• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI YAKOB ANDRIO SIANIPAR / BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI YAKOB ANDRIO SIANIPAR / BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

NUSANTARA IV PERSERO

SKRIPSI

YAKOB ANDRIO SIANIPAR / 120301184 BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2019

(2)

NUSANTARA IV PERSERO

SKRIPSI

YAKOB ANDRIO SIANIPAR / 120301184 BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2019

(3)
(4)

ABSTRACT

YAKOB ANDRIO SIANIPAR: The influence of rainfall and rainy days on palm oil production in the young phase, the medium phase, and the old phase in the III division of Gunung Bayu Kebun PT. Perkebunan Nusantara IV Persero,guided by Dr.Ir. Charloq, M.P. and Ir. Irsal, M.P. The purpose of this study to find out the influence of rainfall and rainy days on palm oil production in the young phase, the medium phase, and the old phase in the III division of Gunung Bayu Kebun PT.Perkebunan Nusantara IV Persero of Simalungun Regency, province of North Sumatera in March to April 2019. The research uses the secondary data available in the administration of the garden. Secondary data for analysis purposes include data on Fresh Fruit Bunch (FFB) production in year 2016-2018; Rainfall data and monthly rainy days data in 2015-2017. The methods of analysis used are analysis of multiple linear regression and correlation analysis. The Model tested its agility with the classic assumption test includes test normality, heteroskedastisity test, multicolinearity test, and autocorrelation test by using the SPSS. V. 22 for Windows statistical .

The results of a regression analysis show that variable rainfall and rainy days are not noticeable at Alpha 5% (Sig > α 0.05) against oil palm production in the young phase, Medium phase and Old phase. This is due to uneven rainfall throughout the year and is suspected to be less than optimal for the growth and production of FFB. From the classic assumption test result done to find out whether multiple regression equations are viable or not to use concluded that the equation of regression in the young phase, Medium phase and Old phase is qualified. The resulting correlation of rainfall and rainy days in the young phase plant indicates weak correlation with the values of 0.318 and 0.361, in the Medium phase, indicating a relatively weak correlation with values of 0.574 and 0.496 and in the old phase indicates weak correlation With grades 0.276 and 0.289.

Keywords: rainfall, rainy days, FFB production

(5)

ABSTRAK

YAKOB ANDRIO SIANIPAR : Pengaruh Curah Hujan dan Hari Hujan Terhadap Produksi Kelapa Sawit Pada Fase TM Muda , TM Sedang, dan TM Tua di Afdelling III Kebun Gunung Bayu PT. Perkebunan Nusantara IV Persero. yang dibimbing oleh Dr.Ir. Charloq, M.P.dan DR.Ir. Charloq, M.P. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Curah Hujan dan Hari Hujan Terhadap Produktisi Kelapa Sawit Pada Fase TM Muda , TM Sedang, dan TM Tua di Afdelling III Kebun Gunung Bayu PT.Perkebunan Nusantara IV Persero Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara pada bulan Maret sampai dengan April 2019. Penelitian ini menggunakan data skunder yang tersedia di administrasi kebun. Data skunder untuk keperluan analisis meliputi data produksi tandan buah segar (TBS) pada Tahun 2016-2018; data curah hujan dan data hari hujan bulanan pada tahun 2015-2017. Metode analisis yang digunakan ialah analisis regresi linear berganda dan analisis korelasi. Model diuji kelayakannya dengan uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas, serta uji autokorelasi dengan menggunakan alat bantu statistik SPSS.v.22 for windows.

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel curah hujan dan hari hujan berpengaruh tidak nyata pada alpha 5% (Sig > α 0.05) terhadap produksi Kelapa sawit pada fase tm muda,tm sedang dan tm tua. Hal ini dikarenakan curah hujan yang tidak merata sepanjang tahun dan diduga kurang optimal untuk pertumbuhan dan produksi TBS. Dari hasil uji asumsi klasik yang dilakukan untuk mengetahui apakah persamaan regresi berganda layak atau tidak untuk digunakan disimpulkan bahwa persamaan regresi pada fase tm muda,tm sedang dan tm tua telah memenuhi syarat. Hasil korelasi curah hujan dan hari hujan pada tanaman fase tm muda menunjukan korelasi yang lemah dengan nilai 0,318 dan 0,361, pada fase tm sedang menunjukan korelasi yang agak lemah dengan nilai 0,574 dan 0,496 dan pada fase tm tua menunjukan korelasi yang lemah dengan nilai 0,276 dan 0,289.

Kata kunci : curah hujan, hari hujan, produksi TBS

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukamulia pada tanggal 20 April 1995 dari Ayah Bontor Sianipar dan ibu Eka Yanti Panggabean. Penulis merupakan anak ke empat dari empat bersaudara. Tahun 2012 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Bandar Perdagangan dan pada tahun 2012 masuk ke Fakultas Pertanian USU melalui jalur ujian masuk bersama (UMB) mandiri, penulis memilih minat Budidaya Pertanian Dan Perkebunan Program Studi Agroteknologi.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis ikut dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGROTEK).

Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan di PT. RAPALA Langkat

pada bulan Juli - Agustus 2015.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya Penulis dapat menyelesaikan penelitian ini pada waktunya.

Adapun Judul dari Skripsi ini adalah ”Pengaruh Curah Hujan dan Hari Hujan Terhadap Produksi Kelapa Sawit Pada Fase TM Muda,TM Sedang dan TM Tua di Afdelling III Kebun Gunung Bayu PT. Perkebunan Nusantara IV Persero” yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan Terima Kasih kepada Ibu Dr. Ir. Charloq, MP.

selaku ketua komisi Pembimbing dan Bapak Ir.Irsal, MP. selaku anggota komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan masukan selama penulisan penelitian ini. Penulis mengucapkan terimakasih kepada kedua orangtua yang telah memberikan dukungan financial dan spiritual. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada seluruh staf pengajar, pegawai serta kerabat di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang telah berkontribusi dalam kelancaran studi dan penyelasaian penelitian ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, Juli 2019

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Hipotesa Penelitian ... 3

Kegunaan Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman ... 4

Syarat Tumbuh ... 6

Iklim ... 6

Tanah ... 8

Curah Hujan dan Hari Hujan ... 9

Umur Tanaman ... 11

Hubungan Curah Hujan, Hari Hujan dan Umur Tanaman Terhadap Produksi KelapaSawit ... 12

Gambaran Umum PT. Perkebunan Nusantara IV Persero Kebun Gunung Bayu ... 14

Letakdan Batas Geografis ... 15

Keadaan Tanah ... 16

Luas Kebun ... 16

METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan waktu penelitian ... 17

Metode penelitian ... 17

Peubah amatan ... 18

Produksi Tandan Buah Segar (ton) ... 18

Curah hujan (mm) ... 18

Hari hujan (hari) ... 19

PELAKSANAAN PENELITIAN Studi Keputusan ... 20

Pengumpulan Data ... 20

Pengolahan dan Analisis Data ... 20

Uji normalitas ... 22

(9)

Uji heteroskedastisitas ... 22

Uji multikolinearitas ... 23

Uji autokorelasi ... 23

Pengujian hipotesis ... 23

Penarikan Kesimpulan ... 24

HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Kelapa Sawit (kg/bulan) ... 24

Curah hujan dan hari hujan ... 28

Hubungan curah hujan dan hari hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman kelapa sawit fase TM Muda ... 32

Analisis data ... 33

Uji Asumsi klasik ... 34

Analisis korelasi ... 37

Analisis regresi linear berganda ... 38

Pengaruh curah hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman kelapa sawit fase TM Muda ... 41

Pengaruh hari hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman kelapa sawit fase TM Muda ... 42

Pengaruh curah hujan dan hari hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman kelapa sawit fase Tm Muda ... 43

Hubungan curah hujan dan hari hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman kelapa sawit fase TM Sedang ... 44

Analisis data ... 45

Uji Asumsi klasik ... 46

Analisis korelasi ... 49

Analisis regresi linear berganda ... 50

Pengaruh curah hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman kelapa sawit fase TM Sedang ... 52

Pengaruh hari hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman kelapa sawit fase TM Sedang ... 54

Pengaruh curah hujan dan hari hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman kelapa sawit fase TM Sedang ... 55

Hubungan curah hujan dan hari hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman kelapa sawit fase TM Tua ... 55

Analisis data ... 57

Uji Asumsi klasik ... 57

Analisis korelasi ... 60

Analisis regresi linear berganda ... 62

Pengaruh curah hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman

kelapa sawit fase TM Tua ... 64

(10)

Pengaruh hari hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman kelapa sawit fase TM Tua ... 65 Pengaruh curah hujan dan hari hujan terhadap produksi kelapa sawit pada tanaman kelapa sawit fase TM Tua ... 66 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ... 68 Saran ... 68 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(11)

1

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jack.) merupakan salah satu komoditas yang penting di Indonesia dan memiliki prospek pengembangan yang cukup cerah. Indonesia merupakan produsen minyak sawit urutan kedua di dunia setelah Malaysia yang menguasai sekitar 85% pangsa pasar dunia. Pada saat ini, tanaman kelapa sawit merupakan komoditi perkebunan andalan negara Indonesia karena dapat menghasilkan devisa negara yang cukup besar yang memiliki peluang bisnis yang besar dan dapat menciptakan kesempatan kerja yang mengarah pada kesejahteraan masyarakat (Fauzi et al., 2002).

