7 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERFIKIR
A. Kajian Pustaka 1. Guru
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen).
Guru adalah pemegang peran sebagi pemimpin perubahan. Menjadi guru pemimpin perubahan harus mampu melakukan perubahan dalam dirinya sendiri terlebih dahulu. Sekali para guru melakukan perubahan dalam dirinya, selanjutnya roda akan bergerak dengan sendirinya. Guru harus selalu aktif mengikuti perkembangan metodologi pengajaran dengan mengikuti berbagai kegiatan kelompok profesi sejenis maupun melalui bulletin-buletin profesi (Rizali, 2009).
Dari kutipan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa guru adalah pendidik profesional yang bertugas mendidik, mengajar, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik sekaligus memegang peran sebagai pemimpin perubahan yang mampu membawa masa depan generasi penerus bangsa, sehingga guru harus mampu dalam mengikuti perkembangan zaman untuk mewujudkannya.
a. Kompetensi Guru
Menurut Rohman dan Amri, (2013: 193-194) menyatakan kompetensi guru adalah kemampuan guru mengenai penguasaan pengetahuan yang telah didapatkan oleh guru, sikap, nilai dan keterampilan yang harus dimilikinya yang diterapkan ketika guru mengajar. Guru kompeten harus bisa menerapkan ilmu yang didapatkannya untuk diterapkan di dunia nyata baik dalam pengelolaan peserta didik, pengenbangan profesi, dan penguasaan akademik.
Guru mempunyai empat jenis kompetensi yang harus ditanamkan dalam dirinya. Keempat kompetensi ini tercantum dalam penjelasan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yaitu: kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan proesional.
Tugas guru tidak hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk mendidik muridnya. Guru harus belajar untuk menjadi figur seorang pendidik yang profesional agar mampu menjadi teladan bagi siswa dan masyarakat umum sehingga guru mampu dikatakan sebagai seorang guru yang proesional.
Guru yang proesional menanamkan keempat kompetensi ini di dalam diri mereka sebagai figur seorang pendidik profesional. Penjelasan kompetensi tersebut dijabarkan di bawah ini:
1) Kompetensi Pedagogis
Seorang guru harus paham tentang peserta didiknya. Baik dalam pegembangan wawasan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, hingga pengembangan potensi yang dimiiki oleh peserta didik.
Guru harus mengenal dan memahami siswanya sehingga guru dapat dengan mudah untuk membantu perkembangan bagi peserta didiknya.
Tugas seorang guru tidak hanya mengajarkan pengetahuannnya saja melainkan mampu mengaplikasikan pengetahuannya dikehidupan sehari-hari baik pada keluarga maupun masyarakat. Seorang guru juga harus mampu mentrasformasikan pengalaman yang ia dapatkan dan kemudian diaplikasikan kepada muridnya dengan cara-cara yang bervariasi.
Tak hanya itu saja tugas lain dari seorang guru adalah menciptakan pengajaran yang mampu untuk membuka mata muridnya dalam menentukan masa depannya dan menciptakan proses pengajaran yang memberikan harapan, bukan yang menentukan harapan sehingga siswa yang dididik mampu menjadi pribadi yang dewasa (Musfah, 2012: 30- 32).
2) Kompetensi Kepribadian
Menurut Musfah (2012: 42-43) seorang guru harus memiliki kepribadian yang baik, berakhlak mulia, dewasa, bijaksana dan mampu menjadi teladan bagi siswanya. Guru adalah cerminan bagi muridnya.
Mulyasa (2009: 117-118) menyatakan, kepribadian guru sangat berperan dalam membentuk pribadi muridnya. Hakikatnya manusia adalah makhluk yang suka mencontoh. Begitu pula dengan murid atau siswa yang mencontoh kepribadian guru dalam membentuk kepribadiannya.
3) Kompetensi Sosial
Menurut Mulyasa (2009: 173) dalam dunia kehidupan guru seringkali menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi peserta didiknya.
