• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

4 2.1 Kajian Teori

2.1.1 Pengertian Belajar

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 156) belajar adalah proses melibatkan manusia secara orang per orang sebagai satu kesatuan organisme sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, keterampilan dan sikap. Belajar juga merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subyek, yaitu siswa dan guru. Dari segi siswa belajar dialami sebagai suatu proses, yakni proses mental dalam menghadapi bahan belajar yang berupa keadaan, hewan, tumbuhan, manusia dan bahan yang telah terhimpun dalam buku pelajaran. Dari segi guru, proses belajar tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal.

Slameto (2010), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Berdasarkan kedua pandangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku di dalam diri manusia sebagai akibat dari hasil pengalaman dan latihan sehingga terjadi perubahan dalam hal pengetahuan, keterampilan dan sikap.

2.1.2 Hasil Belajar

Menurut Sudjana (2010: 22) hasil belajar adalah segala kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 3), hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil akhir yang merupakan bukti keberhasilan seseorang setelah mengalami proses/pengalaman belajar. Untuk mengukur bukti keberhasilan seseorang setelah

(2)

mangalami proses belajar digunakan alat penilaian yaitu tes evaluasi dengan hasil yang dinyatakan dalam bentuk nilai.

Cara untuk mencari hasil belajar dapat dicari dengan pengukuran. Pengukuran hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu dengan teknik tes dan non tes.

1. Teknik Tes

Adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan oleh orang yang dites, dan berdasarkan hasil menunaikan tugas-tugas tersebut, akan dapat ditarik kesimpulan tentang aspek tertentu pada orang tersebut. Tes sebagai alat ukur sangat banyak macamnya dan luas penggunaannya. Yang termasuk dalam teknik tes, yaitu :

a. Tes Pilihan Ganda (Multiple Choice)

Yaitu tes dengan soal yang harus dijawab oleh peserta didik dengan memilih jawaban yang tersedia.

b. Tes Tertulis

Yaitu tes yang soal-soalnya harus dijawab peserta didik dengan memberikan jawaban tertulis.

c. Tes Lisan

Yaitu tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dengan peserta didik.

d. Tes Perbuatan

Yaitu tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau unjuk kerja.

2. Teknik Non Tes

Teknik non tes dapat dilakukan dengan observasi baik secara langsung ataupun tak langsung, angket ataupun wawancara. Dapat pula dilakukan dengan Sosiometri. Teknik non tes digunakan sebagai pelengkap dan digunakan sebagai pertimbangan tambahan dalam pengambilan keputusan penentuan kualitas hasil belajar, teknik ini dapat bersifat lebih menyeluruh pada semua aspek kehidupan anak.

(3)

Menurut bentuknya tes hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua (2) yaitu:

1. Tes Objektif

Menurut Popham 1981 (dalam Purwanto 2011: 70) tes objektif adalah tes yang keseluruhan informasi yang diperlukan untuk menjawab tes telah tersedia.

Keunggulan tes obyektif adalah hanya mempunyai dua kemungkinan jawaban benar atau salah, sehingga penilaiannya bersifat obyektif.

2. Tes Essay

Nurkancana dan Sumartana 1986 (dalam Purwanto 2011: 70) menyebutkan bahwa tes essay adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban berupa uraian-uraian yang relatif panjang. Tes dirancang untuk mengukur hasil belajar di mana unsur-unsur yang diperlukan untuk menjawab soal dicari, diciptakan, dan disusun sendiri oleh siswa.

2.1.3 Pembelajaran Matematika di SD 2.1.3.1 Hakekat Pembelajaran Matematika

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. .

Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah

(4)

diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.

Menurut Badan Standart Nasional Pendidikan (2006) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar (SD) adalah untuk:

a. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah

b. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika

c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh

d. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah

e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.

(5)

Tabel 2.1 SK dan KD Matematika

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Geometri dan Pengukuran 6. Memahami sifat-

sifat bangun dan hubungan antar bangun

6.1 Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar 6.2 Mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang

6.3 Menentukan jaring-jaring berbagai bangun ruang sederhana 6.4 Menyelidiki sifat-sifat kesebangunan dan simetri

6.5 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan bangun datar dan bangun ruang sederhana

Sumber : Kurikulum 2006

2.1.4 Pendekatan Keterampilan Proses

Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa (Depdikbud)

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:139) pendekatan keterampilan proses adalah:

a. Wahana penemuan dan pengembangan fakta, konsep dan prinsip ilmu pengetahuan bagi diri siswa.

b. Fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan siswa berperan pula menunjang pengembangan keterampilan proses pada diri siswa.

c. Interaksi antara pengembangan keterampilan proses dengan fakta, konsep, serta prinsip ilmu pengetahuan, pada akhirnya akan mengembangkan sikap dan ilmuwan pada diri siswa.

