AWAL NEW NORMAL: ANTARA EKONOMI DAN KESEHATAN Studi Kasus di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah
(Starting New Normal: Between Economy and Health) Mifta Roudotul Jannah
Badan Pusat Statistik Kabupaten Pemalang Jl. Tentara Pelajar 16 Mulyoharjo, Pemalang
ABSTRAK
Pandemi Covid-19 menjadi hal yang baru bagi semua pihak. Dua hal krusial yang menempati dua sisi koin ketidakpastian Covid-19, yaitu kesehatan atau ekonomi. Khususnya di Kabupaten Pemalang, kasus Covid-19 mulai tercatat pada akhir Maret 2020. Sampai akhir Juni, Pemerintah Kabupaten Pemalang memilih tidak menerapkan kebijakan PSBB. Di sisi lain, School from Home dan pembatasan jam malam menjadi kebijakan yang dipilih. Masyarakat dihimbau untuk menerapkan protokol kesehatan dan tetap di rumah.
Sampai akhirnya New Normal mulai diberlakukan di Kabupaten Pemalang pada tanggal 10 Juni 2020. Badan Pusat Statistik Kabupaten Pemalang berhasil menjaring 531 responden melalui survei daring bernama Survei Sosial Ekonomi Dampak Covid-19. Penelitian ini mencoba melihat lebih jauh bagaimana ekonomi dan kesehatan berjalan beriringan pada awal New Normal di Kabupaten Pemalang. Menggunakan metode K- prototype clustering, diperoleh tiga klaster dengan tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan yang rendah, sedang, dan tinggi. Responden yang berada pada kondisi ekonomi yang relatif stabil memiliki kepatuhan pada protokol kesehatan yang lebih tinggi. Sebaliknya, responden dengan kondisi ekonomi yang terdampak Covid-19 cenderung mengabaikan protokol kesehatan, dan responden pada klaster ini yang mendominasi. Secara umum, pemberlakuan New Normal belum dibarengi dengan kepatuhan yang tinggi pada protokol kesehatan. Tidak mengherankan, jika saat ini kasus Covid-19 di Kabupaten Pemalang semakin bertambah.
Kata kunci: New Normal, protokol kesehatan, ekonomi pandemi, Covid-19, Pemalang
ABSTRACT
The Covid-19 pandemic is something new for all parties. Two crucial things that occupy two sides of the Covid-19 uncertainty coin, are health and economy. Especially in Pemalang Regency, the Covid-19 first case were recorded at the end of March 2020. Until the end of June, the Pemalang Regency Government chose not to implement the PSBB policy. On the other hand, School from Home and curfew restrictions are the preferred policies. People are encouraged to implement health protocols and stay at home. New Normal in Pemalang Regency began on June 10, 2020. The BPS of Pemalang Regency succeeded in capturing 531 respondents through an online survey called the Socio-Economic Impact of Covid-19 Survey. This study tries to further look at how economy and health are going together at the start of the New Normal in Pemalang Regency. Using the K-prototype clustering method, three clusters were obtained with low, medium, and high levels of adherence to health protocols. Respondents who are in relatively stable economic conditions have higher adherence to health protocols. Conversely, respondents with economic conditions affected by Covid- 19 tend to ignore health protocols, and respondents in this cluster dominate. Generally, the implementation of New Normal has not been accompanied by high adherence to health protocols. It is not surprising that currently the Covid-19 cases in Pemalang Regency are increasing.
Keywords: New Normal, health protocol, economy in pandemic, Covid-19, Pemalang
PENDAHULUAN
Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit menular yang pada 11 Maret 2020 ditetapkan oleh WHO sebagai pandemi global. Covid-19 disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARSCoV-2). Kasus Covid-19 pertama di Indonesia dilaporkan pada
tanggal 2 Maret 2020. Kementerian Kesehatan (2020) melaporkan kasus paling banyak terjadi pada rentang usia 45-54 tahun.
