Pada hakikatnya al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang tidak seorang pun di antara umat Islam meragukan kemuliaan, kesucian, dan kedudukannya yang tinggi. Walaupun Islam mengalami banyak pertikaian-pertikaian, perpecahan mazhab, dan perbedaan pendapat di antara pemeluknya, seperti yang dialami oleh agama-agama besar lain.5
Al-Qur’an dapat diamalkan untuk mengobati penyakit jiwa, hati, menghilangkan kebodohan, ragu-ragu, dan keraguan dalam menjalankan syariat. Amaliah tersebut dan beberapa segi lainnya berkaitan dengan pengobatan menggunakan al-Qur’an pada hakikat amaliah Rasullah, sahabat, dan tabi’in. Di tengah gencarnya perselisihan dalam segala hal,
4 Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai
Al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2004), 46.
5 Allamah M.H. Thabathaba’I, Mengungkap Rahasia Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1993), 19.
al-Qur’an tidak pernah diperdebatkan dan diperselisihkan oleh kaum Islam mana pun. Baik Sunni ataupun Syiah, dan Sebagian lainnya.6
Sayyid Qutb dalam tafsir fī Ẓilāl al-Qur’ān menjelaskan bahwa “Sesungguhnya al-Qur’an ini patut dibaca dan diterima oleh berbagai generasi islam dengan penuh kesadaran. Lebih jauh lagi kita tidak akan memetic manfaat dari al-Qur’an sebelum kita membacanya. Terlebih lagi jika kita membaca al-Qur’an disertai dengan membaca atau memahami artinya, kita akan menemukan keajaiban-keajaiban di dalamnya yang tidak pernah tersirat dalam pikiran”.7
Sebenarnya banyak sekali dasar hadis yang menganjurkan untuk membaca al-Qur’an. Berikut adalah beberapa hadis yang berkaitan dengan keutamaan khataman al-Qur’an. Mengkhatamkan al-Qur’an merupakan amalan yang paling dicintai Allah. Dalam riwayat disebutkan:
اَنَ ثَّدَح ، ٍقوُزْرَم ُنْب وُرْمَع اَنَ ثَّدَح ، َّنََّثُمْلا وُبَأ َأَبْ نَأ ، َقاَحْسِإ ُنْب ِرْكَب وُبَأ اَنَ ثَّدَحَو
َناَيْفُس ُنْب ُنَسَْلْا َأَبْ نَأ ، ٍشْيَرُ ق ُنْب ِرْكَب وُبَأ ِنََِبَْخَأَو )ح( ، ُّيِ رُمْلا ٌحِلاَص
،
، َةَداَتَ ق ْنَع ، ٌّيِ رُمْلا ٌحِلاَص اَنَ ثَّدَح ، ِباَبُْلْا ُنْب ُدْيَز اَنَ ثَّدَح ، ٍبْيَرُك وُبَأ اَنَ ثَّدَح
: َلاَق ًلاُجَر َّنَأ ، اَمُهْ نَع َُّللَّا َيِضَر ٍساَّبَع ِنْبا ِنَع ، ِ يِرِماَعْلا َفَْوَأ ِنْب َةَراَرُز ْنَع
ا ُّيَأ ِالله َلوُسَر َيَ
ِالله َلوُسَر َيَ : َلاَق ُلَِتَْرُمْلا ، ُّلاَْلْا : َلاَق ؟ ُلَضْفَأ ِلاَمْعَلأ
، ُهَرِخآ َغُلْ بَ ي َّتََّح ِهِلَّوَأ ْنِم ُبِرْضَي ِنآْرُقْلا ُبِحاَص : َلاَق ؟ ُلَِتَْرُمْلا ُّلاَْلْا اَمَو
َلََتَْرا َّلَح اَمَّلُك ُهَلَّوَأ َغُلْ بَ ي َّتََّح ِهِرِخآ ْنِمَو
.
86 Imam Hafiz Abi al-‘Ula Muhammad Abd Rahman, Tuhfatul Ahwadziy (Bandung: PT Sarana Pancakarya Nusa,) 2155.
7 Shalah Abdul Fattah al-Khalidi, Kunci Berinteraksi dengan Al-Qur’an, (Jakarta: Rabbani Press, 2005), 78.
8 Abī ‘Abdillāh Muḥammad b. ‘Abdillāh al-Ḥākim al-Naisāburī, al-Mustadrak Al-Jāmi’ al-Ṣahīhain, jilid 1 (Qawait: Dār al-Manhāj, tt), 568.