Berdasarkan uraiaan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan peserta didik untuk menemukan fakta dan konsep maupun

(6)

pengembangan sikap dan nilai melalui keaktifan siswa (CBSA) sehingga mampu menumbuhkan sejumlah keterampilan tertentu pada diri siswa.

2.1.4.1 Pentingnya Pendekatan Keterampilan Proses

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 137) bahwa pendekatan keterampilan proses (PKP) perlu diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar berdasarkan hal-hal sebagai berikut:

a. Percepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi

Percepatan perubahan IPTEk, tidak memingkinkan bagi guru bertindak sebagai satu-satunya orang yang menyalurkan semua fakta dan teori-teori. Dalam hal ini perlu pengembangan keterampilan memperoleh dan memproses semua fakta, konsep, dan prinsip pada diri siswa.

b. Pengalaman intelektual emosional dan fisik dibutuhkan agar didapatkan agar hasil belajar yang optimal.

Ini berarti bahwa kegiatan pembelajaran yang mampu memberi kesempatan kepada siswa memperlihatkan unjuk-kerja melalui sejumlah keterampilan memproses semua fakta, konsep, dan prinsip sangat dibutuhkan.

c. Penanaman sikap dan nilai sebagai pengabdi pencarian abadi kebenaran ilmu.

Hal ini menuntut adanya pengenalan tentang tata cara pemrosesan dan pemerolehan kebenaran ilmu yang bersifat kesementaraan. Hal ini akan mengarahkan siswa pada kesadaran keterbatasan manusiawi dan keunggulan manusiawi, apabila dibandingkan dengan keterbatasan dan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.1.4.2 Bentuk dan Pelaksanaan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP)

Terdapat dua jenis keterampilan-keterampilan proses yang dikemukakan Mudjiono dan Dimyati (2006: 140), yaitu keterampilan-ketrampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keterampilan terintegrasi (integrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar itu meliputi mengobservasi, mangklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan-keterampilan terintegrasi mencakup

(7)

mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan keterhubungan antar variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian, dan melaksanakan eksperimen.

Mengingat sifat keterampilan itu bisa diintegrasikan satu sama lain sesuai dengan tingkat pengenalan guru terhadap karakteristik berbagai bidang studi dan kemampuan guru di dalam memahami jenis-jenis keterampilan tersebut, uraiaan berikut hanya akan menjelaskan paling tidak 8 (delapan) keterampilan yang secara minimal penting untuk dipelajari (Mudjiono dan Dimyati dalam Sumantri dan Permana 1998/1999: 114), yaitu :

a. Mengamati/observasi

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu keterampilan ilmiah yang paling mendasar dalam proses dan memperoleh ilmu pengetahuan serta merupakan hal terpenting untuk mengembangkan keterampilan proses yang lain (Funk 1985 dalam Dimiyati, 2006: 142).

Kegiatan mengamati dunia sekitar mengenai berbagai objek dan fenomena alam, dilakukan melalui panca indera, yaitu melalui penglihatan (misalnya, menentukan warna), pendengaran (misalnya, mendengarkan suara burung beo), perabaan (misalnya, merasakan kasar-halusnya suatu benda/objek), penciuman (misalnya, membedakan bau kencur dan bau jahe), dan pengecap/

rasa (misalnya, membedakan ras manis gula merah dan gula putih).

Melalui pengamatan yang dilakukan, baik yang sifatnya kualitatif (misalnya, menentukan warna, dan mendengar jenis musik) maupun yang sifatnya kuantitatif (misalnya, mengukur luas suatu ruangan), akan menghasilkan data dan informasi. Data atau informasi ini selanjutnya akan mendorong siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya, seperti mempertanyakan kembali, memikirkannya, menafsirkannya, menguraikannya dan meneliti lebih lanjut.

b. Mengklasifikasikan

Mengklasifikasikan merupakan keterampilan proses untuk memilah berbagai obyek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khsususnya. Sehingga didapatkan golongan atau kelompok sejenis dari obyek yang dimaksud (Dimyati, 2006: 142).

