KASUS PETERNAKAN BIN DAHLAN SAWANGAN
BARU DEPOK)
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Oleh :
Thias Anugrah Bintang Putradi 11140340000034
PROGRAM STUDI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2021 M /1442 H
iii
KASUS PETERNAKAN BIN DAHLAN SAWANGAN
BARU DEPOK)
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Oleh:
Thias Anugrah Bintang Putradi NIM: 11140340000034
Pembimbing
Dr. Eva Nugraha, M.Ag. NIP: 19710217 199803 1 002
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
v dc
PENGESAHAN SIDANG MUNAQASYAH
Skripsi yang berjudul KHATAMAN AL-QUR'AN DI PETERNAKAN (STUDI KASUS PETERNAKAN BIN DAHLAN SAWANGAN BARU DEPOK) telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 26 Juli 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag) pada Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
Jakarta, 6 Agustus 2021 Sidang Munaqasyah
Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota,
Dr. Ahmad Fudhaili, M.Ag Fahrizal Mahdi, Lc., MIRKH NIP. 19740510 200501 1 009 NIP. 19820816 201503 1 004
Anggota,
Penguji I, Penguji II,
Drs. H. Ahmad Rifqi Muchtar, M.A Hasanuddin Sinaga, M.A NIP. 19690822 199703 1 002 NIP. 19701115 199703 1 002
Pembimbing,
Dr. Eva Nugraha, M.Ag NIP. 19710217 199803 1 002
vii Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Thias Anugrah Bintang Putradi NIM : 1114034000034
Fakultas : Ushuluddin
Jurusan/Prodi : Ilmu al-Qur’an dan Tafsir
Judul Skripsi : Khataman Al-Qur’an di Peternakan (Studi Kasus Peternakan Bin Dahlan Sawangan Baru Depok)
Dengan ini menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan merupakan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 15 Juli 2021
Thias Anugrah Bintang NIM 11140340000034
ix
Thias Anugrah Bintang P, Khataman Al-Qur’an di Peternakan (Studi Kasus Peternakan Bin Dahlan Sawangan Baru Depok).
Skripsi ini menjelaskan tentang keunikan tradisi khataman al-Qur’an yang berlangsung di Peternakan Bin Dahlan. Pada umumnya khataman al-Qur’an dilaksanakan di masjid, musala, dan rumah-rumah. Akan tetapi, ada keunikan pada tempat yang penulis teliti, yakni khataman dilaksanakan di peternakan. Pemilik peternakan mengklaim bahwa kegiatan khataman bukan saja berpengaruh pada pribadi yang melakukannya, tetapi pada usaha yang dikelolanya. Selanjutnya, skripsi ini ingin membuktikan apakah membaca al-Qur’an bisa memberikan manfaat kepada pembaca.
Skripsi ini merupakan penelitian lapangan (field research). Data yang digunakan adalah hasil wawancara dan observasi pada pengelola dan santri-santri yang mengikuti kegiatan khataman tersebut didukung dengan dokumentasi kegiatan. Kemudian data dianalisis dengan pendekatan kualitatif, mulai dari koding data, deskripsi hasil koding, dan klasifikasi.
Pada penelitian ini, penulis mengklasifikasi motivasi dan tujuan informan menjadi tiga kelompok, material, imaterial, dan spiritual. Adanya manfaat yang didapat informan, penulis mengklasifikasikan manfaat menjadi tiga tingkatan, hasil langsung, berkala, dan istiqamah. Dari relasi tujuan dan manfaat, penulis mendapatkan hasil bahwa tujuan dan motivasi yang paling baik adalah spiritual yang semata-mata diniatkan untuk mencari berkah. Dalam hal ini dibahasakan dengan
ngalap berkah. Kemudian dari tingkatan manfaat yang penulis analisis,
penulis mendapatkan kesimpulan bahwa kuantitas seseorang dalam berinteraksi dengan al-Qur’an dan kualitas niat yang menjadi tujuan sangat berpengaruh terhadap manfaat yang didapat.
xi
Segala puji dan syukur bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang telah memberikan kemampuan kepada penulis, sehingga berkat rahmat dan kasih sayang-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Selawat dan salam hanya tercurah kepada baginda Nabi Muhammad
Ṣallāhu ‘Alaihi wa Sallam yang telah mendobrak pintu kebatilan dan
kezaliman menuju kemerdekaan.
Adapun judul skripsi ini “Khataman Al-Qur’an di Peternakan (Studi Kasus Peternakan Bin Dahlan Sawangan Baru Depok”, penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar Sarjana Agama di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Atas dukungan dan kontribusi dari beberapa pihak, baik moril maupun material. Penulis merasa berhutang budi dan tidak mampu membalasnya. Maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Amany Lubis, MA., rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memimpin dan mengelola penyelenggaraan pendidikan sebagaimana mestinya.
2. Dr. Yusuf Rahman, MA., dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, beserta staf pembantu dekan, yang telah mengkoordinasi penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat di fakultas.
3. Dr. Eva Nugraha, M. Ag., Ketua Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir juga Fahrizal Mahdi, Lc. MIRKH., selaku Sekretaris Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, yang selalu memfasilitasi, ikhlas, memberikan contoh yang baik dan tak pernah lelah memotivasi,
semoga Allah membalas kebaikan beliau dan memberikan keberkahan.
4. Dr. Eva Nugraha, M. Ag., dosen pembimbing skripsi yang selalu sabar membimbing penulis, untuk beliau semoga Allah swt memberikan keberkahan dan menambahkan ilmunya.
5. Dr. Atiyatul Ulya, M.Ag., pembimbing akademik yang telah memberikan saran-saran ataupun arahan selama penulis duduk dibangku perkuliahan.
6. Segenap jajaran dosen dan civitas akademik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu tanpa mengurangi rasa hormat, khususnya program studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir yang ikhlas, tulus dan sabar untuk mendidik kami agar menjadi manusia yang berakhlak mulia dan berintelektual.
7. Keluarga besar, Mbah, Bude, Mas-mas. Penulis ucapkan terima kasih atas bantuan serta dukungan dan perhatian. Untuk keluarga besar Tangerang selatan, Jakarta, dan Semarang, terima kasih telah mendoakan, semoga kita menjadi pribadi yang saleh dan salehah serta membanggakan kedua orang tua dengan ilmu yang kita dapat. 8. Keluarga besar Peternakan Bin Dahlan Sawangan Baru Depok yang
sudah memberi izin penulis melakukan penelitian. Penulis ucapkan beribu terima kasih. Semoga silaturahmi semakin erat.
9. Teman-teman seperjuangan dan senasib Tafsir-Hadits angkatan 2014, Fakultas Ushuluddin. Dalam hal ini penulis ucapkan terima kasih, telah menerima sebagai teman dan membantu dalam segala hal, bahkan dalam penulisan skripsi ini. Semoga pertemanan kita ini tak lekang dimakan waktu.
10. Rekan sejawat KKN PESONA, Markas Betmen, Keluarga Kang Kambing dan Sapi, Strolling-strolling, Viroke.id. Penulis ucapkan beribu terima kasih atas doa dan dukungannya.
Teruntuk kedua orang tua ayahanda Pambudi dan ibunda Tri Astuti Handayani, yang tak terhitung jasa mereka berdua serta telah sepenuh jiwa dan raganya yang selalu menyemangati dan mendukung baik moril maupun material, yang tidak pernah menuntut apa pun serta tak henti-hentinya mengirimkan doa kepada penulis hingga akhir hayatnya. Semoga Allah balas kebaikan mereka seperti mereka merawat anak-anaknya dengan sepenuh hati.
Jakarta, 15 Juli 2021
Thias Anugrah Bintang NIM: 11140340000034
xv
Pedoman Transliterasi Arab Latin yang merupakan hasil keputusan bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Nomor: 158 Tahun 1987 dan Nomor 0543b/u/1987. Adapun perinciannya sebagai berikut:
A. Konsonan
Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Arab Latin Keterangan
ا Tidak dilambangkan tidak dilambangkan
ب b be
ت t te
ث ṡ es (dengan titik di atas)
ج j je
ح ḥ ha (dengan titik di bawah)
خ kh ka dan ha
د d de
ذ ż zet (dengan titik di atas)
ر r er
ز z zet
س s es
ش sy es dan ye
ص ṣ es (dengan titik di bawah)
ض ḍ de (dengan titik di bawah)
ط ṭ te (dengan titik dibawah)
ظ ẓ zet (dengan titik di bawah)
غ g ge ف f ef ق q qi ك k ka ل l el م m em ن n en و w w ه h ha ء ’ apostrop ي y ye
Hamzah (ء) yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apapun, jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda (’).
B. Tanda Vokal
Vokal dalam bahasa Arab-Indonesia terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau disebut dengan diftong, untuk vokal tunggal sebagai berikut:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
َ ا Fatḥah a a
ِا Kasrah i i
َ ا Ḍammah u u
Adapun vokal rangkap sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan ﹷ
ي ai a dan i
ﹷ
Dalam Bahasa Arab untuk ketentuan alih aksara vokal panjang (mad) dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
اى ā a dengan garis di
atas
يى ī i dengan garis di atas
وى ū u dengan garis di
atas
C. Kata Sandang
Kata sandang dilambangkan dengan (al-) yang diikuti huruf:
syamsiyah dan qamariyah.
