BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI SE-KECAMATAN MINGGIR KABUPATEN SLEMAN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Oleh:
Cyrilus Satrio Yudhanto NIM: 151134149
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2020
i
BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI SE-KECAMATAN MINGGIR KABUPATEN SLEMAN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Oleh:
Cyrilus Satrio Yudhanto NIM: 151134149
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2020
iv
PERSEMBAHAN
Karya ini kupersembahkan untuk:
1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberi perlindungan dan penerangan dalam kelancaran mengerjakan penelitian ini.
2. Kedua orang tuaku, Bapak Emanuel Kasihan dan Ibu Melania Rusminah yang selalu memberiku semangat dan tidak pernah lupa mendoakanku.
3. Kakakku Maria Kurniasih dan Robertus Anjar Ardityo yang selalu memberikan semangat dan motivasi serta dukungan kepadaku untuk melangkah.
4. Kupersembahkan karya ini untuk almamaterku tercinta Universitas Sanata Dharma.
v MOTTO
“Keep Walking”
(Johnnie Walker)
viii ABSTRAK
PENERAPAN PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI
SE-KECAMATAN MINGGIR KABUPATEN SLEMAN
Cyrilus Satrio Yudhanto Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta 2020
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan dicanangkannya program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis kelas, masyarakat, dan budaya sekolah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia karena lemahnya karakter anak bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar se-Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman, 2) mendeskripsikan penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar se-Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Populasi penelitian adalah seluruh guru kelas I sampai dengan VI di SD Negeri se-Kecamatan Minggir yang berjumlah 72 guru kelas, sedangkan sampel dalam penelitian ini berjumlah 59 guru kelas yang ditetapkan melalui tabel penentuan jumlah sampel minimal menurut Krejcie dan Morgan dengan teknik simple random sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah dasar negeri se-Kecamatan Minggir sudah menerapkan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah dengan rerata jawaban responden penelitian sebesar 88,8%.
Persentase penerapan program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya yang tertinggi pada pembiasaan, kegiatan ekstrakurikuler dan peraturan sekolah dengan hasil sebesar 90%. Selanjutnya persentase penerapan yang paling rendah terdapat pada branding sekolah yang memiliki persentase sebesar 80,5%.
Berdasarkan pada data, sekolah dalam menerapkan program PPK berbasis budaya sekolah antara lain melakukan gerakan literasi seperti sebelum proses pembelajaran dimulai kurang lebih 15 menit diwajibkan untuk membaca buku, serta melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler pramuka, dan peraturan sekolah.
Kata kunci : Penerapan, PPK Berbasis Budaya Sekolah, Kecamatan Minggir.
ix ABSTRACT
THE APPLICATION OF THE PROGRAM FOR THE STRENGTHENING OF CHARACTER EDUCATION BASED ON SCHOOL CULTURE IN ELEMENTARY SCHOOLS OF ALL SUB-DISTRICTS OF MINGGIR
SLEMAN REGENCY
Cyrilus Satrio Yudhanto Sanata Dharma University
2020
This research was motivated by the launching of class, community, and school-based character education strengthening programs by the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia due to its children's weak character. The research aims to: 1) know the application of the school culture-based Character Education Strengthening Program in elementary schools throughout Minggir District, Sleman Regency, 2) describe the application of the Culture-Based Character Education Strengthening Program in elementary schools of Minggir District, Sleman Regency.
This research was a descriptive quantitative with the survey method. The study population was all teachers in grades I through VI in Public Elementary Schools in Minggir Subdistrict, totaling 72 class teachers. In comparison, the sample in this study amounted to 59 classroom teachers determined through the table determining the minimum sample size according to Krejcie and Morgan with a simple random sampling technique.
The results showed that public elementary schools in the Minggir sub-district had implemented a school culture-based character education strengthening program with an average respondent's answer to the study of 88,8%. The highest percentage of school culture-based character education is strengthening programs in habituation, extracurricular activities, and school regulations with results of 90%. Furthermore, the lowest percentage of applications is found in school branding, representing 80,5%. Based on data, schools implementing a school culture-based character education strengthening program include literacy movements such as before the learning process begins, approximately 15 minutes were required to read books and carry out scout extracurricular activities, and school regulations.
Keyword : Application, School Culture-Based Character Education Support Program, Minggir District
xiii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 8
E. Definisi Operasional ... 9
BAB II LANDASAN TEORI ... 11
A. Kajian Pustaka ... 11
1. Pendidikan Karakter ... 11
xiv
a. Pendidikan... 11
b. Karakter ... 12
c. Pendidikan Karakter ... 12
2. Penguatan Pendidikan Karakter ... 14
a. Latar Belakang Penguatan Pendidikan Karakter ... 14
b. Pengertian Program Penguatan Pendidikan Karakter ... 15
c. Basis Penguatan Pendidikan Karakter ... 17
d. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter ... 20
e. Nilai-nilai Utama Penguatan Pendidikan Karakter ... 21
3. Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah ... 25
a. Pengertian Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah ... 25
b. Pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah ... 26
c. Langkah-langkah Pelaksanaan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah. ... 27
B. Penelitian yang Relevan ... 33
C. Kerangka Berpikir ... 36
D. Pertanyaan Penelitian ... 38
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 39
A. Jenis Penelitian ... 39
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 40
1. Subjek Penelitian ... 40
2. Objek Penelitian ... 40
3. Tempat Penelitian ... 40
4. Waktu Penelitian... 40
C. Populasi dan Sampel ... 41
1. Populasi ... 41
2. Sampel ... 42
D. Variabel Penelitian ... 45
xv
E. Teknik Pengumpulan Data ... 46
1. Kuesioner ... 46
2. Studi Dokumenter ... 47
F. Instrumen Penelitian ... 48
1. Kuesioner ... 48
2. Daftar Cek ... 50
G. Teknik Pengujian Instrumen ... 52
1. Validitas Muka ... 52
