANG BERUPA PIPA BESERTA UKURANNYA, FITTING, VALVE, INSTRUMENT

DAN CONTROL VALVE.

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(64)
(65)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(66)
(67)

LOOP DIAGRAM MENGGAMBARKAN DIAGRAM PENSINYALAN INSTRUMENTASI YANG DIMULAI DARI

PROSES LAPANGAN SAMPAI DI CONTROL PANEL.

BERDASARKAN ANSI/ISA-S5.4-1991, LOOP DIAGRAM DIBAGI MENJADI BEBERAPA BAGIAN BERDASARKAN DARI

INSTRUMENT YANG DIPASANG, ANTARA LAIN :

LOOP DIAGRAM

•FIELD PROCESS AREA

•SPREADING ROOM

•CABINET

•CONTROL PANEL

•CONSOLE

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(68)

Positioner

Actuator



Sensor

Set Point Controller

4-20 ma

(69)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(70)
(71)

V - 1001S

HP SEPARATOR

10X6 V - 1001S TO ISO-01-PP-LL

10 X 8

143-A-

6" 10X8

142-A-6"

168-A-10"

UNDER GROUND TO ISO.23-PP-LL

To ReRun

To Dehydrator To H.E

19

PL-4

8

7 2

2

2 3

2 5

2 6

2 7 2

8

2 9

3 0

3 1

3 2

3 3

3 4 6

1 0 1

2 1

1 Hook-up

Drawing

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(72)

21 43

8

7

5

6

Hook-up Drawing

(73)

Bill of Material (BOM)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(74)
(75)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(76)

PENGGUNAAN MATEMATIKA DASAR PADA INSTRUMENTASI INDUSTRI

Oleh: Kania Sawitri, M.Si.

PENGABDIAN PADA MASYARAKAT JURUSAN TEKNIK ELEKTRO ITENAS 23 Februari 2018

(77)

Penggunaan Matematika Dasar pada Instrumentasi Industri

Perhitungan matematika dasar dapat diterapkan pada instrumentasi industri

untuk membantu memprediksi hasil proses industri yang akan dikerjakan, antara lain:

Bilangan Pecahan (fraction)

Persentase (Percentage)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(78)

Bilangan Pecahan (Fraction)

Dapat diterapkan untuk menghitung susunan seri dan paralel komponen R (resistor), L (induktor), dan C (kapasitor).

R (Resistor):

R Seri

Contoh:

3 buah R seri

𝑅𝑠 = 𝑅1 + 𝑅2 + 𝑅3 = 10 + 10 + 10 = 30 ohm (Ω)

R1 R2 Rn RS

𝑅𝑠 = 𝑅1+ 𝑅2+ ⋯ + 𝑅𝑛

(79)

Bilangan Pecahan (Fraction)

R Paralel

Contoh:

3 buah R Paralel 1

𝑅𝑝 = 1

𝑅1 + 1

𝑅2 + 1

𝑅3 = 1

10 + 1

10+ 1 10 1

𝑅𝑝 = 3

10 → 𝑅𝑝 = 3.3 ohm (Ω)

R1 R2

Rn

Rp

1 𝑅𝑝

= 1 𝑅1

+ 1 𝑅2

+ ⋯ + 1 𝑅𝑛

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(80)

Bilangan Pecahan (Fraction)

L (Induktor):

L Seri

Contoh:

3 buah L seri

𝐿𝑠 = 𝐿1 + 𝐿2 + 𝐿3 = 10 + 10 + 10 = 30 henry (H)

L1 L2 Ln LS

𝐿𝑠 = 𝐿1 + 𝐿2 + ⋯ + 𝐿𝑛

(81)

Bilangan Pecahan (Fraction)

L Paralel

Contoh:

3 buah L Paralel 1

𝐿𝑝 = 1

𝐿1 + 1

𝐿2 + 1

𝐿3 = 1

10 + 1

10+ 1 10 1

𝐿𝑝 = 3

10 → 𝐿𝑝 = 3.3 henry (H)

L1 L2

Ln

Lp 1

𝐿𝑝 = 1

𝐿1 + 1

𝐿2 + ⋯ + 1 𝐿𝑛

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(82)

Bilangan Pecahan (Fraction)

C (Kapasitor):

C Seri

Contoh:

3 buah C seri 1

𝐶𝑠 = 1

𝐶1 + 1

𝐶2 + 1

𝐶3 = 1

10 + 1

10+ 1 10 1

𝐶𝑠 = 3

10 → 𝐶𝑠 = 3.3 farad (F)

C1 C2 Cn CS 1

𝐶𝑠 = 1

𝐶1 + 1

𝐶2 + ⋯ + 1 𝐶𝑛

(83)

Bilangan Pecahan (Fraction)

C Paralel

Contoh:

3 buah C Paralel

𝐶𝑝 = 𝐶1 + 𝐶2 + 𝐶3 = 10 + 10 + 10 = 30 farad (F)

C1

C2 Cn

Cp

𝐶𝑝 = 𝐶1 + 𝐶2 + ⋯ + 𝐶𝑛

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(84)

Persentase (Percentage)

Persen: artinya perseratus, menyatakan jumlah bagian setiap seratus. Juga disebut “rate” atau laju perubahan.