Seorang guru sama dengan manusia lainnya. Mereka adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan manusia lain dan saling membutuhkan. Guru harus mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan tanpa pamrih untuk menolong sesama. Guru harus bisa bergaul atau berinteraksi dengan baik dan efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga pendidikan, orang tua/wali, dan masyarakat sekitar seperti yang dijelaskan pada pasal 28 ayat (3) butir D.
4) Kompetensi Profesional
Seorang guru dituntut untuk menguasai materi pelajaran secara luas sehingga guru mampu dikatakan sebagai agen pembelajaran.
Menurut Muslich (2009: 7-8) menyatakan bahwa kompetensi profesional guru meliputi (a) mengenal peserta didik secara mendalam; (b) menguasai ilmu bahan yang akan diajarkan; (c) menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, baik dalam penyelenggaraan, implementasi program pembelajaran, mengakses proses hasil belajar, dan perbaikan pengelolaan pemelajaran; (d) pengembangan kemempuan profesional, baik dalam mengenal siswa, penguasaan bahan ajar hingga pengembangan kemampuan peserta didik.
b. Guru Pendidikan Kejuruan
Menurut Schippers dan Patriana, (1994: 20) pendidikan kejuruan adalah pendidikan non-akademis yang berorieantasi pada praktik dan bidang pertukangan. Teori juga didapatkan dalam pendidikan tersebut akan tetapi teori yang diajarkan hanya pengetahuan dasar saja sehingga lulusan SMK diharapkan mampu menjadi orang yang terampil dalam bidang tertantu karena penekanan pendidikan lebih pada pendidikan praktik.
Pada jenjang pendidikan SMK terbagi menjadi tiga golongan guru mrngajar yaitu: guru adaptif, guru normatif, dan guru produktif. Yang membedakan dengan pendidikan yang ada di SMK dengan jenjang pendidikan lainnya adalah adanya guru produktif. ketiga golongan guru dapat dijelaskan adalah sebagai berikut:
1) Guru Normatif
Guru yang mengajarkan kepada muridnya untuk dapat menjadi pribadi yang utuh, memiliki norma-norma yang utuh sebagai makhluk individu dan makhluk sosial di masyarakat. Kompetensi ini berkaitan mengenai norma, sikap, dan tingkah laku yang baik di masyarakat.
2) Guru Adaptif
Guru adaptif adalah guru yang mampu mencetak peserta didik untuk dapat memiliki dasar yang kuat mengenai perkembangan dan agar peserta didik mampu mengikuti perkembangan zaman. Guru memberi penguasaan dan pengetahuan tentang suatu kejadian secara mendalam.
3) Guru Produktif
Kelompok diklat yang berfungsi untuk memberi suatu bekal kompetensi atau keahlian tertentu kepada peserta didik sesuai dengan standar yang sesuai dengan kebutuhan DU/DI.
Menurut Zamtinah, dkk. (2011: 104) guru produktif adalah guru mata pelajaran pada bidang keahlian yang dimilikinya (sesuai dengan bidang keahlian di SMK). Mata pelajaran produktif terdiri dari mata pelajaran teori dan praktik.
Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan kejuruan ada guru produktif yang menagajar mata pelajaran produktif sesuai dengan bidang keahliannya. Baik mengajar pembelajaran praktik maupun teori. Guru produktif dituntut untuk dapat menguasai keteampilan praktik agar mampu mengajarkan kepada peserta didik dan mampu membawa peserta didik untuk menguasai suatu keterampilan sesuai dengan bidang yang diajarkan.
2. Magang Industri Guru
Magang adalah program yang dilakukan di industri atau lembaga terkait lainnya dalam rangka meningkatkan kompetensi professional. Program magang industri merupakan alternatif untuk meningkatkan kompetensi guru.
Magang guru juga telah diatur dalam Inpres Nomor 9 Tahun 2016 yang diinstruksikan kepada Kementrian Perindustrian untuk peningkatan kerjasama antara perusahaan dengan SMK supaya memberikan kemudahan akses dalam pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi siswa dan program kegiatan magang guru atau tenaga pendidik.