2. Validitas Isi ... 53
H. Teknik Analisis Data ... 59
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 62
A. Hasil Penelitian ... 62
1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ... 62
2. Deskripsi Responden Penelitian ... 63
3. Deskripsi Data Penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Minggir ... 64
B. Pembahasan ... 79
BAB V PENUTUP ... 86
A. Kesimpulan ... 86
B. Keterbatasan Penelitian ... 86
A. Saran ... 87
DAFTAR PUSTAKA ... 89
LAMPIRAN ... 93
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 149
xvi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Jumlah Populasi Penelitian ... 41
Tabel 3.2 Tabel Penentuan Jumlah Sampel Minimal Menurut Krejcie dan Morgan ... 43
Tabel 3.3 Data Sampel Penelitian ... 44
Tabel 3.4 Kisi-kisi Pertanyaan Tertutup ... 48
Tabel 3.5 Kisi-kisi Pertanyaan Terbuka ... 50
Tabel 3.6 Daftar Cek Dokumentasi ... 50
Tabel 3.7 Validitas Muka ... 53
Tabel 3.8 Konversi Nilai Skala Lima ... 54
Tabel 3.9 Modifikasi Nilai Skala Lima ... 55
Tabel 3.10 Kriteria Skor Skala Lima ... 57
Tabel 3.11 Rekapitulasi Hasil Validasi Isi ... 58
Tabel 4.1 Daftar Seluruh SDN di Kecamatan Minggir yang diteliti ... 62
Tabel 4.2 Kisi-kisi Instrumen Pertanyaan Tertutup ... 64
Tabel 4.3 Hasil Persentase Keseluruhan ... 66
Tabel 4.4 Rerata Persentase Aspek Branding Sekolah ... 69
Tabel 4.5 Rerata Persentase Aspek Pembiasaan ... 72
Tabel 4.6 Rerata Persentase Aspek Kegiatan Ekstrakurikuler ... 75
Tabel 4.7 Rerata Persentase Aspek Peraturan Sekolah ... 79
xvii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara ... 15
Gambar 2.2 Kristalisasi Nilai-Nilai Utama PPK ... 22
Gambar 2.3 Bagan Penelitian yang Relevan ... 35
Gambar 4.1 Grafik Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah ... 65
Gambar 4.2 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 1 ... 67
Gambar 4.3 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 2 ... 68
Gambar 4.4 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 3 ... 70
Gambar 4.5 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 4 ... 71
Gambar 4.6 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 5 ... 71
Gambar 4.7 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 6 ... 73
Gambar 4.8 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 7 ... 74
Gambar 4.9 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 8 ... 76
Gambar 4.10 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 9 ... 77
Gambar 4.11 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 10 ... 78
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1 Rangkuman Data SD Negeri di Kecamatan
Minggir, Kabupaten Sleman ... 94
Lampiran 2 Coding Data 12 Sekolah Dasar Negeri ... 95
Lampiran 3 Rekap Data Penerapan Instrumen Pertanyaan Tertutup . 97 Lampiran 4 Rekap Data Penerapan Instrumen Pertanyaan Terbuka .. 100
Lampiran 5 Kisi-kisi Pertanyaan Tertutup ... 104
Lampiran 6 Kisi-kisi Pertanyaan Terbuka ... 105
Lampiran 7 Identitas Responden Pengisian ... 106
Lampiran 8 Surat Pengantar Pengisian Instrumen ... 107
Lampiran 9 Soal Pertanyaan Tertutup dan Pertanyaan Terbuka ... 108
Lampiran 10 Data Mentah 10 Validasi Ahli ... 111
Lampiran 11 Hasil Validitas Muka ... 141
Lampiran 12 Hasil Rekapitulasi Validasi Instrumen ... 142
Lampiran 13 Daftar Cek Dokumentasi Data ... 143
Lampiran 14 Surat Izin Melakukan Penelitian dari Universitas Sanata Dharma ... 144
Lampiran 15 Surat Izin Melakukan Penelitian dari Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik ... 145
Lampiran 16 Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian dari UPT Pelayanan Pendidikan Kecamatan Minggir .... 146
Lampiran 17 Surat Bukti Penyerahan Hasil Penelitian dari Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik ... 147
Lampiran 18 Surat Izin Melakukan Validasi ... 148
Daftar Riwayat Hidup ... 149
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan karakter bukanlah hal baru dalam sistem pendidikan di Indonesia, karena sejak lama pendidikan karakter ini telah menjadi bagian penting dalam misi kependidikan nasional walaupun dengan penekanan dan istilah yang berbeda.
Saat ini, wacana urgensi pendidikan karakter kembali menguat dan menjadi bahan perhatian sebagai respon atas berbagai persoalan bangsa terutama masalah dekadensi moral seperti korupsi, kekerasan, dan perkelahian antar pelajar.
Tidak dapat disangkal bahwa persoalan karakter dalam kehidupan manusia di muka bumi ini sejak dulu sampai sekarang dan juga zaman yang akan datang merupakan suatu persoalan yang sangat penting. Sepanjang sejarah, telah cukup banyak fakta yang nampak bahwa kekuatan dan pembangunan bangsa berpangkal pada karakternya, yang merupakan tulang punggung setiap kemajuan bangsa.
Sebaliknya, kehancuran suatu bangsa diawali dengan kemerosotan karakternya (Tilaar, 1999:3).
Pintu gerbang kemajuan suatu bangsa salah satunya dengan melaksanakan pendidikan yang bermutu untuk warga negaranya. Pendidikan yang bermutu yaitu pendidikan yang dapat menciptakan generasi bangsa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tertera pada Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, bahkan kebudayaan merupakan alas atau dasar pendidikan. Rumusan ini menjangkau jauh ke depan, sebab dikatakan bukan hanya pendidikan itu dialaskan kepada suatu aspek kebudayaan yaitu aspek intelektual, tetapi kebudayaan sebagai keseluruhan. Kebudayaan yang menjadi alas pendidikan tersebut haruslah bersifat kebangsaan. Dengan demikian kebudayaan yang dimaksud adalah kebudyaan yang riil yaitu budaya yang hidup di dalam masyarakat kebangsaan Indonesia.
Sedangkan pendidikan mempunyai arah untuk mewujudkan keperluan peri kehidupan dari seluruh aspek kehidupan manusia dan arah tujuan pendidikan untuk mengangkat derajat dan harkat manusia (Tilaar,1999:68).
Menurut Ki Hajar Dewantara (dalam Tilaar,1999:68) kebudayaan merupakan dasar pendidikan, kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan yang riil yaitu budaya yang hidup di dalam masyarakat kebangsaan Indonesia. Jadi, penguatan pendidikan karakter di era sekarang merupakan hal yang penting untuk dilakukan mengingat banyaknya peristiwa yang menunjukkan terjadinya krisis moral baik di kalangan anak-anak, remaja, maupun orangtua. Oleh karena itu penguatan pendidikan karakter perlu dilaksanakan perlu dilaksanakan sedini mungkin mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan meluas ke lingkungan masyarakat. Salah satu upaya untuk memperkuat karakter bangsa yaitu dengan menerapkan pendidikan karakter di sekolah dalam skala nasional. Pelaksanaan pendidikan karakter bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah saja melainkan harus adanya dukungan dari keluarga dan masyarakat.
