SUSTAINABLE MOBILITY PADA STASIUN
MRT DAN TERMINAL DI LEBAK BULUS,
JAKARTA SELATAN
Hendra Halim, Michael Tedja, Widya Katarina
Jurusan Arsitektur, Universitas Bina Nusantara, Jalan KH Syahdan No.9 Jakarta Barat 11480,021-5350660
ABSTRAK
Penggunaan transportasi umum di Indonesia, khususnya di Jakarta, sudah menjadi kebutuhan utama sebagian warga. Transportasi yang paling banyak diminati antara lain adalah kereta api, bis, taksi, ataupun angkutan umum, tergantung jarak dan kebutuhan pengguna. Akan tetapi, permasalahan transportasi masih banyak terjadi di Jakarta, mulai dari infrastruktur jalan, maupun kualitas pelayanan dan keamanan pengguna, yang menyebabkan kerugian bagi pemerintah dan warga Jakarta tidak hanya dari segi waktu dan materi, namun juga mengurangi kualitas udara yang ada di Jakarta. Maka dari itu dilakukan penelitian mengenai mobilitas berkelanjutan pada stasiun MRT dan terminal lebak bulus, pembangunan MRT dinilai bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas mobilitas pengguna sarana transportasi umum, mengurangi jumlah pemakaian kerndaraan pribadi dan juga memaksimalkan penggunaan energi rendah emisi untuk mereduksi polsi udara. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi landasan bagi para pakar transportasi untuk mengatasi masalah-masalah transportasi yang ada di Jakarta. (HH)
Kata kunci : trasportasi, berkelanjutan, stasiun MRT, terminal, angkuran umum, Jakarta
ABSTRACT
Public Transportation appears to be one of daily needs of Indonesian, especially Jakartans. The most preferable public transport in particular order are train, bus, taxi, angkot. Despite the high number of people using the public transport, the quality of the public transportaion in Jakarta is not really good. Several problems clearly spotted, such as bad infrastructure, or else the bad quality of the service and safety for the public transport user, which caused economy disadvantages for the government and the citizen, and also the air polution which decrease the air quality in Jakarta. therefore, a recearch about sustainable mobility in Jakarta especially Lebak Bulus is quite important, because sustainable transportation will increase the mobility, quality and quantity of public transport user in Jakarta and also decrease the number of private cars and air polution.hopefully this research is able to be the base to solve public transportation problems in Indonesia. (HH)
Keywords : transportation, sustainable, MRT station, bus station, public transportation, Jakarta
PENDAHULUAN
Sebagai ibukota Republik Indonesia, saat ini kota Jakarta sedang menuju ke arah kota Megapolitan, dimana Jakarta akan menjadi pusat segala aktivitas, baik itu aktivitas dalam sektor sosial-budaya, pendidikan, perekonomian dan keuangan maupun hiburan.
berusaha mencari solusi akan masalah yang ada. Pemerintah dan para ahli berusaha belajar mengenai suatu konsep transportasi yang telah berhasil di negara lain, seperti di Negara Curitiba. Negara tersebut memiliki sistem tranportasi yang cukup berhasil sehingga mempengaruhi perkembangan bidang lainnya, seperti komersial dan industri dan tata kotanya pun menjadi lebih baik dan teratur.
Konsep yang digunakan adalah sustainable transportation. Konsep ini telah banyak diterapkan di negara-negara maju maupun berkembang dan cukup berhasil menangani permasalahan transportasi. Hal inilah yang sedang dipelajari oleh pemerintah dan ahli transportasi di Indonesia mengenai keberhasilan penerapan konsep ini di negara luar. Meskipun secara umum konsep ini telah berhasil diterapkan di beberapa Negara, namun sampai saat ini definisi dari transportasi berkelanjutan atau sustainable transportation ini belum juga selesai dibahas oleh para ahli di dunia.
Saat ini pertumbuhan jalan di Jakarta kurang dari 1 persen per tahun dan setiap hari setidaknya ada 1000 lebih kendaraan bermotor baru turun ke jalan di Jakarta (Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta). Studi Japan International Corporation Agency (JICA) 2004 menyatakan bahwa bila tidak dilakukan perbaikan pada sistem transportasi, diperkirakan lalu lsintas Jakarta akan macet total pada 2020 (Study on Integrated Transportation Master Plan (SITRAMP II). Menurut sebuah studi, terdapat beberapa kerugian dari kemacetan yang sering terjadi antara lain :
• Kerugian ekonomi akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta berdasarkan hasil penelitian Yayasan Pelangi pada 2005 ditaksir Rp 12,8 triliun/tahun yang meliputi nilai waktu, biaya bahan bakar dan biaya kesehatan. Sementara berdasarkan SITRAMP II tahun 2004 menunjukan bahwa bila sampai 2020 tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sistem transportasi maka perkiraan kerugian ekonomi mencapai Rp 65 triliun/tahun.