Pandemi Covid-19 menjadi hal yang baru bagi semua pihak. Masing-masing pemerintah memiliki pertimbangannya sendiri dalam menerapkan kebijakan untuk penanggulangan pandemi ini. Di Indonesia sendiri, percepatan penanganan Covid-19 di masa awal pandemi dilakukan dengan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah. Selama tiga bulan, orang-orang diperintahkan untuk berdiam di rumah. Sekolah tutup, bisnis tutup, mobilitas penduduk dibatasi, juga pembatasan perjalanan internasional.
Terdapat dua hal krusial yang menjadi pertimbangan utama dalam penetapan kebijakan.
Kedua hal ini menempati dua sisi ‘koin ketidakpastian’ akibat Covid-19, yaitu kesehatan atau ekonomi. Meskipun situasi Covid-19 masih dalam risiko sangat tinggi, PSBB tidak dapat dilakukan dalam jangka panjang karena akan berdampak pada perekonomian (Pragholapati, 2020). Baik diri, anak, istri, dan keluarga perlu diberi makan. Mati karena kelaparan atau mati karena Covid-19 adalah sama saja, begitulah anggapan orang-orang. Ekonomi perlu tetap berjalan. Hidup berdampingan dengan Covid-19 merupakan kondisi yang perlu dihadapi pada masa pengembangan vaksin. Untuk menyelamatkan perekonomian yang seakan mati suri, pemerintah menerapkan New Normal.
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang (2020)
Gambar 1. Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Pemalang
Khususnya di Kabupaten Pemalang, kasus Covid-19 mulai tercatat pada akhir Maret 2020.
Sampai sekarang, Pemerintah Kabupaten Pemalang memilih tidak menerapkan kebijakan PSBB. Di sisi lain, School from Home dan pembatasan jam malam menjadi kebijakan yang dipilih.
Masyarakat dihimbau untuk menerapkan protokol kesehatan dan tetap di rumah. Sampai akhirnya New Normal mulai diberlakukan di Kabupaten Pemalang berdasarkan Peraturan Bupati Pemalang No. 28 Tahun 2020 pada tanggal 10 Juni 2020. Pada titik ini, kasus positif Covid-19 di Kabupaten Pemalang berjumlah 32 kasus. Kondisi terakhir tanggal 16 September 2020, kasus positif telah berkembang 6 kali lipat menjadi 201 kasus. Pada 21 Juli 2020, Bupati Pemalang terkonfirmasi positif Covid-19. Kasus positif lain menjadi meningkat setelah dilakukan upaya tracking dan tracing dari kasus ini. Lonjakan tajam terjadi pada tanggal 11 Agustus 2020 dengan tambahan sebanyak 14 kasus yang berasal dari lingkungan perkantoran dan perbankan. Lonjakan kembali terjadi pada 13 September 2020 dengan tambahan sebanyak 38 kasus.
New Normal adalah tatanan, kebiasaan baru yang berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, dalam upaya penanganan Covid-19 yang dilakukan dalam bentuk pedoman kegiatan luar rumah. New Normal dibarengi dengan upaya kesiapan tempat kerja seoptimal mungkin sehingga dapat beradaptasi melalui perubahan gaya
New Normal
hidup di kondisi pandemi. Poinnya adalah mengaktifkan kembali aktivitas masyarakat khususnya ekonomi, sehingga ekonomi masyarakat tidak jatuh terlalu dalam dengan memperhatikan protokol kesehatan untuk mengontrol kasus Covid-19. Penelitian ini mencoba melihat lebih jauh bagaimana ekonomi dan kesehatan berjalan beriringan pada awal New Normal di Kabupaten Pemalang.
Karena terdapat trade off antara ekonomi dan kesehatan (Lin dan Meissner, 2020), kondisi ekonomi tertentu dapat disertai dengan pola kepatuhan yang berbeda-beda terhadap protokol kesehatan. Salah satu teknik penggalian pola adalah analisis klaster. Pada klaster yang terbentuk, penulis juga ingin mengetahui keterkaitannya dengan kondisi demografi masyarakat.
