• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

62 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Jenis, Desain dan Lokasi Penelitian 3.1.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono 2009:

107). Jenis penelitian eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu quasi eksperimental design (eksperimen semu). Eksperimen semu adalah penelitian eksperimen yang pemilihan kelompoknya tidak dilakukan dengan cara random atau acak (Sanjaya, 2013: 100). Penelitian eksperimen semu dilakukan karena terkadang dalam pembentukan kelompok dengan memilih atau memasukkan subjek secara acak tidak memungkinkan untuk dilakukan, biasanya suatu sekolah hanya dapat memberikan izin bagi peneliti untuk menggunakan kelompok belajar atau kelas yang sudah ada sebelumnya (Gay, 2000: 289).

Mulyana mengungkapkan tujuan penelitian eksperimen semu adalah untuk memperoleh informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasi semua variabel yang relevan (dalam Slameto, 2015: 137).

Penelitian eksperimen memiliki karakteristik sebagai berikut: 1) Dalam melakukan metode eksperimen, peneliti melakukan perlakuan tertentu (treatment) kepada sekelompok orang yang dijadikan subjek penelitian; 2) Peneliti mengobservasi secara sistematik apa yang terjadi akibat perlakuan tersebut. Ini yang kemudian dinamakan variabel terikat atau variabel tergantung (dependent variable); 3) Selain terhadap treatment yang sengaja dilakukan, peneliti juga melakukan kontrol terhadap segala sesuatu yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen (Sanjaya, 2013: 88).

(2)

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan dengan memberikan suatu treatment pada subjek penelitian dalam pemberian treatment memperhatikan akibat dari treatment dan kontrol terhadap sesuatu yang mempengaruhi hasil eksperimen.

3.1.2 Desain Penelitian

Desain eksperimen yang digunakan peneliti adalah Quasi (Non-Equivalent Control Grup Design). Dalam desain ini peneliti menentukan dua kelompok subjek yaitu kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 yang fungsinya untuk meyakinkan apakah pengaruh yang didapat dalam variabel terikat itu benar- benar merupakan pengaruh dari variabel bebas atau bukan. Dalam desain ini kelompok eksperimen 1 dan 2 tidak dipilih secara random. Dalam desain ini, baik kelompok eksperimen 1 maupun kelompok ekperimen 2 dibandingkan, kendati kelompok tersebut dipilih dan ditempatkan tanpa melalui random. Dua kelompok yang ada diberi pretes, kemudian diberikan perlakuan berupa metode mind mapping untuk kelompok ekperimen 1 dan model make a match untuk kelompok eksperimen 2, terakhir kedua kelompok diberikan postes. Berikut adalah gambar desain penelitian Non-Equivalent Control Grup Design:

Kelompok Pretes/Sebelum Perlakuan

Perlakuan Postes/Sesudah Perlakuan

Eksperimen 1 X1.2 X1.1 Y1

Eksperimen 2 X2.2 X2.1 Y2

Gambar 3.1 Nonequivalent Control Group Design Keterangan:

X1.1 dan X2.1 : perlakuan yang diberikan X1.2 dan X2.2 : pretes pada tiap kelas

Y1 dan Y2 : postes pada tiap kelas (Sugiyono 2009: 118).

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yaitu kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 yang tidak dipilih secara random. Hal ini didasarkan pada

(3)

keadaan yang sulit dilakukan karena dalam merandom subjek penelitian diperlukan izin dari setiap kepala sekolah agar siswa yang ditunjuk dapat menjadi subjek penelitian. Kelompok eksperimen 1 dan 2 kemudian diberikan pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan untuk kelompok eksperimen 1 (X1.2) dan kelompok eksperimen 2 (X2.2). Setelah diberikan pretes selanjutnya kelompok eksperimen 1 diberikan perlakuan menggunakan metode pembelajaran mind mapping (X1.1) dan kelompok ekperimen 2 diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran make a match (X2.1). Setelah diberikan perlakuan selanjutnya kedua kelompok diberikan postes (Y) untuk mengetahui pengaruh pembelajaran.

3.1.3 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Gugus Murai yang terletak di wilayah Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tidak semua SD di Gugus Murai dijadikan objek penelitian, namun hanya mengambil beberapa SD yang sudah mewakili Gugus Murai. SD inti yaitu SDN Kesongo 01 dan SD imbas yaitu SDN Kesongo 02 dan SDN Lopai 01. Penelitian dilaksanakan bulan Maret-April 2016 pada Semester 2 Tahun Ajaran 2015/2016.

3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.2.1 Variabel Penelitian

Variabel penelitian didefinisikan sebagai faktor yang apabila diukur memberikan nilai yang bervariasi. Adapula yang mendefinisikan variabel sebagai suatu karakteristik dari orang, objek atau gejala yang memiliki nilai berbeda-beda.

Variabel penelitian merupakan faktor yang sangat penting karena dijadikan dasar dalam menentukan hipotesa dan data penelitian. Selain itu variabel memiliki peran penting dalam penentuan desain penelitian, pengembangan instrumen penelitian serta penetapan uji statistik. Dengan kata lain variabel penelitian merupakan nilai atau sifat dari suatu objek/individu/kegiatan yang memiliki variasi antara satu dan lainnya yang telah ditentukan peneliti untuk dicari informasi serta ditarik kesimpulannya (Slameto, 2015: 195)

(4)

Variabel penelitian menurut Sugiyono (2009: 3) adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas, variabel terikat dan variabel kovarian. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini menggunakan dua variabel bebas yaitu metode pembelajaran mind mapping (X1.1) dan make a match (X2.1). Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPA (Y).