Faktor yang mempengaruhi produktivitas tanaman kelapa sawit, yaitu iklim, bentuk wilayah, kondisi tanah, bahan tanam, dan teknik budidaya (Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2006). Selanjutnya Risza (2009) menambahkan bahwa umur tanaman, jumlah populasi tanaman per hektar, sistem pengawetan tanah, sistem penyerbukan, sistem koordinasi panen-angkut-olah, sistem pengamanan produksi, serta sistem premi panen juga berpengaruh terhadap produktivitas kelapa sawit.

Produktivitas tanaman kelapa sawit juga bergantung pada komposisi umur

tanaman. Semakin luas komposisi umur tanaman remaja dan tanaman tua,

semakin rendah produktivitas per hektarnya. Komposisi umur tanaman ini

berubah setiap tahunnya sehingga berpengaruh terhadap pencapaian produktivitas

per hektar per tahunnya. (Risza, 2009).

(12)

Kondisi iklim sangat memegang peranan penting karena mempengaruhi potensi produksi. Hujan berpengaruh besar terhadap produksi kelapa sawit.

Pertumbuhan kelapa sawit memerlukan curah hujan > 1250 mm/tahun dengan penyebaran hujan sepanjang tahun merata. Tinggi rendahnya curah hujan dapat

dilakukan sebagai evaluasi produksi untuk tahun-tahun ke depan (Siregar et. al, 2006).

Curah hujan dan hari hujan berpengaruh terhadap produktivitas kelapa sawit pada saat 24 bulan sebelum tanaman berproduksi/panen (Sevitha 2012).

Kondisi curah hujan yang terlalu tinggi berpengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan bunga betina menjadi buah yang gagal terbentuk. Sebaliknya curah hujan yang rendah berdampak pada suplai air yang kurang dalam jangka waktu yang lama (Pangaribuan, 2001).

Satu hari hujan adalah periode 24 jam terkumpulnya curah hujan setinggi

500 mm atau lebih dan curah hujan dengan tinggi kurang dari ketentuan tersebut,

hari hujan dianggap nol tetapi curah hujan tetap diperhitungkan. Frekuensi hari

hujan yang rendah akan menyebabkan terjadinya defisit air. Defisit air sangat

berpengaruh dalam produksi tandan buah segar kelapa sawit karena berpengaruh

terhadap pembungaan (Pangaribuan, 2001).

(13)

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh curah hujan dan hari hujan terhadap produksi kelapa sawit pada fase TM Muda, fase TM Sedang dan Fase TM Tua di Afdelling III Kebun Gunung Bayu PT Perkebunan Nusantara IV Persero.

Hipotesis Penelitian

Ada pengaruh nyata curah hujan dan hari hujan terhadap produksi kelapa sawit pada fase TM Muda, TM Sedang dan TM Tua di Afdelling III kebun Gunung Bayu PT Perkebunan Nusantara IV Persero.

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini berguna untuk penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

dan sebagai informasi bagi pihak yang membutuhkan.

(14)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Berdasarkan klasifikasi taksonomi, adapun taksonomi dari tanaman kelapa sawit yakni termasuk divisi Tracheophyta dengan subdivisi Pteropsida. Kelapa sawit tergolong kelas Angiospermae dengan subkelas Monocotyledoneae.

Tanaman kelapa sawit memiliki ordo Cocoideae dengan famili Palmae dan subfamili Cocoideae serta memiliki genus Elaeis dengan spesies Elaeis guineensis Jack.

Tanaman kelapa sawit berakar serabut. Perakarannya sangat kuat karena tumbuh ke bawah dan ke samping, membentuk akar primer, sekunder, tertier, dan kuarter. Akar primer tumbuh ke bawah di dalam tanah sampai batas permukaan air tanah. Akar sekunder, tertier, dan kuarter tumbuh sejajar dengan permukaan air tanah bahkan akar tertier dan kuarter menuju ke lapisan atas atau ke tempat yang banyak mengandung zat hara. (Fauzi et al, 2002).

Titik tumbuh batang kelapa sawit terletak di pucuk batang, terbenam di dalam tajuk daun, berbentuk seperti kubis, dan enak dimakan. Di batangnya terdapat pangkal pelepah-pelepah daun yang melekat kukuh dan sukar terlepas walaupun daun telah kering dan mati. Pada tanaman tua, pangkal-pangkal pelepah yang masih tertinggal di batang akan terkelupas, sehingga batang kelapa sawit tampak berwarna hitam beruas (Sunarko, 2007).

Pelepah daun kelapa sawit berpenampang melintang menyerupai bentuk

segi tiga, dengan luas penampang 100-112 cm2, dengan ketebalan dinding

(lapisan epidermis: sklereid dan silica) dapat mencapai hingga 4-6 mm. Parenkim

(15)

pelepah daun memiliki dimensi serat sebagai berikut : panjang 70-150 cm, diameter serat 0,08- 0,8 mm (Intara dan Dyah, 2012)

Daun kelapa sawit mirip kelapa yaitu membentuk susunan daun majemuk, bersirip genap, dan bertulang sejajar. Jumlah anak daun di setiap pelepah berkisar antara 250-400 helai. Daun muda yang masih kuncup berwarna kuning pucat.

Pada tanah yang subur, daun cepat membuka sehingga semakin efektif dalam melakukan fungsinya sebagai tempat berlangsugnya fotosintesis dan sebagai alat respirasi (Fauzi et al, 2002).

Bunga tanaman kelapa sawit terdiri atas bunga jantan, bunga betina atau hermafrodit. Tiap tandan bunga jantan memiliki 100-250 cabang yang panjangnya antara 10-20 cm dan berdiameter 1-1,5 cm. Tiap cabang berisi 500-1.500 bunga kecil yang akan menghasilkan tepung sari. Tandan bunga betina memiliki 100- 200 cabang dan setiap cabang terdapat 15-20 bunga betina. Satu tandan buah tanaman dewasa dapat diperoleh 600-2.000 butir buah, tergantung besarnya tandan. Letak bunga betina dan bunga jantan pada satu pohon terpisah dan matangnya tidak bersamaan, sehingga tanaman kelapa sawit biasanya menyerbuk silang. (Setyamidjaja, 2006).

Buah kelapa sawit secara umum terbagi dalam tiga bagian utama, yaitu

epikarp atau kulit buah, mesokarp atau daging buah, dan endokarp yang terdiri

dari tempurung dan inti buah atau kernel. Epikarp merupakan bagian terluar buah

kelapa sawit. Epikarp biasanya mempunyai warna tertentu sesuai varietas dan

umur buah. Dari warna epikarp inilah seseorang bisa menentukan tingkat

kemasakan buah. Mesokarp merupakan bagian utama buah kelapa sawit karena

(16)

dari bagian inilah minyak kelapa sawit mentah (CPO) akan diperoleh melalui proses ekstraksi atau penggilingan. Tempurung merupakan bagian buah kelapa sawit yang melindungi inti. Kernel merupakan bagian penting kedua setelah mesokarp karena dari iti inilah akan dihasilkan KPO sebagai produk unggulan kedua setelah CPO (Hadi, 2004).

Biji pada kelapa sawit adalah bagian dari buah dan bisa diperoleh dengan membuang daging buah. Biji terdiri cangkang (endocarp), inti (endosperm), dan lembaga (embrio). Embrio kelapa sawit panjangnya 3 mm, berdiameter 1,2 mm, berbentuk silindris dengan 2 bagian utama. Bagian yang tumpul permukaannya berwarna kuning dan bagian lain yang berwarna putih bentuknya agak tajam.

