ANALISIS DAMPAK BEBAN OVERLOAD KENDARAAN PADA STRUKTUR FLEXIBLE PAVEMENT TERHADAP
UMUR RENCANA PERKERASAN PADA
PEMBANGUNAN JALUR BARU JALAN SOEKARNO- HATTA (STA 12+000 S/D 13+000) KOTA DUMAI
Fitra Ramdhani
Dosen Program Studi S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Abdurrab
Abstract
Soekarno – Hatta street in Dumai City is one of the entrance to Dumai city that many heavy vehicle transporting the goods such as palm oil, wood, oil and others. Based on Increasing of traffic flow especially heavy vehicles with overload carrying capacity is one factor that causes road damage before reach the life road plan. Therefore, this study was conducted to determine the remaining service life of the plan and determine how much reduction service life of pavement if calculated by using load weighing results. The method of calculation in this research was created 7 scenarios in order to calculated results closer to real conditions in the field. From calculation the result obtained that scenario 2, which has the most overload with a decrease of service life 7,356 year and remaining service life of pavement was 59,781% from service life consultant design over 10 years.
Keywords: flexible pavement, service life, overload
Abstrak
Jalan Soekarno-Hatta Kota Dumai merupakan salah satu jalan masuk menuju Kota Dumai yang banyak dilewati oleh kendaraan berat yang mengangkut barang-barang seperti kendaraan pengangkut CPO, kayu, minyak dan lainnya. Peningkatan arus lalu lintas kendaraan khususnya kendaraan berat yang melebihi kapasitas daya angkut merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kerusakan jalan sebelum mencapai umur pelayanan jalan yang direncanakan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sisa umur rencana dan mengetahui seberapa besar penurunan umur rencana pelayanan perkerasan jalan apabila dihitung dengan menggunakan beban hasil penimbangan. Metode perhitungan pada penelian ini yaitu dengan membuat 7 skenario agar hasil perhitungan lebih mendekati kondisi real di lapangan. Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa skenario 2 yang memiliki beban paling berlebih dengan penurunan umur rencana pelayanan sebesar 7,356 tahun dan sisa umur pelayanan perkerasan sebesar 59,781 % dari umur rencana pihak konsultan selama 10 tahun.
Kata kunci : perkerasan lentur, umur rencana, beban berlebih
PENDAHULUAN
Jalan Soekarno - Hatta Kota Dumai merupakan salah satu pintu gerbang untuk memasuki Kota Dumai dari daerah lainnya seperti Kota Duri, Kota Medan dan kota lainnya. Melalui jalan Soekarno-Hatta inilah kendaraan berat yang mengangkut barang- barang seperti kendaraan pengangkut CPO, kayu, batu bara, minyak dan lainnya memasuki Kota Dumai. Pada awalnya jalan Soekarno - Hatta yang ada dianggap memadai untuk melayani kendaraan yang melaluinya. Seiring perkembangan zaman, terlihat bahwa satu jalur pada jalan Soekarno Hatta ini dianggap tidak mampu lagi untuk melayani banyak kendaraan yang melaluinya. Dalam rangka memperbaiki pelayanan di bidang sarana dan prasarana jalan, maka pemerintah Kota Dumai dalam hal ini adalah
Dinas Pekerjaan Umum (PU) melakukan penambahan jalur pada ruas Jalan Soekarno – Hatta Kota Dumai.
Peningkatan arus lalu lintas kendaraan khususnya kendaraan berat yang melebihi kapasitas daya angkut merupakan salah satu faktor yang menyebabkan jalan relatif cepat rusak sebelum mencapai umur pelayanan jalan yang telah direncanakan. Dampak dari beban berlebih (over load) pada kendaraan akan menimbulkan kerusakan yang sangat parah, hal ini disebabkan jalan harus menanggung beban melebihi kapasitasnya.
