https://edukatif.org/index.php/edukatif/index
Peran Guru dalam Menjaga E-Safety Peserta Didik di Era Teknologi Digital di Indonesia
Jefri Susanto Manik
Universitas Kristen Indonesia, Indonesia E-mail : [email protected]
Abstrak
Pada abad 21 jumlah pengguna internet di Indonesia kian meningkat dan termasuk di dalamnya anak-anak.
Namun, peningkatan tersebut tidak diiringi dengan kemampuan literasi digital yang berimbang. Hal ini menyebabkan terjadinya kasus kejahatan di dunia internet di Indonesia yang telah melibatkan dan menyasar kepada anak-anak pula. Pendidikan berperan penting dalam menjaga keselamatan berinternet peserta didik melalui sekolah-sekolah. Dalam hal ini, guru memiliki posisi yang strategis untuk melakukan pembekalan literasi digital tersebut. Tetapi hingga saat ini masih minim tulisan yang menjelaskan tentang peran guru dalam menjaga e-safety peserta didik di era teknologi digital di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menjelaskan peranan guru dalam menjaga e-safety peserta didik di era teknologi digital. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan, di mana sumber-sumber yang dikumpulkan adalah secara tertulis seperti buku, artikel dan jurnal, serta karya ilmiah lainnya. Semua sumber tersebut tentunya merujuk kepada topik terkait judul artikel yang dikaji. Hasil kajian artikel ini menunjukkan bahwa guru berperan penting dalam menjaga keselamatan berinternet peserta didik dalam penggunaan teknologi digital, sehingga mereka (siswa) aman berinternet dan terhindar dari tindak pelaku kejahatan internet.
Kata Kunci: Peran guru, e-safety, peserta didik, teknologi digital.
Abstract
In the 21st century, the number of internet users in Indonesia is increasing, including children. However, this increase is not accompanied by a balanced digital literacy ability. This has led to the occurrence of criminal cases in the internet world in Indonesia which have involved and targeted children as well. Education plays an important role in maintaining student internet safety through schools. In this case, teachers have a strategic position to provide digital literacy. However, until now, there are still few writings that explain the role of teachers in maintaining the e-safety of students in the era of digital technology in Indonesia. The purpose of this study is to explain the role of teachers in maintaining the e-safety of students in the era of digital technology. The method used in this research is a literature study, where the sources collected are in writing such as books, articles and journals, as well as other scientific works. All of these sources, of course, refer to topics related to the title of the article being studied. The results of the study of this article indicate that teachers play an important role in maintaining students' internet safety in the use of digital technology, so that they (students) are safe on the internet and are protected from acts of internet crime.
Keywords: Teachers role, e-safety, students, digital technology.
Copyright (c) 2022 Jefri Susanto Manik
Corresponding author
Email : [email protected] ISSN 2656-8063 (Media Cetak)
DOI : https://doi.org/10.31004/edukatif.v4i4.3085 ISSN 2656-8071 (Media Online)
PENDAHULUAN
Abad 21 diwarnai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau Information Communication Technology (ICT) yang melaju dengan sangat cepat. Salah satu wujud kemajuan tersebut adalah pada teknologi internet, di mana internet telah mendukung efektivitas berbagai sektor kehidupan seperti ekonomi, kesehatan, kegiatan keagamaan dan termasuk pendidikan. Internet menjadi media komunikasi, bertukar data, mencari informasi, bahkan untuk menjalin relasi seperti membentuk komunitas dunia maya (Gani, 2014). Dalam konteks pendidikan, guru dan murid turut merasakan dampak dan manfaat perkembangannya. Misalnya guru mencari materi atau bahan ajar, atau siswa mencari jawaban atas tugas- tugas sekolahnya melalui browser seperti Google. Di samping itu, internet juga dimanfaatkan oleh berbagai kalangan usia, mulai dari berkirim pesan online, berbelanja bahkan untuk mencari nafkah (seperti Ojek Online). Artinya, kemajuan teknologi serta kemudahan untuk mengaksesnya membuka peluang bagi siapa saja dapat menggunakan internet. Di samping itu, hadirnya Covid-19 yang bermula di Wuhan, Tiongkok, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia, turut mendorong meningkatnya penggunaan internet di Indonesia. Merespons hal tersebut pemerintah mengharuskan pelaksanaan pembelajaran daring (online) sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di masyarakat. Pelaksanaan pendidikan daring dilakukan dengan cara mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran, seperti menggunakan whatsapp, google meet, zoom, google classroom, Microsoft teams dan lainnya dalam proses belajar mengajar. Keadaan ini membuat akses peserta didik ke dunia maya semakin terbuka (Niyu & Purba, 2021). Memang pemanfaatan tersebut memberikan kemudahan dalam berbagai kegiatan. Namun, kurangnya literasi digital mengenai akibat buruk, resiko dan bahaya penggunaan internet dapat membahayakan siapa saja. Dalam hal ini, objek yang paling rentan menjadi sasaran bahaya internet adalah anak dan remaja, sebagai siswa di sekolah.
Data laporan Child Online Safety Index (COSI) DQ Institute, pada tahun 2020 Indonesia berada pada posisi ke 26 dari 30 negara yang memiliki online safety untuk anak-anak (Institute, 2020). Dalam survei tersebut, tidak ditemukan adanya indikasi pelaksanaan edukasi e-safety di Indonesia, baik di rumah maupun di sekolah. Kemudian, Indonesia adalah negara urutan terendah (30 dari 30) yang melakukan edukasi literasi digital kepada anak pada tahun 2020, dan urutan 24 (dari 30) dalam kompetensi digital (Institute, 2020).