(8)

Contoh kegiatan yang menampakkan keterampilan mengklasifikasi adalah mengklasifikasikan makhluk hidup selain manusia menjadi dua kelompok:

binatang dan tumbuhan, mengklasifikasikan binatang menjadi binatang beranak dan bertelur, mengklasifikasikan cat berdasarkan warna, dan kegiatan lain yang sejenis.

Melalui keterampilan mengklasifikasi peserta didik diharapkan mampu membedakan, menggolongan segala sesuatu yang ada di sekitar mereka sehingga apa yang mereka lihat sehari-hari dapat menambah pengetahuan dasar mereka.

c. Mengkomunikasikan

Keterampilan “mengkomunikasikan” merupakan kemampuan dasar yang sangat penting untuk dimiliki peserta didik karena fungsinya yang vital bagi segala urusan yang kita lakukan dalam kehidupan ini. Siswa harus dilatih untuk dapat berkomunikasi secara efektif. Proses pengajaran amatlah terbuka bagi pelatihan keterampilan “mengkomunikasikan”, misalnya kebiasaan untuk mau bertanya dalam kegiatan belajar, berani berpendapat, mengekspresikan ide atau perasaan, memahami pembicaraan orang lain, mandapatkan fakta atau informasi, mendemonstrasikan suatu temuan ilmu pengetahuan, menuliskan suatu laporan, berdiskusi, membaca peta dan sebagainya.

Dari pernyataan di atas, dapat dikatakan bahwa mengkomunikasikan bukan berarti hanya melalui berbicara saja tetapi bisa juga dengan gambar, tulisan bahkan penampilan dan mungkin lebih baik dari pada berbicara.

d. Mengukur

Berapa jumlahnya? Berapa kurangnya? Berapa hasilnya? Berapa jauh jaraknya? Berapa panjang dan lebarnya suatu benda? Berapa literkah sebenarnya isi bak kamar mandimu? Pertanyaan-pertanyaan ini sering kita dengar atau kita ajukan dalam kehidupan sehari-hari, dan pertanyaan ini hendaklah dengan mudah untuk di jawab. Karena kemampuan “mengukur” sangatlah penting untuk dilatihkan kepada peserta didik melalui kegiatan belajar yang ditempuhnya. Di samping kegiatan yang menyangkut pengukuran ini sangat menarik bagi siswa, keterampilan ini akan sangat berarti (meaningful) bagi aktifitas belajar lainnya,

(9)

seperti untuk membandingkan, mengklasifikasikan, mengkomunikasikan, memprediksi, menyimpulkan, dan sebagainya.

e. Memprediksi

Memprediksi dapat diartikan sebagai mengantisipasi atau membuat ramalan tentang sesuatu hal yang akan terjadi di waktu mendatang, berdasarkan perkiraan pada pola atau kecendrungan tertentu, atau hubungan antara fakta dan konsep dalam ilmu pengetahuan" (Dimyati, 2006: 144).

Kegiatan-kegiatan yang dapat digolongkan sebagai keterampilan memprediksi antara lain: berdasarkan pola-pola waktu terbitnya matahari yang telah diobservasi dapat diprediksikan waktu terbitnya matahari pada tanggal tertentu, memprediksi waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tertentu dengan menggunakan kendaraan yang kecepatannya tertentu, dan kegiatan lain yang sejenis.

f. Menyimpulkan

Menyimpulkan dapat diartikan sebagai "suatu keterampilan untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep dan prinsip yang diketahui (Dimyati, 2006: 145).

Kegiatan yang menampakkan keterampilan menyimpulkan misalnya:

berdasarkan pengamatan diketahui bahwa lilin mati setelah ditutup dengan gelas rapat-rapat. Peserta didik dapat menyimpulkan bahwa lilin bisa menyala apabila ada oksigen. Kegiatan menyimpulkan dalam kegiatan belajar mengajar dilakukan sebagai pengembangan keterampilan siswa yang dimulai dari kegiatan observasi lapangan tentang apa yang ada di alam ini.