Sehingga bila jalan menanggung beban 2 kali lipat dari seharusnya, maka kerusakan yang ditimbulkan dapat menjadi 16 kali lipat dari tingkat kerusakan dalam kondisi normal. Perbedaan antara beban sumbu rencana dan beban sumbu aktual yang melewati ruas jalan ini akan mempercepat kerusakan dan penurunan umur rencana perkerasan, karena jumlah repetisi beban yang terjadi lebih besar dari repetisi beban yang direncanakan. Kerusakan struktur perkerasan ini akan mempengaruhi pengguna jalan baik dari segi kenyamanan dan keamanan bahkan kerusakan pada kendaraan yang melintas.
Dari penelitian Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Riau terhadap persentase kerusakan pada setiap ruas jalan, maka diketahui bahwa 45 persen kerusakan jalan yang ada di Riau ini disebabkan oleh beban berlebih dari kendaraaan barang, yang terdiri dari kendaraan pengangkut CPO, kayu, batu bara dan galian C. Dengan demikian penulis tertarik untuk menganalisa secara mendalam dampak beban berlebih (overloading) dari hasil penimbangan yang terjadi pada struktur perkerasan lentur terhadap umur rencana jalan.
TINJAUAN PUSTAKA Beban Lalu Lintas
Beban beban sumbu standar ekivalen yang akan diperkirakan akan lewat pada jalur rencana yang sedang direncanakan selama masa layan. lalu lintas yang diperlukan dalam merencanakan struktur perkerasan jalan adalah jumlah total pengulangan
Di Indonesia muatan standar yang resmi diberlakukan dengan berat muatan maksimum 8 ton (8000 kg). Setiap jenis kendaraan mempunyai roda sumbu yang berbeda-beda yaitu sumbu single, sumbu tandem dan sumbu triple, dan setiap sumbu mempunyai daya rusak (damage factor). Lebih lanjut Helmi, (2000) mengatakan damage factor adalah nilai daya rusak terhadap jalan yang diakibatkan oleh sumbu kendaraan yang melaluinya. Daya rusak yang baik apabila dimasukkan kedalam standar axle 8,16 ton (single, tandem, triple) nilai daya rusaknya mendekati satu.
ESAL suatu kendaraan = ESAL sumbu depan + ESAL sumbu belakang Dimana ESAL dinyatakan dengan rumus:
4
16 ,
8
L k
ESAL (1)
Dimana :
ESAL = Equivalent Standard Axle Load L = Beban satu sumbu kendaraan (Ton)
= 1 : untuk sumbu single
= 0,086 : untuk sumbu tandem
= 0,021 : untuk sumbu triple
Penurunan Umur Pelayanan Jalan Berdasarkan Komposisi Lalu Lintas
Umur rencana perkerasan adalah jumlah repetisi beban lalu lintas dalam satuan satuan Equivalent Standard Load, (ESAL) yang diperkirakan akan melintas dalam kurun waktu tertentu. Desain umur rencana perkerasan biasanya dibuat untuk 10 tahun dengan catatan terdapat pemeliharaan berkala di paruh waktu (5 tahun). Kondisi fatigue (Lelah) perkerasan diperkirakan akan muncul pada akhir umur rencana, sehingga pada saat itu diperlukan peningkatan struktur.
Dalam perhitungan penurunan umur pelayanan jalan, maka langkah dasar yang harus dicari adalah menentukan besarnya Nilai Indeks Permukaan (IP). Ada pun rumus yang digunakan untuk menentukan Nilai Indeks Permukaaan (IP) pertama kali diperkenalkan pada jalan uji AASHO pada sekitar tahun 1960. Nilai IP atau Present Serviceability Index (PSI) dihitung dari rumus dasar sebagai berikut :
(2) Dimana :
IPT rencana = IP yang direncanakan oleh pihak konsultan (nilainya 4) SV = Slope Variance (nilai variansi kemiringan)
C = Cracking (retak, ft2/1000 ft2) P = Patching (tambalan, ft2/1000 ft2) RD = Ruth Depth (alur, inchi)
Setelah diperoleh nilai IP hasil survey maka langkah selanjutnya yaitu dibandingkan dengan nilai IP hasil dari perhitungan dari tiap skenario sehingga diperoleh grafik korelasi perbandingan dari berbagai macam skenario. Sedangkan untuk perhitungan persentase umur sisa perkerasan menggunakan rumus :
5 , 1
1
100 N
Rl N
(3) Dimana :
Rl = Persentase umur sisa perkerasan
Np = Kumulatif ESAL pada akhir tahun 2015 N1,5 = Kumulatif ESAL pada akhir umur rencana METODOLOGI PENELITIAN
Studi literatur Pengumpulan Data a) Data Primer
1. Data Lalu Lintas Harian Rata – Rata (LHR) 2. Data Kondisi Jalan
b) Data Sekunder
1. Data Umum Proyek
Data umum proyek penulis dapatkan dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Dumai.
