16 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Stigma
2.1.1 Pengertian Stigma
Menurut KBBI stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Stigma adalah bentuk prasangka yang mendiskreditkan atau menolak seseorang atau kelompok karena dianggap berbeda dengan diri kita atau kebanyakan orang. Pada akhirnya stigma ini akan menimbulkan ketidaksetaraan sosial. Tidak hanya menimbulkan konsekuensi negatif terhadap penderitanya tetapi juga bagi anggota keluarga, sikap-sikap penolakan, penyangkalan, dan disisihkan maupun pandangan negatif. Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari pada manusia itu sendiri, perilaku juga adalah apa yang dilakukan oleh individu tersebut, dapat diamati baik secara langsung atau tidak langsung, dan hal ini berarti bahwa perilaku terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi yakni yang disebut rangsangan, dengan demikian suatu rangsangan tertentu akan menghasilakan reaksi perilaku tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas perilaku memperngaruhi pengetahuan dan sikap seseorang (Usraleli et al., 2020).
Pada dasarnya, stigma adalah tentang ketidaksetaraan sosial dan kontrol sosial, yang menciptakan hierarki yang merendahkan nilai orang yang terstigmatisasi. Stigma sangat bermasalah bagi orang yang hidup dengan HIV / AIDS (Infeksi Virus Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome), penyakit mental, dan cacat fisik karena dapat menciptakan hambatan untuk mengakses perawatan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan perumahan yang terjangkau, yang pada akhirnya , dapat memperburuk pengalaman marjinalisasi. Selain itu, orang sering kali hidup dengan lebih dari satu kondisi kesehatan ini dan mungkin secara bersamaan mengalami berbagai jenis stigma terkait kesehatan (Jackson-Best & Edwards, 2018).
17 2.1.2 Bentuk-Bentuk Stigma
Stigma merupakan bentuk prasangka yang mendiskreditkan atau menolak seseorang atau kelompok karena dianggap berbeda dengan diri kebanyakan orang, yaitu :
1. Diskriminasi atau perlakuan yang tidak seimbang dan tidak adil terhadap perorangan atau kelompok berdasarkan ras, suku, agama dan golongan.
2. Prasangka atau sikap negatif terhadap anggota kelompok tertentu yang semata-mata keanggotaan dalam kelompok tertentu.
3. Pengucilan atau perlakuan terhadap seseorang atau kelompok yang menyebabkan rasa terasing, ditolak, dijauhi dari pergaulan sehingga merasa tidak diterima lagi oleh orang-orang sekitarnya.
4. Label yang mengacu pada saat seseorang dijuluki dengan sebutan tertentu oleh masyarakat.
5. Stereotip yang mengacu pada kecenderungan seseorang atau kelompok orang untuk menampilkan gambar atau gagasan yang salah mengenai kelompok orang lain yang bersifat menghina dan merendakan secara fisik maupun tingkah laku (Frelians & Perbawaningsih, 2020).
2.1.3 Dampak Stigma
Adanya stigma sosial dan diskriminasi di masyarakat terhadap penderita atau yang diduga menderita menjadikan pencegahan penularan lebih lanjut semakin sulit. Orang akan lebih memilih lebih baik tidak dipantau dan diperiksa asalkan jangan didiskriminasi. Menurut informasi karena tidak mau didiskriminasi, memunculkan sikap sebaliknya. Stigma terhadap penderita atau mereka yang diduga menderita penyakit menular harus dihilangkan. Stigma justru akan menyebabkan penyebaran penyakit di masyarakat semakin tidak terkendali. Berdasarkan hal ini, menstigma dan menjauhi secara sosial penderita dan keluarga adalah tindakan yang tidak pada tempatnya. Stigma hanya akan memunculkan masalah sosial baru dengan hilangnya keharmonisan di masyarakat (Dai, 2020).
Menrut (WHO, 2020) Stigma sosial dalam konteks kesehatan adalah hubungan negatif antara seseorang atau sekelompok orang yang berbagi karakteristik tertentu dan penyakit tertentu. Stigma dapat Mendorong orang
18 untuk menyembunyikan penyakit untuk menghindari diskriminasi tersebut, Mencegah orang mencari perawatan kesehatan dengan segera, dan Mencegah mereka untuk memiliki perilaku sehat. Stigma dari beberapa penyakit dan kelainan merupakan isu sentral dalam kesehatan. Para penderita dari beberapa penyakit tertentu sering mendapatkan stigma yang memberikan rasa rendah diri.Seperti penderita kusta, TBC, diabetes, HIV, virus corona, dan lain-lain, dianggap memiliki stigma negatif di masyarakat.