METODE Sumber Data
Data yang digunakan berasal dari Survei Sosial Ekonomi Dampak Covid-19 Kabupaten Pemalang yang dilakukan secara daring pada 1-14 Juli 2020, yaitu setelah 20 hari penerapan New Normal. Badan Pusat Statistik Kabupaten Pemalang berhasil menjaring sebanyak 531 responden.
Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah Non-Probability Sampling, yaitu kombinasi dari Convenience, Voluntary dan Snowball Sampling. Hal ini menyebabkan analisis yang dihasilkan merupakan gambaran dari responden saja dan tidak mewakili kondisi seluruh masyarakat Kabupaten Pemalang. Sebanyak 11,49 persen responden survei ini berpendidikan kurang dari SMA dan 88,51 persen dan sisanya berpendidikan SMA ke atas, dikarenakan jangkauan survei daring lebih populer di kalangan yang berpendidikan lebih tinggi. Pengisian survei secara self- enumeration dapat meningkatkan error dikarenakan persepsi pengisian diserahkan sepenuhnya kepada responden.
Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan pada analisis klaster ditampilkan pada Tabel 1. Kunci trade off pada kebijakan di masa pandemi ini adalah antara kesehatan dan ekonomi (Lin dan Meissner, 2020).
Kondisi kesehatan responden diwakili oleh variabel X1 sampai dengan X12 yang menggambarkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan, meliputi kepatuhan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan menjaga kebersihan (X1 s.d X4), penerapan protokol dalam ruang publik (X5 s.d X9), dan kondisi psikis responden (X11 dan X12). Sementara variabel X13 sampai dengan X19 mewakili kondisi ekonomi responden, meliputi kondisi pendapatan (X13 dan X14), pengeluaran (X15 s.d X18), dan tabungan (X19).
Hasil pengelompokan dari analisis klaster kemudian dianalisis secara deskriptif dengan beberapa karakteristik demografi responden, antara lain generasi usia, pendidikan dan status pekerjaan. Generasi usia responden terdiri dari kelompok Tradisionalis (tahun kelahiran 1992- 1945), Baby Boomers (tahun kelahiran1946-1960), Generasi X (tahun kelahiran 1961-1980), Generasi Millenial (tahun kelahiran 1981-1994), dan Generasi Z (tahun kelahiran 1995-2010).
Pendidikan responden dibedakan menjadi di bawah SMA dan SMA ke atas. Status pekerjaan dibagi menjadi pekerja sektor informal, sektor formal, dan tidak bekerja. Menurut Direktorat Ketenagakerjaan dan Analisis Ekonomi BAPPENAS (2008), proksi pekerja sektor informal mencakup tiga status pekerjaan, yaitu berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain, berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga/buruh tidak tetap, dan pekerja keluarga (termasuk di dalam pekerja keluarga adalah pekerja bebas pertanian dan non pertanian). Sementara proksi pekerja sektor formal yaitu buruh/karyawan dan yang berusaha dengan buruh tetap.
