Hak Cipta © 2016 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang
MILIK NEGARA
TIDAK DIPERDAGANGKAN
Disklaimer: Buku ini merupakan buku guru yang dipersiapkan Pemerintah dalam rangka implementasi Kurikulum 2013. Buku guru ini disusun dan ditelaah oleh ber- bagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan diper- gunakan dalam tahap awal penerapan Kurikulum 2013. Buku ini merupakan “doku- men hidup” yang senantiasa diperbaiki, diperbarui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhan dan perubahan zaman.
Masukan dari berbagai kalangan diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini.
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tanah airku / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.- Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016.
Halaman prelim: 26, halaman isi: 150, halaman penutup: 8 ilus. ; 29,7 cm. (Tema ; 4)
Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Untuk SMALB-C Kelas X
ISBN 978-602-358-312-6
1. Tematik Terpadu -- Studi dan Pengajaran I. Seri II. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Penulis : Dra Tatiana Meidina, M.Si Illustrator : Tri Subagya
Penyunting materi : Dra. Hj St Murni, M.Hum
Editor :
Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2016
Disusun dengan huruf Arial, 12 pt.
KATA PENGANTAR
Kurikulum 2013 di SMALB mulai diterapkan pada tahun ajaran 2015/2016. Dalam perangkat kurikulum 2013 SMALB, Direktorat Pen- didian Khusus dan Layann Khusus ( Dit PKLK) Direktorat Jenderal Pen- didikan Dasar dan Menengah sudah menyiapkan standar Kompetensi Lulusan, Kompetensi Inti dan Komptensi Dasar. Dengan demikian, kuri- kulum 2013 SMALB merupakan kurikulum berbasis kompetensi. Dalam kurikulum ini dirumuskan secara terpadu tiga ranah kompetensi yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Bagaimanakah seharusnya buku yang digunakan sebagai bahan ajar sesuai Kurikulum 2013?. Buku yang ditulis sebagai bahan ajar dengan mengacu pada Kurikulum 2013 har- usnya dirancang dengan menggunkan proses pembelajaran yang sesuai untuk mencapai kompetensi.
Untuk mencapai kompetensi pada siswa tunagrahita ditulislah buku pembelajaran tematik yang memadukan beberapa mata pelajaran, yaitu PPKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Matematika, SBDP dan POJK.
Kegiatan pembeljaran dalam buku ini menerapkan pendekatan scintifi k yang di dalamnya termuat kegiatan mengamati, menanya, mencari infor- masi, menalar dan mengkomunikasikan. Kegiatan yang mengacu pada pendekatan saintifi k tidak hanya mengembangkan ranah pengetahuan tetapi juga mengembangkan ranah sikap dan keterampilan. Dengan ber- bagai kegiatan menyenangkan baik yang dilakukan secara individu dan kelompok yang ada dalam buku, siswa diharapkan dapat mengembang- kan diri secara utuh menjadi individu yang kreatif, inovatif, produktif dan berkarakter.
Buku dengan tema “ Tanah Airku “ ini merupakan buku seri pembe- lajaran tematik untuk siswa tunagrahita kelas X. Buku ini terdiri atas tiga sub tema. Setiap sub tema dalam buku ini terdiri atas enam pembelajaran.
Penentuan banyak tema dan banyak pembelajaran mempertimbangkan ke- mampuan siswa tunagrahita dalam mengikuti pembelajaran.
Buku dengan tema “ Tanah Airku” memuat pembelajaran berbasis ak- tifi tas. Bersama guru dan teman-teman sekelasnya, siswa melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai kompetensi tertentu.
Tak ada gading yang tak retak, artinya tak ada sesuatu yang sem- purna. Demikian pula dalam penulisan buku ini ini masih banyak kekurangan. Penulis berharap para pembaca memberikan kritik, saran dan masukan untuk peraikan dan penyempurnaan buku ini. Atas kon- tribusi tersebut, penulis ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan buku ini dapat memberikan yang terbaik bagi kemajuan dunia pendidikan In- donesia.
Penulis
TENTANG BUKU GURU
PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU SMALB KELAS X
BAB I PENDAHULUAN
A. Sekilas Tentang Tunagrahita
Dalam bahasa Indonesia kata tuna berarti memiliki kekura- ngan dan grahita merupakan kata serapan dari bahasa Jawa gra- hito yang berarti kemampuan berfi kir atau akal. Sehingga secara harfi ah dapat diartikan tunagrahita adalah kekurangan atau lemah pikiran (akal). Dapat diartikan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang memiliki keterbatasan dalam kemampuan berpikir atau menggunakan akalnya.
Secara disiplin keilmuan yang terkait dengan para tunagra- hita telah dikemukaan. Batasan ketunagrahitaan pada dewasa ini umumnya mengacu pada tiga hal yaitu:
1. Kemampuan fungsi intelektual atau kecerdasan di bawah rata- rata.
2. Keterbatasan dalam dua atau lebih dalam perilaku adaptif;
maksudnya anak tersebut mengalami kesulitan dalam menye- lesaikan tugas-tugas sesuai dengan usianya.
3. Manisfestasi ketunagrahitaan terjadi sebelum usia 18 tahun.
Fungsi intelektual tunagrahita mengalami penyimpangan mi- nimal dua standart deviasi di bawah kurva normal, dengan demiki- an dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Tunagrahita ringan dengan IQ antara 51 – 70 2. Tunagrahita sedang dengan IQ antara 25 – 50 3. Tunagrahita berat IQ dibawah 25
Perilaku adaptif dapat diartikan sebagai kemampuan me- nyesuaikan diri pada suatu situasi atau berprilaku dalam suatu masalah. Perilaku adaptif juga ditandai dengan jenis perilaku in- dividu untuk mengubah perilaku tidak konstruktif (mengganggu) menjadi sesuatu yang lebih konstruktif. Perilaku adaptif tersebut meliputi:
1. Keterampilan practical: aktifi tas kehidupan sehari-hari, fungsi motorik, kemasyarakatan, kemampuan menolong diri sendiri dan kemampuan okupasional.
2. Keterampilan konseptual: keterampilan berbahasa reseptif dan ekspresif, kemampuan membaca dan menulis, kemampuan mengelola keuangan dan komunikasi non verbal.