Sehingga orang-orang di sekitarnya cenderung menjauh dan tidak mau terlibat kontak dengan mereka walaupun mereka sudah dinyatakan sembuh sekalipun (Setiawati et al., 2020).
Dampak sosial dari stigma masyarakat, malah mendorong orang untuk menyembunyikan penyakit yang diderita untuk menghindari diskriminasi dan juga dapat mencegah orang mencari perawatan kesehatan segera ketika mengalami gejala, mencegah mereka untuk mengembangkan perilaku sehat dan berkontribusi pada masalah kesehatan yang lebih berat, penularan berkelanjutan dan kesulitan dalam mengendalikan penyebaran virus corona.
Berikut merupakan tindakan yang dapat dilakukan untuk melawan sikap stigmatisasi :
1. Menyebarkan informasi yang benar tentang Covid -9 berdasarkan fakta
2. Memberikan dukungan kepada orang yang terstigma/tertular penyakit
3. Menyebarkan pemberitaan yang dapat berperan mengurangi stigma 4. Memperkuat suara, gambar atau cerita dari orang yang telah sembuh
dari Covid-19 atau kelompok orang/keluarga yang selama ini telah mendukung pasien untuk pulih
5. Meminta cerita dari berbagai macam kelompok etnis untuk memberikan gambaran bahwa usaha mereka untuk sembuh semua sama
19 6. Pelaporan media harus seimbang dan kontekstual, disebarkan
berdasarkan bukti informasi dan membantu memerangi rumor yang mengarah pada stigmatisasi (Setiawati et al., 2020).
2.2 Covid
2.2.1 Pengertian Covid
Virus corona berasal dari bahasa latin yaitu “corona”, crown (mahkota) atau wreath (rangkaian bunga bundar). Virus ini berukuran kecil yang berdiameter partikel virus 80 x 160 nanometer, yang tidak dapat dilihat dengan mata, melainkan melalui mikroskop.
Virus corona dapat juga disebut “zoonosis” artinya dapat ditularkan melalui hewan maupun manusia. Dampak dari virus corona ini yaitu dapat menimbulkan penyakit yang dapat menginfeksi sel-sel epitel pada pencernaan hewan, dan pada manusia, virus ini menginfeksi sel-sel pada saluran pernapasan.
Virus corona masuk kedalam tubuh melalui droplet yang merupakan partikel kecil dari mulut penderita virus corona, yang dikeluarkan melalui bersin, batuk, maupun kontak kulit (Passarella et al., 2020).
2.2.2 Etiologi
Virus corona adalah virus RNA untai positif dan berbentuk seperti mahkota, penyebab virus COVID-19 adalah SARS-CoV2 yang termasuk dalam kategori betacoronavirus. Bentuk virus ini yaitu bulat atau biasa disebut ellips dan berdiameter 60-140 nanometer dan virus ini sangat sensitive bila terkena sinar ultraviolet dan panas, virus ini dapat dimatikan dengan etanol, chlorin, asam peroksiasetat, dan juga chloroform (kecuali chlorheksifin).
Berdasarkan hasil studi Kampf et all, yang menganalisis 22 studi mengungkapkan bahwa virus corona manusia, SARS-Cov, MERS-Cov, dan H-Cov hanya dapat bertahan pada benda mati selama 9 hari, akan tetapi dapat dimatikan dengan disinfeksi pada benda mati dengan etanol 62-71% , hydrogen peroksida 0,5% atau natrium hipoklorit 0,1% dalam 1 menit.
Virus corona ini bertahan di permukaan benda mati seperti, alumunium, besi, kaca, plastic, handscoon, kertas, dan kayu (Rahayu, 2020).
20 2.2.3 Perkembangan Covid
perkembangan penularan virus ini cukup signifikan karena penyebarannya sudah mendunia dan seluruh negara merasakan dampaknya. termasuk Indonesia.