Tabel 1. Variabel-variabel yang Digunakan dalam Analisis Klaster
Variabel Deskripsi Tipe data Keterangan
(1) (2) (3) (4)
X1 Penggunaan masker Numerik (1-10) 0= Tidak pernah X2 Penggunaan sarung tangan Numerik (1-10) 0= Tidak pernah X3 Penggunaan hand sanitizer/disinfektan Numerik (1-10) 0= Tidak pernah X4 Mencuci tangan selama 20 detik
dengan sabun
Numerik (1-10) 0= Tidak pernah
X5 Menghindari menyentuh wajah Numerik (1-10) 0= Selalu X6 Menghindari berjabat tangan Numerik (1-10) 0= Selalu X7 Menghindari pertemuan atau berdiri
dalam antrian yang panjang
Numerik (1-10) 0= Selalu
X8 Menghindari menyentuh benda di area publik
Numerik (1-10) 0= Selalu
X9 Menghindari naik transportasi umum Numerik (1-10) 0= Selalu X10 Menjaga jarak setidaknya 2 meter Numerik (1-10) 0= Selalu X11 Segera memberitahu orang-orang
sekitar jika menunjukkan gejala sakit
Numerik (1-10) 0= Tidak pernah
X12 Perasaan terhadap kondisi New Normal Numerik (1-5) 1= Tidak khawatir X13 Kategori pendapatan rumah tangga Kategorik
(2 kategori)
1= <1,8 juta perbulan 2= ≥1,8 juta perbulan X14 Kondisi pendapatan Juni dibandingkan
Mei
Kategorik (3 kategori)
1=Turun 2=Tetap 3=Meningkat X15 Kondisi pengeluaran Juni dibandingkan
Mei
Kategorik (3 kategori)
1=Turun 2=Tetap 3=Meningkat X16 Perubahan pengeluaran bahan
makanan
Kategorik (3 kategori)
1=Turun 2=Sama saja 3=Naik X17 Perubahan pengeluaran kesehatan Kategorik
(3 kategori)
1=Turun 2=Sama saja 3=Naik X18 Perubahan pengeluaran pulsa atau
paket data
Kategorik (3 kategori)
1=Turun 2=Sama saja 3=Naik
X19 Ada tidaknya tabungan Kategorik
(2 kategori)
1= Ada 2= Tidak ada
Metode Penelitian
Analisis klaster atau clustering (Kaufman dan Rousseeuw, 1990) merupakan pendekatan populer yang mempartisi sekumpulan objek menurut sejumlah variabel (pada dataset yang besar) menjadi beberapa klaster (kelompok yang homogen), sehingga objek dalam klaster yang sama lebih mirip satu sama lain daripada objek dalam klaster lain. K-prototype clustering merupakan metode analisis klaster yang dapat mengakomodasi tipe data campuran antara data numerik dan kategorik (Madhuri, et al, 2014). K-prototype merupakan modifikasi dari K-means yang mengakomodasi pembentukan klaster berdasarkan pada variabel numerik, dan K-mode yang mengakomodasi variabel kategorik.
Objek perwakilan dalam K-prototype disebut prototipe. Ukuran disimilaritas yang digunakan pada variabel numerik, sr, menggunakan jarak Euclidean. Sementara pada variabel kategorik, sc, adalah jumlah ketidakcocokan kategori antara dua objek (Huang, 1998). Ukuran disimilaritas total merupakan sr + γsc, di mana γ adalah penimbang untuk menyeimbangkan kedua ukuran tersebut.
Penimbang γ yang disarankan oleh Huang (1997) yaitu rata-rata simpangan baku dari variabel numerik. Nilai γ yang kecil menunjukkan dominasi dari variabel numerik, dan sebaliknya.
Validasi klaster yang terbentuk dilakukan menggunakan ukuran Sillhouette (Rousseeuw, 1987). Sillhouette mengukur seberapa mirip sebuah objek dengan klasternya sendiri dibandingkan dengan yang lain. Interpretasi dari nilai Sillhouette ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Interpretasi Nilai Sillhouette
Silhouette Interpretasi
(1) (2)
0.71–1.00 Didapatkan struktur yang kuat.
0.51–0.70 Didapatkan struktur yang cukup.
0.26–0.50 Struktur lemah dan kemungkinan semu, coba untuk menggunakan metode tambahan.
≤ 0.25 Tidak ada struktur penting yang ditemukan.
Sumber: Kaufman dan Rousseeuw, 1990
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Klaster
Berdasarkan Scree Plot (Gambar 2), dengan menggunakan metode K-prototype clustering diperoleh tiga klaster optimal. Nilai Silhouette diperoleh sebesar 0,57 artinya klaster yang terbentuk adalah cukup (Kaufman dan Rousseeuw, 1990).