3. Keterampilan sosial: menjalin dan menjaga pertemanan, inter- aksi dengan sesamanya, berpartisipasi dalam kelompok, men- jaga emosi, penyesuaian diri dan sosial, memecahkan masalah, pengarahan diri sendiri, tanggung jawab, sosialisasi, perkiraan
Klasifi kasi tunagrahita dapat juga dikelompokan menurut du- kungan yang diperlukan dalam kehidupan di masyarakat. Ameri- can Association for Intellectual Development Disabilities (AAIDD), me- ngelompokan ketunagrahitaan adalah sebagai berikut:
1. Intermittent: Memerlukan bantuan insidental (sebentar-sebentar) terutama pada masa transisi antara sekolah dan pekerjaan.
2. Limited: Memerlukan sedikit bantuan seperti latihan kerja pada masa sekolah dan masa transisi antara sekolah dan pekerjaan.
3. Extensive: Memerlukan bantuan dalam pelayanan pendidikan serta kehidupan sehari-hari di rumah dan tempat bekerja.
4. Pervasive: Memerlukan bantuan pada hampir seluruh kehidupan- nya.
Klasifi kasi anak tunagrahita yang dipaparkan dalam buku ini berdasar fungsi intelektualnya. Hal tersebut sesuai dengan kondisi di Indonesia, klasifi kasi peserta didik tunagrahita cenderung meng- gunakan penggolongan berdasarkan tingkat kecerdasan. Klasifi kasi tunagrahita tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tunagrahita Ringan
Secara sepintas kita sulit membedakan antara anak tunagra- hita ringan dengan anak yang sebaya dengannya. Mereka umum- nya memiliki penampilan fi sik yang tidak terlalu berbeda dengan sebayanya. Demikian pula dalam lingkup pergaulan sosial. Umum- nya anak tunagrahita ringan mengalami masalah yang serius dalam pendidikan ketika mereka menginjak kelas 3 atau 4 SD. Secara umum dapat dijelaskan karakteristik mereka sebagai berikut:
• Kemungkinan mengalami beberapa masalah dalam fi sik, ke- sehatan dan motorik.
• Adakalanya dapat melakukan aktifi tas olahraga dan sosial ber- sama sebayanya.
• Dapat berinteraksi dan bersahabat dengan sesama dan se- bayanya dengan kemungkinan canggung.
• Dapat menguasai kemampuan sosial dan bermasyarakat de- ngan baik, jika diberi pelatihan yang sesuai.
• Kemungkinan memerlukan bantuan untuk hidup di lingku- ngannya.
• Kemungkinan memerlukan bantuan fi nansial ketika menginjak dewasa.
• Dapat melakukan pekerjaan yang kompetitif dengan perlakuan khusus atau dilingkungan khusus.
• Dapat diajarkan kemandirian dan kemampuan fungsional.
2. Tunagrahita Sedang
• Dapat terlibat dalam komunikasi yang sederhana, tetapi menga- lami kesulitan memahami dan berbicara dalam permasalahan.
• Kemungkinan memerlukan tehnik komunikasi non verbal (mi- salnya bahasa isyarat dan gestures).
• Umumnya mempunyai gangguan kesehatan dan motorik yang signifi kan.
• Keterbatasan interaksi sosial.
• Memerlukan bantuan dalam kegiatan hidup sehari-hari.
• Dapat mengerjakan pekerjaan yang sangat sederhana pada rangkaian pekerjaan seperti sheltered workshop atau lingkun- gan pekerjaan yang terlindung.
• Dapat diberi pelatihan fungsional misalnya keterampilan meno- long diri sendiri.
3. Tunagrahita Berat
Secara awam kita dapat mengenali keberadaan anak tunagrahi- ta berat. Keberadaan mereka umumnya dapat kita kenali dari perkem- bangan fi sik dan mental sejak usia dini. Mereka mengalami keterlam- batan yang signifi kan dalam perkembangan berjalan dan bicara. Lebih lanjut kita bahas karakteristik mereka sebagai berikut:
Kemampuan berkomunikasi:
• Sangat terbatas, sering hanya bersuara non verbal.
• Tidak effektif.
Dimensi fi sik:
• Kemampuan motorik yang terbatas.
• Kesehatan yang rapuh.
Adaptasi sosial:
• Kemungkinan tidak terlihat.
Kemandirian:
• Ketergantungan penuh.
Occupational/Vacational Level:
• Tidak dapat dilatih keterampilan.
Performa Akademik:
• Kemungkinan hanya dapat menguasai kemampuan dasar ke- hidupan.
B. Prinsip Pembelajaran Tunagrahita
Beberapa prinsip pembelajaran bagi tunagrahita adalah:
1. Prinsip pengulangan
Berhubung anak tunagrahita dapat cepat lupa mengenai apa yang dipelajarinya makaa dalam mengajar mereka membutuh- kan pengulangan-pengulangan disertai contoh yang bervariasi.
Oleh karena itu, dalam mengajar anak tunagrahita janganlah cepat-cepat maju atau pindah ke bahan berikutnya sebelum
2. Prinsip keperagaan
Prinsip ini digunakan dalam mengajar anak tunagrahita meng- ingat keterbatasan anak tunagrahita dalam berpikir abstrak.
Oleh karena itu sangat penting, dalam mengajar anak tunagra- hita dapat menggunakan alat peraga. Dengan alat peraga anak tunagrahita memperoleh tanggapan yang di pelajari atau tidak terjadi verbalisme.
3. Prinsip skala perkembangan mental
Prinsip ini menekankan pada pemahaman mengenai usia kecer- dasan anak tunagrahita. Dengan memahami usia ini guru dapat menentukan materi pelajaran yang sesuai dengan usia mental anak tunagrahita tersebut. Dengan demikian, anak tunagrahita dapat mempelajari materi yang diberikan guru. Melalui prinsip ini dapat diketahui perbedaaan antar dan intra individu.
4. Prinsip individualisasi
Prinsip ini menekankan perhatian pada pebedaan individual anak tunagrahita. Anak tunagrahita belajar sesuai dengan ira- manya sendiri. Namun, ia harus berinteraksi dengan teman atau dengan lingkungannya. Jadi, ia tetap belajar bersama da- lam satu ruangan dengan kedalaman dan keluasan materi yang berbeda.
