• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFESIONALISME PENYELENGGARA ADHOC

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROFESIONALISME PENYELENGGARA ADHOC"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

T E S I S

Oleh

AMRULLAH NIM : 187054024

MAGISTER ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2020

Universitas Sumatera Utara

(2)

Menyetujui, Komisi Pembimbing

Ketua Program Studi,

Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA

Dekan,

Dr. Muryanto Amin, M.Si

Tanggal lulus : 17 November 2020 Prof. Subhilhar, MA., Ph.D

Ketua

Dr. Muryanto Amin, M.Si Anggota

Universitas Sumatera Utara

(3)

T E S I S

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Politik dalam Program Studi Magister Ilmu Politik pada Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

AMRULLAH NIM : 187054024

MAGISTER ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2020

Universitas Sumatera Utara

(4)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Subhilhar, MA., Ph.D

Anggota : 1. Dr. Muryanto Amin, M.Si 2. Dr. Tonny P. Situmorang, M.Si 3. Husni Thamrin, S.Sos., MSP

Universitas Sumatera Utara

(5)

PROFESIONALISME PENYELENGGARA ADHOC

(Studi Keberatan Saksi dalam Tahapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Tingkat Kecamatan pada Pemilihan Umum Tahun 2019

di Kabupaten Bireuen)

Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Master Ilmu Politik pada Program Studi Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, 17 November 2020 Penulis,

Amrullah

Universitas Sumatera Utara

(6)

i ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya keberatan saksi terhadap formulir C1 dalam rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kabupaten pada pemilihan umum 2019 di Kabupaten Bireuen. Permasalahan tersebut seharusnya sudah selesai pada saat rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan.

Profesionalisme Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) selaku penyelenggara adhoc pada tingkat kecamatan sangat menentukan proses pelaksanaan rekapitulasi tingkat kecamatan. Keberatan saksi pada rekapitulasi tingkat kecamatan dapat timbul kembali dalam rekapitulasi tingkat kabupaten jika PPK tidak mampu menyelesaikan keberatan saksi tersebut secara profesional.

Untuk membuktikan profesionalisme PPK dalam rekapitulasi tingkat kecamatan pada pemilihan umum 2019 di Kabupaten Bireuen, penelitian ini akan menjawab bagaimana profesionalisme PPK dalam melaksanakan proses rekapitulasi tingkat kecamatan, serta seperti apa bentuk tindak lanjut penyelesaian keberatan saksi oleh PPK dalam proses rekapitulasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan teori utama integritas pemilu dari Pippa Norris. Untuk menjelaskan profesionalisme PPK digunakan teori profesionalisme dari Gregorius Sahdan.

Untuk melihat bentuk penyelesaian keberatan saksi digunakan teori penyelesaian konflik dari Spiegel, Novri Susan, dan Ralf Dahrendorf.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme PPK dalam rekapitulasi tingkat kecamatan sudah sangat baik dari kapasitas regulatif dan kapasitas implementatif. Sedangkan dari kapasitas administratif masih terdapat beberapa kekurangan ketelitian dalam pengisian formulir rekapitulasi. Selain itu, keberatan saksi dalam rekapitulasi tingkat kecamatan sudah diakomodir dengan baik oleh PPK berdasarkan ketentuan undang-undang dan PKPU. Model penyelesaian keberatan saksi yaitu dengan diskusi (konsolidasi), rekomendasi Panwaslu Kecamatan (mediasi), dan melalui gugatan ke Mahkamah Konstitusi (arbitrasi), yang dilakukan dilakukan secara bertahap.

Kata Kunci: Profesionalisme, Penyelenggara Adhoc, Pemilihan Umum 2019, Kabupaten Bireuen

Universitas Sumatera Utara

(7)

ii Universitas Sumatera Utara

(8)

iii

KATA PENGANTAR

Tesis ini berjudul “Profesionalisme Penyelenggara Adhoc: Studi Keberatan Saksi Dalam Tahapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Tingkat Kecamatan pada Pemilihan Umum Tahun 2019 di Kabupaten Bireuen”. Tesis ini menjelaskan profesionalisme Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dalam tahapan rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan pada Pemilihan Umum 2019 di Kabupaten Bireuen. Profesionalisme PPK dilihat dari kapasitas regulatif, kapasitas implementatif, dan kapasitas administratif dalam pelaksanaan rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara. Selain itu itu, penelitian ini juga mengkaji pola penyelesaian keberatan saksi yang dijalankan oleh PPK pada saat rekapitulasi tingkat kecamatan tersebut.

Dalam tesis ini diuraikan bahwa dalam rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan terjadi beberapa keberatan saksi.

Penyelesaian terhadap keberatan saksi tidak hanya dilakukan dengan cara-cara diskusi, namun juga adanya rekomendasi dari Panwaslu kecamatan, bahkan sampai kepada gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Profesionalisme PPK sebagai penyelengga adhoc sangat menentukan bagaimana jalannya proses rekapitulasi, terutama ketika adanya keberatan dari para saksi. Secara umum masih perlu dilakukan peningkatan sumber daya manusia terhadap penyelenggara adhoc tersebut untuk meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan tahapan pemilu.

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini. Penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Master Ilmu Politik pada Program Studi Magister Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan tesis ini, terutama kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Muryanto Amin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dan selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan masukan dalam proses penyusunan tesis ini sampai selesai.

3. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA, selaku Ketua Jurusan Program Studi Magister Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. Heri Kusmanto, MA, Ph.D, selaku Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Politik Universitas Sumatera.

Universitas Sumatera Utara

(9)

iv

5. Bapak Prof. Subhilhar, MA., Ph.D, selaku ketua komisi pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan serta koreksi dalam proses penyusunan tesis ini hingga akhir penulisan.

6. Bapak Dr. Tonny P. Situmorang, M.Si, selaku anggota komisi penguji yang telah banyak memberikan kritik dan saran yang membangun dalam penulisan tesis ini.

7. Bapak Husni Thamrin, S.Sos., MSP, selaku anggota komisi penguji yang telah banyak memberikan kritik dan saran yang membangun dalam penulisan tesis ini.

8. Seluruh staf pengajar Program Studi Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis.

9. Kepada orang tua yang tiada henti-hentinya selalu mendoakan penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan tesis ini.

10. Isteriku tercinta (Mutia Nanda, S.Sos), yang selalu mendoakan penulis dan dengan penuh kesabaran mendampingi penulis dalam suka maupun duka, serta telah menjaga anak kita dengan baik (Arsyad Abdul Yazid) selama penulis mengejar cita-cita, dan semoga Arsyad menjadi anak yang shaleh dan baik budi kepada orang tua serta adiknya kelak.

11. KPU RI yang telah memberikan beasiswa kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan Magister (S2) Konsentrasi Tata Kelola Pemilu pada Program Pascasarjana Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Medan.

12. Ketua KIP Kabupaten Bireuen (Bapak Agusni, SP., M.Si) beserta seluruh anggota komisioner, Sekretaris KIP Kabupaten Bireuen (Bapak Saifuddin, SH), dan seluruh jajaran Sekretariat KIP Kabupaten Bireuen yang telah meluangkan waktu, memberikan data dan dukungan kepada penulis untuk penelitian ini sehingga penelitian ini dapat selesai.

13. Staf Administrasi MIP USU (Kak Nina dan Bang Ilham) yang senantiasa membantu dan memfasilitasi penulis dari awal hingga akhir dalam proses penulisan ini.

14. Kawan-kawan MIP 2018 Konsentrasi Tata Kelola Pemilu batch IV yang saling memberikan dukungan dan semangat dalam menyelesaikan tesis ini.

15. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis selama ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Universitas Sumatera Utara

(10)

v

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan tesis ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan masukan yang bersifat membangun demi kesempurnaan tesis ini.

Akhirnya, semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian tesis ini dan semoga tesis ini bermanfaat bagi para pembacanya. Aamin Yaa Rabbal A’lamin.

Medan, 17 November 2020

(Amrullah)

Universitas Sumatera Utara

(11)

vi

RIWAYAT HIDUP

Amrullah lahir di Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh pada tanggal 18 Maret 1986

dan merupakan anak pertama dari enam bersaudara dari pasangan (alm) Bapak Drs. M. Nasir dan Ibu Rosmawati, S.Pd.

Pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 1 Matangglumpangdua, lulus Tahun 1998 dan melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SLTP Negeri 1 Peusangan, lulus Tahun 2001. Kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMK Negeri 1 Peusangan, lulus Tahun 2004. Kemudian melanjutkan pendidikan Strata 1 di jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Almuslim Peusangan dan lulus Tahun 2010.

Pada Tahun 2018 melanjutkan pendidikan Magister di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Program Studi Magister Ilmu Politik dan lulus Tahun 2020.

Medan, 17 November 2020

Amrullah

Universitas Sumatera Utara

(12)

vii DAFTAR ISI

Halaman ABSTRAK ...

ABSTRACT ...

KATA PENGANTAR ...

RIWAYAT HIDUP ...

DAFTAR ISI ...

DAFTAR TABEL ...

DAFTAR GAMBAR ...

DAFTAR LAMPIRAN ...

i iii iii vi vii

ix x xi BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ...

1.2. Perumusan Masalah ...

1.3. Tujuan Penelitian ...

1.4. Manfaat Penelitian ...

1.5. Penelitian Terdahulu ...

1.6. Kerangka Teori ...

1.6.1. Teori Integritas Pemilu ...

1.6.2. Teori Profesionalisme ...

1.6.3. Teori Konflik ...

1.7. Kerangka Berpikir ...

1.8. Metode Penelitian ...

1.9. Tempat dan Waktu Penelitian ...

1.9.1. Tempat Penelitian ...

1.9.2. Waktu Penelitian ...

1.10. Jenis dan Sumber Data ...

1.11. Teknik Pengumpulan Data ...

1.12. Teknik Analisis Data ...

1.13. Sistematika Penulisan ...

1 8 9 9 10 17 18 23 26 31 32 33 33 33 33 34 35 36 BAB II PROFIL WILAYAH, AKTIFITAS SOSIAL, DAN

SEJARAH POLITIK KABUPATEN BIREUEN

2.1. Profil Wilayah Kabupaten Bireuen ...

2.1.1. Sejarah Terbentuknya Kabupaten Bireuen ...

2.1.2. Sejarah Pemberian Nama Bireuen ...

2.1.3. Bireuen Sebagai “Kota Juang” ...

2.1.4. Data Geografis, Luas Wilayah, dan Aktifitas Sosial ...

2.1.5. Distribusi dan Kepadatan Penduduk ...

38 38 40 41 42 46

Universitas Sumatera Utara

(13)

viii

2.2. Pemilu dan Lembaga Penyelenggara Pemilu ...

2.3. Komisi Independen Pemilihan Kabupaten Bireuen ...

2.4. Panitia Pemilihan Kecamatan ...

2.5. Pemilihan Umum 2019 di Kabupaten Bireuen ...

2.5.1. Daerah Pemilihan (Dapil) ...

2.5.2. Jumlah Pemilih ...

2.5.3. Peserta Pemilihan Umum ...

2.5.4. Hasil Pemilihan Umum 2019 ...

47 50 51 52 53 55 56 58 BAB III PROFESIONALISME PANITIA PEMILIHAN

KECAMATAN DAN POLA PENYELESAIAN

KEBERATAN SAKSI DALAM TAHAPAN

REKAPITULASI HASIL PENGHITUNGAN SUARA TINGKAT KECAMATAN PADA PEMILU 2019 DI KABUPATEN BIREUEN

3.1. Proses Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Tingkat Kecamatan ...

3.1.1. Persiapan Rekapitulasi ...

3.1.2. Pembagian Tugas ...

3.1.3. Jadwal Rekapitulasi ...

3.1.4. Bentuk dan Teknis Pelaksanaan Rekapitulasi ...

3.1.5. Akuntabilitas Hasil Rekapitulasi ...

3.2. Model Penyelesaian Keberatan Saksi ...

3.2.1. Diskusi Terhadap Keberatan Saksi ...

3.2.2. Rekomendasi Panwaslu Kecamatan ...

3.2.3. Upaya Hukum dan Gugatan ke Mahkamah Konstitusi ...

3.3. Analisis Model Penyelesaian Keberatan Saksi ...

3.4. Analisis Profesionalisme Panitia Pemilihan Kecamatan . 3.4.1. Kapasitas Regulatif ...

3.4.2. Kapasitas Implementatif ...

3.4.3. Kapasitas Administratif ...

60 62 66 68 70 73 76 81 82 84 88 90 91 94 96 BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan ...

4.2. Rekomendasi ...

98 101 DAFTAR PUSTAKA ... 103

Universitas Sumatera Utara

(14)

ix

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1.1

Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 2.3 Tabel 2.4 Tabel 2.5 Tabel 2.6 Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4

Putusan DKPP Kepada Penyelenggara Pemilu ...

Jumlah Kecamatan dan Gampong dalam Kabupaten Bireuen ...

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Bireuen ...

Jumlah Daerah Pemilihan dan Alokasi Kursi Anggota DPRK Bireuen Pemilihan Umum Tahun 2019 ...

Jumlah Pemilih Pada Pemilihan Umum Tahun 2019 di Kabupaten Bireuen ...

Partai Politik dan Anggota DPRK Kabupaten Bireuen ...

Perolehan Kursi Anggota DPRK Bireuen dalam Pemilu Tahun 2019 ...

Jadwal Proses Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara di Tingkat Kecamatan ...

Metode Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Tingkat Kecamatan dalam Wilayah Desa ...

Keberatan Saksi dalam Rapat Pleno Rekapitulasi Tingkat Kecamatan ...

Putusan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum oleh Mahkamah Konstitusi ...

3 44 46 54 55 57 59 68 71 78 97

Universitas Sumatera Utara

(15)

x

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1.1

Gambar 2.1

Alur Pemikiran Penelitian ...

Peta Kabupaten Bireuen ...

32 45

Universitas Sumatera Utara

(16)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Pedoman Wawancara ... 109

Universitas Sumatera Utara

(17)

1 1.1. Latar Belakang

Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan prasyarat utama dalam sistem politik demokratis. Pemilu adalah pesta demokrasi yang menjadi sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat untuk memilih wakil-wakilnya menempati kursi pemerintahan. Untuk menentukan sebuah negara telah melaksanakan pemilu secara demokratis, maka konsep pemilu berintegritas (electoral integrity) merupakan sebuah rujukan yang tepat.1 Pemilu yang berintegritas menjadi poin penting dalam pelaksanaan pemilu yang demokratis.

Integritas pemilu dimaknai secara beragam oleh para ahli dari seluruh dunia. Berbagai pandangan, konsep dan standar disusun untuk menilai integritas pemilu. Norris (2013), menyatakan bahwa pemilu berintegritas merujuk kepada pelaksanaan pemilu yang sesuai dengan norma dan standar pemilu yang berlaku secara universal.2 Untuk mengukur integritas pemilu di seluruh dunia, proyek integritas pemilu yang dikembangkan norris mengklasifikasikan pemilu kedalam 11 tahapan siklus pemilu dari periode pra pemilihan (pre election), periode pemilihan (election), dan pasca pemilihan (pasca election).3

Pemilu berintegritas sebagai pemilu yang berdasarkan prinsip demokrasi dari hak pilih universal dan kesetaraan politik seperti yang dicerminkan dalam standar dan perjanjian internasional, profesional, tidak memihak dan transparan dalam persiapan dan pengelolaannya melalui siklus pemilu.4

Sedangkan dalam kajian Administration and Cost of Elections (ACE) Project (2012), menyebutkan bahwa integritas merupakan kepatuhan terhadap

1 Pippa Norris. 2013. dalam Aditya Perdana, dkk. 2019. Tata Kelola Pemilu di Indonesia. Jakarta: Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia. hal 23.

2 Ibid

3 Pippa Norris. 2014. Why Elections Fail. NY: Cambridge University Press.

4 Lihat Kofi Annan, et.al. 2012. Deepening Democracy: A Strategy For Improving The Integrity Of Elections Worldwide : Global Commission On Election, Democracy And Security. Dapat diakses dari http://kofiannanfoundation.org/sites/default/files/deepeningdemocracy 0.pdf.

