• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Teknologi Pendidikan dalam Mendorong Demokrasi Digital di Era Digital

N/A
N/A
Muhammad Fatchur Rizqi

Academic year: 2025

Membagikan "Peran Teknologi Pendidikan dalam Mendorong Demokrasi Digital di Era Digital"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Teknologi Pendidikan dan Masa Depan Demokrasi Digital

Aziz Musafah1, Muh. Hanif2

1e-mail: [email protected], 2email: [email protected],

1,2Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Abstrak

Kemajuan teknologi digital yang sangat cepat telah membawa dampak besar di berbagai sektor kehidupan, salah satunya adalah bidang pendidikan. Perubahan ini tidak hanya mengubah metode pembelajaran, tetapi juga berperan dalam membentuk cara masyarakat berpartisipasi dalam kehidupan demokratis. Salah satu implikasi penting dari inovasi ini adalah lahirnya demokrasi digital, yang memungkinkan masyarakat terlibat dalam proses demokrasi melalui platform digital. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri keterkaitan antara penggunaan teknologi pendidikan dengan prospek perkembangan demokrasi digital.

Metodologi yang digunakan dalam studi ini bersifat kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka. Kajian ini berfokus pada peran teknologi pendidikan dalam meningkatkan literasi digital, memperluas jangkauan informasi, dan mendorong partisipasi politik masyarakat secara terbuka dan inklusif. Temuan menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan dapat menjadi fondasi penting bagi penguatan demokrasi digital. Dengan dukungan media digital, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai isu-isu publik dan terdorong untuk terlibat aktif dalam pengambilan keputusan politik. Meski demikian, tantangan seperti kesenjangan akses terhadap teknologi, keterbatasan infrastruktur, serta rendahnya tingkat literasi digital di beberapa daerah menjadi kendala utama. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang menekankan pemerataan akses terhadap teknologi pendidikan serta upaya sistematis dalam peningkatan literasi digital guna mewujudkan demokrasi digital yang inklusif dan merata.

Kata Kunci: Teknologi pendidikan, demokrasi digital, literasi digital.

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi informasi telah memberikan pengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan sosial. Kemajuan teknologi digital, khususnya di era Society 5.0, telah memberikan dampak yang signifikan terhadap cara berpikir dan perilaku Masyarakat (Hanif & Salsabillah, 2024). Dengan adanya teknologi digital, orang-orang kini dapat berinteraksi dan terhubung satu sama lain tanpa dibatasi oleh jarak atau waktu (Basuni & Ningsih, 2025). Namun, perkembangan ini juga membawa tantangan baru, seperti masalah privasi, pengawasan yang semakin intensif, serta perubahan dalam cara individu membangun dan memaknai identitas

(2)

perangkat digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat, baik untuk berkomunikasi, menjalankan pekerjaan, maupun memperoleh informasi.

Hal ini melahirkan bentuk interaksi sosial yang baru, di mana hubungan virtual menjadi semakin lazim dan turut membentuk pola perilaku serta cara individu membangun relasi satu sama lain. Teknologi digital tidak hanya merevolusi cara manusia berinteraksi, tetapi juga menciptakan perubahan fundamental dalam berbagai bidang penting, termasuk di antaranya dunia pendidikan dan sistem demokrasi (Ramadhani et al., 2024). Di era digital, teknologi informasi dan komunikasi memfasilitasi penyebaran informasi secara cepat dan luas, sehingga memperkuat partisipasi masyarakat dalam kehidupan politik dan pengambilan keputusan public (Fitriani et al., 2023). Namun, kemajuan ini juga menghadirkan tantangan baru, seperti disinformasi, polarisasi daring, dan ancaman terhadap privasi individu, yang dapat menghambat penguatan nilai-nilai demokrasi. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan literasi digital dan kritis terhadap informasi yang diterima. Dengan cara ini, individu dapat lebih bijak dalam menyaring informasi, berkontribusi pada diskusi yang konstruktif, dan memperkuat demokrasi di tengah perubahan yang cepat ini.

(Rohmatin et al., 2024)

Inovasi digital telah mengubah cara individu berinteraksi, berkomunikasi, dan membangun hubungan sosial, termasuk dalam konteks pendidikan (Purba &

Saragih, 2023). Teknologi digital menciptakan masyarakat yang lebih terhubung, namun juga memperkenalkan tantangan baru terkait privasi, pengawasan, dan perubahan identitas sosial (Berg, 2023). Dalam pendidikan tinggi, alat digital seperti konferensi video telah mengubah perilaku, hubungan sosial, dan proses belajar, sekaligus menimbulkan fenomena “tatapan digital” di mana individu menjadi lebih terlihat dan diawasi (Hapsari & Suranto, 2025). Selain itu, masyarakat digital menuntut keterampilan baru, seperti literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dan inovatif (Yuniarto & Yudha, 2021), agar individu dapat berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan sosial dan demokrasi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peran teknologi pendidikan dalam membentuk masa depan demokrasi digital di Indonesia

(3)

(Komalasari & Fudsy, 2021). Dengan mengkaji literatur dan hasil penelitian terkini, yang bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana teknologi pendidikan dapat memperkuat partisipasi demokratis di era digital (Nur & Muh, 2024), mengevaluasi tantangan dan hambatan dalam implementasi teknologi pendidikan yang inklusif, dan memberikan rekomendasi strategis untuk pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan yang mendukung demokrasi digital, data dan sistem digital dapat menciptakan model pendidikan yang lebih terbuka dan responsif terhadap kebutuhan publik . Dengan demikian, diharapkan tulisan ini dapat memberikan kontribusi dalam merancang sistem pendidikan yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga mampu membentuk warga negara yang kritis, partisipatif, dan bertanggung jawab dalam kehidupan demokratis.

Terdapat tiga pendapat utama yang dapat penulis ajukan. Pertama-tama pada penelitian tentang pengertian teknologi pendidikan, teknologi pendidikan yang terintegrasi dengan pendidikan demokrasi dapat meningkatkan literasi digital masyarakat sehingga memperkuat partisipasi politik cerdas dan kritis (Farikiansyah et al., n.d.). Kedua, pengembangan teknologi Pendidikan inklusi dan aksesibel dapat mengurangi kesenjangan digital dan memperluas keterlibatan warga dalam memproses demokrasi digital (Paramansyah & Ridhaulipasya, 2024). Ketiga, tanpa regulasi dan pengawasan yang memadai, teknologi Pendidikan berpotensi mengikis nilai-nilai kebersamaan yang sebelumnya menjadi ciri khas dalam proses pembelajaran konvensional, berpotensi menggeser nilai-nilai lokal yang sebelumnya tertanam dalam sistem pendidikan berbasis komunitas (Wahyuanto, 2023), di satu sisi, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dapat meningkatkan literasi digital seluruh anggota keluarga, baik orang tua maupun anak. Namun, di sisi lain, intensitas penggunaan teknologi ini juga berpotensi mengurangi kualitas interaksi langsung, yang pada akhirnya bisa memengaruhi keharmonisan dan kedekatan emosional dalam keluarga (Chatlina et al., 2024), juga dapat memperparah penyebaran disinformasi dan polarisasi sehingga mengancam kualitas demokrasi digital di Indonesia.