5. Prinsip kecekatan motorik tunagrahita
Melalui prinsip ini anak tunagrahita dapat mempelajari sesuatu dengan melakukannya. Di samping itu dapat melatih motorik anak terutama untuk gerakan yang kurang mereka kuasai.
6. Prinsip korelasi
Maksud prinsip ini adalah bahan pelajaran dalam bidang ter- tentu hendaknya berhubungan dengan bidang lainnya atau berkaitan langsung dengan kegiatan kehidupan sehari-hari anak tunagrahita.
7. Prinsip pembelajaran bertahap
Prinsip ini menghendaki agar dalam memberikan pembelajaran pada anak tunagrahita diberikan secara bertahap yakni tugas- tugas itu dirinci dan diberikan setahap-demi setahap. Misalnya dalam hal menulis abjad dapat dimulai dengan menebalkan ab- jad dengan pensil, menghubungan titik-titik dari huruf tersebut dan pada akhirnya menulis dengan contoh.
C. Karakteristik Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik merupakan salah satu model pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran anak tu- nagrahita karena makna pembelajaran tematik yakni mewujudkan pembelajaran di sekolah hubungannya dengan kehidupn sehari-hari.
Pernyataan tersebut sesuai dengan pembelajaran pada tunagrahita yakni menyesuaikan bahan pembelajaran dengan kehidupannya sehari-hari dengan tujuan setelah anak belajar dapat menyesuai- kan diri di masyarakat. Pembelajaran tematik berorientasi pada ke- butuhan dan perkembangan siswa.
Pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang menekankan pada penetapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learn- ing by doing). Karena itu “pembelajaran tematik haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak”, (Piaget dalam Ruslan: 2011:254). Pernyataan tersebut sesuai dengan ke- beradaan anak tunagrahita termasuk tunagrahita ringan.
Pembelajaran tematik yang merupakan salah satu model pem- belajaran mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut:
1) Berpusat pada siswa.
Pembelajaran ini termasuk pendekatan belajar modern yang menempatkan siswa sebagi subyek dan guru hanya sebagai fasilitator (memberikan kemudahan pada siswa untuk melaku- kan sesuatu).
2) Memberikan pengalaman langsung.
Siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (melakukan lang- sung) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang abstrak.
3) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.
Focus pembelajaran diarhkan pada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran.
Siswa dapat memahami konsep tertentu secara utuh.
5) Bersifat fl eksibel.
Guru dapat mengaitkan bahan ajar dari mata pelajaran de- ngan mata pelajaran lainnya, bahkan mengaitkan dengan ke- hidupan siswa dan keadaan lingkungan di mana sekolah dan siswa berada.
6) Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensinya.
7) Menggunakan prinsip belajar sambil bermain menyenangkan (adaptasi dari Ruslan, 2011: 258-259). Karakteristik tersebut sesuai dengan ciri-ciri belajar anak tunagrahita ringan, seper- ti: belajar dengan melakukan, belajar sambil bermain, belajar dengan suasana fl esibel, materi pelajaran dihubungan dengan lingkungan dengan tujuan bahwa anak setelah belajar dapat menggunakan keterampilannya untuk hidup dengan baik di lingkungannya.
BAB II PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN
A. Pendekatan Saintifi k
Pembelajaran saintifi k merupakan pembelajaran yang men- gadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir sains, terkembangkannya “sense of inquiry” dan kemampuan berpikir kre- atif siswa (Alfred De Vito, 1989)
Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientifi c), tematik ter- padu (tematik antarmata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penying- kapan/ penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstu- al, baik individual maupun kelompok maka sangat disaran- kan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah(project based learning). (Per- mendikbud No 65/2013).
Identifi kasi Pembelajaran Saintifi k:
• Muatan Materi Pembelajaran (Pengetahuan).
• Langkah pembelajaran.
Aktifi tas pembelajaran saintifi k meliputi :
No. Kegiatan Aktivitas Belajar
Mengamati (observing)
Menanya (questioning)
Pengumpulan data (experi- men-ting)
Mengasosiasi (asociating)
Mengkomunikasikan (com- muni-cation)
Melihat, mengamati, membaca, mendengar, menyimak (tanpa dan dengan alat)
Mengajukan pertanyaan dari yang bersifat factual sampai yang bersifat hipotesis.
Diawali dengan bimbingan guru sampai dengan mandiri (menjadi suatu kebiasaan/kemandirian), menentukan data yang diperlu- kan dari pertanyaan yang diaju- kan, menentukan sumber data (benda, dokumen, buku, eksperi- men), mengumpulkan data.
Menganalisis data dalam bentuk membuat katagori. Menyimpul- kan dari hasil analisis data dimu- lai dari yang tidak berstruktur ke yang berstruktur.
Menyampaikan hasil konseptual- isasi dalam bentuk lisan, tulisan, diagram, gambar.
B. Penilaian Autentik
Penilaian autentik adalah penilaian yang mengharuskan siswa untuk menunjukkan pengetahuan (knowledge), sikap (afective), ket- erampilan (skills) dan kemampuannya (ability) dalam situasi yang nyata /real life situations (Popham, 1995; Bookhart, 2001). Penila- ian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara kompre- hensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan kelu- aran (output) pembelajaran. (Permendikbud No 66/2013)
Penilaian autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifi kan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Istilah Assessment merupakan sinonim dari penilaian, pengu- kuran, pengujian, atau evaluasi.
Istilah autentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel. Secara konseptual penilaian autentik lebih bermakna secara signifi kan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstan- dar sekalipun.
Ketika menerapkan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.
Penilaian autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunakan standar tes berbasis norma, pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat. Tentu saja, pola penilaian seperti ini tidak diartikan dalam proses pembe- lajaran, karena memang lazim digunakan dan memperoleh legiti- masi secara akademik.
Penilaian autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru bekerja sama dengan peserta didik. Dalam penila- ian autentik, seringkali pelibatan siswa sangat penting. Asumsinya, peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai. Peserta didik diminta un- tuk merefl eksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tu- juan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi.
Pada penilaian autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah. Penilaian autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar, kegiatan siswa belajar, motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar.
Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembela- jaran, guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefi nisikan harapan atas tugas-tugas yang harus me- reka lakukan.
Penilaian autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang sub- jek. Penilaian autentik harus mampu menggambarkan sikap, ket- erampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuan- nya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerap- kan perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar itu, guru dapat mengidentifi kasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan un- tuk materi apa pula kegiatan remedial harus dilakukan.
Jenis-jenis penilaian autentik : 1. Penilaian kinerja
Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesai- annya.
Berikut ini cara merekam hasil penilaian berbasis kinerja:
a. Daftar cek (checklist).
b. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records).
c. Skala penilaian (rating scale).
d. Memori atau ingatan (memory approach).
2. Penilaian proyek
Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas di- maksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data.
Berikut ini tiga hal yang perlu diperhatian guru dalam pe- nilaian proyek:
a. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
b. Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
c. Keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.
3. Penilaian portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai ha- sil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduk- si secara berkelompok, memerlukan refl eksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan lang- kah-langkah seperti berikut ini:
a. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofo- lio.
b. Guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
c. Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelaja- ran.
d. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengum- pulannya.
e. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria terten- tu.
f. Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik memba- has bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.
g. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.
4. Penilaian tertulis
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, me- nerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan seba- gainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehensif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.
C. Panduan Penilaian
Teknik dan Instrumen Penilaian
Secara umum, terdapat berbagai teknik penilaian yang dapat digunakan, antara lain:
1. Tes (tertulis, lisan, dan praktik atau unjuk kerja)
2. Teknik observasi atau pengamatan yang dilakukan selama pem-
3. Teknik pemberian tugas untuk perorangan atau kelompok yang dapat berbentuk tugas rumah dan atau atau proyek
Di dalam Buku Panduan Guru ini, teknik penilaian yang dikem- bangkan, yaitu:
1. Tes (tertulis dan unjuk kerja) 2. Observasi (pengamatan) 3. Portofolio.
Instrumen Penilaian:
1. Instrumen tes tertulis dalam bentuk soal
Penilaian dilakukan dengan cara menghitung jumlah jawaban benar dari soal yang tersedia.
Skor maksimal : 100
Penilaian = skor yang diperoleh
skor ideal × 100
Konversi Nilai
(Skala 0 – 100) Predikat Klasifi kasi
81 - 100 A SB (Sangat Baik)
66 - 80 B B (Baik)
51 - 65 C C (Cukup)
0 - 50 D K (Kurang)
Keterangan:
• Skor yang diperoleh adalah jumlah skor yang diperoleh siswa dari kriteria 1 dan kriteria 2.
• Skor ideal adalah perkalian dari banyaknya kriteria dengan skor tertinggi.
Sebagai contoh ini, skor ideal = 2 × 4 = 8.
Perhitungan nilai akhir siswa:
• Oni : 78 × 100 = 87,5
• Tagor : 88 × 100 = 100
2. Instrumen unjuk kerja dalam bentuk Rubrik Penilaian.
Contoh Rubrik Penilaian Bernyanyi
No. Kriteria Baik Sekali Baik Cukup Belum
mampu 1 Kemam-
puan bernyanyi
Memenuhi 3 aspek (hafal syair, nada tepat, dan ekspresif)
Memenuhi 2 dari 3 aspek
Me- menuhi 1 dari 3 aspek
Belum me- menuhi semua 2 Keper-
cayaan diri
Tidak terlihat
ragu-ragu Terlihat
ragu-ragu Memer- lukan bantuan guru
Belum berani tampil
Contoh Lembar Pengamatan Kegiatan Diskusi
No. Kriteria Terlihat (9) Belum
Terlihat (9)
1. Kemampuan bertanya . . . . . .
2. Kemampuan menjawab per-
tanyaan . . . . . .
3. Keberanian menyampaikan
pendapat . . . . . .
3. Instrumen Observasi berbentuk Lembar Pengamatan Contoh Lembar Pengamatan Kegiatan Permainan
No. Kriteria Terlihat (9)
Belum Terlihat
(9) 1. Siswa mampu mengikuti ins-
truksi . . . . . .
2. Siswa terlibat aktif dalam per-
mainan . . . . . .
3.
Siswa mengungkapkan pera- saan dan pendapatnya se- telah melakukan kegiatan permainan
. . . . . .
Contoh Hasil Pengamatan Kegiatan Permainan
No. Nama
Siswa
Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3
Terlihat (9)
Belum Terlihat
(9)
Terlihat (9)
Belum Terlihat
(9)
Terlihat (9)
Belum Terlihat
(9)
1. Meilani 2. Oni 3. Beto 4. Tagor
Penilaian Sikap atau Karakter Siswa
1. Pada semester I, berbagai sikap atau nilai karakter yang akan dikembangkan meliputi jujur, disiplin, tanggung jawab, san- tun, peduli, percaya diri, patuh terhadap tata tertib, teliti, kasih sayang, kerja sama, menghargai, dan sebagainya.
2. Untuk mencapai sikap atau nilai karakter tersebut, selain di- lakukan secara tidak langsung melalui berbagai aktivitas pem- belajaran yang dilakukan, guru diharapkan dapat melakukan penilaian secara langsung atas ketercapaian nilai karakter ter- tentu pada diri siswa. Langkah-langkah di bawah ini dapat di- jadikan pertimbangan untuk melakukan penilaian.
a. Mengingat kendala yang ada, terutama ketersediaan waktu, maka dalam1 semester, guru dapat menentukan 2 atau 3 nilai karakter yang akan dikembangkan dan dinilai secara langsung. Jenis karakter yang akan dikembangkan, hen- daknya menjadi keputusan sekolah, meskipun tidak menu- tup kemungkinan, dalam satu kelas ada tambahan 1 atau 2 nilai karakter lain, sesuai dengan kebutuhan di kelas terse- but.
b. Misalnya dalam semester 2 ini, nilai karakter yang akan dikembangkan adalah:
• Disiplin
• Kerja sama
• Percaya diri
c. Setiap karakter dibuatkan indikator. Contoh indikator disi- plin dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Nilai Karakter yang Dikembangkan
Disiplin Ketaatan atau kepatuhan terhadap pera- turan
• Kehadiran ke seko- lah tepat waktu
• Senantiasa men- jalankan tugas piket
• Menyelesaikan tu- gas sesuai dengan waktuyang di- sepakati
d. Kembangkan instrumen penilaian, misalnya lembar pengamatan.