Gambar 2. Scree Plot
Sebesar 52,16 persen responden terklasterisasi ke dalam klaster 1. Dari sisi kesehatan, klaster 1 menggambarkan responden yang jarang menggunakan APD dan menjaga kebersihan. Mereka jarang menggunakan masker, jarang memakai sarung tangan, jarang menggunakan hand sanitizer atau disinfektan, dan jarang mencuci tangan selama 20 detik dengan sabun. Namun, anggota klaster ini selalu berusaha menerapkan protokol dalam ruang publik, meliputi selalu menghindari menyentuh wajah, menghindari berjabat tangan, menghindari pertemuan atau berdiri dalam antrian panjang, menghindari menyentuh benda di area publik, menghindari naik transportasi umum (termasuk transportasi online), dan menjaga jarak setidaknya 2 meter dari orang lain ketika keluar rumah. Klaster ini memiliki kondisi psikis kekhawatiran yang paling rendah terhadap New Normal jika dibandingkan dengan klaster yang lain. Anggota klaster 1 cenderung tidak akan segera memberitahu orang-orang di sekitar jika menunjukkan gejala sakit.
Dari sisi ekonomi, klaster 1 dicirikan dengan responden yang berpendapatan rata-rata kurang dari 1,8 juta per bulan dalam situasi normal. Mereka mengaku mengalami penurunan pendapatan pada bulan Juni. Sementara pengeluaran mereka mengalami peningkatan, khususnya pada pengeluaran bahan makanan, kesehatan, dan pulsa atau paket data. Dengan pendapatan dalam kondisi normal yang paling rendah dibandingkan klaster lain yang kemudian ini mengalami penurunan, disertai dengan pengeluaran yang naik menunjukkan kondisi ekonomi responden pada klaster ini sangat terdampak akibat Covid-19. Pada kondisi Juni, klaster 1 tidak memiliki tabungan.
Tabel 3. Hasil Analisis Klaster
Variabel Klaster 1 Klaster 2 Klaster 3
(1) (2) (3) (4)
X1 1,28 9,42 8,63
X2 0,39 4,26 2,63
X3 1,02 8,11 7,24
X4 1,14 8,68 7,77
X5 1,21 1,66 6,22
X6 1,03 1,48 7,34
X7 1,08 1,17 7,37
X8 1,21 0,98 7,50
X9 1,01 0,55 8,05
X10 1,11 1,23 7,53
X11 1,23 8,78 7,97
X12 2,66 3,50 3,34
X13 1 (<1,8 juta perbulan) 2 (≥1,8 juta perbulan) 2 (≥1,8 juta perbulan)
X14 1 (Turun) 2 (Tetap) 2 (Tetap)
X15 3 (Meningkat) 3 (Meningkat) 3 (Meningkat)
X16 3 (Naik) 2 (Sama saja) 2 (Sama saja)
X17 3 (Naik) 3 (Naik) 2 (Sama saja)
X18 3 (Naik) 3 (Naik) 3 (Naik)
X19 2 (Tidak ada) 1 (Ada) 2 (Tidak ada)
Klaster 2 dicirikan dengan responden yang sangat patuh dalam menerapkan protokol kesehatan, baik dalam menggunakan APD dan menjaga kebersihan, juga dalam menerapkan protokol dalam ruang publik. Klaster ini memiliki kekhawatiran paling tinggi terhadap New Normal jika dibandingkan dengan klaster yang lain. Mereka akan segera segera memberitahu orang-orang di sekitar jika menunjukkan gejala sakit. Kondisi ekonomi klaster 2 dicirikan dengan responden yang berpendapatan rata-rata di atas 1,8 juta per bulan dalam situasi normal, dan pendapatannya pada bulan Juni tetap. Dari sisi pengeluaran mengalami peningkatan, khususnya pada pengeluaran kesehatan dan pulsa atau paket data, sementara pengeluaran bahan pokok tetap. Peningkatan pada pengeluaran kesehatan menunjukkan kesadaran yang tinggi pada kondisi kesehatan.