Universitas Sumatera Utara

(18)

kode etik dan nilai moral, dalam konteks pemilu berarti patuh terhadap prinsip- prinsip demokrasi.5 Pemilu berintegritas harus memastikan setiap prosedur, tindakan, dan juga keputusan dalam proses pemilu dapat sejalan dengan hukum (Undang-undang, konstitusi, hukum internasional, intrumen kepemiluan, dan semua ketentuan yang berlaku).6

Cordenillo dan Ellis (2012) menyatakan pemilu berintegritas mensyaratkan beberapa hal yaitu, adanya kode etik dan perilaku dalam politik, kerangka sistem pemilu yang jujur dan adil, administrasi pemilu yang transparan serta tidak memihak, kebebasan politik dalam berpartisipasi, akuntabilitas peserta pemilu, dan adanya kontrol masyarakat dan media untuk menjaga integritas.7

Di Indonesia, standar untuk mewujudkan pemilu berintegritas telah tersusun dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan dijabarkan dalam Undang- Undang kepemiluan. Pemilu berintegritas diimplementasikan dengan menekankan penyelenggaraan pemilu yang berpedoman pada azas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.8 Walaupun tidak ada satu standar atau konsep yang baku terhadap integritas pemilu yang berlaku secara universal di seluruh dunia. Namun dari berbagai standar, pandangan, dan konsep pemilu berintegritas dari berbagai ahli di seluruh dunia, dapat dimaknai secara umum bahwa pemilu berintegritas hanya akan terwujud apabila pemilu dapat berjalan secara jujur dan adil (free and fair election).

Salah satu elemen untuk mewujudkan integritas pemilu secara jujur dan adil adalah penyelenggara pemilu yang berintegritas. Aspek penting pemilu berintegritas menekankan tanggung jawab penyelenggara pemilu terhadap kewenangan yang dimilikinya.9 Integritas penyelenggara pemilu perlu terjaga, sehingga mampu melaksanakan pemilu secara langsung, umum, bebas, rahasia,

5 Administration and Cost of Elections (ACE) Project. 2012. The Encyclopaedia : Electoral Integrity. Dapat di akses di: http://aceproject.org/ace-en

6 Jesus Orozco Henriques. 2010. Electoral Justice: The International IDEA Handbook. Sweden: IDEA.

7 Raul Cordenillo and Andrew Ellis. 2012. The Integrity of Elections: The Role of Regional Organizations.

Sweden: IDEA.

8 Lihat Pasal 22e UUD 1945.

9Aditya Perdana, dkk. 2019. Tata Kelola Pemilu di Indonesia. Jakarta: Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia. hal 25.

Universitas Sumatera Utara

(19)

jujur dan adil, serta terbebas dari pengaruh siapapun. Hal ini akan terlihat dari profesionalisme penyelenggara dalam melaksanakan semua tahapan pemilu.

Kenyataannya, integritas penyelenggara pemilu masih menjadi persoalan dalam setiap penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Tingginya pelanggaran pemilu oleh penyelenggara pemilu dari tingkat pusat sampai ke tingkat paling bawah telah menimbulkan keraguan dalam masyarakat terhadap integritas penyelenggara pemilu. Berdasarkan data DKPP sampai dengan Juni 2020 menunjukkan bahwa DKPP telah memutuskan 1.597 perkara dan sanksi sebanyak 6.562 penyelenggara pemilu sejak tahun 2012 sampai dengan tahun 2020.10

Tabel 1.1

Putusan DKPP Kepada Penyelenggara Pemilu

No Uraian Jumlah Putusan

1. Rehabilitasi 3.378

2. Teguran Tertulis 2.168

3. Pemberhentian Sementara 65

4. Pemberhentian Tetap 631

5. Perberhentian dari Jabatan Ketua 53

6. Ketetapan 267

Jumlah 6.562

Sumber : DKPP. 2020, diolah penulis.

Dari data tersebut dapat dilihat masih tingginya laporan pelanggaran etik penyelenggara pemilu yang dilaporkan kepada DKPP. Hal ini membuktikan bahwa integritas penyelenggara pemilu perlu banyak perbaikan agar dapat terciptanya pemilu yang jujur dan adil.

Sejak merdeka, Indonesia telah melaksanakan pemilu sebanyak 12 kali, yaitu pemilu pertama tahun 1955 sampai pemilu tahun 2019.11 Keputusan

10 DKPP. 2020. Rilis: Sewindu Menjaga Kemandirian, Integritas, dan Kredibilitas Penyelenggara Pemilu.

dapat diakses dalam https://dkpp.go.id/sewindu-menjaga-kemandirian-integritas-dan-kredibilitas- penyelenggara-pemilu-12-juni-2012-12-juni-2020/.

11 Aditya Perdana, Op.cit. hal 2.

Universitas Sumatera Utara

(20)

Mahkamah Konstitusi Nomor 14 / PUU-11/2013 tentang pemilu serentak telah memberikan nuansa baru bagi pesta demokrasi di Indonesia.12 Akibat putusan tersebut penyelenggaraan pemilu tahun 2019 dilakukan secara serentak. Pemilu serentak (concurrent elections) secara sederhana dipahami sebagai sistem pemilu yang melaksanakan beberapa pemilu pada satu waktu secara bersamaan.13

Pemilu tahun 2019 merupakan pemilu pertama yang dilakukan secara serentak, yaitu pemilihan legislatif dilaksanakan sekaligus dengan pemilihan presiden pada tanggal dan hari yang sama yaitu 17 April 2019. Secara umum, pelaksanaan pemilu secara serentak bertujuan untuk meningkatkan kualitas pemilu secara efektif dan efisien sehingga terwujudnya pemilu yang berintegritas.14 Langkah penyelenggaraan pemilu secara serentak tersebut memang merupakan suatu tujuan yang mulia. Dari beberapa sisi, pemilu serentak 2019 dinilai memiliki dampak yang positif. Namun perlu diketahui bahwa dalam mewujudkan pemilu yang demokratis, pemilu serentak memiliki retensi yang sangat tinggi, serta masih meninggalkan banyak permasalahan.

Dari sisi penyelenggaraannya, proses pemilu secara serentak terjadi sangat keras yang berdampak pada efektifitas kerja penyelenggara pemilu. Pemilu serentak yang diharapkan meningkatkan kualitas layanan penyelenggara justru menimbulkan kelelahan akibat retensi pemilu yang sangat keras sehingga berdampak kepada kualitas penyelenggaraan pemilu.15 Pemilu secara serentak memang dapat mengefisienkan waktu, namun disisi yang lain terjadi konflik dengan intensitas yang tinggi.16

12 Keputusan tersebut merupakan jawaban atas gugatan uji materi terhadap Undang-Undang No. 42 Tahun 2008 yang diajukan oleh Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia Dr. Effendi Gazali bersama Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Serentak. Selanjutnya tentang keputusan tersebut lihat https://nasional.kompas.com/ read/2014/01/23/1536382/Ini, diakses pada 10 Oktober 2019.

13 Benny Geys. 2006. Explaining Voter Turnout: A Review Of Aggregate-Level Research. Electoral Studies, 25(4), 637-663.

14 http://kisp-id.org/04/2019/tulisan/esensi-pemilu-serentak-2019/.

15 Disampaikan oleh Dekan Fisip USU, Bapak Dr. Muryanto Amin, M.Si, dalam Seminar “Evaluasi Sistem Pemilu Serentak 2019” di Universitas Sumatera Utara tanggal 22 Oktober 2019.

16Disampaikan oleh Pengajar Ilmu Politik Fisip USU, Bapak Dr. Tonny P. Situmorang, M.Si, dalam Seminar

“Evaluasi Sistem Pemilu Serentak 2019” di Universitas Sumatera Utara tanggal 22 Oktober 2019.

Universitas Sumatera Utara

(21)

Dampak dari penyelenggaraan pemilu secara serentak sangat dirasakan oleh penyelenggara pemilu tingkat adhoc, terutama penyelenggara di tingkat kecamatan yaitu Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).Selain bertambahnya jenis pemilihan, di tingkat kecamatan juga terjadi perubahan mekanisme rekapitulasi hasil penghitungan suara. Pada pemilu 2019 tidak ada lagi rekapitulasi di tingkat desa. Hasil penghitungan suara di TPS berupa C1 dan lampirannya langsung dibawa ke kecamatan untuk dilakukan rekapitulasi di kecamatan dengan dua tahapan rekapitulasi yaitu rekap per TPS dan rekap per desa.

Mekanisme rekapitulasi hasil penghitungan suara yang demikian pada pemilu 2019 memunculkan peluang yang sangat besar untuk terjadinya kesalahan dalam proses rekapitulasi, baik kesalahan dari sisi teknis pelaksanaan, maupun dari sisi hasil. Apalagi tahapan ini merupakan tahapan puncak pemilu yang sangat memungkinkan terjadi berbagai tindakan penyimpangan, pelanggaran, dan manipulasi dengan berbagai motif yang menguntungkan salah satu peserta pemilu.