Sedangkan variabel kovarian adalah variabel yang digunakan untuk kontrol bebas.

Dalam penelitian ini variabel kovarian adalah pretes yang digunakan untuk menganalisis kondisi awal pada setiap kelompok kelas. Pretes dilakukan pada kelompok eksperimen 1 (X1.2) dan pretes juga dilakukan pada kelompok eksperimen 2 (X2.2).

3.2.2 Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

a. Metode pembelajaran mind mapping dan model pembelajaran make a match Metode pembelajaran mind mapping merupakan metode yang membuat siswa memahami konsep IPA melalui catatan visual sesuai cara kerja otak. Model pembelajaran make a match merupakan model yang membuat siswa memahami konsep IPA melalui kegiatan mencocokkan kartu soal dan jawaban yang dilakukan secara berulang.

Berikut ini merupakan sintak metode pembelajaran mind mapping : 1) Informasi kompetensi, 2) Sajian permasalahan terbuka, 3) Pembagian kelompok, 4) Menanggapi dan membuat berbagai alternatif jawaban, 5) Presentasi hasil diskusi kelompok, 6) Membuat kesimpulan, 7) Evaluasi dan 8) Refleksi.

Sedangkan berikut ini merupakan sintak model pembelajaran make a match : 1) Penyampaian materi, 2) Pembagian kelompok, 3) Pembagian kartu soal

(5)

dan jawaban, 4) Penyampaian dalam mencocokkan kartu yang dipegang, 5) Mencari pasangan, 6) Laporan hasil kerja dan 7) Konfirmasi.

b. Hasil belajar

Hasil belajar merupakan hasil yang didapat siswa setelah mengikuti pembelajaran. Hasil belajar dapat dilihat dari nilai postes siswa.

c. Pretes

Pretes merupakan tes yang diberikan sebelum diadakannya pembelajaran dan digunakan untuk mengontrol atau menyaring variabel yang tidak dapat dikendalikan oleh peneliti sehingga validitas internal dan eksternal dapat terjaga.

Dengan terjaganya validitas eksternal dan internal, hasil penelitian benar-benar merupakan pengaruh dari pemberian perlakuan yang diberikan kepada kedua kelompok.

3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas atau karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009: 117). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 4 SD Gugus Murai Kecamatan Tuntang, dengan jumlah siswa 134 yang terdiri dari 5 SD dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 3.2

Daftar Jumlah Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Gugus Murai No. Nama Sekolah Status Sekolah Jumlah Siswa

Kelas 4

1. SDN Kesongo 01 SD Inti 34

2. SDN Kesongo 02 SD Imbas 27

3. SDN Kesongo 04 SD Imbas 27

4. SDN Lopait 01 SD Imbas 32

5. SDN Lopait 02 SD Imbas 14

Jumlah 134

(6)

3.3.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel pada dasarnya mewakili populasi, untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul mewakili (Sugiyono, 2009: 118).

Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Kesongo 01 yang berjumlah 34 siswa, SD Negeri Kesongo 02 yang berjumlah 27 dan SD Negeri Lopait 01 yang berjumlah 32 siswa. Ketiga SD tersebut mewakili SD Negeri Inti dan SD Negeri Imbas di Gugus Murai. Secara ringkas dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 3.3

Daftar Subjek Penelitian No. Nama

Sekolah

Status Kelas Jumlah Siswa

Kelompok

1. SD Negeri Kesongo 01

SD Inti IV 17 Eksperimen 1

17 Eksperimen 2 2. SD Negeri

Kesongo 02

SD Imbas

IV 27 Eksperimen 1

3. SD Negeri Lopait 01

SD Imbas

IV 32 Eksperimen 2

Jumlah 93

3.3.3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel berfungsi untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik pengambilan sampel yang digunakan (Sugiyono, 2009: 118). Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Cluster Sampling (Area Sampling). Cluster Sampling digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang diteliti atau sumber data luas (Sugiyono, 2009: 121). Pada Gugus Murai terdapat lima Sekolah Dasar yaitu SDN Kesongo 01, SDN Kesongo 02, SDN Kesongo 04, SDN Lopait 01 dan SDN Lopait 02. Karena cakupan sangat luas dan karena keterbatasan

(7)

waktu dan biaya, maka peneliti mengambil tiga kelas 4 yang mewakili satu Gugus Murai yaitu SDN Kesongo 01, SDN Kesongo 02 dan SDN Lopait 01.

3.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 3.4.1 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yaitu cara yang digunakan untuk mengumpulkan atau memperoleh data dalam penelitian. Berikut teknik pengumpulan data yang digunakan :

a) Tes

Alat yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah tes formatif hasil yang dilaksanakan dalam bentuk soal pilihan ganda. Bentuk tes yang digunakan adalah pilihan ganda yang terdiri dari pretes dan postes. Tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan kelas 4 semester 2 SDN Kesongo 01, SDN Kesongo 02 dan SDN Lopait 01 yang terletak di Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang tahun ajaran 2015/2016.

b) Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung maupun tidak tentang hal-hal yang diamati dan mencatatnya pada alat observasi (Sanjaya, 2013: 270). Obervasi digunakan untuk mendapatkan data tentang pencapaian pengajar dalam pemberian treatment di dalam kelas.

c) Dokumentasi

Dokumentasi digunakan sebagai bukti nyata dari penelitian yang telah dilakukan tersebut. Di sini peneliti mengambil foto dalam proses mengajar sebagai bukti penelitian.