Anggota klaster 2 mengaku memiliki tabungan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.
Dengan kekhawatiran terhadap New Normal di antara klaster 1 dan 2, anggota klaster 3 memiliki kepatuhan terhadap protokol kesehatan dalam menggunakan APD berupa masker dan selalu menjaga kebersihan. Anggota klaster ini akan segera memberitahu orang-orang di sekitar jika menunjukkan gejala sakit. Namun demikian, mereka jarang sekali menerapkan protokol dalam ruang publik. Mereka jarang menghindari menyentuh wajah, jarang menghindari berjabat tangan, jarang menghindari pertemuan atau berdiri dalam antrian yang panjang, jarang menghindari menyentuh benda di area publik, jarang menghindari naik transportasi umum (termasuk transportasi online), dan jarang menjaga jarak setidaknya 2 meter dari orang lain ketika keluar rumah. Bila dilihat kondisi ekonominya, anggota klaster ini tidak memiliki tabungan untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya. Dalam hal pendapatan, 45,7 persen responden pada klaster ini berpendapatan di bawah 1,8 juta per bulan dan 54,3 persen berpendapatan lebih dari di bawah 1,8 juta per bulan. Pendapatan dari 48,8 persen responden tetap pada bulan Juni, namun 47,3 persen lainnya mengalami penurunan pendapatan. Pengeluaran mereka mengalami peningkatan khususnya pada pengeluaran untuk pulsa atau paket data, sedangkan pengeluaran bahan makanan dan kesehatan tetap.
Berdasarkan kondisi kesehatan, ekonomi, dan persentase keanggotaan yang besar pada klaster 1, anggota klaster ini perlu menjadi perhatian khusus. Kondisi ekonomi klaster 1 merupakan yang paling tidak stabil di antara ketiga klaster. Kondisi ekonomi yang seperti ini menuntut seseorang untuk lebih mengutamakan peningkatan pendapatan dan dapat membuatnya mengesampingkan protokol kesehatan. Sebaliknya, kondisi ekonomi klaster 2 merupakan yang paling stabil di antara ketiga klaster. Anggota klaster ini sangat patuh terhadap protokol kesehatan. Kondisi ekonomi yang stabil menyebabkan tidak adanya kekhawatiran khusus dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, sehingga anggota klaster ini dapat lebih fokus dalam sisi kesehatannya.
Distribusi Karakteristik Demografi Responden Tiap Klaster Generasi Usia
Generasi Tradisionalis, Baby Boomers dan Generasi X sekarang berumur 40 tahun lebih. Usia ini termasuk pada kelompok rentan atau berisiko. Menurut Kementerian Kesehatan (2020) kasus Covid-19 paling banyak terjadi pada rentang usia 45-54 tahun. Dalam kebijakan New Normal, kelompok ini dihimbau untuk tidak beraktivitas di luar rumah. Dilihat dari distribusinya, ketiga generasi berisiko tersebut lebih dominan teranggotakan pada klaster 1. Klaster 1 dicirikan dengan kepatuhan yang cukup tinggi dalam penerapan protokol di ruang publik namun kepatuhan yang rendah dalam menggunakan APD dan menjaga kebersihan diri. Kondisi ini dapat disebabkan karena anggota klaster ini cenderung beraktivitas di rumah saja, sehingga kepatuhan terhadap protokol kesehatan dinilai responden kurang relevan dan dirasa tidak perlu. Meskipun hanya beraktivitas di rumah, mencuci tangan menggunakan sabun sangat penting, dan ini perlu menjadi perhatian pada tiga generasi ini.