Selain itu, dalam setiap pemilu penyelenggara dari tingkat pusat sampai ke penyelenggara tingkat bawah dianggap kurang berintegritas dalam menyelenggarakan pemilu. Bahkan penyelenggara adhoc sendiri dianggap sebagai sumber terjadinya kecurangan dalam pemungutan, penghitungan dan rekapitulasi hasil pemilu. Problem terbesar dalam penyelenggaraan pemilu adalah teknis pemilu yang beririsan dengan kode etik dan etika penyelenggara pemilu.17

Permasalahan terbesar yang dihadapi penyelenggara 2019 berada pada tingkat kecamatan.18 Berbagai permasalahan dan gugatan hasil pemilu berawal dari profesionalisme penyelenggara tingkat kecamatan. Ramlan Surbakti (2011) menyebutkan bahwa permasalahan pemilu di tingkat PPK yang berupa manipulasi hasil penghitungan suara disebabkan oleh mekanisme rekapitulasi yang dilakukan secara berjenjang.19 Kenyataannya, terdapat begitu banyak permasalahan di

17 Disampaikan oleh Anggota DKPP RI, Dr. Ida Budhiati dalam rapat evaluasi Tim Pemeriksa Daerah pada tanggal 17 Desember 2018.

18 Pramono Ubaid, Anggota KPU RI, dalam https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190430185528-32- 390938/kpu-sebut-banyak-kendala-rekapitulasi-di-kecamatan. Dikutip 20 Oktober 2019.

19 Lihat buku yang ditulis Ramlan Surbakti. 2011. Seri Demokrasi Electoral: Menjaga Integritas Pemungutan dan Penghitungan Suara. Jakarta: Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan.

Universitas Sumatera Utara

(22)

tingkat kecamatan dalam pemilu 2019, dan yang paling menonjol adalah permasahan yang terjadi pada proses rekapitulasi hasil penghitungan suara karena tahapan tersebut adalah tahapan puncak dan penentuan dalam pemilu.20 Tahapan rekapitulasi hasil penghitungan suara merupakan tahapan yang krusial karena dalam tahapan tersebut banyak terjadi manipulasi suara berbasis uang.21

Masalah integritas pemilu tidak hanya dihadapi di Indonesia. Integritas pemilu semakin banyak diteliti dan telah menjadi perhatian khusus di seluruh dunia. Hasil penelitian Norris (2019) terhadap integritas pemilu di seluruh dunia yang tertuang dalam Perception of Electoral Integrity dataset (PEI-7.0) menunjukkan angka integritas pemilu yang cukup baik di beberapa negara dan juga angka integritas pemilu yang memprihatinkan di beberapa negara lainnya.22 Selain itu beberapa kajian seperti permasalahan pada pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2000 dan 2016, kegagalan manajemen pemilu di Inggris dan Irlandia, timbul persoalan kurangnya integritas badan penyelenggara pemilu di Amerika Latin dan Afrika, merupakan bukti perhatian terhadap integritas pemilu di berbagai negara.23

Kondisi serupa juga terjadi pada penyelenggaraan pemilu 2019 di Kabupaten Bireuen.24 Pada tahapan rekapitulasi hasil penghitungan suara di tingkat kabupaten (rekapitulasi tingkat kabupaten) terdapat banyak keberatan saksi yang tidak menerima hasil rekapitulasi penghitungan suara. Bahkan, yang uniknya adalah keberatan saksi yang diajukan bukanlah terhadap hasil rekapitulasi

20 Ada banyak berita terhadap PPK pada pemilu 2019 diantaranya seperti yang terjadi di Kota Medan, dalam https://sumutpos.co/2019/05/27/dugaan-kecurangan-pemilu-di-medan-hari-ini-kpu-dalami-klarifikasi- oknum-ppk/, di Cilincing dan Koja dalam https://news.detik.com/berita/d-4593837/gakkumdu-tetapkan-10- petugas-ppk-cilincing-koja-jadi-tersangka-pidana-pemilu, di bengkulu, dalam https://www.cnnindonesia.

com/nasional/20190514211414-12-394900/dugaan-kecurangan-pemilu-polisi-tangkap-3-panitia-pemilihan serta di berbagai daerah lainnya.

21 Jeffrey A. Winters. 2016. Electoral Dynamics in Indonesia: Money Politics, Patronage and Clientelism at the Grassroots. Bulletin of Indonesian Economic Studies, vol. 52, issue 3, 405-40.

22 Lihat hasil penelitian Pippa Norris and Max Grömping. 2019. Electoral Integrity Worldwide. Australia:

University of Sydney.

23 Carolien van Ham dan Holly Ann Garnett. 2019. Building Impartial Electoral Management? Institutional Design, Independence And Electoral Integrity. International Political Science Review 40(3), 313-334.hal 2.

24 Kabupaten Bireuen adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Aceh hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Utara pada tahun 1999.

Universitas Sumatera Utara

(23)

dalam formulir DA125 dari proses rekapitulasi hasil penghitungan suara di tingkat kecamatan (rekapitulasi tingkat kecamatan), tetapi justru para saksi menyampaikan perbedaan jumlah suara pada formulir C1 dari hasil penghitungan suara di TPS.

Dilihat dari mekanisme rekapitulasi, keberatan saksi terhadap formulir C1 disampaikan pada rekapitulasi tingkat kecamatan, bukan pada rekapitulasi tingkat kabupaten. Semua pemasalahan terkait perbedaan jumlah pada formulir C1 dari setiap TPS seharusnya sudah diselesaikan pada rapat pleno rekapitulasi tingkat kecamatan. Dalam rapat pleno rekapitulasi tingkat kecamatan itulah seharusnya dilakukan pencocokan data, penelitian data, adu data, koreksi, pembetulan, dan perbaikan data, sehingga hasil rekapitulasi di tingkat kecamatan yang dituangkan dalam formulir DA1 datanya sudah benar-benar valid dan sesuai. PPK memberikan kesempatan kepada para saksi dan juga panitia pengawas untuk menyampaikan keberatan dan tanggapan terhadap kecocokan serta kebenaran data pada saat rekapitulasi di tingkat kecamatan.

Keberatan saksi yang terjadi dalam rapat pleno rekapitulasi tingkat kabupaten terhadap formulir C1 dari TPS tersebut, menimbulkan keraguan terhadap profesionalisme PPK dalam menyelesaikan keberatan saksi pada saat rekapitulasi tingkat kecamatan. Asumsi ini juga diperkuat dengan formulir keberatan saksi dan kejadian khusus (formulir DA2-KPU) dari beberapa kecamatan yang menyebutkan adanya keberatan saksi pada saat rekapitulasi tingkat kecamatan. Dalam rapat pleno rekapitulasi tingkat kabupaten juga terdapat beberapa keberatan saksi yang terjadi namun tidak tercatat dalam formulir DA2- KPU. Selain itu, lebih lanjut lagi permasalahan rekapitulasi dibuktikan juga dengan adanya gugatan Perselisihan Hasil Pemihan Umum (PHPU) pada pemilu tahun 2019 di Kabupaten Bireuen.26

25 Formulir DA1 adalah formulir rekapitulasi hasil penghitungan suara di tingkat kecamatan. Formulir DA1 inilah yang kemudian disampaikan kepada kabupaten untuk kemudian dibacakan saat rekapitulasi di tingkat kabupaten/kota.

26 Lihat Gugatan Partai Bulan Bintang Nomor 92-19-01/PHPU.DPR-DPRD/XVII/2019 tanggal 1 Juli 2019, dan Gugatan Partai NasDem Nomor 189-05-01/PHPU.DPR-DPRD/XVII/2019 tanggal 1 Juli 2019.

Universitas Sumatera Utara

(24)

1.2. Perumusan Masalah

Sebagai penyelenggara pemilu pada tingkat adhoc, PPK yang merupakan ujung tombak penyelenggaraan pemilu di Kabupaten Bireuen tentunya berupaya dengan keras melaksanakan semua tahapan pemilu yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Tidak hanya tahapan pemilu saja yang perlu diperhatikan, namum integritas penyelenggara pemilu menjadi hal yang utama dalam menjalankan setiap tahapan pemilu sehingga terwujudnya pemilu yang berintegritas.

