9
Turia Martin Zalukhu, S.Pd.
Dr. Subaryana, M.Pd.
Prodi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Wates
ABSTRAK
Tujuan dari Skripsi ini adalah: untuk memperoleh gambaran latar belakang kehidupan Soekarno dan perannya dalam partai nasional Indonesia serta kebijakan –kebijakan yang ia tempuh untuk mencapai kemerdekaan indonesia yang sesungguhnya. Penulisan ini menggunakan Metode studi literatur atau studi kepustakaan, yaitu suatu cara yang dilakukan untuk menyelidiki dengan mencari sumber data dari buku yang berkaitan dengan judul dan permasalahan dengan menggunakan langkah-langkah diantaranya Heuristik, verifikasi (kritik sumber), Interpretasi, Historiografi. Kusno Sosrodihardjo itulah nama lengkap Soekarno, Ibunda Soekarno yang bernama Ida Ayu Nyoman Rai berkelahiran di Bali dan ayahnya bernama Soekemi yang berasal dari Probolinggo, Jawa Timur. Pada 6 juni 1901 Soekarno lahir tepatnya saat fajar pagi hari pukul 05. 30 wib. Pada tahun 1908 Soekarno memulai awal pendidikannya di sekolah Bumi Putra setelah itu, melanjut ke Sekolah Dasar Eropa ELS (Europeesche lagore School). Kemudian ke sekolah HBS (Hoogere Burger School) di Surabaya dan tinggal bersama H. O. S Tjokroaminoto. Soekarno menyelesaikan pendidikannya di HBS pada tahun 1921, akhirnya ia melanjutkan studi di THS Bandung (Technische Hoge School) dan meraih gelar Insinyur (Ir). Sejak di Bandung, Soekarno mulai aktif dalam organisasi kemudian, tanggal 4 Juli 1927 Ia mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI), berubah nama menjadi Partai. Soekarno menjadi ketua dewan pengurus umum, Ideologi Marhaenisme dikonsep oleh Soekarno yang bertujuan memperjuangkan hak untuk kaum miskin didasari gagasan sosio-nasionalisme dan sosio-demokasi, yang mengandung ajaran Marxis ciptaan Soekarno sendiri. Akibat perjuangannya ia diintai pemerintah Hindia Belanda dan ditahan di penjara Banceuy yang terletak dibandung tepat 29 Desember 1929, atas hukuman tersebut Soekarno melakukan pembelaan terhadap dirinya yang dikenal dengan Pledoi yang berjudul Indonesia menggugat. namun akhirnya Soekarno tetap di jatuhi hukum pada tanggal 22 Desember 1930 selama 4 tahun penjara, setelah itu Soekarno bergabung di Partindo beliau kembali ditangkap Oleh Belanda dan di buang ke Ende, Flores tahun 1933.
Kata kunci: latar belakang kehidupan Soekarno – perjuangan Soekarno sebagai pemimpin PNI – dampak perjuangan politik Soekarno di PNI
Latar Belakang Masalah
Perjuang para tokoh nasional Indonesia bermula akibat dari penjajahan Belanda terhadap bangsa Indonesia yang begitu kejam. Indonesia mengalami penindasan dari penjajah yang terjadi dalam jangka waktu yang begitu lama sekali, Indonesia menjadi sumber pengambilan bahan baku pabrik di Eropa. Penjajahan itu telah menyebabkan kehidupan rakyat Indonesia menjadi porak-poranda.
Dalam segi Pendidikan bangsa Indonesia diletakkan pada posisi yang sangat rendah, kecuali mereka yang berasal dari golongan bangsawan atau priyayi yang terus berkolaborasi dengan Belanda. Sehingga dengan cara yang diberlakukan oleh Kolonial Belanda itu, maka
10
golongan bangsawan dapat mereka manfaatkan untuk bisa terus menguasai daerah jajahan tanpa menimbulkan pemberontakan dari rakyat pribumi.