Guru sekolah kejuruan atau guru SMK membutuhkan pengalaman nyata pada bidang keahliannya sehingga guru mampu memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman bagaimana dunia bisnis dan industri bekerja. Menurut Stephens (2011) pelaksanaan magang guru memberi dampak yang baik bagi guru untuk mengetahui relevansi antara DU/DI dengan sekolah memalui pengalaman kerja yang dilakukan secara langsung.
Setelah melaksanakan magang industri guru mempunyai gambaran mengenai bidang usaha dan peluang dunia kerja serta guru memiliki pandangan dan landasan dalam pengembangan profesionalnya. Hal ini berguna untuk memberi pengetahuan bagi siswa agar lulusan dari SMK memiliki kompetensi bidang keahlian yang relevan dengan kebutuhan DU/DI (Sutijono, dkk., 2016:
78).
Pelaksanaan magang industri menjadi jembatan dalam mengatasi kesenjagan antara pembelajaran akademik dengan pembelajaran praktis.
Magang industri sendiri bertujuan untuk mengatasi kesenjangan tersebut
dengan adanya pelaksanaan yang praktek langsung pada tempat kerja secara nyata. Pengalaman nyata berguna untuk peserta magang dalam mendapatkan pengalaman dan keahlian pada bidangnya (Akomaning, dkk., 2011).
Kualitas lulusan pendidikan kejuruan sangat dipengaruhi oleh kualitas guru dalam mengajar di kelas. Ketika guru memiliki bekal pengetahuan yang cukup dan memiliki pengalaman kerja di lapangan. Guru mampu mencetak lulusan yang terampil pada suatu bidang tertentu sehingga hal ini dapat relevan dengan kebutuhan dari DU/DI.
Dari pendapat di atas menyatakan kompetensi profesional guru dapat ditingkatkan melalui program magang industri guru. Jika guru kejuruan mampu bekerja secara profesional dan mampu menyesuaikan keahlian yang diajarkan sesuai dengan dengan kebutuhan DU/DI dan mampu mempersiapkan siswa mereka untuk dapat masuk memenuhi kebutuhan dunia bisnis dan industri maka hal ini akan mampu selaras dengan tujuan dari pendidikan kejuruan menurut pasal 15 pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu mempersiapkan peserta didik lulusan SMK agar mampu memasuki dunia kerja.
Magang industri guru dapat meningkatkan relevansi kompetensi, pengetahuan dan keterampilan guru produktif dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di DU/DI. Melalui kegiatan magang guru di industri guru juga dapat mengetahui tamatan seperti apa yang seharusnya dibutuhkan oleh DU/DI sekarang (Nofindra, 2016).
Menurut Sutijono (2016: 3-2) magang guru sebagai peningkatan kualitas guru dalam mengajar. Guru mendapakan pengalaman secara langsung di industri tempat ia magang untuk lebih dekat dengan kondisi DU/DI.
Pengalaman ini berguna dalam memperbanyak pengetahuan tentang perkembangan teknologi yang ada di industri saat ini agar lulusan SMK mempunyai kompetensi yang mendekati dengan kebutuhan DU/DI. Hal ini sejalan dengan tujuan dari pelaksanaan magang guru, yaitu untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan akademik, teknis dan intelektual guru (Stephens, 2011).
Guru yang mengajar secara baik dan efektif adalah guru yang mampu melakukan proses pembelajaran dengan baik dari awal sampai akhir baik dalam perencanaan pembelajaran, kemudian dikomunikasikan kepada peserta didik, melaksanakan proses pembelajaran, mengelola kelas dengan efektif, dan melakukan evalusi pembelajaran (Mulyasa, 2017: 102-103).
Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa adanya magang industri guru diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru secara efektif yang berkaitan dengan input, proses, dan output dari pembelajaran. Tak hanya itu saja, guru juga mendapat pengalaman untuk mampu mengajarkan kepada muridnya agar pembelajaran yang dilaksanakan mampu mendekati kebutuhan dari DU/DI sehingga guru dapat mengarahkan pembelajaran di sekolah mampu menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada saat ini di DU/DI.