Bakal biji terdiri 3 ruang tetapi setelah penyerbukan dan menjadi buah, ruang yang berkembang hanya sat, kadang-kadang dijumpai dua ruang. Jika endosperm mendapat air yang mengembang dan kemudian lembaganya akan berkecambah (Soehardjo, 1999).

Syarat Tumbuh

Iklim

Iklim merupakan salah satu faktor pembatas pertumbuhan dan produksi

tanaman yang dibudidayakan. Iklim merupakan faktor yang sulit, bahkan tidak

dapat dikendalikan. Budidaya tanaman apapun pada areal terbuka sangat

dipengaruhi iklim, demikian juga tanaman kelapa sawit. Kelapa sawit mudah

mengalami stres akibat kekurangan air. Hal ini mengakibatkan menurunnya

produksi dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, sebelum

membudidayakan suatu tanaman, khususnya kelapa sawit, keadaan iklim setempat

(17)

mutlak dipertimbangkan. Faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kelapa sawit meliputi curah hujan, radiasi sinar matahari, suhu, dan kelembaban udara (Hadi, 2004).

Untuk pertumbuhannya, kelapa sawit memerlukan rata-rata curah hujan tahunan berkisar 2.000mm/thn tanpa bulan kering. Cekaman air tanah (kekeringan) akan menunjukkan penurunan produksi yang tajam karena meningkatnya jumlah tandan buah jantan (Pahan, 2006).

Kisaran rata-rata suhu udara tahunan yang optimum untuk kelapa sawit 25 o C - 28 o C, tetapi masih dapat berproduksi pada rata-rata suhu udara tahunan antara 24 o C - 38 o C. Kombinasi antara curah hujan dan suhu udara sangat berperan dalam mekanisme membuka dan menutupnya stomata daun yang berujung pada proses fotosintesis (Risza, 2008).

Jika tanah kekurangan air (kekeringan) maka akar tanaman akan sulit menyerap mineral dalam tanah sebab dengan adanya air, unsur-unsur hara dapat larut dan tersedia bagi tanaman. Musim kemarau panjang dapat mengancam terjadinya penurunan produksi, karena water defisit 400 mm mulai berpengaruh terhadap produksi. Curah hujan yang berlebihan juga berakibat kurang baik karena dapat menyebabkan erosi tanah lapisan atas dan keadaan drinase terutama daerah yang topografinya jelek (Risza, 1994).

Suhu optimal rata-rata yang diperlukan oleh kelapa sawit adalah 27 o C -

32 o C. Tinggi rendahnya suhu berkaitan erat dengan ketinggian lahan dari

permukaan air laut. Oleh karena itu, ketinggian lahan yang baik untuk perkebunan

(18)

kelapa sawit adalah 0-400 mdpl,karena pada ketinggian tersebut temperatur udara diperkirakan 27 o C - 32 o C (Hadi, 2004).

Tanah

Meskipun kelapa sawit tidak berbeda jauh dengan tumbuhan dari familia palmae lain misalnya pinang, palem, kelapa, aren, dan lain laindapat tumbuh di hampir semua jenis tanah, namun karena diinginkan produksi yang optimal dalam jangka waktu yang lama, maka jenis tanah untuk budidaya kelapa sawit harus memenuhi standart atau persyaratan yang dapat menunjang pertumbuhan dan produksi yang optimal, yaitu tanah yang subur (Hadi, 2004).

Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah podzolik, latosol, hidromorfik kelabu, alluvial atau regosol, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai. Tingkat kemasaman (pH) yang optimum untuk sawit adalah 5.0–5.5.

Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase (beririgasi) baik dan memiliki lapisan solum cukup dalam tanpa lapisan padas (BPTP 2008).

Sifat fisik tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit ialah

memiliki solum yang dalam lebih dari 80 cm, karena baik untuk perkembangan

akar sehingga efisiensi penyerapan hara tanaman akan lebih baik. Tekstur tanah

yang paling ideal untuk kelapa sawit adalah lempung atau lempung berpasir

dengan komposisi 20-60% pasir, 10-40% lempung dan 20-50% liat. Struktur

tanah yang paling ideal untuk kelapa sawit adalah perkembangannya kuat,

konsistensi gembur sampai agak teguh dan permeabilitas sedang., ketebalan

gambut yang baik adalah 0-0,6 m dan tidak dijumpai laterite (Soehardjo, 1999).

(19)

Topografi, drainase lahan, dan kesuburan tanah merupakan faktor lahan yang cukup penting dalam mempengaruhi pertumbuhan dan produksi sawit.Faktor topografi berkaitan dengan derajad kemiringan lereng dan panjang lereng yang berpengaruh nyata terhadap erosi tanah, biaya infrastruktur serta biaya mobilisasi dan panen. Makin curam dan atau makin panjang lereng, bahaya erosi makin meningkat. Pada lahan yang curam, populasi tanaman per hektar lebih sedikit (Syakir 2010).

Curah Hujan dan Hari Hujan

Curah hujan adalah air hujan yang jatuh di permukaan tanah selama jangka waktu tertentu, diukur dalam satuan tinggi kolom di atas permukaan horizontal, apabila tidak terjadi penghilangan-penghilangan oleh proses penguapan, pengaliran dan peresapan ke dalam tanah. Curah hujan dinyatakan dalam tinggi air (mm) diukur dengan penakar hujan dengan luas moncong 100 cm2. Satu hari hujan adalah periode 24 jam terkumpulnya curah hujan setinggi 0.5 mm atau lebih dan curah hujan dengan tinggi kurang dari ketentuan tersebut, hari hujan dianggap nol tetapi curah hujan tetap diperhitungkan (Siregar et al, 2006).

Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa

sawit adalah di atas 2000 mm/thn dan merata sepanjang tahun. Hujan yang tidak

turun selama 3 bulan menyebabkan pertumbuhan kuncup daun terhambat sampai

hujan turun (anak daun atau janur tidak dapat memecah). Hujan yang lama tidak

turun juga banyak berpengaruh terhadap produksi buah, karena buah yang sudah

cukup umur tidak mau masak (brondol) sampai turun hujan (Sastrosayono, 2003).

(20)

Curah hujan ekstrim yang terlalu tinggi (> 3000 mm/thn, > 450 mm/bln, ataupun > 150 mm/10 hari) akan cukup memenuhi kebutuhan air tanaman kelapa sawit, bahkan berlebih sehingga dapat berimplikasi positif bagi tanaman. Namun kelebihan air dapat mengakibatkan pencucian hara, penggenangan, dan pengganggu kegiatan pengelolaan kebun lainnya. Selain mengakibatkan pencucian hara yang ada, tidak terdapat jadwal kegiatan pemupukan maka harus ditunda karena curah hujan ekstrim yang terlalu tinggi. Curah hujan ekstrim tinggi juga dapat mengganggu pemeliharaan tanaman dan panen, serta penggenangan air juga mengakibatkan kerentanan kerusakan jalan dan mengganggu kegiatan panen, sehingga dapat menurunkan produksi kebun (Margono, 2011).

Produksi tanaman kelapa sawit dan curah hujan sangat erat hubungannya.

Peningkatan curah hujan menaikkan produksi karena buah merah semakin cepat memberondol dan mendorong pembentukan bunga selanjutnya. Penyebaran curah hujan yang merata setiap tahun menyebabkan produksi buah juga memiliki kecenderungan merata. Produksi yang merata tersebut perlu dipertahankan perusahaan agar tidak terjadi puncak produksi yang besar sehingga ada kehilangan akibat TBS tidak terangkut (restan) yang terjadi. Curah hujan yang tinggi dapat menghambat penyerbukan bunga oleh serangga dan buah busuk di pohon. Curah hujan yang rendah menghambat terjadinya pemasakan buah dan rendemen minyak yang rendah. Curah hujan yang terjadi di lahan hanya bisa disiasati dengan teknis agronomis yang benar, khususnya dengan memperhatikan keadaan pengelolaan air di lahan (Rajagukguk, 2010).