Fenomena keberatan saksi terhadap formulir C1 yang terjadi dalam rapat pleno rekapitulasi tingkat kabupaten, menimbulkan keraguan terhadap profesionalisme PPK dalam melaksanakan rekapitulasi tingkat kecamatan, khususnya dalam menangani keberatan saksi pada rapat pleno rekapitulasi.

Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan terhadap profesionalisme PPK pada saat melakukan rapat pleno rekapitulasi tingkat kecamatan pada Pemilu 2019 di Kabupaten Bireuen.

Penelitian ini ingin membuktikan profesionalisme PPK dalam proses rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan pada pemilu 2019 di Kabupaten Bireuen. Profesionalisme dimaksud tidak hanya terkait bagaimana proses rekapitulasi dijalankan sesuai dengan aturan, namun juga profesionalisme PPK dilihat dari bagaimana pola penyelesaian keberatan saksi yang dijalankan PPK untuk menindaklanjuti keberatan saksi pada saat rekapitulasi tingkat kecamatan. Profesionalisme PPK akan menunjukkan upaya penyelenggara pemilu di tingkat adhoc tersebut mewujudkan pemilu yang berintegritas.

Untuk menguji asumsi terhadap profesionalisme PPK dalam melaksanakan tahapan rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan pada pemilu 2019 di Kabupaten Bireuen, maka penelitian ini akan menjawab sejumlah pertanyaan sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

(25)

1. Bagaimana profesionalisme PPK dalam pelaksanaan rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan pada pemilu 2019 di Kabupaten Bireuen?

2. Bagaimana pola penyelesaian keberatan saksi oleh PPK dalam proses rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan pada pemilu 2019 di Kabupaten Bireuen?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Menjelaskan profesionalisme PPK dari kapasitas regulatif, implementatif, dan administratif dalam melaksanakan rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara tingkat kecamatan pada pemilu 2019 di Kabupaten Bireuen.

2. Menjelaskan model penyelesaian keberatan saksi oleh PPK dalam proses rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan pada pemilu 2019 di Kabupaten Bireuen.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah untuk :

1. Manfaat akademis, penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan profesionalisme Panitia Pemilihan Kecamatan sebagai bagian dari penerapan nilai-nilai integritas pemilu oleh PPK dalam tahapan rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan dengan menjelaskan kapasitas regulatif, implementatif dan administratif, serta pola penyelesaian keberatan saksi. Pembahasan ini diharapkan memberikan perspektif positif terhadap penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan dan penyelenggaraan tahapan pemilu, khususnya tahapan rekapitulasi tingkat kecamatan.

2. Manfaat praktis, penelitian ini memberikan penjelasan secara konkrit kepada Komisi Pemilihan Umum dan pemerhati politik terkait proses rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara tingkat kecamatan pada pemilu serentak di Kabupaten Bireuen tahun 2019, sehingga dapat menjadi pedoman dalam

Universitas Sumatera Utara

(26)

perbaikan kebijakan untuk pemilu kedepan. Dari penjelasan tersebut akan terlihat bagaimana profesionalisme penyelenggara adhoc dalam tahapan rekapitulasi hasil penghitungan suara sebagai upaya mewujudnya pemilu yang berintegritas.

1.5. Penelitian Terdahulu

Penelusuran literatur terhadap topik yang relevan dengan fokus studi ini dilakukan pada jurnal ilmiah di internet, buku serta publikasi cetak lainnya.

Hasilnya adalah, topik sejenis sebagian besar bisa ditemukan dalam tulisan atau artikel yang diterbitkan dalam bentuk buku yang membahas penyelenggara dan penyelenggaraan pemilu berintegritas dan juga kaitannya dengan profesionalisme penyelenggara. Sangat banyak penelitian dan kajian terhadap profesionalisme penyelenggara yang merupakan bagian dari integritas pemilu yang dilakukan para ahli di seluruh dunia. Penelitian tersebut tentunya dalam berbagai dimensi dan perspeksif yang berbeda.

Buku yang diterbitkan oleh Komisi Pemilihan Umum (2019), yang berjudul “Tata Kelola Pemilu di Indonesia” mengemukankan secara lengkap berbagai dimensi pemilu. Buku ini memberikan gambaran besar tentang desain tata kelola pemilu di Indonesia. Salah satu bahasannya adalah electoral integrity.

Dalam buku ini dikemukanan bahwa electoral integrity lebih menyangkut kebutuhan untuk menghadirkan penyelenggara pemilu yang memiliki komitmen dan konsistensi untuk menyelenggarakan pemilu yang berkualitas dan demokratis.

Terlebih ketika Pemilu menjadi arena konstitusional untuk pengisian jabatan- jabatan kekuasaan dalam legislatif maupun pemeritahan, mutlak dibutuhkan penyelenggara pemilu yang antara kata dan tindakannya selaras dengan prinsip- prinsip pemilu berintegritas.27

Buku yang ditulis oleh Surbakti, dkk (2011) “Seri Demokrasi Elektoral:

Menjaga Integritas Pemungutan dan Penghitungan Suara”, mengungkapkan pola

27 Aditya Perdana, Op.cit. hal 56.

Universitas Sumatera Utara

(27)

penyimpangan-penyimpangan dalam proses rekapitulasi penghitungan suara yang menciderai integritas pemilu, baik yang disengaja maupun akibat kelalaian penyelenggara. Kebanyakan manipulasi hasil penghitungan suara terjadi di PPK.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa rekapitulasi hasil penghitungan suara yang dilakukan secara berjenjang menjadikan salah satu sumber untuk terjadinya manipulasi suara. Setelah tidak ada lagi rekapitulasi di PPS, maka permasalahan rekapitulasi berpindah ke tingkat PPK.28 Menurut keterangan pers Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, lebih dari 10 persen dari kasus gugatan yang dikabulkan MK merupakan manipulasi hasil penghitungan suara di PPK.29

Clark (2017) melakukan penelitian yang berjudul “Identifying the Determinants of Electoral Integrity and Administration in Advanced Democracies: The Case of Britain”. Penelitian ini menjelaskan tentang faktor penentu integritas pemilu dalam sebuah negara dengan sistem demokrasi yang mapan dan maju. Temuan penelitian ini menunjukkan pentingnya sumber daya administratif dalam memberikan integritas pemilu di negara demokrasi maju terutama untuk pemilih, kandidat dan partai politik.30

Penelitian Norris (2013) yang berjudul “The New Research Agenda Studying Electoral Integrity” yang berfokus untuk mengukur persepsi massa dan elit tentang integritas pemilu, dan melihat apakah ada norma global bersama.

Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara massa dan ukuran elit. Tampaknya penilaian publik dan elit sebagian besar bertepatan, menunjukkan keberadaan norma bersama terhadap integritas pemilu.31

Penelitian Norris, dkk (2014) menjelaskan pengembangan baru integritas pemilu dengan membandingkan bagaimana kontes nasional di seluruh dunia memenuhi standar internasional integritas pemilu. Penelitian Norris dilatarbelakangi banyaknya perdebatan kecurangan dan penyimpangan dalam

28 Ramlan Surbakti. Op.cit.

29 Ibid. hal. 30

30 Lihat Alistair Clark. 2017. Identifying The Determinants Of Electoral Integrity And Administration In Advanced Democracies: The Case of Britain. European Political Science Review, 9(3), 471-492.

31 Pippa Norris, Op.cit.

Universitas Sumatera Utara

(28)

pemilu. Oleh karena itu penelitian ini menganalisis bagaimana negara-negara secara nasional memenuhi standar Electoral Integrity Project. Metode yang digunakan adalah Perception of Electoral Integrity (PEI), sehingga akan didapatkan gambaran kualitas pemilu yang berintegritas dengan semangat demokrasi dan pembangunan.32

Tulisan James, dkk (2019) yang berjudul “Electoral Management and The Organisational Determinants of Electoral Integrity: Introduction” mendefinisikan konsep manajemen pemilu dan menyediakan kerangka kerja untuk memahami bagaimana desain kelembagaan badan pemilu (EMB), kinerja EMB dan integritas pemilu terkait. Temuan dari data baru yang berasal dari survei lintas nasional EMB dijelaskan, memberikan wawasan baru tentang bagaimana pemilu dikelola di seluruh dunia. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana personel tenaga kerja memiliki efek penting pada kinerja EMB.33

Garnett (2019) melakukan penelitian menggunakan analisis konten situs web EMB di 99 negara untuk mengukur keberadaan indikator fungsi utama EMB.