Selain itu, tahun 2021 Indonesia adalah peringkat kedua dalam kejahatan siber (Cyber crime) seperti cyber bullying (Telaumbanua, 2020), provokatif, hate speech (Rahmasari, 2021), pornografi dan kekerasan seksual (Haidar & Apsari, 2020). Data tersebut menunjukkan bahwa keamanan berinternet di Indonesia masih sangat rendah dan rentan serta mengindikasikan kondisi ini sangat memprihatinkan. Oleh sebab itu, peran guru sebagai pendidik dan pembina siswa sangat diharapkan. Urgensi peran guru terkait e-safety siswa juga karena beberapa hal lain, seperti: perkembangan TIK yang dinamis, internet tidak memiliki aturan yang tetap sehingga perlu pemantauan dan peringatan, anak kurang mengerti bahaya penggunaan internet, serta interaksi perangkat digital berbasis online yang semakin menanjak. Oleh sebab itu, tulisan ini menjelaskan peran guru dalam menjaga e-safety peserta didik di Indonesia.
Beberapa kajian terdahulu yang relevan dan berkaitan dengan tulisan ini ialah seperti: pertama, tulisan Niyu dan Herman Purba mengenai E-safety: keamanan di dunia maya bagi pendidik dan peserta didik.
Penelitian tersebut menunjukkan betapa pentingnya kesadaran akan bahaya dan keamanan pendidik dan peserta didik ketika berinteraksi di dunia maya sehingga perlu dilakukan pelatihan literasi digital, baik di kalangan pendidik maupun peserta didik. Kedua, tulisan Titin Setiawati dkk., mengenai pentingnya pelatihan literasi media digital dan keamanan data untuk Pelajar SMA Islam Al Fajar. Kesimpulan dari penelitian tersebut bahwa pelatihan literasi media digital dan keamanan data untuk pelajar sangat diperlukan untuk menjaga keamanan peserta didik. Ketiga, tulisan oleh Aniq Noviciatie Ulfah dkk., mengenai pelatihan secure computer user untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap keamanan data dan informasi. Mereka menemukan rendahnya pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai bahaya dan risiko penggunaan teknologi
digital. Melalui pelatihan-pelatihan yang dilakukan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa terkait keamanan berinternet. Keempat, tulisan oleh Anastasia Dewi Anggraeni mengenai the role of school counselors in forming student becoming a digital citizen. Hasil penelitian ini mengemukakan peranan konselor di sekolah untuk membimbing siswa menjadi pengguna internet yang baik.
Dari beberapa penelitian di atas, dapat dilihat pentingnya literasi digital bagi anak dan remaja yang mana sedang berada di kursi pendidikan. Bukan hanya itu, di dalam penelitian-penelitian tersebut bersama- sama menguraikan potensi bahaya yang dapat menjangkau siswa dalam berinternet. Namun, sangat minim tulisan yang menguraikan peranan guru dalam menjaga e-safety atau keamanan berinternet siswa. Oleh karena itu, pada penelitian ini penulis menguraikan peranan guru dalam menjaga e-safety siswa di tengah perkembangan teknologi digital saat ini.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pustaka atau library research.
Menurut Iwan, studi kepustakaan merupakan segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun data yang relevan dengan topik atau masalah yang sedang diteliti (Joy et al., 2021). Lebih lengkap, penelitian pustaka adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan kajian terhadap buku, literatur, jurnal, internet, hasil penelitian tesis maupun disertasi serta sumber referensi lain yang mempunyai hubungan dengan topik bahasan yang akan dipecahkan (Samala et al., 2022). Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji teks, buku, serta karya ilmiah lainnya yang membahas tentang peran guru dan teknologi digital.
Beberapa langkah yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu: tahap pencarian dan pengumpulan sumber, tahap analisis, dan tahap penarikan kesimpulan. Dari tahap- tahap inilah, pada akhirnya tulisan ini menjadi satu-kesatuan yang utuh yaitu membahas tentang bagaimana peran guru dalam menjaga e-safety (keamanan berinternet) peserta didik di era teknologi digital di Indonesia.
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Esensi Peran Guru
Keberhasilan atau kemunduran siswa dipengaruhi kuat oleh peranan guru di dalam kehidupan belajarnya. Peranan ini mempengaruhi pembentukan karakter, motivasi belajar dan pemanfaatan ICT. Guru menjadi orang tua kedua yang menjadi role model bagi siswanya. Pembelajaran yang bermakna yang dilaksanakan di dalam kegiatan proses belajar mengajar melahirkan memory (kenangan) yang menjadi pemandu bagi siswa setiap kali mengambil keputusan di masa yang akan datang. Artinya, dampak dari peranan guru di dalam relasi dan interaksinya dengan para peserta didik tidak hanya pada saat itu saja, bahkan sampai mereka bertumbuh dewasa.
Dalam pembentukan karakter, guru memiliki posisi strategis untuk mewujudkan pendidikan berkarakter melalui integrasi pembelajaran dengan nilai-nilai dan norma, baik budaya juga agama. Bukan hanya guru agama, bahkan guru pendidikan jasmani sekalipun berperan penting mewujudkan dan membentuk peserta didik yang berkarakter (Arifin, 2017). Artinya, peran guru untuk mendidik karakter siswa sangat diperlukan.