PPK merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Penguatan karakter bangsa menjadi salah satu butir Nawacita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Komitmen ini ditindaklanjuti dengan arahan Presiden kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengutamakan dan membudayakan pendidikan karakter di dalam dunia pendidikan. Atas dasar ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) secara bertahap mulai Tahun Ajaran 2016 (Tim PPK, 2017:1).
Ada nilai utama karakter yang saling berkaitan membentuk jejaring nilai karakter yang perlu dikembangkan sebagai prioritas gerakan PPK, yaitu:
religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas (Permendikbud No. 20 Tahun 2018). Nilai utama karakter bangsa ini merupakan kristalisasi dari berbagai nilai-nilai karakter yang sudah dikembangkan sebelumnya. Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) selain merupakan kelanjutan dan kesinambungan dari Gerakan Nasional Pendidikan Karakter Bangsa Tahun 2010 juga merupakan bagian integral Nawacita. Bagian integral dari revolusi mental yang dimaksud adalah Nawacita butir ke-8 yang berisi tentang penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik. Revolusi Karakter Bangsa dan Gerakan
Revolusi Mental dalam pendidikan yang hendak mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mengadakan perubahan paradigma, yaitu perubahan pola pikir dan cara bertindak, dalam mengelola sekolah. Untuk itu, Gerakan PPK menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan para pelaku pendidikan (Tim PPK, 2017:1).
Sudah saatnya pendidikan karakter di sekolah diaktifkan kembali, agar degradasi moralitas bangsa khususnya di kalangan peserta didik tidak semakin akut. Jika terus dibiarkan tanpa ada langkah strategis dalam internalisasi pendidikan karakter, dapat dibayangkan menjadi seperti apa bangsa ini jika besok didiami oleh manusia-manusia yang tidak berkarakter. Bisa jadi bangsa ini akan mengalami kemunduran di saat bangsa lain berjuang untuk memajukan anak didiknya.
Agar penerapan pendidikan karakter bisa efektif dan efisien, solusi yang tepat adalah dengan melaksanakan manajemen khususnya manajemen pendidikan karakter yang efektif dan efisien di sekolah. Manajemen pendidikan yang efektif menjadi penting agar segenap komponen pendidikan di sekolah bisa sinergis mendukung aplikasi pendidikan karakter. Melalui manajemen pendidikan karakter yang efektif khususnya dengan pengoptimalan manajemen komunikasi akan terjalin kerja sama yang sinergis antara pemerintah, pengelola sekolah, komite sekolah, masyarakat, dan para orangtua peserta didik.
Akhirnya tidak ada pilihan bagi sekolah selain melaksanakan manajemen pendidikan karakter yang efektif dan efisien, agar implementasi dan internalisasi
pendidikan karakter dapat optimal. Dengan cara itu, degradasi karakter generasi bangsa khususnya peserta didik sekolah bisa dibendung dan disembuhkan.
Pendidikan karakter merupakan hasil akhir dari sebuah proses pendidikan.
Karakter adalah buah dari budi nurani. Budi nurani bersumber pada moral. Moral bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran. Moral memberikan petunjuk, pertimbangan, dan tuntunan untuk berbuat dengan tanggung jawab sesuai dengan nilai, norma yang dipilih. Dengan demikian, mempelajari karakter tidak lepas dari mempelajari nilai, norma, dan moral (Megawangi, 2004: 96).
Selain itu, lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang baik dalam menanamkan karakter. Dengan demikian, segala kegiatan yang berada dalam sekolah, baik kegiatan pembelajaran maupun kegiatan pembiasaan-pembiasaan dapat diintegrasikan dalam program pendidikan karakter. Jadi, pendidikan karakter merupakan usaha bersama seluruh warga sekolah untuk mewujudkan suatu budaya baru di sekolah, yaitu budaya pendidikan karakter. Penanaman dan pembiasaan pendidikan karakter di sekolah melalui lingkungan pendidikan dapat dilaksanakan secara langsung maupun secara tidak langsung. Dan akhirnya warga sekolah membentuk suatu budaya sekolah (Pusat Kurikulum dalam Abdullah, 2007:46).
Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 menyatakan bahwa penyelenggaraan Penguatan Pendidikan Karakter mengoptimalkan fungsi kemitraan tripusat pendidikan (sekolah, keluarga, dan masyarakat). Keberhasilan jangka panjang pendidikan karakter bergantung pada kekuatan-kekuatan di luar sekolah, pada
seberapa besar keluarga dan masyarakat bergabung dengan sekolah dalam upaya bersama untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan mendukung perkembangan kesehatan mereka (Lickona, 2013: 513). Jadi usaha untuk memperluas pendidikan karakter di luar keluarga dan sekolah merupakan salah satu perkembangan yang paling menjanjikan dalam pergerakan pendidikan nasional. Jadi, apabila budaya sekolah sudah berjalan dengan baik dan sudah menjadi sebuah kebiasaan maka peserta didik akan terbentuk dengan sendirinya ke arah yang baik.
Pendidikan yang kurang menekankan pada aspek penanaman karakter menimbulkan berbagai macam permasalahan di kalangan peserta didik. Hal tersebut terlihat dari berbagai masalah yang terus bermunculan sebagai akibat semakin menurunnya kualitas nilai-nilai karakter pada peserta didik. Pendapat tersebut didukung dengan adanya peristiwa narkoba di Sleman meningkat tajam, 17 di antaranya berstatus Anak SD (SuaraJogja.id, 26 Desember 2019).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka peneliti tertarik untuk membuat penelitian mengenai Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Negeri dengan mengambil judul “Penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Sekolah Dasar Negeri Se-Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman”. Penelitian ini membahas mengenai ada atau tidaknya dan bagaimana penerapan dari Program PPK berbasis budaya sekolah. Penelitian ini dilaksanakan Kecamatan Minggir dikarenakan belum ada penelitian mengenai Program PPK berbasis budaya sekolah di Kecamatan Minggir. Penelitian ini, diharapkan dapat memperoleh data sesuai dengan penerapan Program PPK
berbasis budaya sekolah di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sejauh mana penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar se-Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman?
2. Bagaimana upaya penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di Sekolah Dasar se-Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar se-Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman.
2. Mendeskripsikan upaya penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar se-Kecamatan Minggir Kebupaten Sleman.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Manfaat teoritis, secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat.
a. Memberikan informasi kepada pembaca apakah program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah sudah berjalan dengan baik di sekolah dasar.
b. Sebagai pijakan dan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan survei.
2. Manfaat praktis a. Bagi Peneliti
Bisa menambah pengalaman dan wawasan tentang penerapan Penguatan Pendidikan Karakter, sehingga bisa diterapkan untuk mendidik generasi ke depan.
b. Bagi Guru
Guru memiliki gambaran program yang dapat dikembangkan. Guru dapat mengajarkan sopan santun sesuai karakter anak dan budaya penguatan karakter diri di sekolah.
