• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS SOSIAL, EKONOMI DAN LINGKUNGAN KOTA SURAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV ANALISIS SOSIAL, EKONOMI DAN LINGKUNGAN KOTA SURAKARTA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-1

BAB IV

ANALISIS SOSIAL, EKONOMI DAN LINGKUNGAN KOTA SURAKARTA

IV.1. ANALISIS SOSIAL

IV.1.1. Indeks Pembangunan Manusia

IPM diperkenalkan oleh United Nation Development Programme (UNDP) pada tahun 1990 dan dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan Human Development Report (HDR). Kemajuan pembangunan manusia secara umum dapat ditunjukkan dengan melihat perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencerminkan capaian kemajuan di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencerminkan gambaran akumulat if dari hasil pembangunan lintas sektor. Hal ini mengingat komponen IPM adalah indeks komposit yang merupakan rata-rata gabungan dari 3 (tiga) komponen penilai kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Jika ketiga komponen tersebut memiliki kualitas yang baik, maka secara otomatis sumber daya manusianya memiliki kualitas yang baik pula. Masing-masing indeks dari komponen IPM memperlihatkan seberapa besar tingkat pencapaian yang telah dilakukan selama ini di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi. IPM merupakan indikator komposit yang di bentuk oleh Indeks Kesehatan yang dicerminkan dengan Angka Harapan Hidup, Indeks Pendidikan yang terdiri dari Harapan Lama Sekolah dan rata-rata lama sekolah serta Indeks Hidup layak yang digambarkan melalui pengeluaran per kapita. Perkembangan IPM Surakarta dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan yang semakin membaik dari 78,89 tahun 2013, menjadi 79,34 pada tahun 2014 dan pada tahun 2015 sebesar 80,14. Pada tahun 2015 Surakarta peringkat ke- 3 diantara 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah.

(2)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-2 Tabel IV.1. Komponen IPM Kota Surakarta tahun 2013-2015

No Uraian Tahun

2013 2014 2015

1 Peringkat Jawa Tengah 2 2 3

2 IPM (dng Metode baru) 78.89 79.34 80.14

3 Komponen IPM

4 Angka harapan Hidup (AHH) 76.97 76.99 77.00

5 Harapan Lama Sekolah (HLS) / (EYS) 13.64 13.92 14.14 6 Rata-rata Lama Sekolah (RLS) 25 th+ / (MYS ) 10.25 10.33 10.36 7 Pengeluaran per kapita/tahun (000 rupiah) 12,820 12,907 13,604

Sumber : Statistik Daerah Kota Surakarta tahun 2016

IV.1.2. Kebutuhan Penanganan Sosial Pasca Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya

Aspek yang perlu diperhatikan dalam penanganan sosial adalah responsivitas kegiatan pembangunan bidang cipta karya terhadap gender dan kemiskinan.Kemiskinan merupakan aspek yang perlu dilakukan suatu penanganan sesuai dengan kebijakan internasional SDGs dan Agenda pasca 2015, serta arahan kebijakan pro rakyat sesuai direktif presiden. Saat ini terdapat kegiatan responsif gender oleh bidang cipta karya melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), pengembangan infrastruktur sosial ekonomi wilayah (PISEW), penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (PAMSIMAs), Program pembangunan infrastruktur perdesaan (PPIP),Sanitasi berbasis masyarakat (SANIMAS), Rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL), dan studi evalusi kinerja program pemberdayaan masyarakat bidang cipta karya.

Pelaksanaan pembangunan bidang cipta karya secara lokasi, besaran kegiatan dan durasi pelaksanaan kegiatan, memberikan dampak kepada masyarakat, seperti kegiatan pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur publik. Untuk meminimalisir dampak tersbeut perlu adanya langkah-langkah antisipasi seperti konsultasi, pengadaan lahan dan pemberian kompensasi untuk tanah dan bangunan, serta permukiman kembali. Output kegiatan pembangunan bidang cipta karya seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat. Manfaat tersebut diharapkan dapat terlihat secara fisik dan dapat terukur seperti kemudahan dalam mendapatkan pelayanan publik, waktu tempuh yang semakin singkat dengan biaya yang murah dalam pencapaian infrastruktur publik atau untuk mendapatkan akses pelayanan publik.