Era modern ini, masyarakat tetap menggantungkan harapan kepada para pendidik yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan akademis kognitif siswa, tetapi juga diharapkan mampu untuk mendidik siswa dalam mengelola pikiran, hati dan perasaan yang akan dimanifestasikan ke dalam pola perilaku bermasyarakat (Maya, 2017). Pemanfaatan kemajuan teknologi pembelajaran daring tidak dapat menggantikan peranan seorang guru. Teknologi tidak mampu menggantikan guru yang adalah manusia yang memiliki rasa dan asa.
Pendidikan karakter di tengah kencangnya digitalisasi bertujuan untuk membangun karakter seseorang dan menjadikannya menjadi lebih baik, di mana karakter tersebut yang akan mendominasi sifat atau indentitas dari
orang tersebut (Suyanti, 2019). Dalam hal ini, guru juga harus dapat menampilkan teladan (self control) sehingga memiliki kelayakan menjadi mentor dan model bagi siswanya. Selain itu, guru menjadi pendidik, pembimbing, pelatih, menanamkan nilai-nilai kebaikan yang bersumber pada nilai-nilai agama kepada peserta didik. Guru bahkan menjadi sahabat tempat di mana mereka (peserta didik) dapat menceritakan segala keluh kesahnya, baik terkait pendidikannya bahkan mengenai persoalan-persoalan pribadinya (Telaumbanua, 2020).
Karena itu, setiap aktivitas pembelajaran di sekolah-sekolah dirumuskan sedemikian rupa dengan memasukkan konsep nilai dan norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Sehingga sekolah ibarat sebuah tempat pelatihan di mana siswa disiapkan atau dilatih sebelum terjun ke dalam masyarakat.
Guru juga berperan sebagai pendidik untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Motivasi merupakan sebuah dorongan mental yang di dalamnya terdapat suatu keinginan, harapan, dan tujuan. Motivasi juga dapat dipahami sebagai dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu (Al Huda & Rabiyah Bakri, 2015). Motivasi tidak muncul dengan sendirinya, melainkan disebabkan adanya input atau pengaruh dari luar, sehingga memunculkan dorongan yang disebut motivasi. Diyakini bahwa pada diri tiap-tiap orang memiliki potensi atau kekuatan yang dapat mendorong tingkah laku bergerak kepada pencapaian tujuan (Arianti, 2019).
Guru berperan untuk menyelidiki kebutuhan tingkah laku belajar siswa atau mengidentifikasi tujuan dan harapan mereka, menjelaskan konsekuensi dari tujuan tersebut kemudian menggerakkan siswa mencapai tujuan belajarnya. Misalnya, tujuan belajar siswa adalah menjadi seorang dokter ahli. Maka ia harus menjadi seorang yang berpengetahuan luas di bidangnya yang diperoleh melalui belajar. Konsekuensi dari tindakan belajar adalah berpengetahuan, mendapat ranking di kelas (juara), membahagiakan orang tua, dan berpotensi mencapai tujuan belajar (Utami, 2020). Oleh sebab itu, siswa harus menunjukkan tingkah laku belajar yang rajin, aktif dan bersemangat agar dapat mencapai tujuan belajarnya. Dalam hal ini guru berperan memotivasi siswa sehingga berdampak pada meningkatnya kecerdasan, minat serta prestasi belajar mereka (Suwardi &
Farnisa, 2018).
Guru juga berperan dalam pengembangan pembelajaran, setidaknya dalam melakukan perencanaan terhadap pelaksanaan pembelajaran. Misalnya, menerjemahkan tujuan pendidikan ke dalam rencana pembelajaran yang lebih detail dan sederhana serta bersifat operasional (Zein, 2016). Dalam proses perencanaan tersebut harus mempertimbangkan perkembangan serta kebutuhan siswa. Untuk itu perlu melakukan identifikasi kebutuhan siswa secara terukur. Hal ini untuk menjamin relevansi pendidikan terhadap kebutuhan siswa serta masyarakat. Perencanaan yang baik akan mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran serta meningkatnya kompetensi siswa setelah mengikuti pembelajaran (Darmadi, 2019).
Di tengah kuatnya globalisasi dan digitalisasi, guru juga berperan dalam meningkatkan pemanfaatan ICT. Digitalisasi yang kian memasyarakat menyajikan beragam kemudahan bagi manusia dalam melaksanakan pekerjaannya. Merespons hal tersebut sektor pendidikan harus merubah pola klasiknya. Pola klasik yang dimaksud ialah di mana sistem dan aktivitas pembelajaran atau kebiasaan belajar lama yang minim digital bahkan tabu dengan teknologi modern. Namun kini, harus dirancang bangun kembali dengan mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran. Unsur material dalam belajar sebagai sumber belajar yang dulunya hanya guru dan buku cetak, kini dapat menggunakan beragam unsur seperti film, slide, animasi, foto, audio atau suara, CD/DVD, atau bahan-bahan yang berbasis online (Lestari, 2018). Dengan kata lain, model pelaksanaan pembelajaran masa kini mayoritas berbasis TIK. Dalam konteks tersebut guru merupakan tonggak utama dalam pemanfaatan alat-alat teknologi yang bertanggung jawab mengenalkan teknologi yang mendukung pola pembelajaran anak bangsa. Mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran secara simultan mingkatkan literasi digital peserta didik meskipun tampak lambat. Beberapa manfaat literasi digital tersebut menurut Sumiyati dan Wijonarko di dalam Dinie Anggraeni Dewi dkk., yaitu:
1. Wawasan individu bertambah ketika melakukan kegiatan mencari dan memahami informasi, 2. Menumbuhkan kemahiran seseorang untuk berpikir serta memahami informasi secara lebih kritis, 3. Kemampuan verbal individu meningkat,