Contoh Lembar Pengamatan
Nilai Karakter yang Dikembangkan: Disiplin Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV Ket.
Bulan: ... 2016
No. Nama Siswa
Perubahan Tingkah Laku
Ket.
Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV BT MT MB SM BT MT MB SM BT MT MB SM BT MT MB SM
1. Meilani 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
2. Oni 3. Beto 4. Tagor
Keterangan:
Tahapan perkembangan nilai karakter sebagaimana tercantum dalam Kerangka Acuan Pendidikan Karakter (Kemendiknas, 2010) meliputi:
BT: Belum Terlihat
Apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal pe- rilaku yang dinyatakan dalam indikator karena belum memahami makna dari nilai itu (tahap anomi).
MT: Mulai Terlihat
apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda- tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum
MB: Mulai Berkembang
apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda peri- laku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten, kar- ena selain sudah ada pemahaman dan kesadaran juga mendapat penguatan lingkungan terdekat dan lingkungan yang lebih luas (Tahap Sosionomi).
SM: Sudah Membudaya
apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten karena selain sudah ada pemahaman dan kesadaran dan mendapat penguatan lingkungan terdekat dan lingkungan yang lebih luas sudah tum- buh kematangan moral (tahap autonomi).
Guru diharapkan mengembangkan teknik dan instrumen penilaian leb- ih lanjut menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah.
STANDAR KOPETENSI KELULUSAN DAN KOMPETENSI INTI 1. Standar Kopetensi Kelulusan
SIKAP Memiliki prilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, per- caya diri, dan bertangguang jawab dalam ber- interaksi secara efektif dengan lingkungan so- sial dan alam lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermain.
PENGETAHUAN Memiliki pengetahuan yang factual dan kon- septual berdasarkan rasa ingin tahunya ten- tang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya dalam wawasan kemanusian, ke- bangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian di lingkungan rumah, sekolah dan tempat bermain.
KETERAMPILAN Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif dalam ranah abstrak dan kongkret sesuai dengan yang ditugaskan ke- padanya.
2. Kompetensi Inti
1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang di- anutnya
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, te- man, guru, dan tetangganya.
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan bendabenda yang dijum- painya di rumah, di sekolah dan tempat bermain.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
BAB III TENTANG BUKU GURU
Buku guru ini disusun sebagai pendamping buku siswa agar guru mendapat gambaran yang jelas dan rinci dalam mengembangkan pem- belajaran untuk siswa tunagrahita pada tema “Tanah Airku”. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tema tersebut antara lain adalah:
1. Tema ”Tanah Airku” terdiri dari 3 subtema
2. Setiap subtema dikembangkan menjadi 6 pembelajaran dan sebuah proyek
a. Sub tema 1 adalah ”Kekayaan Alam” yang membahas menonton berbagai kekayaan Alam Indonesia.
b. Sub tema 2 adalah ”Keberagaman Bahasa” yang membahas Ra- gam Bahasa Daerah di Indonesia.
c. Sub tema 3 adalah ”Keberagaman Suku” yang membahas Ragam suku bangsa Di Indonesia.
3. Setiap sub tema dikembangkan menjadi 6 pembelajaran dengan acuan kegiatan:
a. Pembelajaran 1 sampai dengan pembelajaran 4 berisi materi pem- belajaran
b. Pembelajaran 5 melakukan review pembelajaran 1 dan 2 serta penilaian keseluruhan
c. Pembelajaran 6 review pembelajaran 3 dan 4 serta projek. Kegiatan pembelajaran proyek mengarahkan siswa untuk aktif melakukan kegiatan dalam kelompok membuat suatu karya atau percobaan yang terkait dengan kompetensi-kompetensi yang diajarkan pada sub tema tersebut. Kegiatan projek dapat dilanjutkan di rumah dengan melakukan komunikasi dengan orang tua.
PENGGUNAAN BUKU GURU
Buku Guru memiliki dua fungsi, yaitu sebagai petunjuk penggunaan Buku Siswa dan sebagai acuan kegiatan pembelajaran di kelas. Mengingat pentingnya buku ini, disarankan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Bacalah halaman demi halaman dengan teliti.
2. Pahamilah setiap Kompetensi Dasar dan Tujuan Pembelajaran yang dikaitkan dengan tema.
3. Upayakan untuk mencakup Kompetensi Inti (KI) I dan (KI) II dalam semua kegiatan pembelajaran. Guru diharapkan melakukan pe- nguatan untuk mendukung pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
4. Dukunglah ketercapaian Kompetensi Inti (KI) I dan (KI) II dengan kegiatan pembiasaan, keteladanan, dan budaya sekolah.
5. Sesuaikanlah setiap langkah kegiatan yang berhubungan dengan buku siswa sesuai dengan halaman yang dimaksud.
6. Mulailah setiap kegiatan pembelajaran dengan memberikan pengan- tar sesuai tema pembelajaran. Lebih baik lagi jika dilengkapi de ngan kegiatan pembukaan yang menyenangkan dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa. Misalnya bercerita, mengajukan pertanyaan yang menantang, menyanyikan lagu, menunjukkan gambar dan seba- gainya. Demikian juga pada saat menutup pembelajaran. Pemberian pengantar pada setiap perpindahan subtema dan tema, menjadi faktor yang sangat penting untuk memaksimalkan manfaat dan keberhasilan pendekatan tematik terpadu yang diuraikan dalam buku ini.
7. Kembangkan ide-ide kreatif dalam memilih metode pembelajaran.
Termasuk di dalamnya menemukan kegiatan alternatif apabila kon- disi yang terjadi kurang sesuai dengan perencanaan (misalnya, siswa tidak bisa pergi ke kebun binatang).
8. Pilihlah beragam metode pembelajaran yang akan dikembangkan (misalnya bermain peran, mengamati/ observasi, bertanya-jawab, bercerita, pemberian tugas dan sebagainya). Penggunaan beragam metode tersebut, selain melibatkan siswa secara langsung, diharap- kan juga dapat melibatkan warga sekolah dan lingkungan sekolah.