(3)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-3 IV.2. ANALISIS EKONOMI

IV.2.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu daerah adalah PDRB. PDRB juga sering dipakai sebagai ukuran produktivitas serta mencerminkan seluruh nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari suatu wilayah dalam satu tahun. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sering digunakan untuk menggambarkan aktivitas perekonomian daerah.

PDRB diukur baik atas dasar harga berlaku maupun harga konstan.

Pendapatan per kapita dapat mencerminkan tingkat produktivitas tiap penduduk. PDRB per kapita Surakarta tahun 2015 sebesar Rp. 55.442.204,69 Angka ini lebih tinggi dari PDRB per kapita tahun sebelumnya sebesar Rp.52.791.260,94.

Pertumbuhan ekonomi di Kota Surakarta menunjukkan kecenderungan naik dan berada pada kisaran yang sama dengan pertumbuhan ekonomi provinsi, yang berkisar pada angka 5%.

Dominasi sektor konstruksi 26,90% disusul sektor perdagangan sebesar 22,56% juga menjadi ciri khusus perekonomian Kota Surakarta yang merupakan kota perdagangan untuk wilayah sekitar.

Tiga pilar terpenting penyangga ekonomi Surakarta dipegang oleh sektor konstruksi (26,90%), sektor Perdagangan (22,56 %), Industri (8,58 %) dan Sektor informasi dan komunikasi (10,62 %). Pertumbuhan ekonomi Surakarta 2015 melaju sebesar 5,44 %. Laju pertumbuhan tersebut lebih cepat dibanding tahun sebelumnya (5,24 %).

Tabel IV.2. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Kota Surakarta tahun 2014 dan 2015 (Juta Rupiah)

Kategori Uraian 2014 2015

A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 167,748.49 182,751.51 1.Pertanian, Peternakan,

Perburuanndan Jasa Pertanian 167,057.60 181,997.00

2.Kehutanan dan Penebangan Kayu 10.31 10.93

3.Perikanan 680.59 743.58

B Pertambangan dan Penggalian 697.25 770.26

C Industri Pengolahan 2,789,563.68 3,002,990.09

D Pengadaan Listrik dan Gas 60,379.07 61,213.06

E Pengadaan Air, 52,562.74 55,285.78

F Konstruksi 8,591,705.73 7,893,738.82

G Perdagangan Besar dan Ecer 7,307,631.60 9,410,744.97

H Transportasi dan 828,699.95 932,398.98

I Penyediaan Akomodasi dan 1,826,367.28 2,015,814.83 J Informasi dan Komunikasi 3,453,784.47 3,715,658.93 K Jasa Keuangan dan Asuransi 1,173,873.01 1,326,074.81

(4)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-4

Kategori Uraian 2014 2015

L Real Estate 1,296,580.03 1,436,443.80

M, N Jasa Perusahaan 235,080.88 272,952.59

O Administrasi 1,888,650.12 2,086,163.83

P Jasa Pendidikan 1,734,114.99 1,877,495.85

Q Jasa Kesehatan dan 346,392.98 385,675.46

R,S,T,U Jasa lainnya 305,614.62 326,200.52

PRODUK DOMESTIK 32,059,446.90 34,982,374.09

PDRB per Kapita (Rupiah) 511,152 513,210

Penduduk pertengahan tahun (Jiwa) 62,719,987.20 68,163,859.02

Sumber : Surakarta Dalam Angka, 2016

Tabel IV.3. PDRB Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Kota Surakarta tahun 2014 dan 2015 (Juta Rupiah)

Kategori Uraian 2014 2015

A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 127,634.25 129,926.80 1.Pertanian, Peternakan,