2 5
.
0 1.38
) ( 01 . 0 ) 1 log(
9 .
1 SV C P RD
Trencana IP
PSI
2. Data CBR
Data CBR penulis peroleh dari hasil pengujian yang ada di lapangan.
3. Data Perencanaan Jalan
Data perencanaan jalan penulis peroleh dari pihak konsultan.
4. Data Hasil Penimbangan
Data hasil penimbangan penulis peroleh dari Terminal Barang Kota Dumai.
Metode Survey di Lapangan
Survey Volume Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR)
Dalam penelitian ini, survey lalu lintas harian dilakukan dengan mencatat lalu lintas harian rata-rata (LHR) pada Tanggal 3 -5 Agustus tahun 2015 dengan ketentuan mengacu pada Pedoman Survey Pencacahan Lalu Lintas Secara Manual (Pd T-19-2004- B)
Survey Hasil Penimbangan Kendaraan
Data hasil penimbangan kendaraan di Terminal Barang Kota Dumai diambil sesuai dengan waktu dilaksanakan survey LHR yaitu pada Tanggal 3 – 5 Agustus 2015.
Survey Kondisi Perkerasan Jalan
Survey kondisi adalah survey yang dimaksudkan untuk menentukan kondisi perkerasan pada waktu tertentu. Survey kondisi bertujuan untuk menunjukkan kondisi perkerasan pada waktu dilakukan survey.
Survey Kerusakan Jalan
Dalam penelitian ini, survey kondisi perkerasan jalan dan survey kondisi jalan pada ruas jalan sepanjang 1 km, yaitu mulai dari STA 12+000 – STA 13+000 dengan ketentuan mengacu pada pedoman survey yang disarankan oleh Ashpalt Institute MS-17 Metode Perhitungan Dalam Perencanaan
Metode perhitungan dengan membuat beberapa skenario perhitungan agar perhitungan yang dilakukan lebih mendekati kondisi real di lapangan yakni beban kendaraan yang melintasi Jalan Soekarno-Hatta Kota Dumai. Pembuatan beberapa skenario ini dilakukan karena jumlah kendaraan yang tercatat pada formulir survey berbeda jauh dengan jumlah kendaraan yang tercatat di hasil penimbangan Terminal Barang Kota Dumai. Disamping itu, skenario ini juga membedakan antara konfigurasi pembebanan menggunakan Standar Bina Marga, maupun menggunakan SK. Dirjen HUBDAT Tahun 1999, 2002, dan 2003. Beberapa skenario yang digunakan, antara lain:
Skenario 1
Semua kendaraan menggunakan data beban dari hasil perencanaan pihak konsultan dengan menggunakan distribusi beban sumbu standar bina marga. Pada skenario ini, dilakukan perhitungan nilai ESAL sesuai perencanaan real yang ada di lapangan. Dari data perencanaan, diketahui untuk faktor keamanan pihak konsultan mengambil perencanaan beban kendaraan lebih besar 10 % dari berat standar kendaraan tersebut. Sedangkan data LHR menggunakan data hasil survei konsultan tahun 2013.
Skenario 2
Semua kendaraan menggunakan beban 100 % data hasil penimbangan Terminal Barang yang sekarang dan terdahulu dengan menggunakan distribusi beban sumbu Standar Bina Marga.
