• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia dalam menjalankan proses kehidupan di dunia pasti memiliki kebutuhan.

Untuk memenuhi kebutuhan, manusia perlu melakukan sebuah aktivitas yang dilakukan secara terus-menerus demi kelangsungan hidupnya yaitu dengan bekerja. Menurut B. Renita (2006:

125) menjelaskan bahwa bekerja merupakan upaya mensejahterakan diri, keluarga dan masyarakat untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan sehingga perlu komitmen hidup yang harus dipertanggungjawabkan. Kata yang erat kaitannya dengan bekerja yaitu profesi. Mengenai profesi, Prayitno dan Erman Amti (2008: 338) mengemukakan bahwa,

“Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya.

Artinya, pekerjaan yang disebut profesi itu tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan itu”. Sehingga dapat dipahami bahwa bekerja merupakan suatu keharusan bagi setiap individu untuk dapat melangsungkan kehidupannya, untuk dapat bekerja setiap individu juga harus mengenyam pendidikan demi memiliki keterampilan khusus sesuai bidang yang ditekuni.

Kegiatan mencari pekerjaan pada awal tahun 2000-an hingga sekarang menjadi sangat

kompetitif. Berbeda dengan mencari pekerjaan di 40-50 tahun sebelumnya. Di tahun tersebut

mencari pekerjaan cenderung lebih mudah, hanya dengan memiliki tekad dan keberanian serta

melanjutkan pekerjaan orang tua masih bisa dilakukan. (Winkel & Hastuti, 2004: 115). Namun

dewasa ini, untuk mendapatkan pekerjaan haruslah memiliki kualifikasi dengan sertifikat,

inovatif, memiliki minimal standar pendidikan, pengalaman kerja, dan memiliki keterampilan

khusus sehingga setiap individu memerlukan kerangka berpikir yang baik terhadap melanjutkan

studi atau langsung bekerja setelah lulus SMP/ SMA. Hal itu sesuai dengan data dari Badan

Pusat Statistik Indonesia (2015: 6) tentang Kebutuhan Data Ketenagakerjaan untuk

Pembangunan Berkelanjutan dijelaskan bahwa pada Agustus 2014, dari 121,9 juta angkatan

kerja sekitar 7,2 juta orang diantaranya masih dalam posisi menganggur (belum tertampung oleh

pasar kerja). Hasil pengolahan data Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa jumlah pekerjaan

(2)

di Indonesia pada tahun yang sama sekitar 114.628.026 pekerjaan yang terdiri dari: Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan, Pertambangan dan Penggalian, Industri, Listrik, Gas dan Air, Konstruksi, Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi, Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi, Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan dan Jasa Perusahaan, Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan, lainnya. (Badan Pusat Statistik Sakernas 2004-2014 Tentang Lapangan Pekerjaan Utama, 2015: 9). Mengingat bahwa sensus dilakukan setiap 10 tahun sekali sehingga data tersebut dapat dikatakan masih relevan.

Berbagai faktor yang mempengaruhi ketidakmampuan angkatan kerja ketika bersaing dalam dunia kerja, antara lain: kurangnya relasi dan informasi pekerjaan, pembuatan CV (curriculum vitae) yang kurang menarik, gagal interview, mudah putus asa, pribadi kurang menarik dan kurang pengalaman.

Pemerintah dalam hal ini juga ikut andil, ditegaskan juga dalam laman resmi Liputan 6 bisnis, Rabu (29/5/2013) menyatakan :

“Kesempatan kerja di Indonesia masih terbuka namun sangat kompetitif. Oleh karena itu para sarjana harus melengkapi kemampuannya dengan kompetensi kerja sehingga bisa dengan mudah menentukan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat dan keinginannya," kata Muhaimin dalam keterangan tertulisnya.