Menurut Sutijono, dkk. (2016: 79-80) magang sangat efektif untuk meningkatkan kinerja mengajar guru di sekolah. Melalui magang guru di industri, guru mampu mendapatkan konsep teoritis dan praktis terkini pada bidangnya disesuai dengan keadaan yang ada pada DU/DI. Materi yang guru sampaikan di sekolah mampu terkait dengan praktik kehidupan nyata.
Magang guru yang dilakukan di industri adalah magang berbasis kerja.
Jadi guru mendapatkan pengelaman dan terlibat secara langsung (ikut menyelesaikan pekerjaan di industri) yang diarahkan oleh instruktur dari industry. Dengan program magang industri guru tersebut diharapkan guru mempu mendapatkan pengalaman kerja nyata di industri dan mampu memperbarui pengetahuan serta keterampilan yang mereka miliki sehingga pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah kejuruan mampu relevan dengan kebutuhan DU/DI.
3. Pentingnya Magang Industri Bagi Guru Produktif SMK
Tujuan dari pembelajaran SMK sendiri adalah untuk memberi bekal kerja agar siswa lulusan SMK mampu untuk mempersiapkan diri menuju dunia pekerjaan. Guru harus memiliki bekal baik secara teori dan praktik dalam membekali siswanya di SMK. Prosser menjelaskan mengenai prinsip pembelajaran vokasi salah satunya mengenai keefektifan pembelajaran di
SMK yaitu dengan guru yang memiliki bekal pengalaman dalam penerapan keterampilan dan pengetahuan pada proses kerja yang dilakukan. Solusi agar guru bisa mendapatkan bekal pengalaman dan keterampilan adalah dengan mengirimkan guru untuk melaksanakan magang industri. Pembelajaran di SMK dinilai mampu efektif menurut Prosser adalah jika guru menguasai dan memiliki pengalaman dalam hal pengetahuan maupun praktik kerja.
Pembelajaran di sekolah kejuruan diharapkan mampu untuk menyesuaikan dengan standar reformasi pendidikan yang ada saat ini sehingga antara proses dalam pembelajaran mampu selaras dengan kebutuhan yang ada di dunia kerja. Menurut penelitian Darling-Hammond (1998) menyatakan bahwa sebagian sekolah dan guru tidak dapat menghasilkan pembelajaran yang sesuai standar dan cita-cita dari reformasi pendidikan. Jika pendidik terkendala dalam peningkatan pengetahuan praktik mereka dan dukungan sekolah yang kurang. Persoalan diatas dapat diatasi jika sekolah serius, berkelanjutan, dan sistematis dalam peningkatan pengetahuan pendidik secara keseluruhan.
Sekolah seharusnya berperan besar dalam mendukung akses tenaga pendidik untuk pelaksanaan penelitian dan kebijaksanaan praktik guru. Pelaksanaan praktik baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah seperti dalam kegiatan magang industri bagi guru. Kendala seperti ini seharusnya ditangani oleh pihak dari sekolah dalam menjalin akses yang baik antara sekolah dengan dunia industri dalam peningkatan kualitas guru mengajar.
Peningkatan kualitas guru mengajar dapat diwujudkan dalam program magang yang dilaksankaan di industri sehingga guru mendapatkan bekal pengetahuan yang cukup untuk diajarkan ketika proses pembelajaran. Program magang berguna untuk mempersiapkan bekal guru dimasa depan untuk memenuhi kebutuhan siswa, karena guru harus siap memahami kebutuhan dari seluruh siswanya (Lesar, dkk., 1997). Dari penelitian yang dilakukan oleh Bryan & Sprague (1997) magang adalah kegiatan yang positif bagi guru.
Peningkatan pengalaman guru tentang pengetahuan, keterampilan, dan fleksibelitas guru dalam mengajar dapat meningkat. Tidak hanya itu saja juga mengenai kepekaan terhadap budaya yang ada. Budaya kerja yang ada di
industri dengan di sekolah tentu saja berbeda sehingga dari pengalaman ini guru mendapatkan pengalaman berharga yang bisa ia sampaikan kepada para siswanya di sekolah kelak.