3.4.2 Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan observasi.

Tes dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa antara siswa kelas eksperimen 1 dengan siswa kelas eksperimen 2. Sementara itu dilakukan observasi untuk menjamin keterlaksanaan sintak model pembelajaran.

(8)

Jenis tes yang digunakan adalah tes formatif berupa soal pilihan ganda.

Kisi-kisi yang digunakan untuk membuat tes berdasarkan KD yang telah ditetapkan diambil dari silabus IPA kelas IV SD semester II.

Dalam kegiatan observasi untuk mengecek keterlaksanaan sintak menggunakan lembar observasi kegiatan guru dan siswa. Kisi-kisi lembar observasi berdasarkan sintak metode pembelajaran mind mapping dan model pembelajaran make a match. Berikut ini penjelasan mengenai instrumen pengumpulan data dan kisi-kisinya:

a) Obervasi

Observasi dilakukan terhadap proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran mind mapping dan model make a match. Berikut ini kisi- kisi lembar observasi kegiatan pembelajaran guru menggunakan metode mind mapping:

Tabel 3.4 Kisi-kisi Lembar Observasi Kegitan Guru Dalam Menerapkan Metode Pembelajaran Mind Mapping

NO. KEGIATAN GURU NOMOR

ITEM Pertemuan Pertama

1. Guru memberikan pretes. 1

2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 2

3. Guru menginstruksikan metode pembelajaran yang dipakai. 3 4. Guru mulai menjelaskan tentang pengaruh perubahan lingkungan

fisik terhadap daratan.

4

5. Guru memberi waktu siswa untuk membaca materi yang telah diajarkan.

5

6. Guru mengajak siswa tanya jawab. 6

Pertemuan Kedua

1. Guru membagi siswa ke dalam kelompok dan memberikan tugas untuk membuat mind map berdasarkan materi yang telah diajarkan.

1

2. Guru memberi batasan waktu dan mengarahkan siswa dalam membuat mind mapping.

2

3. Guru meminta setiap kelompok untuk maju mempresentasikan hasil diskusinya.

3

(9)

4. Setelah semua kelompok telah melakukan presentasi maka guru dan siswa menyamakan persepsi dari presentasi dan hasil diskusi setiap kelompok.

4

5. Guru mereview materi dan hasil pembelajaran secara garis besar. 5 6. Guru memberikan penguatan agar siswa termotivasi untuk dapat

membuat mind map lebih bagus.

6

7. Guru memberikan postes. 7

Dalam lembar observasi guru, menggambarkan kegiatan yang akan dilaksanakan guru dalam pembelajaran menggunakan metode mind mapping.

Pembelajaran sendiri terjadi dalam dua kali pertemuan. Setelah lembar observasi guru, selanjutnya adalah lembar observasi siswa menggunakan metode pembelajaran mind mapping sebagai berikut:

Tabel 3.6 Kisi-kisi Lembar Observasi Kegitan Siswa Dalam Menerapkan Metode Pembelajaran Mind Mapping

NO. KEGIATAN SISWA NOMOR

ITEM Pertemuan Pertama

1. Siswa mengerjakan pretes. 1

2. Siswa mendengarkan penjelasan dari guru. 2

3. Siswa mendengarkan instruksi dari guru. 3

4. Siswa memperhatikan dan fokus mendengarkan penjelasan dari guru.

4

5. Siswa kembali membaca materi yang telah diajarkan guru. 5 6. Siswa mendengarkan pertanyaan dari guru dan mengacungkan

tangan serta berani menjawab setelah ditunjuk guru.

6

Pertemuan Kedua

1. Siswa berkumpul dengan kelompoknya sesuai dengan kelompok yang ditentukan oleh guru.

1

2. Di dalam kelompok siswa berdiskusi dan membuat mind map.

Pembuatan mind map dimulai dari membuat ide utama berupa gambar, simbol dan tulisan.

Dilanjutkan dengan menarik ide utama ke cabang utama kemudian cabang pertama, kedua dan seterusnya.

2

3. Siswa maju ke depan mempresentasikan mind mapnya. 3

(10)

4. Siswa yang maju mendengarkan tanggapan dari guru dan teman lain. Setelah semua kelompok telah maju presentasi, siswa kembali ke tempat duduk masing-masing.

4

5. Siswa dan guru menyamakan presepsi dari hasil diskusi dan presentasi.

5

6. Siswa mendengarkan review dari guru. 6

7. Siswa mengerjakan postes. 7

Lembar observasi kegiatan siswa menggambarkan kegiatan yang dilakukan siswa selama pembelajaran menggunakan metode mind mapping.

Kegiatan siswa ini dipantau melalui lembar observasi selama dua kali pertemuan.

Selanjutnya akan dipaparkan lembar observasi kegiatan guru dengan menggunakan model pembelajaran make a match sebagai berikut:

Tabel 3.5 Kisi-kisi Lembar Observasi Kegitan Guru Dalam Menerapkan Model Pembelajaran Make a match

NO. KEGIATAN GURU NOMOR

ITEM Pertemuan Pertama

1. Guru memberikan pretes. 1

2. Guru menerangkan materi yang akan dipelajari. 2 3. Guru menjelaskan materi tentang pengaruh perubahan

lingkungan fisik terhadap daratan.

3

Pertemuan Kedua

1. Guru membagi siswa ke dalam dua kelompok. Misalnya kelompok A dan kelompok B.

1

2. Guru membagikan kartu soal dan jawaban. 2

3. Guru menyampaikan instruksi agar siswa mencocokkan kartu yang dipegang dengan milik kelompok lain.

3

4. Guru memberi batasan waktu dan mengawasi siswa dalam mencari pasangan.

4

5. Guru meminta siswa yang telah mendapatkan pasangan antara soal dan jawaban untuk maju ke depan melaporkan hasil kerjanya.

5

6. Guru memberikan konfirmasi tentang kebenaran soal dan jawaban yang telah dilaporkan siswa.

6

7. Guru meminta siswa untuk menempelkan jawaban dan soal pada karton di papan tulis agar siswa lain tahu kebenaran antara soal

7

(11)

dan jawaban.

8. Guru memberikan postes. 8

Dalam lembar kegiatan guru, telah dipaparkan kegiatan yang akan dilakukan guru selama pembelajaran menggunakan model make a match.

Kegiatan pembelajaran dilakukan dalam dua kali pertemuan. Selanjutnya adalah lembar observasi kegiatan siswa menggunakan model make a match yang akan dipaparkan di dalam tabel berikut:

Tabel 3.7 Kisi-kisi Lembar Observasi Kegitan Siswa Dalam Menerapkan Model Pembelajaran Make a match

NO. KEGIATAN SISWA NOMOR

ITEM Pertemuan Pertama

1. Siswa mengerjakan pretes. 1

2. Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang materi yang akan diajarkan.

2

3. Siswa tenang mendengarkan penyampaian materi dari guru tentang pngaruh perubahan fisik terhadap daratan.

3

Pertemuan Kedua

1. Siswa memperhatikan pembagian kelompok. 1

2. Siswa yang menjadi kelompok A mendapatkan kartu soal dari guru sedangkan siswa yang menjadi kelompok B mendapatkan kartu jawaban.

2

3. Siswa memperhatikan instruksi dari guru. 3

4. Siswa yang mendapatkan kartu soal harus mencari siswa yang memegang kartu jawaban begitu pula sebaliknya.

4

5. Siswa yang telah mendapatkan pasangan antara kartu soal dan jawaban maju ke depan untuk melaporkan hasil kerjanya.

5

6. Siswa memperhatikan konfirmasi dari guru tentang kebenaran pasangan soal dan jawaban.

6

7. Siswa menempelkan pasangan soal dan jawaban pada karton. 7

8. Siswa mengerjakan postes. 8

Telah dipaparkan lembar observasi kegiatan siswa dalam tabel di atas, lembar observai kegiatan siswa merupakan gambaran kegiatan siswa dalam

(12)

pembelajaran menggunakan model make a match. Selanjutnya akan dibahas tentang instrumen pengumbulan data berupa tes tertulis.

b) Tes tertulis

Dalam penelitian ini dilakukan dua kali tes tertulis yaitu pretes dan postes.

Pretes adalah tes yang dilaksanakan sebelum kegiatan belajar mengajar.

Sedangkan, postes adalah tes yang dilaksanakan setelah kegiatan belajar mengajar untk mengetahui hasil belajar siswa. Untuk menetukan soal pretes dan postes dilakukan uji coba soal agar layak digunakan dalam penelitian. Berikut ini kisi- kisi soal uji coba dengan materi perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan:

Tabel 3.8

Kisi-kisi Instrumen Soal Uji Coba

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR BANYAK BUTIR

NO.

BUTIR

ASPEK TEKNIK (BENTUK) 10.2. Menjelas

kan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir dan longsor

10.2.1. Meny e-butkan peristiwa perubahan daratan.

10.2.2. Menje -laskan perubahan daratan dan penyebabnya.

10.2.3. Menje laskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan.

11 2,5,4,10,1 2,22,47,48 ,49,50

Pilihan Ganda

18 1,3,11,13, 17,18,23,2 6,32,35,36 ,37,38,41, 42,43,44,4 6

Pilihan Ganda

21 6,7,8,9,15, 16,19,20,2 1,24,25,27 ,28,29,30, 31,33,34,3 9,40,45

Pilihan Ganda

(13)

Pengujian instrumen dilakukan di SD Negeri Kesongo 04 yang masih berada di lingkup Gugus Diponegoro dengan jumlah responden 27 peserta didik.

Berdasarkan hasil uji coba instrumen tersebut, kemudian dilakukan analisis uji validitas, reliabilitas, daya pembeda, tingkat kesukaran dan fungsi pengecoh dengan bantuan Anates 4.09 for Windows.

1.5 Uji Validitas, Reliabilitas dan Analisis Butir Soal 3.5.1. Validitas Data

Uji validitas instrumen dalam penelitian ini digunakan untuk menguji instrumen tiap item soal yang nantinya akan digunakan dalam tes individual setelah pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran mind mapping dan make a match. Untuk mengetahui validitas, instrumen terlebih dahulu diuji cobakan di kelas uji coba yaitu di kelas 4 SDN Kesongo 04 Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Menurut Sujana, (2010: 12) Validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai.

Dalam uji validitas soal tes setelah dianalisis dengan menggunakan bantuan Anates for windows version 4.09, dapat diketahui bahwa dari 50 soal pilihan ganda yang diujikan terdapat 32 soal yang signifikan sedangkan 18 soal tidak signifikan. Soal yang tidak signifikan adalah soal nomor 3, 5, 10, 11, 13, 14, 21, 26, 30, 32, 33, 34, 35, 37, 38, 41, 44 dan 45. Sementara itu 32 soal yang signifikan akan digunakan dalam pretes dan postes. Output Anates for windows version 4.09 berkaitan dengan uji validitas berada di lampiran.