Pada sudut pandang di atas terlihat tingkat kompleksitas jika bekerja pada suatu instansi. Namun pada dasarnya setiap individu mampu mandiri dengan berwirausaha. Berikut berita yang dimuat pada SindoNews Senin (15/12/2015) menyebutkan:

“Bisnis kuliner yang berkembang pesat di Tanah Air membuka peluang usaha menjanjikan bagi siapapun yang ingin berwirausaha. Tak terkecuali mereka yang baru lulus dari bangku kuliah. Hal inilah yang dilakukan Adam Amrullah, pemuda asal Kota Yogyakarta. Sejak lulus kuliah Adam sudah mulai merintis usaha. Lulusan Akuntansi UGM 2013 ini membangun usaha kuliner dengan bahan dasar utama kacang merah untuk produknya.

"Awalnya saya jualan es cream saat masih ramai Sunmor UGM tiap hari minggu. Dengan modal awal 50 juta dari sebuah kompetisi. Sekarang ada dua tempat, dan produk kami tetap bahan dasarnya kacang merah, tak hanya minuman, seperti aneka es cream, tapi juga makanan. Kala itu cukup banyak yang suka. Kalau omzet sebulan dari dua tempat itu sekitar Rp90-100 juta.”

Berdasarkan informasi di atas, dapat diketahui bahwa setiap individu memiliki pilihan

untuk melanjutkan studi maupun berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) dengan berwirausaha

karena keduanya menjanjikan kesuksesan jika dilakukan dengan niat, usaha keras dan doa.

(3)

Berdasarkan hasil studi pendahuluan penulis di SMP Negeri 1 Banyudono dengan instrumen angket dan wawancara kepada peserta didik dan konselor sekolah, diketahui data sebagai berikut : 1. Tingkat kebutuhan peserta didik terhadap perencanaan karier yaitu 64,75% (sangat membutuhkan), 35,24% (membutuhkan), dan 0% (tidak membutuhkan maupun sangat tidak membutuhkan); 2. Tingkat minat peserta didik terhadap alat bantu layanan yang dikembangkan oleh peneliti yaitu 26,87% (sangat berminat), 60,35% (berminat), 11,89% (tidak berminat), dan 0,88% (sangat tidak berminat); 3. Tingkat kebutuhan konselor sekolah/ guru BK terhadap media layanan tentang karier yaitu 33,33% (sangat membutuhkan), 66,66% (membutuhkan), dan 0%

(tidak membuthkan maupun sangat tidak membutuhkan); 4. Tingkat minat penggunaan produk peneliti yaitu 66,66% (sangat berminat), 33,33% (berminat), dan 0% (tidak berminat maupun sangat tidak berminat). Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa peserta didik dapat dikatakan membutuhkan bahkan sangat membutuhkan perencanaan karier yang selaras dengan keberminatan peserta didik terhadap produk yang dikembangkan peneliti. Hal ini juga diperkuat lagi dengan informasi guru BK jika dibutuhkan media layanan dan berminat dengan produk yang dikembangkan peneliti. Untuk dapat memiliki standar pendidikan yang tinggi, berpengalaman, memiliki keterampilan khusus, dan memiliki relasi atau informasi tentang dunia kerja maka diperlukannya pemahaman yang mantap tentang karier dengan tujuan peserta didik memiliki gambaran dirinya di masa yang akan datang serta untuk lebih jauh dapat meminimalkan angka pengangguran. Pemahaman yang mantap tentang karier di awali dengan mengenal kemampuan maupun kepribadian diri sendiri, mengenal berbagai jenis pekerjaan kemudian merencanakan karier.

Sebuah perencanaan karier pada anak dapat dilakukan jika mereka pada usia yang sudah

mulai menyadari akan tanggung jawab, mandiri maupun memikirkan masa depan. Menurut

Kemendikbud (2013: 12) menjelaskan bahwa tugas perkembangan peserta didik Sekolah

Menengah Pertama (SMP) dianggap memasuki usia mulai mandiri dengan mengekspresikan

ragam pekerjaan, pendidikan dan aktivitas dalam kaitan kemampuan diri, menyadari keragaman

nilai dan persyaratan serta aktivitas yang menuntut pemenuhan kemampuan tertentu, dan

mengidentifikasi ragam alternatif pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas yang mengandung

relevansi dengan kemampuan diri.

