PERKEMBANGAN DEMOKRASI DEWASA INI ANTARA
PEMIKIRAN BARAT DAN TIMUR
NAMA : MUHAMMAD ROSYID RIDHO NIM : 11.02.8069
JURUSAN : D3-MI
MATA KULIAH PANCASILA STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2011/2012
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Jika orang berbicara “demokrasi”, maka yang muncul dalam benak kita adalah sebuah sistem politik yang menekankan suara rakyat sebagai penentu kebijakan. Memang, secara asal katanya demokrasi atau “democracy”, berasal dari kata “demos” dan “kratos’, sebuah bahaya Yunani yang berari kekuasaan di tangan rakyat.
Harus diakui memang “konsep demokrasi” sesunguhnya berasal dari dunia pemikiran politik Yunani. Dalam karya klasik Yunani yang berjudul Polis, demokrasi mengacu pada konstitusi (sistem pemerintahan) tempat rakyat yang lebih miskin lebih bisa menggunakan kekuasaan untuk membela kepentingan mereka yang acap kali berbeda dengan kepentingan kaum kaya dan kaum bangsawan (Loytard,1996:214). Dalam impelementasinya di Yunani, demokrasi dalam pengertian sistem pengambilan uara dilakukan secara langsung.
Konsep demokrasi yang berkembang dalam alam pemikiran Yuniani itu kemudian banyak berpengaruh terhadap sistem pemerintahan di Eropa, Amerika, Afrika dan termasuk Indonesia. Demokrasi pada saat ini telah dianggap sebagai sustu sistem pemerintahan yang paling baik dibandingkan dengan system pemerintahan lain, seperti otokrasi, dan oligarkhi.
Demokrasi sesungguhnya secara konseptual lebih ditekankan pada sumber kekuasaan dibandingkan dengan cara memerintah. Di dunia Barat pada sekitar abad ke -19, ide demokrasi meliputi sistem perwakilam parlemen, hak-hak sipil dan dan politik lain seperti keinginan liberal. Indonesia pada masa itu dibawah sebuah kekuasaan asing yang di negeri induknya menerapkan demokrasi, tetapi di negeri jajahan tidak demikian.
Pada saat ini, Indonesia menerapkan tatanan pemerintahan yang demokratis.
Hal ini terbukti adanya Pemilihan Umum setiap lima tahun sekali untuk meminta suara rakyat dalam menentukan partai politik mana yang dapat memerintah di negeri ini.
Dalam tatanan ini, dapat dikatakan bahwa suara rakyat adalah “Suara Tuhan”, maka para calon wakil rakyat berkampanye sekuat tenaga untuk menjual program, figur, dan “image” agar mendapat dukungan rakyatnya.
Harus disadari bahwa tatanan politik masyarakat menuju sebuah tatatan yang demokratis tidak muncul serta merta. Hal itu memerlukan sebuah proses dialog kesejarahan yang panjang.
BAB II PERMASALAHAN
Sejak dua dekade terakhir dunia menyaksikan kemajuan yang luar biasa dalam perkembangan demokrasi. Sejak 1972 jumlah negara yang mengadopsi sistem politik demokrasi telah meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 44 menjadi 107. Dari 187 negara saat ini di dunia, lebih dari 58 persen di antaranya mengadopsi pemerintahan demokratis, masing-masing dengan variasi sistem politik tertentu. Kecenderungan ini menguat terutama setelah jatuhnya pemerintahan komunis di akhir tahun 80-an dan karenanya telah menjadikan demokrasi sebagai “satu-satunya alternatif yang sah terhadap berbagai bentuk rejim otoritarian”. Secara sosiologis mungkin ini merupakan salah satu perubahan terpenting yang menandai tahun-tahun akhir milineum kedua; sebuah perkembangan yang oleh Huntington dikonseptualisaikan sebagai “gelombang ketiga demokratisasi”
Secara konseptual, pembangunan demokrasi di sebuah negara tidak lagi dilihat sebagai hasil-hasil dari tingkat modernisasi yang lebih tinggi sebagaimana ditunjukkan melalui indikator-indikator kemakmuran, struktur kelas borjuasi, dan independensi ekonomi dari aktor-aktor eksternal. Melainkan, lebih dilihat sebagai hasil dari interaksi-interaksi dan pengaturan-pengaturan strategis di antara para elit, pilihan-pilihan sadar atas berbagai bentuk konstitusi demokratis, dan sistem- sistem pemilihan umum dan kepartaian. Pemikiran ini didasarkan pada argumentasi sentral bahwa pengalaman Barat tentang demokrasi tidak akan dapat diulang dengan arah yang sama di negara-negara sedang berkembang.