Setelah melaksanakan maggang guru menyadari bahwa perbedaan budaya dan kebutuhan yang ada di industri itu ada sehingga guru harus mempersiapkan pembelajaran yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada di industri kelak ketika siswanya memasuki dunia kerja. Guru mengakui bahwa ketika guru belum melaksanakan program magang guru merasa kurang dalam persiapan pembelajaran di sekolah. Guru juga merasa kurang dalam perencanaan kurikulum, mengajar pembelajaran praktik maupun teori di kelas, mengelola kelas, dan mendiagnosis kebutuhan siswa (Darling- Hammond, 2000: 166-173).
Penelitian Evans-Andris, dkk. (2006) setelah guru melaksanakan magang secara langsung dan dibimbing oleh mekanik yang lebih senior maka keterampilan guru meningkat. Kepercayaan diri, pengalaman baru, dan konteks yang dicapai akan didapatkan oleh guru magang. Strategi dalam pembelajaran pun akan meningkat sehingga pengalaman yang diperoleh guru akan berguna di masa depan guru dalam mengelola kelas yang sesuai dengan tujuan pembelajaran kejuruan.
Program magang seharusnya diperhatikan dengan baik dari pihak sekolah maupun pihak industri dalam menjalin hubungan. Kemudahan askes yang dijalin sekolah dengan industri berdampak positif dalam pelaksanaan program ini. Program magang industri sangat penting adanya bagi guru dalam meningkatkan keterampilan dan strategi guru mengajar. Jika hal ini tidak dilaksanakan maka banyak kendala yang dialami guru baik dalam perencanaan pembelajaran, mengelola kelas, mendiagnosis kebutuhan dari pembelajaran di masa depan hingga pada output dari siswa menuju dunia industri.
4. Sekolan Menengah Kejuruan (SMK)
Secara umum pendidikan dibagi menjadi dua yaitu: pendidikan umum atau pendidikan hidup (education for life) dan pendidikan kejuruan atau pendidikan yang berorientasi mencari penghasilan atau mencari kerja
(education for work). Dari sini pendidikan kejuruan dapat diartikan pendidikan yang berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik agar siap bekerja dan sebagai peningkatan pelatihan peserta didik dalam karir (Bukit, 2014: 11-12).
Sekolah Menengah Kejuruan hakikatnya adalah kelanjutan dari pendidikan formal sembilan tahun SD dan SLTP. Pendidikan di SMK tidak hanya berfokus pada pendidikan formal di kelas saja. Pendidikan di SMK melibatkan dunia usaha dalam pelaksanaannya untuk meningkatkan kualitas lulusan. Jadi pendidikan di SMK melibatkan dua tempat pendidikan, yaitu di perusahaan dan di sekolah kejuruan (Schippers & Patriana, 1994: 72-73).
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 15 menerangkan pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan lulusannya agar mampu mempunyai suatu keterampilan dan dapat bekerja dalam bidang tertentu.
Lulusan SMK dipersiapkan agar mahir dalam bidang tertentu dan profesional untuk dapat bekerja di dunia industri secara terampil.
Menurut Magnun (2006: 8) tentang tujuan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dijelaskan pada pasal 15 UUSPN. Ada 2 tujuan SMK, yaitu umum dan khusus.
Tujuan umum SMK yaitu:
a. Menyiapkan peserta didik untuk dapat menjalani kehidupan secara layak.
b. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.
c. Menyiapkan peserta didik menjadi warga negara yang mandiri dan bertanggung jawab.
d. Menyiapkan peserta didik memahami dan menghargai keanekaragaman budaya bangsa Indonesia.
e. Menyiapkan peserta didik dapat menerapkan dan menjaga hidup sehat, memiliki wawasan lingkungan, pengetahuan dan seni.