• Polusi udara akibat kendaraan bermotor memberi kontribusi 80 persen dari polusi di Jakarta.
Gambar 1 Grafik peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta Sumber : Wikimedia, diakses tanggal 12 Maret 2014
Berdasarkan studi tersebut, maka jelas DKI Jakarta sangat membutuhkan angkutan massal yang lebih andal seperti MRT (Mass Rapid Transit) yang dapat menjadi alternatif solusi transportasi bagi masyarakat yang juga ramah lingkungan.
Pengertian
Judul penelitian yang dipilih oleh peneliti dapat dijabarkan dan didefinisikan sebagai berikut: Sustainable Mobility
Sustainable Mobility merupakan salah satu bentuk dari Sustainable Transportation, Sustainable Mobility menggambarkan bagaimana sistem transportasi suatu kota/kawasan dapat mempengaruhi keberlanjutan dari mobilitas para penggunana, untuk menciptakan mobilitas yang aman dan naman,serta berkelanjutan.
Bangunan
Adalah struktur buatan manusia yang terdiri atas dinding dan atap yang didirikan secara permanen disuatu tempat. Bangunan juga biasa disebut dengan rumah dan gedung, yaitu segala sarana, prasarana atau infrastruktur dalam kebudayaan atau kehidupan manusia dalam membangun peradabannya. Bangunan memiliki ragam bentuk, ukuran dan fungsi, serta telah emngalami penyesuaian sepanjang sejarah yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti bahan bangunan, kondisi cuaca, harga dan kondisi tanah dan alasan estetika.
Stasiun MRT
Adalah tempat menaikkan dan menurunkan penumpang yang menggunakan jasa Mass Rapid Transit ( MRT)
Terminal bus
Sebuah prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang perpindahan intra dan/atau antar moda transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum.
Adalah nama sebuah kota administrasi di bagian selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Jakarta Selatan adalah salah satu dari lima kota administrasi dan satu kabupaten administrasi DKI Jakarta. Disebelah utara berbatasan dengan Jakarta Barat, disebelah timur berbatasan dengan Jakarta Timur. Di sebelah selatan berbatasan dengan Kota Tangerang Selatan.
Penelitian ini menggunakan beberapa tinjauan umum yang berfungsi sebagai teori pendukung agar penelitian ini berhasil. Salah satu teori yang digunakan adalah tentang Sustainable Mobility dan Mass Rapid Transit.
Konsep sustainable mobility merupakan salah satu bentuk dari sustainable transportation, dimana penerapan faktor berkelanjutan, dirasa sangat penting untuk diterapkan dalam perencanaan transportasi (Litman dan Burwell, 2004). Dapat dikatakan bahwa transportasi berkelanjutan (sustainable transportation) merupakan refleksi pembangunan yang berkelanjutan dalam sektor transportasi. Ada beberapa faktor pemicu perlunya strategi transportasi berkelanjutan, yaitu :
a. Selama ini kebijakan pemerintah masih berorientasi pada pengembangan infrastruktur jalan; b. kurangnya kajian transportasi yang komprehensif;
c. pertumbuhan cepat dalam era ekonomi global lebih menuntut pelayanan transportasi yang lebih beragam baik kualitas maupun kuantitasnya;
d. kekhawatiran akan ancaman penurunan kualitas lingkungan.
Pada dasarnya, tidak terdapat satu pengertian utuh dan bersifat universal yang dapat mendefinisikan transportasi berkelanjutan (Janic, 2005:83). Bila dikaitkan dengan pengertian pembangunan berkelanjutan, konsep transportasi yang berkelanjutan pada dasarnya merupakan pengembangan perkotaan dan sistem transportasinya secara berkelanjutan dengan tidak merugikan generasi yang akan datang.