Sebagai sebuah konsep teoritis maupun politis, demokrasi jelas sekali terikat oleh faktor-faktor kesejarahan yang terjadi di Eropa sepanjang abad 17 hingga 19.
Prosesnya sendiri telah dimulai pada abad pertengahan ketika dunia, khususnya Eropa, dilanda reformasi, dan kemudian revolusi, sosial. Reformasi intelektual yang mengubah Eropa, dan kemudian dunia, merupakan proses sosial dan sejarah yang amat panjang, bahkan prinsip-prinsip dasarnya mungkin telah diawali dengan diperkenalkannya institusi modern yang disebut dengan universitas.
Sampai dengan tahun 60-an dan 70-an, penelitian-penelitian tentang demokrasi, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil kerja dari Lipset (1959), Almond dan Verba (1963), Dahl (1971), O’Donnell (1979), banyak didominasi oleh upaya untuk menemukan kondisi-kondisi dan persyaratan-persyaratan lainnya yang diperlukan guna munculnya sebuah demokrasi yang stabil. Dalam perkembangannya sampai dengan dekade lalu, studi tentang demokrasi diwarnai terutama oleh upaya untuk memahami dinamika dari transisi demokratis dan konsolidasi. Hanya dalam beberapa tahun belakangan ini terjadi pergeseran arah studi mengenai demokrasi. Penelitian belakangan ini memfokuskan perhatiannya pada peran para pemimpin politik dan elit strategis lainnya dalam proses demokrasi.
Dalam ikhwal ini banyak para ahli ilmu sosial dewasa ini cenderung untuk berpikir bahwa transisi menuju demokrasi, khususnya di negara-negara sedang berkembang, jarang sekali merupakan hasil dari faktor-faktor yang digerakkan oleh tindakan-tindakan politik massa. Dengan kata lain, kesuksesan dalam proses perubahan dan konsolidasi menuju demokrasi lebih banyak ditentukan oleh para elit politik , di samping perkembangan politik yang berlangsung di tingkat global dan internasional. Beberapa bahkan berargumentasi bahwa sesungguhnya demokrasi semestinya diperlakukan sebagai suatu hasil yang dapat direkayasa secara sosial sepanjang terdapat craftsmanship di kalangan para elit politik. . Cara pandang semacam ini jelas menolak argumentasi yang menganggap bahwa demokrasi tak dapat ditranplantasikan di tanah asing, di luar konteks sosial dan budaya di mana demokrasi itu pada awalnya dikembangkan.
Mengikuti argumentasi ini, mengasumsikan bahwa pada dasarnya perubahan menuju demokrasi di Indonesia akan menjadi lebih feasible apabila para elit politik Indonesia sebagai agen perubahan sosial memiliki peralatan-peralatan teoritis yang memadai untuk memahami dan terlibat dalam proses-proses transisi demokrasi. Ini berarti, faktor-faktor yang berhubungan dengan budaya dan struktur politik tidak dilihat sebagai struktur operasional yang konstan dan stabil, melainkan dilihat sebagai arena diskursus yang dinamis yang melibatkan proses-
proses konstruksi dan dekonstruksi dari para individu sebagai agen, khususnya para elitnya , daripada semata-mata sebagai representasi dari struktur. .
Bukti-bukti empiris terhadap kecenderungan semacam ini sebenarnya dapat dilihat dari makin meluasnya gerakan-gerakan oposisi di Indonesia yang mulai marak pada awal tahun 90-an yang pada dasarnya digerakkan oleh elit dari berbagai golongan, misalnya intelektual, mahasiswa, buruh, dan LSM, daripada oleh kekuatan-kekuatan yang secara langsung tumbuh dari massa. Perbedaan yang besar di antara diskursus resmi dan diskursus alternatif tentang bagaimana demokrasi itu dikonstruksikan merupakan satu persoalan besar yang menghadang masa depan demokrasi di Indonesia.
BAB III PEMBAHASAN
A. Demokrasi Menurut Pemikiran Barat
Fenomena demokrasi telah menjadi wacana luas sejak berakhirnya perang dingin di tahun 1991. Runtuhnya simbol kekuasaan komunis yakni Uni soviet menjadi determinasi penerimaan konsep demokrasi secara menyeluruh oleh sebagian besar negara-negara di dunia. Demokrasi merupakan konsep penyelenggaraan pemerintah yang diusung oleh pemahaman liberal Barat, utamanya Amerika sebagai pencetus pertama konsep demokrasi. Walaupun demikian, banyak pula yang berpendapat bahwa demokrasi secara partikular berakar dari nilai nasionalisme dan kebebasan berpendapat yang berkembang sekitar awal abad 20.