Sementara itu, dominasi Generasi Millenial dan Generasi Z yang teranggotakan pada klaster 1 perlu menjadi perhatian. Jika melihat kondisi ekonomi klaster 1 yang paling tidak stabil maka Generasi Millenial pada klaster ini akan banyak beraktivitas di luar rumah, terutama untuk bekerja.
Perilaku jarang menggunakan APD dan menjaga kebersihan ketika hanya beraktivitas di rumah saja pada awal pandemi, perlu dibenahi ketika menghadapi New Normal.
Tabel 4. Keterkaitan Hasil Klaster dengan Generasi Usia Responden Klaster Tradisionalis Baby Boomers Gen-X Millenial Gen-Z
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 100 50 61,07 49,14 48,31
2 0 33,33 21,37 24,74 21,35
3 0 16,67 17,56 26,12 30,34
Jumlah 100 100 100 100 100
Pendidikan dan Status Pekerjaan
Jika dilihat pada Tabel 5, lebih dari 60 persen responden yang berpendidikan kurang dari SMA terklasterisasi pada klaster 1. Persentase ini lebih besar dibandingkan responden yang berpendidikan SMA ke atas yang terkelompokkan pada klaster 1. Maka, semakin tinggi tingkat pendidikan bersesuaian dengan semakin tingginya kesadaran terhadap protokol kesehatan.
Namun, untuk responden berpendidikan SMA ke atas, tingkat pendidikan yang dinilai sebagai standard minimal pendidikan ‘baik’ di Indonesia, angka yang mencapai setengah dari responden ini masih perlu menjadi perhatian, mengingat karakteristik klaster 1 yang jarang menggunakan APD dan menjaga kebersihan. Padahal responden dari survei yang menjadi sumber data penelitian ini lebih banyak menjangkau kalangan berpendidikan SMA ke atas. Jika kalangan ini saja demikian rendah kepatuhannya terhadap protokol kesehatan, lalu bagaimana dengan kondisi masyarakat Pemalang sebenarnya? Di mana berdasarkan data BPS Kabupaten Pemalang (2020), pada tahun 2019 sebesar 77,88 persen dari penduduk berusia 15 tahun ke atas di Kabupaten Pemalang berpendidikan di bawah SMA.
Tidak bekerja berarti aktivitasnya di luar rumah lebih kecil dibandingkan yang bekerja/berusaha. Dengan karakteristik klaster 1 yang demikian, kelompok ini perlu peningkatan kesadaran untuk lebih sering menjaga kebersihan dengan mencuci tangan atau menggunakan handsanitizer. Kepatuhan menggunakan APD dan menjaga kebersihan diri menjadi lebih penting bagi mereka yang bekerja dan beraktivitas di luar rumah. Jika dirinci berdasarkan status pekerjaannya, lebih dari 60 persen responden yang bekerja/berusaha baik di sektor formal maupun informal terklasterisasi ke klaster 1–ini perlu menjadi perhatian. Pada responden yang berpendidikan SMA ke atas, persentase responden yang bekerja di sektor formal yang terklasterisasi pada klaster 1 merupakan yang terkecil dibandingkan dengan yang bekerja di sektor informal dan yang tidak bekerja. Hal ini berkaitan dengan peraturan protokol kesehatan pada
sektor formal lebih ketat diterapkan. Meskipun demikian, 45 persen bukanlah angka yang kecil untuk dianggap tidak terjadi masalah.
Tabel 5. Keterkaitan Hasil Klaster dengan Generasi Usia Responden
Klaster <SMA SMA ke atas
Sektor
Informal Sektor
Formal Tidak
Bekerja Sektor
Informal Sektor
Formal Tidak Bekerja
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 65 64,29 62,96 55,38 46,75 59,79
2 25 21,43 22,22 24,62 26,30 14,43
3 10 14,29 14,81 20,00 26,95 25,77
Jumlah 100 100 100 100 100 100
KESIMPULAN
Secara umum, pengaktifan kembali aktivitas perekonomian melalui pemberlakuan New Normal di Kabupaten Pemalang belum dibarengi dengan kepatuhan yang tinggi pada protokol kesehatan.
