• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 4.1. Konsep Ekstrem (Sumber: Hasil analisa beberapa kamus bahasa inggris dan ensiklopedia)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gambar 4.1. Konsep Ekstrem (Sumber: Hasil analisa beberapa kamus bahasa inggris dan ensiklopedia)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Perancangan Interior Surfing Centre ini menggunakan konsep “ekstrem”.

Dimana “ekstrem” dapat diartikan sebagai sesuatu yang luar biasa, exceptional, berada di luar garis normal. Di luar garis normal dapat ditarik kesimpulan bahwa bentukan yang ekstrem dapat kaku/ tegas dan lengkung sekali [Sumber: Hasil pengolahan dari analisis literatur http://askoxford.com/concise_oed/extreme?

view=uk (2005, July.19)]. Dalam perancangan interior surfing centre ini menerapkan “sisi ekstrem yang lengkung yang dipadukan dengan penggunaan warna primer merah, kuning, biru, silver dan bahan-bahan natural.

Gambar 4.1. Konsep Ekstrem

(Sumber: Hasil analisa beberapa kamus bahasa inggris dan ensiklopedia)

(2)

4.1. Tema Perancangan

Tema perancangan pada interior surfing centre ini mengambil tema “sport and life style”, tema ini dipilih karena surfing merupakan olah raga yang dapat meningkatkan hormon adrenalin, selain itu surfing juga merupakan salah satu gaya hidup masyarakat maupun wisatawan yang berada di pulau Bali saat ini, dapat dilihat apabila berjalan di sekitar pantai Kuta dan sekitarnya, dimana-mana melihat orang yang sedang surfing dan menggunakan perlengkapan atau aksesories surfing.

4.2. Karakter, Gaya dan Suasana Ruang

Karakter dari interior surfing centre ini bersifat informal, karakter ini diwujudkan karena sifat dari olahraga surfing yang dinamis, penuh tantangan serta membutuhkan keahlian khusus untuk menyesuaikan diri dengan ombak ketika berada di atas papan surfing. Aplikasi pada bentukan layout dan perabot yang beragam bentukannya, khususnya pada area toko

Suasana ruang yang ditampilkan adalah suasana ekstrem, dingin yang dipadukan dengan unsur tropis pulau Bali yang natural, dapat dilihat pada pemakaian warna serta bahan stainless, alumunium, batu kali, terasso dan kayu jati.

4.3. Pola Penataan Ruang

Penataan ruang dibagi menjadi 3 bagian yaitu toko, café dan sekolah surfing. Penataan display toko dibagi berdasarkan merk dan dipisah antara bagian untuk perempuan atau laki-laki supaya mempermudah customer untuk mencari barang yang ingin dibeli. Peletakan area kasir ditempatkan pada akses menuju area sekolah surfing dan café supaya mengarahkan pengunjung untuk mengenal lebih jauh tentang surfing.

Area café ditata bersifat informal dan terbuka pada sisi bagian yang menghadap ke laut untuk memperoleh view yang menguntungkan. Sistem pelayanan dengan cara “American Service” bahwa makanan sudah disiapkan/

ditata/ diatur dengan rapi dan menarik diatas piring, hanya beberapa jenis

(3)

dibutuhkan beberapa waiter atau waitress saja. Area service café, dapur dan back office ditempatkan dalam satu area untuk mempermudah sirkulasi barang dan karyawan.

Area sekolah surfing diletakkan diantara area toko dan café supaya menarik perhatian dan minat para pengunjung untuk mengenal dan menggemari olahraga surfing. Area receptionist diletakkan disisi yang paling menguntungkan untuk menangkap pengunjung baik dari toko, café maupun dari pintu masuk sekolah surfing. Area pengajaran lisan dan penjelasan informasi peletakannya di tengah-tengah untuk menarik pengunjung yang lewat, sifatnya informal dan fleksibel penataan perabotnya. Area kamar mandi dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.

Area back office ditempatkan di area yang dapat mencakup ketiga area diatas supaya memudahkan sirkulasi karyawan dan pengawasan serta mudah dalam proses pengiriman barang/ kebutuhan.