Konsep demokrasi bukanlah hal yang sama sekali baru bagi dunia internasional. Konsep demokrasi tertua telah diperkenalkan secara implisit oleh filsuf Yunani kuno, yakni Plato dan Aristoteles. Akan tetapi, posisi demokrasi dalam ketatanegaraan berdasarkan pemikiran filsuf-filsuf tersebut belumlah substansial seperti masa sekarang. Hal itu disebabkan demokrasi dianggap merupakan konsep negara yang buruk dalam dunia filsuf Yunani saat itu.
Pada masa-masa selanjutnya nilai demokrasi ditelan oleh konsep negara politea dan otokrasi, hal ini sejalan dengan pemikiran Santo Agustinus dan Thomas Aquina. Sedangkan pada masa berikutnya, yakni pada masa pemikiran Machiavelli dan Thomas Hobbes, konsep demokrasi mengalami nasib naas, dikubur oleh kekuasaan yang terpusat pada satu penguasa saja. Selanjutnya, demokrasi mulai mendapatkan angin segar dari Montesquieu dan J.J. Rousseau sehingga meraih kepercayaan diri sebagai konsep negara yang idealis dan banyak diidam-idamkan oleh orang-orang di dunia, khususnya orang-orang yang tertindas. Demokrasi meraih momentum keemasan ketika ia diembeli oleh nilai- nilai liberalisme seperti kebebesan berpendapat dan kebebasan pasar ekonomi yang seluas-luasnya.
Berbeda dengan pemikir-pemikir barat era sebelumnya, seperti yang telah disebutkan di atas, Freidrich Engels, Karl Marx dan Engels muncul sebagai pemikir radikal yang kontroversional. Dinamakan kontroversional karena seolah- olah pemikiran ketiganya mendirikan parameter jelas yang membatasi konsep demokrasi yang berlebihan. Dikatakan oleh ketiganya, bahwa demokrasi yang dijunjung tinggi oleh demokrasi mesti diawasi oleh keterlibatan pemerintah pusat dalam melakukan kontrol yang ketat, bila perlu.
Perkembangan Gagasan Demokrasi di Eropa Abad Ke-17 dan 18
Konsep demokrasi tidak berubah banyak meski pemahaman terhadapnya menjadi lebih relatif, terutama bagaimana penentuan subyek manusia berkaitan dengan politik. Jika di masa Athena, pandangan terhadap manusia lebih merupakan bagian dari bentuk organis negara, maka pada abad ke-17 dan 18, subyek manusia lebih merupakan titik sentral yakni otoritas individu dalam berbagai diskursus filsafat politik.
Hobbes secara tegas menggambarkan kondisi alamiah dari manusia. Manusia secara kasar setara di dalam kekuatan alamiah fisik dan pikiran. Hobbes mengatakan bahwa kesetaraan di dalam kemampuan ini, membangkitkan kesetaraan di dalam harapan untuk mencapai cita-cita. Itulah sebabnya jika ada dua orang yang bercita-cita sama, maka mereka tidak akan dapat menikmati bersama. Mereka berdua akan menjadi musuh. Kompetisi tidak akan terhindari.
manusia satu dan lainnya tidak akan saling percaya dan akan takut diserang. Oleh karena itu manusia akan mencoba menaklukan (overpower) satu sama lain.
Dengan demikian Hobbes menyimpulkan tiga sebab perseteruan yakni kompetisi, rasa enggan dan kejayaan.
Konteks yang harus dipahami dalam tulisan tersebut adalah Hobbes berbicara mengenai berbagai macam kekuasaan yang berbeda termasuk kekuasaan tubuh atau kekuatan. Tubuh sebagai sarana fisik adalah kekuatan yang mampu memindahkan benda-benda berat termasuk memperoleh benda lain (to obtain some future apparent good).
Memasuki abad ke-20 transisi menuju demokrasi di banyak negara tidak dapat dihindari, sebagai hasil dari bermacam peristiwa seperti perang, revolusi, dekolonisasi, serta situasi ekonomi dan agama. Dengan terjadinya Perang Dunia I yang mengakibatkan runtuhnya kekaisaran Austro-Hungaria serta Ottoman, maka muncul banyak negara kecil di Eropa yang terhitung demokratis secara nominal.
Pada tahun 1920, demokrasi mulai menjamur namun sejalan dengan terjadinya Depresi pada masa itu, demokrasi pun menjadi ujung dari kekecewaan.
Banyak negara baik di Eropa, Amerika Latin dan Asia beralih kepada pemerintahan orang kuat atau kediktatoran. Fasisme kemudian subur di Jerman, Italia, Spanyol dan Portugal. Hal yang sama juga terjadi di negara-negara Balkan, Brazil, Kuba, Cina dan Jepang dimana muncul pemerintahan yang non demokratis. Baru setelah usai Perang Dunia II, kecenderungan semacam itu kemudian kembali berbalik. Anggapan terhadap suksesnya demokratisasi yang dilakukan oleh negara-negara pemenang perang yakni Amerika Serikat, Inggris dan Prancis membuat Austria, Italia dan Jepang menjadi model teori perubahan rejim. Sementara disisi lain negara-negara Eropa Timur masuk ke dalam blok komunis Uni Soviet.