Hasil penelitian menunjukkan tentang penyebab integritas pemilu bahwa kapasitas EMB merupakan prediktor signifikan terhadap integritas pemilu secara keseluruhan, bahkan ketika memperhitungkan faktor-faktor lain seperti pembangunan ekonomi dan demokrasi. Kapasitas telah menjadi variabel yang hilang dalam menentukan faktor-faktor penentu integritas pemilu.34

Van Ham dan Garnett (2019) menganalisis desain kelembagaan EMB di 72 negara di seluruh dunia, melalui pengembangan tipologi dimensi yang lebih rinci terhadap independensi EMB dari sisi aturan dan pelaksanaan. Hasil penelitian menunjukkan independensi EMB secara aturan berdampak sangat kuat dan positif terhadap integritas pemilu, dan efek langsung dari independensi EMB secara pelaksanaan terhadap integritas pemilu sangat sedikit. Ini menunjukkan

32 Lihat Pippa Norris, Richard W. Frank, and Ferran Martínez i Coma. 2014. Measuring Electoral Integrity Around The World: A New Dataset. PS: Political Science & Politics, 47(4), 789-798.

33 James, T. S., Garnett, H. A., Loeber, L., & van Ham, C. 2019. Electoral Management and the Organisational Determinants of Electoral Integrity. International Political Science Review, 40(3), 298-312.

34 Lihat Holly Aan Garnett. 2019. Evaluating Electoral Management Body Capacity. International Political Science Review, vol. 40(3) 335–353.

Universitas Sumatera Utara

(29)

bahwa untuk menciptakan pemilu yang berintegritas perlu ditingkatkan independensi EMB secara pelaksanaan.35

Penelitian Hariati (2019), menganalisis independensi dan etika KIP Aceh selaku penyelenggara pemilu di Aceh. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dokumentasi dan selanjutnya dilakukan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KIP Aceh telah menerapkan prinsip independensi dan etika, walaupun belum sepenuhnya optimal karena masih terdapat pelanggaran- pelanggaran.36

Penelitian Rahayu (2018) tentang “Sipol Dalam Proses Pendaftaran Peserta Pemilu Tahun 2019 Di Kota Surabaya: Suatu Studi Tentang Pendaftaran Partai Politik Dalam Prespektif Pemilu Berintegritas”, menggunakan 4 indikator pemilu berintegritas menurut Ramlan Surbakti, yaitu transparan, akuntabel, jujur, dan akurat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan aplikasi Sipol mampu mendukung KPU untuk menghasilkan pemilu berintegritas.37

Nurrahmawati (2017), melakukan penelitian yang berjudul ”Integritas Penyelenggara Pemilu dalam Perpektif Peserta Pemilu (Studi Deskriptif Komisi Independen Pemilihan Aceh Pada Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur Aceh 2017)”. Indikator yang digunakan untuk mengukur integritas pemilu antara lain Independent, imparsial, professional, transparant, akuntabel, efesien dan pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perpektif peserta pilkada Gubernur/Wakil Gubernur Aceh 2017 dalam melihat integritas KIP Aceh sebagai penyelenggara pemilu. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh relasi politik antar peserta pilkada dan relasi peserta pilkada dengan KIP Aceh.38

Penelitian yang dilakukan Teten (2016) terkait “Problematik Penyelenggara Pemilu ditingkat Adhoc”. Teten melakukan penelitian terkait

35 Carolien Van Ham, Op.cit.

36 Rahmah Hariati. 2019. Independensi dan Etika Penyelenggara Pemilu di Aceh Studi pada Penyelenggaraan Pemilu 2019. Tesis. Universitas Andalas.

37 Dian Tria Rahayu. 2018. Sipol Dalam Proses Pendaftaran Peserta Pemilu Tahun 2019 Di Kota Surabaya:

Suatu Studi Tentang Pendaftaran Partai Politik Dalam Prespektif Pemilu Berintegritas. Doctoral Dissertation.

Universitas Airlangga.

38 Lihat Nurrahmawati. 2017. Integritas Penyelenggara Pemilu Dalam Perspektif Peserta Pemilu. Jurnal Politik Indonesia, Vol. 2, No. 1, Juli-September 2017, hal 27-36.

Universitas Sumatera Utara

(30)

modus-modus pelanggaran pemilu dan problematika perekrutan di tingkat adhoc.

Hasil penelitian teten menjelaskan masih lemahnya penyelenggara pemilu di tingkat adhoc. Untuk itu perlu mengintensifkan peningkatan kapasitas (capasity building) bagi petugas. Tujuannya agar penyelenggara adhoc dapat mengetahui dan mematuhi aturan penyelenggaraan pemilu.39

Sebastin (2017) melakukan penelitian yang berjudul “Profesionalisme KPU Kabupaten Halmahera Selatan dalam Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tahun 2015”. Penelitian ini menggunakan teori yang dicetuskan Sahdan (2008), dengan fokus penelitian adalah kapasitas regulatif, kapasitas implementatif, dan kapasitas administratif.

Hasil penelitian Sebastian menjelaskan bahwa dalam kapasitas administratif KPU Halmahera Selatan tidak memiliki moralitas yang mengidentisifikasikan mereka tidak profesional. Dari segi kapasitas implementatif, KPU Halmahera Selatan mengabaikan aspek teknis sebagaimana yang telah diatur dalam peraturan KPU sehingga mereka tidak profesionel. Dari segi kapasitas administratif, KPU Halmahera Selatan mengabaikan transparansi dan akurasi sehingga menunjukkan mereka tidak profesional.40

Penelitian Hapsari (2019) yang berjudul “Profesionalisme Jajaran KPU Kota Mobagu Dalam Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Mobagu Tahun 2018”. Dalam penelitian ini mengkaji profesionalisme KPU Kota Mobagu secara kualitatif. Profesionalisme dikaji dengan menggunakan 3 (tiga) indikator yang dikemukakan oleh Sahdan (2008) yaitu kapasitas regulatif, kapasitas implementatif, dan kapasitas administratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan verifikasi faktual terhadap dukungan bagi calon perseorangan pada Pilkada Kota Mobagu tahun 2018 tidak profesional.41

39 Teten Jamaluddin. 2016. Problematika Penyelenggara Pemilu di Tingkat Adhoc. Jurnal Etika & Pemilu, vol.2

40 Ambar Purdanata Sebastin. 2017. Profesionalisme KPU Kabupaten Halmahera Selatan dalam Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati tahun 2015. Jurnal Politico vol. 6

41 Lihat Penelitian Hapsari. 2019. Profesionalisme Jajaran KPU Kota Mobagu Dalam Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Mobagu Tahun 2018. Kompilasi Ringkasan Tesis Tata Kelola Pemilu.

www.journal.kpu.go.id.

Universitas Sumatera Utara

(31)

Penelitian Rahmatunnisa (2017) menjelaskan tentang pentingnya integritas dalam sebuah pemilu. Hal ini disebabkan banyak sekali terjadi kecurangan- kecurangan pemilu yang menyebabkan pemilu tidak dipercaya oleh masyarakat.

Penelitian ini menggunakan studi literatur dengan metode kualitatif. Temuannya menjelaskan bahwa integritas dalam pemilu merupakan aspek penting untuk sebuah sistem demokrasi. Pemilu yang tidak berintegritas akan membawa kepada delegitimasi pemerintahan, yang dapat memicu ketidakstabilan politik negara.42

Penelitian Daniler dan Muts (2019) yang berjudul “The Dynamics of Electoral Integrity: A Three-Election Panel Study. Public Opinion Quarterly”.