Contoh :

Temperatur mesin turun 5 persen (5%) dari temperatur 100oC. Artinya temperatur turun 5 oC dari 100oC menjadi 95oC.

(a). Mengubah desimal ke persen.

Contoh:

0.15 = 15%

0.75 = 75%

(b). Mengubah pecahan ke persen Contoh:

1

2= 0.5 = 50%

5

8= 0.625 = 62.5%

(85)

Persentase (Percentage)

(c). Mengubah persen ke desimal Contoh:

33% = 0.33

1.5% = 0.015

(d). Mengubah persen ke pecahan Contoh:

25% = 25

100= 1

4

87.5% =87.5100 = 1000875 =78

(e). Mencari jumlah yang dinyatakan persen angka lain (basis) Contoh:

28% dari 40 = 40 × 28

100= 11.2

2.5% dari 84 = 84 ×1002.5 = 2.1

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(86)

Persentase (Percentage)

(f). Mencari jumlah (basis) bila persen-nya diketahui Contoh:

Berapa hasilnya bila 20% nya adalah 5.6 ?

= 5.6

0.20 = 28

Berapa hasilnya bila 2.52 adalah 45% nya ?

= 2.52

0.45 = 5.6

(g). Mencari persen suatu jumlah (angka) dari jumlah lain.

Contoh:

34.2 adalah berapa persen dari 90 ?

= 34.2

90 = 0.38 = 38%

(87)

Persentase (Percentage)

(h). Persen lebih dari 100 Contoh:

Berapa 250% dari 24

=250

100× 24 = 2.5 × 24 = 60 (i). Persen perbedaan

Persen perbedaan antara dua jumlah (angka) ∶ persen perbedaan =perbedaan dari dua angka

basis × 100

Contoh:

Persen perbedaan antara 58 dan 64 basis adalah rata-rata kedua angka = 61

Persen perbedaan =64 − 58

61 × 100 = 9.8%

Persen perubahan:

Persen perubahan =nilai baru − nilai asal nilai asal × 100 Contoh:

Temperatur naik dari 58.0oC menjadi 64.0oC

Persen perubahan =64−5858 × 100 = 10.3% naik

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(88)

Persentase (Percentage)

(j). Persen error

Persen error = nilai diukur − nilai diketahui

nilai diketahui × 100 Contoh:

Resistor tertera nilainya 1000 ohm, setelah diukur dengan ohm meter ternyata nilainya 1100 ohm.

Error mutlak = nilai diukur − nilai diketahui

= 1100 − 1000 = +100 ohm Error relatif = error mutlak

nilai diketahui = +100

1000 = +0.1 Persen error = 1100 − 1000

1000 × 100 = +10%

(89)

Persentase (Percentage)

(k). Persen konsentrasi.

Pada campuran dari dua atau lebih unsur

Persen konsentrasi =jumlah suatu unsur jumlah campuran × 100 Contoh:

250 kg kabel untuk saluran transmisi terdiri 18 kg tembaga. Persen alloy tembaga adalah Persen konsentrasi tembaga =18

250× 100 = 7.2%

(l). Persen efisiensi.

Daya output mesin atau rangkaian selalu kurang dari daya input, karena ada rugi-rugi (loss) daya di rangkaian.

Persen efisiensi =output input × 100 Contoh:

Mesin elektrik mempunyai daya input 100 watt, karena ada rugi-rugi daya keluaran hanya 85 watt Persen efisiensi =output

input × 100

= 85

100× 100 = 85%

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(90)

Contoh Aplikasi Persentase (Percentage)

1. Rectifier (penyearah) mempunyai tegangan output DC = 28 V dengan ripple 0.5 Vp-p

Ripple = 0.5

28 × 100 = 1.8%

V V

Rectifier 28 V

0.5 Vp-p

(91)

Contoh Aplikasi Persentase (Percentage)