Usainya Perang Dunia II di satu sisi juga berdampak terhadap proses dekolonisasi. Banyak negara baru yang muncul serta memiliki konstitusi yang terhitung demokratis secara nominal. Sementara di sisi lain, negara-negara barat mulai mengembangkan bentuk negara kesejahteraan yang mencerminkan konsensus umum antara para pemilih dalam pemilihan umum dengan partai politik. Di tahun 1960-an pertumbuhan ekonomi yang tinggi di negara-negara Barat semakin membuat kontrol negara terhadap ekonomi semakin berkurang.
Pada masa ini, semakin banyak negara di dunia yang secara nominal mengklaim dirinya demokratis meskipun masih jauh dari proses yang sesungguhnya.
Baru di tahun 1980-an proses demokratisasi memberikan warna yang lebih liberal dengan terjadinya pemindahan kekuasaan dari tangan rejim militer ke pemerintahan sipil di negara-negara seperti Spanyol, Portugal, Argentina, Bolivia, Brazil. Resesi ekonomi dan ketidakpuasan terhadap penindasan rejim komunis di akhir masa ini juga membuat runtuhnya Uni Soviet, mengakhiri Perang Dingin
dan pembebasan negara-negara Eropa Timur. Tren seperti ini masih terus berlangsung hingga tahun 1990-an dengan terjadinya perubahan baik secara gradual maupun revolusi di berbagai negara seperti Indonesia, Yugoslavia, Georgia, Ukraina, Lebanon dan Kyrgyztan. Di tahun 2000-an, tidak kurang hampir seluruh negara di dunia sudah menjadi demokratis secara nominal, kecuali empat negara yang memang tidak mengklaim dirinya demokratis yakni Vatikan, Saudi Arabia, Myanmar dan Brunei. Tren seperti ini akan masih terus berlangsung dengan spekulasi di masa depan bahwa negara-negara dengan demokrasi liberal akan menjadi standar universal bagi seluruh masyarakat di dunia.
B. Demokrasi Menurut Pemikiran Timur
Negara Indonesia secara yuridis memang baru berdiri pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan demikian, jika berbicara demokrasi Indonesia mustinya dibicarakan sejak Indonesia merdeka tersebut. Akan tetapi dalam perspektif waktu, kehadiran Republik Indonesia sesungguhnya melalui proses yang panjang, terutama masa Kolonial. Sesungguhnya demokrasi memiliki akar juga di masa Kolonial.
Negara Kolonial (Hindia Belanda) sesungguhnya bukan sebuah Negara demokrasi. Akan tetapi di negeri induknya dijalankan sistem pemerintahan demokrasi. Ide-ide demokrasi berpengaruh terhadap pemikiran para pejabat kolonial, sehingga banyak muncul pemikiran untuk mengubah tatanan pemerintahan yang dianggapnya sebagai “feudal”.
Percobaan demokrasi di Indonesia pada masa Kolonial dimulai dari tingkat desa. Pada level nasional, awal mula berkembangnya gagasan dan konsep demokrasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan perkembangan situasi sosial politik masa kolonial pada tahun-tahun pertama abad ke-20 yang ditandai dengan adanya beberapa perkembangan. Pemikiran tentang demokrasi mengelora di sejumlah aktivis pergerakan. Maka terbentuklah organisasi-organisasi yang berhaluan politik untuk menyuarakan suara rakyat di dalam sebuah sistem Kolonial (Budi Utomo, 1995).
Demokrasi Parlementer/ Liberal
Setelah Hindia Belanda berada di bawah pendudukan Jepang, lembaga Volksraad dibubarkan. Sistem pemerintahan menjadi sistem pemerintahan militer, sehingga demokrasi sama sekali mengalami kemandegan. Kondisi ini baru mengalami perubahan berarti setelah Indonesia merdeka.
Momentum historis perkembangan demokrasi setelah kemerdekaan di tandai dengan keluarnya Maklumat No. X pada 3 November 1945 yang ditandatangani oleh Hatta. Dalam maklumat ini dinyatakan perlunya berdirinya partai-partai politik sebagai bagian dari demokrasi, serta rencana pemerintah menyelenggarakan pemilu pada Januari 1946. Maklumat Hatta berdampak sangat luas, melegitimasi partai-partai politik yang telah terbentuk sebelumnya dan mendorong terus lahirnya partai-partai politik baru. Pada tahun 1953 Kabinet Wilopo berhasil menyelesaikan regulasi pemilu dengan ditetapkannya UU No. 7 tahun 1953 Pemilu. Pemilu multipartai secara nasional disepakati dilaksanakan pada 29 September 1955 (untuk pemilhan parlemen) dan 15 Desember 1955 (untuk pemilihan anggota konstituante).