Al-Qamariyah ُرْيِنُملا Al-Munīr
Al-Syamsiyah ُلاَج ِ رلا Al-Rijāl
D. Syaddah (Tasydid)
Dalam bahasa Arab syaddah utau tasydid dilambangkan dengan ketika dialihkan ke bahasa Indonesia dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah, akan tetapi, itu tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah terletak setel kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah.
Al-Qamariyah ُةِ وُقْلا Al-Quwwah
Al-Syamsyiyah ُة َر ْو ُرَّضلا Al-Ḍarūrah
E. Ta Marbūṭah
Transliterasi untuk ta marbūṭah ada dua, yaitu: ta martujah yang hidup atau mendapat harakat fathah, kasrah dan dammah, transliterasi adalah (t), sedangkan ta marbūṭah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah (h), kalau pada kata yang berakhir dengan
ta marbūtah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al-ser bacaan yang kedua kata itu terpisah, maka ta marbūṭah ditransliterasikan dengan ha (h) contoh:
No Kata Arab Alih Aksara
1 ُةَقْي ِرَّطلا Ṭarīqah
2 ُةَّيِم َلَْسِ ْلْا ُةَعِماَجْلا Al-Jāmi’ah al-Islāmiah
3 ِد ْوُج ُوْلا ُةَدْح َو Waḥdat al-Wujūd
F. Huruf Kapital
Penerapan huruf kapital dalam alih aksara ini juga mengikuti Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yaitu, untuk menuliskan permulaan kalimat, huruf awal Nama tempat, nama bulan nama din dan lain-lain, jika Nama diri didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf capital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya.
Contoh: Abu Hamid, al-Gazali, al-Kindi.
Berkaitan dengan penulisan nama untuk nama-nama tokoh yang berasal dari Indonesia sendiri, disarankan tidak dialih aksarakan meskipun akar katanya berasal dari bahasa Arab, misalnya ditulis Abdussamad al-palimbadi, tidak “Abd al-Samad al-Palimbani. Nuruddin al-Raniri, tidak Nur al-Din al-Raniri.
G. Penulisan Kata Arab yang Lazim digunakan dalam Bahasa Indonesia
Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata, istilah atau kalimat yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia, Kata, istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari pembendaharaan bahasa Indonesia, atau sudah sering ditulis dalam tulisan bahasa Indonesia, tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di
atas, Misalnya kata Al-Qur’ān (dari al-Qur’ān), Sunnah, khusus dan umum, namun bila mereka harus ditransliterasi secara utuh.
Contoh: Fī Zilāl Qur’an, Al-‘Ibarat bi ‘umūm lafz la khusūs
xxi
KATA PENGANTAR ... xi
PEDOMAN TRANSLITERASI... xv
DAFTAR ISI ... xxi
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah ... 9
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
D. Tinjauan Pustaka... 10
E. Metodologi Penelitian... 16
F. Sistematika Penelitian... 22
BAB II ... 25
GAMBARAN UMUM TENTANG KHATAMAN AL-QUR’AN... 25
A. Deskripsi Kegiatan Khataman Al-Qur’an ... 25
B. Hadis-hadis tentang Khataman ... 26
C. Adab dan Kiat-kiat Khataman Al-Qur’an ... 32
D. Resepsi Praktik-praktik Khataman Al-Qur’an di Indonesia ... 36
BAB III ... 45
GAMBARAN UMUM DAN PRAKTIK KHATAMAN AL-QUR’AN PETERNAKAN BIN DAHLAN SAWANGAN DEPOK ... 45
A. Gambaran Umum Peternakan Bin Dahlan Sawangan Depok ... 45
1. Sejarah Peternakan Bin Dahlan ... 45
2. Profil Peternakan ... 48
a. Kegiatan Santri... 53 b. Data Informan ... 54 BAB IV ... 57 PELAKSANAAN DAN PEMAKNAAN KHATAMAN AL-QUR’AN DI PETERNAKAN BIN DAHLAN... 57
A. Praktik Kegiatan Khataman al-Qur’an ... 57 1. Tujuan dan Motivasi Khataman ... 57 2. Praktik Khataman... 65 3. Kelengkapan Sarana dan Pra Sarana... 69 1) Tujuan dan Motivasi Membaca al-Qur’an ... 71 2) Intensitas dalam Membaca al-Qur’an ... 73 3) Pemahaman atas al-Qur’an ... 75 B. Manfaat Khataman ... 83 1. Manfaat Langsung ... 85 2. Manfaat Tidak Langsung ... 87 3. Relasi Tujuan dan Manfaat Khataman pada Pembacanya ... 93 4. Manfaat Khataman Bagi Peternakan ... 103 BAB V PENUTUP ... 107 A. Kesimpulan ... 107 B. Saran ... 107 DAFTAR PUSTAKA ... 109
xxiii
Tabel 3.4: Kegiatan Santri/ Informan ... 52 Tabel 3:5: Data Informan ... 53 Tabel 4.3: Tujuan dan Motivasi Khataman al-Qur’an ... 70 Tabel 4.4: Manfaat Khataman al-Qur’an ... 80 Tabel 4.5: Relasi Tujuan dan Manfaat Bagi Pembaca ... 91
xxv
Bagan 1.1: Pengolahan Data ... 20 Diagram 4.1: Intensitas Membaca dalam Seminggu ... 57 Diagram 4.2: Pemahaman Santri Atas al-Qur’an ... 60
1
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Khatam al-Qur’an adalah selesai, atau habis.1 Sedangkan khatam
menurut ensiklopedia Islam, khatam juga berarti akhir.2 Khatam menurut
istilah berarti tuntas dalam membaca al-Qur’an dari awal sampai akhir, entah berapa lamanya dengan disimak oleh guru agar dapat keberkahan selain agar bacaannya teruji baik dan benar.3 Sedangkan menurut Supian,
khatam al-Qur’an adalah menyelesaikan membaca al-Qur’an dari awal sampai akhir, dan sering juga dipahami sebagai titik akhir selesainya membaca al-Qur’an.4 Khataman al-Qur’an menurut Abi Zakariya Yahya
yakni, membaca al-Qur’an secara bersama-sama, dapat dengan cara setiap orang dibagi 10 juz atau satu juz, atau pembagian semacamnya. Atau dengan cara orang membaca dan yang lainnya menyimak bergantian secara terus menerus.5
Dari berbagai pengertian di atas penulis menyimpulkan pengertian khatam al-Qur’an adalah membaca al-Qur’an dari awal surat al-Fatihah sampai surat al-Nās, dengan kata lain membaca al-Qur’an sebanyak 30 juz, 114 surat, dan 6326 ayat dalam waktu tertentu. Sejak dulu di Indonesia dalam kehidupan masyarakatnya setiap peristiwa yang dianggap penting biasanya diperingati dengan berbagai upacara. Kebiasaan ini hidup, berkembang dan dilestarikan secara turun-temurun
1 Daryanto, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap (Surabaya: Apollo, 1991), 364. 2 Departemen Pendidikan Nasional, Ensiklopedia Islam, cet IV (Jakarta: PT.
Ichtiar Baru van Hoeven, 1993), 44.
3 Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai
al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2004), 84.
4 Supian, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Praktis (Jambi: Gaung Persada Press, 2012),
182.
5 Abi Zakariya Yahya Asy Syafi’I, At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an (Jedah:
oleh masyarakat yang bisa disebut dengan tradisi. Termasuk tradisi upacara khataman al-Qur’an.
Tradisi khataman al-Qur’an di Indonesia memiliki banyak penyebutan. Misalnya, Mappanre Temme6 pada masyarakat Bugis Sinjai dan Khataman Nepton7 pada masyarakat Treko Magelang. Di pesantren
tentu kegiatannya didominasi dengan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan al-Qur’an, seperti tahsin dan khataman al-Qur’an, baik secara
sorogan8, simaan9, deresan10, muqaddaman11.
Tradisi khataman al-Qur’an juga banyak dijumpai dalam acara kematian dengan cara orang-orang bergantian membaca al-Qur’an sampai tamat 30 juz baik bersamaan atau bergantian. Tujuan diadakannya khataman di sini adalah mendoakan untuk orang yang
6 Mappanre Temme berasal dari dua kata yaitu Mappanre dalam bahasa Bugis
berarti memberi makan, sedangkan Temme adalah orang yang tamat mengaji atau khatam al-Qur’an. Mappanre Temme adalah sebuah prosesi yang memberikan apresiasi kepada anak laki-laki dan perempuan yang telah taman mengaji atau khatam al-Qur’an.