4. Menumbuhkan konsentrasi dan daya fokus individu,
5. Kemahiran individu dalam membaca dan menulis informasi bertambah (Dewi et al., 2021).
Dari manfaat-manfaat literasi digital tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa literasi digital sangat penting bagi peserta didik di tengah arus globalisasi dan digitalisasi sekarang.
Era Teknologi Digital
Era teknologi digital ditandai dengan mengalir derasnya pertukaran informasi di dalam kehidupan masyarakat. Era ini adalah era perpaduan antara dimensi fisik dan digital yang bahkan kadang sulit dibedakan.
Beberapa orang dapat memperoleh informasi yang sama dalam waktu dan tempat yang berbeda-beda. Selain itu, profesor Shcwab menyatakan bahwa pada saat ini kemajuan di bidang teknologi sangat cepat, dan manusia mulai dibiasakan dengan kemajuan teknologi tersebut. Superkomputer seluler ada di mana-mana, robot cerdas, mobil yang mampu mengemudi sendiri, peningkatan otak neuro-teknologi, dan percobaan pengeditan genetik (Schwab, 2013). Perubahan tersebut umumnya disebut dengan Revolusi Industri 4.0.
Dampak Positif
Kemajuan teknologi tersebut telah mempengaruhi bahkan mengubah masyarakat dalam berpikir, cara bekerja bahkan menjalin relasi satu dengan yang lain (Hidayat, 2015). Mengutip Rosenberg, Jamun menjelaskan bahwa setidaknya terdapat tiga dampak yang berarti atau dampak positif dari kemajuan teknologi dalam dunia pendidikan, yaitu: ruang kelas, kertas kerja, dan fasilitas (Jamun, 2018). Pertama, ruang kelas, pelaksanaan pembelajaran pada era teknologi digital tidak harus berada dalam sebuah ruang kelas.
Pelaksanaan proses belajar mengajar dapat dilakukan di mana dan kapan saja sesuai dengan kesepakatan antara guru dan murid. Artinya, tempat bukan lagi menjadi persoalan bagi pelaksanaan proses pembelajaran.
Komunikasi pendidikan tidak harus tatap muka di dalam sebuah gedung, kini dapat dilakukan di dalam jaringan atau online. Kedua, kertas kerja, siswa maupun guru tidak harus menggunakan buku atau kertas baik dalam memberikan materi ajar juga pemberian tugas-tugas harian atau tugas akhir semester. Tugas maupun materi ajar diberikan dalam bentuk digital seperti melalui aplikasi google form, pesan whatsapp, paperless office dan lainnya. Ketiga, fasilitas, yang mana fasilitas pembelajaran yang sebelumnya bersifat fisik, kini berubah menjadi fasilitas jaringan. Dapat dilihat bahwa teknologi telah kuat mempengaruhi dunia pendidikan, bahkan proses pembelajaran mayoritas berbasis TIK. Dalam hal ini, Hoyles & Lagrange menegaskan bahwa efektivitas, efisiensi dan daya tarik teknologi digital telah membuat dunia pendidikan tidak mampu lagi lepas darinya (Putrawangsa & Hasanah, 2018). Secara faktual terkait pemanfaatan teknologi, dalam penelitiannya di SD Negeri Keraton, Megahantara menyebut dampak positif teknologi digital ialah memudahkan interaksi guru dengan orang tua atau wali murid (Megahantara, 2019). Ia mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang tua murid yang sibuk bekerja untuk membicarakan perihal kemajuan atau masalah pendidikan anak mereka.
Namun, dengan hadirnya teknologi digital dan internet, membuat guru terhubung dengan mudah dengan orang tua atau wali murid. Pada akhirnya sekolah dan orang tua dapat bersinergi mengontrol perkembangan pendidikan anak dengan mudah.
Dampak Negatif
Di samping dampak positif, kehadiran teknologi juga memberikan pengaruh negatif. Jamun menyatakan dengan hadirnya teknologi akan membuat guru tersingkirkan. Guru bukan lagi sumber belajar satu-satunya, teknologi internet telah menyediakan informasi yang jauh lebih lengkap daripada pengetahuan guru. Guru menjadi dialihfungsikan bahkan mulai disingkirkan, sehingga etika dan disiplin anak sulit diawasi karena pembelajaran dapat dilakukan seorang diri. Pada sisi yang lain, kepekaan sosial anak semakin tergerus akibat kecanduan gadget (Jamun 2018). Kebiasaan bermain gadget membuat siswa kurang memperhatikan sekitarnya dan secara perlahan mematikan kemampuannya dalam bersosialisasi. Di samping itu, kemajuan
teknologi digital serta kemudahan untuk mendapatkan media elektronik, membuat informasi mengalir deras.