Lahirlah golongan terpelajar yang mulai berpikir luas serta sadar akan kebohongan yang dialami, dari beberapa golongan terpelajar tersebut ada yang tidak mau tunduk akan pemerintah Kolonial Belanda akan tetapi membantah segala kebijakan yang buruk tersebut Salah satu putra pribumi Indonesia adalah Soekarno. Ia lahir di Lawang Seketeng Surabaya, pada tanggal 06 Juni 1901. Soekarno masuk di sekolah pemerintah kolonial karena ia salah satu anak dari keturunan ningrat. Hingga ia melanjutkan Studinya di Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoge School) dan pada akhirnya ia lulus dalam studinya dan bergabung dalam politik. Pada mulanya Soekarno mendirikan Study Club dengan nama Algemenne Studie Club yang anggotanya adalah mahasiswa dibentuk untuk menghindari pengawasan dari pemerintahan Belanda yang keras terhadap partai politik, juga bertujuan untuk mendorong keinsyafan persatuan dan kefahaman politik (Susanto Tirtoprodjo, 1986: 59). Proses waktu berjalan barulah Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia.
Awal dari berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh Soekarno dan para pendiri lainnya adalah bermaksud melanjutkan cita-cita partai politik yang mendahului sebelumnya.
Soekarno adalah ketua Partainya, beberapa konsep yang menjadi asas Partai Nasional Indonesia yaitu Selfhelp, nonkooperasi, dan Marhenisme. Lewat PNI inilah Soekarno menggagas paham Marhaenisme yang bertujuan untuk membela hak, ‘terdiri dari kaum tani kecil, kaum pedagang kecil, kaum pelayar kecil, kaum Marhaen yang apa-apanya semua kecil’ (GNRI,1999: 2). Sehingga menjadi upaya Soekarno untuk mencari cara dalam mewujudkan keadilan. Soekarno mengajarkan Marhaenisme sebagai teori perjuangan sekaligus sebagai teori politik dengan tiang penyangga sosio-nasionalisme dan sosio- demokrasi (Jonar Situmorang, 2015: 263).
Dalam mengawali langkah dari program (PNI) adalah melaksanakan kongres pertamanya. dilangsungkan kongres PNI yang pertama pada tanggal 27 dan 30 mei 1928 di kota Surabaya. (Solichin Salam,1981: 53). Partai Nasional Indonesia mengalami perkembangan besar. Melihat kemajuan dari partai ini kolonial Belanda melakukan penangkapan terhadap Soekarno dan teman-temannya serta diadili didepan pengadilan kolonial Bandung, akhirnya Bung karno oleh hakim kolonial dijatuhi hukuman 4 tahun penjara, Gatot Mangkupadja dihukum 2 tahun, Maskun 1 tahun 8 bulan, dan Supriadinata 1 tahun 3 bulan. (Solichin Salam,1981: 61).
Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana latar belakang kehidupan Soekarno?
2. Bagaimana perjuangan Soekarno memimpin PNI?
3. Bagaimanakah dampak perjuangan politik Soekarno di PNI?
Latar Belakang Kehidupan Soekarno
Pada 6 juni 1901 Soekarno lahir tepatnya saat fajar pagi hari pukul 05. 30 wib.
Soekarno merupakan anak kedua dari Soekemi dengan Ida Ayu. Anak pertama dari pasangan ini adalah perempuan yang bernama Soekarmini. (Jonar Situmorang, 2015: 37).
11
Kusno Sosrodihardjo itulah nama lengkapnya saat masih kecil, kala itu namanya diganti oleh kedua orangtuanya yaitu “Soekarno” berarti “karna” adalah heroic.
Tahun 1908 Soekarno mengawali pendidikannya di sekolah Bumi Putra, Sekolah ini di peruntukan bagi kalangan pribumi saja, dan menempuh sampai di kelas lima saja. Lalu disarankan ayahnya ke Sekolah Dasar Eropa atau yang sering dikenal ELS (Europeesche lagore School). ELS merupakan sekolah yang menyediakan segala prosedur pengajaran sesuai dengan tingkat Pendidikan di negeri Belanda.