Pemilihan Umum Indonesia 1955 adalah pemilihan umum pertama di Indonesia dan diadakan pada tahun 1955. Pemilu ini sering dikatakan sebagai pemilu Indonesia yang paling demokratis. Pemilu tahun 1955 ini dilaksanakan saat keamanan negara masih kurang kondusif Pemilu ini bertujuan untuk memilih anggota-anggota DPR dan Konstituante. Pemilu pertama nasional di Indonesia ini dinilai berbagai kalangan sebagai proses politik yang mendekati kriteria demokratis, sebab selain jumlah parpol tidak dibatasi, berlangsung dengan langsung umum bebas rahasia (luber), serta mencerminkan pluralisme dan representativness.
Fragmentasi politik yang kuat berdampak kepada ketidakefektifan kinerja parlemen hasil pemilu 1955 dan pemerintahan yang dibentuknya. Parlemen baru ini tidak mampu memberikan terobosan bagi pembentukan pemerintahan yang kuat dan stabil, tetapi justru mengulangi kembali fenomena politik sebelumnya, yakni “gonta-ganti” pemerintahan dalam waktu yang relatif pendek.
Kebobrokan demokrasi liberal yang sedang diterapkan, dalam penilaian Soekarno, merupakan penyebab utama kekisruhan politik. Maka, yang paling mendesak untuk keluar dari krisis politik tersebut adalah “mengubur” demokrasi liberal yang dalam pandangannya tidak cocok untuk dipraktikkan di Indonesia.
Akhirnya, Soekarno menyatakan demokrasi parlementer tidak dapat digunakan untuk revolusi.
Pemilu 1955 tidak dilanjutkan sesuai jadwal pada lima tahun berikutnya, 1960. Hal ini dikarenakan pada 5 Juli 1959, dikeluarkan Dekrit Presiden yang membubarkan Konstituante dan pernyataan kembali ke UUD 1945 (Wasino, 2007).
Demokrasi Terpimpin
Demokrasi terpimpin selalu diasosiasikan dengan kepemimpinan Sukarno yang otoriter. Hal itu berawal dari gagalnya usaha untuk kembali ke UUD 1945 dengan melalui Konstituante dan rentetan peristiwa-peristiwa politik yang mencapai klimaksnya dalam bulan Juni 1959 yang akhirnya mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959. Dekrit itu dikeluarkan dalam suatu acara resmi di Istana Merdeka, mengumumkan Dekrit Presiden mengenai pembubaran Konstituante dan berlakunya kembali UUD 1945 dalam kerangka sebuah sistem demokrasi yakni Demokrasi Terpimpin.
Dekrit yang dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 5 Juli 1959 mendapatkan sambutan dari masyarakat Republik Indonesia yang pada waktu itu sangat menantikan kehidupan negara yang stabil. Namun kekuatan dekrit tersebut bukan hanya berasal dari sambutan yang hangat dari sebagian besar rakyat Indonesia, tetapi terletak dalam dukungan yang diberikan oleh unsur-unsur penting Negara lainnya, seperti Mahkamah Agung.
Demokrasi Terpimpin sebenarnya, terlepas dari pelaksanaannya yang dianggap otoriter, dapat dianggap sebagai suatu alat untuk mengatasi perpecahan yang muncul di dataran politik Indonesia dalam pertengahan tahun 1950-an.
Sampai dengan diberlakukannya kembali Undang-Undang Dasar 1945 pada bulan Juli 1959, Presiden Soekarno adalah pemegang inisiatif politik, terutama dengan
tindakan dan janji-janjinya yang langsung ditujukan kepada pembentukan kembali struktur konstitusional.
Demokrasi terpimpin dan gagasan presiden yang sehubungan dengan itu sudah menguasai komunikasi massa sejak pertengahan tahun 1958. Demokrasi Terpimpin masih menyisakan sejumlah partai untuk berkembang. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan Soekarno akan keseimbangan kekuatan yang labil dengan kalangan militer. Beberapa partai dapat dimanfaatkan oleh Soekarno untuk dijadikan sebagai penyeimbang.
Pada masa Demokrasi Terpimpin, parlemen sudah tidak mempunyai kekuatan yang nyata. Sementara itu partai-partai lainnya dihimpun oleh Soekarno dengan menggunakan suatu ikatan kerjasama yang didominasi oleh sebuah ideologi.