(4)

Selain itu, perencanaan karier pada anak dapat dilakukan oleh tenaga kependidikan dalam lingkup sekolah yaitu konselor sekolah. Konselor sekolah memiliki kompetensi beberapa diantaranya yaitu membantu peserta didik mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal termasuk aspek karier. Konselor sekolah juga berperan penting dalam membantu menyalurkan bakat, minat dan potensi peserta didik sesuai dengan profesi yang akan dipilih.

Sejalan dengan uraian di atas, Syamsu Yusuf (2009: 38) menjelaskan bahwa konselor sekolah bertugas membantu peserta didik memahami diri dan lingkungan, mampu mengembangkan dirinya secara optimal, dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal senada pada Peraturan Pemerintah No 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah semakin memantapkan posisi Bimbingan dan Konseling pada jenjang pendidikan serta diterapkannya Pola Bimbingan dan Konseling Komprehensif sebagaimana diisyaratkan pada pasal 6 ayat 1 yang menyebutkan bahwa: “Komponen layanan Bimbingan dan Konseling memiliki 4 (empat) program yang mencakup: (a) layanan dasar; (b) layanan peminatan dan perencanaan individual; (c) layanan responsif; dan (d) layanan dukungan sistem”.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa tepat jika tugas dan peran konselor sekolah untuk membantu peserta didik berkembang secara optimal dengan memiliki kompetensi dan keterampilan khusus pada aspek perencanaan karier yang tidak dimiliki oleh tenaga pendidik lain.

Aktivitas yang dapat dilakukan oleh konselor sekolah dengan memberikan layanan perencanaan karier sesuai dengan bakat, minat, dan potensi peserta didik terhadap kariernya sebagai langkah pencegahan. Konten dari perencanaan karier antara lain: alur pemilihan karier, pemilihan studi lanjut dan bekerja, tingkatan yang harus ditempuh, dan kualifikasi profesi yang harus dimiliki. Selain itu, konselor sekolah dapat menggabungkan metode penyampaian layanan, seperti gabungan antara tanya jawab, ceramah, dan diskusi. Jenis layanan yang dirasa tepat dengan perpaduan metode penyampaian di atas yaitu bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok dianggap mampu meningkatkan kesadaran peserta didik untuk merencanakan karier dengan dinamika-dinamika kelompok yang terjadi. Apabila ada peserta didik yang kebingungan bisa dibantu oleh temannya yang lebih paham atau bisa juga bertanya melalui koordinator tiap kelompok yang memberikan arahan. Teknik bimbingan kelompok yang digunakan yaitu teknik permainan simulasi. Permainan tentunya menjadi kegemaran dan dapat diterima di segala usia.

Jenis permainan yang dipilih pun sebaiknya dapat dimainkan di segala usia pula seperti

(5)

monopoli. Selanjutnya konsep permainan simulasi digabungkan dengan kebutuhan karier pada peserta didik sehingga menjadi media layanan dengan judul monopoli karier.

Produk permainan simulasi dibuat untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dalam merencanakan karier mereka dengan jalan simulasi. Konten pada media layanan ini terdiri dari papan permainan simulasi yang dikemas dalam bentuk koper, tantangan dari setiap profesi dengan pilihan tantangan bicara (secara kognitif) dan tantangan gaya (secara afektif dan psikomotor) agar memberi pengetahuan akan profesi tersebut, sertifikat profesi yang memberikan gambaran alur jenjang yang perlu ditempuh dan gaji yang diterima, dana umum dan kesempatan sebagai wujud ketidak tentuan dalam hidup, dadu dan pengocok, bidak-bidak serta buku petunjuk permainan simulasi. Melalui layanan bimbingan kelompok teknik permainan simulasi diharapkan dapat meningkatkan perencanaan karier pada peserta didik dan tentunya akan berimbas pada kejelasan gambaran dirinya di masa yang akan datang dan lebih jauh dapat menurunkan tingkat pengangguran di Indonesia.