Perburuanndan Jasa Pertanian 127,112.81 129,399.81

2.Kehutanan dan Penebangan Kayu 7.56 7.47

3.Perikanan 513.88 519.52

B Pertambangan dan Penggalian 549.59 535.17

C Industri Pengolahan 2,184,105.67 2,263,993.97

D Pengadaan Listrik dan Gas 63,499.68 61,092.81

E Pengadaan Air, 48,594.69 49,454.24

F Konstruksi 7,014,333.33 7,390,395.31

G Perdagangan Besar dan Ecer 6,461,014.08 6,730,422.13

H Transportasi dan 750,350.60 811,007.78

I Penyediaan Akomodasi dan 1,377,875.81 1,463,048.48 J Informasi dan Komunikasi 3,490,330.91 3,723,082.11

K Jasa Keuangan dan Asuransi 907,659.83 968,341.37

L Real Estate 1,164,923.59 1,249,065.08

M, N Jasa Perusahaan 189,915.26 207,530.85

O Administrasi 1,524,921.96 1,623,466.15

P Jasa Pendidikan 1,144,903.75 1,223,370.41

Q Jasa Kesehatan dan 268,758.62 285,590.16

R,S,T,U Jasa lainnya 264,987.02 273,171.04

PRODUK BRUTO 26,984,358.61 28,453,493.87

PDRB per Kapita (Rupiah) 511,152 513,210

Penduduk pertengahan tahun (Jiwa) 52,791,260.94 55,442,204.69

Sumber : Surakarta Dalam Angka, 2016

(5)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-5 Tabel IV.4. Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan

Usaha Kota Surakarta tahun 2012-2015 (Juta Rupiah)

Kategori Uraian 2012 2013 2014 2015

A Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan 2,40 5,03 1,87 1,80

1.Pertanian, Peternakan,

Perburuanndan Jasa Pertanian 2,41 5,03 1,89 1,80 2.Kehutanan dan Penebangan Kayu -4,20 1,77 -2,21 -1,16

3.Perikanan -0,36 6,24 -3,21 1,10

B Pertambangan dan Penggalian -0,42 -0,41 -2,29 -2,62

C Industri Pengolahan 7,35 9,02 6,85 3,66

D Pengadaan Listrik dan Gas 12,55 7,90 2,71 -3,79

E Pengadaan Air, -2,54 -1,67 2,55 1,77

F Konstruksi 5,45 3,92 3,65 5,36

G Perdagangan Besar dan Ecer 2,06 7,44 4,32 4,17

H Transportasi dan 6,44 10,32 7,95 8,08

I Penyediaan Akomodasi dan 7,82 5,73 6,95 6,18

J Informasi dan Komunikasi 11,81 8,27 8,94 6,67

K Jasa Keuangan dan Asuransi 2,98 3,49 4,08 6,69

L Real Estate 7,07 5,20 6,41 7,22

M, N Jasa Perusahaan 7,18 9,36 6,86 9,28

O Administrasi 1,66 3,88 1,23 6,46

P Jasa Pendidikan 10,56 7,95 7,98 6,85

Q Jasa Kesehatan dan 7,49 8,16 12,59 6,26

R,S,T,U Jasa lainnya 4,35 6,03 4,25 3,09

PDRB Bruto 5,58 6,25 5,28 5,44

Sumber : Surakarta Dalam Angka, 2016

IV.2.2. Inflasi

Inflasi atau perubahan Indeks Harga Konsumen sering digunakan sebagai satu indikasi stabilitas ekonomi melalui pantauan gejolak harga-harga barang kebutuhan masyarakat.

Kumulatif laju inflasi Kota Surakarta pada tahun 2015 sebesar 2,56 %, lebih kecil jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014 yaitu 8,01 %. Hal ini berarti perkembangan harga secara umum sampai dengan akhir tahun 2015 lebih rendah jika dibandingkan harga tahun 2014. Inflasi Kota Surakarta lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi kota-kota lainnyadi Jawa Tengah .