7 Khataman Nepton berasal dari dua kata yaitu Khataman dan Nepton.
Khataman berasal dari bahasa Arab yang berarti telah selesai. Nepton berasal dari
Bahasa Jawa yaitu Naptu yang berarti angka-angka pada hari, bulan tahun menurut perhitungan Jawa. Jadi Khataman Nepton adalah terlah selesainya dibacakan surat-surat dalam al-Qur’an pada hari, bulan, tahun kelahiran anak, menurut perhitungan angka-angka Jawa.
8 Sorogan adalah suatu metode dimana santri menghadap guru atau kyai seorang
demi seorang dengan membawa al-Qur’an/kitab yang akan dibaca atau dipelajarinya. Istilah sorogan berasal dari kata sorog (jawa) yang berarti menyodorkan kitab ke depan kyai/guru.
9 Simaan merupakan serapan dari bahasa Arab yang akar katanya memuliki arti
“mendengarkan”. Bisa diartikan juga dengan memperdengarkan hasil hafalan kepada orang lain. Dari sini muncul istilah sima’-simaan, yang berarti saling memperdengarkan hasil hafalan satu sama lain.
10 Deresan ialah aktifitas berupa menjaga hasil hafalan al-Qur’an. Kegiatan ini
dala bentuk informal dilakukan secara indivindu dan berpasangan, dan dalam bentuk formal dilakukan secara berpasangan.
11 Istilah ini biasa disebut masyarakat kalangan pesantren sebagai khataman
al-Qur’an. artinya membaca al-Qur’an dari juz 1-30 dan dilakukan minimal 2 orang dengan cara membaginya secara merata dan dilakukan secara bersamaan. Misalnya orang pertama membaca juz 1-15 dan orang kedua 16-30, memulainya bersamaan dan menutup dengan doa bersmaan.
sudah meninggal dengan tujuan fidiyah (memohon ampunan untuk si mayat).
Khataman al-Qur’an juga diadakan dalam acara pernikahan. Contohnya seperti yang dilakukan masyarakat Desa Teluk Tigo. Tradisi khataman al-Qur’an dalam pernikahan di Desa Teluk Tigo ialah suatu adat kebiasaan yang telah mengakar yang diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun. Tradisi semacam ini hukumnya wajib dilaksanakan baik dalam kondisi bagaimanapun, karena tradisi ini adalah harga mati untuk dilaksanakan oleh setiap calon mempelai yang akan melangsungkan pernikahan.12
Model dalam khataman al-Qur’an yang penulis temukan ada 2 (dua) cara, pertama dengan cara satu persatu. Satu orang membaca satu juz dan bergantian dengan orang berikutnya sampai juz 30 selesai. Kedua dengan cara bersamaan, semua orang berjamaah menyelesaikan bacaan dengan bersama-sama sesuai pembagiannya. Penulis juga menemukan khataman via aplikasi, maksudnya memanfaatkan teknologi yang ada. Jadi, walaupun tidak berkumpul di satu tempat, khataman tetap berjalan dengan lancar dan terstruktur pembagian perjuznya. Misalnya yang dilakukan di Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dan komunitas One Day One Juz.
Kehidupan sekarang adalah kehidupan yang serba praktis. Semakin manusia mengetahui suatu ilmu dan sistem, pada akhirnya mereka akan menciptakan suatu hal agar menjadi lebih praktis lagi. Membaca al-Qur’an misalnya, bangkitnya semangat muslim sekarang untuk membaca sudah tersebar begitu luas. Menurut Sebagian orang, mereka berpikir bahwa mereka tidak ingin kalah dari adanya gadget yang
12 Muhammad Syukri Albani Nasution, Ilmu Sosial Budaya Dasar (Jakarta:
sekarang dibawa ke mana-mana dan dimana-mana. Di akhir tahun 2013 dua orang muslim bernama Ricky Adrinaldi dan Fatah Yasin atas kesadaran dan kepeduliannya terhadap muslim sekarang, mereka menyebar luaskan dan mempublikasikan adanya program one day one
juz.13 Dengan cara mereka membentuk grup whatsapp, awalnya begitu susah untuk melengkapi grup supaya lengkap 30 orang, namun mereka berdua tidak lelah dan terus berusaha mengajak teman-teman yang memiliki ketertarikan membaca al-Qur’an. hingga akhirnya setelah empat minggu grup terbentuk jumlah anggota lengkap 30 orang.
Program one day one juz tersebut setiap hari satu orang harus menyelesaikan bacaan al-Qur’an satu juz dan itu sudah terbagi-bagi dalam kelompok kecil yang berisi 30 orang. Jadi dengan program ODOJ, seseorang dapat dengan santai menggunakan waktu luang mereka dengan hal yang bermanfaat, yaitu ikut serta membaca al-Qur’an dimanapun dan kapanpun.
Namun yang terjadi di Peternakan Kandang Embek H. Dwi Susanto Desa Cicadas adalah anak-anak yatim yang tinggal di sekitar peternakan dengan semangat mengikuti kegiatan khataman berjamaah di masjid yang didirikan oleh H. Dwi Susanto selaku pemilik peternakan. Kegiatan khataman dilakukan secara serentak (bersama-sama) yang disebut juga sebagai khataman berjamaah. Akan tetapi tidak semua anak yatim melakukan khataman, karena kemampuan membaca al-Qur’an yang berbeda-beda. Maka dari itu, pihak peternakan juga menyediakan guru-guru mengaji untuk mengajari anak-anak yang belum mahir dalam membaca al-Qur’an.
13 Odoj, “Sejarah One Day One Juz, sebelum menjadi Komunitas,” Diakses, 13
Kegiatan khataman ini dilakukan anak-anak yatim setiap hari dan hampir 24 jam dibawah bimbingan guru/ustaz. Anak yatim yang datang ke peternakan ini khusus yang usianya di bawah 10 tahun. Jadi, anak yatim mengaji di peternakan ini datang sehabis mereka pulang sekolah. Jika mereka mengaji dari selesai pulang sekolah sampai jam 3 sore, mereka mendapat uang 10 ribu. Jika mereka mengaji sampai jam 6 sore, mereka mendapat 20 ribu. Jika mereka mengaji sampai jam 9 malam, mereka mendapat 30 ribu. Jika mereka mau menginap dan melakukan salat tahajud, mereka mendapat 50 ribu. Jadi, kalau mereka mengaji dari sepulang sekolah sampai jam 9 malam dan lanjut salat tahajud, mereka diberi uang 80 ribu. Jadwal makan 3 kali disediakan oleh pihak peternakan. Tapi semua itu tidak ada paksaan dan pihak guru dan ustaz juga tidak memberatkan anak yatim.
Tradisi khataman yang terdapat di Peternakan Kandang Embek H. Dwi Susanto dirintis sejak tahun 2000. Anak yatimnya pada saat itu masih sedikit dan hewan peliharaannya pun hanya 9 ekor kambing betina dan 1 ekor kambing jantan. Karena niat awal H. Dwi adalah khusus peternakan susu perah. Menurutnya dengan lantunan ayat al-Qur’an yang diperdengarkan langsung ke hewan ternaknya, bisa menjadikan susu kambingnya tidak bau prengus seperti susu kambing pada umumnya. Lantunan ayat suci al-Qur’an menjadi relaxasi bagi hewan ternak yang ada di sekitarnya.
Pada survei pertama, penulis mendapatkan info-info seputar kegiatan yang ada di peternakan ini dan di respons dengan baik. Seperti penulis diizinkan berkeliling peternakan dan mengikuti langsung kegiatan pengajian yang sedang diselenggarakan. Akan tetapi pada survei kedua yang dilaksanakan pada tanggal 1 April 2021, penulis
mendapat penolakan dari pihak peternakan dengan alasan tingkat penyebaran virus Covid-19 meningkat.
Kemudian penulis memutuskan untuk mencari tempat penelitian yang memiliki kesamaan dengan tema yang penulis kaji. Hingga akhirnya penulis mendapatkan informasi mengenai suatu tempat yang memiliki kesamaan dengan tempat sebelumnya. Tempat itu bernama, Peternakan Bin Dahlan yang terletak di Kecamatan Sawangan Baru Depok. Kesamaan tersebut dari segi usaha yang dijalankan dan kegiatan khataman yang dilakukan.
Ketika penulis melakukan observasi pertama, penulis menemukan kesamaan dan perbedaan dengan lokasi penelitian sebelumnya. Di antara kesamaannya, yakni pada bidang usaha yang dijalankan dan kegiatan yang dilakukan. Adapun perbedaannya yaitu pelaksanaan kegiatan khataman di tempat ini diikuti oleh masyarakat umum dan tidak terbatas atas golongan tertentu.
Pelaksanaan kegiatan khataman yang dilaksanakan pada Peternakan Bin Dahlan, dilakukan dengan dua metode. Pertama, dengan cara membaca serempak, setiap orang dibagi per-juz dan dibaca secara bersama-sama. Kedua, dengan cara bergantian satu persatu. Kegiatan ini dilakukan setiap malam Jumat secara rutin di setiap minggunya dan menjelang hari-hari besar Islam, khususnya pada perayaan hari raya Idul Adha. Pemilik peternakan, berpendapat bahwa dengan adanya kegiatan khataman yang dilaksanakan di peternakannya ini berpengaruh terhadap hasil penjualan dan kesehatan hewan-hewan ternaknya.14
Lazimnya, fungsi khataman al-Qur’an dikaitkan oleh masyarakat Indonesia sebagai rasa syukur, mencari keselamatan dunia dan akhirat,
14 Rengga Al-Pandi (Pemilik Peternakan Bin Dahlan Sawangan Baru Depok),
memotivasi pengaplikasian nilai-nilai syariah yang terkandung di dalamnya, memohon ampunan untuk mayat, dan lain-lain.