Dengan demikian partai-partai itu tidak dapat lagi menyuarakan gagasan dan keinginan kelompok-kelompok yang diwakilinya. Partai politik tidak mempunyai peran besar dalam pentas politik nasional dalam tahun-tahun awal Demokrasi Terpimpin.
Demokrasi terpimpin yang dianggapnya mengandung nilai-nilai asli Indonesia dan lebih baik dibandingkan dengan sistim ala Barat, ternyata dalam pelaksanaannya lebih mengarah kepada praktek pemerintahan yang otoriter.
Dewan Perwakilan Rakyat hasil pemilihan umum tahun 1955 yang didalamnya terdiri dari partai-partai pemenang pemilihan umum, dibubarkan. Beberapa partai yang dianggap terlibat dalam pemberontakan sepanjang tahun 1950an, seperti Masyumi dan PSI, juga dibubarkan dengan paksa.
Dalam penggambaran kiprah partai politik di percaturan politik nasional, maka ada satu partai yang pergerakan serta peranannya begitu dominan yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI). Hingga terjadi konflik yang kemudian mencapai puncaknya pada pertengahan bulan September tahun 1965.
Demokrasi Pancasila ala Orde Baru
Orde Baru identik dengan Pemerintahan Suharto. Hal itu dapat dipahami karena selama 32 tahun Suharto memimpin pemerintahan, tidak ada presiden lain selain dirinya. Pemerintahan Orde Baru tak terlepas dari peristiwa berdarah tahun
1965, G-30 S. Peristiwa ini memiliki dampak yang luar biasa dalam dalam kehidupan politik dan sosial di Indonesia, baik di tingkat nasional maupun tingka daerah.
Setelah Suharto berhasil memperoleh legitimasi berupa Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), maka ruang gerak tentara dalam bidang pertahanan keamanan dan kancah politik nasional semakin kuat. PKI dijadikan kambing hitam satu-satunya sebagai dalang Kudeta G-30 Sepetember, meskipun dalam banyak penyelidikan banyak aktor yang ikut bermain di dalamnya.
Pada bulan Desember 1966 sesungguhnya PKI telah dihancurkan sebagai kekuatan politik di Indonesia.
Dengan memegang Supersemar, Suharto berasumsi bahwa ia secara perlahanlahan akan memiliki kekuasaan eksekutif yang penuh. Sehubungan ddengan hal itu, maka nama rezimnya (Orde Baru) didasarkan pada peistiwa Supersemar tersebut. Setelah dua tahun memegang Supersemar, dengan hati-hati Suharto berhasil menyingkirkan Sukarno beserta para pendukung politiknya.
Konsepsi demokrasi Soeharto, rencana praksis politiknya, awalnya tidak cukup jelas. Ia lebih sering mengemukakan gagasan demokrasinya, yang kemudian disebutnya sebagai Demokrasi Pancasila, dalam konsep yang sangat abstrak. Pada dasarnya, konsep dasar Demokrasi Pancasila memiliki titik berangkat yang sama dengan konsep Demokrasi Terpimpin Soekarno, yakni suatu demokrasi asli Indonesia. Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang sesuai dengan tradisi dan
filsafat hidup masyarakat Indonesia. Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab, berdasarkan moral dan pemikiran sehat, berlandaskan pada suatu ideologi tunggal, yaitu Pancasila. Langkah politik awal yang dilakukan Soeharto untuk membuktikan bahwa irinya tidak anti demokrasi adalah dengan merespons penjadwalan pelaksanaan pemilihan umum (pemilu), sebagaimana dituntut oleh partai-partai politik.
Praktik demkrasi diktatorship yang diterapkan Soeharto mulai tergerus dan jatuh dalam krisis bersamaan dengan runtuhnya mitos ekonomi Orde Baru sebagai akibat terjadinya krisis moneter mulai 1997. Krisis moneter yang semakin parah
menjadikan porak porandanya ekonomi nasional yang ditandai dengan runtuhnya nilai mata uang rupiah, inflasi, tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), dan semakin besarnya pengangguran. Krisis ekonomi memacu berlangsungya aksi-aksi protes dikalangan mahasiswa menuntut Soeharto mundur
Demokrasi Pasca Orde Baru
Berakhirnya Orde Baru melahirkan kembali fragmentasi ideologi dalam masyarakat. Berbagai kelompok dengan latar belakang ideologi yang beranekaragam, mulai dari muslim radikal, sosialis, nasionalis, muncul dan bersaing untuk mendapatkan pengaruh politik. Sebelum pemilu multi partai 1999 diselenggarakan, berlangsung pertikaian di kalangan pro demokrasi soal bagaimana transisi demokrasi harus berjalan dan soal memposisikan elite-elite lama dalam proses transisi.