Di dalam aliran informasi tersebut termuat konten-konten negatif seperti pornografi dan ujaran kebencian. Hal tersebut menyebabkan terjadinya kemerosotan moral di kalangan remaja dan pelajar (Fitri, 2017).
Kehadiran teknologi menjadi ancaman dan menimbulkan ketakutan tersendiri bagi orang tua. Selama beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan cyber crime yang sangat pesat di Indonesia, di mana yang menjadi korban dan pelaku bukan saja orang dewasa melainkan telah menyasar kepada anak-anak. Cyber crime memiliki banyak jenis seperti pemalsuan akun, pencurian data, penyebaran konten ilegal dan lain-lain. Jenis cyber crime yang sangat mengkhawatirkan saat ini adalah cyber pornography (Dasta, Komariah, dan Widianti, 2021). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa sebanyak 1.940 jumlah pengaduan mengenai kejahatan online dan pornografi, yang mana korban dan pelaku adalah anak-anak (CNN Indonesia, 2020). Mereka (pelaku) telah terpapar konten pornografi melalui internet. Konten tersebut dapat berupa foto, video, cerita bernuansa sensual, termasuk gerakan-gerakan erotis yang membangkitkan nafsu (Engel, 2012). Apabila anak sejak dini telah merasakan sentuhan atau rangsangan sensual yang sebetulnya belum dapat mereka mengerti, tidak dapat dibayangkan betapa rusaknya generasi penerus bangsa di kemudian hari.
Di samping itu, terdapat bahaya eksploitasi seksual anak (ESA) berbasis internet yang semakin hari semakin meningkat. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh permintaan pasar seks global yang semakin besar (Purandari, 2019). Menurut informasi NCMEC (National Center for Missing and Exploited Children) jumlah eksploitasi seksual anak online sebanyak 2,2 juta kasus di seluruh dunia. Jumlah tersebut meningkat drastis menjadi 4,2 juta kasus pada April 2020 (Niyu and Purba, 2021). Pada kasus-kasus tersebut, pelaku mayoritas (82%) menggunakan media sosial untuk “memata-matai” korban (Basave et al., 2014). Terdapat berbagai bentuk tindakan eksploitasi seksual anak, seperti: pertama, materi yang menampilkan kekerasan atau eksploitasi online berupa foto, video, bahkan animasi-animasi yang mungkin disenangi anak-anak tetapi menampilkan pornografi. Kedua, grooming yaitu a planned behavior aimed at the belief of minors as the first step towards future involvement in sexual behavior (Basave et al., 2014). Dalam grooming pelaku berusaha sebisa mungkin membuat anak merasa nyaman, kemudian dalam kenyamanan tersebut si anak diminta untuk melakukan hal-hal yang tak pantas, seperti membuat foto atau video dirinya dalam keadaan telanjang.
Grooming pada dasarnya merupakan sebuah tindakan yang bertujuan mengeksploitasi seksual anak. Ketiga, Sexting, yaitu tindakan berkirim pesan yang bermuatan seksual baik foto, video, teks atau animasi. Keempat, sekstorsi atau pemerasan seksual, terjadi pada orang (korban) yang telah mengirimkan foto atau video telanjang dirinya kepada pelaku. Pelaku kemudian meminta sejumlah uang atau barang kepada korban dan mengancam menyebarluaskan foto atau video tersebut apabila tidak memenuhi permintaannya. Tindakan tersebut adalah tindakan pemerasan dan juga pelecehan seksual yang melanggar aturan hukum (Yusuf Sukman, 2017). Oleh sebab itu, guru sebagai orang yang memiliki posisi strategis dalam pembina dan pendidik anak diharapkan menjalankan perannya sebagai pendidik untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa Indonesia.
Peran Guru Menjaga E-Safety Peserta Didik
Dalam menghadapi gejolak digitalisasi yang melibatkan anak-anak, pendidikan karakter dan moral sangatlah penting. Dalam hal ini guru memiliki porsi yang layak dan strategis untuk menjaga siswa tidak terpapar kejahatan online. Di sekolah, guru tidak saja berperan dalam memberikan pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi guru juga harus memberikan dan mengembangkan pandangan, wawasan, pradigma, bahkan orientasi hidup kepada siswanya agar mereka memiliki pandangan yang luas dan benar mengenai kehidupan (Suyanti, 2019). Guru memberikan pendidikan karakter yang berfokus kepada pengembangan dan pembentukan tingkah laku yang berorientasi kepada nilai-nilai kebaikan (Sulistiani et al., 2021). Arifin menjelaskan bahwa pendidikan karakter tersebut selalu dihubungkan dengan Sang Pencipta atau nilai-nilai
agama (Arifin, 2017). Artinya, guru mendidik peserta didiknya berdasarkan nilai-nilai kebaikan dan juga nilai- nilai ketuhanan sehingga mereka memiliki wawasan dan pengertian yang luas, karakter dan moral yang baik (yang mana nilai-nilai agama adalah tolok ukur kebaikan). Karakter dan moral yang baik tersebut diimplementasikan di dalam menggunakan peralatan teknologi digital yang dimilikinya. Peran guru menanamkan nilai-nilai moral yang akan menjadi acuan etis bagi peserta didik dalam interaksi di dunia maya.
Misalnya menjaga privasi, tidak membuat foto atau video dalam keadaan telanjang atau membuat gerakan bernuasa sensual, tidak mengirim gambar diri dalam keadaan telanjang baik berupa foto atau video kepada orang lain. Mereka diajar untuk menghormati privasi dirinya dan juga orang lain.
Nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan sejak dini akan menjadi kebiasaan dan menjadi karakter peserta didik. Pendidikan ini akan menghasilkan perilaku-perilaku normatif yang semakin jauh merasuk ke dalam dan membangun kehidupan pribadi atau bersama terkait dunia digital dan internet. Melalui guru, dunia pendidikan menciptakan warga negara memiliki karakter yang berasaskan nilai kebaikan dan agama sebagai anak bangsa Indonesia yang berbudi luhur, bertanggung jawab dan berakhlak. Pendidikan karakter yang diterapkan guru secara simultan menjaga mereka dari tindakan menyimpang penggunaan internet, serta menjaga mereka dari pelaku kejahatan dunia maya. Agus Supandi dkk., menegaskan bahwa pendidikan yang diimbangi dengan pembentukan karakter dan moral akan membentuk nara didik yang bijak menggunakan peralatan teknologi untuk kemajuan bersama (Supandi et al., 2020).
Di samping mengisi dengan pendidikan karakter dan moral dalam menggunakan teknologi, guru juga berperan memotivasi siswa. Sebagaimana diketahui bahwa motivasi merupakan dorongan mental sebagai respons terhadap input dari luar, maka guru pun senantiasa mendorong dan memotivasi peserta didik agar terus menerus membiasakan diri mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan. Pada bagian ini dibutuhkan kepekaan guru dalam memperhatikan perkembangan dan kemajuan serta kebutuhan siswa terkait penggunaan internet dan perangkat digitalnya. Niyu dan Herman Purba menyebutnya dengan istilah an identifier, yaitu di mana guru mengamati dan memantau perubahan tingkah lagu siswa terkait keamanannya dalam berinternet (Niyu & Purba, 2021). Interaksi yang berlangsung di dalam kelas tentu menghasilkan pengenalan yang mendalam baik pihak guru terhadap muridnya atau murid terhadap gurunya. Dapat dikatakan, seorang guru mengenal karakteristik (tingkah laku atau kebiasaan) siswa setidaknya melalui interaksi-interaksi di dalam kelas di dalam proses belajar mengajar (Ferdinand Banamtuan et al., 2022). Pengenalan dan relasi tersebut membuat guru mampu mengidentifikasi perubahan tingkah laku, misalnya anak tiba-tiba menjadi pendiam, sering terlihat murung, tidak bersemangat dan ekspresi lainnya. Apabila tampak pola perilaku yang tidak normal, maka guru mendorong siswa untuk menyampaikan persoalannya kepada guru di sekolah atau orang tua di rumah untuk tetap menjamin e-safety si siswa. Dorongan yang diberikan tersebut sebagai tindakan preventif sebelum terjadinya tindak kejahatan yang mendatangkan akibat yang lebih buruk.
Selain itu, guru harus melengkapi peserta didik dengan pengetahuan yang cukup mengenai teknologi digital dan internet. Peran guru sebagai pengajar menjelaskan dan menunjukkan bagaimana penggunaan teknologi dengan bijak agar dapat merasakan manfaatnya dengan maksimal. Dengan kata lain, guru sebagai pengajar berupaya memantapkan literasi digital siswa. Literasi digital dapat dipahami sebagai kemampuan atau kecakapan seseorang untuk memahami konten-konten digital (Dewi et al., 2021). Peningkatan literasi digital dapat dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran setiap hari melalui mata pelajaran yang telah terjadwal. Misalnya menyajikan materi ajar menggunakan audio, visual atau audio visual, dalam bentuk grafik, tampilan teks yang menarik, atau memberikan soal dengan menggunakan aplikasi online seperti Quizizz dan lain sebagainya berbasis internet. Dalam konteks meningkatkan literasi digital tersebut, peserta didik harus mengetahui keuntungan-keuntungan dan manfaat sekaligus bahaya-bahaya dalam berinternet seperti cybercrime, cyber pornography, grooming dan lainnya. Bersamaan dengan tindakan tersebut, guru juga harus menjelaskan bahwa dalam berinteraksi di dunia internet, selalu meninggalkan jejak digital yang sebetulnya tidak dapat dihapus secara sempurna (Pranajaya, 2020). Jejak digital adalah rekam
data terkait penggunaan digital baik disengaja maupun tidak. Oleh sebab itu, siswa harus berhati-hati dan secara bertanggung jawab menggunakan perangkat digital yang ia miliki.
Di dalam penelitiannya, Niyu dan Herman Purba mengungkapkan bahwa guru kesulitan mendapatkan materi terkait e-safety dikarenakan tidak ada di dalam kurikulum (Niyu & Purba, 2021). Padahal, melihat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang demikian masif disertai fakta aktual mengenai banyaknya kasus terkait e-safety di masyarakat, sudah seharusnya pembuat kurikulum pendidikan di Indonesia memasukkan materi ajar mengenai e-safety di dalam kurikulum pendidikan. Oleh sebab itu, berikut ini terdapat beberapa sumber materi yang dapat dipelajari oleh guru yang telah tersedia di internet, yaitu:
1. Be Internet Awesome Curriculum from Google. Be Internet Awesome adalah program berbagai segi (multifaceted) yang disediakan oleh Google yang di-update pada bulan Juni 2021. Be Internet Awesome mencakup permainan berbasis web yang menyenangkan dan gratis yang disebut Interland dan juga kurikulum pendidikan untuk mengajari anak-anak bagaimana menggunakan internet dengan aman dan benar. Terdapat lima point utama di dalam kurikulum Be Internet Awesome yaitu Share With Care (unit 01); Don’t Fall for Fake (unit 02); Secure Your Secrets (unit 03); It’s Cool to Be Kind (unit 04); dan When in Doubt, Talk it Out (unit 05). Materi tersebut dapat dijadikan sumber belajar untuk dipelajari oleh guru untuk menambah pengetahuan terkait e-safety.
Gambar 1. Be Internet Awesome Curriculum from Google
2. Inctrl Digital Citizenship Website. Inctrl Digital Citizenship adalah serangkaian materi pelajaran berbasis standar gratis yang mengajarkan konsep kewarganegaraan digital atau kerap disebut di Indonesia dengan istilah Netizen, yaitu orang-orang yang terlibat aktif atau berinteraksi aktif di dunia digital dan internet. Pelajaran ini, untuk siswa di kelas 4-8, dirancang untuk melibatkan siswa melalui kegiatan berbasis inkuiri, dan kolaboratif dan peluang kreatif. Pemicu munculnya Inctrl Digital Citizenship Website adalah realitas bahwa bagaimana harus bertindak dan berperilaku di dunia digital tidak selalu jelas, terutama bagi siswa. Dalam pelajaran ini siswa akan belajar tentang kewarganegaraan digital (Netizen) dan bagaimana mereka bisa aman dan terlindungi, serta menjadi peserta yang cerdas dan efektif di dunia digital. Mereka akan memperoleh kesadaran tentang hak dan tanggung jawab warga digital, bagaimana mereka secara pribadi menyesuaikan diri dengan dunia digital, dan bagaimana mewujudkan atribut sehat warga digital.
Gambar 2. Inctrl Digital Citizenship Website
KESIMPULAN
Kehadiran teknologi digital memberikan banyak manfaat dan juga dapat membawa kerugian serta pengaruh buruk bagi masyarakat khususnya bagi generasi muda. Kurangnya literasi digital menjadi pemicu terjadinya banyak kejahatan di dunia digital yang membuat mereka tidak aman dalam berinternet. Sektor pendidikan memiliki posisi strategis dalam melakukan pembekalan e-safety meningkatkan literasi digital kepada generasi muda bangsa Indonesia melalui sekolah-sekolah. Oleh sebab itu, guru sebagai orang yang memiliki panggilan, mandat bahkan posisi strategis sebagai edukator, bertanggung jawab untuk menjaga keamanan berinternet (e-safety) siswa di tengah kuatnya arus globalisasi dan digitalisasi. Guru terus-menerus mendidik peserta didik melalui pendidikan karakter, menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual agar siswa hidup bermoral. Guru juga senantiasa mengawasi dan mengamati gerak gerik dan perilaku siswanya untuk mengidentifikasi persoalan terkait e-safety dan memotivasi mereka agar menyampaikan masalahnya tersebut.
Di samping itu, guru juga mentransfer pengetahuan terkait keamanan berinternet sekaligus bahaya yang dapat menyasar peserta didik. Pada akhirnya, dengan dilengkapi dengan pendidikan karakter yang baik, adanya identifikasi dan motivasi, serta literasi digital yang cukup, membuat siswa dapat menggunakan internet dengan aman dan benar, terhindar dari risiko dan bahaya internet, menjalani kehidupan yang berkarakter, bermoral dan beriman sebagai anak bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Al Huda, W., & Rabiyah Bakri, L. (2015). Teori-Teori Motivasi. Jurnal Adabiya, 1 No. 83(1–12).
Arifin, S. (2017). Peran Guru Pendidikan Jasmani Dalam Pembentukan Pendidikan Karakter Peserta Didik.
Multilateral Jurnal Pendidikan Jasmani Dan Olahraga, 16(1).
Https://Doi.Org/10.20527/Multilateral.V16i1. 3666
Basave, C., Elizabeth Cano, A., Fernandez, M., & Alani, H. (2014). Detecting Child Grooming Behaviour Patterns On Social Media. 412–427. Https://Doi.Org/10.1007/978-3-319-13734-6
Darmadi, H. (2019). Pengantar Pendidikan Era Globalisasi. Pengantar Pendidikan Era Globalisasi, 68.
Https://Books.Google.Com/Books/About/Pengantar_Pendidikan_Era_Globalisasi.Html?Id=Micsdwaaqb
aj
Dewi, D. A., Hamid, S. I., Annisa, F., Oktafianti, M., & Genika, P. R. (2021). Menumbuhkan Karakter Siswa Melalui Pemanfaatan Literasi Digital. Jurnal Basicedu, 5(6), 5249–5257. Https://Doi.Org/10.31004/
Basicedu.V5i6.1609
Engel, V. (2012). Upaya Melindungi Anak-Anak Dari. Jurnal Sosioteknologi, 11(25), 60–65.
Ferdinand Banamtuan, M., Boineno, M., Oematan, M., Studi Pendidikan Agama Kristen, P., Kupang, I., &
Menengah Teologi Kristen Benfomeni Kapan, S. (2022). Peran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Pendampingan Siswa Di Masa Pubertas. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(2), 2410–2417.
Https://Doi.Org/10.31004/Edukatif.V4i2.2408
Gani, A. G. (2014). Pengenalan Teknologi Internet Serta Dampaknya. Jurnal Sistem Informasi Universitas Suryadarma, 2(2). Https://Doi.Org/10.35968/Jsi.V2i2.49
Haidar, G., & Apsari, N. C. (2020). Pornografi Pada Kalangan Remaja. Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(1), 136. Https://Doi.Org/10.24198/Jppm.V7i1.27452
Hidayat, Z. (2015). Dampak Teknologi Digital Terhadap Perubahan Konsumsi Media Masyarakat.
13(September), 1–53.
Institute, D. (2020). 2020 Child Online Safety Index Report. Https://Www.Dqinstitute.Org/Wp- Content/Uploads/2020/02/2020cosireport.Pdf
Jamun, M. Y. (2018). Dampak Teknologi Terhadap Pendidikan. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan Missio, 10(10), 48–52.
Joy, P. D., 1 , J., & Melkias Boiliu, F. (2021). Peran Pendidikan Agama Kristen Dalam Penggunaan Teknologi Pada Anak. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(4), 2037–2045.
Lestari, I. D. (2018). Peranan Guru Dalam Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Information And Communication Technology (Ict) Di Sdn Rri Cisalak. Sap (Susunan Artikel Pendidikan), 3(2), 137–142.
Https://Doi.Org/10.30998/Sap.V3i2.3033
Maya, R. (2017). Esensi Guru Dalam Visi-Misi Pendidikan Karakter. Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam, 281–296. Http://Jurnal.Staialhidayahbogor.Ac.Id/Index.Php/Ei/Article/View/31
Megahantara, G. S. (2019). Pengaruh Teknologi Terhadap Pendidikan Di Abad 21. Universitas Negeri Yogyakarta, 7(2), 1–16.
Niyu, N., & Purba, H. (2021). E-Safety: Keamanan Di Dunia Maya Bagi Pendidik Dan Anak Didik. Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Dan Corporate Social Responsibility (Pkm-Csr), 4, 729–737. Https://Doi.Org/10.37695/Pkmcsr.V4i0.1184
Pranajaya, P. (2020). Pemahaman Jejak Digital Di Kalangan Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan Universitas Yarsi. Semnas Ristek (Seminar Nasional Riset Dan Inovasi Teknologi), 4(1).
Https://Doi.Org/10.30998/Semnasristek.V4i1.2576
Putrawangsa, S., & Hasanah, U. (2018). Integrasi Teknologi Digital Dalam Pembelajaran Di Era Industri 4.0.
Jurnal Tatsqif, 16(1), 42–54. Https://Doi.Org/10.20414/Jtq.V16i1.203
Rahmasari, M. D. (2021). Tindak Tutur Ujaran Kebencian (Hate Speech) Di Akun Instagram Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tentang Covid-19. Jurnal Penelitian, Pendidikan, Dan ….
Http://Www.Riset.Unisma.Ac.Id/Index.Php/Jp3/Article/View/11440
Samala, A. D., Ambiyar, A., Jalinus, N., Dewi, I. P., & Indarta, Y. (2022). Studi Teoretis Model Pembelajaran: 21st Century Learning Dan Tvet. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(2), 2794–2808.
Https://Doi.Org/10.31004/Edukatif.V4i2.2535
Schwab, K. (2013). The Fourth Industrial Revolution. Https://Www.Weforum.Org/About/The-Fourth- Industrial-Revolution-By-Klaus-Schwab
Sulistiani, F., 1 , P., Fauziyyah, H., Dewi, D. A., & Purnamasari, Y. F. (2021). Implementasi Sikap Sopan Santun Terhadap Karakter Dan Tata Krama Siswa Sekolah Dasar. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(6), 4987–4994. Https://Doi.Org/10.31004/Edukatif.V3i6.1616
Supandi, A., Sahrazad, S., Wibowo, A. N., & Widiyarto, S. (2020). Analisis Kompetensi Guru: Pembelajaran Revolusi Industri 4.0. Seminar Nasional Bahasa Dan Sastra Indonesia (Prosiding Samasta), 1–6.
Suwardi, I., & Farnisa, R. (2018). Hubungan Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Jurnal Gentala Pendidikan Dasar, 3(2), 181–202.
Https://Doi.Org/10.22437/Gentala.V3i2.6758
Suyanti, S. (2019). Peran Guru Sejarah Dalam Pendidikan Karakter Di Era Revolusi Industri 4.0. Foundasia, 10(2), 171–180. Https://Doi.Org/10.21831/Foundasia.V10i2.27924
Telaumbanua, A. H. N. (2020). Peran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Membentuk Karakter Siswa Di Era Industri 4.0. Institutio:Jurnal Pendidikan Agama Kristen, 6(2), 45–62.
Https://Doi.Org/10.51689/It.V6i2.243
Utami, F. N. (2020). Peran Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Sekolah Dasar. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(1), 93–100. Https://Doi.Org/10.31004/Edukatif.V2i1.91
Zein, M. (2016). Peran Guru Dalam Pengembangan Pembelajaran. Jurnal Inspiratif Pendidikan, 5(2), 274–
285. Http://Journal.Uin-Alauddin.Ac.Id/Index.Php/Inspiratif-Pendidikan/Article/View/3480