E. Definisi Operasional
Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Karakter
Karakter adalah sikap untuk berperilaku baik, mempertahankan nilai-nilai moral yang ada, nilai moral mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikirannya.
2. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi atau kelompok yang unik dan baik sebagai warga negara.
3. Penguatan Pendidikan Karakter
Penguatan Pendidikan Karakter adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah pikir, dan olah raga dengan dukungan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).
4. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah
Penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah adalah sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang
mendukung praksis PPK mengatasi ruang-ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah.
11 BAB II
LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka
1. Pendidikan Karakter a. Pendidikan
Pendidikan merupakan bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan anak didik, baik jasmani maupun rohani, menuju terbentuknya kepribadian yang utama (Marimba, 1989:19).
Selanjutnya, pendidikan juga diartikan mempersiapkan dan menumbuhkan anak didik atau individu manusia yang prosesnya berlangsung secara terus-menerus sejak ia lahir sampai ia meninggal dunia (Budiyanto, 2010:7). Sementara itu menurut Effendi ( 2005: 72) pendidikan adalah beberapa pembelajaran yang merupakan sebuah usaha untuk mengembangkan sikap dan kepribadian, pengetahuan, dan keterampilan. UU No. 2 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak bangsa dan negara.
Jadi dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan usaha seseorang untuk mengembangkan pikirannya untuk mencapai jenjang yang lebih tinggi.
b. Karakter
Karakter meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan hal yang terbaik, kapasitas intelektual seperti kritis dan alasan moral, perilaku seperti jujur dan bertanggung jawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidakadilan, kecakapan interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara efektif dalam berbagai keadaan, dan komitmen untuk berkontribusi dengan komunitas dan masyarakatnya (Zuabaedi, 2011: 10). Karakter berasal dari Bahasa Inggris to mark yang berarti ‘menandai’ dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari (Mulyasa, 2011:3). Karakter sebagai nama dari jumlah seluruh ciri pribadi yang mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikirannya (Bagus, 2005:392).
Dengan demikian dapat disimpulkan dari pendapat para ahli di atas bahwa karakter adalah sikap untuk berperilaku baik, mempertahankan nilai-nilai moral yang ada, yang mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikirannya c. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yang intinya merupakan program pengajaran yang bertujuan
mengembangkan watak dan tabiat dengan cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam hidupnya melalui kejujuran, dapat dipercaya, disiplin dan kerja sama yang menekankan ranah afektif (perasaan/sikap) tanpa meninggalkan ranah kognitif (berpikir rasional), dan ranah skill (keterampilan, terampil mengolah data, mengemukakan pendapat dan kerja sama) (Zubaedi, 2001: 11). Definisi senada mengenai pendidikan karakter juga dirumuskan oleh Suyanto (2011 : 25), yang menyatakan bahwa pendidikan karakter sebagai pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive)¸ perasaan (feeling), dan tindakan (action). Pendidikan karakter adalah suatu proses pendidikan yang holistic yang menghubungkan dimensi moral dan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai fondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan karakter didefinisikan sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memengaruhi karakter (Sriwilujeng, 2017: 3)
Jadi, dari pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah suatu program yang mengajarkan pengembangan watak pada seseorang dengan cara memahami serta menghayati nilai-nilai serta keyakinan yang ada sehingga dapat terbentuk generasi yang berkualitas.
2. Program Penguatan Pendidikan Karakter
a. Latar Belakang Penguatan Pendidikan Karakter
Penguatan pendidikan karakter atau yang biasa disebut PPK merupakan sebuah gerakan yang dibuat oleh pemerintah saat mencanangkan revolusi karakter. Pelopor tokoh pendidikan Indonesia yang membahas mengenai pendidikan karakter adalah Ki Hajar Dewantara. Beliau berpendapat bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan pertumbuhan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak (Saman & Haryanto, 2012: 33).
Gerakan nasional pendidikan karakter semakin intensif pada tahun 2010, di mana pemerintah Indonesia mencanangkan sekaligus melaksanakan kebijakan gerakan nasional pendidikan karakter berlandaskan Rencana Aksi Nasional (RAN). Hal tersebut perlu dilanjutkan, dioptimalkan, diperdalam bahkan diperluas sehingga diperlukan penguatan pendidikan karakter bangsa. Oleh sebab itu gerakan PPK perlu dilaksanakan karena gerakan PPK dimaknai sebagai pengejawantahan Gerakan Revolusi Mental sekaligus bagian integral Nawacita (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 5).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, Penguatan Pendidikan Karakter merupakan poros pelaksanaan pendidikan dasar dan menengah guna memperbaiki karakter peserta didik melalui gerakan yang dibuat oleh pemerintah berdasarkan
nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia terutama nilai-nilai utama yang ditekankan dalam penguatan pendidikan karakter.
b. Pengertian Program Penguatan Pendidikan Karakter
Penguatan Pendidikan Karakter merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter melalui proses pembentukan, transformasi, transmisi, dan pengembangan potensi peserta didik dengan cara harmonisasi hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik) sesuai falsafah hidup Pancasila. Untuk itu diperlukan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 17).
Ki Hajar Dewantara membagi 4 filosofi pendidikan karakter seperti pada gambar di bawah ini:
Gambar 2.1 Filosofi Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara (Samani & Hariyanto, 2011: 25)
Olah Hati (Etika)
Olah Raga (Kinestika)
Olah Pikir (Literasi)
Olah Karsa (Estetika)
Gambar 2.1 menunjukkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter saling berkaitan dengan olah hati (etika), olah rasa/karsa (estetika), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetika) yang memiliki keterpaduan dalam diri individu secara utuh dan menyeluruh (Samani & Hariyanto, 2011: 25) Keterpaduan tersebut kemudian dikembangkan menjadi 18 nilai yaitu religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab sesuai dengan Perpres No 87 Tahun 2017 dan dalam Permendikbud No. 20 Tahun 2018 pasal 2 ayat 1. Nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perwujudan dari 5 (lima) nilai utama yang saling berkaitan yaitu religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas yang terdapat dalam Permendikbud No. 20 Tahun 2018 pasal 2 ayat.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Program Penguatan Pendidikan Karakter adalah sebuah program yang integral dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) untuk memperkuat karakter peserta didik melalui berbagai aspek yang sesuai dengan nilai-nilai utama PPK melalui proses pembentukan, transformasi, transmisi, dan pengembangan potensi peserta didik dan 4 filosofi yaitu olah hati (etika), olah rasa/karsa (estetika), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetika) yang memiliki keterpaduan dalam diri individu secara utuh.
c. Basis Penguatan Pendidikan Karakter
Dalam pelaksanaannya, program PPK dilaksanakan melalui tiga basis yaitu basis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat, antara lain:
1) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas
Pendidikan karakter berbasis kelas merupakan locus educations utama di mana proses pembentukan karakter terjadi di dalam lingkungan pendidikan (Cabrera dalam Koesoema, 2012:9). Pengintegrasian PPK dalam kurikulum mengandung arti bahwa pendidik mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK ke dalam proses pembelajaran dalam setiap mata pelajaran (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 27). Melalui pengintegrasian nilai-nilai utama yang ditekankan dalam berbagai kegiatan pembelajaran dan penyusunan rencana pembelajaran, secara tidak langsung proses pengelolaan serta pengaturan kelas juga termasuk penguatan nilai-nilai pendidikan karakter (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 28).