Produksi tanaman kelapa sawit dipengaruhi oleh besarnya curah hujan

yang terjadi. Besarnya curah hujan yang terjadi pada saat ini akan mempengaruhi

(21)

besarnya produksi tanaman kelapa sawit pada beberapa waktu ke depan karena berhubungan dengan proses pembungaan dan pematangan buah pada tanaman kelapa sawit. Faktor curah hujan terhadap produksi TBS berpengaruh dalam hal penyerapan unsur hara oleh akar, membantu perkembangan bunga betina, membantu kemasakan buah menjadi lebih sempurna dan berpengaruh terhadap berat janjang (Manalu, 2008).

Umur Tanaman

Umur tanaman berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Tinggi rendahnya produktivitas TBS per hektar suatu kebun kelapa sawit tergantung dari komposisi umur tanaman yang ada dikebun tersebut. Semakin luas komposisi umur tanaman remaja dan renta, semakin rendah pula produktivitas per hektarnya. Semakin banyak tanaman dewasa semakin tinggi pula produktivitas per hektarnya (Risza, 1994).

Umur tanaman berpengaruh pada pertumbuhan vegetatif dan generatif

tanaman kelapa sawit. Peran umur tanaman jika ditinjau dari pertumbuhan

vegetatif tanaman kelapa sawit yaitu berpengaruh dalam pembentukan pelepah

yakni jumlah pelepah, panjang pelepah, dan jumlah anak daun. Tanaman yang

berumur tua jumlah pelepah dan anak daun yang dihasilkan lebih banyak. Pelepah

yang terbentuk juga lebih panjang dibandingkan dengan tanaman yang masih

muda. Ini berkolerasi positif terhadap ketersediaan makanan bagi tanaman karena

pelepah berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses fotosintesis. Peran umur

tanaman jika ditinjau dari pertumbuhan generatif yakni berpengaruh terhadap

organ reproduksi tanaman yaitu dalam proses pembentukan dan perkembangan

(22)

buah. Kelapa sawit yang memiliki komposisi umur tanam muda akan memiliki jumlah janjang yang lebih banyak tetapi berat janjang yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang memiliki komposisi umur tanaman yang lebih tua (Prihutami, 2011).

Tanaman kelapa sawit dengan umur produktif atau umur ekonomis (< 25 tahun) mencapai produksi optimum dengan jumlah TBS yang dihasikan banyak dan berat janjang yang dihasilkan juga cukup tinggi sehingga berpengaruh kepada pencapaian produksi TBS per hektarnya yang tinggi pula. Tanaman yang melebihi dari umur ekonomisnya mengharuskan untuk segera dilakukan peremajaan, yaitu dengan mengganti tanaman kelapa sawit yang sudah tua dengan tanaman yang baru agar kestabilan produksi TBS suatu kebun tetap terjaga (Prihutami, 2011).

Umur tanaman mempengaruhi kualitas rendemen TBS, yang pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap harga TBS. Kualitas rendemen TBS dikatakan tinggi ketika tanaman berumur pada selang waktu 7 hingga 22 tahun, sehingga perkiraan harga TBS lebih tinggi. Tetapi kualitas rendemen TBS masih rendah pada selang umur tanaman 3 sampai 6 tahun dan 23 sampai 25 tahun, sehingga perkiraan harga TBS lebih rendah (Drajat,2004)

Hubungan Curah Hujan, Hari Hujan dan Umur Tanaman Terhadap Produksi Tanaman Kelapa Sawit

Hubungan curah hujan, hari hujan dan produksi ini hanya berlangsung

pada saat tanaman kelapa sawit mengalami proses penyerbukan. Apabila pada saat

tanaman kelapa sawit mengalami proses penyerbukan, jumlah hari hujan yang

tinggi dapat mempengaruhi penyerbukan pada tahun ke depannya karena bunga

(23)

pada penyerbukan tersebut tidak menjadi buah yang menyebabkan bakal buah gugur (Purba, 2006).

Berdasarkan penelitian Yunita (2010) yang menyatakan bahwa penurunan produktivitas tanaman kelapa sawit kebun Sei Lala PT Tunggal Perkasa Plantations Indragiri Hulu Riau, dipengaruhi oleh curah hujan. Produktivitas tanaman kelapa sawit terbesar diperoleh saat curah hujan terbesar pula (curah hujan > 100 mm/bulan). Akan tetapi pada curah hujan 60–100 mm/bulan produktivitas tanaman kelapa sawit yang dihasilkan lebih kecil daripada produktivitas tanaman pada curah hujan < 60 mm/bulan.

Menurut penelitian Dalimunte (2003) di PT Perkebunan Nusantara III Kebun Rambutan Deli Serdang, Sumatra Utara yang menyatakan bahwa terdapat korelasi antara curah hujan, hari hujan, dan produksi tanaman kelapa sawit. Curah hujan kurang dari 1.050 mm/tahun dapat menurunkan produksi tanaman karena rusaknya pembungaan dan normal kembali selama 2-3 tahun kedepan. Curah hujan yang lebih dari 2.500 mm/tahun juga dapat menurunkan produktivitas tanaman kelapa sawit karena gagalnya pematangan tandan buah dan terhambatnya pelaksanaan panen.

Berdasarkan penelitian Prihutami (2011) di Sungai Bahaur Estate

Kalimantan Tengah, yang menyatakan bahwa umur tanaman memiliki peranan

yang sangat penting terhadap produksi TBS kelapa sawit. Hasil analisis

menunjukkan umur tanaman 7-11 tahun memberikan pengaruh terbaik terhadap

produksi TBS. Tanaman kelapa sawit pada umur 7-11 tahun dapat mencapai

produksi optimum dengan jumlah TBS yang dihasikan banyak dan berat janjang

(24)

yang dihasilkan juga cukup tinggi sehingga berpengaruh kepada pencapaian produksi TBS per hektarnya yang tinggi pula.

Berdasarkan penelitian Yunita (2010) yang menyatakan bahwa umur tanaman berpengaruh terhadap produktivitas tanaman kelapa sawit. Penurunan produktivitas tanaman kelapa sawit di kebun Sei Lala PT Tunggal Perkasa Plantations Indragiri Hulu Riau, salah satunya disebabkan oleh umur tanaman kelapa sawit yang masih muda karena adanya program peremajaan tanaman kelapa sawit. Tidak terdapat perbedaan nyata antara produkrivitas tanaman kelapa sawit yang berumur 12-25 tahun dan tanaman kelapa sawit yang berumur diatas 25 tahun.

Gambaran Umum PT. Perkebunan Nusantara IV Persero Kebun Gunung Bayu Sejarah Singkat Perusahaan

PT Perkebunan Nusantara IV unit usaha Gunung Bayu adalah salah satu unit usaha dari PT Perkebunan Nusantara IV berada di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara dan berkantor pusat di Jl. Letjend. Suprapto, Medan. Bergerak di bidang Usaha Perkebunan Kelapa Sawit.

Awal keberadaan Kebun Gunung Bayu adalah milik Swasta asing dengan nama NV.R.C.M.A (Rubber Cultuur Maatschapplj Amsterdam) dari negeri Belanda dengan usaha budi daya karet dan kelapa sawit yang di buka pada Tahun 1917 oleh Van Leuwen Boomkamp.

Pada tanggal 10 Pebruari 1924 dibangun Pabrik Kelapa Sawit yang

bertujuan untuk mengolah buah kelapa sawit. Dan tahun 1947/1948 areal kebun

Gunung Bayu yang ditanami karet diganti dengan tanaman kelapa sawit,dengan

demikian sejak tahun 1949 keseluruhan areal kebun Gunung Bayu telah ditanami

satu jenis tanaman yaitu kelapa sawit.

(25)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.24/1958 dan UUD No.86/1958 tentang nasioanalisasi dan perubahan yang diatur pada Peraturan Pemerintah No.19 dalam lembaran Negara No.31 Tahun 1959.N.V.R.C.M.A diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia dan pada tahun 1960 beralih status menjadi PPN baru cabang sumut. Tahun 1961 berubah menjadi PPN.Sumut VI, Tahun 1963 menjadi PPN Aneka Tanaman IV,Tahun 1968 menjadi PNP-VII dan Pada Tahun 1975 dilikuidasi menjadi PTP-VII.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1996 pada tanggal 11 Maret 1996 PTP-VII dialihkan menjadi PT Perkebunan Nusantara IV yang merupakan penggabungan dari PTP-VI,PTP-VII,PTP-VIII. Pada mulanya Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit Gunung Bayu adalah merupakan satu bagian unit kerja, namun berdasarkan SK.Direksi PTP-VII No.07.01/Kpts/ORG/04/V/1993 tanggal 11 Mei 1993 pada kebun Gunung Bayu diadakan Pemekaran secara administrasi efektif dimulai tanggal 21 Juni 1993.