Tujuan Khusus SMK yaitu:
a. Menyiapkan peserta didik mampu bekerja, baik secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada di DU/DI sebagai tenaga kerja tingkat menengah. Sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuni.
b. Membekali peserta didik agar mampu berkarir, ulet dan gigih dalam bersaing. Peserta didik mampu mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang ditekuni.
c. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu mengembangkan diri menuju ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pendidikan Menengah kejuruan adalah pendidikan lanjut dari pendidikan Sembilan tahun. Pendidikan ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu di sekolahan dan di dunia usaha atau yang lebih di kenal dengan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Adanya PSG diharapan mampu memenuhi harapan pemerintah agar lulusan SMK mampu memiliki keterampilan profesional agar siswa dapat bekerja di DU/DI dengan terampil.
Menurut Benavot (1983) Tujuan pendidikan kejuruan adalah memberi bekal prinsip untuk melaksankan kegiatan produksi dan memberi keterampilan praktis kepada siswa. Bentuk pembelajaran praktis bertujuan untuk menyelaraskan siswa agar mampu dalam memasuki DU/DI dengan cara pembelajaran berbasis kerja. Tidak hanya pembelajaran scara teori saja melainkan juga siswa terlibat secara langsung dalam kerja nyata di perusahaan, jadi pembelajaran tidak hanya di sekolah saja tetapi juga di industri.
Pendidikan di SMK memiliki banyak bidang keahlian. Bidang keahlian meliputi: Teknik, Ekonomi, Kesehatan, Pertanian, dan lain sebagainya.
Penelitian ini dilaksanakan di dua program keahlian. Program keahlian yang diteliti adalah program keahlian teknik otomotif dan teknik mesin.:
1) Program Keahlian Teknik Otomotif
Teknik Otomitif adalah salah satu program keahlian yang ada di SMK. Program keahlian ini mewakili beberapa kompetensi keahlian seperti:
Teknik Kendaraan Ringan Otomotif, Teknik dan Bisnis Sepeda Motor, Tenik Bodi Otomotif, Teknik Alat Berat, Teknik Ototronik, Teknik dan Manajemen Perawatan Otomotif, Otomotif Daya dan Konversi Energi.
Program keahlian teknik otomotif semakin digemari oleh kalangan masyarakat seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi di sub sektor
otomotif. Program keahlian ini memiliki peluang besar bagi siswa lulusannya karena banyaknya industri besar yang membuka lowongan kerja pada program keahlian ini.
2) Program Keahlian Teknik Mesin
Program keahlian Teknik Mesin banyak mencetak lulusan yang terampil dalam memproduksi peralatan dan perancangan mesin. Program keahlian teknik mesin mewakili beberapa kompetensi keahlian antara lain:
Teknik Pemesinan, Teknik Pengecoran Logam, Teknik Metalurgi, Teknik Pengelasan, Teknik Mekanik Industri, Teknik Perancangan dan Gambar Mesin, dan Teknik Fabrikasi Logam dan Manufaktur.
Industri banyak membutuhkan lulusan SMK teknik mesin yang terampil untuk bekerja di industrinya. Perkembangan teknologi di industri yang berhubungan dengan teknik pemesinan sekarang ini semakin canggih.
Sekarang peralatan yang ada di indutri semakin canggih dan juga harus dioperasikan oleh orang yang terampil dan ahli dalam bidangnya.
5. Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di SMK
Program PSG atau Pendidikan Sistem Ganda adalah program pembelajaran yang di terapkan di SMK yang diadopsi dari pendidikan yang ada di Jerman. Pendidikan ini adalah pendidikan kolaborasi antara sekolah dengan DU/DI dalam mendidik peserta didiknya. Peserta didik mendapat dua pengalaman pembelajaran baik pembelajaran yang ia dapatkan di sekolah secara teoritis dan pendidikan yang langsung di dunia kerja secara praktik.