Mengantisipasi dan mengurangi jumlah penderita virus corona di Indonesia sudah dilakukan di seluruh daerah. Diantaranya dengan memberikan kebijakan membatasi aktifitas keluar rumah, kegiatan sekolah dirumahkan, bekerja dari rumah (work from home), bahkan kegiatan beribadah pun dirumahkan. Hal ini sudah menjadi kebijakan pemerintah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang sudah dianalisa dengan maksimal tentunya. Terkait aktifitas yang dirumahkan sudah menjadi kebijakan dalam kondisi khusus yang harus dilakukan. Kebijakan ini diharapkan mampu mengatasi masalah yang terjadi di masyarakat. Kebijakan ini ditetapkan oleh beberapa pihak terutama pemerintah yang diorientasikan pada pemenuhan kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Makna dari pelaksanaan kebijakan publik merupakan suatu hubungan yang memungkinkan pencapaian tujuan-tujuan atau sasaran sebagai hasil akhir dari kegiatan yang dilakukan pemerintah. Kekurangan atau kesalahan kebijakan publik akan dapat diketahui setelah kebijakan publik tersebut dilaksanakan. Keberhasilan pelaksanaan kebijakan publik dapat dilihat dari dampak yang ditimbulkan sebagai hasil evaluasi atas pelaksanaan suatu kebijakan. Kebijakan dalam pelayanan kesehatan dapat dipandang sebagai aspek penting dalam kebijakan sosial. Karena kesehatan merupakan faktor penentu bagi kesejahteraan sosial. Orang yang sejahtera bukan saja orang yang memiliki pandapatan atau rumah yang memadai, namun melainkan orang yang sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Di Inggris, Australia dan Selandia Baru, pelayanan kesehatan publik diorganisir oleh lembaga yang disebut The National Health Service. Lembaga ini menyediakan pelayanan perawatan kesehatan dasar gratis hampir bagi seluruh warga negara. Kebijakan yang muncul akibat wabah virus corona terlihat dengan adanya penutupan beberapa akses jalan dalam waktu tertentu, pembatasan jumlah transportasi, pembatasan jam operasional transportasi, yang tentunya kebijakan itu dimaksudkan untuk dapat menahan laju aktifitas masyarakat keluar rumah. Hampir seluruh kegiatan dirumahkan, dan kebijakan ini disebut dengan lockdown. Lockdown dapat membantu mencegah penyebaran virus corona ke suatu wilayah, sehingga masyarakat yang berada di
21 suatu wilayah tersebut diharapkan dapat terhindar dari wabah yang cepat menyebar tersebut. Kebijakan ini hanya dapat dilakukan oleh pemerintah, dengan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan secara ketat sebelumnya ke beberapa wilayah dan mempertimbangkan konsekuensinya secara matang, baik dari segi ekonomi maupun sosial (Yunus & Rezki, 2020)
2.3 Konsep Masyarakat 2.3.1 Pengertian Masyarakat
Masyarakat sebagai komunitas adalah sekelompok orang yang terikat oleh pola-pola interaksi karena kebutuhan dan kepentingan bersama untuk bertemu dalam kepentingan mereka.komunitas adalah sekelompok orang yang hidup dalam suatu wilayah tertentu yang memiliki pembagian kerja yang berfungsi khusus dan saling tergantung (interdependent) dan memiliki sistem sosial budaya yang mengatur kegiatan para anggota yang mempunyai kesadaran akan kesatuan dan perasaan memiliki serta mampu bertindak secara kolektif dengan cara yangteratur.
Dengan demikian komunitas dapat diartikan sebagai ‚masyarakat setempat‛, yaitu suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh sutau derajat hubungan sosial yang tertentu. Dasar dari masyarakat setempat adalah lokalitas dan perasaan masyarakat setempat. Kehidupan sosial orang dipengaruhi oleh bentuk komunitas dimana ia hidup. Sebuah komunitas yang merupakan suatu kelompok kesatuan hidup manusia (kota, desa) maupun sebagai seperangkat perasaan (rasa keikatan, kesetiaan) akan mempengaruhi kehidupan sosial seseorang. Masyarakat (sebagai terjemahan society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu- individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata society berasal dari bahasa latin, societas, yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama (Murdiyanto, 2020).