Seperti yang dibahas oleh Rapiq Hairiri15, dia membahas khataman
al-Qur'an pada pasangan pengantin yang bertujuan agar pengantin bisa mengaplikasikan nilai-nilai Syariah yang ada di al-Qur’an dalam kehidupan rumah tangga. Teti Fatimah16, dia membahas sima’an
khataman al-Qur’an yang bermakna sebagai doa untuk orang yang sudah meninggal dunia yang didasari oleh keberkahan, manfaat, dan keutamaan-keutamaan dari pembacaan al-Qur’an secara berkhatam-khatam. Jadi hal itu membawa keberkahan untuk mendiang dan juga untuk masyarakat. Anton Syarif Hidayat17, menurutnya membaca
al-Qur’an bagi siswa mempunyai fungsi sebagai motivasi religius dan terbiasa mengamalkan makna yang terkandung di dalam al-Qur’an untuk kehidupan sehari-hari.
Keunikan dari penelitian yang penulis bahas ini adalah khataman al-Qur’an berkaitan dengan perekonomian. Awalnya pemilik peternakan Rengga al-Pandi, mempunyai 2 ekor kambing betina, sekarang berkembang menjadi peternakan yang lumayan besar dan memiliki hewan ternak dari berbagai macam jenis. Niat awalnya beternak kambing, sekarang sudah bisa menambah hewan-hewan lainnya seperti sapi, ayam, bebek, dan entok. Itulah yang membedakan penelitian penulis dengan penelitian yang sebelumnya.
15 Rapiq Hairiri, “Tradisi Khataman Al-Qur’an Pasangan Pengantin pada Acara
Pernikahan di Desa Teluk Tigo Kecamatan Cermin Nan Gedang Kabupaten Saeolangun Provinsi Jambi (Kajian Studi Living Qur’an)”, (Skripsi, UIN Jambi, 2021).
16 Teti Fatimah, “Sima’an Khataman Al-Qur’an untuk Keluarga Mendiang
(Studi living Qur’an di Desa Tinggarjaya, Sidareja, Cilacap, Jawa Tengah)”, (Skripsi, UIN Yogyakarta, 2017).
17 Anton Syarif Hidayat, “Pelaksanaan Program Membaca Al-Qur’an di SMA
Dalam penelitian ini, untuk mengungkap pemaknaan khataman al-Qur’an serta bagaimana prosesi khataman berlangsung, maka peneliti menggunakan kajian living Qur’an. Living Qur’an adalah kajian atau penelitian tentang berbagai peristiwa sosial dan terkait dengan kehadiran keberadaan al-Qur’an di komunitas muslim tertentu.18 Living Qur’an
juga salah satu kajian yang menangkap berbagai pemaknaan atau resepsi masyarakat terhadap al-Qur’an. fenomena yang hidup di tengah masyarakat muslim terkait dengan al-Qur’an sebagai objek studi, itulah yang dijadikan model living Qur’an.19
Melihat hubungan antara al-Qur’an dan masyarakat Islam serta bagaimana al-Qur’an itu sikapi secara teoritik maupun di praktikan secara memadai dalam kehidupan sehari-hari (Living Qur’an). Dengan demikian, Living Qur’an adalah studi tentang al-Qur’an, tetapi tidak bertumpu pada ekstitensi tekstualnya, melainkan studi tentang fenomena sosial yang terkait dengan kehadiran al-Qur’an.20
Upaya untuk membuat hidup dan menghidup-hidupkan al-Qur’an oleh masyarakat, dalam arti respons sosial (realitas) terhadap al-Qur’an, dapat dikatakan Living Qur’an. Baik al-Qur’an itu dilihat masyarakat sebagai ilmu (scince) dalam wilayah profane (tidak keramat) di satu sisi dan sebagai petunjuk (huda) dalam yang bernilai sakral (sacred value) disisi lain. Kedua efek inilah sesungguhnya menghasilkan sikap dan pengalaman kemanusiaan berharga yang membentuk sistem religi karena dorongan emosi keagamaan (religious emotion), dalam hal ini emosi jiwa terhadap al-Qur’an.21
18 Sahiron, Metode Penelitian Living Qur’an dan Hadis (Yogyakarta: Th Press,
2007), 8.
19 Sahiron, Metode Penelitian Living Qur’an dan Hadis, 7. 20 Sahiron, Metode Penelitian Living Qur’an dan Hadis, 39. 21 Sahiron, Metode Penelitian Living Qur’an dan Hadis, 37.
Lazimnya khataman al-Qur’an dilaksanakan di tempat-tempat seperti masjid, musala, surau, rumah-rumah, atau tempat suci lainnya. Berbeda dengan yang penulis temukan, bahwa khataman dilaksanakan di sebuah peternakan hewan. Pemilik peternakan yang bernama Rengga, mengaitkan bahwa khataman yang dilakukan di peternakannya ini sangat berpengaruh terhadap penjualan hewan-hewannya. Melihat penelitian sebelumnya, khataman banyak dikaitkan dengan rasa syukur, pernikahan, atau sarana mencari keselamatan. Akan tetapi berbeda dengan yang ada di Peternakan Bin Dahlan, khataman al-Qur’an dikaitkan dengan perekonomian.
Study Living Qur’an merupakan penelitian yang berasal dari adanya fenomena masyarakat yang menjalankan suatu tradisi yang terinspirasi dari al-Qur’an. Jadi, melihat adanya latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian Living Qur’an di Peternakan Bin Dahlan. Penulis berasumsi bahwa tradisi di peternakan dalam mengkhatamkan al-Qur’an merupakan representasi dari perilaku “menghidupkan al-Qur’an”.
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Apabila diidentifikasikan maka masalah yang muncul dari latar belakang di atas bahwa telah penulis temukan beberapa masalah yang ada, seperti adanya kegiatan khataman al-Qur’an yang dilakukan di sebuah peternakan hewan, kemudian terdapat variasi pengetahuan tentang praktik khataman al-Qur’an, serta adanya manfaat positif dari khataman al-Qur’an terhadap hewan-hewan yang berada di peternakan tersebut.
Dari identifikasi yang telah penulis jelaskan, penulis hanya membatasinya pada pembahasan manfaat membaca al-Qur’an bagi pembaca dan yang dibacakannya. Kemudian penelitian ini juga dibatasi terhadap pembacaan al-Qur’an yang dilakukan di Peternakan Bin Dahlan Sawangan Baru Depok.
3. Rumusan Masalah
Selanjutnya untuk mempermudah pembahasan, maka hal tersebut dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
Bagaimana praktik dan pemahaman pengelola dan santri terhadap khataman al-Qur’an?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui bagaimana praktik dan pemahaman pengelola dan santri terhadap khataman al-Qur’an.
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Secara teoritis: Penelitian ini diharapkan bisa memberikan pengaruh besar terhadap pengembangan pembelajaran ilmu al-Qur’an dan untuk kepentingan studi lanjutan, menjadi bahan acuan, referensi, khususnya yang berkaitan dengan penelitian tentang keberkahan al-Qur’an.
2. Secara praktis: Tulisan ini diharapkan bisa memberikan tambahan pengetahuan tentang luasnya tradisi khataman al-Qur’an. Termasuk tradisi khataman yang terdapat di Peternakan Bin Dahlan.
D. Tinjauan Pustaka
Terdapat beberapa judul karya ilmiah yang berkaitan dengan tema pembahasan skripsi ini, diantaranya adalah:
Handri Hasan dan Fuad Rahman22, Artikel ini membahas tentang
penelitian sejauh mana kualitas masyarakat Jambi memahami al-Qur’an dan faktor yang mempengaruhi masyarakat tidak mencapai tingkat yang lebih baik dalam memahami al-Qur’an.
Lutfatul Husna23, skripsi ini membahas tradisi atau amalan
pembacaan surat al-Waqi’ah dan surat al-Mulk yang dilahirkan dari praktik-praktik komunal yang menunjukkan pada resepsi sosial masyarakat atau komunitas tertentu. Dalam hal ini yaitu Pondok Pesantren Manba’ul Hikam II Blitar.
Harris Fadhillah24, skripsi ini membahas tentang membaca
al-Qur’an memberikan pengaruh terhadap kestabilan emosi dan bisa memberikan efek positif terhadap psikis manusia secara umum.
Rela Mar’ati25, menurut artikel ini membaca dan menghafal
al-Qur’an yang dibaca berulang-ulang akan mendapatkan ketenangan dan mengalami rekonstruksi dari ayat al-Qur’an yang dibaca, dihafalkan, dan paham tafsirnya sehingga memiliki pemahaman yang tepat dalam menilai permasalahan.