g. Merancang penelitian

Sejumlah ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemajuannya demikian pesat, sebenarnya bermula dari kegiatan-kegiatan penelitian yang dirancang sebelumnya. Perancangan suatu penelitian yang dilakukan dengan cermat dan penuh kesungguhan akan menghasilkan sesuatu yang berguna dan bermakna bagi kehidupan ini. Hasil-hasil penelitian ini tidak mustahil akan berkaitan dengan persoalan rekonstruksi ilmu pengetahuan yang telah ada, sekaligus menjadi dasar bagi kehidupan umat manusia. Kemampuan merancang suatu penelitian

(10)

hendaknya diperkenalkan dan dilatihkan kepada siswa sedini mungkin sesuai dengan tingkat perkembangannya.

h. Bereksperimen

Sering suatu bentuk eksperimen dilakukan seseorang tanpa ia menyadarinya. Misalnya, seorang anak “bermain” dengan alat mainannya. Ia membongkar dan memasangkan kembali alat mainannya itu. Contoh lain, seorang anak yang nampak senang mengamati jenis binatang tertentu yang ia temukan dalam pengalaman pulang dari sekolahnya. Kegiatan-kegiatan seperti ini sebaiknya lebih diarahkan guru menjadi suatu bentuk eksperimen yang dihubungkan dengan masalah pengujian hipotesis. Bereksperimen bagi siswa, berarti mereka terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat ilmiah dan kegiatan-kegiatan pemecahan masalah.

Menurut Sumantri dan Permana (1989: 119), Implementasi keterampilan- keterampilan di atas dalam suatu proses pengajaran dapat dikembangkan secara terpadu, yakni antara satu keterampilan dengan keterampilan lainnya sekaligus terejawantahkan.

Namun demikian, seorang guru dapat pula memberikan perhatian secara khusus terhadap satu jenis keterampilan yang dikembangkan, meskipun pada kenyataannya tidak akan pernah lepas dari keterkaitannya dengan pengembangan keterampilan yang lain.

Keterampilan-ketrampilan tertentu dipandang belum memadai untuk diimplementasikan pada siswa yang duduk di kelas rendah (kelas I sampai III), seperti keterampilan merancang penelitian dan keterampilan bereksperimen yang keduanya termasuk kedalam kelompok keterampilan terintegrasi. Dengan kata lain untuk ketrampilan mengamati, mengklasifikasi, mengkomunikasikan, mengukur, memprediksi, dan menyimpulkan, dapat dikembangkan mulai dari kelas I hingga kelas VI. Meskipun demikian, untuk kedua jenis keterampilan merancang penelitian dan bereksperimen, tidak menutup kemungkinan untuk diperkenalkan pada kelas rendah sehingga bentuk implementasinya menjadi lebih sederhana sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Menurut Mudjiono dan Dimyati (2006), untuk dapat menerapkan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan dan memperhatikan karakteristik siswa dan karakteristik mata pelajaran/bidang studi. Guru

(11)

juga perlu menyadari bahwa dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat terjadi pengembangan lebih dari satu macam keterampilan proses.

2.1.4.3 Langkah-Langkah Melaksanakan Keterampilan Proses

Untuk dapat melaksanakan kegiatan keterampilan proses dalam pembelajaran guru harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pendahuluan atau pemanasan

Tujuan dilakukan kegiatan ini adalah mengarahkan peserta didik pada pokok permasalahan agar mereka siap, baik mental emosional maupun fisik.

Kegiatan pendahuluan atau pemanasan tersebut berupa:

a. Pengulasan atau pengumpulan bahan yang pernah dialami peserta didik yang ada hubungannya dengan bahan yang akan diajarkan.

b. Kegiatan menggugah dan mengarahkan perhatian perserta didik dengan mengajukan pertanyaan, pendapat dan saran, menunjukkan gambar atau benda lain yang berhubungan dengan materi yang akan diberikan.

2. Pelaksanaan proses belajar megajar atau bagian inti

Dalam kegiatan proses pembelajaran suatu materi, seperti yang dikemukakan di depan hendaknya selalu mengikut sertakan secara aktif siswa, sehingga dapat mengembangkan kemampuan proses berupa mengamati, mengklasifikasi, menginteraksikan, meramalkan, mengaplikasikan konsep, merencanakan dan melaksanakan penelitian serta mengkunikasikan hasil perolehannya yang pada dasarnya telah ada pada diri peserta didik.

Sedangkan menurut Djamarah (2002: 92) kegiatan-kegiatan yang tergolong dalam langkah-langkah proses belajar mengajar atau bagian inti yang bercirikan keterampilan proses, meliputi :

a. Menjelaskan bahan pelajaran yang diikuti peragakan, demonstrasi, gambar, model, bagan yang sesuai dengan keperluan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kemampuan mengamati dengan cepat, cermat dan tepat.