3.5.2. Reliabilitas Data

Setelah secara keseluruhan dinyatakan valid atau handal dalam mengukur apa yang hendak diukur, maka selanjutnya butir-butir soal tersebut perlu dilihat konsistensinya yaitu dengan mengukur reliabilitas dari masing-masing butir soal.

Pengujian reliabilitas dilakukan dengan bantuan komputer menggunakan program Anates version 4.09 dengan Alphacroncbrach syarat lebih besar daripada 0,60 maka pertanyaan tersebut dikatakan reliabel.

(14)

Tingkat reliabilitas instrumen menggunakan kriteria sebagai berikut : α≤ 0,7 : tidak dapat diterima

0,7<≤ 0,8 : dapat diterima 0,8<≤ 0,9 : reliabilitas bagus α > 0,9 : reliabilitas memuaskan

Uji reabilitas dilakukan pada kelas 4 SDN Kesongo 04 Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas diketahui bahwa butir-butir soal dalam penelitian ini memenuhi pengujian reliabilitas. Hal ini diketahui besarnya Alphacroncbrach yaitu 0,80 lebih besar daripada 0,60.

Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa butir-butir soal dalam penelitian ini secara keseluruhan konsisten dalam mengukur apa yang diukur. Output Anates for windows version 4.09 berkaitan dengan uji reliabilitas berada di lampiran.

3.5.3. Daya Pembeda

Daya pembeda digunakan untuk menentukan soal sungguh dapat membedakan siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) dan siswa yang termasuk kelompok kurang (lower group).

Kriteria tingkat daya pembeda item soal adalah sebagai berikut.

Daya Pembeda Item Keterangan

0 – 20% item soal memiliki daya pembeda lemah 21% – 40% item soal memiliki daya pembeda sedang 41% – 70% item soal memiliki daya pembeda baik

71% – 100% item soal memiliki daya pembeda sangat kuat Bertanda negatif item soal memiliki daya pembeda sangat jelek

Dimodifikasi dari Arikunto, 2003: 213-218

Dari hasil uji daya pembeda menggunakan program Anates version 4.09 terdapat 15 soal dengan daya pembeda lemah yaitu soal nomor 5, 10, 11, 13, 14, 25, 30, 32, 34, 35, 36, 37, 38, 41 dan 44. Output Anates for windows version 4.09 berkaitan dengan daya pembeda berada di lampiran.

(15)

3.5.4. Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaran soal adalah angka yang menunjukkan proposi peserta didik yang menjawab betul suatu butir soal semakin rendah tingkat kesukaran berarti soal itu semakin sukar. Tingkat kesukaran soal adalah peluang menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran (P), dapat dihitung dengan rumus:

P = Jumlah peserta didik yang menjawab benar dibagi dengan jumlah peserta didik keseluruhan atau

P = Proposi peserta didik yang menjawab dengan benar

Rentang skor tingkat kesukaran ditunjukkan pada tabel dibawah ini:

Rentang Skor Tingkat Kesukaran

0% – 27% Sukar

28% – 75% Sedang

76% – 100% Mudah

Dimodifikasi dari Naniek Sulistya Wardani (2009: 8-7)

Dari hasil uji tingkat kesukaran menggunakan program Anates version 4.09 terdapat jumlah soal mudah sebanyak 16, soal sedang sebanyak 30 ,soal sukar sebanyak 4. Output Anates for windows version 4.09 berkaitan dengan tingkat kesukaran berada di lampiran.

3.5.5. Fungsi Pengecoh

Menganalisis fungsi pengecoh (distractor) dikenal dengan istilah menganalisis pola penyebaran jawaban butir soal pada soal bentuk pilihan ganda.

Pola tersebut diperoleh dengan menghitung banyaknya tester yang memilih pilihan jawaban butir soal atau yang tidak memilih pilihan manapun (blangko).

Dari pola penyebaran jawaban butir soal dapat ditentukan apakah pengecoh berfungsi dengan baik atau tidak. Suatu pengecoh dapat dikatakan berfungsi dengan baik jika paling sedikit dipilih oleh 5 % pengikut tes.

(16)

Cara melakukan analisis pengecoh yaitu dengan melakukan analisis pengecoh sesuai dengan kriteria berikut:

a. Diterima, karena sudah baik b. Ditolak, karena tidak baik

c. Ditulis kembali, karena kurang baik

Sebuah pengecoh dikatakan berfungsi baik jika paling sedikit dipilih oleh 5%

pengikut tes (Ayu, 2012: 5).

Dari hasil uji fungsi pengecoh menggunakan program Anates version 4.09 didapatkan hasil bahwa fungsi pengecoh diterima karena sudah baik dan jawaban soal kebanyakan dipilih oleh lebih dari 5% pengikut tes. Output Anates for windows version 4.09 berkaitan dengan fungsi pengecoh berada di lampiran.

3.6 Prosedur Pemberian Perlakuan

3.6.1 Upaya Mengontrol Validitas Internal dan Eksternal

Dalam penelitian eksperimen variabel luar ( extraneous variables ) yang tidak dapat dikontrol akan mempengaruhi performansi pada variabel terikat sehingga dapat mengancam validitas suatu eksperimen. Suatu eksperimen dikatakan valid jika hasil yang diperoleh hanya disebabkan oleh variabel bebas yang dimanipulasi, dan jika hasil tersebut dapat digeneralisasi pada situasi diluar seting eksperimental. Oleh karena itu, agar hasil eksperimen benar-benar dapat dipercaya, maka peneliti harus dapat mengontrol validitas eksperimen, baik validitas internal maupun validitas eksternal.