2. Resistor tertulis nilai resitansinya 3600 ohm dengan toleransi ±5%.

5% dari 3600 = 5

100× 3600 = 180 ohm Nilai resistansi sebenarnya adalah :

= 3600 ± 180 , atau antara 3420 ohm dan 3780 ohm

Resistor 3600 ± 5% ohm

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(92)

Contoh Aplikasi Persentase (Percentage)

3. Voltmeter digunakan untuk mengukur tegangan baterai standar.

Error mutlak = tegangan terbaca VM − tegangan baterai

= 1.4855 − 1.50 = −0.0145 V Error relatif = error mutlak

tegangan sebenarnya

=−0.0145

1.50 = −0.00966 Persen error = error relatif × 100

= −0.00966 × 100 = −0.99%

VM

Tegangan baterai = 1.0186 V

Voltmeter terbaca = 1.0175

(93)

PENGKONDISI SINYAL (SIGNAL CONDITIONING)

PADA APLIKASI INSTRUMENTASI INDUSTRI

OLEH:

IR. RUSTAMAJI, M.T.

PENGABDIAN PADA MASYARAKAT JURUSAN TEKNIK ELEKTRO ITENAS

23 Februari 2018

1

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(94)

Pada sistem instrumentasi industri agar dapat bekerja dengan baik

dan benar sesuai keinginan, terdapat suatu bagian yang sangat penting dalam pengolahan sinyal, yang dikenal sebagai pengkondisi sinyal

(signal conditioning).

PENGKONDISI SINYAL (PS) : Komponen atau rangkaian yang

berfungsi mengubah kondisi sinyal agar cocok (dapat diterima) oleh rangkaian atau sistem berikutnya.

(95)

transduser Pengkondisi sinyal

Rangkaian/

sistem berikutnya

Diagram blok susunan pengkondisi sinyal input

Transduser – komponen atau rangkaian pengubah bentuk energi ke bentuk energi lainnya, contohnya: microphone, loudspeaker, dll

Pada PS terjadi proses:

1. Perubahan level sinyal 2. Linearisasi

3. Konversi 4. Filtering

5. Penyesuai impedansi

3

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(96)

Perubahan level sinyal :

Mengubah level sinyal (tegangan atau arus) keluaran transduser menjadi level sinyal standar yg cocok atau sesuai.

Misal: Tegangan 50 V (diturunkan)  10 V Tegangan 0.5 V (dinaikkan)  10 V

Arus 0.1 A (dinaikkan)  0.5 A Contoh :

Rangkaian pembagi tegangan untuk menurunkan tegangan searah (DC)

(97)

Rangkaian transformator (trafo) untuk menurunkan tegangan AC

5

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(98)

Rangkaian transistor untuk menaikkan (memperkuat) tegangan bolak-balik (AC)

(99)

IC Op-Amp (operational amplifier) untuk memperkuat sinyal DC atau AC

7

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(100)

Linearisasi:

Mengubah respon sinyal yang tidak linear menjadi sinyal linear Contoh:

(101)

Konversi :

Mengubah (konversi) bentuk sinyal ke sinyal standar agar dapat digunakan Misal:

Besaran arus I  tegangan V Besaran tegangan V  arus I

9

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(102)

Contoh:

Rangkaian konverter dengan Operational amplifier (Op-amp)

(103)

Sinyal analog  digital Sinyal digital  analog Contoh:

ADC (analog to digital converter) pengubah dari besaran sinyal analog menjadi sinyal digital

DAC (digital to analog converter) pengubah dari besaran sinyal digital menjadi sinyal analog

11

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(104)

Filtering :

Filter berfungsi untuk memilah (menyaring) sinyal pada frekuensi yang diinginkan, dan menekan sinyal pada frekuensi yang tidak diinginkan.

Contoh :

Filter dibedakan

- LPF (low pass filter) - BPF (band pass filter) - HPF (high pass filter) - BSF (band stop filter)

(105)

Penyesuai impedansi:

Berfungsi untuk menyesuaikan impedansi (resistansi) rangkaian satu dengan rangkaian berikutnya, agar terjadi transfer daya maksimum.

13

TEKNIK ELEKTRO ITENAS BANDUNG

(106)

Contoh:

Penyesuai impedansi yang dipasang diantara pemancar (Tx) yang mempunyai impedansi 300 ohm, dan antena (Ant) yang mempunyai impedansi 50 ohm pada rangkaian komunikasi radio.

(107)

Ir. Nana Subarna MT 23 Februari 2018

PKM 2018

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(108)

Sistem Pengukuran Suhu

 Pengukuran suhu tinggi

Kontak dan non-kontak.

Kontak : alat ukur kontak phisik dengan objek.