Penggunaan variabel perencanaan karier dan layanan bimbingan kelompok teknik

simulai sebenarnya sudah ada peneliti yang menggunakan. Berdasarkan hasil penelusuran pada

laman digilib.uns.ac.id, terdapat dua peneliti yang sudah menggunakan variabel perencanaan

karier dan lima peneliti yang sudah menggunakan variabel permainan simulasi. Namun dari

semua peneliti tersebut tidak ada yang menggunakan metode penelitian dan pengembangan

sehingga tidak adanya produk yang dihasilkan dari penelitian sebelumnya. Selain itu, sebagai

penguat data, konselor sekolah di SMP Negeri 1 Banyudono ketika diwawancarai oleh penulis

tentang penggunaan media layanan untuk karier dan program-program yang berkaitan dengan

bidang karier, beliau menuturkan bahwa sekolah sudah memberikan layanan karier berdasarkan

buku LKS BK saja. Maka dari itu, penulis melakukan sebuah inovasi yang belum pernah

dilakukan yaitu melakukan penelitian yang menggunakan perencanaan karier sebagai variabel

terikat dan teknik permainan simulasi melalui monopoli sebagai variabel bebas dengan metode

penelitian dan pengembangan (Research & Development). Produk yang dihasilkan berupa satu

set permainan simulasi beserta buku petunjuk permainan simulasi, dipilih buku petunjuk karena

memang belum ada yang sama dengan yang dibuat penulis. Buku petunjuk tersebut berisikan

kata pengantar, dasar pemikiran, tahap-tahap permainan simulasi, aturan bermain, cara bermain

dan keterangan pada komponen-komponen permainan simulasi yang disertai gambar.

(6)

Berdasarkan latar belakang dan fenomena yang ada, maka penulis akan melaksanakan penelitian dengan judul “PENGEMBANGAN PERMAINAN SIMULASI UNTUK MENINGKATKAN PERENCANAAN KARIER PADA PESERTA DIDIK KELAS VII SMP NEGERI 1 BANYUDONO”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :

1. Kurangnya kesadaran bagi peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk merencanakan karier berdasarkan wawancara dengan guru BK

2. Tingginya presentase peserta didik yang berminat dan membutuhkan sebuah media layanan yang membantu dirinya memperjelas gambaran masa depan berdasarkan angket analisis kebutuhan

3. Kurangnya pemahaman terhadap profesi yang akan dipilih oleh peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP) berdasarkan wawancara dengan guru BK

4. Tingginya angka pengangguran akibat kesenjangan antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah peluang kerja berdasarkan data Badan Pusat Statistik

5. Masih sedikitnya penggunaan media layanan yang mengakibatkan menurunnya minat peserta didik dengan layanan konselor sekolah berdasarkan wawancara dengan guru BK 6. Belum ada produk dari konselor sekolah tentang pendidikan karier bagi peserta didik

Sekolah Menengah Pertama (SMP)

7. Belum ada peneliti yang menggunakan metode penelitian dan pengembangan pada variabel perencanaan karier dengan variabel permainan simulasi sehingga berdampak pula pada tidak adanya produk yang dihasilkan berdasarkan hasil pencarian pada alamat website digilib.un.ac.id

C. Pembatasan Masalah

Agar permasalahan dapat dikaji dan dijawab secara mendalam dan dapat membatasi kemungkinan timbulnya kesalahan dalam mengambil simpulan, maka penulis membatasi masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Pengembangan permainan simulasi untuk meningkatkan perencanaan karier peserta didik