Penelitian ini menguji persepsi individu tentang integritas pemilu di tiga siklus pemilihan presiden Amerika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek menang versus dan kalah dalam pemilihan tidak simetris. Terlebih lagi, efek pada persepsi orang tentang integritas pemilu secara mengejutkan tetap bertahan dari waktu ke waktu. Kekalahan yang berulang-ulang memiliki konsekuensi jangka panjang yang sangat penting untuk bagaimana warga negara memandang pemilu.43

Penelitian Pasaribu (2018) menganalisis pemilu berintegritas dari sisi menyelamatkan hak pilih masyarakat yang tidak memiliki KTP elektronik.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan menggunakan konsep Pemilu berintegritas dan kesetaraan hak politik. Hasil penelitian menunjukan bahwa akomodir penggunaan Surat keterangan Domisili (SKD) dinilai sebagai langkah efektif melindungi hak pilih warga.44

Penelitian Sugihariyadi (2015) menunjukkan bahwa profesionalisme Penyelenggara Pemilu terdiri dari 3 (tiga) aspek yaitu aspek kepemimpinan, integritas, dan independensi.45

42 Mudiyati Rahmatunnisa. 2017. Mengapa Integritas Pemilu Penting?. Jurnal Bawaslu, vol.3(1), 1-11.

43 Andrew M. Daniller & Diana C. Mutz. 2019. The Dynamics of Electoral Integrity: A Three-Election Panel Study. Public Opinion Quarterly, 83(1), 46-67.

44 Tota Pasaribu, Widya Setiabudi Sumadinata, dan Muradi. 2018. Penerapan Pemilu Berintegritas dan Jaminan Kesetaraan Hak Politik dalam Pendaftaran Pemilih: Studi Kasus Pada Pilkada Samosir Tahun 2015.

Jurnal Wacana Politik, 3(2), 121-128.

45 Moh. Sugihariyadi dan Joni Rahardjo. 2015. Menakar Profesionalisme Penyelenggaraan Pemilu 2014 di Kota Garam: Analisis Kepemimpinan, Integritas, Independensi, dan Kompetensi Kepemiluan. Addin, 9(1).

Universitas Sumatera Utara

(32)

Penelitian Ishak, dkk (2017), melihat profesionalisme KPU dalam tahapan verifikasi pencalonan pilkada Gubernur di Gorontalo Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan teori dari Islamy. Hasil penelitian menunjukkan pelayanan KPU Provinsi Gorontalo sudah baik kepada seluruh elemen dan pasangan calon pada saat pemilihan Gubernur Gorontalo.46

Banyak penelitian tentang integritas pemilu yang dikaji dari perspektif yang berbeda. Penelitian ini mengkaji integritas PPK dari sisi profesionalisme dalam melaksanakan tahapan rekapitulasi tingkat kecamatan. Penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu lainnya seperti yang dilakukan Norris, dkk (2014), Clark (2017), Garnett (2019), James, dkk (2019) yang dibahas secara umum dan berbicara dalam konsep integritas yang universal, sedangkan penelitian ini fokus kepada suatu tahapan pemilu. Kemudian tulisan Perdana dalam buku Tata Kelola Pemilu di Indonesia (2019), membahas pentingnya integritas pemilu, tanpa kajian mendalam terhadap penerapan integritas dalam setiap tahapan pemilu. Sedangkan tulisan ini mengkaji penerapan prinsip integitas penyelenggara pemilu dalam tahapan pemilu.

Selanjutnya penelitian Hariati (2019) lebih melihat dari sisi independensi dan etika yang fokus kepada KIP Aceh pada penyelenggara tingkat Provinsi.

Sedangkan penelitian ini fokus pada penyelenggara PPK di tingkat adhoc dengan berpedoman pada nilai-nilai integritas pemilu.

Kemudian dalam penelitian yang dilakukan teten (2016) mengarah kepada penyelenggara adhoc pada semua tingkatan dan tidak fokus pada salah satu tahapan pemilu secara mendalam, sedangkan penelitian ini hanya meneliti PPK pada tahapan rekapitulasi di tingkat kecamatan. Selanjutnya penelitian Rahayu (2018) dan Pasaribu (2018), kedua penelitian tersebut juga berbeda dengan penelitian ini. Penelitian ini fokus pada tahapan rekapitulasi di tingkat kecamatan, sedangkan penelitian Pasaribu dan Rahayu tersebut memiliki fokus penelitian

46 Rivaldi Ishak, Johny Lumolos, dan Johny Lengkong. 2018. Profesionalisme KPU Dalam Proses Verifikasi Pencalonan Pada Pemiihan Gubernur Dan Wakil Gubernur Gorontalo Tahun 2017 (Studi di KPU Provinsi Gorontalo). Jurnal Eksekutif, 1(1).

Universitas Sumatera Utara

(33)

yang berbeda. Kemudian penelitian Nurrahmawati (2018) dan Norris (2013), lebih kepada penelitian perspektif integritas, sedangkan penelitian ini adalah menganalisis penyelenggara terkait penerapan nilai-nilai integritas pemilu yaitu profesionalisme PPK. Dalam buku yang ditulis Surbakti, dkk (2011) mengkaji format menjaga integritas pemilu, sedangkan penelitian ini berbentuk studi kasus pada sebuah wilayah.

Dari semua penelitian terdahulu tersebut, hanya penelitian Sebastin (2017) dan Hapsari (2019) yang memiliki sisi kajian yang hampir sama dengan penelitian ini, yaitu melihat integritas pemilu dari sisi profesionalisme penyelenggara pemilu. Walaupun sisi kajian penelitian tersebut yang hampir sama, namun kedua penelitian tersebut memiliki fokus yang berbeda. Penelitian yang dilakukan Sebastin meneliti profesionalisme KPU Halmahera pada pelaksanaan Pilkada 2015, dan penelitian Hapsari memiliki fokus pada proses verifikasi faktual dukungan perseorangan pada Pilkada Kota Mobagu. Sedangkan penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah penyelenggara PPK dalam tahapan rekapitulasi tingkat kecamatan pada pemilu 2019. Kajian Sebastin dan Hapsari sama-sama menggunakan teori dari Sahdan (2008), dan teori tersebut juga digunakan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan Sebastin dan Hapsari sangat relevan untuk dijadikan pedoman dalam menunjang penelitian ini, walaupun memiliki fokus yang berbeda.

Dari semua penelitian terdahulu yang ada, bahwa belum ada penelitian yang melihat profesionalisme penyelenggara PPK dalam tahapan rekapitulasi di tingkat kecamatan. Dengan demikian penelitian ini memiliki fokus penelitian yang berbeda dari penelitian-penelitian lainnya, sehingga kajian ini menjadi layak untuk dilakukan penelitian.

1.6. Kerangka Teori

Untuk memahami profesionalisme PPK dalam proses rekapitulasi hasil penghitungan suara di tingkat kecamatan pada Pemilihan Umum 2019 di Kabupaten Bireuen, penelitian ini menggunakan teori yang ditulis oleh Pippa

Universitas Sumatera Utara

(34)

Norris bahwa penilaian pemilu yang demokratis akan terlihat dari pemilu yang berintegritas dan salah satunya indikatornya adalah penyelenggara pemilu yang berintegritas. Untuk menjelaskannya, penelitian ini menggunakan indikator profesionalisme yang ditulis oleh Gregorius Sahdan (2008). Selain teori tersebut, penelitian ini juga menggunakan teori lainnya yang berkaitan yaitu teori-teori konflik. Teori-teori tersebut menjelaskan sikap dan tindakan seseorang dalam menjalankan suatu pekerjaan. Sehingga penggunaan teori-teori tersebut akan membantu menjelaskan fenomena keberatan saksi dalam tahapan rekapitulasi hasil penghitungan suara di tingkat kecamatan pada pemilu 2019 di Kabupaten Bireuen dalam kajian profesionalisme penyelenggara PPK.

1.6.1. Teori Integritas Pemilu

Penyelenggara pemilu perlu memiliki pengukuran kualitas pemilu dengan sebuah standar nilai internasional dan normatif. Hal ini dimaksudkan agar dalam pemilu dihasilkan kekuasaan yang positif. Untuk menjembatani pencapaian nilai dengan aksi penyelenggara pemilu maka dibutuhkan prasyarat penyelenggara pemilu yang mandiri, kompeten, dan berintegritas. Namun aksi penyelenggara pemilu yang secara administratif netral, pada dasarnya tidak lepas dari penyelenggara pemilu yang memiliki kepentingan sendiri yang tidak bebas nilai.

Semua panitia pemilihan yang banyak belum tentu kebal terhadap kekuatan politik aktor lain, tekanan politik, intimidasi, patronase dan penyuapan/kepentingan lainnya. Ancaman integritas dalam proses pemilu selalu ada. Bahkan dalam memutuskan tentang proses penyelenggaraan pemilu belum tentu mandiri karena perannya sebagai makhluk sosial menimbulkan konflik kepentingan.