“Kami telah diceritakan oleh Abū Bakr b. Isḥāq, memberitakan Abū al-Muṡanna, kami telah diceritakan oleh ‘Amrū b. Marzūq, kami telah diceritakan oleh Sālih al-Murrriy, dari Qatādah, dari Zurārah b. Awfa al-‘Āmiry, dari Ibn Abbās beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hāl wa al-murtahal”. Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hāl wa al-murtahal, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir”
Mendapatkan doa dan salawat dari para malikat, disebutkan dalam riwayat:
ِنْب َةَحْلَط ْنَع , ٍثْيَل ْنَع , َةَسَبْ نَع ْنَع , ُنوُراَه اَنَ ثَّدَح ، ٍدْيَُحُ ُنْب ُدَّمَُمُ اَنَ ثَّدَح
َع , ٍفِ رَصُم
ِلْيَّللا َلَّوَأ ِنآْرُقْلا ُمْتَخ َقَفاَو اَذِإ : َلاَق ٍدْعَس ْنَع ٍدْعَس ِنْب ِبَعْصُم ْن
ِهْيَلَع ْتَّلَص ِلْيَّللا َرِخآ ُهُمْتَخ َقَفاَو ْنِإَو , َحِبْصُي َّتََّح ُةَكِئَلاَمْلا ِهْيَلَع ْتَّلَص
َلَع َيِقَب اََّبَُّرَ ف , َيِسُْيُ َّتََّح ُةَكِئَلاَمْلا
ْوَأ ، َيِسُْيُ َّتََّح ُهُرِ خَؤُ يَ ف ُءْيَّشلا َنَِدَحَأ ى
.َحِبْصُي
ٍدْعَس ْنَع ٌنَسَح اَذَه : ٍدَّمَُمُ وُبَأ َلاَق
.
9“Dari Muhammad b. Humaid, dari Hārun, dari ‘Anbasah, dari Laiṡ, Ṭalḥah b. Muṣraf, dari Mus’ab, dari Sa’ad, beliau berkata: “Apabila al-Qur’an dikhatamkan bertepatan pada permulaan malam, maka malaikat akan bersalawat(berdoa) untuknya hingga subuh. Dan apabila khatam bertepatan pada akhir malam, maka malaikat akan bersalawat/berdoa untuknya hingga sore hari”. (HR. Al-Darimi)
Setiap satu huruf bernilai satu kebaikan dan dilipat gandakan sepuluh kebaikan, dalam riwayat:
َِّللَّا ُلوُسَر َلاَق ُلوُقَ ي هنع الله ىضر ٍدوُعْسَم َنْب َِّللَّا دْبَع ْنَع
هيلع الله ىلص
ملسو
ْنَم «
َلا اَِلِاَثْمَأ ِرْشَعِب ُةَنَسَْلْاَو ٌةَنَسَح ِهِب ُهَلَ ف َِّللَّا ِباَتِك ْنِم اًفْرَح َأَرَ ق
ٌفْرَح ٌميِمَو ٌفْرَح ٌمَلاَو ٌفْرَح ٌفِلَأ ْنِكَلَو ٌفْرح لما ُلوُقَأ
9 Abū Muḥammad ‘Abdullāh b. ‘Abdurrahmān al-Dārimī, Musnad al- Dārimī (Arab Saudi: Dār al-Mughni, 2000), 2184.
“Dari ‘Abdullāh b. Mas’ūd ra beliau berkata; “Barang siapa membaca satu huruf yang terdapat dalam Kitabullah (al-Qur’an), maka dia memperoleh satu kebaikan dan setiap kebaikan pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lām Mīm itu satu huruf, akan tetapi alif merupakan satu huruf, Lām satu huruf, dan Mīm satu huruf.” Mendapat ketenangan, rahmat, dan Allah menyebut-nyebut namanya di antara Malaikat yang ada disisi-Nya. Dalam riwayat:
ٍحِلاَص ِبَِأ ْنَع ، ِشَمْعَلأا ِنَع ، َةَيِواَعُم وُبَأ اَنَ ثَّدَح ، َةَبْ يَش ِبَِأ ُنْب ُناَمْثُع اَنَ ثَّدَح
َرْ يَرُه ِبَِأ ْنَع ،
ٍتْيَ ب ِفِ ٌمْوَ ق َعَمَتْجا اَم : َلاَق ملسو هيلع الله ىلص ِ ِبَّنلا ِنَع ، َة
ُمِهْيَلَع ْتَلَزَ ن َّلاِإ ، ْمُهَ نْ يَ ب ُهَنوُسَراَدَتَ يَو ِالله َباَتِك َنوُلْ تَ ي ، َلَاَعَ ت ِالله ِتوُيُ ب ْنِم
َمْلا ُمُهْ تَّفَحَو ، ُةَْحَُّرلا ُمُهْ تَ يِشَغَو ، ُةَنيِكَّسلا
.ُهَدْنِع ْنَميِف َُّللَّا ُمُهَرَكَذَو ، ُةَكِئَلا
10“Telah menceritakan kepada kami Usmān b. Abī Syaibah telah menceritakan kepada kami Abū Mu’āwiyah dari al-A’masy dari Abī Ṣālih, Abī Hurairah, dari beliau bersabda: “Tidaklah sebuah kaum berkumpul di dalam rumah antara rumah-rumah Allah, membaca kitab Allah, dan saling mempelajarinya di antara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, serta dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di antara malaikat yang ada disisi-Nya.”