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis kelas adalah sebuah proses penanaman, pembentukan maupun penguatan nilai-nilai pendidikan karakter dalam proses pembelajaran yang terjadi di lingkungan pendidikan. Salah satu contoh pengintegrasian PPK basis kelas yang diterapkan yakni manajemen kelas atau pengelolaan kelas, yang meliputi pengaturan lingkungan fisik.
2) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah
Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung praksis PPK yang mengatasi ruang-ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah.
PPK berbasis budaya sekolah berfokus pada pembiasaan dan pembentukan budaya yang merepresentasikan nilai-nilai utama PPK yang menjadi prioritas satuan pendidikan. Peserta didik dibiasakan dengan suasana dan lingkungan sekolah yang kondusif agar peserta didik nyaman dalam melakukan kegiatan proses belajar (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 35). Menurut Koesoema, (2011: 35) sekolah dapat menjadi komunitas moral yang mendukung pertumbuhan individu dan anggotanya sehingga mereka semakin menemukan kebermaknaan dalam menghayati profesinya.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya sekolah adalah sebuah proses pembentukan karakter peserta didik melalui pembiasaan dan pembentukan budaya sekolah yang dapat mendukung praktik PPK dengan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan yang ada di sekolah.
Salah satu contoh implementasi Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah yaitu pembiasaan pojok baca. Pelaksanaan dan
waktu kegiatan pojok baca dilakukan secara bebas maupun sesuai dengan kesepakatan sekolah. Pada dasarnya penyediaan pojok baca ditujukan agar peserta didik memiliki budaya membaca, menulis, menyimak, dan mengkomunikasikan apa yang telah dibaca secara teliti, cermat, dan tepat tentang suatu tema atau topik dari berbagai sumber buku yang disediakan di pojok kelas.
Selain pojok baca, untuk meningkatkan rasa nasionalisme anak, diadakan upacara bendera hari kemerdekaan Indonesia, sedangkan untuk memperdalam keagamaan diadakan kegiatan pesantren kilat atau latihan mengaji bagi yang muslim, untuk membentuk siswa yang tangguh dan mandiri diadakan kegiatan pramuka, sedangkan bagi siswa yang ingin mengembangkan bakat, bisa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pilihan seperti menari, olahraga, atau bermain musik.
3) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat
Penguatan Pendidikan Karakter berbasis masyarakat merupakan kolaborasi pembentukan karakter yang melibatkan lembaga, komunitas, dan masyarakat lain di luar lingkungan sekolah (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 41). PPK berbasis masyarakat dilakukan dengan melibatkan mitra yang ada di masyarakat yaitu orangtua, tokoh masyarakat, tokoh agama, pelaku usaha, akademisi, pegiat pendidikan, seniman, budayawan, satrawan, dan lain-lain.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis masyarakat merupakan kolaborasi yang
dilakukan oleh sekolah dengan melibatkan lembaga, komunitas, dan masyarakat lain di luar lingkungan sekolah. Dengan demikian PPK berbasis masyarakat dapat memberikan penguatan kekayaan pengetahuan peserta didik dalam rangka pembelajaran melalui berbagai hal contohnya yakni cagar budaya, sanggar seni, museum, tokoh, lembaga pemerintahan.
d. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter memiliki tujuan sebagai berikut (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 16) :
1) Mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan makna dan nilai karakter sebagai jiwa atau generator utama penyelenggaraan pendidikan.
2) Membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21.
3) Mengembalikan pendidikan karakter sebagai roh dan fondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik).
4) Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan (kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter.
5) Membangun jejaring pelibatan masyarakat (publik) sebagai sumber-sumber belajar di dalam dan di luar sekolah.
6) Melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, tujuan Penguatan Pendidikan Karakter adalah memperkuat karakter peserta didik guna mengembangkan potensi intelektual dan karakter, menyiapkan peserta didik menghadapi tantangan global di masa mendatang tanpa meninggalkan kearifan lokal maupun nilai luhur Bangsa Indonesia melalui pendidikan.
e. Nilai-nilai Pendidikan Karakter
Ada nilai utama karakter yang saling berkaitan membentuk jejaring nilai karakter yang perlu dikembangkan sebagai prioritas gerakan PPK, yaitu: olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga. Nilai utama karakter bangsa ini merupakan kristalisasi dari berbagai nilai karakter yang sudah dikembangkan sebelumnya. Berikut adalah kristalisasi lima nilai tersebut yang saling berkaitan yang dapat dilihat pada Gambar 2.2.
Nilai Utama
Religiositas
Nasionalisme
Kemandirian
Gotong Royong Integritas
Gambar 2.2 Kristalisasi Nilai-Nilai Utama PPK (Sumber: https://sdnlakbansa.blogspot.com)
Menurut Tim PPK Kemendikbud (2017: 8-9), kelima nilai utama karakter bangsa yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut.
1) Religiositas
Nilai karakter religiositas mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Nilai karakter religiositas ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan
individu dengan alam semesta (lingkungan). Nilai karakter religiositas ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan. Sub nilai religius antara lain cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, dan melindungi yang kecil dan tersisih.
2) Nasionalisme
Nilai karakter nasionalisme merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
Sub nilai nasionalisme antara lain apresepsi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayan budaya bangsa, rela berkorban, unggul dan menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.
3) Kemandirian
Nilai karakter kemandirian merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan cita-cita. Sub nilai kemandirian antara lain etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.
4) Gotong Royong
Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu-membahu melaksanakan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Sub nilai gotong royong antara lain menghargai, kerja sama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong-menolong, solidaritas, empati, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.
5) Integritas
Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral). Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran.
Sub nilai integritas antara lain kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladan, dan menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas).