Menurut Norris (2013), jika ingin mengkategorikan bahwa suatu negara telah melaksanakan pemilu yang demokratis, maka konsep pemilu yang berintegritas merupakan sebuah rujukan yang tepat.47 Banyak perdebatan terhadap

47 Pippa Norris. 2013, dalam Aditya Perdana. Op.cit.hal.23

Universitas Sumatera Utara

(35)

definisi tunggal integritas pemilu. Tidak ada sebuah kejelasan bahwa integritas pemilu merupakan suatu konsep yang konfrehensif, atau hanya merupakan sebuah istilah untuk menyebutkan suatu pemilu yang baik. Dari berbagai pandangan para pakar dan pengalaman pelaksanaan pemilu di seluruh dunia, bahwa integritas pemilu merupakan pemilu yang dilaksanakan sesuai dengan aturan dan norma- norma yang berlaku.48

Global Commission (2012) menyebutkan bahwa pemilu berintegritas adalah pemilu yang didasarkan pada prinsip demokrasi, hak pilih universal dan kesetaraan politik sebagaimana tercantum dalam standar dan perjanjian internasional, serta dilaksanakan secara profesional, tidak memihak, dan transparan dalam melaksanakan persiapan dan administrasi sepanjang siklus pemilu.49 Global Commission menggunakan istilah sehari-hari untuk mendefinisikan pemilu berintegritas. Integritas pemilu mengacu pada makna yang tidak dapat dirusak, atau suatu kepatuhan yang kuat terhadap nilai-nilai moral, yang dalam konteks pemilu diartikan sebagai kepatuhan terhadap prinsip-prinsip demokrasi. Pemilu berintegritas merujuk kepada pemilu yang dilaksanakan secara kompeten dan profesional.50

Global Commission menyebutkan beberapa tantangan untuk mewujudkan pelaksanaan pemilu yang berintegritas, yaitu:

1. Membangun supremasi hukum yang mendukung keadilan pemilu dan hak asasi manusia.

2. Membangun penyelenggara pemilu yang profesional dan kompeten dan dapat menyelenggarakan pemilu secara transparan.

3. Menciptakan Institusi dan norma persaingan antar partai politik serta pembagian kekuasaan yang sejalan dengan demokrasi.

4. Menghilangkan hambatan dari sisi hukum, ekonomi, politik, administrasi, dan sosial untuk dapat berpartisipasi politik secara universal.

48Kofi Annan, et.al. 2012.Op.cit.

49 Ibid

50 Ibid.

Universitas Sumatera Utara

(36)

5. Mengatur keuangan politik secara jelas dan terkontrol.

Norris menyebutkan bahwa terdapat delapan norma pemilu berintegritas yang merujuk pada standar pemilu yang universal sebagaimana tertuang dalam artikel 25 International Covenant for Civil and Political Rights (ICCPR) PBB, yaitu:51

1. Pemilu dilakukan secara periodik;

2. Adanya hak pilih universal;

3. One man one vote (satu orang satu suara);

4. Hak mencalonkan diri dan berkompetisi;

5. Hak menggunakan suara;

6. Kerahasiaan suara;

7. Pemilu sesungguhnya (genuine);

8. Ekspresi dari kehendak rakyat.

Substansi pelaksanaan pemilu yang berintegritas sebagaimana menjadi norma global pemilu dan asas-asas pemilu yang luber jurdil dapat menjadi sebuah patokan yang mengikat bagi penyelenggara pemilu, pemerintah, peserta pemilu, dan masyarakat untuk dapat mewujudkan pemilu yang sesungguhnya (genuine).

Pemilu yang genuine ditandai dengan pelaksanaan pemilu yang free and fair, dan tidak adanya toleransi terhadap bentuk-bentuk pelanggaran dalam pemilu, seperti kekerasan, ancaman, jual beli suara, manipulasi, diskriminasi dan keberpihkan dari penyelenggara pemilu. Oleh karena itu, pemilu yang berintegritas akan memperkuat legitimasi pemilu di mata masyarakat politik nasional dan internasional.52

Raul Cordenillo dan Andrew Ellis, mengemukakan bahwa ada 6 hal yang mensyaratkan pemilu berintegritas, yaitu:53

1. Adanya kode etik perilaku yang berlaku dan disepakati secara umum;

2. Kerangka sistem pemilu yang jujur dan adil;

51 Pippa Norris. 2013, dalam Aditya Perdana, Op.cit. hal 24.

52 Aditya Perdana, Op.cit.hal.56

53 Raul Cordenillo, Op.cit.

Universitas Sumatera Utara

(37)

3. Administrasi pemilu yang tranparan, adil, serta tidak memihak;

4. Kebebasan berpartisipasi politik secara bebas, tanpa rasa takut;

5. Akuntabilitas peserta pemilu;

6. Adanya pemantauan dari masyarakat untuk memastikan dan menjaga integritas.

Sedangkan menurut Administration and Cost of Elections (ACE) Project (2012), pemilu berintegritas yaitu “incorruptibility or a firm adherence to a code of moral value, suggesting that in the context of elections it means an adherence to democratic principles”.54 Selanjutnya ACE Project menyebutkan ada 3 hal penting yang perlu menjadi perhatian dalam mewujudkan pemilu yang berintegritas, yaitu perilaku etik (ethical behaviour), adil dan ketidakberpihakan (fairness and impartiality), terbuka dan akuntabilitas (transparency and accountability).55

1. Perilaku etik (ethical behaviour), merupakan sikap yang menunjukkan norma-norma yang menjadi landasan dalam pelaksanaan pemilu. Hal ini tidak hanya ditunjukkan oleh penyelenggara pemilu saja, namun seluruh elemen yaitu peserta pemilu, penyelenggara, dan juga masyarakat perlu menerapkan perilaku yang baik dalam pemilu. Bagi penyelenggara pemilu, tidak boleh menggunakan posisi dan kedudukannya untuk meraih keuntungan pribadi ataupun keuntungan sekelompok orang. Perilaku etik berbeda dalam penyelenggaraan pemilu pada setiap negara, namun secara umum perilaku etik tersebut menggambarkan sikap-sikap yang tidak melaksanakan hal-hal yang tidak pantas dilakukan, dan tidak melakukan sesuatu yang merugikan pihak lain. Perilaku etik tidak hanya terbatas pada hal-hal yang dilarang atau tidak dilarang secara aturan, namun lebih kepada menjaga sikap dan perilaku yang dapat membawa pandangan tidak baik dihadapan publik. Walaupun banyak hal terkait etik yang tidak diatur dalam aturan kepemiluan, namun hal-hal yang tidak pantas tetap tidak boleh dilakukan dalam pemilu. Di

54 ACE Project. Op.cit.

55 Ibid.

Universitas Sumatera Utara

Referensi

Dokumen terkait

(2) Pelaksanaan rekapitulasi hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dan ditetapkan dalam rapat pleno KPU dan dihadiri oleh saksi Pasangan

Bahwa pokok permohonan Pemohon dalam permohonan ini adalah Keberatan Pemohon terhadap Sertifikat Rekapitulasi Hasil penghitungan suara pada pleno rekapitulasi di tingkat

Berdasarkan hasil Rapat Pleno Rekapitulasi Suara Tingkat Kecamatan untuk 11 TPS di Kecamatan Sanana, Mangoli Tengah, Mangoli Utara Timur, dan Sulabesi Selatan, Kabupaten

Bahwa pada saat pleno rekapitulasi penghitungan suara ditingkat kabupaten, saksi mengajukan pernyataan terdapat pemilih atas nama Sopan Santun Balolo dan Sri Sartika

Bahwa pada pelaksanaan Pemilu tanggal 17 April 2019 lalu, telah dilaksanakan rekapitulasi perolehan suara melalui rapat pleno Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten

PPK melakukan rapat pleno terbuka rekapitulasi DPS hasil perbaikan tingkat kecamatan antara tanggal 30 – 31 Agustus 2015 dengan mengundang pengawas pemilihan kecamatan,

Rapat pleno terbuka rekapitulasi daftar pemilih hasil pemutakhiran tingkat kecamatan Seram Utara Timur Kobi tahun 2024 dilaksanakan pada tanggal 07 Agustus 2024 di Aula Kantor Kecamatan Seram Utara Timur

MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dan tujuan pelaporan agar kegiatan pelaksanaan rapat pleno terbuka rekapitulasi daftar pemilih hasil perbaikan DPSHP tingkat kecamatan yang dilaksanakan oleh