Fazat Laila26, penelitian ini membahas tentang penggunaan
teks-teks hadis dalam tradisi khataman berjamaah di Desa Suwaduk. Skripsi ini juga membahas makna praktik khataman berjamaah.
22 Handri Hasan dan Fuad Rahman, “Peningkatan Kualitas Keagamaan
Masyarakat Jambi Melalui Usaha Pemahaman Al-Qur’an” Artikel, Vol. 28. No. 01. (2013): 87.
23 Lutfatul Husna, “Tradisi Pembacaan Surat Al-Waqi’ah dan Surat Al-Mulk
(Kajian Living Quran di Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam II Karanggayam Srengat Blitar)”, (Skripsi, UIN Jakarta, 2015).
24 Harris Fadhillah, “Pengaruh Membaca Al-Qur’an Terhadap Kesetabilan
Emosi Siswa Kelas XI Sma IT Abu Bakar Yogyakarta” jurnal, (2016): 176.
25 Rela Mar’ati, “Pengaruh Pembacaan dan Pemaknaan Ayat-ayat Al-Qur’an
terhadap Penurunan Kecemasan pada Santriwati”, Jurnal Penelitian Psikologi, Vol. 01. No. 01,2016, hal 46.
26 Fazat Laila, “Praktek Khataman Al-Qur’an Berjamaah di Desa Suwaduk
Ahmad Kusaeri27, skripsi ini membahas keberkahan memiliki
peran penting dalam kehidupan manusia, karena banyak orang yang mencari keberkahan baik dalam segi rezeki, kehidupan dan sebagainya. Oleh karena itu, berkah menurutnya sebagai segala sesuatu perbuatan dalam kebaikan yang menimbulkan manfaat. Apabila seseorang beriman dan bertakwa kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan membukakan pintu keberkahan.
Teti Fatimah28, penelitian ini membahas ritual untuk mengenang
dan mengirim hadiah pahala untuk para mendiang (orang yang telah meninggal dunia) di Desa Tinggarjaya dan sekitarnya, tepatnya tentang sima’an khataman untuk keluarga mendiang. Fokus pembahasan ini pada praktik sima’an, karena berbeda dengan tahlil. Selain itu, jika amalan lain dilaksanakan pada waktu dan tempat yang telah ditentukan, khusus sima’an di Desa Tinggarjaya tidak terikat.
Anton Syarif Hidayat29, penelitian ini dilatar belakangi karena
sekolah sudah unggulan, tentu akan menjadi hal yang penting untuk lebih meningkatkan lagi kualitas Pendidikan khususnya dalam bidang keagamaan yaitu melalui program membaca Al-Qur’an.
Syafril Fitrah Jaya30, penelitian ini untuk mengetahui kecintaan
siswa pada kitab al-Qur’an, serta apa saja yang mendukung dan menghambat dalam pelaksanaan program pembinaan cinta al-Qur’an siswa tersebut.
27 Ahmad Kusaeri, “Berkah dalam Perspektif Al-Qur’an (Kajian tentang Objek
yang mendapatkan Keberkahan))”, (Skripsi, UIN Jakarta, 2017).
28 Teti Fatimah, “Sima’an Khataman Al-Qur’an untuk Keluarga Mendiang
(Studi living Qur’an di Desa Tinggarjaya, Sidareja, Cilacap, Jawa Tengah)”, (Skripsi, UIN Yogyakarta, 2017).
29 Anton Syarif Hidayat, “Pelaksanaan Program Membaca Al-Qur’an di SMA
Negeri 3 Palembang”, (Skripsi, UIN Palembang, 2017).
30 Syafril Fitrah Jaya, “Implementasi Program Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an
dalam Pembinaan Cinta Al-Qur’an oleh Siswa di SMP LTI IGM Palembang”, (Skripsi, UIN Palembang, 2017).
Yadi Mulyadi31, tesis ini membahas permasalahan bagaimana
Masyarakat Adat Wewengko Kasepuhan Lebak Banten menggunakan al-Qur’an sebagai jimat. Masyarakat di sana meyakini jimat sebagai jalan alternatif secara praktis untuk mencapai sebuah tujuan dalam memecahkan berbagai masalah.
Zaenab Lailatul Badriyah32, skripsi ini membahas tentang
pandangan pemilik serta staf hotel terkait kegiatan khataman di hotel dan pelaksanaan serta pemaknaan dari praktik kegiatan tersebut bagi para staf hotel. Menurutnya kegiatan ini menunjukkan bahwa hotel yang diidentikkan dengan bisnis jasa sekuler pada hakikatnya dapat disinambungkan dengan prinsip-prinsip agama sehingga ada pemenuhan nilai-nilai spiritualitas di dalamnya.
Samsul Arifin33, skripsi ini membahas bagaimana praktik
khataman al-Qur’an dan bagaimana penulis dan partisipan memaknakan praktik khataman al-Qur’an di Pondok Pesantren Giri Kesumo.
Endah Supriyani34, skripsi ini membahas tentang latar belakang
sejarah dan perkembangan tradisi khataman, proses pelaksanaan, dan makna simbol yang terkandung dalam upacara khataman pada suku Bugis di Palembang.
Ahmad Syauqi Alfanzari35, fokus pembahasan tesis ini adalah
terkait dengan bagaimana pemahaman atau penafsiran pengasuh pondok
31 Yadi Mulyadi, “Al-Qur’an dan Jimat (Studi Living Qur’an pada Masyarakat
Adat Wewengko Kaepuhan Lebak Banten)”, (Tesis, UIN Jakarta, 2017).
32 Zaenab Lailatul Badriyah, “Praktik Khataman Al-Qur’an di Hotel Grasia
(Studi Living Quran)”, (Skripsi, UIN Semarang, 2018).
33 Samsul Arifin, “Menggali Makna Khataman Al-Qur’an di Pondok Pesantren
Giri Kesumo Demak (Studi Living Qur’an)”, (Skripsi, IAIN Salatiga, 2018).
34 Endah Supriyani, “Tradisi Khataman Al-Qur’an pada Pernikahan Suku Bugis
di Palembang (Studi Kasus di 3 Ilir Palembang)”, (Skripsi, UIN Palembang, 2018).
35 Ahmad Syauqi Alfanzari, “Penggunaan Ayat-ayat Al-Qur’an sebagai Obat
(Studi Living Qur’an di Ma’had Tahfidzul Qur’an Bahrusysyifa’ Bagusari Jogtruman Lumajang Jawa Timur, (Tesis, Uin Sunan Ampel Surabaya, 2018).
tersebut terhadap ayat-ayat pilihan yang dijadikan sebagai media pengobatan, dan bagaimana teknik pengobatan yang menggunakan ayat-ayat al-Qur’an.
Dyah Maria Ulfah dan Gita Permata Sari36, artikel ini membahas
efek terapi murottal al-Qur’an terhadap peningkatan berat badan bayi prematur dengan variabel jenis kelamin, usia kehamilan, dan berat badan.
Eva Nugraha37, artikel ini ingin menguji pertanyaan bagaimana
manfaat membaca al-Qur’an dalam kehidupan keseharian. Artikel ini juga menjelaskan bahwa membaca al-Qur’an akan bergantung pada pola intensitas dan pola interaksi pembaca terhadap al-Qur’an. Ada dua manfaat yang didapatkan pembaca dari interaksi mereka membaca al-Qur’an. pertama manfaat langsung, yang sesuai dengan motif dan tujuan membaca, misalnya ketenangan hati. Kedua, manfaat tidak langsung yang berupa kemudahan dalam menjalani hidup.
Niswatun Hasanah38, artikel ini membahas keberkahan dalam
pemikiran Ekonomi Islam secara rasional dan logika dapat diformulasikan secara matematis bahwa pelaksanaan prinsip-prinsip Ekonomi Islam itu akan melahirkan manfaat dan berkah di dunia dan akhirat yang merupakan maslahah.
36 Dyah Maria Ulfah, Gita Permata Sari, “Efek Terapi Murottal Al-Qur’an
terhadap Peningkatan Berat Badan Bayi Prematur (Studi Eskperimen pada Bayi Prematur) di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi”, jurnal, Vol. 03. No. 03. (2018).
37 Eva Nugraha,“Ngalap Berkah Qur’an: Manfaat Membaca Al-Qur’an bagi
para Pembacanya”, Jurnal Ilmu Ushuluddin, Vol. 05. No. 02. (2018).
38 Niswatun Hasanah, “Keberkahan sebagai Formulasi Mashlahah dalam
Ilham Mabruri Sapari39, Penelitian ini menunjukkan keberkahan
al-Qur’an yang dirasakan oleh para penghafal al-Qur’an, yaitu berupa kedamaian hati dan pikiran, serta dikuatkan dalam menghadapi masalah dan selalu diberikan kesehatan.