Dalam jumlah yang tepat maka akan menjadi hal yang positif untuk menggairahkan roda ekonomi. Laju Inflasi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan berdampak pada daya beli masyarakat dan dinamika ekonomi. Besarnya inflasi berdasarkan kelompok barang dan jasa dari yang terbesar sampai yang terkecil secara berurutan sebagai berikut: Transportasi (-2,12%),

(6)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-6 Sandang (2,55 %), Makanan Jadi (2,98 %), Perumahan (3,20 %), Pendidikan (3,81 %), Kesehatan (4,11 %), dan Bahan Makanan (4,15 %).

Tabel IV.5. Inflasi Kota Surakarta Menurut Kelompok tahun 2013. 2014 dan 2015

No Kelompok 2013 2014 2015

1 Bahan Makanan 15.34 14.02 4.15

2 Makanan Jadi 4.15 3.24 2.98

3 Perumahan 3.65 3.61 3.20

4 Sandang 6.59 6.33 2.55

5 Kesehatan 5.10 4.62 4.11

6 Pendidikan 2.19 2.21 3.81

7 Transportasi 14.13 14.20 -2.12

UMUM 8.32 8.01 2,56

Sumber : Surakarta Dalam Angka, 2016

IV.2.3. Kemiskinan

Kemiskinan berkaitan erat dalam hal kesejahteraan sosial masyarakat. Dalam hal ini kondisi kesejahteraan masyarakat juga perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Masalah Kemiskinan merupakan persoalan mendasar yang menjadi perhatian pemerintah.

Dengan berbagai program pro-rakyat pemerintah berusaha keras menurunkan angka kemiskinan.

Pada tahun 2014 masih ada 10,95% penduduk Kota Surakarta yang tergolong miskin.

Jumlah tersebut semakin berkurang selama 3 tahun terakhir. Tahun 2012 penduduk miskin Kota Surakarta mencapai 12,00%. Kendati belum dapat dikatakan maksimal, akan tetapi tren penurunan menunjukkan bahwa program-program penanggulangan kemiskinan yang diluncurkan pemerintah telah memberikan efek positif bagi peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan hak-hak dasar mereka.

Penduduk yang dikategorikan miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan Kota Surakarta tiap tahun meningkat seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat. Garis kemiskinan Kota Surakarta pada tahun 2014 sebesar Rp. 385.467,- /kapita/bulan, dimana tahun sebelumnya tercatat hanya sebesar Rp.371.918,- /kapita/bulan.

(7)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-7 Tabel IV.6. Jumlah Penduduk per Kecamatan di Kota Surakarta tahun 2015 No Kecamatan Pra

Sejahtera (jiwa)

Keluarga Sejahtera (jiwa) Jumlah Total KK

I II III III+

1 Laweyan 1.194 15.840 4.830 - - 21.876

2 Serengan 714 8.471 2.670 - - 11.855

3 Pasar Kliwon 1.634 13.125 3.916 - - 18.675

4 Jebres 3.189 24.288 8.459 - - 35.936

5 Banjarsari 3.519 29.425 9.947 - - 42.894

Jumlah 10.250 91.158 29.828 - - 131.230

Sumber: Surakarta Dalam Angka, 2016

Untuk tingkat kemiskinan di Kota Surakarta pada tahun 2015 mengalami penurunan jika dibandingan dengan tahun sebelumnya. Hal ini dapat dikatakan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat di Kota Surakarta meningkat menjadi lebih baik, dan berikut merupakan data garis kemiskinan dan penduduk miskin di Kota Surakarta dalam kurun waktu 5 tahun.

Tabel IV.7. Garis Kemiskinan dan Penduduk Miskin di Kota Surakarta tahun 2010-2015

No Tahun Garis

Kemiskinan Penduduk Miskin

Jumlah (jiwa) Presentase (%)

1 2010 306.584 69.805 13,96

2 2011 326.233 64.498 12,90

3 2012 361.517 60.745 12,00

4 2013 403.121 59.679 11,74

5 2014 385.467 55.920 10,95

6 2015 406.840 55.710 10,89

Sumber: Surakarta Dalam Angka, 2016

IV.3. ANALISIS LINGKUNGAN

Menurut UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kajian Lingkungan Hidup Strategis, yang selanjutnya disingkat KLHS, adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program. KLHS perlu diterapkan di dalam RPIJM antara lain karena:

1) RPIJM membutuhkan kajian aspek lingkungan dalam perencanaan pembangunan infrastruktur.