Adanya PSG memberi berbagai manfaat baik bagi siswa, sekolah dan industri. Manfaat adanya PSG menurut Bukit (2014: 54-61) di jelaskan di bawah ini:
a. Manfaat bagi Siswa
Siswa adalah komponen utama yang ada di sekolah. Adanya PSG ini berdampak besar pada perkembangan kemampuan pembelajaran siswa untuk mengembangkan kemampuan praktik siswa dan ini akan berguna di dunia kerja kelak. Secara umum ada tiga manfaat PSG bagi siswa SMK adalah sebagai berikut:
1) Mendapatka pengalaman kerja secara langsung
Pengalaman kerja berguna untuk siswa untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan sehingga memiliki suatu keahlian tertentu agar mempermudah peserta didik dalam mencari kerja karena siswa memiliki bekal keahlian dalam dirinya. Pengalaman praktik memberi bekal siswa mengenai pekerjaan atau kompetensi kerja yang disesuaikan dengan standar yang dituntut oleh industri. Tidak hanya itu, PSG juga memberi bekal disiplin kerja dalam menghargai mutu dan waktu dalam melaksanakan pekerjaan. Hal ini bergna untuk bekal peserta didik menghadapi dunia kerja dan bekal pengembangan diri secara berkelanjutan.
2) Meningkatkan harga diri dan rasa percaya diri
Kegiatan praktik secara langsung di industri memberi dampak baik bagi siswa. Siswa mampu menguasai kompetensi yang diajarkan di industri sehingga siswa termotivasi dan mempunyai mainset yang baik dalam mengembangkan kemampuannya. Teori yang didapatkan di sekolah mampu diterapkan secara nyata di industri secara nyata tidak hanya simulasi ssaja seperti yang dilakkukan di kelas.
3) Memperpendek masa transisi dari sekolah ke dunia kerja
Melalui program PSG siswa sudah mendapatkan pengalaman secara langsung sehingga saat menghadapi dunia kerja siswa sudah mempunyai bekal kompetensi. Bekal itu cukup untuk melakukan kegiatan produksi saat nanti peserta didik memasuki dunia kerja di industri yang sesuai dengan bidang keahlian yang mereka miliki.
b. Manfaat bagi Sekolah
Teknologi semakin berkembang dengan pesat di industri. SMK mau tidak mau harus mengupgrade peralatan juga. Adanya program PSG membantu SMK mengetahui kemajuan teknologi di industri sehingga SMK bisa menyesuaikan. Tidak hanya itu saja, industri juga membantu SMK dalam pengenalan teknologi terbaru untuk siswanya.
Tak hanya itu saja mengenai kompetensi pembelajaran juga ikut berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi. Ada empat manfaat bagi sekolah dengan adanya sistem PSG ini, antara lain:
1) Menghemat biaya operasional
Perkembangan teknologi yang semakin berkembang menuntut sekolah untuk mengupgrade teknologi yang ada di sekolah. Hal ini membutuhkan biaya yang cukup mahal, baik dalam pembelian peralatan hingga konsumsi tenaga listrik, air, dsb. Penerapan sistem PSG mampu dalam meng-cover masalah ini, dengan adanya praktik di industri. Fasilitas di industri yang juga semakin berkembang mampu mengatasi permasalahan mengenai fasilitas praktik yang belum diperbarui di sekolah dan mampu menekan biaya operasinal di sekolah sehingga sekolah lebih hemat.
2) Bermanfaat bagi siswa dalam proses pembelajaran praktik
Di industri siswa dihadapkan dengan praktik secara langsung.
Siswa mampu meningkatkan kompetensi pada bidangnya dan secara tidak langsung industri membantu pengembangan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik.
3) Meningkatkan kompetensi guru
Selain bermanfaat bagi siswa, PSG juga bermanfaat bagi guru karena guru mendapatkan pengetahuan baru mengenai standar yang ada di DU/DI. Hal ini didapatkan dari guru melalui siswa yang telah melakuksanakan praktik di industri dimana mereka dituntut melaksanakan pekerjaan sesuai standar yang ada pada indutri tersebut.
Secara tidak langsug kualitas mengajar guru meningkat dan kompetensi yang dimiliki guru dapat selaras dengan standar DU/DI saat ini.