Skenario 3
Semua kendaraan menggunakan beban 100 % data hasil penimbangan Terminal Barang sekarang dan terdahulu dengan menggunakan distribusi beban sumbu dari Dirjen Hubdat.
Skenario 4
Semua kendaraan yang tertimbang menggunakan beban 100 % data hasil penimbangan Terminal Barang yang sekarang dan terdahulu, sedangkan yang tidak tertimbang diasumsikan 50 % kosong dan 50 % menggunakan data beban hasil penimbangan, dengan menggunakan distribusi beban sumbu Standar Bina Marga.
Skenario 5
Semua kendaraan yang tertimbang menggunakan beban 100 % data hasil penimbangan Terminal Barang yang sekarang dan terdahulu, sedangkan yang tidak tertimbang diasumsikan 50 % kosong dan 50 % menggunakan data beban hasil penimbangan, dengan menggunakan distribusi beban sumbu dari Dirjen Hubdat.
Skenario 6
Semua kendaraan yang tertimbang menggunakan beban 100 % data hasil penimbangan Terminal Barang yang sekarang dan terdahulu, sedangkan yang tidak tertimbang diasumsikan 30 % kosong dan 50 % menggunakan berat JBB dan 20 % menggunakan data beban hasil penimbangan, dengan menggunakan distribusi beban Standar Bina Marga.
Skenario 7
Semua kendaraan yang tertimbang menggunakan beban 100 % data hasil penimbangan Terminal Barang yang sekarang dan terdahulu, sedangkan yang tidak tertimbang diasumsikan 30 % kosong dan 50 % menggunakan berat JBB dan 20 % menggunakan data beban hasil penimbangan, dengan menggunakan distribusi beban dari Dirjen Hubdat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Nilai ESAL Untuk Tiap Kendaraan
Untuk mendapatkan nilai ESAL yang lebih akurat maka dibuat beberapa skenario dengan dua kemungkinan distribusi beban sumbu yaitu dari Standar Bina Marga dan juga dari Dirjen HUBDAT Tahun 1999, 2002, dan 2003.
Tabel 1 Berat Hasil Penimbangan Kendaraan di Terminal Barang Kota Dumai
No. Jenis Kendaraan Berat Rencana (Ton) Berat Rata – Rata (Ton) 3 – 5 Nov 2014 3 – 5 Agus 2015
1. Truk Sumbu 1.2 Ringan * 22,974 22,974
2. Truk Sumbu 1.2 Berat * 23,364 23,364
3. Truk Sumbu 1.2.2 36,574 36,783 36,679
4. Truk Sumbu 1.1.2.2 46,021 46,167 46,094
5. Truk Sumbu 1.2.2.2 * 46,791 46,791
6. Truk Sumbu 1.2.2.2.2 49,284 49,125 49,205
*) Pada data penimbangan terdahulu tidak dilakukan penggolongan ke jenis kendaraan yang telah ditentukan agar digunakan dalam perhitungan
Dari perhitungan dengan menggunakan rumus ESAL pada setiap skenario dengan masing- masing jenis kendaraan aka diperoleh hasil nilai ESAL pada tiap skenario dalam setahun Sehingga dari ketujuh Skenario diatas dapat di gambarkan pada grafik di bawah ini :
Gambar 1. Grafik Nilai ESAL Tiap Skenario Dalam Setahun
Skenario 1 : Semua kendaraan menggunakan beban dari hasil perencanaan konsultan, menggunakan Konfigurasi Sumbu dari Standar Bina Marga.
Skenario 2 : Semua kendaraan menggunakan beban 100 % dari hasil penimbangan terminal barang, menggunakan Konfigurasi Sumbu dari Standar Bina Marga.
Skenario 3: Semua kendaraan menggunakan beban 100 % dari hasil penimbangan terminal barang, menggunakan Konfigurasi Sumbu dari Dirjen Hubdat.
Skenario 4 : Kendaraan yang tidak tertimbang 50 % kosong dan 50 % menggunakan beban rerata hasil penimbangan, menggunakan Konfigurasi Sumbu dari Standar Bina Marga.