Muh Afif Hasyim40, penelitian ini untuk mengetahui bagaimana
proses khataman al-Qur’an di rumah duka pada masyarakat Kab. Soppeng. Ujrah adalah tanda terima kasih dari keluarga mayat yang diberikan kepada kelompok marhaban. Jumlah yang diberi pun bukan dari permintaan kelompok marhaban melainkan keikhlasan keluarga yang punya hajat. Hal ini dilakukan karena adat yang masih kental di kalangan masyarakat tersebut.
Anshori41, tesis ini membahas keunikan yang terjadi di masyarakat
Kabupaten Sumenep tentang cara mereka menghidupkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa ayat yang dijadikan amalan dan diyakini bisa mendatangkan Mahabbah.
Ahmad Zainuddin dan Faiqotul42, artikel ini membahas tentang
tradisi (amalan rutin) pembacaan al-Qur’an yang dilahirkan dari praktik komunal sebagai bentuk dari respons sosial masyarakat atau komunitas tertentu terhadap al-Qur’an. Dalam hal ini, Pondok Pesantren Ngalah Sengonagung, Purwosari, Pasuruan. Seluruh santri pondok diwajibkan mengikuti kegiatan Yasinan yang dilaksanakan rutin pada hari kamis setelah salat Magrib berjamaah.
39 Ilham Mabruri Sapari, “Keberkahan Al-Qur’an menurut Penghafal Al-Qur’an
(Studi Kasus para Penghafal di Pondok Pesantren Nur Medina)”, (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018).
40 Muh Afif Hasyim, “Ujrah dalam Prosesi Khataman Al-Qur’an di Rumah
Duka pada Masyarakat Kab. Soppeng (Tinjauan Hukum Islam)”, (Skripsi, IAIN Parepare, 2019).
41 Anshori, “Penggunaan Ayat-ayat al-Qur’an sebagai Mahabbah (Studi Living
Qur’an di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur)”, (Tesis, UIN Surabaya, 2019).
42 Ahmad Zainuddin, Faiqotul Hikmah, “Tradisi Yasinan (Kajian Living Qur’an
Nurhidayah43, skripsi ini menjelaskan tentang bagaimana asal-usul
dan prosesi pelaksanaan Mappanre Temme’ pada masyarakat Bugis Sinjai, serta nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut.
Rapiq Hairiri44, pembahasan skripsi ini terkait praktik khataman
al-Qur’an dan bagaimana penulis dan partisipan memaknakan praktik khataman al-Qur’an di Desa Teluk Tigo, baik itu makna ekspresif maupun makna dokumentasi.
E. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang (perspektif) penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Karena terkait langsung dengan gejala-gejala yang muncul di sekitar lingkungan manusia terorganisir dalam satuan struktur yang mengatur kehidupan bermasyarakat.
Penelitian yang menggunakan pendekatan fenomenologi berusaha untuk memahami makna peristiwa serta interaksi pada orang-orang dalam situasi tertentu. Penyelidikan fenomenologi bermula dari diam.45
Fenomenologi berusaha bisa masuk ke dalam dunia konseptual subjek agar dapat memahami bagaimana dan apa makna yang disusun subjek tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.
Singkatnya, peneliti berusaha memahami subjek dari sudut pandang subjek itu sendiri, dengan tidak mengabaikan membuat
43 Nurhidayah, “Tradisi Mappanre Temme’ (Khataman Al-Qur’an) di Desa
Barania Kecamatan Sinjai Brat Kabupaten Sinjai (Studi Unsur-unsur Kebudayaan Islam)”, (Skripsi, UIN Makassar, 2020).
44 Rapiq Hairiri, “Tradisi Khataman Al-Qur’an Pasangan Pengantin pada Acara
Pernikahan di Desa Teluk Tigo Kecamatan Cermin Nan Gedang Kabupaten Saeolangun Provinsi Jambi (Kajian Studi Living Qur’an)”, (Skripsi, UIN Jambi, 2021).
45 Yanuar Ikbar, Metode Penelitian Sosial Kualitatif (Bandung : PT Refika
penafsiran, dengan membuat skema konseptual. Peneliti menekankan pada hal-hal subjektif, tetapi tidak menolak realitas “di sana” yang ada pada manusia dan yang mampu menahan tindakan terhadapnya. Para peneliti kualitatif menekankan pemikiran subjektif karena menurut pandangannya dunia itu dikuasai oleh angan-angan yang mengandung hal-hal yang lebih bersifat simbolis dari pada konkret. Makna dibalik fenomena dapat diungkapkan apabila peneliti menyelam dibalik apa yang ditampilkan, diperlihatkan, dan diungkapkan melalui wawancara mendalam (depth interview) dan observasi berpartisipasi (participation
observation). Fenomena yang tampak di lapisan permukaan sering tidak
sama dengan apa yang menjadi tujuan, menjadi inti persoalan atau dengan kata lain yang tampak berbeda dengan maksud utama. Dalam keadaan yang demikian perlu ada penjelasan secara detail, rinci, dan sistematis.46
Maka dari itu peneliti menggunakan perspektif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial biasanya penelitian ini bergerak pada kajian mikro. Paradigma definisi sosial ini akan memberi peluang individu sebagai subjek penelitian (para pekerja anak di jalanan) melakukan interpretasi, dan kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai mendapatkan makna yang berkaitan dengan pokok masalah penelitian, yakni pemaknaan al-Qur’an bagi umat Islam masa kini.
2. Jenis Penelitian
Metode penelitian kualitatif47 Pendekatan yang temuan-temuan
penelitian ini tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk
46 I Wayan Suwendra, Metode Penelitian Kualitatif (Bali: Nilacakra Publishing
House, 2018), h. 6.
47 Lexi, Metode Penelitian Kulaitatif, Edisi Revisi (Bandung : PT Remaja
perhitungan lainnya, prosedur ini menghasilkan temuan-temuan yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan beragam sarana. Sarana itu meliputi pengamatan dan wawancara, namun penulis juga mencakup dokumen, buku, foto dan video. Peneliti memilih metode ini dikarenakan ingin mencari data secara lebih mendalam dan mengenal jelas objek dan subjek penelitian dengan judul Khataman
Al-Qur’an di Peternakan (Studi Kasus Peternakan Bin Dahlan Sawangan
Baru Depok). Dengan menggunakan metode ini melalui teknik yang telah dijelaskan di atas peneliti akan mampu menyajikan data secara valid.
3. Sumber Data
Sumber data yang digunakan pada penelitian ini terbagi menjadi tiga, yakni:
a. Person, sumber data berupa orang. Yaitu sumber data yang bisa memberikan informasi berupa jawaban lisan melalui perantara wawancara. Dalam wawancara penelitian ini melibatkan pemilik peternakan dan santri-santri yang ada di peternakan.
b. Place, sumber data berupa tempat. Yaitu sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam dan bergerak. Diam, misalnya ruangan, alat, wujud benda, dan lain-lainnya. bergerak seperti kegiatan, aktivitas, dan lain-lainnya. Keduanya merupakan objek untuk penggunaan teknik observasi.
c. Paper, sumber data berupa simbol. Yaitu sumber data berupa huruf, angka, gambar, dan simbol lainnya yang cocok untuk penggunaan metode dokumentasi.
Lokasi penelitian bertempat di Peternakan Bin Dahlan, yang beralamat di Jl. Jati Rt. 05/04 Sawangan Baru Depok Jawa Barat. Penelitian ini berlangsung dari bulan Desember 2020 sampai bulan Juli 2021.
5. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Sedangkan populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pengelola dan santri yang ada di Peternakan Bin Dahlan.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Pengambilan sampel ini dimaksud untuk memperoleh keterangan mengenai obyek penelitian dan mampu memberikan gambaran dari populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling, peneliti menghendaki pengambilan sampel dari tiap-tiap sub populasi dengan memperhitungkan besar kecilnya sub-sub populasi tersebut.