Contoh : thermocouple.

Non-kontak : tidak ada kontak phisik dengan objek.

Contoh : infrared thermometer.

(109)

Thermocouple

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(110)
(111)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(112)
(113)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(114)

Infrared thermometer

(115)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(116)
(117)

Pustaka

John P. Bentley. Principles of Measurement Systems.

Longman Scientific & Technical. 3

nd

Edition. 1995.

 Tompkins, Willis J., Webster, John O, Interfacing Sensors To The IBM PC, Prentice-Hall, Inc., 1988.

 http://support.fluke.com/raytek-

sales/Download/Asset/IR_THEORY_55514_ENG_REV B_LR.PDF

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(118)

PELATIHAN

Sistem Proteksi Internal

TEGUH ARFIANTO, MT

(119)

PEMBANGKIT PLTA

PLTD PLTP PLTG PLTU PLTGU

BISNIS INDUSTRI

RUMAH PUBLIK

SOSIAL TRAFO

DISTRIBUSI

20 kV 150 kV

TRAFO GI 150/20 kV TRAFO GI

20/150 kV

220 V

SUPPLY PENYALURAN DEMAND

PEMBANGKITAN TRANSMISI/DISTRIBUSI KONSUMEN

SISTEM KETENAGALISTRIKAN

PEMBANGKIT

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(120)

Komponen LPS internal

Shielding semua peralatan metal, kulit metal kabel dan manajemen rute kabel yang baik

Bonding semua grounding peralatan dan grounding arrester pada satu titik

Pemasangan arrester secara bertingkat sesuai denga zona proteksi pada jalur- jalur konduktif ke peralatan (listrik,

telekomunikasi, komputer dan jaringan

data, instrumentasi dan kontrol)

(121)

Lightning protection zone concept

L P Z 2

e.g . co m p u t er ro o m

ro o m rep res en t in g sh ie ld 2 L P Z 1

st ru c t u re re p rese n t in g s h ield 1 L P Z 0A

L P Z 0B ex t ern al L PS

b o n d in g b a r 1 a t t h e b o u n d a ry o f L PZ 0A , 0B an d L PZ 1

ca b les lin e

ea rt h t erm in at io n sy st em

lo k al b o n d in g b ar 2 at t h e b o u n d a ry o f L PZ 1 an d L PZ 2

b o n d in g o f s h ield 2

According to IEC 61024-1

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(122)

Zone 0: – outdoor; direct lightning strikes; no shielding against LEMP (lightning protection zone)

Zone 1: – indoor; high energy transients by:

switching operation (SEMP), partial lightning currents;

(surge voltage protection zone 1)

Zone 2: – indoor; low energy transients by:

switching operation (SEMP), electrostatic discharges (ESD);

(surge voltage protection zone 2)

Zone 3: – indoor; no generation of transient currents and voltages which exceed the insulation of electrical and electronic equipment; shielding and separate installation of current circuits which can interfere with one another

(surge voltage protection zone 3)

Lightning protection zone concept

(Cont’d)

(123)

Lightning protection zone concept (Cont’d)

lightning protection zone 0A

lightning protection zone 0B

protection zone 1 protection zone 2

protection zone 3 protection zone 2

protection zone 3 protection zone 1 protection zone 2

SPD B SPD C SPD D

SPD D SPD C

mains

SPD: surge protective device

decoupling element (conductor length) protection zone 1

RA

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(124)

iL

iL iL

zone 0

zone 0 zone 0

zone 1

zone 2

zone 2 zone3

zone3 zone 0

Lightning protection zone concept

(Cont’d)

(125)

Tata letak grounding tidak baik

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(126)

Tata letak grounding yang baik

Transient on power lines

Earth Ring Equip.

Rack

SRF MDF

(127)

Stress of internal over voltages to the equipments

• Electrical system

• Computer and the network

• Telecommunication

• Instrumentation and control

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(128)

Assumed Current Distribution

for a Lightning Stroke

(129)

Aplikasi zona proteksi petir

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(130)

Proteksi tegangan lebih pada sistem listrik

dan data pada instalasi

computer

(131)

Proteksi tegangan lebih untuk 2 sistem pada transmisi data

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(132)

Sistem proteksi pada komputer dan jaringannya

• Incoming & outgoing data cables protection

RS 232 connector

Telephones modem

• Power supply protection  staggered protection main entrance.