3. Program Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah a. Pengertian Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah
Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung Penguatan Pendidikan Karakter yang mengatasi ruang-ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan sekolah. Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah berfokus pada pembiasaan dan pembentukan budaya yang memrepresentasikan nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter yang menjadi prioritas satuan pendidikan (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 35).
Kultur sekolah menjadi penting untuk dikembangkan karena di dalamnya terdapat norma, aturan dan regulasi yang mengikat individu sebagai sarana untuk memaknai perilaku sikap dan keputusannya. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa (Kemdiknas, dalam Koesoema, 2010: 30-31).
Melalui pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah adalah pembentukan dan pembiasaan karakter peserta didik melalui
nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter dalam kehidupan sehari-hari yang membentuk adanya budaya sekolah. Salah satu contoh kegiatan PPK berbasis budaya sekolah ialah pembiasaan literasi yang dilakukan 15 menit sebelum pembelajaran berlangsung, kegiatan pojok baca, adanya kegiatan ekstrakurikuler yang dapat menunjang potensi maupun prestasi sekolah dan penekanan peraturan sekolah guna menekankan pembentukan karakter yang diharapkan. Selain itu, nasionalisme juga perlu ditanamkan sejak dini melalui upacara bendera hari kemerdekaan RI, sedangkan untuk memperdalam keimanan dan ketakwaan diadakan pesantren kilat dan diadakan pelajaran mengaji guna menunjang keimanan anak. Melalui pembiasaan-pembiasaan tersebut tentunya akan memunculkan suatu budaya sekolah yang dapat membentuk kebiasaan baik untuk dikembangkan. Dengan begitu budaya sekolah menumbuhkan pembiasaan yang dapat membantu menguatkan dan membentuk karakter peserta didik.
b. Pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah
Penguatan Pendidikan Karakter dilaksanakan dengan berbasis struktur kurikulum yang sudah ada dan mantap yang dimiliki oleh sekolah. Salah satu basis Penguatan Pendidikan Karakter adalah budaya sekolah yang diuraikan sebagai berikut (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 15) :
1) Menekankan pada pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah.
2) Menonjolkan keteladanan orang dewasa di lingkungan pendidikan.
3) Melibatkan seluruh ekosistem pendidikan di sekolah.
4) Megembangkan dan memberi ruang yang luas pada segenap potensi siswa melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
5) Memberdayakan manajemen dan tata kelola sekolah.
6) Mempertimbangkan norma, peraturan, dan tradisi sekolah.
Melalui pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah dapat dilakukan dengan menekankan pembentukan dan pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah yang melibatkan seluruh ekosistem pendidikan di sekolah.
c. Langkah-langkah Pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah
Langkah-langkah pelaksanaan PPK berbasis budaya sekolah, antara lain dapat dilaksanakan dengan cara sebagai berikut (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 35-41) :
1) Menentukan Nilai Utama PPK
Dalam menentukan nilai utama PPK sekolah melakukan asesmen awal dengan memilih nilai utama yang akan menjadi fokus dalam pengembangan dan penguatan karakter di lingkungan
mereka. Nilai utama yang dipilih oleh satuan pendidikan menjadi fokus dalam rangka pengembangan budaya dan identitas sekolah.
Dari nilai utama dan nilai-nilai pendukung yang sudah disepakati dan ditetapkan oleh satuan pendidikan, sekolah bisa membuat tagline maupun branding yang menjadi motto satuan pendidikan tersebut sehingga menunjukkan keunikan, kekhasan, dan keunggulan sekolah.
Menurut Asra (2019: 34) branding sekolah atau school branding adalah cara seseorang membedakan satu sekolah dengan sekolah lainnya. Ketika seseorang mendengar pesan dari orang lain tentang sebuah branding sekolah maka seseorang tersebut akan mengetahui sekolah yang dimaksud. Branding adalah keunikan, brand dan keunggulan suatu sekolah untuk membedakan satu dengan yang lain. Melalui branding sekolah, dapat menentukan keunggulan tersendiri yang bisa menjadi ciri khas.
2) Evaluasi Peraturan Sekolah
Budaya sekolah yang baik terlihat dalam konsep pengelolaan sekolah yang mengarah pada pembentukan dan penguatan karakter. Selain peraturan tentang kedisiplinan, sekolah juga perlu mengadakan evaluasi atas peraturan-peraturan lain untuk melihat apakah peraturan sekolah yang ada telah mampu membentuk karakter peserta didik atau justru malah
melemahkannya. Dalam upaya pelaksanaan PPK berbasis budaya sekolah, sekolah dapat membuat atau merevisi peraturan dan tata tertib sekolah secara bersama-sama dengan melibatkan semua komponen sekolah yang terkait. Dengan demikian, semangat menegakkan peraturan tersebut semakin besar karena dibangun secara bersama. Peraturan sekolah adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sehari-hari dan mengandung sanksi terhadap pelanggarnya (Suryosubroto, 2004: 166). Demi terlaksananya PPK berbasis budaya dengan baik dan disiplin maka peraturan harus dipatuhi seluruh warga sekolah.
Selain peraturan yang sudah ada perlu dilakukan evaluasi peraturan untuk terus-menerus memperbaiki dan jika perlu ditingkatkan kedisiplinannya sehingga siswa dapat maju dan berkembang. Kemajuan dan perkembangan soal kedisiplinan dilihat dari pengalaman sebelumnya setelah mematuhi pengalaman yang mereka lalui. Berdasarkan beberapa yang telah disampaikan dapat disimpulkan bahwa peraturan dibuat untuk dipatuhi dan diterapkan, sehingga dapat memberi batasan kepada peserta didik agar lebih kondusif.
3) Pengembangan Tradisi Sekolah
Satuan pendidikan dapat mengembangkan PPK berbasis budaya sekolah dengan memperkuat tradisi yang sudah dimiliki oleh sekolah. Budaya sekolah adalah pola, nilai-nilai,
prinsip-prinsip, tradisi-tradisi, dan kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk di sekolah. Satuan pendidikan perlu mengembangkan PPK berbasis budaya dengan memperkuat tradisi yang sudah dimiliki sekolah (Zamroni 2011:111). Tradisi yang dimiliki sekolah adalah warisan dari pendahulu sehingga perlu sekali untuk dikembangkan, selain dikembangkan perlu juga dilakukan evaluasi dan direfleksikan apakah masih relevan atau tidak.
4) Pengembangan Kegiatan Kokurikuler
Kegiatan kokurikuler dilakukan melalui serangkaian penugasan yang sesuai dengan target pencapaian kompetensi setiap mata pelajaran yang relevan dengan kegiatan intrakurikuler.