Bagi yang mahir membaca al-Qur’an ditempatkan bersama malaikat dan yang belum mahir mendapat 2 pahala. Dalam riwayat:
-
، ُةَداَتَ ق اَنَ ثَّدَح : َلااَق ٌماََّهََو ٌماَشِه اَنَ ثَّدَح ، َميِهاَرْ بِإ ُنْب ُمِلَسُم َنَََبَْخَأ
َةَراَرُز ْنَع
ملسو هيلع الله ىلص ِ ِبَّنلا ِنَع ، َةَشِئاَع ْنَع , ٍماَشِه ِنْب ِدْعَس ْنَع , َفَْوَأ ِنْب
ُهُؤَرْقَ ي يِذَّلاَو , ِةَرََبَْلا ِماَرِكْلا ِةَرَفَّسلا َعَم َوُهَ ف ِهِب ٌرِهاَم َوُهَو َنآْرُقْلا ُأَرْقَ ي يِذَّلا : َلاَق
َلَع ُّدَتْشَي َوُهَو
.ِناَرْجَأ ُهَلَ ف ِهْي
11“Telah mengabarkan kepada kami Muslim b. Ibrāhīm, kami telah diceritakan Hisyām dan Hammām berkata: kami telah diceritakan
10 Abū Dāwūd Sulaimān b. al-Asy’at al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwūd, jilid. 2 (Damaskus: al-Risalah al-Alamiyyah,tt) 71.
11 Abū Muḥammad ‘Abdullāh b. ‘Abdurrahmān al-Dārimī, Musnad al- Dārimī, 2120.
oleh Qatādah, dari Zurārah b. Aufa, dari Sa’īd b. Hisyām, dari ‘Āisyah ra, ia berkata Rasulullah saw bersabda, “Orang yang mahir dalam membaca al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan taat, dan orang yang membaca al-Qur’an sedangkan ia terbata-bata dan merasa kesulitan, maka ia akan mendapat dua pahala” (Muttafaq ‘Alaih)
Dari hadis di atas jelas bahwa orang yang membaca al-Qur’an dengan tajwid sederajat dengan para malaikat. Artinya, derajat orang tersebut sangat dekat kepada Allah seperti malaikat. Sedangkan orang yang membacanya susah dan berat akan mendapatkan dua pahala, yaitu pahala membaca dan pahala usaha menghadapi kesulitan dalam membacanya.
Al-Qur’an adalah zikir yang paling utama karena dia mengandung semua zikir seperti tahlil, tahmid, takbir, tasbih, dan doa-doa. Dari Ibn Umar berkata: Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hati ini bisa berkarat, seperti karat pada besi.” Para sahabat bertanya “Apa yang menjernihkannya?” Rasulullah menjawab: “Membaca al-Qur’an”.12 Yang terpenting adalah bagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi, bahwa cara Nabi membaca setiap ayat al-Qur’an itu tidak kaku, istikamah dalam irama dan kecepatannya, jelas huruf yang keluar, dan sesuai tanda baca. Karena ini mendukung dalam memahami dan mentadaburi al-Qur’an dalam kegiatan sehari-hari.
Nabi Muhammad adalah teladan dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Beliau mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak satu kali setiap tahunnya di hadapan malaikat Jibril. Sesuai dengan hadis:
ِبَِأ ْنَع ٍحِلاَص ِبَِأ ْنَع ٍينِصَح ِبَِأ ْنَع ٍرْكَب وُبَأ اَنَ ثَّدَح َديِزَي ُنْب ُدِلاَخ اَنَ ثَّدَح
ُضِرْعَ ي َناَك َلاَق َةَرْ يَرُه
َضَرَعَ ف ًةَّرَم ٍماَع َّلُك َنآْرُقْلا َمَّلَسَو ِهْيَلَع َُّللَّا ىَّلَص ِ ِبَّنلا ىَلَع
12 Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, Keistimewaan-Keistimewaan Al-Qur’an (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2001) 182.