2) KLHS dijadikan sebagai alat kajian lingkungan dalam RPIJMadalah karena RPIJM bidang Cipta Karya berada pada tataran Kebijakan/Rencana/Program. Dalam hal ini,

(8)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-8 KLHS menerapkan prinsip-prinsip kehati-hatian, dimana kebijakan, rencana dan/atau program menjadi garda depan dalam menyaring kegiatan pembangunan yang berpotensi mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup.

Tahap ke-2 setelah penapisan terdapat dua kegiatan. Jika melalui proses penapisan di atas tidak teridentifikasi bahwa rencana/program dalam RPIJM tidak berpengaruh terhadap kriteria penapisan di atas maka berdasarkan Permen Lingkungan Hidup No. 9/2011 tentang Pedoman Umum KLHS, Tim Satgas RPIJM Kabupaten/Kota dapat menyertakan Surat Pernyataan bahwa KLHS tidak perlu dilaksanakan, dengan ditandatangani oleh Ketua Satgas RPIJM dengan persetujuan BLHD, dan dijadikan lampiran dalam dokumen RPIJM.

Namun, jika teridentifikasi bahwa rencana/program dalam RPIJM berpengaruh terhadap kriteria penapisan di atas maka Satgas RPIJM didukung dinas lingkungan hidup (BLHD) dapat menyusun KLHS dengan tahapan sebagai berikut:

Pengkajian Pengaruh KRP terhadap Kondisi Lingkungan Hidup di Wilayah Perencanaan, dilaksanakan melalui 4 (empat) tahapan sebagai berikut:

a) Identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya yang bertujuan untuk:

1) Menentukan secara tepat pihak-pihak yang akan dilibatkan dalam pelaksanaan KLHS;

2) Menjamin diterapkannya azas partisipasi yang diamanatkan olehUU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;

3) Menjamin bahwa hasil perencanaan dan evaluasi kebijakan, rencana dan/atau program memperoleh legitimasi atau penerimaan oleh publik;

4) Memberikan akses kepadamasyarakat dan pemangku kepentingan untuk menyampaikan informasi, saran, pendapat, dan pertimbangan tentang pembangunan berkelanjutan melalui proses penyelenggaraan KLHS.

b) Identifikasi isu pembangunan berkelanjutan yang bertujuan untuk:

1) Menetapkanisu-isu pembangunan berkelanjutan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup atau keterkaitan antar ketiga aspek tersebut;

2) Membahas isu-isu yang signifikan secara terarah; dan

3) Membantu penentuan capaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

(9)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-9 c) Identifikasi muatan kebijakan, rencana dan/atau program yang berpotensi menimbulkan

pengaruh terhadap isu-isu pembangunan berkelanjutan yang relevan dan signifikan di wilayah perencanaan yaitu Kota Surakarta.

d) Telaah pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau program terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah.

Tabel IV.8. Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan Bidang Cipta Karya Kota Surakarta

Pengelompokan Isu-Isu Pembangunan

Berkelanjutan Bidang Cipta Karya Penjelasan Singkat Lingkungan Hidup Permukiman

Isu 1: Ketersediaan air baku yang masih belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat

Belum optimalnya sistem penyediaan air minum regional dan pengembangan air minum terlindungi dikarenakan kurangnya ketersediaan sarana prasarana pendukung penyediaan sumber daya air

Isu 2: Kualitas lingkungan permukiman sehat yang belum terwujud secara menyeluruh

Pengelolaan dan pelayanan terkait pengolahan air limbah dan pengelolaan persampahan masih belum dilakukan secara optimal dan kurang bersinergi dengan wilayah lainnya. Seperti halnya pengelolaan sampah kota yang masih belum terintegrasi secara regional (Solo Raya).