Skenario 5 : Kendaraan yang tidak tertimbang 50 % kosong dan 50 % menggunakan beban rerata hasil penimbangan, menggunakan Konfigurasi Sumbu dari Dirjen Hubdat.
Skenario 6 : Kendaraan yang tidak tertimbang 30 % kosong, 50 % menggunakan berat JBB dan 20 % menggunakan beban rerata hasil penimbangan, menggunakan Konfigurasi Sumbu dari Standar Bina Marga.
Skenario 7 : Kendaraan yang tidak tertimbang 30 % kosong, 50 % menggunakan berat JBB dan 20 % menggunakan beban rerata hasil penimbangan, menggunakan Konfigurasi Sumbu dari Dirjen Hubdat.
Analisis Present Serviceability Index (PSI)
Analisis present serviceability index berdasarkan hasil survey kondisi jalan yang telah dilakukan menggunakan persamaan (2) dengan parameter-parameter antara lain nilai variansi kemiringan, retak, tambalan dan alur. Adapun hasil perhitungan parameter-parameter tersebut antara lain sebagai berikut.
2697 , 3
) 76 , 0 ( 38 , 1 ) 29 , 44 27 , 0 ( 01 , 0 ) 000663 ,
0 1 log(
9 , 1 4
38 , 1 01
, 0 1
log 9 , 1 4
2 5
, 0 5 2
, 0
PSI PSI
RD P
C SV
PSI
Berdasarkan perhitungan di atas, diperoleh nilai IPt pada saat penelitian dilakukan adalah sebesar 3,2697. Dari nilai IPt tersebut dapat pula diperoleh lintas ekivalen kendaraan pada saat sekarang dengan menggunakan persamaan sebagai berikut.
) 3 (
371 . 1 0 log )
54 . 2 (
138072 4
. 0
5 . 1 2 . log 4 9892
. 3 ) 54 . 2 log(
3 . 9 ) (
19 . 5
DDT
FR ITP
IPt IPo ITP
LER Log
) 3 5 , 5 ( 371 . 25 0 , 2 log 1
) 54 . 2 45 , 9 (
138072 4
. 0
5 . 1 2 . 4
2697 , 3 log 4 9892 . 3 ) 54 . 2 45 , 9 log(
3 . 9 ) (
19 . 5
LER Log
ESAL LERt 11.136.721,57
Analisis Berdasarkan Nilai ESAL
Analisis serviceability perkerasan menggunakan nilai ESAL sesuai dengan skenario-skenario pada sub bab sebelumnya menggunakan persamaan (2) dengan memasukan nilai parameter-parameter di atas. Hasil perhitungan analisis present serviceability index menggunakan nilai ESAL adalah sebagai berikut.
Tabel 2. Analisis PSI Berdasarkan Hasil Perhitungan Nilai ESAL
No. Skenario ESAL Total PerTahun (Hingga Tahun 2015) IPt (Pada Tahun 2015)
1 1 1.815.659,85 3,6151
2 2 8.331.556,77 2,7999
3 3 7.984.459,33 2,8354
4 4 2.688.712,07 3,4838
5 5 2.563.406,20 3,5019
6 6 2.108.839,02 3,5707
7 7 2.010.653,64 3,6081
Perbandingan Nilai IP Hasil Survey Dengan Hasil Perhitungan
Dengan membandingkan nilai IP hasil survey (pada Tahun 2015) di lapangan dan hasil perhitungan pada tiap skenario (pada Tahun 2015) dengan menggunakan
persamaan (2) terhadap nilai IP dari ESAL pada data perencanaan.