Beberapa kemajuan penting dalam arsitektur demokrasi yang dilakukan pemerintahan Habibie antara lain; adanya kebebasan pers, pembebasan para tahanan politik (tapol), kebebasan bagi pendirian partai-partai politik, kebijakan desentralisasi (otonomi daerah), amandemen konstitusi antara lain berupa pembatasan masa jabatan presiden maksimal dua periode, pencabutan beberapa UU politik yang represif dan tidak demokratis, dan netralitas birokrasi dan militer dari politik praktis. Kesuksesan dalam melangsungkan demokrasi prosedural ini merupakan prestasi yang mendapatkan pengakuan internasional, tetapi di lain pihak, transisi juga ditandai dengan meluasnya konflik kesukuan, agama, dan rasial yang terjadi di beberapa wilayah di tanah air sejak 1998.
Praktik berdemokrasi di Indonesia masa transisi mendapatkan pengakuan luas dari dunia internasional. Dalam indeks yang disusun oleh Freedom House tentang hak politik dan kebebasan sipil Indonesia sejak pemilu 1999 hingga masa konsolidasi demokrasi saat ini berhasil masuk dalam kategori “negara bebas”. Hal ini berbeda dengan kepolitikan masa Orde Baru yang dikategorikan sebagai dengan kebebasan yang sangat minimal (partly free).
Pada tahun 2004 diselenggarakan Pemilu kedua sebagai produk reformasi.
Dalam pemilu itu dipilih anggota DPR/DPRD. Selain itu juga dilakukan
pemilihan Presiden Secara langsung. Momentum pemilihan demikian memungkinkan rakyat menentukan hak pilihnya tanpa tekanan dari pihak manapun. Ketika itu berhasil dipilih presiden dan wakil presiden secara langsung dengan terpilihnya Susilo Bambang Yudoyono sebagai presiden dan Yusuf Kala sebagai wakil presiden. Pada tahun 2009 ini akan dilaksanakan Pemilihan Umum lagi. Pemilihan pertama akan dilakukan tanggal 9 April 2009 untuk memilih DPR/DPRD dan DPD. Setelah itu baru dilakukan pemilihan presiden secara langsung. Siapapun yang terpilih oleh rakyat itulah yang berhak atas kekuasaan di negeri ini, sebab hakekat demokrasi adalah menempatkan rakyat sebagai sumber kekuasaan mutlak.
Dalam konteks sejarah yang demikian inilah kemudian terlahir konsep civil liberties melengkapi parlemantarisme dalam usaha membangun demokrasi yang sesungguhnya. Dengan demikian, masalah demokrasi tidak lagi dipandang sebagai sekedar persoalan ada tidaknya (atau berfungsi tidaknya) parlemen namun juga ada tidaknya pengakuan terhadap hak-hak individu untuk ikut menentukan bagaimana kekuasaan itu dijalankan. Terdapat pergeseran yang sangat mendasar tentang bagaimana kemudian demokrasi itu dipraktekkan: dari orientasinya yang kuat kepada parlementarisme elit menuju parlementarisme populis dan pengakuan terhadap civil liberties. Mengikuti pandangan yang demikian itu, demokrasi diartikan tidak saja tersedianya parlemen, partai-partai politik berikut pemilihan umum yang adil dan jujur, namun juga pengakuan terhadap hak-hak individu, baik secara sendiri-sendiri maupun kelompok, untuk menyatakan pikiran dan pendapatnya.
Tumbuhnya tradisi berpartai dan berorganisasi politik, termasuk di dalamnya mendirikan organisasi-organisasi kepentingan dan pers bebas, sesungguhnya merupakan rangkaian peristiwa sejarah yang amat khusus. Tradisi itu jelas mengambil jalur yang berbeda dari tradisi parlementarisme awal sebagaimana digambarkan di muka tadi. Sementara parlementarisme digerakkan oleh kepentingan-kepentingan elit, khususnya pemilik tanah, modal dan golongan bangsawan, civil liberties lebih banyak dihasilkan oleh perjuangan kelompok yang tertindas dan kelompok-kelompok lainnya yang merasa terancam oleh kuatnya
praktek demokrasi elitis. Inilah apa yang oleh banyak para ahli sejarah dan ilmu- ilmu sosial dilihat sebagai sumbangan terpenting dari aliansi golongan kelas menengah dan bawah terhadap demokrasi moderen.