Berdasarkan SK.Direksi PTP.Nusantara IV No.04.13/Kpts/53/VIII/2001 tanggal 31 Agustus 2001 pada Kebun Gunung Bayu diadakan penggabungan kembali antara Kebun Gunung Bayu dan PKS Gunung Bayu menjadi satu, pelaksanaan penggabungan secara administrasi efektif dimulai tanggal 01 Oktober 2001.

Letak Geografis Perusahaan

Lokasi kebun Gunung Bayu berada di kecamatan Bosar Maligas dan

Kecamatan Bandar Kabupaten Simalungun. Jarak dengan kota Medan sebagai

ibukota Provinsi Sumatera Utara berkisar 147 Km, dan dari Kota Pematangsiantar

38 Km.

(26)

Keadaan Tanah

Topografi tanahnya dengan keadaan sedikit bergelombang dan berbukit.

Jenis tanah Podsolik Coklat Kuning dan Podsolik Coklat.

Luas Kebun

Luas areal perkebunan Gunung Bayu memiliki luas HGU

No.21/HGU/BPN/2010 sampai 2011 mencapai 8470.83 Ha yang terdiri dari 9

afdelling, emplasmen, pembibitan, pabrik dan kolam limbah.

(27)

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di PT Perkebunan Nusantara IV Persero Kebun Gunung Bayu, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara pada bulan Maret 2019 sampai dengan selesai

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode dasar yakni metode deskriptif (descriptive analysis) kuantitatif maupun kualitatif. Data dikumpulkan, disusun, dijelaskan, kemudian dianalisis dengan analisis regresi berganda dan korelasi yang diuraikan secara deskriptif. Alat bantu yang digunakan untuk mengolah data tersebut adalah SPSS.v.22 (Statistical Package of Social Science) for windows.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis regresi berganda dan korelasi regresi.

Teknik analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh fungsional antar variabel terikat dan variabel bebas dan analisis korelasi berguna untuk melihat kuat-lemahnya hubungan antara variabel bebas dan terikat serta hubungan antar variabel komponen produksi. Variabel tidak bebas adalah variabel yang keberadaannya dipengaruhi oleh variabel bebas dan dinotasikan dengan Y.

Variabel tidak bebas dalam penelitian ini adalah produksi TBS kelapa sawit,

sedangkan variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi

sebab perubahan variabel tidak bebas dan dinotasikan dengan X. Variabel bebas

pada penelitian ini adalah curah hujan dan hari hujan bulanan. Pengaruh

fungsional variabel curah hujan dan hari hujan bulanan terhadap produksi TBS

yang dianalisis dengan fungsi matematis sebagai berikut:

(28)

Y = a + b 1 X 1 + b 2 X 2 + Ɛ Y : produksi TBS

a : intersep dari garis pada sumbu Y b : koefisien regresi linier

X 1 : curah hujan bulanan X 2 : hari hujan bulanan Ɛ : eror

Peubah Amatan

Peubah amatan yang diamati adalah data Skunder dari perkebunan berupa data dari PT. Perkebunan Nusantara IV Persero Kebun Gunung Bayu terdiri atas:

Produksi Tandan Buah Segar

Data produksi tandan buah segar (kg) yang digunakan berdasarkan data produksi kelapa sawit bulanan selama 3 tahun yakni 2016, 2017 dan 2018 berdasarkan umur tanaman pada fase TM Muda berumur 7, 9 dan 10 tahun, umur tanaman fase TM Sedang berumur 13, 15 dan 16 tahun dan umur tanaman fase TM Tua berumur 17, 18, 19 dan 20 tahun. Data produksi TBS dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linear berganda dan analisis korelasi.

Produksi kelapa sawit banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut tidak berdiri sendiri untuk memberikan pengaruh terhadap produksi yang dihasilkan kebun. Berdasarkan ketersediaan data di kebun, maka data komponen produksi yang digunakan yaitu data komponen jumlah janjang, berat janjang rata- rata (BJR), jumlah pokok produktif. Komponen produksi ini dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi.

Curah Hujan

Data curah hujan (mm) yang digunakan berdasarkan data pengukuran

curah hujan bulanan selama tiga tahun yakni 2015, 2016 dan 2017. Data diperoleh

(29)

dari PT Perkebunan Nusantara IV Persero kebun Gunung Bayu Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara. Pengukuran curah hujan dilakukan setiap pagi hari pada pukul 07.00 WIB dengan menggunakan alat ombrometer. Data hari hujan dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linear berganda dan analisis korelasi.

Hari Hujan

Data hari hujan (hh) yang digunakan diperoleh dengan cara menjumlahkan

hari dimana turunnya hujan setiap bulannya selama tiga tahun yakni 2015, 2016

dan 2017. Data diperoleh dari PT Perkebunan Nusantara IV Persero kebun

Gunung Bayu Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara. Pengukuran hari

hujan bersamaan dengan pengukuran curah hujan. Satu hari hujan adalah 24 jam

terkumpulnya curah hujan setinggi 0.5 mm atau lebih dan curah hujan dengan

tinggi kurang dari ketentuan tersebut, hari hujan dianggap nol tetapi curah hujan

tetap di perhitungkan. Data hari hujan dianalisis dengan menggunakan analisis

regresi linear berganda dan analisis korelasi.

(30)

PELAKSANAAN PENELITIAN Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan dilakukan dengan menelusuri dan menelaah studi pustaka yang berkaitan dengan curah hujan dan hari hujan, umur tanaman serta produksi tandan buah segar (TBS).

Pengumpulan Data

Pengumpulan data sekunder adalah meliputi data sekunder untuk laporan umum dan data sekunder untuk keperluan analisis. Data sekunder ini diperoleh dari studi literatur yang didapat dikantor tentang PTPN IV kebun Gunung Bayu.

Data sekunder untuk analisis disesuaikan dengan kelengkapan data pada administrasi kebun. Data sekunder untuk laporan umum meliputi keadaan umum perusahaan, letak geografis, keadaan tanah dan iklim, luas tata guna kebun, keadaan produksi dan produktivitas tanaman. Data sekunder untuk keperluan analisis ini diambil data produksi tandan buah segar bulanan selama 3 tahun yakni pada tahun 2016, 2017, dan 2018 berdasarkan umur tanaman pada fase TM Muda berumur 7, 9 dan 10 tahun, umur tanaman fase TM Sedang berumur 13, 15 dan 16 tahun dan umur tanaman fase TM Tua berumur 17, 18, 19 dan 20 tahun, meliputi data curah hujan bulanan selama 3 tahun yakni pada tahun 2015,2016 dan 2017 dan data hari hujan bulanan selama 3 tahun yakni pada tahun 2015,2016 dan 2017.

Pengolahan Data dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear

berganda dan analisis korelasi. Regresi linear berganda berguna untuk menghitung

besarnya pengaruh hubungan dua atau lebih variabel bebas terhadap satu variabel

(31)

terikat dan memprediksi variabel terikat dengan menggunakan dua atau lebih variabel bebas. Analisis korelasi berguna untuk melihat kuat–lemahnya hubungan antara variabel bebas dan terikat. Pengolahan data dibantu dengan software SPSS.v.22 for windows.

Analisis data bersifat deskriptif dengan menggunakan bantuan statistik untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Analisis data dilakukan untuk memperoleh hasil pengolahan data. Data yang telah diperoleh tersebut dianalisis dengan menggunakan persamaan regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh curah hujan dan hari hujan bulanan yang mempengaruhi produksi kelapa sawit dan hubungan kedua variabel bebas dan terikat berdasarkan data yang diperoleh dari administrasi kebun.

Berdasarkan hipotesis yang diajukan, untuk menguji hipotesis digunakan Uji–T (parsial), Uji–F (serempak) dan R2. Uji hipotesis menggunakan uji dua arah dengan tingkat signifikan (α) sebesar 5%. Teknik analisis data dengan menggunakan analisis regresi berganda dengan model persamaan berikut ini:

Y = a + b1X1 + b2X2 + E

Model yang digunakan dalam membuat suatu persamaan regresi linier berganda ini, dapat terjadi beberapa keadaan yang dapat menyebabkan estimasi koefisien regresi tidak lagi menjadi penduga koefisien tak bias terbaik, sehingga diperlukan beberapa asumsi mendasar yang perlu diperhatikan dengan melakukan uji asumsi klasik.

Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik berguna untuk menguji apakah model regresi yang

digunakan dalam penelitian ini layak diuji atau tidak. Kelayakan model regresi

(32)

dapat terlihat dari data yang dihasilkan terdistribusi normal, dan tidak terdapat multikolinearitas, heteroskedastisitas, autokorelasi dalam model yang digunakan.

Jika keseluruhan syarat tersebut terpenuhi berarti model analisis telah layak digunakan.

Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel tidak bebas dan variabel bebas memiliki data yang terdistribusi normal atau tidak. Data yang terdistribusi normal menunjukkan bahwa tidak terdapat nilai ekstrim yang nantinya dapat mengganggu hasil data penelitian. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.

Dalam pembahasan ini akan digunakan uji One Sample Kolmogorov–Smirnov dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi dan nilai One Sample Kolmogorov–Smirnov lebih besar dari 5% atau 0,05.

Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya

penyimpangan asumsi klasik heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan

varians dan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain pada model

regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya

gejala heteroskedastisitas atau biasa disebut homoskedastisitas. Metode pengujian

yang yang digunakan ialah uji Glejser. Uji Glejser dilakukan dengan

meregresikan nilai absolute residual terhadap variabel independen lainnya. Jika

nilai ß signifikan maka mengindikasikan terdapat heteroskedastisitas dalam

model.

(33)

Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan linear antar variabel independen dalam model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya multikolinearitas. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai varian inflation factor (VIF) dan nilai Tolerance pada model regresi. Model regresi yang baik ialah tidak terjadi multikolinearitas yang dibuktikan dengan nilai VIF < 5 dan nilai Tolerance > 0.1.

Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dari nilai Durbin Watson (d) dibandingkan dengan nilai Tabel Durbin Watson. Prasyarat yang harus terpenuhi adalah tidak adanya autokorelasi dalam model regresi. Metode uji Durbin–Watson (uji DW) dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Jika d terletak antara 0 dan dL, maka ada autokorelasi positif.

2. Jika d terletak antara dL dan dU atau d terletak antara (4-dU) dan (4-dL), maka tidak dapat disimpulkan.

3. Jika d terletak antara dU dan (4-dU), maka tidak ada autokorelasi.

4. Jika d terletak antara (4-dL) dan 4, maka ada autokorelasi negatif.

Pengujian Hipotesis

Berdasarkan hipotesis yang diajukan, untuk menguji hipotesis digunakan

Uji–T (parsial), Uji–F (serempak) dan R2. Pengujian hipotesis dilakukan dengan

uji dua arah dengan tingkat signifikan (α) sebesar 5% apakah diterima atau

(34)

ditolak. Nilai koefisien determinasi (R2) digunakan untuk melihat besarnya persentase pengaruh variabel bebas terhadap nilai variabel terikat. Nilai R2 semakin mendekati nol memperlihatkan semakin kecil pengaruh semua variabel bebas terhadap nilai variabel terikat sedangkan nilai R2 semakin mendekati satu memperlihatkan semakin besar pula pengaruh semua variabel bebas terhadap nilai variabel terikat. Uji hipotesis secara parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh dari masing–masing variabel independen terhadap variabel dependen.

Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai T–hitung dengan nilai T–

tabel. Uji hipotesis secara serempak digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel independen secara keseluruhan terhadap variabel dependen. Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel. Hipotesis yang diajukan dalam analisis ini ialah:

H0: bi = 0 H1: bi ≠ 0,

bi = koefisien regresi variabel ke–i

Pengambilan keputusan untuk melihat apakah hipotesis H0 diterima atau ditolak. Hipotesis H0 ditolak membuktikan bahwa variabel bebas yang digunakan berpengaruh nyata terhadap produksi TBS.

Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan dilakukan untuk meringkas hasil pengolahan data

yang telah di analisis dengan menggunakan analisis regresi linear berganda dan

analisis korelasi. Kesimpulan dapat menjelaskan kebenaran dari hipotesis yang

telah dibuat apakah diterima atau ditolak.

(35)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data produksi Kelapa Sawit (kg/bulan) pada tahun 2016, 2017 dan 2018, data curah hujan (mm/bulan) dan hari hujan (hari/bulan) pada tahun 2015,2016 dan 2017 dari kebun PT. Perkebunan Nusantara IV kebun Gunung Bayu pada tanaman fase TM muda, fase TM sedang, dan fase TM tua dapat dilihat secara berturut – turut pada Tabel 1 – 3 (Lampiran 1); Tabel 4 – 6 (Lampiran 1).

Produksi Kelapa Sawit (kg/bulan)

Data produksi kelapa sawit (kg/bulan) pada tahun 2016, 2017, dan 2018 dari kebun PT. Perkebunan Nusantara IV kebun Gunung Bayu.Pada tanaman fase TM muda, fase TM sedang, dan fase TM tua dapat dilihat pada Tabel 2, 3, dan 4 (Lampiran 1).

Tabel 1. Rataan produksi kelapa sawit pada tanaman fase TM muda selama 3 tahun (2016-2018)

Bulan 2016 2017 2018 Rataan

kg/bulan

Januari 199.510 283.240 482.750 321.833

Februari 192.100 154.500 346.600 231.067

Maret 173.270 354.270 527.540 351.693

April 146.040 348.240 494.280 329.520

Mei 307.000 462.950 769.950 513.300

Juni 402.150 435.850 838.000 558.667

Juli 345.650 488.100 833.750 555.833

Agustus 353.500 502.480 855.980 570.653

September 266.230 380.520 646.750 431.167

Oktober 284.200 396.760 680.960 453.973

November 206.110 428.910 635.020 423.347

Desember 227.480 402.540 630.020 420.013

Total 3.103.240 4.638.360 7.741.600 5.161.067

Tabel 1 dapat dilihat bahwa rataan produksi kelapa sawit fase muda

tertinggi terdapat pada bulan Agustus sebesar 570.653 kg/bulan dan rataan

(36)

terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 231.067 kg/bulan. Grafik perkembangan produksi kelapa sawit fase TM muda (kg/ha) pada tahun 2016- 2018 disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik perkembangaan produksi kelapa sawit fase TM muda selama 3 tahun (2016 - 2018)

Gambar 1 diatas dapat dilihat bahwa tahun 2016 pada tanaman kelapa sawit fase TM muda, total produksi tertinggi terdapat pada bulan Agustus sebesar 353.500 kg/bulan dan total terendah terdapat pada bulan April sebesar 146.040 kg/bulan. Pada tahun 2017, total produksi tertinggi terdapat pada bulan Agustus sebesar 502.480 kg/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 154.500 kg/bulan. Pada tahun 2018, total produksi tertinggi terdapat pada bulan Agustus sebesar 855.980 kg/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 346.600 kg/bulan.

Berikut ini data produksi kelapa sawit (kg/bulan) pada tanaman fase TM sedang selama 3 tahun (2016 – 2018) di kebun PT. Perkebunan Nusantara IV kebun Gunung Bayu.

0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000 900000

P roduks i kg /bul an

Bulan

2016

2017

2018

(37)

Tabel 2. Rataan produksi kelapa sawit pada tanaman fase TM sedang selama 3 tahun (2016 – 2018)

Bulan 2016 2017 2018 Rataan

kg/bulan

Januari 344.960 375.260 434.190 384.803

Februari 320.440 301.990 374.490 332.307

Maret 374.120 489.840 507.110 457.023

April 228.140 535.360 558.140 440.547

Mei 519.630 517.690 513.600 516.973

Juni 585.530 664.700 488.380 579.537

Juli 428.720 662.710 538.060 543.163

Agustus 657.540 629.820 679.930 655.763

September 482.410 568.230 618.250 556.297

Oktober 525.810 384.250 478.820 462.960

November 451.710 573.380 478.820 501.303

Desember 453.590 504.750 587.950 515.430

Total 5.372.600 6.207.980 6.257.740 5.946.107

Tabel 2 dapat dilihat bahwa rataan produksi kelapa sawit fase TM sedang terdapat pada bulan Agustus sebesar 655.763 kg/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 332.307 kg/bulan. Grafik perkembangan produksi kelapa sawit fase TM sedang (kg/bulan) pada tahun 2016-2018 disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik perkembangan produksi kelapa sawit pada fase TM sedang selama 3 tahun (2016 – 2018)

0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000

P roduks i kg /bul an

Bulan

2016

2017

2018

(38)

Gambar 2 diatas dapat dilihat bahwa tahun 2016 pada tanaman kelapa sawit fase TM sedang, total produksi tertinggi terdapat pada bulan Agustus sebesar 657.540 kg/bulan dan total terendah terdapat pada bulan April sebesar 228.140 kg/bulan. Pada tahun 2017, total produksi tertinggi terdapat pada bulan Juni sebesar 664.700 kg/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 301.990 kg/bulan. Pada tahun 2018, total produksi tertinggi terdapat pada bulan Agustus sebesar 679.930 kg/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 374.490 kg/bulan.