َفَكَتْعاَف اًرْشَع ٍماَع َّلُك ُفِكَتْعَ ي َناَكَو ِهيِف َضِبُق يِذَّلا ِماَعْلا ِفِ ِْينَتَّرَم ِهْيَلَع
ِهيِف َضِبُق يِذَّلا ماَعْلا ِفِ َنيِرْشِع
13
“Telah menceritakan kepada kami Khālid b. Yazīd telah menceritakan kepada kami Abū Bakr dari Abī Haṣīn dari Abu Sālih dari Abū Hurairah ia berkata: “Jibril itu saling belajar al-Qur’an dengan Nabi setiap tahun sekali (khatam). Ketika ditahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi biasa pula ber’itikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun ditahun saat beliau akan wafat, beliau ber’itikaf selama dua puluh hari”
Ibnu Aṡir menyatakan dalam al-Jāmi’ fī Gharibil Hadis bahwa Jibril saling mengajarkan pada nabi seluruh ayat al-Qur’an yang telah diturunkan. Dari riwayat itulah para ulama bersemangat mengkhatamkan al-Qur’an. para ulama terdahulu mempraktikan kebiasaan Nabi berinteraksi dengan al-Qur’an dan mempunyai kebiasaan yang bermacam-macam dalam kadar waktu khataman. Ada yang satu bulan sekali, dua bulan sekali, sepuluh malam sekali, delapan malam sekali, dan tujuh malam sekali. Itu yang dilakukan oleh ulama salaf. Ada juga yang mengkhatamkan setiap enam malam sekali, lima malam sekali, empat malam sekali, dan banyak juga yang melakukan 3 malam sekali bahkan setiap siang dan malam sekali. Sebagian orang ada yang mengkhatamkan dalam sehari semalam delapan kali, empat kali diwaktu siang, dan empat kali diwaktu malam, ia adalah Ibn al-Katib al-Sufi.14
13 Abū ‘Abd Allāh Muḥammad b. Ismā‘īl b. Ibrāhīm b. al-Mughīrah b. Bardizbah al-Ju‘fī al-Bukhārī, Ṣaḥīh al-Bukhārī, jilid 1 (Mesir: Dār al-Ḥadīṡ, tt), 440.
14 Imam Nawawi, Al-Adzkar (Intisaru Ibadah dan Amal) (Bandung: PT. al-Ma’arif, 1984), 185.
اََّنَِّإ : َلاَق ََّلَِإ َثَعَ ب : َلاَق ِمَكَْلْا ِنَع ، ُةَبْعُش اَنَ ثَّدَح ، ِعيِبَّرلا ُنْب ُديِعَس اَنَ ثَّدَح
آْرُقْلا ِمْتَخ َدْنِع ُباَجَتْسُي َءاَعُّدلا َّنَأ اَنَغَلَ ب ُهَّنَأَو َنآْرُقْلا َمِتَْنَ ْنَأ َنَْدَرَأ َّنََأ َكَنَْوَعَد
ِن
َدَف : َلاَق
. ٍتاَوَعَدِب اْوَع
15“Sa’īd b. Rabī’, telah menceritakan pada kami Syu’bah, dari al-Hakam, dari Mujahid, dia berkata: “Dikirimkan kepada-ku sebuah undangan. Orang yang mengundang berkata, ‘Sesungguhnya kami mengundangmu hanya karena ingin mengkhatamkan al-Qur’an. telah sampai kabar kepada kami bahwa doa ketika pengkhataman itu mustajab(dikabulkan).”
Terkait berdoa setelah khataman telah dipraktikan oleh sahabat Anas b. Mālik, berdasarkan riwayat Ibnu Abū Dāwud, dengan isnad
ṣahih, bahwa Qatadah berkata: Anas b. Mālik, jika mengkhatamkan
al-Qur’an, ia pun mengumpulkan keluarganya dan berdoa. Dalam salah satu riwayat al-Hakam b. ‘Utaibah yang sahih dijelaskan bahwasanya rahmat itu turun di waktu mengkhatamkan al-Qur’an. sehingga sangat dianjurkan untuk berdoa ketika mengkhatamkan al-Qur’an.16