(12)

b. Merumuskan hasil pengamatan dengan merinci, mengelompokkan atau mengklasifikasikan materi pelajaran yang diserap dari kegiatan pengamatan terhadap bahan pelajaran tersebut.

c. Menafsirkan hasil pengelompokkan itu dengan menunjukkan sifat, hal dan peristiwa atau gejala yang terkandung pada tiap-tiap kelompok.

d. Meramalkan sebab akibat kejadian perihal atau peristiwa lain yang mungkin terjadi di waktu lain atau mendapat suatu perlakuan yang berbeda.

e. Menerapkan pengetahuan keterampilan sikap yang ditentukan atau diperoleh dari kegiatan sebelumnya pada keadaan atau peristiwa yang baru atau berbeda.

f. Merencanakan penelitian umpamanya mengadakan percobaan sehubungan dengan masalah yang belum terselesaikan.

g. Mengkomunikasikan hasil kegiatan pada orang lain dengan diskusi, ceramah mengarang dan lain-lain.

3. Penutup

Setelah melaksanakan proses belajar tersebut, hendaknya sebagai seorang pendidik harus;

a. Mengkaji ulang kegiatan yang telah dilaksanakan serta merumuskan hasil yang telah diperolehnya

b. Mengadakan tes akhir c. Memberikan tugas-tugas lain

2.1.5 Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Matematika

Menurut Aisyah (2007), pendekatan keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar paling sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka menghadapi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dewasa ini. Dalam pembelajaran matematikapun,

(13)

pendekatan keterampilan proses ini sangat cocok digunakan. Struktur matematika yang berpola deduktif diangap memerlukan proses kreatif yang induktif. Untuk sampai pada suatu kesimpulan, kadang-kadang dapat digunakan pengamatan, pengukuran, intuisi, imajinasi, penerkaan, observsi, induksi bahkan mungkin dengan mencoba-coba. Pemikiran yang demikian bukanlah kontradiksi, karena banyak objek matematika yang dikembangkan secara intuitif dan induktif.

Pendekatan keterampilan proses akan efektif jika sesuai dengan kesiapan intelektual. Oleh karena itu, pendekatan keterampilan proses harus tersusun menurut urutan yang logis sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Misalnya sebelum melaksanakan penelitian, siswa terlebih dahulu harus mengobservasi dan mengamati dan membuat hipotesis. Alasannya agar siswa dapat menciptakan kembali konsep-konsep yang ada dalam pikiran dan mampu mengorganisasikannya. Dengan demikian, keberhasilan anak dalam belajar matematika menggunakan pendekatan keterampilan proses adalah suatu perubahan tingkah laku dari seorang anak yang belum paham terhadap permasalahan matematika yang sedang dipelajari sehingga menjadi paham dan mengerti permasalahannya.

Pada prinsipnya pendekatan keterampilan proses sangat di warnai dengan prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan pembelajaran kontekstual dalam memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan mengkonstruksi sendiri pemahaman mereka tentang ide dan konsep matematika melalui serangkaian kegiatan pemecahan masalah.

2.2 Kajian Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Ruti Hapsari, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Satya Wacana dengan penelitian yang berjudul

“PENGARUH PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES TERHADAP HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS V SDN KALIGUWO 01 WONOSOBO 2010/2011”, menunjukkan bahwa hasil belajar kelompok eksperimen yang menggunakan pendekatan keterampilan proses hasilnya lebih baik dari pada kelompok kontrol yang menggunakan pendekatan keterampilan konvensional dalam pembelajaran.

Dengan hasil t-tes hasil t-hitung menunjukkan -6,078 dengan P value 0.000 < 0,05 (α),

(14)

artinya mean menggunakan pedekatan konvensional berbeda dengan mean setelah mengunakan keterampilan proses. Setelah kelompok kontrol mendapat perlakuan ternyata nilai rata-rata hasil belajar 63,10 dan nilai rata-rata kelompok eksperimen adalah 75,70, jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh pendekatan keterampilan proses terhadap hasil belajar.