Tepat waktu Soekarno menyelesaikan pendidikannya di ELS, kemudian ayahnya melakukan sesuatu agar anaknya masuk di Sekolah menengah ke sekolah HBS (Hoogere Burger School). Pada tahun 1921 Soekarno menyelesaikan pendidikannya di HBS akhirnya ia melanjutkan studi di THS Bandung (Technische Hoge School). ia pun tidak seperti teman- teman lainnya. Saat mereka sibuk dengan nilai mata kuliah, Soekarno rajin menggelar diskusi dan kegiatan-kegiatan luar kampus saat masih kuliah di Bandung (Andi Setiadi, 2016:
43). Akhirnya Tepat pada tanggal 25 mei 1926 dimana hari itulah Soekarno dinyatakan lulus ujian, dan ia diwisuda.
Perjuangan Soekarno Sebagai Pemimpin Partai Nasional Indonesia
Soekarno banyak beraktifitas di beberapa kegiatan organisasi sejak tinggal bersama H. O. S Tjokroaminoto pemimpin partai politik yang sangat terkenal pada masa itu, Soekarno telah mengenal tokoh-tokoh penggerak perjuangan nasional kala itu walaupun masih sekolah. Setelah lulus dari HBS Soekarno melanjutkan pendidikannya di THS (Technische Hoge School) Bandung, pada waktu itu mulanya Soekarno bergabung disebuah organisasi yang didirikan dr. Sutomo yang bernama “Algemenne Studie Club” yang anggotanya adalah mahasiswa yang bermaksudkan untuk menghindari pengawasan dari pemerintah Belanda yang keras terhadap partai politik (Sutanto Tirtoprodjo, 1986: 59).
Soekarno ikut serta dalam pertemuan-pertemuan rapat partai maupun dengan hubungan berbagai organisasi seperti Sarekat Islam, Jong Java, dan organisasi yang lain.
Tanggal 4 Juli 1927 didirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI), yang kemudian berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia. Soekarno menjadi ketua dewan pengurus umum, iskaq sebagai sekretaris bendahara, para anggota dewan, pimpinan yang lain menjadi anggota dari komisi persiapan (Lambert Giebels, 2001: 81). Partai Nasional Indonesia ini sendiri menganut asas nonkoperasi dengan Belanda sebab dapat membahayakan tujuan perjuangan partai.
Tidak lama kemudian PNI berkembang pesat, tentunya dalam koridor seorang pemimpin yang cerdas yaitu Soekarno, Berbagai usaha yang dilakukan untuk menyelenggarakan pertemuan agar memperoleh dukungan sebesar-besarnya. Melalui cara orasi Soekarno yang membakar semangat, ia menyajikan pidato yang benar-benar berkobar untuk memikat perhatian para pendengarnya. dengan demikian rapat-rapat PNI itu menjadi forum dimana rakyat langsung bisa berkomunikasi dengan pemimpin (Sartono Kartodirdjo, 1999: 157-158).
Sejak terpilihnya Soekarno menjadi seorang pemimpin Partai Nasional Indonesia (PNI) tentunya tidak akan diragukan lagi, berkat pengalaman banyak ia dapat memimpin wadah organisasi yang besar ini. PNI semakin berkembang pesat dibawah kepemimpinan
12
Soekarno, perjuangan partai yang tegas dan berani membela rakyat kecil telah mampu menempatkan partai ini sebagai partai yang disukai rakyat (Solichin Salam, 1984: 54),
Disini perkembangan PNI semakin terlihat, sehingga cabang-cabang partai banyak yang berdiri diberbagai daerah jawa dan jawa barat (Solichin Salam, 1981: 53). Kemudian dilangsungkan kongres PNI yang pertama pada tanggal 27 sampai 30 Mei 1928 di kota Surabaya, diwaktu itu Soekarno mengucapkan pidatonya didepan seribu lebih peserta kongres tersebut menerima suatu pernyataan lengkap tentang tujuan-tujuan PNI yang meliputi bidang politik, ekonomi dan sosial (John D. Legge, 1972: 115), sekalian juga dilakukan pergantian nama partai yang sebelumnya “perserikatan menjadi partai”.