Tabel 1.1: Sampel Penelitian
Status Jumlah Sampel
Pengelola 4
Santri 25
Jumlah 29
6. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi
Observasi adalah suatu kunci dari keberhasilan penelitian dengan apa yang telah diamati oleh peneliti dan data tersebut akan menjadi jelas dan terperinci. Penulis melakukan observasi atau pengamatan yang lebih mendalam terhadap hasil wawancara dengan narasumber yang peneliti lakukan pada bulan Desember 2020 sampai dengan bulan Juli 2021.
b. Interview (wawancara)
Interview (wawancara) dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi (data) dari informan dengan cara bertanya langsung secara bertatap muka (face to face).48Adapun
wawancara dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode perekaman, lewat alat aplikasi perekam ataupun whatsapps setelah itu hasil dari wawancara itu di tulis dan di lampirkan dalam penelitian. c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan salah satu jenis metode yang sering digunakan dalam metodologi penelitian sosial yang berkaitan dengan teknik pengumpulan datanya. Terutama sekali metode ini banyak digunakan dalam lingkup kajian sejarah. Seperti yang penulis lakukan yakni mendatangi kelurahan dan meminta dokumen yang dibutuhkan seperti laporan bulanan kelurahan Sawangan Baru Depok dan data penduduk. Oleh karena studi dokumen dalam teknik pengumpulan datanya untuk pelengkap serta menguatkan dari metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.49
7. Teknik Pengolahan Data
Setelah semua informasi atau data diperoleh dari data hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Informasi tersebut bisa dikatakan sebagai hasil penelitian. Untuk mendapatkan hasil informasi secara komprehensif. Maka data tersebut melalui proses analisa, adapun untuk memperoleh gambaran yang lebih baik dari data hasil penelitian
48 Bagong Suyanti, Metodologi Penelitian Sosial Berbagai Alternatif
Pendekatan,cet. III (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), 69.
ini maka penulis melakukan tahap-tahap pengolahan data. Adapun langkah yang di lakukan sebagai berikut:
Bagan 1.1: Pengolahan data
Dari tabel 1.1 di atas dapat dilihat dan memiliki tujuan untuk memastikan kesahan data, maka penulis mengolah data sebagaimana yang dilakukan dari tahap pemilihan data. Data akan dilacak sebagaimana mengumpulkan hasil dari observasi ini. Berikut adalah strategi pengolahan data yang di lakukan dalam penelitian: a.) Mengumpulkan hasil dari wawancara, observasi dan dokumen yang telah kita lakukan, b.) Setelah data tersebut di dapat lalu di input saya baca yang nantinya akan di bagi ke dalam beberapa kategori yaitu masyarakat, tokoh masyarakat dan pemerintahan, c) Tahap mengkoding data ini merupakan hasil temuan yang akan penulis teliti, sehingga menghasilkan poin-poin pembahasan yang akan di teliti yaitu sejarah,
Pengolahan Data
Data Mentah (transkrip hasil wawancara, hasil pengamatan, dokumen)
Memilah data Membaca data terpilih
Koding data Pelaksanaa n Keberlanjutan Sejarah Kesimpulan
pelaksanaan dan keberlanjutan dari kegiatan khataman di Peternakan Bin Dahlan. Hal ini di upayakan dengan menyajikan narasi yang lebih mendalam dan terbuka.50
F. Sistematika Penelitian
Sebagai karya tulis ilmiah, maka penulisan skripsi ini akan disusun secara sistematis. Dalam penulisannya, penulis membagi menjadi lima bab dan pada setiap bab terdapat beberapa sub bab sebagai penjabaran atau penjelasannya. Adapun sistematika penulisannya sebagai berikut:
Bab pertama penulis akan menguraikan: latar belakang yang
mana berisi tentang pengaruh al-Qur’an terhadap para peternak yang mempelajari dan menerapkan al-Qur’an itu sendiri pada kehidupan sehari-hari, lalu identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian dan sistematika penelitian, karena pada bab ini adalah pendahuluan.
Bab kedua pada bab ini penulis membahas tentang pengertian
khataman meliputi deskripsi, dan fenomena khataman. Pada bab ini juga membahas dasar hadis pelaksanaan khataman, keutamaan membaca dan mengkhatamkan al-Qur’an.
Bab ketiga pada bab ini penulis membahas tentang gambaran
umum dan profil Peternakan Bin Dahlan Sawangan Baru Depok.
Bab keempat pada bab ini penulis menjelaskan tentang interaksi
santri-santri dengan Al-Qur’an yang mencangkup: tadarus, hafalan, dan baca tulis Al-Qur’an. Serta manfaat dan manfaat dalam pembelajaran tersebut.
50 Eva Nugraha, “Komodifikasi dan Sakralitas Kitab Suci studi kasus usaha
penerbitan mushaf al-Qur’an di indonesia kontemporer” (Disertasi S3., Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018) 23.
Bab kelima penutup. Pada bab ini adalah penutup, berisi
kesimpulan dari seluruh uraian yang telah dikemukakan dab jawaban dari rumusan masalah yang telah dijelaskan. Serta saran-saran yang dapat disumbangkan sebagai rekomendasi untuk kajian lebih lanjut, serta lampiran-lampiran yang menyertainya.
25
GAMBARAN UMUM TENTANG KHATAMAN AL-QUR’AN A. Deskripsi Kegiatan Khataman Al-Qur’an
Khatam al-Qur’an adalah menyelesaikan membaca al-Qur’an dari awal sampai akhir dan sering juga dipahami sebagai titik akhir selesainya membaca al-Qur’an.1 Sedangkan khatam menurut ensiklopedia Islam,
khatam juga berarti akhir.2 Khataman al-Qur’an menurut Abi Zakariya
Yahya yakni, membaca al-Qur’an secara bersama-sama, dapat dengan cara setiap orang dibagi 10 juz atau satu juz, atau pembagian semacamnya. Atau dengan cara orang membaca dan yang lainnya menyimak bergantian secara terus menerus.3
Pola dalam khataman al-Qur’an ada 2, yakni pertama, khataman bisa dilakukan oleh satu orang saja dari awal sampai akhir dibaca sendiri, namun banyak juga yang dengan cara bergantian saling menyimak, bi
al-ghaib atau bi al-nazari, dari awal juz sampai akhir juz. Kedua, khataman
dilakukan secara serentak 30 juz dalam waktu bersamaan. Dengan cara membagi sesuai dengan peserta yang ikut. Dengan cara ini khataman berkesempatan untuk dua kali khatam atau lebih dalam satu waktu.
Tradisi khataman al-Qur’an di Indonesia memiliki banyak penyebutan. Misalnya, Mappanre Temme pada masyarakat Bugis Sinjai dan Khataman Nepton pada masyarakat Treko Magelang. Khataman di Indonesia juga banyak dijumpai pada acara-acara. Misalnya acara
1 Supian, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Praktis (Jambi: Gaung Persada Press, 2012),
182.
2 Departemen Pendidikan Nasional, Ensiklopedia Islam, cet IV (Jakarta: PT.
Ichtiar Baru van Hoeve, 1994), 44.
3 Abi Zakariya Yahya Asy Syafi’I, At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an (Jedah:
kematian, pernikahan, syukuran, maulid, haul, dll. Semua dilakukan dengan harapan agar tradisi mengaji al-Qur’an seperti khataman, tadarus, tilawah, maupun tadabur al-Qur’an dapat memberikan ketenangan, keselamatan, keberkahan, dan rahmat dari Allah.
Dengan khataman al-Qur’an orang akan mendapatkan pelajaran dan aturan-aturan kehidupan di dunia. Adapun pada saat ini, banyak manusia yang meninggalkan kitab yang agung ini, tidak mengenalnya kecuali hanya pada saat-saat tertentu saja. Di antara mereka ada yang hanya membaca saat ada kematian, di antara mereka ada yang hanya mengenalnya pada saat bulan Ramadhan saja. Kegiatan membaca al-Qur’an persatu hurufnya dinilai satu kebaikan dan satu kebaikan ini dapat dilipat gandakan hingga sepuluh kebaikan. Bayangkan bila satu ayat atau satu surah saja mengandung puluhan aksara Arab.4
B. Hadis-hadis tentang Khataman
Pada hakikatnya al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang tidak seorang pun di antara umat Islam meragukan kemuliaan, kesucian, dan kedudukannya yang tinggi. Walaupun Islam mengalami banyak pertikaian-pertikaian, perpecahan mazhab, dan perbedaan pendapat di antara pemeluknya, seperti yang dialami oleh agama-agama besar lain.5
Al-Qur’an dapat diamalkan untuk mengobati penyakit jiwa, hati, menghilangkan kebodohan, ragu-ragu, dan keraguan dalam menjalankan syariat. Amaliah tersebut dan beberapa segi lainnya berkaitan dengan pengobatan menggunakan al-Qur’an pada hakikat amaliah Rasullah, sahabat, dan tabi’in. Di tengah gencarnya perselisihan dalam segala hal,
4 Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai
Al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2004), 46.