4.4. Pola Penataan Bentuk, Bahan dan Warna dari Elemen-Elemen Pembentuk Ruang

4.4.1. Lantai

Pola lantai bersifat dinamis dengan permainan bentuk lengkung tanpa ada permainan ketinggian lantai pada ketiga area supaya ada kesatuan antara ketiganya. Pola lantai secara keseluruhan area komersial menggunakan bahan terasso cor warna biru muda yang mengikuti bentuk pola lantai dan kayu jati yang difinishing anti gores. Pada area kamar mandi menggunakan bahan batu kali untuk menambah suasana natural. Sedangkan area back office menggunakan bahan keramik ukuran 40x40cm serta keramik bertekstur ukuran 40x40 untuk lantai service café dan dapur.

4.4.2. Dinding

Dinding menggunakan partisi dan bata, dinding bata digunakan pada sisi yang bersebelahan dengan toko lain, kamar mandi dan dapur. Dinding toko difinishing cat tembok warna muda. Karena dinding toko sebagian besar dipasang

(4)

wall display sehingga hanya sedikit sekali bagian dinding yang tampak. Dinding pada kamar mandi menggunakan batu kali dengan finishing anti jamur.

4.4.3. Plafon

Pola permainan ketinggian plafon memberi kesan dinamis pada ruangan dan memberikan kesan yang berbeda-beda saat memasuki ruangan tersebut. Pola bentukan plafon mengikuti pola bentukan lantai secara garis besar, hal ini bertujuan supaya memberi kesan yang lebih menyatu. Bahan yang digunakan adalah papan gypsum, kayu jati, acrylic, list stainless dan pipa stainless. Warna yang digunakan adalah warna kontras, warna biru gelap untuk area sirkulasi dan warna terang seperti putih kebiruan dan putih krem untuk area display, fitting room, kamar mandi, back office dan area makan.

4.4.4. Perabot

Desain perabot bertujuan untuk menunjang dan mendukung konsep dan desain dari ruang sehingga menjadi satu kesatuan. Bahan yang digunakan bermacam-macam dengan karakter material yang berbeda-beda, yaitu kayu, triplek, blockboard, alumunium, stainless, acrylic, kaca. Pada desain perabot mengurangi penggunaan bahan dari besi dengan pertimbangan letaknya yang dekat pantai untuk menghindari tingkat korosi yang tinggi. Warna yang digunakan adalah merah, biru, hitam, silver, metal dan dikombinasi dengan kayu.

Pertimbangan dalam mendesain perabot surfing centre adalah kesesuaian dengan konsep dan mudah diaplikasikan di lapangan.

Untuk area toko desain display dioptimalkan supaya dapat memuat banyak barang untuk dipajang dan menarik perhatian pengunjung, salah satunya dengan ketinggian standing display maksimal 1.20 meter selain display kaca mata supaya jarak pandang orang ke wall display dan ke display lainnya tidak terhalang. Area sekolah surfing, desain meja untuk area pengajaran lisan dan informasi didesain kotak supaya dapat dipindahkan atau digandeng dengan yang lain apabila pesertanya cukup banyak. Pada area café terdapat desain meja bar dan meja service built in, bentukannya mengikuti pola lantai.

(5)

4.4.5. Elemen Dekoratif

Elemen dekoratif pada desain surfing centre tampak pada papan surfing yang dipasang di dinding serta poster-poster surfing yang dipasang/ ditempel di dinding untuk memberi nuansa pada keseluruhan desain surfing centre.

4.5. Mekanikal dan Elektrikal 4.5.1. Tata Cahaya

Pencahayaan menggunakan pencahayaan alami dan buatan. Area toko menggunakan pencahayaan buatan, yaitu perpaduan antara jenis lampu yang berbeda serta warna cahaya yang dihasilkan. Lampu yang digunakan pada area toko adalah jenis spot light, down light, metal hilight, neon sign dan lampu TL untuk pencahayaan di neon box. Lampu spot light dikhususkan untuk bagian- bagian yang ditonjolkan seperti etalase dan display-display.

