• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUMANISTIK DAN CITRA PEREMPUAN DALAM FILM BERTEMA POLIGAMI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HUMANISTIK DAN CITRA PEREMPUAN DALAM FILM BERTEMA POLIGAMI"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

HUMANISTIK DAN CITRA PEREMPUAN DALAM FILM BERTEMA POLIGAMI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Desain Komunikasi Visual

Disusun oleh:

Nurjannatin Aliya Albany Tanjung 1601184241

Konsentrasi : Multimedia

PROGRAM STUDI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL FAKULTAS INDUSTRI KREATIF

UNIVERSITAS TELKOM BANDUNG

2022

(2)

HUMANISTIK DAN CITRA PEREMPUAN DALAM FILM BERTEMA POLIGAMI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Desain Komunikasi Visual

Disusun oleh:

Nurjannatin Aliya Albany Tanjung 1601184241

Konsentrasi : Multimedia

PROGRAM STUDI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL FAKULTAS INDUSTRI KREATIF

UNIVERSITAS TELKOM BANDUNG

2022

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

HUMANISTIK DAN CITRA PEREMPUAN DALAM FILM BERTEMA POLIGAMI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Desain Komunikasi Visual

Disusun oleh:

Nurjannatin Aliya Albany Tanjung 1601184241

Konsentrasi : Multimedia

Di setujui Tgl. ………....20….

Pembimbing I Pembimbing II

Lingga Agung, S.I.Kom., M. Sn. Wibisono Tegar Guna Putra, M.A.

PROGRAM STUDI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL FAKULTAS INDUSTRI KREATIF

UNIVERSITAS TELKOM BANDUNG

2022

(4)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi ini dengan judul “Humanistik dan Citra Perempuan Dalam Film Bertema Poligami” adalah benar-benar karya saya sendiri. Saya tidak melakukan penjiplakan kecuali melalui pengutipan sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku. Saya bersedia menanggung risiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila ditemukan pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam Skripsi saya ini.

Bandung, ………. 2022

Yang membuat pernyataan

Nurjannatin Aliya Albany Tanjung

(5)

KATA PENGANTAR

(6)

HUMANISTIK DAN CITRA PEREMPUAN DALAM FILM BERTEMA POLIGAMI

Nurjannatin Aliya Albany Tanjung

Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Industri Kreatif, Universitas Telkom, Bandung.

Surel : [email protected]

ABSTRAK

Poligami merupakan salah satu realita yang menimbulkan kontroversi di lingkungan masyarakat karena adanya anggapan bahwa dalam hal ini perempuan adalah pihak yang dirugikan, diposisikan sebagai korban, dan tidak berdaya. Film sebagai media komunikasi massa yang menjadi representasi tentang keadaan nyata di sosial masyarakat turut andil dalam memperkuat anggapan tersebut. Akan tetapi film

“Berbagi Suami” dapat menceritakan kehidupan perempuan yang dipoligami dengan memberikan citra yang berbeda dengan memposisikan perempuan sebagai manusia seutuhnya yang dapat berkembang. Dengan menggunakan alat analisis tematik pada scene yang terpilih, dapat ditentukan tema dan pola dari film “Berbagi Suami”. Hasil penelitian menunjukan bahwa perempuan sebagai pihak yang sering diposisikan oleh media sebagai pihak yang tidak berdaya adalah seorang manusia dapat berkembang sesuai potensinya sehingga dapat mengaktualisasikan dirinya di mana hal tersebut merupakan tujuan ideal setiap manusia sesuai dengan teori humanistik Abraham Maslow.

Kata kunci: Poligami, Perempuan, Film, Analisis Tematik, Humanistik

(7)

HUMANISTIC AND IMAGE OF WOMAN IN POLIGAMY FILM

Nurjannatin Aliya Albany Tanjung

Visual Communication Design, Faculty of Creative Industrie Telkom University, Bandung.

Email : [email protected]

ABSTRACT

Polygamy is one of the realities that cause controversy in the community because of the assumption that, in this case, women are the aggrieved parties, positioned as victims and powerless. Film as a medium of mass communication that represents the actual situation in society contributes to strengthening this assumption. However, the film "Berbagi Suami" can tell the life of polygamous women by giving a different image by positioning women as whole human beings who can develop. Using a thematic analysis tool on the selected scene makes it possible to determine the theme and pattern of the film "Berbagi Suami" The study results show that women as parties who are often positioned by the media as powerless are human beings who can develop according to their potential so that they can actualize themselves, which is the ideal goal of every human being following Abraham Maslow's humanistic theory.

Keywords: Polygamy, Woman, Film, Thematic Analysis, Humanistic

(8)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... I LEMBAR PERNYATAAN ... II KATA PENGANTAR ... III ABSTRAK ... IV ABSTRACT ... V

DAFTAR ISI ... VI DAFTAR GAMBAR ... VIII

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH ... 1

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH ... 2

1.3 RUMUSAN MASALAH ... 3

1.4 RUANG LINGKUP ... 3

1.5 TUJUAN PENELITIAN ... 3

1.6 MANFAAT PENELITIAN ... 4

1.7 PENGUMPULAN DATA DAN ANALISIS ... 4

1.8 KERANGKA PENELITIAN ... 4

1.9 PEMBABAKAN ... 5

BAB II LANDASAN TEORI ... 6

2.1 POLIGAMI ... 6

2.2 MEDIA KOMUNIKASI MASSA ... 6

2.3 FILM ... 7

2.4 UNSUR PEMBENTUKAN FILM ... 8

2.5 CITRA ... 9

2.6 TEORI HUMANISTIK ... 9

BAB III DATA DAN ANALISIS ... 12

(9)

3.1 METODE PENELITIAN ... 12

3.2 TEKNIK PENGUMPULAN DATA ... 12

3.3 OBJEK PENELITIAN... 14

3.3.1 Film “Berbagi Suami” ... 15

3.3.2 Sinopsis Film “Berbagi Suami” ... 15

3.4 DATA OBSERVASI ... 16

3.4.1 Poligami dan Perempuan dalam Media Massa ... 16

3.4.2 Observasi Film “Berbagi Suami” ... 17

DAFTAR PUSTAKA ... 64

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Penelitian ... 5

Gambar 2. Scene Film “Berbagi Suami” ... 17

Gambar 3. Scene Film “Berbagi Suami” ... 19

Gambar 4. Scene Film “Berbagi Suami” ... 21

Gambar 5. Scene Film “Berbagi Suami” ... 21

Gambar 6. Scene Film “Berbagi Suami” ... 23

Gambar 7. Scene Film “Berbagi Suami” ... 23

Gambar 8. Scene Film “Berbagi Suami” ... 26

Gambar 9. Scene Film “Berbagi Suami” ... 27

Gambar 10. Scene Film “Berbagi Suami” ... 28

Gambar 11. Scene Film “Berbagi Suami” ... 29

Gambar 12. Scene Film “Berbagi Suami” ... 29

Gambar 13. Scene Film “Berbagi Suami” ... 30

Gambar 14. Scene Film “Berbagi Suami” ... 32

Gambar 15. Scene Film “Berbagi Suami” ... 33

Gambar 16. Scene Film “Berbagi Suami” ... 34

Gambar 17. Scene Film “Berbagi Suami” ... 35

Gambar 18. Scene Film “Berbagi Suami” ... 36

Gambar 19. Scene Film “Berbagi Suami” ... 37

Gambar 20. Scene Film “Berbagi Suami” ... 38

Gambar 21. Scene Film “Berbagi Suami” ... 38

Gambar 22. Scene Film “Berbagi Suami” ... 40

Gambar 23. Scene Film “Berbagi Suami” ... 41

Gambar 24. Scene Film “Berbagi Suami” ... 41

Gambar 25. Scene Film “Berbagi Suami” ... 42

Gambar 26. Scene Film “Berbagi Suami” ... 43

Gambar 27. Scene Film “Berbagi Suami” ... 45

Gambar 28. Scene Film “Berbagi Suami” ... 46

Gambar 29. Scene Film “Berbagi Suami” ... 47

(11)

Gambar 30. Scene Film “Berbagi Suami” ... 47

Gambar 31. Scene Film “Berbagi Suami” ... 48

Gambar 32. Scene Film “Berbagi Suami” ... 49

Gambar 33. Scene Film “Berbagi Suami” ... 50

Gambar 34. Scene Film “Berbagi Suami” ... 51

Gambar 35. Scene Film “Berbagi Suami” ... 52

Gambar 36. Scene Film “Berbagi Suami” ... 53

Gambar 37. Scene Film “Berbagi Suami” ... 55

Gambar 38. Scene Film “Berbagi Suami” ... 56

Gambar 39. Scene Film “Berbagi Suami” ... 58

Gambar 40. Scene Film “Berbagi Suami” ... 59

Gambar 41. Scene Film “Berbagi Suami” ... 61

Gambar 42. Scene Film “Berbagi Suami” ... 62

Gambar 43. Scene Film “Berbagi Suami” ... 63

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Poligami merupakan suatu praktik pernikahan yang menjadi kontroversi di masyarakat Indonesia. Secara umum poligami dipahami sebagai sistem pernikahan di mana pihak laki-laki memiliki lebih dari satu istri sah. Dalam wawancara Narasi Newsroom (2021) dan Vice Indonesia (2019), beberapa pihak yang melakukan prakatik poligami selalu bersandarkan alasannya tersebut kepada ajaran agamanya bahwa poligami merupakan sesuatu yang dianjurkan. Bahkan ada kelompok masyarakat yang secara terang-terangan melakukan kampanye poligami. Akan tetapi ada pula kalangan yang menentang poligami karena hal tersebut dianggap merugikan perempuan.