Ditengah kesibukan itu Soekarno selalu memberikan waktunya untuk menulis beberapa majalah, PNI mendirikan surat kabar sendiri yaitu “Persatuan Indonesia” pada bulan Juli 1928 dibawah pimpinan Soekarno dan Sunarjo (John D. Legge, 1972: 116).
Namun dikegiatan manapun atau berpidato didepan banyak orang Soekarno tidak luput dari intaian pemerintah kolonial Belanda karena propagandanya yang bisa mengancam sistem pemerintahan. Sehingga Gubernur Jendral dalm pidato Volsraad tanggal 15 mei 1928 memandang perlu memberikan peringatan kepada pemimpin-pemimpin PNI supaya menahan diri didalam ucapannya (Susanto Tirtoprodjo, 1995: 77-78).
Dalam bulan Mei 1929 pada kongres PNI yang kedua (Bernard Dahm, 1987: 139 Soekarno sebagai pembukaan pidato didepan para tamu, Soekarno memanfaatkan kesempatan baik dari seorang Gubernur Jendral de Graeff yang sangat penyabar dan tidak melakukan tindakan keras terhadap gerakan nasionalisme, akan tetapi dikesempatan tersebut Soekarno mulai berubah menjadi lebih radikal. Karena melihat perubahan tersebut, Gubernur de Graeff mendapat tekanan keras dari kolonial Belanda, untuk membatasi kebebasan bergerak PNI (Jonh D. Legge, 1972: 129). Soekarno mulai dibuntuti oleh polisi kolonial Belanda untuk terus mengawasinya.
Soekarno menciptakan sebuah ideologi yang bernama Marhaenisme, ideologi ini diciptakannya melalui perjalanan panjang pergumulan tentang intelektual dan juga ideologi ini terbentuk sebagai ciptaan yang benar-benar baru dari Soekarno. Bisa dikatakan Marhaen adalah para petani yang mengerjakan bidang tanah kecil yang merupakan korban sistem feodal yang pada mulanya petani pertama diperas oleh bangsawan pertama dan seterusnya hingga anak cucu selama berabad-abad (Ign. Gatot Saksono, 2007: 49).
Didalam Marhaenisme yang bertujuan memperjuangkan hak untuk kaum miskin Bagi Soekarno, Marhaenisme adalah tiap orang Indonesia yang bersedia bekerjasama untuk membangun sebuah tatanan sosial yang adil (Bernhard Dahm, 1987: 185). Dengan berdasarkan Statemen itu berarti gagasan ini tidak hanya berlaku bagi kaum buruh ataupun golongan miskin semata akan tetapi tanpa memandang kedudukan sosial dan ekonomi, hal ini juga berlaku bagi golongan kaya sekalipun. Kemudian Soekarno mengkonsepkan hasil intelek ini untuk direalisasikan di organisasi yang terlembaga dan yang memperjuangkan Marhaen yaitu PNI.
Begitulah tindakan Soekarno dalam perjuangan mengangkat hak kaum miskin yang tertindas. Ia menggalang berbagai upaya meningkatkan kesadaran bangsa Indonesia melalui Marhaenisme-nya itu sebagai jembatan emas bagi rakyat Indonesia.
13 Dampak Perjuangan Politik Soekarno Di PNI
Dimasa kepemimpinan Soekarno di PNI, ia telah menjadi sorotan utama dari semua golongan masyarakat yang dapat menjadi pengaruh besar bagi rakyat terjajah sehingga sangat ditakuti oleh pihak kolonial Belanda. Oleh karena itu Soekarno tidak lepas dari intaian pemerintah Hindia Belanda dimanapun ia melakukakan aktifitasnya sebagai pemimpin partai.
Hingga saatnya segala aktifitas Soekarno di PNI dan dimanapun juga yang tergabung dalam gerakan nasionalis akan diperingati dengan harapan Soekarno dan kawan-kawan dapat menempuh jalan yang Insyaf. Di bulan Mei 1928 gubernur jendral De Graeff memberi peringatan yang dialamatkan ke PNI, ia memberitahukan bahwa kelompok yang terakhir akan diawasi dengan cermat (Lambert Giebels, 2001: 94). Namun yang terjadi, seperti sediakala Soekarno terus melanjutkan kegiatan politiknya untuk menanam pengaruh besar dikalangan rakyat Indonesia.
Sesuatu yang tidak diinginkan namun sudah diprediksi sebelumnya terjadi, pada bulan Desember Soekarno direncanakan berbicara didepan kongres PPPKI yang kedua tanggal 25-27 di Solo (John D. Legge, 1985: 130). Suatu yang tiba-tiba terjadi tanpa samasekali mereka mengetahui, tak kurang satu peleton polisi Belanda mendatangi rumah Sujudi. Seorang komisaris polisi Belanda mendorong pintu dengan kasar dan pasukan polisi masuk kerumah tanpa diundang (Jonar Situmorang, 2015: 415).
Soekarno dan Gatot Mangkupradja ditangkap dan langsung mereka jebloskan di penjara selama 24 jam. subuh lusanya, mereka diantar menuju Bandung, keduanya langsung di masukkan di penjara Banceuy (John. D. Legge, 1985: 130). Pemerintah kolonial Belanda mengumpulkan barang bukti tetapi, tidak ada yag dapat menunjukkan bahwa PNI akan melakukan pemberontakan. Pemeriksaan perkara terdakwa Soekarno dan tiga terdakwa lainnya dimuka Landraad Bandung dimulai tanggal 18 Agustus 1930 dan berlangsung sampai akhir tahun (Bernhard Dahm, 1945: 145). Kemudian Soekarno mulai mempersiapkan pembelaannya, disamping itu ia langsung menyiapkan tim pembela yang akan dibutuhkan saat pengadilan berlangsung. Ketika pada 18 agustus 1930 ruang sidang dibuka, selama 19 kali persidangan dalam jangka waktu 4 bulan lamanya akhirnnya saat yang telah di tunggu-tunggu ia menyampaikan pembelaannya dengan memusatkan pada peraturan pengadilan itu sendiri. Bung Karno menelanjangi kejahatan dan kebusukan imperialisme Belanda di Indonesia. Pledooinya yang diucapkannya dengan gagah berani, yang kemudian dibukukan dengan judul “Indonesia menggugat” telah menggemparkan seluruh dunia. (Solichin Salam, 1981: 61).
Soekarno menyampaikan apa yang seharusnya ia katakan dengan suara yang lantang dan semangat yang tidak pernah akan menyerah, walaupun pada akhirnya tanggal 22 Desember 1930 Hakim menjatuhkan keputusasnya, Soekarno dihukum 4 tahun penjara, Gatot Mangkupradja 2 tahun, Maskun 1 tahun 8 bulan dan Supriadinata 1 tahun 3 bulan. Hal itu didasari dari peraturan pasal 153 dan 169 KUHP, yang ditunjukkan pada kelompok Soekarno yang dianggap melakukan tindakan menentang kekuasasan kolonial Belanda.
Soekarno dan teman-temannya dipenjara sesuai dengan tuduhan-tuduhan dan peraturan yang diberikan kepada mereka (Suhartono, 1994: 71).
Daftar Pustaka
Andi Setiadi, 2016, Sisi Lain Bung Karno, Yogyakarta: Palapa.
14
Dahm Bernhard, 1987, Soekarno Dan Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta:LP3ES
Gatot Saksono, Ign. 2008, Marhaenisme Bung Karno, Yogyakarta: Rumah Belajar Yabinkes.
Giebels Lambert, 2001, Soekarno Biografi 1901-1950. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Jonar Situmorang, 2015, Bung Karno Biografi Putra Sang Fajar. Yogyakarta: AR-RUZZ Media.
Legge John D. , 1985, Sukarno Sebuah Biografi Politik. Jakarta: Sinar Harapan
Sartono Kartodirdjo, 1989, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka.
Solichin Salam, 1981, Bung Karno Putera Fajar. Jakarta: Gunung Agung
Susanto Tirtoprodjo, 1980, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, Jakarta: PT.
Pembangunan.