Center of Sustainable Transport di Kanada (CST, 1999) mendefenisikan transportasi berkelanjutan sebagai suatu sistem transportasi yang dapat : (a) menciptakan keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dengan ekosistem yang sehat; (b) terjangkau, beroperasi secara efisien, menawarkan berbagai pilihan moda transportasi dan mendukung pembangunan regional; (c) membatasi emisi dan pembuangan agar tidak melampaui kemampuan bumi dalam menyerapnya, meminimalisasi dampak penggunaan lahan dan polusi suara. Tujuan transportasi berkelanjutan berdasarkan definisi ini adalah untuk menjamin keterlibatan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan dalam merumuskan kebijakan dalam sektor transportasi.
Definisi transportasi berkelanjutan juga dikemukakan oleh Organization of Economic Cooperation and Development dan National Round Table on the Environment and the Economy (OECD,1996; NRTEE,1996) yang mendefinisikan keberlanjutan transportasi dalam 3 aspek yakni ; (a) lingkungan : transportasi yang tidak membahayakan kesehatan publik dan ekosistem serta menyediakan sarana mobilitas dengan memanfaatkan sumber daya yang dapat diperbaharui atau dengan kata lain transportasi yang tidak menimbulkan polusi air, udara dan tanah dan menghindari penggunaan sumberdaya yang berlebihan; (b) ekonomi : transportasi yang dapat menjamin pemenuhan biaya transportasi melalui pembebanan ongkos yang layak bagi masyarakat pengguna sarana transportasi dan dapat mewujudkan keadilan dalam sistem transportasi; (c) sosial : transportasi yang dapat meminimalisasi tingkat kebisingan, kecelakaan, waktu tempuh, kerugian akibat kemacetan, dan dapat meningkatkan keadilan sosial dan tingkat kesehatan dalam komunitas (transportasi yang dapat mendukung terwujudnya lingkungan sosial yang sehat, komunitas yang layak untuk didiami dan kaya akan modal sosial).
Berdasarkan definisi tersebut, OECD mengindikasikan bahwa tujuan dari transportasi berkelanjutan adalah menjamin ketersediaan akses, pelayanan, dan penyediaan sarana yang tidak menggunakan sumberdaya yang membahayakan lingkungan dan menjamin terwujudnya keadilan bagi masyarakat (OECD:1996).
Lee (Leslee Hamilton, 2002) mendefinisikan transportasi berkelanjutan ke dalam 5 prinsip yakni :
(a) Efisien dan seimbang dalam 3 aspek baik ekonomi, lingkungan dan sosial;
(b) Self sustain, konsumen sebagai benefator mampu membayar biaya pengoperasian dan pengembangan sektor transportasi;
(c) Mengembangkan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan; (d) Meminimalisasi penggunaan kendaraan bermotor;
(e) Meminimalisasi tingkat perjalanan; (f) Lebih ramah lingkungan.
mampu meminimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan, membatasi emisi dan buangan sesuai dengan kemampuan absorbsi alam, dan meminimalkan penggunaan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Keberlanjutan dalam aspek ekonomi berkaitan dengan keterjangkauan (akses) masyarakat terhadap transportasi, keefisienan dan ketersediaan moda transportasi bagi masyarakat. Sedangkan keberlanjutan dalam aspek sosial lebih ditekankan pada prinsip keamanan dan perwujudan komunitas yang sehat dan layak huni. Dengan kata lain, sustainable transport sebagai bagian dari sustainable development secara umum dikembangkan melalui tiga syarat, yaitu peningkatan kesejahteraanekonomi masyarakat (economy), meminimasi dampak pembangunan terhadap lingkungan hidup (environment), serta keberlanjutan sumber daya (equity).
METODE PENELITIAN
Tahapan penelitian yang akan dilakukan dalam analisa laporan ini adalah:
Pengumpulan data
Data primer – diperoleh melalui observasi langsung di lapangan. Data Primer meliputi: 1. Data volum kendaraan per-satuan waktu
2. Data volum pejalan kaki per-satuan waktu 3. Data volum kendaraan umum per-satuan waktu 4. Data rute angkutan umum keadaan sekarang 5. Data rute angkutan umum masa lalu 6. Data volum arus lalu lintas
Data Sekunder – data yang digunakan sebagain penunjang data primer,yaitu:
Data Tata Guna Lahan dari pemerintah untuk kawasan yang ditinjau, diperoleh dengan cara online.
Teknik Pengumpulan Data
Studi literatur, mencari data-data dalam studi mengenai Stasiun MRT dan terminal angkutan umum dari artikel, jurnal dan buku-buku agar memperkuat pembahasan tugas akhir dalam perancangan proyek Stasiun MRT dan Terminal angkutan umum di daerah Jakarta Selatan. Survey lapangan, melakukan pengamatan langsung dan menganalisa lokasi tapak dan lingkungan sekitarnya, untuk mendapatkan informasi – informasi.
HASIL DAN BAHASAN
Sebelum melakukan analisa simulasi intensitas cahaya dengan software Ecotect, penulis terlebih dahulu melakukan analisis terhadap manusia, lingkungan dan bangunan untuk menghasilkan gubahan massa bangunannya, sehingga sudah diketahui bentuk bangunan dan menentukan orientasi kamar-kamar hotelnya. Berikut adalah hasil gubahan massanya:
Gambar 2 Gubahan Massa Sumber: hasil olahan pribadi (2014)
Bentuk gubahan massa diperoleh juga berdasarkan hasil analisa terhadap keperluan penumpang atas armada angkutan umum yang ada dan juga moda transportasi yang digunakan, pembagian moda transportasi dibagi menjadi 4 yaitu MRT, angkutan perkotaan, bisa dalam kota, dan bis antar kota antar provinsi.
Langkah pertama analisa yang dilakukan adalah mendapatkan data tentang volum jumlah penumpang per satuan waktu pada range jam tertentu dan juga mendapatkan volum frekuensi kendaraan persatuan waktu. Maka didapatlah data-data sebagai berikut:
Hasil Analisis Pengunjung Terminal Lebak Bulus
Dari data tabel diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah terbesar pengunjung adalah 700orang/10menit.
Berkaca pada kesuksesan negara-negara tetangga, misalnya Singapura dalam hal transportasi masal, penggunaan sistem underpass akan sangat membantu terjadinya kesuksesan pada sustainable mobility karena underpass tidak hanya mencegah terjadinya crossing antara kendaraan umum dan pejalan kaki, namun juga membuat sistem pergantian kendaraan umum dan moda transportasi menjadi lebih terorganisir
Gambar 3 Akses Underpass yang terletak di bawah tanah bagi pejalan kaki. Sumber: hasil olahan pribadi (2014)
Bus AKAP : 196 kendaraan Trayek DKI : 563 kendaraan Trayek non-DKI : 244 kendaraan
Sedangkan untuk data jumlah penumpang yang masuk dan keluar terminal lebak bulus adalah sebagai berikut
1.Trayek dalam kota
Jumlah rata-rata penumpang masuk per-hari : 24.293 orang Jumlah rata-rata penumpang keluar per-hari : 41.074 orang 2.Trayek AKAP
Jumlah rata-rata penumpang masuk per-hari : 2.323 orang Jumlah rata-rata penumpang keluar per-hari : 1.536 orang
Keadaan yang berbeda ditunjukkan ketika penutupan Terminal Lebak Bulus dilakukan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta, dimana angkutan umum yang semula beroperasi di terminal lebak bulus, direlokasikan ke terminal kampung rambutan. Berikut adalah data observasi langsung yang dilakukan, mengenai frekuensi kendaraan umum yang beroperasi setelah relokasi terminal lebak bulus.
Gambar 3 Frekuensi kendaraan umum yang beroperasi diterminal lebak bulus pasca relokasi per-5 menit, dengan metode observasi lapangan.
Sumber: hasil olahan pribadi (2014)
Dengan asumsi durasi waktu kendaraan tiba-menurunkan menaikkan penumpang-pergi adalah ±10 menit, maka di dapatlah jumlah kendaraan per 10 menit, yaitu.
1.K03 : 6 unit 5. D01 : 14 unit 2.K14 : 4 unit 6. D02 : 12 unit 3.K08 : 6 unit 7. AC20 : 6 unit 4.K12 : 6 unit 8. AC86 : 8 unit
Data diatas dan dihubungkan dengan jumlah pengunjung pada peak hour yaitu jam 17.00-19.00 dengan frekuensi sebanyak 700orang/10menit. Dengan track parkir untuk angkutan umum dan bis kecil adalah 60m dan bus AKAP adalah 46m, maka didapat perhitungan sebagai berikut:
Gambar 4 Dimensi Bus AKAP Sumber : Data Arsitek AKAP = 32 orang x 4 bis/track = 128org/track
= 128 x 6 track = 768org
Gambar 4 Dimensi Bus AKAP Sumber : Google
Bis Kecil = 22 orang x 5 bis/track = 110org/track = 110 x 4 track = 440 org/10menit
Gambar 4 Dimensi Bus AKAP Sumber : Data Arsitek
Angkutan Umum = 10 orang x 10/track = 100org/track = 100 x 3 track = 300 org/10menit
Hasil Analisis Penghitungan Unit Moda Transportasi
Jadi, dari penghitungan diatas, didapat bahwa total sistem kendaraan umum pada terminal mampu menampung 1.124 orang setiap 10 menit, dimana sangat mampu menangkut volum penupang yang ada berdasarkan jumlah penumpang saat ini, diasumsikan setelah dibuka kembali, maka stasiun dan terminal Lebak Bulus akan mengalami penambahan volum pengunjung.
Hasil Analisa Manusia
Setelah dilakukan analisa, maka di dapat 3 golongan tamu terbesar pengguna terminal lebak bulus adalah warga sekitar, karyawan kantor yang berdomisili di TB Simatupang, dan pendatang baik dalam kota maupun luar kota. Pelaku pelaku kegiatan yang ada di stasiun MRT dan terminal lebak bulus ini pun beragam, misalnya pengguna MRT dan angkutan umum sebagai pelaku kegiatan utama, pengelola MRT sebagai orang yang bertugas di stasiun, staff kantor pengelola. Untuk mengusung konsep sustainability itu sendiri, maka jalur pedestrian dan angkutan umum dibuat berbeda level sehingga tidak akan terjadi crossing antara pejalan kaki dengan kendaraan bermotor.
Hasil Analisa Bangunan
Berdasarkan analisa bangunan pada bab 4, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan mengenai bangunan yang akan dibangun dalam tapak ini, mulai dari orientasi hingga zoning horizontal dan vertikal. Orientasi bangunan pada tapak ini akan dimaksimalkan ke arah jalanan utama yaitu disebelah utara, dikarenakan jalan utama tersebut merupakan jalan dengan arus datang terbesar sehingga dirasa sangat baik bila memaksimalkan ke arah utara sehingga menraik perhatian para pengguna jalan yang lewat. Selain itu, terminal dibuat dibagian belakang dan menempuh rute yang lebih panjang, untuk menghindari overload di jalan utama. karena fungsi dari bangunan itu sendiri nantinya adalah stasiun dan terminal, maka kebutuhuan view tidak terlalu di prioritaskan namun view terbaik berata di sebelah timur tapak karena terdapatnya beberapa point of interest seperti pusat perbelanjaan, perkantoran dan juga perumahan menengah keatas.
SIMPULAN DAN SARAN
Stasiun dan terminal ini lebih terorganisir sehingga kendaraan dapat jalan dan masuk tepat waktu yang mana juga akan meningkatkan mobilitas pengguna kendaraan umum itu sendiri.
Diharapkan pengembangan proyek MRT yang sedang dilakukan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta dapat meningkatkan mobilitas pengguna yang mana juga akan mengurangi pengguna kendaraan pribadi. Diharapkan juga proyek MRT dapat diikuti dengan feeder untuk tiap stasiun MRT yang mana akan sangat memudahkan para pengguna kendaraan umum.
REFERENSI
Aminah, S. (2010). Transportasi Publik dan Aksesibilitas Masyarakat Perkotaan. 1 (1)
Anonim. (2013). Mixed-use Development. Diakses 30 Maret 2014 dari http://www.blsstrategies.com/ Anyo, A. (2010). Sustainable Transportation. Diakses 12 Desember 2013 dari
http://ainiplanologi.blogspot.com Arisanto, D. (2011). Stasiun MRT Lebak Bulus.
Jaiswal, A. (2012). Bus Rapid Transit System: a Milestone for Sustainable Transport: a Case Study of Jammarg Brts, Ahmedabad, India. 4 (11)
Kassens, E. (2009). Sustainable Transportation : An International Perspective. 9 (1) Litman, T. (2009). Issues in Sustainable Transportation. 6 (4)
Sutanto, R. (2011). Pembenahan Transportasi Jakarta.
Wright, L. (2003). Transport Sourcebook for Policy-Makers in Developing Cities. Roßdor : TZ Verlagsgesellschaft mbH