C. Faktor Penghambat Perkembangan Demokrasi
1. Masih kurang ditaatinya peraturan, perundangan tentang mengeluarkan pendapat dan berkumpul.
2. Kurangnya dilaksanakan dalam sikap dan tindakan yang lebih mengutamakan kepentingna nasional.
3. Proses demokrasi dengan partai yang sangat banyak dapat memungkinkan lambatnya proses politik.
4. Adanya ide-ide pemberontakan yang justru timbul pada saat situasi politik dan ekonomi lemah.
D. Faktor Pendukung Perkembangan Demokrasi
1. Komunikasi Politik, antara pemerintah (parpol) dan rakyat sebagai interaksi antara dua pihak yang menerapkan etika.
2. Kesadaran Politik, menyangkut pengetahuan, minat dan perhatian seseorang terhadap lingkungan masyarakat dan politik.
3. Pengetahuan Masyarakat terhadap Proses Pengambilan Keputusan.
Pengetahuan masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan akan menentukan corak dan arah suatu keputusan yang akan diambil.
4. Kontrol masyarakat terhadap kebijakan publik yakni masyarakat
menguasai kebijakan publik dan memiliki kewenangan untuk mengelola suatu obyek kebijakan tertentu
5. Kebebasan mengemukakan ekspresi politik, memberikan aspirasi atau masukan.
6. Kesatuan ruang dan semua benda, daya, keadaan, kondisi dan makhluk hidup, yang berlangsungnya berbagai kegiatan interaksi sosial antara berbagai kelompok beserta lembaganya.
BAB IV KESIMPULAN Kesimpulan
Ujicoba demokrasi dapat terjadi karena banyak faktor, salah satu faktor terpenting adalah pemahaman para elite tentang konsepsi demokrasi. Ada yang beranggapan bahwa demokrasi harus dijalankan menurut model parlementer, ada yang berpandangan menurut model presidensiil. Kedua konsepsi itu saling tarik- menarik yang hingga kini masih mencari bentuknya.
Pemahaman demokrasi dan praktek demokrasi juga diwarnai tarik-menarik antara budaya kepemimpinan lokal dengan budaya kepemimpinan trans nasional.
Budaya-budaya lokal yang telah memiliki akar kepemimpinan dan tata pemerintahan turut menentukan cara pandang pemimpin untuk aplikasi demokrasi. Demikian pula pengetahuan-pengetahuan demokrasi antar negara yang dimiliki oleh sejumlah pemimpin juga turut menentukan implementasi demokrasi di Indonesia. Itulah sebabnya ada istilah demokasi parlementer yang liberal, demokrasi terpimpin yang katanya ala Indonesia, dan demokrasi Pancasila ala Orba yang katanya sesuai roh Pancasila dan UUD 1945.
Sesungguhnya para elite harus kembali ke konsep awal. Apa pun pilihannya, yang terpenting harus menempatkan suara rakyat, kepentingan rakyat di atas segalagalanya. Sehingga dalam mengelola negara perhatian terhadap rakyat menjadi yang utama.
Jika sudah terpilih wakil rakyat dan presiden problem yang jauh lebih penting apakah mereka mampu mengemban amanat rakyat. Janji-janji kampanye apakah dapat direalisasikan. Jika tidak, maka di masa selanjutnya rakyat dapat mengalihkan suaranya kepada yang lain.
Saran
Demokrasi tidak menawarkan stabilitas politik yang memadai. Sebuah pemerintahan kerap berganti dalam proses demokrasi, juga membuat kebijakan yang kerap berganti pula dan berpengaruh baik secara domestik maupun internasional. Kalaupun sebuah partai politik dapat lama berkuasa, kecaman dari
media massa terkadang juga dapat membuat sebuah keputusan politik berubah drastis. Keputusan politik yang berubah dan berdampak kepada sektor bisnis dan imigrasi dapat memupus harapan investasi dan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Atas dasar itulah, maka akan lebih baik jika demokrasi diterapkan di negara berkembang maupun Negara maju dengan bnear-benar menerapkan demokrasi yang utuh dan dalam perjalanannya mengedepankan pertumbuhkan ekonomi dan pengurangan angka kemiskinan.
Kritik
Di antara sebagian besar elit politik berkembang keyakinan bahwa rakyat belum siap melakukan perubahan apalagi terhadap demokrasi yang berpola partisipatoris dan bottom-up. Kekerasan yang terjadi selama periode transisi ini sering dirujuk untuk memperkuat argumentasi semacam itu. Sedangkan di kalangan rakyat berkembang keyakinan yang melihat para elit politik lebih sibuk memikirkan kepentingan mereka sendiri daripada memikirkan nasib rakyat.
Ketidaksiapan masyarakat dilihat sebagai sebuah usaha mengalihkan persoalan yang sebenarnya. Bahkan di kalangan rakyat sendiri berkembang perasaan yang pada dasarnya sedang menuduh bahwa yang tidak siap untuk berdemokrasi adalah para elit politik. Keruwetan di sekitar Komite Pemilihan Umum (KPU) dan perdebatan di sekitar calon presiden dianggap sebagai contoh yang cukup memadai untuk menunjukkan bahwa para elit lah yang tidak siap menyonsong perubahan.