Area sekolah surfing menggunakan jenis lampu down light, spot light, lampu gantung, TL dan metal hilide. Untuk area receptionis dan merchandise lebih mengutamakan penggunaan spot light dan lampu gantung. Kamar mandi menggunakan down light dan untuk area lain menggunakan metal hilide. Pada pagi dan siang hari pemakaian lampu metal hilide dikurangi beberapa bagian karena cahaya matahari yang masuk melalui kaca dan pintu cukup untuk menerangi serta dapat mengurangi pengeluaran.

Pencahayaan area café dibuat remang-remang dengan kombinasi lampu down light, spot light dan lampu gantung. Peletakan spot light lebih diarahkan ke titik meja sehingga yang disorot adalah makanan dan minumannya, efek ini untuk menambah kenyamanan tamu. Untuk siang hari menggunakan pencahayaan alami, hanya beberapa titik lampu saja yang dinyalakan karena cahaya matahari dari 2 sisi masuk secara langsung ke dalam ruangan. Area dapur menggunakan lampu TL dengan pencahyaan yang cukup terang guna membantu proses memasak dan membersihkan makanan dan minuman.

Area back office menggunakan pencahayaan buatan secara keseluruhan karena areanya yang tertutup. Untuk kantor managing director menggunakan lampu TL dan down light, area locker dan check clock menggunakan lampu TL.

(6)

4.5.2. Tata Suara

Sistem tata suara terpusat , menggunakan speaker-speaker yang diletakkan di sudut ruangan karena untuk area toko dan café membutuhkan speaker untuk mendengar musik dan melihat tayangan olahraga surfing.

4.5.3. Tata Udara

Penghawaan menggunakan alami dan buatan. Untuk area toko, sekolah surfing, back office menggunakan penghawaan buatan dengan AC sentral dan RAG (Return Air Grill) di sudut-sudut ruangan sedangkan area café menggunakan penghawaan alami. Area kamar mandi menggunakan exhaust fan. Untuk menghambat udara luar masuk ke area ber AC maka diberi air certain pada tiap jalan masuk yang berhubungan dengan area tidak menggunakan AC.

4.5.4. Sistem Komunikasi

Perancangan interior ini tidak memerlukan sistem komunikasi seperti pengeras suara dan semacamnya. Penggunaan speaker ditujukan untuk sekedar mendengar musik dan melihat tayangan olahraga surfing.

4.5.5. Sistem Proteksi Kebakaran

Untuk mengetahui bahaya kebakaran maka dipasang smoke detector secara sentral pada seluruh ruangan kecuali dapur menggunakan fire alarm serta menggunakan sprinkler pada seluruh ruangan untuk upaya mengatasi bahaya kebakaran.

4.5.6. Sistem Keamanan

Sistem keamanan menggunakan 2 cara yaitu :

1. Manual : petugas keamanan yaitu satpam atau security 2. Mekanik : door alarm, pada area toko

Referensi

Dokumen terkait

Perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikankeperawatan baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik

Manajemen cairan adalah suatu hal yang mempengaruhi tekanan darah hal seperti yang dikemukan oleh Lolyta (2012), dalam melakukan kepatuhan banyak faktor yang

Prof.Dr.Koentjoroningrat (1985: 180): Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik

Pertama dimulai dengan menghapus kode program yang sudah tidak dibutuhkan, mengurangi kode program yang terduplikasi, dan setelah selesai melakukan pembersihan pada

Gambar 4.54 Grafik respon spektra gerakan translasi pada FSO Ladinda saat kondisi light load terapung bebas dengan heading pembebanan 0 derajat. Gambar 4.55 Grafik

Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Arifin [4] membahas tentang sistem informasi praktek kerja lapangan pada instansi/perusahaan yang fokus pada pengelolaan data

Dari pengembangan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita yang dilakukan oleh para pendidik atau guru di TK Muslimat Tangkil Kulon Kedungwuni

Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar