4 BAB II
LANDASAN TEORI 2.1 Peranan Supplier
Banyak perusahaan yang mengajak supplier dalam melakukan pengembangan produk, hal ini dikarenakan supplier merupakan salah satu supply chain. Supplier sangat memahami material yang mereka pasok dari sisi kualitas dan juga ketersediaan material yang ada, sehingga keterlibatan supplier dalam melakukan pengembangan pruduk oleh perusahaan menjadi sangat penting. Bagi supply cahin dalam menghadapi pasar yang dinamis dan menangani produk-produk yang terus berkembang, keterlibatan supplier dalam menangani produk yang inovatif sangatlah esensial (Pujawan, 2005).
Dalam melakukan pemilihan supplier sangat diperlukan kejelian, karena jika salah menilai supplier makan perusahaan akan mengalami beberapa masalah yang dapat menghambat proses yang sedang berjalan, misalnya jika supplier kurang tanggap dalam memenuhi kebuutuhan perusahaan, maka akan berakibat kurangnya material ataupun kelebihan material pada perusahaan. Selain itu jika lead time supplier panjang maka dapat menghambat proses prduksi perusahaan, sehingga dapat mempengaruhi distribusi barang pada konsusmen (Limansantoso, 2013)
Sejatinya memilih supplier merupakan proses peninjauan atau evaluasi yang dilakukan oleh perusahaan sebagai bagaian dari manajemen rantai pasok yang dilakuakan. Perusahaan memiliki beberapa pertimbangan dalam memilih supplier yang disebut kriteria, diantaranya biaya kirim, ketepatan jumlah kirim, ketepatan waktu kirim, fleksibilitas, mutu matrial, penyerahan barang, pembayaran, informasi, pajak serta kriteria lain yang mempengarui keberlangsungan suatu perusahaan.
evaluasi supplier memiliki tujuan utama yaitu melakukan penilaian dan penyeleksian supplier yang paling optimal bagi perusahaan. Semua perusaaan yang menerapkan evaluasi supplier diharapkan mampu menemukan supplier yang memahami tujuan startegis perusahaan, sehingga perusahaan memiliki supplier
utama yang dapat meminimalkan biaya kebutuhan bahan baku dan juga menaikkan daya saing perusahaan (Perçin, 2006)
2.2 Evaluasi Supplier
Evaluasi supplier adalah salah satu masalah pengambilan keputusan yanhg paling penting dalam urusan manajemen rantai pasokan. evaluasi supplier sangat penting untuk menaikkan daya saing perusahaan, dimana jika supplier kurang berkomitmen dalam memenuhi kebutuhan bahan baku akan menyebabkan masalah yang serius bagi perusahaan. evaluasi supplier membutuhkan penilaian pemasok alternatif yang berbeda berdasarkan kriteria yang berbeda (Cristea & Cristea, 2017).
Pemilihan supplier yang tepat dapat mengurangi biaya pengadaan bahan baku, meningkatkan keuntungan, penurunan lead time, meningkatkan kepuasan konsumen, dan meningkatkan daya saing antar perusahaaan (Frej et al., 2017).
Itulah mengapa pemilihan supplier menjadi fokus setiap pembelian dalam organisasi, tetapi belum ada standar apapun untuk pemilihan supplier, untuk itu harus ada penerapan berdasarkan situasi yang terjadi.
Sedangkan pemilihan yang salah bisa menyebabkan kurangnya bahan baku yang membuat proses produksi terhenti, sehingga perusahaan akan menderita kerugian dan mempengaruhi kinerja perusahaan. Oleh karena itu , perusahaan yang mempunyai banyak supplier harus selektif dalam memilih supplier mereka. Bahkan memilih pemasok yang tepat selalu sulit dilakukan untuk pembelian manajer, terutama bahwa kebutuhan kriteria pemilihan supplier selalu berubah. Terdapat tiga langkah utama dalam pemilihan supplier (Taherdoost & Brard, 2019) :
1. Mengevaluasi dan mengidentifikasi kriteria sesuai dengan karakteristik pemasok
2. Membuat studi kuisoner yang kemudian dipisahkan dalam analisis hasil dan penentuan bobot kriteria.
3. penerapan metode pengambilan keputusan multi-kriteria mulai dari memilih metode untuk digunakan dalam rangka untuk memilih pemasok terbaik.
Gambar 2.1 tahap seleksi supplier
Tujuan pemilihan supplier yang tepat adalah untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pembeli berupa produk atau jasa yang berkualitas dengan harga yang tepat, dalam jumlah yang tepat maupun waktu yang tepat. sulit mengikuti strategi yang sama di setiap perusahaan, dengan kondisi finansial perusahaan yang berbeda. Itulah sebabnya banyak perusahaan lebih memilih membayar banyak uang untuk memperbaiki proses pembelian dimana soal harga tidak menjadi prioritas utama lagi dalam memilih supplier (Vasina, 2014).
2.2.1 Kriteria evaluasi supplier
Dalam melakukan evaluasi supplier memerlukan beberapa pertimbangan, karena bagian ini merupakan hal yang sangat strategis, kriteria yang digunakan harus mengikuti strategi supply chain dan karakteristik bahan baku atau item yang akan dipasok, terutama jika supplier merupakan pemasok material kritis yang paling sering digunakan dalam kegiatan produksi dan digunakan dalam jangka yang panjang.
Pada umunya perusahaan hanya menggunakan kriteria harga sebagai pertimbangan dalam memilih supplier tanpa mempertimbangkan kriteria lain.
Tetapi evaluasi yang baik harus mempertimbangkan banyak kriteria dalam memilih supplier diantaranya harga, kualitas, ketepatan waktu pengiriman, jumlah, dan kriteria lain. Menurut Dickson (1966) kriteria pemilihan supplier dibagi menjadi 23 kriteria sebagai berikut
Evaluasi dan identifikasi kriteria
Studi kuisoner
Analisis hasil survey
Penentuan bobot kriteria
Membuat pemasok alternatif
Model MCDM
Seleksi pemasok
Tabel 2. 1 kriteria pemilihan / evaluasi supplier
No Kriteria Skor
1 Quality 3,5
2 Delivery 3,4
3 Performance History 3,0
4 Warranties and claim policies 2,8 5 Production facilities and capacity 2,8
6 Price 2,8
7 Technical capability 2,5
8 Financial position 2,5
9 Procedural compliance 2,5
10 Communication system 2,4
11 Reputation and position in industry 2,4
12 Desire for business 2,3
13 Management and organization 2,2
14 Operating controls 2,2
15 Repair service 2,2
16 Attitude 2,1
17 Impression 2,1
18 Packaging ability 2,0
19 Labor relation record 2,0 20 Geographical location 1,9 21 Amount of past business 1,6
22 Training aids 1,5
23 Reciprocal arrangement 0,6 Sumber : (Liu, Ding, & Lall, 2000)
Skor pada kolom menunjukkan kepentiangan tiap kriteria berdasarkan survey yang dilakukan oleh 170 manajer purchasing di amerika. Penelitian ini menggunakan skala likert dengan rentang penilaian 0 sampai dengan 4 yang berarti 0 sangat tidak penting dan 4 sangat penting.
Adapun penelitian terdahulu berdasarkan kriteria dan sub kriteria yang dipakai pada evaluasi supplier. Penentuan ktiteria dan sub kriteria merupakan hal yang penting dipertimbangkan dalam melakukan evaluasi supplier, oleh sebab itu peneliti menggunakan banyak rujukan berasal dari penelitian terdahulu untuk penyesuaian kriteria dan subkriteria yang akan dipertimbangkan nantinya sesuai dengan kondisi perusahaan. Hasil pada penelitian berikut ini akan menjadi rujukan peneliti dalam melakukan penelitian evaluasi supplier bahan baku . beriku adalah tabel 2.2 penelitian terdahulu :
Tabel 2.2 ringkasan dan literatur tentang penggunaan MCDM untuk evaluasi supplier
No Nama Peneliti
Studi Masalah Kriteria yang Digunakan
Metode
1 (Salkiawati
& Lubis, 2019)
Sistem pendukung
keputusan evaluasi kinerja supplier menggunakan metode profile matching
Responsibility, Quality, Cost, Time, Flexibility
PROFILE MATCHING
2 (Siregar et al., 2017)
Implementasi metode vikor dalam pemilihan supplier bahan baku
Kualitas, harga, konsistensi, ketepatan waktu dalam
pengiriman, jarak
VIKOR
3 (Ardiantono, Noer, Rosa,
& Mustofa, 2019)
Analysis of supplier selection of plate raw material
Price, Quality, Service, Delivery
AHP
4 (Giannakis, Dubey, Vlachos, &
Ju, 2019)
Supplier sustainability performance evaluation using the analytic network process
Economic, Environmental, Social
ANP
5 (Hadi, 2018) Penerapan metode multifactor evaluation process untuk pemilihan supplier kertas pada percetakan
Harga, kualitas bahan,
keragaman yang ditawarkan, respon supplier, waktu
pengiriman
MULTIFACTOR EVALUATION
6 (Liu et al., 2000)
Using data envelopment analysis to compare suppliers for supplier selection and performance improvement
Quality, Distance, Delivery, Price, Efficiency
DEA
Perbedaan penelitan terdahulu dengan penelitian saat ini adalah dengan adanya penambahan kriteria baru yang dianggap penting untuk evaluasi supplier yaitu profil supplier dan document. Metode yang digunakan pada penelitian kali ini adalah metode hybrid AHP dan VIKOR dikarenakan metode AHP menilai setiap kriteria tergantung sudut pandang orang dalam menilainya dan metode VIKOR dapat mengambil keputusan dengan solusi mendekati ideal dan setiap alternatif dievaluasi beredasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Terlebih lagi penelitian terdahulu belum ada yang menggabungkan metode AHP dan VIKOR untuk masalah evaluasi supplier.
2.3 Multi Criteria Decision Making (MCDM)
Proses pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif terbaik dari berbagai alternatif sehingga menghasilkan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan berdasarkan beberapa kriteria optimasi (Tabucanon, 1988). Kriteria yang dimaksud adalah suatu aturan dan ukuran dan standar relevan untuk suatu situasi pengambilan keputusan. Sebelum melakukan proses pengabilan keputusan, maka himpunan alternatif dan kriteria terlebih dahulu harus ditetapkan.
Sifat-sifat yang harus diperhatikan dalam memilih kriteria pada setiap persoalan pengabilan keputusan adalah sebagai berikut (Suryadi & Ramdhani, 1998) :
1. Lengkap, sehingga dapat mencakup semua aspek penting dalam persoalan tersebut. Suatu kriteria dikatakan lengkap apabila kriteria ini dapat menunjukkan seberapa jauh seluruh tujuan yang dapat dicapai.
2. Operasional, sehingga dapat digunakan dalam analisis. Sifat operasional mencakup beberapa pengertian, diantaranya bahwa kumpulan kriteria ini harus mempunyai arti bagi pengambil keputusan, sehingga ia dapat benar-benar memahami keterlibatannya terhadap alternatif yang ada. Selain itu pengambilan keputusan juga harus dapat digunakan sebagai sarana untuk meyakinkan pihak lain, maka kumpulan kriteria ini harus dapat digunakan sebagai sarana untuk memberikan penjelasan atau untuk berkomunikasi. Operasional ini juga mencakup sifat dapat diukur. Pada dasarnya sifat dapat diukur ini adalah untuk :
a. memperoleh distribusi kemungkinan dari tingkat pencapaian kriteria yang mungkin diperoleh (untuk keputusan dalam ketidakpastian).
b. Mengungkapkan preferensi pengambil keputusan atas pencapaian kriteria.
3. Tidak berlebihan, sehingga terhindar dari perhitungan berulang. Dalam menentukan kriteria, jangan sampai terdapat kriteria yang mengandung pengertian yang sama.
4. Minimum, agar lebih matang dalam memahami persoalan. Dalam menentukan sejumlah kriteria perlu sedapat mungkin mengusahakan agar jumlah kriterianya sesedikit mungkin. Karena semakin banyak kriteria maka semakin sukar pula dalam menghayati persoalan dengan baik, dan jumlah perhitungan yang diperlukan dalam analisis akan meningkat dengan cepat.
MCDM menjadi rumit dikarenakan terdapat banyaknya kriteria yang ada dalam permasalahan. Pada permasalahan yang hanya melibatkan satu kriteria penilaian, proses pemilihan alternatif akan lebih mudah walaupun terdapat banyak alternatif yang harus dipertimbangkan. Dengan demikian bisa dikatakan
bahwa tingkat kesulitan pengambilan keputusan sensitif terhadap jumlah kriteria yang akan dipertimbangkan.
Suatu permasalahan tergolong MCDM jika setidaknya terdapat dua kriteria yang saling bertentangan dan melibatkan dua solusi alternatif. Kriteria yang saling bertentangan (conflicting criteria) berarti kepuasan memilih suatu alternatif berdasarkan suatu kriteria tertentu akan berbeda berdasarkan kriteria yang lain. Sedangkan non conflicting criteria memperlihatkan adanya dominasi yang kuat dari suatu alternatif lain (Tabucanon, 1988).
Berdasarkan tujuannya, MCDM dapat dibagi dua model:
1. Multi Objective Decision Making (MODM).
2. Multi Attribute Decision Making (MADM).
Seringkali MODM dan MADM digunakan untuk menerangkan kelas atau kategori yang sama. Multiple Attribute Decision Making (MADM), digunakan untuk menyelsaikan masalah-masalah dalam ruang diskret. Oleh karena itu, pada MADM biasanya digunakan untuk melakukan penilaian atau seleksi terhadap beberapa alternatif dalam jumlah yang terbatas. Sedangkan MODM digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam ruang kontinyu (seperti permasalahan pada pemrograman matematis).
2.3.1 Multi Attribute Decision Making (MADM)
MADM merupakan suatu metode yang digunakan untuk mencari alternatif optimal dari sejumlah alternatif dengan kriteria tertentu.
Menurut Ma’ruf (2016), pendekatan MADM dapat dilakukan melalui 2 langkah, yaitu :
1. pertama, melakukan agregasi terhadap keputusan-keputusan yang tanggap terhadap semua tujuan pada setiap alternatif.
2. kedua, melakukan perangkingan alternatif-alternatif keputusan tersebut berdasarkan hasil agregasi keputusan.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa masalah multi - attribute decision making (MADM) adalah mengevaluasi m alternatif Ai (i=1,2,….,m) terhadap sekumpulan atribut atau kriteria Cj (j=1,2,….,n), dimana setiap atribut saling tidak bergantung satu dengan yang lainnya. Dimana xij merupakan rating kinerja alternatif ke-i terhadap atribut kej. Nilai bobot yang menunjukkan tingkat kepentingan relatif setiap atribut, diberikan sebagai, w :w = { w1, w2, ….,wn }.
Rating kinerja (x), dan nilai bobot (w) merupakan nilai utama yang merepresentasikan preferensi absolut dari pengambil keputusan. masalah MADM diakhiri dengan proses perangkingan untuk mendapatkan alternatif terbaik yang diperoleh berdasarkan nilai keseluruhan preferensi yang diberikan.
Menurut ma’ruf dalam Kusumadewi et al., (2006), Bebebrapa metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah MADM , antara lain:
a. Simple Additive Weighting (SAW) b. Weighted Product (WP)
c. ELECTRE
d. Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) e. Analytic Hierarchy Process (AHP)
2.3.2 Analytic Hierarchy Process (AHP)
Analytic Hierarchy Process merupakan metode yang dikembangkan oleh Prof. Thomas L. Saaty. Dengan menggunakan AHP proses penilaian menjadi terintegrasi dari awal dengan perbandingan berpasangan. Teori ini berkembang untuk proses pengambilan keputusan dengan menggunakan struktur hirarki, pembuatan struktur hirarki dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan dalam jaringan dengan ketergantungan dan umpan balik dan keputusan kompleks dengan melibatkan manfaat, peluang, biaya dan resiko. Karya Prof. Thomas L. Saaty.
Pada pengambilan keputusan dalam kelompok banyak digunakan untuk mempermudah proses pengambilan keputusan dalam organisasi untuk menyelesaikan konflik. Sehingga AHP banyak digunakan baik individu ataupun kelompok pada proses pengambilan keputusan untuk bisnis, industri dan
pemerintahan. Terutama untuk masalah multi kriteria skala besar yang kompleks (Diana, 2018).
2.3.3.1 Prinsip Dasar Pada AHP
Dalam menyelesaikan masalah, AHP mempunyai beberapa prinsip dasar yang harus dipahami, diantaranya adalah :
1. Dekomposisi
Dekomposisi adalah proses penyederhanaan masalah yang kompleks menjadi bentuk hirarki. Permasalahan multikriteria AHP disederhanakan dalam bentuk hirarki yang mempunyai tiga komponen utama, yaitu tujuan, kriteria dan alternatif pilihan. Berikut adalah hirarki AHP :
Gambar 2.2 Hirarki AHP
Salah satu sebab AHP banyak dipakai dalam pemecahan masalah pengambilan keputusan adalah karena AHP cenderung mengelompokkan elemen ke dalam tingkat-tingkatan dimana setiap elemen berisi tingkatan yang setara dan sesuai dengan kerangka berpikir manusia.
2. Perbandingan berpasangan
Dalam melakukan penilaian perbandingan berpasangan dapat menggunakan tabel saaty berikut ini :
Tabel 2.3 Tingkat kepentingan
Intensitas kepentingan pada
skala absolute
Definisi Penjelasan
Tujuan
Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria n
Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif n
1 Kedua elemen yang sama pentingnya
Dua elemen dengan pengaruh yang sama besardalam pengambilan keputusan
3
Elemen yang satu sedikit lebih penting dari pada elemen yang lainnya
Pengalaman dan penilaian menyatakan bahwa satu elemen sedikit lebih berperan dibanding elemen yang lainnya
5 Elemen yang satu lebih penting daripada
Pengalaman dan penilaian menyatakan bahwa satu elemen sangat berperan dibandingkan elemen yang lainnya
7
Satu elemen jelas mutlak lebih penting daripada elemen lainnya
Satu elemen sangat berperan dan dominan terlihat dalam praktek
9 Satu elemen mutlak penting dari pada elemen lainnya
Bukti yang mendukung satu elemen berada pada urutan tertinggi
2,4,6,8
Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan-pertimbangan yang berdekatan, nilai ini diberikan bila ada dua kompromi diantara dua pilihan
Berbalikan Jika aktifitas a mendapat satu angka dibanding dengan aktifitas b, maka b mempunyai nilai kebalikan dibanding dengan a Sumber : (Diana, 2018)
Perbandingan pada pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan tingkat kepentingan relatif antar kriteria atau antar alternatif berdasarkan penilaian.
Penilaian ini menggunakan skala angka dan menghasilkan matriks dalam bentuk matriks pairwise comparisons yaitu matriksberpasangan yang memuat alternatif untuk tiap kriteria.
3. Sintesis prioritas
Dalam AHP setiap kriteria ditentukan berdasarkan kontribusinya untuk pemecahan masalah.
4. Konsistensi logis
Tabel 2.4 Daftar random index konsistensi
Ukuran matriks (n) Nilai IR (indeks random)
1,2 0,00
3 0,58
4 0,90
5 1,12
6 1,24
7 1,32
8 1,41
9 1,45
10 1,49
11 1,51
12 1,48
13 1,56
14 1,57
15 1,59
Sumber : (Diana, 2018)
Saat pengambilan keputusan metode AHP mempertimbangkan nilai konsistensi yang logis ketika penilaian yang digunakan untuk menentukan prioritas. Konsistensi yang dihasilkan harus kurang dari 10%, jika konsistensi lebih dari 10% maka data yang diberikan pengambil harus diperbaiki lagi.
2.3.3.2 Langkah-Langkah Metode AHP
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyelesaikan metode Analytic Hierarchy Process adalah sebagai berikut (Setyaningsih, 2011) :
1. Penentuan kriteria yang digunakan
Permasalahan yang awalnya tidak terstruktur, kita pecahkan secara jelas agar lebih mudah dipahami. Selanjutnya menentukan kriteria untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada
2. Menyusun kriteria kedalam matrik berpasangan 𝑎𝑖𝑗 = 𝑤𝑖
𝑤𝑗 , 𝑖 , 𝑗 = 1,2, … . . , 𝑛 (1) Keterangan : n merupakan jumlah kriteria yang akan dibandingkan, 𝑤𝑖 merupakan bobot untuk kriteria ke i, 𝑎𝑖𝑗merupakan bobot perbandingan kriteria ke i dan j.
3. Menjumlah nilai pada setiap kolom ke i yaitu:
𝑎𝑖𝑗 = ∑𝑖 𝑎𝑖𝑗 (2)
4. Menormalisasikan tiap kolom dengan melakukan pembagian pada nilai tiap kolom ke i baris ke j dengan jumlah nilai setiap kolom i baris j.
𝑎𝑖𝑗 = ∑ 𝑎𝑎𝑖𝑗
𝑖𝑗 (3)
5. Penentuan nilai bobot prioritas pada tiap krteria ke i, dengan pembagian disetiap nilai a dengan jumlah krteria yang akan dilakukan perbadingan (n), yaitu:
𝑊𝑖𝑗 = 𝑎𝑖
𝑛 (4)
6. perhitungan eigen value memakai persamaan rumus:
𝜆 max =∑ 𝑎
𝑛 (5)
7. perhitungan nilai konsistensi Index dan Rasio
merupakan perhitungan nilai yang menyimpang. pada penyimpangan ini dapat diartikan indeks Konsistensi mengguakan persamaan:
CI = 𝜆 𝑚𝑎𝑥−𝑛
𝑛−1 (6)
Dimana : CI = consistency index 𝜆 𝑚𝑎𝑥 = eigen value maksimum n = ukuran matriks
Apabila C I memiliki nilai enol, berarti matriks trersebut konsisten, batas ketidakkonsistensian yang telah ditetapkan Saaty diukur menggunakan Rasio Konsisstensi (CR), yaitu perbandingan indeks konsistensi dengan nilai random indeks (RI). Nilai ini bergantung pada ordo matriks n.
Sehingga, Rasio Konsistensi (CR) menggunkan rumus berikut : CR = 𝐶𝐼
𝑅𝐼 (7)
Sebuah matrik perbandingan dapat diterima jika nilai rasio konsistensi (CR) lebih kecil samadengan 0,1.
2.3.3 Vlse Kriterijumska Optimizacija I Komprominso Resenje (VIKOR) Vlse Kriterijumska Optimizacija I Komprominso Resenje merupakan metode pengambilan keputusan dengan multi atribut decision making yang dikembangkan oleh Seraphim opricovic untuk memecahkan masalah kriteria yang bertentangan dengan unit yang berbeda. Dengan asusmsi bahwa kompromi dapat diterima sebagai resolusi dari konflik yang ada. Metode ini menginginkan solusi yang mendekati ideal dari setiap alternatif yang dievaluasi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Metode VIKOR sangat berguna pada situasi dimana pengambil keputusan tidak memiliki kemampuan untuk membuat pilihan pada saat sebuah sistem dimulai. Maksud dari kriteria yang bertentangan adalah mengavaluasi kriteria dengan kriteria lain dengan mempertimbangkan konsekuensi atas keputusan yang kita buat jika lebih mengutamakan kriteria tersebut. Contohnya Dalam manajemen portofolio, untuk mendapatkan pengembalian tinggi sekaligus mengurangi risiko; Namun, saham yang berpotensi membawa pengembalian tinggi biasanya membawa risiko tinggi kehilangan uang.
Dalam industri jasa, kepuasan pelanggan dan biaya penyediaan layanan merupakan kriteria yang saling bertentangan (Diana, 2018).
2.3.3.1 Langkah-Langkah Metode VIKOR
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menyelesaikan metode Vlse Kriterijumska Optimizacija I Komprominso Resenje adalah sebagai berikut (Datta et al., 2010) :
1. Melakukan normalisasi dengan rumus 𝑹𝒊𝒋=(𝒇𝒋
∗−𝒇𝒊𝒋)
(𝒇𝒋∗−𝒇𝒋−) (8)
Dimana
𝑅𝑖𝑗 = nilai normalisasi sampel i kriteria j 𝑓𝑖𝑗 = nilai data sampel i kriteria j
𝑓𝑗∗ = nilai terbaik dalam suatu kriteria 𝑓𝑗− = nilai terjelek dalam suatu kriteria
2. Menghitung nilai S dan R dengan rumus berikut :
Si = ∑ 𝑤𝑗(𝒇𝒋
∗−𝒇𝒊𝒋) (𝒇𝒋∗−𝒇𝒋−)
𝑛𝑗=1 (9)
Dan
𝑹𝒊 = max j[𝑤𝑗(𝒇𝒋
∗−𝒇𝒊𝒋)
(𝒇𝒋∗−𝒇𝒋−)] (10)
Dimana 𝑾𝒋 adalah bobot dari tiap kriteria j 3. Menentukan nilai indeks
𝑄𝑖 = [− 𝑆𝑖−𝑆∗
𝑆−− 𝑆∗]V + [− 𝑅𝑖−𝑅∗
𝑅−− 𝑅∗](1-v) (11)
Dimana : S∗ = min Si S− = max Si dan R∗ = min Ri R− = max Ri dan V = 0,5
4. Hasil perangkingan merupakan hasil pengurutan dari S, R dan Q.
5. Solusi alternatif peringkat terbaik berdasarkan nilai Q minimum menjadi peringkat terbaik dengan syarat :
Q𝐴(2) - Q𝐴(1) ≥ DQ (12)
𝐴(2) = alternatif dengan urutan kedua pada perangkingan Q dan
𝐴(1) = alternatif dengan urutan terbaik pada perangkingan Q sedangkan
DQ = 1 – (m-1), dimana m merupakan jumlah alternatif. Alternatif 𝐴(1) harus berada pada rangking terbaik pada S dan/atau R.