(4)

TELAAH PUSTAKA

Teknologi pendidikan merupakan bidang interdisipliner yang mengintegrasikan teori pembelajaran, inovasi digital, dan strategi pedagogis untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Dalam konteks Indonesia, pendekatan konstruktivisme menjadi landasan penting dalam pemanfaatan teknologi digital, di mana siswa didorong untuk aktif membangun pengetahuan melalui interaksi dengan media digital. Misalnya, integrasi teori pembelajaran konstruktivis dalam pendidikan Islam menunjukkan bagaimana teknologi dapat mendukung pembelajaran yang lebih bermakna dan kontekstual (Kurniawan et al., 2024). Selain itu konsep andragogi dalam pembelajaran orang dewasa menekankan pentingnya literasi digital, memungkinkan individu untuk mengakses dan memanfaatkan informasi secara efektif dalam era digital (Putra et al., 2024).

Dengan demikian, teknologi pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai katalisator transformasi pedagogis yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Teknologi pendidikan dapat dikategorikan berdasarkan fungsi dan peranannya dalam proses pembelajaran. Teknologi pembelajaran dalam jaringan dibagi menjadi tiga kategori utama, yaitu: teknologi pemberian materi (seperti platform e-learning), teknologi evaluasi (seperti aplikasi kuis daring), dan platform khusus yang mendukung interaksi pembelajaran (Ni Made Dian Widiastuti, 2021).

(Fauzi et al., 2023) membahas pembelajaran berdiferensiasi sebagai implementasi paradigma baru pendidikan, di mana teknologi digunakan untuk menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan individu siswa. (Firdaus et al., 2024) menekankan peran teknologi dalam pemerataan pendidikan, menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan untuk mengatasi disparitas akses dan kualitas pendidikan di berbagai wilayah.

Demokrasi digital merupakan transformasi dari praktik demokrasi tradisional ke dalam ruang digital, di mana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) digunakan untuk memperluas partisipasi politik, transparansi, dan akuntabilitas pemerintahan. Dalam konteks Indonesia, demokrasi digital tidak

(5)

hanya mencakup penggunaan media sosial untuk menyuarakan opini publik, tetapi juga melibatkan aplikasi dan platform digital yang memungkinkan interaksi langsung antara pemerintah dan warga negara. (Darnawati, Rahayuni, 2024) menekankan bahwa era digital membawa peluang untuk memperkuat demokrasi melalui peningkatan literasi digital dan regulasi platform digital, namun juga menghadirkan tantangan seperti disinformasi dan polarisasi online. (Indianto et al., 2021) mengusulkan konsep "demokrasi hibrid" yang menggabungkan nilai-nilai demokrasi tradisional dengan praktik digital untuk menciptakan model demokrasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Sementara itu, Bulya dan Izzati (2024) menyoroti pentingnya literasi digital sebagai fondasi untuk partisipasi politik yang efektif di era digital, mengingat rendahnya literasi digital dapat menghambat keterlibatan warga dalam proses demokrasi.

Demokrasi digital dapat dikategorikan berdasarkan pendekatan dan implementasinya dalam konteks Indonesia. Pertama, e-democracy sebagai pendekatan struktural yang menekankan pada penggunaan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi pemerintahan, seperti implementasi aplikasi Qlue di DKI Jakarta yang memungkinkan warga melaporkan permasalahan secara langsung kepada pemerintah (Ranintya Yusuf & Sari, 2021). Kedua, demokrasi deliberatif digital yang fokus pada diskusi dan partisipasi publik melalui platform digital, meskipun menghadapi tantangan seperti disinformasi dan polarisasi opini(Rasji et al., 2025). Ketiga, demokrasi partisipatif digital yang melibatkan warga dalam proses pengambilan keputusan melalui aplikasi dan platform digital, seperti E-Konstituen yang dirancang untuk meningkatkan peran generasi muda dalam demokrasi (Ramadhan et al., 2022).

Literasi digital merupakan kemampuan individu dalam mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi melalui teknologi digital secara efektif dan etis (N. M. Putri et al., 2024). Dalam konteks pendidikan, literasi digital tidak hanya mencakup keterampilan teknis dalam menggunakan perangkat digital, tetapi juga mencakup pemahaman kritis terhadap konten digital dan kemampuan untuk berpartisipasi secara aktif dalam lingkungan digital. (Putra et al., 2024)menekankan pentingnya literasi digital dalam pembelajaran orang dewasa, di

(6)

mana integrasi antara konsep andragogi dan literasi digital dapat meningkatkan kualitas kehidupan dan adaptasi sosial orang dewasa. (Suminar et al., 2024) menyoroti bahwa literasi digital mencakup kemampuan dalam memahami dan menggunakan informasi digital secara efektif, yang menjadi dasar dalam meningkatkan kualitas literasi digital masyarakat.

Literasi digital dapat dikategorikan ke dalam beberapa bagian utama, yaitu:

akses dan navigasi informasi digital, evaluasi dan analisis konten digital, komunikasi dan kolaborasi melalui media digital, pembuatan konten digital, dan keamanan serta etika digital. (Tansliova, 2025) menekankan pentingnya strategi inovatif dalam meningkatkan literasi digital, termasuk penggunaan alat berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran bahasa Indonesia. (Kharis et al., 2024) menggaris bawahi bahwa penguatan budaya digital di kalangan siswa dapat meningkatkan literasi digital melalui pendekatan teoritis dan praktis.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe eksploratif, yang dirancang untuk menyelami secara mendalam bagaimana teknologi pendidikan dimanfaatkan dalam mendukung penguatan nilai-nilai demokrasi digital di lingkungan perguruan tinggi. Pendekatan ini dipilih karena mampu menangkap dinamika sosial dan makna yang terkandung dalam interaksi pengguna teknologi, khususnya dalam konteks pendidikan tinggi yang semakin terdigitalisasi.

Fokus utama penelitian ini tertuju pada pemanfaatan berbagai platform digital oleh dosen dan mahasiswa, seperti Learning Management System (LMS), media sosial dengan nuansa akademik, serta aplikasi kolaboratif seperti Google Workspace, Microsoft Teams, dan forum diskusi daring lainnya. Penelitian ini menyoroti bagaimana perangkat digital tersebut berkontribusi terhadap peningkatan partisipasi digital, membuka ruang bagi dialog terbuka, serta memperkuat kebebasan berekspresi dalam proses pembelajaran maupun dalam kehidupan kampus secara keseluruhan. Jenis penelitian ini adalah studi kasus, dengan lingkup terbatas namun mendalam. Lokasi penelitian ditentukan berdasarkan perguruan tinggi di Indonesia yang secara aktif menerapkan sistem pembelajaran digital, baik

(7)

dari sisi kebijakan institusional maupun pada praktik pembelajaran sehari-hari.