Tabel 3. Perbandingan Serviceability rencana 1 (berdasarkan Nilai Kumulatif ESAL rencana) dan Serviceability rencana 2 (berdasarkan IPo dan IPt konsultan)
Tahun Ke
Tahun Kumulatif ESAL rencana
Serviceability rencana 1 Serviceability rencana 2
IP IPo
0 2012 1.347 3,998 3,99
1 2013 1.648.204 3,639 3,85
2 2014 3.377.403 3,383 3,70
3 2015 5.193.063 3,148 3,55
4 2016 7.099.506 2,924 3,40
5 2017 9.101.271 2,705 3,26
6 2018 11.203.124 2,487 3,11
7 2019 13.410.070 2,269 2,96
8 2020 15.727.363 2,050 2,81
9 2021 18.160.521 1,829 2,66
10 2022 20.715.337 1,604 2,50
Gambar 2. Perbandingan IP Hasil Survey Dan Hasil Perhitungan
Dari beberapa grafik di atas terlihat bahwa nilai IP yang paling mendekati kondisi sebenarnya di lapangan pada saat penelitian dilakukan (pada tahun 2015) ialah pada skenario 4. Pada grafik tersebut, nilai IP hasil survey sebesar 3,2697 dan untuk nilai IP yang dihitung berdasarkan nilai ESAL dengan menggunakan persamaan (2) sebesar 3,4838. Sedangkan nilai IP yang paling jauh perbedaannya terhadap nilai IP di lapangan pada skenario 2, dengan nilai IP yang dihitung berdasarkan nilai ESAL dengan menggunakan persamaan (2) sebesar 2,7999. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan kumulatif ESAL kendaraan berdasarkan konfigurasi sumbu kendaraan dan berat kendaraan yang digunakan pada perhitungan untuk masing-masing skenario. Oleh karena itu, data perhitungan yang paling mendekati kondisi di lapangan nantinya dapat digunakan sebagai acuan bagi perencanaan.
Perbandingan Persentase Umur Sisa Perkerasan
Analisis umur sisa perkerasan menggunakan nilai ESAL pada gambar 1. Nilai Np
merupakan kumulatif ESAL pada akhir tahun 2015, sedangkan nilai N1,5 merupakan kumulatif ESAL pada akhir umur rencana. Hasil perhitungan umur sisa masing-masing skenario seperti pada gambar berikut ini:
Gambar 3. Perbandingan Persentase Umur Sisa Perkerasan
Penurunan Umur Rencana Jalan
Perencanaan umur rencana perkerasan yang telah ditetapkan oleh Sub Dinas Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Dati I Riau untuk ruas jalan Pekanbaru-Dumai segmen Kandis-Duri ialah sebesar 10 tahun. Karena kumulatif ESAL masing-masing skenario berdasarkan perhitungan hampir semuanya melebihi kumulatif ESAL rencana seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, maka akan terjadi penurunan umur perencanaan jalan akibat ESAL yang ditanggung oleh perkerasan melebihi nilai ESAL yang telah ditentukan. Perhitungan penurunan umur rencana jalan adalah sebagai berikut. Adapun nilai penurunan dan pertambahan umur rencana jalan berdasarkan masing-masing skenario dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini.
Gambar 4. Persentase Penurunan Umur Rencana Jalan
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa persentase penurunan umur rencana jalan untuk skenario 1 sebesar 0 % karena merupakan data perencanaan. Sedangkan untuk skenario 2 sebesar 73,56 %, skenario 3 sebesar 72,50 %, skenario 4 sebesar 27,41 %, skenario 5 sebesar 24,43 %, skenario 6 sebesar 11,18 %, skenario 7 sebesar 7,67 %.
Untuk penurunan umur rencana terbesar terdapat pada skenario 2 yaitu sebesar 73,56 %
dan persentase penurunan umur rencana terkecil terdapat pada skenario 7 yaitu sebesar 7,67 %. Perbedaan penurunan umur rencana ini terjadi karena perbedaan ESAL pada masing-masing skenario.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian ini, dapat diperoleh kesimpulan antara lain sebagai berikut:
1. Jumlah volume kendaraan rata-rata yang melintasi jalur baru Jl. Soekarno-Hatta Kota Dumai pada waktu survey tahun 2015 selama 3 hari sebesar 3.723 kendaraan.
Untuk volume kendaraan ringan sebesar 1.397 kendaraan dengan persentase 41,58% dan volume kendaraan berat sebesar 2.326 kendaraan dengan persentase sebesar 58,42%.