Kontroversi poligami ini ternyata memengaruhi industri perfilman Indonesia.

Banyak film yang mengangkat poligami sebagai permasalahan utamanya, seperti film

“Berbagi Suami” (2006); “Ayat-Ayat Cinta ” (2008); “Perempuan Berkalung Sorban”

(2009); “Surga Yang Tak Dirindukkan” (2015); dan sebagainya. Penayangan film-film tersebut mendapatkan antusiasme yang besar dari masyarakat Indonesia, mungkin karena penceritaannya yang dianggap sejalan dengan realita yang terjadi di masyarakat.

Seperti yang disampaikan oleh Gramer Turner bahwa film merupakan representasi dari realitas yang membentuk dan menghadirkan kembali realitas berdasarkan kode-kode, konvensi-konvensi dan ideologi kebudayaannya (Sobur, 2009:127) .

Film-film ini memiliki peran penting dalam pencitraan poligami dan pihak yang terlibat baik perempuan maupun laki-laki. Dalam hal ini citra menjadi suatu yang penting, karena melalui citra tersebut penonton dapat memahami dan memaknai pesan yang terkandung dalam film tersebut. Frank Jefkins pun memberikan definisi citra sebagai kesan seseorang atau individu tentang sesuatu yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya (Soemirat & Adrianto, 2007:114). Citra tersebut didapatkan oleh penonton melalui unsur pembentuk film tersebut, yakni unsur naratif

(13)

seperti alur cerita dan unsur sinematiknya yaitu segala hal yang berada di depan kamera.

Sayangnya di berbagai media dan film-film poligami seperti “Ayat-Ayat Cinta”

dan “Surga Yang Tak Dirindukan” memberikan pencitraan yang kurang baik pada tokoh perempuannya. Padahal seperti yang disampaikan oleh Walter Lippman, interpretasi media massa terhadap peristiwa secara radikal dapat mengubah interpretasi orang terhadap suatu realitas dan pola tindakannya (Israwati Suryadi, 2011 : 638).

Film-film tersebut seringkali memperlihatkan tokoh perempuannya menangis, marah, cemburu, dan kesulitan menjalankan kehidupan poligaminya. Sehingga perempuan dalam film-film tersebut terlihat sebagai pihak yang tidak berdaya dan tidak memiliki pilihan atas hidupnya selain menjalankan kehidupan poligaminya. Namun ternyata film “Berbagi Suami” mampu memperlihatkan citra yang berbeda pada tokoh perempuannya.

Oleh karena itu melalui penelitian ini kita dapat melihat bagaimana film

“Berbagi Suami” sebagai salah satu film dengan tema poligami membangun citra para tokoh perempuannya. Pada penelitian terdahulu pada fenomena yang sama, penelitinya seringkali menggunakan teori feminisme atau dikaitkan dengan budaya patriaki. Akan tetapi pada penelitian ini peneliti menggunakan teori humanistik Abraham Maslow yang memposisikan manusia sebagai manusia seutuhnya. Melalui film “Berbagi Suami” dan caranya membangun citra tokoh perempuannya akan turut memberikan jawaban apakah perempuan memang selalu berada di posisi yang tidak berdaya dan tidak memiliki pilihan dalam menjalani kehidupan poligaminya atau justru perempuan juga memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan jalan hidupnya sebagai seorang manusia. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sudut pandang baru untuk melihat dan memposisikan seorang perempuan.

1.2 Identifikasi Masalah

Bedasarkan Latar Belakang Masalah di atas, terdapat beberapa masalah yang teridentifikasi, di antaranya adalah :

1. Poligami merupakan kontroversi di lingkungan masyarakat Indonesia.

2. Media turut membangun citra poligami dan perempuan pada masyarakat.

(14)

3. Dalam berbagai media perempuan turut diperlihatkan sebagai pihak yang tidak berdaya.

4. Film merupakan salau satu media yang turut membangun citra perempuan dalam poligami.

1.3 Rumusan Masalah

Identifkasi Masalah di atas maka dapat dirumuskan beberapa masalah, yakni:

1. Bagaimana film bertema poligami membangun citra tokoh perempuannya?

2. Apakah perempuan sebagai manusia yang terlibat dalam poligami benar-benar menjadi pihak yang tidak berdaya?

1.4 Ruang Lingkup

Untuk menghindari pembahasan yang terlalu meluas, maka batasan atau ruang lingkup yang ada pada penelitian ini adalah :

1. Objek penelitian ini berfokuskan pada film yang bertemakan poligami.

2. Peneliti akan bertindak sebagai penikmat film dengan melihat film berdasarkan sudut penonton dalam menafsirkan film.

3. Target khalayak dari hasil penelitian ini adalah masyakat umum khususnya penikmat perfilman Indonesia.

1.5 Tujuan Penelitian

Ada pun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui bahagimana film bertema poligami membangun citra tokoh perempuannya.

2. Untuk mengetahui apakah perempuan sebagai manusia juga benar-benar menjadi korban yang tidak berdaya sehingga tidak dapat berkembang melalui film bertema poligami.

(15)

1.6 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Dapat mengubah cara pandang perempuan yang biasa tercitrakan di media khususnya di film.

2. Dapat melihat perempuan sebagai sosok manusia yang dapat berkembang sesuai dengan potensinya.

1.7 Pengumpulan Data dan Analisis

Pengumpulan data dilakukan dengan cara kualitatif, dengan menggunakan alat analisis tematik. Melakukan observasi untuk mengumpulkan data pimer dari film yang bertemakan poligami serta melakukan studi literatur melalui buku dan jurnal yang mendukung penelitian ini.

1.8 Kerangka Penelitian

Menentukan fenomena

Mengidentifikasi latar belakang

Mengidentifikasi permasalahan

Merumuskan permasalahan

Merumuskan pertanyaan penelitian

Merumuskan tujuan dan manfaat penelitian

Menentukan Objek Penelitian : Film “Berbagi Suami”

Menentukan metode penelitian dan alat analisis

(16)

Gambar 1. Kerangka Penelitian

1.9 Pembabakan 1. Bab I Pendahuluan :

Berisikan Latar Belakang, Identifikasi Masalah, Rumusan Masalah, Ruang Lingkup, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Pengumpulan Data dan Analisis, Kerangka Penelitian, dan Pembabakan.

2. Bab II Landasan Teori :

Berisikan mengenai penjabaran landasan teori yang berkaitan dengan topik bahasan dan digunakan untuk mendukung serta pemperkuat argumen juga temuan pada penelitian ini.

3. Bab III Data dan Analisis :

Berisikan mengenai penjabaran metode penelitian, pendekatan, serta alat analisis yang digunakan. Dalam bab ini pun dicantumkan data yang terkumpul selama observasi dilakukan.

Observasi Studi Literatur

Mengumpulkan data

Mengolah data

Hasil penelitian

Kesimpulan

(17)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Poligami

Poligami diambil dari Bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu “poly”

artinya banyak dan “gamain” artinya kawin (Arif Mustofa, 2017:48). Sedangkan menurut KBBI (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2005:885), poligami artinya sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan. Poligami juga diartikan sebagai perkawinan dengan dua orang perempuan atau lebih dalam waktu yang sama. Al- Qamar Hamid poligami merupakan ikatan perkawinan di mana salah satu pihaknya yaitu suami mengawini lebih dari satu istri dalam waktu yang bersamaan, bukan saat ijab qabul, melainkan saat menjalani kehidupan berkeluarga (Ahmad Muzzaki, 2016:

360).

Menurut tinjauan Antropologi Sosial dalam pengertian umum yang berlaku di masyarakat poligami diartikan sebagai kondisi disaat seorang lak-laki memiliki lebih dari satu istri. Namun sebenarnya poligami terbagi menjadi dua macam yaitu: a) Polyandri yaitu pernikahan antara seorang perempuan dengan beberapa orang laki-laki.

b) Poligini yaitu pernikahan antara laki-laki dan beberapa orang perempuan. Akan tetapi, dalam perkembangannya istilah poligini jarang dipakai oleh masyarakat.

Sehingga poligami langsung dipergunakan sebagai lawan dari polyandri.

2.2 Media Komunikasi Massa

Media merupakan sarana penyebaran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator pada khalayak (Canggrara, 2010 : 123). Media massa merupakan sarana penyebaran informasi kepada masyarakat dimana media massa diartikan sebagai media penyebaran informasi, isi berita, opini, komentar, hiburan, dan sebaginya secara masal dan dapat diakses oleh masyarakat banyak (Bungin, 2006 : 72).

McQuail mengemukakan beberapa asumsi pokok mengenai arti dari media massa, salah satunya media merupakan sumber dominan tidak hanya bagi individu

(18)

untuk memperoleh gambaran citra realitas sosial tapi bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif. Media pun turut menyuguhkan nilai-nilai dan penialain normative yang dibaurkan dengan berita dan hiburan (Nurudin, 2004). Walter Lippman mengemukakan bahwa interpretasi media massa terhadap peristiwa secara radikal dapat mengubah interpretasi orang terhadap suatu realitas dan pola tindakannya (Israwati Suryadi, 2011 : 638)

Media massa merupakan alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan pada khalayak dengan menggunakan alat komunikasi yaitu surat kabar, film, radio, dan televisi (Canggara, 2010: 126).

2.3 Film

Film merupakan suatu media untuk komunikasi dengan banyak orang, yang didalamnya terdapat pesan atau isyarat yang disebut simbol yang disajikan dengan suatu gambar (Aditya Rizky, 2015) . Film adalah satu media komunikasi massa yang merupakan suatu kekuatan yang dapat mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan tingkah laku. Film dalam arti sempit adalah penyajian gambar layar lebar, tetapi dalam pengertian yang lebih luas, bisa juga termasuk yang disiarkan. Komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang sifatnya audio dan atau visual dalam bentuk film (Asrul Sani, 1986: 339)

Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau lainnya .

Film merupakan alat untuk menyampaikan suatu pesan, di mana penyampaiannya menggunakan media cerita. Film juga merupakan media penyalur ekspresi bagi seniman dan insan perfilman untuk mengutarakan gagasan-gagasan dan

(19)

ide cerita. Secara esensial dan substansial film memiliki power yang akan berdampak terhadap komunikan masyarakat (Wibowo, 2006).

Film merupakan salah satu media komunikasi massa yang populer di lingkungan masyarakat dari berbagai kalangan sering kali dianggap sebagai media representasi realitas yang ada di lingkungan masyarakat. Penceritaan film banyak mengadaptasi permasalahan yang hadir di lingkungan masyarakat. Adapun anggapan yang dikemukakan oleh Irawanto (1999), film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan kemudian memproyeksikannya ke atas layar (Sobur, 2003:127). Namun menurut Gramer Turner, ia menolak perspektif yang melihat film sebagai refleksi masyarakat. Makna film sebagai representasi dari realitas masyarakat, bagi Turner berbeda dengan film sekedar sebagai refleksi dari realitas.

Sebagai refleksi dari realitas, film sekedar memindahkan realitas ke layar tanpa mengubah realitas itu. Sementara, sebagai representasi dari realitas, film membentuk dan menghadirkan kembali realitas berdasarkan kode-kode, konvensi-konvensi dan ideologi kebudayaannya (Sobur, 2009:127).

2.4 Unsur Pembentukan Film

Dalam suatu pembentukan film terdapat unsur-unsur yang menyertainya. Film secara umum dibagi atas dua unsur pembentuk, yaitu naratif dan sinematik, yang keduanya tidak dapat berdiri sendiri melainkan saling berkesinambungan sehingga nantinya akan membentuk suatu film.

Unsur naratif berkaitan dengan tokoh, penokohan, konflik, waktu, hingga tempat yang nantinya berinteraksi sehingga membentuk suatu jalinan peristiwa yang terikat oleh hukum kausalitas (sebab-akibat) dalam suatu ruang dan waktu hingga menciptakan suatu cerita. Sebuah peristiwa dalam cerita tidak akan terjadi begitu saja, namun pastinya terdapat alasan yang mendukungnya. Hal tersebut akan membentuk suatu pola pengembangan naratif. Pola ini secara umum terbagi atas tiga tahap, yakni pendahuluan, pertengahan, dan penutupan. (Pratista, 2017: 63)

Sedangkan unsur sinematik merupakan aspek teknis dalam suatu produksi film yang terdiri dari mise en scene yaitu segala hal yang berada di depan kamera seperti latar, tata cahaya, kostum, dan pemain; sinematografi; editing; serta suara. Latar tempat

(20)

yang diperlihatkan dan kostum yang digunakan oleh tokoh mampu menjelaskan bagaimana kepribiadian serta status sosial tokohnya. Sedangkan tata cahaya, sinematografi, editing, dan suara akan sangat mendukung suasana serta mood dalam suatu cerita. Dialog dan intonasi yang digunakan juga merupakan salah satu bagian dari unsur sinematik yaitu suara.

2.5 Citra

Citra merupakan suatu kesan yang sengaja diciptakan dari suatu objek, orang, atau organisasi (Soemirat dan Elvinaro Ardianto, 2007: 111-112). Menurut Jalaludi Rakhmad, citra merupakan suatu gambaran realitas dan tidak harus sesuai dengan realitas karena citra adalah dunia menurut persepsi (Soemirat dan Elvarino Ardianto, 2007 : 114) . Citra juga merupakan seperangkat keyakinan, ide, dan kesan seseorang terhadap suatu objek tertentu (Ruslan, 2010: 80). Frank Jefkins pun memberikan definisi atau pengertian citra sebagai kesan seseorang atau individu tentang sesuatu yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya (Soemirat &

Adrianto, 2007:114).

2.6 Teori Humanistik

Abraham Maslow dalam teori humanistiknya meyakini bahwa manusia mempunyai potensi dasar jalur perkembangan yang sehat agar dapat mencapai aktualisasi diri. Sehingga orang yang sehat adalah orang yang mampu mengembangkan potensi positifnya dengan mengikuti jalur perkembangan yang sehat dengan mengikuti hakikat alami yang ada di dalam dirinya daripada mengikuti pengaruh lingkungan di luar dirinya (Alwisol, 2018: 208).

Menurut Devita dalam artikelnya menyatakan para ahli pun meyakini bahwa manusia pada dasarnya memiliki dorongan untuk berkembang. Manusia memiliki kebebasan dalam menentukan hidupnya dan bukan merupakan pion yang diatur sepenuhnya oleh lingkungannya.

Setiap manusia memiliki dorongan untuk berperilaku berupaya memenuhi kebutuhan hidupnya dan kebutuhannya tersebut tersusun atas suatu hierarki (Say Kaifa,

(21)

2019) di mana kebutuhan paling tinggi dalam hierarki tersebut adalah aktualisasi diri sehingga seringkali kebutuhan ini dianggap sebagai tujuan ideal setiap manusia (Alwisol, 2008: 208).

Menurut Yusuf Syamsu (2007), teori humanistik dapat diartikan sebagai orientasi bersifat teoritis yang menekankan pada keunikan kualitas manusia khususnya berhubungan dengan free will atau kehendak bebas dan potensi untuk mengembangkan diri.

Menurut Abraham Maslow terdapat lima kebutuhan dasar manusia yang tersusun dalam suatu hierarki. Dalam hal ini Maslow membagi hierarki kebutuhan tersebut dalam dua bagian, yaitu kebutuhan mendasar dan kebutuhan meta. Kebutuhan meta merberikan sumbahan yang besar untuk tumbuh dan berkembang. Kebutuhan Meta baru akan muncul setelah kebutuhan mendasarnya relatif terpenuhi. Kebutuhan tersebut, yaitu :

1. Kebutuhan Fisiologis

Merupakan kebutuhan mendasar pada manusia yang tidak dapat ditinggalkan dan berkaitan dengan fisik, kebutuhan ini termasuk ke dalam kebutuhan untuk bertahan hidup. Contohnya seperti makan, minum, istrirahat, dan seks.

2. Kebutuhan Keamanan

Merupakan salah satu kebutuhan untuk bertahan hidup seperti kebutuhan fisiologis.

Namun kebutuhan keamanan adalah kebutuhan untuk bertahan hidup jangka panjang. Di usia dewasa kebutuhan keamanan mewujud dalam berbagai bentuk seperti : keamanan pekerjaan, gaji, ekonomi, praktek agama, hingga tempat tinggal.

3. Kebutuhan Dimiliki dan Cinta

Kebutuhan ini terbagi menjadi dua yaitu deficiency love (D-Love) dan being love (B-Love) . kebutuhan cinta karena kekurangan adalah bentuk dari D-Love dengan mencintai sesuatu yang tidak dimilikinya atau seseorang sehingga membuat dirinya tidak merasa sendirian. D-Love adakag cintra yang mementingkan diri sendiri, dengan lebih banyak memperoleh daripada memberi. Sedangkan B-Love berdasarkan pada penilaian orang lain apa adanya tanpa ada keinginan unutk mengubah atau memanfaatkan orang tersebut. Tidak berujuan untuk miliki ataupun

(22)

memperngaruhi. Tujuan utamanya untuk memberikan orang lain gambaran positif dan perasaan dicintai sehingga membuka kesempatan orang tersebut berkembang.

4. Kebutuhan Harga Diri

Kebutuhan harga diri berasal dari dua sumber yaitu diri sendiri dan orang lain.

Kebutuhan harga diri yang berasal dari diri sendiri meliputi kebutuhan kekuatan, penguasaan, kompetensim prestasi, kepercayaan diri, kemandirian, dan kebebasan.

Sedangkan kebutuhan harga diri yang bersumber dari orang lain meliputi kebutuhan prestise, penghargaan dari orang lain, status , ketenaran, dominasi, menjadi orang penting, kehormatanm apresiasi, dan dikenal baik orang lain. Jika kebutuhan ini terpenuhi akan memunculkan rasa percaya diri, merasa berharga, mampu,dan berguna.

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Kebutuhan ini merupakan kebutuhan meta manusia. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan menjadi sesuatu dengan memaksimalkan dirinya dan seluruh kemampuan serta potensinya. Kebutuhan ini adalah kebutuhan untuk memuaskan dirinya dengan dirinya sendiri sehingga dalan mencapai punca potensinya sebagai seorang manusia.