9. Kembangkanlah keterampilan berikut ini:
a. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM).
b. Keterampilan bertanya yang berorientasi pada kemampuan berkomunikasi dan kemandirian.
c. Keterampilan membuka dan menutup pembelajaran, dan Kete- rampilan mengelola kelas dan hiasan kelas.
10. Gunakanlah media yang sesuai dengan materi pembelajaran atau sumber belajar alternatif.
11. Gunakanlah pendekatan saintifi k dan konseptual.
12. Pada semester I terdapat 5 tema.
13. Perkiraan alokasi waktu dapat merujuk pada struktur kurikulum.
Meskipun demikian, alokasi waktu menurut mata pelajaran ha- nyalah sebagai petunjuk umum. Guru diharapkan menentukan sendiri alokasi waktu berdasarkan situasi dan kondisi di sekolah
14. Pada akhir tema buku siswa, dilengkapi dengan bahan-bahan latih- an yang sejalan dengan pencapaian kompetensi. Meskipun demikian, guru dianjurkan untuk menambah bahan-bahan latihan bagi siswa dari sumber-sumber yang relevan.
15. Hasil unjuk kerja siswa yang berupa karya dan bukti penilaian dapat berfungsi sebagai portofolio siswa.
16. Buatlah catatan refl eksi setelah satu tema selesai, sebagai bahan untuk melakukan perbaikan pada proses pembelajaran selanjutnya.
Misalnya faktor-faktor yang menyebabkan pembelajaran berlang- sung dengan baik, kendala-kendala yang dihadapi, dan ide-ide kre- atif untuk pengembangan pembelajaran lebih lanjut.
17. Demi pencapaian tujuan pembelajaran, diperlukan komitmen guru untuk mendidik dengan sepenuh hati (antusias, kreatif, kasih sayang, dan kesabaran).
Jaringan Tema Silabus Pemetaan KIKD ke dalam Tema
No. Kompetensi Dasar Subtema
I II III 1. IPA
3.1. Mendeskripsikan mandaaf hewan bagi ke- hidupan manusia
4.1 Mempraktekkan kegiatan Pemanfaatan he- wan bagi kehidupan manusia.
9 9
9 9
9 9 2. IPS
3.1 Memahami kegiatan manusia dari aspek keruangan, konektivitas antar ruang, pe- rubahan dan keberlanjutannya, pada aspek sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan pada masa praaksara, Hindu Budha, Islam 3.2. Memahami kegiatan manusia dalam hubu-
ngan dengan kondisi (geografi s, kelembagaan sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya) da- lam dinamika interaksi dengan lingkungan alam, pada masa praaksara, Hindu-Budha, Islam.
4.1. Menceritakan kegiatan manusia dari aspek keruangan, konektivitas antar ruang, pe- rubahan dan keberlanjutannya, pada aspek sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan pada masa praaksara, Hindu Budha, Islam 4.2. Menceritakan kegiatan manusia dalam
hubungannya dengan kondisi (geografi s, 9
9 9
9 9
9
9
9
No. Kompetensi Dasar Subtema I II III 3. Matematika
3.3 Memahami bentuk persen dalam kehidupan sehari-hari
4.3 Menghitung bentuk persen dalam kehidupan sehari-hari dengan bantuan kalkulator.
9 9
9 9
9 9
4. Bahasa Indonesia
3.2 Mengenal teks prosedur sederhana dalam ba- hasa Indonesia lisan dan tulis dengan memi- lih dan memilah kosa kata baku.
4.2 Memaparkan prosedur sederhana dalam ba- hasa Indonesia lisan dan tulis dengan memi- lih dan memilah kosa kata baku.
9
9 9
5. SBDP
3.1 Mengenal cara membentuk objek fl ora dengan media bahan lunak (clay/tanah liat/tepung/
plastisin).
3.2. Mengenal lagu daerah setempat.
4.1. Membuat berbagai bentuk objek fl ora dengan media bahan lunak (clay/tanah liat/ tepung/
plastisin
4.2 Menyanyikan lagu daerah setempat
9
9 9
9 9
9 6. Penjasorkes
3.4.Mengenal prosedur keterampilan kombinasi gerak tungkai kaki dan lengan tangan dalam aktivitas air secara sederhana.
4.4 Mempraktikkan kombinasi gerak tungkaikaki dan lengan tangan renang gaya renang dalam aktivitas air secara sederhana.
9
9
7. PPKn.
3.3. Memahami keberagaman Ras dan gender da- lam bingkai Bhineka tunggal ika
4.3. Menyaji keberagaman Ras dan gender dalam bingkai Bhineka tunggal ika
9 9
9 9
9 9
Keterangan:
Sub Tema 1 : Kekayaan Alam
Sub Tema 2 : Keberagaman Bahasa Sub Tema 3 : Keberagaman Suku
Jaringan Subtema I
SBDK
3.1. Mengenal cara membentuk objek flora dengan media bahan lunak (clay/tanah liat/tepung/plastisin).
4.1.Membuat berbagai bentuk objek flora dengan media bahan lunak (clay/tanah
IPA
3.1. Mendeskripsikan manfaat h e w a n b a g i k e h i d u p a n manusia
4.1 Mempraktekkan kegiatan Pemanfaatan hewan bagi kehidupan manusia
PPKn
KD. 3.3 Memahami keberagam- an ras dan gender da lam bingkai Bhineka tunggal ika.
KD 4.3 Menyaji keberagaman Ras dan gender dalam bingkai Bhineka tunggal ika.
IPS
K3.1 M e m a h a m i k e g i a t a n m a n u s i a d a r i a s p e k keruangan, konektivitas antar ruang, perubahan dan keberlanjutannya, pada aspek sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan pada masa praaksara, Hindu Budha, Islam 4.1. Menceritakan kegiat-
an manusia dari aspek keruangan, konektivitas antar ruang, perubahan dan keberlanjutannya, pada aspek sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan pada masa praaksara, Hindu Budha, Islam
Bahasa Indonesia
3.2 Memahami teks laporan hasil wawancara sederhana tentang kegiatan vokasional dalam bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan 4.2. Mempraktikkan teks pe-
tunjuk tentang vokasional hasil laporan wawancara sederhana dalam bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan.