Berikut ini data produksi kelapa sawit (kg/bulan) pada tanaman fase TM tua selama 3 tahun (2016 – 2018) di kebun PT. Perkebunan Nusantara IV kebun Gunung Bayu.

Tabel 3. Rataan produksi kelapa sawit pada tanaman fase TM tua selama 3 tahun (2016 – 2018)

Bulan Tahun Rataan

2016 2017 2018

Januari 194.750 187.810 205.920 196.160

Februari 177.510 205.780 171.530 184.940

Maret 200.900 239.570 271.470 237.313

April 183.520 246.250 239.930 223.233

Mei 271.000 295.100 254.020 273.373

Juni 297.480 314.270 213.650 275.133

Juli 269.060 337.220 256.020 287.433

Agustus 282.580 331.920 292.480 302.327

September 234.860 246.270 232.210 237.780

Oktober 263.470 255.690 172.090 230.417

November 194.350 279.600 172.090 215.347

Desember 248.140 208.220 257.690 238.017

Total 2.817.620 3.147.700 2.739.100

Tabel 3 dapat dilihat bahwa rataan produksi kelapa sawit fase TM tua

terdapat pada bulan Agustus sebesar 302.327 kg/bulan dan rataan terendah

terdapat pada bulan Februari sebesar 184.940 kg/bulan. Grafik perkembangan

(39)

produksi kelapa sawit fase TM tua (kg/bulan) pada tahun 2016-2018 disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Grafik perkembangan produksi kelapa sawit pada fase TM tua selama 3 tahun (2016 – 2018)

Gambar 3 diatas dapat dilihat bahwa tahun 2016 pada tanaman kelapa sawit fase TM tua, total produksi tertinggi terdapat pada bulan Agustus sebesar 282.580 kg/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 177.510 kg/bulan. Pada tahun 2017, total produksi tertinggi terdapat pada bulan Juli sebesar 337.220 kg/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Januari sebesar 187.810 kg/bulan. Pada tahun 2018, total produksi tertinggi terdapat pada bulan Agustus sebesar 292.480 kg/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 171.530 kg/bulan.

Curah Hujan dan Hari Hujan

Data rataan curah hujan (mm/bulan) dan hari hujan (hari/bulan) pada tanaman kelapa sawit fase TM muda, TM sedang, dan TM tua selama 3 tahun (2015-2017) PT. Perkebunan Nusantara IV kebun Gunung Bayu (Lampiran ).

0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000

P ro d u k si k g /b u la n

Bulan

2016

2017

2018

(40)

Berikut ini data curah hujan (mm/bulan) pada tanaman fase TM muda, TM sedang, dan TM tua selama 3 tahun (2015-2017) di kebun PT. Perkebunan Nusantara IV kebun Gunung Bayu.

Tabel 4. Rataan curah hujan (mm/bulan) pada tanaman fase TM muda, TM sedang, dan TM tua selama 3 tahun (2015 – 2017)

Bulan Tahun Rataan

2015 2016 2017

Januari 77 38 79 65

Februari 12 126 68 69

Maret 44 24 144 71

April 6 2 69 26

Mei 40 135 110 95

Juni 60 73 123 85

Juli 96 120 182 133

Agustus 145 92 327 188

September 213 274 314 267

Oktober 136 114 138 129

November 241 53 294 196

Desember 9 62 190 87

Total 1.079 1.113 2.038 1411

Tabel 4 dapat dilihat bahwa rataan curah hujan tertinggi pada tanaman kelapa sawit fase TM muda, TM sedang, dan TM tua terdapat pada bulan September yaitu sebesar 267 mm/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan Januari yaitu sebesar 65 mm/bulan.

Grafik perkembangan curah hujan (mm/bulan) pada tanaman kelapa sawit fase TM muda, TM sedang, dan TM tua (2015-2017) disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4 dibawah dapat dilihat bahwa tahun 2015 pada tanaman kelapa

sawit (2015-2017), rataan curah hujan tertinggi terdapat pada bulan November

sebesar 241 mm/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan April sebesar 6

mm/bulan. Pada tahun 2016, rataan curah hujan tertinggi terdapat pada bulan

(41)

September sebesar 274 mm/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan April sebesar 2 mm/bulan. Pada tahun 2017, rataan curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Agustus sebesar 327 mm/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 68 mm/bulan.

Gambar 4. Grafik perkembangan curah hujan pada tanaman kelapa sawit fase TM muda, TM sedang, dan TM tua (2015-2017)

Berikut ini data hari hujan (hari/bulan) pada tanaman kelapa sawit fase TM muda, TM sedang, TM tua (2015-2017) di kebun PT. Perkebunan Nusantara IV kebun Gunung Bayu.

Tabel 5 dapat dilihat bahwa rataan hari hujan tertinggi pada tanaman kelapa sawit fase TM muda, TM sedang, dan TM tua terdapat pada bulan September sebesar 11 hari/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan April sebesar 3 hari/bulan.

0 50 100 150 200 250 300 350

C u ra h H u ja n ( m m /b u la n )

Bulan

2015

2016

2017

(42)

Tabel 5. Rataan hari hujan pada tanaman kelapa sawit fase TM muda, TM sedang, dan TM tua (2015 - 2017)

Bulan Tahun Rataan

2015 2016 2017

Januari 7 3 10 7

Februari 2 7 7 5

Maret 7 2 8 6

April 2 1 5 3

Mei 6 9 9 8

Juni 6 6 6 6

Juli 7 11 8 9

Agustus 6 8 14 9

September 7 11 16 11

Oktober 10 6 14 10

November 7 9 14 10

Desember 3 11 10 8

Total 70 84 121 92

Grafik perkembangan hari hujan (hari/bulan) pada tanaman kelapa sawit fase TM muda, TM sedang, dan TM tua (2015 – 2017) disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5. Grafik perkembangan hari hujan pada tanaman kelapa sawit fase TM muda, TM sedang, dan TM tua (2015 – 2017)

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

H ar i H u ja n ( H ar i/ b u la n )

Bulan

2015

2016

2017

(43)

Gambar 5 diatas dapat dilihat bahwa tahun 2015 pada tanaman kelapa

sawit fase TM muda, TM sedang, dan TM tua, rataan hari hujan tertinggi terdapat

pada bulan Oktober sebesar 10 hari/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan

Februari dan bulan April yaitu sebesar 2 hari/ bulan. Pada tahun 2016, rataan hari

hujan tertinggi terdapat pada bulan Juli, September, dan Desember yaitu sebesar

11 hari/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan April yaitu 1

hari/bulan.Pada tahun 2017, rataan hari hujan tertinggi terdapat pada bulan

September yaitu sebesar 16 hari/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan

April yaitu sebesar 5 hari/bulan.

(44)

Hubungan Curah Hujan dan Hari Hujan terhadap Produksi pada Tanaman Kelapa Sawit fase TM Muda

Data rataan produksi (kg/bulan), curah hujan (mm/bulan), dan hari hujan (hari/bulan) selama 3 tahun dari kebun PT. Perkebunan Nusantara IV kebun Gunung Bayu, pada tanaman kelapa sawit fase TM muda.

Tabel 6. Rataan Produksi, Curah Hujan, dan Hari Hujan pada tanaman kelapa sawit fase TM muda selama 3 tahun

Bulan Rataan

Produksi Curah Hujan Hari Hujan ---kg/bulan--- ---mm/bulan--- ---hari/bulan---

Januari 321.833 65 7

Februari 231.067 69 5

Maret 351.693 71 6

April 329.520 26 3

Mei 513.300 95 8

Juni 558.667 85 6

Juli 555.833 133 9

Agustus 570.653 188 9

September 431.167 267 11

Oktober 453.973 129 10

November 423.347 196 10

Desember 420.013 87 8

Total 5.161.067 1.410 92

Tabel 6 dapat dilihat bahwa total produksi pada tanaman kelapa sawit fase TM muda (2016 – 2018) sebesar 5.161.067 kg, total curah hujan sebesar 1.410 mm dan total hari hujan sebanyak 92 hari.