(23)

BAB III

DATA DAN ANALISIS 3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara sistematik yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data yang diperlukan untuk keperluan penelitiannya. Dalam hal ini metode penelitian terbagi menjadi dua, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Dalam penelitian ini peneliti memilih metode penelitian kualitatif untuk mendukung pengumpulan data penelitiannya. Menurut Gumilar (2005) dalam jurnalnya menyatakan bahwa secara ontologis, peneliti kualitatif memandang realitas sebagai hasil rekonstruksi individu yang terlibat dalam situasi sosial. Sedangkan secara epistemologis, peneliti kualitatif menjalin interaksi secara intens dengan realitas yang diteliti. Penggunaan bahasa dalam penelitian kulitatifpun kerap ditandai dengan bahasa informal dan personal. Penelitian kualitatif mengunamakan logika induktif di mana terdapat kategorisasi yang dari informan di lapangan dan data-data yang ditemukan.

Sehingga penelitian kualitatif bercirikan informasi yang konteksnya berkaitan pada pola-pola dan teori yang menjelaskan fenomena sosial. (Creswell, 1994: 4-7).

Alat analisis yang digunakan oleh peneliti adalah analisis tematik di mana tujuannya untuk mengidentifikasi pola dan tema pada kumpulan data (Braun & Clarke, 2006) yang dalam pemaknaannya banyak melibatkan pengalaman peneliti. Analisis tematik mengaplikasikan deskripsi sederhana pada kumpulan data yang berbeda sebelum menilai interaksi yang tercipta di antara kumpulan data untuk memberikan pemahaman mengenai hubungan di antara tema dan kumpulan data. Analisis tematik pun cocok digunakan untuk analisa pada rangkaian gambar (Langmann, S., & Pick, D., 2018: 110-111).

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Setelah peneliti menentukan objek penelitiannya yaitu media massa seperti berita, infotaiment, dan yang utama adalah film yang bertemakan poligami, peneliti melakukan observasi untuk mengumpulkan dan mengidentifikasi data. Hal tersebut dilakukan untuk melihat pola dan memahami bagaimana media mengkonstruksi

(24)

fenomena yang berkaitan dengan poligami dan perempuan untuk mendapatkan citra yang dibangun oleh media-media.

Media massa selain film data dan hasil observasi akan digunakan untuk data pendukung bagaimana poligami dan perempuan dicitrakan. Peneliti mengambil sampel cuplikan infotaiment lokal yang membahas mengenai poligami dan menontonnya secara berulang. Begitupun dengan berita, peneliti mengambil sampel cuplikan berita lokal yang membahas mengenai poligami. Kemudian peneliti menganalisis pola dari cuplikan-cuplikan yang diambil. Setelah melihat pola dari cuplikan tersebut peneliti memaknai pola dan cuplikan tersebut.

Pada media massa film, di awal penelitian peneliti menonton beberapa film yang bertemakan poligami. Sama halnya dengan mengobservasi infotaiment dan berita, peneliti menonton secara berulang dengan memposisikan diri sebagai penikmat untuk mendapatkan pengalaman dan kesan yang dibutuhkan. Kemudian peneliti menganalisis pola dari masing-masing film dan memaknainya. Dalam hal ini peneliti menonton film

“Ayat-Ayat Cinta”, “Surga yang Tak Dirindukan”, dan “Berbagi Suami”. Peneliti menganalisis persamaan dan perbedaan dari masing-masing film. Peneliti melihat adanya perbedaan yang cukup signifikan pada film “Berbagi Suami” di mana film tersebut mampu menceritakan poligami dari sudut pandang perempuan.

Kemudian peneliti menonton kembali film “Berbagi Suami” secara berulang untuk dapat memaknai dan memahami film tersebut secara mendetail dan lebih dalam.

Lalu peneliti mulai mengumpulkan data primer dari film tersebut dengan memilih scene-scene tertentu. Scene yang dipilih difokuskan pada scene yang tokoh utama perempuannya diperlihatkan untuk berinteraksi maupun sebatas bermonolog.

Peneliti melakukan observasi terhadap visual yang disajikan, dengan memfokuskan pada unsur sinematik melalui gerak-gerik dan ekspresi tokoh, kemudian melakukan obsevasi verbal dengan memperhatikan dialog serta intonasi yang digunakan oleh tokoh utamanya.

Setelah melakukan observasi dan mencatat data observasi baik visual maupun verbal, peneliti menganalisis data observasi tersebut menggunakan analisis tematik.

Tahapan pertama yang dilakukan adalah menentukan tema besar (macro theme) dari

(25)

scene yang telah dipilih melalui visual dan verbal yang ditampilkan secara garis besar.

Tanpa memaknai terlebih dahulu apa yang terlihat atau apa yang disampaikan oleh tokoh. Kemudian pengelompokan tema-tema besar tersebut pada tema yang lebih kecil (messo theme) dengan mendeskripsikan visual dan verbal yang tersaji secara lebih rinci. Lalu peneliti menentukan tema kecilnya (micro theme) dengan memaknai visual dan verbal yang terseji pada scene tersebut. Setelah itu peneliti menentukan diskursus dengan memaknai visual yang ditampilkan dan verbal dari kata-kata yang disampaikan serta intonasi yang digunakan. Kemudian peneliti mengambil simpulan dari masing- masing scene. Setelah itu peneliti dapat melihat dan menentukan pola yang terbentuk dari hasil analisisnya terhadap scene yang telah dipilih dan akhirnya membuat kesimpulan dari hasil analis dan temuan penelitiannya.

Namun memang dalam proses analisis peneliti mengalami kesulitan dalam melakukan observasi terutama pada observasi verbal ketika tokoh dalam film menggunakan bahasa yang tidak dimengerti atau kurang familiar dengan peneliti sehingga sulit memaknainya. Peneliti juga mengalami sedikit kesulitan dalam mengobservasi visual. Peneliti masih perlu mengasah kepekaannya terhadap scene yang dipilih agar dapat memaknai visualnyanya dengan lebih baik. Dalam memaknai visual maupun verbal dari setiap scene peneliti perlu untuk menyaksikan scene tersebut secara berulang sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menganalisis film “Berbagi Suami”.

Setelah peneliti melakukan observasi visual dan observasi verbal dengan menggunakan analisis tematik, peneliti melakukan studi pustaka dengan mencari jurnal, artikel, serta teori-teori yang relevan dengan fenomena yang sedang diteliti untuk mendukung dan menguatkan argumen yang ingin disampaikan oleh peneliti.

3.3 Objek Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan observasi pada beberapa media massa seperti infotaiment dan berita untuk melihat bagaimana media membangun citra poligami dan perempuan. Namun media tersebut hanya dijadikan sebagai objek pendukung. Objek utama dari penelitian ini adalah film yang bertemakan poligami.

(26)

Peneliti memilih film “Berbagi Suami” dikarenakan penceritaan dari film ini yang berlatar belakang permasalahannya sesuai dengan topik yang di bahas yaitu mengangkat kisah perempuan-perempuan yang menjalani kehidupan poligami. Selain itu film ini dirasa mampu memberikan cara yang baru dalam membangun citra tokoh perempuannya dengan penceritaannya mengenai poligami dari sudut pandang perempuan.

3.3.1 Film “Berbagi Suami”

Film “Berbagi Suami” dirilis pada tahun 2006 yang merupakan hasil karya Sutradara Nia Dinata. Film ini mendapatkan cukup banyak penghargaan seperti penghargaan sebagai “Best Feature FIlm” dalam Hawaii International Film Festival, Amerika Serikat . Serta pemenang FFI 2006 sebagai Pemeran Pembantu Pria Terbaik, dan masih banyak lagi.

Film ini melibatkan aktor dan aktris Indonesia yaitu Jajang C. Noer, Shanty, Dominique Agisca Diyose, El Manik, Tio Pakusadewo, dan Lukman Sardi sebagai pemeran utamanya kemudian dibantu oleh beberapa aktor dan aktris lainnya sebagai pemeran pembantu. Di dalamnya terdapat tiga penceritaan yang berbeda (multi plot) dengan tiga pasang tokoh yang memiliki latar belakang yang juga berbeda-beda.

3.3.2 Sinopsis Film “Berbagi Suami”

Penceritaan pada film ini dimulai oleh cerita Salma (Jajang C. Noer) yang merupakan seorang perempuan yang berpendidikan. Ia adalah seorang dokter yang memiliki satu orang anak bernama Nadim dan seorang suami yaitu Pak Haji (El Manik) yang merupakan seorang pengusaha yang juga merambat ke ranah politik. Namun suatu ketika Pak Haji terbukti telah berpoligami dengan seorang wanita sehingga membuat Salma merasa sangat kecewa. Namun Pak Haji membawa dalih agama dalam pembenaran tindakannya sehingga Salma tidak mampu melawannya. Sejak saat itu terjadilah banyak pertentangan batin yang dirasakan oleh Salma hingga suatu ketika Pak Haji jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Kemudian penceritaan dilanjutkan dengan cerita seorang wanita muda bernama Siti (Shanty) yang berasal dari pelosok

(27)

Jawa. Kemudian Siti daiajak oleh Pak Lik (Lukman Sardi) ke Jakarta dengan dijanjikan akan disekolahkan. Saat sesampaiknya di rumah Pak Lik di Jakarta ternyata Pak Lik sudah memiliki dua istri dan banyak anak. Tidak lama setelahnya Siti pun diajak menikah oleh Pak Lik. Siti tidak dapat menentang maupun melawan Pak Lik hingga akhirnya Siti menikah. Namun Siti tidak dapat menemukan kebahagiaan dari pernikahannya, justru Siti malah mendapatkan kebahagiaan dan kenyamana dari istri kedua Pak Lik yaitu Dwi sehingga merekapun saling mencintai dan memutuskan untuk keluar dari rumah tersebut. Lalu penceritaan dilanjutkan dengan tokoh terakhir yaitu Ming (Dominique) yang merupakan seorang perempuan keturunan Tionghoa yang bekerja sebagai pekayan di restoran bebek panggang seorang laki-laki bernama Koh Abun (Tio Pakusadewo). Paras Ming yang cantik dan menarik membuat Koh Abun tertarik dan mencintai Ming sehingga Koh Abun berniat menikahi Ming padahl Koh Abun adalah seorang laki-laki beristri. Ming dengan latar belakang ekonomi menengah kebawah melihat kesempatan yang diberikan oleh Koh Abun sebagai laki-laki sukses mengiyakan ajakan menikah darinya agar dapat hidup nyaman. Karena kepercayaan yang dianut oleh Koh Abun, pernikahannya dengan Ming harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh istri Koh Abun. Namun pada akhirnya pernikahan mereka diketahui oleh istri Koh Abun sehingga Ming harus berpisah dengan Koh Abun.