Perguruan tinggi yang dijadikan objek studi dipilih karena menunjukkan komitmen terhadap transformasi digital serta mendorong partisipasi aktif sivitas akademika dalam lingkungan yang demokratis melalui media digital. Data dikumpulkan dengan menggunakan beberapa teknik, antara lain wawancara mendalam dengan dosen dan mahasiswa, observasi langsung pada aktivitas digital akademik, serta kajian dokumen digital seperti log diskusi daring, kebijakan pemanfaatan LMS, dan interaksi di media sosial akademik. Setelah data terkumpul, proses analisis dilakukan menggunakan pendekatan analisis tematik, yang bertujuan untuk mengidentifikasi pola-pola utama, tema-tema penting, serta keterkaitan antarkomponen yang mencerminkan penguatan demokrasi digital di ranah pendidikan tinggi.

Penelitian ini memanfaatkan dua jenis sumber data utama, yakni data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan secara langsung terhadap penggunaan platform digital dalam aktivitas pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi. Observasi ini mencakup pemantauan terhadap interaksi digital antara dosen dan mahasiswa, baik dalam proses pembelajaran formal melalui Learning Management System (LMS), maupun dalam diskusi informal yang berlangsung di media sosial akademik dan platform kolaboratif lainnya. Selain observasi, peneliti juga melakukan wawancara terbuka dengan sejumlah dosen dan mahasiswa yang terlibat aktif dalam penggunaan teknologi pembelajaran. Melalui wawancara ini, digali berbagai pandangan, pengalaman pribadi, serta cara mereka memaknai teknologi sebagai alat untuk membangun komunikasi, partisipasi, dan ekspresi dalam dunia akademik. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan dari berbagai dokumen pendukung dan sumber tertulis yang relevan dengan fokus penelitian. Dokumen ini mencakup kebijakan resmi kampus mengenai implementasi digitalisasi pendidikan, arsip dari forum-forum diskusi daring internal, serta publikasi ilmiah seperti artikel jurnal yang membahas hubungan antara pendidikan digital dan nilai-nilai demokrasi. Informasi dari data sekunder digunakan untuk memberikan konteks yang lebih luas, memperkaya

(8)

analisis, serta memperkuat interpretasi terhadap data primer yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan terdiri dari pedoman observasi dan pedoman wawancara semi terbuka. Kedua instrumen tersebut dirancang dengan fleksibilitas tinggi, sehingga dapat disesuaikan dan berkembang mengikuti kondisi serta dinamika yang terjadi di lapangan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana para partisipan memaknai demokrasi digital dan bagaimana mereka mengalaminya, khususnya dalam konteks teknologi pendidikan. Selain itu, pengumpulan data juga dilakukan melalui metode dokumentasi, yang digunakan untuk mengumpulkan berbagai data berupa teks dan arsip yang relevan. Data dokumentasi ini mencakup catatan lapangan, rekaman, serta dokumen tertulis yang memberikan gambaran lengkap mengenai situasi dan konteks penelitian. Proses penelitian berjalan melalui beberapa tahap yang terstruktur, diawali dengan pengumpulan dan telaah literatur yang berfokus pada teknologi pendidikan dan perkembangan demokrasi digital di masa depan. Tahap ini penting untuk membangun dasar teori dan memahami konteks luas sebelum data lapangan dikumpulkan secara langsung. Dengan demikian, keseluruhan penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif dan mendalam terkait hubungan antara demokrasi digital dan teknologi pendidikan berdasarkan pengalaman para partisipan.

Penelitian ini dilaksanakan melalui empat tahap utama yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Tahap pertama adalah eksplorasi awal, di mana peneliti melakukan kajian literatur secara mendalam serta meninjau berbagai platform digital yang digunakan di lingkungan kampus. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menentukan fokus penelitian secara tepat sekaligus memastikan bahwa landasan teori dan konteks penelitian sudah kuat. Tahap kedua meliputi pemetaan partisipan menggunakan teknik snowball sampling. Pada tahap ini, peneliti memulai dengan mengidentifikasi beberapa informan utama, seperti dosen yang aktif dalam pembelajaran daring. Dari informan tersebut, peneliti kemudian mendapatkan rekomendasi peserta lain yang sesuai dengan kriteria penelitian. Cara

(9)

ini membantu peneliti mengumpulkan data dari kelompok partisipan yang relevan dan mewakili studi yang dilakukan. Pada tahap ketiga, peneliti fokus pada pengumpulan data secara intensif. Metode yang digunakan adalah observasi non partisipatif terhadap aktivitas di forum-forum digital yang ada. Selain itu, peneliti juga mengumpulkan berbagai dokumen digital, seperti arsip diskusi online, postingan-postingan di kelas daring, dan dokumen peraturan kampus terkait penggunaan platform digital. Data-data ini menjadi sumber informasi yang kaya untuk analisis selanjutnya. Tahap terakhir adalah interpretasi data. Di sini, peneliti mulai menyusun transkrip dari hasil observasi dan dokumen yang telah dikumpulkan. Setelah itu, peneliti melakukan proses coding terbuka untuk menemukan tema-tema utama yang muncul dari data. Dengan cara ini, peneliti dapat mengelompokkan dan memahami pola-pola yang ada, kemudian mengembangkan hubungan antar tema secara induktif. Proses ini membantu peneliti menarik kesimpulan yang mendalam dan bermakna terkait fenomena yang sedang dipelajari.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui serangkaian langkah yang dirancang secara sistematis, guna memperoleh informasi yang tidak hanya akurat, tetapi juga kaya secara makna. Salah satu teknik utama yang digunakan adalah dokumentasi aktivitas digital, yakni dengan merekam berbagai bentuk interaksi akademik yang terjadi di ruang digital. Data ini dikumpulkan melalui tangkapan layar (screenshot) aktivitas pengguna di platform pembelajaran daring, posting atau komentar di forum diskusi akademik, serta arsip interaksi dan materi pembelajaran dari sistem e-learning yang digunakan di kampus.

Dokumentasi ini disusun agar peneliti bisa secara langsung memahami bagaimana mahasiswa dan dosen memanfaatkan teknologi pendidikan dalam berbagai kegiatan di kampus. Teknologi tersebut tidak hanya berperan dalam proses belajar mengajar, tetapi juga dalam komunikasi ilmiah dan keterlibatan aktif dalam lingkungan digital kampus. Selain dokumentasi, data yang diperoleh juga dilengkapi dengan wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh dan tepat tentang penggunaan teknologi pendidikan di lingkungan kampus.