• Raised floor grounding with equipotential bonding

• Combination protection at terminals

• Shielding  computer at terminals

• Cables routing to prevent open loop

(133)

Jaringan data dengan shielding yang lengkap

SCREENING OF ROOM

4th step : treatment of internal signalling lines

device 1

device 4 device 2

device 3

improved room screen

incoming signaling line incoming

signaling line, screened

incoming power cable

L/N

L/N

L/N PE

PE

PE

ring bar

window with mesh grid

network (L/N) network (PE)

short circuit loop signal unscreened

signal screened protector for energy technical network

protector for signal technical network G

G G

G G

G over voltage protection at the devise input

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(134)

Contoh proteksi pada komputer

dan jaringannya

(135)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(136)

SISTEM TEGANGAN TIGA PHASA

Sistem tegangan tiga phasa

Adalah adanya perbedaan sudut phasa antara tegangan phasa yang

berurutan sebesar 120°

DISAMPAIKAN OLEH :

NASRUN HARIYANTO, IR, MT.

(137)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(138)
(139)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(140)
(141)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(142)
(143)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(144)
(145)

Pengenalan Sistem Instrumentasi

Nandang Taryana, MT

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(146)

Materi

• Prinsip Umum Sistem Pengukuran

• Karakteristik Statik Pengukuran

• Karakteristik Dinamik Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(147)

Beberapa Definisi

• Pengukuran : Proses mendapatkan informasi tentang nilai variabel suatu proses/sistem atau mendapatkan informasi tentang nilai dari suatu besaran fisis, informasi yang didapatkan dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif

• Data Empiris : Data yang diperoleh langsung dari sistem pengukuran

• Data Terproses : Data hasil pengolahan dari data empiris, misal perhitungan dari beberapa

variabel

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(148)

Untuk apa sistem pengukuran?

• Mendapatkan data variabel-variabel dari suatu proses atau sistem

• Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk kepentingan lebih lanjut misalnya:

• Desain – Rancang Bangun

• Pengendalian/Sistem Kontrol

• Assessment/evaluasi/audit

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(149)

Gambaran proses pengukuran

Menghasilkan Informasi

(Perubahan variabel-variabel)

Pengamat: orang yang memerlukan informasi Menghubungkan antara proses dan pengamat,

mengubah sinyal menjadi yang dapat terbaca oleh pengamat dengan standar unit tertentu

Nilai sebenarnya dari variabel proses

Nilai terukur (hasil pengukuran)

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(150)

Error Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(151)

Struktur Sistem Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(152)

Contoh

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(153)

Karakteristik Sistem Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(154)

Karakteristik Statik Sistem Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(155)

Karakteristik Statik Sistem Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(156)

Karakteristik Statik Sistem Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(157)

Karakteristik Statik Sistem Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(158)

Resolusi, Stabilitas dan Sensitivitas

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(159)

Resolusi, Stabilitas dan Sensitivitas

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(160)

Resolusi, Stabilitas dan Sensitivitas

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(161)

Karakteristik Statik Sistem Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(162)

Karakteristik Statik Sistem Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(163)

Karakteristik Statik Sistem Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(164)

Karakteristik Statik Sistem Pengukuran

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(165)

Linearitas dan Non Linearitas

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(166)

Linearitas dan Non Linearitas

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(167)

Linearitas dan Non Linearitas

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(168)

Contoh

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(169)

Error Reduction Techniques

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

(170)

Error Reduction Techniques

TEKNIK ELEKTRO ITENAS

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh lokasi dan jumlah arrester, resistans pertanahan, serta magnitude surja petir terhadap tegangan lebih pada peralatan listrik gedung

Kondisi tidak aman juga dapat diakibatkan oleh metode / proses produksi yang kurang baik, Pengaman yang tidak sempurna, Peralatan kerja yang rusak, Tata kelola (housekeeping)

Memasuki dunia industrialisasi yang semakin modern akan diikuti oleh penerapan teknologi tinggi, penggunaan bahan dan peralatan makin kompleks dan rumit, yang akan

menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana syarat keselamatan dan kesehatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal

Dalam setiap ruangan penataan listrik di perusahaan tersebut tertata dengan cukup rapi.Yaitu kabel-kabel listrik menempel pada tembok dan letaknya pun dijauhkan

Untuk menunjukkan bahwa tugas perlindungan dijalankan , hal-hal yang perlu diperhatikan tentang keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja antara perusahaan dan

Beradasarkan uraian diatas didapatkan bahwa yang menjadi faktor penghambat dalam penerapan sistem K3 di SMKN 1 Darul Kamal khususnya pada praktek Instalasi Tenaga Listrik

Distribusi skunder adalah jaringan daya listrik yang termasuk dalam kategori tegangan rendah (sistem 380/220 Volt), yaitu rating yang sama dengan tegangan