Validitas internal adalah validitas yang menunjukkan apabila variabel terikat/tergantung benar-benar merupakan akibat atau efek dari variabel bebas yang dimanipulasikan. Dengan demikian validitas ini berkaitan dengan kontrol yang dilakukan peneliti terhadap berbagai variabel yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Sedangkan validitas eksternal berhubungan dengan kekuatan hasil eksperimen untuk digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas. Dengan demikian validitas ini berkaitan dengan teknik sampling yang dilakukan oleh peneliti. Kesalahan pengambilan sampel dapat mempengaruhi generalisasi hasil eksperimen (Sanjaya, 2011: 96-97).

(17)

Dalam penelitian pendidikan, untuk memenuhi kriteria validitas internal dan eksternal bukanlah pekerjaan yang mudah. Hal ini disebabkan penelitian tingkah laku dilapangan sangatlah kompleks, di mana variabel-variabel yang muncul atau berpengaruh tidak semuanya dapat dikontrol secara ketat (Sanjaya, 2013: 96-97).

Menurut Gay (2000: 213-216) ada delapan ancaman utama terhadap validitas internal. Adapun ancaman tersebut sebagai berikut: 1) Historis, 2) Maturasi, 3) Testing, 4) Instrumentasi, 5) Regresi Statistik, 6) Seleksi Subjek yang Berbeda, 7) Moralitas, dan 8) Interaksi Seleksi-Maturasi.

Gay (2000: 213-216) juga mengungkapkan ada enam ancaman yang mempengaruhi validitas eksternal. Adapun ancaman-ancaman tersebut sebagai berikut: 1) Interaksi Prates-Perlakuan, 2) Interaksi Seleksi-Perlakuan, 3) Spesifitas Variabel 4) Pengaturan Reaktif, 5) Interferensi Perlakuan Jamak, 6) Kontaminasi dan Bias Pelaku Eksperimen.

Adanya ancaman-ancaman terhadap validitas internal dan eksternal ini harus diminimalisir. Salah satu usaha yang dilakukan peneliti adalah dengan melakukan analisis kovarian. Analisis kovarian adalah suatu metode untuk menganalisis perbedaan antara kelompok eksperimen mengenai variabel terikat setelah mempertimbangkan perbedaan awal antara kelompok mengenai ukuran- ukuran lain dari variabel bebas yang relevan. Dalam penelitian eksperimen dapat dilakukan dengan pretes dan postes dengan soal yang berbeda untuk menyaring ancaman-ancaman validitas eksternal dan internal (Sudjana dan Ibrahim, 2007:

27-28). Dengan dasar tersebut maka peneliti mengambil langkah untuk melakukan pretes dan postes dalam peneltian.

3.6.2 Prosedur Pemberian Perlakuan Kelompok Eksperimen

Dalam penelitian ini telah diambil sampel yaitu SDN Kesongo 01, SDN Kesongo 02 dan SDN Lopait 01. Hal ini didasarkan karena jumlah siswa yang tidak berbeda jauh. Untuk SDN Kesongo 01 memiliki jumlah siswa kelas 4 sebanyak 34, SDN Kesongo 02 memiliki jumlah siswa kelas 4 sebanyak 27 dan SDN Lopait 01 memiliki jumlah siswa kelas 4 sebanyak 32.

(18)

Sekolah yang menjadi sampel dibagi menjadi dua kelompok eksperimen dan akan diberikan perlakuan. Perlakuan yang diberikan akan dilaksanakan oleh peneliti sebagai pengganti guru. Peneliti akan mengajar menggunakan metode mind mapping dan model make a match. Untuk kelompok eksperimen 1 akan diberikan perlakuan menggunakan metode pembelajaran mind mapping.

Kelompok eksperimen 1 yaitu kelas 4A SDN Kesongo 01 dan kelas 4 SDN Kesongo 02. Sedangkan kelompok eksperimen 2 akan diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran make a match. Kelompok eksperimen 2 yaitu kelas 4B SDN Kesongo 01 dan kelas 4 SDN Lopait 01.

3.6.2.1 Perlakuan Pada Kelompok Eksperimen 1

Kelompok eksperimen 1 diberikan perlakuan menggunakan metode pembelajaran mind mapping. Berikut adalah langkah-langkah perlakuan yang dilakukan: a) Guru memberikan pretes; b) Pada tahap informasi kompetensi; 1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, siswa mendengarkan penjelasan dari guru; 2) Guru menginstruksikan metode pembelajaran yang dipakai, siswa mendengarkan instruksi dari guru; 3) Guru mulai menjelaskan tentang pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan, siswa memperhatikan dan fokus mendengarkan penjelasan dari guru; c) Pada tahap sajian permasalahan terbuka;

4) Guru memberi waktu siswa untuk membaca materi yang telah diajarkan, siswa kembali membaca materi yang telah diajarkan guru; 5) Guru mengajak siswa tanya jawab, siswa mendengarkan pertanyaan dari guru dan mengacungkan tangan serta berani menjawab setelah ditunjuk guru; d) Pada tahap kelompok; 6) Guru membagi siswa ke dalam kelompok dan memberikan tugas untuk membuat mind mapping berdasarkan materi yang telah diajarkan, siswa berkumpul dengan kelompoknya sesuai dengan kelompok yang ditentukan oleh guru; e) Pada tahap menanggapi dan membuat alternatif jawaban; 7) Guru memberi batasan waktu dan mengarahkan siswa dalam membuat mind mapping, Di dalam kelompok siswa berdiskusi dan membuat mind map. Pembuatan mind map dimulai dari membuat ide utama berupa gambar, simbol dan tulisan. Dilanjutkan dengan menarik ide utama ke cabang utama kemudian cabang pertama, kedua dan