(10)

Seluruh data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik. Metode ini dipilih karena mampu mengungkap pola-pola naratif, t ema sentral, dan keragaman makna yang muncul dari pengalaman para partisipan terkait penggunaan teknologi dalam pendidikan. Peneliti menggali bagaimana partisipan memaknai isu-isu seperti akses terhadap informasi, ruang untuk menyuarakan pendapat, kerja kolaboratif digital, serta ekspresi diri dalam lingkungan akademik berbasis teknologi yang semuanya merupakan representasi dari nilai-nilai demokrasi digital. Analisis dilakukan secara bertahap, dimulai dengan mengorganisasi data mentah, melakukan proses pengodean (coding) untuk mengelompokkan data berdasarkan kemiripan makna, menyusun kategori, hingga mengidentifikasi tema-tema utama yang mencerminkan esensi dari pengalaman informan. Proses ini bersifat dinamis dan reflektif, dengan pengulangan dan penyempurnaan hingga peneliti memperoleh pemahaman yang utuh. Hasil analisis akhirnya ditafsirkan untuk menjawab rumusan masalah serta menyajikan gambaran menyeluruh mengenai kontribusi teknologi pendidikan terhadap pembentukan budaya demokrasi dalam lingkungan perguruan tinggi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Peran Teknologi dalam Pendidikan Demokrasi

Teknologi pendidikan pada dasarnya merupakan pendekatan dalam kegiatan belajar mengajar yang menggabungkan teknologi digital secara kreatif dan adaptif guna meningkatkan kualitas pembelajaran. Lebih dari sekadar alat bantu, teknologi berperan sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai sumber daya pendidikan, memperluas akses terhadap informasi, dan menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dinamis serta relevan dengan tuntutan zaman. Penggunaan berbagai platform seperti Learning Management System (LMS), media sosial berbasis edukasi, aplikasi kolaborasi daring, dan fitur pembelajaran interaktif telah menjadikan proses pendidikan lebih terbuka dan fleksibel. Teknologi memungkinkan interaksi antara dosen dan mahasiswa terjadi di luar batas ruang kelas tradisional, serta memberi ruang bagi mahasiswa untuk lebih aktif dalam mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri maupun kolaboratif.

(11)

Lebih jauh lagi, teknologi pendidikan mendorong munculnya yang menekankan pentingnya kolaborasi, kreativitas, dan keterlibatan aktif peserta didik. Dalam konteks ini, teknologi bukan hanya alat yang menunjang, tetapi juga menjadi bagian yang menyatu dengan strategi pembelajaran masa kini. Hal ini turut memperkuat kemampuan mahasiswa dalam menghadapi tantangan abad ke-21, seperti penguasaan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan komunikasi yang efektif (Permana et al., 2024). Penelitian ini menyoroti bahwa literasi digital memainkan peran penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, khususnya bagi pemilih pemula. Dengan literasi digital yang memadai, individu dapat memilah informasi politik secara lebih tajam, mengenali hoaks, dan mengambil keputusan yang lebih tepat saat pemilu. Kolaborasi antara teknologi pendidikan dan pendidikan demokrasi menjadi kunci untuk memperkuat keterampilan ini, yang pada akhirnya akan mendorong partisipasi politik yang lebih cermat dan bernila (Rahmania et al., 2024).

Perpaduan antara teknologi dalam pendidikan dan nilai-nilai demokrasi memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi digital masyarakat, yang pada akhirnya dapat mendorong tumbuhnya partisipasi politik yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Literasi digital dalam konteks ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis menggunakan perangkat dan aplikasi, tetapi juga mencakup keterampilan memahami, menyaring, serta merespons informasi politik secara bijak dan aktif. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat dan dunia yang semakin terhubung secara digital, kerja sama antara pemerintah, masyarakat sipil, dan platform digital menjadi sangat penting. Ketiganya memiliki peran strategis yang berbeda namun saling melengkapi, khususnya dalam membentuk ruang partisipasi politik yang lebih terbuka, adil, dan aman bagi semua kalangan.

Pemerintah bertanggung jawab untuk menyediakan regulasi yang relevan dan berpihak pada kepentingan publik, memastikan perlindungan terhadap hak digital warga negara, serta membangun infrastruktur teknologi yang merata dan inklusif.

Pemerintah juga perlu mendorong pembaruan kurikulum pendidikan agar mampu membekali generasi muda dengan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan berpartisipasi dalam ruang publik digital.

(12)

Menurut (Nasution et al., 2023) Pelatihan membuat konten digital punya peran penting dalam membantu para pemuda mengasah kemampuan literasi digital sekaligus meningkatkan kesadaran mereka tentang dunia politik. Melalui pelatihan yang praktis dan didukung teknologi pendidikan, pemuda tidak hanya belajar teknik pembuatan konten, tapi juga diajak untuk berpikir lebih kritis dan aktif. Dengan cara ini, mereka jadi lebih siap untuk ikut berpartisipasi secara langsung dalam berbagai kegiatan politik yang berlangsung di platform digital. Jadi, pelatihan ini tidak hanya mengasah keterampilan teknis, tapi juga memperkuat posisi pemuda dalam menghadapi tantangan politik di era digital sekarang.

Pengembangan Teknologi Pendidikan Inklusi dan Aksesibel

Menurut (Veriska & Arin, 2024) pengaruh pendidikan digital ternyata tidak hanya dirasakan oleh generasi muda saja, melainkan juga menjangkau kelompok usia dewasa hingga lansia. Teknologi pembelajaran saat ini memberikan kesempatan bagi mereka yang sebelumnya kurang memiliki akses atau ruang dalam dunia digital. Dengan adanya pembelajaran daring, para orang dewasa dan lansia kini bisa lebih mudah mengikuti berbagai kegiatan belajar secara online. Selain membantu meningkatkan kemampuan digital mereka, hal ini juga membuka peluang bagi mereka untuk lebih aktif berperan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam partisipasi di ranah demokrasi digital. Dengan begitu, pendidikan digital berperan penting dalam mengurangi kesenjangan antar generasi dan memperkuat keterlibatan lintas usia dalam masyarakat yang semakin terkoneksi secara digital.

Menurut (Caroline & Aslan, 2025) ia menekankan bahwa Upaya untuk menciptakan teknologi pendidikan yang inklusif harus didukung oleh kebijakan yang jelas dan terarah, serta investasi yang memadai dalam infrastruktur teknologi.

Tanpa adanya dukungan ini, terciptanya demokrasi digital yang adil dan merata akan sulit diwujudkan, terutama jika masih ada kesenjangan dalam hal akses maupun kemampuan warga untuk menggunakan teknologi secara setara (Hariyanto et al., 2023).Selain menyediakan akses teknologi, perhatian khusus perlu diberikan pada pengembangan literasi digital. Hal ini penting karena keberhasilan demokrasi

(13)

digital tidak hanya bergantung pada ketersediaan perangkat atau jaringan, tetapi juga pada sejauh mana masyarakat mampu memahami dan memanfaatkan teknologi tersebut secara efektif. Dengan demikian, kebijakan dan investasi yang tepat serta peningkatan literasi digital harus berjalan beriringan untuk memastikan partisipasi yang inklusif dan adil dalam ekosistem digital (D. S. Putri et al., 2025).