5 Allamah M.H. Thabathaba’I, Mengungkap Rahasia Al-Qur’an (Bandung:
al-Qur’an tidak pernah diperdebatkan dan diperselisihkan oleh kaum Islam mana pun. Baik Sunni ataupun Syiah, dan Sebagian lainnya.6
Sayyid Qutb dalam tafsir fī Ẓilāl al-Qur’ān menjelaskan bahwa “Sesungguhnya al-Qur’an ini patut dibaca dan diterima oleh berbagai generasi islam dengan penuh kesadaran. Lebih jauh lagi kita tidak akan memetic manfaat dari al-Qur’an sebelum kita membacanya. Terlebih lagi jika kita membaca al-Qur’an disertai dengan membaca atau memahami artinya, kita akan menemukan keajaiban-keajaiban di dalamnya yang tidak pernah tersirat dalam pikiran”.7
Sebenarnya banyak sekali dasar hadis yang menganjurkan untuk membaca al-Qur’an. Berikut adalah beberapa hadis yang berkaitan dengan keutamaan khataman al-Qur’an. Mengkhatamkan al-Qur’an merupakan amalan yang paling dicintai Allah. Dalam riwayat disebutkan:
اَنَ ثَّدَح ، ٍقوُزْرَم ُنْب وُرْمَع اَنَ ثَّدَح ، َّنََّثُمْلا وُبَأ َأَبْ نَأ ، َقاَحْسِإ ُنْب ِرْكَب وُبَأ اَنَ ثَّدَحَو
َناَيْفُس ُنْب ُنَسَْلْا َأَبْ نَأ ، ٍشْيَرُ ق ُنْب ِرْكَب وُبَأ ِنََِبَْخَأَو )ح( ، ُّيِ رُمْلا ٌحِلاَص
،
، َةَداَتَ ق ْنَع ، ٌّيِ رُمْلا ٌحِلاَص اَنَ ثَّدَح ، ِباَبُْلْا ُنْب ُدْيَز اَنَ ثَّدَح ، ٍبْيَرُك وُبَأ اَنَ ثَّدَح
: َلاَق ًلاُجَر َّنَأ ، اَمُهْ نَع َُّللَّا َيِضَر ٍساَّبَع ِنْبا ِنَع ، ِ يِرِماَعْلا َفَْوَأ ِنْب َةَراَرُز ْنَع
ا ُّيَأ ِالله َلوُسَر َيَ
ِالله َلوُسَر َيَ : َلاَق ُلَِتَْرُمْلا ، ُّلاَْلْا : َلاَق ؟ ُلَضْفَأ ِلاَمْعَلأ
، ُهَرِخآ َغُلْ بَ ي َّتََّح ِهِلَّوَأ ْنِم ُبِرْضَي ِنآْرُقْلا ُبِحاَص : َلاَق ؟ ُلَِتَْرُمْلا ُّلاَْلْا اَمَو
َلََتَْرا َّلَح اَمَّلُك ُهَلَّوَأ َغُلْ بَ ي َّتََّح ِهِرِخآ ْنِمَو
.
86 Imam Hafiz Abi al-‘Ula Muhammad Abd Rahman, Tuhfatul Ahwadziy
(Bandung: PT Sarana Pancakarya Nusa,) 2155.
7 Shalah Abdul Fattah al-Khalidi, Kunci Berinteraksi dengan Al-Qur’an,
(Jakarta: Rabbani Press, 2005), 78.
8 Abī ‘Abdillāh Muḥammad b. ‘Abdillāh al-Ḥākim al-Naisāburī, al-Mustadrak
“Kami telah diceritakan oleh Abū Bakr b. Isḥāq, memberitakan Abū al-Muṡanna, kami telah diceritakan oleh ‘Amrū b. Marzūq, kami telah diceritakan oleh Sālih al-Murrriy, dari Qatādah, dari Zurārah b. Awfa al-‘Āmiry, dari Ibn Abbās beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hāl wa al-murtahal”. Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hāl wa al-murtahal, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir”
Mendapatkan doa dan salawat dari para malikat, disebutkan dalam riwayat:
ِنْب َةَحْلَط ْنَع , ٍثْيَل ْنَع , َةَسَبْ نَع ْنَع , ُنوُراَه اَنَ ثَّدَح ، ٍدْيَُحُ ُنْب ُدَّمَُمُ اَنَ ثَّدَح
َع , ٍفِ رَصُم
ِلْيَّللا َلَّوَأ ِنآْرُقْلا ُمْتَخ َقَفاَو اَذِإ : َلاَق ٍدْعَس ْنَع ٍدْعَس ِنْب ِبَعْصُم ْن
ِهْيَلَع ْتَّلَص ِلْيَّللا َرِخآ ُهُمْتَخ َقَفاَو ْنِإَو , َحِبْصُي َّتََّح ُةَكِئَلاَمْلا ِهْيَلَع ْتَّلَص
َلَع َيِقَب اََّبَُّرَ ف , َيِسُْيُ َّتََّح ُةَكِئَلاَمْلا
ْوَأ ، َيِسُْيُ َّتََّح ُهُرِ خَؤُ يَ ف ُءْيَّشلا َنَِدَحَأ ى
.َحِبْصُي
ٍدْعَس ْنَع ٌنَسَح اَذَه : ٍدَّمَُمُ وُبَأ َلاَق
.
9“Dari Muhammad b. Humaid, dari Hārun, dari ‘Anbasah, dari Laiṡ, Ṭalḥah b. Muṣraf, dari Mus’ab, dari Sa’ad, beliau berkata: “Apabila al-Qur’an dikhatamkan bertepatan pada permulaan malam, maka malaikat akan bersalawat(berdoa) untuknya hingga subuh. Dan apabila khatam bertepatan pada akhir malam, maka malaikat akan bersalawat/berdoa untuknya hingga sore hari”. (HR. Al-Darimi)
Setiap satu huruf bernilai satu kebaikan dan dilipat gandakan sepuluh kebaikan, dalam riwayat:
َِّللَّا ُلوُسَر َلاَق ُلوُقَ ي هنع الله ىضر ٍدوُعْسَم َنْب َِّللَّا دْبَع ْنَع
هيلع الله ىلص
ملسو
ْنَم «
َلا اَِلِاَثْمَأ ِرْشَعِب ُةَنَسَْلْاَو ٌةَنَسَح ِهِب ُهَلَ ف َِّللَّا ِباَتِك ْنِم اًفْرَح َأَرَ ق
ٌفْرَح ٌميِمَو ٌفْرَح ٌمَلاَو ٌفْرَح ٌفِلَأ ْنِكَلَو ٌفْرح لما ُلوُقَأ
9 Abū Muḥammad ‘Abdullāh b. ‘Abdurrahmān al-Dārimī, Musnad al- Dārimī
“Dari ‘Abdullāh b. Mas’ūd ra beliau berkata; “Barang siapa membaca satu huruf yang terdapat dalam Kitabullah (al-Qur’an), maka dia memperoleh satu kebaikan dan setiap kebaikan pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lām Mīm itu satu huruf, akan tetapi alif merupakan satu huruf, Lām satu huruf, dan Mīm satu huruf.” Mendapat ketenangan, rahmat, dan Allah menyebut-nyebut namanya di antara Malaikat yang ada disisi-Nya. Dalam riwayat:
ٍحِلاَص ِبَِأ ْنَع ، ِشَمْعَلأا ِنَع ، َةَيِواَعُم وُبَأ اَنَ ثَّدَح ، َةَبْ يَش ِبَِأ ُنْب ُناَمْثُع اَنَ ثَّدَح
َرْ يَرُه ِبَِأ ْنَع ،
ٍتْيَ ب ِفِ ٌمْوَ ق َعَمَتْجا اَم : َلاَق ملسو هيلع الله ىلص ِ ِبَّنلا ِنَع ، َة
ُمِهْيَلَع ْتَلَزَ ن َّلاِإ ، ْمُهَ نْ يَ ب ُهَنوُسَراَدَتَ يَو ِالله َباَتِك َنوُلْ تَ ي ، َلَاَعَ ت ِالله ِتوُيُ ب ْنِم
َمْلا ُمُهْ تَّفَحَو ، ُةَْحَُّرلا ُمُهْ تَ يِشَغَو ، ُةَنيِكَّسلا
.ُهَدْنِع ْنَميِف َُّللَّا ُمُهَرَكَذَو ، ُةَكِئَلا
10“Telah menceritakan kepada kami Usmān b. Abī Syaibah telah menceritakan kepada kami Abū Mu’āwiyah dari al-A’masy dari Abī Ṣālih, Abī Hurairah, dari beliau bersabda: “Tidaklah sebuah kaum berkumpul di dalam rumah antara rumah-rumah Allah, membaca kitab Allah, dan saling mempelajarinya di antara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, serta dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di antara malaikat yang ada disisi-Nya.”
Bagi yang mahir membaca al-Qur’an ditempatkan bersama malaikat dan yang belum mahir mendapat 2 pahala. Dalam riwayat:
-
، ُةَداَتَ ق اَنَ ثَّدَح : َلااَق ٌماََّهََو ٌماَشِه اَنَ ثَّدَح ، َميِهاَرْ بِإ ُنْب ُمِلَسُم َنَََبَْخَأ
َةَراَرُز ْنَع
ملسو هيلع الله ىلص ِ ِبَّنلا ِنَع ، َةَشِئاَع ْنَع , ٍماَشِه ِنْب ِدْعَس ْنَع , َفَْوَأ ِنْب
ُهُؤَرْقَ ي يِذَّلاَو , ِةَرََبَْلا ِماَرِكْلا ِةَرَفَّسلا َعَم َوُهَ ف ِهِب ٌرِهاَم َوُهَو َنآْرُقْلا ُأَرْقَ ي يِذَّلا : َلاَق
َلَع ُّدَتْشَي َوُهَو
.ِناَرْجَأ ُهَلَ ف ِهْي
11“Telah mengabarkan kepada kami Muslim b. Ibrāhīm, kami telah diceritakan Hisyām dan Hammām berkata: kami telah diceritakan
10 Abū Dāwūd Sulaimān b. al-Asy’at al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwūd, jilid. 2
(Damaskus: al-Risalah al-Alamiyyah,tt) 71.
11 Abū Muḥammad ‘Abdullāh b. ‘Abdurrahmān al-Dārimī, Musnad al- Dārimī,