(19)

seterusnya; f) Pada tahap presentasi diskusi kelompok; 8) Guru meminta setiap kelompok untuk maju mempresentasikan hasil diskusinya, siswa maju ke depan mempresentasikan mind mapnya. Siswa yang maju mendengarkan tanggapan dari guru dan teman lain. Setelah semua kelompok telah maju presentasi, siswa kembali ke tempat duduk masing-masing; g) Pada tahap membuat kesimpulan; 9) Guru dan siswa menyamakan persepsi dari presentasi dan hasil diskusi setiap kelompok; h) Pada tahap evaluasi; 10) Guru mereview materi dan hasil pembelajaran secara garis besar, siswa mendengarkan revew dari guru; i) Pada tahap refleksi; 11) Guru memberikan penguatan agar siswa termotivasi untuk dapat membuat mind map lebih bagus, siswa mendengarkan nasihat dan motivasi dari guru; j) Guru memberikan postes.

3.6.2.2 Perlakuan Pada Kelompok Eksperimen 2

Kelompok Eksperimen 2 diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran make a match. Berikut adalah langkah-langkah perlakuan yang dilakukan: a) Guru memberikan pretes; b) Pada tahap penyampaian materi; 1) Guru menerangkan materi yang akan dipelajari, siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang materi yang akan diajarkan; 2) Guru menjelaskan materi tentang pengaruh perubahan lingkungan fisik, siswa tenang mendengarkan penyampaian materi dari guru tentang pengaruh perubahan fisik terhadap daratan; c) Pada tahap pembagian kelompok; 3) Guru membagi siswa ke dalam dua kelompok. Misalnya kelompok A dan kelompok B, siswa memperhatikan pembagian kelompok; d) Pada tahap pembagian kartu soal dan jawaban; 4) Guru membagikan kartu soal dan jawaban, siswa yang menjadi kelompok A mendapatkan kartu soal dari guru sedangkan siswa yang menjadi kelompok B mendapatkan kartu jawaban; e) Pada tahap penyampaian dalam mencocokkan kartu yang dipegang; 5) Guru menyampaikan instruksi agar siswa mencocokkan kartu yang dipegang dengan milik kelompok lain, siswa memperhatikan instruksi dari guru; f) Pada tahap mencari pasangan; 6) Guru memberi batasan waktu dan mengawasi siswa dalam mencari pasangan; siswa yang mendapatkan kartu soal harus mencari siswa yang memegang kartu jawaban begitu pula sebaliknya; g) Pada tahap laporan hasil

(20)

kerja; 7) Guru meminta siswa yang telah mendapatkan pasangan antara soal dan jawaban untuk maju ke depan melaporkan hasil kerjanya, siswa yang telah mendapatkan pasangan antara kartu soal dan jawaban maju ke depan untuk melaporkan hasil kerjanya; h) Pada tahap konfirmasi; 8) Guru memberikan konfirmasi tentang kebenaran soal dan jawaban yang telah dilaporkan siswa, sementara siswa memperhatikan konfirmasi dari guru tentang kebenaran pasangan soal dan jawaban; 9) Guru meminta siswa untuk menempelkan jawaban dan soal pada karton di papan tulis agar siswa lain tahu kebenaran antarasoal dan jawaban, Siswa menempelkan pasangan soal dan jawaban pada karton; i) Guru memberikan postes.

3.7 Teknik Analisis Data

Dalam Penelitian ini terdapat dua teknik analisis data, teknik analisis data yang pertama adalah teknik analisis data deskriptif dan teknik analisis data yang kedua adalah teknik analisis data statistik. Kedua teknik analisis data tersebut akan dijelaskan lebih lanjut, berikut adalah penjelasannya:

3.7.1 Teknik Analisis Data Deskriptif

Teknik analisis data deskriptif terdiri atas teknik analisis data distribusi dan distribusi frekuensi. Teknik analisis data distribusi digunakan untuk mengetahui nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata dan standar deviasi pada perhitungan hasil penelitian. Distribusi frekuensi merupakan presentase frekuensi jumlah data pada kelas interval.

3.7.2 Teknik Analisis Data Statistik

Teknik analisis data statistik terdiri atas uji prasyarat dan uji hipotesis. Uji Prasyarat terdiri atas uji normalitas untuk menentukan apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak, uji homogenitas dan uji homogenitas regresi linier data untuk mengetahui tingkat kesetaraan subjek yang akan diteliti. Setelah dilakukan uji asumsi/uji prasyarat kemudian dapat dilaksanakan uji Anakova sebagai acuan untuk menguji hipotesis.

(21)

3.7.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah setiap kelas mempunyai distribusi data yang normal atau tidak, apabila data berdistribusi normal maka dapat digunakan statistika parametrik sedangkan apabila data tidak berdistribusi normal maka digunakan statistik nonparametrik. Acuan data dikatakan berdistribusi normal jika nilai signifikansi/probabitas > 0,05. Dalam uji normalitas data ini bisa menggunakan bantuan software SPSS 20 yaitu analyze- nonparametrik-one sampel KS-masukan variabel pada jendela variabel-klik normal pada test distribution-ok.