Diperlukan juga kemampuan kritis dalam menyaring informasi, mengekspresikan pandangan, serta berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab dalam ruang diskusi publik berbasis digital (D. S. Putri et al., 2025).

Tantangan Pendidikan Teknologi

Jika penggunaan teknologi dalam pendidikan tidak diimbangi dengan regulasi yang mempertimbangkan aspek sosial dan budaya, maka proses belajar mengajar berisiko kehilangan dimensi kemanusiaannya. Interaksi langsung yang biasanya terjadi di ruang kelas, seperti berdiskusi, bekerja kelompok, dan saling membantu antar siswa, bisa tergantikan oleh komunikasi satu arah yang kering dan terfragmentasi. Hal ini secara perlahan dapat mengurangi terbentuknya rasa empati, solidaritas, serta semangat kebersamaan yang selama ini tumbuh alami dalam pembelajaran tatap muka. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa digitalisasi pendidikan tetap berpijak pada nilai-nilai sosial yang menjadi fondasi karakter peserta didik (Mardiana & Hidayati, 2022). Penerapan teknologi dalam dunia pendidikan memang menjanjikan banyak kemudahan, namun apabila tidak dibarengi dengan kebijakan afirmatif dan pemerataan akses yang adil, hal ini justru dapat memperbesar ketimpangan partisipasi antar kelompok masyarakat. Teknologi yang tidak menyentuh seluruh lapisan, khususnya komunitas di wilayah terpencil atau marjinal, akan menciptakan ruang belajar yang eksklusif dan meninggalkan sebagian besar warga negara di luar sistem. Lebih dari itu, pendekatan pendidikan yang seragam dan lepas dari konteks lokal dapat mencabut proses belajar dari akar budaya dan nilai-nilai sosial yang telah lama hidup dalam masyarakat. Akibatnya, pendidikan kehilangan peran pentingnya sebagai wahana pewarisan budaya, kebersamaan, dan identitas kolektif. Tanpa arah kebijakan yang sensitif terhadap keberagaman sosial-budaya, digitalisasi pendidikan berisiko menggantikan

(14)

kearifan lokal dengan nilai-nilai global yang belum tentu relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik (Muskania & Zulela MS, 2021). Jika proses digitalisasi pendidikan hanya berfokus pada efisiensi dan kecepatan, tanpa adanya kebijakan yang secara tegas melindungi nilai-nilai sosial yang telah menjadi bagian penting dari pendidikan di Indonesia, maka pendidikan berisiko kehilangan jiwanya.

Belajar tidak hanya soal menyerap informasi, tetapi juga tentang membangun relasi, bekerja sama, dan belajar hidup dalam keberagaman. Ketika interaksi manusiawi dalam proses pembelajaran mulai tergantikan oleh layar dan sistem otomatis, maka ruang-ruang kebersamaan yang sebelumnya menjadi tempat tumbuhnya semangat gotong royong dan rasa saling peduli mulai memudar. Padahal, nilai-nilai ini adalah identitas khas pendidikan di Indonesia yang seharusnya tetap dijaga, bahkan dalam era digital. Tanpa regulasi yang berpihak pada pelestarian aspek sosial tersebut, teknologi justru dapat menciptakan jarak emosional dan sosial dalam dunia belajar (Rudijanto et al., 2023).

DISKUSI

Ringkasan Hasil

Kajian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan berpeluang besar untuk membuka akses yang lebih luas dan meningkatkan kualitas keterlibatan warga dalam kehidupan demokratis berbasis digital. Ketika teknologi pendidikan dikembangkan secara inklusif dan melibatkan komunitas, berbagai lapisan masyarakat baik tua maupun muda, dari berbagai latar belakang sosial memiliki peluang yang lebih besar untuk aktif berpartisipasi dalam ruang publik digital. Terlebih lagi, jika teknologi ini dirancang selaras dengan nilai-nilai pendidikan demokrasi, maka dampaknya akan terasa dalam meningkatnya literasi digital serta kemampuan berpikir kritis, khususnya di kalangan generasi muda.

Namun demikian, hasil kajian ini juga menyoroti sisi lain yang perlu diwaspadai, ketiadaan regulasi yang memadai berpotensi mendorong tergerusnya nilai-nilai lokal dan menghilangkan aspek sosial dalam proses pembelajaran. Ini menjadi pengingat penting bahwa digitalisasi pendidikan tidak boleh lepas dari kerangka budaya dan sosial masyarakat setempat.

(15)

Refleksi Hasil

Temuan ini menggarisbawahi bahwa transformasi digital dalam dunia pendidikan tidak bisa hanya dilihat dari sisi teknologinya seperti perangkat, aplikasi, atau media pembelajaran melainkan juga harus menyentuh aspek nilai dan hubungan sosial yang melekat dalam proses belajar. Pendidikan memiliki peran yang jauh lebih dalam sebagai sarana membentuk karakter dan identitas bersama dalam masyarakat. Jika penerapan teknologi dilakukan tanpa arah yang jelas yang berpijak pada nilai sosial dan budaya lokal, maka yang terjadi adalah pendidikan yang serba instan, individualistis, dan terputus dari kehidupan komunitas. Dalam konteks ini, literasi digital saja belum cukup. Diperlukan pendekatan yang tidak hanya mengenalkan teknologi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai demokrasi, keterlibatan publik, dan tanggung jawab sosial di dalamnya. Pendidikan digital yang seperti inilah yang mampu memperkuat demokrasi digital secara lebih utuh dan berkeadilan.

Interpretasi

Hasil ini dapat dipahami karena arah kebijakan digitalisasi pendidikan di banyak wilayah masih didominasi pendekatan yang teknokratis dan reaktif. Fokus utama masih sebatas pada pengadaan infrastruktur dan pelatihan teknis, tanpa diimbangi dengan upaya memperkuat nilai-nilai sosial dan budaya yang seharusnya menjadi fondasi utama pendidikan. Akibatnya, transformasi digital cenderung menekankan aspek alat dan sistem, sementara dimensi kemanusiaan dan kebudayaan terpinggirkan. Ketimpangan akses terhadap teknologi juga memperburuk kesenjangan partisipasi, menciptakan kelompok-kelompok yang terhubung dan tidak terhubung secara digital. Hal ini tentu berdampak pada ketidaksetaraan dalam partisipasi demokratis. Selain itu, minimnya pelibatan masyarakat lokal dalam merancang sistem pendidikan digital menyebabkan proses belajar menjadi terlepas dari akar budaya dan kearifan lokal yang selama ini menghidupi pendidikan berbasis komunitas.