Penelitian yang dilakukan oleh Surya Eka Setiawan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Satya Wacana dengan penelitian yang berjudul

“PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DALAM PENGAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V SD NEGERI 2 MOJOTENGAH KECAMATAN KEDU KABUPATEN TEMANGGUNG”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas V SD Negeri 2 Mojotengah Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung melalui 2 siklus. Pada siklus I hasil belajar yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terjadi peningkatan hasil belajar sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan yaitu 60. Dari siswa berjumlah 25 anak, sebelum diadakan penelitian/tindakan, siswa yang mengalami ketuntasan hanya 9 siswa, sedangkan yang belum tuntas berjumlah 16 siswa. Setelah diadakan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan keterampilan proses pada siklus I, siswa tuntas dalam belajar berjumlah 18 siswa, yang belum tuntas 7 siswa dengan nilai rata-rata 66,80. Pada siklus II siswa tuntas dalam belajar berjumlah 25 anak dengan nilai rata-rata 82,76.

Penelitian-penelitian tersebut di atas walaupun berbeda akan tetapi masih berhubungan dengan penelitian ini. Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada mata pelajaran yang diampu dan tempat penelitian yang dilaksanakan. Penelitian ini dilakukan pada mata pelajaran matematika dan populasi yang berbeda yaitu siswa SD Negeri Mangunsari 01 Salatiga tahun ajaran 2011/2012.

Penelitian ini juga terdapat perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Surya Eka Setiawan tentang jenis penelitian yang dilakukan. Jenis penelitian yang digunakan oleh Surya Eka Setiawan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas sedangkan penelitian yang peneliti lakukan menggunakan jenis penelitian Eksperimen

(15)

2.3 Kerangka Berpikir

Sesuai dengan hasil observsi yang dilakukan oleh peneliti, ternyata guru masih menerapkan pembelajaran konvensional dalam mengajar matematika. Guru adalah sebagai pusat belajar. Guru menjadi sangat aktif dan siswa hanya menjadi penonton dalam kegitan pembelajaran. Hal ini membuat siswa tidak semangat dalam mengikuti pembelajaran sehingga membuat hasil belajar mereka menjadi kurang baik.

Dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan pembelajaran diharapkan dapat membangkitkan semangat belajar dan membuat siswa aktif dan kreatif dalam pembelajaran, sehingga membuat hasil belajar mereka menjadi lebih baik.

(16)

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian teoritik di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : “Penggunaan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar secara positif dan signifikan siswa kelas V SDN Mangunsari 01 Salatiga tahun ajaran 2011/2012”.

Kelas Kontrol

Pre Test

Pembelajaran menggunakan

Pendekatan Konvensional

Post Test

Hasil pre test tidak boleh ada perbedaan yang

signifikan

Uji beda hasil posttest apakah ada pengaruh yang

positif dan signifikan dengan

penggunaan Pendekatan Keterampilan

Proses

Kelas Eksperimen

Pre Test

Pembelajaran menggunakan Pendekatan Keterampilan Proses

Post Test

Gambar

Tabel 2.1 SK dan KD Matematika
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

3. Masak di atas api sedang sampai mendidih. Jika sudah dingin lepaskan agar-agar dari cetakan. Jika sudah mendidih, tuangkan ke dalam cetakan. Tambahkan gula pasir sesuai

Pada penelitian ini, peneliti ingin meneliti 4 faktor yang mempengaruhi perilaku audit disfungsional yaitu kompleksitas tugas, time budget pressure , client importance , dan

Sedangkan perencanaan untuk dua jalan diusulkan dibuat pada jalur persimpangan dari arah Timur dan Selatan yang menuju Stasiun Kereta Api Tawang Semarang, yaitu antara daerah Genuk

Penerapan Surat Edaran No.15/40/DKMP 2013 yaitu penerapan prinsip kehati-hatian dalam memberikan fasilitas KPR iB jika properti yang dijadikan agunan belum

Taksonomi dapat diartikan sebagai pengelompokan suatu hal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Di mana taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum dan

Pengaruh suhu dan waktu pencampuran batubara, minyak residu dan minyak tanah dapat mengurangi kadar air yang terkandung dalam batubara peringkat rendah dengan proses

Maka dengan dasar ini penyusun telah selesai menyusun skripsi dengan judul “Analisis kegagalan latihan keadaan darurat di MV Federal Kibune pada saat port state

Informasi aset dalam laporan neraca menggambarkan kondisi kekayaan dan potensi ekonomi yang dimiliki pemerintah daerah, sehingga dari informasi