3.4 Data Observasi

3.4.1 Poligami dan Perempuan dalam Media Massa

Pada salah satu cuplikan infotaiment SILET yang menayangkan seorang istri dari salah satu direktur utama Bank memberikan izin pada suaminya untuk berpoligami, kemudian SILET mewawancarai public figure dan meminta tanggapannya mengenai peristiwa tersebut. Terdapat tanggapan yang pro dengan memuji tindakan sang istri, namun ada pula tanggapan kontra terhadap hal tersebut.

Tayangan tersebut turut menayangkan kehidupan poligami public figure seperti Kiwil dan Opi Kumis yang menceritakan tentang pengalaman berpoligami yang

(28)

dianggap jauh dari kerukunan. Namun setelah itu ditayangkan cerita kehidupan poligami Nita Thalia yang dianggap berhasil dalam kehidupan poligaminya dengan mampu hidup berdampingan dengan istri pertama suaminya.

Begitupula tayangan berita yang diunggah dalam kanal YouTube BBC News Indonesia dan CNN Indonesia yang membahas mengenai qanun yang melegalkan poligami bagi warga Aceh. Keduanya menayangkan tanggapan pro dan kontra dari berbagai pihak, seperti pihak yang melakukan poligami, pemerintahan, warga biasa, serta komunitas- komunitas perempuan.

Adapun wawancara yang dilakukan oleh Narasi Newsroom mengenai suatu kampanye poligami yang dilakukan oleh seorang Kiai. Dalam wawancara tersebut, Kiai atau lebih akrab disapa coach menjabarkan alasan mengapa ia melakukan poligami dan mengapa istri dari seorang suami yang berpoligami harus menerima hal tersebut berdasarkan kepercayaan ajarannya. Terdapat pernyataan yang memposisikan perempuan baik restunya, perasaannya, pilihannya adalah hal yang tidak penting karena semua berada dalam kontrol suami. Sama halnya dengan wawancara yang dilakukan oleh Vice Indonesia yang melakukan wawancara kepada salah satu keluarga yang menjalankan kehidupan berpoligami. Terdapat pernyataan dari sang suami bahwa pola pikir istri dan tidak perilakunya akan bergantung terhadap bagaimana sang suami

“membentuk” istrinya tersebut.

3.4.2 Observasi Film “Berbagi Suami”

Berikut merupakan data yang terkumpul dari analisis yang telah dilakukan oleh peneliti dengan menjabarkan observasi visual dan observasi verbal serta simpulan dari masing-masing scene terpilih :

Gambar 2. Scene Film “Berbagi Suami”

(29)

Pada scene ini (00.04.20-00.05.10) berlatarkan suatu acara Salma tampak sedang tertawa bersama Pak Haji sambil berhadapan dan memegang gelas, lalu tiba- tiba datang seorang wanita yang membawa anaknya masuk ke tengah antara Pak Haji dan Salma. Perempuan itu kemudian memperkenalkan diri dan anaknya pada Salma.

Pak Haji tampak gelisah dengan memalingkan wajahnya. Sambil tersenyum Salma merespon perempuan tersebut sehingga mereka saling berdialog membahas mengenai anak mereka masing-masing. Namun tiba-tiba lampu ruangan tersebut mati. Anak tersebut berteriak ketakutan dan berkata bahwa ia ingin bersama Abahnya. Saat lampu menyala, anak tersebut sudah berada dalam gendongan Pak Haji. Suasana mendadak berubah. Perempuan tersebut menunduk dan tidak lagi tersenyum, begitu pula dengan Pak Haji. Salma menatap Pak Haji dan perempuan tersebut tanpa senyuman lagi. Salma menyimpan gelasnya dan beranjak pergi dengan tergesa-gesa dari tempat tersebut. Pak Haji memberikan anak yang digendongnya pada perempuan itu dan bergegas mengejar Salma. Hal tersebut menjadi perhatian tamu yang hadir.

Indri : Bu Salma, kenalkan ini anak saya.

Salma : Oh, lucunya!

Indri : Salam, Nak.

Salma : Ko belum tidur?

Anak Indri: Belom

Indri : Dia biasa saya bawa ke mana-mana. Anak ibu gak dibawa?

Salma : Dia laki-laki jadi gak tertarik sama acara begini

Indri : Seneng ya punya anak laki-laki. Sayamah pengennya juga punya anak laki- laki,tapi….

Anak Indri: Abah! Ica mau ke Abah!

Indri : Ica, jangan! Sini aja.

Salma : Salma pulang dulu, Bang.

Pak Haji : Sal! Salma!

Dalam scene tersebut dijelaskan bagaimana Salma dan Pak Haji bersikap di ruang publik dan bagaimana Salma yang semula bersikap ramah seketika berubah sebagai bentuk kekecewaannya namun tetap menjaga emosinya agar situasi tetap

(30)

kondusif. Dalam scene tersebut diperlihatkan juga bagaimana istri kedua Pak Haji ingin menunjukan diirnya di depan Salma.

Gambar 3. Scene Film “Berbagi Suami”

Sesampainya di rumah, melalui scene ini (00.06.16-00.08.56) terlihat Salma masuk ke kamar mandi rumahnya dan hendak mengunci pintunya tidak membiarkan Pak Haji masuk, tapi akhirnya ia mempersilakan Pak Haji masuk dan berbicara ke padanya karena Pak Haji membawa dalih agama mengenai sosok istri yang baik dalam agamanya (Islam). Salma terlihat merasa sedih dan kecewa karena ia menangis terisak- isak sambil terkadang memegang kepalanya, suaranya bergetar, dan beberapa kali berteriak pada suaminya Pak Haji. Pak Haji dan Salma membicarakan tentang apa yang baru saja terjadi, Salma mempertanyakan kenapa hal tersebut bisa terjadi, dan mereka membicarakan seperti akan apa kedepannya. Pak Haji menyampaikan alasannya dengan membawa dalih agama membuat Salma tidak bisa membantahnya.

Pak Haji : Salma ! Buka pintunya Salma! Sal, istri yang solehah pasti mau bukain pintu untuk dengerin penjelasan suaminya! Sal! Salma!

Salma : Kenapa ……..

Pak Haji : Abang gak ngerti maksudnya apa!

Salma : Gak usah Ditutup tutupin lagi! Udah jelas nasib Salma sama seperti umi kamu!

Untuk mati lampu.

Pak Haji : Jadi kamu lebih senang kalo tau? Gitu? Kalo gak mati itu listrik, Abang juga pasti kasih tau. Tapi gak, sekarang.

(31)

Salma : Kapan?

Pak Haji : Kalo Salma udah siap.

Salma : Berarti apa yang orang-orang bilang selama ini benar. Apa kurangnya Salma, Bang?

Pak Haji : Gaada yag kurang, Sal. Abang cuma menghindari zinah. (Kemudian Salma menangis terisak). Jauhin deh perasaan iri dengki kamu pada dia, nanti kamu malah dosa

Salma : Gak segampang itu! (Salma menolak saat Pak Haji hendak memegangnya).

Tidak segampang itu! Ternyata begini rasanya, lebih baik Salma gak tau sama sekali.

Pak Haji : Yaudah lupain peristiwa tadi, anggap aja gapernah ada.

Salma : How dare she come up to me like that! Dia mustinya kan tau Salma ini siapa!

Pak Haji : Abang gaakan pernah berubah ke kamu, Sal. Liat aja apa selama ini cinta abang berubah? Engga kan, Sal.

Salma : Mandi dulu. Pokonya kalo masuk rumah ini harus mandi dulu.

Pak Haji : Setiap habis berbuat abang selalu mandi zunub. Hukumnya kan wajib, Sal.

Salma : Ya, tapi sampai disini harus mandi lagi. Biar bersih.

Scene tersebut mengandung penolakan dan perlawanan dari Salma atas apa yang dilakukan oleh suaminya Pak Haji. Salma memperlihatkan kekecewaan dan amarahnya pada Pak Haji namun Pak Haji memberikan pernyataan pembenaran tentang apa yang telah ia lakukan yaitu berpoligami dengan berdalihkan agama membuat Salma tidak bisa membantah.

(32)

Gambar 4. Scene Film “Berbagi Suami”

Setelah mengetahui kenyataan tersebut Salma berkata bahwa kehidupannya banyak yang berubah, namun Ia tetap memilih untuk melanjutkan kehidupannya dan mengenyampingkan kontradiksi yang ia rasakan. Pada scene (00.12.08 – 00.12.20) dalam monolognya Salma mengakui bahwa masih merasa kesepian saat Pak Haji sedang tidak ada tapi hal tersebut harus ia sembunyikan. Sambil berjalan perlahan ke arah anaknya Nadim yang sedang terlelap dan bergabung tidur bersamanya. Sambil merapihkan selimut Nadim dan mematikan lampu tidur dalam monolognya Salma berkata bahwa ia harus tetap tegar demi anaknya tapi bagi Salma saat melihat Nadim terlelap hal tersebut memberikan kekuatan untuk Salma bertahan.

Melalui scene tersebut Salma berusaha menutupi perasaan yang sesungguhnya ia rasakan. Salma hanya menyampaikan apa yang ia rasakan dalam monolognya saja.

Cara Salma melihat Nadim yang sedang tertidur dan perlakuannya pada Nadim menunjukan perhatian yang merupakan bentuk kasih sayang yang Salma berikan pada anaknya, hal tersebut memenuhi kebutuhan mendasar Salma yaitu mencintai.

Gambar 5. Scene Film “Berbagi Suami”

Pada menit ke (00.13.00-00.14.54) Nadim yang baru saja bangun, Ia masih dalam posisi tertidur dan masih menggunakan selimunya dengan suara pelan bertanya pada ibunya Salma mengenai ayahnya. Sambil memberikan respon Salma bangun dari tidurnya kemudian turun dari kasurnya. Sambil berjalan ke arah kamar mandi Nadim dan Salma berdialog mengenai ayahnya dan peran Salma sebagai seorang istri. Nadim kemudian mengubah posisi tidurnya, Nadim tampak kesal karena ada beberapa penekanan dari pernyataan-pernyataan yang ia sampaikan . Kemudian Salma keluar

(33)

dari kamar mandi dan mengambil mukena yang kemudian ia kenakan, sambil masih berbincang dengan Nadim dan membahas mengenai cinta. Salma tampak berpikir setelah menyelesaikan percakapnnya dengan Nadim, dalam monolognya pun ia merasa sikapnya yang dingin membuat Nadim tumbuh menjadi anak yang sinis.

Nadim : Ko Abah sekarang lebih sering di rumah mamahnya Icha sih, Mi?

Salma : Dari mana kamu tau? Kan dia juga punya bisnis di Bali Nadim : percaya gitu aja Umi sama dia?

Salma : Ya percaya. Istri masa ga percaya sama suami. Mau jadi apa?

Nadim : Jangan-jangan si Abah punya pendatang baru tu, Mi?

Salma : Biarin deh, yang penting dia ga ganggu kita.

Nadim : Tar kalo Nadim punya istri gam au cari yang kaya Umi ah Salma : hah? Ko gitu? Sadis bener kamu sama Uminya

Nadim : Aku baca di buku ni Mi, kalo yang namanya laki-laki lebih seneng dicemburuin sama dicurigain. Itu namanya cinta.

Salma : (tertawa) kamu jangan terlalu banyak baca buku, bergaul sana biar tau beneran apa rasanya cinta. Pagi-pagi ngomongin cinta

Nadim : Jadi umi ga cinta sama abah? Cinta ga sama Abah Umi?

Salma : Kalo ga cinta, ya gaada kamu. Sekarang tanya sama Abah, cinta ga dia sama Umi?

Nadim : Bener juga sih, tar Nadim tanya sama Abah ah

Salma : Eh, jangan! Umi bercanda ko. Kita gausah bikin hati abah ga enak kalo di rumah

Dalam scene tersebut Salma menjaga image suaminya sebagai seorang ayah, memberikan pemahaman pada anaknya. Sebagai bentuk pertahanan Salma untuk menjaga keutuhan dan kenyamanan keluarganya.

(34)

Gambar 6. Scene Film “Berbagi Suami”

Berikutnya terdapat scene saat Salma sedang membeli bebek di suatu kios penjual bebek panggang (00.15.00-00.15.30), dalam scene tersebut Salma mengenakan jilbab berdiri didepan seorang kasir perempuan sambil membawa sekeresek barang yang telah Ia beli yaitu bebek panggang, sambil tersenyum pada kasir tersebut Salma pergi meninggalkannya. Sambil bermonolog di dalam scene tersebut, Salma berkata bahwa bebek panggang kesukaan Pak Haji dan Nadim inilah yang akan membantu mereka memperbaiki hubungan mereka. Setelah Salma meninggalkan kios bebek panggang tersebut dan masuk ke dalam mobil dan di saat bersamaan Pak Haji datang bersama dengan istri ke duanya dan membeli bebek panggang juga. Melalui kaca jendela mobil yang terbuka Salma melihatnya. Dalam monolognya lagi Salma berkata bahwa meskipun sepuluh tahun sudah berlalu namun rasa kecewa tersebut masih saja ada. Setelah melihat kejadian tersebut Salma menutup kaca mobil dan berkata pada supirnya untuk “jalan” meninggalakan tempat tersebut.

Sama seperti scene yang sebelumnya saat Salma bermonolog ia menyatakan perasaan yang sesungguhnya bahwa ia masih merasa kecewa. Berbeda dengan apa yang ia tunjukan dan sampaikan pada anaknya Nadim yang seolah ia telah menerima kondisi ini.

Gambar 7. Scene Film “Berbagi Suami”

Pada scene berikutnya (00.17.13-00.19.20) Salma mengikuti sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi. Pemandu acara membuka acara tersebut

(35)

kemudian langsung melontarkan pertanyaan kepada Salma membahas mengenai perasaan yang Salma rasakan berkaitan dengan praktik poligami yang dilakukan oleh suaminya. Salma menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pembawa acara tersebut dengan tenang, kemudian bintang tamu lainnya memberikan respon atau komentar terhadap pernyataan yang telah Salma berikan. Pemandu acara juga bertanya mengenai tanggapan Salma mengenai legalitas dari praktik poligami yang dikaitkan dengan kemunduran kaum perempuan. Salma menjawab pertanyaannya kembali dengan tenang dan ia kaitkan jawabannya dengan agama. Bintang tamu lainnya memotong jawaban Salma dan memberikan tanggapan yang kontra lagi terhadap jawaban yang diberikan oleh Salma. (observasi ketika salma di ruang publik)

MC : Kembali dalam “Perempuan Bicara” masih bersama Prof. Arni dan dr. Salma ,M.Sc. Baik kita lanjutkan kembali perbincangan kita. Tapi selama ini pernah ada perasaan cemburu atau berontak terhadap suami?

Salma : Pada awalnya ada tapi seiring berjalannya waktu perasaan itu hilang. Karena saya selalu kembali pada agama dan hidup sebagai muslim yang baik. (Tampak Nadim di rumah yang menyaksikan acara tersebut sedikit tertawa dengan sinis dan memegang kepalanya)

Prof. Arni : Sebenarnya apa yang ada di dalam agama itu tidak bisa kita artikan secara harfiah begitu saja. Ya mungkin zaman dulu banyak perempuan yang terlantar karena perang. Intinya jangan sampai agama itu dijadikan pembenaran bagi lelaki yang tidak bisa mengontrol nafsu birahinya. Nadim yang juga menyaksikan acara tersebut di rumah tampak emosi pada beberapa pernyataan dari Salma dengan memberikan senyum yang sinis sebagai respon ketidak setujuannya pada pernyataan Salma.

MC : Seandainya suami anda terpilih sebagai caleg berarti praktik poligami ini semakin terbuka,kan? Tidak hanya artis atau pelawak saja yang melakukannya namun politisi juga melakukannya. Nah, bukannya hal ini berarti kemunduran bagi kaum wanita?

Salma : Tergantung dari mana kita melihatnya. Sekali lagi, saya hanya berpegang kepada agama di mana jelas tertulis jelas dalam Al-Quran surat Annisa yang

(36)

mengatakan bahwa “kawinilah perempuan-perempuan lain yang kamu sukai , dua, tida, atau empat..”

Prof. Arni : Tapi ayat itukan ada sambungannya yaitu “Jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka seorang saja”

MC : Baik, dan selama ini suami anda berlaku adil?

Salma : Bisa dikatakan demikian

MC : Bagaimana anak-anakapakah mereka menerima dan bagaimana tanggapan mereka?

Salma : Anak saya baik-baik saja. (diperlihatkan kembali Nadim yang menyaksikan acara tersebut di rumah tertawa dengan hanya menaikan satu sudut bibirnya saja, sambil memegang kepala, menutup mata dan menggelengkan kepalanya. Kemudian mengubah posisi duduknya)

MC : Ya, baik luar biasa pengalaman dr. Salma ini yang dapat hidup damai dengan poligami. Apakah seluruh wanita Indonesia sanggup untuk menjalaninya atau justru setuju dengan pendapat Prof. Arni yang menentang poligami? Kami menunggu pendapat dan opini anda di nomor berikut ini. (Nadim bergegas berdiri dan mengambil telpon hendak menelpon namun tidak bisa terhubung.)

Scene ini pemberlihatkan bagaimana Salma di ruang publik, menjaga citra dirinya sebagai seorang istri dan Muslimah yang berpendidikan dan terpandang, menjaga citra suaminya sebagai calon legislatf, dan citra keluarganya dengan membenarkan tindakan suaminya berpoligami dengan dalih agama seolah Salma menerimanya dan semuanya baik-baik saja. Dalam scene ini nama Salma disebutkan secara lengkap beserta dengan gelarnya sehingga dapat disimpulkan bahwa Salma adalah seorang dokter yang tentu saja ekonominya cenderung stabil sehingga kebutuhan fisiologisnya terpenuhi. Dalam scene ini juga untuk dapan memenuhi kebutuhannya akan keamanan tentang pilihannya untuk hidup dalam praktik poligami melalui acara tv tersebut Salma menyampaikan alasannya dengan membawa hukum agama.