(16)

Perbandingan dengan Studi Terdahulu

Temuan dalam kajian ini memberikan perspektif yang lebih luas dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, yang umumnya masih berfokus pada aspek teknis digitalisasi pendidikan, seperti peningkatan efektivitas pembelajaran atau efisiensi dalam manajemen pendidikan. Studi yang dilakukan oleh Muskania dan Zulela (2022) maupun Wardono dan kolega (2023), misalnya, lebih menekankan pada bagaimana teknologi dapat mempermudah proses belajar mengajar atau administrasi sekolah. Sementara itu, kajian ini justru menyoroti dimensi yang sering luput dibahas, yaitu bagaimana digitalisasi bisa membawa konsekuensi sosial dan budaya jika tidak dibarengi dengan prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan sosial. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk memperkaya wacana tentang transformasi digital pendidikan dengan menekankan pentingnya nilai-nilai partisipatif, inklusivitas, dan keberpihakan pada konteks lokal sebagai bagian integral dari pembangunan sistem pendidikan digital yang berkelanjutan.

Implikasi Kebijakan (Now What?)

Dari hasil temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengembangan teknologi pendidikan tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya dukungan kebijakan publik yang aktif dan berorientasi pada perubahan sosial. Pemerintah bersama institusi pendidikan perlu merumuskan aturan yang tidak hanya memastikan akses teknologi merata, tapi juga menjaga agar proses digitalisasi tidak merusak atau menghilangkan nilai-nilai sosial dan budaya yang sudah ada di masyarakat. Selain itu, literasi digital memang sangat penting untuk dikembangkan. Namun, literasi ini sebaiknya menjadi bagian yang menyatu dalam kurikulum pendidikan dengan nilai- nilai demokrasi yang menekankan kesetaraan, kerja sama, dan rasa tanggung jawab sosial. Tujuannya agar generasi muda tidak sekadar mahir menggunakan teknologi,

(17)

tapi juga menjadi warga digital yang sadar dan bertanggung jawab terhadap nilai- nilai kemanusiaan.

Di sisi lain, perhatian khusus juga perlu diberikan pada daerah-daerah yang masih tertinggal dari sisi infrastruktur dan akses teknologi. Kebijakan khusus yang ditujukan untuk wilayah tersebut sangat penting supaya demokrasi digital benar- benar bisa inklusif dan mewakili kepentingan semua lapisan masyarakat. Dengan begitu, keberhasilan transformasi digital dalam pendidikan dan demokrasi sangat bergantung pada kebijakan yang tepat, menyeluruh, dan adil bagi semua.

Implikasi Konseptual (What Next?)

Secara konseptual, temuan ini memberikan peluang untuk merancang model teknologi pendidikan yang tidak hanya canggih dari sisi teknis, tetapi juga peka terhadap realitas sosial yang dihadapi masyarakat. Diperlukan pendekatan pedagogi digital yang lebih kontekstual dan demokratis sebuah model yang mampu menjembatani literasi digital dengan pendidikan berbasis nilai serta melibatkan komunitas secara aktif dalam proses pembelajaran. Ke depan, arah penelitian sebaiknya mulai mengeksplorasi bagaimana teknologi bisa dimanfaatkan untuk memperkuat ikatan sosial dan menumbuhkan identitas lokal, bukan hanya sebagai alat bantu dalam proses akademik. Dengan demikian, masa depan demokrasi digital bukan semata soal jaringan dan perangkat, melainkan tentang pembentukan warga negara yang sadar, kritis, dan memiliki kepedulian sosial yang kuat.

PENUTUP

Temuan utama dalam kajian ini menegaskan bahwa teknologi pendidikan bukan hanya perangkat teknis untuk mempermudah pembelajaran, melainkan juga wadah yang membentuk cara individu berinteraksi, berpikir, dan berkontribusi dalam kehidupan berdemokrasi. Bila dirancang dengan pendekatan yang inklusif dan mengedepankan nilai-nilai demokrasi, teknologi ini dapat membuka akses lebih luas bagi keterlibatan masyarakat, terutama mereka yang selama ini kurang terjangkau oleh informasi dan ruang publik digital. Namun, yang cukup

(18)

mengejutkan adalah adanya potensi ancaman terhadap aspek sosial pembelajaran ketika transformasi digital diterapkan tanpa pijakan kebijakan yang mempertimbangkan nilai-nilai kebersamaan dan kearifan lokal. Ketika efisiensi menjadi satu-satunya tolok ukur, proses belajar bisa kehilangan jiwanya sebagai pengalaman kolektif yang membentuk empati dan solidaritas. Hal tersebut menegaskan bahwa digitalisasi pendidikan tidak bersifat netral, ia membawa nilai, ideologi, bahkan risiko, jika tidak diarahkan secara bijak. Karena itu, teknologi pendidikan harus dikembangkan dengan visi yang holistic, bukan hanya untuk mengejar kemajuan teknologi semata, tetapi juga untuk meneguhkan keadilan sosial, pelestarian budaya lokal, dan penciptaan generasi yang aktif, kritis, serta peduli terhadap sesamanya.

Secara konseptual, kajian ini memanfaatkan pendekatan yang memadukan literasi digital, pendidikan demokrasi, dan kesadaran akan konteks sosial budaya, yang terbukti efektif dalam menjawab pertanyaan utama penelitian. Pendekatan ini tidak hanya menyoroti persoalan akses dan penggunaan teknologi, tetapi juga menggali lebih dalam bagaimana nilai-nilai demokrasi dapat dihidupkan melalui proses digitalisasi pendidikan. Alih-alih terjebak pada aspek teknis semata, studi ini menunjukkan bahwa kualitas digitalisasi sangat bergantung pada sejauh mana pendidikan mampu memelihara prinsip partisipasi, kesetaraan, dan inklusivitas.

Penggunaan metode kualitatif turut memperkuat temuan dengan memberikan ruang bagi suara, pengalaman, dan dinamika sosial yang seringkali luput dari sorotan dalam diskursus kebijakan digital yang cenderung teknokratis. Dengan demikian, pendekatan yang digunakan tidak hanya menjawab pertanyaan penelitian secara komprehensif, tetapi juga memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana teknologi dapat menjadi sarana yang bermakna dalam membangun demokrasi yang lebih adil dan kontekstual.

Meskipun hasil kajian ini memberikan wawasan yang signifikan, perlu disadari bahwa studi ini masih memiliki keterbatasan, terutama pada cakupan data empiris yang belum sepenuhnya merepresentasikan keragaman kondisi lokal di seluruh Indonesia. Pendekatan yang digunakan cenderung bersifat eksploratif dan belum sepenuhnya menangkap dinamika digitalisasi pendidikan di wilayah-wilayah

(19)

dengan tantangan geografis, sosial, dan budaya yang kompleks. Oleh karena itu, penelitian lanjutan sangat dibutuhkan untuk menyelami lebih dalam pengalaman pendidikan digital di tingkat komunitas, khususnya di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), termasuk juga pada masyarakat adat yang memiliki sistem nilai yang khas. Kajian-kajian mendatang diharapkan tidak hanya menyoroti persoalan akses teknologi, tetapi juga mengkaji sejauh mana proses digitalisasi mampu memperkuat atau justru mengikis partisipasi demokratis dan kearifan lokal.