Matematika
KD 3.2 M e m a h a m i b e n t u k persen dalam kehidupan sehari-hari
KD 4.2. M e n g h i t u n g b e n t u k persen dalam kehidupan s e h a r i - h a r i d e n g a n bantuan kalkulator.
KEKAYAAN ALAM
Jaringan Subtema 2
Matematika
KD 3.2 Memahami bentuk persen dalam kehidupan sehari- hari
KD 4.2. Menghitung bentuk persen dalam kehidupan sehari- hari dengan bantuan kalkulator.
IPS
3.1 M e m a h a m i k e g i a t a n m a n u s i a d a r i a s p e k keruangan, konektivitas antar ruang, perubahan dan keberlanjutannya, p a d a a s p e k s o s i a l , ekonomi, budaya dan pendidikan pada masa praaksara, Hindu Budha, Islam
4.1. Menceritakan kegiatan m a n u s i a d a r i a s p e k keruangan, konektivitas antar ruang, perubahan dan keberlanjutannya, p a d a a s p e k s o s i a l , ekonomi, budaya dan pendidikan pada masa praaksara, Hindu Budha, Islam
IPA
3.1. Mendeskripsikan mandaaf hewan bagi kehidupan manusia
4.1 Mempraktekkan kegiatan Pemanfaatan hewan bagi kehidupan manusia Bahasa Indonesia
3.2 Memahami teks laporan h a s i l w a w a n c a r a s e d e r h a n a t e n t a n g kegiatan vokasional dalam bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan 4.2. Mempraktikkan teks
p e t u n j u k t e n t a n g vokasional hasil laporan wawancara sederhana dalam bahasa Indonesia, b a i k l i s a n m a u p u n tulisan.
Bahasa Indonesia
1.1. Meresapi anugerah Tu- han Yang Maha Esa berupa bahasa Indone- sia yang diakui sebagai bahasa persatuan yang kokoh dan sarana belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan
2.4. Memiliki kepedulian terh- adap lingkungan melalui pemanfaatan bahasa In- donesia
KEBERAGAMAN BAHASA
Jaringan Subtema 3
PJOK
3.4. M e n g e n a l p r o s e d u r keterampilan kombinasi gerak tungkai kaki dan lengan tangan dalam a k t i v i t a s a i r s e c a r a sederhana
4.4. Mempraktikkan kombinasi gerak tungkai kaki dan lengan tangan renang gaya renang dalam aktivitas air secara sederhana.
IPA
3.1. Mendeskripsikan manfaat h e w a n b a g i k e h i d u p a n manusia
4.1 Mempraktekkan kegiatan Pemanfaatan hewan bagi kehidupan manusia
IPS
3.1 M e m a h a m i k e g i a t a n m a n u s i a d a r i a s p e k keruangan, konektivitas antar ruang, perubahan dan keberlanjutannya, pada aspek sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan pada masa praaksara, Hindu Budha, Islam 4.1. Menceritakan kegiat-
an manusia dari aspek keruangan, konektivitas antar ruang, perubahan dan keberlanjutannya, pada aspek sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan pada masa praaksara, Hindu Budha, Islam
SBDP
3.2.Mengenal lagu daerah se- tempat.
3.3. Mengenal tarian nusantara 4.2. Menyanyikan lagu daerah
setempat.
4.3. Menari tarian nusantara.
Matematika
KD 3.2 Memahami bentuk persen dalam kehidupan sehari- hari
KD 4.2. M e n g h i t u n g b e n t u k persen dalam kehidup- an sehari-hari dengan bantuan kalkulator.
KEBERAGAMAN SUKU
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... iii Tentang Buku Guru... v Daftar Isi ... ... xxvi Subtema 1 Kekayaan Alam ... 1
Pembelajaran 1 ... 5 Pembelajaran 2 ... 13 Pembelajaran 3 ... 21 Pembelajaran 4 ... 29 Pembelajaran 5 ... 35 Pembelajaran 6 ... 39 Subtema 2 Keberagaman Bahasa ... 47 Pembelajaran 1 ... 51 Pembelajaran 2 ... 60 Pembelajaran 3 ... 69 Pembelajaran 4 ... 77 Pembelajaran 5 ... 84 Pembelajaran 6 ... 88 Subtema 3 Keberagaman Suku ... 93 Pembelajaran 1 ... 97 Pembelajaran 2 ... 104 Pembelajaran 3 ... 113 Pembelajaran 4 ... 122 Pembelajaran 5 ... 132 Pembelajaran 6 ... 137 Profi l Penulis... ... 143 Profi l Penelaah.... ... 145 Profi l Ilustrator.... ... 146 Glosarium... 147 Daftar Pustaka... ... 150
Subtema
1 Kekayaan Alam
RUANG LINGKUP PEMBELAJARAN SUBTEMA I
No. Kegiatan Pembelajaran Indikator
Pembelajaran 1 1. MengamaƟ gambar, siswa dapat mengidenƟ fi kasi hewan-hewan langka yang hidup di Indonesia.
2. Menyimak bacaan, siswa dapat menyebutkan he- wan langka yang hidup di Indonesia.
3. Membaca contoh, siswa mampu mengelompokkan hewan berdasarkan ras habitat tempat hidupnya.
4. MengamaƟ hewan ber- dasarkan ras habitat tem- pat hidupnya.
5. BerlaƟ h, siswa dapat membuat bentuk binatang dari plasƟ sin.
1. Sikap
3.3.1. Menjelaskan arƟ keberaga- man ras.
4.3.1. Mendeskripsikan arƟ kebera gaman ras.
2. Pengetahuan
3.1.1. Menjelaskan pemanfaatan hewan berdasarkan ras tempat hidupnya.
3.1.1. Mengenal cara membentuk objek fl ora dengan media lunak ( Clay/tanah liat/
tepung/ plasƟ sin).
3. Keterampilan
3.1.1. Menyebutkan pemanfaatan hewan berdasarkan ras tempat hidupnya
4.1.1. Membuat objek fl ora den- gan media lunak (Clay/ta- nah liat/ tepung/ plasƟ sin).
Pembelajaran 2 1. MengamaƟ gambar, siswa dapat menjelaskan hewan peliharaan yang dapat menjadi sahabat manusia.