SMP merupakan layanan bimbingan kelompok yang mensimulasikan sebuah perencanaan

(7)

karier melalui permainan monopoli yang digunakan untuk menghilangkan hambatan peserta didik dalam merencanakan karier dan lebih memahami berbagai macam profesi beserta kualifikasinya

2. Belum ada penelitian dengan perencanaan karier sebagai variabel terikat dan permainan simulasi sebagai variabel bebas, yang menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research & Development) serta menghasilkan sebuah produk

3. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Banyudono Tahun Akademik 2015/2016

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan indentifikasi masalah di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apa produk pengembangan permainan simulasi yang layak untuk meningkatkan perencanaan karier pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Banyudono Tahun Akademik 2015/2016?

2. Bagaimanakah kelayakan produk pengembangan permainan simulasi untuk meningkatkan perencanaan karier pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Banyudono Tahun Akademik 2015/2016?

3. Apakah produk pengembangan permainan simulasi dapat meningkatkan perencanaan karier pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Banyudono Tahun Akademik 2015/2016?

E. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini yaitu :

1. Menghasilkan produk pengembangan permainan simulasi yang layak untuk meningkatkan perencanaan karier pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Banyudono Tahun Akademik 2015/2016

2. Mengetahui kelayakan produk pengembangan permainan simulasi untuk meningkatkan

perencanaan karier pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Banyudono Tahun Akademik

2015/2016?

(8)

3. Mengetahui keefektifan produk pengembangan permainan simulasi untuk meningkatkan perencanaan karier pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Banyudono Tahun Akademik 2015/2016?

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penilitian di atas, dikemukakan manfaat penelitian sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memperkaya khazanah ilmu Bimbingan dan Konseling bahwa pengembangan permainan simulasi merupakan salah satu alternatif untuk bisa meningkatkan perencanaan pada peserta didik kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP)

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Kepala Sekolah,

Dapat menjadikan pertimbangan dalam memberikan kebijakan kepada konselor sekolah dalam pemberian bantuan

b. Bagi Konselor Sekolah,

Memperkaya pengetahuan tentang aplikasi layanan Bimbingan dan Konseling khususnya produk pengembangan permainan simulasi (monopoli karier) yang dapat meningkatkan perencanaan karier pada peserta didik

c. Bagi Peserta Didik,

Memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang berbagai macam profesi beserta kualifikasinya dan dapat mengetahui cara merencanakan karier bagi masa depan yang lebih baik

d. Bagi Peneliti Lain,

Memberikan pengetahuan, pengalaman, dan referensi dalam penelitian pengembangan

permainan simulasi (monopoli karier) yang dapat meningkatkan perencanaan karier

pada peserta didik.

Referensi

Dokumen terkait

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

Emisi surat utang korporasi di pasar domestik selama Januari 2018 mencapai Rp7,67 triliun atau naik 2,84 kali dibandingkan dengan Januari 2018, berdasarkan data oleh

Oleh karena itu, tujuan didirikannya pabrik komposit ini adalah mengkombinasikan bentonit dengan biochar menjadi suatu adsorben yang memiliki kapasitas adsorpsi

4.1.4 Hasil dan pembahasan prediksi beban puncak pada hari libur nasional.

Makalah ini menyajikan uji beda dari kadar TSH sebelum dan setelah intervensi garam iodium dosis rendah terhadap kadar hormon tiroid dalam darah pada anak

The susceptibility of the two larvae of Aedes aegypti group; Strain Sukamanah, Cikalang, Kersanagara, and Tugujaya, as field samples; and laboratory strains were used

Jawaban terhadap surat rujukan dari dokter keluarga merupakan hal yang penting dilakukan oleh dokter spesialis di RS karena informasi pelayanan kesehatan pasien dapat

12.Peserta seleksi yang membawa alat komunikasi (HP), kamera dalam bentuk apapun serta melanggar tata tertib dianggap gugur dan dikeluarkan dari