Tabel 6 diatas dapat diketahui bahwa rataan produksi tertinggi pada tanaman

kelapa sawit fase TM muda selama 3 tahun (2016-2018) terdapat pada bulan

September sebesar 570.653 kg/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan

Februari sebesar 231.067 kg/bulan. Rataan curah hujan tertinggi pada bulan

September sebesar 267 mm/bulan dan terendah pada bulan April sebesar 26

(45)

mm/bulan.Rataan hari hujan tertinggi pada bulan September sebanyak 11 hari/bulan dan terendah pada bulan April sebanyak 3 hari/bulan.

Analisis Data

Analisis produksi kelapa sawit 2016, 2017, dan 2018 di perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara IV kebun Gunung Bayu dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear berganda dan analisis korelasi. Analisis regresi linear berganda untuk mengetahui apakah variabel curah hujan dan hari hujan akan memberikan pengaruh terhadap produksi kelapa sawit. Model yang digunakan untuk menganalisis produksi kelapa sawit adalah model analisis linear berganda. Analisiskorelasi berguna untuk melihat kuat lemahnya hubungan antara variabel bebasdengan veriabel terikat. Alat bantu dengan menggunakan SPSS.v.22 for windows.

Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas, dan uji autokorelasi.

Tabel 7 .Nilai signifikansi uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 12

Normal Parameters a,b Mean ,0000000

Std. Deviation 54799,50718022

Most Extreme Differences Absolute ,194

Positive ,133

Negative -,194

Test Statistic ,194

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200 c,d

(46)

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak. Persyaratan uji normalitas adalah data berdistribusi normal. Data di analisis dengan uji One Sample Kolmogrov-Sminov pada taraf uji 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (Sig > α 0,05). Untuk persamaan regresi pada tanamankelapa sawit TM muda diperoleh nilai Kolmogorov-Sminov dan nilai signikansi yaitu 0,200 yang berarti data telah terdistribusi normal.

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi.Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas. Metode pengujian yang yang digunakan ialah uji Glejser. Uji Glejser dilakukan dengan meregresikan nilai absolute residual terhadap variabel independen lainnya. Jika nilai ß signifikan maka mengindikasikan terdapat heteroskedastisitas dalam model. Berikut disajikan uji heteroskedastisitas menggunakan uji Glejser pada model persamaan regresi linear berganda pada tanaman kelapa sawit berumur TM muda selama 3 tahun (2016- 2018)pada Tabel 8.

Tabel 8. Nilai signifikansi pada uji heteroskedastisitas pada tanaman kelapa sawit fase TM muda selama 3 tahun (2016-2018)

Fase Variabel Sig.

TM Muda

Konstanta 0,005

Curah Hujan 0,963

Hari Hujan 0,596

Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas di atas menunjukkan bahwa variabel

curah hujan memiliki nilai signifikansi pada tanaman kelapa sawit fase TM muda

(47)

yaitu sebesar 0,963 sedangkan variabel hari hujan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,596. Variabel curah hujan dan hari hujan memiliki nilai signifikansi di atas 0,01 dalam model ini sehingga memiliki sebaran varian yang sama (homogen). Dengan kata lain, tidak terdapat heteroskedastisitas dalam model ini.

Model regresi yang memenuhi prasyarat adalah tidak adanya multikolinearitas. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai varianinflation factor (VIF) dan nilai Tolerance pada model regresi. Model regresi yang baik ialah tidak terjadi multikolinearitas yang dibuktikan dengan nilai VIF <

10 dan nilai Tolerance> 0,1. Berikut disajikan nilai VIF dan Tolerance model regresi linear berganda pada produksi kelapa sawit fase TM muda selama 3 tahun (2016 - 2018) di kebun PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Gunung Bayu pada Tabel 9.

Tabel 9. Uji multikolinearitas nilai VIF dan Tolerance pada fase TM muda selama3 tahun (2016-2018)

Fase Variabel Tolerance VIF

TM Muda Curah Hujan 0,259 3,854

Hari Hujan 0,259 3,854

Berdasarkan hasil uji multikolinearitas di atas diperoleh nilai VIF yang lebih kecil dari 10 dan nilai Tolerance lebih besar dari 0,1 untuk kedua variabel yang diuji dapat diartikan bahwa tidak terdapat multikolinearitas dalam model persamaan regresi tersebut.

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidak nya

penyimpangan yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan

pengamatan lain pada model regresi. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi

dapat dilihat dari nilai Durbin Watson. Untuk model persamaan regresi pada

(48)

tanaman kelapa sawit fase TM muda di atas, diperoleh nilai Durbin Watson (d)ialah 0,653 berdasarkan kriteria pada uji autokorelasi, jika d terletak antara -2 dan2, maka tidak ada autokorelasi. Oleh karena itu, pada persamaan regresi pada tanaman kelapa sawit fase TM muda tidak ada autokorelasi.Dari keempat uji asumsi tersebut menyatakan bahwa persamaan regresi pada tanaman kelapa sawit fase TM muda telah memenuhi syarat.

Tabel 10. Nilai Hitung Durbin Watson (d)

Fase Nilai hitung Durbin Watson (d)

TM Muda 0,653

TM Sedang 1,205

TM Tua 0,824

Analisis Korelasi

Analisis korelasi digunakan untuk melihat kuat-lemahnya hubungan antara variable bebas dan terikat. Berikut disajikan inpretasi nilai R pada analisis korelasi pada Tabel 11.

Tabel 11. Interpretasi nilai R pada analisis korelasi

Nilai R Interprestasi

0,00 Tidak Ada Korelasi

0,01-0,20 Sangat Lemah

0,21-0,40 Lemah

0,41-0,60 Agak Lemah

0,61-0,80 Cukup

0,81-0,99 Kuat

1,00 Sangat Kuat

Berikut disajikan data analisis korelasi antara variabel produksi kelapa

sawit, curah hujan, dan hari hujan pada tanaman kelapa sawit fase TM muda

selama 3 tahun (2016-2018) pada Tabel 12.

Gambar

Gambar 1. Grafik perkembangaan produksi kelapa sawit fase TM muda selama 3  tahun (2016 - 2018)
Tabel  2.  Rataan  produksi  kelapa  sawit  pada  tanaman  fase  TM  sedang  selama  3  tahun (2016 – 2018)  Bulan  2016  2017  2018  Rataan  kg/bulan  Januari  344.960  375.260  434.190  384.803  Februari  320.440  301.990  374.490  332.307  Maret  374.12
Gambar 3. Grafik perkembangan produksi kelapa sawit pada fase TM tua selama  3 tahun (2016 – 2018)
Gambar 4. Grafik perkembangan curah hujan pada tanaman kelapa sawit fase TM  muda, TM sedang, dan TM tua (2015-2017)
+5

Referensi

Dokumen terkait

Balance Scorecardmerupakan sistem pengukuran kinerja komprehensif yang meliputi aspek keuangan dan aspek nonkeuangan.Langkah awal yang harus dilakukan adalah menetapkan bobot

Those research questions arewhat kind of the functions of speech applied by the English teacher in classroom interaction at SMK Negeri 3 Banjarmasin, andwhat are

Perubahan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Terhadap Jumlah Penerimaan Pajak Penghasilan Orang Pribadi (Periode 2014-2016) di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan

Dan juga perancangan di perusahaan, biasanya dari kabel jaringannya sudah diberi kode namun masih banyak juga kabel jaringan dari client lain yang masih blank atau tidak diberi

Berdasarkan uraian di atas, penulis menganggap hal tersebut penting untuk dikaji agar diketahui laporan pertanggungja- waban penggunaan dana BOS serta hal-

(3) Pencatatan inventarisasi sarana dan prasarana merupakan tahapan pertama dalam prosedur inventarisasi sarana prasarana yang dilakukan oleh SMP Negeri 255 Jakarta

Subjek penelitian pada tahap I (kuantitatif) adalah siswa kelas VII B SMP Negeri 10 Semarang sebagai kelas penelitian yang menggunakan pembelajaran Meaningful Instructional Design

Aliran sebenarnya dari suatu arus yang melalui sirkuit adalah berdasarkan dari prinsip yang baru saja anda pelajari. Seperti yang anda lihat sebelumnya, atom normal mempunyai