2. Hasil perbandingan kumulatif ESAL dalam setahun pada setiap skenario menghasilkan nilai yang berbeda-beda. Untuk kumulatif ESAL dalam setahun terbesar terdapat pada skenario 2 yaitu sebesar 7.519.229,99. Kumulatif ESAL dalam setahun terkecil terdapat pada skenario 1 yaitu sebesar 1.646.857,00 yang merupakan kumulatif ESAL rencana dalam setahun. Kumulatif ESAL dalam setahun yang paling kecil mendekati kumulatif ESAL rencana dalam setahun yaitu pada skenario 7 yaitu sebesar 1.814.614,91.
3. Dari hasil perhitungan umur sisa perkerasan, diperoleh umur sisa untuk masing- masing skenario yaitu skenario 1 sebesar 91,235%, skenario 2 sebesar 59,781%, skenario 3 sebesar 61,456%, skenario 4 sebesar 87,021%, skenario 5 sebesar 87,626%, skenario 6 sebesar 89,820%, skenario 7 sebesar 90,294%.
4. Dari hasil analisis present serviceability index, diperoleh IP hasil survai di lapangan sebesar 3,2697. sedangkan bila dibandingkan dengan IP untuk masing-masing skenario, dapat dilihat bahwa nilai IP yang paling mendekati kondisi di lapangan ialah pada skenario 4 dengan nilai IP sebesar 3,4838.
5. Pada analisis penurunan umur rencana jalan untuk masing-masing skenario, diperoleh penurunan umur rencana jalan terbesar yaitu pada skenario 2 sebesar 73,56 % sedangkan pada skenario 1 tidak terjadi penurunan umur rencana nilai IP pada akhir umur rencana yang diperoleh dari data perencanaan.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2002. Pedoman Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Pd T-01-2002-B. Jakarta : Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2002. Survai Pencacahan Lalu Lintas dengan Cara Manual Pd. T-19-2004-B. Jakarta : Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
Departemen Perhubungan. 2010. Survey Pergerakan Barang di Indonesia [online].
Available at: URL:http//www.dephub.go.id/02-03-2009 [Accessed 03 March 2010]
Dinas Pekerjaan Umum. 2010. Dampak Muatan Berlebih Terhadap Kerusakan Jalan [online]. Available at: URL:http//www.kimpraswil.go.id/18-05-2009 [Accessed 30 March 2010]
Hardiyatmo, Hary, C. 2007. Pemeliharaan Jalan Raya. Yogyakarta : Gajah Mada University Press
ITB. 1997. Modul Pelatihan Analisa Struktur Perkerasan Jalan (Analysis of Road Pavement Structure). Bandung: LPM ITB bekerja sama dengan KBK Transportasi Jurusan Teknik Sipil ITB
Junizar, Hendra. 2007. Analisa Umur Rencana Perkerasan Akibat Beban Berlebih (Studi Kasus Ruas Jalan Simpang Buatan – Perawang Kabupaten Siak). Skripsi Jurusan Teknik Sipil. Pekanbaru : Universitas Riau
Pemerintah Kota Dumai. 2015. Berita, Profil Pemerintah dan Daerah, serta Potensi Investasi [online]. Available at: URL:http//www.dumaikota.go.id/03-06-2006 [Accessed 25 March 2015]
Sukirman, S. 1999. Perkerasan Lentur Jalan Raya. Bandung : Nova
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan jalan
Wikipedia. 2010. Ketentuan Muatan Sumbu Terberat (Legal Axle Limit) [online].
Available at: URL:http//id.wikipedia.org/18-05-2014 [Accessed 21 March 2010]
Yunizar, H. 2008. Analisa Pengaruh kendaraan Beban Berlebih Terhadap Umur Rencana Jalan (Studi Kasus Ruas Jalan Simpang Buatan-Perawang, Kabupaten Siak, Riau). Skripsi Jurusan Teknik Sipil. Pekanbaru : Universitas Riau.