3.7.2.2 Uji Homogenitas

Uji homogenitas varian bertujuan untuk mengetahui apakah varian kedua kelompok homogen atau tidak. Acuan varian data kedua kelompok homogen adalah jika nilai probabilitas/signifikansi >0,05. Analisis uji homogenitas varian ini bisa dilakukan menggunakan software SPSS 20 yaitu analyze-comperemean- oneway Anova atau analyze-descriptive statistic-explore.

3.3.1 Uji Homogenitas Regresi Linier Data

Uji homogenitas regresi linier data bertujuan untuk mengetahui apakah variabel kovarian ( X1.2 dan X2.2 ) dan variabel terikat (Y) homogen atau tidak jika dilihat dari koefisien regresinya. Acuan homogenitas regresi linier adalah jika nilai Beta >0,6. Analisis uji homogenitas varian ini bisa dilakukan menggunakan software SPSS 20 yaitu analyze-general linier model-univariate-plot-continue- option-continue-ok.

3.7.2.4 Analisis Kovarian (Anakova)

Anakova adalah penggabungan antara uji komparatif dan korelasional.

Anakova membandingkan variabel tergantung (Y) ditinjau dari variabel bebas (X1) sekaligus menghubungkan variabel tergantung tersebut dengan variabel bebas lainnya (X2). Variabel X2 yang dipakai memprediksi inilah yang dinamakan dengan kovarian. Dengan menggunakan anakova maka peranan variabel bebas terhadap variabel tergantung, baik melalui komparasi maupun prediksi dapat

(22)

dilakukan secara bersamaan (simultan). Dalam penelitian eksperimen sendiri, peneliti menguji efektivitas perlakuan yang diberikan. Perlakuan dikatakan efektif jika terdapat perubahan skor antara kelompok eksperimen dan kontrol. Acuan analisis kovarian adalah jika nilai probabilitas/signifikansi <0,05. Analisis uji Anakova ini bisa dilakukan menggunakan software SPSS 20 yaitu analyze- general linier model-univariat-option-overall-continue-ok.

3.7.2.5 Uji Hipotesis a) Hipotesis Penelitian

Dalam penelitian ini dirumuskan dua hipotesis sebagai berikut :

1) H0 = tidak ada perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan pada siswa kelas 4 SD antara yang memperoleh pembelajaran menggunakan metode pembelajaran mind mapping dan model pembelajaran make a match Gugus Murai Tuntang Kabupaten Semarang.

2) Ha = ada perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan pada siswa kelas 4 SD antara yang memperoleh pembelajaran menggunakan metode pembelajaran mind mapping dan model pembelajaran make a match Gugus Murai Tuntang Kabupaten Semarang.

b) Kriteria Penerimaan dan Penolakan H0

Melakukan uji Anakova dengan kriteria pengujian berdasarkan signifikansi berikut:

H0 diterima jika signifikansi > 0,05 Ha ditolak jika signifikansi < 0,05 c) Kesimpulan

Setelah dianalisis hasil uji hipotesis kemudian dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:

Ho: μ1 metode mind mapping = μ2 model make a match Ha: μ1 metode mind mapping μ2 model make a match

1) H0: μ1 = μ2 artinya, tidak ada perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan pada siswa kelas 4 SD antara yang memperoleh pembelajaran

(23)

menggunakan metode pembelajaran mind mapping dan model pembelajaran make a match Gugus Murai Tuntang Kabupaten Semarang.

2) Ha: μ1 ≠ μ2 artinya, ada perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan pada siswa kelas 4 SD antara yang memperoleh pembelajaran menggunakan metode pembelajaran mind mapping dan model pembelajaran make a match Gugus Murai Tuntang Kabupaten Semarang.

Gambar

Gambar 3.1  Nonequivalent Control Group Design  Keterangan:
Tabel 3.4 Kisi-kisi Lembar Observasi Kegitan Guru   Dalam Menerapkan Metode Pembelajaran Mind Mapping
Tabel 3.5 Kisi-kisi Lembar Observasi Kegitan Guru   Dalam Menerapkan Model Pembelajaran Make a match
Tabel 3.7 Kisi-kisi Lembar Observasi Kegitan Siswa   Dalam Menerapkan Model Pembelajaran Make a match

Referensi

Dokumen terkait

Pemeriksaan variasi periode kawin pertama postpartus dikumpulkan dari data reproduksi sapi FH dara dan induk di kedua lokasi yang dikumpulkan oleh stasiun bibit BPTU

terhadap matematika terdapat 2 pernyataan yang menghasilkan jumlah skor total sebesar 182. 2) Pada indikator menilai cara guru dalam menyampaikan pelajaran matematika

Adapun empat tahapan tersebut, yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate). Penilaian kualitas

Metode yang digunakan metode rancangan konvensional dengan penerapan metode 5S, yaitu Seiri (pemilihan) diterapkan pada ruang mekanik yaitu meletakkan peralatan

Hasil penelitian ini menunjukan : pertama, bahwa praktik yang digunakan oleh Mitra Tani Organik ialah praktik ijarah namun dalam hal ini praktik yang digunakan Mitra

5 PERMASALAHAN LOGISTIK OBAT / BARANG DARI DONATOR (fase akut) ORGANISASI &amp; MEKANISME KERJA SUMBER DAYA MANUSIA SISTEM INFORMASI PEMBIAYAAN BENCANA GEMPA D.I.Y..

Oleh karena itu, pemerahan yang dilakukan oleh orang yang berganti-ganti tidak termasuk faktor risiko mastitis subklinis pada kambing.. Pemerahan yang dilakukan oleh orang

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pola aktivitas dan penggunaan strata vertikal oleh kelompok monyet ekor panjang yang sudah terhabituasi dengan baik di fasilitas