Kegiatan kokurikuler dapat dilaksanakan baik dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah, tetapi kegiatan yang dilakukan harus sesuai dengan perencanaan pembelajaran (silabus dan RPP) yang telah disusun guru sehingga guru dapat mengawasi kegiatan yang dilaksanakan peserta didik. Kegiatan tersebut di antaranya adalah praktikum, wawancara, pengamatan, latihan seni dan olahraga yang dilakukan kelompok maupun individu.
5) Ekstrakurikuler (wajib dan pilihan)
Penguatan nilai-nilai utama PPK sangat dimungkinkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pengembangan karakter yang dilaksanakan di luar jam pembelajaran (intrakurikuler). Menurut Peraturan Presiden
(Perpres) No. 87 Tahun 2018 pasal 1 ayat 9 ekstrakurikuler adalah kegiatan pengembangan dalam rangka perluasan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian peserta didik secara optimal. Aktivitas ekstrakurikuler berfungsi menyalurkan dan mengembangkan minat dan bakat peserta didik dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kearifan lokal, dan daya dukung yang tersedia (Tim PPK Kemendikbud, 2017:
18). Kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan bakat peserta didik, sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Kegiatan ekstrakurikuler ada dua jenis, yaitu ekstrakurikuler wajib (pendidikan kepramukaan) dan ekstrakurikuler pilihan (sesuai dengan kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan oleh masing-masing satuan pendidikan).
Semua kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan harus memuat dan menegaskan nilai-nilai karakter yang dikembangkan dalam setiap bentuk kegiatan yang dilakukan.
Berdasarkan langkah-langkah pelaksanaan PPK berbasis budaya sekolah, dapat disimpulkan bahwa PPK berbasis budaya sekolah memiliki langkah yang dapat diimplementasikan oleh seluruh satuan pendidikan. Langkah-langkah tersebut dapat diterapkan dan dipilih untuk menentukan nilai utama yang akan menjadi fokus dalam rangka pengembangan budaya dan identitas sekolah. Dari nilai utama yang sudah disepakati dan ditetapkan
oleh suatu pendidikan, sekolah bisa membuat tagline yang menjadi motto satuan pendidikan tersebut sehingga menunjukkan keunikan, kekhasan, dan keunggulan sekolah yang dapat menguatkan branding sekolah serta memiliki nilai jual.
Contohnya ialah “Sekolah Ramah Anak”. Melalui branding tersebut sekolah mengunggulkan unsur pemenuhan hak dan perlindungan anak melalui berbagai hal misalnya dicerminkan melalui kondisi sekolah yang bersih dan sehat, menghargai hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan, mencegah anak mendapatkan bahaya maupun sakit dikarenakan keracunan makanan dan lingkungan yang tidak sehat, menciptakan hubungan seluruh warga sekolah yang lebih baik tanpa adanya diskriminasi.
Selain itu penentuan branding juga dapat dikuatkan melalui prestasi sekolah yang didapat, baik bidang akademik maupun non-akademik. Contoh-contoh prestasi di bidang akademik yaitu juara 1 lomba MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), peringkat 10 nilai rata-rata UN terbaik tingkat kecamatan dari 50 sekolah lebih, 10 besar olimpiade matematika tingkat kecamatan.
Sedangkan contoh prestasi di bidang non-akademik contohnya juara 5 lomba budaya mutu tingkat kabupaten, juara karate region DIY, juara MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) tingkat kecamatan. Potensi-potensi yang diraih oleh sekolah di atas dapat memberikan penguatan branding yang akan dipakai sekolah. Di
samping branding, peraturan sekolah juga dapat menjadi kekhasan tersendiri bagi sekolah. Melalui peraturan sekolah PPK dapat diterapkan dengan baik, contohnya peraturan untuk datang tepat waktu merupakan salah satu contoh PPK melatih kedisiplinan siswa. Melalui peraturan- peraturan tersebut, budaya untuk berlaku disiplin dapat dijadikan ciri khas yang dapat diunggulkan dari suatu sekolah. Kunci utama dari seluruh langkah PPK berbasis budaya sekolah tentunya habituasi dan terintegrasi di sekolah-sekolah yang mengedepankan merupakan hal utama yang harus dikembangkan guna mewujudkan Penguatan Pendidikan Karakter terhadap peserta didik.
B. Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini dijelaskan sebagai berikut.
Penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2016) yang berjudul Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah di SD Negeri Kotagede 3 Yogyakarta 2016/2017. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Berdasarkan hasil pengumpulan data diperoleh gambaran tentang upaya implementasi pendidikan karakter melalui budaya sekolah yang dilakukan melalui pembiasaan dan keteladanan. Kesimpulan dari
penelitian yang dilakukan Anggraini adalah penerapan karakter peserta didik dilakukan melalui pembiasaan dan keteladanan para guru.
Penelitian yang dilakukan oleh Narimo (2016) tentang Pengelolaan Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Budaya Jawa di TK Negeri Pembina Surakarta. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan validitas data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum karakteristik pendidikan pada taman kanak-kanak adalah menggunakan model pembiasaan. Implementasi pendidikan karakter yang digunakan adalah menggunakan strategi-strategi terintegrasi dalam pembelajaran, pengembangan diri, dan penambahan alokasi waktu pembelajaran.
Penelitian yang dilakukan Wilujeng (2016), yang berjudul Implementasi Pendidikan Karakter melalui Kegiatan Keagamaan di SD Ummu Aiman Lawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan karakter siswa melalui kegiatan keagamaan di SD Ummu Aiman. Kesimpulan dari penelitian ini semua kegiatan berjalan dengan rutin karena keteladanan dari guru.
Anggraini (2016)
Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah di SD Negeri
Kotagede 3 Yogyakarta 2016/2017
Narimo (2016) Penelitian yang dilakukan:
Program Studi Magister Adiministrasi Pendidikan Universitas Muhammadiyah
Surakarta tentang Pengelolaan Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis
Budaya Jawa di TK Negeri Pembina Surakarta
Penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman
Wilujeng (2016)
Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Keagamaan di SD
Ummu Aiman Lawang.
Bagan penelitian dari penelitian yang relevan dapat dilihat pada Gambar 2.3 berikut.