Isu 3: Kawasan-kawasan kumuh di lingkungan perkotaan yang mengurangi nilai estetika dan tidak sesuai dari sisi daya dukung lingkungan

Munculnya kawasan kumuh di wilayah perkotaan merupakan salah satu dampak dari pertumbuhan penduduk yang tinggi disana. Hal tersebut seharusnya perlu diimbangi dengan ketegasan terkait relokasi permukiman-permukiman yang berada pada wilayah yang bukan peruntukannya.

Selain itu, kawasan kumuh yang ada juga timbul dari adanya degradasi lingkungan serta kurang meratanya pembangunan infrastruktur.

Ekonomi

Isu 4: Kemiskinan yang identik dengan kurang sehatnya lingkungan permukiman.

Contoh: permukiman kumuh yang merupakan cerminan rendahnya ekonomi dan kesejahteraan masyarakat perkotaan

Kekumuhan permukiman merupakan kombinasi yang terjadi pada permukiman perkotaan dan perdesaan, disamping itu kekumuhan yang terjadi diakibatkan dengan pola kehidupan masyarakat itu sendiri, sehingga berdampak pada lingkungan seperti sulitnya pencapaian ke dan dalam suatu wilayah.

Sosial

Isu 5: Rendahnya akses untuk memiliki cakupan rumah sehat dikarenakan tidak seimbangnya tingkat kesejahteraan dengan harga lahan dan rumah di kawasan perkotaan.

 Penyediaan kemudahan akses dalam pemenuhan lahan dan perumahan merupakan salah satu upaya yang perlu dilakukan guna mendukung terus berkembangnya lingkungan rumah sehat yang mampu meningkatkan taraf

(10)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-10 Pengelompokan Isu-Isu Pembangunan

Berkelanjutan Bidang Cipta Karya Penjelasan Singkat hidup masyarakat.

 Selain itu, penyediaan lahan dan rumah yang terjangkau juga sebaiknya diimbangi dengan peningkatan kemampuan masyarakat miskin dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Hal ini dapat terwujud melalui dilaksanakannya program-program kemasyarakatan yang mampu meningkatkan keterampilan, kemampuan bekerja, serta kemampuan untuk berwirausaha secara mandiri.

Sumber: Diolah dari RPJMD Kota Surakarta tahun 2016-2021

Gambar

Tabel IV.2.  PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Kota Surakarta  tahun 2014 dan 2015 (Juta Rupiah)
Tabel IV.3. PDRB Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Kota Surakarta  tahun 2014 dan 2015 (Juta Rupiah)
Tabel IV.5. Inflasi Kota Surakarta Menurut Kelompok tahun 2013. 2014 dan 2015
Tabel IV.7. Garis Kemiskinan dan Penduduk Miskin di Kota Surakarta tahun 2010-2015

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan peneliti pada 28 september 2018 melalui wawancara, observasi dan dokumentasi terhadap kepala sekolah, pembina pramuka, dan siswa mengenai

Cara mengevaluasi efisiensi motor tersebut adalah dengan menentukan besarnya daya output motor, daya input motor untuk mengetahui besarnya effisiensi motor

Dari analisis SWOT tentang posisi awal strategi yang dilihat pada gambar diagram SWOT untuk sub sektor drainase lingkungan adalah terletak di garis batas antara kuadran

Upaya meningkatkan mutu pembelajaran Bahasa Arab di Kelas V MI Tsamrotul Huda 2 Jatirogo Kecamatan Bonang Demak adalah dengan menerapkan belajar tuntas dalam bidang Bahasa Arab

Berdasarkan pengamatan dan analisa yang dilakukan, hasil belajar dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I ini belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Untuk megetahui pengaruh simultan Return on Assets (ROA), Net Profit Margin (NPM), Cash Ratio (CR), dan Quick Ratio (QR) variabel terhadap harga saham perusahaan makanan dan

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan kitin kepiting Scylla olivacea terhadap penurunan kadar logam berat tembaga (Cu) dan untuk mengetahui

Pasal 60 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 menentukan bahwa perkawinan campuran tidak dapat dilangsungkan sebelum terbukti bahwa syarat- syarat perkawinan yang ditentukan oleh