(37)

Gambar 8. Scene Film “Berbagi Suami”

Pada scene berikutnya (00.21.30-00.23.17) berlatarkan kendang kuda di tempat pacuan kuda Salma menghampiri Nadim. Menyapa dengan memintanya untuk tidak lagi marah padanya. Salma memberikan penjelasan dan keyakinan pada Nadim bahwa kondisi ini memang harus mereka jalani. Sambil berjalan keluar kendang Nadim dan Salma berbincang dan saling berdiskusi. Ternyata ada kesalahpahaman pada Nadim dan Salma. Ketakutan Salma pada Nadim yang mungkin marah karena pernyataannya di talkshow ternyata tidak benar. Lalu mereka berdua berjalan sambil tersenyum, Nadim merangkul Salma dan berjalan ke luar kendang.

Salma : Jangan kelamaan ngambek.

Nadim : Aku ga ngambek, cuma ga ngerti jalan pikiran Umi aja.

Salma : Udah Nadim. Ini kodrat, takdir. Kita harus jalanin semuanya

Nadim : Kodrat tuh yang dikasih Tuhan yang kita manusia ga misa milih. Untuk aku ini kodrat, gak bisa milih bapa ibunya. Kalo Umi kan punya pilihan.

Salma : ya maksud umi takdir, bukan kodrat.

Nadim : Ya hampir sama lah, Mi. Aku pikir umi perempuan paling pinter, mandiri yang pernah aku kenal.

Salma : Kepintaran dan kemandirian gaada hubungannya sama sekali dengan semua ini.

Nadim : Ya, sekarang sebagai seorang dokter masa Umi ga malu sih pergi ke sana (Aceh) sama Abah pake diikuti pers segala macet. Nih ya mih, aku heran sama orang

(38)

Indonesia. Kenapa setiap mau nolong tulus itu haru pake acara heboh heboh ke sana?

Semua orang pergi berbondong-bondong ke sana. Mulai dari kyai, artis, ampe politisi.

Terus ampe sana ngapain mi? Cuma datang, foto cekrek sana sini terus pulang, Salma : Siapa bilang umi ga mau lama di sana?

Nadim : jadi?

Salma : Umi kan ikut sama rombongan kamu. Tinggal di sana sama kamu. Ga jadi sama abah.

Nadim : terus ngapain ngomongin takdir sama kodrat?

Salma : soalnya umi takut kamu masih ngambek soal talkshow.

Nadim : Udah ga penting mi, aku malu kalo ngeributin itu. Sementara banyak orang hidupnya lebih menderita daripada aku.

Melalui scene tersebut Salma seolang takut anaknya Nadim marah dan kecewa denga napa yang ia katakana di acara talkshow, Salma menyadari bahwa yang dikatakannya salah karena tidak sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Karena itu Salma ingin menjelaskan dan memberikan pemahaman pada Nadim agar Nadim tidak marah lagi pada Salma.

Gambar 9. Scene Film “Berbagi Suami”

Kemudian Pak Haji jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Di sana Salma bertemu dengan perempuan muda yang kemungkinan adalah istri ke tiga Pak Haji.

Pada scene tersebut (00.26.59- 00.27.35) bertempat di kamar rumah sakit Pak Haji yang sedang terbaring di kasur rumah sakit sambil ditemani Salma di sampingnya. Adapun Indri dalam ruangan itu. Lalu masuk Ima, istri ke tiga Pa Haji. Berbeda dengan Indri

(39)

yang bersikap sinis, Salma menyambut baik Ima dengan membalas salam dan menyapanya dengan ramah.

Scene ini memperlihatkan bahwa Salma dihargai oleh istri ke tiga Pak Haji sehingga istri ke tiga Pak Haji pun menghormati Salma.

Gambar 10. Scene Film “Berbagi Suami”

Pada scene berikutnya (00.29.26-00.30.48) Pak Haji yang jatuh sakit kemudian dilarikan ke rumah sakit dan merasa tidak betah sehingga memutuskan untuk pulang dan Pak Haji memilih rumah Salma untuk dijadikan tempatnya pulang. Melalui monolognya Salma menceritakan tentang rasa senang yang ia rasakan, namun ia juga berkata mengenai apa yang harus dia siapkan kedepannya

Salma : Pagi ini saya merasa seperti pemenang. Walaupun saya tau ini bukan permainan. Melihat Abang, rasa kasihan mendominasi rasa-rasa yang lain. Melihat Nadim yang begitu berbakti semangat Abang bertambah. Dan saya harus bersiap-siap membuka pintu rumah ini selebar-lebarnya untuk siapapun yang datang menjenguk Abang. Sebulan sudah berlalu. Saya masih terus belajar dengan tulus membuka pintu rumah ini sekaligus membuka jiwa dan hati ini.

Dalam scene ini menjelaskan perasaan Salma yang sesungguhnya yang hanya ia utarakan dalam monolognya saja. Namun di lain sisi dalam scene ini juga Salma merasa kebutuhan akan harga dirinya terpenuhi karena Salma merasa terpilih dan berguna.

(40)

Gambar 11. Scene Film “Berbagi Suami”

Hingga akhirnya Pak Haji meninggal pada scene ini (00.36.28-00.38.19) seluruh anggota keluarga istri-istri dan anak-anak Pak Haji datang ke pemakaman.

Seluruhnya berpakaian hitam-hitam. Salma berdiri di samping Nadim dan mendoakan Pak Haji. Kemudian ia menaburkan bunga ke makam Pak Haji dan langsung beranjak menjauh dari makamnya Pak Haji. Disaat bersamaan tiba-tiba datang perempuan sambil menangis histeris menggendong bayi ke makam Pak Haji. Salma dan Nadim hanya melihatnya dari kejauhan kemudian saling bertatapan.

Nadim : Abah emang hobi ngasih surprise

Salma : Untuk orang lain barang kali. Tapi bagi kamu ga surprise lagi kan?

Nadim : Kalo umi engga, Nadim juga engga. Yuk.

Scene ini menjelaskan bagaimana respon dan perasaan Salma dan Nadim yang seolah memaklumi apa yang dilakukan oleh Pak Haji.

Gambar 12. Scene Film “Berbagi Suami”

Scene ini menjelaskan bagaimana respon dan perasaan Salma dan Nadim yang seolah memaklumi apa yang dilakukan oleh Pak Haji.

(41)

Pada scene berikutnya diperlihatkan Nadim sedang duduk di kursi pesawat militer.

Kemudian diperlihatkan Salma yang sedang menggunakan jas putih yang merupakan jas dokter sedang melihat ke luar jendela sambil bermonolog.

Salma : Ku biarkan Nadim terbang bebas sebagai sukarelawan melepaskan dirinya dari segala keabsrudan yang dialaminya selama ini. Untuk pertama kalinya saya menjalani hidup, tanpa anak, tanpa suami, mencoba membuat sesuatu yang lebih berarti. (Monolog Salma)

Melalui scene ini Salma menunjukan kasih sayangnya sebagai seorang ibu pada anaknya untuk dapat melepaskan diri dari kehidupannya yang tidak jelas selama ini.

Melalui scene ini pun Salma menjelaskan bahwa ia ingin menbuat sesuatu yang lebih berarti, hal tersebut dapat memenuhi kebutuhan akan aktualisasi dirinya.

Gambar 13. Scene Film “Berbagi Suami”

Kemudian penceritaan pada film “Berbagi Suami” ini dilanjutkan dengan cerita dari perempuan dan keluaga lain yaitu Siti, Pak Lik , dan tiga istri Pak Lik yang lainnya.

Penceritaan ini di mulai dengan perkenalan Siti dan keadaannya juga keadaan keluarga Pak Lik. Pada scene (00.39.51-00.41.55) terlihat rumah Pak Lik dari luar, terdapat enam anak perempuan sedang bermain di teras rumah bersama dengan sendal-sendal yang berserakan. Pintu rumah terbukanya, terlihat dari kejauhan figura-figura terpasan di dinding. Anak-anak itu bermain ada yang sambil bernyanyi Ampar-Ampar Pisang, loncat-loncat, bermaim permainan kuda-kudaan, ada juga yang asik bermain dengan adiknya yang masih bayi. Kemudian diperlihatkan Sri yang merupakan istri pertama Pak Lik sedang berusaha sekuat tenaga melahirkan bayi dengan tubuh dan wajahnya yang sudah sangat berkeringat. Sri di bantu oleh Sri dan Dwi melahirkan bayi tersebut.

(42)

Saat mengetahui bayi lainnya telah lahir semuanya berlari masuk ke dalam rumah.

Sambil bermonolog, Siti mengangkat bayi yang masih berlumuran darah karena baru saja keluar dari perut ibunya yang masih tiduran mengangkang dan pahanya berlumuran darah. Di samping Siti ada Dwi yang merupakan. Istri kedua Pak Lik membantu menyiapkan kain untuk bayi tersebut. Siti memberikannya pada Dwi kemudian bayi tersebut diselimuti kain dan diberikan pada ibunya. Anak-anak perempuan Pak Lik berlarian menghampiri kamar bersalin tersebut dan meminta Siti untuk membuka pintunya. Siti membukakan pintunya sehingga anak-anak tersebut masuk dan menyambut adik barunya yang sedang didekap dan disusui oleh Sri.