4) Memberi bekal keahlian bagi siswa
Adanya PSG ini memberi siswa pengalaman secara langsung sehingga tamatan dari SMK lebih besar peluangnya untuk memasuki dunia kerja. Dikarenakan bekal pengalaman yang dimiliki oleh siswa berguna kelak ketika mereka bekerja di suatu perusahaan.
c. Manfaat bagi Industri
Industri berperan dalam mengajari siswa untuk melakukan pekerjaan di DU/DI sehingga perannya sangat besar. Selain memberi manfaat bagi sekolah dan siswa. Manfaat lain juga didapatkan oleh industri.
Ada lima manfaat yang diperoleh industri dalam pelaksanaan PSG yaitu:
1) Industri mengenal keterampilan yang dimiliki siswa dan kedisiplinan siswa dalam melakukan pekerjaan di perusahaan.
2) Penghematan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan untuk menggaji tenaga kerja.
3) Siswa berstatus sebagai pekerja magang yang mengikuti proses produksi di perusahaan secara aktif.
4) Keringanan pajak penghasilan karena siswa bukan dianggap sebagai pekerja sehingga tidak masuk dalam kategori pajak perusahaan.
5) Peran industri dalam kualitas pendidikan baik mengenai mutu, materi dan metode belajar.
B. Kerangka Berpikir
Dari hasil temuan masalah yang digali mengenai masalah pengetahuan dan keahlian guru dalam mengajar mata pelajaran produktif di SMK. Perkembangan teknologi yang semakin pesat seperti saat ini mengharuskan pengetahuan guru juga harus ikut berkembang pula. Tujuan dari pendidikan kejuruan itu sendiri adalah untuk mempersiapkan dan menghasilkan tamatan SMK yang mampu menguasai suatu keahlian dan siap untuk memasuki dunia usaha dan dunia kerja.
Kenyataannya keahlian mengajar praktik dan pengetahuan guru belum sepenuhnya mampu menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini. Baik karena sarana dan prasarana di sekolah yang belum bisa menyamai dengan teknologi yang ada di perusahaan dan juga bekal pengetahuan teknologi terbaru yang belum semua guru mendapatkannya. Bekal pengetahuan yang dimiliki guru sebelum melakukan magang diperoleh guru dari apa yang pernah guru dapatkan, baik di lingkungan sekolah atau yang pernah dilakukan sewaktu waktu jenjang perkuliahan dulu.
Sarana prasarana yang ada di sekolah saja bisa dikatakan masih ketinggalan zaman. Oleh karena itu peran industri sangat berpengaruh untuk peningkatan kompetensi guru sesuai dengan standar yang ada pada DU/DI saat ini. Peran industri tidak hanya bermanfaat pada siswa saja melainkan pada guru. Dengan adanya magang guru produktif yang dilakukan di lingkungan DU/DI diharapkan mampu menunjang kompetensi yang dimiliki oleh guru dalam peningkatan kualitasnya untuk mengajar peserta didiknya.
Penelitian ini berguna untuk mengetahui bagaimana penerapan pelaksanaan kegiatan magang industri guru produktif SMK yang dilaksanakan di industri.
Mendalami tentang bagaimana proses pelaksanaan kegiatan magang industri guru produktif dan penyelenggaraan magang industri guru produktif. Apakah sekolah dan pemerintah berperan dalam pelaksanaan kegiatan magang industri guru produktif, serta mendalami bagaimana tanggapan guru mengenai kegiatan magang industri guru yang dilakukan di DU/DI.
Mengetahui bagaimana pengaruh kegiatan magang industri guru produktif ini terhadap proses pembelajaran baik teori maupun mata pelajaran praktik di SMK.
Untuk lebih jelasnya mengenai penelitian yang dilakukan bisa di lihat dari bagan kerangka berpikir di bawah ini:
Gambar 1. Kerangka berfikir
Kompetensi guru produktif harus berkembang juga seiring dengan berkembangnya teknologi
Kurangnya kompetensi guru dalam menguasai teknologi terbaru
Dilaksanakan program magang industri guru untuk mengatasi kesenjangan tersebut
Pelaksanaan magang industri guru produktif SMK
Kelebihan dan kekurangan magang industri guru produktif
Gambaran pelaksanaan magang industri guru yang pernah dilaksanakan di industri untuk
meningkatkan kompetensi mengajar guru SMK