2. Menyimak bacaan, siswa dapat menyebutkan hewan peliharaan yang dapat menjadi sahabat manusia.
3. MengamaƟ gambar, siswa dapat mengelompokkan hewan peliharaan ber- dasarkan ras perkembang- biakannya.
4. Menyimak bacaan, siswa dapat menyebutkan nama hewan yang dapat diman- faatkan untuk menjadi sumber makanan manusia.
5. Berdiskusi, siswa dapat mengelompokkan hewan yang dimanfaatkan daging dan telurnya untuk menjadi sumber makanan manusia.
1. Sikap
3.3.1. Menjelaskan arƟ keberaga- man ras
4.3.1. Mendeskripsikan arƟ keber- agaman ras
2. Pengetahuan
3.1.1. Menjelaskan pemanfaatan hewan berdasarkan ras tempat hidupnya.
3.1.1. Mengenal cara membentuk objek fl ora dengan media lunak ( Clay/tanah liat/
tepung/ plasƟ sin) 3. Keterampilan
3.1.1. Menyebutkan pemanfaatan hewan berdasarkan ras tempat hidupnya
4.1.1. Membuat objek fl ora den- gan media lunak (Clay/ta- nah liat/ tepung/ plasƟ sin)
No. Kegiatan Pembelajaran Indikator Pembelajaran 3 1. MengamaƟ gambar, siswa
dapat mengidenƟ fi kasi jenis-jenis binatang yang ada dalam gambar.
2. BerlaƟ h, siswa dapat membuat kartu tanya untuk kegiatan wawancara sederhana.
3. Merangkum, siswa dapat menyeleaikan soal isian singkat tentang hasil wawancara sederhana.
4. MengamaƟ tabel, siswa dapat membaca tabel persen (%) suatu kegiatan hasil wawancara.
5. MengamaƟ tabel, siswa dapat menjawab soal-soal yang berkaitan dengan kegiatan hasil wawancara.
1. Sikap
3.3.1. Menjelaskan arƟ keberaga- man ras
4.3.1. Mendeskripsikan arƟ keber- agaman ras
2. Pengetahuan
3.2.1. Mengenal arƟ persen dalam kehidupan sehari-hari 3.2.1. Membaca contoh teks lapo-
ran wawancara sederhana tentang kegiatan vokasional dalam Bahasa Indonesia 3. Keterampilan
4.2.1. Menjelaskan arƟ persen da- lam kehidupan sehari-hari 4.2.1. Menyusun daŌ ar pertan-
yaan wawancara sederhana tentang kegiatan vokasional dalam Bahasa Indonesia
Pembelajaran 4 1. Menyimak bacaan, siswa dapat dapat memilih kata tanya.
2. Mencoba, siswa dapat melakukan kegiatan wawancara sederhana dengan narasumber.
3. Bekerjasama, siswa dapat menjawab pertanyaan berdasarkan teks bacaan yang disediakan.
4. MengamaƟ tabel, siswa dapat membaca tabel persen (%) suatu kegiatan hasil wawancara.
5. Belajar, siswa dapat men- jawab menjawab perta- nyaan berkaitan kegiatan hasil wawancara.
1. Sikap
3.3.1. Menjelaskan arƟ keberaga- man ras.
4.3.1. Mendeskripsikan arƟ keber- agaman ras.
2. Pengetahuan
3.2.1. Mengenal arƟ persen dalam kehidupan sehari-hari.
3.2.1. Membaca contoh teks lapo- ran wawancara sederhana tentang kegiatan vokasional dalam Bahasa Indonesia.
3. Keterampilan
4.2.1. Menjelaskan arƟ persen da- lam kehidupan sehari-hari.
4.2.1. Menyusun daŌ ar perta- nyaan wawancara seder- hana tentang kegiatan vokasional dalam Bahasa Indonesia.
No. Kegiatan Pembelajaran Indikator Pembelajaran 5 1. Pengamatan, siswa dapat
menjelaskan perbedaan hewan langka dan hewan Ɵ dak langka.
2. Menalar, siswa dapat menjelaskan perbedaan
berdasarkan ras habitat di darat dan di air.
3. Mencoba, siswa da- pat menghitung persen berdasarkan kehidupan sehari-hari.
4. Merangkum. Siswa dapat mencatat hal-hal penƟ ng yang telah dipelajari 5. Penilaian. Siswa da-
pat menjawab soal-soal dengan benar.
6. Kerjasama, siswa dapat melakukan kerjasama dengan orang tua.
1. Sikap
3.3.1. Menjelaskan arƟ keberaga- man ras
4.3.1. Mendeskripsikan arƟ keber- agaman ras
2. Pengetahuan
3.1.1. Menjelaskan pemanfaatan hewan berdasarkan ras tempat hidupnya.
3.1.1. Mengenal cara membentuk objek fl ora dengan media lunak ( Clay/tanah liat/
tepung/ plasƟ sin).
3. Keterampilan
3.1.1. Menyebutkan pemanfaatan hewan berdasarkan ras tempat hidupnya 4.1.1. Membuat objek fl ora
dengan media lunak (Clay/
tanah liat/ tepung/ plasƟ sin.
Pembelajaran 6 1. Merangkum, siswa dapat membuat cacatan men- genai hewan langka yang dilindungi.
2. Berkreasi, siswa dapat mengolah makanan yang berasal dari hewan petelur.
3. Kerjasama, siswa dapat melakukan kerjasama dengan orang tua.
1. Sikap
3.3.1. Menjelaskan arƟ keberaga- man ras.
4.3.1. Mendeskripsikan arƟ keber- agaman ras.
2. Pengetahuan
3.2.1. Mengenal arƟ persen dalam kehidupan sehari-hari.
3.2.1. Membaca contoh teks lapo- ran wawancara sederhana tentang kegiatan vokasional dalam Bahasa Indonesia.
3. Keterampilan
4.2.1. Menjelaskan arƟ persen da- lam kehidupan sehari-hari.
4.2.1. Menyusun daŌ ar pertan- yaan wawancara sederhana tentang kegiatan vokasional dalam Bahasa Indonesia.