22 2.3.2 Stigma Masyarakat Terhadap Covid-19
Masyarakat di dunia yang juga termasuk masyarakat Indonesia saat ini mempunyai pandangan yang negative terhadap virus COVID-19, beserta orang yang terpapar virus COVID-19 yang ada disekitar mereka. Yang mengakibatkan 9munculnya stigma terhadap orang yang terpapar virus COVID-19 yaitu ketidakpahaman masyarakat tentang penyebab yang sebenarnya disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu penyebabnya yaitu informasi yang masih simpang siur tentang keganasan virus COVID-19 yang dapat menyerang organ tubuh manusia dari media sosial, Bentuk gangguan organ tubuh pada seseorang yang telah terinfeksi COVID-19 seperti, pilek, batuk, demam, gangguan pada pernapasan, sakit tenggorokan dan terasa letih. Bila seseorang yang terinfeksi dan mempunyai sitem imun rendah, hal tersebut dapat menyebabkan kematian. Media sosial saat ini telah dipenuhi dengan informasi sebagai sumber yang dapat dicari oleh masyarakat, akan tetapi masih banyak informasi yang diberitakan tersebut mengandung isi yang tidak benar, dengan kata lain berita hoax. Oleh sebab itu masyarakat yang melihat berita tersebut menjadi merasa ketakutan, dan cemas, dan hal tersebut yang membuat pola pemikiran masyarakat dapat berubah menjadi tidak rasional (Dai, 2020).
Sudah banyak peristiwa diskriminasi terhadap pasien COVID-19 ini, dan sampai dikucilkan dari keluarga, Stigma negative terhadap suatu penyakit, seperti COVID-19 selalu yang menjadi permasalahan adalah orang yang terjangkit, dan tempat yang berhubungan dengan COVID-19. Penderita COVID-19 menurut masyarakat keberadaannya sudah mengancam kesehatan dan kehidupan dalam bermasyarakat atau bersosialisasi. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya salah satu contoh yaitu keberadaan perawat yang perkerjaannya di Rumah Sakit dan menangani pasien yang terinfeksi COVID-19 mengalami diskriminasi dan penolakan oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya (Dai, 2020).
Selain itu, ekonomi rumah tangga juga mengalami dilemma dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya yaitu dengan kondisi keuangan yang kurang baik akan memicu adanya penurunan imun tubuh sehingga sangat rentan terjangkit COVID-19. Dalam hal ini kesejahteraan yang menurun drastis membuat ekonomi rumah tangga mengalami tekanan psikologis sehingga kesejahteraan psikologi
23 menurun drastis. Tanpa disadari, kondisi ekonomi yang semakin sulit membuat pelaku ekonomi rumah tangga diperhadapkan pada situasi tetap diam seperti petunjuk protocol kesehatan, atau mengambil langkah inisiatif bekerja apa saja untuk mendapatkan nafkah hidup. Dalam kondisi dilematis seperti ini, tidak mengherankan apabila ekonomi sector rumah tangga rawan mengalami COVID-19. Sekalipun Pemerintah mengucurkan dana untuk dalam berbagai bantuan seperti Bantuan Tunai Langsung, pembagian sembako, listrik gratis dan lain sebagainya namun hal itu belumlah mampu mengembalikan kondisi ekonomi rumah tangga kembali normal seperti semula. Karena bantuan- bantuan tersebut tidak selamanya diberikan. Kondisi ini juga diperparah dengan semakin banyaknya jumlah pasien yang terpapar COVID-19 sehingga menambah tekanan psikologis ekonomi rumah tangga untuk kembali beraktivitas normal. Bagi pekerja mandiri, berbagai bantuan pemerintah dapat membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok namun tidak semua kebutuhan dipenuhi. Hal inilah yang mendorong sector ekonomi rumah tangga berupaya untuk melakukan pekerjaan mandiri. Pekerjaan mandiri tersebut sebagai suatu bentuk tanggung jawab kepada keluarga walaupun berisiko yaitu dapat tertular COVID-19. Kondisi lain yang dihadapi ekonomi rumah tangga yaitu setelah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) cenderung kembali kepada sector pertanian. Oleh karena itu, sector pertanian dapat dijadikan jaring pengaman ekonomi sector rumah tangga dan juga perekonomian Indonesia.
Memahami kondisi perekonomian yang semakin menurun membuat Pemerintah mengambil langkah kebijakan untuk mengakhiri lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan menggantinya dengan kebijakan New Normal. Kebijakan New Normal adalah masyarakat harus terbiasa menjalankan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam arti bahwa Pemerintah mengharapkan adanya perputaran ekonomi lagi sehingga tidak semakin menyulitkan masyarakat. Dalam hal ini, diharapkan tenaga-tenaga kerja yang selama ini mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan tenaga-tenaga kerja yang dirumahkan dapat kembali bekerja dan mendapatkan upah bagi keluarga (Dai, 2020).