Diperlihatkan juga anak Pak Lik yang masih sangat ngecil sedang “ngempeng” turut melihat dan menyambut adik barunya. Siti keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya. Berjalan sambil melihat foto-foto yang tersusun rapih di atas meja. Siti merapihkan posisi bantal di atas sofa kemudian ia merebahkan dirinya di atas sofa tersebut. Siti akhirnya tertidur.

Siti : Aku bukan bidan. Tapi karena sudah pernah bantu istri pertama dan istri kedua suamiku melahirkan akhirnya jadi biasa. (Monolog Siti)

Anak-anak : Ibu bukain!

Siti : Iya iya bentar sabar. Gak sabar ini liat adeknya. Ayo sana liat adeknya.

Siti : Siapa yang sangka, Pak Lik yang selalu mamerin foto-fotonya dengan bintang film ke orang di kampungku yang janji mau nyekolahin aku di Jakarta ternyata Cuma supir di rumah produksi film. Mobil yang dia pakai untuk jemputku di kampung juga cuma minjem dari perusahaan filmnya. (Monolog Siti)

Memperlihatkan bagaimana kondisi Pak Lik dengan keluarganya, rumahnya, dan ekonominya. Serta alasan mengapa Siti datang ke Jakarta untuk bersekolah untuk memenuhi kebutuhan akan aktualisasi dirinya.

(43)

Gambar 14. Scene Film “Berbagi Suami”

Kemudian pada scene berikutnya (00.43.10-00.43.51) alur cerita kembali mundur saat Siti baru sampai di rumah Pak Lik. Sri yang sedang menyisir rambutnya dan Dwi yang sedang membakar sebatang rokok berbincang sambil menunggu kedatangan Siti dan Pak Lik. Membicarakan tentang perempuan yang akan dibawa Pak Lik yaitu Siti. Kemudian Siti dan Pak Lik datang. Pak Lik membuka pintu gerbang mempersilakan Siti untuk masuk ke dalam. Pak Lik kemudian memanggil Sri dan Dwi.

Sri dan Dwi keluar dari rumah, Sri langsung menyambut Pak Lik namun Pak Lik meminta untuk membawa masuk Siti terlebihdahulu. Siti menyodorkan tangannya pada Sri dan Dwi untuk menyapa sekaligus memberikan salamnya pada mereka berdua. Kemudia Siti dirangkul dibawa masuk ke dalam rumah. Pak Lik tersenyum dari depan pintu gerbang.

Sri : Yakin si Mas gak mungkin salah pilih.

Dwi : Bener nih, Mba?

Sri : Yeh, liat aja!

(Pak Lik datang) Pak Lik : Sri! Dwi!

Sri : Ehh Mas! Pakabar?

Pak Lik : Itu dibawa masuk dulu!

Sri : Ayo masuk!

Siti : Bule (Menyodorkan tangannya pada Sri untuk salam pada Sri) Bule (Menyodorkan tangannya pada Dwi untuk salam pada Dwi)

Sri : Yuk.. (merangkul Siti)

(44)

Dwi : Cape ya?

Siti : Engga Bule.

Sri : Ahh bener gak? Bener gak?

Sri dan Dwi menyambut baik kedatangan Siti.

Gambar 15. Scene Film “Berbagi Suami”

Pada scene berikutnya (00.43.52-00.45.15) yaitu di kamar tidur, sambil bermonolog Sit menjelaskan keadaan di sana. Dalam ruangan tersebut dapat lima anak bersama dengan Dwi dan Siti yang tidur secara berhimpitan di dalam satu tempat tidur sambil berselimutkan kain-kain. Salah satu anak memanggil Siti dan mengajaknya berbicara, tanpa bangkit dari tidurnya ia bertanya apakah Siti akan tinggal di sana seterusnya atau tidak dan mempertanyakan mengapa anak tersebut tidak memanggilnya ibu seperti ia memanggi Dwi. Siti yang semula tidur

“memunggunginya” membalikan badannya untuk merespon pertanyaannya. Dwi terbangun dan meminta mereka untuk tidak berisik.

Siti : Kamar di rumah ini cuma dua. Yang satu untuk Pak Lik dan istri yang lagi kebagian jatah. Nah kamar ini untuk istri yang lainnya, nyampur dengan anak-anak.

(monolog Siti) Anak 1 : Mba Siti?

Siti : Loh kamu belum tidur? Aku bangunin kamu ya?

Anak 1 : (menggelengkan kepala) Mba tinggal di sini terus-terusan ya?

Siti : Belum tau. Aku gak punya siapa-siapa lagi di Jakarta selain bapakmu.

Anak 1 : Kok aku gak panggil Mba “ibu”?

(45)

Siti : Kan aku bukan ibumu.

Anak 1 : Bu Dwi juga bukan ibuku. Tapi aku panggilnya ibu.

Siti : Kalo ke aku panggilnya Mba aja.

Dwi : Heh! Jangan berisik. Tar ade-adeknya bangun.

Dalam scene ini dijelaskan kembali bagaimana kondisi rumah Pak Lik dan bagaimana anak Pak Lik merespon kehadiran wanita baru di rumahnya. Melalui scene ini Siti menjelaskan bahwa ia tidak memiliki siapa-siapa di Jakarta bahkan untuk tinggal sekalipun ia hanya memiliki Pak Lik yang dapat membantunya memenuhi kebutuhan fisiologisnya.

Gambar 16. Scene Film “Berbagi Suami”

Pada scene (00.47.37-00.48.22) Sambil bermonolog Siti yang sedang berjalan di siang hari di pinggir jalan sambil membawa tas dan meminum minuman menggunakan plastik. Kemudian Siti menaiki bajaj. Lalu dilanjutkan dengan scene saat Siti sedang di teras rumah menggendong seorang bayi sambil memberinya makan. Di teras juga terdapat Sri dan Dwi yang saling memijit karena keduanya sedang sama- sama muntah.

Siti : Sementara siang-siang aku kursus kecantikan walaupun cuma sampe tiga bulan gak sampe lulus, belum dapet ijazah. Soalnya setelah itu dua-dua istri Pak Lik hamil. Aku harus bantu jaga anak sambil bantu nyuci cucian tetangga. Lumayan juga dapet uang tambahan. (Monolog Siti)

(46)

Penjelasan mengenai kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh Siti namun harus dihentikan karena kedua isti Pak Lik hamil. Siti mencari kegiatan lain yang juga dapat membantu memenuhi kebutuhan ekonominya.

Gambar 17. Scene Film “Berbagi Suami”

Scene berikutnya (00.48.22-00.50.26) Pak Lik baru saja memasuki rumah dan menutup pintu sambil membawa sekotak martabak. Kemudian Pak Lik melihat ke kamarnya terdapat Sri yang sedang tidur, lalu ia melihat ke arah sofa terdapat Dwi yang juga sedang tertidur bersama seorang anak. Pak Lik berjalan ke arah dapur melihat Siti sedang mencuci piring kemudian ia menghampirinya. Pak Lik memberikan kotak martabak tersebut ke Siti kemudian Siti memindahkannya ke atas piring. Sambil berdiri mendekat ke sebelah Siti, ia memperhartikan Siti kemudian mengelus kepala Siti. Siti tidak memberikan respon apa-apa dan langsung memberikan martabak yang sudah dipindahkan ke piring ke Pak Lik. Mereka berdua kemudian duduk di kursi makan, sambil memakan martabak Pak Lik yang berada di sebelah Siti memegang tangan Siti yang berada di atas meja sambil tersenyum. Siti berusaha melepaskan tangannya dari Pak Lik. Kemudian Sri datang ke ruang makan tersebut. Siti menurunkan tangannya dari atas meja, Pak Likpun melepaskan tangannya dari Siti. Siti kemudian memalingkan tubuhnya dari Pak Lik dan tertunduk sambil memakan martabak. Sri mengambil martabak dan ikut memakannya. Pak Lik turun dari kursinya dan menghampiri Sri dan mendekatkan telinganya ke perut Sri yang sedang hamil besar.

Setelah itu mereka bercengkrama. Siti meninggalkan ruangan tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

Observasi adanya kejang dan dehidrasi Hipertermi sangat potensial untuk menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien

Keasinan airtanah di daerah kajian dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain proses pelarutan mineral dari material marin dan alluvium sungai oleh air hujan ketika

Li (1994) menyatakan bahwa kebutuhan nutrisi dalam perkembangbiakan massal dari telur inang alternatif ( C. cephalonica ) tidak sesuai dengan kebutuhan Trichogramma untuk

Peneliti berasumsi Kompas adalah media yang cocok dengan teori analisis wacana fairclough, karena dalam pengambilan judul ia tidak secara langsung menuding Raffi

Selanjutnya dari penyebaran kuesioner yang dibagikan ke 95 responden kepada masyarakat di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Blitar menunjukan hasil

Jika anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif ditempat kerja, sesuai

Dapat menjelaskan cara mengidentifikasi platform (lingkungan) yang akan digunakan untuk menjalankan tools pemrograman sesuai dengan kebutuhan.. Mampu mengidentifikasi platform

Dengan berkembangnya dunia pendidikan proses pengaksesan laporan pencapaian kompetensi peserta didik pada sistem yang sedang berjalan masih belum dapat mengatasi