Dari hasil analisis klaster, terdapat pola tertentu antara kondisi ekonomi dan kesehatan responden dalam menanggapi New Normal. Klaster 1 dicirikan oleh responden dengan kondisi ekonomi yang terdampak Covid-19 cenderung mengabaikan protokol kesehatan. Dominasi responden berada pada klaster ini sehingga perlu perhatian bersama. Sebaliknya, klaster 2 dicirikan dengan responden yang berada pada kondisi ekonomi yang paling stabil dan memiliki kepatuhan pada protokol kesehatan yang lebih tinggi. Responden ini tidak dikhawatirkan oleh kondisi ekonominya sehingga lebih fokus dalam mengkhawatirkan kondisi kesehatannya. Sementara sisanya, klaster 3 dicirikan oleh responden yang patuh terhadap sebagian protokol kesehatan dengan kondisi ekonomi yang cukup stabil.
Setelah hasil analisis klaster dihubungkan dengan beberapa variabel demografi, diperlukan upaya peningkatan kesadaran penerapan protokol kesehatan. Bagi Generasi Millenial dan Generasi Z yang akan banyak beraktivitas di luar rumah pada masa New Normal, diperlukan peningkatan kesadaran dalam menggunakan APD dan menjaga kebersihan. Lebih dari setengah pekerja sektor informal terkelompokkan ke klaster 1. Jangankan pekerja informal, lebih dari 45 persen responden berpendidikan SMA ke atas yang bekerja di sektor formal pun terklasterisasi pada klaster 1. Tidak mengherankan jika terjadi lonjakan kasus positif di Pemalang dari lingkungan perkantoran.
DAFTAR PUSTAKA
BPS Kabupaten Pemalang. (2020). Kabupaten Pemalang dalam Angka 2020. Pemalang: BPS Kabupaten Pemalang.
Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang. (2020). Data Kasus Positif Covid-19. Diakses melalui http://infocorona.pemalangkab.go.id [16 September 2020].
Direktorat Ketenagakerjaan dan Analisis Ekonomi BAPPENAS. (2008). Studi Profil Pekerja di Sektor Informal
dan Arah Kebijakan ke Depan. Diakses melalui
https://www.bappenas.go.id/files/4213/5027/5937/13profil-pekerja-di-sektor-informal-dan-arah- kebijakan-ke-depan__20081123002641__12.pdf [16 September 2020].
Kaufman, L. dan Rousseeuw, P.J. (1990). Finding Groups in Data: An Introduction to Cluster Analysis. New York: Wiley.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Diaseases (COVID-19).
Lin, Z. dan Meissner, C.M. (2020). Health Vs. Wealth? Public Health Policies And The Economy During Covid- 19. NBER Working Paper Series No 27099.
Madhuri R., et al. (2014). Cluster Analysis on Different Data Sets Using K-Modes and K-Prototype Algorithms, in: Satapathy S., et al (eds). ICT and Critical Infrastructure: Proceedings of the 48th Annual Convention of Computer Society of India- Vol II. Advances in Intelligent Systems and Computing249, 137-144.
Peraturan Bupati Kabupaten Pemalang. (2020). Pedoman Tatanan Normal Baru pada Kondisi Pandemi Corona Virus Disease 2019 di Kabupaten Pemalang. Peraturan Bupati Kabupaten Pemalang Nomor 28 Tahun 2020. Bupati Kabupaten Pemalang: Pemalang.
Pragholapati, A. (2020). New Normal “Indonesia” After Covid-19 Pandemic. PsyArXiv.
Rousseeuw, P.J. (1987). Silhouettes: a Graphical Aid to the Interpretation and Validation of Cluster Analysis.
Computational and Applied Mathematics 20, 53–65.