Lebih jauh, pengembangan model kebijakan yang adaptif dan sensitif secara budaya menjadi penting agar transformasi digital di sektor pendidikan dapat berlangsung secara adil dan kontekstual, bukan sekadar seragam secara teknis

DAFTAR PUSTAKA

Basuni, A. F., & Ningsih, T. (2025). Peran Media Sosial dalam Transformasi Proses Pembelajaran dan Interaksi Sosial pada Generasi Digital. 5(1).

Berg1, D. (2023). Zooming in on Dewey, Democracy, and Subjectivity in Postdigital Education. Postdigital Science and Education, 6(4), 1304–1319.

https://doi.org/10.1007/s42438-023-00422-8

Caroline, & Aslan. (2025). Meningkatkan Aksesibilitas Pendidikan Melalui Teknologi : Tantangan Dan Solusi Di Negara Berkembang. Jurnal Ilmiah Edukatif, 11(1), 224–231.

Chatlina, C. B., Mulyana, A., & Amalia, M. (2024). Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Terhadap Kualitas Hubungan Sosial Dalam Keluarga. KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi, 7(1), 19–38.

Darnawati, Rahayuni, S. T. M. (2024). Demokrasi Di Era Digital. Rampai Jurnal Dab Kewarganegaraan, 1(1). https://doi.org/10.35473/rjh.v1i1.1663

Farikiansyah, I. M., Salamah, M. N., Rokhimah, A. ur, Ma’rifah, L., Faruq, F. N.

F., Al Gufran, M. A., & Sunan, N. (n.d.). Meningkatkan Partisipasi Pemilu melalui Literasi Politik Pemuda Milenial dalam Pendidikan

Kewarganegaraan. 5(4), 6512–6523.

Fauzi, M. A. R., Azizah, S. A., & Atikah, I. (2023). Pembelajaran Berdiferensiasi sebagai Implementasi Paradigma Baru Pendidikan. Jurnal Teknologi

Pendidikan, 1(1), 1–10. https://doi.org/10.47134/jtp.v1i1.38

Firdaus, L. M., Agustin, A., Lumbangaol, Agus Hermawan, A., Pakpahan, F. G., Ndona, M. D., Bangun, M. B., & Muchtar, Z. (2024). Literatur Review : Peran Teknologi dalam Upaya Pemerataan Pendidikan di Indonesia. 10(2), 211–219.

Fitriani, D., Budiyani, Y., Hardika, A. R., & Choerunissa, M. (2023). Partisipasi

(20)

Masyarakat Dalam Proses Demokrasi Di Indonesia: Analisis Peran

Teknologi Dan Media Sosial. ADVANCES in Social Humanities Research, 1(4), 362–371. https://adshr.org/index.php/vo/article/view/43

Hanif, M., & Salsabillah, N. A. (2024). Pendidikan Kewarganegaraan, Artikel Pendidikan Kewarganegaraan. An-Nuha:Pendidikan Kewarganegaraan, 11(2), 232. https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index Hapsari, N. S., & Suranto. (2025). Transformasi Pendidikan di Era Digital:

Dampak, Tantangan, dan Peluang dalam Dinamika Pembelajaran Mahasiswa di Lingkungan Perguruan Tinggi. 23(1), 212–222.

Hariyanto, Susanti, P. A., Hadjaat, M., Wasil, M., & Susilawati, A. D. (2023).

Meningkatkan Literasi Teknologi di Masyarakat Pedesaan Melalui Pelatihan Digital. Jurnal Abdimas Peradaban, 4(2), 12–21.

https://doi.org/10.54783/ap.v4i2.24

Indianto, D., Nurasih, W., & Witro, D. (2021). Demokrasi Hibrid: Pemikiran Yasraf Amir Piliang tentang Demokrasi Indonesia di Era Digital. JISPO Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 11(1), 175–194.

https://journal.uinsgd.ac.id/ index.php/jispo/index

Kharis, S. A. A., Arisanty, M., Wiradharma, G., Robiansyah, A., Zubir, E., Sukatmi, S., & Permatasari, S. M. (2024). Penguatan Digital Culture Siswa dalam Meningkatkan Literasi Digital: Pendekatan Teoritis dan Praktis. I- Com: Indonesian Community Journal, 4(3), 2055–2062.

https://doi.org/10.33379/icom.v4i3.5227

Komalasari, R., & Fudsy, M. I. (2021). Peran Teknologi Informasi Dalam Pengendalian Pandemi Covid-19. Jurnal Sistem Informasi Karya Anak Bangsa, 3(02), 73–85.

https://ejournal.unibba.ac.id/index.php/j-sika/article/view/694

Kurniawan, F. F., Rahmah, A. H., & Anbiya, B. F. (2024). Mengintegrasikan Teori Pembelajaran Konstruktivis melalui Teknologi Digital Dalam Pendidikan Islam. Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam Dan Pendidikan, 16(1), 82–89. https://doi.org/10.47435/al-qalam.v16i1.2813

Mardiana, V. D., & Hidayati, D. (2022). Transformasi Digital Pelaksanaan Pembelajaran Tematik di Sekolah pada Masa Pandemi. Journal of Education and Teaching (JET), 3(2), 213–223. https://doi.org/10.51454/jet.v3i2.180 Muskania, R. T., & Zulela MS. (2021). Realita Transformasi Digital Pendidikan

di Sekolah Dasar Selama Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 6(2), 155–165. https://doi.org/10.29407/jpdn.v6i2.15298 Nasution, F. A., Thamrin, M. H., Nasution, L. N., & Fahreza, I. (2023).

Pendidikan Politik Berbasis Digital Bagi Pemuda Karang Taruna Melalui Pelatihan Pembuatan Konten Digital. Literasi: Jurnal Pengabdian

Masyarakat Dan Inovasi, 3(1), 23–28.

https://doi.org/10.58466/literasi.v3i1.827

Ni Made Dian Widiastuti, I. P. A. D. (2021). Klasifikasi Teknologi Dalam

(21)

Jaringan Untuk Mendukung Proses Pembelajaran Jarak Jauh di Era Merdeka Belajar. Jurnal Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan, 18(2), 195–205.

Nur, A. F., & Muh, H. (2024). DIGITALISASI UNTUK TRANSPARANSI KEUANGAN SEKOLAH DI MTs MA’ARIF NU 1 SUMBANG. 4(2), 1–23.