Gambar 2.3 Bagan Penelitian yang Relevan
Ketiga penelitian relevan di atas memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan. Beberapa persamaannya adalah membahas mengenai penerapan pendidikan karakter terhadap peserta didik, PPK berbasis budaya sekolah, dan melihat upaya sekolah dalam penerapan PPK. Beberapa perbedaan adalah jenis penelitiannya, satuan pendidikan yang menjadi tempat penelitian, dan objek sasaran yang dikenai penelitian. Dari persamaan dan perbedaan tersebut, peneliti berusaha melakukan penelitian dengan topik yang hampir sama yaitu pendidikan karakter. Namun demikian ada perbedaan dalam basis yang digunakan dalam penelitian dan sasaran pada penelitian tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti saat ini terbilang penelitian baru. Pentingnya penelitian yang peneliti lakukan adalah mengetahui sejauh mana PPK berbasis budaya sekolah dalam bentuk persentase dan bentuk penerapan yang dilakukan sekolah untuk mendukung pendidikan karakter berbasis budaya sekolah.
C. Kerangka Berpikir
Pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham mana yang benar dan salah, mampu merasakan nilai yang baik dan biasa melakukannya. Mengingat perkembangan zaman yang semakin maju maka diperlukan penanaman pendidikan karakter, agar membangun karakter manusia yang sesuai dengan norma-norma kehidupan. Materi pembelajaran yang berkaitan norma kehidupan perlu dikembangkan dan berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari agar menciptakan manusia berkarakter mulia. Di sekolah yang merupakan salah satu tempat pembentukan karakter siswa, diperlukan adanya contoh tentang keteladanan dari pendidik atau guru. Demi kepentingan masa depan bangsa Indonesia, sejak sekarang perlu dilakukan pemusatan pendidikan karakter dalam penyelenggaraan pendidikan nasional Indonesia. Pendidikan karakter kini semakin kuat ketika pada tahun 2010 Pemerintah Indonesia mencanangkan sekaligus melaksanakan kebijakan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter berlandaskan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pendidikan Karakter Bangsa. Mulai pada tahun 2010 hingga sekarang program tersebut terus disosialisasikan ke setiap sekolah. Terbukti bahwa setiap sekolah sekarang tetap menanamkan pendidikan karakter melalui visi dan misi sekolah yang dicanangkan. Selain itu adanya sikap pembiasaan atau budaya sekolah yang diterapkan di setiap sekolah seperti melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin, menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum memulai pembelajaran, melaksanakan program yang mendukung kegiatan literasi dengan membaca buku sebelum pembelajaran dimulai. Selanjutnya pendidikan karakter berbasis budaya sekolah diterapkan melalui berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler baik wajib maupun pilihan seperti pramuka, Tuntas Baca Tulis Alquran (TBTQ). Dengan adanya Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler siswa akan mempelajari nilai-nilai karakter yang sedang dibangun melalui
pembiasaan. Peran guru dalam sekolah sangat penting dalam proses pendidikan karakter budaya di sekolah.
D. Pertanyaan Penelitian
1. Apakah terdapat penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis masyarakat di sekolah dasar se-Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman?
2. Bagaimana upaya penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya di satuan pendidikan sekolah dasar se-Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman dilakukan melalui kegiatan pembiasaan?
39 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Penelitian kuantitatif deskriptif adalah penelitian yang berfungsi untuk mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena-fenomena secara apa adanya (Sudaryono, 2016: 12). Sejalan dengan pendapat di atas, Sukmadinata (2016: 54) menyatakan bahwa penelitian kuantitatif deskriptif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau. Selanjutnya, Werang (2015: 12) menyatakan bahwa penelitian kuantitatif deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang suatu fenomena yang terjadi.
Berdasarkan dari pendapat ahli dapat disimpulkan bahwa penelitian kuantitatif deskriptif adalah penelitian yang berfungsi untuk mendeskripsikan fenomena- fenomena yang terjadi untuk mendapatkan informasi yang diperlukan oleh peneliti. Dalam penelitian ini, peneliti mendeskripsikan mengenai penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya di sekolah dasar se-Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode survei untuk memperoleh informasi-informasi dan data. Pengertian lain metode survei
adalah metode untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel kecil yang biasanya dibatasi pada penelitian dengan data yang dikumpulkan dari sampel untuk mewakili satu populasi (Effendi, 2012: 3). Sedangkan menurut Margono (2010: 20), penelitian metode survei adalah penelitian yang menggunakan kuesioner atau angket sebagai sumber data utama.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode survei digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi kecil ataupun besar, khusus dalam penelitian ini menggunakan kuesioner.
B. Setting Penelitian 1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah guru sekolah dasar negeri kelas I-VI yang berada di Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman.
2. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya di sekolah dasar negeri di Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman.
3. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di 12 sekolah dasar negeri se-Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman.
4. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2018 sampai dengan Oktober 2018.
C. Populasi dan sampel 1. Populasi
Populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2006: 117). Definisi populasi merupakan keseluruhan (universum) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian (Burhan, 2000: 40).
Peneliti juga tertarik meneliti karena Kecamatan Minggir mendapat peringkat akademik ke 14 dari 17 kecamatan yang berada di Kabupaten Sleman (http://refrensi.data.kemendikbud.go.id). Berikut adalah populasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini.
Tabel 3.1 Populasi Penelitian
No Nama SD Kelas Populasi
(Jumlah Guru)
1 SD Negeri Balangan 1 1 6
2 SD Negeri Balangan 2 1 6
3 SD Negeri Dalangan 1 1 6
4 SD Negeri Dalangan 2 1 6
5 SD Negeri Daratan 1 6
6 SD Negeri Jonggrangan 1 6
7 SD Negeri Kebonagung 1 6
8 SD Negeri Kwayuhan 1 6
9 SD Negeri Nglengking 1 6
10 SD Negeri Sendangagung 1 6
11 SD Negeri Sendangharjo 1 6
12 SD Negeri Sutan 1 6
JUMLAH 12 72
Berdasarkan Tabel 3.1 dapat dilihat bahwa populasi terdiri dari 12 sekolah dasar negeri se-Kecamatan Minggir, dengan 6 kelas pada masing-masing sekolah. Jumlah populasi seluruhnya ada 72 guru kelas.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2006: 118). Menurut Arikunto (2002: 109), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Definisi sampel merupakan suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan populasinya.
Penelitian menggunakan sampel guru kelas pada sekolah dasar negeri di Kecamatan Minggir, jadi setiap guru wajib mengisi 1 instrumen yang telah diberikan yang berjumlah 6, dari 6 instrumen yang dibagikan diambil sampel sebanyak 5. Pengambilan sampel diambil dari guru-guru karena guru adalah orang yang paling dekat dengan peserta didik di sekolah.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik probability sampling tipe simple random sampling. Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel, sedangkan simple random sampling adalah teknik yang mengambil anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono, 2015: 120). Pengambilan sampel pada penelitian dihitung menggunakan penentuan jumlah sampel minimal menurut Krejcie dan Morgan dengan taraf kepercayaan 95% dan