Paramansyah, D. H. A., & Ridhaulipasya, M. (2024). Pendidikan Inklusif Dalam Era Digital (Pertama). Widina Media Utama.

Permana, B. S., Hazizah, L. A., & Herlambang, Y. T. (2024). Teknologi

Pendidikan: Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Di Era Digitalisasi. Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan Dan Sosial Humaniora, 4(1), 19–28. https://doi.org/10.55606/khatulistiwa.v4i1.2702

Purba, A., & Saragih, A. (2023). Peran Teknologi dalam Transformasi Pendidikan Bahasa Indonesia di Era Digital. Purba, Alfitriana Saragih, Alkausar, 3(5), 43–52. https://doi.org/10.58939/afosj-las.v3i3.619

Puspita, A., & Handayani, A. N. (2022). Dampak Teknologi Digital Terhadap Perilaku Sosial Masyarakat 5.0. Jurnal Inovasi Teknik Dan Edukasi

Teknologi, 2(10), 446–451. https://doi.org/10.17977/um068v1i102022p446- 451

Putra, M. R. M., Rahayu, S., Firdaus, & Afriza. (2024). Konseptualisasi Model Pembelajaran Orang Dewasa pada Era Literasi Digital. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8, 27652–27657.

Putri, D. S., Soelfema, & Putri, L. D. (2025). Pendidikan Literasi di Era Teknologi dalam Mengatasi Kesenjangan Digital pada Maysarakat. Pustaka : Jurnal Bahasa Dan Pendidikan, 5(1).

Putri, N. M., Listiawati, W., & Rachman, I. F. (2024). Pengaruh Literasi Digital Terhadap Pemberdayaan Masyarakat Dalam Konteks Sdgs 2030. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI), 1(3), 349–360.

https://doi.org/10.62017/jppi.v1i3.1208

Rahmania, A., Zulfikar, M., & Ma’arif, M. (2024). Urgensi Literasi Digital Dalam Penguatan Kapabilitas Crytical Thinking Terhadap Pemilih Pemula.

7(1), 14–22.

Ramadhan, A. A., Utama, I. P. A. A., & Arkan, J. (2022). E-Konstituen: Inovasi Aplikasi Digital Berbasis Digital Operating System Untuk Meningkatkan Peran Generasi Muda di Era Demokrasi Digital. Ministrate: Jurnal Birokrasi Dan Pemerintahan Daerah, 4(1), 35–45.

https://doi.org/10.15575/jbpd.v4i1.17068

Ramadhani, A. B., Halizah, F. N., Untari, H., Anggraini, M. S., Kristina, M. A., &

Puspita, A. M. I. (2024). Transformasi Pancasila Di Era Digital: Peluang Dan Tantangan. Lencana: Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan, 2(3), 153–157.

https://doi.org/10.55606/lencana.v2i3.3757

Ranintya Yusuf, R., & Sari, N. (2021). Demokrasi Digital Di Indonesia : Studi Kasus Implementasi “Qlue” Di Pemerintah Provinsi Dki Jakarta. Jurnal

(22)

Sumber Daya Aparatur, 3(2), 51.

Rasji, Bravo, A., Hasta, B. J. H., Alexander, M., & Nainggolan. (2025).

Tantangan Demokrasi sebagai Suatu Sistem yang Dinamis di Era Digital : Analisis Pengaruh Media Sosial terhadap Proses Politik Nasional. 4(1), 66–

72.

Rohmatin, Z., Taufiq, A. M., Nurmadina, N. A., Rizqullah, R., & Hasibuan, H. A.

(2024). Pentingnya Pendidikan Demokrasi di Indonesia dalam Menghadapi Era Digital. SOSIAL : Jurnal Ilmiah Pendidikan IPS.

https://doi.org/10.62383/sosial.v2i4.454

Rudijanto, H., Wardono, I., Susanti, R., Wijayanti, Y., & Cahyati, W. H. (2023).

Tantangan Transformasi Digital pada Masa Pandemi Covid – 19 Pendidikan Tinggi Vokasi di Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana UNNES, 341–345.

Suminar, L., Maulida, N., & Rachman, I. F. (2024). Strategi Peningkatan Kualitas Literasi Digital Pada Masyarakat. Jurnal Bima: Pusat Publikasi Ilmu

Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 2(2), 200–209.

Tansliova, A. F. A. B. S. N. O. S. S. S. S. P. Gl. (2025). Membangun Literasi Digital Pembelajaran Bahasa Indonesia: Strategi Dan Tantangan Di Era AI.

2, 30–35.

Veriska, Y., & Arin, K. (2024). SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 3(7), 1275--1289.

https://www.researchgate.net/publication/381100251_HUBUNGAN_MOTI VASI_IBU_DUKUNGAN_KELUARGA_DAN_PERAN_BIDAN_TERHA DAP_KUNJUNGAN_NIFAS_DI_PUSKESMAS_MARIPARI_KABUPAT EN_GARUT_TAHUN_2023

Wahyuanto, D. E. (2023). Manajemen Komunikasi Digital (G. M. Wiranty (ed.)).

CV. Mitra Edukasi Negeri.

Yuniarto, B., & Yudha, R. P. (2021). Literasi Digital Sebagai Penguatan Pendidikan Karakter Menuju Era Society 5.0. Edueksos : The Journal of Social and Economic Education, 10(2), 176–194.

https://doi.org/10.24235/edueksos.v10i2.8096

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Pendidikan Demokrasi Melalui Pendidikan Kewarganegaraan terhadap Partisipasi Politik Mahasiswa dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Studi pada

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Dalam Melaksanakan Pendidikan Politik Terhadap Masyarakat Di Kelurahan Sidorejo Hilir Kecamatan Medan Tembung Kota Medan”.. Dalam

Pada akhirnya, dengan dilengkapi dengan pendidikan karakter yang baik, adanya identifikasi dan motivasi, serta literasi digital yang cukup, membuat siswa dapat

dukungan rakyat (masyarakat dan pemerintah), mendukung penuh kultur dan nilai2 demokrasi sebagai syarat berjalannya struktur (lembaga) politik demokratis.  Perilaku

Hal ini sesuai dengan pendapat Tondeur et al (dalam Selwyn, 2011) yang menyatakan bahwa teknologi digital kini sudah mulai digunakan di dalam lembaga pendidikan

Di antaranya, seorang pendidik harus mengikuti perkembangan teknologi, memberikan pembelajaran yang relevan dengan peserta didik, Kata Kunci: Pandemi, Eksistensi Pendidikan, Era

i LEMBAR HAK CIPTA PERAN LITERASI DIGITAL DALAM MENINGKATKAN KETERLIBATAN SISWA DALAM BERDEMOKRASI DI ERA DIGITAL PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Oleh: Riana

Kajian penggunaan teknologi digital sebagai media pembelajaran pada pendidikan inklusi di Indonesia untuk mendukung siswa berkebutuhan